• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBEDAAN FETAL OUTCOME PADA KEHAMILAN ATERM DENGAN ANEMIA DAN TIDAK ANEMIA DI RUMAH SAKIT ACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI PERIODE JANUARI 2011 - DESEMBER 2013.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERBEDAAN FETAL OUTCOME PADA KEHAMILAN ATERM DENGAN ANEMIA DAN TIDAK ANEMIA DI RUMAH SAKIT ACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI PERIODE JANUARI 2011 - DESEMBER 2013."

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN FETAL OUTCOME PADA KEHAMILAN ATERM DENGAN ANEMIA DAN TIDAK ANEMIA DI RUMAH SAKIT ACHMAD MOCHTAR

BUKITTINGGI PERIODE JANUARI 2011 - DESEMBER 2013 SKRIPSI

Diajukan ke Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sebagai pemenuhan salah satu syarat untuk mendapatkan

gelar Sarjana Kedokteran

oleh

DAULAT AZHARI No.BP.1010313028

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

(2)

DIFFERENCES IN FETAL OUTCOMES BETWEEN ATERM PREGNANT WOMEN WITH ANEMIA AND NON ANEMIA IN THE ACHMAD MOCHTAR

HOSPITAL BUKITTINGGI

PERIOD JANUARY 2011- DECEMBER 2013.

By Daulat Azhari

Anemia in pregnancy is a health problem that become a common problem in developing countries. Anemia in pregnancy is a risk faktor of fetal outcome disorder and it have complication that increase of matenal and perinatal mortality. This is happened because anemia influencing of intrauterin fetal growth.

The purpose of this study is to determine the differences of fetal outcome between aterm pregnant women with anemia and non anemia.This research uses secondary data by using Cross Sectional Study design. Total sample is 110 patient consisting of 55 aterm pregnant women with anemia and 55 are non anemia. Sampling techniques used a consecutive sampling and for analysis used Mann Whitney test.

The analysis test result obtained mean birth weight babies in aterm pregnant women with anemia was 3097.27 gr± 366.93 gr abit lower compared to non anemia aterm pregnant women 3200.55 gr± 343.02 gr with p value= 0.214. The mean of APGAR score in the first minute in pregnant women with anemia was 7.04± 1.39 abit lower compared to non anemia aterm pregnant women 7.36± 0.65 with p value= 0.480 and the mean of APGAR score in the fifth minute in pregnant women with anemia was 8.11± 1.20 abit lower compared to non anemia aterm pregnant women 8.40± 0.62 with p value= 0.483. And for the mean of birth lenght in aterm pregnant women with anemia was 48,58 cm± 1.52 cm almost not have differences compared to non anemia aterm pregnant women 48.89 cm± 1.56 cm with p value= 0.310. The values of p value indicated there are no significantly diferences of birth weight, APGAR score in the first and fifth minute, and birth lenght betwen pregnant women with anemia compared to non anemia aterm pregnant women (p˃0.05).

Key words: birth weigh, APGAR score, birth lenght, aterm pregnant women with anemia

\

(3)

ABSTRAK

PERBEDAAN FETAL OUTCOME PADA KEHAMILAN ATERM DENGAN

ANEMIA DAN TIDAK ANEMIA DI RUMAH SAKIT ACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI

PERIODE JANUARI 2011 - DESEMBER 2013 Oleh

Daulat Azhari

Anemia pada kehamilan merupakan masalah kesehatan yang sering terjadi pada negara berkembang. Anemia pada kehamilan merupakan faktor resiko gangguan pada fetal outcome dan memiliki komplikasi yang meningkatkan maternal dan perinatal mortality. Hal ini dikarenakan anemia mempengaruhi tumbuh kembang janin di dalam kandungan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan fetal outcome pada kehamilan aterm dengan anemia dan tidak anemia..Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan rancangan penelitian Cross Sectional. Total sampel adalah 110 sampel yang terdiri dari 55 ibu hamil aterm dengan anemia dan 55 ibu hamil aterm tidak anemia. Tekhnik pengambilan sampel adalah consecutive sampling dan untuk analisis data menggunakan tes Mann- Whitney.

Hasil uji analisis diperoleh rerata berat badan lahir bayi pada ibu hamil aterm anemia adalah 3097,27 gr± 366,93 gr sedikit lebh rendah dibandingkan pada ibu hamil aterm tidak anemia 3200,55 gr± 343,02 gr dengan nilai p= 0,214. Rerata APGAR skor pada menit pertama pada kelompok anemia adalah 7,04± 1,39 sedikit lebih rendah jika dibandingkan pada ibu hamil aterm tidak anemia 7.36± 0,65 dengan nilai p= 0,480 dan untuk rerata APGAR skor pada menit kelima pada kelompok anemia 8,11± 1,20 sedikit lebih rendah dibandingkan ibu hamil aterm tidak anemia 8,40± 0,62 dengan nilai p= 0,483. Dan untuk rerata panjang badan lahir pada kelompok anemia adalah 48,58 cm± 1,52 cm hampir tidak memiliki perbedaan dibandingkan ibu hamil aterm tidak anemia 48,89 cm± 1,56 cm dengan nilai p=0,310. Dari nilai p yang didapatkan disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan berat badan lahir, APGAR skor menit pertama dan kelima, dan panjang badan lahir pada kehamilan aterm dengan anemia dan tidak anemia (p˃ 0,05).

