• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II LANDASAN TEORI"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Media E-Magazine

1. Pengertian Media Pembelajaran

Depdiknas (2003) mengemukakan bahwa istilah media berasal dari bahasa Latin yang merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harafiah berarti perantara atau pengantar. Makna umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Proses belajar mengajar pada dasarnya juga merupakan proses komunikasi, sehingga media yang digunakan dalam pembelajaran disebut media pembelajaran. Media pembelajaran merupakan bagian dari sumber belajar yang merupakan kombinasi antara perangkat lunak (bahan belajar) dan perangkat keras (alat belajar).

Association for Education and Communication Technology (AECT), mengartikan kata media sebagai segala bentuk dan saluran yang dipergunakan untuk proses informasi. National Education Association (NEA) mendefinisikan media sebagai segala benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan untuk kegiatan tersebut. Sedangkan Heinich, dkk (1982) mengartikan istilah media sebagai “the term refer to anything that carries information between a source and a receiver”.

Sementara, Marshall Mcluhan (dalam Oemar Hamalik, 2003) berpendapat bahwa media adalah suatu ekstensi manusia yang memungkinkannya mempengaruhi orang lain yang tidak mengadakan kontak langsung dengan dia. Sesuai dengan rumusan ini, media komunikasi mencakup surat-surat, tv, film dan telepon, bahwa jalan raya dan jalan kereta api merupakan media yang memungkinkan seseorang berkomunikasi dengan orang lain.

Lebih lanjut Oemar Hamalik membedakan pengertian media menjadi dua yaitu dalam arti sempit dan dalam arti luas. Dalam arti sempit, media pengajaran hanya meliputi media yang dapat digunakan secara efektif dalam proses pengajaran yang terencana, sedangkan dalam artian luas, media tidak hanya meliputi media komunikasi elektronik yang kompleks, tetapi juga mencakup alat-alat sederhana, seperti slide, fotografi, diagram, dan bagan buatan guru, objek-objek nyata, serta kunjungan ke luar sekolah. Sejalan dengan pandangan itu, guru-guru pun dianggap sebagai media penyajian, di samping radio dan televisi karena sama-sama membutuhkan dan

(2)

menggunakan banyak waktu untuk menyampaikan informasi kepada siswa.

Romiszowski (dalam Oemar Hamalik, 2003) merumuskan media pengajaran

“….as the carries of massages, from some transmitting source (which may be a human being or an intimate object), to the receiver of the massages (which is our case is the learner)”. Adapun Djamarah dan Aswan (2002) mendefinisikan media sebagai alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan guna mencapai tujuan pembelajaran. Dalam konteks media sebagai sumber belajar, maka secara luas media dapat diartikan dengan manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan peserta didik memperoleh pengetahuan dan ketrampilan.

Pada hakikatnya berbagai batasan yang dikemukakan di atas mengandung pengertian dasar yang sama. Dalam berkomunikasi kita membutuhkan media atau sarana. Secara umum makna media adalah apa saja yang dapat menyalurkan informasi dari sumber Informasi ke penerima informasi. Jadi media pembelajaran merupakan

“perangkat lunak” (Software) yang berupa pesan atau informasi pendidikan yang disajikan dengan memakai suatu peralatan bantu (Hardware) agar pesan/informasi tersebut dapat sampai kepada mahasiswa. Di sini jelas bahwa media berbeda dengan peralatan tetapi keduanya merupakan unsur-unsur yang saling terkait satu sama lain dalam usaha menyampaikan pesan/informasi pendidikan kepada mahasiswa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media merupakan wadah dari pesan yang oleh sumber atau penyalur yang ingin diteruskan kepada sasaran atau penerima pesan tersebut, sedangkan materi yang ingin disampaikan adalah pesan pembelajaran, dan tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar.

2. Pengertian dan Karakteristik Majalah

Assegaf menyatakan bahwa majalah adalah sebuah media publikasi atau terbitan secara berkala yang memuat artikel-artikel dari berbagai penulis (Dikutip dalam Sundari, 2015). Selain memuat artikel, majalah juga merupakan publikasi yang berisi cerita pendek, gambar, review, ilustrasi atau fitur lainnya yang mewarnai isi dari majalah. Oleh karena itu, majalah dijadikan salah satu pusat informasi bacaan yang sering dijadikan bahan rujukan oleh para pembaca dalam mencari sesuatu hal yang diinginkannya.

