Tujuan Penelitian Jenis &
Sumber Data
Teknik Pengumpulan
Data
Analisis Data Output
terhadap penyelesaian konflik atas sumberdaya hutan Sesaot.
daerah , masyarakat, NGO, Pihak Swasta, dan perguruan tinggi
stakeholder;
analisis deskriptif
konflik
6. Menganalisis implikasi konflik terhadap kawasan hutan Sesaot.
Data primer dan sekunder dari Instansi Pemerintah , masyarakat, NGO dan PT
Penelusuran dokumen ; wawancara;
FGD
Analisis deskriptif;
Analisis isi kebijakan;
Analisis stakeholder;
Implikasi konflik atas hutan terhadap sumberdaya hutan Sesaot
4 KARAKTERISTIK LOKASI PENELITIAN
Kondisi biofisik
Kawasan Hutan Sesaot merupakan bagian dari kelompok hutan Gunung Rinjani (RTK 1) yang secara geografis terletak diantara 8″ 15′ - 8″ 35′ Lintang Selatan dan 116 ″ 03′ - 116″ 44′ Bujur Timur, dengan ketinggian antara 300 – 600 m dpl. Secara administratif kehutanan kawasan ini termasuk wilayah Sub Seksi Pemangkuan Hutan (SSPH) Sesaot, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lombok Barat. Dari sisi administratif pemerintahan, kawasan hutan Sesaot berada di Kecamatan Narmada dan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Terdapat 6 (enam) desa yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan yaitu Desa Sesaot, Lebah Sempage, Sedau, Pakuan, Buwun Sejati (Kecamatan Narmada) dan Desa Batu Mekar (Kecamatan Lingsar).3
Sejak tahun 1982 kawasan Hutan Sesaot ditetapkan menjadi kawasan hutan lindung. Kawasan hutan lindung adalah kawasan hutan yang memiliki sifat khas yang mampu memberikan perlindungan kepada kawasan sekitar maupun areal di bawahnya sebagai pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi serta
3 Pada berbagai literatur dan hasil penelitian disebutkan bahwa jumlah desa yang berada di sekitar kawasan hutan Sesaot adalah 4 desa (Desa Sesaot, Lebah Sempage, Sedahu, dan Batu Mekar). Sejak bulan November 2011 telah terjadi pemekaran desa, yaitu Desa Sesaot dimekarkan menjadi 2 desa (Desa Sesaot dan Buwun Sejati) dan Desa Lebah Sempage juga dimekarkan menjadi 2 desa (Desa Lebah Sempage dan Desa Pakuan).
memelihara kesuburan tanah.4
4 Definisi kawasan hutan lindung pada Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.
Topografi bervariasi dari datar hingga curam.
Ketinggian lokasi antara 300 – 600 m dpl dengan kelerengan yang dominan antara 15 – 40% atau agak curam - curam. Berdasarkan Peta Tanah Indonesia (1968) skala 1: 2.500.000 dari Lembaga Penelitian Tanah Bogor, jenis tanah di kawasan hutan Sesaot adalah regosol. Tanah regosol masuk dalam klasifikasi tanah yang sangat peka terhadap erosi.
Berdasarkan klasifikasi iklim dari Schmit dan Ferguson kawasan hutan Sesaot termasuk dalam tipe iklim C dengan curah hujan rata-rata antara 7.000 – 15.000 mm/tahun. Hasil pengukuran data curah hujan selama 10 tahun, antara tahun 1999 – 2009 di stasiun penangkar juru pengairan wilayah di Sesaot, menunjukkan bahwa jumlah curah hujan berkisar antara 7.055 mm/th atau 588 mm/bln atau 26,73 mm/hari. Jumlah hari hujan berkisar antara 109 – 255 hari hujan/tahun atau rata-rata setiap bulannya antara 9 – 22 hari hujan.
Kawasan Hutan Sesaot seluas ± 5.950,18 hektar merupakan kawasan hutan yang memiliki nilai strategis, baik dari sisi ekologi, ekonomi, maupun sosial.
Kawasan ini merupakan wilayah hulu dari Sub DAS Jangkok, memiliki fungsi hidrologi yang sangat penting. Sub DAS Jangkok memenuhi kebutuhan air untuk 2 kecamatan dan 11 desa (Kabupaten Lombok Barat) dan 3 kecamatan dan 10 kelurahan (Kota Mataram) dengan luas keseluruhan mencapai 22.526 km2.
Terdapat lebih dari 44 mata air di kawasan hutan Sesaot yang mengalir ke sungai- sungai dibawahnya, seperti Kali Jangkok, Kali Sesaot, Kali Timbesar, dan Kali Bensua. Beberapa mata air yang besar adalah mata air Ranget, Pengkukun, Sesaot, Aik Nyet, Pengkoak, dan Orong Petung (Konsepsi 2010).
Mata air Ranget disamping dimanfaatkan masyarakat sekitarnya juga telah diambil oleh PDAM untuk kebutuhan air bersih di Kota Mataram. Mata air Aik Nyet menjadi tempat wisata yang cukup ramai dikunjungi wisatawan, khususnya pada hari libur. Di kecamatan Narmada juga telah beroperasi perusahaan air minum dalam kemasan, yang memanfaatkan mata air yang bersumber dari kawasan hutan Sesaot.Tutupan lahan di hutan Sesaot terdiri dari hutan alam yang belum dimanfaatkan oleh masyarakat seluas ± 2.073 ha dan tanaman hasil reboisasi, hasil program kopi penyangga dan pemanfaatan HKm seluas ± 3.876,7 ha.
