i
SKRIPSI
HUBUNGAN ANTARA KEKUATAN OTOT DENGAN DAYA TAHAN OTOT TUNGKAI BAWAH PADA ATLET KONTINGEN PEKAN OLAHRAGA
NASIONAL XVIII KOMITE OLAHRAGA NASIONAL INDONESIA SULAWESI SELATAN
TAHUN 2013
YUDI HARDIANTO C13109271
PROGRAM STUDI S1 FISIOTERAPI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR 2013
ii
HALAMAN PENGESAHAN Skripsi dengan judul :
HUBUNGAN ANTARA KEKUATAN OTOT DENGAN DAYA TAHAN OTOT TUNGKAI BAWAH PADA ATLET KONTINGEN PEKAN OLAHRAGA
NASIONAL XVIII KOMITE OLAHRAGA NASIONAL INDONESIA SULAWESI SELATAN
TAHUN 2013 Oleh :
YUDI HARDIANTO C13109271
Telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji dan Tim Pembimbing Ujian Skripsi pada : Hari / Tanggal : Senin, 25 Februaru 2013
Tim Penguji :
1. Drs. H. Djohan Aras, S.Ft, Physio, M.Pd, M.Kes (………..)
2. dr. Dario Nelwan, Sp.Rad (………..)
3.
Tim Pe mbimbing :
1. St. Nurul Fajriah, S.Ft, Physio, M.Kes (………..)
2. dr. Ilhamuddin, M.Si (………..)
Mengetahui,
A.n Dekan Fakultas Kedokteran Ketua Program Studi S1 Fisioterapi Universitas Hasanuddin Fakultas Kedokteran
Wakil Dekan 1 Universitas Hasanuddin
Prof.dr. Budu, Ph.D.,Sp.M-KVR Drs.H.DjohanAras,S.Ft,Physio,M.Pd,M.Kes
NIP. 19661231 199503 1 009 NIP. 19550705 197603 1 005
iii
ABSTRAK
YUDI HARDIANTO, NIM: C13109271, dengan Judul: “Hubungan Kekuatan Otot dengan Daya Tahan Otot Tungkai Bawah pada Atlet Kontingen PON XVIII KONI Sulsel Tahun 2013” Dibimbing oleh St. Nurul Fajriah, S.Ft., Physio, M.Kes., dan dr. Ilhamuddin, M.Si.
(xi+60 Halaman + 14 Tabel + 3 Lampiran)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kekuatan otot dengan daya tahan otot tungkai bawah pada atlet kontingen PON XVIII KONI Sulsel.
Desain penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain cross- sectional. Populasi dan sampel adalah atlet kontingen PON XVIII KONI Sulsel.
Jumlah sampel sebanyak 76 responden dari tabel sajian hasil pengukuran fisik yang dilakukan KONI Sulsel yang diambil dengan teknik purposive sampling sesuai kriteria yang ingin diteliti. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa cabang olahraga yang paling banyak memiliki kekuatan otot tinggi adalah cabang olahraga sepak takraw yaitu sebanyak 5 orang (10,5 %), sedangkan yang kebanyakan kekuatan ototnya rendah adalah cabang olahraga futsal, yaitu sebanyak 17 orang (22,4%). Cabang olahraga yang dominan memiliki daya tahan otot tinggi adalah cabang olahraga bela diri, yaitu sebanyak 18 orang (23,7%), sedangkan yang dominan memiliki daya tahan otot rendah adalah cabang olahraga futsal, yaitu sebanyak 19 orang (25%). Berdasarkan hasi uji Chi- Square, terdapat hubungan antara kekuatan otot dengan daya tahan otot tungkai bawah atlet kontingen PON XVIII KONI Sulsel dengan p = 0,004 (<0,05).
Untuk meningkatkan daya tahan otot, sebaiknya latihan yang dilakukan diiringi dengan latihan peningkatan kekuatan otot dan dilakukan dengan metode siklus sehingga peningkatan keduanya bisa sejalan. Hal ini untuk menjaga daya tahan otot tetap bisa maksimal seiring dengan peningkatan kekuatan otot, terutama pada cabang-cabang olahraga yang membutuhkan keduanya untuk bisa menghasilkan performa yang baik.
Keywords: kekuatan otot, daya tahan otot, tungkai bawah, atlet, kontingen PON XVIII, KONI Sulsel
Daftar Pustaka : 37 (1985-2012)
iv
ABSTRAK
YUDI HARDIANTO, C13109271,“Correlation between Muscle Power and Muscle Endurance of Lowe r Extre mities of Athletes PON XVIII KONI Sulsel Year 2013” supervised by St. Nurul Fajriah and Ilhamuddin.
(xi+60 pages + 14 Table + 3 Lampiran)
This study intended to understan the correlation between muslce power and musle endurance of lower extremities in athlete PON XVIII KONI Sulsel.
The research design used in this study is descriptive analytic with cross- sectional data. Population and sample are PON XVIII KONI Sulsel Athlete. Samples are 76 persons, taken from physical assessment results provided by KONI Sulsel.
Samples taken by purposive sampling method. Data analisys used Chi Square Test.
penelitian deskriptif dengan desain cross-sectional. Populasi dan sampel adalah atlet kontingen PON XVIII KONI Sulsel. Jumlah sampel sebanyak 76 responden dari tabel sajian hasil pengukuran fisik yang dilakukan KONI Sulsel yang diambil dengan teknik purposive sampling sesuai kriteria yang ingin diteliti. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square.
The results showed that athletes with highest value of muscle power are sepak takraw athletes. Athletes with lowest value of muscle power are futsal athletes.
Athletes with muslce highest value of muscle endurance Hasil penelitian menunjukkan bahwa cabang olahraga yang paling banyak memiliki kekuatan otot tinggi adalah cabang olahraga sepak takraw yaitu sebanyak 5 orang (10,5 %), sedangkan yang kebanyakan kekuatan ototnya rendah adalah cabang olahraga futsal, yaitu sebanyak 17 orang (22,4%). Cabang olahraga yang dominan memiliki daya tahan otot tinggi adalah cabang olahraga bela diri, yaitu sebanyak 18 orang (23,7%), sedangkan yang dominan memiliki daya tahan otot rendah adalah cabang olahraga futsal, yaitu sebanyak 19 orang (25%). Berdasarkan hasi uji Chi-Square, terdapat hubungan antara kekuatan otot dengan daya tahan otot tungkai bawah atlet kontingen PON XVIII KONI Sulsel dengan p = 0,004 (<0,05).
Untuk meningkatkan daya tahan otot, sebaiknya latihan yang dilakukan diiringi dengan latihan peningkatan kekuatan otot dan dilakukan dengan metode siklus sehingga peningkatan keduanya bisa sejalan. Hal ini untuk menjaga daya tahan otot tetap bisa maksimal seiring dengan peningkatan kekuatan otot, terutama pada cabang-cabang olahraga yang membutuhkan keduanya untuk bisa menghasilkan performa yang baik.
Keywords: muscle strength, muscle endurance, lower extremities, athletes, kontingen PON XVIII, KONI Sulsel
Daftar Pustaka : 37 (1985-2012)
v
KataPengantar
Puji syukur saya haturkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga saya mampu menyelesaikan skripsi ini dengan judul
“Hubungan antara Kekuatan Otot dengan Daya Tahan Otot Tungkai Bawahpada Atlet Kontingen Pekan Olahraga Nasional XVIIIKomite O lahraga Nasional Indonesia Sulawesi SelatanTahun 2013”.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, sahabat dan keluarganya, yang telah membawa risalah berupa Al-Qur’an sebagai kitab suci yang kaya akan khazanah ilmu pengetahuan.
Skripsi ini disusun sebagai syarat untuk menyelesaikan studi di Program Studi S1 Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin serta sebagai kontribusi penyusun untuk mendukung salah satu tri dharma perguruan tinggi yaitu penelitian.
