• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

BAB IV

HASIL PENELITIAN & PEMBAHASAN

A. Faktor Penyebab Kredit Bermasalah dalam Perjanjian Kredit Pada Bank Tabungan Negara (BTN) Syariah Surakarta.

Sektor perbankan dewasa ini mengalami perkembangan yang cukup menggembirakan, hal tersebut dapat dilihat berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia dimana sampai dengan tahun 2019 tercatat terdapat 110 Jumlah bank umum yang terdapat di Indonesia dengan jumlah kantor bank sebanyak 31.227 kantor.1 Dengan banyaknya jumlah bank yang ada, berakibat terjadinya perluasan jaringan perbankan semakin pesat sehingga membawa implikasi terhadap pengerahan dana masyarakat serta ekspansi pemberian kredit yang cepat meskipun dinilainya kurang tepat.

Sejak Indonesia dilanda krisis moneter pada tahun 1998 dan kemudian diikuti dengan krisis ekonomi yang berkepanjangan, perbankan nasional menghadapi problema yang tidak ringan. Terdapat dua persoalan pokok yang dihadapi oleh perbankan nasional, pertama adalah masalah kuantitas/kualitas sumber daya manusia, dan kedua adanya bank bermasalah. Timbulnya bankbank bermasalah tersebut pada umumnya bermula dari adanya kredit-kredit macet/bermasalah yang melanda perbankan nasional. Mengingat kredit macet/bermasalah tersebut membawa pengaruh yang cukup besar pada kelangsungan hidup bank dan kepercayaan masyarakat serta terganggunya kelancaran dan laju pembangunan nasional secara keseluruhan, maka perlu dilakukan langkah-langkah penanganan yang bersifat antisipatif konseptual dalam memecahkan masalahnya.

Seperti telah diketahui bersama bahwa sejak krisis moneter dan ekonomi yang berkepanjang melanda Indonesia, banyak sekali bank-bank yang harus gulung tikar, karena besarnya jumlah kredit macet yang ada di bank-bank tersebut. Pada tahun 1999 kredit macet dari para debitor Bank Beku Operasi (BBO), Bank Take Over (BTO) dan Bank-bank Pemerintah mencapai Rp 191 trilyun. Tingginya angka kredit macet tersebut tentu sangat merugikan bagi para pemilik saham bank yang bersangkutan dan pemilik dana yang menyimpan dananya di bank tersebut, yaitu anggota masyarakat dari berbagai lapisan dan tingkat kehidupan.

Dampak lain dari kebijaksanaan deregulasi tersebut diatas, melahirkan persaingan antar bank, pemberian kredit pada nasabah kadang-kadang tanpa memperhitungkan

1 Lihat dalam https://www.bps.go.id/statictable/2020/01/21/2082/bank-dan-kantor-bank-2014- 2019.html, diakses pada tanggal 16 Februari 2021.

commit to user

(2)

manajemen kredit secara konsekuen dan konsisten. Kondisi ini yang menyebabkan bagian pengawasan kredit tidak berfungsi sebagaimana mestinya sehingga berakibat pengembalian kredit semakin sulit dilaksanakan. Hingga saat ini upaya-upaya yang dilakukan, baik oleh pihak perbankan maupun oleh Pemerintah dalam rangka penyelesaian kredit bermasalah masih belum menunjukkan hasil yang sepenuhnya menggembirakan, sementara itu pemberian kredit baru masih belum juga dilaksanakan secara berhati-hati sehingga masih terdapat kredit-kredit macet/bermasalah.

Selama triwulan pertama 2005 kebijakan Bank Indonesia tetap difokuskan pada berbagai langkah lanjutan guna mempertahankan stabilitas sistem perbankan dan sistem keuangan serta mendorong fungsi intermediasi perbankan. Kebijakan tersebut ditempuh melalui dua kegiatan pokok, yakni Pertama, peningkatan efektivitas pengawasan bank, antara lain melalui pemantauan terhadap risiko-risiko perbankan pelaksanaan manajemen risiko, dan rencana bisnis perbankan. Kedua, penyempurnaan pengaturan dan pengawasan bank yang mengacu pada prinsip-prinsip Pokok Basel. Pada Januari 2005 BI menerbitkan Paket Kebijakan Perbankan yang berkesinambungan dengan rancangan berbagai kebijakan yang telah ditetapkan sebelumnya. Paket kebijakan tersebut meliputi delapan Peraturan Bank Indonesia (PBI) masing-masing tentang Pinjaman Luar Negeri (PLN), kualitas aktiva, Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK), sekuritisasi asset, Pelakuan khusus kredit di NAD dan Nias, penyelesaian pengaduan nasabah, transparasi produk perbankan dan sistem Informasi Debitor.

Data per Maret 2005 menunjukkan dana pihak ketiga (DPK) perbankan meningkat Rp 16 triliun menjadi Rp 959, 3 triliun sementara kredit meningkat menjadi Rp 617, 8 triliun. Dengan perkembangan tersebut, rasio kredit terhadap simpanan (LDR) tercatat 51,3 persen2

Kredit macet yang terjadi di Indonesia terutama dalam pada masa kesulitan atau kemunduran (resesi) ekonomi yang menyebabkan dilikuidasi dan direkapitalisasinya beberapa bank yang sebelumnya didahului dengan pemberian Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), diketahui bahwa rapuhnya lembaga perbankan di Indonesia faktor penyebabnya yaitu pelanggaran terhadap prinsip kehati-hatian khususnya menyangkut ketentuan Legal Lending Limit (3L) sebagaimana diatur di dalam Pasal 11 Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1992 yang telah dirubah dengan Undang-Undang Nomor 10

2 Bekti Krestiantoro. 2006. Pelaksanaan Penyelesaian Kredit Bermasalah Dengan Jaminan Hak Tanggungan di PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Cabang Semarang, Tesis, Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro. hlm. 105

commit to user

(3)

Tahun 1998 tentang Perbankan.3 Meskipun dalam pemberian kredit perbankan, idealnya nilai jaminan yang diserahkan oleh nasabah debitur lebih besar jika dibandingkan dengan jumlah kredit yang diterimanya. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kemungkinan merosotnya nilai jaminan, atau sulitnya menemukan pembeli yang bersedia membeli agunan sesuai harga pasar, ketika akan dijual manakala si debitur tidak mampu melunasi hutangnya pada bank.4

Rendahnya nilai jaminan yang diserahkan oleh debitur kepada bank dapat disebabkan oleh banyak faktor antara lain nasabah yang bersangkutan dianggap sebagai nasabah yang bonafit atau kurang cermatnya analisis yang dilakukan oleh pihak bank dalam menilai kualitas jaminan, adanya unsur kolusi, nepotisme, pengaruh faktor x dan lain-lain. Di samping faktor-faktor tersebut, maka faktor lain yang tak kalah penting karena pengaturan masalah jaminan kredit di dalam Undang-Undang Perbankan Nomor 7 Tahun 1992 yang dirubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 sangat simpel.

Dalam prakteknya, jaminan yang paling dikehendaki oleh bank selaku kreditur yaitu jaminan kebendaan atau yang sering disebut agunan. Dari pihak debitur sendiri, pemberian jaminan berupa barang seringkali sulit untuk dipenuhi terutama jika barang itu harus diserahkan kepada kekuasaan kreditur seperti halnya dalam gadai (pand). Oleh karena itu, bila memungkinkan biasanya debitur menghendaki barang jaminan adalah berupa barang bergerak yang diikat dengan jaminan fidusia.5

Dengan cara ini benda jaminan tetap dikuasai oleh debitur. Akan tetapi pada kenyataannya barang bergerak sangat rawan terhadap resiko pengalihan hak milik oleh debitur di luar persetujuan atau pengetahuan kreditur, maka kebanyakan bank pada saat ini menghendaki jaminan kebendaan berupa benda tetap yang diikat dengan hak tanggungan untuk tanah dan pengikatan secara hipotik untuk kapal dengan ukuran 20 m3 ke atas atau pesawat terbang.6

Bank harus dapat mempertanggung jawabkan kepercayaan yang diberikan nasabah (penyimpan) kepadanya. Setiap dana yang dikeluarkan sebagai pinjaman kredit memiliki tanggung jawab begitu besar jika sampai terjadi kredit macet. Salam satu dampak yang paling terasa jika terjadi kredit macet yaitu kerugian yang dialami pihak bank dan

3 Gatot Supramono., Perbankan dan Masalah Kredit Suatu Tinjauan di Bidang Yuridiis, Bandung: PT.

Rineka Cipta, 2009, hlm. 1.

4 Ibid.

5 B. Sibarani, Penyelesaian Kredit Macet oleh Perbankan, Newsletter Kajian Hukum Ekonomi dan Bisnis No. 42 September 2000, hlm. 1.

6 Ibid.

commit to user

(4)

beberapa bank terancam bangkrut.7 Pada prakteknya, jika terjadi kredit macet maka lembaga perkreditan akan mencari upaya untuk menyelamatkan kredit dengan cara memberikan perpanjangan waktu pelunasan kepada debitur dengan maksud untuk memberikan kesempatan kepadanya agar dapat melunasi kredit dalam jangka waktu yang diperlukan. Jika setelah dilakukan tetapi upaya penyelamatan tersebut tidak berhasil juga, maka pihak bank terpaksa mengambil kebijakan akhir dengan menyerahkan permasalahan kepada pihak berwenang.