Keberadaan mata air sering dihubungkan dengan kondisi vegetasi hutan.
Beberapa hasil studi menyebutkan bahwa telah terjadi degradasi lahan di sub DAS Jangkok yang ditandai dengan penurunan debit rata-rata di Sungai Jangkok sebesar 5,6 % setiap tahunnya (WWF Nusra 2008 dalam Galudra,dkk 2010).
Akan tetapi hasil kajian Setiawan, dkk (2010) menyebutkan kondisi debit air pada stasiun bendungan Jangkok masih tergolong baik, yaitu tingkat ketahanan debit pada saat bulan basah dan kering masih baik, dengan nilai flow persistence yang cenderung naik. Hal ini mengindikasikan kondisi tutupan lahan hutan Sesaot cenderung semakin baik.
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 837/Kpts/Um/11/1980 tentang kriteria dan tata cara penetapan hutan lindung, dimana faktor-faktor yang diperhatikan dan diperhitungkan di dalam penetapan perlunya hutan lindung di dalam kawasan adalah lereng lapangan, jenis tanah menurut kepekaannya terhadap erosi dan intensitas hujan di wilayah yang bersangkutan. Hasil penghitungan nilai yang lebih besar dari 175 menunjukkan bahwa kawasan tersebut memenuhi Kriteria sebagai hutan lindung. Disamping itu dalam peraturan tersebut juga disebutkan bahwa suatu wilayah perlu dibina dan pertahankan sebagai hutan lindung apabila memenuhi salah satu atau beberapa syarat: 1) mempunyai lereng lapangan lebih besar dari 45%5; 2) tanah sangat peka terhadap erosi yaitu jenis tanah regosol, litosol, organosol dan renzina dengan lereng lapangan 15%; 3) merupakan jalur pengamanan aliran sungai/air; 3) merupakan pelindung mata air; 4) mempunyai ketinggian 2000 meter diatas permukaan laut atau lebih.
Berdasarkan kriteria khusus tersebut maka kawasan hutan Sesaot memenuhi kriteria sebagai hutan lindung, terutama berkaitan dengan jenis tanah dan kelerengannya serta fungsinya sebagai daerah tangkapan air. Hasil perhitungan dengan membandingkan kelerengan, jenis tanah dan curah hujan juga menunjukkan skor 185, sehingga kawasan hutan Sesaot memang perlu dijadikan, dibina dan dipertahankan sebagai kawasan hutan lindung.
Tanah dan topografi
Berdasarkan Peta Tanah Indonesia (1968) skala 1: 2.500.000 dari Lembaga Penelitian Tanah Bogor, jenis tanah di kawasan Hutan Sesaot adalah regosol dengan kemampuan tanah seperti terlihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Kemampuan tanah di kawasan hutan Sesaot Kemampuan
tanah
Kelerengan (%)
Kedalaman (cm)
Tekstur tanah
Drainase Erosi Faktor pembatas A2bT
Bt
15 -40 60 -90 sedang Tidak pernah tergenang
Tidak ada erosi
Berbatu- batu
B2bE Bt
2 - 15 60 -90 sedang Tidak pernah tergenang
Ada erosi
Berbatu- batu C2bT
Bt
15 -40 30 -60 sedang Tidak pernah tergenang
Tidak ada erosi
Berbatu- batu Sumber : Dinas Kehutanan Provinsi NTB 2009
5 Dalam Keppres No. 32/1990 ketentuan ini diubah menjadi kawasan hutan yang mempunyai lereng lapangan 40% atau lebih.
Tanah di bawah tegakan hutan dan di daerah deposit alluvial mengandung material organik yang cukup banyak dengan kandungan tekstur lempung yang tinggi ( Syarifudin 1999). Topografi kawasan bervariasi dari datar, landai, agak curam, sampai curam, dengan kelerengan antara 15 – 40%.
Iklim dan curah hujan
Menurut Borsa (1997) dalam Syarifudin (1999), Pulau Lombok secara keseluruhan beriklim tropis dengan temperatur rata-rata antara 30º - 35º C. Pola hujan mengikuti pola angin muson barat daya dengan musim hujan tunggal terjadi pada bulan Oktober hingga Mei. Persebaran hujan lokal sebagian besar dipengaruhi oleh keberadaan Gunung Rinjani.
Berdasarkan klasifikasi iklim dari Schmit dan Ferguson kawasan hutan Sesaot termasuk dalam tipe iklim C dengan curah hujan rata-rata antara 7.000 – 15.000 mm/tahun. Hasil pengukuran data curah hujan selama 10 tahun, antara tahun 1999 – 2009 di stasiun penangkar juru pengairan wilayah di Sesaot, menunjukkan bahwa jumlah curah hujan berkisar antara 7.055 mm/th atau 588 mm/bln (pada tahun 2008) dan 15.819 mm/th atau 1.318 mm/bln (pada tahun 2004). Jumlah hari hujan berkisar antara 109 – 255 hari hujan/tahun atau rata-rata setiap bulannya antara 9 – 22 hari hujan. Hampir sepanjang tahun terdapat hujan, dengan intensitas hujan yang tinggi terjadi pada bulan Oktober – April.
Gambar 5 Grafik curah hujan rata-rata bulanan di Sesaot
Sumber : Data stasiun penangkar juru pengairan daerah irigasi Sesaot, Kecamatan Narmada.