Rasa terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya saya persembahkan kepada:
1. Allah SWT atas segala rahmat dan karuni-Nya yang tak terhingga
2. Kedua Orang tua yang menjadi sumber kasih sayang, doa, motivasi, dukungan moril dan materil serta inspirasi bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini 3. Bapak Prof. Dr. dr. Idrus A. Paturusi, Sp.B., Sp.BO., selaku rektor Universitas
Hasanuddin
4. Bapak Prof. Irawan Yusuf, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin
vi
5. Bapak Drs. Djohan Aras, S.Ft., Physio, M.Kes., selaku Ketua Program Studi Fisioterapi, Fakultas Kedokteran, Universitas Hasanuddin sekaligus sebagai dosen penguji yang telah mengarahkan penulis dalam proses penyelesaian skripsi ini.
6. Ketua KONI Sulsel yang telah memberi izin kepada penulis untuk menjad ikan instansinya sebagai tempat penelitian penulis dalam rangka penyelesaian skripsi ini.
7. Ibu St Nurul Fajriah, S.Ft., Physio, M.Kes., selaku dosen pembimbing yang telah membimbing penulis dengan tulus ikhlas dalam proses pembuatan dan penyelesaian skripsi ini.
8. Bapak dr. Ilhamuddin, M. Si., selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberi masukan kepada penulis dalam pembuatan skripsi ini mulai dari segi penulisan sampai isi dari skripsi ini agar sesuai dengan kaidah-kaidah ilmiah.
9. Bapak dr. Dario Nelwan, Sp.Rad., selaku dosen penguji yang telah mengarahkan penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
10. Segenap dosen Program Studi Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin yang telah membekali penulis dengan berbagai ilmu dan pengetahuan sebagai dasar dalam penyelesaian skripsi ini.
11. Segenap staf Administrasi Program Studi Fisioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin yang telah memudahkan dan memfasilitasi penulis dalam Seminar Proposal dan Seminar Hasil skripsi ini.
12. Teman-teman Stere09nosis atas dukungan dan motivasi yang diberikan kepada penulis dalam suka maupun duka selama proses penyelesaian skripsi ini.
vii
13. Segenap pihak yang ikut memberikan kontribusi dalam proses penyelesaian skripsi ini yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.
Akhirnya permohonan maaf yang sebesar-besarnya saya haturkan pada pembaca karena saya sadari skripsi ini merupakan bahan pelajaran bagi saya sehingga masih jauh dari kesempurnaan. Kritik dan saran sangat saya harapkan dari pembaca sekalian, pembimbing dan terutama para penguji demi kesempurnaan skripsi ini nantinya.
Makassar, Februari2013
Penyusun
viii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PEN GESAHAN ... ii
ABSTRAK ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Anatomi dan Fisiologi Otot ... 7
1. Sifat Jaringan Otot ... 7
2. Serabut Otot ... 9
3. Tipe Serabut Otot... 11
4. Motor Unit ... 13
5. Mekanisme Kontraksi Otot ... 14
6. Sumber Energi Kontraksi Otot ... 15
ix
B. Kekuatan Otot ... 18
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kekuatan Otot... 22
D. Prosedur Tes Kekuatan Otot ... 23
E. Daya Tahan Otot ... 24
BAB III KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS A. Kerangka Konsep... 29
B. Hipotesis ... 29
BAB IV METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian ... 30
B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 30
C. Populasi dan Sampel ... 30
D. Alur Penelitian ... 31
E. Variabel Penelitian ... 31
F. Teknik Pengumpulan Data... 33
G. Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 33
H. Masalah Etika... 34
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 35
Karakteristik Subjek Penelitian ... 35
Distribusi Kekuatan Otot Tungkai Bawah pada Atlet Kontingen PON XVIII KONI Sulsel ... 36
x
Distribusi Daya Tahan Otot Tungkai Bawah pada Atlet
Kontingen PON XVIII KONI Sulsel ... 37
Hubungan Kekuatan Otot dengan Daya Tahan Otot Tungkai Bawah pada Atlet Kontingen PON XVIII KONI Sulsel... 39
B. Pembahasan... 41
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 48
B. Saran... 48
DAFTAR PUSTAKA ... 50
LAMPIRAN ... 53
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Karakteristik Serabut Otot ... 13
Tabel 2.2Klasifikasi Kekuatan Otot Tungkai ... 24
Tabel 2.3 Kriteria Penilaian Half Squat Jump... 28
Tabel 4.1 Kriteria Objektif Kekuatan Otot... 32
Tabel 4.2 Kriteria Objektif Daya Tahan Otot ... 33
Tabel 5.1 Distribusi Sampel Berdasarkan Jenis Kelamin ... 35
Tabel 5.2 Distribusi Sampel Penelitian Berdasarkan Cabang Olahraga ... 36
Tabel 5.3 Distribusi Kekuatan Otot Berdasarkan Cabang Olahraga ... 36
Tabel 5.4 Distribusi Kekuatan Otot Berdasarkan Jenis Kelamin ... 37
Tabel 5.5 Distribusi Daya Tahan Otot Berdasarkan Cabang Olahraga ... 37
Tabel 5.6 Distribusi Daya Tahan Otot Berdasarkan Jenis Kelamin ... 38
Tabel 5.7 Distribusi Silang antara Kekuatan Otot dengan Daya Tahan Otot Tungkai Bawah Atlet Kontingen PON XVIII KONI Sulsel ... 39
Tabel 5.8 Krostabulasi Kekuatan dengan Daya Tahan Otot Tungkai Bawah Atlet Kontingen PON XVIII KONI Sulsel ... 40
Tabel 5.9 Hubungan Kekuatan Otot dengan Daya Tahan Otot Tungkai Bawah Atlet Kontingen PON XVIII KONI Sulsel ... 41
xii
DAFTAR GAMBAR
Bagan 3.1 Kerangka Konsep ... 29 Bagan 4.1 Alur Penelitian ... 31 Diagram 5.1 Krostabulasi Kekuatan dan Daya Tahan Otot Tungkai Bawah
Atlet Kontingen PON XVIII KONI Sulsel ... 39
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
Hasil Olah Data SPSS ... 53 Master Tabel ... 57 Daftar Riwayat Hidup ... 60
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Olahraga merupakan aktivitas penting dalam kehidupan sehari- hari yang dilakukan untuk berbagai tujuan, seperti kesehatan, rekreasi, dan kompetisi demi meraih prestasi dan prestise. Dalam olahraga kompetisi, para atlet yang terlibat di dalamnya perlu mendapatkan latihan khusus agar mampu menunjukkan performa yang baik di lapangan sehingga memiliki peluang yang tinggi untuk menang dan menjadi juara. Salah satu jenis latihan yang dimaksud adalah latihan fisik (Mulyadi, 2012)
Dalam latihan fisik, salah satu hal yang perlu ditingkatkan oleh seorang atlet adalah kinerja otot. Kinerja otot didefinisikan sebagai kapasitas otot dalam melakukan suatu usaha. Definisi tersebut terlihat sederhana, namun kinerja otot merupakan komponen kompleks gerakan fungsional tubuh yang dipengaruhi oleh seluruh sistem tubuh. Untuk bisa mengantisipasi, merespon dan mengontrol tenaga yang digunakan tubuh dalam beraktivitas, otot harus bisa mengontrol tegangan yang dihasilkan dengan baik. Di situlah fungsi utama dari kinerja otot (Kisner, 2007)
Ada 3 elemen penting penyusun kinerja otot. Jika salah satu atau lebih dari ketiga elemen tersebut mengalami gangguan fungsi atau kelemahan, maka risiko cedera otot akan meningkat. Selain itu, jika kinerja otot mengalami
2
gangguan, maka berbagai masalah otot akan terjadi, seperti cedera, penyakit, kekakuan, kelemahan, dan cacat. Ketiga elemen tersebut adalah kekuatan otot, daya tahan otot, dan daya ledak otot (Kisner, 2007)
Sebagai bagian dari kinerja otot, kekuatan otot merupakan komponen paling penting dalam hampir setiap cabang olahraga. Latihan kekuatan otot bertujuan untuk meningkatkan performa atlet dalam kompetisi dengan cara:
1. Meningkatkan komponen neural kontraksi otot
2. Meningkatkan ukuran serabut otot
Yang terakhir berdasarkan pada hipotesis bahwa latihan fisik menyebabkan akumulasi metabolisme yang secara spesifik meningkatkan sintesis adaptif protein enzim dan struktural sehingga memperbesar dan memperbanyak serabut otot. Sebagai konsekuensinya hipertropi otot adalah hasil dari efek kumulatif dari beberapa sesi latihan yang disusun dalam siklus latihan tertentu (Boreham, 2006)
Daya tahan otot juga menjadi unsur penting karena daya tahan otot diperlukan untuk menghindari kelelahan berlebihan sehingga atlet mampu menjalani waktu pertandingan yang lebih lama (Mulyadi, 2012). Daya tahan otot didefinisikan sebagai kemampuan otot atau sekelompok otot tertentu untuk melakukan latihan dalam waktu yang lama (Beltasar Tarigan, 2005). Sejalan dengan itu, Hannah Mich (2011) menuliskan bahwa daya tahan otot adalah kemampuan sekelompok otot untuk berkontraksi pada waktu yang lama.
