TESIS
OLEH WIDYA 137005074/HK
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2015
PERWALIAN TERHADAP PENGURUSAN HARTA ANAK DI BAWAH UMUR
(STUDI PENETAPAN PENGADILAN AGAMA BINJAI)
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Hukum dalam Program Studi Magister Ilmu Hukum Pada
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
OLEH WIDYA 137005074/HK
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2015
JUDUL TESIS : PERWALIAN TERHADAP PENGURUSAN HARTA ANAK DI BAWAH UMUR (STUDI
PENETAPAN PENGADILAN AGAMA BINJAI)
NAMA : WIDYA
NIM : 137005074
PROGRAM STUDI : Magister Ilmu Hukum
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof. Dr. Tan Kamello, S.H, M.S) Ketua
(Dr. Rosnidar Sembiring, S.H., M.Hum) (Dr. Utary Maharany Barus, S.H., M.Hum) Anggota Anggota
Ketua Program Studi D e k a n
(Prof. Dr. Suhaidi, S.H., M.H) (Prof. Dr. Runtung, S.H., M.Hum)
Tanggal Lulus : 31 Agustus 2015
Telah diuji pada
Tanggal : 31 Agustus 2015
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Tan Kamello, S.H, M.S
Anggota : 1. Dr. Rosnidar Sembiring, S.H, M.Hum 2. Dr. Utary Maharany Barus, SH, M.Hum 3. Dr. Edy Ikhsan, SH., M.A
4. Dr. Idha Aprilyana, S.H, M.Hum
Nama : WIDYA
Nim : 137005074
Program Studi : Magister Ilmu Hukum
Judul Tesis : PERWALIAN TERHADAP PENGURUSAN HARTA ANAK DI BAWAH UMUR (STUDI PENETAPAN PENGADILAN AGAMA
BINJAI)
Dengan ini menyatakan bahwa tesis yang saya buat adalah asli karya saya sendiri bukan Plagiat, apabila dikemudian hari diketahui tesis saya tersebut Plagiat karena kesalahan saya sendiri, maka saya bersedia diberi sanksi apapun oleh Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan saya tidak akan menuntut pihak manapun atas perbuatan saya tersebut.
Demikianlah surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya dan dalam keadaan sehat.
Medan, Agustus 2015 Yang membuat Pernyataan
Nama : WIDYA
Nim : 137005074
Utary Maharany Barus4
Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, permasalahan mengenai perwalian anak merujuk pada ketentuan yang terdapat dalam Undang-Undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam, yang merupakan suatu wadah untuk menyelesaikan permasalahan hukum secara agama Islam pula. Makna perwalian dalam konteks hukum dan kajian ini adalah perwalian sebagai kewenangan untuk melaksanakan perbuatan hukum demi kepentingan, atau atas nama anak yang orang tuanya telah meninggal atau tidak mampu melakukan perbuatan hukum. Berkenaan dengan perwalian ini, terdapat penunjukan wali yang didasarkan kepada penetapan pengadilan agama bagi anak-anak dibawah umur yang termasuk pula di dalamnya wali yang diangkat atau ditunjuk oleh hakim walaupun orang tuanya masih hidup. Berdasarkan hal ini maka diperlukanlah suatu kajian hukum mengenai pengurusan harta anak yang berada dalam perwalian.
Permasalahan yang diangkat pada penelitian ini, yakni bagaimanakah kewenangan lembaga peradilan agama dalam memberikan hak perwalian terhadap pengurusan harta anak dibawah umur terkait dengan perlindungan hukum terhadap harta anak, bagaimana tanggung jawab wali yang ditunjuk oleh pengadilan agama untuk mengurus harta anak dibawah umur apabila wali tidak menjalankan kewajibannya dengan baik, dan bagaimana pertimbangan hukum yang dibuat oleh hakim dalam penetapan pengadilan agama binjai terkait dengan perwalian pengurusan harta anak dibawah umur.
Untuk menemukan jawaban dari permasalahan tersebut maka penelitian ini bersifat deskriptif analitis, maksudnya dari penelitian ini diharapkan diperoleh gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan yang akan diteliti. Analisis dimaksudkan berdasarkan gambaran, fakta yang diperoleh akan dilakukan analisis secara cermat untuk menjawab permasalahan.
Kewenangan lembaga peradilan agama dalam memberikan hak perwalian terhadap pengurusan harta anak dibawah umur terkait dengan perlindungan hukum terhadap harta anak adalah secara absolut lembaga peradilan agama mempunyai kewenangan untuk memberikan hak perwalian terhadap pengurusan harta anak di bawah umur atas permohonan dari keluarga terdekat si anak melalui penetapan perwalian pengadilan agama.
Tanggung jawab wali yang ditunjuk oleh pengadilan agama untuk mengurus harta anak dibawah umur apabila wali tidak menjalankan kewajibannya dengan baik adalah bertanggung jawab tentang harta benda anak yang berada di bawah perwaliannya serta kerugian yang ditimbulkan karena kesalahan atau kelalaiannya. Pertimbangan hukum yang
1 Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara
2 Guru Besar Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
3 Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
4 Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
kemaslahatan umat, meskipun dalam Islam telah mejelaskan bahwa, ibu, ayah ataupun saudara kandung adalah wali bagi anak atau adiknya pemohon yang masih di bawah umur.
Kata Kunci: Perwalian, Harta Anak, Pengadilan Agama
Utary Maharany Barus4
Indonesia as a country with a majority Muslim population, the problems concerning the guardianship of children refers to the provisions contained in the Marriage Act and compile Islamic law, which is a container for resolving legal issues in Islam. The meaning of the law in the context of guardianship and trusteeship is this study as the authority to carry out the legal deeds for the benefit of, or on behalf of children whose parents have died or are not able to do the deeds of the law. With regard to this trust, there is the appointment of a guardian is based on determination of the religious courts for children under the including in it the guardian appointed or designated by the judge even though her parents were still alive. Based on this then required a study of the law regarding the management of the property of the child which are in his custody.
The issue raised in this research, namely how does the religious authority of the judiciary in providing property management against guardianship children under related to legal protection of the child's property, how is the responsibility of a guardian appointed by the Court to oversee religious treasures children under in the guardian does not exercise its obligations properly, and how consideration of the law made by judges in religious courts binjai assignment related to the management of the trust property children under.
To find answers to these problems then it is descriptive analytic study, the intent of this research are expected to accrue to the description in detail and systematically about issues that will be examined. Based on the description of the intended analysis, facts are obtained will be done carefully analyses to answer the problem.
The authority of the judiciary to give guardianship of religion against the management of the property related to children under legal protection of the child's property is in absolute terms the judiciary has the authority to give religious rights of guardianship against the management of the property of minors upon petition of the closest family the child custody determination of a court through religion. The responsibility of a guardian appointed by the Court to oversee religious treasures children under in the guardian does not exercise its obligations properly is the responsibility of the child's property is under guardianship as well as losses incurred due to the fault or negligence.
Consideration of law made by judges in the determination of the custody of property management related children under IE the judge has the right judges law give consideration in accordance with the regulations and the provisions of the legislation relating to such matters. As for the consideration of the Tribunal judges who favor legal
1 Student of the Faculty of Law, University of Sumatera Utara
2 Professor of Civil Law at the Faculty of Law, University of Sumatera Utara
3 Lecturer of the Faculty of Law, University of Sumatera Utara
4 Lecturer of the Faculty of Law, University of Sumatera Utara
Assalamualaikum.Wr.Wb
Segala puji hanya bagi Allah SWT, atas segala limpahan rahmat, hidayah, dan karunia-Nya, kesehatan, kekuatan dan kemudahan yang diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan penelitian tesis ini sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan studi di program Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara, yang berjudul “Perwalian Terhadap Pengurusan Harta Anak Di Bawah Umur (Studi Penetapan Pengadilan Agama Binjai)” Sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat, dan orang-orang yang istiqomah mengikuti jejaknya hingga akhir zaman.
Terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Prof. Dr. Tan Kamello,SH.MS selaku Ketua Komisi Pembimbing yang telah memberikan ilmu, meluangkan waktu untuk memberikan masukan, bimbingan dan motivasi kepada penulis hingga tesis ini dapat diselesaikan dengan baik. Terima kasih kepada Dr. Rosnidar Sembiring, SH, M.Hum selaku dosen pembimbing kedua yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan tesis ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Dr. Utary Maharany Barus, SH, M.Hum yang dengan sabar membimbing, mengarahkan, mengoreksi tulisan penulis, dan menyediakan waktu hingga tesis ini dapat diselesaikan dengan baik. Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan Bapak/Ibu Dosen dalam bimbingan dan ilmu yang telah diberikan.
Penulis juga mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:
1. Prof. Subhilhar, PhD, selaku Pejabat Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Runtung, SH., M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
3. Prof. Suhaidi, SH., MH, selaku Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara
4. Dr. Mahmul Siregar, SH., M.Hum, selaku Sekretaris Program Studi Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara.
5. Prof. Dr. Tan Kamello, SH., M.S, selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberi masukan dan arahan selama proses penulisan tesis ini.
6. Dr. Rosnidar Sembiring, S.H., M.Hum, selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberi bimbingan hingga selesainya tesis ini.
7. Dr. Utary Maharany Barus, S.H., M.Hum, selaku Dosen pembimbing yang dengan penuh kesabaran dan ketelitian mengoreksi tesis saya ini.
8. Dr. Edy Ikhsan, SH., M.A selaku Dosen Penguji yang telah memberikan masukan dan saran yang membangun dalam penyusunan tesis ini.
9. Dr. Idha Aprilyana,SH, M.Hum selaku Dosen Penguji yang telah memberikan masukan dan saran yang membangun dalam penyusunan tesis ini
Umar dan Ibunda Ridha Valenta Yetta SE, yang telah melahirkan, mendidik dan mendo’akan setiap langkah kehidupan ananda dengan ikhlas penuh kasih sayang, serta memotivasi penulis sehingga dapat menyelesaikan pendidikan. Ucapan terima kasih dari hati setulusnya atas segala pengorbanan jiwa raga yang tiada bandingnya, semoga Allah SWT membalas kebaikan yang telah diberikan dengan sebaik-sebaik balasan. Aamin.
Terima kasih yang sebesar-besarnya buat adik-adik penulis Ade Sandrya Novanti,S.STP dan Melati Ramadhani atas dukungan dan doanya.
Terima kasih kepada Raja Rizky Ramadhan Hasibuan S.Kom, yang telah membantu dan memotivasi penulis sehingga dapat menyelesaikan pendidikan.
Terima kasih kepada sahabat-sahabat seperjuangan di program jurusan Perdata, Paralel A angkatan 2013 dan teman-teman program Magister Hukum USU angkatan 2013.
Terima kasih atas kebersamaan, dukungan dan bantuannya.
Penulisan tesis ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi teknik penulisan maupun dari segi pembahasannya, karena itu kritik dan saran dari berbagai pihak yang membangun sangat diharapkan untuk kesempurnaan pada masa yang akan datang. Semoga tesis ini bermanfaat bagi dunia pendidikan dan masyarakat luas serta mendapat keberkahan dan ridho dari Allah SWT. Semoga Allah membalas kebaikan yang diberikan dengan balasan yang lebih baik lagi. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin.
Medan, Agustus 2015
Penulis
WIDYA
Nama : Widya
Tempat/ Tanggal Lahir : Medan, 15 Februari 1992
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jalan Merak No.43 Medan
II. PENDIDIKAN FORMAL
1. SD Taman Harapan Medan : 1997 - 2003
2. SMP Negeri 7 Medan : 2003 - 2006
3. SMA Negeri 4 Medan : 2006 - 2009
4. Strata-1 Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara : 2009 - 2013 5. Strata-2 Program Magister Ilmu Hukum, Pascasarjana Universitas
Sumatera Utara : 2013 - 2015
Medan, Agustus 2015 Penulis,
Widya NIM: 137005074
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... iii
KATA PENGANTAR ... v
RIWAYAT HIDUP ... vii
DAFTAR ISI ... viii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1
B. Perumusan Masalah ... 12
C. Tujuan Penelitian ... 13
D. Manfaat Penelitian ... 14
E. Keaslian Penulisan ... 15
F. Kerangka Teori Dan Konsepsi ... 17
1. Kerangka Teori ... 17
2. Konsepsi ... 25
G. Metode Penelitian ... 28
1. Jenis dan Sifat Penelitian... 28
2. Sumber Data ... 29
3. Teknik Pengumpulan Data ... 30
4. Analisis Data ... 31
BAB II KEWENANGAN LEMBAGA PERADILAN AGAMA DALAM MEMBERIKAN HAK PERWALIAN PENGURUSAN HARTA ANAK DI BAWAH UMUR TERKAIT DENGAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HARTA ANAK A. Kewenangan Lembaga Peradilan Agama Dalam Memberikan Hak Perwalian Kepada Wali Anak ... 33
B. Prosedur Penetapan Penunjukan Wali Dan Penyerahan Tanggung Jawab Pengurusan Harta Anak Dibawah Umur Dalam Perwalian ... 42
C. Bentuk Perlindungan Hukum Yang Diberikan Pengadilan Agama Dalam Hal Pengurusan Harta Anak Dibawah Umur ... 45
1. Pengertian Perlindungan Hukum ... 45
2. Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap Pengurusan Harta Anak Di bawah Umur oleh Pengadilan Agama ... 46
BAB III TANGGUNG JAWAB WALI DALAM PRANATA HUKUM PERWALIAN ANAK DI INDONESIA A. Pengertian Perwalian Serta Para Pihak Dalam Perwalian Pengurusan Harta Anak ... 56
B. Hak dan Kewajiban Wali dalam Mengurus Diri dan Harta Anak Yang Berada Di Bawah Perwaliannya ... 63 C. Ketentuan Pengurusan Harta Warisan Orang Tua Anak Yang Berada
Dalam Perwalian ... 64 D. Tanggung Jawab Wali Anak Dalam Pengurusan Anak Dibawah Umur
Dan Pengembalian Harta Yang Berada Dalam Perwalian Kepada Anak ... 76 BAB IV PERTIMBANGAN HUKUM HAKIM DALAM MEMBERIKAN IZIN
PERWALIAN PENGURUSAN HARTA ANAK DIBAWAH UMUR KEPADA WALI BERDASARKAN PENETAPAN PENGADILAN AGAMA BINJAI
A. Perwalian Pengurusan Harta Anak Dibawah Umur Dalam Penetapan Pengadilan Agama Binjai ... 81
1. Penetapan Pengadilan Agama Binjai Nomor 21/Pdt.P/2012/PA.Bji . 81 2. Penetapan Pengadilan Agama Binjai Nomor 4/Pdt.P/2014/PA.Bji ... 92 3. Penetapan Pengadilan Agama Binjai Nomor 11/Pdt.P/2014/PA.Bji . 101 B. Analisis Pertimbangan Hukum Hakim Pada Penetapan Pengadilan Agama
Binjai Tentang Pengurusan Harta Anak ... 115 C. Kewajiban Hakim Melakukan Pengawasan Dalam Pemberian Izin
Perwalian Pengurusan Harta Anak Dibawah Umur ... 121 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan... 123 B. Saran ... 125 DAFTAR PUSTAKA ... 127
A. Latar Belakang
Anak merupakan aset bangsa, anak berperan sebagai successor suatu bangsa.
Dalam konteks Indonesia, anak adalah penerus cita-cita perjuangan suatu bangsa.
Selain itu, anak merupakan harapan orang tua, harapan bangsa dan negara yang akan melanjutkan tongkat estafet pembangunan serta mempunyai ciri atau sifat khusus yang akan menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan.