Flora dan fauna
Secara umum kawasan hutan Sesaot terdiri dari hutan alam yang belum ada kegiatan pemanfaatan oleh masyarakat seluas ± 2.700 ha, dengan jenis-jenis
787 530
923 980 783
674 748 794 1318
734 662 785
588 1223
846
0 200 400 600 800 1000 1200 1400
1995 1996
1997 1998
1999 2000
2001 2002
2003 2004
2005 2006
2007 2008
2009 Tahun
CH (mm/th)
tanaman seperti Bajur (Pteospermum javanicum), Garu (Disoxylum sp), Dau (Dracontomelom mangiferum), Laban (Vitex pubescen vhal), Terep (Arthocarpus elasticus), Sono (Dalbelgia sp), Tandan Sesaot (Mallotus philipinensis), Ketimis (Protium javanicum burn), Rajumas (Duabanga moluccana), Jowet (Eugenis cumini), Goak (Ficus spp), Sentul (Algalaia spp), dan lain-lain. Kawasan lain merupakan hutan tanaman hasil reboisasi dan program kopi penyangga seluas ± 3.200 ha. Jenis tanaman yang dominan adalah mahoni (Swietenia mahagony), sengon (Parasariantes falcataria), kemiri (Aleurites moluccuna) dan tanaman multi guna lainnya seperti durian, nangka, rambutan, kopi, dan coklat.
Jenis-jenis satwa yang masih kerap ditemui di kawasan hutan Sesaot adalah Kera (Macaca fascularis), Babi hutan (Sus vitatus), Biawak (Varanus salvator) Landak, Ular, Lutung (Presbitis aristota), Kijang (Rusa timorensis), dan jenis- jenis burung, seperti Ayam hutan, burung kerata, kepunek, kenyeling, dan dawa.
(Konsepsi 2010; Sahwan 2002, Dinas Kehutanan Provinsi NTB 2009).
Sebagian besar kawasan hutan Sesaot sudah dimanfaatkan oleh masyarakat dalam bentuk tanaman tumpang sari dengan pola agroforestry, yang menggabungkan tanaman kayu-kayuan, tanaman MPTS (multi purpose tree species), tanaman perkebunan, dan tanaman semusim. Pemanfaatan kawasan menggunakan model pemanfaatan Hutan Kemasyarakatan (HKm) yang dimulai sejak tahun 1993. Sampai penelitian ini dilakukan terdapat 4 (empat) kelompok HKm yang bergabung dalam wadah koordinasi Forum Kawasan Hutan Lindung Sesaot. Keempat kelompok tersebut memanfaatkan areal seluas lebih kurang 3.800 ha.
Kondisi sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat sekitar hutan Kependudukan
Saat ini terdapat 6 desa yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung Sesaot, yaitu Desa Sesaot, Lebah Sempage, Sedau, Pakuan, Buwun Sejati (kelimanya termasuk dalam wilayah Kecamatan Narmada), dan Desa Batu Mekar (Kecamatan Lingsar). Desa Lebah Sempage merupakan hasil pemekaran dari Desa Sedau pada tahun 1998, Desa Batu Mekar merupakan hasil dari pemekaran Desa Batu Kumbung pada tahun 2000, Desa Pakuan merupakan desa hasil pemekaran dari Desa Lebah Sempage ( November 2011), dan Desa Buwun Sejati juga merupakan desa hasil pemekaran Desa Sesaot (November 2011). Jadi wilayah Desa Sesaot telah dimekarkan menjadi 3 desa baru. Jumlah penduduk masing-masing desa dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5 Kondisi kependudukan desa-desa sekitar kawasan hutan Sesaot No Desa Luas
wilayah (Km2)
Jumlah Penduduk
Laki- laki
Perempuan Jumlah KK
Kepadatan
1 Sesaot 41,96 8.886 4.399 4.487 1.844 212 2 Lebah
Sempage
5,56 3.716 1.811 1.905 826 149
3 Sedau 8,44 4.335 2.129 2.206 2.820 514
4 Pakuan 4,3 2.902 1.454 1.448 925 215
5 Batu Mekar
11,91 7.811 3.937 3.874 2.199 656 6 Buwun
Sejati
14,14 3.629 1.872 1.820 1.221 256
Sumber : Kecamatan Narmada dalam Angka 2010; Monografi Desa Batu Mekar 2010;
Monografi Desa Sesaot 2010; Monografi Desa Lebah Sempage; RPJMDes Buwun Sejati 2011, hasil wawancara responden.
Gambar 6 Kondisi kependudukan di sekitar hutan Sesaot
Dari data diatas maka rata-rata kepadatan penduduk di desa-desa sekitar hutan Sesaot sudah cukup tinggi. Kepadatan penduduk paling tinggi terdapat di Desa Batu Mekar, mencapai 656 jiwa/km2. Jumlah tanggungan setiap keluarga pada masing-masing desa mencapai 5 orang (Desa Sesaot), 4 orang (Desa Lebah Sempage), 2 orang (Desa Sedau), dan 4 orang (Desa Batu Mekar). Sementara itu jumlah penduduk usia produktif (usia 15 -64 tahun) di Desa Sedau mencapai 2.810 orang ( 1.339 laki-laki dan 1.471 perempuan), Desa Lebah Sempage 4.290 orang ( 2.044 laki-laki dan 2.246 perempuan), Desa Sesaot 5.760 (2.745 laki-laki dan 3.015 perempuan).6
6 Data ini merupakan dataKecamatan Narmada dalam Angka tahun 2010
Kepadatan penduduk yang cukup besar, jumlah tanggungan keluarga yang cukup banyak, terbatasnya kepemilikan lahan serta besarnya jumlah penduduk usia produktif seperti data-data diatas menjadi salah satu penyebab banyaknya masyarakat yang masuk ke dalam kawasan hutan dan memanfaatkan areal tersebut untuk sumber penghidupannya.
