7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Komunikasi Interpersonal
2.1.1. Pengertian Komunikasi Interpersonal
Berbicara tentang komunikasi, tidak ada kehidupan tanpa sebuah komunikasi dan setiap manusia tidak akan bisa bertahan hidup sendiri tanpa berinteraksi dengan manusia yang lain. Orang yang terlibat di dalam setiap bentuk komunikasi secara tidak langsung saling mengirimkan lambang-lambang yang memiliki makna tertentu, baik lambang yang verbal berupa kata-kata atau nonverbal berupa gerak tubuh orang tersebut.
Judy C. Pearson dan Paul E. Nelson dalam Mulyana (2014:5) mengemukakan bahwa komunikasi mempunyai dua fungsi umum. Pertama untuk kelangsungan hidup diri sendiri yang meliputi keselamatan fisik, meningkatan kesadaran pribadi, menampilkan diri kita sendiri kepada orang lain dan mencapai ambisi pribadi.
Kedua untuk kelangsungan hidup masyarakat, tepatnya untuk memperbaiki hubungan sosial dan mengembangkan keberadaan suatu masyarakat. Dengan adanya komunikasi seseorang bisa menambah pengetahuannya dan membentuk diri menjadi seperti lingkungan dia berada. Semakin banyak seseorang berkomunikasi dengan manusia lainnya, semakin besar pula pengetahuan yang akan dia dapatkan.
Menurut pendapat Carl Hovland, Janis dan Kalley dalam buku Ilmu Komunikasi Riswandi (2009: 1) komunikasi adalah suatu proses dimana komunikator menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya (khalayak).
8 Melalui proses penyampaian pesan ini dapat dimaknai untuk menuju kearah persetujuan/ kesepakatan bersama. Dari penjelasan tersebut bisa diartikan bahwa komunikasi merupakan proses pertukaran pesan antara dua orang atau lebih. Ketika dua orang atau lebih sedang berkomunikasi, tentu saja mereka sama-sama paham akan isi pesan yang disampaikan. Sehingga isi pesan tersebut bisa terus bersambung dan terjalin komunikasi yang baik. Jika antara mereka yang sedang berkomunikasi tidak memiliki kesamaan makna tentang apa yang dikomunikasikan tersebut, maka sebuah proses komunikasi tidak akan berlangsung.
Bisa dikatakan komunikasi interpersonal merupakan suatu proses penyampaian pesan secara langsung baik itu verbal ataupun nonverbal, proses tersebut terjadi antara dua orang dan mendapatkan feedback secara langsung.
Namun terkadang dua orang yang sedang saling berinteraksi belum tentu bisa dikatakan komunikasi interpersonal, karna komunikasi interpersonal lebih mengutamakan kualitas pesan yang disampaikan daripada jumlah orang yang terlibat. Dalam mendefinisikan komunikasi interpersonal berdasarkan hubungan, komunikasi interpersonal merupakan sebuah proses komunikasi yang berlangung antara dua orang yang memiliki hubungan yang jelas. Dalam hal ini kedua orang tersebut sudah saling kenal satu sama lain, misalnya antara orang tua dan anaknya, antara perawat dan pasiennya, guru dan muridnya, ataupun antara konselor dan korban.
Alex Sobur (2014: 402) mengatakan dalam hubungan komunikasi interpersonal, komunikator dan komunikan saling bergantian fungsi. Dalam hal ini seorang konselor tidak hanya menjadi komunikator saja tetapi juga menjadi seorang
9 komunikan, proses ini terus terjadi selama proses komunikasi interpersonal antara keduanya berlangsung. Namun dalam proses ini konselor tetap menjadi komunikator utama yang memulai komunikasi dan menyampaikan pesan untuk tujuan tertentu. Kedua pihak yang berperan pada proses komunikasi ini harus bisa berupaya untuk saling meyakinkan sehingga dapat mengubah sikap lawan bicara seperti yang dikehendaki dan memudahkan saat berlangsungnya proses komunikasi tersebut.