Oleh karena itu, setiap anak harus mendapatkan pembinaan sejak dini, anak perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial. Pada masa pertumbuhan anak diperlukan pengawasan terhadap anak, karena pada masa kanak-kanak merupakan periode pembentukan watak, kepribadian dan karakter diri seorang manusia, agar kehidupan mereka memiliki kekuatan dan kemampuan serta berdiri tegar dalam meniti kehidupan.1 Anak adalah mereka yang belum dewasa dan yang menjadi dewasa karena peraturan tertentu namun mental dan fisik masih belum dewasa.2
Kehidupan manusia dalam hal ini anak-anak akan tetap berlanjut menuju masa depan. Sering dijumpai anak-anak yang masih dibawah umur yang sudah tidak mempunyai orang tua kandung, baik ayah ataupun ibu. Tentunya hal ini menjadi
1 Maidin Gultom, Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dalam Sistem Peradilan Pidana Anak Di Indonesia, (Bandung: Refika Aditama, 2008), hlm. 1
2 Shanty Dellyana, Wanita Dan Anak Di Mata Hukum, (Yogyakarta: Liberty, 1988), hlm. 50
permasalahan mengenai bagaimana keberlanjutan tumbuh kembang anak tersebut, dan permasalahan pengelolaan harta peninggalan orang tua kandungnya. Dalam hal seperti ini dibutuhkanlah lembaga perwalian untuk mendukung keberlanjutan tumbuh kembang anak, mengingat sangat dibutuhkan dukungan orang dewasa dalam mengawasi tumbuh kembang anak dibawah umur.
Hukum keluarga terutama yang mengatur mengenai hukum perwalian seorang anak diatur dalam Pasal 50 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 (selanjutnya disebut UU Perkawinan) dapat ditarik suatu keadaan bahwa UU Perkawinan tidak menyebutkan untuk apa perwalian itu berlangsung. Sedangkan pengertian perwalian dari uraian singkat di atas dapat dipahami bahwa perwalian itu adalah sangat penting karena berupa pengawasan terhadap diri anak yang belum dewasa dan pengurusan benda kekayaannya. Perwalian pada umumnya berakhir apabila:
1. Anak yang berada di bawah perwalian telah dewasa.
2. Anak meninggal dunia, 3. Wali meningal dunia.
4. Wali dipecat dari perwalian.3
Ketentuan lain terdapat pula dalam Pasal 51 UU Perkawinan, yang menentukan perwalian sebagai berikut:
3 Sudarsono, Hukum Perkawinan Nasional, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm. 213-214
(1) Wali dapat ditunjuk oleh satu orang tua yang menjalankan kekuasaan orang tua, sebelum ia meninggal, dengan surat wasiat atau dengan lisan di hadapan 2 (dua) orang saksi.
(2) Wali sedapat-dapatnya diambil dari keluarga anak tersebut atau orang lain yang sudah dewasa, berpikiran sehat, adil, jujur dan berkelakuan baik.
(3) Wali wajib mengurus anak yang di bawah penguasaannya dan harta bendanya sebaik-baiknya dengan menghormati agama dan kepercayaan itu.
(4) Wali wajib membuat daftar harta benda yang berada di bawah kekuasaannya pada waktu memulai jabatannya dan mencatat semua perubahan-perubahan harta benda anak atau anak-anak itu.
(5) Wali bertanggung jawab tentang harta benda anak yang berada di bawah perwaliannya serta kerugian yang ditimbulkan karena kesalahan atau kelalaiannya.
Menurut M. Yahya Harahap perwalian anak dapat dilakukan dengan dua cara yaitu: 4
1) Perwalian dengan wasiat dimana perwalian dengan wasiat bersamaan halnya dengan testamentaire voogdij (hal ini diatur dalam Pasal 335 KUHPerdata), yaitu perwalian yang didasarkan pada tata cara yang baik oleh ibu atau bapak yang menjalankan kekuasaan orang tua (ouderlijke macht) atas anak yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, berhak mengangkat seorang wali bagi anak- anak yang berada di bawah kekuasaannya sesudah ia meninggal dunia, hal serupa diatur juga dalam Pasal 51 ayat (1) UU Perkawinan yang berbunyi wali dapat ditunjuk oleh satu orang yang menjalankan kekuasaan orang tua, sebelum ia meninggal dunia, dengan surat wasiat atau dengan lisan didepan dua orang saksi.
Yang mana saat berlakunya perwalian wasiat ini adalah pada saat sipembuat wasiat tersebut meninggal dunia.
2) Wali yang ditunjuk pengadilan dimana perwalian anak yang ditetapkan atas penunjukan oleh pengadilan dapat terjadi apabila anak-anak tidak berada dibawah kekuasaan orang tua, anak-anak tidak berada dibawah pemeliharaan wali oleh karena wali yang ditetapkan semula telah dicabut haknya disebabkan alasan-alasan sebagaimana disebut dalam Pasal 49 UU Perkawinan.
Kemungkinan orang tua telah dicabut haknya menjalankan kekuasaan orang tua sedangkan wali yang telah ditetapkan semula belum mungkin menjalankan kekuasaan perwalian karena disebabkan suatu hal (misalnya belum diketahui tempat tinggalnya, atau sedang berada diluar negeri), maka pengadilan atas kepentingan pemeliharaan anak-anak dapat menunjuk wali untuk suatu jangka
4 M. Yahya Harahap, Hukum Perkawinan Nasional, (Medan: Zahir Trading, 1975), hlm. 224
waktu tertentu menunggu wali yang telah ditetapkan itu dapat melaksanakan perwalian.5
Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk beragama Islam, permasalahan mengenai perwalian anak merujuk pada ketentuan yang terdapat dalam UU Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam (selanjutnya disebut KHI), yang merupakan suatu wadah untuk menyelesaikan permasalahan hukum secara agama Islam pula. Makna perwalian dalam konteks hukum dan kajian ini adalah perwalian sebagaimana terdapat dalam Pasal 50-54 UU Perkawinan dan Pasal 107-112 KHI, yang menyatakan bahwa perwalian adalah sebagai kewenangan untuk melaksanakan perbuatan hukum demi kepentingan, atau atas nama anak yang orang tuanya telah meninggal atau tidak mampu melakukan perbuatan hukum.
Pasal 107 KHI menyatakan bahwa:
(1) Perwalian hanya terhadap anak yang belum berumur 21 tahun dan atau belum pernah melangsungkan perkawinan.
(2) Perwalian meliputi perwalian terhadap diri dan harta kekayaan.
(3) Bila wali tidak mampu berbuat atau lalai melaksanakan tugas perwaliannya, maka Pengadilan agama dapat menunjuk salah seorang kerabat untuk bertindak sebagai wali atas permohonan kerabat tersebut, dan
(4) Wali sedapat-dapatnya diambil dari keluarga anak tersebut atau orang lain yang sudah dewasa, berpikir sehat, adil, jujur dan berkelakuan baik, atau badan hukum.
Sistem hukum Indonesia mengatur bahwa wali memiliki tanggung jawab yang bertujuan untuk memelihara akan kesejahteraan dari pada yang diperwalikan, termasuk dalam pemeliharaan harta benda yang dipertinggalkan. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam Pasal 110 KHI, yaitu:
5 Ibid., hlm. 228
(1) Wali berkewajiban mengurus diri dan harta orang yang berada di bawah perwaliannya dengan sebaik-baiknya dan berkewajiban memberikan bimbingan agama, pendidikan dan ketrampilan lainnya untuk masa depan orang yang berada dibawah perwaliannya.
(2) Wali dilarang mengikat, membebani dan mengasingkan harta orang yang berada di bawah perwaliannya, kecuali bila perbuatan tersebut menguntungkan bagi orang yang berada di bawah perwaliannya atau merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dihindari.
(3) Wali bertanggung jawab terhadap harta orang yang berada di bawah perwaliannya, dan mengganti kerugian yang timbul akibat kesalahan dan kelalainnya;
(4) Dengan tidak mengurangi ketentuan yang diatur dalam Pasal 51 ayat (4) UU Perkawinan, pertanggungjawaban wali tersebut ayat (3) harus dibuktikan dengan pembukuan yang ditutup tiap tahun sekali.
Sementara dalam Pasal 51 UU Perkawinan dalam ayat (3)-(5) dinyatakan bahwa:
(1) Wali wajib mengurus anak yang berada dibawah kekuasaannya dan harta bendanya sebaik baiknya dengan menghormati agama kepercayaan anak itu.
(2) Wali wajib membuat daftar harta benda anak yang berada dibawah kekuasaannya pada waktu memulai jabatannya dan mencatat semua perubahan-perubahan harta benda anak tersebut.
(3) Wali bertanggung jawab tentang harta benda anak yang berada di bawah perwaliannya serta kerugian yang ditimbulkan kesalahan dan kelalaiannya.