0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 7000 8000 9000
Jml Penduduk
Laki-laki Perempuan Jml KK
Sesaot Lebah Sempage Sedau Pakuan Batu Mekar Buwun Sejati
Mata pencaharian
Sebagian besar penduduk di sekitar kawasan hutan Sesaot bekerja di sektor pertanian. Pada tahun 2008, di Desa Sesaot lebih dari 54 % penduduknya bekerja di sektor pertanian. Sektor lain yang banyak menyerap tenaga kerja adalah industri dan perdagangan (BPS 2009). Rata-rata kepemilikan lahan di desa-desa sekitar hutan relatif kecil (± 0,3 ha/kk), sehingga meskipun bekerja di sektor pertanian tetapi pada umumnya menjadi petani penggarap yang memanfaatkan lahan hutan untuk menunjang kehidupannya.
Pendapatan daerah regional bruto per kapita di Kecamatan Narmada pada tahun 2009 mencapai Rp 4.446.910 atau sekitar Rp 12.352 per harinya (BPS 2010). Data ini tidak berbeda jauh dengan hasil penelitian ICRAF (2010) yang menyebutkan bahwa rata-rata pendapatan per kapita per hati petani HKm yang sudah mendapatkan ijin sebesar Rp 12.654, pendapatan per kapita per hari petani HKm non ijin sebesar Rp 11.679, dan pendapatan per kapita per hari petani non HKm mencapai Rp 14.748. Sementara itu hasil Analisis Kemiskinan Partisipatif yang dilakukan Konsepsi (2010) terhadap 280 kepala keluarga petani HKm menunjukan bahwa 70% responden memiliki penghasilan kurang dari Rp 500,000 atau rata-rata pendapatan per hari kurang lebih Rp 16.667. Jika dibandingkan dengan standar garis kemiskinan yang ditetapkan oleh World Bank tahun 2008 yaitu sebesar US $ 1.25 per kapita per hari, maka dapat dikatakan para petani penggarap HKm sebagian besar berada di sekitar garis kemiskinan.
Tabel 6 Kondisi mata pencaharian masyarakat di desa-desa sekitar hutan Sesaot7 No Jenis Mata
Pencaharian
Desa Sesaot (orang)
Desa Lebah Sempage
Desa Sedau
Desa Batu Mekar
1 Pertanian 1.214 838 363 2.287
2 Pertambangan dan penggalian
68 121 58 0
3 Industri 232 69 31 30
4 Listrik, gas, dan air minum
0 0 0 0
5 Konstruksi 79 30 26 31
6 Perdagangan 242 323 610 133
7 Angkutan 31 145 54 34
8 Lembaga keuangan 0 6 0 0
9 Jasa-jasa 367 398 201 323
Sumber : BPS 2008
Kepemilikan lahan yang kecil menjadi salah satu pendorong masyarakat memanfaatkan kawasan hutan, terutama menggarap areal hutan dengan menanami tanaman MPTS, buah-buahan dan tanaman semusim. Pengamatan di lapangan, setiap hari berbagai hasil tanaman buah-buahan dan tanaman bawah tegakan
7 Data Desa Buwun Sejati dan Desa Pakuan masih tergabung dalam Desa Sesaot dan Desa Lebah Sempage
lainnya, seperti pisang, nangka, rambutan, dan kopi diperjualbelikan di kawasan hutan Sesaot.
Hasil penelitian WWF Nusa Tenggara dan KMPH Sesaot (2006) menunjukkan nilai transaksi perdagangan komoditas 31 jenis hasil hutan bukan kayu (kopi, coklat, kemiri, dan buah-buahan lainnya) di tiga desa (Sesaot, Lebah Sempage, dan Sedau) yang berbatasan langsung dengan kawasan Hutan Sesaot mencapai nilai lebih dari Rp 900 juta pada saat musim panen dan lebih dari Rp 280 juta pada saat bukan musim panen, setiap minggunya. Potensi ini cukup besar, hanya saja karena masyarakat masih menjual hasil tanaman sebagai bahan mentah dan masih sedikit sekali yang sudah diolah menjadi bahan olahan jadi atau setengah jadi, maka keuntungan yang didapatkan petani relatif paling kecil dibanding keuntungan yang didapatkan pedagang, terutama pedagang antara.
Kondisi lain yang banyak ditemukan di desa-desa sekitar hutan Sesaot adalah banyaknya kayu bakar yang beredar dan diperjualbelikan masyarakat.
Kayu bakar ini sebagai tambahan pendapatan keluarga. Sumber kayu bakar disebutkan sebagai rencek dari ranting-ranting pohon, pohon-pohon kopi yang sudah tua, pohon-pohon di lahan milik, serta pohon yang berada di hutan, yang ditebang dan dijadikan kayu bakar. Pada saat pengambilan data, harga kayu bakar 1 pikul mencapai Rp 15.000 di pinggir jalan. Biasanya pembeli mengambil sendiri dengan menggunakan kendaraan untuk di bawa ke Mataram dan/atau kota-kota lain disekitarnya. Penggunaan kayu bakar disamping untuk keperluan rumah tangga juga sebagai bahan bakar pembakaran tembakau.