Sebuah majalah mengandung banyak elemen-elemen grafis seperti gambar, tipografi, warna, ilustrasi dan elemen lainnya yang dimana hal itu untuk memperindah

(3)

isi majalah dan untuk menarik perhatian masyarakat untuk membacanya. Berikut karakteristik dari majalah:

a. Mempunyai tema khusus

Berbeda dengan koran yang memuat beberapa tema berita atau pokok bahasan di dalamnya. Isi majalah hanya memuat tema khusus mengenai suatu trend atau peristiwa yang sedang berlangsung.

b. Terbit secara berkala

Tidak seperti koran yang terbit setiap hari, frekuensi terbit majalah bervariasi.

Ada majalah yang terbit dua minggu sekali, sebulan sekali atau dua bulan sekali.

c. Cover/sampul yang menarik

Fisik majalah biasanya lebih full color baik dari sampul ataupun isi majalah tersebut, sehingga terlihat menarik.

d. lnformasi lebih mendalam

Informasi yang disampaikan dari majalah lebih mendalam karena isinya hanya membahas satu tema khusus.

e. Nilai aktualitas lebih panjang

Nilai aktualitasa dari sebuah majalah lebih panjang, berbeda dengan koran yang terbit setiap hari dengan nilai aktualitas yang pendek.

f. Gambar/foto lebih bagus

Ciri khas majalah salah satunya adalah full color yang bertujuan supaya lebih menarik perhatian, dengan kualitas gambar/foto yang baik.

Majalah merupakan media cetak yang terbit secara berkala, tetapi bukan terbit setiap hari. Majalah sekurang-kurangnya memiliki sejumlah halaman tertentu dan mempunyai nama rubrik yang berbeda-beda pada setiap isi majalah. Rubrik itu berisi penjabaran tentang suatu masalah maupun peristiwa yang dikelompokkan menurut jenisnya.

Berdasarkan penjabaran karakteristiknya, jadi majalah merupakan sumber informasi yang aktual. Dengan ini penulis mencoba menerapkan majalah sebagai media pembelajaran, dipadukan dengan memanfaatkan kemajuan tekhnologi dan memperhatikan kondisi lingkungan. Media pembelajaran dengan majalah ini berbasis teknologi atau yang disebut e-magazine. Tidak seperti majalah pada umumnya yang menggunakan kertas, tetapi e-magazine diakses menggunakan handphone, laptop, komputer, dan alat elektronik lainnya.

3. E-Magazine

(4)

Majalah elektronik (electronic magazine), atau yang disingkat e-magazine adalah versi elektronik dari majalah karena berbasis listrik. Majalah elektronik tidak lagi menggunakan bahan baku kertas untuk menuliskan artikel-artikelnya seperti majalah pada umumnya, melainkan dalam bentuk file digital yang dapat diakses melalui media elektronik seperti komputer, laptop, handphone, android, iPhone, iPad dan teknologi lainnya (Nurjanah, 2014).

Majalah elektronik ini dibuat dengan menggunakan Kvisoft Flip Book Maker, yang sebelumnya majalah didesain menggunakan corel draw X5, sehingga format filenya berupa pdf. Adapun langkah-langkah dalam membuat majalah elektronik dengan menggunakan Kvisoft Flip Book Maker, diantaranya:

a. Sebelum membuat E-Magazine, siapkan file yang berupa PDF, JPG, dls.

b. Unduh software Kvisoft Flip Book Maker dan instalkan pada komputer/laptop.

c. Buka “Kvisoft Flip Book Maker”.

d. Tambahkan file yang formatnya PDF, kemudian klik “Add file”. Jika ingin menambahkan musik pada E-Magazine bisa ditambahkan dengan cara klik “Add Music”.

e. Pilih Style yang sesuai dengan selera, caranya klik tombol “Style” dan akan ditampilkan macam-macam bentuk E-Magazine, kemudian pilih salah satunya.

f. Setelah merasa cocok dengan Style

yang dipilih, langkah selanjutnya adalah publikasi yaitu menjadikannya sebuah

(5)

aplikasi, caranya klik tombol “Publish”, maka akan ada beberapa pilihan bentuk aplikasi seperti gambar dibawah ini.