Mengenai larangan bagi wali, telah diatur di dalam Pasal 52 UU Perkawinan yang menyatakan bahwa wali tidak diperbolehkan memindahkan hak atau menggadaikan barang-barang tetap yang dimiliki anaknya yang belum berumur 18 tahun atau belum melakukan perkawinan kecuali apabila kepentingan anak itu menghendakinya. Ketentuan tersebut di atas menjadi landasan hukum yang mengikat terhadap kedudukan dan wewenangan seorang wali dalam menjaga dan atau memelihara baik jiwa dan harta anak yatim.
Pemerintah telah menjawab persoalan perwalian ini dengan membentuk lembaga peradilan agama. Dalam hukum Islam, kegiatan peradilan merupakan
kegiatan muamalah, yaitu kegiatan antara manusia dalam kehidupan bersama (manusia dengan manusia/manusia dengan masyarakat). Melaksanakan amalan (kegiatan) peradilan hukumnya adalah fardhu kifayah, harus dikerjakan oleh tiap-tiap orang dalam satu kelompok masyarakat, namun kalau sudah ada satu atau beberapa orang yang mengerjakan (melaksanakan), kewajiban telah terpenuhi. Imam Al- Mawardi menegaskan bahwa kegiatan peradilan adalah merupakan bagian pemerintah dalam rangka bernegara.6
Peradilan agama adalah salah satu dari empat lingkungan peradilan di Indonesia yang berada di bawah Mahkamah Agung yaitu peradilan umum, peradilan militer, dan peradilan tata usaha negara. Peradilan agama mengadili perkara-perkara perdata tertentu dan hanya untuk orang-orang tertentu saja. Dengan kata lain, peradilan agama hanya berwenang di bidang perdata Islam tertentu saja dan hanya untuk orang-orang Islam di Indonesia. Oleh karena itu, peradilan agama dapat disebut sebagai peradilan Islam di Indonesia, yang pelaksanaannya secara limitatif telah disesuaikan dengan keadaan di Indonesia.7
Dewasa ini telah dikeluarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan agama yang mengatur susunan, kekuasaan dan hukum acara peradilan agama. Selanjutnya undang-undang ini kemudian mengalami perubahan pada pasal- pasal tertentu untuk menyesuaikan dengan perkembangan perundang-undangan yang ada maupun dengan kebutuhan di lapangan praktis dengan keluarnya Undang-
6 Imam Al-Mawardi, Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Negara Islam, (Jakarta: Darul Falah, 2000), hlm. 122-142
7 Roihan A. Rasjid, Hukum Acara Peradilan Agama, (Jakarta: Rajawali Pers, 1991), hlm. 6
Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Peradilan Agama.8
Tugas dan kewenangan peradilan menurut Pasal 49 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama yaitu memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara perdata bidang perkawinan, kewarisan, wasiat, hibah yang dilakukan berdasarkan hukum Islam, wakaf dan sedekah. Kewenangan peradilan agama tersebut berdasar atas asas personalitas Keislaman, yaitu yang dapat ditundukkan ke dalam kekuasaan lingkungan peradilan agama hanya bagi mereka yang beragama Islam.9 Salah satu sentral dalam undang-undang ini adalah asas personalitas Keislaman. Asas personalitas Keislaman dalam bidang perdata perkawinan, meliputi seluruh golongan rakyat beragama Islam. Dengan perkataan lain, dalam hal terjadi sengketa perkawinan bagi setiap orang yang beragama Islam, kewenangan mengadilinya tunduk dan takluk pada lingkungan peradilan agama, bukan ke lingkungan peradilan umum. Jadi, luas jangkauan mengadili lingkungan peradilan agama ditinjau dari subjek pihak yang berperkara, meliputi seluruh golongan rakyat yang beragama Islam tanpa terkecuali.10
Dasar kedudukan peradilan agama tertuang dalam Pasal 24 ayat (2) Undang- Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa kekuasaan kehakiman dilakukan oleh Mahkamah Agung dan badan peradilan yang ada di bawahnya dalam lingkungan
8 Sulaikin Lubis, Wismar Ain Marzuki, Gemala Dewi, Hukum Acara Perdata Peradilan Agama Di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 2
9 Ibid., hlm. 109
10 M. Yahya Harahap, Kedudukan Kewenangan Dan Acara Peradilan Agama, Undang- Undang Nomor 7 Tahun 1989, (Jakarta: Sinar Grafika 2009), hlm. 147-148
peradilan umum, lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha negara,dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi. Pasal 2 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Peradlian Agama, dinyatakan bahwa peradilan agama merupakan salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara perdata tertentu yang diatur undang-undang.
Pengadilan agama mempunyai tugas dan kewenangan tertentu yaitu:
memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara-perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragam Islam di bidang:11
1. Perkawinan 2. Kewarisan 3. Wasiat 4. Hibah 5. Wakaf 6. Zakat 7. Infaq 8. Shodaqoh
9. Ekonomi Syari’ah
Jenis-jenis perkara yang menjadi kewenangan pengadilan agama bidang hukum perkawinan atau hukum keluarga meliputi perkara-perkara:12
a. Izin poligami beserta penetapan harta dalam perkawinan poligami.
11 Pasal 49 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Pengadilan agama sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Pengadilan agama.
12 Penjelasan Pasal 49 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Pengadilan agama sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 dan Undang- Undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Pengadilan agama.
b. Izin kawin apabila orang tua calon suami atau isteri tidak mengizinkan sementara calon suami atau istri di bawah usia 21 tahun.
c. Dispensasi kawin bagi calon suami atau istri yang beragama Islam dan belum mencapai usia 19 dan 16 tahun.
d. Penetapan wali adlol jika wali calon istri menolak menikahkannya.13 e. Permohonan pencabutan penolakan perkawinan oleh KUA.
f. Permohonan pencegahan perkawinan.
g. Pembatalan perkawinan.
h. Permohonan pengesahan nikah istbat nikah.
i. Pembatalan penolakan perkawinan campuran (perkawinan antar warga negara yang berbeda).
j. Gugatan kelalaian atas kewajiban suami isteri.
k. Cerai talak (perceraian yang diajukan suami).
l. Cerai gugat (perceraian yang diajukan isteri).
m. Thalak khuluk (perceraian yang diajukan oleh isteri dengan membayar tebusan kepada suami).
n. Li’an yaitu cerai talak atas dasar alasan isteri berzina dengan pembuktian beradu sumpah antara suami isteri.
o. Syiqaq yaitu cerai gugat atas dasar alasan perselisihan suami isteri dengan penunjukan hakam (juru damai) dari keluarga kedua belah pihak.
p. Kewajiban nafkah dan mut’ah bagi bekas isteri.
q. Gugatan harta bersama termasuk hutang untuk kepentingan keluarga.
r. Gugatan penyangkalan anak.
s. Permohonan atau gugatan pengakuan anak.
t. Gugatan hak pemeliharaan anak.
u. Gugatan nafkah anak.
v. Permohonan pencabutan kekuasaan orang tua terhadap pemeliharaan anak.
w. Permohonan perwalian.
x. Gugatan pencabutan kekuasaan wali.
y. Pembebanan kewajiban ganti kerugian atas harta benda anak yang ada dibawah kekuasannya.
z. Pengangkatan anak oleh warga negara Indonesia yang beragama Islam terhadap anak warga negara Indonesia yang beragama Islam.
Berkenaan dengan perwalian ini, terdapat penunjukan wali yang didasarkan kepada penetapan pengadilan agama bagi anak-anak dibawah umur yang beragama Islam dan termasuk pula di dalamnya wali yang diangkat atau ditunjuk oleh hakim
13 Wali adlol adalah wali yang di tunjuk untuk menggantikan wali calon mempelai (isteri) dalam perkawinan apabila wali calon mempelai (isteri) menolak untuk menikahkan si calon mempelai (wanita).
walaupun orang tuanya masih hidup, misalnya jika orang tua tidak mampu memberikan perlindungan kepada hak hidup anak yang dalam artian orang tua si anak berada dalam keadaan sakit jiwa. Jadi tidak terbatas pada perwalian yang timbul karena kematian saja, yaitu kematian dari salah satu orang tua atau kedua-duanya.
