Volume 1- Nomor 2- Tahun 2020 (hlm 1-18)
1 ANALISIS PROFESIONALISME WARTAWAN DALAM MELIPUT BERITA HUKUM DAN
KRIMINAL DI RADIO REPUBLIK INDONESIA MATARAM
Windah Sri Wahyuningsih-1, Hartin Nur Khusnia-2, dan Jamiluddin Nur-3
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi-1, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi-2, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi-3
Universitas Mataram Email : [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul Analisis Profesionalisme Wartawan Dalam Meliput Berita Hukum dan Kriminal di Radio Republik Indonesia Mataram. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan bagaimana profesionalisme wartawan dalam meliput berita hukum dan kriminal di Radio Republik Indonesia Mataram. Kajian teori yang digunakan untuk menganalisis penelitian ini ialah komunikasi massa, radio sebagai media massa, lembaga penyiaran publik, profesionalisme wartawan, standar kompetensi wartawan, kode etik jurnalistik, berita radio, karakteristik berita radio, jenis-jenis berita radio, prinsip dasar penulisan naskah berita radio, berita hukum dan kriminal, meliput berita hukum dan kriminal. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data yakni reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wartawan RRI Mataram masih kurang profesional berdasarkan analisis dokumen berita, karena terdapat berita yang tidak sesuai dengan kode etik jurnalistik seperti penggunaan kata-kata yang mengandung unsur sadisme, dan penggunaan nama inisial, serta pimpinan yang menilai kinerja wartawan dari ada atau tidak berita yang dihasilkan belum pada kualitas beritanya. Sementara untuk meningkatkan keterampilan liputan, wartawan rutin dikirim mengikuti pelatihan-pelatihan dan didorong untuk tetap membaca dan mengikuti perkembangan teknologi. Wartawan RRI Mataram aktif mengusulkan isu saat rapat agenda setting. Mereka tetap mengamati peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar untuk kemudian dijadikan bahan berita.
Kata Kunci : Profesionalisme Wartawan, RRI Mataram, Kompetensi Wartawan, dan Kode Etik Jurnalistik
Volume 1- Nomor 2- Tahun 2020 (hlm 1-18)
2 ABSTRACT
This research is titledAnalysis Of The Professionalism Of Journalists In Covering Legal And Criminal News On The Radio Of The Republic Of Indonesia Mataram. This research aims to find out and describe how professional journalists are in covering legal and criminal news on Radio Republik Indonesia Mataram. The theory studies used to analyze this research are mass communication, radio as mass media, public broadcasting institutions, journalist professionalism, journalist competency standards, journalistic code of conduct, radio news, radio news characteristics, types of radio news, basic principles of radio news scriptwriting, legal and criminal news, covering legal and criminal news. This study uses a type of descriptive research with a qualitative approach. Data collection techniques use observation, interview and documentation techniques. Data analysis techniques namely data reduction, data presentation and conclusion drawing. The results showed that RRI Mataram journalists are still less professional based on the analysis of news documents, because there are news that does not comply with the journalistic code of conduct such as the use of words containing elements of sadism, and the use of initial names, as well as leaders who assess the performance of journalists from existing or not news produced yet on the quality of the news. As for improving coverage skills, journalists are regularly sent following trainings and encouraged to keep reading and keeping up with technological developments. RRI Mataram journalists actively propose issues during agenda setting meetings. They keep an eye on what is happening in the neighborhood to be used as news material.
Keywords : Professionalism journalist, RRI Mataram, Competency Journalists, and journalistic code of conduct
PENDAHULUAN
Volume 1- Nomor 2- Tahun 2020 (hlm 1-18)
3 Undang-Undang Penyiaran No.32 Tahun 2002 mengamanatkan Radio Republik Indonesia (RRI) menjadi Lembaga Penyiaran Publik yang independen, netral dan tidak komersial yang berfungsi memberikan pelayanan siaran informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, serta menjaga citra positif bangsa Indonesia. Sebagai Lembaga Penyiaran Publik, RRI dituntut untuk memiliki sumber daya manusia yang mumpuni di bidangnya.
Salah satunya adalah wartawan. Namun, tidak semua wartawan menjalankan tugasnya secara bertanggung jawab, khususnya dalam meliput berita hukum dan kriminal. Hal ini dikarenakan wartawan tidak selalu disertai dengan kompetensi yang memadai sebagai wartawan profesional dan pemahaman terhadap kode etik jurnalistik.
Tidak hanya pemberitaan yang bermasalah, wartawan sebagai profesi juga kerap disalahgunakan. Dalam jurnal Komunikasi Universitas Padjajaran, Bandung oleh Hidayat dan Abdullah (2015), menyatakan jika profesi wartawan telah disalahgunakan untuk memperoleh penghasilan. Radio Republik Indonesia Mataram merupakan radio yang menaruh perhatian besar terhadap siaran beritanya. Namun, Penulis menemukan fakta bahwa wartawan RRI Mataram menemui sejumlah kendala dalam meliput berita hukum dan kriminal, seperti kesulitan mencari bahan berita sampai kesulitan dalam menggali data dan informasi dari narasumber.