Kata kunci: Berat badan lahir, APGAR skor, panjang badan lahir, wanita hamil aterm dengan anemia.

(4)

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anemia pada ibu hamil merupakan masalah kesehatan Anemia pada kehamilan merupakan faktor resiko gangguan pada fetal outcome dan memiliki komplikasi yang meningkatkan maternal dan perinatal mortality. Di dunia, 34% ibu hamil mengalami anemia, 75% diantaranya berada di negara berkembang (WHO, 2005). Defisiensi dari beberapa vitamin dan mineral yang digunakan dalam proses pembentukan sel darah merah normal dapat dihubungkan dengan gangguan eritropoisis dan anemia. Unsur-unsur dalam pembentukan sel darah merah normal termasuk besi, tembaga, kobalt vitamin A, B12, B6, C, E, asam folat, riboflavin dan asam nikotinat (Strong, 2010). Besi, folat, dan vitamin B12 merupakan bentuk defisiensi unsur penyusun sel darah merah tersering. Ibu hamil dengan anemia sebagian besar, yaitu sekitar 62,3% berupa anemia defisiensi besi (ADB) (Wiknjosastro, 2005).

Pada tahun 2007, AKI di Indonesia tercatat sebesar 247/100.000 kelahiran hidup. Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia seperti halnya di negara lain adalah perdarahan, infeksi dan eklampsia. Penyebab tidak langsung kematian ibu antara lain adalah anemia 51%, KEK (kurang energi kronis) 30%, dan 4 terlalu (terlalu muda usia kawin, terlalu tua melahirkan, terlalu dekat jarak melahirkan, dan terlalu sering melahirkan) (BKKBN, 2009). Berdasarkan data Laporan Bulanan Kesehatan Ibu dan Anak Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat tahun 2011, kejadian anemia di provinsi Sumatera Barat adalah sebesar 24,73%.

Kadar hemoglobin merupakan indikator biokimia untuk mengetahui status gizi ibu hamil (Suharto et al, 2012). Pada saat kehamilan normal terjadi

(5)

penurunan sedikit konsentrasi hemoglobin akibat hipervolemia yang terjadi sebagai suatu adaptasi fisiologis di dalam kehamilan. Konsentrasi hemoglobin <11 gr/dl merupakan suatu hal abnormal yang tidak berhubungan dengan hipervolemia tersebut (Cunningham et al, 2006).

Wanita hamil aterm cenderung menderita ADB karena pada masa tersebut janin menimbun cadangan besi untuk dirinya dalam rangka persediaan setelah lahir (Sin-Sin, 2008). Pada ibu hamil dengan anemia terjadi gangguan penyaluran oksigen dan zat makanan dari ibu ke plasenta dan janin yang memengaruhi fungsi plasenta. Fungsi plasenta yang menurun dapat mengakibatkan gangguan tumbuh kembang janin. Anemia pada ibu hamil dapat memunculkan fetal outcome berupa gangguan tumbuh kembang janin, kematian janin (Cunningham et al, 2005; Wiknjosastro, 2005), meningkatkan risiko berat badan lahir rendah (Karasahin et al, 2006; Simanjuntak, 2008), asfiksia neonatorum (Budwiningtjastuti et al, 2005), dan berat plasenta tinggi (Heinonei et al, 2001).

Berat bayi lahir merupakan salah satu indikator kesehatan bayi baru lahir. Berat bayi lahir normal (usia gestasi 37-42 minggu) adalah 2.500-4.000 gram (Damanik, 2010; Saifuddin dkk, 2002). Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang mempunyai berat lahir kurang dari 2.500 gram yang ditimbang pada saat lahir sampai dengan 24 jam pertama setelah lahir (Depkes RI, 2008). BBLR mempunyai resiko morbiditas dan mortalitas yang tinggi (Kliegman, 2000).

(6)

(Depkes RI, 2008). Dan dalam praktiknya untuk menghitung tingkat asfiksia bayi baru lahir digunakan metode skoring berdasarkan tabel APGAR skor yang dihitung pada menit pertama dan kelima kelahiran (Apgar, 1953).

Plasenta berperan dalam menentukan berat lahir bayi melalui kotribusinya yang sangat penting bagi pertumbuhan janin intra uterin (Guyton & Hall, 2008). Berat plasenta mencerminkan fungsi dan perkembangan dari plasenta itu sendiri (Asgharnia, 2007). Kapasitas pertumbuhan berat janin dipengaruhi oleh pertumbuhan plasenta, dan terdapat korelasi kuat antara berat plasenta dengan berat badan bayi lahir (Krane et al, 2007).

