• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI AREA JERATAN HASIL TANGKAPAN TERHADAP PERFORMANCE KINERJA GILL NET YANG BEROPERASI DI PERAIRAN SUNGAI TALLO, KOTA MAKASSAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "STUDI AREA JERATAN HASIL TANGKAPAN TERHADAP PERFORMANCE KINERJA GILL NET YANG BEROPERASI DI PERAIRAN SUNGAI TALLO, KOTA MAKASSAR"

Copied!
58
0
0

Teks penuh

(1)

i

STUDI AREA JERATAN HASIL TANGKAPAN TERHADAP PERFORMANCE KINERJA GILL NET YANG BEROPERASI DI

PERAIRAN SUNGAI TALLO, KOTA MAKASSAR

SKRIPSI

AINUL WAWALI ELHURIA

PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN DEPARTEMEN PERIKANAN

FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2020

(2)

i

STUDI AREA JERATAN HASIL TANGKAPAN TERHADAP PERFORMANCE KINERJA GILL NET YANG BEROPERASI

DI PERAIRAN SUNGAI TALLO, KOTA MAKASSAR

AINUL WAWALI ELHURIA L23113318

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan

PROGRAM STUDI PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN DEPARTEMEN PERIKANAN

FAKULTAS ILMU KELAUTAN DAN PERIKANAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2020

(3)

ii

(4)

i PERNYATAAN BEBAS PLAGIASI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Ainul Wawali Elhuria NIM : L231 13 318

Program Studi :Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Fakultas :Ilmu Kelautan dan Perikanan

Menyatakan bahwa Skripsi dengan Judul : “Studi Area Jeratan Hasil Tangkapan Terhadap Performance Kinerja Gill net yang beroperasi di Sunga Tallo, Kota Makassar” ini adalah karya penelitian saya sendiri dan bebas plagiat, serta tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain kecuali secara tertulis digunakan sebagai acuan dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber acuan serta daftar pustaka. Apabila di kemudian hari terbukti terdapat plagiat dalam karya ini, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan (Perrmendiknas No. 17, tahun 2007).

Makassar, 14 Agustus 2020

Ainul Wawali Elhuria, L231 13 318

(5)

i

(6)

i

ABSTRAK

AINUL WAWALI ELHURIA. L231 13 318. “Studi Area Jeratan Hasil Tangkapan Terhadap Performance Kinerja Gill Net Yang Beroperasi Di Perairan Sungai Tallo, Kota Makassar”. Dibimbing Oleh M. ABDUH IBNU HAJAR sebagai Pembimbing Utama dan ANDI ASSIR MARIMBA sebagai Pembimbing anggota.

Prinsip kerja jaring insang (Gill net) adalah menghadang arah renang ikan, karenanya alat tangkap dirancang untuk tidak kelihatan atau tidak terdeteksi oleh ikan, sehingga ikan menerobos jaring akhirnya terjerat pada area jeratan.

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan atau mengungkapkan prinsip kerja gill net dalam proses penangkapan ikan juga. Bertujuan untuk melihat hubungan cara kerja mesh size pada alat tangkap gill net terhadap morphometric dan body shape (bentuk tubuh) ikan dan range ukuran ikan yang dapat tertangkap serta posisi dan indeks area jeratan pada ikan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan tawes yang tertangkap memiliki body shape compressed (pipih), dengan potongan melintang body shapenya berbentuk diamond menyerupai bentuk mata jaring (mesh net). Hasil analisis karakteristik tangkapan ditemukan bahwa alat tangkap gill net dengan mesh size 6.6cm memiliki riil/actual mata jaring terpasang 83.81cm pada shortening 37% mampu memperoleh tangkapan ikan tawes sebanyak 107 ekor, dengan kisaran ukuran ikan dari 15 -37cm. Sebanyak 25 % (27 ekor) hasil tangkapan terjerat pada overculum (gilled mechanism) pada indeks area jeratan 0-33%, dengan ukuran 24.9 – 29.7cm. Sebanyak 69% (72 ekor) terjerat pada indeks area jeratan 34 – 66% (wedged mechanism) berukuran 15.0 – 24.7cm. terdapat 6% (6 ekor) ikan berukuran 22.9 – 37.0cm tertangkap secara terbelit (entangled mechanism).

Fakta penelitian menunjukkan bahwa ikan tawes yang tertangkap dengan cara gilled memiliki ukuran dan potensi tertangkapnya yang lebih besar daripada wedged dimana hal ini dipengaruhi oleh morphometric dan body shape ikan tersebut. Sementara yang tertangkap dengan cara entangled berukuran lebih kecil dan lebih sedikit yang tertangkap.

Keyword : indeks area jeratan, ikan tawes, performance gill net.

(7)

i ABSTRACT

AINUL WAWALI ELHURIA. L231 13 318. "Study of Catched Trap Areas Against the Performance of Gill Net Operating in Tallo River, Makassar". Supervised by M. ABDUH IBNU HAJAR and ANDI ASSIR MARIMBA as co-Supervisor.

The working principle of gill nets is to block the swimming direction of fish , therefore the fishing gear is designed not to be seen or not detected by the fish, so that the fish that break through the net eventually become entangled in the trap area. This study aims to describe and or reveal the working principle of the gill net in the fishing process as well. It aims to see the relationship between how the mesh size works on the gill net fishing gear to the morphometric and body shape of the fish and the size range of fish that can be caught and the position and index of the entanglement area of the fish.

The results showed that the java barb fish caught had a compressed body shape (flat), with a cross-section of the body shape in the form of a diamond resembling a mesh net. The results of the catch characteristics analysis found that the gill net fishing gear with a mesh size of 6.6cm had real / actual mesh installed 83.81cm at 37% shortening and was able to catch 107 java barb fish, with a fish size range of 15 -37cm. As many as 25% (27 fish) caught in the overculum (gilled mechanism) at the entanglement index 0-33%, with a size of 24.9 - 29.7cm. A total of 69% (72 individuals) were entangled in the entanglement area index of 34 - 66% (wedged mechanism) measuring 15.0 - 24.7cm. There were 6% (6 fish) of fish measuring 22.9 - 37.0cm caught by entangling the mechanism.

The research facts show that the java barb fish caught by gilled method have a bigger size and potential to be caught than wedged which is influenced by the morphometric and body shape of the fish. Meanwhile, those caught in the entangled way were smaller and fewer were caught.

Keywords: entanglement area index, barb java fish, gill net, performance gill net

(8)

viii KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh,

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkah dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi ini guna memenuhi salah satu kewajiban akademik dan sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar sarjana di Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Departemen Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin.

Penulis menyadari bahwa pelaksanaan penelitian ini, baik pelaksanaan di lapangan maupun penulisan skripsi tidak lepas dari bantuan dan dukungan berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan setulus hati penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis.

Penulis mengucapkan terima kasih yang tulus dan limpahan hormat kepada Ayahanda tercinta Ir. Zainuddin dan ibunda tercinta Sussi untuk segala pengorbanan, dukungan, bantuan, pengertian dan doanya yang selalu menyertai penulis selama mengikuti pendidikan di Universitas Hasanuddin. Terima kasih yang besar pula kepada kakak tercinta Arsal Chalil Elhuria A.Md.Pi dan Adek Tercinta Ariqah Khanzana Elhuria atas segala dorongan dan dukungan agar tetap terus belajar dan menuntut ilmu.

Penulis dengan tulus menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada bapak Ir. M. Abduh Ibnu Hajar Ph.D selaku pembimbing akademik sekaligus pembimbing dalam penilitian dan bapak Dr. Ir. Andi Assir Marimba M.Sc selaku pembimbing dalam penelitian dan penulisan skripsi atas segala waktu, ilmu, bantuan dan bimbingan yang telah diberikan kepada penulis selama ini.

Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga pula kepada : 1. Bapak Prof. Dr. Ir. Sudirman MP (Almarhum) selama penulisan skripsi,

almarhum tidak lagi sempat menguji dalam ujian tutup dan Bapak Dr. Ir. Alfa F.P. Nelwan, M.Si selaku penguji yang memberikan kritik dan saran yang membangun selama penelitian dan penulisan skripsi.

2. Daeng Sanu dan istrinya, selaku pemilik kapal telah mengizinkan penulis mengikuti kegiatan penangkapan ikan di kapalnya selama penelitian.

(9)

ix 3. Keluarga besar dari kedua orang tuaku dan terkhusus untuk kakak sepupuku Mutmainnah Muchtar dan Muchtahara Muchtar yang senantiasa membantu penulis dan selalu mendukung penulis selama masa perkuliahan.

4. Saudara seperjuanganku, mahasiswa PSP 2013 untuk semua kebersamaan dan persahabatan indah yang tak terlupakan. Terkhusus kepada siluman- silumanku Sari yanti wulandari, Rismawati M, Sri Nurwahyuni, Megawati rahmita, Husnia izdihar, Nur fitria ningsih, ratu alang fajrin, Citra, Fatima, A, suciati, lilis anjarsari, A. Risda Fitrianti yang telah banyak memberi bantuan penulis dalam pelaksanaan kegiatan penelitian selama ini.