3
Untuk meningkatkan daya tahan otot, maka kekuatan otot terlebih dahulu perlu di tingkatkan hingga level tertentu, karena kekuatan otot merupakan dasar dari kinerja otot. Tanpa kekuatan otot, tubuh tidak akan mampu memulai suatu gerakan. Dengan kekuatan otot yang tinggi, atlet dapat berlari lebih cepat, melompat lebih tinggi, menendang lebih keras, melempar lebih jauh, dan sebagainya. Sementara dengan daya tahan otot yang tinggi, atlet dapat melakukan hal- hal di atas dalam waktu yang lebih lama dan berulang- ulang (Gormley, 2005)
Peningkatan kekuatan otot biasanya diikuti dengan peningkatan massa otot dan jumlah serabut otot sehingga satu kali kontraksi otot bisa lebih efisien dalam menghasilkan tenaga yang lebih tinggi. Akan tetapi, terjadinya hal tersebut, malah akan menyebabkan konsumsi energi dalam satu kali kontraksi menjadi lebih tinggi pula, sedangkan energi tersebut masih dibutuhkan otot untuk menjaga daya tahannya. Dengan demikian, maka seseorang yang memiliki kekuatan otot tinggi, yang disertai dengan peningkatan massa otot dan bulking, akan cenderung memiliki daya tahan otot yang rendah akibat banyaknya energi yang dihabiskan otot selama berkontraksi.
Hal tersebut di atas tidak akan menjadi masalah pada olahraga-olahraga yang hanya membutuhkan daya tahan otot tanpa membutuhkan kekuatan otot yang tinggi. Seperti pada lari marathon misalnya, daya tahan ototnya dapat dilatih bersamaan dengan latihan kemampuan kardiovaskular untuk mempercepat metabolisme, sehingga energi bisa dihasilkan lebih cepat sebelum otot mengalami kelelahan.
4
Hubungan antara kekuatan otot dan daya tahan otot ini baru akan menjadi masalah pada olahraga yang membutuhkan keduanya. Misalnya pada sepak bola, di mana kekuatan dibutuhkan untuk kekuatan dalam menendang, sementara daya tahan dibutuhkan untuk bisa bermain selama 2x45 menit tanpa mengalami kelelahan atau turunnya performa yang signifikan. Latihan kekuatan dan daya tahan otot tentu harus diseimbangkan, agar keduanya bisa mengalami peningkatan yang sejalan. Dan untuk menentukan seperti apa latihan yang seimbang untuk kekuatan dan daya tahan otot, maka perlu dipahami seperti apa pola hubungan dari kedua elemen penting kinerja otot tersebut.
Berdasarkan hal tersebut, peneliti mengambil judul “Hubungan antara Kekuatan Otot dengan Daya Tahan Otot Tungkai Bawah pada Atlet Kontingen Pekan Olahraga Nasional XVIII Komite Olahraga Nasional Indones ia Sulawesi Selatan Tahun 2013”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti merumuskan masalah penelitian yaitu: “Apakah Terdapat Hubungan antara Kekuatan Otot Tungkai Bawah dengan Daya Tahan Otot Tungkai Bawah pada Atlet K ontingen PON XVIII KONI Sulsel Tahun 2013?”
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Tujuan umum penelitian ini adalah mengetahui ada tidaknya hubungan antara kekuatan otot dengan daya tahan otot tungkai bawah atlet.
5
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penelitian ini adalah:
a. Diketahui nilai kekuatan otot tungkai bawah pada atlet dan distribusinya berdasarkan data hasil pengukuran KONI Sulsel pada atlet Sulsel kontingen PON XVIII
b. Diketahui nilai daya tahan otot tungkai bawah pada atlet dan distribusinya berdasarkan data hasil pengukuran KONI Sulsel pada atlet Sulsel kontingen PON XVIII
c. Diketahui ada tidaknya hubungan antara kekuatan otot dengan daya tahan otot tungkai bawah pada atlet Sulsel kontingen PON XVIII
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Aplikatif
Penelitian ini mampu memberikan informasi dan pengetahuan bagi atlet, pelatih, serta masyarakat umum dalam memahami hubungan kekuatan otot dengan daya tahan otot tungkai bawah demi tercapainya kinerja otot yang baik dalam berolahraga.
2. Manfaat Keilmuan
Penelitian ini diharapkan dapat menambah sumber-sumber bacaan dan kajian pustaka mengenai hubungan kekuatan otot dengan daya tahan otot tungkai bawah.
3. Manfaat Metodologi
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan acuan bagi penelitian-penelitian selanjutnya yang ingin mengkaji mengenai hubungan
6
kekuatan dengan daya tahan otot tungkai bawah baik pada atlet maupun pada masyarakan awam.
4. Manfaat Bagi Peneliti
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pemahaman peneliti tentang hubungan kekuatan otot dengan daya tahan oto t tungkai bawah sehingga bisa diterapkan dalam lingkup keprofesian peneliti di kemudian hari.
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Anatomi dan Fisiologi Otot
Otot merupakan jaringan yang secara aktif mampu mengembangkan ketegangan (tension). Karakteristik ini memungkinkan otot skeletal atau otot lurik dapat melakukan fungsi penting dalam mempertahankan postur tubuh agar tetap tegak, menggerakkan anggota gerak tubuh, dan mengabsorbsi (meredam) terjadinya shock. Oleh karena otot hanya dapat melakukan fungsi tersebut pada saat dirangsang dengan baik, maka sistem saraf dan sistem otot secara kolektif seringkali dikenal sebagai sistem neuromuscular (Kisner, 2007).
1. Sifat Jaringan Otot a. Ekstensibilitas
Ekstensibilitas adalah kemampuan otot untuk terulur atau memanjang tanpa menimbulkan cedera otot. Hal ini penting karena pada saat otot berkontraksi, otot antagonis harus berelaksasi untuk menghasilkan gerakan yang diinginkan (Cael, 2010).
b. Elastisitas
Elastisitas adalah kemampuan otot untuk kembali ke ukuran normal setelah diulur/memanjang. Elastisitas otot akan mengembalikan otot ke posisi ukuran istirahat normal setelah mengalami penguluran dan memberikan transmisi ketegangan yang halus dari otot ke tulang (Sloane, 2004).
8
c. Eksitabilitas
Sifat karakteristik otot lainnya adalah eksitabilitas. Eksitabilitas adalah kemampuan untuk merespon suatu stimuli. Stimuli yang mempengaruhi otot dapat bersifat elektrokimiawi seperti aksi potensial dari saraf yang mempersarafinya, atau mekanikal seperti pukulan atau benturan dari luar pada otot (Cael, 2010).
d. Kontraktilitas
Kemampuan untuk mengembangkan ketegangan merupakan salah satu sifat karakteristik yang khas pada jaringan otot. Secara historis, perkembangan ketegangan otot telah dikenal sebagai kontraksi atau komponen kontraktil fungsi otot. Kontraktilitas adalah kemampuan otot untuk memendek dari panjang otot semula. Namun demikian, ketegangan otot mungkin juga terjadi tanpa melibatkan pemendekan otot (Sloane, 2004).
e. Konduktivitas
Konduktivitas merupakan kemampuan jaringan otot untuk menyebarkan impuls, termasuk aksi potensial. Ketika otot dirangsang oleh sistem saraf, maka impuls harus dibawa ke struktur jaringan otot yang lebih dalam. Konduktivitas membantu aksi potensial ditransmisikan ke sepanjang sel otot, mengaktifkan ja ringan, dan menginisiasi kontraksi otot (Cael, 2010).