Berkenaan dengan perwalian ini, termasuk pula didalamnya wali yang diangkat atau ditunjuk oleh hakim melalui penetapan pengadilan. Khusus bagi anak yang beragama Islam maka penetapan perwaliannya dilakukan oleh Pengadilan agama dimana domisili anak tersebut berada. Dalam penelitian ini penetapan yang diambil adalah penetapan-penetapan perwalian yang dikeluarkan oleh Pengadilan Agama Binjai dimana posisi kasus dari penetapan tersebut yakni:
1. Pada Penetapan Pengadilan Agama Binjai Nomor 21/Pdt.P/2012/PA.Bji, hakim menyatakan bahwa dari keterangan pemohon dan alat-alat bukti, maka Majelis Hakim menemukan fakta-fakta sebagai berikut:
a. Pada tanggal 11 Mei 2003 MI (Pemohon) dan DM menikah di Kecamatan Binjai Selatan, Kota Binjai sesuai dengan Kutipan Akta Nikah Nomor 208/20/V/2003 tertanggal 12 Mei 2003 dan selama pernikahan antara MI dan D telah dikaruniai 2 (dua) orang anak yang bernama AD binti MI umur 8 tahun (perempuan), dan AF binti MI umur 4 tahun (perempuan).
b. DM (istri Pemohon) telah meninggal dunia pada tanggal 23 Maret 2012 sesuai dengan Surat Keterangan Kematian Nomor 470-340 tertanggal 28 Maret 2012 yang dikeluarkan oleh Lurah Rambung Dalam, sedangkan ayah kandung DM telah meninggal dunia pada tanggal 25 Juli 1985 dan ibu kandung DM telah meninggal dunia pada tanggal 20 November 2000, sehingga dengan demikian almarhumah DM telah meninggalkan ahli waris sebagai yaitu: MI bin HS, AD binti MI, AF binti MI
c. Bahwa Pemohon juga bermohon ditetapkan sebagai wali yang dapat bertindak untuk kepentingan dan atas nama anak-anak kandung dari pemohon yang masih di bawah umur dan belum dapat bertindak di depan hukum yang masing- masing bernama: AD binti MI dan AF binti MI.
d. Bahwa penetapan ahli waris ini di samping untuk melengkapi persyaratan administrasi pengambilan Sertifikat Tanah atas nama almarhumah DM di Bank Mandiri Cabang Binjai jalan Sudirman dan Bank BNI Cabang Binjai jalan Soekarno-Hatta Binjai, sekaligus untuk pengalihan hak atas harta peninggalan almarhumah DM.
2. Penetapan Pengadilan Agama Binjai Nomor 4/Pdt.P/2014/PA.Bji, hakim menyatakan bahwa dari keterangan pemohon dan alat-alat bukti, maka Majelis Hakim menemukan fakta-fakta sebagai berikut:
a. Pada tanggal 22 September 1991 Pemohon telah melangsungkan pernikah dengan AK Bin YH (Suami Pemohon) yang dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah Kantor Urusan Agama Kecamatan Binjai Utara, sesuai dengan Duplikat Kutipan Akta Nikah Nomor : 197/20/IX/1991 tanggal 28 Oktober 2010;
b. Selama pernikahan Pemohon dan suami Pemohon telah dikaruniai 3 (Tiga) orang anak yaitu anak pertama bernama AH Binti AK (perempuan) lahir pada tanggal 6 November 1992, anak kedua AM Binti AK, (perempuan) lahir pada tanggal 24 Agustus 1994, anak ketiga MK Bin AK (laki-laki) lahir pada tanggal 9 Agustus 1997.
c. Bahwa suami Pemohon (AK Bin YH) telah meninggal dunia pada tanggal 8 Oktober 2010 dikarenakan sakit, sesuai dengan Surat Keterangan yang dikeluarkan oleh Kelurahan Kebun Lada Nomor 474.3-180 tanggal 7 Maret 2012.
d. Bahwa ketiga anak Pemohon (point 2) selama ini diasuh dan tinggal bersama Pemohon selaku ibu kandung atas kedua anak tersebut.
e. Bahwa oleh karena anak kedua dan anak ketiga Pemohon (point 2) belum cakap hukum dan belum dapat bertindak didepan hukum, maka Pemohon bermohon agar dapat menjadi wali yang sah untuk kedua anak tersebut.
f. Bahwa Penetapan wali dari Pengadilan Agama Binjai ini Pemohon butuhkan selain untuk kepentingan hukum anak tersebut juga untuk melengkapai administrasi di Bank.
3. Penetapan Pengadilan Agama Binjai Nomor 11/Pdt.P/2014/PA.Bji, hakim menyatakan bahwa dari keterangan pemohon dan alat-alat bukti, maka Majelis Hakim menemukan fakta-fakta sebagai berikut:
a. Pada tanggal 7 Februari 1982 telah dilangsungkan pernikahan antara AKL (ayah kandung pemohon) dengan MN (ibu kandung pemohon), sesuai dengan
Kutipan Akta Nikah Nomor 85/30/V/1982 tertanggal 10 Mei 1982 di Kecamatan Kodya Binjai.
b. Selama masa pernikahan, AKL dengan MN telah dikaruniai 4 (empat) orang anak pertama lahir tanggal 8 Juni 1984, anak kedua lahir tanggal 18 Juni 1985, anak ketiga lahir tanggal 15 November 1991, dan anak keempat lahir tanggal 24 Mei 1995.
c. AKL telah meninggal dunia yang mana anak pada tanggal 23 Februari 2008, sedangkan MN telah meninggal dunia pada tanggal 20 Februari 2007.
d. Setelah kedua orangtua pemohon tersebut meninggal dunia, maka segala keperluan dan kebutuhan dari adik-adik pemohon menjadi tanggung jawab pemohon.
e. Oleh karena adik pemohon yang masih belum dewasa (di bawah umur 21 tahun), maka pemohon bermohon agar ditetapkan sebagai wali atas adik kandung pemohon tersebut.
f. Adapun kegunaan dari pada permohonan penetapan wali ini, disamping agar dapat bertindak untuk dan atas kepentingan hukum adik kandung pemohon tersebut, juga bertindak untuk menjadi kuasa/wali atas penjualan tanah milik almarhum AKL dan almarhumah MN yang terletak di Jalan Jenderal Gatot Subroto, No. 57, Keluraham Limau Mungkur, Kecamatan Binjai Barat, Kota Binjai.
Berdasarkan uraian di atas dapatlah dipahami kedudukan wali sangatlah penting, bukan saja pengurusan hartanya diutamakan tapi bagaimana perwalian dapat melindungi hak-hak anak dibawah umur yang lebih diutamakan, maka berdasarkan hal tersebut, penelitian ini diberi judul “Perwalian Terhadap Pengurusan Harta Anak Di Bawah Umur (Studi Penetapan Pengadilan Agama Binjai)”
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka adapun yang menjadi permasalahan pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kewenangan lembaga peradilan agama dalam memberikan hak perwalian terhadap pengurusan harta anak dibawah umur terkait dengan perlindungan hukum terhadap harta anak?
2. Bagaimana tanggung jawab wali yang ditunjuk oleh pengadilan agama untuk mengurus harta anak dibawah umur apabila wali tidak menjalankan kewajibannya dengan baik?
3. Bagaimana pertimbangan hukum yang dibuat oleh hakim dalam Penetapan Pengadilan Agama Binjai terkait dengan perwalian pengurusan harta anak dibawah umur?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dibuat sebagai tugas akhir dan merupakan sebuah karya ilmiah yang bermanfaat bagi perkembangan hukum di Indonesia khususnya hukum yang mengatur tentang perwalian di Indonesia. Sesuai perumusan masalah diatas adapun tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui dan menganalisis kewenangan lembaga peradilan agama dalam memberikan hak perwalian terhadap pengurusan harta anak dibawah umur terkait dengan perlindungan hukum terhadap harta anak.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis tanggung jawab wali yang ditunjuk oleh Pengadilan agama untuk mengurus harta anak dibawah umur apabila wali tidak menjalankan kewajibannya dengan baik.
3. Untuk mengetahui dan menganalisis pertimbangan hukum yang dibuat oleh hakim dalam Penetapan Pengadilan Agama Binjai terkait dengan perwalian pengurusan harta anak dibawah umur.