Keterangan :

1) SWF : Berupa file swf yang dapat di buka dengan flash player.

2) EXE : File akan menjadi aplikasi yang dapat di buka tanpa flash player dan dibuka dikomputer manapun.

3) HTML : Publikasi ini untuk format HTML atau dibuka melalui Web Browser atau diletakkan di website.

4) Email : File yang sudah jadi akan dikirim melalui E-Mail anda.

Dari pilihan diatas silahkan pilih salah satunya, sebagai contoh gambar dibawah ini, setelah itu tentukan tempat penyimpananya.

Outpur Path : Outpur path adalah penentu tempat penyimpanan yang akan digunakan.

File Name : File name adalah nama File E-Magazine yang akan dibuat.

g. Kemudian jika sudah selesai menentukkan jenis file, “Klik OK”.

h. Tunggu proses publishing selesai dengan sempurna, dan E-Magazine siap digunakan.

Berikut merupakan beberapa kelebihan dan kekurangan media e-magazine, diantaranya yaitu sebagai berikut:

Tabel 2.2 Kelebihan dan Kekurangan E-magazine

(6)

Media Kelebihan Kekurangan E-Magazine  Berbasis komputer sehingga interaktif

dengan siswa.

 Dapat diadaptasi sesuai kebutuhan siswa, baik secara sendiri atau terkait dengan bahan-bahan lainnya.

 Materi dalam media pembelajaran berisi artikel tentang masalah konkret dan disertai gambar-gambar sehingga siswa dapat berpikir lebih nyata.

 Mengurangi penggunaan kertas.

 Memerlukan komputer dan pengetahuan programmer.

 Membutuhkan software khusus untuk

penggunaannya.

Pada pembuatan e-magazine digunakan aplikasi Kvisoft Flip Book Maker.

Flip Book Maker adalah aplikasi untuk membuat e-book, e-paper, dan e- magazine. Flipbook memiliki arti buku yang membalik. Flipbook memiliki karakteristik yang dapat dibuka dan dibolak balik menyerupai majalah atau buku pada umumnya. Flipbook maker memiliki desain template dan fitur seperti background, tombol kontrol, navigasi bar, hyperlink dan backsound (Hidayatullah 2016). E-magazine ini memuat materi tentang pencemaran dan pelestarian lingkungan.

4. E-Magazine sebagai Media Pembelajaran

Association for Education and Communication Technology (AECT), mengartikan kata media sebagai segala bentuk dan saluran yang dipergunakan untuk proses informasi. National Education Association (NEA) mendefinisikan media sebagai segala benda yang dapat dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca atau dibicarakan beserta instrumen yang dipergunakan untuk kegiatan tersebut. Jadi media dapat diartikan sebagai alat untuk memberikan perangsang bagi siswa agar terjadi proses belajar karena media merupakan salah satu komponen komunikasi, yaitu sebagai pembawa pesan dari komunikator menuju komunikan, tetapi komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media. Pesan yang akan dikomunikasikan adalah isi dari pembelajaran yang ada dalam kurikulum yang dituangkan oleh pengajar atau fasilitator atau sumber lain kedalam media komunikasi.

(7)

Proses belajar mengajar akan berjalan efektif dan efisien bila didukung dengan tersedianya media yang menunjang. Hal ini disebabkan karena potesi peserta didik akan lebih terangsang bila dibantu dengan sejumlah media atau sarana dan prasarana yang mendukung proses interaksi yang sedang dilaksanakan.

Kemanjuan International Trade Centre (ICT), proses ini memungkinkan dengan menyediakan sarana pembelajaran online melalui internet dan media elektronik.

Seperti pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan electronic magazine.