9
2. Serabut Otot
Sebuah sel otot tunggal dinamakan serabut otot karena berbentuk seperti benang/serabut. Membran yang membungkus serabut otot disebut sarkolema dan secara khusus sitoplasma ini disebut de ngan sarkoplasma.
Sarkoplasma pada setiap serabut otot mengandung sejumlah nukleus dan mitokondria, serta sejumlah benang/serabut myofibril yang tersususn secara paralel sejajar satu sama lain. Myofibril mengandung 2 tipe filamen protein yang susunannya menghasilkan karakteristik berpola striated sehingga dinamakan otot striated atau otot skeletal (Cael 2010).
Observasi melalui mikroskop terlihat adanya perubahan struktur bands (A bands, I bands) dan garis didalam otot skeletal selama kontraksi otot. Sarkomer terbagi-bagi antara 2 Z lines, yang merupakan unit struktural dasar dari serabut otot. Setiap sarkomer dibagi dua oleh suatu M line. A band berisi filamen myosin yang kasar dan tebal, serta dikelilingi oleh 6 filamen aktin yang tipis dan halus. I band berisi hanya filamen aktin yang tipis. Pada kedua band tersebut, filamen- filamen protein dipertahankan dalam posisinya oleh perlekatan pada Z line yang melekat ke sarkolema. Pada pusat A band terdapat H zone, yang hanya berisi filamen myosin yang tebal (Cael 2010).
Selama kontraksi otot, filamen aktin yang tipis dari salah satu ujung sarkomer akan saling tumpang tindih satu sama lain. Sebagaimana terlihat melalui mikroskop, Z line bergerak kearah A bands untuk mempertahankan ukuran awalnya, sementara I bands menyempit dan H zone menghilang.
10
Proyeksi dari filamen myosin disebut cross-bridge yang membentuk ikatan fisik dengan filamen aktin selama kontraksi otot, melalui sejumlah hubungan yang proporsional, produksi gaya dan pengeluaran energi (Kisner, 2007).
Suatu saluran jaringan membran yang dikenal dengan retikulum sarkoplasmik berhubungan dengan setiap serabut secara eksternal. Secara internal, serabut terbelah oleh terowongan kecil yang dinamakan dengan transverse tubule. Transverse tubule berjalan secara sempurna melalui serabut dan hanya terbuka ke arah eksternal. Retikulum sarkoplasmik dan transverse tubule merupakan saluran-saluran untuk tranportasi mediator elektrokimiawi aktivasi otot. Beberapa lapisan jaringan konektif memberikan super struktur untuk struktur serabut otot. Setiap membran serabut atau sarkolema dikelilingi atau dibungkus oleh jaringan konektif tipis yang disebut endomysium. Serabut-serabut otot yang tergabung kedalam fascicle tersebut dibungkus oleh jaringan konektif yang dinamakan perimysium. Kelompok-kelompok fascicle membentuk otot secara keseluruhan yang kemudian dibungkus oleh epimysium, yang kemudian berlanjut sampai dengan tendon otot (Kisner, 2007).
Secara genetik, sejumlah serabut otot yang ada, bervariasi antara seseorang dengan yang lain. Jumlah serabut yang sama saat lahir akan dipertahankan sepanjang kehidupannya, kecuali kadang-kadang hilang/menurun akibat cedera. Peningkatan ukuran otot setelah resistance training secara umum diyakini terjadi karena peningkatan diameter serabut otot menjadi lebih besar. Namun demikian, kemungkinan terjadi hiperplasia
11
atau peningkatan jumlah serabut otot dapat terjadi di antara beberapa individu sebagai respon terhadap program training (Guyton & Hall, 2006).
3. Tipe Serabut Otot
Serabut otot skeletal memperlihatkan beberapa struktur, histokimia, dan sifat karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan ini memiliki implikasi langsung terhadap fungsi otot, sehingga serabut otot menjadi hal yang menarik bagi para ilmuwan. Serabut dari beberapa motor unit akan berkontraksi hingga mencapai ketegangan (tension) maksimum yang lebih cepat daripada serabut lainnya setelah distimulasi. Berdasarkan pada perbedaan karakteristik ini, serabut otot dibagi kedalam 2 kategori utama yaitu serabut Fast Twitch (FT) dan Slow Twitch (ST) (Cael, 2010).
Untuk mencapai puncak ketegangan, serabut FT hanya membutuhkan waktu sekitar 1/7 dari waktu yang diperlukan oleh serabut ST. Namun demikian, kisaran waktu twitch yang besar untuk mencapai ketegangan maksimum nampak terlihat pada kedua kategori tersebut. Perbedaan waktu puncak ketegangan tersebut disebabkan oleh adanya konsentrasi myosin ATPase yang tinggi pada serabut FT. Serabut FT juga lebih besar diameternya daripada serabut ST. Karena karakteristiknya, maka serabut FT biasanya lebih cepat lelah daripada serabut ST. Meskipun keutuhan serabut FT dan ST dalam otot dapat membangkitkan jumlah gaya puncak isometrik yang sama per area cross-sectional (diameter) otot, beberapa orang yang memiliki persentase serabut FT yang tinggi ma mpu membangkitkan jumlah
12
torque dan power yang tinggi selama gerakan dibandingkan dengan yang memiliki lebih banyak serabut ST (Cael, 2010).
Serabut FT terbagi menjadi 2 kategori berdasarkan sifat histokimiawinya. Tipe pertama tahan terhadap kelelahan sepe rti karakteristik serabut ST. Tipe kedua memiliki diameter yang besar, mengandung mitokondria dalam jumlah yang sedikit, dan lebih cepat lelah dibanding tipe pertama. Para peneliti telah memperkenalkan beberapa skema klasifikasi berdasarkan unsur metabolik dan kontraktil dari ketiga tipe serabut yang berbeda. Pada salah satu skema, serabut ST dikenal sebagai tipe I, dan serabut FT disebut dengan tipe IIa dan tipe IIb. Istilah sistem lainnya adalah serabut ST dikenal sebagai Slow-twitch Oxidative (SO), serabut FT terbagi kedalam serabut Fast-twitch Oxidative Glycolytic (FOG) dan Fast-twitch Glycolytic (FG). Klasifikasi tambahan lainnya adalah serabut ST, serabut Fast-twicth Fatigue Resistant (FFR) serta serabut Fast-twitch Fatigue (FF).
Beberapa sistem klasifikasi ini didasarkan pada perbedaan unsur serabut dan tidak dapat dipertukarkan (Sherwood 2001).
Meskipun seluruh serabut pada sebuah motor unit adalah tipe yang sama, sebagian besar otot skeletal mengandung serabut FT dan ST dengan jumlah yang relatif bervariasi dari otot ke otot dan individu ke individu.
Sebagai contoh, otot Soleus secara umum hanya digunakan untuk penyesuaian postural, sehingga mengandung terutama serabut ST.
Sebaliknya, otot Gastrocnemius dapat mengandung lebih banyak serabut FT daripada serabut ST (Kisner, 2007).
13
Tabel 2.1 Kar akteristik Serabut Otot Skeletal
Kar akteristik
Ti pe I Serabut
Slow- Twitch(ST)
Ti pe IIa Serabut Fast-Twitch
Fatigue Resistant(FFR)
Ti pe IIb Serabut Fast-Twitch Fast
Fatigue(FF) Kecepatan kontraksi
Kele lahan Dia meter Konsentrasi ATPase Konsentrasi Mitok ondria
Konsentrasi Enzym Glycolytic
Rendah Rendah Kecil Rendah
Tinggi Rendah
Cepat Sedang Sedang Tinggi Tinggi Sedang
Cepat Cepat Besar Tinggi Rendah Tinggi
4. MotorUnit
Serabut otot diatur ke dalam group fungsional dengan ukuran yang berbeda-beda. Sejumlah serabut otot dipersarafi oleh susunan motor neuron tunggal yang dikenal sebagai motor unit. Akson pada setiap motor neuron akan terbagi menjadi beberapa cabang sehingga setiap serabut otot disuplai oleh satu motor end plate per serabut otot. Serabut dari sebuah motorunit dapat menyebar beberapa sentimeter di atas suatu area dan diselingi oleh serabut motorunit lainnya. Pengecualian yang jarang terjadi adalah motorunit terbatas pada suatu otot tunggal dan terlokalisir di dalam otot tersebut.
