BAB II KEWENANGAN LEMBAGA PERADILAN AGAMA DALAM
C. Bentuk Perlindungan Hukum Yang Diberikan Pengadilan Agama Dalam
2. Bentuk Perlindungan Hukum Terhadap Pengurusan Harta Anak Di
Pemberian izin yang benar kepada wali bagi anak sangatlah penting, terlebih pada masalah pewarisan, apabila orang tua si anak yang belum dewasa, meninggal dunia maka si anak tersebut akan mendapatkan harta warisan dari orang tua nya itu.
Anak harus diwakilkan oleh walinya, sehingga dengan akibat tersebut harta peninggalan yang didapatkan seorang anak atas peninggalannya kedua orang tuanya dapat diurus dan diawasi dengan baik sesuai dengan rasa keadilan dan kepastian hukum.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan mengatur masalah perwalian yang tertuang dalam Pasal 50 sampai dengan Pasal 54. Ketentuan tersebut memuat hal-hal mengenai perwalian dimana anak yang ada dalam perwalian belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan dimana perwalian itu mengenai pribadi anak yang bersangkutan maupun harta bendanya. Ketentuan undang-undang menetapkan atau mengatur tentang penunjukan wali, kewajiban dan tanggung jawab sebagai seorang wali pada Pasal 54 Undang-Undang Perkawinan, meliputi:
55 Novalia Arnita Simamora, Jurnal Asas Itikad Baik dalam Perjanjian Pendahuluan (Voor Overeenkomst) Pada Perjanjian Pengikatan Jual Beli Rumah (Studi Putusan Pengadilan Negeri Simalungun Nomor. 37/PDT/PLW/2012/PN. SIM), (Medan: Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara, 2015), hlm. 167.
(1) Wali dapat ditunjuk oleh satu orang tua yang menjalankan kekuasaan orangtua, sebelum dia meninggal, dengan surat wasiat atau dengan lisan di hadapan dua orang saksi.
(2) Wali sedapat-dapatnya diambil dari keluarga anak tersebut atau orang lain yang sudah dewasa, berpikiran sehat, adil, jujur, dan berkelakuan baik.
(3) Wali wajib mengurus anak yang di bawah penguasaannya dan harta bendanya sebaik-baiknya dengan menghormati agama dan kepercayaannya anak itu.
(4) Wali membuat daftar harta benda anak yang berada di bawah kekuasaannya pada waktu memulai jabatannya dan mencatat semua perubahan-perubahan harta benda anak atau anak-anak itu.
(5) Wali bertanggung jawab tentang harta benda anak yang berada di bawah perwaliannya serta kerugian yang ditimbulkan karena kesalahan atau kelalaiannya.
Ketentuan dalam pasal-pasal tersebut juga mengatur tentang larangan bagi wali untuk memindahkan hak, menggadaikan barang-barang tetap milik anak yang berada di bawah perwaliannya bahwa terhadap wali berlaku juga ketentuan undang-undang ini. Selanjutnya pasal-pasal tersebut mengatur tentang pencabutan kekuasaan wali yang dinyatakan “wali dapat dicabut dari kekuasaannya, dalam hal-hal yang tersebut dalam undang-undang ini.” Dalam hal kekuasaan seorang wali dicabut, oleh pengadilan ditunjuk orang lain sebagai wali.
Pasal dalam Undang-Undang tersebut juga mengatur tentang kewajiban wali untuk mengganti kerugian terhadap anak yang berada di bawah perwaliannya, yaitu wali yang telah menyebabkan kerugian kepada harta benda anak yang berada di bawah kekuasaannya, atas tuntutan anak atau keluarga anak tersebut dengan keputusan pengadilan, yang bersangkutan dapat diwajibkan untuk mengganti kerugian tersebut. Perwalian yang diatur di dalam undang-undang berlaku dan mengikat seluruh warna negara, disamping itu ada ketentuan yang mengatur pula
tentang perwalian, yakni KUHPerdata yang memiliki pandangan yang tajam terhadap seluruh permasalahan hukum, terutama di bidang perwalian.
