GOSPEL FUELED GIVING Ps. Andy S.
21 Agustus 2022 PRINSIP
1. Kekayaan ternyata memiliki "bahaya"nya tersendiri.
2. Cinta uang menghalangi kita dari keselamatan karena memicu semua potensi berbahaya dari kekayaan.
3. Kita bisa lepas dari cinta uang waktu kita menyadari dan mendapatkan cinta yang lebih berharga, yaitu cinta Tuhan.
APLIKASI
1. Cek hati kita, apakah kita cinta uang? Jika ya, akui dan minta pertolongan Tuhan agar kita terlepas dari cinta uang.
2. Kembangkan dan kelola berkat Tuhan dengan baik. Nikmati bagian yang Tuhan berikan untuk kita nikmati.
3. Terlibat dalam pekerjaan Tuhan di dunia dengan menyalurkan berkat yang Tuhan titipkan pada kita.
PERTANYAAN DISKUSI
1. Beberapa bahaya dari kekayaan antara lain dapat membuat kita merasa lebih:
berkuasa/baik/benar/diberkati/berkenan/hebat/pintar; memandang rendah/tinggi orang lain; tidak peduli Firman Tuhan.
Ceritakanlah pengalaman yang pernah Saudara alami tentang bahaya dari kekayaan tersebut.
2. Ke mana uang kita paling mudah kita berikan, di situlah hati kita berada.
Ke mana uang kita paling sulit kita berikan, itu menunjukkan hati kita tidak ada disana.
Setujukah Saudara dengan pernyataan tersebut?
Dalam hal apa Saudara paling mudah dan paling sulit dalam memberi?
3. Bagaimana caranya agar Saudara dapat semakin terlibat dalam pekerjaan Tuhan lewat berkat yang Tuhan titipkan?
RK20220821 Andy S
“Memberi/ Gospel-Fueled Giving”
https://youtu.be/ttaTuP9x240
Gospel-Fueled Giving adalah memberi yang dimotivasi karena Gospel, bukan karena motivasi ingin diberkati lebih jauh, juga bukan karena ditakut-takuti atau dijebak Pendeta; tetapi memberi karena kita betul-betul mengerti dan mengalami Gospel serta penyertaan Tuhan.
Lukas 18:18-27 Orang Kaya Sukar Masuk Kerajaan Allah
18 Ada seorang pemimpin bertanya kepada Yesus, katanya: "Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?"
19 Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja.
20 Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu dan ibumu."
21 Kata orang itu: "Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku."
22 Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: "Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."
23 Ketika orang itu mendengar perkataan itu, ia menjadi amat sedih, sebab ia sangat kaya.
24 Lalu Yesus memandang dia dan berkata: "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam Kerajaan Allah.
25 Sebab lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."
26 Dan mereka yang mendengar itu berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?"
27 Kata Yesus: "Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah."
Apakah kekayaan = penghambat keselamatan?
Tuhan seringkali memperingatkan kita tentang kekayaan/ Mamon, seakan-akan kekayaan bisa menjadi penghambat keselamatan atau menjadi penghalang bagi kita untuk mengalami Tuhan lebih lagi.
Benarkah? Apakah artinya kita tidak boleh kaya?
Tentu tidak, karena banyak tokoh Alkitab yang kaya secara materi seperti Abraham, Ayub, dan juga tokoh-tokoh di Perjanjian Baru.
Jadi mengapa kekayaan dikatakan bisa menjadi penghambat bagi keselamatan?
(ayat 19) “Memang, tidak ada yang baik selain Allah. Dan kamu bertanya kepada Alamat yang tepat, yaitu
kepadaKu, karena untuk dapat mengetahui tentang bagaimana seseorang beroleh hidup yang kekal, kamu harus bertanya kepada Allah.” Dengan kata lain Yesus hendak menegaskan bahwa, ya, Dialah Tuhan, dan Dia akan menjawab orang muda itu.
(ayat 20) Hukum Taurat berasal dari Tuhan, dan Tuhan memperhadapkan pemimpin muda yang kaya ini ini kepada
Hukum Taurat. Apakah maksud Yesus, kita bisa diselamatkan karena melakukan peraturan agama/ Hukum Taurat?
Setiap kali kita membaca Alkitab dan diperhadapkan dengan Hukum Taurat, Tuhan mau memperlihatkan bahwa ini lho standarnya Tuhan. Dan kalau kita melanggar Hukum Taurat, kita tidak bisa diselamatkan.