Sebuah motor unit tunggal pada mamalia dapat berisi kurang lebih 100 sampai mendekati 2000 serabut, bergantung pada tipe gerakan yang dihasilkan oleh otot tersebut. Gerakan- gerakan yang dikontrol dengan tepat, seperti gerakan mata atau jari- jari dihasilkan oleh motor unit dengan jumlah serabut yang kecil. Gerakan yang kasar, sangat kuat, seperti gerakan yang dihasilkan oleh Gastrocnemius yang merupakan hasil dari aktivitas motor unit yang besar (Sherwood, 2001).
14
Serabut-serabut otot dalam setiap motor unit tidak seluruhnya terkumpul bersama-sama dalam satu otot tetapi tumpang tindih dengan motor unit lain dalam suatu berkas mikro yang terdiri atas 3 sampai 15 serabut. Pertautan ini menyebabkan motor unit yang terpisah akan berkontraksi untuk membantu unit yang lain (Guyton & Hall, 2006).
5. Mekanisme Kontraksi Otot
Ada dua jenis kontraksi otot, yaitu kontraksi isotonik dan kontraksi isometrik. Kontraksi isotonik (disebut juga kontraksi dinamik) terjadi ketika ada perubahan panjang otot saat berkontraksi. Gerakannya berpola konsentrik di mana sudut sendi mengecil akibat tegangan yang terbentuk. Kebalikannya adalah gerakan eksentrik, di mana sudut sendi membesar yang disertai dengan berkurangnya tegangan. Sedangkan kontraksi isometrik terjadi saat otot menghasilkan tegangan tetapi panjang otot tidak berubah (Cael, 2010).
Ketika otot berkontraksi secara isotonik, terjadi pemendekan otot yang menyebabkan tegangan otot. Pita aktin meluncur saling mendekat menuju pusat sarkomer diantara pita myosin. Bila otot dirangsang dan menimbulkan aksi potensial pada membran sel otot, maka ion Ca++ di luar sel akan masuk ke dalam sel otot disertai pelepasan ion Ca++ dalam jumlah yang besar oleh retikulum sarkoplasma dalam sel, sehingga kadar ion Ca ++
di sekitar elemen kontraktil otot meningkat (Mulyadi, 2012).
Ion Ca++kemudian akan terikat pada troponin C. Selanjutnya, terjadi perubahan bentuk jalinan troponin-tropomyosin. Perubahan jalinan tersebut
15
membuka daerah aktif pada pita aktin yang membuat cross-bridge melekat pada pita aktin. Dengan demikian, terjadilah hubungan antara pita aktin dan myosin. Ketika cross-bridge melekat pada pita aktin, ATP yang terdapat pada cross-bridge terhidrolisis menjadi ADP dan sejumlah energi dilepaskan. Energi tersebut digunakan untuk menggerakkan pita aktin saling mendekat di antara pita myosin. Sarkomer kemudian memendek dan timbul tegangan otot. Keseluruhan proses tersebut disebut proses kontraksi (Mulyadi, 2012).
Setelah itu, biasanya otot mengalami pengisian kembali. ADP di cross- bridge kembali membentuk ATP dengan bantuan energi, sehingga ikatan antara aktin dan myosin melemah. Selanjutnya, dengan adanya ATP, ion Ca++ diangkut secara aktif ke dalam retikulum sarkoplasma. Troponin C terbebas dari ion Ca++menyebabkan jalinan troponin-tropomyosin menutup daerah aktif aktin, sehingga cross-bridge terlepas dari aktin. Aktin meluncur menjauh satu sama lain menyebabkan sarkomer kembali ke bentuk semula lalu terjadi relaksasi (Mulyadi, 2012).
6. Sumber Energi Kontraksi Otot
Kemampuan kontraksi otot bergantung pada energi yang tersedia dalam otot (ATP). Otot yang terlatih dengan baik hanya mampu mempertahankan daya otot yang maksimal selama kira-kira 3 detik. Untuk itu, dibutuhkan sistem metabolisme agar ATP tetap terbentuk(Guyton &
Hall, 2006). Ada 3 macam sistem energi pada otot yaitu sistem energi
16
anaerobik, sistem energi aerobik dan ATP -PC. Respon energi yang dihasilkan oleh sistem-sistem ini menghasilkan kapasitas kerja fisiologis tubuh dalam menunjang performa fisik (Sloane, 2004).
1) Sistem Energi Anaerobik
Sistem ini dikenal juga sebagai sistem asam laktat. Glikolisis adalah pemecahan karbohidrat, yaitu glikogen menjadi asam piruvat dan asam laktat. Asam laktat akan ditimbun dalam darah dan otot serta akan menyebabkan kelelahan pada otot.
Glikogen 3 asam piruvat + 3 asam laktat + 3 energi (glikolisis)
Jadi, dari sistem ini hanya menghasilkan 3 mol ATP untuk setiap mol glukosa, sehingga pada akhirnya cadangan glikogen akan segera berkurang. Energi yang dihasilkan dapat berlangsung 2-3 menit dan selanjutnya akan terjadi kelelahan(Battinelli, 2000).
b. Sistem Energi Aerobik
Dengan adanya oksigen, pemecahan sempurna glikogen terjadi, yaitu dari 180 gram glikogen menjadi karbondioksida (CO2) dan air (H2O) yang menghasilkan 39 mol ATP. Reaksi ini berlangsung pada bagian subseluler otot yaitu dalam mitokondria sehingga mitokondria disebut juga sebagai rumah daya (power house) karena merupakan tempat produksi energi ATP secara aerobik. Bila intensitas kegiatan naik, maka karbohidrat akan digunakan. Bila
17
durasi (lama waktu) kegiatan bertambah, maka lemak yang digunakan. Dan bila karbohidrat dan lemak habis, maka protein yang akan digunakan.
Ada tiga tahapan reaksi kimia yang selalu terjadi pada sistem aerobik yaitu Glikolisis Aerobik, Siklus Krebs, dan Sistem Transpor Elektron (Battinelli, 2000).
1) Glikolisis Aerobik
Glikogen → asam piruvat + energi
3 energi + 3 ADP + 3 Pi → 3 ATP (Battinelli, 2000).
2) Siklus Krebs
Siklus Krebs terdiri atas dua siklus, yaitu siklus TCA (tricarbocylic acid/ asam trikarboksilat) dan siklus asam sitrat. Pada siklus Krebs menghasilkan karbondioksida dan oksidasi (pelepasan elektron).
Karbondioksida berdifusi ke dalam darah dan dibawa ke paru. Sedangkan elektron yang dihasilkan berasal dari pelepasan atom Hidrogen.
H → H+ (ion) + elektron (e-)
Asam piruvat mengandung C, H, dan O. Bila H dilepas maka hanya ada C dan O yang merupakan komponen CO2, sehingga dalam siklus Krebs, asam piruvat dioksidasi dan menghasilkan CO2.
3) Adenosine Triphosphate-Creatine Phosphate (ATP-PC)
Bila otot berkontraksi, energi yang segera dipakai adalah cadangan ATP yang ada dalam sel otot. Energi untuk kerja segera
18
dilepaskan ketika adenosine triphosphate (ATP) dipecah menjadi bentuk adenosine diphosphate (ADP) dan phosphate (Phosphate Inorganik=Pi).
ATP ADP + Pi + Energi
Setelah 5 detik terjadi aktivitas otot, maka ATP akan habis dan Phosphocreatin yang juga merupakan cadangan phosphat energi tinggi akan dipecah, sehingga terjadi:
PC4 Creatin + Pi + Energi
Energi ini dipakai untuk resintesis ATP, sehingga:
Energi + Pi + ADP ATP
Cadangan ATP dan PC yang secara bersama disebut phosphagendi dalam otot jumlahnya hanya sedikit. Sistem phosphagen juga dikenal sebagai sistem energi phosphat atau sistem alactic yang dapat berlangsung selama 5-10 detik. Bila aktivitas otot terus berlangsung maka harus ada pemecahan cadangan yang lain yaitu glikogen atau lemak (Battinelli, 2000).
B. Kekuatan Otot
Menurut Sajoto (1988), kekuatan adalah komponen kondisi fisik yang berkaitan dengan kemampuan seseorang atlit pada saat menggunakan otot- ototnya dalam menerima beban untuk waktu kerja tertentu.