Sebagaimana diketahui bahwasanya secara umum dapat dikatakan bahwa ikut campurnya bank selaku kreditur dalam bisnisnya debitur diatur sampai pada batasbatas yuridis sebagai berikut :

1. Bank dapat menyertakan modalnya dalam perusahaan debitur dengan syarat hal tersebut hanya dapat dilakukan :8

a. Dalam rangka menanggulangi kegagalan kredit, dan b. Bersifat temporer

2. Membeli sendiri barang jaminan kredit, dengan batasan yuridis berupa :9 a. Harus, jika ada wanprestasi dari debitur;

b. Melalui atau tidak melalui pelelangan;

c. Barang jaminan yang dibeli tersebut harus secepatnya dicairkan.

3. Melakukan campur tangan lainnya ke dalam bisnis debitur yang dapat diatur dalam perjanjian kredit atau perjanjian terkait lainnya asalkan tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku.

Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Samsul Hadi selaku Kepala Cabang BTN Syariah Surakarta maka faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya Kredit Bermasalah Dalam Perjanjian Kredit secara garis besar faktor-faktor yang dapat menjadi sebab terjadinya kredit bermasalah dapat digolongkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal, faktor intern Bank sebagai penyebab kredit bermasalah antara lain:

1. Faktor yang Berasal dari staff Bank Tabungan Negara (BTN) Syariah Cabang Surakarta.

Pertama, faktor terkait rendahnya kemampuan melakukan anlisis kredit secara professional, terutama disebabkan karena rendahnya pengetahuan dan pengalaman petugas bank (termasuk account officer) menjalankan tugas tersebut. Sedangkan

7 Eko B. Supriyanto, 10 Tahun Krisis Moneter, Info Bank Publishing, Jakarta, 2007, hlm. 8.

8 Lihat dalam Pasal 7 huruf c Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan yang menyatakan bahwasanya sampai masanya, bank tersebut harus menarik kembali penyertaannya itu

9 Ibid., lihat Pasal 12a ayat 1

commit to user

(5)

tumpulnya analisis kelayakan kredit seringkali terjadi karena pimpinan bank mendapat tekanan halus atau tidak halus dari pihak ketiga untuk meluluskan permintaan kredit, karena terjadi kolusi antara pimpinan bank dan calon debitor, atau karena strategi pemberian kredit yang selalu ekspansif. Sebab yang disebut terakhir timbul karena bank yang bersangkutan terlalu cepat menghimpun dana dari masyarakat (termasuk deposito), sehingga mendorong mereka untuk menerapkan strategi penyaluran kredit yang melebihi tingkat kewajaran. Kredit yang diberikan tanpa analisis kredit yang profesional, dari semula memang diragukan mutunya. Oleh karena itu, sejak diberikan kredit tersebut memang sudah membawa bibit masalah.10

Hasil dari wawancara tersebut sendiri sejalan dengan pandangan dan pernyataan dari Ravando Yitro Gon, dimana dalam tulisanya dikatakan bahwa:11

“Bank juga dapat sebagai salah satu penyebab terjadinya kredit macet.

Dalam memberikan kredit kepada nasabah, bank selalu membuat pertimbangan atau analisis yang telah ditetapkan Undang-Undang Perbankan. Tidak akuratnya pertimbangan bank akan menjadikan kredit yang diberikan nasabahnya akan berjalan tidak sesuai dengan yang diharapkan”.

Selain itu dikatakan pula oleh Revando Yitro Goni dalam tulisannya bahwasanya seringkali: 12

“setiap petugas atau pejabat bank manapun dituntut untuk melaksanakan pekerjaannya secara professional sehingga dapat tercipta pelayanan terhadap masyarakat yang memadai. Meskipun demikian tidak semua pejabat bank mempunyai kualitas seperti yang diharapkan. Pejabat bank yang kurang professional tentu sulit diharapkan dapat memperoleh hasil kerja yang maksimal. Terutama pejabat di bagian kredit, kualitasnya dapat mempengaruhi keputusan penyaluran kredit yang tidak sebagaimana mestinya”.

Kemudian berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber bapak Samsul Hadi dikatakan pula bahwasanya seringkali karena lemahnya sistem pengawasan dan administrasi kredit, pimpinan bank tidak dapat memantau penggunaan kredit serta perkembangan kegiatan usaha maupun kondisi keuangan debitor secara cermat.

Sebagai kelanjutannya, mereka tidak dapat segera melakukan tindakan koreksi apabila terjadi penurunan kondisi bisnis dan keuangan debitor atau terjadi penyimpangan dari

10 Wawancara dengan bp. Samsul Hadi Kepala Cabang Bank Tabungan Negara Syariah Cabang Surakarta, pada tanggal 05 Februari 2021

11 Ravando Yitro Goni, Penyelesaian Kredit Macet Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan, Jurnal Lex Crimen Vol V, No. 7, September 2016. hlm 8

12 Ibid.

commit to user

(6)

ikatan perjanjian kredit.13 Hal tersebut sendiri merupakan bagian dengan pengawasan, selain itu juga sejalan dengan pandangan dari Gatot Supramono dikatakan bahwa:14

“Mulai dari proses pemberian kredit, terjadinya perjanjian kredit sampai dengan pelaksanaan perjanjian kredit selalu mendapat pengawasan.

Pekerjaan bank diawasi oleh pengawas intern bank dan pengawas eksteren bank yaitu BI dan BPKP khusus untuk bank milik Negara. Adanya bank yang tidak sehat atau bahkan bank yang terkena likuditas tidak dapat dilepaskan dari kredit macet sebagai penyebabnya. Salah satu faktor terjadinya kredit macet adalah karena lemahnya pengawasan terhadap bank”.

Dalam dunia perbankan hal yang penulis uraikan tersebut pada umumnya dikenal dengan “sistem kehati-hatian dan prinsip-prinsip perbankan yang sehat dalam pemberian kredit”. Bank dalam hal ini juga dapat menjadi penyebab terjadinya kredit macet antara lain tidak diterapkannya/ idak dipatuhinya prinsip-prinsip perbankan yang sehat dalam penyaluran kredit. Hal ini dapat dipahami karena sejak tahun 2000 dengan adanya kebijakan Bank Indonesia mengenai kemudahan penyaluran kredit lunak (credit loan) mau tak mau ada/timbul persaingan Bank dalam memberikan kemudahan dan fasilitas yang lebih kepada para nasabahnya. Sehingga terjadi tidak diterapkannya prinsipprinsip kehatian -hatian dalam penyaluran kredit tersebut, biasanya yang diprioritaskan/diukur adalah adanya anggunan/jaminan yang nilainya melebihi jumlah kredit yang disalurkan. Hal ini dianggapnya bahwa Bank mempunyai jaminan yang dapat dijual kembali apabila nasabah tersebut tidak dapat melunasi hutang-hutangnya.

Faktor internal yang lain sebagai penyebab kredit macet adanya hubungan baik yang sudah terjalin lama antara bank (kreditur) dan nasabah (debitur) sehingga pemberian kredit pada umumnya dilakukan atas dasar kepercayaan, dan bank cenderung mengabaikan prisip-prinsip dan atau persyaratan pemberian/penyaluran kreditnya, dalam hubungan ini bank dalam melayani kepentingan nasabah ini cenderung lebih mudah, terkadang proyek yang dibiayai kurang begitu menguntungkan/tidak mempunyai prospek yang bagus tetapi karena adanya hubungan baik biasanya Bank terus membantu apabila ada kesulitan nasabahnya itu.

Kedua, dalam wawancara tersebut diketahui pula bahwasanya Kredit macet juga dapat terjadi karena bank terlalu memperhatikan hubungan ke dalam bank, penyaluran

13 Wawancara dengan bp. Samsul Hadi Kepala Cabang Bank Tabungan Negara Syariah Cabang Surakarta, pada tanggal 05 Februari 2021

14 Gatot Supramono., Perbankan dan Masalah Kredit suatu Tinjauan di Bidang Yuridis, Jakarta:

Rineka Cipta, 2009, hlm. 268-272

commit to user

(7)

kredit tidak merata dan lebih cenderung diberikan kepada pengurus dan pengawas serta pegawai bank. Di samping itu juga bank lebih mengutamakan hubungan dengan perusahaan-perusahaan yang masih dalam kelompoknya (induk perusahaan, anak perusahaan) dalam pemberian kredit. Ibarat kelompok perusahaan itu sebuah keluarga, bank merasa terikat dengan sanak keluarganya. Secara yuridis masing-masing perusahaan dalam sebuah kelompok berdiri sendiri-sendiri, namun dari segi ekonomi mereka adalah satu kesatuan. Akibatnya apabila kreditnya bermasalah berpengaruh kepada bank yang kurang berani bertindak tegas.15

Tentu masih dapat diingat bahwa seperti dikatakan J. B. Sumarlin ketika menjadi Menteri Keuangan, bahwa pada tahun 1992 kredit macet yang terjadi di bank pemerintah karena pemilik bank menikmati fasilitas kredit yang melampaui batas yang ditentukan (batas maksimum pemberian kredit).16Pandangan tersebut juga sejalan dengan hasik penelitian yang dilakukan oleh Bekti Krestiantoro dalam tesisnya di Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro, dikatakan bahwasanya seringkali: 17

“Campur tangan pemegang saham yang berlebihan terhadap penerapan kebijaksanaan perkreditan bank dapat menimbulkan pemberian kredit yang menyimpang dari azas perkreditan yang sehat”.

