1 BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penelitian ini membahas mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi transformasi International Whaling Commission (IWC) dari rezim pengatur perburuan paus menjadi rezim konservasi paus. Perburuan paus secara komersial telah dimulai sejak tahun 1860-an, yang mana pada saat itu diperkenalkan oleh seorang pemburu paus dan sealer dari Norwegia, Svend Foyn.1 Metode yang diperkenalkan adalah menggunakan penangkap bertenaga uap dan harpoon untuk menumpur paus. Pada tahun 1970-an metode tersebut dioptimalisasikan untuk mempermudah pemrosesan paus di pabrik berbasis pantai yang sesuai dengan standar industri. Tepatnya pada awal abad ke-20, perburuan paus kian masif khususnya di belahan bumi utara, hal ini ditandai dengan berdirinya enam belas stasiun perburuan paus di pantai Norwegia pada tahun 1883. Sejalan dengan perkembangan metode yang digunakan, aktivitas berkembang pesat diikuti oleh negara lain seperti Newfoundland, Greenland, Jepang dan Rusia. Metode dan media perburuan kembali disempurnakan oleh seseorang dari Norwegia bernama
1 J. N Tonnessen, A.0 Johnsen, 1982, The History of Modern Whaling, California: University of California Press, hal. 796, dalam Roberrt C. Rocha, Jr, et. al. Empyting the Ocean: Summary of Industrial Whaling Cacthes in the 20th Century. Journal of Marine Fisheries Review, Vol, 76, 2014, hal. 37.
2
Christen Christensen melalui kapal uap kayu dengan koneksi telegraf ke perairan lepas Kepulauan Svalbard, Norwegia yang memiliki target utama paus biru (Balaenoptera Musculus), paus fin (B. Physalus), dan paus bungkuk (Megaptera
Novaeangliae).
Tren perburuan paus mengalami peningkatan yang signifikan pasca Perang Dunia 1, negara-negara seperti Inggris, Denmark, Norwegia, Jepang, Kanada, Chili, Amerika Serikat, dan Argentina memanfaatkan secara besar-besaran perairan yang belum tereksploitasi. Inovasi perangkap modern berimbas pada penemuan spesies paus lainnya seperti paus sperma (Physeter Macrocephalus) dan southern right whale (Eubalaena Australis). Sampai saat ini, paus yang paling umum yang diburu dan memiliki nilai komersial adalah sub-order paus Baleen, diantaranya Grey Whales, Right Whales (mencakup 4 spesies, Paus Bowhead, Atlantik Utara, Pasifik Utara, dan Southern Right Whales), Rorquals (mencakup Paus Biru, Bryde Whales, Paus Sei, Paus Fin, Humpback Whales, Southern Minke Whales, Paus Sperma dan Paus Pilot.2 Spesies paus tersebut paling banyak diburu sejak 1900-an, dan dikategorikan sebagai spesies terancam punah pada daftar appendix 1 di Convention on the International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES).3
Selama kurun waktu tersebut, perburuan paus berlangsung secara ekploitatif dan tidak memiliki regulasi yang jelas. Tidak terdapat kalkulasi pasti jenis spesies yang telah ditangkap, berapa jumlah yang masih tersedia, atau jaminan stok paus dapat bertahan secara berkelanjutan. Pada akhirnya industri
2 Appendices, Convention on the International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), diakses dalam https://cites.org/eng/app/appendices.php (10/08/2021).
3 Ibid.
3
perburuan paus mengalami krisis akibat produksi minyak dan daging paus yang membeludak, seiring dengan krisis ekonomi dunia dan penurunan harga semua bahan mentah. Pada akhir tahun 1920-an anggota LBB (Liga Bangsa-Bangsa) menyerukan "urgent international measures to protect them from extinction and thus set up a committee of experts to find a solution regarding whaling.”4 Segera setelah hal tersebut, pada 1931 LBB membentuk the Convention for Regulation of Whaling di Jenewa, yang ditandatangani oleh 26 negara.5 Konvensi tersebut digunakan sebagai parameter perlindungan paus yang secara histori telah diekploitasi. Untuk memperkuat implementasi dari Konvensi Jenewa, dibentuklah Agreement for the Regulation of Whaling pada tahun 1937. Pada akhirnya implementasi dari Konvensi 1931 dan Perjanjian 1937 tidak terbukti efektif untuk menangani krisis perburuan paus. Untuk itu, kembali diselenggarakan konferensi internasional di Washington DC dengan tujuan merumuskan regulasi terkait perburuan paus. Konferensi tersebut menghasilkan konvensi ICRW (International Convention for the Regulation of Whaling).
Sejak 1946, ICRW telah menjadi satu-satunya kesepakatan multilateral yang secara esensial mengatur pengelolaan stok paus. Secara khusus, ICRW telah berfungsi sebagai instrumen penting yang memicu perhatian dunia terhadap sejarah eksploitasi paus. Pada 2 Desember 1946, ICRW berhasil mendasari terbentuknya IWC (International Whaling Commission) sebagai badan antar- pemerintah global yang diakui secara resmi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk merealisasikan tujuan konvensi. Dalam kaitan ini, IWC mulanya sebagai
4 Roberrt C. Rocha Jr, Op. Cit, hal. 45-50
5 Malgosia Fitzmaurice, International Convention for the Regulation of Whaling. Journal of Whaling and International Law, 2017, Cambridge: Cambridge University Press, hal. 1-2.
4
organisasi yang bertindak untuk mengatur harga minyak paus dan mempertahankan pangsa ikan paus global. Pada kesempatan tersebut, IWC didominasi oleh negara yang memiliki orientasi terhadap perburuan dan perdagangan ikan paus. Hal tersebut berimbas pada perburuan yang tak terkendali dan meningkatkan angka kepunahan beberapa spesies seperti paus biru berada pada 1%, paus bungkuk kurang dari 5%, dan paus sirip sekitar 15%.6 Menyoroti hal tersebut, IWC dipandang sebagai organisasi yang lebih berfungsi sebagai kartel perburuan ikan paus dan tidak mengelola stok ikan paus.
Sebagai satu-satunya badan internasional yang ditugasi untuk mengelola paus di seluruh dunia, tentunya IWC menjadi titik fokus bagi negara anti perburuan paus. Menjadi masalah, ketika norma-norma perburuan komersial awal berdirinya IWC tertulis dengan jelas dalam dokumen fundamental ICRW. Oleh karenanya, negara anti perburuan melakukan re-interpretasi pada bagian-bagian substantif atau memperbarui aspek-aspek teknis dalam Konvensi. Salah satu hasilnya adalah moratorium perburuan paus komersial. Utilitas moratorium juga didukung oleh pengklasifikasian spesies paus yang relevan pada Appendix I CITES, yang melarang perdagangan dan perburuan spesies yang terdaftar. Dari situ, terdapat peralihan norma anti-perburuan paus yang dimulai dengan baik, yaitu Amerika Serikat memainkan peran utama dalam mencapai moratorium, diikuti oleh komitmen awal dari Inggris, Australia, Selandia Baru dan segelintir negara Eropa dalam peran pendukung.
6 Hope M. Babcock, Why Changing Norms is a More Just Solution to the Failed International Regulatory Regime to Protect Whales than a Trading Program in Whale Shares. Stanford Environmental Law Journal, Vol, 32, 2013, hal. 11-13.
5
Akhirnya pada tahun 1986, IWC menetapkan nol batas penangkapan perburuan ikan paus untuk tujuan komersial selama musim pelagis tahun 1986 dan paska musim pelagis 1985/1986. Sejalan dengan implementasi moratorium, keanggotaan IWC didominasi oleh negara pro-perburuan ikan paus banyak di antaranya secara terbuka menentang moratorium. Mayoritas negara anggota pro- perburuan seperti Jepang, Norwegia, Peru dan Islandia telah menolak moratorium serta menyatakan ancaman penarikan diri dari IWC maupun konvensi ICRW.
Sedangkan mayoritas negara anti-perburuan mendukung penuh implementasi moratorium perburuan ikan paus komersial. Merujuk pada polarisasi keanggotaan IWC, negosiasi berimbas pada dua poin yaitu mengenai pemenuhan kebutuhan industri perburuan dan kebutuhan konservasi terkait keberlanjutan stok ikan paus.