Suharno HP. (1985:24) yang menyatakan: “Kekuatan adalah kemampuan dari otot untuk dapat mengatasi tahanan atau beban dalam menjalankan aktivitas”. Sedangkan Thompson (1991:70) mengemukakan bahwa “Kekuatan otot adalah kemampuan badan dalam menggunakan daya. Lebih lanjut Sugiyanto
19
(1993:22) mengemukakan bahwa:“Kekuatan otot adalah kualitas yang memungkinkan pengembangan tegangan otot dalam kontraksi otot yang maksimal atau bisa diartikan sebagai kemampuan menggunakan gaya untuk melawan beban atau hambatan, kekuatan ditentukan oleh volume otot dan kualitas kontrol pada otot yang bersangkutan. (Sudarsono, 2011)
Kekuatan adalah tenaga kontraksi otot yang dicapai dalam sekali usaha maksimal. Usaha maksimal ini dilakukan oleh otot atau sekelompok otot untuk mengatasi suatu beban atau tahanan. Kekuatan merupakan unsur yang sangat penting dalam aktivitas olahraga, karena kekuatan merupakan daya penggerak dan pencegah cedera. Selain itu kekuatan memainkan peranan penting dalam komponen-komponen kemampuan fisik yang lain misalnya daya ledak (power), kelincahan, dan kecepatan. Dengan demikian kekuatan merupakan faktor utama untuk menciptakan prestasi yang optimal (Ismaryati, 2008:111)
Kekuatan merupakan salah satu unsur kondisi fisik yang sangat penting bagi pencapaian prestasi dalam olahraga. Meskipun dalam aktivitas olahraga lebih banyak memerlukan kelincahan, fleksibilitas, kecepatan, keseimbangan, dan koordinasi, akan tetapi faktor- faktor tersebut tetap harus dikombinasikan dengan kekuatan agar diperoleh hasil yang maksimal. Atlet akan dapat memiliki kecepatan, kelincahan, koordinasi yang baik jika ditunjang dengan kemampuan dasar kekuatan yang memadai, jadi kekuatan tetap merupakan dasar dari semua komponen kondisi fisik. (Sudarsono, 2011)
20
Haryanto (2006) menjelaskan, menurut Harsono (1988:177) kekuatan otot adalah komponen yang sangat penting guna meningkatkan kondisi fisik secara keseluruhan, hal ini disebabkan, yaitu:
1. Kekuatan merupakan daya penggerak setiap aktivitas fisik.
2. Kekuatan memegang peranan yang penting dalam melindungi atlet dari kemungkinan cedera.
3. Dengan kekuatan otot yang baik, atlet akan dapat berlari lebih cepat, melempar atau menendang lebih jauh dan lebih efisien, memukul lebih keras, demikian pula dapat membantu memperkuat stabilitas sendi-sendi.
Kekuatan merupakan dasar dari unsur kondisi fisik yang sangat diperlukan dalam mencapai prestasi yang tinggi dalam olahraga. Oleh karena itu, dalam rangka melakukan pelatihan meningkatkan prestasi dalam olahraga kekuatan otot yang dimiliki atlet perlu ditingkatkan. (Sudarsono, 2011)
Menurut Ismaryati (2008:111) terdapat beberapa macam tipe kekuatan yang harus diketahui, yaitu kekuatan umum, kekuatan khusus, kekuatan maksimun, daya tahan kekuatan, kekuatanh absolut, dan kekuatan relatif (Bompa, 1993). Dengan mengetahui tipe kekuatan kita dapat melatihnya secara efektif. Misalnya, dengan mengetahui perbandingan antara berat badan dan kekuatan, kita membandingkan kekuatan setiap atlet, dan ini merupakan petunjuk apakah seorang atlet dapat melakukan beberapa keterampilan. Beberapa tipe kekuatan otot:
21
1. Kekuatan umum, merupakan kekuatan sistem otot secara keseluruhan. Kekuatan ini mendasari bagi latihan kekuatan atlet secara menyeluruh, sehingga harus dikembangkan semaksimal mungkin.
2. Kekuatan khusus, merupakan kekuatan otot tertentu yang berkaitan dengan gerakan tertentu pada suatu cabang olahraga.
3. Kekuatan maksimun, merupakan daya tertinggi yang dapat ditampilkan oleh sistem saraf otot selama kontraksi volunteer (secara sadar) yang maksimal. Ini ditunjukkan oleh beban terberat yang dapat diangkat dalam satu kali usaha. Jika diekspresikan dalam persentase maksimum adalah 100 %. Karena kekuatan maksimun adalah beban yang dapat diangkat dalam satu kali angkatan, maka kekuatan maksimun disebut juga sebagai satu repetisi maksimun (1 RM).
4. Daya tahan kekuatan ditampilkan dalamk serangkaian gerak yang berkesinambungan mulai dari bentuk menggerakkan beban ringan berulang-ulang.
Daya tahan kekuatan dikelompokkan menjadi tiga:
a. Kerja singkat (intensitas kerja tinggi, di atas 30 detik)
b. Kerja sedang (intensitas sedang yang dapat berakhir sampai 4 menit) c. Durasi kerja lama (intensitas kerja rendah)
5. Kekuatan absolut merupakan kemampuan atlet untuk melakukan usaha yang maksimal tanpa memperhitungkan berat badannya. Kekuatan ini misalnya ditujukan pada tolak peluru, angkatan pada kelas berat di cabang angkat berat.
6. Kekuatan relatif, adalah kekuatan yang ditujukan dengan perbandingan antara kekuatan absolute dengan berat badan. Dengan demikian kekuatan relatif bergantung pada berat badan, semakin berat badan seseorang semakin besar
22
peluangnya untuk menampilkan kekuatannya. Kekuatan relatif sangat penting ada cabang olahraga senam dan cabang yang dibagi ke dalam kategori berdasar berat badan.
C. Faktor - Faktor Yang Mempengaruhi Kekuatan Otot
Menurut Sudarsono (2011)dalam upaya untuk meningkatkan kekuatan otot yang dimiliki atlet dengan tepat, pelatih perlu memahami kekuatan otot. Ha l yang sangat penting untuk diketahui yaitu faktor- faktor yang mempengaruhi kekuatan otot. Baik tidaknya kekuatan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor penentu, faktor penentu tersebut menurut Suharno HP (1985:24) dijelaskan antara lain:
1. Besar kecilnya potongan melintang otot (potongan morfologis yang tergantung dari proses hypertrophy otot).
2. Jumlah fibril otot yang turut bekerja dalam melawan beban, yaitu semakin banyak fibril otot yang bekerja berarti kekuatan bertambah besar.
3. Tergantung besar kecilnya rangka tubuh, makin besar skelet makin besar kekuatan.
4. Innervasi otot baik pusat maupun perifer.
5. Keadaan zat kimia dalam otot (glycogen, ATP).
6. Keadaan tonus otot saat istirahat, di mana jika tonus semakin rendah (relax), maka kekuatan otot tersebut pada saat bekerja semakin besar pula.
