148 PENGELOLAAN LIMBAH B3 MEDIS RUMAH SAKIT
DI SUMATERA BARAT PADA MASA PANDEMI COVID-19
Hospital Medical Waste Management in West Sumatera during COVID-19 Pandemic
Elsa Yolarita1, Desi Widia Kusuma11Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Sumatera Barat Email: [email protected]
Diterima: 1 Oktober 2020; Direvisi: 6 November 2020; Disetujui: 31 Desember 2020
ABSTRACT
The problem of managing medical waste is still an obstacle for most hospitals, especially during the COVID-19 pandemic. This study aims to determine the amount ofmedical waste, evaluation of hospital medical waste management and the implementation of discretion in West Sumatera during COVID-19 pandemic. Data collection was carried out by distributing questionnaires online with google forms. The results showed that the amount of medical waste almost doubled during the pandemic, with the largest being around 41,670 kg month. Management that does not comply with standards is storage of medical waste, selecting a special route, transportation by special trolly, disinfection and non-compliance with the use of PPE for waste officers. Discretion was carried out by 4 hospitals with obstacles including the incinerator not meeting the requirements and the absence of medical waste transportation. It is recommended that the hospital conduct monitoring and evaluation of medical waste management and compliance with the use of PPE for waste officers. The local government facilitates discretion through the procurement of medical waste transportation to PT. Semen Padang, strive for large hospitals to process medical waste from surrounding health care facilities and build a medical waste transfer depot.
Keywords: Hospital, medical waste, COVID-19, discretion
ABSTRAK
Persoalan pengelolaan limbah B3 medis masih menjadi kendala sebagian besar rumah sakit terutama pada masa pandemi COVID-19. Penelitian ini bertujuan mengetahui jumlah limbah B3 medis, evaluasi pengelolaan limbah B3 medis rumah sakit serta pelaksanaan diskresi di Sumatera Barat pada masa pandemi COVID-19. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner secara daring dengan google forms. Hasil penelitian menunjukkan jumlah limbah B3 medis rata-rata meningkat hampir 2 kali lipat pada masa pandemi, terbesar sekitar 41.670 kg/bulan. Pengelolaan yang tidak sesuai standar adalah pengurangan dan pemilahan, penyimpanan limbah B3 medis, pemilihan jalur khusus pengangkutan dengan trolly khusus, disinfeksi serta ketidakpatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) petugas limbah. Diskresi dilaksanakan oleh 4 rumah sakit dengan kendala antara lain incinerator tidak memenuhi persyaratan dan ketiadaan transportasi limbah B3 medis. Disarankan rumah sakit untuk melakukan monitoring dan evaluasi pengelolaan limbah B3 medis serta kepatuhan penggunaan APD petugas limbah. Pemda memfasilitasi diskresi melalui pengadaan transportasi limbah B3 medis ke PT. Semen Padang, mengupayakan rumah sakit besar mengolah limbah B3 medis dari Fasyankes sekitarnya dan membangun transfer depo limbah B3 medis.
Kata kunci: Rumah sakit, limbah B3 medis, COVID-19, diskresi
149
PENDAHULUANCorona Virus Disease-19 (COVID- 19) pertama kali dilaporkan pada tanggal 31 Desember 2019 di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China yang disebabkan oleh Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) (Rifa’i, I., dkk, 2020).
Penularan virus dapat terjadi melalui mulut, hidung atau mata orang yang rentan ketika kontak langsung, tidak langsung, atau dekat dengan orang yang terinfeksi melalui sekresi yang terinfeksi seperti air liur dan atau tetesan pernapasannya, yang dikeluarkan saat orang yang terinfeksi batuk, bersin, berbicara atau bernyanyi (WHO, 2020).
COVID-19 berkembang dengan cepat ke berbagai negara sehingga WHO menetapkan sebagai pandemi pada tanggal 11 Maret 2020 (Morfi, C.W, et.al. 2020).
Sampai tanggal 2 Mei 2020, WHO melaporkan lebih dari 3.000.000 kasus dan lebih dari 200.000 kematian (Nzediegwu &
Chang, 2020). Di Indonesia, sampai 7 September 2020 kasus COVID-19 telah mencapai 196.989 orang dengan pasien sembuh sebanyak 140.652 orang dan meninggal sebanyak 8.130 orang (Tempo.com, 2020).
COVID-19 berdampak pada meningkatnya jumlah limbah medis sehingga membebani fasilitas pelayanan kesehatan (Calma, 2020). Pada bulan Maret 2020, limbah medis di Malaysia meningkat sebesar 10 % dari bulan sebelumnya (Hakim, 2020), di Jakarta meningkat sebesar 30 % (Rikin, 2020). Sedangkan di Kota Wuhan, China, terjadi peningkatan dari 40 ton menjadi 240 ton per hari (Brunell, 2020).
Fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes) menghasilkan sekitar 75-90%
limbah domestik atau disebut dengan limbah tidak berbahaya yang berasal dari ruangan administrasi, dapur dan kerumahtanggaan.