Hal lain juga dilakukan oleh wartawan RRI Mataram, dimana pemakaian judul berita sensasional masih terlihat seperti, “Wanita cantik di Mataram dijadikan umpan kejahatan pemerasan.” (rri.co.id/mataram, 29 Januari 2020). Penggunaan kata-kata sadis juga terlihat pada berita, “Oknum Preman Soriutu Nekat Menebas Kanit Intelkam Polsek Manggelewa,”
(rri.co.id/mataram, 31 Oktober 2019). RRI Mataram sebagai Lembaga Penyiaran Publik di daerah dihadapi pula oleh kendala sumber daya manusia yang terbatas.
Berdasarkan pemaparan latar belakang masalah diatas, maka peneliti bermaksud untuk mengetahui sebagai berikut : Bagaimana profesionalisme wartawan dalam meliput berita hukum dan kriminal di Radio Republik Indonesia (RRI) Mataram?
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : Untuk mengetahui bagaimana profesionalisme wartawan dalam meliput berita hukum dan kriminal di Radio Republik Indonesia (RRI) Mataram.
Volume 1- Nomor 2- Tahun 2020 (hlm 1-18)
4 METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
Creswell (dalam Satori dan Komariah, 2013) menyatakan pendekatan kualitatif sebagai suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan-laporan memerinci, pandangan- pandangan dari penutur asli, dan melakukan studi di suatu pengaturan yang alami.
Fokus penelitian pada penelitian ini yakni bagaimana profesionalisme wartawan dalam meliput berita hukum dan kriminal berdasarkan pada produk beritanya serta kompetensi yang dimilikinya sesuai dengan standar kompetensi wartawan yang ditetapkan oleh Dewan Pers. Lokasi penelitian dilaksanakan di Kantor Radio Republik Indonesia Mataram yang berlokasi di Jl. Langko No. 83, Taman Sari, Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Subjek dalam penelitian ini adalah Wartawan RRI Mataram dalam bidang Hukum dan Kriminal dengan objek penelitiannya adalah profesionalisme wartawan yang akan dikaji menggunakan standar kompetensi wartawan berdasarkan Peraturan Dewan Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Wawancara yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu, wawancara tidak terstruktur. Wawancara tidak terstruktur, adalah wawancara yang bebas di mana peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan (Sugiyono, 2014: 318).
Penentuan informan pada penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling, yakni pemilihan informan dilakukan secara sengaja berdasarkan kriteria yang telah ditentukan dan ditetapkan. Berdasarkan kriteria tersebut, Informan peneliti yaitu:
Marsam, sebagai Kepala Bidang Pemberitaan, Nasrudin, sebagai Kepala Seksi Liputan Berita
& Dokumentasi, Zaenal Arifin, sebagai reporter dalam bidang Hukum dan Kriminal di Radio Republik Indonesia Mataram, Agus Santhosa, sebagai reporter dalam bidang Hukum dan Kriminal di Radio Republik Indonesia Mataram. Sumber data pada penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder.
Dalam penelitian ini, Teknik analisis data dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai jenuh. Aktifitas dalam analisis data yaitu, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data merupakan proses pemilihan, pemusatan perhatian, pengabstraksian dan pentransformasian data kasar dari lapangan.
Volume 1- Nomor 2- Tahun 2020 (hlm 1-18)
5 Proses ini berlangsung selama penelitian dilakukan, dari awal sampai akhir penelitian.
(Basrowi & Suwandi, 2008: 209).
Selanjutnya penyajian data berupa teks naratif. Setelah semua data yang berhubungan dengan permasalahan penelitian diperoleh, dan telah didukung oleh bukti- bukti yang valid dan konsisten, maka barulah didapatkan kesimpulan yang sesuai dengan permasalahan penelitian. Pada penelitian ini, penulis akan menggunakan triangulasi sumber, yaitu menguji kredibilitas data dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber (Sugiyono, 2016:274). Seluruh data atau informasi dari satu pihak akan dicek kebenarannya dengan cara memperoleh data dari sumber lain. Data yang digunakan yaitu dokumen berita serta buku Panduan Jurnalistik Radio dan Online.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Untuk mengetahui profesionalisme wartawan dalam meliput berita hukum dan kriminal di RRI Mataram. Peneliti mengacu pada kode etik jurnalistik dan standar yang telah ditetapkan oleh Dewan Pers pada peraturan Dewan Pers Nomor 1/Peraturan-DP/II/2010 tentang Standar Kompetensi Wartawan. Dalam peraturan tersebut terdapat tiga kompetensi yang harus dicapai oleh wartawan yaitu, kesadaran (Awareness), pengetahuan (Knowledge), dan keterampilan (skills). Standar ini kemudian menjadi alat ukur profesionalisme wartawan.
1. Kesadaran Wartawan RRI Mataram (Awareness) a. Kesadaran Etika dan Hukum
Wartawan harus memahami kode etik dalam meliput berita hukum dan kriminal seperti tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan asusila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan, serta selalu menerapkan asas praduga tak bersalah.