B. Model Pembelajaran Cooperative Learning 1. Pengertian Cooperative Learning

Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok. Model pembelajaran cooperative learning merupakan strategi pembelajaran yang menitikberatkan pada pengelompokan siswa dengan tingkat kemampuan akademik berbeda kedalam kelompok-kelompok kecil (Saptono, 2003).

Siswa diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerja sama dengan baik dalam kelompoknya, seperti menjelaskan kepada teman sekelompoknya, menghargai pendapat teman, dan berdiskusi dengan teratur.

Muri (2005) mengemukakan bahwa cooprative learning adalah salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan faham konstruktivis. Cooperative learning merupakan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap siswa anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam Cooperative learning, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok blum menguasai bahan pelajaran.

Slavin (2008) dalam Khaeriyah (2015) mengemukakan dua alasan mengapa model cooperative learning baik di gunakan untuk para pendidik yaitu, pertama, beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunaan cooperative learning dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain, serta dapat meningkatkan harga diri. Kedua, cooperative learning dapat merealisasikan kebutuhan siswa dalam belajar berfikir, memecahkan masalah dan mengintegrasikan pengetahuan dengan keterampilan.

Penggunaan model cooperative learning bukan sekedar pembelajaran dalam kelompok namun disini terlihat adanya suatu interaksi sosial antar siswa sehingga akan

(8)

tmbul jiwa solidaritas antar sesama dan menerima segala kekurangan yang ada serta saling membantu mewujudkan keberhasilan pembelajaran. Cooperative learning tidak hanya dapat meningkatkan hasil belajar siswa namun menumbuhkan pemikiran- pemikiran siswa dalam pembelajaran. Pengelompokkan dalam belajar dengan cooperative yang bersifat heterogen ini dimaksudkan agar setiap anggota kelompok dapat saling memberikan pengalaman dan memberikan konstribusi dalam kelompok sehingga tidak ada anggta yang dominan dalam kelompok.

Model ini tidak hanya unggul dalam membantu siswa memahami konsep yang sulit, tetapi juga sangat berguna untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, dan membantu teman. Dalam pembelajaran cooperatve siswa terlibat aktif pada proses pembelajaran sehingga memberikan dampak positif terhadap kualitas interaksi dan komunikasi yang berkualitas, dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya.

2. Ciri-ciri Cooperative Learning

Sanjaya (2008) dalam Khaeriyah (2015) mengemukakan bahwa, cooperative learning berbeda dengan strategi pembelajaran lain. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari proses pembelajaran yang lebih menekankan kepada proses kerja sama dalam kelompok.

Sanyaja (2008) dalam Khaeriyah (2015) menyatakan bahwa, Karakteristik model cooperative learning yaitu sebagai berikut:

a. Pembelajaran secara tim

Semua anggota tim (anggota kelompok) harus saling membantu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kriteria keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh keberhasilan tim.

b. Didasarkan pada managemen cooperative

Berdasarkan manajemen cooperative yaitu yang pertama, fungsi perencanaan menunjukkan pembelajaran cooperative memerlukan perencanaan yang matang agar proses pembelajaran berjalan efektif. Fungsi organisasi menunjukkan bahwa cooperative learning adalah pekerjaan bersama antar anggota kelompok, maka perlu diatur tugas dan tanggung jawab setiap anggota kelompok. Fungsi kontrol menunjukkan bahwa dalam cooperative learning perlu ditentukan kriteria keberhasilan baik melalui tes maupun non tes.

c. Kemauan untuk bekerja sama

(9)

Setiap masing-masing dari anggota kelompok bukan saja harus diatur tugas dan tanggung jawabnya, akan tetapi juga ditanamnkan perlunya saling membantu satu sama lain. Misalnya, yang pintar membantu yang kurang pintar dalam proses pembelajaran.

d. Keterampilan bekerja sama

Kemauan untuk bekerja sama itu kemudian di praktikan melalui aktivitas dan kegiatan-kegiatan yang tergambarkan dalam keterampilan bekerja sama. Dengan demikian, siswa perlu didorong untuk mau dan sanggup berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota lain.