Sisanya sekitar 10-25 % tergolong limbah berbahaya dan beracun (B3) meliputi limbah benda tajam, limbah infeksius, limbah patologis, limbah farmasi, limbah sitotoksik, limbah bahan kimia dan limbah radioaktif yang berpotensi menimbulkan dampak terhadap kesehatan dan lingkungan (WHO, 2014).
Hasil pengawasan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menemukan beberapa permasalahan dalam pengelolaan limbah B3 medis antara lain penumpukan limbah infeksius, penyimpanan sementara yang tidak memenuhi standar, belum melakukan prosedur pengelolaan limbah B3 secara benar, penggunaan insinerator yang tidak sesuai standar (mengeluarkan asap hitam dan emisi pencemar), keterbatasan jasa pengolah limbah B3 dan lainnya (KLHK, 2018).
Kemenkes (2020) mengkalkulasi secara nasional persentase rumah sakit yang melakukan pengelolaan limbah sesuai standar pada Tahun 2019 baru mencapai 42,64%.
Dalam Pasal 123 Peraturan Pemerintah No. 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dinyatakan bahwa penghasil limbah B3 yang tidak mampu melakukan sendiri pengolahan limbah B3 dapat diserahkan pada pengolah limbah B3 (pihak ke tiga). Penghasil limbah B3 dapat mengolah sendiri limbah nya sepanjang mampu memenuhi persyaratannya. Namun pada kenyataannya hanya sedikit rumah sakit yang mampu memenuhi persyaratan tersebut yakni persyaratan lokasi serta peralatan dan teknis pengoperasian peralatan pengolahan Limbah B3 secara termal dengan incinerator sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, 2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Di Indonesia dengan jumlah 2.889 rumah sakit, hanya 110 yang memiliki
insinerator berizin. Kondisi ini mengakibatkan terbatasnya
kapasitas pengolah limbah B3 medis yang baru mencapai 53,12 ton/hari. Ditambah dengan kapasitas jasa pengolahan oleh pihak ketiga sebesar 187,90 ton/hari, sementara jumlah limbah B3 medis diprediksi mencapai 294,66 ton/hari (Prasetiawan, T, 2020).Provinsi Sumatera Barat memiliki fasyankes sebanyak 2.831 buah yang terdiri dari 71 rumah sakit, 269 puskesmas, 931 puskesmas pembantu dan serta 1.562 fasyankes lainnya dengan total timbulan
150
limbah B3 medis sebesar 1,64 ton/hari.
Sampai saat ini, tidak satupun fasyankes tersebut yang memiliki incinerator berizin karena sulitnya proses perizinan (Universitas Andalas, 2019). Studi pendahuluan oleh Balitbang Provinsi Sumatera Barat (2020) terhadap 15 rumah sakit mengungkapkan bahwa sulitnya proses perizinan menyebabkan pengolahan limbah B3 medis dikerjasamakan dengan pihak ketiga.
Akibatnya, biaya pengolahan limbah B3 medis menjadi mahal yakni antara Rp.
17.000–Rp.23.000/kg limbah. Salah satu rumah sakit dapat mengeluarkan biaya sampai dengan Rp 1 milyar/tahun untuk biaya pengolahan limbah B3 medis ini.
Pada masa pandemi COVID-19, KLHK mengeluarkan kebijakan diskresi melalui Surat Edaran Nomor : SE.2/MENLHK/PSLB3/PLB.3/3/2020 tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan Sampah Rumah Tangga dari penangangan Corona Virus Disease (COVID-19) untuk membantu fasyankes mengelola limbah B3 medisnya sendiri walaupun belum memiliki perizinan.
Selanjutnya berdasarkan Rapat Koordinasi Regional KLHK terkait pengelolaan limbah B3 medis pada masa pandemi COVID-19 disampaikan bahwa apabila rumah sakit tidak memiliki pengolah limbah B3 medis, dapat dikerjasamakan dengan pabrik semen.
Pengelolaan limbah B3 medis secara tepat dan benar menjadi kunci dalam pengendalian penyebaran COVID-19 (Nzediegwu & Chang, 2020; Peng, J., et al, 2020; Prihartanto, 2020; Singh, N., et al, 2020; Yu, H., et al, 2020). Penelitian pengelolaan limbah B3 medis pada masa pandemi COVID-19 di Indonesia menurut pengetahuan peneliti belum ditemukan sampai saat ini. Namun di China telah dilakukan oleh beberapa peneliti antara lain oleh Yu, H., et al (2020) terkait desain pengelolaan limbah B3 medis sementara pada masa COVID-19. Peng, J (2020) menguraikan tata kelola limbah COVID-19 di rumah sakit dan Singh, N., et al (2020) mengungkapkan kesuksesan Cina dalam mengelola limbah COVID-19. Mengingat pentingnya persoalan pengelolaan limbah B3 medis terutama masa pandemi COVID-19,
maka dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui gambaran jumlah limbah B3 medis, evaluasi pengelolaan limbah B3 medis rumah sakit dan pelaksanaan diskresi di Sumatera Barat pada masa pandemi COVID-19.
