31 BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1 Gambaran Obyek Penelitian 4.1.1 Profil Perusahaan
Detikcom (PT. Agranet Multi Citra Siberkom )
Detikcom didirikan secara resmi pada tanggal 9 Juli 1998 oleh Budiono Darsono, Abdul Rahman, Didi Nugrahadi, dan Yayan Sopyan dibawah bendera PT Agranet Multicitra Siberkom. Sejak berdiri detikcom terus mengalami perkembangan dan menjadikannya sebagai pionir dalam menyajikan berita dan informasi secara online.Hingga kini detikcom masih menjadi situs berita pertama dan terbesar di Indonesia. Pada bulan Agustus tahun 2011, detikcom secara resmi menjadi bagian dari PT Trans Corporation yang menaungi dua media televisi besar di Indonesia yakni TRANS TV dan TRANS7.Tepat pada tanggal 15 Desember 2011, detikcom melakukan re-launching dan menetapkan tanggal tersebut sebagai hari lahirnya.
Bergabungnya Detikcom dengan PT Trans Corporation dibawah naungan bendera CT Corporation diharapkan semakin memperkuat detikcom sebagai media online terbesar di Indonesia yang memiliki komitmen kuat untuk menyebarkan informasi dan berita teraktual, terlengkap dan akurat baik, dari dalam negeri maupun mancanegara.Dengan dukungan lebih dari 200 orang wartawan dan kontributor yang tersebar di seluruh Indonesia dan luar negeri, detikcom berkomitmen untuk terus memberikan informasi tercepat, dari menit ke menit dengan topik yang beragam, mulai dari politik, ekonomi, isu nasional, keuangan, olahraga, kesehatan, otomotif, wisata sampai dengan hiburan. Hampir 55%, pengunjung detikcom didominasi oleh laki-laki dan sisanya sebesar 45% adalah perempuan dengan kisaran SES AB. Berdasarkan data yang diperoleh dari situs Alexa.com, detikcom merupakan satu-satunya situs berita yang masuk ke dalam sepuluh besar situs terpopuler di Indonesia bersaing dengan sejumlah situs luar lainnya seperti google, yahoo, facebook, twitter dan wordpress.
Saat ini jumlah pengunjung detikcom lebih dari 35 juta per hari. Kondisi ini akan terus berkembang mengingat jumlah pengguna internet di Indonesia semakin bertambah dari tahun ke tahun seiring dengan kemajuan
teknologi khususnya di dunia digital. Kekuatan inilah yang menjadikan detikcom sebagai saluran terbaik bagi penyampaian informasi yang efektif, ditambah dengan kekuatan pada social media, baik twitter maupun facebook.Jumlah follower di akun twitter detikcom saat ini sudah mencapai lebih dari 3 juta orang dan 101.000 fans di facebook.
Seiring dengan perkembangannya, detikcom saat ini memiliki 15 kanal berita, 2 kanal komunitas yang memiliki keragaman dan kedalaman konten.15 Kanal tersebut terdiri dari detikNews, detikFinance, detikiNet, detikSport, detiOto, detikHot, detikFood, detikHealth, detikTravel, detikTV, detikFoto, wolipop dan alamatku. Kanal komunitas yaitu detikForum dan Blogdetik. Saat ini detikcom juga memiliki 5 produk terbaru berupa aplikasi mobile dan tablet seperti i-Pad, Android tablet. Produk – produk tersebut adalah MasakApa, Makan di Mana, Harian Detik, Majalah Detik dan My Trans- sebuah aplikasi live streaming dan video on demand.
DetikNews merupakan salah satu kanal terpopuler di detikcom berisi berita teraktual dari ranah politik, hukum, kasus kriminal, isu-isu nasional dan internasional. detikFinance berisi informasi seputar keuangan, bursa efek, portofolio, peluang usaha. Berbagai informasi seputar teknologi informasi dan perkembangannya dapat disimak di detikiNet.Bagi para pecinta dunia olahraga, informasi dapat diperoleh di detikSport, seperti jadwal pertandingan sepakbola, basket, tenis dan banyak lagi.detikOto menawarkan informasi seputar dunia otomotif. Untuk informasi mengenai selebriti, musik, film terlengkap hanya ada di detikHot.Dapatkan info terhangat seputar dunia kesehatan di detikHealth.
Selain kanal-kanal berita seperti detikNews, detikSport, kanal-kanal yang menjadi favorit bagi pembaca detikcom adalah detikFood, detikTravel dan wolipop.detikFood merupakan salah satu kanal yang berisi informasi tentang dunia kuliner, mulai dari resep-resep masakan hingga ulasan tempat-tempat makan favorit baik di Indonesia maupun luar negeri. detikTravel adalah salah satu kanal detikcom yang memberikan informasi seputar dunia wisata seperti tempat-tempat wisata, akomodasi, penginapan dan keanekaragaman budaya, khususnya di Indonesia. Semua informasi seputar dunia perempuan tersaji lengkap di kanal wolipop, mulai dari permasalahan cinta, keluarga, karir serta dunia fashion paling update saat ini.
Setelah Detikcom diakuisisi oleh CT.Corp pada tahun 2011 yang lalu sebesar Rp. 540 Milliar, Detikcom mengalami banyak perubahan, termasuk jajaran direksinya. Saat ini Budiono Darsono menjabat sebagai Direktur Utama Detikcom sekaligus menjadi Dewan Direksi .
Logo Detikcom :
Gambar 4.1 Logo Detikcom (PT. Agranet Multi Citra Siberkom ) (Sumber : www.detik.com)
4.1.1.1 Visi dan Misi & Motto Detikcom (PT. Agranet Multi Citra Siberkom )
Motto :
“Mengapa menunggu besok, detik ini juga.”
Sebagai media pemberitaan internet pertama di Indonesia hadir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi dan tercepat
Visi :
Tumbuh sebagai sebuah perusahaan besar dan menjadi pemain dominan di mobile dan industri iklan online.
Misi :
Melayani pembaca setia dan dihargai dengan informasi bersamaan, membuat tersedia berbagai layanan bagi pelanggan mobile, dan membantu klien (pengiklan) dalam mencapai tujuan mereka.
