25 badan ikan 8.7 – 19.7 cm tertangkap dengan cara wedging yaitu benang jaring menjerat ikan sampai didepan sirip punggung, hal ini terjadi karena lingkar tubuh ikan kurang besar dibandingkan diameter mesh size tetapi bentuk punggungnya yang tinggi dapat menghalangi ikan menerobos jaring tersebut sehingga jaring akan menjerat pada punggungnya, untuk ikan yang memiliki panjang total 24.9cm – 29.7cm, tinggi maksimum 6.3 cm – 9.6cm dan ukuran lingkar badan ikan dengan ukuran 18.2 – 24.4 cm tertangkap dengan cara gilling dimana ikan tertangkap dengan cara posisi mata jaring mengelilingi ikan tepat dibelakang overculum , sedangkan ukuran ikan yang memiliki panjang total 30cm – 37cm, dan ukuran tinggi lingkar badan 23.5 – 34 cm tertangkap dengan cara entangling dimana posisi badan ikan terjerat disekitar sisik dan sirip ikan, ikan-ikan yang tertangkap secara entangling adalah ikan-ikan yang berkuran besar. Secara keseluruhan sebanyak 25% ikan tawes tertangkap secara Gilling, dan sebanyak 69% ikan tawes yang tertangkap wedging dan 6% ikan tawes tertangkap secara entangling.
E. Proporsi Indeks Area Jeratan terhadap panjang total hasil tangkapan
26 Berdasarkan pengukuran area jeratan ikan Tawes yang tertangkap pada alat tangkap Gill Net di Perairan Sungai Tallo, Kota Makassar memperoleh hasil ukuran seperti pada table berikut
Tabel 3. Proporsi Indeks Area Jeratan terhadap panjang total Panjang Total
(cm)
Area Jeratan (mm)
Proporsi Area Jeratan
(%) Jumlah (ekor)
15 - 20 57 - 73 34% - 39% 40
21 - 26 73 - 86 30% - 35% 49
27 - 32 80 - 87 27% - 30% 16
33 - 38 90 - 101 25% - 28% 3
Tabel diatas menunjukkan bahwa dari ukuran 15 – 20.8cm, memiliki area jeratan 57 – 73mm atau dengan kata lain memiliki potensi jeratan terhadap panjang tubuhnya antara 34% - 39%. ukuran 21 – 26.9cm, memiliki area jeratan 73 – 86mm atau dengan kata lain memiliki potensi jeratan terhadap panjang tubuhnya antara 30%
- 35%, ukuran 27.3 – 31cm, memiliki area jeratan 80 – 87mm atau dengan kata lain memiliki potensi jeratan terhadap panjang tubuhnya antara 27% - 30%, sedangkan ukuran 33.3 – 37cm, memiliki area jeratan 90 – 101mm atau dengan kata lain memiliki potensi jeratan terhadap panjang tubuhnya antara 25% - 28%. Seperti yang kita ketahui dari tabel 3 menunjukkan bahwa adanya pengaruh antara panjang total dengan area jeratan ikan, dimana semakin besar panjang total ikan maka area jeratan ikan yang tertangkap semakin kecil.
F. Prinsip tertangkapnya ikan pada gill net
Proses tertangkapnya ikan dimulai saat ikan akan menerobos jaring dan berakhir dengan terjerat pada mata jaring baik saat gilled maupun wedged. Proses terjeratnya ikan berkaitan dengan gerakan overculum ikan (system pernafasan) dan respon ikan terhadap alat tangkap yang digunakan.
27 Proses pengangkatan jaring insang
Proses pengecekan hasil tangkapan pada jaring insang
28
Hasil tangkapan ikan yang terjerat pada jaring insang
Pelepasan Hasil tangkapan Jaring insang
Kebanyakan ikan tawes yang tertangkap tidak mengalami luka yang cukup berari dibagian tubuhnya,namun rata-rata memiliki bekas jeratan pada bagian tutup insang atau keliling tubuhnya akibat lilitan benang jaring. Beberapa ikan sisiknya sedikit terkelupas pada bagian atas kepala dan terdapat luka kecil kecil dibagian tubuh maksimum.