BAHAN DAN CARA
Penelitian menggunakan metode gabungan (mixed method) kuantitatif dan kualitatif yang berguna untuk memperoleh data yang lebih komprehensif, valid, reliable, dan objektif (Sugiyono, 2017). Metode penelitian gabungan akan dapat memperoleh pemahaman yang paling baik dan hasil yang lebih utuh dan komprehensif terhadap suatu fenomena atau masalah yang diteliti (Muri Yusuf, 2015; Cresweel, 2012). Pemilihan sampel (rumah sakit) dilakukan secara sengaja (purposive sampling) terhadap 26 rumah sakit yang terdiri dari 2 (dua) rumah sakit khusus COVID-19 (SK Gubernur Provinsi Sumatera Barat No. 440-300-2020), 7 (tujuh) rumah sakit rujukan penanggulangan penyakit infeksi emerging tertentu SK Gubernur Sumbar No. 440-359-
2020 dan SK Menkes No.
HK.01.07/MENKES/169/2020, dan 17 rumah sakit jejaring yang tersebar di Kabupaten/Kota di Sumatera Barat. Rumah sakit yang bersedia menjawab kuesioner sebanyak 17 rumah sakit (2 rumah sakit khusus,7 rumah sakit rujukan dan 8 rumah sakit jejaring). Disamping itu juga dilakukan observasi pada satu rumah sakit rujukan serta indepth interview kepada 4 (empat) rumah sakit yang menjalankan diskresi dengan informan petugas pada Bagian Kesehatan Lingkungan/Sanitasi. Pengumpulan data dilakukan pada Minggu IV Juli 2020 – Minggu I Agustus 2020 melalui penyebaran kuesioner secara daring dengan google forms. Data yang dikumpulkan meliputi jumlah limbah B3 medis, pengelolaan limbah B3 medis, dan pelaksanaan diskresi. Analisis kuantitatif dilakukan dengan mendeskripsikan data yang berkaitan dengan jumlah dan pengelolaan limbah B3 medis.
Analisis kualitatif dilakukan dengan mendeskripsikan data terkait pelaksanaan diskresi.
151
HASILJumlah Limbah B3 Medis pada Masa Pandemi COVID-19 di Provinsi Sumatera Barat
COVID-19 di Provinsi Sumatera Barat terus meluas sejak kasus terkonfirmasi pertama dilaporkan pada tanggal 26 Maret 2020. Pada awalnya, kasus ditemukan di Kota Padang dan Kota Bukittinggi, selanjutnya menyebar dengan cepat pada 8 kabupaten/kota dalam kurun waktu 3 minggu sejak pertama kali dilaporkan (Balitbang Sumbar, 2020).
Total pasien (baik yang dirawat maupun diperiksa) pada 17 rumah sakit COVID-19 sampai tanggal 30 Juni 2020 berjumlah 1.598 orang. Kondisi ini menyebabkan jumlah limbah B3 medis meningkat. Peningkatan hampir 2x lipat mulai Bulan April – Juni 2020 sejalan dengan dimulainya pandemi COVID- 19.Jumlah limbah B3 medis terbesar pada Bulan Juni 2020 yakni 41.760 kg.
Selengkapnya dapat dilihat pada Gambar 1 berikut.
Gambar 1. Jumlah limbah B3 medis dari 17 RS COVID-19 selama bulan Januari - Juni 2020 di Sumatera Barat
Evaluasi Pengelolaan Limbah B3 Medis pada Masa Pandemi COVID-19
Pengurangan, Pemilahan dan Pewadahan Evaluasi praktik pengurangan dan pemilahan dapat dilihat pada Gambar 2.
Sebagian besar rumah sakit sudah melakukan upaya pengurangan (58,82%), pemilahan (64,71%) dan pemilahan dekat sumber (70,59%). Namun masih ada yang tidak melakukan prosedur tersebut yakni pengurangan limbah B3 (17,65%), pemilahan limbah B3 (29,41%) dan
pemilahan dekat sumber (23,53%). Pada saat memilah, semua rumah sakit (100%) menyatakan bahwa petugas pengelola limbah sudah dilengkapi Alat Pelindung Diri (APD).Namun kondisinya berbeda pada saat dilakukan kunjungan langsung kepada salah satu rumah sakit rujukan. Ditemui petugas limbah B3 tidak disertai dengan APD lengkap seperti : pakaian khusus, sarung tangan, masker, kacamata goggle, dan sepatu boot. Petugas tersebut hanya menggunakan sepatu boot sedangkan masker dan sarung tangan disimpan dalam saku celana.
152
Gambar 2. Evaluasi praktik pengurangan dan pemilahan limbah B3 medis
Gambar 3 menunjukkan evaluasi pewadahan dimana sebagian besar sudah menerapkan sesuai aturan pada setiap tahapan prosedur pewadahan, bahkan semua rumah sakit (100%) sudah memasukkan
limbah B3 ke dalam wadah yang dilapisi kantong plastik warna kuning bersimbol
‘berbahaya”. Hanya sebagian kecil (5,88%) kadang-kadang menerapkan dan 11,76%
tidak menerapkan prosedur dimaksud.