Moratorium menjadi momentum penting dimana IWC memulai perkembangannya beralih dari rezim pengatur perburuan paus menjadi rezim konservasi paus. Dalam kaitan ini, implementasi moratorium perburuan paus komersial dilanjutkan dengan penerapan norma perburuan paus non komersial, baik itu perburuan paus subsisten aborigin maupun penelitian ilmiah. Dari sini, IWC menyatakan bahwa ketentuan ini moratorium akan terus ditinjau, berdasarkan saran ilmiah terbaik. Hal tersebut secara eksplisit menerangkan bahwa IWC telah menutup akses-akses perburuan paus komersial. Tindakan IWC semakin ditingkatkan oleh upaya yang berkelanjutan untuk membuat perburuan paus lebih manusiawi bahkan meniadakannya, serta untuk menyusun rencana manajemen paus yang dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Dengan pemberlakuan moratorium yang berkelanjutan, fokus agenda IWC
6
pada akhirnya beralih dari “menjaga stok ikan paus terkait dengan perburuan paus komersial” kepada “konservasi dan pembangunan berkelanjutan sumber daya ikan paus.” Terlebih, pasca moratorium IWC konsisten untuk mengimplementasikan kebijakan guna menghentikan perburuan dan berfokus pada program berbasis konservasi seperti Revised Management Procedures (RMP), Standing Working Group on Environmental Concern (SWGEC) 1996, Berlin Initiatives 2003, Conservation Management Plan (CMP) 2008, Conservation Committee Strategic Plan 2016-2026 dan pengembangan suaka paus IWC. Terkait pengembangan suaka dan ranah konservasi, sebetulnya IWC sudah memiliki suaka paus yang telah berdiri sejak 1979 dan sejak saat itu isu 'konservasi' sudah menjadi topik pertemuan. Namun, karena IWC belum memiliki pedoman khusus terhadap isu konservasi paus. Maka hal tersebut menjadi perdebatan. Hal tersebut memicu ketegangan internal antara tujuan menghidupkan Konvensi ICRW untuk memastikan pengelolaan industri perburuan ikan paus atau dengan untuk melindungi paus demi sumber daya yang berkelanjutan. Meskipun telah jelas, bahwa arah IWC beralih menjadi rezim konservasi. Akan tetapi, negara pro- perburuan menilai bahwa IWC mengalami penyimpangan tujuan yang tidak sejalan dengan Konvensi. Oleh karenanya, perdebatan di antara negara anggota dan mencegah IWC mencapai salah satu tujuan tersebut.
Mengacu pada pemaparan diatas, sejauh ini IWC sebagai badan antar- pemerintah global yang diakui secara resmi oleh PBB berperan untuk perlindungan terhadap paus, termasuk di dalamnya menghentikan perburuan paus.
Dalam kasus ini, konsep IWC sebagai rezim internasional yang legal dipandang
7
telah bertransformasi dari rezim pengatur perburuan paus menjadi rezim konservasi paus. Maka penelitian ini akan mengkaji faktor-faktor dibalik transformasi yang terjadi dalam tubuh IWC rezim internasional dalam upaya menghentikan perburuan ikan paus.
1.2 Rumusan Masalah
Merujuk pada penjelasan latar belakang diatas, dapat ditarik sebuah rumusan permasalahan pada penelitian ini, yaitu “Mengapa IWC bertransformasi dari rezim pengatur perburuan paus menjadi rezim konservasi paus?"
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut:
a. Untuk mengetahui perkembangan IWC sebagai rezim internasional dalam menghentikan perburuan paus.
b. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi transformasi IWC sebagai rezim internasional dalam menghentikan perburuan paus.
c. Untuk mengetahui implementasi kebijakan IWC dalam kaitan penghentian perburuan paus.
1.3.2 Manfaat Penelitian
1.3.2.1 Manfaat Akademis
Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan ilmu bagi para akademis serta dapat
8
menjadi referensi bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian mengenai perburuan paus, perkembangan IWC dan faktor yang menyebabkan transformasi rezim perburuan paus internasional.
1.3.2.2 Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini dapat bermanfaat untuk memberikan wawasan bagi penulis dan pembaca mengenai sejarah perburuan paus secara global, penanganan internasional terhadap aktivitas perburan paus dan bagimana dampaknya secara internasional. Disamping itu, penulis mendapatkan informasi mengenai bagaimana IWC sebagai inter-governmental organization yang berfokus pada penyelamatan paus.
1.4 Penelitian Terdahulu
Penulisan penelitian tentunya tidak dapat lepas dari penelitian yang sebelumnya telah dilakukan. Dengan adanya penelitian terdahulu berfungsi sebagai referensi dan rujukan untuk mengidentifikasi tidak ada unsur plagiasi pada penelitian ini. Dengan melakukan review kepada penelitian terdahulu akan memberikan gambaran mengenai perbedaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang sedang disusun.
Penelitian pertama adalah "Whale Sanctuaries: An Envolving Concept within the International Whaling Commission" oleh Elsa Morgera.7 Jurnal menjelaskan tentang konsep dan tantangan suaka paus yang dikelola oleh IWC.
Seperti yang diketahui bahwa masih terdapat kontroversi tentang pendirian dan pengelolaan suaka paus oleh International Whaling Commission (IWC). Apabila
7 Elsa Morgera, Whale Sanctuaries: An Envolving Concept within the International Whaling Commission. Ocean Development & International Law, Vol, 35, 2004, hal, 319-338.
9
merujuk pada Pasal V (International Convention for the Regulation of Whaling) ICRW, IWC memiliki wewenang untuk memperbaiki perairan tertutup, termasuk penunjukan kawasan suaka dengan mengubah Jadwal, yang merupakan bagian integral dari Konvensi yang menetapkan persyaratan dan tindakan khusus untuk mencapai tujuannya. Meskipun, tidak ada definisi jelas terkait 'kawasan suaka' yang dimaksud, tetapi IWC dapat meloloskannya dengan suara tiga per empat.
Oleh karena itu, berdirinya suaka paus harus memenuhi ketentutan berikut, seperti sesuai dengan maksud dan tujuan Konvensi (menyediakan konservasi, pengembangan, dan pemanfaatan sumber daya ikan paus secara optimal), berdasarkan temuan ilmiah, mengalokasikan kuota khusus untuk setiap kapal pabrik atau stasiun darat yang melintas, memperhatikan kepentingan konsumen terhadap produk ikan paus dan industri penangkapan ikan paus.
Secara umum, IWC membentuk konsep suaka paus untuk perlindungan paus di laut lepas yang mana menerapkan zero cacth dan melarang adanya penangkapan paus komersial dalam wilayah suaka. Secara simbolis, suaka paus digambarkan sebagai bentuk preventif atas salah satu dari banyak ancaman yang mengancam kelangsungan populasi paus dimasa depan. Menimbang tindakan IWC di masa lampau yang beroperasi secara masif untuk mengatur perburuan paus dan mengakibatkan kelangkaan beberapa spesies. Maka, International Union for the Conservation of Nature (IUCN) mengkategorikan suaka paus IWC sebagai kawasan pengelola spesies, karena masih minimnya ketentuan tentang intervensi aktif untuk tujuan manajemen guna memenuhi kebutuhan spesies paus tertentu.
10
Proposal pertama suaka paus diajukan oleh Seychelles pada tahun 1979.
Hal yang dipertimbangkan adalah skeptisme efektivitas terhadap kebijakan apa pun yang hanya didasarkan pada klasifikasi stok tidak akan dapat melindungi paus. Pada saat itu, proposal 1979 merupakan tantangan signifikan bagi IWC pengelolaan dan pengendalian paus serta aktivitas perburuannya. Inisiatif ini mempertimbangkan beberapa hal, yaitu pertama meminimalisir bentuk diskriminasi apa pun terhadap negara pro-perburuan paus dan wilayah di mana perburuan paus harus dihindari. Kedua, setiap keputusan harus diambil sesuai dengan konsensus negara-negara yang berbatasan dengan wilayah yang dipilih.
Ketiga, batas suaka ditentukan secara logis dan biologis sehingga dapat berfungsi dengan efektif dan efisien. Inisiatif Seychelles mengindentifikasi wilayah lautan yang mana sedikit atau tidak terdapat aktivitias perburuan paus oleh negara perburuan non-anggota. Akhirnya, IWC sepakat menjadikan Samudera Hindia sebagai wilayah suaka paus atau the Indian Ocean Sactuary pada 1979.