29
V. PEMBAHASAN
A. Deskripsi Jaring Insang
Pengertian dari gill net (jaring insang), yang umunya berlaku diIndonesia adalah satu jenis alat penangkapan ikan dari bahan jaring yang bentuknya empat persegi panjang dimana mata jaring ke arah panjang atau ke arah horizontal (mesh length/ML) jauh lebih banyak daripada jumlah mata jaring ke arah viertcal atau ke arah dalam (mesh depth/MD), pada bagian atasnya dilengkapi dengan beberapa pelampung dan bagian bawahnya dilengkapi beberapa pemberat sehingga dengan adanya dua gaya yang berlawanan dapat dipasang didaerah penangkapan dalam keadaan tegak menurut Martasuganda (2002) Seperti pada gambar 8 diatas, dapat kita lihat bahwa jumlah mata jaring ke arah panjang lebih banyak dibandingkan jumlah mata jaring ke arah dalam. Menurut Supardi Ardidja (2007) Mata jaring dibentuk oleh empat buah simpul dan empat buah bar, simpul yang terletak pada arah benang disebut mesh (jika simpul diurai benang jaring tidak terputus), dan yang tegak lurus dengan arah benang disebut point (benang jaring terputus). Ukuran mata jaring (mesh size) diukur dalam keadaan mata tertutup (stretched mesh). Ukuran mata jaring (mesh size) diukur pada saat keadaan mata jaring tertutup kencang, atau saat kedua point berimpit atau ditarik kencang secukupnya.
B. Deskripsi Ikan Tawes
Ikan tawes (Barbonymus gonyonotus) merupakan ikan asli Indonesia dengan nama “putuhan atau Bander putihan”. Ikan tawes memiliki ciri-ciri bentuk badan agak panjang dan pipih dengan punggung meninggi, kepala kecil, moncong meruncing, mulut kecil terletak pada ujung ujung hidung. Seluruh badan yang dipenuhi dengan sisik. Badan berwarna keperakan agak gelap dibagian punggung. Tinggi badan ikan tawes 1 : 2.4 – 2.6 kali panjang standar
Ikan tawes umumnya hidup dilingkungan dengan air yang mengalir, namun terkadang juga bias hidup di air yang tenang. Suhu ideal untuk habitat ikan tawes berkisar antara 20-33◦c (Santoso dan Wikatma,2001). Apabila suhu terlalu rendah maka metabolism ikan semakin rendah sehingga berdampak pada rendahnya pertumbuhan ikan (suyanto, 1995 dalam Puspita 2010).
Ikan tawes juga merupakan penghuni sungai dengan arus deras. Tubuhnya yang langsing dan tinggi disiapkan untuk menghadapi kondisi alam perairan yang berarus deras. Ikan ini akan tertarik dengan suara gemercik, sehingga akan mendekati dan berkumpul disekitarnya, kemudian keluar dari permukaan air. Apabila suara gemercik air ini berada d dekat pintu pemasukan air maka ikan tawes dapat meloncat
30 mencapai saluran pemasukan air dan hanyut pada saluran pengairan (Santoso dan Wikatma, 2001). Seperti kata nelayan yang ada di sekitar sungai Tallo, Kota Makassar, ikan tawes banyak dijumpai ketika hujan, dan disaat air di sungai Tallo meninggi (saat banjir), penyataan ini dibuktikan dengan meningkatnya hasil tangkapan nelayan disekitar.
Pada gambar 11. Ukuran panjang ikan yang tertangkap rata-rata berukuran sekitar 20cm dan termasuk ikan yang sudah layak tangkap. Menurut Kriswanto dan sunyoto (1986) Ukuran umum untuk spesies ikan berbeda-beda sesuai dengan jenisnya. Ukuran umur atau sering disebut dengan common size merupakan ukuran ikan yang biasa tertangkap dan dapat dijadikan menjadi tolak ukur untuk ukuran minimum yang seharusnya ditangkap. Ukuran dibawah ukuran umum (under common size) merupakan ukuran ikan yang tidak seharusnya ditangkap supaya mendapatkan kesempatan untuk berkembang menjadi lebih besar hingga mencapai ukuran umum agar tidak merusak kelestarian sumberdaya ikan tersebut.