Struktur Organisasi Detikcom (PT. Agranet Multi Citra Siberkom )
STRUKTUR DETIKCOM
MANAJEMEN DETIKCOMGambar 4.2 Struktur Manajemen Detikcom (Sumber : Company Profile)
Board Of Commisioner
Presiden Director
Finance & Corp. Services Director IT Director
Sales & Marketing Director Content Director
(Corporate Chief Editor)
Entertainment Director
DIREKTORAT SALES & MARKETING DETIKCOM
Gambar 4.3 Struktur Direktorat Sales & Marketing Detikcom (Sumber : Company Profile)
Manajemen detikcom terbagi menjadi 5 direktorat yaitu News & Content, Entertainment, Sales & Marketing, IT, Finance & Corporate Services.Departemen Marketing Public Relations masuk dalam direktorat Sales & Marketing.dan berada di bawah divisi Marketing & Promotions. Departemen Marketing Public Relations dipimpin oleh seorang Kepala
Sales & Marketing Director
Marketing & Promotions Div. Head Sales Div. Head
Sales & Advertising Dept. Head
Mobile Vast Dept. Head
Marketing Public Relations Dept. Head Promotions & Graphic
Dept. Head Commercial & Traffic
Dept. Head Marketing Services
Departemen. Departemen MPR – Marketing Public Relations terdiri dari susunan struktur sebagai berikut :
Gambar 4.4 Struktur Departemen Marketing Public Relations
4.1.1.2 Departemen Marketing Public Relations
Dalam struktur kepemimpinan detikcom, departemen MPR- Marketing & Public Relations berada di bawah naungan Departemen Sales yang terfokus pada naik turunnya jumlah pengunjung detikcom dank klien eksternal dari hasil pemasangan advertorial. Kenaikan permintaan klien serta minat pembaca sangat dipengaruhi oleh peranan marketing dan peran Public Relations sebagai media perantara yang bertugas untuk menyebarluaskan dan melakukan ekspansi serta branding terhadap suatu perusahaan yang dinaungi. Departemen MPR bertugas untuk meningkatkan engagement pembaca melalui berbagai upaya branding yang dilakukan. Beberapa diantaranya ialah merealisasikan acara/ event dari setiap kannal detikcom. Dengan adanya 25 kanal dari detikcom maka terdapat berbagai jenis kriteria berita dan jenis komunitas. Ide acara yang dibuat akan dirancang menyesuaikan dengan kanal yang bersangkutan. Dengan berjalanya acara-acara tersebut diharapkan public lebih mengenal dan menempatkan diri lebih dekat lagi dengan
detikcom dan pada berdampak pada meningkatknya maupun bertahannya pembaca detikcom yang loyal . Sampai dengan reset terakhir tahun 2013, detikcom masih menempati posisi unggul dalam kanal berita tercepat dengan konten isi yang akurat. Prestasi tersebut akan terus ditingkatkan dengan kegiatan promosi yang juga dilakukan dengan kerja sama dengan berbagai pihak eksternal pendukung dengan bentuk-bentuk kerja sama yang menguntungkan satu sama lain. Sama hal nya dengan detikcom, tim MPR - Marketing Public Relations secara aktif bertugas untuk mencari celah serta kesempatan yang tepat dimana publik dapat mengenal detikcom dan tidak hanya mengenal namum memiliki keterikatan dan ketertarikan yang berkelanjutan.
4.1.1.3 Job Descriptions
Berdasarkan ruang lingkup yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, Berikut merupakan job description berdasarkan subjek penelitian :
1. Marketing Public Relations Dept. Head Deskripsi :
A. Mengawasi dan menjadi kepala dari divisi-divisi yang ada dibawahnya
B. Memberikan arahan yang strategis dan sebagai pengambil keputusan kepada klien / perusahaan yang sedang ditangani
C. Bertanggung jawab atas segala penyelenggaraan event, serta bentuk kerja sama yang dijalin oleh klien / partner .
2. Event & Publishing Deskripsi :
A. Merancang acara-acara detikcom guna meningkatkan engagement pembaca
B. Melaksanakan acara dengan kreatif sesuai dengan target market yang dicapai.
C. Bertanggung jawab atas setiap event yang dilaksanakan dalam bentuk promosi maupun sales.
3. Social Media Spesialist Deskripsi :
A. Menjadwalkan materi promo di setiap kanal-kanal detik guna meningkatkan UVPV (Unique Visitors, Page Viewers )
B. Sebagai media promosi dan publikasi media sosial terhadap sebuah event yang berjalan. (kuis, pendaftaran, dll )
4. Corporate & Media Relations Deskripsi :
A. Menjalin kerja sama dengan perusahaan eksternal & internal perusahaan dalam rangka promosi & branding . (barter dan berbayar)
B. Menjalin hubungan baik dengan berbagai divisi internal dan eksternal perusahaan.
5. Creative Designer Content
A. Membuat design untuk banner kanal-kanal detikcom (Wolipop, detikNews, detikHot, FEM , detikSport ,detikInet , dsb )
B. Merancang design souvenir untuk setiap kanal detikcom C. Merancang design company profile internal
6. Copy Writer
A. Membuat tulisan advertorial iklan sesuai dengan permintaan penjualan space detikcom kepada klient eksternal.
4.2 Hasil Penelitian dan Pembahasan 4.2.1 Proses Pengumpulan Data
Pada Sub bab ini, akan turut serta memaparkan proses pengumpulan data yang telah dilakukan di detikcom ( PT. Agranet Multi Citra Siberkom ). Proses pengumpulan data diperoleh melalui kegiatan wawancara yang dilakukan dengan beberapa pihak internal pada detikcom (PT. Agranet Multi Citra Siberkom) dan hasil observasi yang dilakukan di dalamnya. Narasumber yang dipilih sebagai berikut :
a. Anita Wulandari (Marketing Public Relations Head Departement )
Wawancara narasumber dilakukan melalui wawancara tersrtuktur sesuai dengan daftar pertanyaan yang telah dibuat sebelumnya. Wawancara dilakukan pada tanggal 25 April 2014, pukul 17.10 – 17.49 WIB., betempatkan di ruangan Head Departemen , Gedung Bank Mega – Trans Corp , Lantai 7 . Proses wawancara berlangsung selama 29 menit, dengan menggunakan alat bantu media perekam yang berguna untuk mempermudah proses wawancara dan keefektifan proses transcript daftar wawancara.
b. Gelies (Event & Publishing Supervisor )
Wawancara narasumber dilakukan melalui wawancara langsung , semi terstruktur dengan tetap berpedoman oleh daftar pertanyaan wawancara. Wawancara dilakukan 3 kali pertemuan di tanggal 14 April 2014 pada pukul 18.05 – 18.23 WIB , wawancara kedua yang dilakukan pada tanggal 30 April 2014 pada pukul 13.22 - 13.37 WIB , wawancara ketiga pada tanggal 05 Juni 2014 pada pukul 13.53-14.01, serta wawancara terakhir yang dilakukan pada tanggal 05 Juni 2014 pada pukul 13.53-14.01 dengan jumlah durasi keseluruhan 41 menit waktu wawancara. Proses wawancara tersebut betempatkan di ruangan Marketing Public Relations , Gedung Bank Mega – Trans Corp , Lantai 7.
c. Sakina Al-Aydrus (Staff Event & Publishing )
Wawancara dengan narasumber pertama kali dilakukan melalui Email, dengan mengirim pertanyaan pada hari Minggu ,20 April 2014, pukul 12 : 25 WIB. Dengan mendapat balasan email mengenai jawaban pada hari Minggu , tanggal 20April 2014, pukul 19.44 WIB. Wawancara kedua dilakukan dengan narasumber melalui wawancara langsung dengan semi
terstruktur pada Kamis, 24 April 2014 pada pukul 16.05-16.20 WIB dengan mengajukan beberapa pertanyaan pendukung bersdasarkan pertanyaan di wawancara sebelumnya, wawancara ketiga dengan menggunakan metode yang sama yaitu wawancara semi terstruktur dengan pengembangan pertanyaan dilakukan pada tanggal 4 Juni 2014 pada pukul 14.15-14.30 bertempatkan di Pipiltin Cocoa dan Dengan total durasi wawancara selama 39 menit percakapan.