Tetapi sadarkah kita bahwa kita tidak bisa melakukan Hukum Taurat dengan sempurna?
“Kamu mau selamat, bagus, tetapi kamu tidak bisa kalau dengan kekuatanmu sendiri.”
(ayat 21) Tetapi walaupun pemimpin muda ini telah disadarkan bahwa dia tidak mampu, dia malah tidak tahu diri
dan menyombongkan diri dengan mengatakan bahwa semuanya telah dituruti sejak masa mudanya, bahwa selama ini dia sudah hidup baik, wow! Kita juga seringkali begitu ‘kan?
Padahal maksud Tuhan memperhadapkannya dengan Hukum Taurat, yaitu supaya orang itu rendah hati dan mengakui dengan jujur bahwa dia tidak sanggup, dia tidak akan bisa selamat dengan kekuatan sendiri.
Selain itu Tuhan juga mau mengingatkan kita bahwa akan bahaya Mamon/ uang/ kekayaan (lihat halaman berikut).
Inilah bahaya dari kekayaan, yaitu kekayaan seringkali membuat kita:
• Merasa lebih berkuasa dari yang lain
Kalau kondisi keuangan kita lebih baik dari orang lain, secara psikologis kita sering merasa lebih berkuasa. Di dalam pergaulan kita bisa menentukan banyak hal misalnya mau makan di mana, mau ngapain.
Sedangkan orang yang uangnya tidak sebanyak kita akan merasa tidak berkuasa sehingga lebih menurut.
• Merasa lebih baik dari orang lain
• Merasa lebih benar
• Merasa lebih diberkati dan berkenan pada Tuhan
Melihat orang memiliki banyak uang, kita langsung menilai orang itu diberkati. Padahal uang dan kendaraan bukan merupakan ukuran seseorang diberkati atau lebih berkenan kepada Tuhan. Bisa saja itu didapat dengan cara melanggar firman. Seringkali kita terjebak di sini. Di Perjanjian Lama pun, sekalipun raja-raja itu begitu kaya, Tuhan tetap menolak mereka. Tetapi ada janda miskin yang Tuhan hargai lebih dari raja-raja.
Saat kita merasa lebih benar dan lebih diberkati, kita merasa tidak butuh grace. Tetapi sampai kapan pun kita perlu grace, kita perlu diampuni karena sehebat-hebatnya kita, tetap banyak hal yang salah di dalam kita.
Anak muda tadi “sudah” melakukan semuanya sehingga merasa cukup baik untuk beroleh hidup kekal.
• Merasa lebih hebat
• Memandang rendah orang lain, teman, pasangan, keluarga
Kita menilai dan dinilai melalui kekayaan yang dimiliki. Kekayaan juga menentukan penerimaan orang misalnya penempatan posisi duduk. Saat seseorang merasa lebih hebat, dia akan memandang rendah orang lain.
Demikian orang yang tidak memiliki uang, dia akan merasa gagal dan minder saat bertemu temannya.
Masalah terjadi saat anak Tuhan melakukan hal yang sama. Saat kita memandang seseorang dari penampilan, merk barang, dan dari alamat rumahnya, artinya Mamon sudah mulai menguasai hati dan cara berpikir kita.
Kalau membedakan kekayaan ini dibiarkan, kita akan menjadikan itu prinsip dan value hidup kita, menentukan sikap hidup dan keputusan kita, dan kita akan menurunkannya kepada anak-cucu kita, “Kalau kamu mau jadi orang, kamu harus kaya.” Dan mereka akan merasa gagal saat dewasa tidak sesukses yang diharapkan.
Dua mobil memasuki pelataran parkir sebuah rumah makan. Mobil pertama bukan mobil mewah dan penjaga parkir mengatakan bahwa parkiran penuh. Saat mobil kedua yang mewah masuk, langsung tanda dilarang parkirnya diangkat agar mobil mewah tersebut dapat parkir.
• Merasa lebih pintar
• Menentukan sendiri apa yang benar dan apa yang salah
• Menjadi tidak peduli firman Tuhan
Karena sukses, kita merasa pintar cari uang, bahkan merasa lebih pintar dari Tuhan. Kita merasa berhak menentukan sendiri apa yang benar dan apa yang salah dan merasa bisa mengatur Tuhan.