Selanjutnya, pada 1992 Prancis mengajukan proposal kepada IWC untuk menetapkan the Southern Ocean Sactuary yang mencakup semua perairan di belahan bumi selatan dengan garis lintang 40°LS sebagai suaka paus. Tujuan utamanya untuk rehabilitasi ekosistem Laut Antartika dan restorasi secara keseluruhan spesies paus dengan prioritas spesies paus balin. Samudera Selatan dinilai kompatibel menjadi suaka paus karena keterpencilannya dari perkembangan industri dan aktivitas manusia. Terlebih, semua negara bagian yang berbatasan tidak ada yang menyatakan niat untuk melanjutkan perburuan paus komersial. Meskipun, kedua suaka paus yang telah berdiri terus
11
mendapatkan kritik dan penolakan dari negara pro-perburuan. Akan tetapi, negara anti perburuan terus mengupayakan berdirinya suaka paus yang lain melalui proposal South Atlantic Whale Sactuary dan South Pacific Whale Sactuary.
Penelitian kedua adalah "Contemporary Initiatives on the Future of the International Whaling Commission" oleh Mike Iliff.8 Selama 2005-2009 IWC menemui protes keras dari negara pro-perburuan untuk menormalisasikan IWC sesuai dengan tujuan dan mandat Konvensi yaitu menjaga kelangsungan industri perburuan paus. Ini semacam serangan timbal balik dari negara pro-perburuan kepada negara anti perburuan atas segala inisiatifnya yang menjadikan IWC sebagai rezim konservasi paus. Selama periode tersebut, Dr. Bill Hogarth yang menjabat sebagai Ketua IWC pada 2005-2009 mencari jalan tengah dalam memecahkan kesenjangan utama antara kelompok pro dan anti perburuan paus di dalam Komisi dengan dokumen yang berjudul "the Way Forward for the IWC."
Disamping dokumen tersebut, banyak inisiatif lain yang sedang berlangsung dan dicapai oleh IWC dalam melanjutkan agenda konservasi. Jurnal ini membahas mengenai efektivitas inisiatif dalam IWC selama 2005-2009 yang secara siginifikan akan berdampak pada masa depan IWC.
Pertama adalah inisiatif Australia yang berjudul "Whale Conservation and Management; A Future for the IWC" yang dipresentasikan pada pertemuan Komisi Intersessional di London pada Maret 2008. Inisiatif ini merefleksikan dukungan Australia untuk menjadikan IWC sebagai organisasi internasional yang secara fundamental fokus dan unggul pada konservasi dan pengelolaan semua
8 Mike Iliff, Contemporary Initiatives on the Future of the International Whaling Commission.
Journal of Marine Policy, Vol, 34, 2010, hal, 416-467.
12
cetacea (paus dan lumba-lumba). Inisiatif ini turut meninjau keberhasilan dan kekurangan rezim IWC, khususnya dalam menghentikan perburuan paus. Dalam proposalnya, Australia menggarisbawahi perlunya reformasi manajemen ilmu pengetahuan yang dilakukan di bawah naungan ICRW dan IWC, termasuk prioritas dan kriteria yang disepakati untuk penelitian, serta mengakhiri perburuan paus ilmiah. Sayangnya, inisiatif Australia kurang menyakinkan ketika secara spesifik dihubungkan perdebatan dan penyelesaian masalah yang ada dalam IWC.
Bagaimana pun, inisiatif ini mendapatkan sorotan dan dukungan dari NGO yang berbasis konservasi. Kembali pada 2009, Australia mengajukan dan menyatakan bahwa akan menginvestasikan sejumlah dana selama enam tahun terkait penelitian paus dan inisiatif lainnya dengan tujuan menghilangkan perburuan paus ilmiah. Singkatnya, inisiatif Australia merupakan bentuk sokongan terhadap gugatannya kepada Jepang. Disamping itu, juga memberi peluang bagi Komite Ilmiah untuk berfokus mengendalikan perburuan atas izin ilmiah perburuan paus dan menyediakan dana untuk penelitian kooperatif pada aspek-aspek tertentu dari ilmu cetacea.
Kedua adalah the Safety Net Initiative yang diajukan Jepang pada pertemuan tahunan IWC 2006 di St.Kitts and Nevis. Inisiatif ini merupakan bentuk dukungan vokal baik dari negara maupun NGO pro-perburuan paus.
Delegasi Jepang yaitu Joji Morishita dan Dan Goodman membenarkan bahwa negara pro-perburuan mengklaim terkait disfungsi IWC. Sebagai upaya menormalisasikan IWC, maka the Safety Net Initiative dinilai cocok untuk memastikan kerangka kerja pengelolaan untuk konservasi sekaligus pengelolaan
13
stok paus, sementara IWC merancang tujuan masa depan. Inisiatif ini akan memiliki working group yang netral sejalan dengan tujuannya untuk mengelola dan mengendalikan perburuan paus sehingga berkelanjutan. Pada akhirnya insiatif ini tidak berhasil dijalankan, karena IWC tetap memutuskan untuk melanjutkan inisiatif konservasinya.
Ketiga adalah Pew Charitable Trusts sebuah NGO yang berbasis di Amerika Serikat, mengadakan Symposium on the State of the Conservation of Whales in the 21st Century pada April 2007. Tujuannya adalah untuk 'menganalisis pilihan untuk konservasi paus, khususnya mengeksplorasi kebijakan guna mencari jalan tengah dan menyelesaikan masalah atas perburuan paus komersial dan ilmiah di IWC. Simposium dihadari oleh 65 peserta dari 27 negara, mayoritas merupakan negara anti perburuan paus dan turut dihadiri oleh stakeholder, akademisi, dan perwakilan organisasi non-pemerintah. Sayangnya, simposium belum berhasil menyuguhkan satu solusi pasti. Namun, ada kesepakatan umum bahwa IWC harus terus menjadi organisasi internasional utama yang bertanggung jawab atas konservasi dan pengelolaan cetacea.
Menghadapi beberapa persoalan internal IWC, diharapkan proses negosiasi kedepannnya dapat non-konfrontatif dan netral sehingga keputusan dapat dibuat tanpa merugikan pihak manapun.
Penelitian ketiga adalah "the International Whaling Commission─Its Past and Possible Future" oleh John A. Knauss.9 Pasca implementasi moratorium perburuan paus komersial, penilaian terhadap keputusan Komisi
9 John A. Knauss, the International Whaling Commission─ Its Past and Possible Future. Journal of Ocean Development and International Law, Vol,28, 1997, hal, 79-87, diakses dalam https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/00908329709546096 (10/11/2021).
14
dengan menerapkan batas tangkapan cenderung berkonotasi negatif. Komisi akan selalu dihadapkan dengan pilihan antara mematuhi premis implisit konvensi dan memberi kuota kepada negara pro-perburuan atau mengikuti keinginan mayoritas anggota untuk secara komprehensif melanjutkan moratorium. Bahkan jika moratorium dicabut, perburuan paus komersial akan tetap dibatasi. Meskipun, pemulihan stok yang memadai akan memerlukan beberapa tahun sehingga perburuan komersial spesies paus tertentu bisa kembali dijalankan. Dalam kasus ini, IWC akan dihadapkan pada perdebatan internal yang akan menentukan masa depan IWC. Apabila moratorium dilanjutkan, maka negara anti perburuan seperti Amerika Serikat akan memperluas intervensinya dalam IWC. Hal ini dapat terjadi, karena Konvensi mengalami ambiguitas dalam tujuan utamanya. Maka, akan banyak interpretasi ulang terhadap isi Konvensi yang berpeluang pada memberi perlindungan ekstensif terhadap paus.
Tentunya tiap regulasi memiliki konsekuensi yang tak sama. Menyoroti, disparitas hasil yang cukup signifikan antara implementasi moratorium dengan kebijakan kuota tangkapan. Salah satu alternatif yang ditawarkan adalah menggunakan The United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982. Melalui ZEE (Zona Ekonomi Ekslusif) 200 milnya, IWC memberikan kompromi melalui pasal 56 dengan distribusi hak berdaulat kepada negara pantai untuk memanfaatkan, melestarikan, dan mengelola sumber daya alamnya, termasuk ikan paus, di dalam ZEEnya. Pasal 65 juga memungkinkan IWC, untuk melarang, membatasi, atau mengatur eksploitasi mamalia laut lebih ketat daripada yang diizinkan atau diperlukan untuk sumber daya hayati non-mamalia di ZEE.