5. Saudara seperjuangan dikos Nasrawati terimakasih untuk segala bantuan dan dukungannya yang telah meluangkan waktunya untuk menemani penulis mengambil data dan menyusun skripsi ini.

6. Saudara jejepanganku A. Hira Ummudiyah, A. Indah Aryan, A. Karimah, Ainun Kalsum, Nuryanti utami eka putri Nasrun, Aul lhie, Andi Shaa Amir, Rui, Fumi yang tidak berhentinya memberikan semangat kepada penulis untuk menyelesaikan studi.

7. Sahabat-sahabaku tercinta Mardiana, Nurul Fajrina , Vivi Magfirah, Rismayanti, Hikmah cahyani, Yuliah wahyuni, Nur Afni, Chaidir, uni, Rezky cantika, Almaidah Engelend, yang telah membantu penulis dalam penyelesaian studi.

8. Teman-temanku kak nino, gina, noe, upik abu kak Nadia Panriraty Umar, kak nigsih, kak rahayu umar, kak risma, mami tupe’ dan papi ryu, kak dilla, uni dan kak Dela, yang senantiasa tetap menemani penulis bermain dan tetap menyemangati penulis juga untuk tidak menyerah.

Penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembacanya untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Akhir kata, penulis memohon dengan kerendahan hati, semoga Allah SWT membalas semua yang telah diberikan oleh berbagai pihak kepada penulis dengan kebaikan yang melimpah dan semoga kita senantiasa berada dalam rahmat-Nya. Amin.

Makassar, Agustus 2020

Penulis,

(10)

x

BIODATA PENULIS

Ainul Wawali Elhuria, dilahirkan di Palopo, Sulawesi Selatan pada tanggal 29 Mei 1995 dan merupakan anak ke 2 dari 3 bersaudara dari pasangan Ir. Zainuddin dan Sussi. Penulis menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar Negeri Labuang Baji 2 Makassar pada tahun 2006, SMP Negeri 27 Makassar pada tahun 2009 dan SMA Negeri 14 Makassar pada tahun 2012. Pada tahun 2013 penulis melanjutkan studi di Perguruan Tinggi Negeri Universitas Hasanuddin Makassar melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Penulis terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Depertemen Perikanan, Fakultas Ilmu

Kelautan dan Perikanan.

(11)

xi

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR TABEL……. ... xiv

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 2

C. Tujuan Penelitian ... 2

D. Kegunaan ... 3

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 4

A. Jaring Insang (Gill Net) ... 4

B. Hasil-Hasil Tangkapan ... 4

C. Area Jeratan Hasil Tangkapan Jaring Insang (Gill Net) ... 6

III. METODE PENELITIAN ... 9

A. Waktu dan Tempat ... 9

B. Alat dan Bahan ... 9

C. Prosedur Penelitian ... 10

D. Analisis Data ... 11

IV. HASIL………. ... 14

A. Deskripsi Jaring Insang ... 14

B. Deskripsi ikan Tawes ... 16

C. Morfometrik ikan tawes terhadap bentuk mesh size gill net ... 17

D. Area jeratan pada ikan Tawes ... 22

E. Proporsi Indeks Area Jeratan terhadap panjang total hasil tangkapan.. 25

F. Prinsip Proses tertangkapnya ikan pada gill net ... 26

V. PEMBAHASAN ... 29

A. Deskripsi Jaring Insang ... 29

B. Deskripsi Ikan Tawes ... 29

C. Morfometrik ikan tawes terhadap bentuk mesh size gill net ... 30

D. Area jeratan pada ikan tawes ... 30

VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 33

A. Kesimpulan... 33

B. Saran... 33

(12)

xii

DAFTAR PUSTAKA ... 34

LAMPIRAN……….. ... 36

Lampiran 1. Data ukuran sampel ikan tawes ... 36

Lampiran 2. Pengukuran Sampel ... 42

(13)

xiii DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

Gambar 1. Posisi terjeratnya ikan ... 6

Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian... 9

Gambar 3. Gill net : Panjang 52.8 meter ; tinggi 115.5 cm ; mesh size 6,6 cm ... 10

Gambar 4. Design dan Dimensi ukuran mata jaring ... 11

Gambar 5. Proporsi Indeks area jeratan pada ikan tawes ... 12

Gambar 6. Proporsi potensi area terjeratnya ikan tawes pada alat tangkap gill net ... 13

Gambar 7. Jaring insang permukaan yang beroperasi di Perairan Sungai Tallo . 14 Gambar 8. Sketsa Jaring Insang ... 15

Gambar 9. Design dan Dimensi Mata Jaring ... 15

Gambar 10. Hasil Tangkapan Ikan Tawes ... 16

Gambar 11Grafik antara panjang total dan jumlah hasil tangkapan ... 17

Gambar 12. Daearah overculum ikan tawes yang diukur ... 18

Gambar 13. Daerah tinggi maksimum ikan tawes yang diukur. ... 19

Gambar 14.Grafik tinggi overculum ... 19

Gambar 15. Grafik lingkar overculum ... 20

Gambar 16. Grafik Tinggi Maksimum ... 21

Gambar 17.Grafik lingkar tinggi maksimum ... 21

Gambar 18. Lingkar dan Tinggi overculum ikan tawes ... 22

Gambar 19.Lingkar tinggi maksimum dan Tinggi maksimum ikan tawes ... 22

Gambar 20. Area jeratan pada ikan tawes ... 23

Gambar 21. Indeks Area jeratan ikan tawes ... 24

Gambar 22. Diagram persentase cara ikan tertangkap ... 24

Gambar 23. Proporsi potensi area terjeratnya ikan tawes pada alat tangkap gill net ... 25

(14)

xiv DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

Tabel 1. Alat dan bahan yang digunakan pada penilitian ... 9 Tabel 2. Persentase indeks area jeratan terhadap panjang total ... 23 Tabel 3. Proporsi Indeks Area Jeratan terhadap panjang total ... 26

(15)

1

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sumberdaya perikanan merupakan sumberdaya yang dapat diperbaharui (renewable resource) namun apabila usaha penangkapan melewati daya dukungannya, maka keseimbangan daya pulih akan terganggu. Usaha-usaha untuk memulihkan stok ikan akan lebih sulit dan membutuhkan waktu yang lama. Sehingga pemanfaatannya harus dilakukan secara rasional untuk menjaga ketersediaan produksi dan kelestarian sumberdayanya.

Menurut Baskoro (2002), gill net merupakan alat tangkap yang selektivitas karena ikan-ikan yang tertangkap dengan alat tangkap hanyalah ikan yang ukuran tubuhnya memungkinkan terjerat pada mesh sizenya, ikan-ikan yang lebih kecil dari mesh size gill net akan lolos dari jeratan jaring sehingga dapat berkembang baik dan menjadi dewasa.

Pada saat ini penangkapan ikan dengan alat tangkap gill net cenderung mengabaikan kaidah-kaidah kelestarian sumberdaya ikan yang menjamin kelangsungan usaha perikanan, sehingga terdapat kecenderungan penangkapan ikan berukuran kecil dan muda terus dilakukan ( Atmaja dan Haluan, 2003).

Defenisi jaring insang adalah suatu alat penangkapan ikan berbentuk empat persegi panjang yang dilengkapi dengan pelampung, tali pelampung, tali ris atas, serta pemberat, tali pemberat dan tali ris bawah (Najamuddin, 2012).

Prinsip kerja jaring insang yaitu dengan cara menghadang terhadap arah renang ikan. Dengan penghadangan tersebut diharapkan ikan-ikan akan menerobos jarring dan terjerat (gilled) dibelakang penutup insang ataupun terbelit (entangled) pada tubuh jaring (Utaminingsih, 2015).

Tertangkapnya ikan dengan terjerat pada mata jaring terbagi menjadi empat yakni (gilling) tertangkap dibelkang tutup insang, sedangkan (wedging) tertangkap pada bagian terbesar dari tubuh ikan, (snagging) tertangkap pada bagian mulut atau gigi atau bagian dari daerah kepala dan (Entangling) tertangkap pada bagian tulang, bagian sirip atau bagian tertinggi dari tubuh ikan sebagai akibat dari meloloskan diri (Hovgård and Lassen 2000).

Berdasarkan posisi terjeratnya ikan pada jaring, Potter dan PAwson (1991) membagi menjadi 6 posisi terjeratnya ikan pada jaring. Ia menjelaskan bahwa pada gill net ikan yang tertangkap pada daerah 2.3.4.5.6 tidak mungkin untuk meloloskan diri, dikarenakan ukuran lingkar badan ikan lebih besar dibandingkan dengan mesh size.

(16)

2 Sedangkan jika ikan tertangkap pada daerah 1 akan terjadi kemungkinan untuk meloloskan diri kecuali tersangkut pada gigi, sedangkan jika melewati daerah 6 akan sangat mungkin untuk melarikan diri dikarenakan tubuh ikan lebih kecil dibandingkan mesh size.

Selain ukuran mesh size dan hubungannya dengan ukuran lingkar badan ikan yang mempengaruhi posisi terjeratnya ikan pada gill net , nilai shortening dan hanging ratio dan hubungan dengan ukuran lingkar tubuh ikan juga mempengaruhi posisi terjeratnya ikan.