C. Morfometrik ikan tawes terhadap bentuk mesh size gill net
Prinsip kerja jaring insang yaitu dengan cara menghadang arah renang ikan.
Dengan penghadangan tersebut diharapkan ikan-ikan akan menerobos jaring dan terjerat (gilled) dibelakang tutup insang atau terbelit (entangled) pada tubuh jaring.
Penangkapan pada jaring insang permukaan sama dengan prinsip penangkapan pada jaring insang pada umumnya. Umumnya ikan yang tertangkap akan terjerat pada daerah sekitar operculum (gilled).
Pada gambar 18 dan gambar 19 dapat kita lihat bahwa ikan-ikan yang tertangkap di alat tangkap gill net dengna mesh size 6.6cm memiliki ukuran pada overculum dan Tinggi maksimum yang jauh berbeda dengan ikan yang lainnya, seperti yang dikatakan (santoso dan wikatma,2001) bahwa ikan tawes memiliki tinggi badan 1 :2.4 – 2.6 kali panjang standar ikan pada umumnya dengan ciri-ciri punggung meninggi ,kepala kecil dan moncong meruncing.
D. Area jeratan pada ikan tawes
Area jeratan merupakan area dari posisi terjeratnya ikan berdasarkan cara atau mekanisme tertangkapnya ikan yang diukur dari posisi snagged sampai wedged ataupun dari posisi gilled sampai wedged pada bentuk tubuh (body shape) ikan yang tertangkap.
Tabel 2 menunjukkan bahwa semakin bertambahnya indeks area jeratan maka panjang total ikan semakin kecil, sehingga panjang area jeratan berbanding terbalik dengan panjang total ikan. Menurut Hasriani (2018), bahwa faktor panjang area jeratan mempengaruhi panjang total ikan.
31 Indeks area jeratan ikan merupakan pengukuran untuk mengamati daerah jeratan ikan hasil tangkapan jaring insang permukaan. Pada gambar 21 dapat kita lihat bahwa persentase indeks area jeratan ikan tawes lebih banyak yang terjerat pada indeks area 34-67% (b) dibandingkan pada indeks area jeratan 0-33% (a), hal ini terjadi karena, lingkar tubuh ikan lebih besar dibandingkan mesh size sehingga dapat menghalangi ikan menerobos jaring terebut dan jaring akan menjerat pada area tertinggi punggungnya. Sedangkan, pada area 67-100% (c) tidak ada yang tertangkap dikarenakan tinggi maksimum ikan lebih besar dibandingkan dengan ukuran mesh size.
Berdasarkan pengukuran indeks area jeratan, maka dapat diketahui bahwa adanya keterkaitan mesh size 6.6cm terhadap ukuran ikan tawes yang tertangkap pada jaring insang permukaan
.
karena jika ukuran tinggi maksimum ikan lebih kecil dibandingkan dengan ukuran mata jaring maka ikan meloloskan diri. Seperti yang diakatan Rounsefelt dan Everhart (1960), bahwa ukuran dan jenis ikan yang tertangkap oleh gillnet bervariasi tergantung ukuran mata jaring yang digunakan. Penggunaan ukuran mata jaring tertentu ada kecenderungan hanya menangkap ikan yang mempunyai fork lenght, girth dan berat pada selang tertentu pula.E. Prinsip Proses Tertangkapnya Ikan
Hasil tangkapan ikan tawes selama penelitian yang tertangkap sebanyak 107 ekor. Pada gambar 11 dapat kita lihat bahwa gil net banyak menangkap ikan secara waedging. Pada selang kelas panjang total dibagi menjadi 5 kelas, dengan frekuensi tertinggi pada selang 20-25cm yaitu sebanyak 47 ekor.
Baranov (1999) dalam Efkipano (2012) menyatakan bahwa tertangkapnya ikan dibedakan dalam tiga cara, yaitu gilled (ikan terjerat mata jaring pada bagian operculumnya), wedged (ikan terjerat mata jaring pada bagian keliling tubuhnya) dan tangled (ikan terpuntal dijaring pada bagian gigi, maxillaria, sirip, apendik atau bagian tubuh ikan lainnya.