Gambar 3. Evaluasi praktik pewadahan limbah B3 medis
Penyimpanan
Pada Gambar 4 memperlihatkan jenis Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) limbah B3 medis dimana sebanyak 6 rumah
sakit memiliki TPS Limbah B3 medis, namun tidak dilengkapi cold storage dan 11 rumah sakit memiliki TPS Limbah B3 yang dilengkapi cold storage dengan suhu ˂ 0oC.
153
Gambar 4. Jumlah RS berdasarkan jenis TPS limbah B3Evaluasi praktik penyimpanan limbah B3 medis dapat dilihat pada Gambar
5 dimana sebagian besar juga sudah menerapkannya.
Gambar 5. Evaluasi praktik penyimpanan limbah B3 medis
Pada prosedur pengangkutan, pencatatan dan penyimpanan limbah pada TPS limbah B3 medis, semua rumah sakit (100 %) sudah menerapkannya. Beberapa prosedur yang tidak dijalankan yakni penyimpanan limbah di cold storage dengan suhu ˂ 0oC jika tidak langsung dilakukan pengolahan (29,41%), disinfeksi limbah B3 medis yang telah diikat bila akan diangkut ke pengolah (5,88%) dan disinfeksi plastik yang telah terikat di TPS limbah B3 (5,88%). Pada prosedur penyemprotan TPS limbah B3 dengan disinfektan mininmal 1 kali sehari, sekitar 23,53% kadang-kadang melakukannya.
Pengangkutan
Praktik pengangkutan dapat dilihat pada Gambar 6 dimana sebagian besar melakukan sesuai aturan. Namun pada prosedur pemilihan jalur khusus pengangkutan limbah COVID-19, sebagian besar (58,82%) kadang-kadang melakukannya dan hanya 29,42% yang melakukannya. Pada praktik pengangkutan ini juga terdapat prosedur yang tidak dilaksanakan yakni pengangkutan dengan transportasi khusus (11,76%) dan disinfeksi trolly limbah COVID-19 sebelum dan sesudah pengangkutan (11,76%).
154
Gambar 6. Evaluasi praktik pengangkutan limbah B3 medis
Semua rumah sakit memiliki kerjasama pengangkutan dengan pihak ketiga (transporter). Frekuensi pengangkutan oleh transporter dapat dilihat pada Gambar 7 dimana sebagian besar (47,06%) pengangkutan tidak menentu, 41,18% 1 x seminggu dan 11,76% diangkut 2 x seminggu. Tidak teraturnya penjemputan disebabkan oleh meningkatnya jumlah limbah B3 medis dan perusahaan transporter merasa takut karyawannya terpapar COVID-
19.Untuk mengatasi hal ini maka rumah sakit melakukan beberapa upaya antara lain : melakukan pembakaran pada kiln PT. Semen Padang, meminimalisir pemakaian APD sesuai dengan peruntukannya, merencanakan pembelian cold storage, melakukan konfirmasi ulang dan menegur pihak transporter, rencana adendum terkait periode pengangkutan sesuai ketentuan serta melakukan penyemprotan disinfektan.
Gambar 7. Frekuensi pengangkutan limbah B3 medis oleh transporter
Pengolahan
Sebagian besar rumah sakit (88,24%) tidak memiliki incinerator, hanya
11,76% yang memiliki incinerator namun tidak memiliki izin (Gambar 8).
155
Gambar 8. Pengolah limbah B3 medis yang dimiliki rumah sakitPelaksanaan Diskresi Pengelolaan Limbah B3 Medis
Pelaksanaan diskresi dapat dilihat pada Gambar 9, dimana hanya 4 rumah sakit yang melaksanakannya dan 13 rumah sakit tidak melaksanakan diskresi, sedangkan Gambar 10 menjelaskan alasan rumah sakit yang tidak melaksanakan diskresi. Sebagian
besar sudah melakukan kerjasama dengan pihak ke tiga (50%), selanjutnya sekitar 25%
karena ketiadaan incinerator dan sebagian kecil (12,5%) incinerator dalam kondisi rusak serta permasalahan pengadaan box pengemasan yang disyaratkan PT. Semen Padang (12,5%).
Gambar 9. Jumlah rumah sakit yang melaksanakan dan tidak melaksanakan diskresi
156
Gambar 10. Alasan rumah sakit tidak melaksanakan diskresi
Gambaran pelaksanaan diskresi dapat dilihat pada Tabel 1 dimana 2 (dua) rumah sakit melakukan kerjasama dengan PT. Semen Padang, 2 (dua) rumah sakit lainnya menggunakan incinerator belum
berizin. Permasalahan yang muncul dalam pelaksanaan diskresi antara lain : ketiadaan transportasi untuk mengangkut limbah B3 medis ke PT. Semen Padang dan incinerator yang tidak memenuhi persyaratan.