Maka, untuk menjaga kelestarian sumber perlu penanganan sedini mungkin, agar kerusakan tidak berlanjut lebih parah. Informasi tampilam (performance) biologis ikan tawes yang meliputi distribusi ukuran atau morfometrik ikan. Informasi ini akan menjadi dasar dalam oengambilan keputusan alternatif dalam pengelolaan sumberdaya ikan dan mempelajari pengaruh jangka panjang terhadap perubahan struktur populasi ikan di masa mendatang.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu :

1. Produktifitas tangkapan gill net belum banyak dikaji secara mendalam, khususnya dalam prinsip proses tertangkapnya ikan pada gill net.

2. Mengkaji hubungan prinsip kerja alat tangkapan, khususnya kajian morphometric dan body shape target tangkapan.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini antara lain, yaitu ;

1. Mendeskripsikan prinsip tertangkapnya ikan dan menentukan indeks area jeratan pada alat tangkap gill net.

2. Mendeskripsikan hubungan antara prinsip kerja alat tangkap terhadap morphometric (morfometrik) dan body shape (bentuk badan) target tangkapan.

(17)

3

D. Kegunaan

Penelitian ini dapat memberikan manfaat dan kegunaan dalam penyediaan data ataupun informasi mengenai hubungan antara prinsip kerja alat tangkap terhadap morphometric dan body shape target tangkapan, berdasarkan ukuran mesh size yang terpasang dan range target tangkapan.

(18)

4

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Jaring Insang (Gill Net)

Gill Net sering diterjemahkan dengan jaring insang, istilah gill net

didasarkan pada pemikiran bahwa ikan-ikan yang tertangkap gill net terjerat disekitar operculum pada mata jaring. Tertangkapnya ikan-ikan dengan gill net ialah dengna cara ikan-ikan tersebut terjerat (gilled) pada mata jaring ataupun terbelit (entangled) pada tubuh jaring. Pada umumnya ikan-ikan yang menjadi tujuan penangkapan ialah jenis ikan yang horizontal migration dan vertical

migration-nya tidak seberapa aktif (Sudirman dan Mallawa, 2004). Defenisi

jaring insang adalah suatu alat penangkapan ikan berbentuk empat persegi panjang yang dilengkapi dengan pelampung, tali pelampung, tali ris atas, serta pemberat, tali pemberat dan tali ris bawah (Najamuddin, 2012).

Alat tangkap gill net juga merupakan alat tangkap yang aman bagi nelayan dan habitat ikan. Hal tersebut dikarenakan pengoperasian alat tangkap gill bersifat pasif menunggu ikan-ikan tertangkap karena menabrak dinding jaring dan kemudian tersangkut atau terbelit dan dioperasikan tidak jauh dari bibir pantai.

Prinsip kerja dari jaring insang yaitu dengan cara menghadang terhadap arah renang ikan. Dengan penghadangan tersebut diharapkan ikan-ikan akan menerobos jaring dan terjerat (gilled) dibelakang penutup insang ataupun terbelit (entangled) pada tubuh jaring. Warna jaring harus disesuaikan warna perairan agar dapat mengelabuhi ikan yang menjadi target tangkapan (Utaminigsih, 2015).

B. Hasil-Hasil Tangkapan

Hasil tangkapan adalah jumlah dari spesies ikan maupun binatang air yang tertangkap saat kegiatan operasi penangkapan ikan. Hasil-hasil tangkapan bisa dibedakan menjadi dua, yaitu hasil tangkapan utama dan hasil tangkapan sampingan.

Hasil tangkapan terbagi menjadi dua, yaitu hasil tangkapan sasaran

utama (HTSU) yang artinya spesies yang merupakan target dari operasi

penangkapan dan hasil tangkapan sampingan (HTS) yang artinya spesies yang

merupakan di luar dari target operasi penangkapan.

(19)

5

Menurut Hall (1999) hasil tangkapan sampingan (HTS) terbagi menjadi dua, yaitu by-catch dari jenis ikan dan by-catch bukan dari jenis ikan (by-catch nonfish group). Berdasarkan pemanfaatan hasil tangkapan, Hall (1999) membagi lagi bycatch dari jenis ikan menjadi dua kategori, yaitu:

1) Spesies yang tidak dikehendaki tertangkap (incidental catch); merupakan hasil tangkapan sampingan yang sesekali tertangkap dan bukan spesies target.

2) Spesies yang dikembalikan ke laut (discarded catch); merupakan hasil tangkapan sampingan yang dikembalikan ke laut karena berbagai pertimbangan antara lain spesies yang tertangkap bernilai ekonomis rendah atau dilindungi hukum karena terancam punah.

Adapun kondisi dari discard yang ditemui di lapang terkadang ada yang masih dalam keadaan hidup tetapi banyak pula yang telah mati sehingga discard yang dihasilkan dalam setiap operasi penangkapan ikan diharapkan seminimal mungkin. Menurut Manalu (2003), tertangkapnya by-catch atau ikan diluar target disebabkan adanya kesamaan habitat antara ikan target dan ikan non target serta kurang selektifnya alat tangkap yang digunakan. Dalam pengembangan alat tangkap ramah lingkungan diharapkan alat tangkap yang digunakan tidak menghasilkan by-catch, tetapi pada kenyataan di lapangan membuktikan bahwa alat penangkapan ikan tidak hanya menangkap ikan target.

Menurut Martasugand (2004), pada jaring insang yang menjadi target

tangkapan adalah ikan-ikan yang mempunyai bentuk streamline seperti bentuk

ikan cakalang (Katsuwonus pleamis), kembung (Rastreligger spp), sarden

(Sardinella spp), atau seperti ikan salem (Onchorhyncus) dan ikan yang

mempunyai kekuatan menusuk atau memasuki mata jaring seperti jenis ikan

yang mempunyai model berenang subcarangiform, carangiford, Thunniform dan

model berenang yang menyerupainya. Sedangkan pada trammel net yang

menjadi target tangkapan adalah semua ikan yang menjadi jenis tangkapan gill

net dan ikan atau gerombolan ikan yang tidak mempunyai kecepatan/kekuatan

untuk menusuk atau memasuki mata jaring seperti jenis ikan yang mempunyai

model berenang Anguilaform, Balistiform, Gymnotiform, Rajiformdan yang

menyerupainya.

(20)

6

C. Area Jeratan Hasil Tangkapan Jaring Insang (Gill Net)

Area jerat merupakan area dari posisi terjeratnya ikan berdasarkan cara atau mekanisme tertangkapnya ikan yang diukur dari posisi snagged sampai

wedged ataupun dari posisi gilled sampai wedged tergantung pada bentuk

tubuh (body shape) ikan yang tertangkap.

Martasuganda (2002) menyatakan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan ikan dapat tertangkap oleh gillnet :

1. Diduga terjeratnya ikan karena pada saat kondisi ikan dalam keadaan

“berenang tidur” sehingga ikan tidak mengetahui kehadiran jaring yang berada didepannya.

2. Karena ikan yang ingin mengetahui benda asing yang berada disekitarnya termasuk gillnet dengan melihat, mendekat, meraba dan akhirnya terjerat.

3. Pada ikan yang selalu bergerombol dan beriringan maka apabila satu atau lebih ikan telah terjerat pada jaring, maka ikan yang lainnya akan ikut masuk kedalam jaring.

4. Dalam keadaan panik, ikan yang sudah berada didepan jaring dan sudah sulit untuk menghindari akan terjerat pula oleh jaring.

Terdapat empat mekanisme dasar penangkapan ikan dengan jaring insang dapat diidentifikasi yakni gilling, wedging, snagging, dan entangling (Hovg å rd dan Lassen 2000) dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 1. Posisi terjeratnya ikan

(21)

7

Pada gambar diatsa menunjukkan beberapa mekanisme tertangkapnya ikan pada jaring insang (Hovg å rd and Lassen 2000) antara lain :

1) Gilling

Gilling adalah posisi tertangkapnya ikan pada jaring insang yakni di

belakang penutup insang. Posisi ini merupakan posisi yang diharapkan / diinginkan saatikan terjerat karena pada posisi ini tidak ada peluang ikan untuk meloloskan diri.

2) Wedging

Wedging adalah posisi tertangkapnya ikan pada jaring insan yakni

tertangkap pada bagian terbesar dari tubuhnya.

3) Snagging

Snagging merupakan posisi tertangkapnya ikan pada jaring insan yakni

tertangkap pda bagian mulut atau gigi atau bagian lain daerah kepal

4) Entangling

Entangling merupakan posisi tertangkapnya ikan pada jaring insan yakni

tertangkap pada bagian tulang, bagian sirip atau bagian tertinggi dari tubuh ikan sebagai akibat dari meloloskan diri.

Ikan dapat ditangkap dengan lebih dari satu mekanisme pada jaring insang yang sama. Fitur desain utama dari jaring insang meliputi bahan jaring, warna, diameter benang dan jumlah filament, ukran mata jaring, hanging ratio vertikan dan horizontal, dan dimensi jaring (panjang dan tinggi).