Saat diwawancarai terkait kesadaran etika dan hukum, Zainal arifin mengaku sudah memahami etika dan hukum dalam melaksanakan kegiatan jurnalistiknya. Dalam penerapannya di lapangan, Zainal mengaku pernah dihadapi dengan kasus pemberian amplop, namun ia tidak menerima amplop tersebut karena sadar hal itu melanggar kode etik jurnalistik. Ia mengatakan bahwa:
“Ada kasus begitu juga, dia ingin kasusnya diangkat kemudian saya diberi uang. Karena ini menyangkut konflik, saat itu saya tidak berani terima, karena harus konfirmasi ke pihak lain yang dituduh.
Volume 1- Nomor 2- Tahun 2020 (hlm 1-18)
6 Kalau saya ambil uangnya, berarti saya melanggar kode etik.” (Zainal Arifin, 10 Juni 2020).
Berdasarkan pernyataan Zainal, hal ini berkaitan dengan aturan yang mengikat wartawan sebagai profesi yaitu kode etik jurnalistik. Terdapat 11 Pasal yang ditetapkan oleh Dewan Pers, salah satu yang diterapkan oleh Zainal Arifin sesuai dengan keterangannya di atas yaitu, pasal 6 Kode Etik Jurnalistik yang isinya “wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.”Tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Zainal Arifin. Agus Santhosa mengatakan bahwa wartawan sebagai profesi yang diakui oleh Undang-undang memiliki kode etik yang sudah seharusnya dipatuhi oleh setiap wartawan. Ia mengatakan:
“Profesi wartawan diakui Undang-undang, dan tugas sehari- harinya adalah menghimpun informasi kemudian mengolahnya dengan menggunakan peralatan masing-masing. Untuk RRI sendiri tentu ada khusus Undang-undang penyiaran. Aturannya sama, bagaimana undang-undang mengatur hukum pers, melindungi kebebasan pers agar pers tahu fungsi dan tugas pokoknya.” (Agus Santhosa, 10 Juni 2020).
Hal lain disampaikan oleh Agus Santhosa, ia mengatakan bahwa saat ini RRI Mataram mengedepankan kuantitas belum mengedepankan kualitas dalam memperoleh berita. Pimpinan menilai sebanyak apa jumlah berita yang diperoleh wartawan setiap harinya. Ia mengatakan “Pimpinan saat ini baru menilai dari sisi nilai/value (ada), belum ke nilai etik (kualitas).” (Agus Santhosa, 10 Juni 2020).
Selain memiliki kesadaran akan etika, wartawan juga dituntut untuk memiliki kesadaran akan hukum yang mengatur, seperti UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Hal ini berguna untuk membantu wartawan agar berani memberitakan peristiwa apa saja demi kepentingan masyarakat. Oleh karena itu, wartawan harus memahami pasal-pasal yang menjerat secara hukum agar dapat bekerja dengan tepat.
Berdasarkan keterangan narasumber yang sudah diwawancarai terkait kesadarannya akan etika dan hukum dalam meliput berita hukum dan kriminal di RRI Mataram dengan hasil produk yang dihasilkan terdapat beberapa ketidak sesuaian.
Pertama, tidak semua berita kriminal di RRI Mataram memuat nama asli pelaku. Ditemukan juga berita kriminal yang menuliskan nama inisial. Hal ini menunjukkan bahwa RRI Mataram
Volume 1- Nomor 2- Tahun 2020 (hlm 1-18)
7 belum memiliki kebijakan khusus terkait pemberian nama pada pelaku/korban tindak kriminalitas. Namun, dalam wawancara kedua dengan Kepala Bidang Pemberitaan, Marsam mengatakan jika penulisan berita kriminal di RRI Mataram tetap menggunakan nama inisial ketika yang diduga pelaku belum terbukti bersalah di pengadilan.
Sementara wartawan hukrim, Zainal, mengaku jika penulisan nama asli pelaku kriminalitas bisa dilakukan atas permintaan kepolisian yang menganggap pelaku sudah terbukti bersalah berdasarkan temuan barang bukti dan saksi-saksi.
Di berita lain ditemukan bahwa wartawan RRI Mataram juga tidak patuh dengan kode etik jurnalistik pasal 4 yaitu wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul. Hal ini dibuktikan dari isi berita kriminal yang berjudul “Terlibat kasus pembunuhan berencana, pasangan suami istri ditangkap polres mataram” memuat kata- kata sadis pada kronologis kejadian yakni “memukul kepala korban dengan batu” serta
“menyodorkan sebilah pisau kepada suaminya untuk menikam korban hingga meninggal dunia di tempat kejadian”.
Terkait berita yang masih terdapat kata sadisme tersebut, Zainal mengaku itu lepas dari kontrolnya sebagai editor berita kriminal dan tidak akan ia ulangi lagi.
b. Kepekaan Jurnalistik
Kepekaan jurnalistik yang merupakan naluri dan sikap diri wartawan dalam memahami, menangkap, dan mengungkap isu tertentu yang kemudian dikembangkan menjadi suatu berita. Untuk menentukan topik liputan yang akan diangkat setiap harinya, Zainal Arifin sebagai wartawan mengatakan sebagai berikut:
“Selain melaksanakan rapat agenda setting untuk menentukan topik sasaran liputan, saya juga terus mencermati perkembangan situasi wilayah ini yang berkaitan dengan kriminal.
