6. Judul : Intergovernment
1.5 Kerangka Analisis
1.5.1 Konsep Rezim Internasional
Konsensus terkait definisi rezim internasional secara umum harus memenuhi persyaratan dari definisi rezim internasional yang didirikan secara teoritis, yaitu sebagai seperangkat kriteria yang dapat diidentifikasi dan dibedakan dari jenis lembaga lain dalam sistem internasional. Menurut kriteria ini, rezim internasional dapat memuat 5 (lima) elemen berikut:17
17 Thomas Gehring, Dynamic International Regimes : lnstitutions for International Environmental Governance, Studies of the Environmental Law Network International, 1992, hal, 395-396.
36 a. System of norms.
Inti dari rezim internasional adalah norma-norma substantif yang mengatur perilaku yang terkoordinasi secara internasional. Norma akan menentukan perilaku aktor, sehubungan dengan proses pembentukan norma dan pengambilan keputusan kolektif. Rezim internasional juga dapat terdiri dari komponen yang menunjukkan arah modifikasi perilaku yang diinginkan di area isu dan memandu intervensi kolektif. Oleh karena itu, analisis rezim bertumpu pada asumsi bahwa koordinasi perilaku dalam sistem internasional dicapai melalui norma-norma.
b. Negotiations and Collective Decisions.
Jika norma dalam rezim internasional kurang optimal dalam mencapai target yang disepakati, maka negosiasi dan keputusan kolektif aktor dibutuhkan untuk menjadi bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan formal. Sebaliknya, kriteria mengacu pada negosiasi sebagai proses komunikasi verbal tentang norma-norma yang mengarah pada kesepakatan umum dan memungkinkan satu atau lebih pihak yang terlibat dalam proses ini untuk menuntun musyawarah dan keputusan kolektif tentang norma tertentu.
c. Multilateralism.
Dalam rezim internasional, norma tidak menjamin kepatuhan negara anggota/aktor di dalamnya. Untuk itu, dibutuhkan resiko destabilisasi dengan orientasi para aktor pembuat keputusan. Sehingga akan ada standar untuk membedakan aktor yang berperilaku 'tepat' dan yang tidak
37
mematuhi rezim. Reaksi komunitas terhadap perilaku yang tidak patuh menentukan relevansi masa depan dari norma yang diberikan. Hal ini penting, untuk menegaskan kembali validitas berkelanjutan dari norma dan menunjukkan besaran dari motivasi negara anggota/aktor. Norma mengungkapkan kekuatan nyata mereka hanya dalam situasi multilateral karena mereka dapat mengatur reaksi dari anggota komunitas pihak ketiga.
Oleh karena itu, seorang aktor yang berperilaku bertentangan dengan standar umum dapat dihadapkan tidak hanya dengan mitra langsungnya tetapi dengan seluruh komunitas.
d. Issue-Area Specificity.
Secara keseluruhan, analisis rezim mengadopsi pendekatan sektoral terhadap hubungan internasional yang menganggap rezim internasional sebagai lembaga independen. Pendekatan sektoral terhadap institusi membedakan konsep rezim internasional secara fundamental dari konsep hukum internasional (walaupun rezim internasional sering kali didasarkan pada perjanjian dan konvensi hukum internasional). Area isu yang dibahas adalah isu subjektif yang dikelompokkan bersama oleh negara anggota/aktor dan mengacu pada interaksi di antara para aktor tersebut terkait isu-isu tersebut.
e. Effectiveness.
Implementasi rezim internasional akan selalu disertai dengan risiko kegagalan tertentu. Bagaimanapun, pada dasarnya negara anggota/aktor dapat terpisah dari konsensus norma dan merealisasikan tindakan
38
nasionalnya sendiri. Sehingga resiko kegagalan dari rezim internasional akan tetap ada. Meskipun efektivitas merupakan kriteria penting untuk alasan teoritis dalam parameter tingkat kepatuhan, namun efektivitas tidak dapat dipadukan dengan efektivitas norma. Mengingat norma tidak dapat dibatalkan karena tindak ketidakpatuhan negara anggota/aktor.