15
Sebagai tambahan, Pasal 120 menyatakan bahwa untuk tujuan konservasi dan pengelolaan, Pasal 65 berlaku untuk laut lepas di luar ZEE. Saat ini IWC sebagai satu-satunya badan internasional yang kompeten terkait perburuan paus.
Melanjutkan agendanya, IWC juga memiliki wewenang untuk mendirikan suaka paus di laut lepas atau menyesuaikan tindakan apa pun yang diinginkan mayoritas anggotanya untuk melindungi paus. Untuk meredam konfik internal, IWC dapat merumuskan kebijakan yang mengizinkan negara anggota melakukan aktivitas perburuannya di wilayah ZEEnya. Dengan ketentuan tangkapan tidak melebihi kuota yang disepakati. Setelah mengakui hak negara pantai untuk menggunakan beberapa pilihan dalam hal apakah penangkapan ikan paus dapat terjadi di ZEE- nya atau tidak, IWC mungkin dapat melangkah lebih jauh, dan dengan analogi dengan perburuan paus aborigin yang berkelanjutan, menetapkan kelas khusus perburuan paus di dalam wilayah tersebut. Lebih lanjut dapat menegaskan bahwa negara pantai tidak menjual ke negara lain daging atau minyak ikan paus yang ditangkapnya. Artinya, jika suatu negara pantai ingin melanjutkan perburuan paus di dalam ZEE-nya berdasarkan aturan RMP, maka produk paus yang dihasilkan, baik daging maupun minyak, harus digunakan di dalam negara tersebut.
Penelitian keempat, adalah “Scientific Whaling? The Scientific Research Exception and the Future of the International Whaling Commission” oleh Rachel Nussbaum Wichert, Martha Nussbaum.10 Jurnal mengemukakan bahwa perdebatan terkait perburuan paus merujuk pada dua isu spesifik, yaitu
10 Rachel Nussbaum Wichert, Martha C. Nussbaum, Scientific Whaling? The Scientific Research Exception and the Future of the International Whaling Commission, Journal of Human Development and Capabilities, Vol, 18 No,3, 2017, diakses dalam https://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/19452829.2017.1342386 (10/08/2021).
16
“kedudukan” legal ikan paus sebagai makhluk yang memiliki hak atas bentuk kehidupan dan rezim internasional yang menangani isu perburuan ikan paus, hal ini menyangkut struktur IWC. Realitas menunjukkan bahwa sebelum implementasi moratorium perburuan komersial, IWC sebagai rezim dengan misi yang tidak berkorelasi dengan lingkungan. Namun beberapa pihak merefleksikan isi bagian dari ICRW untuk mengatasi efek dari praktik komersial. Mereka mendapati bahwa, “whaling operations should be confined to those species best able to sustain exploitation in order to give an interval forrecovery to certain species of whales now depleted in numbers....” Kekhawatiran atas menipisnya stok ikan paus tersebut berlanjut dengan penindakan pemulihan stok ikan paus melalui cara-cara “ilmiah” yang rasional. IWC memberikan pengecualian kepada negara anggota untuk mengambil ikan paus untuk tujuan penelitian ilmiah dan pengecualian terkait untuk perburuan ikan paus subsisten asli. Pada dasarnya
“penelitian ilmiah” masih kontroversial sampai saat ini, serta pertentangan telah dilayangkan oleh Jepang dan negara-negara pro-perburuan lainnya. Dalam kasus ini, penulis berfokus pada Jepang yang gigih untuk melangsungkan perburuan ditengah implementasi moratorium.
Banyak delegasi negara anggota maupun aktivis lingkungan menganggap seluruh konsep perburuan ikan paus berbasis ilmiah / scientific whaling adalah palsu. Tuduhan ini mengarah pada indikasi bahwa penangkapan ikan paus yang dikelola semata-mata untuk penelitian ilmiah adalah suatu ilusi. Terlalu banyak faktor yang berperan serta seperti bantuan teknologi, preferensi kebijakan, desakan negara besar, dan lain sebagainya. Dalam konteks ini, Jepang secara
17
umum membenarkan klaim untuk melangsungkan penelitian ilmiah atas dasar urgensi parameter biologis, terutama bagaimana usia secara spesifik berpengaruh pada kematian paus. Meskipun begitu, sebagian besar argumen yang dikemukakan Jepang tidak relevan dengan kebijakan penangkapan ikan paus ilmiah IWC, dan tampaknya belum ada satu pun argumen yang masuk akal terkait program penelitian ilmiah yang dilakukan Jepang dengan pembunuhan ribuan ikan paus. Terkait hal ini, pendapat logis yang diutarakan D’Amato dan Chopra menyakini bahwa pengambilan sampel secara ilmiah memang diperlukan untuk menentukan fakta tentang apakah spesies paus tertentu harus masuk dalam daftar hewan yang terancam punah oleh IWC. Kasus Jepang yang mampu mempertahankan program penelitian ilmiah karena kerentanan struktur IWC harus dipertanyakan. Mengingat, ketidakpastian apakah perburuan ikan paus diranah non-perburuan telah mencapai status hukum kebiasaan internasional. Jika demikian, maka negara-negara perburuan ikan paus wajib menghentikan kegiatannya, tak terkecuali Jepang.
Penelitian kelima, adalah “Issue Linkages in International Environmental Policy: The International Whaling Commission and Japanese Development Aid” oleh Adrew R. Miller, Nives Dolsak.11 Jurnal ini menelaah lebih jauh keterkaitan antara IWC dengan Jepang, dan untuk memeriksa apakah Jepang menjadi donor bilateral terbesar IWC untuk menunjang agenda nasionalnya. Seperti yang kita tahu, secara garis besar IWC tidak diidentifikasi
11 Adrew R. Miller, Nives Dolsak, Issue Linkages in International Environmental Policy: The International Whaling Commission and Japanese Development Aid, Journal of Global Environmental Politics, Vol, 7 No, 1, 2007, diakses dalam https://direct.mit.edu/glep/7/1/69/14398/Issue-Linkages-in-International-
Environmental?redirectedFrom=fulltext (19/08/2021).
18
sebagai rezim utama politik atau ekonomi (atau bahkan lingkungan) di dunia kontemporer. Sementara itu, para ahli yang mengkaji moratorium penangkapan ikan paus komersial yang diadopsi oleh IWC pada tahun 1982 dan program penelitan ilmiah oleh Jepang berargumen bahwa alokasi bantuan bilateral dipengaruhi oleh filantropi global dan kebutuhan penerima, dalam beberapa kasus kepentingan strategis negara donor juga memainkan peran penting. Menariknya, Pemerintah Jepang menekankan argumen budaya untuk mengekalkan perburuan ikan paus dan opini masyarakat Jepang tidak begitu besar dalam mendukung konsumsi daging paus. Gallup melakukan penelitian dengan sampel acak, dari 500 responden Jepang hanya sepertiga yang mendukung konsumsi daging paus.
Meskipun, penangkapan ikan paus tidak memiliki kepentingan ekonomi yang signifikan bagi Jepang, dan pendapatan yang dihasilkannya hampir tidak sebanyak biaya Jepang untuk IWC. Namun, Pemerintah Jepang tetap teguh pada posisinya di IWC untuk mendukung kepentingan nasionalnya dalam perburuan ikan paus..
Berkaitan dengan itu, laporan dari Transparency International dan The Third Millennium Foundation mengungkapkan bahwa Jepang menggunakan bantuan pembangunan bilateral untuk mempengaruhi pemungutan suara dalam forum IWC. Analisis dari penulis menunjukkan bahwa bantuan bilateral per kapita Jepang untuk negara-negara berkembang di IWC secara positif terkait dengan suara yang diberikan oleh negara-negara ini di IWC pada tahun sebelumnya, bahkan terdapat peningkatan sebesar 10% antara pemungutan suara negara berkembang dan pemungutan suara Jepang seiring dengan peningkatan bantuan per kapita sebesar $2,1 pada tahun berikutnya.
