1
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat dan Waktu
Penelitian akan dilakukan di areal STIPAP (Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan) Medan. Waktu penelitian dimulai pada bulan Februari sampai dengan Juni 2020.
3.2 Desain dan Rancangan Penelitian
Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) Non Faktorial dengan pengambilan data langsung dari Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan (STIPAP) Medan.
Dengan uraian sebagai berikut : E0 : Kontrol
E1 : Aplikasi dengan konsentrasi 3% ekstrak daun kecubung E2 : Aplikasi dengan konsentrasi 6% ekstrak daun kecubung E3 : Aplikasi dengan konsentrasi 9% ekstrak daun kecubung Sehingga diperoleh :
Jumlah taraf = 4taraf
Jumlah ulangan = 5 ulangan
Total sampel = 20 sampel
Jumlah ulat per bibit = 5 ulat api Jumlah ulat api seluruhnya = 100 ulat api
Masing - masing perlakuan terhadap hama ulat api Setothosea asigna secara keseluruhan 100 ulat api Setothosea asigna. Data hasil penelitian di analisis dengan Percobaan Non Faktorial dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK), Berdasarkan model linier sebagai berikut:
Yij = µ + αi + βj + €ij
2
i = 1,2,3,4 j = 1,2,3,4 keterangan sebagai berkut :
Yij = Hasil pengamatan dari faktor pemberian ekstrak daun kecubung µ = Rataan umum
αi = Pengaruh ulangan ke-i
βj = Pengaruh konsentrasi estrak daun kecubung (Datura metel) pada taraf ke -j
€ij = Pengaruh galat pemberian ekstrak daun kecubung (Datura metel) pada taraf ke-j dan ulangan ke-i (Hanafiah, 2005).
3.3 Bahan dan Peralatan
Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah :
− Bibit kelapa sawit (Elaeis guineensis jacq)
− Daun kecubung (Datura metel)
− Ulat api (S. asigna) instar 2-3
− Air
− detergen
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah :
− Timbangan − Pisau − Paku
− Blender − Kayu − Gergaji
− Gelas ukur − Kain muslin − Martil
− Hand sprayer − Kain kassa − Kertas label
− Plank nama penelitian − Kamera − Alat tulis
3 3.4 Tahapan Penelitian
a. Persiapan Areal Penelitian
Areal yang akan digunakan dibersikan dari gulma.
b. Pembuatan Plot Penelitian
Plot penelitian dibuat dengan ukuran 1 x 1 m dan dalam setiap baris terdapat 4 plot.
C. Pembuatan Sungkup
Sungkup dibuat dari rangka kayu dengan ukuran 70cmx70cmx150cm dan dibalut dengan kain kasa yang halus.
d. Penyediaan Bibit Kelapa Sawit
Setelah pembuatan sungkup selesai, bibit dari Marihat Main Nursery yang berumur 8 bulan disusun sesuai dengan plot yang sudah ditentukan dan disiram teratur sebanyak 2 kali sehari.
e. Penyediaan Ulat Api dan Introduksi Ulat Api (Setothosea asigna) Pengambilan ulat api dilakukan di PTPN 4 kebun Marihat yang terserang.
Ulat yang diambil dikumpulkan di wadah kerdus dengan ukuran yang seragam yaitu instar 2-3, per polybag berjumlah 5 ulat/tanaman, dan jumlah total ulat api yang diperlukan adalah 100 ulat. Peletakan ulat api dilakukan pada bibit kelapa sawit. Setiap tanaman dimasukan sebanyak 5 ekor ulat api (Setothosea asigna). Peletakan dilakukan 1 hari sebelum aplikasi.
f. Pembuatan Ekstrak Daun Kecubung (Datura Metel)
Pembuatan ekstrak daun kecubung dilakukan 1 hari sebelum aplikasi. Daun kecubung yang digunakan sebanyak 1 kg yang sudah di potong kecil kecil lalu ditumbuk menggunakan alat penumbuk. Lalu daun kecubung yang dihasilkan dimasukkan ke dalam 1000 ml air ditambahkan 10 ml detergen lalu diaduk selama 5 menit dan direndam selama 24 jam. Larutan ekstrak hasil perendaman disaring menggunakan kain muslin dan diambil airnya dan
4
dijadikan sebagai larutan stok. Selanjutnya dilakukan pengenceran sesuai dengan konsentrasi perlakuan.
.
g. Aplikasi Ekstrak Daun Kecubung (Datura Metel)
Pengujian dilakukan dengan pengaplikasian ekstrak daun kecubung dengan menggunakan hand sprayer yang berisi konsentrasi perlakuan ekstrak.
Namun sebelum dilakukan pengujian kalibrasi volume semprot dilakukan untuk mengetahui larutan yang dibutuhkan setiap plot.
Hasil ekstraksi dilarutkan dengan air dengan konsentrasi 3%, 6%, 9%.
Pembuatan ekstrak dilakukan dengan Memasukkan 0,9 ml larutan induk (ekstrak 100%) ke dalam gelas ukur, lalu diencerkan dengan 29,1 ml air sehingga diperoleh konsentrasi ekstrak 3%. Hal ini dilakukan sama untuk konsentrasi 6% dan 9%. Larutan ekstrak kemudian dimasukkan dalam hand sprayer. Waktu penyemprotan dilakukan pada pagi hari pukul 09.00 WIB.
3.5 Pengamatan dan Indikator
Pengamatan parameter dilakukan setiap hari, dimulai 1 hari setelah aplikasi sampai 7 hari setelah aplikasi, parameter yang diamatin sebagai berikut:
a.Mortalitas Ulat Api (Setothosea asigna)
Mortalitas ulat api dihitung dengan menggunakan rumus oleh (Tulung, 2000) 𝑀𝑇 = 𝑏
a+b 100%
Keterangan :
MT = Persentase mortalitas total a = Jumlah ulat apiyang masih hidup b = Jumlah ulat api yang sudah mati
5 b.Intensitas Serangan S. asigna (%)
Intensitas Serangan ulat api dihitung dengan menggunakan rumus oleh (Sastrosiswojo, 1992).
𝐼 =∑(n.v)
N∗V 𝑥100%
Keterangan:
I= Intensitas serangan (%)
n = Jumlah daun/bagian tanaman dari tiap kategori serangan v = Nilai skala (0,1,2,3,4,5)
N = Nilai skala kategori serangan tertinggi (5) V = Jumlah daun atau tanaman yang diamati
Tingkat skor yang digunakan adalah : 0 = sehat
1 = sangat ringan (1-20% pelepah rusak).
2 = ringan (21-40% pelepah rusak).
3 = sedang (41-60% pelepah rusak).
4 = berat (60-80% pelepah rusak).
5 = sangat berat (80-100% pelepah rusak).
(Defitri,et al 2017)
c. Kecepatan Kematian S. asigna (%)
Kecepatan kematian menunjukkan jumlah ulat yang mati dalam satuan waktu tertentu. Kecepatan kematian dapat dihitung dengan rumus (Suntoro, 1994) 𝑉 =N1
T1+ 𝑁2
𝑇2+𝑁3
𝑇3+𝑁1
𝑇𝑛
Keterangan:
V = Kecepatan kematian T = Waktu pengamatan
N = Jumlah serangga yang mati n = Jumlah serangga yang diujikan