7. Umur dan jenis kelamin juga menentukan baik dan tidaknya kekuatan otot.
Selain unsur-unsur fisiologis yang dimiliki seseorang, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kekuatan otot. Faktor- faktor tersebut menurut Sajoto M
23
(1988:108) adalah faktor biomekanika, sistem pengungkit, ukuran otot, jenis kelamin, dan faktor umur. (Sudarsono, 2011)
D. Prosedur Tes Kekuatan Otot
Menurut Haryanto (2006), untuk mengukur kekuatan otot tungkai bawah, maka tes yang bisa dilakukan adalah Leg Dynamometer Test:
a. Bertujuan untuk mengukur kekuatan otot tungkai.
b. Alat/fasilitas yang digunakan yaitu Leg Dynamometer c. Pelaksanaan
Atlet memakai pengikat pinggang, kemudian berdiri dengan membengkokkan kedua lututnya hingga bersudut ± 45o, lalu alat ikat pinggang tersebut dikaitkan pada leg dynamometer. Setelah itu atlet tersebut berusaha sekuat-kuatnya meluruskan kedua tungkainya. Setelah atlt tersebut telah meluruskan kedua tungkainya secara maksimal, lalu dicatat jarum alat-alat tersebut menunjukan angka berapa. Angka ini menyatakan besarnya kekuatan otot tungkai atlet tersebut.
d. Skor
Besarnya kekuatan otot tungkai, yang dapat dilihat pada alat tersebut. Angka yang ditunjukkan oleh jarum alat tersebut menyatakan besarnya kekuatan otot tungkai tersebut, yang diukur dalam gram.
e. Norma Penilaian
Klasifikasi Kekuatan Otot Tungkai (Kg)
Krite ria Putra Putri
24
Baik Sekali Baik Sedang Kurang Kurang sekali
> 320.00 241.00 – 320.00 121.00 – 240.00 41.00 – 120.50
< 41.00
> 264.00 199.00 – 264.00
99.00 – 198.50 32.00 – 98.50
<32.00 Sumber: Eri Pratiknyo DW (2000:89)
E. Daya Tahan Otot
Kekuatan dibutuhkan agar otot mampu membangkitkan tenaga melawan tahanan/beban sedangkan daya tahan diperlukan untuk bekerja dalam durasi yang lama. Daya tahan otot sendiri merupakan perpaduan antara kekuatan dan daya tahan. Daya tahan fisik menghasilkan perubahan-perubahan fisiologi dan biokimia pada otot, sehingga daya tahan secara umum bermanifestasi melalui daya tahan otot (Mulyadi, 2012).
Daya tahan otot merupakan kemampuan suatu otot atau grup otot untuk berkontraksi secara berulang kali atau terjadi ketegangan yang terus menerus dan tahan terhadap kelelahan dalam waktu yang lama (Kisner, 2007). Kemampuan tersebut dapat diperoleh melalui metabolisme aerob maupun anaerob. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat daya tahan otot, antara lain:
1. Aktivitas Fisik
Aktivitas fisik didefinisikan sebagai setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot-otot skeletal dan menghasilkan peningkatan resting energy expenditure yang signifikan. Kekuatan dan daya tahan otot yang sudah dicapai dapat dipertahankan dengan latihan sekali seminggu. Setahun tanpa latihan 45% kekuatan otot masih dapat dipertahankan. Sedangkan bed
25
rest selama 12 minggu dapat menurunkan kekuatan otot sebesar 40%.
Namun demikian, istirahat yang cukup setiap malam dibutuhkan untuk mempertahankan tingkat daya tahan otot. Aktivitas fisik terutama latihan dapat memperbaiki kelenturan, kekuatan otot, daya tahan otot dan kesegaran kardiorespirasi (Johnson, 1986).
2. Aliran Darah dan Metabolisme
Aliran darah dalam otot selama berkontraksi dapat menurunkan daya tahan otot. Aliran darah yang lebih baik di sepanjang otot mengakibatkan otot tidak cepat mengalami kelelahan. Sandra K. Hunter et.al (2001) dalam artikelnya menyatakan bahwa massa otot yang lebih besar dan intensitas kontraksi otot yang lebih tinggi dapat mengerutkan pembuluh kapiler dan mengakibatkan penurunan aliran darah dan mengurangi daya tahan otot.
3. Berat Badan
Berat badan yang rendah dapat menunjukkan massa otot yang rendah. Dengan demikian, metabolisme penghasil energi di otot akan lebih sedikit. Hal ini menyebabkan jumlah cadangan energi untuk aktivitas menjadi lebih kecil (Mulyadi, 2012).
4. Usia
Pada orang-orang terlatih, daya tahan otot akan terus meningkat dan mencapai daya tahan otot maksimal di usia 20 tahun. Setelah itu, tingkat daya tahan otot akan menetap 3-5 tahun yang kemudian akan berangsur- angsur turun (Mulyadi, 2012).
26
5. Jenis Kelamin
Wanita dapat meningkatkan daya tahan otot karena pola aktivitas yang lebih efektif dari pada pria. Wanita tidak cepat mengalami kelelahan karena mereka memiliki lebih banyak grup otot sinergis, pria sulit memperolehnya dan oleh karena itu memiliki daya tahan otot yang lebih rendah dari wanita.Pria lebih cepat lelah karena metabolisme yang kurang efisien dalam otot dibanding wanita. Hormon testosteron adalah hormon yang membentuk massa tubuh dan otot yang baik. Pria lebih banyak memiliki hormon ini akan tetapi, semakin banyak otot tidak berarti semakin bagus daya tahannya. Kenyataannya, testosteron yang meningkatkan massa dan kekuatan otot dapat menurunkan daya tahan otot (Clark et.al, 2007).
6. Genetik
Genetik menggambarkan fisik secara umum termasuk otot. Serabut- serabut otot rangka terdiri dari serabut cepat dan lambat. Serabut ST bertanggung jawab pada daya tahan otot, di mana serabut FT lebih mudah mengalami kelelahan. Beberapa orang mewarisi persentase serabut ST yang dominan dari yang lainnya. Pada pria dan wanita dapat memiliki rasio yang sebanding dengan serabut FT dan ST, dan dap at mencapai tingkat daya tahan otot yang sama (Hannah Mich, 2011).
7. Inervasi
Stimulus diterima oleh saraf sensorik, lalu di jalarkan ke sistem saraf pusat, kemudian ke saraf motorik untuk perintah menggerakkan otot melalui mekanisme
27
kontraksi. Selama sistem inervasi saraf masih mampu bekerja, otot akan tetap mampu bekerja atau bergerak ketika ada stimulus (Mulyadi, 2012).
Daya tahan otot dibagi menjadi 3 tipe berdasarkan metabolisme otot, yaitu:
1. Power Endurance
Daya tahan otot ini digunakan pada jangka waktu singkat kurang dari 30 detik untuk menjaga daya ledak otot tetap tinggi. Energi yang digunakan diperoleh melalui sistem phosfagen (Mulyadi, 2012).
2. Short Term Endurance
Untuk olahraga yang membutuhkan kontraksi otot selama 30 detik sampai 2 menit, digunakan daya tahan otot jangka pendek. Jenis daya tahan otot ini meggunakan metabolisme sistem glikogen-asam laktat untuk memperoleh energi (Mulyadi, 2012).
3. Long Term Endurance
Daya tahan otot jangka panjang bermanfaat bagi olahraga-olahraga yang berlangsung terus-menerus yang digunakan untuk mempertahankan kontraksi otot lebih dari 2 menit. Jenis daya tahan otot ini memperoleh energi dari metabolisme sistem aerobik (Mulyadi, 2012).
F. Pengukuran Daya Tahan Otot
Salah satu aspek penting dalam pembinaan prestasi olahraga adalah menilai efek latihan, yaitu evaluasi terhadap kemajuan yang dicapai atlet setelah melakukan suatu program latihan. Ada 2 jenis tes daya tahan otot yaitu:
a. Tes Daya Tahan Otot Dinamis
28
Tes ini digunakan untuk melihat berapa banyak jumlah suatu ger akan yang dapat dilakukan pada suatu waktu (bisa dalam jangka waktu tertentu maupun untuk waktu yang tidak terbatas). Contoh tes ini antara lain push-up test, sit-up test, dan Half Squat Jump test.
b. Tes Daya Tahan Otot Statis
Pada tes ini akan dinilai kemampuan otot untuk mempertahankan suatu posisi hingga waktu yang tak terbatas. Contohnya arm-hang test.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan kriteria tes daya tahan otot dinamis, yaitu Half Squat Jump Test untuk waktu yang tidak terbatas dengan tabel penilaian sebagai berikut:
Tabel. 2.1 Kriteria penilai an tes HalfSquatJump
J.Ke la min Se mpurna Ba ik sekali Ba ik Cukup Kurang La ki-La ki > 87 67 – 87 46 – 66 25 - 45 4 – 24
Pere mpuan > 75 55 – 75 34 – 54 13 - 33 4 – 12
(KONI Sul-Sel 2012)
29
BAB III
KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS
A. Kerangka Konsep
Variabel Bebas Variabel Terikat
Bagan 3.1 Ke rangka Konsep
Ket. bagan :
= Variabel yang diteliti
= Variabel yang tidak diteliti
B. Hipotesis
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah, dan landasan teori, maka diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut: ”Ada hubungan antara kekuatan otot dengan daya tahan otot tungkai bawah pada atlet kontingen PON XVIII Koni Sulsel”.