3. Tujuan dan Manfaat Cooperative Learning

Abdul Majid (2013) dalam bukunya menyatakan bahwa terdapat tiga tujuan pokok belajar kooperatif adalah: Pertama, mengatakan kinerja siswa dalam tugas- tugas akademik. Model cooperative ini memiliki keunggulan dalam membantu siswa untk memahami konsep-konsep yang sulit. Kedua, agar siswa dapat menerima teman- temanya yang mempunyai berbagai perbedaan latar belakang. Ketiga, mengembangkan keterampilan sosial siswa, berbagai tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau menjelaskan idea tau pendapat, dan bekeja dalam kelompok.

Linda Lungren (1994) dalam Abdul Majid (2013) mengemukakan bahwa, terdapat manfaat cooperative learning bagi siswa dengan prestasi belajar yang rendah, diantaranya yaitu: meningkatkan pencurahan waktu pada tugas-tugas siswa, rasa harga diri menjadi lebih tinggi, memperbaiki sikap terhadap IPA dan sekolah, memperbaiki kehadiran siswa, angka putus sekolah menjadi rendah, penerimaan terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar, perilaku mengganggu antar siswa menjadi lebih kecil, konflik antar pribadi berkurang, sikap apatis bekurang, pemahaman yang lebih mendalam, meningkatkan motivasi lebih besar, hasil belajar lebih tinggi, retensi lebih lama, dan meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, dan toleransi.

4. Langkah-langkah Pembelajaran Cooperative Learning

Tabel 2.1 Langkah-langkah Pembelajaran Cooperative Learning

Fase dan Indikator Kegiatan Guru

(10)

Fase – 1

Menyampaikan Tujuan dan Memotivasi Siswa

Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

Fase – 2

Menyajikan Informasi

Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.

Fase – 3

Mengorganisasikan Siswa Kedalam Kelompok Kooperatif

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien.

Fase – 4

Membimbing Kelompok Bekerja dan Belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

Fase -5 Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing- masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

Fase -6

Memberikan Penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok

Sumber: Abdul Majid (2013).

5. Kelebihan dan Kekurangan Cooperative Learning a. Keunggulan Pembelajaran Cooperative

Sanjaya (2008) dalam Khaeriyah (2015) mengemukakan bahwa, keunggulan pembelajaran cooperative sebagai suatu model pembelajaran di antaranya:

1) Melalui pembelajaran cooperative, siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru, akan tetapi akan menambah kemampuan berfikir sendiri, menemukan informasi dari berbagai sumber dan belajar dari siswa lain.

2) Pembelajaran cooperative mengembangkan kemampuan mengungkapkan ide atau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.

3) Pembelajaran cooperative dapat membantu anak untuk respek pada orang lain

(11)

dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.

4) Pembelajaran cooperative dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.

5) Pembelajaran cooperative merupakan suatu model yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekligus kemampuan sosial.

6) Melalui pembelajaran cooperative dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri, menerima umpan balik. Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan, karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya.

7) Pembelajaran cooperative dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata (riil).

8) Interaksi selama cooperative berlangsung dapat meningkatkan motivsi dan memberikan rangsangan untuk berfikir.

b. Kelemahan Pembelajaran Cooperative

Sanjaya dalam Khaeriyah (2015) mengemukakan bahwa, keunggulan pembelajaran cooperative sebagai suatu strategi pembelajaran di antaranya:

1) Untuk siswa yang di anggap memiliki kelebihan akan merasa terhambat oleh siswa yang dianggap kurang memiliki kemampuan. Akibatnya, keadaan semacam ini dapat menganggu iklim kerja sama dalam kelompok.

2) Ciri utama dari pembelajaran cooperative adalah bahwa siswa saling membelajarkan. Oleh karena itu, jika tanpa pembelajaran yang efektif, maka dibandingkan dengan pengajaran guru, bisa terjadi cara belajar yang demikian apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernah dicapai oleh siswa.

3) Penilaian yang diberikan dalam pembelajaran cooperative didasarkan kepada hasil kerja kelompok. Namun demikian, guru perlu menyadari bahwa sebenarnya hasil atau prsetasi yang diharapkan adalah prsetasi setiap individu siswa.