Gereja bisa “disetir” oleh orang-orang kaya karena kekayaan dijadikan ukuran seseorang diberkati. Tetapi donatur jangan didewa-dewakan. CLCC menjaga agar hal itu tidak terjadi dengan tidak memberi tempat duduk khusus bagi donatur, bahkan ada donatur yang dilepas dari jabatan pelayanan di gereja. CLCC melakukan itu karena pertimbangan gereja ini mau dibangun di atas value bahwa Tuhan yang utama dan bukan uang. Dan hal ini baik bagi gereja, jemaat, dan donatur.
Memang terdapat potensi yang buruk di dalam kekayaan. Oleh karena itu Alkitab senantiasa mengingatkan kita akan bahaya Mamon. Potensi itu akan menjadi nyata dan betul-betul merusak hidup, cara berpikir kita, dan hubungan kita dengan Tuhan, serta menghalangi kita mengalami Tuhan lebih lagi, saat kita mulai mencintai uang.
Kita merasa tidak membutuhkan Tuhan. Ada juga orang yang tidak memiliki uang tapi sombong – tetapi baik kaya atau miskin, kita jangan menjadi keduanya melainkan menyadari bahwa kita bukan siapa-siapa tanpa Tuhan.
Jangan-jangan anak muda tadi sejak awal bertanya kepada Yesus karena ingin dipuji kalau dia sudah sempurna sehingga tidak perlu lagi pengampunan dari Tuhan. Tetapi jawaban anak muda itu menunjukkan bahwa walau semua sudah dilakukan, tetap ada kekurangan. Dan Tuhan mau menyadarkan kita bahwa kita tidak mampu, kita tidak betul-betul sudah melakukan semuanya, kita merasa layak padahal kita tidak memenuhi syarat.
“Kamu sudah melakukan semuanya?” Ternyata belum. “Kamu bilang kamu cinta Aku?” Ternyata belum juga.
(ayat 22) Alkitab berkata, jangan ada allah lain di hadapanKu. Ternyata ada, yaitu harta kita.
Anak muda tadi merasa sudah taat dan cinta Tuhan. Tetapi Tuhan memperhadapkannya dengan kenyataan bahwa dia cinta uang, “Kamu merasa sudah hebat, kamu ke gereja, tetapi uang sudah menjadi allah lain di hatimu.
Bahkan hatimu tidak ada padaKu. Ternyata kamu tidak secinta itu ‘kan sama Aku.”
Matius 6:21
Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.
Ke mana kita mudah mengeluarkan uang, di situlah hati kita berada Ke mana kita sulit mengeluarkan uang, di situ hati kita tidak berada Ke mana kita mudah mengeluarkan uang, di situ letak allah lain. Renungkanlah.
- Dua tahun lalu saya kehilangan uang yang cukup besar. Walau bisa makan dengan normal, tetapi saya tidak bisa tidur. Saya merenung, ternyata di situlah hati saya berada. Saya pikir saya tulus ternyata saya masih cinta uang. Masalah uang ke’toel sedikit saja saya sudah terganggu.
- Kadang hati kita ada di party, kita mudah mengeluarkan uang untuk pesta pora. Kita rela keluar uang untuk beli tiket konser Justin Bieber tetapi susah mengeluarkan uang untuk pekerjaan Tuhan.
- Fashion model terbaru dikejar terus, hobi sepeda sehingga seberapa mahal pun dibeli.
- Kalau terhadap anak dan keluarga kita jor-joran di dalam mengeluarkan uang.
Saat pemimpin kaya ini diajak untuk terlibat dalam pelayanan Tuhan, dia tidak mau, karena hatinya tidak ada di sana. Sedihnya, dia malah memilih meninggalkan Tuhan karena dia lebih mencintai hartanya.
- Saat dihadapkan dengan kenyataan, jangan cepat marah karena seringkali kemarahan menujukkan sesuatu yang tersembunyi di hati kita, yaitu adanya allah lain di hati kita. Cek, adakah allah lain di dalam hidup kita?
- Dan jangan pergi meninggalkan Tuhan karena hanya di dalam Tuhanlah ada harapan dan pertolongan, kita bisa diampuni dan diubah oleh Tuhan.
Dan orang lain yang ikut menonton tetapi tidak sekaya orang ini, mereka sadar bahwa mereka juga sama cinta akan uang dan tidak suka terlibat dalam pekerjaan Tuhan. Kalau itu standarnya, sampai kapan pun tidak ada satu pun dari kita yang bisa benar-benar bisa mencintai Tuhan sepenuhnya.