Pengaturan tentang perwalian didalam KUHPerdata dapat memberikan penjelasan yang cukup rinci dan mendasar, dimana perwalian di dalam hukum perdata selalu dipandang sebagai suatu pengurusan terhadap harta kekayaan dan pengawasan terhadap pribadi seorang anak yang belum dewasa, sedangkan anak tersebut tidak berada di bawah kekuasaan orang tua, keadaan tersebut tidak berada di bawah kekuasaan orang tua, keadaan tersebut dinamakan perwalian.56
Pengurusan wali terhadap harta kekayaan anak telah diatur di dalam undang-undang, yakni:
1. Pasal 335 KUHPerdata menyatakan bahwa “dalam waktu satu bulan setelah perwalian dimulai berjalan atau jika sepanjang perwalian harta kekayaan si anak belum dewasa sangat bertambah, dalam waktu satu bulan setelah mendapat teguran untuk itu dari balai harta peninggalan, tiap-tiap wali, kecuali perkumpulan-perkumpulan, yayasan-yayasan dan lembaga-lembaga amal, berwajib atas kerelaan balai tersebut dan guna menjamin pengurusan mereka, menaruh suatu ikatan jaminan ataupun member hipotek atau gadai atau akhirnya menambah jaminan-jaminan yang telah ada. Atas tuntutan balai harta peninggalan, hipotek itu harus didaftarkan. Dalam hal ada perbedaan pendapat antara wali dan balai tentang cukup atau tak cukupnya jaminan yang dipertaruhkan pengadilan negeri memutusnya atas permintaan pihak yang
56 Sudarsono, Hukum Perkawinan Nasional, (Jakarta: Rineka Cipta, 2005), hlm. 204
teramat bersedia. Apabila harta kekayaan si anak yang belum dewasa dianggapnya kurang. Balai berkuasa membebaskan si wali dari kewajiban tersebut dalam ayat kesatu pasal ini, namun bolehlah ia sewaktu-waktu menuntut pertaruhan jaminan menurut ayat kesatu dan ketiga.
2. Pasal 389 KUHPerdata menentukan bahwa wali wajib menguasakan supaya dijual segala meja kursi atau perabot rumah, yang mana pada permulaan atau selama perwalian jatuh ke tangan kekayaan si belum dewasa, sepertipun segala benda bergerak yang tidak memberikan hasil, pendapatan atau keuntungan, terkecuali benda-benda itulah diantaranya, yang kiranya dalam wujudnya boleh disimpan dengan persetujuan balai harta peninggalan dan setelah didengar atau dipanggil dengan sah si wali pengawas, sekiranya bukan balai harta peninggalan sendiri yang menjadi wali pengawas, dan para keluarga sedarah atau semenda.
3. Pasal 390 KUHPerdata memuat adanya keharusan melakukan penjualan di muka umum dimana hal tersebut sekedar menikmati hasil atas harta kekayaan si belum dewasa, adalah terbebas dari kewajiban menjual meja, kursi atau benda-benda bergerak lainnya, jika mereka lebih suka menyimpannya dengan maksud kelak akan memberikannya kembali dalam wujudnya kepada si anak yang belum dewasa tadi. Dalam hal demikian, haruslah mereka atas biaya sendiri menyuruh kepada seorang ahli yang akan diangkat oleh seorang wali pengawas, dan akan mengangkat sumpah juga, menaksir harga sesungguhnya dari benda-benda tersebut. Terhadap benda-benda mereka yang sekiranya tidak akan dapat menyerahkannya kembali dalam wujudnya, mereka harus menaruh dalam
simpanan benda-benda itu seperti telah ditaksir. Jadi, keharusan menjual tadi tidak berlaku jika perwalian itu dilakukan oleh si ayah atau si ibu yang berhak atas hak petik hasil atas harta kekayaan si anak, untuk kemudian memberikan barang itu kepada si anak.
4. Pasal 395 KUHPerdata menjelaskan bahwa, “Dalam hal penjualan barang tidak bergerak itu diizinkan oleh pengadilan maka penjualan itu harus dilakukan di muka umum, kecuali dalam keadaan yang luar biasa, dan apabila hal itu untuk kepentingan si anak, maka pengadilan dapat memberi izin untuk penjualan di bawah tangan”.
5. Pasal 396 KUHPerdata menentukan bahwa, “Wali untuk kepentingan si anak tidak boleh meminjam uang, menjual atau menggadaikan barang tidak bergerak bagi si anak, dan tidak boleh juga ia menjual surat berharga dan piutang, kalau tidak dengan izin pengadilan.”
6. Pasal 400 KUHPerdata pada dasarnya menentukan bahwa, “Wali tidak boleh menyewa atau mengambil sebagai hak usaha untuk diri sendiri barang-barang si anak untuk kepentingan diri sendiri tanpa izin pengadilan.57
7. Pasal 401 KUHPerdata menegaskan bahwa, “Wali tidak boleh menerima warisan yang jatuh pada si anak, kecuali dengan hak istimewa akan pendaftaran harta peninggalan, ia tidak boleh menolak warisan tanpa izin dari pengadilan.”