Isu-isu apa yang muncul di tengah masyarakat ini, langsung saya terjun ke masyarakat, kemudian nanti saya sampaikan pada saat rapat agenda seting.” (Zainal Arifin, 10 Juni 2020).
Menurut Zainal, agenda setting penting dilakukan untuk menekankan isu apa yang dianggap paling penting untuk diketahui oleh masyarakat sebagai topik utama di setiap
Volume 1- Nomor 2- Tahun 2020 (hlm 1-18)
8 harinya. Begitu juga dengan Agus Santhosa. Pemahaman akan isu di lapangan ia lihat dari bagaimana ia menentukan angle berita serta sejauh mana ia paham dengan fakta-fakta yang ada di lapangan. Ia mengatakan:
“Pemahamannya adalah ketika kita menentukan angle berita.
Tentu pemahaman kita terhadap apa yang hendak kita ungkap.
Artinya pemahaman itu muncul sebelum sudut pandang ditentukan oleh seorang wartawan. Bagaimana kita memahami fakta-fakta di lapangan atau himpunan kumpulan informasi yang diperoleh dari media lain atau sumber-sumber lain yang juga tidak menutup kemungkinan tidak ingin dipublikasikan atau sumber anonim.” (Agus, 17 Juni 2020).
Kepekaan jurnalistik seorang wartawan dapat dilihat dari hasil tulisan dan kualitasnya di lapangan. Dalam hal ini kepekaan jurnalistik wartawan RRI Mataram berbeda- beda berdasarkan pengalaman liputannya. Kepekaan tidak semerta-merta tumbuh dalam diri seorang wartawan, mesti ditumbuhkan bahkan dirawat untuk senatiasa peka. Peka terhadap urusan kemanusiaan dan keadilan. Menurut Agus, kepekaan dapat tumbuh dalam suasana penuh wawasan. Ia mengatakan sebagai berikut:
“Strategi menumbuhkan kepekaan yaitu dengan banyak menjembatani opini publik terhadap suatu kebijakan pemerintah.
Relasi wartawan dan publik adalah kepekaan terhadap persoalan kemasyarakatan.” (Agus, 4 Agustus 2020).
Berdasarkan peraturan Dewan Pers yang memuat standar kompetensi wartawan, kepekaan jurnalistik adalah naluri dan sikap diri wartawan memahami informasi untuk kemudian dijadikan sebuah berita. Kepekaan jurnalistik wartawan dapat terlihat dari produk berita yang dihasilkan. Sikap diri wartawan bisa dilihat dari bagaimana wartawan mengemas berita kriminal yang sesuai dengan kode etik jurnalistik. Seperti pada berita yang berjudul “Polda Nusa Tenggara Barat memeriksa Sa’ban Arahman pelaku pembunuhan Brigadir Rokhman Syaifuddin anggota kepolisian sektor Bolo, Kabupaten Bima” dalam berita tersebut wartawan RRI Mataram menuliskan berita dengan kata
“pelaku pembunuhan” padahal kasus masih dalam proses penyidikan. Serta, nama asli yang diduga pelaku pembunuhan ditulis dengan lengkap. Hal ini menunjukkan wartawan RRI Mataram tidak mempertimbangkan aspek praduga tak bersalah dan tidak memiliki empati dalam berita tersebut.
Volume 1- Nomor 2- Tahun 2020 (hlm 1-18)
9 Terkait hal tersebut, Agus mengatakan jika pelaku disebut berdasar ujar narasumber.
Menurutnya, esensinya berangkat dari penangkapan di tempat dan selaras keterangan saksi. Agus mengetahui tentang asas praduga tidak bersalah dan ia mengatakan jika editor memiliki peran dalam hal memperbaiki bila terjadi kekeliriuan. Zainal juga mengatakan jika berita tersebut merupakan release dari kepolisian, dan pihak kepolisian telah menuliskan nama pelaku dengan lengkap karena dianggap telah bersalah dengan barang bukti yang lengkap sehingga dalam penulisan berita release, RRI Mataram mengikuti apa yang diberikan oleh pihak kepolisian.
Wartawan seharusnya menggunakan kata terduga atau terdakwa untuk menerapkan asas praduga tak bersalah hal ini dikarenakan proses penyelidikan masih berlangsung dan belum ada keputusan pengadilan. Asas praduga tak bersalah penting diterapkan karena merupakan salah satu asas atau prinsip dasar yang secara khusus diatur dalam Undang- Undang No. 40 tahun 1999. Hal ini juga penting agar wartawan dapat terhindar dari tuduhan trial by press.Wartawan juga tidak seharusnya menulis langsung berita release tanpa mengikuti kode etik jurnalistik karena press release diartikan sebagai siaran pers yang dikeluarkan oleh sebuah lembaga, organisasi atau seorang individu secara tertulis untuk media massa yang isinya mewakili kepentingan lembaga, organisasi atau individu tersebut.
Wartawan perlu memfilter fakta dan informasi yang disajikan pada press release agar tidak menjadi berita yang bias.