Kondisi tertangkapnya ikan amat bergantung pada ukuran dan pemberontakan ikan melepaskan diri dari jeratan. Pada ikan berukuran kecil dimana keliling tubuhnya lebih fleksibel terhadap keliling mata jaring, mereka dapat memasukkan kepalanya kemata jaring namun akan terjerat secara snagged atau gilled, sementara itu pada ikan berukuran sedang atau besar dengan keliling tubuh lebih besar daripada keliling mata jring, ekmungkinan terpuntal lebih besar akibat pemberontakan untuk melepaskan diri (Purbayanto et al. 1999). Seperti halnya yang terjadi pada ikan tawes yang tertangkap pada penelitian ini.
Dari hasil penelitian ikan-ikan tawes yang tertangkap rata-rata memiliki bekas jeratan bada area tubuhnya dan tutup insangnya. Hal tersebut sesuai pola pertama
32 dan kedua ikan yang tertangkap oleh Purbayango (1999), yaitu: (1) sisik ikan sedikit terkelupas pada bagian atas kepala yang etrletak didepan sirip dorsal; (2) luka kecil terbuka dan sisik ikan sedikit terkelupas pada sekleliling maksimum body girth ikan.
33
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Penelitian tentang studi area jeratan hasil tangkapan terhadap performance kinerja gill net yang beroperasi di perairan sungai Tallo, kota makassar .berdasarkan hasil dan pembahsan terhadap penelitian ini, maka dideskripsikan dua simpulan penelitian, sebagai berikut :
1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gill net dengan shortening 37 % pada mesh size 66 mm dapat menangkap ikan tawes pada tinggi overculum 16 - 85 mm dan tinggi maksimum 41 - 152 mm dengan ukuran panjang berkisar 15 – 37 cm.
2. Berdasarkan area jeratan ditemukan bahwa ikan tawes terjerat pada indeks area jerat 0 - 33% dengan kategori Gilled yang panjang totalnya berukuran 24.9– 29.7 cm sebanyak 27 ekor atau sebesar 25 % dari total keseluruhan ikan yang tertangkap. Pada indeks area jerat 34 - 66% dengan kategori wedged yang panjang totalnya berukuran 15 – 24.7 cm sebanyak 72 ekor atau sebesar 69 % dari total keseluruhan ikan yang tertangkap dan juga terdapat tangkapan dengan cara Entangled yang panjang totalnya berukuran 22.9 – 37 cm sebanyak 6 ekor atau sebesar 6 % dari total keseluruhan ikan yang tertangkap.
3. Ikan tawes yang tertangkap di overculum cenderung lebih besar dengan ukuran panjang total 24.9 – 29.7 cm dibandingkan yang tertangkap diarea jeratan B yang area jeratannya berada di antara area overculum dan tinggi maksimum dengan ukuran panjang total 15 – 24.7 cm
B. Saran
Dari hasil penelitian ini, apabila dilihat dari hasil tangkapan jaring insang
dengan mesh size 6.6cm cukup memenuhi kirteria dengan hasil tangkapan
termasuk dalam ukuran tangkap yang diperbolehkan, ikan-ikan yang berukuran
kecil dari ukuran mata jaring dapat lolos dan melanjutkan hidupnya, sehingga
dapat dipakai dalam usaha penangkapan selanjutnya. Tetapi, apablila dilihat
dari area jeratannya ikan tawes yang tertangkap lebih banyak tertangkap diarea
jeratan kedua. Hal ini tidak sesuai prinsip kerja pada gill net yang seharusnya
terjerat diarea overculum, maka perlu dilakukan penelitian lanjutan mengenai
area jeratan terhadap ikan tawes dengan menggunakan mesh size yang lebih
besar untuk mengetahui apakah masih ada ikan tawes berukuran besar agar
ikan-ikan yang berukuran kecil bisa lolos.
34
DAFTAR PUSTAKA
Baskoro, M.S, 2002. Metode Penangkapan Ikan. Diktat Pengajaran Kuliah Jurusan Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan. Bogor : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. 54 hal.