8. Seorang wali erat kaitannya dengan balai harta peninggalan sebagai wali pengawas dimana dalam Pasal 372 KUHPerdata dinyatakan bahwa “tiap tahun
57 Ibid., hlm. 206
wali pengawas harus meminta kepada setiap wali (kecuali bapak dan ibu), supaya secara ringkas memberikan perhitungan tanggung jawab dan supaya memperlihatkan kepadanya segala kertas-kertas andil dan surat-surat berharga kepunyaan anak belum dewasa. Perhitungan secara ringkas itu akan dibuat di atas kertas tidak bermeterai dan diserahkan tanpa sesuatu biaya, pun tanpa sesuatu bentuk hukum.
9. Pasal 404 KUHPerdata menyatakan bahwa, “Wali tidaklah leluasa, dalam suatu perkara yang dimajukan terhadap si belum dewasa menyatakan menerima putusan tanpa kuasa untuk itu dari balai harta peninggalan, dengan cara seperti tersebut dalam permulaan pasal yang lalu.”
10. Tugas wali yang menyangkut pribadi si anak secara otentik diatur di dalam Pasal 383 KUHPerdata bahwa, “Setiap wali harus menyelenggarakan pemeliharaan dan pendidikan terhadap pribadi si belum dewasa sesuai dengan harta kekayaannya, ia pun harus mewakilinya dalam segala tindak perdata”.
KUHPerdata mengenal tiga jenis perwalian, yaitu perwalian menurut undang-undang yang diatur dalam Pasal 345 KUHPerdata, perwalian dengan wasiat yang diatur di dalam Pasal 355 KUHPerdata dan perwalian yang ditunjuk oleh hakim yang diatur di dalam Pasal 359 KUHPerdata.58
Islam meletakkan tanggung jawab membesarkan anak sepenuhnya di atas bahu kedua orang tuanya, selain merawat secara fisik, juga meliputi akulturasi ke dalam nilai-nilai syariat dan sosialisasi ke dalam umat. Islam menegaskan bahwa
58 Ibid., hlm. 210
orang tuanya harus mendidik anaknya tentang agama, serta hukum, etika dan tentang menjadi bagian dari umat, dan apabila tidak sanggup atau gagal, maka masyarakatlah yang harus bertanggung jawab. Menyangkut penempatan wali ini sangat penting, terlebih pada masalah pewarisan. Apabila orang tua sianak yang belum dewasa, meninggal dunia maka sianak tersebut akan mendapatkan harta warisan dari orang tuannya itu. Sianak harus diwakilkan oleh walinya, sehingga dengan akibat tersebut harta peninggalan yang didapatkan seorang anak atas peninggalannya kedua orang tuanya dapat diurus dan diawasi dengan baik sesuai dengan rasa keadilan dan kepastian hukum.
Menurut ketentuan Undang-Undang ditetapkan bahwa kewajiban wali pengawas adalah pihak mewakili kepentingan anak yang belum dewasa, apabila ada kepentingan anak yang bertentangan dengan kepentingan si wali, dengan tidak mengurangi kewajiban-kewajiban yang teristimewa maka pengawasan ini dibebankan kepada balai harta peninggalan dalam hal perwalian pengawas itu diperintahkan kepadanya. Wali pengawas berwajib memaksakan kepada wali atas ancaman kerugian dan bunga dimana wali diberikan hukuman mengganti biaya, dan membuat inventaris atau perincian barang-barang harta peninggalan dalam segala warisan yang jatuh kepada si anak yang belum dewasa.59
Dalam masalah pelaksanan pengawasan oleh wali pengawas ditetapkan beberapa hal yakni:
59 Ibid., hlm. 212
a. Mengurusi pengurus harta si anak oleh si wali yang menetapkan bahwa atas ancaman hukuman mengganti biaya, rugi dan bunga dimana balai harta peninggalan wajib melakukan segala tindakan-tindakan yang diamarkan oleh undang-undang, agar setiap wali, pun kendati hakim tidak memerintahkannya, memberikan jaminan secukupnya, setidak-tidaknya wali itu menyelenggarakan pengurusan dengan cara seperti yang ditentukan dalam undang-undang.