Aktivitas Fisik
Usia
IMT
Jenis kelamin
Cabang olahraga
Daya Tahan Otot Kekuatan Otot
30
BAB IV
METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan desain cross sectional, yang bertujuan mengetahui ada tidaknya hubungan antara kekuatan otot dengan daya tahan otot tungkai bawah pada atlet kontingen PON XVIII-2012 di KONI Sulsel.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di KONI Sulsel Makassar pada bulan Januari 2013
C. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah semua atlet kontingen PON XVIII yang memiliki data sekunder mengenai kek uatan otot dan daya tahan otot di KONI Sulsel. Sampel penelitian diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling. Adapun pengambilan sampel ini berdasarkan pada kriteria-kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti. Kriteria-kriteria yang ditetapkan mencakup kriteria inklusi dan kriteria eksklusi.
1. Kriteria Inklusi :
a. Data responden merupakan atlet yang dipersiapkan untuk mengikuti PON XVIII di KONI Sulsel.
b. Data responden lengkap mengenai kekuatan otot dan daya tahan otot.
31
c. Data responden adalah atlet yang bukan merupakan cabang olahraga yang dominan menggunakan tungkai bawah
2. Kriteria Eksklusi :
a. Data responden yang terukur hanya terdiri atas satu atlet dalam satu cabang olahraga
b. Data responden tidak proporsional antara laki- laki dan perempuan
D. Alur Penelitian
Penelitian dilaksanakan berdasarkan diagram alur sebagai berikut.
Gambar 4.1 Alur Penelitian
E. Variabel Penelitian 1. Identifikasi Variabel
Variabel penelitian ini terdiri dari 2 variabel, yaitu variabel independen dan variabel dependen.
a. Variabel independen adalah kekuatan otot.
Memilih masalah Observasi
Menetapkan sampel me la lui kriteria
inklusi
Merumuskan masalah
Analisis data Pengumpulan data
Penulisan laporan
Hipotesis
32
b. Variabel dependen adalah daya tahan otot.
2. Definisi Operasional Variabel a. Kekuatan otot
1) Kekuatan otot adalah tenaga kontraksi otot maksimal yang dapat dihasilkan suatu otot dalam satu kali kontraksi.
2) Alat yang digunakan untuk mengukur kekuatan otot adalah Leg Dynamometer
3) Kriteria objektif yang digunakan dalam mengukur kekuatan otot
Krite ria Putra Putri
Baik Sekali Baik Sedang Kurang Kurang sekali
> 321.00 241.00 – 320.00 121.00 – 240.00 41.00 – 120.50
< 40.50
> 265.00 199.00 – 264.00
99.00 – 198.50 32.00 – 98.50
<31.50
Kriteria Sempurna dan Baik Sekali dikategorikan sebagai Kekuatan Otot Tinggi
Kriteria Baik dikatergorikan sebaga Kekuatan Otot Sedang
Kriteria Cukup sampai dengan Kurang dikategorikan seba gai Kekuatan Otot Rendah
b. Daya Tahan Otot
1) Daya tahan otot adalah kemampuan otot untuk berkontraksi secara berulangkali tanpa merasa kelelahan
2) Daya tahan otot diukur dengan teknik HSJ (High Squat Jump)
33
3) Kriteria objektif yang digunakan dalam mengukur daya tahan otot.
J.Ke la min Se mpurna Ba ik sekali Ba ik Cukup Kurang La ki-La ki > 87 67 – 87 46 – 66 25 - 45 4 – 24
Pere mpuan > 75 55 – 75 34 – 54 13 - 33 4 – 12
Kriteria Sempurna dan Baik Sekali dikategorikan sebagai Daya Tahan Otot Tinggi
Kriteria Baik dikatergorikan sebaga Daya Tahan Otot Sedang
Kriteria Cukup sampai dengan Kurang dikategorikan sebagai Daya Tahan Otot Rendah
F. Teknik Pengumpulan Data
Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data hasil pengukuran fisik atlet peserta PON XVIII Riau yang dilakukan oleh KONI Sulsel tanggal 18- 19 Mei 2012 sebelum atlet diberangkatkan untuk bertanding di Riau September 2012.
G. Metode Pengolahan Data dan Analisa Data
Data kekuatan otot dan daya tahan otot yang digunakan diambil dari beberapa cabang olahraga yang dominan menggunakan tungkai bawah, yaitu Sepak Takraw, Polo Air, Futsal, Karate, Taekwondo, dan Pencak Silat. Untuk
34
cabang olahraga Karate, Taekwondo dan Pencak Silat, ketiganya digabung menjadi cabang olahraga Bela Diri.
Data kekuatan dan daya tahan otot berupa data numerik yang kemudian dijadikan data kategorik. Kekuatan dan daya tahan otot masing- masing terdiri dari lima kategori, yaitu Kurang, Cukup, Baik, Baik Sekali dan Sempurna.
Namun dalam analisisnya, masing- masing dijadikan tiga kategori, yaitu kategori Kurang dan Cukup menjadi kategori Rendah, kategori Baik menjadi kategori Sedang dan kategori Baik Sekali dan Sempurna menjadi kategori Tinggi.
Analisis data penelitian menggunakan SPSS 15.0 for windows. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan uji Chi-Square.
H. Masalah Etika
Dalam mengambil data klien, peneliti memiliki beberapa aturan mengenai masalah etika, antara lain :
1. Anonimity
Untuk menjaga kerahasiaan, peneliti tidak akan mencantumkan nama responden, tetapi hanya memberi kode tertentu pada setiap responden.
2. Confidentiality
Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh responden dijamin oleh peneliti dan hanya sekelompok data yang dilaporkan dalam hasil penelitian.
35
BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian
1. Karakteristik Subjek Penelitian
Penelitian yang dilaksanakan di KONI Sulsel dengan melibatkan data atlet-atlet yang dipersiapkan untuk mengikuti PON XVIII di Riau. Data atlet yang digunakan dalam penelitian ini adalah atlet dengan cabang olahraga yang dominan menggunakan tungkai bawah, antara lain: sepak takraw, polo air, futsal, serta beladiri. Total sampel berjumlah 76 orang dengan karakteristik sebagai berikut.
Tabel 5.1 Distribusi sampe l berdasarkan jenis ke la min
Frekuensi Persentase Persentase Kumulatif
Laki-laki 56 73,7 73,7
Perempuan 20 26,3 100,0
Total 76 100,0
Berdasarkan Tabel 5.1 dapat dilihat bahwa atlet dominan berjenis kelamin laki- laki, yaitu sebanyak 56 orang (73,7%) sedangkan atlet perempuan berjumlah 20 orang (26,3%).
36
Tabel 5.2 Distribusi sampe l penelitian berdasarkan cabang olahraga
Cabang Olahraga Frekuensi Persentase
1. Sepak Takraw 2. Polo Air 3. Futsal 4. Bela Diri
23 14 20
19
30,3 18,4 26,3 25,0
Total 76 100,0
Tabel 5.2 menunjukkan bahwa atlet terbagi menjadi cabang olahraga sepak takraw 23 orang (30,3%), polo air 14 orang (18,4%), futsal 20 orang (26,3%) dan bela diri 19 orang (25%)
2. Distribusi Kekuatan Otot Tungkai Bawah pada Atlet Kontingen PON XVIII KONI Sulsel
Tabel 5.3 Distribusi kekuatan otot berdasarkan cabang olahraga
C ABANG OLAHR AGA
KEKUATAN OTOT
Rendah Sedang Tinggi Total Sepak Takraw
% of Total 9
39,1 %
9 39,1%
5 21,7%
23 100,0%
Polo Air
% of Total 6
42,9%
8 57,1%
0 0,0%
14 100,0%
Futsal
% of Total 17
85,0%
2 10,0%
1 5,0%
20 100,0%
Bela Diri
% of Total 7
36,8%
10 52,6%
2 10,6%
19 100%
Total
% of Total 39
51,3%
29 38,2%
8 10,5%
76 100,0%
Berdasarkan tabel 5.3, secara keseluruhan atlet dominan memiliki kekuatasn otot rendah yaitu sebanyak 51,3% dari total jumlah sampel. Pada