Dapat disimpulkan bahwa komunikasi interpersonal lebih menitiberatkan pada kualitas pesan yang ada diantara orang yang terlibat. Misalnya saja ketika murid bertanya kepada gurunya, belum tentu itu merupakan komunikasi interpersonal, karna bisa saja apa yang ditanyakan tersebut merupakan pertanyaan yang juga ditanyakan oleh murid yang lainnya. Berbeda dengan ketika ada seseorang yang bercerita mengenai kekasihnya kepada sahabat, itu merupakan sebuah komunikasi interpersonal. Karena isi dari pesan yang disampaikan merupakan pesan yang dalam, maksudnya adalah pesan yang tidak mungkin sama seperti yang orang lain ceritakan pada sahabatnya juga.
2.1.2. Fungsi dan Tujuan Komunikasi Interpersonal
Fungsi dari komunikasi interpersonal adalah sebuah usaha untuk meningkatkan suatu hubungan antar manusia sehingga bisa mencegah terjadinya salah paham yang bisa menimbulkan konflik antar manusia. Intinya adalah dari sebuah komunikasi interpersonal yang ada, bisa membangun suatu hubungan yang baik sehingga bisa terciptanya kedamaian antar sesama umat manusia.
10 Ngalimun (2018:20) menuliskan bahwa fungsi lain dari komunikasi interpersonal adalah untuk mengungkapkan perhatian kepada orang lain, menemukan diri sendiri, menemukan dunia luar, membangun dan memelihara hubungan yang harmonis, memengaruhi sikap dan tingkah laku, mencari kesenangan, menghilangkan kerugian akibat salah komunikasi, dan memberikan bantuan seperti konseling.
Setiap hari manusia melakukan komunikasi karena ada tujuan yang ingin dicapai melalui pesan yang diberikan, baik yang dilakukan tersebut komunikasi interpersonal atau komunikasi lainnya. Tujuan dari komunikasi interpersonal yang dilakukan pun bisa beragam. Namun pada intinya setiap komunikasi interpersonal yang dilakukan adalah mencipatakan saling pengertian antara kedua pihak yang berkaitan.
Onong U. Effendy (2013:8) mengatakan tujuan dari komunikasi ada empat : 1. Perubahan sikap, maksudnya adalah seseorang yang menerima suatu
pesan diharapkan dapat berubah sikap menjadi lebih baik sesuai dengan isi pesan yang disampaikan.
2. Perubahan pendapat, yaitu mengubah pendapat orang lain yang sebelumnya kontra dengan apa yang disampaikan, setelah diberi pemahaman dengan komunikasi yang jelas bisa berubah dan memiliki pendapat yang sama.
3. Perubahan perilaku, merubah perilaku orang lain yang dimaksud disini adalah merubah perilaku yang buruk menjadi perilaku yang baik.
11 4. Perubahan Sosial, yaitu perubahan yang diharapkan bisa menciptakan
terjadinya perubahan dalam kehidpan bermasyarakat.
Ngalimun (2018:24) mengatakan salah satu tujuan komunikasi
yaitu menumbuhkan simpati. Simpati merupakan sikap positif yang tumbuh pada diri seseorang untuk ikut merasakan bagaimana beban atau kesedihan yang sedang dirasakan oleh orang lain. Dalam hal ini, rasa simpati perlu untuk ditumbuhkan dalam diri seorang konselor agar dapat merasakan apa yang dirasakan oleh korban.
Sehingga bisa terjalin komunikasi yang baik.
2.1.3. Efektifitas Komunikasi Interpersonal
Dalam pandangan Onong U. Effendy (1981) dalam (Sobur, 2014: 402) efektifnya komunikasi interpersonal adalah karena adanya arus balik langsung.
Dalam hal ini komunikator dapat langsung melihat dan menilai langsung tanggapan atau isi pesan dari komunikan, baik secara verbal maupun non verbal.
Komunikasi interpersonal bisa dikatakan efektif jika memenuhi tiga syarat utama, yaitu yang pertama adalah pesan yang dapat dipahami oleh komunikan sesuai dengan yang dimaksud oleh komunikator. Kedua, pesan tersebut ditindaklanjuti dengan perbuatan secara sukarela. Ketiga, meningkatkan kualitas hubungan pribadi (Ngalimun, 2018: 38).