Efkipano, T, D. 2012. Analisis Ikan Hasil Tangkapan Jaring Insang Millenium dan Strategi Pengelolaannya di PErairan Kabupaten Cirebon, [Tesis]. Universitas Indonesia. Jakarta.
Fyson, J. 1985. Design of Small Fishing Vessels. England. Fishing News Book.
Hall, S. J. 1999. The Effects of Fishing Marine Ecosystem and Communities. London : Blackwell Science Ltd
Hovg å rd H and Lassen H . 2000 . Manual on estimation of selectivity for gillnet and longline gears in abundance surveys . FAO Fish. Tech. Pap. 397: 84 pp
Martasuganda, S. 2002. Jaring Insang (Gill Net). Jurusan Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor, Bogor : 65 hlm.
Manalu, M. 2003. Kajian Output yang Dihasilkan Operasi Penangkapan Jaring Kejer di Teluk Banten. [Skripsi] (tidak dipublikasikan). Bogor : Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Martasuganda S, 2004. Teknologi untuk Pemberdayaan Masyarakat Pesisir. Seri Alat Tangkap Ikan. Jakarta: Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia. 92 hal.
Martasuganda S. 2008. Jaring Insang (Gillnet). Edisi Revisi. Bogor: Departemen Pemanfaatan Siumberdaya Perikanan. IPB. 144 hlm
Metusalach, Kasmiati, Fahrul, Ilham Jaya. 2014. Pengaruh Cara Penangkapan, Fasilitas Penangan Dan Cara Penanganan Ikan Terhadap Kualitas Ikan Yang Dihasilkan. Jurnal Ipteks Psp, 1(1): 40-52.
Najamuddin. 2012. Buku Rancang Bangun Alat Penangkapan Ikan. Arus Timur, Makassar.
Potter, E.C.E. dan M.G. Pawson. 1991. Gill netting. Laboratory Leaflet Number 69.
Ministry of Agriculture, Fisheries and Food Directorate of Fisheries Research, Lowestoft
Purbayanto A, Akiyama S, Arimoto T, Sondita MFA. 1999. Capture process of sweeping trammel net wth special reference on operation method and catch pattern. Proceedings of the 3rd JSPS International Seminar on fisheries science in tropical Area. Tokyo: TUF International JSPS project Volume 9, p.98-103.
Sadhori, N. 1985. Teknik Penangkapan Ikan. Angkasa, Bandung. Bandung.
Sudirman, H. Achmar Mallawa. 2004. Teknik Penangkapan Ikan. Rieneka Cipta;
Jakarta.
35 Utaminingsih B, 2015. Desain dan kontruksi Gill net millennium kecamatan lembang kabupaten pinrang .Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan Dan Perikanan, Universitas Hasanuddin.
Metusalach, Kasmiati, Fahrul, Ilham Jaya. 2014. Pengaruh Cara Penangkapan, Fasilitas Penangan Dan Cara Penanganan Ikan Terhadap Kualitas Ikan Yang Dihasilkan. Jurnal Ipteks Psp, 1(1): 40-52.