Dari hasil wawancara serta observasi terhadap dokumen berita, penulis membagi menjadi dua upaya untuk meningkatkan kepekaan jurnalistik, yaitu upaya yang berasal dari wartawan dan upaya yang berasal dari institusi RRI Mataram. Upaya yang berasal dari wartawan yaitu berusaha untuk peka terhadap hal-hal kemanusiaan dan keadilan yang terjadi di lingkungan sekitarnya, ikut meliput ke lapangan bersama anggota kepolisian dengan tetap mengikuti aturan yang ada, selalu mencermati isu-isu apa yang muncul di tengah masyarakat serta menghimpun informasi yang diperoleh juga dari media lain.
Sementara upaya yang dilakukan oleh RRI Mataram yaitu menetapkan minimal tiga item berita setiap harinya sebagai target setiap wartawan, membuat perjanjian kerja dengan wartawan dimana jika melanggar mereka siap untuk diberhentikan, serta wartawan RRI Mataram diwajibkan membawa isu untuk dibahas saat rapat agenda setting.
c. Jejaring dan Lobi
Volume 1- Nomor 2- Tahun 2020 (hlm 1-18)
10 Wartawan harus dapat membangun jejaring dengan narasumber, membina relasi serta memanfaatkan akses. Hal tersebut juga diperlukan saat meliput berita hukum dan kriminal. Seperti yang disampaikan oleh Zainal Arifin, sebagai berikut:
“Sebagai wartawan kita harus punya akses yang luas. Kita harus punya sahabat di lapangan, baik dari wartawan sendiri, kepolisian termasuk TNI, kejaksaan dan pengadilan, karena jika ada kasus yang membutuhkan tanggapan mereka, kita dapat langsung menghubunginya.” (Zainal, 10 Juni 2020).
Agus sebagai wartawan juga mengaku memiliki cara untuk menjalin relasi dengan narasumber yang ia temui di lapangan. Ia mengatakan:
“Membangun jaringan tentu hal yang paling mudah, seperti meminta nomor narasumber ketika selesai diwawancarai. Beberapa pihak membangun jaringan atau relasi dengan narasumber dengan mengucapkan selamat ulang tahun, ini adalah hal-hal sederhana agar emosional terjalin. Jaringan juga dapat diperoleh dari narasumber yang sudah diwawancarai sebelumnya.” (Agus, 17 Juni 2020)
Upaya untuk meningkatkan jejaring dan lobi, berasal dari wartawan dan dari institusi RRI Mataram. Upaya yang berasal dari wartawan yaitu meningkatkan pengalaman wawancara dengan narasumber, meminta nomor telpon narasumber setelah melakukan wawancara, mengingat hari penting narasumber untuk menjaga ikatan emosional, serta bersahabat dengan wartawan media lain, kepolisian termasuk TNI, kejaksaan dan pengadilan.
Sementara upaya yang berasal dari RRI Mataram yaitu, mendatangkan narasumber dalam program Dialog pagi, dan menyimpan nomor telpon yang bisa dihubungi, selalu mengingatkan setiap wartawan untuk menjalin komunikasi yang baik dengan narasumber, serta bersikap sopan dengan berpakaian rapih, dan membawa tanda pengenal.
2. Pengetahuan Wartawan RRI Mataram (Knowledge)
Pengetahuan di sini terdiri dari pengetahuan umum, pengetahuan khusus, serta pengetahuan teori dan prinsip jurnalistik. Saat diwawancarai terkait pengetahuan, Zainal Arifin memberikan tanggapannya sebagai berikut:
Volume 1- Nomor 2- Tahun 2020 (hlm 1-18)
11
“Iya, baca buku itu perlu. Kita juga harus mengikuti perkembangan informasi dari media massa, salah satunya melewati radio ini. Selain itu juga, sebagai wartawan hukrim, kita harus hafal dengan pasal-pasal. Pasal tentang pencurian seperti apa, pasal tentang kekerasan bagaimana, pasal tentang korupsi dan kasus-kasus lainnya.” (Zainal, 10 Juni 2020).
Berdasarkan pernyataan Zainal, pengetahuan umum ia dapatkan melalui media massa dengan mengikuti perkembangan informasi, dan membaca sejumlah buku sementara pengetahuan khusus ia dapatkan dengan mempelajari pasal-pasal terkait hukum dan kriminal. Sebagai wartawan bidang hukrim Zainal perlu untuk memahami pasal-pasal tersebut untuk melengkapi fakta yang ia dapatkan di lapangan sehingga karya jurnalistik yang dihasilkan lebih bermutu. Tidak jauh berbeda dengan Zainal, selain membaca buku, mengikuti seminar atau berbincang-bincang dengan akademi dan praktisi, Agus juga mengatakan sebagai berikut:
“Tugas wartawan adalah mencari berita, sama halnya dengan wartawan di media lainnya. Profesi wartawan diakui Undang- undang, dan tugas sehari-harinya adalah menghimpun informasi kemudian mengolahnya dengan menggunakan peralatan masing- masing di medianya masing-masing dan dipublikasikan hari itu juga atau bersifat tunda karena mengikuti ritme dari mata acara atau program” (Agus, 18 Juni 2020).