d. Ratih Putri (Staff Social Media Specialist )
Wawancara narasumber dilakukan melalui wawancara langsung , semi terstruktur di ruangan Marketing Public Relations , Gedung Bank Mega – Trans Corp , Lantai 7, pada Senin , 22 April 2014 pukul 13.05 – 13.23 , wawancara kedua pada hari Kamis , 24 April 2014 pukul 11.33 – 11.49 , wawancara ketiga pada hari Jumat , 17 Mei 2014 pukul 14.20 -14.28 WIB dan wawancara terakhir yang dilakukan guna kelengkapan informasi dengan ketajaman pertanyaan yang lebih mengerucut dilakukan pada tanggal 05 Juni 2014 , pukul 13.41-13.49 dilakukan dengan metode dan pada lokasi yang sama . Lamanya durasi kedua wawancara selama 50 menit.
4.3 Keabsahan Data
Uji keabsahan data ditunjukan dengan beberapa teknik keabsahan penelitian yang salah satunya adalah triangulasi. Teknik yang digunakan ialah triangulasi metode. Triangulasi Metode ini dilakukan dengan cara menggunakan berbagai macam metode pengumpulan data. Metode pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini antara lain wawancara mendalam dan telaah data sekunder. Triangulasi dilakukan dengan dapat membandingkan antara hasil dua peneliti atau lebih serta dengan menggunakan teknik yang berbeda , misalnya observasi, wawancara dan data sekunder. Pada wawancara yang dilakukan kepada keempat narasumber terkait, diungkap fenomena-fenomena iklim komunikasi organisasi yang berlangsung pada departemen terkait. Hasil wawancara tersebut yang diringkas dalam bentuk reduksi data lalu dibandingkan dengan hasil observasi, dokumentasi dan teori yang terkait. Dalam penelitian kualitatif penyajian data dilakuakn dengan menggunakan tabel, grafik, pictogram dan
sebagainya. Model data sebagai suatu kumpulan informasi yang tersusun dan memperbolehkan pendeskripsian kesimpulan serta pengambilan tindakan. Melalui penyajian data maka data akan terorganisasikan dan tersusun dalam pola hubungan, sehingga mudah dipahami.
4.3.1 Hasil Penelitian 4.3.1.1 Reduksi Data
Wawancara dengan Staff Event Publishing (Mrs. Sakina) Tabel 4.1 Reduksi Data
No. Pertanyaan Kata Kunci
1. Berbicara mengenai pemeliharaan hubungan antara karyawan,
erat kaitannya dengan kegiatan komunikasi interpersonal. Menurut anda, bagaimana kualitas komunikasi interpersonal yang terjalin antar karyawan dan antara karyawan dan pemimpin (Dv. Marketing & Public Relations )
Komunikasi Pasif (terhambat)
2. Menurut anda apakah frekwensi komunikasi antar individu dalam
lingkungan kerja mempengaruhi produktivitas kerja individu terkait?
Harmonisasi
3. Bagaimana menurut anda cara suatu kelompok kerja membentuk dan menciptakan komunikasi interpersonal yang efektif upaya meningkatkan motivasi kerja ?
Group Disscusion
4. Apakah ada target kerja / goal achievement yang ditentukan ? Bagaimana bentuk pencapaian target ?
Ada , Target kualitas melalui respon eksternal 5. Apakah ada kontrol berupa pengawasan langsung oleh kepala
departemen dalam mengontrol perilaku kerja pegawai maupun dalam pelaksanaan event yang berlangsung ?
Tidak kontribusi langsung 6. Apakah bentuk dukungan yang diberikan oleh kepala departemen
dalam pelaksanaan target pencapaian kerja ? Statement support 7. Adakah bentuk dukungan yang anda harapkan guna menyokong
efisiensi proses kinerja anda sebagai karyawan ?
Meningkatkan intensitas dukungan berekspresi
No. Pertanyaan Kata Kunci
7. Apakah ada hambatan yang dirasakan dalam proses komunikasi dengan pemimpin yang mempengaruhi produktivitas kerja anda ?
Schedule Traffic Pemimpin
8. Menurut anda, apa yang perlu dilakukan oleh pemimpin
kelompok guna membangun efisiensi dalam proses kinerja karyawan agar tetap stabil ?
Komunikasi intens & relax
9. Menurut anda apa yang harus dilakukan oleh karyawan untuk membina hubungan yang lebih baik dengan atasan terutama dalam komunikasi interpersonal ?
Pemahaman Karakter & aktif 10. Sejauhmana keterbukaan dan kedekatan dalam komunikasi yang
anda lakukan sebagai karyawan dengan pemimpin anda ?
Sebatas Hubungan kerja (atasan-bawahan) 11. Apa sajakah cara / media yang digunakan untuk berkomunikasi
dengan pimpinan anda ? Media elektrionik
& Meeting formal 12. Apakah melalui media-media tersebut sudah cukup memenuhi
kebutuhan komunikasi interpersonal antara anda dengan pimpinan ?
Belum Mencukupi 13. Apakah dampak dari komunikasi interpersonal antara anda
dengan kepala departemen dalam hal efisiensi proses kinerja anda (karyawan) ?
Miss Communication
& penundaan 14. Sebagai karyawan apakah anda memiliki perilaku aktif berupa
inisiatif dalam mengkomunikasikan setiap pelaksanaan pekerjaan ?
Wawancara dengan Social Media Specialist (Mrs. Ratih Putri ) Tabel 4.2 Reduksi Data
No Pertanyaan Kata Kunci
1. Berbicara mengenai pemeliharaan hubungan antara karyawan,
erat kaitannya dengan kegiatan komunikasi interpersonal. Menurut anda, bagaimana kualitas komunikasi interpersonal yang terjalin antar karyawan dan antara karyawan dan pemimpin (Dv. Marketing & Public Relations )
Komunikasi Pasif
3. Bagaimana menurut anda cara suatu kelompok kerja membentuk dan menciptakan komunikasi interpersonal yang efektif upaya meningkatkan efeisiensi kerja ?
Komunikasi Kasual
4. Apakah ada target kerja / goal achievement yang ditentukan ? Bagaimana bentuk pencapaian target ?
Ya, kualitas konten berita 5. Apakah ada kontrol berupa pengawasan langsung oleh kepala
departemen dalam mengontrol perilaku kerja pegawai maupun dalam pelaksanaan event yang berlangsung ?