19
Penelitian keenam, adalah “Intergovernmental Organizations as Disseminators, Legitimators, and Disguisers of Hegemonic Policy Preferences:
The United States, the International Whaling Commission, and the Introduction of a Moratorium on Commercial Whaling” oleh Shirley V. Scott.12 Jurnal ini menjajaki tingkat analisis pada proses legitimasi dan penyebarluasan preferensi kebijakan AS yang seringkali terselubung melalui IWC. Studi kasus tersebut dianalisis melalui teori interpretasi perjanjian CSC (cognitive structure of cooperation) atau struktur kognitif kerjasama, yang berasal dari teori hukum internasional. Amerika Serikat adalah pemain kunci dalam mendirikan IWC, hal ini karena AS termasuk dalam 14 negara yang menandatangani ICRW pada tahun 1946. Meskipun pada kesempatan tersebut, industri perburuan paus AS sedang terpuruk. Secara garis besar, penelitian berfokus pada partisipasi AS pada IWC sejak tahun 1946 sampai adopsi moratorium penangkapan ikan paus komersial pada tahun 1982. Kepemimpinan AS dalam IWC menguntungkan negara anggota hegemon non-perburuan paus yang tetap ingin memastikan pasokan minyak ikan paus.
Dalam kaitan ini, ICRW mengunci preferensi kebijakan AS untuk mempertahankan industri yang layak dan menyebarluaskannya dalam cara yang efisien secara berkelanjutan. Kepentingan AS dalam IWC disematkan melalui
12 Shirley V. Scott, Intergovernmental Organizations as Disseminators, Legitimators, and Disguisers of Hegemonic Policy Preferences:The United States, the International Whaling Commission, and the Introduction of a Moratorium on Commercial Whaling, Leiden Journal of International Law Vol, 21 Issue, 3, 2008, diakses dalam https://www.cambridge.org/core/journals/leiden-journal-of-international-
law/article/abs/intergovernmental-organizations-as-disseminators-legitimators-and-disguisers-of- hegemonic-policy-preferences-the-united-states-the-international-whaling-commission-and-the- introduction-of-a-moratorium-on-commercial-whaling/ (10/08/2021).
20
program-program IWC yang harus diambil berdasarkan ilmu pengetahuan.
Sehingga, teknologi dan ilmu pengetahuan menjadi elemen penting. Disamping itu, AS juga merekomendasikan agar konvensi mulai berlaku hanya dengan tiga ratifikasi. Meskipun ini ditingkatkan menjadi enam dalam teks akhir perjanjian, namun sulit untuk menghindari kesimpulan bahwa Amerika Serikat tidak berpengaruh dalam setiap proses IWC. Amerika Serikat mengambil kebijakan larangan penangkapan ikan paus pada The United Nations Conference on the Human Environment yang diadakan di Stockholm pada 5-16 Juni tahun 1972.
Pada konferensi tersebut, AS mendesak agar IWC memberlakukan moratorium perburuan paus selama sepuluh tahun. Untuk meyakinkan rekomendasi tersebut, AS juga melakukan manuver diplomatik untuk merealisasikan agar IWC mengadopsi preferensi kebijakan barunya.
Penelitian ketujuh, adalah “The International Whaling Commission and the Elusive White Whale of Preservationism” oleh Gerry J. Nagtzaam.13 Jurnal ini mengeksplorasi upaya negara dan organisasi internasional untuk menciptakan rezim perburuan ikan paus global dan mengkaji norma-norma fundamental terkait lingkungan, eksploitasi, konservasi, dan pelestarian. Jurnal berfokus pada studi kasus perburuan ikan paus, yang mana terjadi perubahan normatif yang kurang jelas. Hal ini mengungkapkan banyak posisi yang mendasari berbagai pendukung norma untuk mengupayakan kepentingan nasional mereka. Awalnya, insiasi rezim konservasi dibawah IWC disebabkan oleh kekhawatiran atas punahnya spesies ikan paus akibat eksploitasi dari negara dan perusahaan pemburu ikan paus.
13 Gerry J. Nagtzaam, The International Whaling Commission and the Elusive White Whale of Preservationism, William & Mary Environmental Law and Policy Review, Vol, 33 No,2, 2009, diakses dalam https://scholarship.law.wm.edu/wmelpr/vol33/iss2/2/ (10/08/2021).
21
Kegagalan pemburu ikan paus untuk mematuhi pendekatan konservasi membuka pintu bagi negara anti-pemburu dan NGO untuk mengusulkan dan mempromosikan pendekatan pelestarian terhadap stok ikan paus global yang masih menopang IWC hari ini, meskipun ada kecaman balik dari negara-negara perburuan ikan paus yang mengancam untuk menghancurkan organisasi tersebut.
Dalam kaitan ini, penulis berusaha menguji pendapat Jefrry Legro, yang berpendapat bahwa “Analisis teoritis, memiliki setidaknya dua bias yang relevan dengan penelitian yang dilakukan dan menyebabkan analisis menjadi cacat. Bias pertama adalah ketidakmampuan untuk memahami "kekokohan norma" sebagai variabel independen. Ada begitu banyak norma yang bersaing di arena internasional sehingga negara akan selalu dapat "menemukan" norma yang sesuai dengan kepentingannya. Oleh karena itu, sangat penting untuk dapat memahami mengapa beberapa norma lebih berpengaruh daripada yang lain. Bias kedua adalah bahwa sebagian besar analisis sampai saat ini berfokus pada norma-norma yang dianggap telah "berhasil" daripada mengonfirmasi studi kasus di mana norma-norma telah gagal dalam mencapai tujuan dan telah gagal untuk diterima.
Merujuk pada hal tersebut, untuk lebih memahami pengaruh norma-norma dalam masyarakat global, perlu juga mempelajari kasus-kasus yang sukses, gagal dan norma tradisional. Sejalan dengan itu, penulis menguji pendapat Legro atas kekokohan norma diterapkan pada rezim penangkapan ikan paus untuk menentukan kapan, mengapa, dan melalui lembaga apa perubahan normatif dilakukan di dalam Komisi. Oleh sebab itu, penulis berusaha menguraikan sejarah
22
eksploitasi penangkapan ikan paus selama berabad-abad dan melacak awal perkembangan rezim perburuan ikan paus, serta mengkaji perkembangan IWC.
Penelitian kedelapan, adalah “Almost Saving Whales: The Ambiguity of Succes at the International Whaling Commission” oleh Ian Hurd.14 IWC adalah organisasi internasional yang bertanggung jawab untuk mengatur perburuan paus yang berdiri setelah Perang Dunia II, dengan anggota dari negara-negara perburuan ikan paus dan negara-negara anti-perburuan ikan paus. Blok keanggotaan tersebut memicu perpecahan di antara keduanya begitu mencolok sehingga selama bertahun-tahun organisasi tersebut hampir tidak berfungsi, mereka memiliki pemahaman yang saling eksklusif tentang apa yang diizinkan oleh rezim dan kekuasaan yang terbagi dengan saling memveto untuk memastikan bahwa status quo disfungsional berlaku. Aturan yang dirancang komisi tetap berlaku, namun para anggota tidak setuju untuk menegakkannya. Aturan utama di antara aturan-aturan ini adalah larangan penangkapan ikan paus komersial.
Terlepas dari larangan ini, beberapa anggota terus berburu ikan paus secara terbuka, dengan alasan historis mengapa larangan tersebut sebenarnya tidak berlaku untuk perilaku mereka.
Masalah-masalah IWC dengan jelas menggambarkan dilema yang lebih besar dari hukum dan organisasi internasional. Moratorium, yang mulai berlaku pada awalnya dimaksudkan sebagai tindakan sementara untuk memungkinkan stok ikan paus pulih dan bagi para ahli biologi untuk menyepakati tingkat perburuan paus yang berkelanjutan. Namun, karena anggota IWC belum dapat
14 Ian Hurd, Almost Saving Whales: The Ambiguity of Succes at the International Whaling Commission, Journal of Ethics and International Affairs, Vol, 26 Issue, 1, 2012, diakses dalam https://papers.ssrn.com/sol3/papers.cfm?abstract_id=2488609 (10/08/2021).