D. Manfaat Penelitian
Penelitan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baik secara teoritis kepada disiplin ilmu hukum dunia akademis yang ditekuni oleh peneliti maupun praktis kepada para praktisi hukum.
1. Manfaat yang bersifat teoritis diharapkan hasil penelitian ini dapat menyumbangkan pemikiran dibidang hukum yang akan mengembangkan disiplin ilmu hukum dan pengembangan ilmu di dunia akademisi. hasil penelitian ini nantinya diharapkan memberikan jalan keluar yang akurat terhadap permasalahan yang diteliti dan disamping itu peneltian ini dapat mengungkapkan teori-teori baru serta pengembangan teori-teori yang sudah ada.14
2. Manfaat yang bersifat praktis diharapkan juga agar penelitian ini dapat menjadi bahan masukan bagi masyarakat dan para pihak yang berperan serta yang diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan perannya dalam memberikan perlindungan dan kepastian hukum kepada hak-hak anak dibawah umur yang berada dalam pengurusan atau pengasuhan orang tua wali mengingat faktor pengawasan internal dan eksternal sangat dibutuhkan dalam mengawasi perkembangan anak. Manfaat penelitian ini juga diharapkan berguna bagi:
14 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 1986), hlm. 106
1) Pemerintah untuk membuat regulasi peraturan perundang-undangan mengenai perwalian yang lebih baik juga mengawasi setiap pelaksanaan perwalian.
2) Lembaga peradilan agama sebagai upaya untuk meningkatkan perlindungan bagi anak dibawah umur yang berada dibawah perwalian, dimana peradilan agama adalah lembaga yang mempunyai kewenangan untuk memberikan hak perwalian kepada orang tua wali.
3) Masyarakat untuk pedoman dalam setiap pelaksanaan perwalian anak dibawah umur, selain itu peran masyarakat juga sebagai pengawas lingkungan bagi anak-anak dibawah umur yang berada dalam perwalian.
E. Keaslian Penelitian
Penelitian yang berjudul “Perwalian Terhadap Pengurusan Harta Anak Di Bawah Umur (Studi Penetapan Pengadilan Agama Binjai)” merupakan hasil pemikiran sendiri. Penelitian ini menurut sepengetahuan, belum pernah ada yang membuat, kalaupun ada seperti beberapa judul penelitian yang diuraikan di bawah ini dapat diyakinkan bahwa substansi pembahasannya berbeda, dengan demikian keaslian penelitian ini dapat dipertanggung jawabkan secara moral dan ilmiah.
Pengujian tentang kesamaan dan keaslian judul yang diangkat di perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara khususnya di lingkungan magister kenotariatan dan magister ilmu hukum juga telah dilakukan dan dilewati, namun ada beberapa penelitian tesis yang memiliki kemiripan dengan judul yang diangkat, antara lain:
1. Nama : Yudhi Marza Harca Nim : 107001113
Tahun : 2012
Judul : Tinjauan Yuridis Pelaksanaan Perwalian Terhadap Anak Dibawah Umur Pasca Tsunami Di Aceh (Studi Di Banda Aceh)
Rumusan Masalah:
1) Bagaimana Hukum Perwalian Anak Yang Tidak Ada Orang Tuanya?
2) Bagaimana Pelaksanaan Perwalian Anak Dibawah Umur Yang Tidak Ada Lagi Orang Tuanya Di Banda Aceh?
3) Bagaimana Kendala Dalam Pelaksanaan Perwalian Terhadap Anak Dibawah Umur Korban Tsunami Di Banda Aceh?
2. Nama : Febry Wenny Nim : 107001081 Tahun : 2012
Judul : Tinjauan Yurudis Atas Pengalihan Harta Warisan Milik Bersama Anak Dibawah Umur Yang Berupa Tanah
Rumusan Masalah:
1) Bagaimanakah Pengaturan Hukum Pengalihan Tanah Yang Diperoleh Karena Pewarisan Bagi Ahli Waris Yang Berstatus Dibawah Umur?
2) Bagaimana Akibat Hukum Pengalihan Tanah Milik Bersama Anak Dibawah Umur Tersebut Apabila Dilakukan Tanpa Adanya Penetapan Dari Pengadilan?
3) Bagaimana Pendaftaran Tanah Untuk Melindungi Pemilik Hak Atas Tanah Terhadap Adanya Pengalihan Tanah Tanpa Adanya Penetapan Dari Pengadilan?
3. Nama : Posan Nim : 117001148 Tahun : 2013
Judul : Analisis Yuridis Penguasaan Harta Warisan Anak Dibawah Umur (Studi Putusan MA No. 2161K/Pdt/2011)
Rumusan Masalah:
1) Bagaimana Kedudukan Anak Angkat Bagi Warga Negara Indonesia Keturunan Tionghoa?
2) Bagaimana Ketentuan Pemberian Harta Warisan Bagi Anak Angkat Tinghoa Menurut Ketentuan Hukum Waris Indonesia?
3) Bagaimana Pengurusan Harta Kekayaan Anak Angkat Dibawah Umur Pada Warga Negara Indonesia Keturunan Tionghoa (Studi Kasus Putusan Mahkamah Agung Nomor. 2161 K/Pdt/2011)?
F. Kerangka Teori Dan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Kerangka teori merupakan landasan dari teori atau dukungan teori dalam membangun atau memperkuat kebenaran dari permasalahan yang dianalisis.
Kerangka teori dimaksud adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori,
tesis, sebagai pegangan baik disetujui atau tidak disetujui.15 Teori berguna untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik atau proses tertentu terjadi dan satu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada fakta-fakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya. Menurut Soerjono Soekanto, dinyatakan bahwa keberlanjutan perkembangan ilmu hukum, selain bergantung pada metodologi, aktivitas penelitian dan imajinasi sosial sangat ditentukan oleh teori.16
Fungsi teori dalam penelitian ini adalah untuk memberikan arahan atau petunjuk dan meramalkan serta menjelaskan gejala yang diamati, dan dikarenakan penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif, maka kerangka teori diarahkan secara khas ilmu hukum. Maksudnya penelitian ini berusaha untuk memahami mengenai peranan lembaga peradilan agama dalam melindungi hak-hak anak dibawah umur dalam penetapan perwalian yang dikeluarkan oleh lembaga peradilan agama.
Teori dalam penulisan tesis ini menggunakan teori perlindungan hukum.
Menurut Satjipto Raharjo hukum melindungi kepentingan subjek hukum dengan cara mengalokasikan suatu kekuasaan kepadanya untuk bertindak dalam rangka kepentingannya tersebut. Pengalokasian kekuasaan ini dilakukan secara terukur dalam arti, ditentukan keluasan dan kedalamannya. Kekuasaan yang demikian itulah yang disebut hak. Tetapi tidak di setiap kekuasaan dalam masyarakat bisa disebut
15 M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu Dan Penelitian, (Bandung: Mandar Maju, 1994), hlm. 80
16 Soerjono Soekanto, Ibid., hlm. 6
sebagai hak, melainkan hanya kekuasaan tertentu yang menjadi alasan melekatnya hak itu pada seseorang.17
Menurut Setiono perlindungan hukum adalah tindakan atau upaya untuk melindungi masyarakat dari perbuatan sewenang-wenang oleh penguasa yang tidak sesuai dengan aturan hukum, untuk mewujudkan ketertiban dan ketentraman sehingga memungkinkan manusia untuk menikmati martabatnya sebagai manusia.18 Perlindungan hukum merupakan suatu hal yang melindungi subjek-subjek hukum melalui peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dipaksakan pelaksanaannya dengan suatu sanksi. Menurut Muchsin perlindungan hukum merupakan kegiatan untuk melindungi individu dengan menyerasikan hubungan nilai-nilai atau kaidah- kaidah yang menjelma dalam sikap dan tindakan dalam menciptakan adanya ketertiban dalam pergaulan hidup antar sesama manusia.19
Perlindungan hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu perlindungan hukum preventif dan perlindungan hukum represif. Perlindungan hukum preventif
merupakan perlindungan yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah suatu pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan dalam melakukan suatu kewajiban.
