• Tidak ada hasil yang ditemukan

CORPORATE FARMING AND AGROTOURISM SUBAK (PERTANIAN PERUSAHAAN DAN AGROWISATA SUBAK)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "CORPORATE FARMING AND AGROTOURISM SUBAK (PERTANIAN PERUSAHAAN DAN AGROWISATA SUBAK)"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

CORPORATE FARMING AND AGROTOURISM SUBAK (PERTANIAN PERUSAHAAN DAN AGROWISATA SUBAK)

Prof. Dr. Ir. Nyoman Sutjipta MS Fakultas Pertanian Universitas Udayana

KONSEP CORPORATE FARMING (PERTANIAN PERUSAHAAN)

Kelemahan pokok dari sistem pertanian sawah yang ada saat ini di Indonesia pada umumnya dan di Bali pada khususnya adalah:

1. Orientasinya yang kurang bersifat ekonomis. Petani hanya menanam jenis-jenis tanaman tradisional yang mutu dan harganya rendah.

2. Sumber daya manusia yang kurang mendukung baik pendidikan, pengetahuan dan ketrampilannya. Tenaga kerja sektor pertanian semakin banyak dilakukan oleh tenaga kerja wanita dan tenaga kerja yang sudah tua yang cendrung kurang produktif.

3. Pemilikan lahan yang sempit, sehingga hasilnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Semakin banyak lahan yang tidak diolah, atau yang dikerjakan seadanya sehingga produktivitasnya sangat rendah.

4. Pemasaran yang lemah, baik lembaga pemasaran maupun kemampuan petani menembus pasaran yang lebih menguntungkan.

5. Lemahnya posisi petani dalam menentukan keputusan yang menguntungkan sebagai produsen

6. Struktur kelembagaan yang tidak mendukung pembangunan pertanian secara menyeluruh, baik kelembagaan di tingkat petani maupun kelembagaan di luar petani.

7. Koordinasi antar sektoral yang tidak berjalan dalam meningkatkan kesejahteraan petani.

8. Melemahnya kerjasama petani dalam satu kelompok dan kerjasama petani antar kelompok akibat sistem pembinaan petani yang bersifat individual.

Sebagian besar petani di Indonesia tergolong petani kecil. Ciri-ciri petani kecil adalah:

1. Luas pemilikan dan pengusahaan lahan yang sempit sehingga kesulitan memenuhi tuntutan pasar yang komersial yaitu kuantitas, kualitas dan kontinyuitas produksi. Oleh karena itu hasilnya harus dilakukan pemasaran secara berkelompok.

2. Akibat pemilikan yang sempit, petani lambat menerima inovasi karena lebih mementingkan kepastian hasil atau prinsip mencari selamat (safety first). Oleh karena itu pengambilan keputusan sulit dilakukan secara individual, melainkan secara kelompok.

3. Hasil pertanian yang mudah busuk dan produksi musiman menyebabkan fluktuasi harga yang terlalu besar. Oleh karena itu petani harus memiliki pasaran yang pasti. Pasaran yang pasti menuntut adanya produk yang kontinyu atau rutin, dalam jumlah yang besar sesuai permintaan dan kualitas yang standar.

4. Kehidupan ekonomi petani yang pas-pasan menyebabkan petani melakukan penjualan untuk memperoleh uang tunai secepatnya sehingga posisi petani sangat lemah dalam menentukan harga.

5. Keterbatasan Pengetahuan dan ketrampilan petani menjangkau pasaran komersial.

6. Keterbatasan modal, peralatan dan sarana transportasi menyebabkan petani tidak mampu memperpendek jalur pemasaran sehingga kesenjangan antara penerimaan petani dengan harga yang dibayar konsumen sering terlalu lebar

Semua keterbatasan tersebut menyebabkan petani tidak memiliki bargaining position yang cukup untuk mengatur pasar atau menentukan harga. Akibatnya petani menerima bagian yang sangat sedikit dibandingkan keseluruhan nilai komoditi yang dihasilkan. Akibat bagian yang diterima petani sangat kecil menyebabkan rangsangan untuk

(2)

berproduksi menjadi sangat rendah, khususnya untuk produksi tanaman pangan. Bahkan banyak lahan pertanian subur yang dibiarkan tidak digarap (lahan tidur) atau digarap seadanya. Hal ini banyak terjadi di Bali, dimana lapangan kerja di luar sektor pertanian sangat banyak dan memberi imbalan yang jauh lebih besar dibanding sektor pertanian tanaman pangan. Untuk mengatasi keadaan tersebut adalah dengan menggerakkan secara serempak subsistem dari sistem agribisnis..

Agar kelompok tani bisa berkiprah sebagai petani yang beragribisnis, maka kelompok tani (Subak) harus diupayakan menjadi lembaga semacam "Perusahaan Tani".

Ciri-cirinya adalah sebagai berikut:

1. Sekelompok petani yang memiliki faktor pengikat yang kuat berkelompok menjadi satu unit usaha komersial. Di Bali Subak sangat ideal untuk dikembangkan menjadi satu unit perusahaan pertanian, karena memiliki faktor pengikat yang sangat kuat. Kerjasama dalam satu kelompok ini dikembangkan menjadi kerjasama antar kelompok tani (di Bali antar subak).

2. Sebagai perusahaan maka kelompok ini mengangkat seorang manager. Ketua kelompoknya (Ketua Subak) dapat langsung menjadi manager, atau khusus mengangkat manager disamping ketua kelompoknya. Manager memegang komando operasional usaha dan melaksanakan strategi yang menguntungkan perusahaan. Perusahaan juga dilengkapi dengan struktur kepengurusan lain sesuai dengan kebutuhan

3. Petani merupakan pemegang saham. Besarnya saham tergantung luas pemilikan sawah petani.

4. Sistem pertanian yang diterapkan (mulai prapanen, penentuan jenis komoditi sampai pascapanen dan pemasaran) ditentukan oleh perusahaan, bukan oleh individual kemauan petani. Perlakuan terhadap lahan sawah dan tanaman dilakukan secara berkelompok, bukan individual. Misalnya pemupukan, dilakukan secara berkelompok dan menjadi tanggung jawab kelompok sehingga dosis, waktu dan cara pemupukan berlangsung seragam

5. Usahatani dikelola secara komersial. Pemilihan komoditi yang ditanam dilakukan secara diversifikasi (dalam satu areal ditanami berbagai jenis komoditas), dipilih komoditas yang paling menguntungkan secara ekonomis. Pemilihan komoditas tidak dilakukan secara monokultur pada satu areal. Penanaman pada satu luasan sawah dilakukan secara tumpang sari (kombinasi beberapa jenis tanaman pada lahan yang sama dan pada waktu yang bersamaan). Jenis komoditi ekonomis yang yang ditanam ditentukan oleh perusahaan (kelompok tani).

6. Pemasaran dilakukan secara berkelompok oleh perusahaan, bukan dilakukan secara individual oleh masing-masing petani. Dengan demikian harga ditetapkan oleh perusahaan dan berlaku seragam dalam satu areal.

7. Hasil merupakan milik perusahaan, petani menerima hasil sesuai dengan jumlah saham (luas tanah) yang dimilikinya.

8. Petani dapat bekerja secara aktif di perusahaan dan menerima upah dari perusahaan, namun petani dapat juga menjadi anggota yang tidak aktif, sehingga memungkinkan memiliki pekerjaan lain di luar sektor pertanian.

LEMBAGA DI TINGKAT KELOMPOK TANI

Dengan adanya sistem Perusahaan Tani, berbagai kelemahan mendasar yang ada pada kelembagaan petani dalam beragribisnis dapat diatasi.

1. Sistem Pengolahan Tanah

Dalam Pola Pertanian Agribisnis pengolahan tanah termasuk sub sistem produksi.

Bentuk pengolahan tanah sistem Agribisnis yang disarankan adalah cara pengolahan tanah berkelompok. Tanggung jawab pengolahan tanah dilakukan oleh kelompok tani (di Bali

(3)

misalnya oleh Subak). Petani pemilik tanah hanya membayar ongkos yang dikeluarkan oleh kelompok untuk mengolah tanahnya. Traktor dicari oleh ketua kelompok tani. Ketua kelompok tani ini bisa ketua kelompok taninya (di Bali Ketua Subak) dan bisa juga dibentuk kelompok khusus (sat-gas) yang tugas dan tanggung jawabnya khusus mengolah tanah.