Adapun menurut Komar (2000) dalam (Ngalimun, 2018: 38) efektifitas komunikasi interpersonal bisa dilihat melalui ciri sebagai berikut:
12 a. Keterbukaan; yaitu kemauan menanggapi dengan senang hati informasi yang
diterima di dalam menghadapi hubungan antar pribadi.
b. Empati; merasakan apa yang dirasakan orang lain. Dalam hal ini apa adalah keadaan yang terjadi pada lawan bicara.
c. Dukungan; situasi yang terbuka untuk mendukung terjadinya efektifitas di dalam komunikasi interpersonal tersebut.
d. Rasa positif; orang yang berkaitan dengan komunikasi interpersonal tersebut harus memiliki perasaan positif agar bisa mendorong orang lain lebih aktif pada proses komunikasi yang sedang berlangsung.
e. Kesetaraan; yaitu keadaan dimana kedua belah pihak saling emngahrgai, berguna, dan mempunyai sesuatu yang penting untuk disumbangkan.
Dengan demikian jika sebuah proses komunikasi yang dibangun sesuai dengan uraian diatas, maka seorang bisa menjadi komunikator yang handal karena mampu menyampaikan pesan sesuai dengan yang dituju saat menggali informasi pada komunikannya, dalam hal ini adalah korban.
Dalam hal ini jarak juga menjadi salah satu factor yang bisa membuat proses komunikasi interpersonal tersebut berjalan dengan efisien ataupun tidak. Karena ketika dua orang yang sedang melakukan komunikasi interpersonal, tentu saja mereka saling tergantung antara isi pikiran satu sama lain. Ketika ada jarak diantara mereka dimana tidak berada dalam tempat yang sama, proses pesa yang disampaikan akan gagal.
Penyampaian pesan yang baik juga menjadi faktor lainnya. Ketika komunikator menyampaikan pesannya namun tidak jelas dan diterima kominikan
13 tidak sesuai seperti maksud komunikator, maka proses komunikasi interpersonal akan berantakan. Apa yang sudah terlanjur di terima oleh komunikan tidak dapat ditarik lagi oleh komunikator, maka dari itu keahlian dalam berkomunikasi sangat diperlukan agar komunikasi interpersonal yang terjadi bisa berjalan dengan efisien.
2.1.4. Karakteristik Komunikasi Interpersonal
Proses konseling yang terjadi disini adalah proses konseling antara konselor dan korban diluar lab-lab konseling di sekolah. Saat proses konseling terjadi ada beberapa hal yang harus ditanamkan oleh seorang konselor terhadap korban.
Ngalimun (2018: 15) menuliskan komunikasi interpersonal merupakan jenis komunikasi yang frekuensi terjadinya cukup tingi dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu Judy C. Pearson dalam (Ngalimun, 2018: 16) menyebutkan terdapat enam karakteristik dari komunikasi interpersonal yang bisa kita ketahui, yaitu :
a. Komunikasi interpersonal dimulai dengan diri pribadi; yang artinya segala bentuk proses penafsiran pesan maupun penilaian mengenai orang lain berangkat dari diri sendiri.
b. Komunikasi interpersonal bersifat transaksional; hal seperti ini bisa dilihat dari kenyataan bahwa komunikasi interpersonal bersifat dinamis, yaitu pertukaran pesan terjadi secara timbal balik dan berkelanjutan.
c. Komunikasi interpersonal menyangkut aspek isi pesan dan hubungan antarpribadi; maksudnya disini adalah evektifitas komuniaksi interpersonal tidak hanya ditentukan oleh kualitas pesan saja, namun juga ditentukan oleh kadar hubungan antar individu.
14 d. Komunikasi interpersonal masyarakat adanya kedekatan fisik antara pihak-
pihak yang berkomunikasi; dengan kata lain, komuniaksi interpersonal akan lebih efektif jika antara pihak yang terlibat itu saling bertatap muka.
e. Komunikasi interpersonal menempatkan kedua belah pihak yang berkomunikasi slaing tergantung satu sama lainnya; hal ini mengartikan bahwa komunikasi interpersonal elibatkan emosi kedua pihak, sehingga terjadi saling ketergantungan emosional diantara pihak-pihak yang berkomuniaksi.
f. Komunikasi interpersonal tidak dapat diubah maupun diulang; maksudnya ketika seseorang sudah terlanjur mengucapkan sesuatu kepada orang lain, maka ucapan itu sudah tidak dapat diubah atau diulang lagi karena sudah terlanjur diterima oleh komunikan.