Gambar 7 pencari kayu bakar dan tumpukan kayu bakar yang siap dijual Di desa-desa sekitar hutan juga terdapat beberapa industri pengolahan kayu (sawmill). Bahan baku kayunya disebutkan berasal dari kayu-kayu dari hutan rakyat dan/atau kayu dari daerah lain. Akan tetapi beberapa pihak yang diwawancarai juga menengarai bahwa keberadaan sawmill tersebut menjadi salah satu pendorong masih adanya kasus-kasus penebangan liar dimana hasil penebangan ditampung dan diolah menjadi kayu olahan pada sawmill yang berada di sekitar desa.
Sementara itu di Desa Sesaot terdapat industri pengolahan kerajinan kayu, yang sebagian besar memproduksi dulang atau mangkuk kayu, yang biasanya untuk keperluan upacara keagamaan di Bali. Di desa ini dibuat bahan setengah jadi dan kemudian dibawa ke Bali untuk dilakukan proses finishing. Informasi dari perajin, meskipun dibuat di Lombok akan tetapi setelah sampai di Bali kemudian disebut sebagai kerajinan made in Bali. Kerajinan tersebut sebagian besar dibuat dari kayu kemiri, yang dikatakan oleh pengrajinnya berasal dari areal hutan rakyat atau kebun masyarakat serta sebagian dibeli dari daerah lain.
Gambar 8 Industri rumah tangga pembuatan dulang dan industri sawmill di sekitar hutan Sesaot.
Di sekitar kawasan hutan Sesaot terdapat potensi untuk wisata alam yang cukup banyak, seperti air terjun, gua, bendungan, dan sungai-sungai yang dapat dijadikan obyek untuk wisata arung jeram. Jika dikelola dengan baik akan dapat meningkatkan lapangan kerja masyarakat. Sampai sekarang baru sedikit obyek wisata yang telah dikelola, seperti Aik Nyet dan mata air Ranget.
Pendidikan dan kesehatan
Sebagian besar penduduk di sekitar kawasan hutan Sesaot berpendidikan sampai tamat sekolah dasar. Di Desa Sesaot tercatat 1.322 orang penduduknya yang tamat SD, 1.332 orang tamat SMP, 661 orang tamat SMA, 18 orang tamat akademi setara Diploma 1 - 3, dan 34 orang yang tamat perguruan tinggi.
Sementara itu di Desa Batu Mekar tercatat 804 orang yang menyelesaikan pendidikan SD, 244 orang tamat SMP, 109 orang menyelesaikan pendidikan SMA, dan 24 orang lulus pendidikan akademi (D1 – D3), dan 65 orang menyelesaikan pendidikan sarjana di perguruan tinggi.
Sarana pendidikan di desa-desa hanya ada sekolah dasar. Gedung SMP terdapat di Desa Sesaot dan Batu Mekar. Untuk melanjutkan pendidikan tingkat SLTA dan perguruan tinggi dilakukan di kota Mataram yang jaraknya paling jauh sekitar 1 – 1,5 jam perjalanan dengan kendaraan bermotor.
Tabel 7 Jumlah penduduk di desa sekitar hutan menurut tingkat pendidikan No Desa Tidak/belum
pernah sekolah
SD SLTP SLTA Akademi
dan Perguruan Tinggi
1 Sesaot 3.962 1.322 1.322 661 52
2 Lebah Sempage
3.526 1.507 292 150 13
3 Sedau 2.391 1.782 354 214 19
4 Batu Mekar 1.129 804 244 109 89
Sumber : BPS 2008, Monografi Desa Sesaot 2009, Monografi Desa Batu Mekar 2009
Gambar 9 Grafik tingkat pendidikan masyarakat di desa sekitar hutan Sesaot Di setiap desa di sekitar kawasan hutan Sesaot sudah terdapat sarana kesehatan berupa puskesmas di Desa Sedau dan puskesmas pembantu di Desa Sesaot dan Batu Mekar. Pelayanan kesehatan dilaksanakan oleh tenaga mantri kesehatan dan dokter. Hampir di setiap dusun sudah terdapat posyandu, yang melayani fasilitas kesehatan ibu dan anak. Fasilitas kesehatan yang lebih maju terdapat di ibu kota Kecamatan Narmada, yang telah terdapat puskesmas yang dikategorikan sebagai rumah sakit kelas B, sehingga bisa melayani pasien rawat inap. Jika tidak dapat ditangani di tingkat desa atau kecamatan, maka akan di rujuk kepada rumah sakit di Kota Mataram, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari desa, dengan akses jalan yang baik.
Pranata sosial dan kelembagaan masyarakat
Sebagian besar masyarakat desa di sekitar kawasan hutan Sesaot merupakan masyarakat asli Pulau Lombok (Suku Sasak) yang merupakan pendatang dari daerah-daerah lain di Kabupaten Lombok Barat dan Lombok Tengah, seperti Selat, Nyiur, dan Lingsar. Sebagian lain merupakan pendatang dari luar pulau Lombok, seperti dari Bali, Sumbawa, dan Jawa. Mayoritas penduduk beragama
0 500 1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000
Sesaot Lebah Sempage
Sedau Batu Mekar
Tidak/Belum Sekolah SD
SLTP SLTA PT
Islam, sebagian lain beragama Hindu, dan Kristen. Sebagai contoh di Desa Sesaot kurang lebih 89 % beragama Islam dan 11% beragama Hindu. Di desa lainnya lebih dari 95% penduduknya beragama Islam. Sarana ibadah masjid dan/atau musholla terdapat pada setiap desa dan dusun. Di Sesaot terdapat sebuah pura yang cukup besar, yang di areal pura tersebut terdapat mata air Ranget yang dimanfaatkan penduduk dan juga diambil airnya oleh PDAM untuk kebutuhan air minum masyarakat kota Mataram.