Ketua kelompok bertugas mencari dan menghubungi para pemilik traktor. Dalam konsep sistem Perusahaan Tani semua masalah ini ototmatis terpecahkan.

Kelebihan cara pengolahan tanah secara berkelompok ialah:

1. Tidak terjadi rebutan antar petani untuk didahulukan mentraktor sawahnya. Dengan demikian tidak terjadi penetapan harga yang bervariasi yang dapat merugikan petani.

2. Mempercepat proses pengolahan tanah dengan menetapkan perjanjian jadwal dengan pemilik traktor, sehingga mempercepat pula waktu tanam.

3. Penanaman dapat dilakukan secara serempak dan seragam sehingga umur padi seragam.

Dengan demikian dapat dilakukan pencegahan hama dan penyakit, karena salah satu unsur pengendalian hama terpadu adalah dengan melakukan penanaman serempak sehingga siklus hidup hama terpotong.

4. Pengaturan air dapat diatur dengan tertib karena kelompok menetapkan urutan areal yang dikerjakan sesuai dengan jadwal pembagian air per petak sawah.

5. Penanaman dapat dilakukan tepat pada waktunya, bahkan dapat mendahului sehingga petani dapat melakukan penanaman tumpangsari dengan jenis tanaman yang berumur pendek seperti jenis sayuram seperti sayur gonda.

7. Pengolahan tanah secara berkelompok juga memungkinkan untuk diatur penggunaan bajak sapi dan kerbau. dengan tujuan untuk meningkatkan kedalaman olah tanah, meningkatkan kesuburan tanah melalui kotorannya dan untuk meningkatkan populasi Sapi Bali.

2. Sistem Pesemaian Bersama

Kekurangan cara pesemaian individual yang biasa dilakukan petani adalah:

1. Tidak efisien dalam penggunaan benih, karena banyak bibit yang tersisa karena petani selalu menyemaikan lebih dari perkiraan kebutuhannya.

2. Benih yang ditanam sendiri atau dibeli secara sendiri-sendiri, sehingga daya tumbuh dan kemurnian varitasnya tidak dijamin.

Bentuk ideal dari pesemaian adalah pola pesemaian berkelompok. Dalam pola pesemaian berkelompok, petani dilarang melakukan pesemaian bibit sendiri-sendiri. Dengan demikian petani tidak bingung mencari bibit. Untuk mewujudkan ini diperlukan kelompok tani yang dinamis.

Keuntungan pesemaian dilakukan secara berkelompok adalah:

1. Mutu benih lebih terjamin, baik dari segi daya tumbuh maupun dari segi ketahanannya terhadap serangan hama dan penyakit.

2. Pengendalian hama dan penyakit tanaman padi dapat dipermudah karena benih dapat dikontrol.

3. Umur bibit dan jenis bibit seragam sehingga dapat memperpendek masa penanaman dan memperpendek masa panen sehingga lebih

4. cepat dilakukan penanaman berikutnya. Dengan demikian intensitas tanam dapat ditingkatkan sehingga produktivitas lahan per tahun dapat ditingkatkan pula.

5. Petani diringankan bebannya untuk melakukan pembibitan dan menerima bibit yang telah jadi dengan harga yang relatif lebih murah jika dilakukan sendiri. Dengan demikian berbagai resiko kegagalan melakukan pesemaian sendiri dapat dicegah.

6. Kelompok memungkinkan menggali dana untuk kas kelompok dari hasil menjual benih, walaupun dengan harga benih yang lebih murah dibandingkan benih yang diusahakan sendiri oleh patani

(4)

7. Karena mutu benih yang dijamin keseragamannya dan kesehatannya akan memenuhi syarat untuk dijadikan penangkar benih, sehingga kelompok tani dapat memproduksi benih setelah memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB). Dengan demikian harga yang diterima petani akan lebih tinggi.

8. Dari bibit yang sehat dapat dihasilkan produksi yang lebih tinggi dan lebih bermutu. Secara nasional jika mutu produksi ini dapat ditingkatkan, maka Indonesia dapat mengatasi kesen- jangan mutu produksi padi kita dibandingkan dengan mutu beras yang beredar di pasaran internasional. Dengan demikian akan memudahkan menjual ke pasar internasional jika kita kelebihan produksi.

9. Pesemaian bersama lebih efisien dalam menggunakan benih. Kebiasaan petani dalam menyemaikan sendiri-sendiri selalu dilebihkan dari perkiraan kebutuhannya dan bibitnya selalu ada sisa yang terbuang. Dengan pesemaian bersama, jumlah bibit yang disemaikan dapat diperkirakan jumlahnya lebih pasti sehingga tidak banyak yang terbuang.

3. Sistem Pemupukan Serempak Berkelompok

Walaupun petani sudah memahami pentingnya pupuk untuk meningkatkan produksi, namun ketepatan waktu pemupukan dan dosis pemupukan pada umumnya masih menjadi masalah bagi petani.

Berbagai keunggulan pemupukan yang dilakukan secara berkelompok:

1. Petani yang sibuk bekerja di luar sektor pertanian, tanamannya tetap dipupuk dengan baik oleh kelompok sehingga potensi produksinya tetap dapat dicapai maksimal.

2. Waktu dan dosis pemupukan dapat dilakukan seragam dan optimal sesuai kebutuhan lahan, sehingga efisiensi dan efektivitas penggunaan pupuk dapat ditingkatkan.

3. Harga hasil produksi dapat diseragamkan dan harga lebih tinggi karena dengan diperlakukannya pemupukan lengkap maka hasilnya akan memenuhi syarat untuk bersaing di pasaran lokal maupun internasional, malahan dapat dijadikan bibit.

Pola pemupukan ini juga dapat diilakukan untuk melakukan pemberantasan hama tanaman. Pemberantasan hama dan penyakit tanaman dengan bahan kimia merupakan bagian yang paling berpotensi untuk merusak lingkungan dan keseimbangan biologis di sawah. Pemberantasan hama diharapkan menggunakan konsep pengendalian secara terpadu atau menggunakan konsep PHT. Untuk dapat mengontrol pengendalian hama ini maka pemberantasan hama harus terkontrol dengan baik. Untuk bisa terkontrol dengan baik maka teknis pelaksanaannya harus melalui perusahaan tani.

Oleh karena itu harus diciptakan konsep pemberantasan hama secara berkelompok yang sangat berbeda dengan konsep pengendalian hama yang selama ini dilakukan yaitu secara perseorangan. Pengendalian hama telah dilakukan mulai dari pesemaian yaitu penggunaan bibit yang bebas dari kandungan hama dan penyakit. Oleh karena itu pesemaian dilakukan secara berkelompok dengan menggunakan benih yang berlabel dan seragam.

Benih diperoleh dari sumber resmi yang dapat dipercaya. Pesemaian harus dilakukan dengan cara yang sehat sehingga diperoleh bibit yang sehat. Penggunaan insktisida atau pestisida hanya sangat terpaksa dan harus dilakukan secara bersama-sama sehingga ada semacam kontrol sosial antar petani.

Kelebihan cara pemberantasan hama secara berkelompok adalah:

1. Pencemaran dapat dikendalikan

2. Jenis obat yang digunakan lebih tepat dan dosisnya seragam.

3. Pemberantasan hama dilakukan secara tuntas karena dilakukan serempak pada saat yang bersamaan

4. PHT dapat diterapkan, termasuk cara keagamaan yaitu Upacara Nangluk Merana 4. Sistem Tumpang sari dan Diversifikasi Tanaman

(5)

Usaha untuk meningkatkan produktivitas lahan sawah sehingga mencapai maksimal, dilakukan dengan pola Tumpang Sari dan Diversifikasi Tanaman. Yang dimaksud dengan tumpang sari adalah penggunaan satu petak lahan sawah untuk berbagai jenis tanaman. Sedangkan yang dimaksud dengan diversifikasi tanaman adalah pemanfaatan satu areal sawah tidak hanya untuk menanam satu jenis tanaman (monokultur) tetapi digunakan untuk menanam berbagai jenis tanaman. Ini sangat mungkin dilakukan dengan menjadikan subak sebagai kesatuan perusahaan tani. Pola tumpang sari sangat bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas lahan sehingga meningkatkan pendapatan petani.