4) Keberhasilan pembelajaran cooperative dalam upaya mengembangkan kesadaran kelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang. Hal ini tidak mungkin dapat tercapai hanya dengan satu kali penerapan strategi.

C. Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis, yang dilakukan orang-orang yang diserahi tanggung jawab untuk mempengaruhi peserta didik agar mempunyai sifat dan tabiat sesuai dengan cita-cita pendidikan (Achmad. M, 2004). Pendidikan diharapkan

(12)

benar-benar diarahkan untuk menjadikan peserta didik mampu mencapai proses pendewasaan dan kemandirian. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki pengaruh yang sangat besar dalam berbagai bidang kehidupan manusia.

Pendidikan sebagai salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendewasaan manusia tentu di satu sisi memiliki andil yang besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut, namun di sisi lain pendidikan juga perlu memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi agar mampu mencapai tujuannya secara efektif dan efisien. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah berpengaruh terhadap penggunaan alat-alat bantu mengajar di sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya.

Dewasa ini pembelajaran di sekolah mulai disesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi, sehingga terjadi perubahan dan pergeseran paradigma pendidikan.

Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan teknologi informasi dalam proses pembelajaran di kelas, sudah menjadi suatu kebutuhan sekaligus tuntutan di era global ini.

D. Pengertian Belajar dan Pembelajaran

Jufri (2013) mengemukakan bahwa belajar dan pembelajaran merupakan dua istilah yang selalu berkaitan. Supaya proses pembelajaran dapat berlangsung, maka harus ada peserta didik yang belajar dan pendidik yang berperan sebagai perancang, pelaksana, fasilitator, pembimbing, dan penilai proses dan hasil pembelajaran. Sedangkan menurut Gagne dalam Wardoyo (2013) belajar merupakan perubahan dalam disposisi manusia atau kapabilitas yang berlangsung selama satu masa waktu dan yang tidak semata-mata disebabkan oleh proses pertumbuhan. Perubahan tersebut membutuhkan beberapa unsur dalam proses belajar atau pembelajaran. Unsur-unsur tersebut meliputi isi pembelajar, situasi perangsang, isi atau materi, dan respon.

Berdasarkan kedua pendapat tersebut, belajar merupakan proses perubahan yang dialami manusia dan didalamnya harus terdapat unsur-unsur diantaranya yaitu siswa, guru, dan materi. Adanya siswa atau peserta didik, guru sebagai pendidik yang dapat merangsang siswa untuk semangat dalam belajar dan membimbing siswa dalam pembelajaran, adanya materi yang disampaikan kepada siswa, dan adanya respon dari siswa sebagai hasil pembelajaran.

Belajar sering juga dimaknai sebagai adanya pemrolehan keterampilan dan ilmu pengetahuan. Seiring dengan perkembangan mutakhir yang didukung oleh hasil kajian

(13)

neurofisiologi dan neuropsikologi makna belajar menjadi lebih luas yakni melibatkan kemampuan memproses informasi, menalar, dan mengembangkan pemahaman serta meningkatkan penguasaan keterampilan dalam proses pembelajaran (Jufri, 2013).

Belajar dalam konsepsi belajar sepanjang hayat merupakan suatu kebutuhan. Dengan alasan kebutuhan, setiap individu akan mendorong dirinya untuk belajar (learning tolearn) sehingga dapat mempelajari dan merespon secara cerdas pengetahuan- pengetahuan yang secara eksponensial terus meningkat dan berubah sesuai dengan perkembangan masyarakat dan kehidupan (FPI UPI, 2007).

Gagne dalam Jufri (2013) menyatakan pembelajaran sebagai pengaturan peristiwa yang ada di luar diri peserta didik dan dirancang serta dimanfaatkan untuk memudahkan proses pembelajaran. Sehubungan dengan hal itu, maka paradigma pembelajaran dewasa ini harus diarahkan pada pengembangan kompetensi peserta didik dalam melakukan tugas-tugas akademik berdasarkan standar kompetensi tertentu.