Mengenal karakteristik dari komunikasi interpersonal dalam proses konseling sebenarnya bukan hal yang sulit. Bisa kita lihat ketika kita sedang menilai sesuatu dalam keseharian konseli, misalnya saja ketika kita melihat orang yang tidak kita kenal lewat. Kita bisa langsung menilai fisik dari orang tersebut tanpa bertanya dahulu dengan orang yang berada di dekat kita. Selain itu ketika kita sharing dengan teman kita dan di respon dengan seimbang sehingga obrolan tersebut berlanjut.
Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, status hubungan antara komunikan dan komunikator juga menjadi salah satu karakteristik dari sebuah komunikasi interpersonal. Dalam hal ini hubungan yang terjalin antara konselor dan korban sangat berpengaruh untuk proses konseling berikutnya, dimana peran
15 dari seorang konselor sangat diperlukan. Dalam hal ini ada beberapa hal yang harus ditanamkan oleh seorang konselor, diantaranya adalah:
a. Konselor harus membuat komunikasi yang terjadi menjadi komunikasi yang timbal balik antara konselor dan korban. Dimana tidak hanya konselor yang terus menggali informasi, tetapi korban juga bisa menceritakan masalahnya diluar dari yang ditanyakan oleh seorang konselor.
b. Konselor mampu menciptakan suasana yang bebas tanpa korban merasa takut. Dalam hal ini konselor sebisa mungkin mengajak korban berkomunikasi dengan santai.
c. Konselor mampu menyampaikan motivasi kepada korban agar bisa berubah lebih baik mulai dari sikap dan perilaku sehingga bisa tumbuh rasa percaya dari diri korban.
d. Kejujuran dan keterbukaan sebagai dasar dari komunikasi yang diungkapkan.
2.1.5. Tahapan Komunikasi Interpersonal
Komunikasi yang terjadi antara dua orang atau lebih mampu mengubah hubungan yang sebelumnya ada menjadi lebih intim (dekat). Bisa dikatakan hubungan yang terjadi antara dua orang, dimana yang dimaksud disini adalah konselor dan korban telah sepakat untuk memulai hubungan dalam proses konseling yang akan terjadi.
Menurut Devito (1997:233) komunikasi interpersonal dibangun melalui sejumlah tahapan berikut:
16 a. Kontak, yaitu tahap dimana individu yang berkaitan saling mengenal partner komunikasi mereka masing-masing secara perceptual dengan
melihat gambaran fisik yang kemudian diikuti dengan tukar menukar informasi personal dengan saling berkomunikasi dan berinteraksi.
b. Keterlibatan, tahap kedua dimana individu yang berkaitan mulai menguji dan mencoba untuk belajar mengetahui partner-nya lebih jauh.
Hal ini ditandai dengan menguji perkiraan individu dengan realitas dalam diri partner dengan mulai membuka diri.
c. Keakraban, yaitu tahap ketika individu mulai memutuskan untuk berkomitmen dan menjaga hubungan yang telah dibangun. Hal ini ditandai ketika individu sudah bisa mulai jujur dan terbuka.
d. Perusakan, tahap dimana ikatan antara individu yang berkaitan melemah. Hal ini ditandai dengan munculnya ketidakpuasan terhadap hubungan yang telah dibangun dan akan terjadi ketika tahap intimacy tidak mampu dipertahankan.
e. Perbaikan, yaitu tahap ketika individu menganalisa masalah yang timbul dalam hubungan dan mencoba mencari jalan keluarnya.
f. Pemutusan, merupakan tahap ketika ikatan antar individu rusak bahkan terputus yang menandai berakhirnya hubungan tersebut.
Hubungan antara konselor dan korban yang melakukan proses konseling bisa dikatakan berada dalam tahap kontak, keterlibatan dan keakraban. Dimana pada tahap kontak konselor dan korban mulai memperkenalkan diri mereka masing- masing. Pada tahap ini masing-masing sudah mengetahun seperti apa partner
17 mereka dalam proses konseling yang akan terjadi. Setelah tahap ini dan muncul persepsi terhadap masing-masing, timbul rasa keterbukaan dimana korban pelan- pelan mulai bisa bercerita kepada konselor.
2.1.6. Unsur Utama Komunikasi Interpersonal
Dalam proses konseling yang terjadi antara konselor dan korban tentu saja terdapat unsur-unsur yang mendukung terciptanya komunikasi interpersonal yang akan terjalin antara keduanya. Ngalimun dalam (Ngalimun, 2018: 12) mengatakan unsur komunikasi interpersonal terbagi menjadi beberapa bagian:
1. Sumber, yaitu pihak yang mempunyai kebutuhan untuk menyampaikan infomasi atau komunikasinya. Dimana dalam hal ini yang berperan sebagai sumber adalah konselor.