Ketiga, faktor nasabah yang tidak beritikad baik. Berbicara mengenai itikad tidak baik maka secara tidak langsung akan membicarakan asas itikad baik, berdasarkan hasil penelusuran yang penulis lakukan mengenai konsepsi itikad baik dalam hukum diketahui bahwasanya itikad baik dipakai untuk menghindari tindakan beritikad buruk dan ketidakjujuran yang mungkin dilakukan oleh salah satu pihak, baik dalam pembuatan maupun pelaksanaan perjanjian dimana asas ini sebenarnya hendak mengajarkan bahwa dalam pergaulan hidup di tengahtengah masyarakat, pihak yang jujur atau beritikad baik patut dilindungi dan sebaliknya, pihak yang tidak jujur, patut merasakan pahit getir akibat ketidakjujuran tersebut.

Wirjono Prodjodikoro berpendapat bahwa itikad baik diperlukan karena hukum tidak dapat menjangkau keadaan-keadaan di masa mendatang. Beliau mengemukakan bahwa:18

Tidak ada buah perbuatan orang-orang manusia yang sempurna. Oleh karena peraturan-peraturan tersebut di atas hanya terbikin, oleh orang-

15 Wawancara dengan bp. Samsul Hadi Kepala Cabang Bank Tabungan Negara Syariah Cabang Surakarta, pada tanggal 05 Februari 2021

16 Ravando Yitro Goni, Op,cit., hlm. 9

17 Bekti Krestiantoro, Op.Cit., hlm. 136

18 Wiryono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Perjanjian, Bandung: Sumur, 2006, hlm. 56

commit to user

(8)

orang manusia saja, maka peraturan-peraturan itu tidak ada yang sempurna. Peraturan-peraturan tersebut hanya dapat meliputi keadaan- keadaan yang pada waktu terbentuknya peraturan-peraturan itu telah diketahui akan kemungkinannya. Baru kemudian ternyata ada keadaan- keadaan yang seandainya dulu juga sudah diketahui kemungkinannya, tentu atau sekiranya dimasukkan dalam lingkungan peraturan. Dalam hal keadaan-keadaan semacam inilah nampak penting faktor kejujuran dari pihak yang berkepentingan.

Walaupun asas itikad baik dipahami sebagai salah satu asas yang penting dan berpengaruh dalam hukum perjanjian, namun tidak ada definisi yang komprehensif yang dapat menjelaskan pengertian itikad baik itu sendiri. Ridwan Khairandy berpendapat bahwa salah satu permasalahan dalam kajian itikad baik adalah keabstrakan maknanya, sehingga timbul pengertian itikad baik yang berbeda-beda.

Itikad baik tidak memiliki makna tunggal, dan hingga sekarang masih terjadi perdebatan mengenai bagaimana sebenarnya makna atau arti itikad baik.19

Adapun pendapat dari Subekti mengatakan bahwa itikad baik yang digunakan dalam istilah “pemegang barang” (bezitter) dan “pembeli barang” berbeda dengan itikad baik dalam Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata. Dalam istilah pemegang barang dan pembeli barang yang beritikad baik adalah orang yang jujur dan bersih, yang bersangkutan tidak mengetahui tentang adanya cacat-cacat yang melekat pada barang tersebut. Sedangkan itikad Baik pada Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata mengandung pengertian bahwa pelaksanaan perjanjian itu harus berjalan dengan mengindahkan norma-norma kepatutan dan kesusilaan. Itikad pertama mengandung unsur subyektif, sedangkan yang kedua mengandung unsur obyektif.20

Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan diketahui bahwa adakalanya ditemukan nasabah yang tidak beritikad baik, nasabah seperti ini memang tidak begitu besar jumlahnya memang ada usaha-usaha yang dilakukan oleh nasabah yang demikian ini, dimana pada akhir jatuh tempo pelunasan tidak bertanggung jawab atau bahkan menghilang. Untuk menganalisa watak nasabah yang demikian ini sangat sulit dilakukan karena baik penampilan, usaha yang akan dikerjakan mempunyai prospek yang bagus, jaminan/anggunan memadai dan lebih besar daripada nilai kredit yang diajukan. Memang secara perhitungan Bank tidak dirugikan karena adanya jaminan yang dianggunkan, sehingga anggunan / jaminan tersebut dapat dijual/dilelang sebagai

19 Ridwan Khairandy, Itikad Baik Dalam Kebebasan Berkontrak, Cet.I, Jakarta: Pascasarjana UI, 2003, hlm. 129

20 Subekti, Hukum Perjanjian Cet. 19, Jakarta: Intermasa, 2002, hal. 41

commit to user

(9)

pengganti kredit yang diambilnya. Akan tetapi yang menjadi kendala dilapangan, pengambil alihan dan penjualan asset debitur harus melewati prosedur yang cukup memakan waktu, disamping itu jaminan/anggunan tersebut tidak segera dapat laku dijual. Akibatnya aset-aset Bank menjadi terhenti dan tidak dapat segera disalurkan kepada debitur/nasabah yang lain, sehingga secara hitungan financial bank tetap mengalami kerugian, apalagi jaminan/anggunan tersebut tidak segera laku dijual atau terpaksa dijual di bawah harga.

Demikian hasil penelitian yang penulis temukan pada Bank Tabungan Negara (BTN) Syariah Cabang Surakarta terkait dengan faktor-faktor yang menjadi penyebab dari kredit macet dalam dunia perbankan, namun penulis menambahkan adanya peluang besar dalam kredit macet perbankan juga dipengaruhi oleh faktor yang keempat, yakni faktor persaingan antarbank, dimana sebagaimana diketahui bahwasanya jumlah bank yang makin hari makin banyak merupakan hal yang wajar dengan jumlah penduduk yang bertambah mempengaruhi jumlah kebutuhan terhadap bank bertambah pula.21

Dengan bertambahnya jumlah bank maka akan mempengaruhi persaingan bank yang semakin ketat. Dalam melakukan persaingan usaha, setiap bank selain berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat, termasuk kemudahan di dalam memberikan fasilitas kredit. Dengan pelayanan yang terbaik yang bertujuan untuk mendapatkan nasbaha sebanyakbanyaknya dan nasabah yang telah ada tetap digandeng agar tidak pindah ke bank lain. Dengan adanya persaingan usaha yang ketat, akan mempengaruhi bank untuk bertindak spekulatif dengan cara memberikan fasilitas yang mudah kepada nasabah, tetapi di lain pihak langkah yang diambil bank telah mengabaikan prinsip-prinsip perbankan yang sehat.

Selain faktor-faktor internal di tubuh Bank Tabungan Negara (BTN) Syariah Cabang Surakarta terdapat pula faktor eksternal penyebab timbulnya kredit bermasalah pada umumnya, Penyebab kredit bermasalah perorangan yang lain yang erat hubungannya dengan gangguan terhadap diri pribadi debitor, misalnya kecelakaan, sakit, kematian, dan perceraian. Sedangkan penyebab kredit bermasalah, pada umumnya disebabkan karena salah arus (mis. management), kurangnya pengetahuan dan pengalaman pemilik perusahaan dalam bidang usaha yang mereka jalankan, dan karena adanya penipuan (fraud).

21 Lihat dalam https://www.bps.go.id/statictable/2020/01/21/2082/bank-dan-kantor-bank-2014- 2019.html, diakses pada tanggal 17 Februari 2021,

commit to user

(10)

2. Faktor yang Berasal dari Nasabah Bank Tabungan Negara (BTN) Syariah Cabang Surakarta.

Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan dengan narasumber bapak Samsul Hadi selakuk Kepala Kantor Cabang Bank Tabungan Negara (BTN) Syariah Surakarta, diketahui bahwa beberapa faktor ekseternal yang menjadi penyebab kredit macet diantaranya:

Pertama, Kondisi usaha dan likuiditas keuangan debitor dapat menurun karena pengaruh berbagai macam faktor ekstern yang berada di luar kemampuan mereka untuk mengendalikannya. Selanjutnya, penurunan likuiditas keuangan akan mempengaruhi kemampuan debitor membayar bunga atau melunasi kredit. yang dapat mempengaruhi kondisi usaha debitor adalah perkembangan kondisi ekonomi atau bidang usaha yang merugikan kegiatan bisnis perusahaan mereka. Bagi banyak perusahaan, dampak perkembangan ekonomi atau bidang usaha yang tidak menguntungkan adalah penurunan jumlah hasil penjualan barang atau jasa yang mereka usahakan. Dalam banyak kejadian, penurunan hasil penjualan produk bahkan dapat mengakibatkan debitor menderita kerugian. Oleh karena sumber dana intern perusahaan untuk membayar kembali kredit adalah laba sesudah pajak dan dana penyusutan, maka menurunnya keuntungan akan menurunkan kemampuan debitor melunasi kredit.

