1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian
Dewasa ini maupun pada masa yang akan datang, kebutuhan untuk berwisata akan terus meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dunia, serta perkembangan penduduk dunia yang semakin membutuhkan refreshing akibat dari semakin tingginya kesibukan kerja (Soebagyo; 2012).
Pariwisata itu sendiri merupakan salah satu bidang industri dengan pertumbuhan dan perkembangan yang cukup cepat di banyak negara di seluruh dunia, dan pariwisata menjadi sumber utama pendapatan asing untuk sejumlah negara-negara berkembang (Cucculelli dan Goffi; 2016). Menurut Hall (2004), bagian dari produk pariwisata yang wajib menjadi peran dalam berwisata adalah makanan dan minuman yang ada di daerah yang wisatawan kunjungi. ICTA (International Culinary Tourism Association) tahun 2009 menyatakan kegiatan makan dan minum yang unik yang dilakukan oleh setiap wisatawan yang berwisata di suatu daerah didefinisikan sebagai wisata kuliner.
Bilups (2007) mengatakan meskipun wisata kuliner bukan merupakan aktivitas wisata yang baru, semakin banyak orang yang tertarik untuk melakukan perjalanan dan kunjungan destinasi wisata untuk mencicipi produk kuliner daerah tertentu. Wisata kuliner dapat menjadi pengalaman yang tidak terlupakan dengan menghubungkan wisatawan dengan budaya lokal, lokasi, dan makanannya (Hjalager & Richards; 2002). Menurut Steward et. al (2008), makanan dapat menjadi atraksi utama untuk mengunjungi suatu daerah dan bukan berarti atraksi sekunder atau tambahan. Makanan lokal merupakan refleksi dari warisan budaya dan sosial dari suatu daerah.
Ada banyak hal yang dapat mempengaruhi keputusan pengunjung kuliner untuk berani mencoba berbagai makanan di suatu daerah. Persepsi pengunjung kuliner yang berbeda-beda mengenai citra tempat dapat mempengaruhi niat kunjungan. Selain itu, sumber informasi juga dapat mempengaruhi niat kunjungan ke destinasi (Ab Karim; 2006). Namun, wisatawan kuliner akan mencari
Hilton Worldwide, sebuah perusahaan terkemuka yang bergerak di bidang perhotelan melakukan survei terhadap 2.700 wisatawan yang berasal dari 9 negara di Asia Pasifik (Australia, China, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Singapura, dan Thailand) mengungkapkan bahwa lebih dari sepertiga atau sebanyak 36% wisatawan di Asia Pasifik menjadikan makanan dan minuman sebagai faktor penentu dalam memilih tujuan wisata. Sebanyak 33% dari wisatawan Indonesia mengatakan, bahwa makanan adalah faktor yang sangat penting dalam menentukan tujuan wisata mereka dan sementara 86% menganggap sangatlah penting untuk mencoba makanan khas lokal yang terkenal saat mereka berkunjung ke suatu tempat wisata. Hasil survei lain yang dilakukan pada wisatawan yang berasal dari Australia, China, Hongkong, Indonesia, Jepang, Korea, Malaysia, Singapura, dan Thailand menunjukkan bahwa 43% dari para responden menempatkan budget mereka untuk makanan dan minuman. Dari survei ini juga dihasilkan keputusan yang mengatakan bahwa Indonesia menjadi destinasi wisata kuliner terfavoritnya dan hasil itu didapat dari wisatawan yang berasal dari Jepang dan Korea (nationalgeographic.co.id; 2014).
Indonesia adalah negara yang diberkahi beragam sumber daya alam, suku dan etnis, budaya dan tradisi, serta keunikan-keunikan yang tidak dimiliki oleh negara lain, terutama dalam hal kuliner (Sukenti; 2014). Kuliner Indonesia memiliki daya tarik yang besar, banyak wisatawan domestik yang berlibur ke kota-kota di Indonesia hanya untuk sekedar mencicipi ragam makanan khas dari masing-masing kota, selain untuk mencicipi rasa dari makanannya, wisatawan juga dapat mencari suasana dan pelayanan yang memuaskan. Kementrian Pariwisata menyatakan bahwa bidang kuliner memberikan kontribusi kepada pendapatan negara sebesar Rp 208,6 trilliun dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 4,5%, dengan hasil ini menunjukkan bahwa kuliner Indonesia dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat (KRjogja.com; 2015)
Kementrian Pariwisata (Kemenpar) menetapkan lima kota (Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, dan Bali) sebagai destinasi wisata kuliner unggulan dan Yogyakarta adalah salah satunya. Penetapan ini dinilai berdasarkan beberapa kelayakan, yaitu produk dan daya tarik utamanya, pengemasan produk dan event,
kelayakan pelayanan, kelayakan lingkungan, kelayakan bisnis serta peran pemerintah dalam pengembangan wisata kuliner (KRjogja.com; 2015).
Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di tengah-tengah Pulau Jawa terdiri dari kota Yogyakarta yang memiliki luas 3.099 km2 dan didominasi oleh pedesaan, sedangkan populasinya sekitar 490.000 orang. Seiring dengan berkembangnya kota Yogyakarta, pada riset yang dilakukan oleh yogyakarta.bps.go.id dinyatakan bahwa wisatawan yang berkunjung ke kota Yogyakarta meningkat dari tahun ke tahun. Namun di samping itu, tercatat sebanyak dua kali jumlah kunjungan wisatawan mengalami penurunan pada tahun 2006 sebagai dampak dari gempa bumi dan tahun 2010 sebagai dampak dari erupsi Gunung Merapi. Secara umum, selama tahun 2012 jumlah kunjungan wisatawan ke kota Yogyakarta mencapai 3.536.000 orang, terdiri dari 3.398.000 wisatawan domestik dan 148.500 wisatawan asing.
(Sumber : yogyakarta.bps.go.id)
Asisten Sekretaris Daerah Bidang Administrasi Umum Pemerintah Kota Yogyakarta, Pontjosiwi mengatakan bahwa Yogyakarta memiliki potensi kuliner yang bisa dikembangkan untuk menarik minat wisatawan. Untuk mendukung meningkatkan potensi kuliner ini, kota Yogyakarta mengadakan festival dimana terdapat banyak makanan khas yang patut dicoba. Ketua Paguyuban Pariwisata
untuk melestarikan makanan tradisional agar tidak hilang dan kalah bersaing dari makanan dari luar negeri. Wisata kuliner dapat menjadi kunci yang dapat membantu pengembangan industri pariwisata di kota ini. Makanan-makanan khas kota Yogyakarta ini bisa memberikan ketertarikan tersendiri untuk wisatawan domestik maupun wisatawan asing yang berkunjung. Pemerintah kota Yogyakarta secara khusus mencetak brosur wisata kuliner dan memberikan rekomendasi lokasi wisata kuliner melalui website pariwisata.jogjakota.go.id.
Daya tarik wisata kuliner Yogyakarta adalah rasa makanannya yang enak khas Yogyakarta, cara penyajiannya yang masih tradisional dan bumbunya yang masih menggunakan hasil alam atau rempah-rempah. Berbagai jenis makanan baik makanan tradisional, khas nusantara maupun yang moderen dapat ditemui di Yogyakarta dan memiliki keunikan yang beranekaragam. Makanan manis banyak digemari dan menjadi oleh-oleh khas daerah Yogyakarta. Banyak berbagai varisai makanan khasnya yang tersaji baik didalam restoran, warung makanan maupun warung lesehan. Karena itu Yogyakarta menjadi gudangnya makanan enak sebab hampir di setiap kawasan terdapat tempat-tempat yang menyediakan atau menyajikan makanan, mulai dari pagi hari hingga dini hari. Bukan rahasia lagi kalau makanan dan jajanan Yogyakarta kini digemari banyak orang termasuk dari
luar pulau Jawa. Bahkan beberapa tempat wisata kuliner di Yogyakarta yang terkenal selalu menjadi sasaran wisatawan dalam negeri.
Wisata kuliner yang ada di Yogyakarta masih perpegang teguh kepada makanan dan minuman tradisional yang bersumber kepada Keraton Yogyakarta.
Bahkan banyak makanan dan minuman yang hilang atau ditinggalkan sesuai atau disesuaikan oleh jamannya. Dari segi pariwisata, boleh dikatakan Yogyakarta sangat terkenal dimata wisatawan. Wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta sangat banyak sekali dengan tujuan wisata yang berbeda-beda, akan tetapi berwisata kemana pun tempatnya tidak dapat lepas dari kuliner. Jadi wisata kuliner di Yogyakarta sendiri juga sangat terkenal, diminati dan diburu para wisatawan.
Prospek yang ada pada bisnis wisata kuliner sangat menjanjikan, sebagai contoh adalah seperti yang terjadi di Taman Kuliner, bila dilihat dari kunjungan yang mencapai 300 sampai 400 orang per hari dan 700 orang pada hari libur (http://pikiran-rakyat.com/index.htm). Hal ini menunjukkan indikasi perkembangan wisata kuliner yang cukup baik bila mengingat Taman Kuliner yang berdirinya baru beberapa bulan. Oleh karena itu, untuk menanggapi fenomena tersebut, perlu dibangun satu tempat untuk berwisata kuliner terpadu yang kental dengan nilai-nilai budaya dan kesenian Yogyakarta. Hal tersebut dapat terakomodasi dengan adanya Jogja Resto dan Galeri sebagai tempat bersantap sekaligus bersantai menikmati berbagai pertunjukan tradisional dan seni. Jogja Resto dan Galeri merupakan salah satu sarana untuk berwisata kuliner khas Yogyakarta sekaligus memperkenalkan sisi budaya dan karakteristik kearifan lokal yang ada di Yogyakarta.