2. Pesan, yaitu apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima.
Pesan memiliki beberapa komponen; yaitu makna, simbol, yang digunakan untuk menyampaikan makna, dan bentuk atau organisasi pesan.
3. Media, yakni alat yang membantu berlangsungnya proses komunikasi interpersonal. Media yang dimaksud disini bisa berupa suara maupun dalam bentuk tulisan.
4. Penerima, merupakan orang yang menerima pesan dari sumber. Dalam hal ini yang menjadi penerima adalah korban.
5. Efek, yakni apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan tersebut. Dalam hal ini korban yang menjadi penerima dan diharapkan
18 mendapat efek seperti misalnya penambahan pengetahuan, terhibur, perubahan sikap ataupun perubahan keyakinan.
2.2. Anak Berkebutuhan Khusus
Anak merupakan aset yang paling berharga bagi setiap orang tua. Namun tidak semua anak lahir dengan keadaan yang sama dan normal seperti manusia pada umumnya.
Anka dengan kebutuhan khusus atau biasa disingkat ABK (Anak Berkebutuhan Khusus).
Anak dengan kebutuhan khusus dengan mental illness walaupun mengalami kesulitan didalam berkomunikasi, mereka tetap bisa melakukan hal-hal seperti anak normal lainnya. Tidak sedikit juga anak berkebutuhan khusus yang bisa memiliki bakat dan prestasi yang membanggakan, hal tersebut bisa saja terjadi karena sejak kecil dirawat dan diasah kemampuannya dengan sangat baik oleh orang tuanya.
Selain lebih membutuhkan tenaga, kesabaran dan waktu lebih, untuk mendampingi anak dengan kebutuhan khusus juga diperlukan pengetahuan lebih, karena tentu saja berbeda dengan cara mendampingi anak normal pada umumnya. Dalam hal ini peran dari seorang komunikator sebagai lawan bicara dari anak berkebutuhan khusus tersebut yang menjadi kunci berhasilnya proses komunikasi tersebut. Ketik komunikator mampu menyampaikan pesan dengan tepat dan mendapat respon dari anak tersebut sesuai dengan yang diinginkan, maka proses komunikasi interpersonal yang terjadi bisa diperdalam lagi.
19 2.3. Penelitian Terdahulu
Dalam mengerjakan penelitian ini, peneliti menjadikan penelitian terdahulu yang membahas mengenai komunikasi interpersonal. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kesamaan dalam penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. Dari penelitian yang ditemukan tersebut peneliti menemukan hal-hal yang membedakan penelitian terdahulu dengan yang akan dilakukan.
Nama
Peneliti Judul Metode
Penelitian Kesimpulan Persamaan Perbedaan
Fitri Hardiy anti Anwar (92202 40 – Ilmu Komun ikasi – Univers itas Muham madiya h Malang )
Proses Komunik asi Interperso nal Seorang Ibu Dalam Pembentu kan Karakter Anak (Studi pada Wanita Karir dan Ibu Rumah Tangga di Perumaha n
Landungs ari Asri Malang)
Deskriptif - Kualitatif
Proses komunikasi interpersonal seorang Ibu dalam
pembentukan karakter anak sangat
diperlukan dalam lingkungan terkecil yaitu keluarga.
Sebagai orang tua menjadi contoh dan tauladan bagi anak,
menanamkan kedekatan dan keterbukaan pada anak serta keluarga.
Proses
komunikasi ibu yang
merupakan seorang wanita karir berbeda dengan ibu rumah tangga biasa. Ibu yang merupakan seorang wanita karir dan
Sama-sama meneliti mengenai bagaimana proses komunikasi interpersonal yang terjadi kepada seorang anak yang
membutuhka n peran orang dewasa di dalam masalahnya.
Perbedaannya terletak pada subyek penelitian dan masalah yang ingin di kaji dalam penelitian ini.
Dimana penelitian terdahulu melakukan penelitian terhadap seorang ibu dalam membentuk karakter anaknya.