Tujuan pelaksanaan pola diversifikasi atau menganekaragamkan jenis tanaman yang ditanam petani dalam satu areal sawah yang luas adalah:

1. Untuk mengurangi resiko kegagalan serangan hama dan penyakit pada satu jenis tanaman. Kegagalan satu jenis komoditi dapat dikompensasi pada jenis yang lain.

2. Untuk mengurangi kerugian karena harga yang jatuh bagi satu jenis komoditi pada saat panen raya atau untuk mengurangi tekanan supply yang berlebihan. Jika sudah diketahui siklus perkembangan harga tahunan dari suatu komoditas, maka petani seharusnya menghindari menanamn jenis komoditas yang diperkirakan harganya akan jatuh pada saat panen. Dengan demikian maka pendapatan petani dapat ditingkatkan.

3. Efisiensi pemanfaatan lahan semaksimal mungkin. Pada saat ini intensitas tanam pada lahan sawah belum mencapai 200% dari intensitas tertinggi 300% yang bisa dicapai.

Untuk perencanaan diversifikasi tanaman secara menyeluruh harus diatur oleh perusahaan tani agar kualitas, kuantitas dan kontinyuitas hasil dapat disesuaikan dengan permintaan pasar. Jenis komoditas yang ditumpangsarikan harus dipilih tanaman unggul yang mempunyai nilai ekonomis atau tanaman hortikultura yang banyak diminta oleh sektor pariwisata.

5. Sistem Panen dan Pemasaran Berkelompok

Sub sistem pemasaran hasil pertanian tanaman pangan merupakan bagian yang sangat penting dalam sistem agribisnis. Oleh karena itu jika ingin menggerakkan petani untuk beragribisnis maka perencanaan program pemasaran hasil-hasil petani harus merupakan bagian yang utuh dari keseluruhan program-program pembangunan pertanian.

Pembangunan pertanian dilakukan dengan tiga pendekatan yaitu: (1) pendekatan agribisnis, (2) keterpaduan pembangunan pertanian dengan pembangunan ekonomi pedesaan, dan (3) pengembangan sumber daya pertanian setempat. Ketiga pendekatan ini ditempuh dengan maksud untuk meningkatkan nilai tambah usahatani melalui perbaikan penanganan kegiatan pasca panen, pengolahan dan pemasaran hasil.

Untuk mengembangkan sistem corporate farming, maka sub sistem pemasaran merupakan salah satu faktor penting yang harus dilaksanakan. Sub sistem pemasaran ternyata merupakan titik lemah dari keseluruhan sistem. Oleh karena itu pemecahannya adalah dengan melakukan pemasaran secara terpadu. Petani tidak berdaya melakukan pemasaran sendiri sehingga memerlukan pengaturan profesional melalui perusahaan tani.

Pola pemasaran terpadu berkelompok melalui perusahaan tani memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Pemasaran telah direncanakan semenjak awal musim tanam dengan melibatkan semua instansi terkait. Semua instansi melakukan tugas dengan tujuan yang sama yaitu untuk meningkatkan pendapatan petani, namun tugas yang dilaksanakan dapat berbeda aspek dan setiap aspek harus saling terkoordinasi, terpadu dan saling tergantung.

2. Perencanaan diawali dengan penetapan jenis komoditi yang akan di tanam dalam satu areal. Komoditi yang ditanam sedapat mungkin dipilih yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi, umur pendek dan produksi tinggi.

(6)

3. Pemanfaatan lahan sedapat mungkin dengan intensitas yang tinggi, dengan melakukan penanaman diversifikasi (berbagai jenis komoditi dalam satu areal) dan tumpang sari (penanaman berbagai jenis tanaman pada satu luasan tanah yang sama). Termasuk mina padi, hortikultura dan usaha peternakan.

4. Semua institusi atau lembaga yang memang telah ada di desa harus dimanfaatkan secara maksimal, seperti LKMD, LSD dan urusan perekonomian desa. Desa harus memiliki forum komunikasi antar lembaga yang mampu memecahkan masalah-masalah pemasaran hasil-hasil produksi petani. Oleh karena itu pemasaran harus menjadi gerakan atau tanggung jawab semua instansi, semua lembaga dan semua individu yang ada di desa.

5. KUD atau koperasi petani harus berfungsi sebagai lembaga yang membantu petani memasarkan hasil pertaniannya. KUD tidak boleh hanya menekankan dirinya sebagai lembaga ekonomi yang mengejar keuntungan, melainkan sebagai lembaga yang bersifat sosio-ekonomic. Oleh karena itu KUD wajib membantu memasarkan hasil produksi semua anggotanya menggunakan semua fasilitas yang dimiliki KUD. Jika KUD tidak mampu memberi pelayanan kepada semua petani maka di tingkat kelompok tani (subak) harus dibina Unit Pelayanan Koperasi (sebagai embrio dari koperasi sistem subak) yang mampu melakukan pemasaran hasil produksi petani.

6. Para penyuluh disamping tugasnya sebagai inovator teknis pertanian, juga membantu menghubungkan sistem petani dengan lembaga pemasaran yang ada.

7. BPP dapat berfungsi sebagai titik sentral kegiatan usahatani. Oleh karena itu BPP sangat perlu dihidupkan lagi sebagai basis kegiatan semua sektor pertanian, termasuk pemasaran. Sewaktu BPP masih berfungsi dulu, sangat jarang berfungsi memecahkan masalah pemasaran yang dihadapi petani.

Panen dan pemasaran hasil merupakan titik lemah yang sangat penting dari usaha petani untuk meningkatkan pendapatan. Upaya peningkatan produksi tidak ada gunanya jika panen dilakukan secara tidak baik dan pemasarannya tidak menguntungkan. Secara rinci pola yang dapat dikembangkan sehingga menguntungkan petani.Target yang ingin dicapai dalam pola yang baru ini adalah:

1. Panen dilakukan oleh perusahaan tani (bukan panen individual) dan tidak dilakukan penjualan individual kepada.

2. Menjadikan kelompok (Subak) sebagai lembaga bisnis (perusahaan) dengan posisi yang kuat dalam mengatur produksi dan menentukan harga.

3. Petani tidak diatur oleh harga yang ditentukan oleh pedagang pengumpul, namun harga yang ditentukan oleh perusahaan tani.

4. Petani sedekat mungkin dengan pasar atau memperpendek rantai pemasaran sehingga petani menikmati harga yang paling mendekati dengan harga konsumen.

(7)

KONSULTAN

(SEMUA INSTANSI TERKAIT)

PERTANIAN,PARIWISATA,PETERNAKAN,PERIKANAN,KOPERASI,PERINDUSTRIAN,PU,BRI, PERKEBUNAN,PERDAGANGAN,PEMDA,BANGDES,BAPPEDA,AGAMA,KEBUDAYAAN

PENASEHAT MANAGER TIM AHLI

(PIMPINAN DESA) (KETUA SUBAK/PROFESIONAL) (PPL,PPS,AHLI)

WAKIL SEKRETARIS BENDAHARA

(PETANI) (PETANI) (PETANI)

SAT-GAS PARIWISATA

BIDANG-BIDANG

KEAMANAN KERJASAMA ATRAKSI OBYEK WISATA KESENIAN SOUVENIR

SAT-GAS KELOMPOK TANI

BIDANG-BIDANG

(PUPUK) (SAPRODI) (TANAH) (PESEMAIAN) (PANEN) (PASAR) AIR

PEMEGANG SAHAM

PETANI-PETANI PEMILIK TANAH

CATATAN: KELOMPOK TANI ADALAH KELOMPOK TANI YANG MEMANG SUDAH ADA DI PETANI

= GARIS KOMANDO = GARIS KOORDINASI

= GARIS KOMANDO DAN KOORDINASI

Gambar 1. Sistem “Perusahaan Tani dan Pariwisata subak“

(8)

FORUM KOORDINASI

PEMDA, KOPERASI, BIP, BRI, PERTANIAN,

PARIWISATA, TRAVEL AGENT

LEMBAGA RISET LEMBAGA

(PEMERINTAH/SWASTA)

PENELITIAN UNIVERSITAS

UPB

(SWASTA)

BPSB

(

UNIT PENANGKARBENIH)

B ALAI PENGAWASAN

(PENANGKAR,PENGOLAH,

DAN SERTIFIKASI

DAN PENJUAL) BENIH

BPP/PUSKESTA

(KEBUN PERCOBAAN,

PENANGKAR,PENGOLAH,

PENJUAL)