Widiyanto,A.T, Pramonowibowo dan Indradi Setiyanto. 2016. Pengaruh Perbedaan Ukuran Mesh Size Dan Hanging Ratio Serta Lama Perendaman Jaring Insang (Gill Net) Terhadap Hasil Tangkapan Ikan Red Devil (Amphilophus Labiatus) Di Waduk Sermo, Kulonprogo. Journal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology Volume 5, Nomor 2, Tahun 2016, Hlm 19 – 26
36
LAMPIRAN
36 Lampiran 1. Data ukuran sampel ikan tawes
No Panjang Total
indeks area jerat
Tinggi Overculum
Tinggi maksimum
Lingkar overculum
lingkar maksimum
cara tertangkap
area jeratan
1 37 0.27 8.5 15.2 25 34.0 entangling
2 35.7 0.25 7.4 13.5 22 31.0 entangling
3 31 0.27 6.0 11.0 15.2 24.6 entangling
4 30 0.28 4.1 8.6 15.9 24.8 entangling
5 26.9 0.30 3.8 7.0 14.7 20.6 gilling 1
6 26.4 0.30 3.0 6.8 14 19.7 gilling 1
7 25.5 0.30 3.1 6.6 12.5 18.3 gilling 1
8 23.2 0.34 2.9 5.3 8.6 14.8 wedging 2
9 22.7 0.34 2.2 5.3 8.9 14.6 wedging 2
10 22 0.34 2.5 4.6 10.6 15.9 wedging 2
11 20.2 0.35 3.2 7.05 11 15.9 wedging 2
12 19.8 0.35 3.9 7.1 11.8 15.1 wedging 2
13 19.2 0.34 2 4.1 9.2 12.6 wedging 2
14 18.2 0.35 3.1 6.4 9.5 13.5 wedging 2
15 18 0.34 3.07 7.5 9.2 15.2 wedging 2
16 17.9 0.35 3.2 5.9 7.1 10.4 wedging 2
17 16.0 0.39 3.7 7.25 9 11.1 wedging 2
18 15 0.38 3.1 6.6 13.8 19.7 wedging 2
19 24.7 0.35 2.9 5.0 10.4 16.5 wedging 2
20 22.3 0.35 2.6 4.7 10.1 15.5 wedging 2
37
21 21.4 0.34 2.7 4.7 9.9 15.6 wedging 2
22 20.8 0.35 3.3 5.7 12.6 14.5 wedging 2
23 20.7 0.35 3.8 7.0 10.6 15.9 wedging 2
24 20.5 0.35 3.6 7.3 11.5 15.0 wedging 2
25 20.2 0.36 3.5 7.1 11.0 15.9 wedging 2
26 20 0.35 3.2 6.3 10.1 14.9 wedging 2
27 19.5 0.35 3.1 7.3 12.0 16.8 wedging 2
28 18.9 0.34 3.1 7.8 11.2 17.4 wedging 2
29 17.4 0.36 3 7.3 10.6 13.8 wedging 2
30 16.6 0.37 1.9 6.2 9.2 12.5 wedging 2
31 28.9 0.29 5.7 9.5 15.4 22.7 gilling 1
32 27.3 0.29 4 6.5 13.7 21.5 gilling 1
33 26.7 0.30 3.7 7 14.5 20.4 gilling 1
34 25.5 0.30 3.1 6.3 12.5 18.2 gilling 1
35 24.6 0.34 2.8 5.1 10.6 17.6 wedging 2
36 22.2 0.34 3.5 6.7 10 15.5 wedging 2
37 21.5 0.34 2.8 4.7 10 15.7 wedging 2
38 21.3 0.34 2.7 5.0 9.8 15.5 wedging 2
39 20.7 0.34 3.8 7.0 12.5 17.1 wedging 2
40 20.3 0.34 3.9 7.1 11.3 14.8 wedging 2
41 19.2 0.34 2.0 4.1 9.2 12.6 wedging 2
42 17.9 0.34 3.4 6 7.2 10.4 wedging 2
43 16.9 0.36 1.6 6.4 9.3 12.6 wedging 2
44 16.2 0.38 3.8 6.1 9 11.7 wedging 2
45 28.1 0.29 5.6 9 15.3 23.6 gilling 1
38
46 27.7 0.30 4.8 8.3 14.7 22.6 gilling 1
47 24.6 0.34 2.7 5.1 10.4 17.2 wedging 2
48 23.1 0.34 3.1 5.2 9.8 14.6 wedging 2