Tabel 1. Gambaran pelaksanaan diskresi dari 4 (empat) RS COVID-19
No Jenis dikresi Jumlah RS yang melaksanakan
Gambaran Pelaksanaan Diskesi 1. Kerjasama dengan
PT. Semen Padang
2 Ketiadaan transportasi pengangkut limbah, untuk sementara menggunakan mobil ambulans yang sudah tidak terpakai.
Transportasi pengangkut limbah difasilitasi oleh Dinas Kesehatan, proses administrasi difasilitasi oleh Dinas Lingkungan Hidup. Jumlah limbah yang terangkut sedikit karena ukuran wadah yang disyaratkan kecil (40 x 35 cm2).
2. Pengoperasian incinerator belum berizin
2 Incinerator merupakan hibah dari Pemda, sempat dioperasikan selama 1 bulan (2x seminggu) pada awal pandemi, setelah itu tidak dioperasikan lagi karena warga sekitar komplain akibat asap hitam dari incinerator
Incinerator milik sendiri dengan kapasitas 10 kg/jam, sempat dioperasikan selama 1 bulan pada awal pandemi. Karena kasus COVID-19mulai menurun (Juli-Agustus) maka pemakaian incinerator dihentikan. Awal September 2020 kasus COVID- 19 mulai meningkat,incinerator direncanakan akan digunakan kembali.
157
PEMBAHASANEvaluasi Pengelolaan Limbah B3 Medis pada Masa Pandemi COVID-19
Pengelolaan Limbah B3 medis telah diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI No. 56 Tahun 2015 yang meliputi : pengurangan dan pemilahan, penyimpanan, pengangkutan, pengolahan dan pemusnahan (penimbunan atau penguburan).
Untuk limbah medis dari penanganan pasien COVID-19, pengelolaanya diatur dalam Pedoman Pengelolaan Limbah Rumah Sakit Rujukan, Rumah Sakit Darurat dan Puskemas yang Menangani Pasien COVID-19. Secara spesifik, pedoman ini mengatur APD bagi petugas (pewadahan, pengangkutan, incinerator, transporter dan pengolah limbah COVID-19), label dan simbol limbah, teknik dan bahan disinfektan serta sarana limbah COVID-19 dengan perlakuan khusus (TPS, trolly dan bin) (Kemenkes RI, 2020).
Pengelolaan limbah B3 medis rumah sakit di Sumatera Barat pada masa pandemi COVID-19 sudah dilakukan namun masih belum sesuai persyaratan. Pada praktik pengurangan dan pemilahan masih terdapat rumah sakit yang tidak melaksanakannya.
Tahapan pemilahan sangat penting diperhatikan agar limbah non B3 medis dan limbah B3 medis tidak tercampur karena limbah dari pasien yang terinfeksi dalam jumlah yang besar dapat menyebabkan penyakit pada inang yang rentan (WHO, 2014).
Pada praktik penyimpanan, tidak dilengkapinya TPS limbah B3 dengan cold storage menjadi masalah ketika limbah disimpan lebih dari 2 (dua) hari. Fakta ini dapat dilihat dari frekuensi penjemputan limbah B3 medis oleh transporter yang sebagian besar tidak menentu dan 1 x seminggu. Penyimpanan limbah B3 medis yang melebihi 2 (dua) hari juga terjadi di beberapa rumah sakit di Indonesia sebagaimana hasil evaluasi Pertiwi, A., dkk (2017) pada sebuah sebuah rumah sakit di Semarang.
Dalam peraturannya, limbah infeksius seperti COVID-19 paling lama boleh disimpan 2 (dua) hari pada suhu normal. Di Cina, peraturan penyimpanan limbah B3 medis pada masa COVID-19
bahkan lebih ketat lagi yakni tidak melebihi 1 (satu) hari sehingga dapat mengendalikan penularan COVID-19 (Peng. J, et. al., 2020).
Selanjutnya, yang perlu mendapat perhatian adalah masih terdapat rumah sakit yang tidak melaksanakan prosedur disinfeksi baik pada plastik limbah B3 medis yang telah diikat maupun pada TPS limbah B3 medisnya.
Proses disinfeksi merupakan salah satu hal pokok yang diatur pada masa pandemi COVID-19 (Kemenkes RI, 2020).
Dilihat dari praktik pengangkutan, masih terdapat rumah sakit yang tidak melaksanakan prosedur penting seperti pemilihan jalur khusus, pengangkutan dengan trolly khusus serta disinfeksi trolly limbah COVID-19 sebelum dan sesudah pengangkutan. KLHK RI (2018) menyatakan bahwa pengangkutan limbah B3 medis diupayakan menggunakan alat angkut yang berbeda dengan sampah biasa untuk menghindari potensi tertukar dan tercampur.
Sedangkan untuk jalur pengangkutan, Yu, H., (2020) menyarankan agar menghindari keramaian serta jam sibuk pagi dan sore hari.
Ditinjau dari praktik pengolahan, sebagian besar rumah sakit tidak memiliki peralatan pengolahan limbah B3 medis dan hanya sebagian kecil yang memiliki incinerator tidak berizin. Kondisi ini mengakibatkan semua rumah sakit harus melakukan kerjasama dengan pihak ketiga yang bertanggung jawab untuk mengolah dan memusnahkan limbah B3 medis.