KELOMPOK TANI KUD

(PENANGKAR) (PENANGKAR, PENGOLAH, PENYALUR)

KELOMPOK-KELOMPOK TANI

(PENGGUNA)

CATATAN: = GARIS PENGAWASAN = GARIS KOORDINASI = GARIS KERJASAMA

Gambar 2. Sistem Sarana Produksi dalam Perusahaan Tani

(9)

KETUA

WAKIL KETUA SERETARIS BENDAHARA BIDANG-BIDANG KEGIATAN

PENELITIAN PENDIDIKAN PENYULUHAN

PENYEDIAAN DAN PENGEMBANGAN SARANA PRODUKSI:

PEMBENIHAN DAN PEMBIBITAN PENELITIAN BENIH SERTIFIKASI BENIH PUPUK

PENINGKATAN PRODUKSI (

SECARAKIMIA,BIOLOGIS,SOSIAL,EKONOMIS

)

OLAH TANAH MEKANISASI PESEMAIAN PEMUPUKAN PEMBERANTASAN HAMA

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS & KESEJAHTERAAN PETANI

MINA PADI PETERNAKAN DIVERSIFIKASI HORTIKULTURA TUMPANG-SARI PARIWISATA

PENYULUHAN:

KURSUS DISKUSI DEMPLOT TEST PLOT DEM-AREA

PENGEMBANGAN DAN PEMBINAAN AGROINDUSTRI:

HOME INDUSTRI AGRO INDUSTRI INDUSTRI PEDESAAN

PEMBINAAN KELOMPOK TANI

BINA KELOMPOK KELOMPOK DINAMIS

PENGEMBANGAN PEMASARAN

TABUNGAN KREDIT PERKOPERASIAN

PENGEMBANGAN AGROWISATA

PAKET WISATA KESENIAN PENATAAN FOOD SOUVENIR Gambar 3. Pola Pusat Kesejahteraan Petani (Puskesta)

yang Dikembangkan Sebagai Pengganti BPP

(10)

FORUM KOORDINASI (PERTANIAN PARIWISATA)

(PPL,KUD,MANTRI TANI,MANTRI PASAR,PEDAGANG,KOPERASI, KELOMPOK TANI,KEPALA DESA,LKMD,LSD, DSB.)

PENENTUAN:

PARIWISATA: PAKET WISATA, KEAMANAN, FOOD, KESENIAN, SOUVENIR, PELAYANAN PERTANIAN: JENIS PESANAN, KUALITAS PESANAN, KUANTITAS PESANAN, LUAS AREAL, JENIS TANAMAN, WAKTU TANAM,CARA PENANAMAN, PERATURAN, SANGSI)

MANAJER

(KOMANDO/KOORDINATOR)

SATGAS

(PENGATUR DI LAPANGAN)

PETANI (PELAKSANA)

TRACK JOGING

KANTOR WISATA

PENJUALAN SOUVENIR SEMANGKA TANAMAN BUNGA PADI JAGUNG MANIS

KOLAM IKAN STAGE ATRAKSI KESENIAN

KACANG MERAH

KEDELE KACANG PANJANG PADI

IKAN AYAM KOLAM IKAN

SAYUR

BUNGA BABI PADI

KETELA BIOGAS

KACANG PANJANG BAWANG

IKAN PEMANCINGAN IKAN

MELON PADI JAGUNG SAYUR

IKAN PADI IKAN

TEMU USAHA PENENTUAN HARGA PENJUALAN Gambar 4. Pola Tanam Diversifikasi dan Sarana Pariwisata

TRACK JOGING RESTAURANT

RESTAURANT

PURA (SARANA YOGA/MEDITASI

REST AREA TOILET

REST AREA WELCOME GATE

TOILET PARKING

AREA

(11)

PERTANIAN, SUBAK DAN PARIWISATA

Subak merupakan organisasi sosial, religious dan ekonomis petani yang tidak hanya bergerak dibidang pengaturan air dan pengaturan pola tanam, memiliki otonomi penuh.

Subak tidak terkait dengan organisasi lain, termasuk dengan pemerintah. Pada masa lalu otonomi ini sangat mutlak. Organisasi subak mengajarkan pendidikan politik dan kehidupan demokratis yang sangat efektif kepada masyarakat di pedesaan. Semua keputusan dilakukan secara musyawarah dengan kesaksian Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Oleh karena itu Sangkepan Subak selalu dilakukan di wantilan atau di Jabaan Pura Subak. Sangkepan selalu didahului dengan doa bersama menggunakan canang dan dupa. Oleh karena itu Sangkepan Subak selalu bernuansa magis. Hal ini penting untuk menghasilkan keputusan yang terbaik dan menghindari konflik intern. Keputusan Sangkepan Subak sangat mutlak mengikat seluruh petani.

Subak memiliki filosofi Tri Hita Karana dan Tri Mandala yang memberi tatanan kehidupan sosial dan lingkungan yang terbagi sedemikian rupa sehingga menimbulkan kehidupan yang harmonis yaitu selaras, serasi dan seimbang. Dalam konsep Tri Hita Karana atau Tri Mandala, maka Subak dibagi dalam kawasan Parahyangan, Palemahan dan Pawongan. (1) Parahyangan merupakan kawasan suci yaitu Pura Subak sebagai tempat para petani untuk mendekatkan dirinya kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Semua kegiatan selalu minta petunjuk dan atas ijin Hyang Widhi. (2) Palemahan adalah kawasan persawahan yang menjadi tempat kegiatan produksi petani. Kawasan ini sangat ketat dijaga kesuciannya, sehingga setiap petak pemilikan tetap memiliki bedugul. Bagi petani di Bali, sawah merupakan karunia Tuhan yang diwariskan dari leluhurnya sehingga sawah memiliki nilai religious dan tempat bermukim dan bermain Betari Sri. Pada masa lalu jual beli sawah waris pantang dilakukan. (3) Kawasan ketiga adalah kawasan Pawongan yaitu tempat petani melakukan proses sosialisasi. Masing-masing kawasan ini memiliki tata cara pengaturan hak dan kewajiban anggotanya sehingga memberi masyarakat petani dimensi kehidupan yang lengkap.

Pada masa lalu Subak memiliki otonomi yang sangat kuat, termasuk dalam menentukan jual beli tanah sawah yang terjadi di wilayahnya. Jual beli tanah terjadi melalui keputusan Sangkepan Subak. Jual beli hanya terjadi antar anggota subak. Sangat sulit sawah petani dapat dipindahtangankan kepada orang luar. Namun semenjak sertifikat tanah BPPN dijadikan sebagai status hukum kepemilikan tanah yang paling kuat maka otonomi subak dalam jual beli tanah ini menjadi dikebiri. Akhirnya tanah berpindah tangan kepada para investor yang jauh sekali sehingga produktivitas sawah menjadi merosot, munculnya lahan tidur dan lahan ngantuk. Tanah akhirnya menjadi komoditi dagang para spekulan pemilik uang untuk memperoleh keuntungan. Penggunaan tanah sawah yang subur dan produktif untuk tempat pemukiman atau untuk sarana rekreasi dan pariwisata tidak terhindarkan.

Penyusutan lahan sawah berlanjut terus di Bali tanpa pernah ada upaya yang serius untuk menghentikannya.

Sawah dan petani adalah aset pariwisata. Sawah memberi kehidupan setengah penduduk Bali yang masih mengandalkan hidupnya dari pertanian. Dari kehidupan pertanian lahir nilai-nilai budaya agraris yang sangat luhur yang dijadikan sebagai aset kepariwisataan (Pariwisata Budaya). Padahal pariwisata merupakan potensi yang paling kuat untuk merusak nilai-nilai budaya agraris yang diilhami oleh kehidupan petani.

Pariwisata menggerogoti luas lahan pertanian dan kompetitor yang paling rakus merebut sumber daya alam yang dimiliki petani yaitu air. Namun demikian pariwisata belum pernah secara serius memberi kepedulian terhadap kehidupan petani dan terhadap kelompok- kelompok tani. Pariwisata tidak mungkin berkembang di Bali jika Subak dan petani tidak ada. Jauh sekali kesenjangan yang terjadi (antara langit dan bumi) antar dunianya petani yang kumuh dengan dunianya kepariwisataan yang glamour. Banyak kasus-kasus dimana

(12)

pariwisata melecehkan kehidupan petani, misalnya pertunjukan seni tari di hotel-hotel dengan upah seadanya. Dibutuhkan kemauan politik dunia pariwisata untuk ikut memelihara budaya agraris, membantu meningkatkan mutu dan produktivitas petani.