Kelembagaan masyarakat yang ada di desa, disamping lembaga formal seperti pemerintahan desa, badan perwakilan desa, kepala dusun, RT, dan RW, terdapat juga lembaga sosial kemasyarakatan, baik yang sifatnya lembaga keagamaan, seperti pondok pesantren, kelompok pengajian dan wiridan, maupun yang terkait dengan hubungan sosial kemasyarakatan, seperti Banjar Hidup dan Banjar Mati.8
Forum Kawasan merupakan forum yang beranggotakan kelompok- kelompok tani masyarakat yang memanfaatkan hutan dengan skema HKm pada lintas desa, seperti KMPH Sesaot, Kelompok tani Wana Abadi, Wana Lestari, dan Wana Darma. Kelembagaan forum disamping terdiri dari para pengurus seperti ketua dan sekretaris, juga terdapat Lokaq Awig-Awig dan Lang-Lang.
Terkait dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam, khususnya hutan dan air telah berjalan beberapa bentuk institusi, seperti Forum Kawasan Hutan Lindung Sesaot (Forum Kawasan), Forum Ranget, dan kelompok-kelompok perempuan yang melakukan kegiatan usaha produktif berbasis hasil hutan bukan kayu dari kawasan hutan. Setidaknya terdapat 3 (tiga) kelompok perempuan yang aktif, yaitu kelompok perempuan MELATI Desa Lebah Sempage, kelompok MELATI Desa Sesaot, dan kelompok DAHLIA Desa Suranadi. Kegiatan yang dilakukan antara lain pengolahan pasca panen hasil hutan bukan kayu, pembibitan dan pembuatan kerajinan.
9
Sejak tahun 1984 di kawasan hutan Sesaot telah dikembangkan pola pembangunan yang memberikan akses kepada masyarakat untuk memanfaatkan kawasan hutan, antara lain melalui pembangunan hutan kopi penyangga dan hutan serbaguna. Pelaksanaan kegiatan HKm di hutan Sesaot sudah dimulai sejak tahun 1995, dalam bentuk uji coba HKm seluas 25 ha di Dusun Tembiras. Pola penanaman dengan proporsi tanaman kayu sebanyak 40% dan tanaman MPTS 60%, dengan jarak tanam awal 3 x 4 meter. Pada bulan April 1995 didirikan Forum Ranget merupakan forum yang beranggotakan para pihak yang memanfaatkan mata air Ranget di Desa Sesaot.
Pemanfaatan HKm di kawasan hutan Sesaot
8 Banjar Hidup adalah kelompok arisan untuk kepentingan perkawinan, sedangkan Banjar Mati adalah kelompok arisan untuk kematian.
9 Lokaq awig-awig merupakan organ Forum Kawasan yang berperan sebagai pemegang keputusan akhir dalam penegakan sanksi dari setiap kasus pelanggaran, sedangkan Lang-lang berperan sebagai penegak awig-awig atau aturan local yang dibangun bersama. Fungsinya bersifat pilisional, mulai dari penyidikan, penangkapan, dan penindakan para pelanggar awig-awig.
organisasi Kelompok Mitra Pelestari Hutan (KMPH) Mitra Sesaot sebagai lembaga yang mengelola areal HKm. Masyarakat yang berhak mengikuti program HKm secara umum adalah masyarakat miskin yang tidak memiliki lahan milik.
Pada tahun 1998, setelah dilakukan evaluasi atas hasil uji coba HKm sebelumnya yang dipandang berhasil kemudian dilakukan perluasan areal menjadi 211 ha. Pola tanam juga berubah karena memperhatikan aspirasi masyarakat yang merasa dengan pola sebelumnya kurang mampu meningkatkan pendapatan.
Perubahan proporsi tanaman kayu berbanding tanaman MPTS adalah dari 40% : 60% menjadi 30% : 70% dan jarak tanam berubah dari 3 x 4 meter menjadi 6 x 6 meter. Dengan pola ini ruang untuk memanfaatkan kawasan hutan dengan tanaman semusim dan MPTS semakin besar, akan tetapi disisi lain jumlah tanaman kehutanan yang ditanam semakin sedikit.
Sejak tahun 1998/1999 seiring dengan krisis ekonomi yang melanda dunia serta kondisi perpolitikan Negara yang tidak stabil (masa reformasi), masyarakat yang memanfaatkan kawasan hutan semakin banyak, tidak hanya yang tergabung dalam KMPH Mitra Sesaot, tetapi membentuk kelompok-kelompok baru, yang kemudian oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Lombok Barat disebut kelompok HKm non program. Kondisi ini terutama terjadi ketika pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan pemanfaatan kayu limbah bekas tebangan ilegal, yang kemudian justru berujung terjadinya kerusakan hutan yang lebih massif akibat penebangan yang tidak terkendali. Hasil wawancara dengan pengurus kelompok HKm, Forum Kawasan dan Konsepsi, dikatakan bahwa masyarakat telah membuat kesepakatan diantara semua anggota bahwa tidak akan memperluas areal hutan yang dimanfaatkan. Areal hutan yang sudah dimanfaatkan kelompok sudah dilakukan kegiatan pemetaan partisipatif yang didampingi oleh dinas kehutanan kabupaten dan pendamping, menghasilkan peta areal kerja pemanfaatan HKm yang disepakati oleh keempat kelompok tersebut.