Kontrol hasil akhir – tidak
proses 6. Apakah bentuk dukungan yang diberikan kepala departemen
dalam pelaksanaan target pencapaian kerja ? Ungkapan Kata 7. Adakah bentuk dukungan yang anda harapkan guna menyokong
efisiensi proses kinerja anda sebagai karyawan ?
kalimat ekspresif & evaluasi
7. Apakah ada hambatan yang dirasakan dalam proses komunikasi
dengan pemimpin yang mempengaruhi produktivitas kerja anda ? Rasa Sungkan 8. Menurut anda, apa yang perlu dilakukan oleh pemimpin
kelompok guna membangun efisiensi dalam proses kinerja karyawan agar tetap stabil ?
Meningkatkan intensitas Komunikasi
9. Menurut anda apa yang harus dilakukan oleh karyawan untuk membina hubungan yang lebih baik dengan atasan terutama dalam komunikasi interpersonal ?
Standy & berinisiatif aktif
No Pertanyaan Kata Kunci 10. Sejauhmana keterbukaan dan kedekatan dalam komunikasi yang
anda lakukan sebagai karyawan dengan pemimpin anda ?
Komunikasi pasif , satu arah
11. Apa sajakah cara yang digunakan untuk berkomunikasi dengan pimpinan anda ?
Group Chat, Email , Formal
Meeting 12. Apakah melalui media-media tersebut sudah cukup memenuhi
kebutuhan komunikasi interpersonal antara anda dengan pimpinan?
Kurang Cukup
13. Apakah dampak dari komunikasi interpersonal antara anda dengan kepala departemen dalam hal efisiensi proses kinerja anda (karyawan) ?
Penundaan & salah faham
14. Sebagai karyawan apakah anda memiliki perilaku aktif berupa inisiatif dalam mengkomunikasikan setiap pelaksanaan pekerjaan ? Bagaimana tanggapan anda sebagai supervisor melihat inisiatif karyawan lainnya ?
By Request
Wawancara dengan Supervisor Event & Publishing (Ms. Gelies) Tabel 4.3 Reduksi Data
No. Pertanyaan Kata Kunci
1. Menurut anda bagaimana komunikasi yang terjalin antara staff
dan supervisor dengan Kepala Departemen yang terjalin ? Komunikasi Pasif
2. Menurut anda apakah frekwensi komunikasi antar individu dalam lingkungan kerja mempengaruhi produktivitas kerja individu terkait ?
Penting, meminimalisir
distorsi
3. Adakah hambatan yang muncul dalam komunikasi interpersonal antara anda dan pimpinan?
Miss-communication &
Kesenjangan
4. Apakah ada target kerja / goal achievement yang ditentukan ? Bagaimana bentuk pencapaian target ?
Ada, dari segi kualitas kerjasama
& event
No. Pertanyaan Kata Kunci departemen dalam mengontrol perilaku kerja pegawai maupun
dalam pelaksanaan event yang berlangsung ?
langsung bentuk motivasi
6. Apakah bentuk dukungan yang diberikan kepala departemen dalam pelaksanaan target pencapaian kerja ?
Bentuk kalimat tidak langsung
7. Adakah bentuk dukungan yang anda harapkan guna menyokong efisiensi proses kinerja anda sebagai karyawan ?
Rasa puas dalam evaluasi
7. Menurut data perusahaan yang saya peroleh bersangkutan dengan kekosongan struktur perusahaan dalam Departemen Marketing & Public Relations, bagaimana tanggapan anda ?
Kewalahan , karena minim SDM
8. Berdasarkan pengamatan saya, keterlambatan kedatangan para pegawai MPR sering kali terjadi, tanpa teguran yang cukup berarti . Menurut anda sebagai salah satu pegawai Divisi Marketing & Public Relations, apakah hal ini terjadi akibat dari kurangnya kontrol & pengawasan langsung dari pihak pimpinan ?
Tidak , disesuaikan dengan rhytme kerja
9. Menurut anda apa yang harus dilakukan oleh para karyawan untuk membina hubungan yang lebih baik dengan atasan terutama dalam komunikasi interpersonal ?
Aktif & Inisiatif
10. Menurut anda, apa yang perlu dilakukan oleh pemimpin kelompok guna membangun efisiensi dalam proses kinerja karyawan agar tetap stabil ?
Wawancara dengan Marketing Public Relations Departement Head (Ms. Anita Wulandari )
Tabel 4.4 Reduksi Data
No. Pertanyaan Kata Kunci
1. Secara keseluruhan , bagaimana proses komunikasi interpersonal yang terjalin antara anda dengan bawahan anda ?
Komunikasi Pasif
2. Adakah hambatan-hambatan yang sering muncul dalam komunikasi interpersonal antara anda & bawahan anda ? Dan bagaimana cara mengatasinya ?
Komunikasi Pasif
3. Apakah anda mentoleransi konflik dalam hal membuka kesempatan untuk karyawan mengemukakan konflik dan kritik secara terbuka ?
Menanggapi kritik sebagai
input 4. Adakah standart target / goal achievement pencapaian karyawan ? Kualitas
kerjasama eksternal 5. Bagaimana cara anda mengontrol kinerja karyawan agar tetap
produktif ? Displiner
6. Bagaimana cara anda memberikan dukungan sebagai upaya
dalam efisiensi proses kinerja karyawan anda ? Non Verbal 7. Adakah upaya anda untuk meningkatkan kualitas hubungan
komunikasi interpersonal antara anda dan para pegawai (Detikcom – MPR ) ?
Group Chat Whatsapp & membuka pintu
ruangan 8. Berdasarkan observasi data perusahaan (struktur perusahaan),
masih ada beberapa posisi supervisor yang kosong. Bagaimana anda menanggapi kekosongan supervisor di beberapa divisi sekarang ini ?
Pencarian Objektif
9. Apakah kepadatan aktifitas anda mempengaruhi kinerja anda sebagai seorang pemimpin khususnya dalam Departemen Marketing Public Relations Detikcom (PT. Multi Citra Agranet Siberkom ) ? Bagaimana tanggapan anda ?
Berpengaruh pada pembagian waktu & diperlukan inisiatif dan penyesuaian karakteristik atas & bawah
Dalam proses reduksi data , dilakukan beberapa proses guna membangun sebuah data terstruktur ,valid dan jelas. Sebelum terbentuknya sebuah table reduksi data yang dilampirkan. Proses pertama yang dilakukan ialah melakukan pengumpulan data dengan metode wawancara terstruktur dan semi terstruktur. Wawancara semi terstruktur dilakukan pada staff dan supervisor sebagai upaya pencarian informasi lebih dalam dengan mengembangkan pertanyaan dari daftar pertanyaan yang sudah dibuat dalam script wawancara sebelumnya. Pertanyaan yang berkembang dalam wawancara akan di lampirkan di dalam skrip wawancara , dan setiap jawabannya secara jelas akan ditulis menggunakan bahasa yang baik dan benar. Lain halnya dengan metode wawancara yang digunakan kepada kepala departemen. Digunakan wawancara terstruktir guna memelihara keefektifan waktu wawancara dan menata alur wawancara dengan lebih teratur. Wawancara ini dilakukan pada giliran paling akhir karena sebelumnya telah dilakukan pengumpulan data informasi kepada para bawahan yang pada tahap akhir melakukan konfirmasi kebenaran untuk keseimbangan informasi dan memenuhi syarat akurasi sebuah berita.