Pariwisata memiliki hutang yang besar terhadap petani, karena pariwisata budaya menggunakan petani dan budaya agrarisnya untuk daya tarik pariwisata. Tanpa petani mustahil pariwisata bisa berkembang di Bali. Namun demikian hutang ini dengan angkuh dicibirkan oleh pelaku pariwisata. Pariwisata sangat berkeberatan membuka akses bagi petani untuk melangkah kedalam dapurnya pariwisata. Dapurnya lebih banyak dijejali dengan berbagai komoditi ekspor. Dalihnya adalah kualitas dan kontinyuitas yang tidak memenuhi standar, padahal didalamnya ada unsur kolusi, korupsi dan komisi. Bantuan diperlukan dari pemerintah yang membuat aturan dan kebijakan untuk memberi perlindungan kepada petani dan membangkitkan itikad baik dunia pariwisata agar mau menggandeng petani.

Agrowisata Sebagai Potensi Agribisnis di Bali

Agrowisata tidak sama dengan wisata agro. Wisata agro merupakan kegiatan wisata yang bertujuan untuk memberi kepuasan kepada wisatawan dengan cara memberi suguhan keunikan dan keindahan sektor pertanian. Penekanannya adalah pada kepuasan wisatawan tanpa memperhatikan kepuasan petani.

Agrowisata adalah suatu sistem kegiatan terpadu dan terkoordinasi untuk mengembangkan sektor pariwisata sekaligus dengan sektor pertanian untuk memelihara kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan petani. Dalam sistem ini pariwisata dan pertanian harus diletakkan dalam satu lingkaran sistem yang utuh. Dunia pariwisata sering mengabaikan ini malahan cendrung mengobyekkan pertanian untuk kesenangan pariwisata. Pelaku pariwisata sering tidak merasakan hutang budi petani sebagai basis budaya yang justru menyuburkan pariwisata. Pariwisata mustahil bisa berkembang jika tanpa petani, karena petanilah yang menjadi pelaku dan mengembangkan kebudayaan.

Tanpa ikut campur pemerintah, maka mustahil sektor pariwisata memitrakan pertanian dengan sejajar dan mustahil pula pertanian memasuki sendiri menjadi mitra pariwisata. Oleh karena itu tiga komponen yaitu pemerintah (regulasi), pertanian (produsen) dan dunia usaha (ekonomi) harus memiliki hubungan kemitraan yang bolak balik. Dengan demikian dalam agrowisata sekaligus dibahas masalah agribisnis, agropolitik, agroindustri, agroekosistem dan pertanian berkelanjutan. Pariwisata harus memiliki dimensi yang kuat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat banyak. Dengan demikian pengembangan agrowisata harus diarahkan pada bentuk bisnis pertanian rakyat, bukan pertanian konglomerasi. Hal ini disebabkan karena dampak negatif dari pariwisata biasanya paling banyak menyentuh rakyat kecil yaitu petani.

Dalam corporate farming subak atau perusahaan tani Subak, manajer sekaligus mengembangkan pertanian dan pariwisata dalam subak. Pertanian harus diatur untuk meningkatkan produktivitas petani dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani.

Disamping itu manajer juga membuat subak menjadi daya tarik yang kuat bagi wisatawan untuk mengunjungi subak. Manajer harus menjalin kerjasama serius dengan biro perjalanan wisata dan hotel-hotel. Berbagai fasilitas harus dibangun untuk melayani wisatawan seperti front office untuk melayani wisatawan, panggung pertunjukan kesenian, parkir, keamanan, rest area, track jogging, restaurant, pusat oleh-oleh karya petani dan berbagai fasilitas lainnya. Semuanya dikelola oleh perusahaan tani. Keuntungan perusahaan dibagi kepada petani sesuai dengan saham tanah yang dimiliki petani. Dengan demikian pendapatan petani tidak hanya berasal dari hasil pertanian saja tapi juga dari hasil pariwisata.

(13)

Kendala Melaksanakan Agrowisata

Secara langsung atau tidak langsung pariwisata dapat memberi keuntungan bagi sektor pertanian. Namun demikian bukan berarti tanpa kendala dan masalah. Perkembangan sektor pariwisata seperti juga industri akan mempersempit lahan pertanian, khususnya lahan sawah. Ini terjadi karena alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian. Alih fungsi ini diperkuat lagi karena persaingan pemanfaatan air yang sering dimenangkan oleh sektor pariwisata yang bermodal kuat dibanding sektor pertanian yang tanpa kekuatan.

Pembangunan pariwisata yang tidak bertanggung jawab akan memberikan dampak negatif terhadap lingkungan alam fisik dan sikap hidup petani. Agrowisata memerlukan koordinasi kerja antar sektor. Kenyataanya koordinasi kerja dan hubungan fungsional antara sektor pertanian, pariwisata dan lingkungan dalam mewujudkan kesejahteraan petani belum berlangsung optimal.

Potensi produksi pertanian di daerah pariwisata di Indonesia cukup tinggi, namun belum dikembangkan secara maksimal kearah yang dapat mendukung sektor pariwisata.

Akibatnya timbul salah tanggap yang mengatakan mutu produksi pertanian yang diperlukan sektor pariwisata belum memadai baik kuantitas, kualitas maupun kontinyuitasnya. Padahal sektor pariwisata belum pernah bernegoisasi memecahkan masalah ini dengan petani.

Penanganan pasca panen produk pertanian dan sistem pemasarannya masih menghadapi hambatan yang menyebabkan petani tidak menikmati penghargaan yang layak sebagai produsen hasil-hasil pertanian. Ketimpangan penerimaan pendapatan sektor pariwisata dibanding sektor pertanian terlalu lebar. Selama ini hubungan antara pertanian dengan pariwisata telah berlangsung, namun petani berada dalam posisi yang lemah.

Masalah yang sering dihadapi petani kecil dalam memasarkan hasil pertaniannya untuk pariwisata adalah: (1) Tidak ada lembaga yang melindungi petani, (2) Persaingan tidak sehat antar petani, (3) Komisi yang harus dibayar terlalu tinggi dan pembayaran sering mengalami penundaan lama padahal petani kecil memerlukan uang cash yang cepat, (4) Penawaran yang terlalu murah yang memojokkan posisi petani. Swalayan sering berulah dalam meneripa produk petani dengan memanfaatkan posisi petani yang lemah.

Salah satu bentuk campur tangan pemerintah dibidang agrowisata adalah buah import. Di masa lalu buah import pernah dibatasi untuk melindungi petani, namun akibatnya kualitas buah lokal petani Indonesia tidak mengalami peningkatan karena tanpa saingan.

Namun demikian bisakah petani yang disalahkan?. Apakah sistem pengaturan yang dilakukan pemerintah yang salah dimana pertanian kita terlalu menekankan pada pangan dan mengabaikan teknologi hortikultura?. Kesalahan yang ditimpakan kepada petani yang tidak mampu menghasilkan buah bermutu ini akhirnya membuahkan peraturan bebas import buah-buahan dengan harapan petani akan mampu bersaing menyesuaikan mutu buah import. Buah import akhirnya mampu merebut kantong konsumen di Indonesia dengan mengesampingkan buah lokal. Dalam kondisi SDM petani yang rendah di Indonesia, maka petani tidak mungkin bersaing mandiri tanpa bimbingan. Kelemahan pokok adalah menyediakan sarana produksi termasuk penyediaan bibit dan benih. Justru salah satu titik lemah dalam sistem agribisnis di Indonesia adalah pembibitan dan pembenihan yang tidak mampu dilakukan oleh petani sendiri dan tidak menjangkau petani rakyat. Pemerintah sama sekali tidak memfasilitasi dengan dana yang memadai untuk penellitian. Komitmen tentang penelitian dikesampingkan, komitmen untuk memperoleh keuntungan malalui pajak yang ditonjolkan.