Di Yogyakarta terdapat banyak tempat-tempat makan yang menarik untuk dikunjungi, sehingga dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Yogyakarta. Potensi wisata kuliner di Yogyakarta dapat berperan dalam pengembangan pariwisata di Yogyakarta. Serta dukungan yang baik dari pemerintah Yogyakarta terhadap pihak pengelola atau pelaku wisata kuliner dalam mengembangkan wisata kuliner.
Dalam penelitian ini dilakukan survei awal dengan melakukan teknik wawancara terhadap 20 responden wisatawan domestik. Berikut ini akan disajikan panduan wawancara dalam survei awal adalah sebagai berikut:
Tabel 1.1
Tanggapan Wisatawan Terhadap Kota Yogyakarta Sebagai Destinasi Wisata Kuliner
No Keterangan Ya Tidak
1. Apakah di Kota Yogyakarta tersedia berbagai jenis makanan khas?
75%
(15 orang)
25%
(5 orang) 2. Apakah menurut anda tempat makan di
Kota Yogyakarta memiliki suasana yang nyaman?
70%
(14 orang)
30%
(6 orang) 3. Apakah menurut anda lokasi tempat
makan di Kota Yogyakarta mudah dicapai dengan berbagai macam transportasi ?
60%
(12 orang)
40%
(8 orang)
4. Apakah menurut anda kuliner di Kota Yogyakarta memiliki kualitas gizi yang baik?
55%
(11 orang)
45%
(9 orang) 5. Apakah menurut anda Kota Yogyakarta
memberikan wisata kuliner yang berbeda?
50%
(10 orang)
50%
(10 orang)
Rata-rata total 65%
(13 orang)
35%
(7 orang)
Informasi pada tabel 1.1 menunjukkan bahwa sebagian besar wisatawan domestik mempersepsikan kota Yogyakarta sebagai destinasi wisata kuliner, hal ini dapat diketahui dari perbandingan nilai rata-rata total dari jawaban responden yang mengatakan ”Ya” dan ”Tidak” sebesar 65% : 35% atau sebanyak 13 orang responden yang memberikan jawaban ”Ya” dan 7 orang responden yang memberikan jawaban ”Tidak”.
Kim et. al (2009) menyuarakan keyakinan yang dipegang secara luas ketika mereka mengklaim bahwa “makanan adalah salah satu elemen yang paling penting dalam tujuan pilihan wisatawan dan pembuatan keputusan wisatawan”.
Alasan yang digunakan untuk melakukan perjalanan wisata kuiner pun beragam, mulai dari menghilangkan penat dan jenuh dari kegiatan sehari-hari, hingga melakukan perjalanan untuk menjaga kesehatan tubuh jasmani dan rohani. Untuk
mendukung promosi wisata kuliner kota Yogyakarta, maka layak diketahui destination image kota Yogyakarta, sebagai pernyataan Lopes (2011:305) “Brand image or destination image (in the context of tourism) because it is one of the most important elements of a tourist destination,” citra suatu tempat wisata menjadi elemen yang paling penting untuk menciptakan tujuan wisata. Melalui evaluasi destination image tersebut berguna untuk mendukung pengembangan kota Yogyakarta sebagai kota tujuan wisata kuliner. Dengan uraian-urain di atas, penulis akan melakukan penelitian mengenai pendapat wisatawan domestik terhadap kota Yogyakarta sebagai destinasi wisata kuliner dan faktor-faktor pembentuk image apa saja yang menjadikan kota Yogyakarta sebagai destinasi wisata kuliner menurut wisatawan domestik.
1.2. Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan, dapat dirumuskan beberapa permasalahan, yaitu: “Apa saja yang menjadi faktor-faktor pembentuk image kota Yogyakarta sebagai destinasi wisata kuliner menurut wisatawan domestik?”
1.3. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah yang tertera di atas, maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui bagaimana pendapat wisatawan domestik terhadap kota Yogyakarta jika dianggap sebagai destinasi wisata kuliner.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor pembentuk image kota Yogyakarta sebagai destinasi wisata kuliner menurut wisatawan domestik.
1.4. Manfaat Penelitian
Peneliti berharap penelitian ini dapat memberikan manfaat-manfaat sebagai berikut:
1. Dapat memberikan masukan dalam menyusun rencana pengembangan wisata kuliner di Yogyakarta kepada Dinas Pariwisata Yogyakarta.
1.5. Ruang Lingkup Penelitian
Untuk mempermudah penulisan penelitian ini dan agar lebih terarah serta berjalan dengan baik, maka perlu kiranya dibuat suatu batasan. Adapun ruang lingkup penelitian yang akan dibahas dalam penulisan skripsi ini, yaitu:
1. Penelitian hanya mengenai faktor-faktor pembentuk image dari obyek penelitian.
2. Obyek penelitian hanya membahas wisata kuliner di Yogyakarta.
3. Subyek penelitian dibatasi hanya untuk wisatawan domestik di atas umur 17 tahun yang pernah berkunjung ke kota Yogyakarta dan mencoba makanan khas yang ada disana.
4. Kurun waktu penelitian dilakukan dari bulan September 2015 – Juli 2016.