49 22.9 0.34 3.3 6.0 10.4 13.7 wedging 2
50 21.2 0.34 3.4 5.7 10.2 14.8 wedging 2
51 20.7 0.34 3.6 6.6 12.0 16.8 wedging 2
52 17.7 0.34 3 6.1 7.4 11.3 wedging 2
53 16.7 0.36 1.8 6.1 6 8.7 wedging 2
54 33.3 0.28 6.8 10.5 20.7 29.8 entangling
55 30.4 0.28 5 8.3 14.7 23.5 entangling
56 28.9 0.29 5.7 9.4 15.3 22.6 gilling 1
57 29.0 0.30 5.8 9.6 15.6 23.9 gilling 1
58 26.5 0.30 3.6 7 14.5 20.4 gilling 1
59 26.1 0.30 3.1 6.9 14.2 19.9 gilling 1
60 25.1 0.31 3.2 6.8 12.7 18.6 gilling 1
61 23.3 0.34 3.1 5.4 11.1 16.2 wedging 2
62 22.5 0.34 2.5 4.7 9.2 13.3 wedging 2
63 21.9 0.34 2.7 5.1 10.7 15.6 wedging 2
64 21.7 0.34 3.0 4.9 9.8 15.5 wedging 2
65 20.3 0.36 3.5 7.1 11.3 14.8 wedging 2
66 17.4 0.36 3.3 7.2 10.5 14.1 wedging 2
67 27.7 0.30 5 8.4 14.8 22.7 gilling 1
68 26.1 0.30 3 6.9 14.2 19.8 gilling 1
69 25.8 0.30 3 6.8 13.6 18.9 gilling 1
70 25.4 0.30 3.2 6.7 12.5 18.4 gilling 1
39
71 24.6 0.34 3 5.5 10.5 17.6 wedging 2
72 24.4 0.34 3.1 5.7 10.4 17.5 wedging 2
73 24.0 0.35 2.7 5 10.5 17.4 wedging 2
74 23.6 0.34 2.7 6.3 10.5 17.3 wedging 2
75 22.9 0.34 3 6.4 10.2 14.8 wedging 2
76 21.7 0.34 3.7 7 10 15.3 wedging 2
77 21.1 0.35 3.5 6.6 9.4 14.1 wedging 2
78 18.8 0.35 3.2 6.5 8.1 11.8 wedging 2
79 17.0 0.36 1.9 6.14 6.1 9 wedging 2
80 16.7 0.37 1.7 6.2 5.9 8.8 wedging 2
81 29.7 0.28 4 8.4 15.6 24.1 gilling 1
82 28.8 0.30 5.6 9.2 15.4 22.6 gilling 1
83 27.8 0.30 5.8 9.1 15.4 23.5 gilling 1
84 25.0 0.30 3.2 6.7 12.6 18.5 gilling 1
85 24.9 0.31 3.3 6.7 12.5 18.4 gilling 1
86 23.6 0.34 2.7 6.3 10.5 17.3 wedging 2
87 23.3 0.34 2.7 4.7 10.4 15.9 wedging 2
88 23.2 0.34 3.2 6.5 10.2 14.7 wedging 2
89 22.9 0.34 3 6.4 10.2 14.8 wedging 2
90 20.6 0.35 3.5 6.8 10.4 15.4 wedging 2
91 18.1 0.35 3.1 6.3 8 10.6 wedging 2
92 29.3 0.29 4.2 8.6 15.7 24.4 gilling 1
93 28.7 0.30 5.5 9 15.3 22.4 gilling 1
94 27.9 0.30 5.7 9 15.3 23.2 gilling 1
95 26.1 0.30 3.1 6.9 14.2 19.9 gilling 1
40
96 24.5 0.34 3.3 5.6 10.5 17.4 wedging 2
97 24.2 0.34 3.1 5.4 10.4 17.4 wedging 2
98 23.8 0.34 2.6 6 10.1 16.8 wedging 2
99 22.2 0.34 3.1 6.3 8.3 14.2 wedging 2
100 21.0 0.35 3.4 6.4 8.6 14.9 wedging 2
101 20.5 0.35 3.2 7.1 9.5 15.2 wedging 2
102 19.7 0.35 3 7.2 12.1 15.3 wedging 2
103 19.0 0.34 1.9 4.3 8.9 12.8 wedging 2
104 18.4 0.35 3.3 6 7.4 10.7 wedging 2
105 16.5 0.38 1.6 6.5 8.7 12.4 wedging 2
106 16.2 0.37 3.8 6.1 8 11.6 wedging 2
107 15.6 0.38 3.1 6.3 7 11.3 wedging 2
42 Lampiran 2. Pengukuran Sampel
Pengukuran panjang area jeratan
43 Pengukuran Tinggi overculum