b. Ketentuan tersebut diatas dimuat dalam Pasal 371 KUHPerdata, sedangkan Pasal 372 KUHPerdata menetapkan bahwa wali pengawas setiap tahun meminta perhitungan pertanggungjawaban secara singkat dari wali anak yang belum dewasa tersebut.
c. Wali Pengawas dapat menuntut pencatatan wali yang menegaskan bahwa apabila seorang wali tidak mau melaksanakan apa yang diamarkan dalam pasal tertentu atau, apabila wali pengawas dalam perhitungan secara ringkas itu mendapatkan tanda-tanda akan adanya kecurangan atau kealpaan yang besar dari seorang wali, maka haruslah wali pengawas menuntut pemecatan itu dalam segala hal yang ditentukan dalam Pasal 373 KUHPerdata.
d. Wali pengawas dapat mengajukan ke pengadilan untuk mengangkat wali baru sesuai dengan ketentuan Pasal 374 bahwa “jika perwalian terluang atau ditinggalkan karena ketakhadiran si wali, atau pula jika untuk sementara waktu si wali tak mampu menunaikan tugasnya, maka atas ancaman mengganti biaya, kerugian dan bunga, wali pengawas harus mengajukan permintaan kepada pengadilan akan pengangkatan wali baru atau wali sementara.
e. Perwalian pengawas mulai dan berakhir pada sesaat dengan mulai dan berakhirnya perwalian. Sedangkan perwalian pada umumnya berakhir apabila anak yang berada di bawah perwalian telah dewasa, anak meninggal dunia, wali meningal dunia, dan wali dipecat dari perwalian.60
Bagi sekalian anak belum dewasa, yang tidak bernaung di bawah kekuasaan orang tua dan yang perwaliannya tidak telah di atur dengan cara yang sah, maka pengadilan harus mengangkat seorang wali, setelah mendengar atau memanggil dengan sah para keluarga sedarah atau semenda. Pengangkatan itu diperlukan, karena ada atau tidaknya si bapak atau si ibu tak diketahui, atau karena tempat tinggal atau kediaman mereka tak diketahui, maka oleh pengadilan diangkat juga seorang wali.61
Berdasarkan ketentuan Pasal 107 Kompilasi Hukum Islam, bahwa Perwalian hanya terhadap anak yang belum mencapai umur 21 Tahun dan atau belum pernah melangsungkan pernikahan. Perwalian tersebut meliputi perwalian terhadap diri maupun terhadap harta kekayaannya. Orang yang dapat diangkat sebagai wali yaitu dari keluarga anak tersebut atau orang lain yang sudah dewasa, berpikir sehat, adil, jujur dan berkelakuan baik, atau badan hukum. Orang tua dapat mewariskan kepada seseorang atau badan hukum untuk melakukan perwalian atas diri dan kekayaan anak atau anak-anaknya sesudah ia meninggal dunia (Pasal 108 KHI).
Apabila wali tidak mampu berbuat atau lalai melaksanakan tugas perwaliannya, maka Pengadilan Agama dapat menunjuk salah seorang kerabat untuk
60 Ibid., hlm. 213-214
61 Ibid., hlm. 31
bertindak sebagai wali waris atas permohonan kerabat tersebut. Pengadilan Agama juga dapat mencabut hak perwalian seseorang atau badan hukum dan memindahkannya kepada pihak lain atas permohonan kerabatnya bila wali tersebut pemabuk, penjudi, pemboros, gila dan atau melalaikan atau menyalahgunakan hak dan wewenangnya sebagai wali demi kepentingan orang yang berada di bawah perwaliannya.
Berdasarkan ketentuan tersebut di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa perlindungan hukum dalam hal pengurusan harta anak di bawah umur ada 2 (dua) bentuk, yaitu perlindungan secara preventif, yang tercermin melalui norma-norma hukum yang dapat memberikan payung hukum sebagai dasar perlindungan terhadap harta anak di bawah umur yang berada dalam perwalian. Selain itu, ada pula perlindungan secara represif, yaitu upaya dalam menyelesaikan permasalahan hukum berkaitan dengan harta perwalian anak di bawah umur apabila diketahui wali tidak menjalankan tanggung jawabnya dengan baik, maka Pengadilan Agama dapat mencabut hak perwalian terhadapnya sebagaimana ketentuan dalam Pasal 109 Kompilasi Hukum Islam.