Berdasarkan posisi terjeratnya ikan pada jaring, Potter dan Pawson (1991) membagi menjadi 6 posisi terjeratnya ikan pada jaring. Ia menjelaskan bahwa pada gill net ikan yang tertangkap pada daerah 2,3,4,5,6 tidak mungkin untuk meloloskan diri dikarenakan ukuran lingkar badan ikan lebih besar dibandingkan dengan mesh size. Sedangkan jika ikan tertangkap pada daerah 1 akan terjadi kemungkinan untuk meloloskan diri kecuali tersangkut pada gigi, sedangkan jika melewati daerah 6 akan sangat mungkin untuk melarikan diri dikarenakan tubuh ikan lebih kecil dibandingkan.

Bentuk badan ikan juga mempengaruhi cara tertangkapnya. Ikan

berbentuk cerutu pada umumnya tertangkap secara gilled dan wedged. Badan

ikan yang berbentuk pipih pada umumnya tertangkap secara terpuntal

(entangled) (Ali Rahantan dan Gondo, 2012)

(22)

8

Selain ukuran mata jaring (mesh size) dan hubungannya dengna ukuran

lingkar tubuh ikan yang mempengaruhi posisi terjeratnya ikan pada gill net, nilai

shortening dan hanging ratio dan hubungannya dengan ukuran lingkar tubuh

ikan juga mempengaruhi posisi terjeratnya ikan. Menurut widiyanto, dkk (2016)

yang menyatakan bahwa nilai lingkar tubuh ikan berpengaruh terhadap hanging

ratio. Semakin besar nilai hanging ratio maka akan berpengaruh terhadap

ukuran ikan red devil yang tertangkap pada jaring insang.

(23)

9

III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan juni 2020. di sungai Tallo, Kota Makassar. Sulawesi Selatan.

Gambar 2. Peta Lokasi Penelitian

B. Alat dan Bahan

Bahan dan alat yang digunakan pada penilitian ini dapat dilihat pada (Tabel 1).

Tabel 1. Alat dan bahan yang digunakan pada penilitian

Alat dan Bahan Kegunaan

Jangka sorong Mistar

Benang

Alat mengukur tinggi badan ikan Alat mengukur panjang ikan

Untuk mengukur lingkar badan ikan

Gill Net Kamera Alat tulis

Unit Alat penangkapan Dokumentasi

Untuk mencatat data yang dibutuhkan

(24)

10

C. Prosedur Penelitian

Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi. Menurut Hadi (2000) Metode observasi adalah suatu metode pengumpulan data yang dilakukan secara langsung dilapangan melalui pertanyaan yang sistematis terhadap setiap perubahan yang terjadi objek yang sedang diteliti. Data yang diperlukan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh dari pengukuran langsung di lapangan.

Adapun teknik pengambilan data yang dilakukan selama penelitian adalah sebagai berikut:

1. Konstruksi dari alat tangkap gill net (menghitung shortening dan hanging ratio) dengan menggunakan satu shortening.

Gambar 3. Gill net : Panjang 52.8 meter ; tinggi 115.5 cm ; mesh size 6,6 cm

(25)

11 2. Cara tertangkap ikan pada jaring.

3. Pengukuran hasil tangkapan jaring insang meliputi :

a) Panjang total ikan (total lengthl): panjang yang diukur muli dari ujung mulut sampai ujung ukur dengan menggunakan mistar.

b) Tinggi kepala pada bagian overculum ikan. Tinggi yang diukur dari bagian atau daerah tertinggi overculum menggunakan mistar/jangka sorong.

c) Lebar kepala pada bagian overculum mengukur lebar kepala ikan dengan jangka sorong.

d) Tinggi badan maksimum ikan. Tinggi yang diukur mulai dari ukuran tertinggi badan maksimum ikan atau dada besar ikan dengan menggunakan mistar.

e) Lebar badan maksimum pada ikan. Mengukur lebar badan dengan menggunakan mistar / jangka sorong.

f) Lingkar kepala pada overculum ikan. Mengukur dengan melilitkan benang pada kepala dengan pada kepala dam setelah itu benang di ukur dengan mistar.

4. Melakukan wawancara untuk mendapatkan data penunjang penelitian.

5. Studi pustaka dengan membaca literature dan hasil penelitian yang relevan dengan penelitian yang dilakukan.

D. Analisis Data

1. Pengukuran bukaan mata jaring meliputi : a. Tinggi mata jaring pada hanging ratio 63%

b. Lebar mata jaring pada shortening 37%

c. Bar d. Mesh size

Gambar 4. Design dan Dimensi ukuran mata jaring

(26)

12 2. Cara tertangkap ikan pada jaring

untuk menganalisa data posisi terjeratnya ikan pada jaring dilakukan dengan menggunakan data ukuran ikan (panjang total dan lingkar badan ikan) yang dihubungkan dengan posisi ikan terjerat.

Gambar 5. Proporsi Indeks area jeratan pada ikan tawes Dimana :

a. Posisi ikan terjerat secara gilled ( ij 0 – 33 % ) b. Posisi ikan terjerat secara wedged ( ij 34 – 67 % ) c. Posisi ikan terjerat secara wedged ( ij 68 – 100 % )

3. Komposisi indek area jerat dihitung berdasarkan letak area jerat terhadap jenis hasil tangkapan. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus :

Pi =ni

N× 100 % Dimana :

Pi : Proporsi jenis ikan berdasarkan posisi terjerat (%) ni : Jumlah hasil tangkapan spesies (i) (ekor)

N : Jumlah total semua jenis hasil tangkapan (ekor)

(27)

13 4. Proporsi indeks area jerat terhadap panjang total hasil tangkapan.

Gambar 6. Proporsi potensi area terjeratnya ikan tawes pada alat tangkap gill net Potensi area jeratan ikan :

ni =a

b× 100 % Dimana :

a. Potensi area terjeratnya ikan b. Panjang total ikan

(28)

14

IV. HASIL

A. Deskripsi Jaring Insang

Jaring insang yang digunakan pada penelitian di perairan sungai Tallo, terdiri dari beberapa bagian yaitu, badan jaring, tali-temali, pelampung, pemberat dan dinding badan jaring atau pemberat tambahan yang semuanya memiliki fungsi masing- masing.

Badan jaring terbuat dari bahan monofilament. Pada bagian atas jaring terdapat tali pelampung dan tali ris atas. Tali pelampung berfungi sebagai tempat mengikat pelampung utama, sedangkan tali ris atas berfungsi untuk menggantungkan badan jaring dan mengikatkan tali pelampung.

Jaring insang yang dioperasikan pada satu unit alat tangkap memiliki ukuran mata jaring (mesh size) 6.6 cm dimana mata jaring kearah panjang (horizontal) sebanyak 800◊ dan jumlah mata jaring ke awrah bawah (vertical) sebanyak 18◊ . Satu unit jaring insang permukaan yang digunakan pada penelitian terdiri dari 1 lembar jaring dengan tinggi jaring 115.5 cm dan panjang jaring 52.8 meter menggunakan shortening 37%.

Gambar 7. Jaring insang permukaan yang beroperasi di Perairan Sungai Tallo

(29)

15 Gambar 8. Sketsa Jaring Insang

Dimensi ukuran mata jaring pada shortening 37% dengan mesh size 6.6cm dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 9. Design dan Dimensi Mata Jaring a. Tinggi Mata jaring (hanging ratio) : 4.2 cm

b. Lebar mata jaring (shortening) : 4.2 cm c. Bar : 3.3 cm d. Mesh Size : 6.6 cm e. Shoertening : 37%

(30)

16 B. Deskripsi ikan Tawes

Ikan tawes yang tertangkap pada alat tangkap gill net yang beroperasi di sungai Tallo, memiliki ciri-ciri bentuk tubuh yang dimana bagian punggungnya meninggi, kepala kecil, moncong meruncing dan badan dipenuhi sisik. nelayan yang ada di sekitar sungai Tallo, Kota Makassar, ikan tawes banyak dijumpai ketika hujan, dan disaat air di sungai Tallo meninggi (saat banjir), penyataan ini dibuktikan dengan meningkatnya hasil tangkapan nelayan disekitar.

Gambar 10. Hasil Tangkapan Ikan Tawes Nama ilmiah : Barbonymus gonionotus

Nama Indonesia : Ikan Tawes Nama lokal : Bolu Jawa

(31)

17 Gambar 11Grafik antara panjang total dan jumlah hasil tangkapan

Berdasarkan grafik diatas, diperoleh hasil pengukuran pangjang total ikan tawes yang tertangkap pada Gill Net dengan mesh size 6.6 cm dengan bukaan mata jaring 4.2 cm dan lebar 4.2 cm. ikan yang tertangkap memiliki panjang total berkisar 15 - 37 cm, tinggi badan maksimum 4.1 -15.2 cm dengan tinggi kepala pada bagian overculum ikan 1.6 – 8.5 cm. Pada ukuran ppanjang total ikan 15 – 20 cm terdapat 29 ekor, pada ukuran 20 – 25cm terdapat 47 ekor, ukuran 25 – 30 cm terdapat 26 ekor, ukuran 30 – 35 cm terdapat 4 ekor dan ukuran 35 – 40 cm terdapat 1 ekor.