23
menyepakati prosedur untuk meninjau kembali moratorium atau mempertimbangkan kembali kegunaannya, maka perburuan terus berlanjut hingga hari ini. Sebagian besar perburuan ikan paus dunia saat ini dilakukan oleh sejumlah kecil anggota IWC yang memperdebatkan legalitasnya dengan menerapkan klausul penelitian ilmiah atau hak mereka untuk memilih keluar dari moratorium. Negara-negara utama dalam perburuan ikan paus saat ini adalah Jepang, Norwegia, Islandia, Denmark (melalui Greenland dan Kepulauan Faroe), Rusia, dan Amerika Serikat. Sebagai contoh, pada akhirnya Norwegia bertanggung jawab atas perburuan ikan pausnya dengan menarik diri dari moratorium dan menetapkan sendiri kuota perburuan ikan pausnya. Hal-hal tersebut yang menyebabkan adanya keraguan dan ambiguitas atas kesuksesan IWC.
Penelitian kesembilan, adalah “Role and Problems of the Scientifict Committee of the International Whaling Commission in Terms of Conservation and Sustainable Utilization of Whale Stocks” oleh Joji Morishita & Dan Goodman.15 Penelitian ini berfokus pada peran Komite Ilmiah dan sejumlah isu spesifik yang terkait dengan upaya oleh anggota anti-perburuan ikan paus dari IWC untuk mencegah pemanfaatan berkelanjutan sumber daya ikan paus.
Perpecahan filosofis dan politik yang mendalam antara negara-negara anggota IWC yang mendukung dan menentang penangkapan ikan paus telah menyebabkan situasi disfungsional yang serius secara internal. Komite Ilmiah IWC menjadi
15 Joji Morishita, Dan Goodman, Role and Problems of the Scientifict Committee of the International Whaling Commission in Terms of Conservation and Sustainable Utilization of Whale Stocks, The Institute of Cetacean Research, Vol, 9, 2005, diakses dalam https://www.semanticscholar.org/paper/Role-and-Problems-of-the-Scientific-Committee-of-in- Morishita-Goodman/6a2bfccab699d534ebd8b26ddad63904832b97c3 (10/08/2021).
24
manifestasi kekeliruan IWC secara umum, karena telah gagal memberikan saran ilmiah konsensus tentang isu-isu konservasi dan pengelolaan paus yang penting.
Posisi individu yang kuat pada isu-isu yang berkaitan dengan perburuan paus, pengaruh posisi pemerintah nasional pada ilmuwan dan advokasi telah mempolarisasi perdebatan di dalam Komite Ilmiah. Ketidakpastian ilmiah dan pendekatan sering disalahgunakan untuk mempromosikan posisi anti-perburuan ikan paus.
Berdasarkan Konvensi ICRW 1946 pada Artikel V, ayat 2 (b) mensyaratkan bahwa peraturan yang diadopsi oleh IWC, antara lain, harus didasarkan pada temuan-temuan ilmiah. Namun, telah diperdebatkan bahwa 'sebagian besar kegagalan mayoritas anggota IWC untuk mematuhi Pasal Konvensi justru menyebabkan situasi disfungsional. Perubahan drastis dalam Komite Ilmiah terjadi selama beberapa tahun, dimulai dengan perekrutan anggota Komisi tambahan diisi dengan negara anti-perburuan ikan paus pada akhir 1970- an. Adanya kecenderungan politis menyebabkan terjadi transisi dari nasihat bulat tentang hal-hal ilmiah kepada kepentingan politik daripada berdasarkan ilmu pengetahuan. Sementara dalam kebanyakan kasus, ekspresi pandangan yang berbeda atau minoritas dianggap sebagai bagian normal dan bermanfaat dari perdebatan ilmiah, dalam hal ini pandangan minoritas disajikan hanya untuk mencegah konsensus ilmiah yang akan mendukung pemanfaatan ikan paus.
Masalah lainnya terjadi karena, beberapa negara yang menentang perburuan ikan paus sebagian besar karena alasan etis belum sepenuhnya objektif dalam penggunaan sains mereka. Masalah-masalah tersebut ditafsirkan awal dari dari
25
'perdebatan di IWC antara beberapa negara yang ingin melestarikan industri, pekerjaan dan sumber makanan berdasarkan ikan paus, dan yang lain menginginkan hewan-hewan ini digolongkan sebagai keramat dalam konteks Konvensi yang mengharuskan debat dilakukan dalam kedok ilmiah, sehingga agenda tersembunyi ini harus dimainkan di Komite Ilmiah.
Penelitian kesepuluh, adalah “The Roles of Activist NGOs in the Development and Transformation of IWC Regime: the Interaction of Norms and Power” oleh Isao Sakaguchi.16 Penelitian ini berusaha untuk memahami sikap menentang dari negara-negara pro-perburuan ikan paus bukan hanya sebagai masalah etika tetapi sebagai interaksi kompleks antara kelompok-kelompok sosial yang gagal untuk memahami satu sama lain. NGO (Non Governmental Organization) anti perburuan ikan paus memulai kampanye anti perburuan yang intens pada awal 1970-an dan berhasil menyebarkan norma larangan penangkapan ikan paus di sebagian besar negara Barat. Penulis menggunakan konsep reaktansi psikologis untuk memahami perilaku negara-negara pro-perburuan ikan paus dalam menghadapi tekanan yang cukup besar dari elemen anti-perburuan. Penulis berpendapat bahwa resistensi yang kuat dari Jepang, Norwegia, dan Islandia terhadap larangan penangkapan ikan paus dapat dijelaskan melalui urgensi sosial dan ekonomi dari penangkapan ikan paus di setiap negara dan dikombinasikan dengan strategi yang berbeda yang diadopsi oleh NGO.
16 Isao Sakaguchi, The Roles of Activist NGOs in the Development and Transformation of IWC Regime: the Interaction of Norms and Power, Journal of Envronmental Studies and Science 3, 194-204, 2013, diakses dalam https://ideas.repec.org/a/spr/jenvss/v3y2013i2p194-208.html (10/08/2021).
26
Sebelumnya, kampanye anti perburuan ikan paus oleh aktivis NGO dimulai pada akhir 1960-an di Amerika Serikat. Pada tahun 1971 Friends of the Earth (FoE) membentuk badan anti-perburuan ikan paus khusus, yang disebut dengan Proyek Jonah, dan mengambil kepemimpinan dalam kampanye AS melawan perburuan paus. Kampanye dilakukan secara intensif oleh NGO untuk menggerakkan pemerintah AS agar mengumumkan larangan total penangkapan ikan paus komersial domestik pada akhir tahun. Dilatarbelakangi oleh tingginya desakan dari gerakan anti-perburuan ikan paus domestik, maka pada tahun 1972 AS mengajukan proposal yang menyerukan “moratorium 10 tahun untuk perburuan ikan paus komersial” dalam United Nations Conference on the Human Environment, Stockholm. Disamping itu, terdapat Greenpeace dengan teknik kampanye radikal ke dalam gerakan yang mengejutkan banyak anggota masyarakat, kelompok konservasi, pembuat kebijakan dan media. Pada tahun 1975, Greenpeace meluncurkan kapal ekspedisi anti perburuan ikan paus, Phyllis Cormack, dengan papan Zodiacon yang dapat ditiup. Mereka mengejar armada penangkap ikan paus Uni Soviet yang beroperasi di Samudra Pasifik dan mengambil tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan menempatkan perahu mereka di antara kapal penangkap ikan paus dan seekor paus. Pada tahun 1979, tindakan Greenpeace dikombinasikan dengan kampanye lokal yang dipimpin oleh Project Jonah, menghasilkan perubahan substansial dalam opini publik dan kebijakan publik di Australia dan Selandia Baru.
27
Tabel 1. 1 Posisi Penelitian
No. Judul dan Nama Peneliti
Jenis Penelitian (Metode/Teori/Ko
nsep)
Hasil 1. Jurnal : Whale
Sactuaries: An Envolving Concept within the International Whaling
Commission Penulis : Elsa Morgera
Deskriptif IWC telah mengalami evolusi dalam pendekatan terkait pembentukan dan regulasi suaka paus. Diawali dengan moratorium perburuan komersial, saat ini IWC mengembangkan skema yang koheren untuk penelitian ilmiah dan memasukkan pertimbangan pelestarian habitat dalam tujuan keseluruhan untuk melindungi spesies paus. Perdebatan tentang kesesuaian pendirian suaka dengan kepentingan industri paus tidak berdasar.
Justru karena potensi rentabilitas dampak perburuan lebih tinggi daripada penggunaan konsumtifnya.
IWC berusaha menyelamatkan spesies paus yang masih tersisa, dan berkontribusi pada ekonomi dan lingkungan.