Kedua, yang dapat mempengaruhi keberhasilan usaha dan kemampuan debitor korporasi mengembalikan pinjaman adalah bencana alam seperti gempa bumi, banjir, badai, musim kemarau yang berkepanjangan, kebakaran dan sebagainya. Bencana alam seperti itu seringkali merusak atau menurunkan kapasitas produksi peralatan produksi yang dioperasikan oleh debitor. Akibatnya, jumlah produksi, hasil penjualan produk dan keuntungan menurun. Akibat selanjutnya adalah likuiditas keuangan debitor memburuk.

Bahkan terkadang peraturan pemerintah yang dikeluarkan untuk mengembangkan kondisi ekonomi keuangan atau sektor-sektor usaha tertentu, kadang- kadang membawa dampak kurang menguntungkan bagi sector usaha yang lain. Apabila bidang usaha debitor kebetulan terkena dampak kurang menguntungkan dari peraturan pemerintah tertentu, maka peraturan tersebut dapat menjadi sebab menurunnya hasil usaha dan likuiditas keuangan mereka. Dalam hal ini tentu masih sangat jelas didalam ingatan periode tahun 2007 hingga 2008 menjadi titik berat dan signifikan dalam mengarungi perekonomian di dunia. Kita melihat terjadi krisis bahan bakar minyak

commit to user

(11)

hingga krisis pangan yang saat itu melanda ekonomi dunia, kemudian menyebabkan timbulnya krisis finansial (financial crisis) yang begitu terasa dan kemungkinan akan terasa dampaknya hingga saat ini. Krisis finansial tersebut datangnya dari negara bagian Amerika Serikat (AS), yang disebut sebagai kekuatan ekonomi nomor satu didunia saat ini.

Dampaknya mengakibatkan pengaruh diberbagai aspek, serta mempengaruhi banyak negara, salah satunya Indonesia. Alan Greenspan, mantan Gubernur Bank Sentral AS (The Fed) mengatakan bahwa kejadian ini disebut ‘once-in-century’ krisis finansial yang akan dan terus membawa dampak terhadap perekonomian global. Di sisi lainnya lagi International Monetary Fund (IMF) juga mengambil kesimpulan bahwa hal ini dapat disebut sebagai ‘largest financial shock since Great Depression’, yang digambarkan sebagai dampak krisis yang terjadi begitu signifikan saat itu bahkan boleh jadi terasa hingga saat ini.22

Jika merujuk kejadian krisis keuangan yang terdampak di negara Amerika Serikat (AS), beberapa pandangan mengutarakan kesimpulan mengenai beberapa hal yang menyebabkan kejadian krisis ini. Stiglitz, mantan peraih Nobel Ekonomi 2001, mengutarakan sebuah pandangan yaitu krisis keuangan yang terjadi di AS diakibatkan oleh kesalahan yang bersumber dari pengambilan kebijakan ekonomi yang tidak tepat atau dalam bahasa arsitek dapat disebut sebagai dalam ‘system failure’. System failure yang dimaksud menurut Stiglitz, telah mulai bermunculan sejak pergantian Paul Volcker. Kemudian pandangan perlunya mengambil sebuah kebijakan dalam berbagai situasi dipasar keuangan diutarakan oleh Alan Greenspan sebagai Chief The Fed.23

Adapun pengambilan keputusan pada kebijakan lain juga menjadi sebab musabab terjadinya krisis tersebut, diantaranya dapat dilihat dari kebijakan-kebijakan yang bermunculan dilantai Wall Street terlihat cenderung memberikan perlindungan lebih kepada dunia perbankan AS dalam spekulasi dan kegiatan yang bersifat derifatif pada produk-produk keuangan, begitupun kebijakan dan kekacauan sebelumnya terhadap sejumlah skandal misalnya yang telah terjadi dalam contoh kasus Enron dan Worldcom. Di kejadian krisis yang lain, yaitu di Indonesia pada kejadian krisis tahun 1997-1998 juga memperlihatkan kita kejadian besar pada kegagalan pasar yang berakibat buruk bagi perekonomian negara kemudian menuntut keaktifan pemerintah

22 Hamid, E. S. (2009). Akar Krisis Ekonomi Global dan Dampaknya Terhadap Indonesia. Jurnal Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesai, Vol 3, No. 1, 1–11.

23 Chairul Iksan Burhanuddin & Muhammad Nur Abdi, Ancaman Krisis Ekonomi Global Dari Dampak Penyebaran Virus Corona (Covid-19), Jurnal AkMen, Volume 17 Nomor 1 Maret 2020.

commit to user

(12)

saat itu untuk mengatasi dampak krisis dengan cara memberikan situmulus berupa pendanaan yang gunanya tak lain untuk memberikan efek positif pada perekonomian nasional. Namun, apakah dana yang dikucurkan untuk membantu pelaku-pelaku ekonomi (umumnya di fokuskan pada bank yang terjadi kolaps)ini sudah tepat. Dari sini kita dapat melihat bahwasanya sumber pendanaan tersebut tak lain berasal dari rakyat yang diserap melalui penarikan pajak dan sumber pendapatan lainnya. Oleh karena itu kejadian besar pada saat itu menunjukkan bagaimana kegagalan pasar dalam fondasi yang disebut sebagai kapitalisme sebagai akibat dari tindakan spekulatif para spekulan pasar harus dibayar oleh rakyat yang justru tidak pernah menikmati hasil dari sistem ekonomi pasar tersebut.

Contoh yang terbaru adalah, kebijakan nasional pemerintah Republik Indonesia yang menetapkan Pandemi Corona Virus Diseasi-19 (Covid-19) sebagai bencana nasional non alam sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2020 Tentang Penetapan Bencana Nonalam Penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Sebagai Bencana Nasional, memberikan dampak yang cukup besar terhadap perekonomian dan kegiatan ekonomi masyarakat

Berdasarkan hasil wawancara tersebut penulis menyimpulkan bahwasanya ada 4 (empat) macam faktor ekstern penyebab kredit bermasalah pada Kantor Cabang Bank Tabungan Negara (BTN) Surakarta, yaitu:

a. Kegagalan usaha debitor;

b. Menurunnya kegiatan ekonomi dan tingginya suku bunga kredit;

c. Pemanfaatan iklim persaingan dunia perbankan yang tidak sehat oleh debitor yang tidak bertanggung jawab, dan;

d. Musibah yang menimpa perusahaan debitor.

B. Upaya Hukum Bank Tabungan Negara Syariah Cabang Surakarta dalam Mengatasi Hambatan Kredit Bermasalah.

Sebagaimana diketahui bahwasanya Bank Indonesia maupun Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak memberikan aturan maupun pedoman/petunjuk kepada Bank Umum maupun BPR mengenai kebijaksanaan-kebijaksanaan yang perlu dan dapat ditempuh oleh Bank Umum maupun BPR apabila perusahaannya menghadapi kredit bermasalah. Ini berarti bahwa Bank Indonesia menyerahkan kepada masing-masing pimpinan bank untuk menentukan kebijaksanaannya sendiri dalam menyelesaikan kredit bermasalah. Secara umum, dikenal adanya beberapa cara/langkah yang dapat ditempuh

commit to user

(13)

oleh pimpinan bank dalam penyelesaian kredit bermasalah menurut ketentuan peraturan perundang-undangan.

Menurut ketentuan Pasal 3 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, fungsi utama perbankan Indonesia adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana masyarakat, oleh karena itu kredit sebagai aktiva produktif merupakan sumber penghasilan utama dari bank. Apabila kredit tersebut dibelakang hari mengalami tunggakan atau menjadi kredit bermasalah (non performing loan), maka hal itu akan berpengaruh pada penghasilan yang diterima oleh bank.24 Ada beberapa pengertian kredit bermasalah, yaitu :25

1. Kredit yang di dalam pelaksanaannya belum mencapai/memenuhi target yang diinginkan oleh pihak bank;

2. Kredit yang memiliki kemungkinan timbulnya resiko di kemudian hari bagi bank dalam arti luas;

3. Mengalami kesulitan di dalam penyelesaian kewajiban-kewajibannya, baik dalam bentuk pembayaran kembali pokoknya dan atau pembayaran bunga, denda keterlambatan serta ongkos-ongkos bank yang menjadi beban nasabah yang bersangkutan;

4. Kredit di mana pembayaran kembalinya dalam bahaya, terutama apabila sumber- sumber pembayaran kembali yang diharapkan diperkirakan tidak cukup untuk membayar kembali kredit, sehingga belum mencapai/memenuhi target yang diinginkan oleh bank;

5. Kredit di mana terjadi cidera janji dalam pembayaran kembali sesuai perjanjian, sehingga terdapat tunggakan, atau ada potensi kerugian di perusahaan nasabah sehingga memiliki kemungkinan timbulnya resiko di kemudian hari bagi bank dalam arti luas;

6. Mengalami kesulitan di dalam penyelesaian kewajiban-kewajibannya terhadap bank, baik dalam bentuk pembayaran kembali pokoknya, pembayaran bunga, pembayaran ongkos-ongkos bank yang menjadi beban nasabah-nasabah yang bersangkutan;

7. Kredit golongan perhatian khusus, kurang lancar, diragukan dan macet serta golongan lancar yang berpotensi menunggak.

Melihat dampak kredit bermasalah yang sedemikian besar terhadap penghasilan dan keuntungan bank, maka setiap adanya gejala yang mensyaratkan adanya kredit

24 Agung Wijaya, 2011. Penyelesaian Kredit Bermasalah Pada PT. Bank Perkreditan Rakyat XYZ di Depok, Tesis, Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. hlm. 38

25 Veithzal Riva, Credit Management Handbook: Teori, Konsep, Prosedur, dan Aplikasi Panduan Praktis Mahasiswa, Bankir, dan Nasabah, Cetakan I, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2006), hlm. 476.

commit to user

(14)

bermasalah harus segera ditangani. Berikut akan dijabarkan beberapa cara penanganan kredit bermasalah.