C. Morfometrik ikan tawes terhadap bentuk mesh size gill net

Morfometrik ikan tawes sangat ideal untuk penangkapan gill net , dimana proporsi indeks area jeratannya yang panjang sehingga dilakukan pengukuran terhadap morfometrik ikan yang tertangkap pada jaring insang permukaan.

Pengukuran tersebut meliputi tinggi , dan lingkar pada bagian overculum dan pada bagian tertinggi badan ikan. Pengukuruan tersebut dilakukan untuk mengetahui keterkaitannya dengan ukuran mata jaring yang digunakan.

0 10 20 30 40 50

15 - 20 20 - 25 25 - 30 30 - 35 35 - 40

29

47

26

4 1

Jumlah Hasil Tangkapan (ekor)

Panjang Total ikan (cm)

Grafik Panjang Total Ikan

(32)

18 Gambar 12. Daearah overculum ikan tawes yang diukur

(33)

19 Gambar 13. Daerah tinggi maksimum ikan tawes yang diukur.

Adapun cara pengukuran tersebut dapat dilihat pada gambar 12 dan gambar 13 diatas.

Gambar 14.Grafik tinggi overculum

Berdasarkan gambar grafik diatas, memperoleh hasil pengukuran tinggi kepala ikan (tinggi overculum) ikan tawes yang tertangkap pada Gill net dengan mesh size 6.6 cm dengan shortening 37% memberikaan bukaan mata jaring 4.2 cm dan 4,2 cm yang terpasang didalam perairan membuktikan ikan yang terjerat dengan tinggi overculum kisaran ukuran 1.6 – 8.5 cm dan panjang total 15 cm – 37 cm, dengan range ukuran tinggi overculum 1 – 3 cm terdapat 88 ekor yang panjang total tubuhnya berkisar dari 15 – 26.9cm, untuk ukuran tinggi overculum 4 – 6 cm terdapat 17 ekor yang panjang

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

1 - 3 cm 4 - 6 cm 7 - 9 cm

88

17 2

Jumlah Hasil Tangkapan (ekor)

Tinggi Overculum

(34)

20 total tubuhnya berkisar dari 27.3 – 33.3 cm, sedangkan ukuran tinggi overculum 7 – 9 cm terdapat 2 ekor yang panjang totalnya berukuran 35.7 cm – 37 cm. Kesimpulan dari grafik ini adalah semakin tinggi ukuran tinggi overculum maka semakin panjang juga ukuran panjang total ikan yang tertangkap.

Gambar 15. Grafik lingkar overculum

Berdasarkan gambar grafik diatas, memperoleh hasil pengukuran tinggi kepala ikan (tinggi overculum) ikan tawes yang tertangkap pada Gill net dengan mesh size 6.6 cm dengan shortening 37% memberikaan bukaan mata jaring 4.2 cm dan 4.2 cm yang terpasang didalam perairan membuktikan ikan yang terjerat dengan lingkar overculum berkisar antara 5.9 – 25cm dengan panjang total ikan berukuran 15.6 – 31cm. untuk ukuran lingkar overculum dengan kisaran ukuran 5 – 11 cm terdapat 68 ekor dengan panjang total ikan 16.7 – 20.7cm , untuk ukuran 12 – 18cm terdapat 36 ekor dengan ukuran panjang total ikan berkisar 19.7 – 30cm, sedangkan 19 – 25 cm terdapat 3 ekor dengan ukuran panjang total ikan 33.3 – 37cm.

0 10 20 30 40 50 60 70

5 - 11 cm 12 - 18 cm 19 - 25 cm

68

36

3

Jumlah Hasil Tangkapan (ekor)

Lingkar Overculum ikan

(35)

21 Gambar 16. Grafik Tinggi Maksimum

Berdasarkan grafik diatas, memperoleh hasil pengukuran tinggi maksimum badan ikan tawes yang tertangkap pada Gill net dengan Mesh Size 66mm dengan shortening 37% memberikaan bukaan mata jaring 4.2 cm dan 4.2 cm yang terpasang didalam perairan membuktikan ukuran ikan yang terjera didaerah tinggi maksimum berkisar berkisar 4.1 – 15.2 cm memiliki panjang total 15 – 37 cm. untuk ikan yang tinggi maksimumnya berkisar 4 – 8 cm terdapat 89 ekor memiliki panjang total 15 – 27.3 cm, ikan yang tinggi maksimumnya berukuran 8 – 13 cm terdapat 16 ekor memiliki panjang total 27,7 – 33.3cm dan untuk ukuran tinggi maksimum ikan yang berukuran 13 – 17 cm terdapat 2 ekor memiliki panjang total 35.7 – 37 cm.

Gambar 17.Grafik lingkar tinggi maksimum

Berdasarkan grafik diatas, memperoleh hasil pengukuran tinggi maksimum badan ikan tawes yang tertangkap pada Gill net dengan Mesh Size 66mm dengan shortening 37% memberikaan bukaan mata jaring 4.2 cm dan 4.2 cm yang terpasang

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90

4 - 8 cm 8 - 13 cm 13 - 17 cm

89

16 2

Jumlah Hasil Tangkapan (ekor)

Tinggi Maksimum Ikan

0 20 40 60 80

8 - 17 cm 18 - 27 cm 28 - 37 cm

73

31 3

Jumlah Hasil Tangkapan (ekor)

Lingkar Tinggi Maksimum ikan

(36)

22 didalam perairan membuktikan ikan yang terjerat di aarea lingkar maksimum berukuran 8.7 – 34cm memiliki panjang total 15.6 – 37cm, ikan yang lingkar tinggi maksimumnya berkisar 8 – 17 cm terdapat 73 ekor ,memiliki panjang total 15.6 – 24.7 cm, untuk lingkar tinggi maksimum dengan ukuran 18 – 27 cm terdapat 31 ekor memiliki panjang total 15 – 31cm, sedangkan lingkar tinggi maksimum dengan range ukuran 28 – 37 cm terdapat 3 cm memliki panjang total 33.3 – 37cm.

Gambar 18. Lingkar dan Tinggi overculum ikan tawes

Gambar 19.Lingkar tinggi maksimum dan Tinggi maksimum ikan tawes

D. Area jeratan pada ikan Tawes

Berdasarkan hasil penelitian area jeratan pada ikan tawes diukur dari posisi gilled sampai posisi wedged. Dimana panjang area jeratan pada ikan tawes berkisar antara 5.3 – 10.1 cm dengan panjang total ikan berkisar antara 15 – 37 cm dan rata- rata panjang area jeratan yaitu 7.5 cm atau berkisar sekitar 33% dari panjang total ikan.

(37)

23 Gambar 20. Area jeratan pada ikan tawes

Keterangan :

a. Posisi ikan terjerat secara gilled ( ij 0 – 33 % ) b. Posisi ikan terjerat secara wedged ( ij 34 – 67 % ) c. Posisi ikan terjerat secara wedged ( ij 68 – 100 % )

Tabel 2. Persentase indeks area jeratan terhadap panjang total

area jerat panjang total (cm) jumlah ikan (ekor)

0 – 33% (a) 24 .9 – 29.7 27

34 – 67% (b) 15 - 24.7 74

68 – 100% (c) - -

Umumnya ikan yang tertangkap pada area jeratan (a) dengan indeks area jerat 0 – 33% atau pada bagian overculum adalah ikan yang berukuran 24.9cm – 29.7cm, sedangkan untuk ukuran ikan 15cm – 24.7cm tertangkap pada bagian area jerat bagian (b) letaknya diantara overculum dan tinggi maksimum, sedangkan pada area jerat bagian (c) letaknya ditinggi maksimum badan ikan dan tidak ada ikan yang tertangkap.

(38)

24 Gambar 21. Indeks Area jeratan ikan tawes

Indeks area jeratan ikan dengan menggunakan mesh size 6.6cm, ikan tawes dengan ukuran panjang total 15 – 29.7cm akan cenderung tertangkap pada area jeratan dengan indeks area jeratan 0-33% (a) sebanyak 27 ekor dan pada area jeratan dengan indeks 34-67% (b) sebanyak 74 ekor, sedangkan pada area jeratan 67-100%

(c) tidak ada. Indeks area jeratan 0-33% (a) berada disekitar overculum ikan, sedangkan indeks area jeratan 67-100% (b) berada disekitar tinggi maksimum badan ikan.