Konsep suaka paus di IWC masih mengalami evolusi, terutama karena minat negara anggota untuk memperluas industri pengamatan paus sedang berkemang. Pada tingkat nasional, suaka paus didirikan dalam jarak 200-m.
Hal ini memudahkan jangkauan zona di antara negara anti perburuan untuk saling menginformasikan evolusi lanjutan dari praktik IWC, baik dalam hal keterlibatan masyarakat lokal.
2. Judul : Contemporary
Eksplanatif Proses utama untuk "a Way Forward for the IWC" yang
28 Initiatives on the
Future of the International Whaling Commission Penulis : Mike Iliff
diprakarsai oleh Ketua Komisi, Bill Hogarth pada tahun 2006 telah menghasilkan sejumlah perbaikan prosedural, tetapi sejauh ini gagal menghasilkan kesepakatan nyata tentang isu- isu substantif yang memisahkan negara pro dan anti perburuan paus. Meskipun telah disarankan berulang kali dalam diskusi IWC bahwa harus ada "memberi dan menerima" di kedua sisi, namun tidak ada yang siap untuk berkompromi pada masalah mendasar. Mulai dari
“Whale Conservation and Management: a Future for the IWC” oleh Australia, "the Safety Net Initiative” oleh Jepang belum ada yang menghasilkan kompromi efektif. Perdebatan internal IWC jika dibawa ke kesimpulan logis, akan menghasilkan dua konvensi:
satu melindungi paus, yang lain mengeksploitasinya.
Sampai sekarang dapat dilihat, eksistensi dari kedua negara baik pro maupun anti perburuan. Negara anti perburuan setelah kepergian para negara pro-perburuan akan bebas untuk menerapkan modernisasi ICRW yang mereka dambakan, tetapi itu akan menjadi kemenangan hampa ketika mereka menyaksikan paus yang mereka selamatkan diburu di bawah konvensi lain.
Mengingat, negara pro- perburuan yang menarik diri dari Konvensi ICRW akan dengan bebas menangkap paus
29
tanpa limitasi apapun.
3. Judul : the International Whaling
Commission─Its
Past and
Possible Future Penulis : John A. Knauss
Eksplanatif Seperti yang diketahui bahwa IWC sebelumnya dianggap tidak terlalu efektif dalam mengendalikan eksploitasi berlebihan yang berkelanjutan terhadap paus. Oleh karenanya, penetapan moratorium penangkapan paus komersial pada tahun 1982 mungkin diperlukan sementara, untuk mengambarkan keadaan dimasa depan bagi negara yang berkepentingan agar
memikirkan kembali
bagaimana dan dalam keadaan apa perburuan paus dapat dilanjutkan. Komite Ilmiah IWC menghasilkan RMP, yang menjanjikan untuk melindungi stok ikan paus dari eksploitasi berlebihan bahkan dalam menghadapi data yang terbatas.
RMP dinilai terlambat dan tidak relevan karena menentang perburuan paus bahkan jika beberapa stok paus
cukup kuat untuk
memungkinkan tangkapan terbatas. IWC berusaha untuk mencapai kompromi bagi kedua belah kelompok negara.
Dalam jangka panjang, dia percaya akan jauh lebih baik
untuk mengizinkan
penangkapan ikan paus secara terbatas di bawah kondisi yang terkendali daripada mendorong kemungkinan persaingan perjanjian internasional, atau lebih buruk lagi kembalinya sistem anarki.
4. Judul : Scientific
Whaling? The Scientific
Eksplanatif
Teori Hukum Perjanjian
Jepang telah gagal untuk menunjukkan bahwa JARPA II dan program lainnya didasarkan pada sains dan
30 Research
Exception and the Future of the International Whaling Commission Penulis : Rachel Nussbaum Wichert, Martha Nussbaum
Internasional bukan kepentingan komersial.
Jepang juga harus memeriksa kembali upayanya, untuk membenarkan argumennya terkait klaim bahwa negara anti-perburuan paus telah bias secara budaya. Penyelesaian hubungan dilematik antara IWC dan Jepang terkait dengan keabsahan program penelitian ilmiah berujung pada dua pendekatan baru. Dua dari solusi diusulkan adalah retensi moratorium dan penangguhan 10 tahun izin khusus.
Berhubungan dengan ini, IWC harus memutuskan sejauh mana tertarik dengan konservasi, dan khususnya dalam pelestarian paus.
Sebagai organisasi besar yang mewakili masalah ikan paus/cetacean, konservasi adalah posisi strategis untuk saat ini.
5. Judul : Issue Linkages in International Environmental Policy: The International Whaling
Commission and Japanese
Development Aid
Penulis : Adrew R. Miller, Nives Dolsak
Ekspanatif
Konsep Rezim Internasional
Jepang terbukti melakukan bantuan bilateral kepada IWC untuk mempengaruhi suara IWC agar IWC lebih ‘luwes’
kepada Jepang, serta mendukung pemungutan suara secara rahasia. Perdebatan ini membuktikan bahwa terdapat krisis demokrasi mengenai pengambilan keputusan dalam rezim internasional. Perdebatan dalam tubuh IWC, mengarah pada dua hal adalah antara manfaat relatif dari memastikan transparansi pada pemungutan suara, atau kebebasan negara-negara untuk memilih tanpa tekanan apa pun. Konsekuensi dari bantuan bilateral Jepang memperjelas polarisasi keanggotaan IWC,
31
mengingat sejumlah
perwakilan negara seakan mengganti preferensi kepentingan nasionalnya dengan mendukung suara Jepang. Mungkin ada biaya politik jika perwakilan negara di IWC dapat dibujuk untuk memberikan pro-pemungutan suara penangkapan ikan paus.
6. Judul : Intergovernment al Organizations as
Disseminators, Legitimators, and Disguisers of Hegemonic Policy
Preferences:The United States, the International Whaling
Commission,
and the
Introduction of a Moratorium on Commercial Whaling.
Penulis : Shirley V. Scott
Teori Perjanjian CSC (cognitive structure of cooperation)
Preferensi kebijakan AS yang terselubung melalui IWC awalnya tampak dari rekomendasi moratorium 10 tahun, mengacu pada ideologi dasar konservasi. Seperti yang dilihat, pada 1973 AS mengusulkan moratorium 10 tahun untuk penangkapan ikan paus komersial, dengan dasar ketidakpastian ilmiah.
Menyadari bahwa tidak mungkin mendapatkan suara yang cukup, AS dari tahun 1974 hingga 1979 mendukung moratorium 10 tahun untuk semua perburuan ikan paus komersial dalam pernyataan pembukaannya pada pertemuan IWC. Pada akhir 1970-an AS menggunakan UU domestiknya dan menerapkan tekanan bilateral untuk mendorong negara-negara pemburu paus seperti Chili, Peru, Korea Selatan, dan Spanyol untuk bergabung dengan IWC. Upaya tersebut dilakukan untuk meyakinkan negara-negara anggota IWC lainnya tentang perlunya moratorium.
Disamping itu, AS terlibat dalam pertemuan 'komisaris' rahasia untuk mendapatkan dukungan bagi kuota kepala
32
busur.
7. Judul : The International Whaling
Commission and the Elusive Great White
Whale of
Preservationism Penulis : Gerry Nagtzaam
Pendekatan Konstruktivis terhadap Analisis Normatif
IWC terdiri dari negara-negara yang secara teratur menangkap ikan paus. Ini memulai tren panjang pemburu ikan paus yang diizinkan untuk mengatur diri mereka sendiri, dengan hasil yang sangat buruk bagi stok ikan paus. Dengan menggunakan uji Legro untuk kekokohan norma, dapat diamati bahwa untuk akurasi kepatuhan moratorium komersial dapat dipahami dan dipatuhi secara baik. Namun, pengecualian terhadap penangkapan ikan paus subsisten ilmiah dan aborigin yang memperumit pelaksanaan larangan tersebut. Anomali perburuan paus aborigin terus berlanjut, dan mengingat tidak ada tanda-tanda praktik tersebut dibatasi atau dibatalkan. Sementara Jepang, satu-satunya negara yang melanjutkan "penelitian ilmiah" tentang ikan paus.
Sementara moratorium telah berlaku selama lebih dari dua puluh tahun, namun beberapa kebijakan justru tetap menjadi perdebatan. Oleh karena itu, masalah ketahanan norma IWC menjadi rumit.