Merujuk pada kelima elemen diatas, definisi rezim internasional mengalami modifikasi dan didefinisikan sebagai:
“An international regime may then be defined as 'a combination of (a) a set of international norms applicable to specific issue-areas that guides actors' decision-making and emerges from deliberate, collective (and usually multilateral) decisions of the participating actors and (b) the negotiations and organized decision processes from which these norms emerge and within which they are stabilized.”18
Namun, definisi tersebut tidak menjamin bahwa sistem normatif yang diidentifikasi sebagai rezim internasional memang dapat dipatuhi secara optimal.
Hal ini dikarenakan, subjek pelaku mekanisme rezim adalah negara. Negara dapat bersifat kooperatif dan defensif terhadap kemajuan kepentingan nasionalnya.
Tidak dapat dihindari dalam rezim internasional akan terjadi modifikasi hasil dan target, yang disebabkan oleh proses pengambilan keputusan kolektif dalam negosiasi yang disesuaikan dengan sejumlah dinamika internal serta respon terhadap perubahan politik, ekonomi, dan sosial. Dalam kaitan ini, rezim internasional akan mengalami transformasi.
Istilah transformasi rezim internasional merujuk pada perubahan signifikan terhadap struktur hak dan aturan rezim, karakter prosedur pengambilan
18 Ibid, hal, 397.
39
keputusan, dan sifat mekanisme kepatuhan negara anggota.19 Terdapat banyak faktor yang menyebabkan rezim bertransformasi, seperti pihak-pihak internal, kondisi sistem internasional, perbedaan pandangan politik, dan sebagainya.
Dengan kualifikasi yang dipaparkan diatas, insiden ketidakpatuhan yang terjadi dapat mengindikasikan bahwa norma-norma yang relevan tidak efektif dan bahwa suatu rezim tidak ada (lagi).
Untuk menjelaskan hal tersebut, Oran. R. Young mengidentifikasi beberapa faktor yang menyebabkan transformasi dalam rezim, sebagai berikut:20
1. Internal contradiction, yang dimaksud dengan internal contradiction adalah kontradiksi-kontradiksi yang membentuk konflik internal dalam tubuh rezim. Kontradiksi ini tidak dapat direkonsiliasi melalui elemen-elemen internal rezim sehingga berpotensi menyebabkan kegagalan rezim.
2. Underlying structure of power atau pergeseran struktur kekuasaan dalam tubuh rezim. Pergeseran struktur rezim ini disebabkan oleh pemaksaan peraturan atau kebijakan yang tidak disasarkan kepada konsensus anggota, serta terjadi degradasi kekuatan aktor dominan.
Disamping itu, netralitas rezim juga mempengaruhi peran aktor dalam rezim internasional.
19 Oran R. Young. Regimes Dynamic The Rise and Fall of International Regimes, diakses dalam https://www.cambridge.org/core/journals/international-organization/article/regime-dynamics-the-rise-and-fall-of-international-regimes/6885F64E8C01664F4B7EA48C556AB5E8 (6/02/2021, 22:00 WIB).
20 Ibid
40
3. Exogeneus forces / kekuatan eksternal yang artinya perkembangan sosial di luar rezim berdampak pada perilaku aktor negara terhadap rezim internasional. Disamping itu, kekuatan eksternal secara tidak langsung dapat turut serta memodifikasi rezim.
Analisis integritas IWC sebagai rezim internasional dapat ditilik melalui pemenuhan elemen rezim yang meliputi, system of norms, negotiations and collective decisions, multilateralism, issue area specificity, dan effectiveness. Dari situ, perkembangan IWC sebagai rezim internasional akan dapat diarahkan pada dua hal yaitu transformasi menuju keberhasilan dan transformasi menuju kegagalan. Menjawab persoalan tersebut, apabila aspek internal contradiction, underlying structure of power, dan exogeneus force terjadi dan tidak dapat diselesaikan oleh IWC, maka IWC mengalami transformasi rezim yang berpotensi menuju kegagalan. Begitu pun sebaliknya, apabila aspek tersebut terjadi dan dapat ditangani dengan baik, maka IWC mengalami transformasi rezim yang berpeluang menuju keberhasilan.