Sedangkan penelitan yang akan dilakukan oleh peneliti adalah untuk mengetahui proses komunikasi dari seorang konselor yang notabenenya adalah orang lain dari korban, tetapi bias
membantu korban
menyelesaikan masalah yang terjadi.
20 Tabel 2.3 : Penelitian Terdahulu
Pada penelitian pertama milik Fitri Hardiyanti Anwar (2015) mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang berjudul “Proses Komunikasi Interpersonal
memiliki kesibukan tersendiri diluar rumah sehingga intensitas waktu anak berkurang dan relatif sedikit.
Selain itu jika orang tua sibuk, maka dapat
mempercayaka n anggota keluarga yang lain untuk mendampingi anak.
Abu Bakar Syaifudi n, Noorsha nti Sumara h, Dewi Andika Rusman a ( Jurnal Represe ntamen Vol 5 No. 01 April 2019)
Peran Komunik asi Interperso nal Konselor Dalam Penangan an Perempua n Korban Kekerasa n (Studi Di Pusat Pelayanan Terpadu Provinsi Jawa Timur)
Deskriptif – Kualitatif
Peran komunikasi interpersonal konselor Pusat Pelayanan Terpadu Jawa Timur dalam penanganan perempuan korban kekerasan sudah berjalan cukup bai
Sama-sama meneliti mengenai bagaimana seorang konselor menghadapi konseli yang merupakan seorang korban kekerasan, dimana konseli yang dihadapi mengalami trauma dan perlu untuk keluar dari rasa tidak nyaman yang terjadi.
Perbedaannya terletak pada permasalahan yang akan dikaji dan korban yang menjadi konseli. Penelitian sebelumnya mengkaji bagaimana peran seorang konselor dalam membantu wanita korban kekerasaan agar terciptaya efektivitas komunkasi interpersonal dalam proses konseling.
Sedangkan dalam penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti, peneliti ingin mengetahui bagaimana proses komunikasi interpersonal dan apa hambatan yang terjadi saat proses konseling terhadap korban yang merupakan anak berkebutuhan khusus.
21 Seorang Ibu Dalam Pembentukan Karakter Anak (Studi pada Wanita Karir dan Ibu Rumah Tangga di Perumahan Landungsari), digunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Persamaan yang ditemukan antara penelitian tersebut dan penelitian yang akan diteliti oleh peneliti adalah sama-sama ingin mengetahui bagaimana proses komunikasi interpersonal yang terjadi antara dua pihak, dimana dalam penelitian tersebut antara ibu dan anak yang membutuhkan peran orang dewasa didalam masalahnya. Peneliti juga menemukan perbedaan, yaitu yang terletak pada subyek penelitian dan masalah yang ingin dikaji dalam penelitiaan ini. Dimana pada penelitian terdahulu dilakukan penelitian terhadap seorang ibu dalam membentuk karakter anaknya. Sedangkan dalam penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah untuk mengetahui proses komunikasi dari seorang konselor yang merupakan orang lain dari korban, tetapi bisa membantu menyelesaikan masalah yang terjadi.
Kemudian pada penelitian yang kedua, terdapat penelitian dari Abu Bakar Syaifudin, Noorshanti Sumarah, dan Dewi Andika Rusmana yang berasal dari jurnal representamen Vol. 5 No. 1 – April 2019. Penelitian tersebut berjudul “Peran Komunikasi Interpersonal Konselor Dalam Penanganan Perempuan Korban Kekerasan (Studi di Pusat Pelayanan Terpadu Provinsi Jawa Timur)” dan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Persamaan yang ditemukan adalah sama-sama meneliti mengenai bagaimana seorang konselor mengahadapi keonseli yang merupakan seorang korban kekerasan, dimaana konseli yang dihadapi mengalami trauma dan perlu untuk keluar dari rasa tidak nyaman yang terjadi. Sedangkan dalam perbedaannya ditemukan terletak pada permasalahan yang akan dikaji dan korban yang menjadi konseli. Penelitian sebelumnya mengkaji bagaimana peran seorang konselor dalam membantu wanita korban kekerasan
22 agar terciptanya efektivitas komuniaksi interpersonal dalam proses konseling. Sedangkan dalam penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti, peneliti ingin mengetahui bagaimana proses komunikasi interpersonal dan apa hambatan yang terjadi saat proses konseling terhadap korban yang merupakan anak berkebutuhan khusus.