~ Kalau begitu, siapa yang bisa diselamatkan? Bagaimana supaya kita diselamatkan?
Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah (ayat 27).
Tuhan luar biasa, di sinilah kita bisa mendapatkan penerimaan, pertolongan, pengampunan, dan penebusan. Kita tidak mungkin selamat dengan kekuatan dan kebaikan kita sendiri, karena kebaikan dan ketaatan kita tidak sempurna, cinta kita kepada Tuhan terbatas – tetapi hal ini mungkin bagi Allah. Dia mau menebus dan mengampuni kita, dan kita dilayakkan untuk menjadi anak Allah.
Itulah sampai kapan pun kita perlu grace, kasih karunia – karena tidak ada seorang pun yang bisa selamat sekalipun dia memberikan uang sumbangan.
2 Korintus 8:9
Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.
Dan saat anak muda itu pergi, Tuhan memandang dia dengan kasih, “Susah ya melepaskan semuanya untuk Aku, tetapi Aku mau melakukan itu. Aku punya segalanya di surga tapi Aku lepaskan semuanya dan turun karena Aku mengasihi dan mencintaiMu. Aku pun tidak lahir di istana tetapi memilih kandang domba dan hidup sebagi orang sederhana yang banyak kekurangan, karena Aku perlu melepaskan semuanya supaya bisa menyelamatkan kamu.”
Setiap kali kita merenungkan firman, tempatkan diri kita seperti anak muda ini, kita tidak lebih baik dari dia.
Menjadi kaya bukan berarti kita menjadi konglomerat. Kita dijadikan kaya berarti kita dijadikan anak Allah, Raja segala raja. Itulah kekayaan yang sejati, paling tinggi yang Tuhan berikan bagi kita.
Dan menjadi kaya berarti semua rencana Tuhan ada pada kita, semua kebaikan Tuhan menjadi bagian kita, kita ditebus dari masa lalu kita, kita diampuni dari segala dosa lalu dan masa depan, diampuni dari seluruh dosa.
Kita tinggal di dunia sehingga kita terbawa-bawa oleh prinsip kekayaan dunia. Bagaimana kita dapat dilepaskan dari cinta akan uang sehingga hubungan kita dengan Tuhan tidak terhalang?
Kita baru bisa move on dari cinta lama saat kita menemukan cinta yang baru, apalagi kalau cinta itu jauh lebih baik.
Demikian pun untuk kita dapat lepas dari cinta akan uang, satu-satunya yaitu dengan mengalami cinta DARI Tuhan, (bukan cinta kepada Tuhan karena cinta kita kepada Tuhan itu terbatas) – bahwa betapa Dia tetap mencintai kita, meninggalkan surga untuk kita, tetap menebus kita. Di sinilah kita menikmati grace.
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).
Grace/ kasih karunia adalah sesuatu yang tidak layak kita terima tetapi tetap Tuhan tetap berikan.
• Saat saya menyadari grace, “Saya yang tidak bisa selamat tetapi Tuhan tetap menerima, mencintai, dan mengampuni saya.”
• Saat kita mengalami cinta dan grace dari Tuhan, iman kita dibangun makin kuat. Saya menikmati grace dan iman saya dibangun di atas dasar kasih dan pengampunan Tuhan, “Terima kasih, Engkau benar-benar menerimaku apa adanya. Ternyata saya diterima bukan karena perbuatan saya, tetapi karena Tuhan mencintai saya.”
• Dari sini lahir pertobatan, akui dan bertobat, “Ternyata cinta saya sama Tuhan tidak sehebat itu, tetapi mengapa Tuhan masih mau mengampuni saya dan mati buat saya? Jangan biarkan aku tetap seperti ini.
Bantu aku supaya tidak terus-terusan cinta uang. Buat aku mampu mencintaiMu lebih dan lebih lagi.”
Mahal harganya bagi saya untuk sebuah pertobatan harus mengalami kehilangan uang yang cukup besar dulu.
Tetapi Tuhan sudah memberi lebih besar dari itu, Dia sudah memberikan nyawaNya, darahNya untuk menebus saya. Dia tidak mau karena hal uang, saya tidak bertumbuh, sehingga Dia "toel" sebagian dari uang saya supaya saya ada pertobatan di sisi itu.