Wartawan merupakan seseorang yang melakukan kegiatan jurnalistik secara terus menerus dan bekerja di perusahaan pers. Wartawan merupakan sebuah profesi karena wartawan terikat oleh Undang-Undang Pers dan juga kode etik jurnalistik. Wartawan RRI Mataram rata-rata sudah sering mendapatkan pelatihan baik di tingkat daerah maupun pusat.
Upaya untuk meningkatkan pengetahuan, yaitu berasal dari wartawan dan dari institusi RRI Mataram. Upaya yang berasal dari wartawan yaitu tetap membaca dan mengikuti forum-forum diskusi terkait jurnalistik, mengikuti perkembangan informasi melalui media massa, mengikuti pelatihan-pelatihan jurnalistik, memahami pasal-pasal dan istilah-istilah terkait tindak kriminalitas, serta mengikuti uji kompetensi sebagai
Volume 1- Nomor 2- Tahun 2020 (hlm 1-18)
12 wartawan dan menjadi anggota organisasi kewartawanan. Sementara Upaya yang dilakukan oleh RRI Mataram yaitu mengirim wartawan mengikuti pelatihan-pelatihan jurnalistik, memberi pembekalan dan bimbingan sebelum meliput ke lapangan, menyiapkan ruang diskusi terkait teknik penulisan, teknik liputan dan sejenisnya serta mendorong wartawan membaca media-media nasional, serta memiliki pusat pendidikan dan pelatihan reporter yang berada di Jakarta.
3. Keterampilan Wartawan RRI Mataram (Skills) a. Keterampilan peliputan (6M)
Keterampilan dalam melakukan peliputan mencakup keterampilan mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi. Kendala yang dihadapi di lapangan yaitu, kasus-kasus tersebut terjadi di luar jam kerja serta lokasinya yang cukup jauh. Seperti yang disampaikan oleh Zainal Arifin, sebagai berikut:
“Lokasi yang jauh menjadi kendala. Kita membutuhkan mobilitas yang cepat. Kemudian, akses-akses yang perlu kita mintai konfirmasi harus cepat semua. Terkadang petugas yang ada di lokasi bisa kita mintai keterangan, atau Kapolres yang mendapat laporan bisa kita mintai keterangan juga.” (Zainal, 10 Juni 2020).
Sebelum menulis berita radio, wartawan harus selalu mengingat bahwa mereka menulis berita untuk pendengar bukan pembaca. Seperti yang disampaikan oleh Agus, wartawan RRI Mataram sebagai berikut:
“Kalau dia berada di ranah jurnalistik tentu dia mengangkat fakta berdasarkan temuan pers di lapangan. Dikumpulkan 5W 1 H, piramida terbalik, kemudian dalam radio, singkat, padat dan jelas.
Disesuaikan dengan kemampuan seseorang menyimak melalui telinga.” (Agus, 17 Juni 2020).
Upaya untuk meningkatkan keterampilan peliputan, yaitu upaya yang berasal dari wartawan dan upaya yang berasal dari institusi RRI Mataram. Upaya yang berasal dari wartawan yaitu mengasah kembali ilmu yang sudah didapatkan melalui pelatihan dengan tetap menulis berita, mendengar dan membaca berita dari media lain untuk menambah
Volume 1- Nomor 2- Tahun 2020 (hlm 1-18)
13 wawasan dan menjadi pembanding produk yang mereka hasilkan, serta berjaga di pos-pos kepolisian, kantor pengadilan, kantor KPK, Komnas Ham dan lain-lain.
Sementara upaya yang berasal dari RRI Mataram yaitu memiliki buku panduan jurnalistik radio dan online yang diterbitkan oleh RRI Pusat, melakukan evaluasi setiap minggu terhadap produk berita yang dihasilkan, serta memberikan kesempatan kepada wartawan untuk mengikuti berbagai jenis keterampilan meliput ke pusat.
b. Keterampilan menggunakan alat dan teknologi informasi
Keterampilan menggunakan alat mencakup keterampilan menggunakan semua peralatan liputan termasuk teknologi informasi yang dibutuhkan. Zainal Arifin mengatakan sebagai berikut:
“Saya selalu bawa tape recorder dan alat tulis. Sudah saya paham alat-alatnya, karena ketika kita langsung melakukan wawancara di lapangan, kita bisa langsung siap.
Apalagi ketika melakukan wawancara cegat atau doorstop.”
(Zainal, 10 Juni 2020).
Penguasaan terhadap alat liputan memudahkan wartawan dalam mencari berita. Tidak hanya alat saat meliput, tetapi alat dan teknologi yang digunakan di ruang siaran. Agus mengatakan sebagai berikut:
“Tentu penting untuk menguasai alat. Tanpa alat kita tidak bisa menuntaskan tugas-tugas sehari-hari termasuk juga alat-alat di studio seperti penggunaan mikrofon dan editing melalui aplikasi audio.” (Agus, 17 Juni 2020).