Tabel 8 Kondisi pemanfaatan hutan kemasyarakatan di hutan Sesaot No Kelompok Luas
Areal (ha)
Jumlah Blok
Jumlah Anggota
Rerata luas pemanfaatan
(ha/kk)
Proporsi tanaman 1. KMPH
Sesaot
255.66 32 991 0,26 MPTS 51%,
Perkebunan (kopi,coklat) 28%, semusim 15%, tanaman
tahunan/kayu-kayuan 6%
2. Wana Dharma
1.065 22 1.010 1,054 MPTS 38 %,
perkebunan 48 %, 14
% kayu-kayuan dan semusim
3. Wana Abadi
1.628 14 1.158 1,4
4. Wana Lestari
928 24 1.030 0,9
Jumlah 3.876,66 92 4.189
Sumber: Data primer, Konsepsi (2010), Forum Kawasan (2010)
Gambar 10 Jumlah kelompok masyarakat memanfaatkan hutan Sesaot dengan skema HKm
Anggota kelompok Wana Abadi memanfaatkan kawasan hutan paling luas, sedangkan yang paling kecil adalah KMPH Sesaot. Jumlah keseluruhan yang telah memanfaatkan kawasan hutan kurang lebih 4.189 orang, dengan keseluruhan luasan areal mencapai 3.876,66 ha. Luasan paling sedikit yang dimanfaatkan anggota KMPH adalah 0,11 ha. Variasi luasan hampir seragam pada setiap anggota karena proses pembagiannya diatur oleh kelompok. Sementara itu pada ketiga kelompok yang lain minimal luas yang dimanfaatkan 0,25 ha, dengan variasi luasan masing-masing penggarap berbeda-beda, tergantung dari kemampuan penggarap ketika pertama kali memanfaatkan hutan.
0 500 1000 1500 2000
KMPH Wana Dharma Wana Abadi Wana Lestari
Luas 255,66 1065 1628 928
Jumlah Blok 32 22 14 24
Jumlah Anggota 991 1010 1158 1030
Gambar 11 Rata-rata luas lahan per penggarap anggota kelompok HKm di Sesaot Hasil wawancara dengan pengurus Forum Kawasan dan kelompok HKm didapatkan keterangan bahwa terdapat anggota kelompok yang mempunyai lahan garapan dengan luasan lebih dari 2 ha, hal ini dikarenakan ketika mereka mulai memanfaatkan kawasan hutan tidak ada yang membatasi dan sesuai kemampuannya. Sebaliknya terdapat banyak anggota yang mempunyai lahan garapan hanya kurang lebih 0,25 ha. Luasan lahan garapan yang lebih luas karena mendapatkan pemindahtanganan melalui proses nebus dari anggota yang mundur dari keanggotaan atau pindah domisili, serta dari lahan yang ditelantarkan penggarapnya. Proses pemindahtanganan ini disertai dengan biaya ganti rugi dan harus sepengetahuan kelompok serta terdata dalam administrasi kelompok. Jika tanpa sepengetahuan kelompok dan ditemukan oleh lang-lang atau lokaq awiq- awiq maka akan dilakukan persidangan di tingkat kelompok atau forum kawasan dengan kemungkinan dikenai denda yang besarnya ditentukan dalam persidangan lokaq awiq-awiq.
Hasil pengamatan lapangan menunjukkan bahwa tanaman reboisasi seperti sengon sudah tumbuh besar dengan diameter tanaman lebih dari 40 cm. Di beberapa tempat, seperti di Dusun Kumbi, Lebah Sempage tegakan kemiri juga tumbuh besar dan telah menghasilkan buah kemiri yang dimanfaatkan masyarakat. Pada kawasan yang dimanfaatkan masyarakat dengan model HKm, dalam 1 (satu) kelompok areal dibagi dalam blok-blok pemanfaatan (gontoran) yang dikoordinir oleh ketua blok. Blok terdiri dari sejumlah aguman (andil) yang dimanfaatkan masing-masing anggota kelompok. Luas gontoran bervariasi antara 0,25 ha sampai dengan 1 ha, meskipun terdapat anggota yang menggarap luasan lebih dari 1 ha.
Pengelolaan hutan dilakukan oleh masing-masing penggarap pada lokasi garapan (aguman) dengan pola penanaman yang telah disepakati bersama. Areal hutan dibagi dalam blok-blok yang pembagiannya berdasarkan Rukun Tetangga dalam wilayah dusun yang bersangkutan atau berdasarkan kemampuan ketua
0,26
1,054
1,4 0,9
KMPH Wana Dharma Wana Abadi Wana Lestari
gontoran dalam mengawasi anggotanya. Jika berdasarkan kemampuan ketua gontoran dalam mengawasi anggotanya, maka masing-masing gontoran terdiri dari 30 - 50 anggota dengan luasan 15 – 25 ha. Batas antar gontoran dibuat lorong, sedangkan batas antar aguman biasanya dibuat pagar hidup dari tanaman, sebagaimana terlihat pada Gambar 12 dan 13.