1. Restrukturisasi Kredit

Restrukturisasi kredit bermasalah adalah suatu upaya penyelamatan kredit perbankan dan juga upaya menyehatkan kembali keuangan nasabah kredit termasuk penyehatan aset bank sehingga dengan lancarnya kembali pembayaran kredit oleh debitur maka akan menciptakan suatu penyelamatan dan penyehatan di kedua sisi yaitu bank sebagai pihak kreditur dari segi penyelamatan kredit dan penyehatan aset bank dan dari sisi nasabah kredit penyehatan kembali kelangsungan usahanya sehingga dapat berjalan sebagaimana mestinya.26

Sudah menjadi suatu kesepakatan dan kesepahaman bagi industri perbankan bahwa kelangsungan usaha bank antara lain tergantung dari kemampuan dan efektifitas bank dalam mengelola risiko kredit dan meminimalkan potensi kerugian. Untuk itu dalam rangka mengelola risiko kredit dan untuk meminimalkan potensi kerugian, bank wajib menjaga kualitas aktiva dan wajib membentuk penyisihan penghapusan aktiva, dimana kewajiban pembentukan penyisihan penghapusan aktiva perlu diberlakukan terhadap baik aktiva produktif maupun aktiva non produktif.27

Bank Indonesia selaku banking regulator mendefinisikan Aktiva Produktif sebagai suatu penyediaan dana oleh perbankan dalam bentuk kredit, surat berharga, penempatan dana antar bank, tagihan akseptasi, tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan janji dijual kembali (reverse repurchase agreement), tagihan derivatif, penyertaan, transaksi rekening administratif serta bentuk penyediaan dana lainnya yang dapat dipersamakan dengan itu, dengan tujuan untuk memperoleh penghasilan.

Sedangkan untuk Aktiva Non Produktif Bank Indonesia mendefinisikan sebagai aset Bank selain Aktiva Produktif yang memiliki potensi kerugian, antara lain dalam bentuk agunan yang diambil alih, properti terbengkalai (abandoned property), rekening antar kantor dan suspense account. Berkaitan dengan hal tersebut, sebagai salah satu upaya untuk meminimalkan potensi kerugian dari debitur bermasalah, bank dapat melakukan restrukturisasi kredit atas debitur yang masih memiliki prospek usaha dan kemampuan membayar.

26 Johannes Ibrahim, Aneka Jenis Perjanjian Kredit Perbankan, (Surabaya: Mitra Ilmu, 2010) hlm. 69

27 Antonius Ketut, Artikel Restrukturisasi Kredit Manfaat dan Kendala yang dihadapi Bagi dan Oleh Perbankan, 2015

commit to user

(15)

Upaya restrukturisasi ini dilakukan manakala prospek usaha nasabah peminjam masih feasible dan menjanjikan profit serta nasabah peminjam tersebut bersikap transparan dan kooperatif, seyogyanya atas fasilitas kredit nasabah peminjam tersebut ditempuh upaya penyelamatan kredit baik berupa restructuring, reconditioning, rescheduling atau tindakan penyelamatan kredit lainnya. Namun demikian, tidak semua kredit nasabah peminjam yang bermasalah harus selalu diselamatkan, atas kredit nasabah peminjam yang sudah tidak dapat lagi untuk diselamatkan maka upaya akhir sebagai tindakan lanjutan yang harus segera dilaksanakan atau ditempuh oleh bank adalah dengan melakukan upaya penyelesaian kredit.

Dalam praktiknya, penyelesaian kredit bermasalah yang dilakukan para pihak bank dilakukan dengan dua cara, yaitu negosiasi dan litigasi. Namun, tetap diakui bahwa kedua alternatif tersebut terlepas dari adanya bank- bank yang melakukan penagihan kredit bermasalah dengan menggunakan jasa debt collector yang merupakan bukan pihak yang berwenang untuk melakukan tindakan tersebut.28 Penyelesaian dengan cara negosiasi ini dilakukan terhadap debitur yang usahanya masih berjalan meskipun tersendat- sendat, mampu membayar bunga kredit meskipun kemampuannya telah melemah dan tidak mampu membayar angsurannya. Bahkan tehadap debitur yang usahanya sudah tidak berjalanpun dapat dilakukan negosiasi.

Sebagaimana penulis sampaikan diawal pembahasan, bahwa restrukturisasi merupakan upaya untuk dapat menyelamatkan kredit. Hal ini didasarkan pada Undang- undang Nomor 7 tahun 1992 tentang Perbankan, sebagaimana telah diubah dengan Undang- undang Nomor 10 tahun 1998. Kemudian diubah lagi dalam Peraturan Bank Indonesia Nomor 2/15/PBI/2000 tanggal 12 Juni 2000 tentang perubahan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 31/150/Kep/Dir tanggal 12 Nopemer 1998 tentang Restrukturisasi Kredit Kemudian pada tahun 2005 dikeluarkan aturan baru oleh Bank Indonesia yakni PBI Nomor 7/2/PBI/2005 tanggal 20 Januari 2005 dan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/3/DPNP tanggal 31 Januari 2005 tentang Kualitas Aktiva Produktif, lalu Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/190/DPNP/IDPnP tanggal 26 April 2005, dan Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 7/319/DPNP/IDPnP tanggal 27 Juni 2005 tentang Kebijakan Restrukturisasi Kredit.29

28 Hasanuddin Rahman, Aspek- aspek Pemberian Kredit Perbankan di Indonesia (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1998) hlm. 128

29 Destian Hendri Suwarjoko, OJK Anjurkan Restrukturisasi,, Antara.

https://www.antaranews.com/berita/ojk-anjurkan-restrukturisasi-kredit-akibat-perlambatanekonomi diakses pada tanggal 17 Februari 2021

commit to user

(16)

Aturan Restrukturisasi Kredit kemudian diperbarui lagi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 14 tahun 2005 yang diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 3 tahun 2006 tentang Tata Cara Penyelesaian Piutang Negara/ Daerah Bank harus memperhatikan ketentuan tentang kriteria apa saja yang perlu mendapat perhatian dalam restrukturisasi kredit di dasarkan ketentuan dan perundang-undangan sebagaimana yang telah ditentukan. Selain itu, dalam melakukan restrukturisasi, bank wajib mengikuti Standar Akuntansi Keuangan dan PAPI (PSAK 31 dan 54, PSAK 50/55, PAPI revisi 2001), terutama perhitungan Present Value dan pengakuan kerugian restrukturisasi. Selain itu, Bank harus memiliki Kebijakan dan Pedoman secara tertulis sebagai panduan dalam melakukan restrukturisasi kredit.30

Pada tahun 2012 Bank Indonesia mengeluarkan petunjuk dan pedoman tentang tata cara penyelamatan kredit melalui restrukturisasi kredit yaitu dengan berpedoman kepada Peraturan Bank Indonesia Nomor 14/15/PBI/2012 tentang Penilaian Kualitas Aset Bank Umum. Beberapa kebijakan dalam penyelamatan kredit macet berdasarkan peraturan tersebut pada Pasal 52 dan 53, yaitu sebagai berikut:

Pasal 52

Bank hanya dapat melakukan restrukturisasi kredit terhadap debitur yang memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. Mengalami kesulitan pembayaran pokok dan/ atau bunga kredit;

b. Debitur memiliki prospek usaha yang baik dan mampu memenuhi kewajiban setelah kredit dirsetrukturisasi.

Pasal 53

Bank dilarang melakukan restrukturisasi kredit dengan tujuan hanya untuk:

a. Memperbaiki kualitas kredit;

b. Menghindari peningkatan pembentukan PPA tanpa memperhatikan kriteria debitur sebagaimana dimaksud Pasal 52.

Pada tahun 2015, OJK melihat telah terjadi pelemahan ekonomi di bidang perbankan. Maka pada saat itu OJK mengeluarkan Peraturan OJK Nomor 11/POJK.03/2015 tentang Ketentuan Kehati- hatian dalam Rangka Stimulus Perekonomian Nasional Bagi Bank Umum. Pada peraturan ini, dalam melakukan restrukturisasi hanya mempertimbangkan satu sektor yang pada awalnya tiga sektor pertimbangan. Sektor tersebut adalah kemamuan membayar oleh debitur. Sedangkan

30 Ibid.

commit to user

(17)

sektor industri dan sektor kondisi perusahaan tidak dilibatkan dalam peraturan ini.

Namun peraturan ini dianggap tidak banyak memberikan dampak terhadap kondisi perbankan. Sehingga peraturan ini resmi dicabut pada 23 Agustus 2017, dan kembali menggunakan peraturan lama.