Upaya untuk meningkatkan keterampilan menggunakan alat dan teknologi informasi, yaitu berasal dari wartawan dan berasal dari institusi RRI Mataram. Upaya yang berasal dari wartawan yaitu selalu membawa tape recorder, alat tulis, dan tanda pengenal sebagai jurnalis, menguasai alat siaran di studio seperti penggunaan mikrofon, menguasai teknik editing audio menggunakan aplikasi audio, serta melakukan sendiri pengadaan laptop agar dapat menulis berita dimana saja. Sementara upaya yang berasal dari RRI Mataram yaitu, menyediakan tape recorder, komputer dan jaringan internet, menyediakan
Volume 1- Nomor 2- Tahun 2020 (hlm 1-18)
14 kendaraan jika meliput di lokasi yang jauh, serta memberikan pembekalan sebelum terjun ke lapangan melalui briefing dan ditemani oleh wartawan yang telah berpengalaman.
c. Keterampilan riset dan investigasi
Keterampilan riset dan investigasi mencakup kemampuan menggunakan sumber- sumber refrensi dan data yang tersedia serta keterampilan melacak dan memverifikasi informasi dari berbagai sumber. Dengan riset, pembaca akan lebih yakin terhadap informasi yang didapatkan. Seperti yang disampaikan Zainal Arifin sebagai berikut:
“Pernah saya mendapatkan liputan investigasi, tapi lokasinya jauh. Liputan itu tentang penambangan illegal di Sekotong. Tentu sebelum terjun lapangan kita harus riset. Kita harus kumpulkan keterangan dari masyarakat. Apa dampak yang mereka rasakan terkait aktivitas tambang tersebut.
Setelah kita dapat data yang lengkap, langsung kita turun lihat lokasi.” (Zainal, 10 Juni 2020).
Zainal mengakui bahwa relasi yang baik membuat dia tidak kesulitan mendapatkan informasi yang terkadang justru tidak boleh diketahui oleh media lain, namun karena kuatnya hubungan relasi mereka, Zainal mampu untuk mendapatkan keterangan tersebut.
Sebagai bentuk dukungan kepada wartawan dalam melakukan riset dan investigasi, Agus mengatakan sebagai berikut:
“Fasilitas hampir seratus persen didukung RRI Mataram. Tiada kendala yang didapat karena menggunakan anggaran operasional. Sementara upaya sendiri lebih kepada terlibat dalam diskusi.” (Agus, 4 Agustus 2020).
Upaya untuk meningkatkan keterampilan riset dan investigasi yaitu, mengumpulkan keterangan melalui masyarakat dan pihak-pihak terkait sebelum terjun ke lokasi, memperkuat relasi dengan berbagai narasumber, serta mencari refrensi di internet.
Sementara upaya dari RRI Mataram yaitu, menyiapkan dokumen berita yang pernah terbit sebagai refrensi, memberikan dukungan dana kepada wartawan, uang makan dan tunjangan kinerja, serta menyiapkan dukungan kendaraan untuk meliput ke lokasi yang jauh.
Volume 1- Nomor 2- Tahun 2020 (hlm 1-18)
15 d. Keterampilan analisis dan arah pemberitaan
Kemampuan analisis dan arah pemberitaan ini mencakup kemampuan mengumpulkan, membaca dan menyunting fakta dan data kemudian mencari hubungan berbagai fakta dan data tersebut. Pada akhirnya wartawan dapat memberikan penilaian atau arah perkembangan dari suatu berita. Kemampuan menganalisis berita terlihat pada saat rapat agenda setting, dimana wartawan harus mampu meyakinkan kepada forum, isu yang mereka angkat tersebut penting untuk disiarkan. Seperti yang disampaikan oleh Zainal Arifin, sebagai berikut:
“Pernah berita saya tidak diizinkan naik oleh RRI, namun saya kasi penjelasan, kalo berita itu tidak bisa dimuat jika tidak terkonfirmasi kepada pihak yang berkaitan, dan berita saya sudah mendapatkan konfirmasi dari kedua pihak yang ada. Berita bisa ditahan untuk tidak naik ketika saya hanya mewawancarai salah satu pihak saja tanpa konfirmasi dari pihak lain. Setelah saya jelaskan, RRI bisa mengerti dan beritanya naik siar.” (Zainal, 10 Juni 2020).
Berdasarkan pernyataan tersebut, Zainal memiliki keterampilan dalam pengambilan keputusan. Hal tersebut merupakan salah satu soft skills yang penting dimiliki oleh seorang wartawan. Zainal mampu meyakinkan RRI Mataram jika berita yang ia sajikan sudah terkonfirmasi oleh kedua pihak dan terjamin ke akuratannya sehingga RRI Mataram akhirnya mengizinkan berita tersebut naik siar. Agus mengatakan sebagai berikut:
“Analisis membutuhkan konsentrasi dan satu peristiwa tidak dapat hanya dilihat pada persoalan kriminal.
Akan tetapi ada keinginan untuk membongkar peristiwa dari penglihatan lain. Dukungan sentral ada di tingkat redaktur. Misalnya, memutuskan satu berita dapat bersifat running/berkelanjutan hingga tuntas ditilik dari berbagai aspek. Muaranya ada kepada audiens.” (Agus, 4 Agustus 2020).