Konsep Pariwisata Budaya

Masyarakat Bali memilih Budaya sebagai ciri khas kepariwisataannya. Namun banyak pelaku pariwisata yang tidak memahami apa maksud dari Pariwisata Budaya. Pelaku pariwisata banyak yang bukan orang Bali yang tidak memahami Budaya Bali. Mereka

(14)

melihat dan memperlakukan Bali hanya sebagai komoditi bisnis untuk memperoleh keuntungan dari bisnis pariwisata. Tidak ada ikatan sistem atau aturan yang berusaha menghubungkan atau membuat mereka peduli dengan sistem sosial budaya yang ada di Bali. Pemahamannya tentang Budaya Bali terbatas hanya sebagai hasil karya seni dan perilaku tradisional yang berwujud nyata dan dapat dilihat dengan mata. Misalnya lukisan, patung, seni tari, barong, ngaben, pura, persembahyangan dan sebagainya. Budaya yang bersifat abstrak atau tidak dapat dilihat seperti adat istiadat, norma-norma, awig-awig, filosofi, Agama Hindu dan sebagainya, nyaris tidak banyak dipahami dan tidak terimplementasikan dalam kehidupan pembangunan, khususnya pembangunan pariwisata.

Namun banyak pelaku pariwisata dan para pengusaha yang ada di Bali merasa jadi pahlawan dengan hanya alasan menampung tenaga kerja dan mendatangkan devisa. Dalam kenyataannya banyak juga yang menjadi parasit di Bali dan memeras rakyat kecil, misalnya petani.

Kekuatan modernisasi berupa westernisasi yang saat ini mengglobal, dan arusnya lebih deras lagi dengan adanya pariwisata, jelas memiliki potensi melunturkan nilai-nilai tradisional Bali. Hampir tidak ada upaya untuk mencari solusi bagaimana nilai-nilai tradisional ini bisa bertahan atau berinteraksi dengan nilai-nilai modernisasi westernisasi?.

Bagaimana mengawinkan nilai-nilai tradisional dengan nilai-nilai moderenisasi yang bersifat universal?. Jepang dapat dijadikan contoh, menguasai teknologi tinggi namun tetap memegang teguh nilai-nilai tradisional leluhurnya?. Dualisme perilaku manusia Bali saat ini ada dalam persimpangan jalan, budaya global dan budaya lokal belum bisa ketemu, belum tercipta budaya transisi yang menjembatani dua budaya ini sehingga manusia Bali berubah menjadi manusia berkepribadian ganda, anti korupsi namun melakukan korupsi, mendambakan kerukunan sesuai filosofi Tri Hita Karana namun sangat mudah bertikai, bermusuhan, saling mendongkel dan malahan membunuh, anti perjudian namun setiap saat berjudi dan banyak perilaku lain yang berkepribadian ganda. Dalam kenyataanya persentuhan dengan arus budaya luar tidak dapat dihindari. Apalagi jika tekad kepariwisataan telah dicanangkan sebagai motor penggerak pembangunan. Jika kepariwisataan ini tidak dikendalikan dengan baik, maka proses kehancuran nilai-nilai tradisional ini akan semakin cepat terjadi. Slogan Pariwisata untuk Bali, bukan Bali untuk pariwisata hanya merupakan wacana pemanis seminar dan lokakarya, namun kenyataannya bertolak belakang. Bali dieksploitasi untuk menyenangkan wisatawan.

Filosofi "Tri Hita Karana" dan "Budaya Agraris" merupakan filosofi yang paling hakiki dari kehidupan komunal masyarakat Bali yang sangat perlu dihayati dalam kaitannya dengan pariwisata. Masyarakat Bali merupakan masyarakat komunal yang semua aspek kehidupannya sangat nyata diwarnai oleh filosofi Tri Hita Karana (tiga fator penyebab kehidupan menjadi bahagia) yaitu hidup serasi dengan Tuhan, serasi dengan lingkungan dan serasi dengan kehidupan sosial. Filosofi ini tetap hidup selama berabad-abad, menyebabkan masyarakat Bali menikmati kehidupan yang sangat harmonis baik kehidupan bermasyarakat maupun kehidupan lingkungan alamnya. Hubungan orang Bali dengan Tuhannya tidak dapat disangsikan lagi tercermin dari ribuan pura yang tersebar di Bali dan kebanyakan pura tersebut merupakan warisan nenek moyang yang umurnya berabad-abad. Ini disebabkan karena filosofi ini menjadi tingkah laku dan sikap hidup orang Bali, walaupun banyak mereka tidak tahu secara teoritis arti dari Tri Hita Karana.

Masyarakat Bali sudah terbiasa lebih mementingkan pelaksanaan (action) dari suatu filosofi dibandingkan pemahaman teoritisnya. Hal ini disebabkan karena dasar pendidikan yang dimiliki masyarakat, khususnya masyarakat desa relatif sangat rendah, sehingga pemahaman teoritis lebih sulit dilakukan. Pemahaman teoritis lebih banyak terjadi pada kalangan elit saja. Oleh karena itu banyak implementasi dari teori-teori filosofis itu muncul dalam bentuk-bentuk simbolis (simbul-simbul), misalnya simbul-simbul yang terlihat dalam

(15)

berbagai perlengkapan upacara keagamaan. Simbul-simbul ini dianggap lebih mudah dipahami oleh masyarakat tanpa harus terlalu banyak berteori. Rasa hormat terhadap lingkungan terimplementasi dalam masyarakat berupa berbagai bentuk upacara seperti

"Tumpek Pengatag" dan "Tumpek Kandang" (rasa terimakasih kepada Tuhan atas karunia berupa tumbuh-tumbuhan dan hewan). Kelestarian pohon-pohon yang besar dapat terjaga karena adanya simbul sederhana untuk melestarikannya yaitu keangkeran dari pohon-pohon besar yang berusia ratusan tahun. Oleh karena itu Masyarakat Bali sangat tidak mungkin melakukan perabasan hutan. Perabasan hutan dilakukan oleh para pendatang yang tergiur dengan kemajuan ekonomi pariwisata di Bali.

Rendahnya pemahaman teoritis nilai-nilai budaya, adat dan keagamaan mengandung resiko lebih mudah tergerus oleh budaya yang sifatnya rasional universal seperti nilai-nilai modernisasi westernisasi, baik yang terbawa melalui pariwisata maupun melalui media elektronika global. Akibatnya adalah banyak perilaku kehidupan masyarakat Bali yang bersifat ambivalen atau mendua. Nilai lama masih tetap ingin dipegang, namun akibat pengaruh komunikasi dunia luar, maka ada keinginan untuk mengadopsi nilai-nilai yang baru yang dirasakan lebih rasional dan ekonomis, sementara cara mengawinkan nilai- nilai tradisional dengan nilai-nilai baru itu tidak mereka ketahui. Disatu pihak perilaku tradisional itu tetap dihormati dan menjadi perilaku sehari-hari, namun dipihak lain perilaku yang bertentangan dengan filosofi itu sering juga muncul dalam perilaku kehidupannya. Misalnya keserasian dalam kehidupan sosial, walaupun tetap merupakan sikap hidup kesehariannya, namun kadang-kadang tindak kekerasan, destruktif dan bahkan pelanggaran HAM muncul baik dalam kehidupan individual maupun berkelompok. Sikap keramahan orang Bali yang sering dibanggakan sudah mengalami perubahan. Kepentingan ekonomis sudah menggerus sifat keramahan tersebut. Contoh nyata adalah para supir mikrolet yang telah kehilangan rasa hormatnya terhadap penumpang, termasuk penumpang wisatawan. Wisatawan dianggap sebagai komoditi atau barang yang dapat diperas untuk menggaet uangnya sebanyak mungkin, yang sering dengan cara-cara yang tidak simpatik sehingga menimbulkan pertengkaran.

Pengaruh negatif ini muncul karena persentuhan dengan budaya kekerasan yang menjadi atraksi global dari kemajuan media komunikasi dan elektronika saat ini. Filosofi gotong royong misalnya tetap dihormati dan diakui sebagai filosofi dasar kehidupan bermasyarakat, namun tergerus oleh budaya global yang lebih mementingkan nilai ekonomis atau nilai uang. Nilai-nilai sosialnya masih melekat dalam hati sanubarinya namun actionnya muncul berupa action dengan ukuran atau nilai ekonomis. Pariwisata menjadikan masyarakat Bali mendua antara nilai-nilai yang dihormatinya namun perilaku atau tindakannya bertentangan dengan nilai-nilai tersebut. Perjudian sangat disadari sebagai hal yang terlarang, namun dalam berbagai kesempatan upacara keagamaan yang suci dilakukan juga Tabuh Rah (korban darah), namun diselewengkan menjadi bentuk perjudian.