Berdasarkan jawaban yang telah dilampirkan dalam skrip wawancara, akan disimpulkan sebuah kata kunci yang mewakili jawaban dari setiap pertanyaaan yang diungkap oleh narasumber. Hal tersebut dilakukan guna memperjelas data yang cukup panjang dan rumit dengan meringkas menjadi sebuah kata kunci. Dalam proses penarikan kesimpulan kata kunci, ada beberapa tahap yang dilakukan untuk mencari sebuah kata dan kalimat yang tepat. Hasil wawancara akan berupa tulisan memo dan rekaman yang membantu untuk mempermuda pengerjaan penulisan skrip dan mendukung efektifitas wawancara. Dari hasil rekaman yang didengarkan berulang tersebutlah yang akhirnya dapat dituangkan dalam script wawancara dan penarikan kesimpulan kata kunci reduksi data, dalam bentuk tabel reduksi yang dilampirkan sebelumnya.
4.3.1.2 Display Data
Penyajian data dilakukan untuk mengembangkan deskripsi informasi tersusun untuk menarik kesimpulan dan pengambilan tindakan. Berikut susunan informasi beserta teori terkait yang disajikan dalam bentuk tabel :
Tabel 4.5 Display Data
I. Bagaimana iklim komunikasi dalam menciptakan kinerja karyawan (PT. Agranet Multi Citra Siberkom )?
Pertanyaan Reduksi Observasi Teori
Apakah bentuk dukungan yang diberikan Kepala Departemen dalam pelaksanaan target kerja ? Ungkapan Kalimat tidak langsung Kepala Departemen tidak sering mengungkapkan kepuasan dalam bentuk pujian secara langsung atau to the point.
Faktor Iklim Komunikasi Organisasi (Kepercayaan) Adakah kontrol berupa pengawasan langsung oleh Kepala Departemen dalam mengontrol perilaku kerja bawahan maupun dalam pelaksanaan Event yang berlangsung ? (input-budaya) Kontrol Hasil Akhir (Bukan Proses) Kontrol dilakukan saat menerima hasil akhir saja (berhasil/tidak). Tidak dalam pengawasan proses pembuatan / pelaksanaan. Faktor Iklim Komunikasi Organisasi ( Keterbukaan Komunikasi Kebawah ) Sebagai karyawan & supervisor, apakah anda memiliki perilaku aktif berupa inisiatif dalam mengkomunikasi kan setiap pelaksanaan kerja ? Inisiatif berjalan sesuai instruksi atasan Kecenderungan dari 11 karyawan MPR adalah pasif, dalam komunikasi organisasi , terutama dalam usaha membangun keterbukaan a. Komunikasi menurut Proses (Aktif-Pasif) b. Flow of Message (Upward-Downward Communication )
Apakah ada target kerja / goal achievement yang ditentukan & bagaimana bentuknya ? Ada, segi pencapaian kualitas Pencapaian unjuk kerja maksimal dilakukan dalam pencapaian target
kerja dan diniliai sebagai kinerja yang positif Faktor Kinerja (Internal- Eksternal) Bagaimana cara anda mengontrol kinerja karyawan ? Penerapan Disiplin (upaya kontrol jarak jauh) Penerapan sikap disiplin ialah upaya menaggulangi kurangnya frekwensi keberadaan fisik di kantor, maka dengan pertauran dapat menentukan efektifitas kerja dengan suatu pencapaian unjuk kerja tepat waktu.
a. Flow of Message (Upward-Downward Communication b. Faktor Iklim Komunikasi Organisasi Menurut anda bagaimana kualitas iklim komunikasi organisasi yang terjalin antar karyawan dan antara karyawan dan pemimpin (Dpt. Marketing Public Relations ) ? Komunikasi Pasif Karyawan enggan menyampaikan pendapat dan penjelasan kepada atasan karena rasa
sungkan dan canggung yang merupakan akibat ketidakfahaman karakteristik pemimpin karena jarangnya percakapan intim (antarpribadi). Insiatif aktif juga
ialah faktor yang berasal dari
karyawan.
Apa sajakah cara / media yang digunakan untuk berkomunikasi dengan pimpinan dan sebaliknya ? Email , Group Chat, Formal Meeting (1-2bulan /per ) Penyampaian pesan dengan media komunikasi dengan menghadirkan jenis komunikasi tidak langsung menimbulkan beberapa hambatan dalam prosesnya. a. Jurnal Nurrohim dan Anatan (2009:1-9) b. Komunikasi Organisasi (Morissan,2009 :25) Apakah kepadatan aktifitas anda mempengaruhi kinerja anda sebagai seorang pemimpin khususnya dalam Departemen Maketing Public Relations Detikcom ? Bagimana tanggapan anda Berpengaru h pada pembagian waktu & diperlukan inisiatif dan penyesuaian karakteristik atas & bawah Kurangnya komunikasi tatap muka dengan feedback langsung berpengaruh kepada interksi hubungan interpersonal antara atasan dan
bawahan dan sebaliknya. Komunikasi Organisasi menurut Agus M.Hardjana (Suranto,2011:3)
Dalam sebuah proses komunikasi yang berjalan dalam sebuah organisasi adalah hal yang perlu diperhatikan terutama untuk keberlangsungan kegiatan kerja perusahaan dalam rangka menciptakan kinerja yang baik guna menghasilkan target berupa pencapaian (output) yang dilakukan. Segala pencapaian yang akan dicapai direalisasikan melalui sebuah proses komunikasi yang dilakukan oleh atasan mengenai harapan yang akan dicapai dan pengarahan serta kontrol langsung oleh beliau untuk meminimalisir kesalahan dan meningkatkan efisiesnsi proses kinerja (downward communication). Proses komunikasi yang berjalan tersebut di gambarkan dalam sebuah dalam skema berikut :
Gambar 4.5 Iklim Komunikasi Organisasi
Komunikasi organisasi memiliki alur pemberian pesan diantaranya keatas dan kebawah. Dimana kedua harus memiliki tingkat keaktifan dan inisiatif yang sama. Menurut Jerry W. Koehler dan kawan-kawan mengatakan bahwa proses komunikasi dalam suatu organisasi perspektif perilaku dipandang lebih praktis karena komunikasi dalam organisasi bertujuan untuk mempengaruhi penerima (receiver). Satu respon khusus diharapkan oleh pengirim (sender) dari setiap pesan yang disampaikannya. Ketika satu pesan mempunyai efek yang dikehendaki bukan suatu persoalan apakah informasi yang disampaikan tersebut merupakan tindak berbagi informasi atau tidak. Komunikastor dan komunikan diperankan aktif dalam proses komunikasi hingga tercapai tujuan dan menghasilkan manfaat yang hendak dicapai dengan implikasi berkurangnya konflik yang timbul karena keefektifan komunikasi organisasi. Berdasarkan observasi yang dilakukan pada Departemen Marketing Public Relations Detikcom yang terdiri dari 11 orang karyawan dan dipimpin oleh seoarang Kepala Departemen , memiliki kecenderungan komunikasi yang pasif (karyawan) .