Sedangkan perlindungan hukum represif merupakan perlindungan akhir berupa
17 Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, Cetakan Kelima, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2000), hlm. 53
18 Setiono, Rule Of Law (Supremasi Hukum), Tesis, Magister Ilmu Hukum, (Pascasarjana:
Universitas Sebelas Maret, 2004), hlm. 3
19 Muchsin, Perlindungan Dan Kepastian Hukum Bagi Investor Di Indonesia, Tesis, Magister Ilmu Hukum, (Pascasarjana: Universitas Sebelas Maret, 2003), hlm. 14
sanksi seperti denda, penjara, dan hukuman tambahan yang diberikan apabila sudah terjadi sengketa atau telah dilakukan suatu pelanggaran.20
Perlindungan hukum bagi seluruh rakyat adalah prinsip pengakuan dan perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia yang bersumber pada pancasila dan prinsip negara hukum yang berdasarkan pancasila. Adapun elemen dan ciri-ciri negara hukum pancasila ialah:
a. Keserasian hubungan antara pemerintah dengan rakyat berdasarkan asas kerukunan.
b. Hubungan fungsional yang proporsional antara kekuasaan-kekuasaan negara.
c. Prinsip penyelesian sengketa secara musyawarah dan peradilan merupakan sarana terakhir.
d. Keseimbangan antara hak dan kewajiban.
Berdasarkan elemen-elemen tersebut, perlindungan hukum bagi rakyat terhadap pemerintah diarahkan kepada:21
1) Usaha-usaha untuk mencegah terjadinya sengketa atau sedapat mungkin mengurangi terjadinya sengketa, dalam hubungan ini sarana perlindungan hukum preventif patut diutamakan daripada sarana perlindungan represif.
2) Usaha-usaha untuk menyelesaikan sengketa antara pemerintah dan rakyat dengan cara musyawarah.
20 Ibid., hlm. 20
21 Teori Perlindungan Hukum, http://anamencoba.blogspot.com/2011/04/teori-perlindungan- hukum-dalam-melihat.html, (terakhir diakses tanggal 14 Februari 2014)
Penyelesaian sengketa melalui peradilan merupakan jalan terakhir, peradilan hendaklah merupakan ultimum remedium dan peradilan bukan forum konfrontasi sehingga peradilan harus mencerminkan suasana damai dan tentram terutama melalui hubungan acaranya.
Penelitian ini menggunakan teori perlindungan hukum yang dikemukakan oleh Satjipto Raharjo. Fungsi teori perlindungan hukum dalam penulisan tesis ini adalah untuk melindungi hak-hak anak dari penyalahgunaan kewenangan perwalian yang diberikan pengadilan kepada orang tua wali, dimana diperlukan tanggung jawab orang tua wali atas perwalian yang didapatkannya melalui penetapan pengadilan.
Teori kepastian hukum juga digunakan dalam penulisan tesis ini. Istilah kepastian hukum dalam tataran teori hukum tidak memiliki pengertian yang tunggal.
Hal ini disebabkan oleh adanya sejumlah pendapat yang berusaha menjelaskan arti dari istilah tersebut dengan argumen dan perspektif tertentu, baik dalam pengertian yang sempit maupun luas. Kepastian hukum merupakan pertanyaan yang hanya dapat dijawab secara normatif, bukan sosiologis. Kepastian hukum secara normatif adalah ketika suatu peraturan dibuat dan diundangkan secara pasti karena mengatur secara jelas dan logis. Jelas, dalam artian tidak menimbulkan keragu-raguan (multitafsir) dan logis dalam artian menjadi suatu sistem norma, dengan norma lain sehingga tidak berbenturan atau menimbulkan konflik norma.22
22 Kepastian Hukum, http://yancearizona.wordpress.com/2008/04/13/apa-itu-kepastian- hukum/, (diakses tanggal 2 Februari 2015)
Gustaf Radbruch, dalam konsep ajaran prirotas baku mengemukakan bahwa tiga ide dasar hukum atau tiga tujuan utama hukum adalah keadilan, kemanfaatan dan kepastian hukum. Keadilan merupakan hal yang utama dari ketiga hal itu tetapi tidak berarti dua unsur yang lain dapat dengan serta merta diabaikan. Hukum yang baik adalah hukum yang mampu mensinergikan ketiga unsur tersebut demi kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.23 Keadilan yang dimaksudkan oleh Radbruch adalah keadilan dalam arti yang sempit yakni kesamaan hak untuk semua orang di depan pengadilan. Kemanfaatan atau finalitas menggambarkan isi hukum karena isi hukum memang sesuai dengan tujuan yang mau dicapai oleh hukum tersebut. Kepastian hukum dimaknai dengan kondisi di mana hukum dapat berfungsi sebagai peraturan yang harus ditaati.24
Kepastian hukum itu berkaitan dengan putusan hakim yang didasarkan pada prinsip the binding for precedent (stare decisis) dalam sistem common law dan the persuasive for precedent (yurisprudensi) dalam civil law. Putusan hakim yang
mengandung kepastian hukum adalah putusan yang berisi prediktabilitas dan otoritas.
Kepastian hukum akan terjamin oleh sifat prediktabilitas dan otoritas pada putusan- putusan terdahulu.25
Hukum bertugas menjamin adanya kepastian hukum (rechszekerheid) dalam pergaulan manusia. Dalam tugas itu tersimpul dua tugas lain, yaitu harus menjamin
23 Ali Ahmad, Menguak Teori Hukum Dan Teori Peradilan, (Jakarta: Kencana, 2009), hlm.
287-288
24 Ibid., hlm. 162
25 Ibid., hlm. 294
keadilan serta hukum tetap berguna. Dalam kedua tugas tersebut tersimpul pula tugas ketiga yaitu hukum menjaga agar masyarakat tidak terjadi main hakim sendiri (eigenrichting). Dalam penerapan teori hukum tidak dapat hanya satu teori saja tetapi
harus gabungan dari berbagai teori. Berdasarkan teori hukum yang ada maka tujuan hukum yang utama adalah untuk menciptakan keadilan, kemanfaatan, kepastian hukum, ketertiban dan perdamaian.26
Fuller memberikan makna yang lebih luas tentang kepastian hukum. Fuller menjabarkan pendapatnya tentang kepastian hukum, dengan menyatakan: Kepastian hukum selalu berkaitan dengan hal-hal seperti:27
a. Adanya sistem hukum yang terdiri dari peraturan-peraturan, bukan berdasarkan putusan sesaat untuk hal-hal tertentu.
b. Peraturan tersebut diumumkan kepada publik.
c. Peraturan tersebut tidak berlaku surut.
d. Dibuat dalam rumusan yang dimengerti oleh umum.
e. Tidak boleh ada peraturan yang saling bertentangan.
f. Tidak boleh menuntut suatu tindakan yang melebihi apa yang dapat dilakukan.
g. Tidak boleh sering diubah-ubah.
h. Harus ada kesesuaian antara peraturan dan pelaksanaan sehari-hari.
26 Ridwan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999), hlm. 22
27 Ahmad Ali, Op. Cit., hlm. 294
Fungsi teori kepastian hukum disini adalah untuk menjamin dan melindungi hak-hak anak dibawah umur dalam penetapan perwalian yang dikeluarkan oleh lembaga peradilan agama.
Teori tanggung jawab hukum juga digunakan dalam penelitian ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tanggung jawab adalah kewajiban menanggung segala sesuatunya bila terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, dan diperkarakan. Dalam kamus hukum, tanggung jawab adalah suatu keseharusan bagi seseorang untuk melaksanakan apa yang telah diwajibkan kepadanya.28 Prinsip dasar pertanggung jawaban atas dasar kesalahan mengandung arti bahwa seseorang harus bertanggung jawab karena ia melakukan kesalahan karena merugikan orang lain.
Sebaliknya prinsip tanggung jawab risiko adalah bahwa konsumen penggugat tidak diwajibkan lagi melainkan produsen tergugat langsung bertanggung jawab sebagai risiko usahanya.
Menurut Abdulkadir Muhammad teori tanggung jawab dalam perbuatan melanggar hukum (tort liability) dibagi menjadi beberapa teori, yaitu:29
a. Tanggung jawab akibat perbuatan melanggar hukum yang dilakukan dengan sengaja (intertional tort liability), tergugat harus sudah melakukan perbuatan sedemikian rupa sehingga merugikan penggugat atau mengetahui bahwa apa yang dilakukan tergugat akan mengakibatkan kerugian.