Dalam Peraturan OJK Nomor 42/POJK. 03/2017 tidak menyebutkan secara langsung tentang pelaksanaan restrukturisasi kredit. Tapi dirujuk pada Pasal 3 bahwa kebijakan perkreditan bank paling sedikit memuat dan mengatur hal pokok sebagaimana ditetapkan dalam Pedoman Penyusunan Kebijakan Perkreditan atau Pembiayaan Bank sebagai berikut:

a. Prinsip kehati- hatian dalam perkreditan, hal ini sejalan dengan analisa terhebih dahulu terhadap debitur sebelum melakukan restrukturisasi.

b. Organisasi dan manajemen perkreditan, pedoman ini menjadi hal yang distruktur ulang ketika melaksanakan restrukturisasi kredit bermasalah.

c. Kebijakan persetujuan kredit atau pembiayaan.

d. Dokumentasi dan administrasi kredit. Telah dijelaskan pada Bab III bahwa salah satu alasan melakukan restrukturisasi kredit adalah untuk dokumentasi kredit.

e. Pengawasan kredit, ini dilakukan untuk mengantisipasi kredit bermasalah melalui perilaku debitur.

f. Penyelesaian kredit, merupakan langkah untuk menuntaskan permasalahan kredit.

Hal ini dilakukan dengan dua cara, yaitu penyelematan kredit dan pengakhiran kredit.

Kemudian pada Pasal 4 dipertegas bahwa bank wajib mematuhi kebijakan perkreditan yang telah disusun dalam pelaksanaan pemberian kredit dan pengelolaan kredit. Adapun sanksi apabila terjadi pelanggaran tercantum pada Pasal 7 bahwa pelanggaran terhadap ketentuan dalam Peraturan OJK ini dikenakan sanksi administratif yang akan mempengaruhi penilaian kesehatan bank dan sanksi administratif lain sesuai dengan ketentuan perundang- undangan. Terkait dengan sanksi pidana yang diberikan apabila penanganan restrukturisasi kredit ini dilakukan tidak sesuai prosedur tercantum dalam Pasal 49 ayat 1 Undang- undang Nomor 10 Tahun 1998:

a. Membuat atau menyebabkan adanya pencatatan palsu dalam pembukuan atau proses laporan, maupun dalam dokumen atau laporan kegiatan usaha, laporan transaksi atau rekening suatu bank;

commit to user

(18)

b. Menghilangkan atau tidak memasukkan atau menyebabkan tidak dilakukannya pencatatan dalam pembukuan atau laporan, maupun dalam dokumen atau laporan kegiatan usaha, laporan transaksi atau rekening suatu bank;

c. Mengubah, mengaburkan, menyembunyikan, menghapus, atau menghilangkan adanya suatau pencatatan dalam pembukuan atau dalam laporan, maupun dalam dokumen atau laporan kegiatan usaha, laporan transaksi atau rekening suatu bank, atau dengan sengaja mengubah, mengaburkan, menghilangkan, menyembunyikan atau merusak catatan pembukuan tersebut diancam dengan pidana penjara sekurang- kurangnya 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta denda sekurang- kurangnya Rp 10.000.000.000 (sepuluh miliar rupiah) dan paling banyak Rp200.000.000.000 (dua tarus miliar rupiah)”.

Kriteria yang dimaksud misalnya debitur sedang mengalami kesulitan pembayaran (pokok dan/atau bunga kredit) karena kondisi keuangannya yang menurun, debitur memiliki prospek usaha yang baik dan diperkirakan mampu memenuhi kewajiban setelah Kredit direstrukturisasi, menunjukkan itikad baik dan bersedia untuk memenuhi kewajiban kredit setelah direstrukturisasi, tidak dimaksudkan untuk menghindari penurunan kualitas kredit, peningkatan pembentukan PPAP dan penghentian pengakuan pendapatan bunga secara akrual. Untuk dapat melakukan restrukturisasi kredit, ada syarat- syarat yang harus dipenuhi, syarat- syarat tersebut antara lain:

a. Debitur mengalami kesulitan dalam hal melakukan pembayaran pokok dan/atau bunga, namun mempunyai kemauan yang kuat untuk membayar.

b. Telah dilakukan analisa ulang terhadap kondisi usaha atau keuangan debitur oleh Analis Kredit dan telah disetujui oleh Loan Committee.

c. Semua administrasi yang menyangkut kredit atas nama Debitur harus lengkap dan benar serta telah diperiksa oleh Legal Officer.

d. Debitur telah menandatangani perjanjian atau akad Restrukturisasi Kredit.

Setelah syarat- syarat di atas telah dipenuhi, debitur menyerahkan surat permohonan restrukturisasi kredit kepada pihak yang berwenang melakukan restrukturisasi di bank tersebut. Yang berwenang untuk melakukan restrukturisasi kredit adalah Direksi berdasarkan Memo Intern yang diajukan oleh Manager Bisnis.

Direksi berwenang memberikan kebijaksanaan terhadap jumlah Kredit yang harus dibayar oleh Debitur termasuk jangka waktu, suku bunga dan hal-hal lain yang berkaitan dengan Restrukturisasi Kredit tersebut. Perkembangan penanganan kredit yang direstrukturisasi harus dilaporkan oleh Manager Bisnis kepada Direksi dan/atau Dewan Komisaris secara berkala. Hak dan kewajiban debitur serta persyaratan lainnya commit to user

(19)

dalam rangka restrukturisasi harus dituangkan dalam perubahan (addendum) perjanjian kredit secara tertulis.

Sebelum mengadakan Restrukturisasi Kredit, harus dipastikan dulu kondisi keuangan Debitur dengan mengadakan analisa ulang sesuai dengan azas perkreditan yang sehat. Hasil analisa kredit ini harus mendapat persetujuan Loan Committee. Jika telah memenuhi syarat untuk direstrukturisasi, Bagian Legal mengajukan memo intern yang juga ditandatangani oleh Manager Bisnis kepada Direksi. Memo ini wajib dilampiri dengan hasil analisa dan history kredit Debitur. Berdasarkan memo intern yang diajukan oleh Bagian Legal bersama Manager Bisnis, Direksi lalu mengeluarkan Memo Restrukturisasi Kredit. Kemudian Staf Administrasi Kredit melakukan Restrukturisasi Kredit berdasarkan Memo Direksi yang telah disetujui.

Dalam konteks penyelesaian sengketa kredit bermasalah pada Kantor Cabang Bank Tabungan Negara (BTN) Syariah Kota Surakarta, mekanisme penyelesaian sengketa juga sering digunakan. Berdasarkan hasil wawancara dengan bp. Samsul hadi selaku Kepala Cabang Bank Tabungan Negara (BTN) Syariah Kota Surakarta diketahui bahwasanya peluang restrukturisasi kredit bermasalah biasanya melihat itikad baik dari debitor, tingkat kooperatif debitor dan peluang pengembalian masih dapat diprediksi yang bersangkutan juga menyatakan bahwa tidak ada batasan mengenai berapa kali restrukturasi kredit bermasalah dapat dilakukan, hal tersebut merupakan hak mutlak dari pihak bank.31

Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Samsul Hadi juga diketahui bahwasanya penyelesaian melalui restrukturisasi kredit ini diperlukan syarat paling utama yaitu adanya kemauan dan itikad baik dan kooperatif dari debitur serta bersedia mengikuti syarat-syarat yang ditentukan pihak bank. Karena dalam penyelesaian kredit melalui restrukturisasi lebih banyak negosiasi dan solusi yang ditawarkan pihak bank untuk menentukan syarat dan ketentuan restrukturisasi kredit. Pelaksanaan proses restrukturisasi kredit dilakukan dengan tahapan yaitu prakarsa restrukturisasi kredit, negosiasi dengan debitur untuk penentuan skema restrukturisasi, analisis dan evaluasi, putusan restrukturisasi, dokumentasi restrukturisasi dan pengawasan.32

Prakarsa restrukturisasi kredit diawali dengan memanggil debitur dan mengajukan peringatan serta penagihan sebanyak 3 (tiga) kali. Setelah melakukan

31 Wawancara dengan bp. Samsul Hadi Kepala Cabang Bank Tabungan Negara Syariah Cabang Surakarta, pada tanggal 05 Februari 2021

32 Ibid

commit to user

(20)

pendekatan terhadap debitur terhadap suatu analisis bahwa kondisi keuangan debitur mengalami penurunan pemasukan, dalam hal ini bank menawarkan dan memutuskan untuk melakukan penyelamatan kredit. Kemudian dilakukan negosiasi baik sebelum maupun setelah analisis dan evaluasi restrukturisasi kredit. Kredit yang akan direstrukturisasi wajib dianalisis berdasarkan usaha dan kemampuan membayar debitur sesuai proyeksi arus kas. Setiap tahapan analisis wajib didokumentasikan secara lengkap dan jelas. Hasil dari analisis dituangkan dalam Memorandum Analisis Restrukturisasi Kredit.33

Putusan restrukturisasi dilakukan oleh pejabat pemutus kredit dengan kewenangan setingkat lebih tinggi dari pejabat pemutus pada saat pemberian kredit terakhir sebelum restrukturisasi kredit. Pengawasan restrukturisasi kredit dilakukan oleh pejabat kredit lini (pejabat pemrakarsa) secara berkala yang bertujuan untuk memantau kesanggupan atau perkembangan debitur. Pejabat tersebut wajib memastikan kesanggupan debitur untuk melakukan pembayaran kembali sesuai dengan persyaratan dalam perjanjian restrukturisasi kredit serta melaporkan perkembangan usaha debitur.34

Dalam pelaksanaan restrukturisasi ada beberapa faktor yang menjadi faktor pendukung. Faktor pendukung dari internal bank yaitu para pegawai kredit bank yang profesional siap membantu debitur dalam melakukan restrukturisasi dan siap memberikan alternatif serta masukan yang lebih baik terhadap masalah yang dihadapi debitur sehingga debitur memiliki opsi dalam mengatasi permasalahan yang ada.