Gambar 22. Diagram persentase cara ikan tertangkap

Ikan tawes yang tertangkap dengan jaring gill net dengan ukuran mesh size 6.6cm diperairan sungai Tallo, mempunyai kisaran panjang total 15-37cm, tinggi maksimum 4.1 – 15.2cm dan ukuran lingkar badan maksimum 8.7 – 34cm. lingkar

0 10 20 30 40 50 60 70 80

0 - 33% 34 - 67% 67 - 100%

27

74

jumlah (ekor)

indeks area jeratan

gilling 25%

wedging 69%

entangling 6%

(39)

25 badan ikan 8.7 – 19.7 cm tertangkap dengan cara wedging yaitu benang jaring menjerat ikan sampai didepan sirip punggung, hal ini terjadi karena lingkar tubuh ikan kurang besar dibandingkan diameter mesh size tetapi bentuk punggungnya yang tinggi dapat menghalangi ikan menerobos jaring tersebut sehingga jaring akan menjerat pada punggungnya, untuk ikan yang memiliki panjang total 24.9cm – 29.7cm, tinggi maksimum 6.3 cm – 9.6cm dan ukuran lingkar badan ikan dengan ukuran 18.2 – 24.4 cm tertangkap dengan cara gilling dimana ikan tertangkap dengan cara posisi mata jaring mengelilingi ikan tepat dibelakang overculum , sedangkan ukuran ikan yang memiliki panjang total 30cm – 37cm, dan ukuran tinggi lingkar badan 23.5 – 34 cm tertangkap dengan cara entangling dimana posisi badan ikan terjerat disekitar sisik dan sirip ikan, ikan-ikan yang tertangkap secara entangling adalah ikan-ikan yang berkuran besar. Secara keseluruhan sebanyak 25% ikan tawes tertangkap secara Gilling, dan sebanyak 69% ikan tawes yang tertangkap wedging dan 6% ikan tawes tertangkap secara entangling.

E. Proporsi Indeks Area Jeratan terhadap panjang total hasil tangkapan

Proporsi indeks area jeratan merupakan pengukuran untuk mengetahui panjang area jeratan yang memungkinkan terhadap keseluruhan panjang total ikan, dengan menggunakan rumus ;

Gambar 23. Proporsi potensi area terjeratnya ikan tawes pada alat tangkap gill net

Proporsi area jeratan ikan :

ni =a

b× 100 % Dimana :

a. Potensi area terjeratnya ikan b. Panjang total

(40)

26 Berdasarkan pengukuran area jeratan ikan Tawes yang tertangkap pada alat tangkap Gill Net di Perairan Sungai Tallo, Kota Makassar memperoleh hasil ukuran seperti pada table berikut

Tabel 3. Proporsi Indeks Area Jeratan terhadap panjang total Panjang Total

(cm)

Area Jeratan (mm)

Proporsi Area Jeratan

(%) Jumlah (ekor)

15 - 20 57 - 73 34% - 39% 40

21 - 26 73 - 86 30% - 35% 49

27 - 32 80 - 87 27% - 30% 16

33 - 38 90 - 101 25% - 28% 3

Tabel diatas menunjukkan bahwa dari ukuran 15 – 20.8cm, memiliki area jeratan 57 – 73mm atau dengan kata lain memiliki potensi jeratan terhadap panjang tubuhnya antara 34% - 39%. ukuran 21 – 26.9cm, memiliki area jeratan 73 – 86mm atau dengan kata lain memiliki potensi jeratan terhadap panjang tubuhnya antara 30%

- 35%, ukuran 27.3 – 31cm, memiliki area jeratan 80 – 87mm atau dengan kata lain memiliki potensi jeratan terhadap panjang tubuhnya antara 27% - 30%, sedangkan ukuran 33.3 – 37cm, memiliki area jeratan 90 – 101mm atau dengan kata lain memiliki potensi jeratan terhadap panjang tubuhnya antara 25% - 28%. Seperti yang kita ketahui dari tabel 3 menunjukkan bahwa adanya pengaruh antara panjang total dengan area jeratan ikan, dimana semakin besar panjang total ikan maka area jeratan ikan yang tertangkap semakin kecil.

F. Prinsip tertangkapnya ikan pada gill net

Proses tertangkapnya ikan dimulai saat ikan akan menerobos jaring dan berakhir dengan terjerat pada mata jaring baik saat gilled maupun wedged. Proses terjeratnya ikan berkaitan dengan gerakan overculum ikan (system pernafasan) dan respon ikan terhadap alat tangkap yang digunakan.

(41)

27 Proses pengangkatan jaring insang

Proses pengecekan hasil tangkapan pada jaring insang

(42)

28

Hasil tangkapan ikan yang terjerat pada jaring insang

Pelepasan Hasil tangkapan Jaring insang

Kebanyakan ikan tawes yang tertangkap tidak mengalami luka yang cukup berari dibagian tubuhnya,namun rata-rata memiliki bekas jeratan pada bagian tutup insang atau keliling tubuhnya akibat lilitan benang jaring. Beberapa ikan sisiknya sedikit terkelupas pada bagian atas kepala dan terdapat luka kecil kecil dibagian tubuh maksimum.

(43)

29

V. PEMBAHASAN

A. Deskripsi Jaring Insang

Pengertian dari gill net (jaring insang), yang umunya berlaku diIndonesia adalah satu jenis alat penangkapan ikan dari bahan jaring yang bentuknya empat persegi panjang dimana mata jaring ke arah panjang atau ke arah horizontal (mesh length/ML) jauh lebih banyak daripada jumlah mata jaring ke arah viertcal atau ke arah dalam (mesh depth/MD), pada bagian atasnya dilengkapi dengan beberapa pelampung dan bagian bawahnya dilengkapi beberapa pemberat sehingga dengan adanya dua gaya yang berlawanan dapat dipasang didaerah penangkapan dalam keadaan tegak menurut Martasuganda (2002) Seperti pada gambar 8 diatas, dapat kita lihat bahwa jumlah mata jaring ke arah panjang lebih banyak dibandingkan jumlah mata jaring ke arah dalam. Menurut Supardi Ardidja (2007) Mata jaring dibentuk oleh empat buah simpul dan empat buah bar, simpul yang terletak pada arah benang disebut mesh (jika simpul diurai benang jaring tidak terputus), dan yang tegak lurus dengan arah benang disebut point (benang jaring terputus). Ukuran mata jaring (mesh size) diukur dalam keadaan mata tertutup (stretched mesh). Ukuran mata jaring (mesh size) diukur pada saat keadaan mata jaring tertutup kencang, atau saat kedua point berimpit atau ditarik kencang secukupnya.

B. Deskripsi Ikan Tawes

Ikan tawes (Barbonymus gonyonotus) merupakan ikan asli Indonesia dengan nama “putuhan atau Bander putihan”. Ikan tawes memiliki ciri-ciri bentuk badan agak panjang dan pipih dengan punggung meninggi, kepala kecil, moncong meruncing, mulut kecil terletak pada ujung ujung hidung. Seluruh badan yang dipenuhi dengan sisik. Badan berwarna keperakan agak gelap dibagian punggung. Tinggi badan ikan tawes 1 : 2.4 – 2.6 kali panjang standar

Ikan tawes umumnya hidup dilingkungan dengan air yang mengalir, namun terkadang juga bias hidup di air yang tenang. Suhu ideal untuk habitat ikan tawes berkisar antara 20-33◦c (Santoso dan Wikatma,2001). Apabila suhu terlalu rendah maka metabolism ikan semakin rendah sehingga berdampak pada rendahnya pertumbuhan ikan (suyanto, 1995 dalam Puspita 2010).

Ikan tawes juga merupakan penghuni sungai dengan arus deras. Tubuhnya yang langsing dan tinggi disiapkan untuk menghadapi kondisi alam perairan yang berarus deras. Ikan ini akan tertarik dengan suara gemercik, sehingga akan mendekati dan berkumpul disekitarnya, kemudian keluar dari permukaan air. Apabila suara gemercik air ini berada d dekat pintu pemasukan air maka ikan tawes dapat meloncat

(44)

30 mencapai saluran pemasukan air dan hanyut pada saluran pengairan (Santoso dan Wikatma, 2001). Seperti kata nelayan yang ada di sekitar sungai Tallo, Kota Makassar, ikan tawes banyak dijumpai ketika hujan, dan disaat air di sungai Tallo meninggi (saat banjir), penyataan ini dibuktikan dengan meningkatnya hasil tangkapan nelayan disekitar.

Pada gambar 11. Ukuran panjang ikan yang tertangkap rata-rata berukuran sekitar 20cm dan termasuk ikan yang sudah layak tangkap. Menurut Kriswanto dan sunyoto (1986) Ukuran umum untuk spesies ikan berbeda-beda sesuai dengan jenisnya. Ukuran umur atau sering disebut dengan common size merupakan ukuran ikan yang biasa tertangkap dan dapat dijadikan menjadi tolak ukur untuk ukuran minimum yang seharusnya ditangkap. Ukuran dibawah ukuran umum (under common size) merupakan ukuran ikan yang tidak seharusnya ditangkap supaya mendapatkan kesempatan untuk berkembang menjadi lebih besar hingga mencapai ukuran umum agar tidak merusak kelestarian sumberdaya ikan tersebut.

C. Morfometrik ikan tawes terhadap bentuk mesh size gill net

Prinsip kerja jaring insang yaitu dengan cara menghadang arah renang ikan.

Dengan penghadangan tersebut diharapkan ikan-ikan akan menerobos jaring dan terjerat (gilled) dibelakang tutup insang atau terbelit (entangled) pada tubuh jaring.

Penangkapan pada jaring insang permukaan sama dengan prinsip penangkapan pada jaring insang pada umumnya. Umumnya ikan yang tertangkap akan terjerat pada daerah sekitar operculum (gilled).