A. Pengertian Perwalian Serta Para Pihak Dalam Perwalian Pengurusan Harta Anak
Beberapa literatur fiqih mengartikan perwalian dengan al-walayah (orang yang mengurus atau yang mengusai sesuatu), seperti kata ad-dalalah yang juga bisa disebut dengan ad-dilalah. Secara etimologis, perwalian memiliki beberapa arti, di antaranya adalah cinta (al-mahabbah) dan pertolongan (an-nashrah) dan juga berarti kekuasaan atau otoritas seperti dalam ungkapan al-wali, yakni orang yang mempunyai kekuasaan. Hakikat dari al-walayah adalah tawalliy al-amr, (mengurus atau menguasai sesuatu).62
Perwalian dalam istilah bahasa adalah wali yang berarti menolong yang mencintai.63 Perwalian secara etimologi atau bahasa, memiliki beberapa arti, diantaranya adalah kata perwalian berasal dari kata wali, dan jamak dari awliya. Kata ini berasal dari bahasa arab yang berarti teman, klien, sanak atau pelindung.
Perwalian dalam istilah fiqih disebut wilayah, yang berarti penguasaan dan perlindungan, jadi arti dari perwalian menurut fiqih ialah penguasaan penuh yang diberikan oleh agama kepada seseorang untuk menguasai dan melindungi orang atau
62 Muhammad Amin Summa, Hukum Keluarga Islam Di Dunia Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005), hlm. 134-135
63 Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawir, (Yogyakarta: Pondok Pesantren Al Munawir, 1984), hlm. 1960
barang, dimana orang yang diberi kekuasaan perwalian disebut wali.64 Untuk memperjelas tentang pengertian perwalian, maka penulis memaparkan beberapa arti antara lain:
a. Perwalian yang berasal dari kata wali mempunyai arti “orang lain selaku pengganti orang tua yang menurut hukum diwajibkan mewakili anak yang belum dewasa atau belum akil baligh dan melakukan perbuatan hukum.”65 b. Dalam kamus praktis, “wali berarti orang yang menurut hukum (agama,
adat) diserahi kewajiban mengurus anak yatim serta hartanya sebelum anak itu dewasa atau pengasuh pengantin perempuan pada waktu nikah (yaitu orang yang melakukan janji nikah dengan pengantin laki-laki).”66
c. Perwalian ialah kekuasaan atau otoritas (yang dimiliki) seseorang untuk secara langsung melakukan suatu tindakan sendiri tanpa harus bergantung (terikat) atas izin orang lain.67
d. Sayyid sabiq mengatakan, “wali adalah suatu ketentuan hukum yang dapat dipaksakan pada orang lain sesuai dengan bidang hukumnya, selanjutnya menurut beliau wali ada yang khusus dan ada yang umum, yang khusus adalah yang berkaitan dengan manusia dan harta bendanya.”68
64 Soemiyati, Hukum Perkawinan Dan Undang-Undang Perkawinan, (Yogyakarta: Liberty, 1986), hlm. 41
65 Soedaryo Soimin, Hukum Orang Dan Keluarga, Perspektif Hukum Perdata Barat BW, Hukum Islam Dan Hukum Adat, (Jakarta: Sinar Grafika, 2002), hlm. 60
66 Hartono, Kamus Praktis Bahasa Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), hlm. 176
67 Muhammad Amin Suma, Op. Cit., hlm. 134.
68 Sayid Sabiq, Fiqh Sunnah 7, ( Bandung: Al Ma’arif, 1980), hlm. 7
e. Dedi Junaedi menyatakan “perwalian dalam dibagi kedalam dua kategori yaitu perwalian umum biasanya mencakup kepentingan bersama (bangsa atau rakyat) seperti waliyul amri (dalam arti gubernur) dan sebagainya, sedangkan perwalian khusus adalah perwalian terhadap jiwa dan harta seseorang, seperti terhadap anak yatim.”69 Perwalian khusus yaitu meliputi perwalian terhadap diri pribadi anak tersebut dan perwalian terhadap harta bendanya.