Namun restrukturisasi kredit ini bukanlah tanpa hambatan. Faktor- faktor penghambat restrukturisasi kredit antara lain:35

a. Debitur sulit untuk diajak bekerjasama. Contohnya seperti pada saat melakukan pemanggilan dan kemudian dilakukan peringatan sebanyak 3 (tiga) kali oleh bank yang bertujuan untuk memberitahukan kepada debitur bahwa kondisi kreditnya dalam kolektibilitas macet, akan tetapi debitur tidak menghiraukannya artinya dalam hal ini debitur tidak beritikad baik.

b. Tidak adanya keterbukaan debitur pada saat dilakukan negosiasi oleh bank. Dalam hal ini, debitur ingin memperoleh keringanan yang maksimal sedangkan bank mencoba untuk mencapai kesepakatan yang paling baik dari negosiasi agar tidak merugikan pihak bank maupun debitur.

33 Ibid

34 Ibid

35 Rizal Mahmudin, Kendala Restrukturisasi, Ekonomi Akurat. http://ekonomi.akurat.co/id/-read- empat-kendala-restrukturisasi-kredit-kumkm diakses pada 10 Februari 2021

commit to user

(21)

c. Bank mengalami kesulitan dalam melakukan pendekatan terhadap debitur karena sikap debitur yang tidak kooperatif. Dapat dilihat bahwa debitur tidak mau diajak bernegosiasi untuk melakukan restrukturisasi kredit.

d. Isi putusan restrukturisasi yang telah disepakati bersama antara kreditur dengan debitur tidak dijalankan sesuai dengan kesepakatan. Contohnya seperti kewajiban untuk membayar angsuran tidak dibayarkan sesuai dengan apa yang telah disepakati.

Hal ini menunjukkan tidak adanya itikad baik debitur, padahal sebenarnya isi putusan tersebut membantu debitur untuk menyelamatkan kreditnya.

e. Restrukturisasi kredit tidak didukung dengan informasi mengenai dokumen yang lengkap tentang usaha debitur. Seharusnya data- data yang diperlukan dalam proses restrukturisasi harus sesuai dengan kenyataan yang telah dipaparkan sebelumnya oleh debitur pada saat dokumentasi restrukturisasi.

f. Bank mengalami kesulitan untuk melakukan pengawasan terhadap usaha debitur maupun kondisi keuangan debitur secara langsung. Karena bank tidak dapat meninjau dan mengawasi perkembangan usaha debitur secara terus menerus.

Kebijakan internal bank untuk mengatasi hambatan di atas adalah apabila sikap debitur kooperatif maka dilakukan restrukturisasi ulang. Namun, apabila sikap debitur tidak kooperatif tidak akan dilakukan restrukturisasi ulang, penyelesaian kredit macet akan langsung dilaksanakan melalui jalur hukum.36

2. Eksekusi Jaminan Kredit.

Penyelesaian kredit bermasalah selain melalui restrukturisasi kredit yang telah disebutkan di atas, dapat pula dilakukan eksekusi atas barang jaminan, baik itu melalui penjualan di bawah tangan maupun melalui pelelangan. Seyogyanya dalam melakukan eksekusi jaminan kredit harus terlebih dahulu diusahakan penjualan di bawah tangan apabila debitur masih mau bekerja sama (cooperative), namun apabila tidak dapat tercapai penjualan di bawah tangan, barulah dilaksanakan eksekusi barang jaminan melalui pelelangan.

Demikian pula dalam hal penyelesaian sengketa kredit bermasalah pada Kantor Cabang Bank Tabungan Negara (BTN) Syariah Surakarta, akan tetapi melalui hasil wawancara merupakan pilihan terakhir dan sangat jarang dilakukan.37 Hal tersebut selain sulit dilakukan juga ditakutkan dikarenakan Kantor Cabang Bank Tabungan

36 Wawancara dengan bp. Samsul Hadi Kepala Cabang Bank Tabungan Negara Syariah Cabang Surakarta, pada tanggal 05 Februari 2021

37 Ibid.

commit to user

(22)

Negara (BTN) Syariah Surakarta merupakan bagian dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terdapat adanya kerugian keuangan negara sehingga menurut yang bersangkutan hal tersebut sangat jarang dilakukan bahkan dalam 1 (satu) tahun terakhir sampai pada tahap eksekusi berupa lelang baru sekali dilakukan. Adapun eksekusi jaminan kredit dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:

a. Penjualan di bawah tangan

Apabila yang menjadi agunan kredit adalah tanah berikut bangunan, maka berlaku Undang-undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-benda Yang Berkaitan Dengan Tanah, yang selanjutnya disebut juga Undang-undang Hak Tanggungan menurut Pasal 30, memungkinkan bank (kreditur) untuk menyelesaikan kredit macet melalui penjualan agunan di bawah tangan berdasarkan ketentuan Pasal 20 ayat (2), yang berbunyi :

“Atas kesepakatan pemberi dan pemegang Hak Tanggungan, penjualan obyek Hak Tanggungan dapat dilaksanakan di bawah tangan jika dengan demikian itu akan dapat diperoleh harga tertinggi yang menguntungkan semua pihak”.

Selanjutnya ketentuan Pasal 20 ayat (3) Undang-undang Hak Tanggungan tersebut mengatakan sebagai berikut :

“Pelaksanaan penjualan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah lewat waktu 1 (satu) bulan sejak diberitahukan secara tertulis oleh pemberi dan/atau pemegang Hak Tanggungan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dan diumumkan sedikitdikitnya dalam 2 (dua) surat kabar yang beredar di daerah yang bersangkutan dan/atau media massa setempat, serta tidak ada pihak yang menyatakan keberatan”.

Apabila kita membaca ketentuan penjualan di bawah tangan dan penjelasannya di dalam undang-undang, maka dapat disimpulkan bahwa penjualan di bawah tangan tersebut dimungkinkan apabila terdapat indikasi bahwa penjualan melalui pelelangan umum tidak akan mencapai harga tertinggi. Keuntungan penjualan di bawah tangan ini adalah selain untuk mempercepat penjualan objek hak tanggungan, juga untuk menekan biaya yang mungkin timbul dalam melakukan eksekusi agunan. Menurut Iswi Hariyani, syarat-syarat yang harus terdapat untuk dapat dilaksanakannya penjualan agunan di bawah tangan adalah sebagai berikut, yaitu:38

38 Iswi Hariyani, Restrukturisasi dan Penghapusan Kredit Macet, Cetakan ke1, Jakarta: PT. Elex Media Komputindo, 2010, hlm. 277.

commit to user

(23)

1) Harus diperjanjikan terlebih dahulu;

2) Bertujuan untuk mendapatkan harga jual tertinggi;

3) Penjualannya baru dapat dilakukan setelah melewati tenggang waktu satu bulan sejak tanggal pemberitahuan secara tertulis kepada para pihak;

4) Harus diumumkan terlebih dahulu melalui sedikitnya di dua surat kabar setempat atau media cetak lainnya; dan

5) Tidak ada pihak yang menyatakan keberatan.

Namun apabila agunan kredit berupa benda bergerak baik yang berwujud maupun yang tidak bewujud dan benda tidak bergerak khususnya Bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Hak Tanggungan, maka peraturan yang berlaku adalah Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, bahwa penjualan di bawah tangan atas jaminan fidusia dimungkinan karena adanya ketentuan dalam Pasal 29 ayat (1) huruf c, di mana penjualan di bawah tangan yang dilakukan berdasarkan kesepakatan Pemberi dan Penerima Fidusia jika dengan cara demikian dapat diperoleh harga tertinggi yang menguntungkan para pihak.

Pengaturan mengenai penjualan di bawah tangan atas jaminan fidusia ini tidak berbeda dengan pengaturannya dalam Undang-undang Hak Tanggungan, di mana pelaksanaan penjualan di bawah tangan dilakukan setelah lewat waktu 1 (satu) bulan sejak diberitahukan secara tertulis oleh Pemberi dan atau Penerima Fidusia kepada pihakpihak yang berkepentingan dan diumumkan sedikitnya dalam 2 (dua) surat kabar yang beredar di daerah yang bersangkutan.

b. Lelang jaminan kredit.

Lelang adalah penjualan barang yang terbuka untuk umum dengan penawaran harga secara tertulis dan/atau lisan yang semakin meningkat atau menurun untuk mencapai harga tertinggi yang didahului dengan pengumuman lelang.54 Peraturan mengenai lelang ini diatur oleh Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No. 40/PMK.07/2006 tentang Petunjuk Pelaksanaan Lelang, yang dalam ketentuan Pasal 1 disebutkan bahwa ada tiga jenis lelang, yaitu :

1) Lelang Eksekusi adalah lelang untuk melaksanakan putusan/penetapan pengadilan atau dokumen-dokumen lain, yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dipersamakan dengan itu, dalam rangka membantu penegakan hukum, antara lain: Lelang Eksekusi Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN), Lelang Eksekusi Pengadilan, Lelang Eksekusi Pajak,

commit to user

(24)

Lelang Eksekusi Harta Pailit, Lelang Eksekusi Pasal 6 Undang-undang Hak Tanggungan (UUHT), Lelang Eksekusi dikuasai/tidak dikuasai Bea Cukai, Lelang Eksekusi Barang Sitaan Pasal 45 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), Lelang Eksekusi Barang Rampasan, Lelang Eksekusi Barang Temuan, Lelang Eksekusi Fidusia, Lelang Eksekusi Gadai.