Bahwasannya berkaitan dengan konsep flow of message-downward communication mengungkap bahwa karyawan dengan kemampuan menyampaikan pesan dan umpan balik yang baik dan aktif kepada atasannya akan membantu menjalankan tujuan perusahaan dan dengan bersamaan menciptakan kinerja yang baik dalam lingkungan kerja. Upward communication mengungkap bahwa pentingnya karyawan dalam menyampaikan tugas yang telah selesai dikerjakan, penyampaian persoalan, konflik pertanyaan hingga kritik dan saran akan berdampak
pada kelancaran kinerja karyawan dalam perusahaan dan meminimalisir konflik yang akan muncul. Sama halnya dengan peranan downward communication bahwasannya untuk mencipkatan suatu iklim komunikasi organisasi yang baik terbentuk dari kelancaran komunikasi diantara keduanya. Pemberian atau penyimpanan instruksi kerja harus dapat dilakukan dengan baik dan merata. Penyampaian informasi mengenai peraturan-peraturan yang berlaku dapat diterima dengan baik dan tidak dianggap sebagai distorsi oleh karyawan jika keduanya memiliki kedekatan hubungan maupun keterbukaan yang merupakan salah satu faktor iklim komunikasi organisasi yang efektif ( Pace & Faules ,2006 : 159-160) Melalui proses wawancara langsung yang dilakukan dengan karyawan sebagai narasumber terkait mengungkap bahwa bentuk dukungan verbal , pengawasan langsung dalam proses pelaksanaan kegiatan diakui benar adanya memiliki nilai lebih dalam mempengaruhi kinerja para karyawan . Hal ini diungkap berdasarkan fenomena yang ada di dalam lingkungan kerja dimana bentuk dukungan yang diberikan oleh kepala departemen mengarah kepada komunikasi verbal maupun penyampaian kalimant pasif (kalimat tidak langsung ). Juga mengenai kontrol berupa pengawasan langsung sebagai bentuk leterbukaan kebawah dalam proses maupun pelaksanaan event oleh atasan berguna untuk memotivasi dan menciptakan semangat kerja hingga tercipta sebuah kinerja yang positif dan terarah. Karena kinerja erat kaitannya tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya (Amstrong & Baron Wibowo)
Berkaitan dengan faktor eksternal hasil kinerja yang salah satunya ditandai dengan adanya target kerja yang menantang menjadi tolak ukur perbandingan seberapa efektif kinerja karyawan Departemen MPR dalam melaksanakan tugas yang diberikan. Pencapaian target yang berjalan dalam departemen MPR , karyawan dan atasan berpendapat bahwa sejauh ini event yang direncanakan dapat berjalan yang berarti hal tersebut telah mencapai kesesuaian berdasarkan program kerja yang dicanangkan oleh pimpinannya. Melalui wawancara langsung dengan kepala departemen, beliau juga mengatakan bahwa pencapaian target yang dicapai tidak lepas dari bagaimana caranya membentuk pola disiplin kerja dengan karyawannya dalam pengerjaan yang tepat waktu walaupun ketidakhadirannya dalam proses pengerjaannya. Beliau menganggap bentuk sikap disiplin yang dilakukan merupakan upaya kontrol jarak jauh mengingat keterbatasan ruang dan waktu sebagai atasan untuk selalu ada di sektitar karyawannya. Namun tidak sama halnya mengenai prosesnya dibalik pencapaian target tersebut. Diinduksi dari pengertian
kinerja sendiri yang adalah tentang apa yang dikerjakan dan bagaimana cara mengerjakannya, menjadi penting untuk mengetahui bagaimana cara mengerjakan target yang menantang yang di jelaskan sebagai salah satu faktor eksternal kinerja. Kinerja merupakan hasil pekerjaan yang mempunyai hubungan kuat dengan tujuan strategis organisasi. Seberapa besar , sering dan luas partisipasi dan komunikasi yang dibangun antara atasan dan bawahan , membentuk sebuah pola perilaku karyawan (output-kinerja) sebagai bentuk sebab-akibat dari sistem sosial yang berjalan. Dan hal ini berdampak pada proses interkasi diantara kedua belah pihak dan menganggap menjadi sebuah distorsi yang menjelaskan ketidakefektifan interkasi komunikasi dan ditandai dengan keluaran (perilaku kinerja) . Bagaiamana cara mengerjakannya berkaitan dengan proses. Proses seringkali berkaitan dengan proses interaksi hubungan antar pekerja maupun atasan yang berpengaruh pada perilaku / tingkat kerja sama. Efisiensi proses dikaitkan dengan proses komunikasi diadopsi dari bagaimana karyawan dan kepala departemen mempresepsikan etika dan budaya dari lingkungan kerja ke dalam bentuk komunikasi yang terjalin diantaranya. Bentuk komunikasi pasif dan cenderung satu arah merupakan bentuk proses komunikasi dari sebuah rangkaian sistem komunikasi interpersonal. Dan proses interaksi ini (komunikasi organisasi) yang nantinya akan berdampak pada keluaran berupa perilaku kerja yang ditandai dengan kinerja karyawan.
Pembahasan mengenai skema iklim komunikasi organisasi yang dipaparkan pada tabel sebelumnya menjelaskan mengenai arah komunikasi yang berjalan yang diatur dalam sistem sosial sehingga menghasilkan sebuah sebab-akibat dari sistem tersebut (kinerja). Mengenai iklim komunikasi organisasi dalam menentukan kinerja karyawan berkaitan dengan interksi komunikasi organisasi pada tahap alur komunikasi yang ada (flow message). Dimana pada proses interaksi tersebutlah dapat dilihat kelancaran komunikasi organisasi yang terjalin antara sesama karyawan maupun karyawan dengan atasannya (downward-upward) . Dan pada hal tersebut juga berdampak pada output yang diibartakan sebagai perubahan perilaku menuju suatu kinerja yang baik. Sebagai departemen yang berkerja dalam bidang Public Relations , kelancaran komunikasi tentunya menjadi sebuah wacana penting yang harus diperhatikan. Akan terjadi banyak hambatan berupa kesalahan arti penerimaan pesan dan bentuk-bentuk noise lain. Dalam departemen Marketing Public Relations Detikcom, komunikasi yang terjalin antara sesama karyawan sampai tahapan supervisor dikatakan sangat baik berdasarkan hasil observasi dan didukung dengan
hasil wawancara dengan supervisor yang menyatakan komunikasi dengan para staff lain terhubung sangat baik, dan juga hasil wawancara staff Event & Publishing yaitu Sakina yang turut mendukung pendapat tersebut. Frekwensi peretemuan yang hampir setiap hari dan diiringi dengan percakapan sosial yang rutin meningkatkan kualitas hubungan dan menunjukan keterbukaan antar individu yang mempengaruhi kadar hubungan interpersonal diantaranya (Suranto, 2011 : 30) . Keadaan tersebut tentunya dapat meminimalisir kesalahan penyampaian informasi serta mempermudah dalam melakukan beberapa pemecahan masalah dalam lingkungan kerja (Sunyoto, 2013 :
60 ) . Namun hubungan dalam organisasi tidak terbatas antara sesama karyawan.