Upaya untuk meningkatkan keterampilan analisis dan arah pemberitaan, yaitu berasal dari wartawan dan dari institusi RRI Mataram. Upaya yang berasal dari wartawan yaitu, menyajikan berita secara akurat dan berimbang, membuat rencana liputan.
Volume 1- Nomor 2- Tahun 2020 (hlm 1-18)
16 Sementara upaya yang berasal dari RRI Mataram yaitu, memberikan ruang diskusi untuk melempar isu di whatsapp sebelum dirapatkan pada rapat agenda setting, mengirim berita nasional minimal dua item berita serta berita voice untuk pro 3.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti mengenai analisis profesionalisme wartawan dalam meliput berita hukum dan kriminal di Radio Republik Indonesia Mataram, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Wartawan RRI Mataram masih kurang profesional berdasarkan analisis dokumen berita, karena terdapat berita yang tidak sesuai dengan kode etik jurnalistik seperti penggunaan kata-kata yang mengandung unsur sadisme, dan penggunaan nama inisial, serta pimpinan yang menilai kinerja wartawan dari ada atau tidak berita yang dihasilkan belum pada kualitas beritanya.
2. Berdasarkan Standar Kompetensi yang ditetapkan oleh Dewan Pers, yaitu kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan terdapat hal-hal yang dilakukan untuk meningkatkan kompetensi wartawan:
a. Kesadaran
Kesadaran wartawan ditingkatkan dengan memberikan setiap wartawan tanda pengenal sebagai pers, menerapkan seragam kerja, memberikan arahan serta pemahaman terkait tugas dan tanggung jawab sebagai wartawan. Begitu juga dengan kepekaan jurnalistik, wartawan RRI Mataram aktif mengusulkan isu saat rapat agenda setting dan tetap menjaga relasi yang baik dengan narasumber.
b. Pengetahuan
Pengetahuan wartawan ditingkatkan dengan terus membaca dan mengikuti forum-forum diskusi terkait jurnalistik, mengikuti perkembangan informasi melalui media massa, memahami pasal-pasal dan istilah-istilah terkait tindak kriminalitas, serta mengikuti uji kompetensi sebagai wartawan dan menjadi anggota organisasi kewartawanan
c. Keterampilan
Keterampilan ditingkatkan dengan cara mengasah kembali ilmu yang sudah didapatkan dengan tetap menulis, mendengar dan membaca berita dari media lain, melakukan evaluasi setiap minggu, memberikan kesempatan kepada wartawan
Volume 1- Nomor 2- Tahun 2020 (hlm 1-18)
17 untuk mengikuti berbagai jenis keterampilan meliput ke pusat, serta menguasai alat siaran di studio seperti penggunaan mikrofon, menguasai teknik editing audio menggunakan aplikasi audio.
Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan :
1. Wartawan RRI Mataram harus tetap menjaga profesionalitasnya dengan menerapkan kode etik jurnalistik dalam bekerja. Hal ini tidak hanya berguna bagi individu wartawan namun juga agar tetap menjaga nama baik lembaga, yaitu Radio Republik Indonesia.
2. Sosialisasi dengan memberi arahan, saran dan masukan terkait tugas dan tanggung jawab sebagai wartawan harus selalu dilakukan secara berkala.
3. Bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti terkait profesionalisme wartawan di RRI Mataram, peneliti selanjutnya dapat meneliti profesionalisme wartawan pada bidang berita lain seperti olahraga, politik, ataupun sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Basrowi, dan Suwandi. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Rineka Cipta: Jakarta.
Satori, Djam’an, Komariah, Aan. 2013. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung:
Alfabeta
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuatitatif, Kualitatif, dan Kombinasi (Mixed Methods). Alfabeta: Bandung.
Sugiyono, 2016. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta:
Bandung.
Sumber Jurnal :
Hidayat, Dadang Rahmat dan Abdullah, Aceng. Fenomena Penyimpangan Profesi
Jurnalis. Jurnal Komunikasi, Universitas Padjajaran Bandung, Volume 10, Nomor 1.
2015
Volume 1- Nomor 2- Tahun 2020 (hlm 1-18)
18 Sumber Website :
RRI (https://m.rri.co.id/profil.html) diakses pada 31 Oktober 2019
Kode Etik Jurnalistik (Dewan Pers. 2013. Pers berkualitas masyarakat cerdas.
Diakses pada 25/02/2020, dari https://dewanpers.or.id/assets/ebook/buku/822- Buku%20Pers%20berkualitas%20masyarakat%20Cerdas_final.pdf)
Peraturan Dewan Pers Tentang Standar Kompetensi Wartawan (Dewan Pers. 2018.
(https://dewanpers.or.id/assets/ebook/buku/1901191536_Buku_2018_SKW.pdf) Diakses pada 25/02/2020.
UU Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers. (Dewan Pers. 2013. Pers berkualitas masyarakat cerdas. Diakses pada 25/02/2020).
UU Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran. (Ppidkemkominfo. 2012. Diakses
pada 25/02/2020, https://ppidkemkominfo.files.wordpress.com/2012/11/uu-no- 32-tahun-2002-tentang-penyiaran.pdf).