f. Ali Afandi menyatakan bahwa perwalian adalah “pengawasan pribadi dan pengurusan terhadap harta kekayaan seorang anak yang belum dewasa jika anak itu tidak berada di bawah kekuasaan orang tua, jadi dengan demikian anak yang orang tuanya telah bercerai atau salah satu dari mereka atau semuanya meninggal dunia, ia berada dibawah perwalian.”70
Pada intinya perwalian adalah pengawasan atas orang sebagaimana di atur dalam undang-undang, dan pengelolaan barang-barang dari anak yang belum dewasa (pupil).71 Demikian juga dengan penguasaan dan perlindungan terhadap seseorang sebagai wali, orang tersebut mempunyai hubungan hukum dengan orang yang dikuasai dan dilindungi, anak-anaknya atau orang lain selain orang tua yang telah disahkan oleh hukum untuk bertindak sebagai wali. Oleh karena itu perwalian tersebut adalah suatu kewenangan yang diberikan kepada seseorang untuk melakukan
69 Dedi Junaedi, Bimbingan Perkawinan, (Jakarta: Akademika Pressindo, 2000), hlm. 104
70 Ali Afandi, Hukum Waris, Hukum Keluarga, Hukum Pembuktian, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), hlm. 156
71 Vollmar, Pengantar Studi Hukum Perdata, (Jakarta: Rajawali Pers, 1997), hlm. 150
suatu perbuatan hukum sebagai wakil untuk kepentingan dan atas nama anak yang tidak mempunyai kedua orang tua atau orang tuanya masih hidup tetapi tidak cakap melakukan perbuatan hukum.
Orang tua membacakan adzan ketika anaknya baru lahir, menamainya dengan nama baik, menyunatkannya apabila anaknya laki-laki dan mengajarkan membaca al-qur’an secara benar. Orang tua mendidik anaknya supaya berbakti kepada keluarga dan masyarakat, membetulkan apabila ia melakukan kesalahan serta menasihati dan memberinya contoh yang baik. Syariat menegaskan supaya anak menghormati dan mematuhi orang tua serta orang yang lebih tua darinya, dan membantu mereka.72
Mengasuh dan merawat anak hukumnya wajib, sama seperti wajibnya orang tua memberikan nafkah yang layak kepadanya dimana semua ini harus dilaksanakan demi kemaslahatan dan keberlangsungan hidup anak. Islam dalam hubungannya dengan hak anak untuk mendapatkan pengasuhan dan perawatan, menuntut agar setiap orang yang berkewajiban memenuhi tugas ini agar melakukannya dengan ikhlas serta sepenuh hati.
Menurut Kompilasi Hukum Islam, anak adalah orang yang belum genap berusia 21 (dua puluh satu) tahun dan belum pernah menikah dan karenanya belum mampu untuk berdiri sendiri.73 Ketentuan ini berlaku sepanjang anak tidak mempunyai cacat fisik maupun mental atau belum pernah melangsungkan perkawinan, oleh karena itu segala perbuatan hukum yang dilakukan oleh anak diwakili oleh kedua orang tuanya, baik didalam maupun diluar pengadilan. Dalam hal
72 Ismail R. Al-Faruqi, Altar Budaya Islam, Menjelajah Kazanah Peradaban Gemilang, (Bandung: Mizan, 2003), hlm. 185
73 Pasal 98 Kompilasi Hukum Islam
kedua orang tuanya tidak mampu menunaikan kewajiban tersebut, maka Pengadilan agama dapat menunjuk seseorang kerabat terdekat untuk melaksanakannya.
Menurut ketentuan hukum syari’ah, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar seseorang dapat dijadikan wali bagi anak-anak yang belum atau tidak cakap bertindak secara hukum. Syarat yang dimaksud di antaranya adalah
1. Orang yang telah cukup umur dan berakal serta cakap bertindak hukum.
2. Agama wali harus sama dengan agama anaknya.
3. Memiliki sifat adil
4. Mempunyai kemauan untuk bertindak dan memelihara amanah.
Ketentuan Pasal 50, Pasal 51, Pasal 52, Pasal 53, Pasal 54 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, Pasal 107-112 Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang mengatur tentang perwalian dapat disimpulkan bahwa perwalian didefinisikan sebagai kewenangan untuk melaksanakan perbuatan hukum demi kepentingan, atau atas nama anak yang orang tuanya telah meninggal atau tidak mampu melakukan perbuatan hukum. Sementara itu, perwalian dalam pengertian fiqh Islam terbagi tiga, yakni perwalian jiwa (diri pribadi), perwalian harta, dan perwalian jiwa dan harta.
Pada umumnya tanggung jawab orang tua terhadap anak dalam hukum syari’at diatur adalah ibu yang memelihara anaknya ketika bercerai dan jika ibu sudah tidak ada, diserahkan kepada pemelihara yang lebih dekat dengan urutan sebagai berikut:
a. Ibunya ibu (nenek dari ibu)
b. Ibunya ayah (nenek dari ayah) c. Ibunya nenek
d. Seterusnya dengan mendahulukan perempuan baru laki-laki (kalau sudah
d. Seterusnya dengan mendahulukan perempuan baru laki-laki (kalau sudah