Namun interaksi antar karyawan dan pimpinannya ialah wacana yang harus diperhatikan lebih awas. Berdasarkan hasil observasi interaksi yang terjalin antara kedua belah pihak mengalami beberapa distorsi yang juga dirasakan pada beberapa karyawan di dalamnya. Iklim komunikasi yang berjalan memiliki kecenderungan satu arah / pasif dimana dalam proses ini komunikan (karyawan) tidak memberikan respon maupun timbal-balik sebagai proses komunikasi . Hal ini diakui oleh kepala departemen yaitu Ibu Anita bahwasannya komunikasi berjalan pasif . Namun tanggapan serupa juga dikemukakan oleh salah satu karyawan melalui wawancara langsung yang diungkapkan bahwa proses interksi komunikasi yang cenderung pasif dikarenakan kurangnya keterbukaan komunikasi kebawah dan mendengarkan dalam komunikasi keatas, sehingga enggan mengutarakan informasi berupa respon komunikan.
Dengan demikian iklim komunikasi organisasi dapat dikatakan efektif jika keterbukaan dalam berinterksi secara formal dan informal dapat diwujudkan. Adalah sangat tidak efektif jikalau terjadi dua orang berkomunikasi di satu pihak mengemukakan pendapatnya dan pihak seberang dari awal hingga akhir hanya berdiam tanpa reaksi (Miftah, 2012 : 192 ) . Berdasarkan penelitian yang diungkap sebelumnya melalui jurnal yang berjudul Pengaruh Komunikasi Interpersonal dan Supervisi Kepala Sekolah terhadap Kinerja Guru (Syarif, 2011: 1-13) mengungkapkan bahwa kemampuan berinteraksi interpersonal dari kepala departemen disinergikan akan memberi dampak positif terhadap kinerja karyawannya. Kepala departemen tidak hanya memberikan pengarahan apa yang harus dilakukann namun melakukan pengawasan dan mampu mengkomunikasikan hal-hal yang penting guna menciptakan suasana kerja yang kondusif dan dinamis.
Suasana yang demikian itu pada giliranya akan mampu mendorong semangat berkarya karyawan yang pada gilirannya dapat memacu kinerja mereka.
Interaksi diantaranya berjalan turut dengan banyak bantuan media komunikasi yang digunakan yang salah satunya ialah Email , Group Chat Whatsapp, Formal Meeting 1-2bulan / per. Saluran-saluran tersebut dianggap belum mencukupi kebutuhan interksi diantara mereka yang cukup beraneka ragam mengenai pekerjaan. Ungkap salah seorang narasumber Sakina Al-Aydrus melalui percakapan wawancara langsung, bahwasannya terdapat beberapa jenis pekerjaan yang dibutuhkan interksi langsung untuk mencapai sebuah kesepakatan berkaitan dalam proses produksi nantinya. Hal ini berkaitan dengan proses dalam rangka menghasilkan produk (output) yang baik. Iklim komunikasi organisasi yang berlangsung pada departemen Marketing Public Relations saat ini, didukung dengan minimnya kehadiran kepala departemen, berdampak pada pembentukan hubungan iklim komunikasi yang ditentukan dari supportive , participating , trust dan openess pemimpin – karyawan dan sebaliknya.
Tabel 4.6 Display Data
II. Apa hambatan yang muncul dalam proses komunikasi organisasi di Departemen Public Relations Detikcom ( PT. Agranet Multi Citra Siberkom ) ?
Pertanyaan Reduksi Observasi Teori
Apakah hambatan yang dialami dalam proses komunikasi interpersonal antara kepala departemen dan karyawannya ? Frekwensi, Komunikasi Pasif & Kesenjangan Terbatasnya Frekwensi komunikasi langung mengakibatkan kesenjangan hubungan diantaranya terutama dalam mengemukakan konflik dan kritik terbuka. Hal tersbut juga
mengundang miss communication karena terbatas pada saluran media Komunikasi menurut prosesnya (Sumber : Jurnal Tono Kartono,
Menurut anda apakah frekwensi komunikasi antar individu dalam lingkungan kerja mempengaruhi kinerja individu terkait ? Untuk menentukan kesepakatan komunikasi & minimalisir miss communication Minim percakapan social & tatap
muka mengakibatkan
adanya penundaan kerja dan kesenjangan
Faktor Iklim Organisasi- Pembuatan Keputusan Bersama
Pace & Faules (2006 : 159-160) Apakah melalui media-media tesebut sudah cukup memenuhi kebutuhan komunikasi organisasi ke atas dan ke bawah ? Tidak mencukupi Media komunikasi sifatnya terbatas, sehingga ada beberapa hal yang tidak dapat
sepenuhnya dilakukan melalui media dan mengharuskan untuk peningkatan internsitas sharing dan berdiskusi Flow of Message (Upward-Downward Communication Apakah dampak dari proses komunikasi yang berjalan ? Penundaan & Salah Faham (Miss Communication)
Faktor Pengaruh Kinerja Karyawan Mathis dan Jackson ( 2006: 113-114)
Seiring berjalannya iklim komunikasi yang berjalan pada organisasi Departemen MPR terdapat hambatan yang dirasa cukup berarti dan merupakan batu yang cukup menghalang suatu produtivitas kinerja para individu yang terkait. Dalam departemen Marketing Public Relations Detikcom, hambatan terjadi pada poses komunikasi yang dilihat salah satunya dari frekwensi interkasi diantaranya. Berdasarkan peneltian sebelumnya yang dilakukan oleh Voon, M. L., Chiun, L. M., Sing, N. K., & Ayob, N dengan judul The Influence of Leadership Styles on Employees'Job Satisfication in Public Sector Organization in Malaysia mengungkapkan bahwa komunikasi Organisasi dipengaruhi oleh kemampuan komunikator dalam menyampaikan pesan, frekwensi pesan , serta memilih media
komunikasi yang sesuai dengan karakteristik pegawainya. Menurut Ratih Putri yang juga adalah salah seorang staff Social Media Specialist berpendapat dalam percakapan wawancara langsung yang dilakukan bahwa, intensitas komunikasi memiliki peranan yang penting dalam membentuk suatu kesepakatan kerja maupun dalam berfikir. Namun justru hal inilah yang merupakan hambatan yang berasal dari pihak atasan. Kesibukan beliau sebagai Kepala Departemen MPR , juga sebagai Ketua Koperasi Trans Media serta sebagai salah satu Dosen di Universitas swasta menjadikan beliau memiliki keterbatasan dalam ruang dan waktu. Mengenai hal ini, Ibu Anita mengakui adanya keterbatasan waktu yang ada. Hal tersebut tentu berpengaruh dengan kadar iklim komunikasi organisasi yang diungkap oleh Redding bahwasannya keterbatasan waktu mempersempit ruang untuk adanya dukungan, support maupun keterbukaan diantara keduanya. Kedekatan dapat ditunjukan melalui pemeliharaan hubungan interpersonal yang diatantara dengan meningkatkan instensitas percakapan sosial maupun komunikasi intim diantara pihak-pihak terkait. Percakapan sosial merupakan interaksi yang menyenangkan seseorang secara sederhana. Dalam tipe komunikasi tatap muka, sangat penting dalam pengembangan hubungan informal dalam organisasi. Misalnya, dua orang atau lebih bersama-sama berbicara tentang perhatian, minat di luar organisasi seperti isu politik, teknologi dan sebagainya.