2) Lelang Non Eksekusi Wajib adalah lelang untuk melaksanakan pejualan barang milik negara/daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara atau barang milik Badan Usaha Milik Negara/Daerah (BUMN/D) yang oleh peraturan perundangundangan diwajibkan untuk dijual secara lelang termasuk kayu dan hasil hutan lainnya dari tangan pertama.

3) Lelang Non Eksekusi Sukarela adalah lelang untuk melaksanakan penjualan barang milik perorangan, kelompok masyarakat atau badan swasta yang dilelang secara sukarela oleh pemiliknya, termasuk BUMN/D berbentuk persero.

Dari ketiga jenis lelang tersebut, yang akan dibahas pada penulisan ini adalah Lelang Eksekusi karena lelang tersebut yang digunakan oleh perbankan untuk melakukan eksekusi jaminan kredit, hal ini sejalan dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang Hak Tanggungan dan Undang-undang Jaminan Fidusia.

Selanjutnya di dalam Peraturan Menteri Keuangan tersebut terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum terjadinya pelelangan, serta hal-hal yang harus dilakukan oleh bank (kreditur) selaku pemohon lelang untuk melakukan lelang atas jaminan kredit:

1) Syarat-syarat sahnya suatu lelang

a) Adanya kewajiban bahwa setiap pelaksanaan lelang harus dilakukan oleh dan/atau dihadapan pejabat lelang kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan (Pasal 2).

b) Adanya ketentuan jumlah minimum peserta untuk terselenggaranya suatu lelang, di mana pada lelang pertama harus diikuti oleh paling sedikit 2 (dua) peserta lelang, sedangkan lelang ulang dapat dilaksanakan dengan dikuti oleh 1 (satu) orang peserta lelang (Pasal 4).

c) Adanya ketentuan mengenai uang jaminan dalam lelang, di mana untuk dapat menjadi peserta lelang, setiap peserta harus menyetor uang jaminan penawaran lelang (Pasal 15 ayat 1). commit to user

(25)

d) Pengumuman lelang untuk lelang eksekusi terhadap barang tidak bergerak atau barang tidak bergerak yang dijual bersama-sama dengan barang bergerak (Pasal 21 ayat 1) dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut : Pertama, pengumuman dilakukan dua kali berselang 15 (lima belas) hari; Kedua, pengumuman pertama diperkenankan melalui tempelan yang mudah dibaca oleh umum, dan dapat ditambah melalui media elektronik, namun demikian apabila dikehendaki oleh penjual pengumuman pertama dapat dilakukan dengan surat kabar harian; dan Ketiga, pengumuman kedua harus dilakukan melalui surat kabar harian dan dilakukan berselang 14 (empat belas) hari sebelum pelaksanaan lelang.

e) Pengumuman lelang untuk lelang eksekusi terhadap barang bergerak dilakukan 1 (satu) kali melalui surat kabar harian berselang 6 (enam) hari sebelum pelaksanaan lelang, kecuali untuk benda yang lekas rusak atau yang membahayakan atau jika biaya penyimpanan benda tersebut terlalu tinggi, dapat dilakukan kurang dari 6 (enam hari) tetapi tidak boleh kurang dari 2 (dua) hari kerja, dan khusus untuk ikan dan sejenisnya tidak boleh kurang dari 1 (satu) hari kerja (Pasal 21 ayat 2).

f) Pada lelang dengan penawaran lelang yang dilaksanakan secara langsung, semua Peserta lelang yang sah atau kuasanya pada saat mengajukan penawaran harus hadir di tempat pelaksanaan lelang.

g) Adanya pengenaan biaya bea lelang dan uang miskin dari setiap pelaksanaan lelang yang ada.

h) Terhadap setiap pelaksanaan lelang pejabat lelang membuat risalah lelang (Pasal 53). Hal ini merupakan asas akuntabilitas (accountability) di dalam lelang, di mana lelang dapat dipertanggungjawabkan karena risalah lelang memenuhi ciri khas sebagai akta otentik39 sebagaimana disebut dalam ketentuan Pasal 1868 Kitab Undang-undang Hukum Perdata sehingga mempunyai kekuatan pembuktian mutlak.

2) Kewajiban bank di dalam pelelangan selaku pemohon lelang

39 Suatu akta otentik ialah suatu akta yang di dalam bentuk yang ditentukan oleh undangundang, dibuat oleh atau dihadapan pegawai-pegawai umum yang berkuasa untuk itu di tempat di mana akta dibuatnya. R.

Subekti & R. Tjitrosudibio, Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Cetakan ke-36, Jakarta: Pradnya Paramita, 2005, hlm. 475.

commit to user

(26)

a) Penjual yang bermaksud melakukan penjualan secara lelang mengajukan surat permohonan lelang secara tertulis Kepada Kepala KP2LN atau Pemimpin Balai Lelang disertai dengan dokumen persyaratan lelang (Pasal 6 ayat 1).

b) Penjual/Pemilik Barang Wajib memperlihatkan atau menyerahkan asli dokumen kepemilikan kepada pejabat Lelang paling lambat 1 (satu) hari kerja sebelum pelaksanaan lelang, kecuali Lelang Eksekusi yang menurut peraturan perundang-undangan tetap dapat dilaksanakan meskipun asli dokumen kepemilikannya tidak dikuasai oleh Penjual (Pasal 9 ayat 1)

c) Pelaksanaan lelang tanah atau tanah dan bangunan wajib dilengkapi dengan Surat Keterangan Tanah (SKT) dari Kantor Pertanahan setempat (Pasal 12 ayat 1).

d) Penjualan secara lelang wajib didahului dengan pengumuman lelang yang dilakukan oleh penjual (Pasal 18), yang pada prinsipnya pengumuman lelang dilaksanakan melalui surat kabar harian yang terbit di tempat barang berada yang akan dilelang (Pasal 19 ayat 1). Hal ini merupakan perwujudan dari asas transparansi/publisitas di dalam lelang.

e) Pada setiap pelaksanaan lelang, Penjual wajib menetapkan Harga Limit berdasarkan pendekatan penilaian yang dapat dipertanggungjawabkan, kecuali pada pelaksanaan Lelang Non Eksekusi Sukarela barang bergerak, Penjual/Pemilik Barang dapat tidak mensyaratkan adanya Harga Limit (Pasal 29 ayat 1).

Ketentuan Pasal 6 Undang-undang Hak Tanggungan dan ketentuan Pasal 29 Undang-undang Jaminan Fidusia memberikan hak kepada pemegang Hak Tanggungan pertama dan penerima fidusia untuk melakukan eksekusi terhadap obyek hak tanggungan maupun obyek jaminan fidusia apabila debitur cidera janji (wanprestasi). Eksekusi mana dilakukan dengan cara parate executie, di mana pemegang hak tanggungan maupun penerima fidusia dalam melakukan eksekusi tidak memerlukan persetujuan lebih dahulu dari pemberi hak tanggungan atau pemberi fidusia, serta tidak memerlukan penetapan dari Ketua Pengadilan Negeri.

Parate executie tersebut dapat dilakukan karena adanya irah-irah “DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA” pada Sertifikat Hak Tanggungan dan Sertifikat Jaminan Fidusia, untuk memberikan kekuatan eksekutorial yang sama dengan putusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap.

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

Words painting merupakan istilah atau teknik komposisi yang digunakan untuk mengerksperikan kata dalam syair lagu dengan perlakuan melodi atau pola ritme tertentu.. Sebagian

Dari hasil keseluruhan hasil rekapitulasi dapat di lihat 53 % responden menjawab sangan setuju artinya responden sangan setuju dengan variabel faktor sosial,

Hasil yang diperoleh dari analisis statistika deskriptif, yaitu: (1) Aktivitas dan hasil belajar matematika siwa setelah diajar dengan menggunakan model

Hasil analisis frekuensi yang ditunjukkan pada Gambar 6, diketahui bahwa indikator pengetahuan pengguna (Ps) sebanyak 1 responden menjawab Sangat Tidak Setuju (STS) dengan

Ada pun penelian ini dari kompetensi dan motivasi kerja dengan kinerja, secara simultan memiliki hubungan, akan tetapi secara parsial yang lebih dominan

Tahapan ini menyangkut identifikasi awal untuk menentukan lokasi penelitian, pengumpulan data berupa studi kepustakaan mengenai hal - hal yang berhubungan

Metode GCV adalah salah satu metode yang digunakan untuk memperoleh estimasi parameter penghalus pada fungsi variansi yang merupakan modifikasi dari metode Cross

Untuk menghasilkan sebuah kunci pada sistem kriptografi kunci publik RSA membutuhkan bilangan P dan Q yang prima, algoritma Fermat’s Little Theorem dapat digunakan