8. Judul : Almost Saving Whales:
The Ambiguity of Succes at the International Whaling Commission.
Penulis : Ian Hurd
Eksplanatif
Teori Rezim Internasional
Penelitian mengungkapkan terdapat dua fitur rezim yang memungkinkan perburuan untuk hidup berdampingan dengan larangan. Pertama, moratorium memungkinkan
pemerintah untuk
mengeluarkan izin khusus kepada warganya untuk
“membunuh, mengambil, dan merawat paus untuk tujuan
33
penelitian ilmiah dengan batasan jumlah dan subjek.”
Kedua, Konvensi ICRW memungkinkan pemerintah untuk mengamandemen perjanjian sehingga dapat membebaskan diri. Hal ini dimudahkan dengan regulasi IWC yaitu mengizinkan para penentang untuk memilih keluar dari amandemen. Dalam kaitan ini, IWC mengalami dilema dalam keanggotaannya.
Sebagai contoh, Piagam PBB yang menetapkan standar tinggi pada amandemen, tetapi kemudian mengharuskan bahkan para pembangkang menerima perubahan. Hal tersebut, yang seyogyanya diteguhkan oleh IWC seabagai organisasi internasional.
9. Judul : Role and Problems of the Scientifict Committee of the International Whaling
Commission in
Terms of
Conservation and Sustainable Utilization of Whale Stocks Penulis : Joji Morishita, Dan Goodman
Eksplanatif Situasi disfungsional IWC yang disebabkan oleh Komite Ilmiah tidak hanya sebatas masalah konservasi yang tepat dan pemanfaatan berkelanjutan stok ikan paus, tetapi juga menjadi preseden buruk bagi masalah pengelolaan sumber daya alam lainnya. Komite Ilmiah dan rekomendasinya menjadi semakin tidak relevan dengan keputusan mengenai pengelolaan ikan paus dan evaluasinya terkait apakah dalam keadaan saat ini hal tersebut diperlukan. Lebih lanjut, tidak ada persepsi dari Komite Ilmiah maupun negara anggota untuk mengubah wacana dan prosedur
disfungsional yang
dilembagakan. Sehubungan dengan itu, agaknya tidak mungkin untuk mengharapkan
34
inisiasi dari Komite Ilmiah yang berguna untuk pemanfaatan dan pengelolaan berkelanjutan sumber daya ikan paus sesuai dengan tujuan ICRW.
10. Judul : The Roles of Activist NGOs in the Development and
Transformation of IWC Regime:
the Interaction of Norms and Power.
Penulis : Isao Sakaguchi.
Konsep Reaktansi Psikologis
Penelitian menunjukkan strategi NGO vis-a-vis negara- negara kontraproduktif namun persuasif. Aktivis NGO yang berbasis masyarakat sipil biasanya dianggap melokal.
Namun, terkadang NGO secara enteng dalam menggunakan tekanan materi seperti boikot, sanksi, atau protes kekerasan daripada untuk mencoba membujuk target warga negara untuk menerima norma mereka di tingkat akar rumput. Dalam kasus IWC, NGO memaksa negara-negara anggota untuk mengalah pada tuntutan mereka hanya dengan menggunakan politik kekuasaan tanpa melibatkan masyarakat sipil. NGO menjadi agen yang memaksakan nilai- nilai kekuatan besar, biasanya dari negara-negara Barat, dari
‘atas’, mengabaikan suara negara dan warga minoritas.
Kekuatan tersebut mampu mempengaruhi IWC secara tidak langsung melalui kekuatan koersif dan desakan dari negara barat. Dalam kaitan ini, seharusnya NGO tidak boleh melupakan peran intrinsik mereka sebagai aktor masyarakat sipil, dan harus memprioritaskan tujuan jangka panjang mereka daripada mengutamakan kepentingan politis atas perburuan ikan paus dengan negara barat.
35 11. Judul :
Transformasi International Whaling Commission (IWC) dalam Menghentikan Perburuan Ikan Paus.
Penulis : Mawaddah Dhuha Rahmarilla
Eksplanatif
Konsep Rezim Internasional
Perkembangan IWC sebagai rezim internasional mengalami transformasi sesuai dengan teori Dinamika Rezim Internasional yang kemukakan oleh Oran. R. Young. Dalam kaitan ini, IWC telah menghadapi beberapa persoalan seperti konflik internal, pergeseran struktur kekuasaan, dan dorongan dari kekuatan eksternal.
Melanjutkan al tersebut, IWC mengalami pelemahan kontinuitas tujuan awal berdirinya IWC yang semula sebagai rezim pangsa ikan paus, beralih ke rezim konservasi dengan tujuan menghentikan perburuan ikan paus. Hal tersebut, diperkuat dengan adanya inkonsistensi kebijakan dan peraturan Konvensi ICRW yang berujung pada polaritas keanggotaan IWC.
1.5 Kerangka Analisis
1.5.1 Konsep Rezim Internasional
Konsensus terkait definisi rezim internasional secara umum harus memenuhi persyaratan dari definisi rezim internasional yang didirikan secara teoritis, yaitu sebagai seperangkat kriteria yang dapat diidentifikasi dan dibedakan dari jenis lembaga lain dalam sistem internasional. Menurut kriteria ini, rezim internasional dapat memuat 5 (lima) elemen berikut:17
17 Thomas Gehring, Dynamic International Regimes : lnstitutions for International Environmental Governance, Studies of the Environmental Law Network International, 1992, hal, 395-396.
36 a. System of norms.
Inti dari rezim internasional adalah norma-norma substantif yang mengatur perilaku yang terkoordinasi secara internasional. Norma akan menentukan perilaku aktor, sehubungan dengan proses pembentukan norma dan pengambilan keputusan kolektif. Rezim internasional juga dapat terdiri dari komponen yang menunjukkan arah modifikasi perilaku yang diinginkan di area isu dan memandu intervensi kolektif. Oleh karena itu, analisis rezim bertumpu pada asumsi bahwa koordinasi perilaku dalam sistem internasional dicapai melalui norma-norma.
b. Negotiations and Collective Decisions.
Jika norma dalam rezim internasional kurang optimal dalam mencapai target yang disepakati, maka negosiasi dan keputusan kolektif aktor dibutuhkan untuk menjadi bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan formal. Sebaliknya, kriteria mengacu pada negosiasi sebagai proses komunikasi verbal tentang norma-norma yang mengarah pada kesepakatan umum dan memungkinkan satu atau lebih pihak yang terlibat dalam proses ini untuk menuntun musyawarah dan keputusan kolektif tentang norma tertentu.
c. Multilateralism.
Dalam rezim internasional, norma tidak menjamin kepatuhan negara anggota/aktor di dalamnya. Untuk itu, dibutuhkan resiko destabilisasi dengan orientasi para aktor pembuat keputusan. Sehingga akan ada standar untuk membedakan aktor yang berperilaku 'tepat' dan yang tidak
37
mematuhi rezim. Reaksi komunitas terhadap perilaku yang tidak patuh menentukan relevansi masa depan dari norma yang diberikan. Hal ini penting, untuk menegaskan kembali validitas berkelanjutan dari norma dan menunjukkan besaran dari motivasi negara anggota/aktor. Norma mengungkapkan kekuatan nyata mereka hanya dalam situasi multilateral karena mereka dapat mengatur reaksi dari anggota komunitas pihak ketiga.
Oleh karena itu, seorang aktor yang berperilaku bertentangan dengan standar umum dapat dihadapkan tidak hanya dengan mitra langsungnya tetapi dengan seluruh komunitas.
d. Issue-Area Specificity.
Secara keseluruhan, analisis rezim mengadopsi pendekatan sektoral terhadap hubungan internasional yang menganggap rezim internasional sebagai lembaga independen. Pendekatan sektoral terhadap institusi membedakan konsep rezim internasional secara fundamental dari konsep hukum internasional (walaupun rezim internasional sering kali didasarkan pada perjanjian dan konvensi hukum internasional). Area isu yang dibahas adalah isu subjektif yang dikelompokkan bersama oleh negara anggota/aktor dan mengacu pada interaksi di antara para aktor tersebut terkait isu-isu tersebut.
e. Effectiveness.
Implementasi rezim internasional akan selalu disertai dengan risiko kegagalan tertentu. Bagaimanapun, pada dasarnya negara anggota/aktor dapat terpisah dari konsensus norma dan merealisasikan tindakan