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, belajar dan pembelajaran sangat berkaitan erat. Belajar merupakan proses untuk mendapatkan ilmu dan penguasaan keterampilan yang didapatkan melalui proses pembelajaran sedangkan proses pembelajaran memiliki standar kompetensi agar diperolehnya ilmu pengetahuan dan penguasaan keterampilan tersebut pada peserta didik.

E. Hasil Belajar

Suprijono (2011) menyatakan bahwa hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai- nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Merujuk pemikiran Gagne, hasil belajar berupa:

1. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis.

2. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempersentasikan konsep dan lambang.

3. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri.

4. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.

5. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan penilaian terhadap objek tersebut.

Nasution (1995) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah suatu perubahan pada diri individu. Perubahan yang dimaksud tidak halnya perubahan pengetahuan, tetapi juga

(14)

meliputi perubahan kecakapan, sikap, pengertian, dan penghargaan diri pada individu tersebut.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki individu setelah ia menerima pengalaman belajarnya yang meliputi kognitif, afektif, dan psikomotorik.

F. Konsep Pencemaran dan Pelestarian Lingkungan

Lingkungan hidup merupakan kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan, dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya. Komponen lingkungan terdiri dari faktor abiotik (tanah, air, udara, cuaca, suhu) dan faktor biotik (tumbuhan dan hewan, termasuk manusia). Lingkungan hidup baik faktor biotik maupun abiotik berpengaruh dan dipengaruhi manusia. Kondisi alami, lingkungan dengan segala keragaman interaksi yang ada mampu untuk menyeimbangkan keadaannya. Tidak tertutup kemungkinan kondisi demikian dapat berubah oleh campur tangan manusia dan bencana alam.

1. Pencemaran Lingkungan

Pencemaran, menurut SK Menteri Kependudukan Lingkungan Hidup No 02/MENKLH/1988, adalah masuk atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi, dan komponen lain ke dalam air atau udara, atau berubahnya tatanan (komposisi) air atau udara oleh kegiatan manusia dan proses alam, sehingga kualitas air atau udara menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukkannya.

Pencemaran lingkungan dibagi menjadi empat yaitu : a. Pencemaran Air

Pencemaran air adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Walaupun fenomena alam seperti gunung berapi, badai, gempa bumi juga mengakibatkan perubahan yang besar terhadap kualitas air, hal ini tidak dianggap sebagai pencemaran. Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Meningkatnya kandungan nutrien dapat mengarah pada eutrofikasi. Sampah organik seperti air comberan (sewage) menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen pada air yang menerimanya yang mengarah pada berkurangnya oksigen yang dapat berdampak parah terhadap seluruh ekosistem. Industri membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya seperti logam berat, toksin organik, minyak, nutrien dan padatan. Air

(15)

limbah tersebut memiliki efek termal, terutama yang dikeluarkan oleh pembangkit listrik, yang dapat juga mengurangi oksigen dalam air.

b. Pencemaran Udara

Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansifisik, kimia, atau biologi di atmosfer dalam jumlah yang dapat membahayakan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan, mengganggu estetika dan kenyamanan, atau merusak properti. Pencemaran udara dapat ditimbulkan oleh sumber-sumber alami maupun kegiatan manusia. Beberapa definisi gangguan fisik seperti polusi suara, panas, radiasi atau polusi cahaya dianggap sebagai polusi udara. Sifat alami udara mengakibatkan dampak pencemaran udara dapat bersifat langsung dan lokal, regional, maupun global.

c. Pencemaran Tanah

Pencemaran tanah adalah keadaan di mana bahan kimia buatan manusia masuk dan merubah lingkungan tanah alami. Pencemaran ini biasanya terjadi karena: kebocoran limbah cair atau bahan kimia industri atau fasilitas komersial;

penggunaan pestisida; masuknya air permukaan tanah tercemar ke dalam lapisan sub-permukaan; kecelakaan kendaraaan pengangkut minyak, zat kimia, atau limbah; air limbah dari tempat penimbunan sampah serta limbah industri yang langsung dibuang ke tanah secara tidak memenuhi syarat (illegal dumping).

d. Pencemaran Suara

Polusi suara atau pencemaran suara adalah gangguan pada lingkungan yang diakibatkan oleh bunyi atau suara yang mengakibatkan ketidaktentraman makhluk hidup di sekitarnya.