Proporsi tanaman didominasi tanaman MPTS, tanaman perkebunan dan tanaman semusim. Tanaman keras prosentasenya paling kecil. Hasil penelitian Khususiyah, Buana dan Suyanto (2010) menunjukan bahwa proporsi tanaman di areal HKm yang telah mendapatkan ijin, tanaman MPTS mencapai 51 %, tanaman perkebunan (Kopi dan Coklat) mencapai 28 %, tanaman semusim 15%, dan tanaman keras 6 %. Pada areal yang belum mendapat ijin HKm komposisi tanaman perkebunan 48%, MPTS 38%, selebihnya tanaman keras dan tanaman semusim. Menurut responden dari Forum Kawasan dan Konsepsi, kondisi ini disebabkan karena fungsi kawasan hutan yang merupakan hutan lindung sehingga masyarakat membatasi untuk menanam tanaman keras karena tidak dapat memetik hasil hutan kayunya.
Gambar 12 Lorong diantara blok HKm
Gambar 13 Batas antara aguman (lahan garapan)
Pada tahun 2006 dibentuk Forum Kawasan Hutan Lindung Sesaot (Forum Kawasan). Fungsi Forum Kawasan disamping terkait dengan pengamanan kawasan hutan, juga membantu pengurusan legalitas pemanfaatan HKm. Usulan penetapan areal kerja HKm dan IUPHKm untuk 3 kelompok HKm selain KMPH dilakukan oleh Forum Kawasan. Kepengurusan Forum terdiri dari Pembina, Ketua Forum, Sekretaris, Bendahara, Lokaq Awiq-Awiq, Lang-Lang, divisi-divisi (pemberdayaan, advokasi, usaha, kepemudaan, humas). Pembina Forum adalah Dinas Kehutanan Provinsi NTB, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lombok Barat, dan para kepala desa di wilayah kerja Forum.
Di dalam Forum telah disepakati aturan internal yang disebut awiq-awiq.
Aturan ini mangadopsi awiq-awiq yang biasa terdapat pada setiap dusun dan/atau kelompok masyarakat di sekitar kawasan hutan Sesaot. Awiq- awiq Forum Kawasan Hutan Lindung Sesaot terdapat pada Lampiran 2.
Hasil wawancara dengan pengurus Forum Kawasan dan Konsepsi, keberadaan Forum telah mengurangi terjadinya kasus perambahan kawasan hutan dan pencurian kayu10
10 Ketika survai dan orientasi ke dalam kawasan hutan ditemukan langsung sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, yang sedang memikul kayu gergajian dari dalam kawasan hutan (seperti gambar 14). Para penyemes, istilah setempat untuk pemikul kayu curian, ini dibayar murah oleh para pemodal yang menyuruh mengambil kayu di dalam kawasan hutan. Masih terjadinya pencurian kayu di kawasan hutan Sesaot antara lain disebabkan karena terdapat beberapa sawmill di desa-desa sekitar hutan Sesaot yang diindikasikan menampung kayu-kayu curian tersebut. Informasi dari narasumber, kasus- kasus pencurian dan keberadaan para penadahnya sebetulnya telah diketahui, baik oleh pengurus Forum Kawasan maupun petugas Dinas kehutanan, tetapi masih belum banyak
, baik pada lahan yang telah digarap masyarakat maupun
yang belum. Beberapa kegiatan Forum Kawasan yang terkait dengan pengawasan dan pengamanan kawasan hutan terdapat pada Lampiran 3.
Gambar 14 Beberapa orang sedang mengangkut kayu dari dalam kawasan hutan Sesaot melewati areal HKm
Dari beberapa kegiatan yang dilakukan Forum Kawasan menunjukkan bahwa kelembagaan internal forum telah berjalan cukup baik. Akan tetapi sampai penelitian ini dilakukan, menurut informasi dari informan Forum Kawasan, masih terjadi kasus pencurian kayu yang belum sepenuhnya dapat ditangani oleh Forum Kawasan, karena koordinasi yang harus dilakukan dengan aparat dinas kehutanan dan kepolisian. Pengamanan hutan yang dilakukan Forum lebih banyak dilakukan pada areal hutan kemasyarakat yang dimanfaatkan anggotanya. Berkaitan dengan implementasi HKm, dari hasil diskusi dan wawancara dengan informan, masih ditemukan beberapa permasalahan yang berkaitan dengan kondisi fisik kawasan maupun kelembagaannya, sebagaimana dapat dilihat pada Lampiran 4.
Upaya untuk mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut telah dilakukan oleh kelompok dengan fasilitasi dari LSM pendamping dan pemerintah daerah. Beberapa program dan kegiatan untuk peningkatan kapasitas kelompok, seperti pengembangan koperasi sebagai unit usaha kelompok HKm sudah dilakukan. Keberadaan Koperasi yang sudah berbadan hukum dan diterima oleh anggota masyarakat yang memanfaatkan HKm sebetulnya menjadi peluang untuk mengembangkan usaha berbasis hasil hutan bukan kayu dari areal HKm. Fasilitasi dan peningkatan kapasitas bagi pengurusnya masih terus diperlukan untuk menjalankan aktivitas koperasi.
dilakukan penindakan. Lang-lang yang dibentuk Forum Kawasan lebih banyak menangani kasus-kasus pencurian kayu yang masih berada dalam kawasan yang dimanfaatkan kelompok-kelompok HKm. Di luar wilayah tersebut, yang semestinya menjadi tanggung jawab petugas Dinas Kehutanan karena keterbatasan sumberdaya masih belum banyak dilakukan penindakan.