Tabuh Rah ini selanjutnya dijadikan dasar untuk generalisasi sabungan ayam itu sebagai budaya yang harus dilestarikan bahkan harus diatur berupa Perda (Peraturan Daerah).

Pelacuran merupakan larangan, namun dalam kenyataannya pelacuran itu hidup berdampingan atau berbaur dengan kehidupan keluarga.

Bergesernya nilai-nilai tradisional menjadi nilai-nilai bisnis ekonomis ini telah mempengaruhi para elit politik dan elit masyarakat. Usul melakukan lokalisasi perjudian untuk tujuan mendatangkan wisatawan lebih banyak sudah berani diwacanakan walaupun dari segi keagamaan hal ini sangat tabu untuk dibicarakan. Malahan elit politik yang duduk di DPRD pernah memperbincangkan agar sabungan ayam atau tajen diatur berupa Perda.

Pikiran yang pragmatis demi uang. Pragmatisme mengalahkan nilai-nilai filosofis. Budaya uang memang menuntut orang berpikir pragmatis, berdampingan dengan liberalisasi dan kehidupan individual yang tidak mementingkan harmoni sosial. Sedangkan Budaya

(16)

keagamaan menuntut orang berpikir filosofis yang berdampingan dengan keakraban sosial dan harmonisasi dengan lingkungan. Dua kutub ini masih sangat menonjol antara kehidupan kota dan desa, antara orang bisnis dengan orang desa yang sederhana.

Filosofi Budaya Agraris

Berbagai bentuk upacara keagamaan yang dilakukan secara individul dan secara berkelompok oleh petani merupakan bentuk kedekatan petani dengan Tuhan dan pengakuan petani bahwa tanaman merupakan karunia Tuhan sehingga tanaman harus dipeliharan dengan baik. Dari kedekatan petani terhadap Tuhan dan juga dari berbagai norma kepercayaan yang ada, dapat digali berbagai budaya agraris. Beberapa nilai budaya agraris tersebut ialah:

1. Pekerjaan bertani dengan budaya agrarisnya merupakan pekerjaan yang paling mulia karena memiliki nilai filosofi kehidupan yang paling komplit. Petani bekerja dengan prinsip bersimbiose dengan mikroorganisme yaitu mahluk-mahluk kecil yang tidak berdaya di sawah. Justru dengan memelihara keseimbangan hayati yang ada di sawah maka produksi akan makin tinggi. Salah satu nilai global yang dapat diambil dari budaya agraris ini adalah, semua pekerjaan harus dilakukan atas prinsip keseimbangan dan simbiosis berbagai faktor secara seimbang sehingga diperoleh produktivitas optimal.

2. Seperti yang dilakukan petani, bekerja harus dilakukan dengan kesadaran sebagai panggilan Tuhan, sehingga pertanggungan jawab kerja dilakukan kepada Tuhan. Oleh karena itu hasil yang diperoleh merupakan kehendak Tuhan dan menjadi milik Tuhan.

Karena menjadi milik Tuhan maka manusia hanya boleh memanfaatkannya sebatas yang dia perlukan dan penggunaannya harus atas petunjuk Tuhan untuk tujuan-tujuan mulia termasuk untuk memelihara ciptaan Tuhan, misalnya untuk memelihara ciptaanNya seperti kelestarian lingkungan. Nilai globalnya adalah: semua bidang pekerjaan harus dilakukan dengan etika kejujuran sesuai dengan ajaran Tuhan yang selalu Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

3. Petani mengabdikan dirinya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat banyak, oleh karena itu bekerja merupakan pengabdian sosial. Bekerja harus didasari dengan semangat pengabdian untuk kepentingan masyarakat banyak.

4. Seperti yang dilakukan petani, pekerjaan tidak boleh merusak ciptaan Tuhan, misalnya tidak boleh melakukan pencemaran, tetap memelihara kelestarian lingkungan dan kebersihan. Oleh karena itu pekerjaan harus dilakukan dengan konsep sustainable (berkelanjutan), ecologis dan bertanggung jawab. Berkelanjutan artinya tidak boleh rakus, mengambil dari alam yang ada saat ini agar anak cucu kita dimasa yang akan datang dapat mengambil yang sama jumlahnya dengan yang diambil saat ini.

5. Konsep perdagangan berdasarkan budaya agraris adalah konsep kesetaraan dan keadilan antar anggota masyarakat, bukan konsep oligopolis yaitu yang besar memeras atau mengeksploitasi yang kecil dan miskin. Konsep perdagangan dalam kehidupan petani adalah transaksi pertukaran kebutuhan, bukan pertukaran uang dengan barang. Nilai uang sering tidak setara dengan nilai barang dilihat dari curahan waktu dan tenaga yang dikeluarkan, sehingga menyebabkan ketidakadilan antar produsen dengan konsumen.

6. Seperti petani memelihara kesucian sawah, maka tempat kerja, baik ruang kerja atau kantor harus dipelihara kesuciannya, tidak digunakan untuk kepentingan yang amoral.

7. Kehidupan pertanian mengajarkan kehidupan demokratis dengan hak dan kewajiban yang sama antar anggota. Hak dan kewajiban dimanfaatkan dengan kesadaran tanggung jawab yang lebih ditekankan pada tanggung jawab vertikal terhadap Hyang Widhi, bukan hanya tanggung jawab horisontal antar sesama warga.

8. Bekerja harus dilakukan dengan memanfaatkan secara bijaksana unsur-unsur alam yaitu tanah, air, udara, matahari dan mikroorganisme. Hal ini merupakan budaya agraris yang

(17)

menekankan keseimbangan alam. Semua pekerjaan harus dilakukan atas prinsip keseimbangan.

Hilangnya Berbagai Bentuk Upacara Keagamaan Petani

Petani di Bali memiliki keserasian hubungan yang sangat kuat dengan Tuhan, dengan lingkungannya, dan dengan masyarakat sosialnya. Filosofi ini sangat kuat mewarnai perilaku keseharian dari petani (Tri Hita Karana). Berbagai bentuk perilaku ini telihat dari pelaksanaan upacara keagamaan yang bersifat individual maupun upacara kolektif berkelompok yang masih tetap hidup dalam kehidupan petani di Bali.

Berbagai upacara keagamaan yang dilakukan petani di Bali disamping memiliki nilai ritual tinggi, namun juga sangat efektif untuk penanaman sikap positif terhadap pemeliharaan dan kelestarian lingkungan. Berbagai bentuk upacara keagamaan yang dilakukan secara individual oleh para petani di Bali yang dapat dilihat pada beberapa Subak sebagai berikut:

1. Upacara Ngurit (saat akan tebar benih di pesemaian dengan tujuan permohonan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar benih selamat.

2. Upacara pada saat tanam yaitu pada petak pertama sawah memperoleh air untuktujuan pertumbuhan bibit yang baik.

3. Upacara Bulanan (Nyasihin) setiap 35 hari sekali di sawah masing-masing agar pertumbuhan padi baik.

4. Ngulapin yaitu upacara umur padi 42 hari di sawah masing-masing petani agar tanaman tumbuh dengan baik.

5. Nunas Tirta dari Bedugul dan Tri Kahyangan yang dilakukan pada waktu umur padi 30, 45, 70 dan 90 hari yang dilakukan di sawah masing-masing petani dengan harapan terhindar dari serangan hama.

6. Ngiseh dan Biukukung yaitu umur padi 90 hari dengan harapan hasil akan baik.

7. Nyangket dan Ngadegan Nini yaitu umur padi 105-110 untuk memohon anugerah kehidupan yang baik.

8. Mantenin yang dilakukan sehabis panen di rumah masing-masing sebagai syukuran terhadap hasil panen yang baik.

Selanjutnya berbagai bentuk upacara keagamaan yang dilakukan secara bersama- sama oleh petani atau oleh Subak secara berkelompok ialah:

1. Mapag Toya yang dilakukan di Temuku Aya atau sumber utama air yang dilakukan sebelum mengolah tanah, dengan tujuan agar air mengalir ke petak sawah dengan baik dan bermanfaat bagi tanaman.

2. Pengiwit Ngurit yang dilakukan di Bedugul Subak, pada saat menyebar benih, permohonan agar benih yang disebar tumbuh dengan baik dan sehat.