Saat kita mengalami kasih Tuhan, kita mulai tidak mencintai uang lagi, kita baru mau memberi. Dan saat kita:
Mengenali kebesaran Tuhan akan membuat kita memberi dengan rasa hormat Mengenali kasih karuniaNya akan membuat kita memberi dengan rasa syukur
- Seperti orang Majus, saat kita mengenali Siapa Bayi itu, yang adalah Raja segala raja, kita bisa memberi dengan rasa hormat.
- Dan saat kita mengenali kebaikan Tuhan atas kita, dan bahwa saya sudah diampuni dan dicintai – maka kita bisa memberi dengan rasa syukur.
Kedua-duanya harus ada di dalam hidup kita secara seimbang. Kenali Tuhan dan kebaikanNya maka kita akan memberi dengan hormat dan rasa syukur.
Bagaimana/ berapa kita harus memberi?
Perjanjian Lama mengajar kita memberi dalam 10% yang disebut perpuluhan.
Di Perjanjian Baru tidak disebutkan tentang perpuluhan, ya, tetapi Yesus menyempurnakan Hukum Taurat dengan:
Matius 22:37
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
Yang juga berarti segenap hartamu, yaitu 100% uang kita, seluruhnya milik Tuhan.
Jadi yang kita harus beri adalah antara 10-100%. Berapa yang Tuhan mau kita beri, kita masing-masing bicara sama Tuhan dan renungkan lebih lagi berapa yang Tuhan mau kita beri.
Tidak usah takut berkekurangan karena Tuhan berjanji memberkati kita. Tuhan memberkati kita bukan karena kita telah memberi tetapi Tuhan memberkati kita karena kita adalah anakNya. Karena kita diberkati makanya Tuhan ingin kita memberi.
Bagian kita adalah :
• Menerima berkat Tuhan dengan hati bersyukur.
Jangan saling iri. Kalau kita dipercaya lebih atau pun tidak dipercaya sebanyak itu, tetap bersyukur.
• Mengembangkan dan mengelola berkat Tuhan dengan baik.
Semua yang Tuhan sudah beri, buat aku bisa mengembangkan dan mengelolanya sehingga tidak bocor-bocor lagi atau habis lagi-habis lagi, atau ngutang lagi.
• Menikmati bagian yang Tuhan berikan untuk kita nikmati.
Berikan kepada keluarga kita yang menjadi bagian mereka, kepada anak kita yang memang bagiannya untuk masa depannya, nikmati juga yang menjadi bagian kita untuk me-time atau liburan kita.
• Terlibat dalam pekerjaan Bapa lewat bagian yang Tuhan titipkan kepada kita untuk kita salurkan.
Tuhan tahu menjaga kita. Tuhan bertanggung jawab memberkati kita karena kita adalah anak-anakNya. Burung di udara saja Dia pelihara, apalagi kita.
Tetapi kalau kita masih berkekurangan, kalau karena memberi perpuluhan hidup saya menjadi susah, - Berdoalah, “Tuhan, berkati aku lebih sehingga aku bisa memberkati.”
Karena 10% itu firman Tuhan. Kalau Tuhan menugaskan kita, menitipkan 10% itu untuk disalurkan, seharusnya Tuhan memberi kita kemampuan sampai kita bisa memberi 10%.
- Atau kita berkekurangan karena kita yang tidak bisa mengembangkan dan mengelolanya dengan bijak, atau karena kita terlalu menikmati sehingga bagian titipan Tuhan termakan oleh kita. Periksalah.
“Tuhan, seberapa jauh Tuhan mau saya terlibat di dalam pekerjaan Bapa?”
Kalau belum bisa memberi, katakan, “Tuhan, aku ingin menerima lebih sehingga aku bisa memberkati. Beri aku kemampuan mengembangkannya supaya tidak bocor terus. Tuhan buat aku tidak serakah sehingga bagian yang Tuhan titipkan bisa aku salurkan.”
Ke mana kita memberi?
Tuhan memberkati kita untuk kita bisa terlibat di dalam rencana Tuhan dan Tuhan bisa gerakkan kita memberi ke mana saja. Kalau kita tergerak untuk mendukung, dukunglah.
• Tapi satu yang pasti, Tuhan menempatkan kita di CLCC bukan kebetulan. Tuhan membangun CLCC dengan visi yang spesifik, dan CLCC adalah rumah kita. Kkita ada di tempat ini sebagai satu keluarga yang diberi tanggung jawab oleh Tuhan untuk mengambil bagian dari rencana Allah, sehingga visi Tuhan bisa kita jalani bersama dan digenapi. Pastikan visi dan rencana Tuhan terjadi lewat keberadaan kita di CLCC.