Berkaitan dengan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi petugas limbah, walaupun hasil penelitian menunjukkan bahwa semua rumah sakit telah menerapkannya namun berbeda ketika pengamatan di lapangan ditemui petugas hanya menggunakan sepatu boot. APD lain seperti masker dan sarung tangan disimpan dalam saku celana. Kemenkes RI (2020) menjelaskan bahwa Alat Pelindung Diri (APD) lengkap petugas terdiri dari pakaian khusus, sarung tangan, masker, kacamata goggle, dan sepatu boot.
Ketika dikonfirmasi dengan Bagian Kesehatan Lingkungan rumah sakit, disampaikan bahwa hal ini merupakan perilaku petugas limbah yang tidak patuh.
Sedangkan APD lengkap diprioritaskan
158
untuk tenaga kesehatan seperti dokter dan perawat. Keterbatasan anggaran menyebabkan petugas limbah tidak dilengkapi dengan APD lengkap.
Penggunaan APD lengkap bagi petugas limbah perlu mendapat perhatian karena adanya risiko pajanan limbah infeksius kepada petugas (KLHK RI, 2018).
Gambaran Pelaksanaan Diskresi
Diskresi merupakan kewenangan pejabat pemerintah untuk mengatasi keadaan darurat/mendesak pada kondisi tertentu. Hal ini dilakukan jika peraturan yang berlaku tidak mengaturnya atau karena peraturan yang ada mengatur sesuatu hal tidak jelas (Ansori. L., 2015).
Kebijakan diskresi pengelolaan limbah B3 medis awalnya dilakukan oleh KLHK pada Tahun 2018. Hal ini dilakukan karena pada tanggal 8 Desember 2017 ditemukan 250 ton limbah medis yang dibuang ke bantaran Sungai Winong, Kabupaten Cirebon. Penyebabnya karena adanya fasilitas pengolah limbah B3 yang tidak beroperasi sehingga terjadi penumpukan limbah B3 medis. Kondisi ini dipandang sebagai darurat limbah B3 medis.
Pada tanggal 9 April 2018, KLHK
mengeluarkan SK Menteri
Nomor.176/Menlhk/Setjen/PLB.2/4/2018 tentang Penanganan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan oleh PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk, PT Holcim Indonesia Tbk., PT Semen Padang dan PT Cemindo Gemilang. Hal ini dilakukan karena pabrik semen memiliki fasilitas kiln yang mampu membakar limbah B3 pada suhu yang sangat tinggi sehingga limbah B3 dapat terbakar dengan sempurna. Kondisi ini hanya bersifat sementara dan berlaku selama 6 bulan mulai 9 April sampai 9 Oktober 2018 (KLHK RI, 2018).
Selama pandemi COVID-19, KLHK mengeluarkan kebijakan diskresi untuk membantu fasyankes dalam mengelola limbahnya. Melalui kebijakan ini, fasyankes dapat mengolah limbah medisnya sendiri dengan menggunakan incinerator (suhu pembakaran minimal 8000C) ataupun autoclave yang dilengkapi pencacah
(shredder). Namun, jika tidak memiliki peralatan pengolah limbah B3 medis, dapat bekerjasama dengan pabrik semen.
Terkait kerjasama pengolahan dengan pabrik semen, Pemerintah Prov.
Sumatera Barat menindaklanjutinya dengan mengeluarkan SK Gubernur Sumatera Barat No.660-285-2020 tentang Penunjukan Kiln Indarung V PT. Semen Padang sebagai Lokasi Pemusnahan Limbah B3 Infeksius Penanganan COVID-19 di Provinsi Sumatera Barat Barat. PT. Semen Padang ditunjuk untuk menerima limbah COVID-19 dari fasyankes, lokasi karantina maupun rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga yang dibuang dalam drop box di ruang publik berupa masker. Semua biaya pengolahan ditanggung oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Salah satu rumah sakit yang melaksanakan kerjasama dengan PT. Semen Padang mengalami kendala dengan transportasi sehingga menggunakan mobil ambulans yang sudah lama tidak beroperasi untuk mengangkut limbah B3 medisnya ke PT. Semen Padang.
Kapasitas mobil ambulans untuk mengangkut limbah B3 medis sangat terbatas, disamping itu PT. Semen Padang hanya menerima limbah B3 medis yang sudah di kemas dengan wadah berukuran 40 x 35 cm2. Adanya persyaratan tersebut menyulitkan rumah sakit karena ukuran wadah terlalu kecil sedangkan jumlah limbah B3 medis sangat banyak. Pemerintah Daerah seperti Dinas Lingkungan dan Dinas Kesehatan setempat juga tidak dapat memfasilitasi pengangkutan limbah B3 medis tersebut karena memprioritaskan penjemputan untuk lokasi karantina dan isolasi mandiri yang jumlahnya juga banyak.