Pada gambar 18 dan gambar 19 dapat kita lihat bahwa ikan-ikan yang tertangkap di alat tangkap gill net dengna mesh size 6.6cm memiliki ukuran pada overculum dan Tinggi maksimum yang jauh berbeda dengan ikan yang lainnya, seperti yang dikatakan (santoso dan wikatma,2001) bahwa ikan tawes memiliki tinggi badan 1 :2.4 – 2.6 kali panjang standar ikan pada umumnya dengan ciri-ciri punggung meninggi ,kepala kecil dan moncong meruncing.

D. Area jeratan pada ikan tawes

Area jeratan merupakan area dari posisi terjeratnya ikan berdasarkan cara atau mekanisme tertangkapnya ikan yang diukur dari posisi snagged sampai wedged ataupun dari posisi gilled sampai wedged pada bentuk tubuh (body shape) ikan yang tertangkap.

Tabel 2 menunjukkan bahwa semakin bertambahnya indeks area jeratan maka panjang total ikan semakin kecil, sehingga panjang area jeratan berbanding terbalik dengan panjang total ikan. Menurut Hasriani (2018), bahwa faktor panjang area jeratan mempengaruhi panjang total ikan.

(45)

31 Indeks area jeratan ikan merupakan pengukuran untuk mengamati daerah jeratan ikan hasil tangkapan jaring insang permukaan. Pada gambar 21 dapat kita lihat bahwa persentase indeks area jeratan ikan tawes lebih banyak yang terjerat pada indeks area 34-67% (b) dibandingkan pada indeks area jeratan 0-33% (a), hal ini terjadi karena, lingkar tubuh ikan lebih besar dibandingkan mesh size sehingga dapat menghalangi ikan menerobos jaring terebut dan jaring akan menjerat pada area tertinggi punggungnya. Sedangkan, pada area 67-100% (c) tidak ada yang tertangkap dikarenakan tinggi maksimum ikan lebih besar dibandingkan dengan ukuran mesh size.

Berdasarkan pengukuran indeks area jeratan, maka dapat diketahui bahwa adanya keterkaitan mesh size 6.6cm terhadap ukuran ikan tawes yang tertangkap pada jaring insang permukaan

.

karena jika ukuran tinggi maksimum ikan lebih kecil dibandingkan dengan ukuran mata jaring maka ikan meloloskan diri. Seperti yang diakatan Rounsefelt dan Everhart (1960), bahwa ukuran dan jenis ikan yang tertangkap oleh gillnet bervariasi tergantung ukuran mata jaring yang digunakan. Penggunaan ukuran mata jaring tertentu ada kecenderungan hanya menangkap ikan yang mempunyai fork lenght, girth dan berat pada selang tertentu pula.

E. Prinsip Proses Tertangkapnya Ikan

Hasil tangkapan ikan tawes selama penelitian yang tertangkap sebanyak 107 ekor. Pada gambar 11 dapat kita lihat bahwa gil net banyak menangkap ikan secara waedging. Pada selang kelas panjang total dibagi menjadi 5 kelas, dengan frekuensi tertinggi pada selang 20-25cm yaitu sebanyak 47 ekor.

Baranov (1999) dalam Efkipano (2012) menyatakan bahwa tertangkapnya ikan dibedakan dalam tiga cara, yaitu gilled (ikan terjerat mata jaring pada bagian operculumnya), wedged (ikan terjerat mata jaring pada bagian keliling tubuhnya) dan tangled (ikan terpuntal dijaring pada bagian gigi, maxillaria, sirip, apendik atau bagian tubuh ikan lainnya.

Kondisi tertangkapnya ikan amat bergantung pada ukuran dan pemberontakan ikan melepaskan diri dari jeratan. Pada ikan berukuran kecil dimana keliling tubuhnya lebih fleksibel terhadap keliling mata jaring, mereka dapat memasukkan kepalanya kemata jaring namun akan terjerat secara snagged atau gilled, sementara itu pada ikan berukuran sedang atau besar dengan keliling tubuh lebih besar daripada keliling mata jring, ekmungkinan terpuntal lebih besar akibat pemberontakan untuk melepaskan diri (Purbayanto et al. 1999). Seperti halnya yang terjadi pada ikan tawes yang tertangkap pada penelitian ini.

Dari hasil penelitian ikan-ikan tawes yang tertangkap rata-rata memiliki bekas jeratan bada area tubuhnya dan tutup insangnya. Hal tersebut sesuai pola pertama

(46)

32 dan kedua ikan yang tertangkap oleh Purbayango (1999), yaitu: (1) sisik ikan sedikit terkelupas pada bagian atas kepala yang etrletak didepan sirip dorsal; (2) luka kecil terbuka dan sisik ikan sedikit terkelupas pada sekleliling maksimum body girth ikan.

(47)

33

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Penelitian tentang studi area jeratan hasil tangkapan terhadap performance kinerja gill net yang beroperasi di perairan sungai Tallo, kota makassar .berdasarkan hasil dan pembahsan terhadap penelitian ini, maka dideskripsikan dua simpulan penelitian, sebagai berikut :

1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gill net dengan shortening 37 % pada mesh size 66 mm dapat menangkap ikan tawes pada tinggi overculum 16 - 85 mm dan tinggi maksimum 41 - 152 mm dengan ukuran panjang berkisar 15 – 37 cm.

2. Berdasarkan area jeratan ditemukan bahwa ikan tawes terjerat pada indeks area jerat 0 - 33% dengan kategori Gilled yang panjang totalnya berukuran 24.9– 29.7 cm sebanyak 27 ekor atau sebesar 25 % dari total keseluruhan ikan yang tertangkap. Pada indeks area jerat 34 - 66% dengan kategori wedged yang panjang totalnya berukuran 15 – 24.7 cm sebanyak 72 ekor atau sebesar 69 % dari total keseluruhan ikan yang tertangkap dan juga terdapat tangkapan dengan cara Entangled yang panjang totalnya berukuran 22.9 – 37 cm sebanyak 6 ekor atau sebesar 6 % dari total keseluruhan ikan yang tertangkap.

3. Ikan tawes yang tertangkap di overculum cenderung lebih besar dengan ukuran panjang total 24.9 – 29.7 cm dibandingkan yang tertangkap diarea jeratan B yang area jeratannya berada di antara area overculum dan tinggi maksimum dengan ukuran panjang total 15 – 24.7 cm

B. Saran

Dari hasil penelitian ini, apabila dilihat dari hasil tangkapan jaring insang

dengan mesh size 6.6cm cukup memenuhi kirteria dengan hasil tangkapan

termasuk dalam ukuran tangkap yang diperbolehkan, ikan-ikan yang berukuran

kecil dari ukuran mata jaring dapat lolos dan melanjutkan hidupnya, sehingga

dapat dipakai dalam usaha penangkapan selanjutnya. Tetapi, apablila dilihat

dari area jeratannya ikan tawes yang tertangkap lebih banyak tertangkap diarea

jeratan kedua. Hal ini tidak sesuai prinsip kerja pada gill net yang seharusnya

terjerat diarea overculum, maka perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai

area jeratan terhadap ikan tawes dengan menggunakan mesh size yang lebih

besar untuk mengetahui apakah masih ada ikan tawes berukuran besar agar

ikan-ikan yang berukuran kecil bisa lolos.

(48)

34

DAFTAR PUSTAKA

Baskoro, M.S, 2002. Metode Penangkapan Ikan. Diktat Pengajaran Kuliah Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Bogor : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. 54 hal.

Efkipano, T, D. 2012. Analisis Ikan Hasil Tangkapan Jaring Insang Millenium dan Strategi Pengelolaannya di PErairan Kabupaten Cirebon, [Tesis]. Universitas Indonesia. Jakarta.

Fyson, J. 1985. Design of Small Fishing Vessels. England. Fishing News Book.

Hall, S. J. 1999. The Effects of Fishing Marine Ecosystem and Communities. London : Blackwell Science Ltd

Hovg å rd H and Lassen H . 2000 . Manual on estimation of selectivity for gillnet and longline gears in abundance surveys . FAO Fish. Tech. Pap. 397: 84 pp

Martasuganda, S. 2002. Jaring Insang (Gill Net). Jurusan Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, Bogor : 65 hlm.

Manalu, M. 2003. Kajian Output yang Dihasilkan Operasi Penangkapan Jaring Kejer di Teluk Banten. [Skripsi] (tidak dipublikasikan). Bogor : Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Martasuganda S, 2004. Teknologi untuk Pemberdayaan Masyarakat Pesisir. Seri Alat Tangkap Ikan. Jakarta: Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia. 92 hal.

Martasuganda S. 2008. Jaring Insang (Gillnet). Edisi Revisi. Bogor: Departemen Pemanfaatan Siumberdaya Perikanan. IPB. 144 hlm

Metusalach, Kasmiati, Fahrul, Ilham Jaya. 2014. Pengaruh Cara Penangkapan, Fasilitas Penangan Dan Cara Penanganan Ikan Terhadap Kualitas Ikan Yang Dihasilkan. Jurnal Ipteks Psp, 1(1): 40-52.

Najamuddin. 2012. Buku Rancang Bangun Alat Penangkapan Ikan. Arus Timur, Makassar.

Potter, E.C.E. dan M.G. Pawson. 1991. Gill netting. Laboratory Leaflet Number 69.