Pencemaran suara diakibatkan suara-suara yang menghasilkan volume tinggi yang membuat daerah sekitarnya menjadi bising dan tidak menyenangkan.

Penilaian terhadap suara yang muncul sebagai polusi atau tidak merupakan sesuatu subjektif. Kerusakan yang diakibatkan pencemaran suara bersifat setempat, tidak seperti polusi udara maupun polusi air.

e. Limbah dan Daur Ulang Limbah

Limbah dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu limbah organik dan anorganik.

Limbah organik merupakan limbah yang dapat diuraikan secara sempurna oleh proses biologi baik aerob atau anaerob. Contohnya yaitu sampah sisa-sisa sayuran.

Limbah anorganik merupakan limbah yang tidak bisa diuraikan melalui proses biologi misalnya sampah plastik, botol, dan pecahan kaca (Campbell, 2012). Selain

(16)

itu, berdasarkan bentuknya limbah dibedakan menjadi 3 jenis yaitu limbah cair (sisa sabun/detergen), padat (botol bekas), dan gas (CO2 dalam asap kendaraan bermotor).

Seiring dengan perkembangan jaman dan kemajuan teknologi, limbah yang dihasilkan dari kegiatan manusia semakin menumpuk. Akan tetapi, banyak manusia yang tidak peduli akan lingkungannya. Pernahkah kalian melihat sampah-sampah yang menumpuk tidak terurus dan berbau menyengat? Apakah seperti ini yang pernah kalian lihat?

Gambar 2.1 Penumpukan Sampah di TPA (sumber: daerah.sindonews.com) Limbah pada gambar di atas merupakan hasil dari berbagai kegiatan yang dilakukan manusia yang dapat menimbulkan masalah bagi lingkungan, seperti kegiatan rumah tangga, pertanian, pertambangan dan industri. Limbah tersebut harus dikelola dengan baik supaya tidak mencemari lingkungan. Sebagian dari limbah dapat dimanfaatkan kembali baik secara langsung maupun melalui proses daur ulang. Limbah dapat dikelola melalui reuse (pemakaian kembali) maupun recycle (daur ulang). Selain itu, dalam mengurangi jumlah limbah yang ada di lingkungan maka kita dapat melakukan pemakaian barang secara efisien (reduce).

Oleh karena itu, proses pengelolaan lingkungan dalam rangka mengurangi pencemaran lingkungan dapat dilakukan dengan cara 3R (Reduce, Reuse, and Recycle).

Referensi

Dokumen terkait

Sebagai guru PKn yang syarat dengan dengan pendidikan nilai moral yang tinggi serta menerapkan peraturan yang berlaku, sudah tentu harus dapat memecahkan masalah

12.Setelah melakukan percobaan tentang cahaya, peserta didik mampu membuat laporan hasil percobaan yang memanfaatkan sifat-sifat cahaya dan keterkaitannya dengan

Terdapat tujuh faktor psikologis yang mempengaruhi belajar seorang siswa. Faktor-faktor tersebut adalah: intelgensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan dan kelelahan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik arang aktif sabut siwalan sebagai adsorben, pengaruh pH dan waktu interaksi terhadap kemampuan adsorpsi Pb(II), model adsorpsi

SERTIFIKASI GURU DALAM JABATAN KUOTA 2013 RAYON 205 LPTK IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA.. INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

Halaman 23 dari 64 Putusan Nomor 345/PDT/2016/PT.MDN lelang, dimana dana hasil lelang tersebut digunakan sebagai pengganti pelunasan kewajiban PENGGUGAT III kepada TERGUGAT

1) Hasil yang dilaporkan hanya terdiri dari dua angka yaitu angka pertama didepan koma dan angka kedua di belakang koma. Jika angka yang ketiga.. sama dengan atau lebih

Salah satu algoritma yang digunakan untuk mempercepat pencarian solusi masalah rute terpendek adalah dengan algoritma heuristik. Salah satu algoritma dalam heuristik yang cukup