Penggunaan mobil ambulans oleh rumah sakit untuk mengangkut limbah B3 medis tidak sesuai dengan persyaratan karena pengangkutan limbah B3 harus memiliki rekomendasi pengangkutan limbah B3 sebagaimana yang tercantum dalam PP No.
101 Tahun 2014 serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.
P.4/MENLHK/SETJEN/KUM.1/1/2020 tentang Pengangkutan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
159
Dalam penggunaan incineratorbelum berizin, salah satu rumah sakit mengalami kendala pada saat operasional karena mengeluarkan asap hitam sehingga dikomplain oleh warga sekitar. Penggunaan incinerator dihentikan sementara menunggu proses perbaikan selesai.
Pada umumnya RS tidak memiliki incinerator ataupun autoclave karena sulitnya proses perizinan. Kalaupun memiliki incinerator, kemungkinan dalam keadaan rusak atau tidak memenuhi persyaratan teknis. Jika pengolahan limbah B3 medis dikerjasamakan dengan PT. Semen Padang maka terkendala dengan transportasi untuk pengangkutan limbah B3 medis ke PT.
Semen Padang. Beberapa kendala yang dihadapi menyebabkan pelaksanaan diskresi menjadi kurang optimal.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Jumlah limbah B3 medis selama pandemi Covid-19 mengalami peningkatan hampir 2 (dua) kali lipat. Peningkatan terbesar terjadi pada Bulan Juni 2020 yakni 41.670 kg. Pengelolaan limbah B3 medis rumah sakit di Provinsi Sumatera Barat pada masa pandemi COVID-19 belum sepenuhnya dilakukan sesuai persyaratan terutama pada praktik penyimpanan limbah B3 medis, pemilihan jalur khusus, pengangkutan dengan trolly khusus, pelaksanan disinfeksi serta ketidakpatuhan petugas dalam menggunakan APD. Kondisi ini dapat menyebabkan potensi penyebaran COVID-19 di rumah sakit di Sumatera Barat.
Pada pelaksanaan diskresi, hanya 4 (empat) rumah sakit yang menerapkannya dengan kendala ketiadaan transportasi untuk mengangkut limbah B3 medis ke PT. Semen Padang dan incinerator yang tidak memenuhi persyaratan teknis. Kondisi ini menyebabkan pelaksanaan diskresi menjadi kurang optimal.
Disebabkan oleh timbulan limbah meningkat hampir 2 x lipat sementara kapasitas pengolahan masih belum memadai karena diskresi kurang optimal, maka kemungkinan berdampak pada semakin meningkatnya biaya pengolahan limbah B3 medis yang akan dikeluarkan oleh rumah sakit.
Saran
Meningkatkan peran rumah sakit dalam melakukan monitoring dan evaluasi terhadap terhadap pengelolaan limbah B3 medis dan kepatuhan penggunaan APD petugas limbah.
Meningkatkan peran Pemerintah Daerah untuk:
Memfasilitasi pelaksanaan diskresi melalui pengadaan transportasi limbah B3 medis ke PT. Semen Padang. Membangun transfer depo (transit) limbah B3 medis berbasis klaster wilayah selama masa pandemi. Mengupayakan Rumah Sakit Umum besar melakukan pengolahan limbah B3 medis yang bersumber dari Rumah Sakit kecil, Puskesmas, Klinik dan fasyankes lainnya berdasarkan kota/kabupaten.
UCAPAN TERIMAKASIH
Terima kasih kami ucapkan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat yang memfasilitasi pengumpulan data pada rumah sakit. Selanjutnya kepada Dra. Yulfira Media, MSi atas masukan dan sarannya pada penulisan artikel ini.
DAFTAR PUSTAKA
A. Muri Yusuf. (2015). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Penelitian Gabungan (Cetakan ke-2). Prenadamedia Group.
Akmal Hakim. (2020). The World Is Producing Way More Medical Waste, Including Malaysia.
https://www.therakyatpost.com/2020/04/04/t he-world-is-producing-way-more-medical- waste-including-malaysia/
Ansori, L. (2015). Diskresi Dan Pertanggungjawaban Pemerintah Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan. Jurnal Yuridis, 2(1), 134–150.
https://doi.org/http://dx.doi.org/10.35586/.v2i 1.165
Badan Penelitian dan Pengembangan Prov. Sumbar.
(2020). Kajian Evaluasi Pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Tahap I.
Badan Penelitian dan Pengembangan Sumbar, (2020.).
Laporan Kajian Rencana Kegiatan Pusat Pengolahan Limbah B3 Medis Sumatera Barat.
Brunell, D C. (2020). Medical waste piles up during outbreak.
https://www.spokesman.com/stories/2020/apr /09/don-c-brunell-medical-waste-piles-up- during-outbre/
160
Calma, J. (2020). The COVID-19 Pandemic Is Generating Tons of Medical Waste:
Sanitation Workers Need Personal Protective Equipment Too. https://www.theverge.
com/2020/3/26/21194647/the-covid-19- pandemic-isgenerating-tons-of-medical- waste.