Ministry of Agriculture, Fisheries and Food Directorate of Fisheries Research, Lowestoft

Purbayanto A, Akiyama S, Arimoto T, Sondita MFA. 1999. Capture process of sweeping trammel net wth special reference on operation method and catch pattern. Proceedings of the 3rd JSPS International Seminar on fisheries science in tropical Area. Tokyo: TUF International JSPS project Volume 9, p.98-103.

Sadhori, N. 1985. Teknik Penangkapan Ikan. Angkasa, Bandung. Bandung.

Sudirman, H. Achmar Mallawa. 2004. Teknik Penangkapan Ikan. Rieneka Cipta;

Jakarta.

(49)

35 Utaminingsih B, 2015. Desain dan kontruksi Gill net millennium kecamatan lembang kabupaten pinrang .Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan, Universitas Hasanuddin.

Metusalach, Kasmiati, Fahrul, Ilham Jaya. 2014. Pengaruh Cara Penangkapan, Fasilitas Penangan Dan Cara Penanganan Ikan Terhadap Kualitas Ikan Yang Dihasilkan. Jurnal Ipteks Psp, 1(1): 40-52.

Widiyanto,A.T, Pramonowibowo dan Indradi Setiyanto. 2016. Pengaruh Perbedaan Ukuran Mesh Size Dan Hanging Ratio Serta Lama Perendaman Jaring Insang (Gill Net) Terhadap Hasil Tangkapan Ikan Red Devil (Amphilophus Labiatus) Di Waduk Sermo, Kulonprogo. Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016, Hlm 19 – 26

(50)

36

LAMPIRAN

(51)

36 Lampiran 1. Data ukuran sampel ikan tawes

No Panjang Total

indeks area jerat

Tinggi Overculum

Tinggi maksimum

Lingkar overculum

lingkar maksimum

cara tertangkap

area jeratan

1 37 0.27 8.5 15.2 25 34.0 entangling

2 35.7 0.25 7.4 13.5 22 31.0 entangling

3 31 0.27 6.0 11.0 15.2 24.6 entangling

4 30 0.28 4.1 8.6 15.9 24.8 entangling

5 26.9 0.30 3.8 7.0 14.7 20.6 gilling 1

6 26.4 0.30 3.0 6.8 14 19.7 gilling 1

7 25.5 0.30 3.1 6.6 12.5 18.3 gilling 1

8 23.2 0.34 2.9 5.3 8.6 14.8 wedging 2

9 22.7 0.34 2.2 5.3 8.9 14.6 wedging 2

10 22 0.34 2.5 4.6 10.6 15.9 wedging 2

11 20.2 0.35 3.2 7.05 11 15.9 wedging 2

12 19.8 0.35 3.9 7.1 11.8 15.1 wedging 2

13 19.2 0.34 2 4.1 9.2 12.6 wedging 2

14 18.2 0.35 3.1 6.4 9.5 13.5 wedging 2

15 18 0.34 3.07 7.5 9.2 15.2 wedging 2

16 17.9 0.35 3.2 5.9 7.1 10.4 wedging 2

17 16.0 0.39 3.7 7.25 9 11.1 wedging 2

18 15 0.38 3.1 6.6 13.8 19.7 wedging 2

19 24.7 0.35 2.9 5.0 10.4 16.5 wedging 2

20 22.3 0.35 2.6 4.7 10.1 15.5 wedging 2

(52)

37

21 21.4 0.34 2.7 4.7 9.9 15.6 wedging 2

22 20.8 0.35 3.3 5.7 12.6 14.5 wedging 2

23 20.7 0.35 3.8 7.0 10.6 15.9 wedging 2

24 20.5 0.35 3.6 7.3 11.5 15.0 wedging 2

25 20.2 0.36 3.5 7.1 11.0 15.9 wedging 2

26 20 0.35 3.2 6.3 10.1 14.9 wedging 2

27 19.5 0.35 3.1 7.3 12.0 16.8 wedging 2

28 18.9 0.34 3.1 7.8 11.2 17.4 wedging 2

29 17.4 0.36 3 7.3 10.6 13.8 wedging 2

30 16.6 0.37 1.9 6.2 9.2 12.5 wedging 2

31 28.9 0.29 5.7 9.5 15.4 22.7 gilling 1

32 27.3 0.29 4 6.5 13.7 21.5 gilling 1

33 26.7 0.30 3.7 7 14.5 20.4 gilling 1

34 25.5 0.30 3.1 6.3 12.5 18.2 gilling 1

35 24.6 0.34 2.8 5.1 10.6 17.6 wedging 2

36 22.2 0.34 3.5 6.7 10 15.5 wedging 2

37 21.5 0.34 2.8 4.7 10 15.7 wedging 2

38 21.3 0.34 2.7 5.0 9.8 15.5 wedging 2

39 20.7 0.34 3.8 7.0 12.5 17.1 wedging 2

40 20.3 0.34 3.9 7.1 11.3 14.8 wedging 2

41 19.2 0.34 2.0 4.1 9.2 12.6 wedging 2

42 17.9 0.34 3.4 6 7.2 10.4 wedging 2

43 16.9 0.36 1.6 6.4 9.3 12.6 wedging 2

44 16.2 0.38 3.8 6.1 9 11.7 wedging 2

45 28.1 0.29 5.6 9 15.3 23.6 gilling 1

(53)

38

46 27.7 0.30 4.8 8.3 14.7 22.6 gilling 1

47 24.6 0.34 2.7 5.1 10.4 17.2 wedging 2

48 23.1 0.34 3.1 5.2 9.8 14.6 wedging 2

49 22.9 0.34 3.3 6.0 10.4 13.7 wedging 2

50 21.2 0.34 3.4 5.7 10.2 14.8 wedging 2

51 20.7 0.34 3.6 6.6 12.0 16.8 wedging 2

52 17.7 0.34 3 6.1 7.4 11.3 wedging 2

53 16.7 0.36 1.8 6.1 6 8.7 wedging 2

54 33.3 0.28 6.8 10.5 20.7 29.8 entangling

55 30.4 0.28 5 8.3 14.7 23.5 entangling

56 28.9 0.29 5.7 9.4 15.3 22.6 gilling 1

57 29.0 0.30 5.8 9.6 15.6 23.9 gilling 1

58 26.5 0.30 3.6 7 14.5 20.4 gilling 1

59 26.1 0.30 3.1 6.9 14.2 19.9 gilling 1

60 25.1 0.31 3.2 6.8 12.7 18.6 gilling 1

61 23.3 0.34 3.1 5.4 11.1 16.2 wedging 2

62 22.5 0.34 2.5 4.7 9.2 13.3 wedging 2

63 21.9 0.34 2.7 5.1 10.7 15.6 wedging 2

64 21.7 0.34 3.0 4.9 9.8 15.5 wedging 2

65 20.3 0.36 3.5 7.1 11.3 14.8 wedging 2

66 17.4 0.36 3.3 7.2 10.5 14.1 wedging 2

67 27.7 0.30 5 8.4 14.8 22.7 gilling 1

68 26.1 0.30 3 6.9 14.2 19.8 gilling 1

69 25.8 0.30 3 6.8 13.6 18.9 gilling 1

70 25.4 0.30 3.2 6.7 12.5 18.4 gilling 1

(54)

39

71 24.6 0.34 3 5.5 10.5 17.6 wedging 2

72 24.4 0.34 3.1 5.7 10.4 17.5 wedging 2

73 24.0 0.35 2.7 5 10.5 17.4 wedging 2

74 23.6 0.34 2.7 6.3 10.5 17.3 wedging 2

75 22.9 0.34 3 6.4 10.2 14.8 wedging 2

76 21.7 0.34 3.7 7 10 15.3 wedging 2

77 21.1 0.35 3.5 6.6 9.4 14.1 wedging 2

78 18.8 0.35 3.2 6.5 8.1 11.8 wedging 2

79 17.0 0.36 1.9 6.14 6.1 9 wedging 2

80 16.7 0.37 1.7 6.2 5.9 8.8 wedging 2

81 29.7 0.28 4 8.4 15.6 24.1 gilling 1

82 28.8 0.30 5.6 9.2 15.4 22.6 gilling 1

83 27.8 0.30 5.8 9.1 15.4 23.5 gilling 1

84 25.0 0.30 3.2 6.7 12.6 18.5 gilling 1

85 24.9 0.31 3.3 6.7 12.5 18.4 gilling 1

86 23.6 0.34 2.7 6.3 10.5 17.3 wedging 2

87 23.3 0.34 2.7 4.7 10.4 15.9 wedging 2

88 23.2 0.34 3.2 6.5 10.2 14.7 wedging 2

89 22.9 0.34 3 6.4 10.2 14.8 wedging 2

90 20.6 0.35 3.5 6.8 10.4 15.4 wedging 2

91 18.1 0.35 3.1 6.3 8 10.6 wedging 2

92 29.3 0.29 4.2 8.6 15.7 24.4 gilling 1

93 28.7 0.30 5.5 9 15.3 22.4 gilling 1

94 27.9 0.30 5.7 9 15.3 23.2 gilling 1

95 26.1 0.30 3.1 6.9 14.2 19.9 gilling 1

Referensi

Dokumen terkait