Pengukuran panjang badan merupakan salah satu pemeriksaan fisik yang dilakukan pada neonatus. Panjang badan lahir normal, yaitu 48-52 cm (DKAI, 2010). Panjang badan sebagai saah satu ukuran antropometrik neonatus di pengaruhi oleh perkembangan janin intrauterin (Anupama, 2013).

Masa perinatal, yaitu masa kehamilan 28 minggu sampai hari ke 7 setelah persalinan merupakan periode yang dapat terjadi penyebab kematian bayi. Penyebab kematian bayi yang terbanyak karena pertumbuhan janin yang lambat, kekurangan gizi pada janin, kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah, yaitu sebesar 38,85%. Sedangkan penyebab lainnya yang banyak terjadi adalah kejadian kurangnya oksigen dalam rahim (hipoksia intrauterin) dan kegagalan nafas secara spontan dan teratur pada saat lahir atau beberapa saat setelah lahir (asfiksia lahir), yaitu 27,97%. Hal ini menunjukkan bahwa 66,82% kematian perinatal dihubungkan dengan kondisi ibu saat melahirkan (Depkes RI, 2007).

(7)

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara fetal outcome pada kehamilan dengan anemia dan tidak anemia. Pada penelitian Bhalerao (2011) terhadap kelompok anemia dan tidak anemia menunjukkan terdapat peningkatan 1,8 kali resiko kejadian BBLR, 3,2 kali resiko kejadian kematian perinatal, dan 1,4 kali resiko APGAR skor rendah pada kelompok anemia. Pada penelitian Surinarti (2011) terhadap kelompok ibu hamil aterm anemia dan tidak anemia di dapatkan perbedaan bermakna pada berat plasenta dan berat badan lahir antara kelompok anemia dan tidak anemia. Berdasarkan penelitian Ruchayati (2009) terhadap 30 ibu hamil trisemester ketiga dengan anemia menunjukkan hubungan antara kadar hemoglobin di bawah normal dan panjang bayi yang kurang dari normal Dan sampai saat ini belum pernah dilakukan penelitian yang menganalisis perbedaan fetal outcome pada ibu anemia dan tidak anemia pada kehamilan aterm di RS Achmad Mochtar Bukittinggi.

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai fetal outcome pada ibu anemia di RS Achmad Mochtar Bukittinggi. 1.2 Rumusan Masalah

Apakah terdapat perbedaan fetal outcome pada kehamilan aterm dengan anemia dan tidak anemia di Rumah Sakit Achmad Mochtar Bukittinggi?

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

(8)

1. Untuk mengetahui berat badan lahir, APGAR skor, panjang badan lahir, berat plasenta, dan kematian perinatal pada persalinan aterm dengan anemia dan tidak anemia.

2. Untuk mengetahui perbedaan berat badan lahir, APGAR skor, panjang badan lahir, berat plasenta, dan kematian perinatal bayi pada persalinan aterm dengan anemia dan tidak anemia.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat:

1. Memberikan informasi dan masukan kepada semua pihak yang terlibat dalam bidang Obstetri di RS Achmad Mochtar sehingga dapat dipakai sebagai pertimbangan untuk meningkatkan kewaspadaan dan pelayanannya terhadap ibu hamil aterm dengan anemia.

2. Menambah wawasan dan pemahaman peneliti mengenai anemia pada ibu hamil.

3. Menambah pengetahuan bagi pembaca dan dapat sebagai bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anemia Dalam Kehamilan

2.1.1 Perubahan Hematologis Dalam Kehamilan

Secara fisiologis, pada wanita hamil akan terjadi anemia. Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh adanya sirkulasi ke plasenta, uterus yang membesar dengan pembuluh darah yang membesar pula, mammae dan alat lainnya yang memang berfungsi berlebihan dalam kehamilan, dan akan

Referensi

Dokumen terkait

[r]

adalah proses kompilasi pikiran alam ke dalam pikiran manusia yang akan terungkap kembali saat kita berdialog dengan alam. • Berdialog dengan alam tidak

Maka H0 ditolak dan H1 diterima yang berarti ada hubungan antara lama menderita hipertensi dengan kejadian demensia pada lansia di Dusun Pajaran, Desa Peterongan,

Bahan yang dipakai pada penelitian ini adalah cabai merah segar dan cabai merah giling dari beberapa pasar tradisional Kota Medan yaitu Pasar Padang Bulan, Pasar

Pendidikan anak usia dini (PAUD) mempunyai peran penting dalam menyiapkan anak untuk tumbuhkembang sampai dengan dewasa termasuk menyiapkan anak masuk pendidikan yang

Penelitian dengan simulasi software komputasi fluida dinamik (CFD) ini, bertujuan untuk mengetahui pengaruh parameter seperti kecepatan dan temperatur dari udara maupun

Tabel Karateristik

Dua pendekatan ini dimaksudkan untuk memberikan analisa substansi masalah terhadap perundang- undangan yang ada baik pada tingkat nasional maupun internasional yang berupa