Jangan sibuk memberi di tempat lain tetapi rumah sendiri lupa dibenahi, dijaga, dan dikelola – karena kita mau menjadi berkat untuk kota dan generasi ini, kita memiliki tanggung jawab yang besar.
• Beberapa pelayanan yang dilakukan oleh jemaat CLCC: Bank Sampah Bersinar, Yes He Is, Setara (menyekolahkan anak yang kurang mampu), Rumah Ruth (menampung bayi yang dibuang). Dan kita sebagai tubuh Kristus bekerja sama di dalamnya.
Setiap tahun keuangan CLCC diaudit. CLCC melakukannya karena sadar kita bukan orang yang sempurna, oleh karena itu mari bantu jaga dan awasi. Dan kita pun jangan hanya melihat tetapi mari sama-sama terlibat.
Kita juga jangan sembarangan mendukung pelayanan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan keuangannya.
- Kita seringkali tidak memberi karena merasa gereja suka tidak jujur atau bermasalah. Tetapi sekalipun keuangan gereja telah dikelola dengan baik dan gembalanya pun memutuskan untuk tidak mengambil uang gaji dari gereja, ternyata masih banyak jemaat yang memilih untuk tidak memberi. Ternyata alasan sebenarnya di balik tidak mau memberi adalah : cinta akan uang. Kita memang mencintai dunia ini.
Saat Tuhan berkata, “Ayo dukung pekerjaan Tuhan.”
– respon kita: kalau bisa mah engga.. karena kita belum mencintai Tuhan segitunya.
Kiranya kita tidak mengeraskan hati seperti pemimpin muda yang kaya tadi, tapi rendahkan hati untuk mengakui bahwa kita cinta uang. “Ampuni aku, Tuhan, bantu aku berubah.”
Seharusnya di sini kita makin sadar bahwa kita tidak layak selamat.
Apakah kita bisa selamat? "Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah."
– Tuhan tetap sayang kita, Tuhan memilih untuk tetap mengampuni dan menebus dosa kita sehingga kita jadi anakNya.
Kiranya setiap hari grace, gospel ini semakin nyata di dalam hidup kita, sehingga kita bisa berbalik mencintai Dia walaupun sampai kapan pun cinta kita kepada Tuhan tidak bisa sempurna – tetapi mari kita bertumbuh di dalamnya.
Mengapa Tuhan memilih untuk mengampuni dan menyayangi saya, karena rasanya saya lebih banyak memalukan dan melukai Tuhan daripada memberi bagi Tuhan, saya lebih cinta uang dan mencintai kehidupan dunia ini daripada cinta Tuhan. Kita hanya gaya saja saat bilang cinta Tuhan, padahal Tuhan tahu kok kalau kita seperti anak muda ini.
“Aku yang cinta kamu.”
Renungkan kasih Tuhan, belajar semakin menikmati kasih Tuhan, dan belajar mencintai Tuhan serta tidak mencintai dunia. Kiranya mengalami Tuhan membuat rasa cinta kita akan uang berkurang dan kita mau terlibat dalam pekerjaan Bapa.
-oOo-
DOA Tuhan,
Berkati anak-anakMu semua.
Kami semua butuh pengampunanMu, kami tidak ada yang hebat, kami tidak ada yang pintar.
Kami bersyukur apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah.
Kami bersyukur Engkau mencintai kami, memilih mengampuni kami, dan mengasihi kami begitu rupa.
Khotbah hari ini sensitif karena menyinggung banyak allah lain di hati kami,
kami akui bahwa kami tersinggung karena kami mencintai uang dan mencintai dunia ini.
Tetapi biarlah firman Tuhan terus berbicara di hati kami, membuat kami mau bertobat di dalamnya.
Kami mengakui bahwa kami dianggap orang rohani, tapi kami tidak segitunya cinta Tuhan.
Biarlah kami bertobat dan mengagumi cinta Tuhan kepada kami, kasih Allah Allah yang tidak terbatas, tidak bersyarat.
Ajar kami memberi persembahan, karena dimotori oleh gospel,
ajar kami memberi bukan karena ada udang di balik batu atau karena ditakut-takuti, tetapi karena kami sudah diampuni dan dijadikan anak Allah.
Terima kasih Tuhan, Amin