28 Andi Hamzah, Kamus Hukum, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2005), hlm. 145
29 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perusahaan Indonesia, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2010), hlm. 503
b. Tanggung jawab akibat perbuatan melanggar hukum yang dilakukan karena kelalaian (negligence tort lilability), didasarkan pada konsep kesalahan (concept of fault) yang berkaitan dengan moral dan hukum yang sudah
bercampur baur (interminglend).
c. Tanggung jawab mutlak akibat perbuatan melanggar hukum tanpa mempersoalkan kesalahan (stirck liability), didasarkan pada perbuatannya baik secara sengaja maupun tidak sengaja, artinya meskipun bukan kesalahannya tetap bertanggung jawab atas kerugian yang timbul akibat perbuatannya.
Fungsi teori tanggung jawab hukum dalam penelitian ini adalah untuk menganalisa batasan tanggung jawab dari orang tua wali yang ditunjuk peradilan agama dalam hal pengurusan harta anak dibawah umur.
2. Konsepsi
Konsepsi adalah salah satu bagian yang terpenting dari teori, peranan konsepsi dalam penelitian ini untuk menghubungkan teori dan observasi, antara abstraksi dan kenyataan. Konsep diartikan sebagai kata yang menyatukan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal khusus yang disebut defenisi operasional.30 Maka dalam penelitian ini disusun berberapa defenisi operasional dari konsep-konsep yang akan digunakan agar tidak terjadi perbedaan pengertian yakni:
a. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.31
30 Samadi Suryabrata, Metodelogi Penelitian, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), hlm. 3
31 Pasal 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 Tentang Perlindungan Anak
b. Orang tua adalah ayah dan/atau ibu kandung, atau ayah dan/atau ibu tiri, atau ayah dan/atau ibu angkat32. Umumnya, orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam membesarkan anak, dan panggilan ibu atau ayah dapat diberikan untuk perempuan atau pria yang bukan orang tua kandung (biologis) dari seseorang yang mengisi peranan ini. Orang tua merupakan setiap orang yang bertanggung jawab dalam suatu keluarga atau tugas rumah tangga yang dalam kehidupan sehari-hari disebut sebagai bapak dan ibu.
Orang tua merupakan orang dewasa yang membawa anak sampai umur dewasa, terutama dalam masa perkembangan. Tugas orang tua melengkapi dan mempersiapkan anak menuju kedewasaan dengan memberikan bimbingan dan pengarahan yang dapat membantu anak dalam menjalani kehidupan. Dalam memberikan bimbingan dan pengarahan pada anak akan berbeda pada masing-masing orang tua kerena setiap keluarga memiliki kondisi-kondisi tertentu yang berbeda corak dan sifatnya antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lain.
c. Perwalian (voogdij) adalah pengawasan terhadap anak yang dibawah umur, yang tidak berada di bawah kekuasaan orang tua serta pengurusan benda atau kekayaan anak tersebut diatur oleh undang-undang.33 Kewenangan yang diberikan kepada seseorang baik perempuan maupun laki-laki atau badan hukum untuk melakukan sesuatu perbuatan hukum, guna mewakili anak
32 Pasal 1 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 Tentang Perlindungan Anak
33 Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata. (Bandung: Intermasa, 2003), hlm.52
yang tidak mempunyai orang tua atau kedua orang tua, atau orang tua yang masih hidup namun tidak mampu melakukan perbuatan hukum, atau memiliki sifat-sifat yang dapat merugikan kepentingan anak.
d. Peradilan agama merupakan salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara perdata tertentu yang diatur dalam undang-undang.34 Peradilan agama merupakan salah satu pelaksana kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara perdata tertentu yang diatur dalam undang-undang.
e. Pengadilan agama biasa disingkat PA merupakan sebuah lembaga peradilan di lingkungan peradilan agama yang berkedudukan di ibu kota kabupaten atau kota. Pengadilan agama memiliki tugas dan wewenang untuk memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara-perkara antara orang- orang yang beragama Islam.
f. Pengurusan harta anak dibawah umur adalah tanggung jawab untuk mengurus, mengelola, harta peninggalan orang tua kandung sianak selama berada dalam tanggung jawab perwalian sampai dengan anak tersebut dewasa.
g. Penetapan adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh badan atau pejabat tata usaha negara yang berisi tindakan hukum yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat konkrit,
34 Pasal 2 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama
individual, dan final yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang dan badan hukum perdata.
h. Kewenangan adalah kekuasaan membuat keputusan memerintah dan melimpahkan tanggung jawab kepada orang lain.
G. Metode Penelitian
1. Jenis dan Sifat Penelitan
Penelitian dalam pelaksanaannya diperlukan dan ditentukan alat-alatnya, jangka waktu, cara-cara yang dapat ditempuh apabila mendapat kesulitan dalam proses penelitian. Penelitian harus dilakukan secara metodelogis, sistematis, dan konsisten. Metodelogis yang dimaksud berarti sesuai dengan metode atau cara tertentu, sistematis adalah berdasarkan pada suatu sistem, dan konsisten berarti tidak adanya hal-hal yang bertentangan dengan suatu kerangka tertentu.35
Berdasarkan perumusan masalah dalam menyusun penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian hukum normatif atau doktriner.
Penelitian hukum normatif atau doktriner yaitu metode penelitian hukum yang mempergunakan sumber data sekunder atau dengan cara meneliti bahan pustaka yang ada.36 Tahapan pertama penelitian hukum normatif adalah penelitian yang ditujukan untuk mendapatkan hukum objektif (norma hukum), yaitu dengan mengadakan penelitian terhadap masalah hukum. Tahapan kedua penelitian hukum normatif
35 Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum Normatif, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 42
36 Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktik, (Jakarta: Sinar Grafika, 1996), hlm.
13
adalah penelitian yang ditujukan untuk mendapatkan hukum subjektif (hak dan kewajiban).
Sifat penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitis. Penelitian deskriftif analitis yakni suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Penelitian deskriptif analitis merupakan penelitian yang berusaha mendeskripsikan dan menginterpretasikan sesuatu, misalnya kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang berkembang, proses yang sedang berlangsung, akibat atau efek yang terjadi, atau tentang kecendrungan yang tengah berlangsung kemudian dianalisis dan dilakukan pengambilan kesimpulan.37
Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode pendekatan normatif (legal research) yang bertujuan untuk mengerti dan memahami gejala yang di teliti. Dalam penelitian ini digunakan metode pendekatan normatif yang secara deduktif yang dimulai dari analisis terhadap pasal-pasal yang mengatur hal-hal yang menjadi permasalahan yang diteliti. Metode pendekatan ini digunakan dengan mengingat permasalahan yang diteliti berdasarkan pada peraturan perundang-undangan dalam hal hubungan antara yang satu dengan yang lainnya serta kaitannya dengan penerapannya dalam praktek.
2. Sumber Data
Materi dalam penelitian ini diambil dari data sekunder. Adapun data sekunder yang dimaksud adalah:
37 Peter Mahmud Marzuki, Penelitian Hukum, (Jakarta: Prenada Media, 2005), hlm. 35
a. Bahan hukum primer yaitu dokumen peraturan yang mengikat dan ditetapkan oleh pihak yang berwenang. Dalam penelitian ini diantaranya Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Perdata, Kompilasi Hukum Islam, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama, Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama, Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
b. Bahan hukum sekunder yaitu semua dokumen yang merupakan bacaan yang relevan seperti buku-buku, seminar-seminar, jurnal hukum, majalah, koran karya tulis ilmiah dan beberapa sumber dari internet yang berkaitan dengan materi yang diteliti.
c. Bahan hukum tersier yaitu semua dokumen yang berisi tentang konsep- konsep dan keterangan keterangan yang mendukung bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti kamus, ensklopedia dan sebagainya.
3. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh suatu kebenaran ilmiah dalam penelitian ini, maka digunakan metode pengumpulan data dengan cara studi kepustakaan, yaitu mempelajari dan menganalisis secara sistematis digunakan buku-buku, surat kabar,