Cresweel, J. W. (2012). Educational Research:
Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research (Fourth edi). Pearson Education Inc.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020).
Pedoman Pengelolaan Limbah Rumah Sakit Rujukan, Rumah Sakit Darurat dan Puskesmas yang Menangani Pasien Covid- 19.
Kementerian Kesehatan RI. (2020). Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2019
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.
(2018). Peta Jalan (Road Map) Pengelolaan Limbah B3 dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Morfi, C.W., Junaidi, A., Elsesmita, dkk (2020).
Kajian Terkini Corona Virus Disease 2019 (Covid 19). Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Volume 1 Nomor 1, 2020.
Nzediegwu, C., & Chang, S. X. (2020). Improper solid waste management increases potential for COVID-19 spread in developing countries.
Resources, Conservation and Recycling,
161(May), 104947.
https://doi.org/10.1016/j.resconrec.2020.1049 47
Peng, J., Wu, X., Wang, R., Li, C., Zhang, Q., & Wei, D. (2020). Medical waste management practice during the 2019-2020 novel coronavirus pandemic: Experience in a general hospital. American Journal of Infection Control, 48(8), 918–921.
https://doi.org/10.1016/j.ajic.2020.05.035 Peraturan Pemerintah RI No. 101 Tahun 2014 tentang
Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun.
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 56 Tahun 2015 tentang Tata Cara dan Persyaratan Teknis Pengelolaan Limbah B3 dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Pertiwi, V., Joko, T., & Dangiran, H. L. (2017).
Evaluasi Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun (B3) Di Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang.
Jurnal Kesehatan Masyarakat (e-Journal), 5(3), 420–430.
Prasetiawan, T. (2020). Permasalahan Limbah Medis Covid-19 Di Indonesia. Info Singkat, Vol.
XII, No. 9/I/Puslit/Mei/2020.
Prihartanto, M. (2020). Prediction of Medical Hazardous Waste Generation From Covid-19 Patient Handling Hospitals. Jurnal Sains Dan Teknologi Mitigasi Bencana, 15(1), 12–
18.
https://doi.org/10.29122/jstmb.v15i1.4118 Rifa’i, I., Irwansyah, F. S., Sholihah, M., & Yuliawati,
A. (2020). Dampak dan Pencegahan Wabah
Covid-19 : Perspektif Sains dan Islam. Jurnal Pendidikan, 1(1), 1–10.
Rikin, A Supriyanti. (2020). Limbah Medis Covid-19 Harus Dimusnahkan dengan Insinerator Bersuhu 800 Derajat Celsius.
https://www.beritasatu.com/irawati-diah- astuti/nasional/624043/limbah-medis- covid19-harus-dimusnahkan-dengan- insinerator-bersuhu-800-derajat-celsius.
Singh, N., Tang, Y., Zhang, Z., & Zheng, C. (2020).
COVID-19 waste management: Effective and successful measures in Wuhan, China.
Resources, Conservation and Recycling,
163(July), 10–11.
https://doi.org/10.1016/j.resconrec.2020.1050 71
SK Gubernur Sumbar. (2020). SK Gubernur Sumbar No. 440-359-2020.
SK Gubernur Sumatera Barat No.660-285-2020 tentang Penunjukan Kiln Indarung V PT.
Semen Padang sebagai Lokasi Pemusnahan Limbah B3 Infeksius Penanganan COVID-19 di Provinsi Sumatera Barat.
SK Menkes No. HK.01.07/MENKES/169/2020).
SKMenteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor.176/Menlhk/Setjen/PLB.2/4/2018 tentang Penanganan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan oleh PT Indocement Tunggal Perkasa Tbk, PT Holcim Indonesia Tbk., PT Semen Padang dan PT Cemindo Gemilang.
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian dan Pengembangan. CV. ALFABETA.
Surat Edaran Menteri Lingkungan Hidup dan
Kehutanan RI.
No.SE.2/MENLHK/PSLB3/PLB.3/3/2020 Tentang Pengelolaan Limbah Infeksiksius (Limbah B3) dan Sampah Rumah Tangga dari penangangan Corona Virus Disease (Covid-19).
Tempo.com. (2020). Kasus Positif Covid-19, 59 Negara Perketat Kedatangan Warga Negara Indonesia.
Universitas Andalas. (2019). Studi Kelayakan Pembangunan Pusat Pengelolaan Limbah B3 Medis Provinsi Sumatera Barat.
WHO. (2014). Safe management of wastes from health- care activities (Second edi; U. P. Yves Chartier, Jorge Emmanuel, R. S. Annette Prüss, Philip Rushbrook, & S. W. and R. Z.
William Townend, Eds.).
WHO. (2020). Transmission of SARS-CoV-2:
implications for infection prevention precautions.
Yu, H., Sun, X., Solvang, W. D., & Zhao, X. (2020).
Reverse logistics network design for effective management of medical waste in epidemic outbreaks: Insights from the coronavirus disease 2019 (COVID-19) outbreak in Wuhan (China). International Journal of Environmental Research and Public Health, 17(5), 1770.