3. Pengiwit Tanam di Bedugul Subak pada saat mulai tanam agar tanaman padi diberi kekuatan tumbuh dengan baik.

4. Pengulapan di Pura Batur pada hari baik umur padi sekitar 21 hari, permohonan agar tanaman tumbuh dengan baik.

5. Selanjutnya berbagai bentuk upacara bersama yang dilakukan pada hari baik saat padi berumur 37 hari, 48 hari, 82 hari, 92 hari, dengan permohonan agar tanaman tumbuh kuat dan tahan dengan serangan hama dan penyakit.

6. Pengusaban merupakan upacara bersama yang dilakukan pada saat hari baik umur padi sekitar 102 hari dengan permohonan agar Betara Sri berkenan tinggal dalam bulir gabah yang akan dipanen dan dibawa pulang.

Disamping berbagai bentuk upacara keagaman yang dilakukan petani berkaitan dengan tanamannya, maka sawah bagi petani merupakan tempat yang suci dan magis yang tetap harus dipelihara kesuciannya. Hal ini ditunjukkan oleh berbagai bentuk norma,

(18)

kepercayaan dan pantangan yang masih tetap hidup dan dilaksanakan oleh petani sampai saat ini. Berbagai bentuk norma dan kepercayaan tersebut ialah:

1. Dilarang mondok di sawah atau larangan mendirikan bangunan permanen. Yang diijinkan hanya pondok kecil untuk beristirahat, dilarang sebagai tempat tidur.

Larangan ini sangat bermanfaat untuk tetap menjaga kelestarian luas sawah di Bali, karena adanya larangan mendirikan rumah di sawah.

2. Pantangan menggunakan sapi dan kerbau di sawah pada setiap hari Kamis, Purnama dan Tilem. Manfaatnya untuk memberi kesempatan binatang peliharaan untuk beristirahat sehingga dapat melakukan proses reproduksi bagi sapi atau kerbau peliharaan.

3. Larangan bersenggama di sawah, berkata-kata kotor dan bertengkar di sawah, untuk tetap menjaga kesucian sawah.

4. Jika terjadi orang meninggal di sawah, maka keluarganya dibebani biaya upacara pembersihan (Pecaruan Manca Sabha). Hal ini untuk menjaga kesucian sawah.

5. Larangan menaruh mayat di sawah. Hal ini juga untuk menjaga kesucian sawah.

6. Pantangan membunuh ular di sawah, untuk tetap menjaga keseimbangan biologis di sawah. Ular merupakan musuh alami dari tikus.

7. Larangan mengembalakan hewan piaraan di sawah, kecuali itik yang dilakukan setelah panen atas seijin kelompok, dan larangan nyundih malam hari di sawah.

8. Pantangan memberantas tikus dan hama lainnya sebelum minta ijin kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui upacara Neduh atau Nangluk Merana.

Melakukan Upacara Prateka (Pengabenan Tikus) setelah melakukan penggropyokan tikus di sawah. Keadaan ini mencerminkan rasa hormat manusia terhadap ciptaan Tuhan. Hal ini sesuai dengan konsep Pengendalian Hama Terpadu sehingga menjaga keseimbangan biologis di sawah.

9. Larangan menurunkan padi dari lumbung setiap hari Kamis dan Jumat. Hal ini bermanfaat untuk menjaga simpanan pangan.

10. Kepercayaan bahwa Sunari (bambu yang dilubangi sehingga bersuara merdu jika tertiup angin) yang ditancapkan di tengah sawah merupakan kesenangan Betari Sri. Hal ini menyebabkan petani betah tinggal berlama-lama di sawahnya dengan perasaan bahagia.

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Chaidir, I. 1994. Pembinaan Teknologi dalam Pengembangan Sektor Pertanian dan Agroindustri. Forum Orientasi Penerapan dan Pengembangan Teknologi Pada Pembangungan Daerah. Kerjasama Departemen Dalam Negeri dan BPPT. Jakarta.

Hadisasmito, R. 1994. Peranan Teknologi Pada Sektor Pertanian dan Industri. Forum Orientasi Penerapan dan Pengembangan Teknologi Pada Pembangunan Daerah. Kerjasama Departemen Dalam Negeri dan BPPT. Jakarta.

Kanwil Departemen Perindustrian dan Perdagangan Propinsi Jawa Timur. 1996. Industrialisasi Menuju Kecukupan Pangan. Kongres Nasional V. Perhimpunan Peminat Gizi dan Pangan Indonesia. Surabaya.

Kanwil Departemen Pertanian Propinsi Bali. 1997. Kebijaksanaan Pengembangan Agribisnis dan Agroindustri Dalam Menghadapi Tantangan Global Pertanian Abad 21. Seminar Dalam Rangka Yudisium XV Fakultas Pertanian dan Diesnatalis XIII Universitas Warmadewa. Denpasar.

Kasryno, Faisal. 1993. Kebijaksanaan dan Strategi Penelitian untuk Mendukung Pembangunan Pertanian.

Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III di Jakarta/Bogor 23-25 Agustus 1993.

Kuntjoro, 1996. Kesiapan/Peranan Pendidikan Tinggi Pertanian Masa Depan. Makalah Lokakarya Forum Komunikasi Pendidikan Tinggi Pertanian Indonesia, 28-29 Nopember 1996 di Padang.

Mosher, A.T. 1984. Disadur oleh Ir. S. Krisnandhi, Menggerakkan dan Membangun Pertnian. Jakarta:

Penerbit CV Yasaguna.

Rogers, Everett M., and E Floyd Shoemaker. 1971 Communication of Innovation: Across Cultural Approach.

New York: The Free Press A Division of The United States of America.

Simatupang, Pantjar dan Effendi Pasandaran. 1993. Perspektif Pengentasan Kemiskinan dengan Pendekatan Agribisnis. Prosiding Simposium Penelitian Tanaman Pangan III di Jakarta/Bogor 23-25 Agustus 1993.

Soetrisno, Noer. 1993. Pengalanan Pengembangan Agribisnis di Beberapa Negara Asia dan Relevansinya bagi Indonesia. Majalah Pangan No. 17 Vol. V - Juli 1993.

Sulistyo. 1994. Beras, Bulog dan Pemeratan. Jakarta, Kompas, 8 Agustus 1994.

Sutjipta, Nyoman. 1994. Pola Pemasaran Terpadu Hasil Pertanian Tanaman Pangan di Desa. Makalah Seminar Pemasaran Terpadu Hasil-hasil pertanian tanaman pangan dalam rangka RUT II , tanggal 22

Nopember 1994 di Tabanan .

Sutjipta, Nyoman. Swasembada Beras, Permasalahan dan Upaya Mempertahankannya. Denpasar, Harian Bali Post, 18 April 1991.

Sutjipta, Nyoman. 1995. Faktor-faktor Kelembagaan yang Mempengaruhi Keberhasilan Pelaksanaan Agribisnis. Makalah Seminar Internasional The Role of Agribusiness in Supporting Export of Agricultural Products and Tourism Tanggal. Oleh AusAid 29 Maret 1995 di Denpasar.

Sutjipta, Nyoman. 1995. Masalah Agribisnis dan Swasembada Pangan di Indonesia dan Konsep Mendasar Pemecahannya. Penerbit: Universitas Udayana Denpasar.

Sutjipta, Nyoman. 1995. Pelestarian Sumber Daya Hayati Indonesia, Strategi, Tantangan dan Peluang.

Makalah bahasan disampaikan dalam Seminar Nasiona Budaya dan Budidaya Pertanian tanggal 21-22 Nopember 1995 di Bukittinggi.

Gambar

Gambar 1. Sistem  “Perusahaan Tani dan Pariwisata subak“
Gambar 2. Sistem Sarana Produksi dalam Perusahaan Tani

Referensi

Dokumen terkait

Secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah

Tujuan dari penelitian ini adalah, pertama, untuk mengetahui bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) yang dilakukan perusahaan, dan kedua adalah untuk secara empiris

Namun dengan berbagai keterbatasan daya dukung lahan dan pemahaman teknologi PTT di tingkat petani, maka perlu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengevaluasi

Perkembangan teknologi informasi terutama internet tersebut telah mempengaruhi bentuk penyajian informasi perusahaan yang sebelumnya secara tradisional menuju Internet

Kesimpulan yang didapat dari hasil pengujian yang telah dilakukan baik secara deskriptif maupun statistic dengan pengujian regresi berganda pada penelitian ini