Namun, berawal dari tingkat kedekatan yang minimlah yang serta merta menimbulkan rasa sungkan dan canggung oleh karyawan serta komunikasi pasif yang cenderung tertutup dalam mengungkapkan informasi ataupun mengkomunikasikan keingiinan mereka, terutama kepada kepala departemen. Dalam komunikasi organisasi dijelaskan sebagai pertukaran informasi dan ide yang berdampak dengan berubahnya sikap dari lawan bicara (Miftah, 2012 : 185). Hampir semua orang setuju bahwa komunikasi organisasi antar individu dalam sebuah kelompok di lingkungannya merupakan sumber kehidupan dan kedinamisan organisasinya. Sebaliknya dikala hambatan mulai datang dan membatasi proses tersebut akan timbul hambatan dan berdampak pada terhambatnya kinerja karyawan dalam implementasi kerja berawal dari permasalahan komunikasi. . Hambatan ini terlihat pada pristiwa dimana kesalahfahaman terjadi disaat komunikasi dibatasi oleh kemampuan media komunikasi menyampaikan sebuah pesan (Email). Media komunikasi yang digunakan dalam departemen ini beberapa diantaranya ialah Email,
Group Chat Whatsaap dan report meeting 1-2 bulan sekali. Email ialah media komunikasi yang paling sering digunakan oleh departemen ini karena dianggap oaling efektif dan hemat kertas.Namun email termasuk media komunikasi tidak langsung dimana keleluasaan bicara tidak layaknya interaksi langsung face to face.
Sehingga, sampailah pada saat salah seorang karyawan Event & Publishing menggagas telah mengirimkan report yang diminta melalui Email pada suatu hari yang telah ditentukan. Namun pada waktunya pemimpin melakukan pengecekan atas laporan yang dimintanya,dan tidak ditemukan laporan tersebut. Hal ini mengundang kemarahan dari kepala departemen yang menganggap kesalahan terdapat pada kinerja karyawan. Sampai pada saatnya karyawan tersebut yang juga adalah salah seorang narasumber wawancara yaitu Sakina Al-Aydrus dipanggil ke ruangan beliau, dan karyawan tersebut memilih untuk diam dan tidak berargumen apapun menaggapi kemarahan beliau. Menurut observasi yang dilakukan pada pristiwa tersebut, terlihat karyawan yang bersangkutan telah mengirimkan laporan yang dimaksud pada hari yang sama saat diminta. Namun karyawan yang bersangkutan berpendapat bahwa, dengan memberikan sanggahan hanya akan memperkeruh suasana dan berat rasanya untuk berargumen dikarenakan rasa sungkan dan kegelisahan dalam pemilihan kata saat berkomunikasi dengan pimpinan.
Berdasarkan pristiwa diatas, nampak kecenderungan proses komunikasi yang pasif dan ketidakterbukaan dalam interaksinya yang merupakan faktor yang menghambat efektifitas komunikasi organisasi dalam suatu siklus iklim keatas-kebawah. Dimana keterbukaan diri yang dimaksud yang menentukan efektifitas komunikasi organisasi adalah keterbukaan dari dalam diri sendiri agar tidak tertutup di dalam menerima informasi dan dalam berkeinginan untuk menyampaikan informasi dari dirinya (Miftah, 2012:191) . Kedekatan hubungan diantaranya memiliki dampak yang cukup luas kepada faktor kinerja karyawan khususnya. Bahwasannya dalam departemen MPR, pencapaian target yang ditentukan berdasarkan kualitas dari penyelenggaraan event , kuis dan kerja sama telah mencapai target yang diharapkan oleh kepala departemen. Namun proses bagaimana sebuah pekerjaan dilakukan yang tidak lain ialah pengertian dari kinerja yang harus dinilai kualitasnya. Berdasarkan wawancara langsung yang dilakukan dengan supervisor berkaitan mengenai target pencapaian mengungkapkan bahwa tidak adanya target yang dikategorikan dalam bentuk angka maupun kuantitas. Namun
pencapaian kualitas yang sudah tercapai tidak menjanjikan sebuah proses pengerjaan yang baik. Bahwasannya beberapa divisi tanpa supervisor dirasa sudah terlalu lama menutup mata dari inovasi dan kreatifitas modernisasi. Hal tersebut dikarenakan divisi sosial media harus melakukan interaksi langsung dengan kepala departemen sebagai pengganti kekosongan supervisor yang belum terisi kedudukannya. Dan mengingat terbatasnya ruang dan waktu (traffic schedule) dengan kepala departemen selaku controller dan decison maker pada divisi sosial media, divisi tersebut menjalankan kegiatannya sejalan seperti hari-hari sebelumnya.
Pembaharuan ide hanya dapat terlaksana melalui proses yang komunikatif antara pihak-pihak yang bersangkutam dalam hal ini, yaitu kepala departemen dan karyawan divisi sosial media. Melalui wawancara langsung yang dilakukan dengan kepala departemen, Ibu Anita mengungkapkan pendapatnya mengenai hambatan yang terjadi. Bahwa kepadatan jadwal kerja beliau dapat diselaraskan dengan produtivitas kinerja, jika kedua belah pihak (karyawan-pemimpin) membentuk sebuah inisiatif dalam hal komunikasi. Sadar akan kepadatan jadwal kerja dan sempitnya waktu untuk berinteraksi intim, beliau berkehendak untuk para karyawannya memiliki inisiatif untuk melaporkan hasil kerja lebih awal untuk menghindari tumpukan laporan di akhir bulan. Juga memiliki inisiatif untuk berkomunikasi aktif dalam bentuk pekerjaan maupun mengutarakan pendapat dan harapan mereka. Karena menurutnya, beliau tidak dapat menanyakan satu per-satu keluh kesah karyawannya mengingat banyaknya tanggung jawab yang harus dituntaskan. Pernyataan mengenai inisiatif karyawan juga diperkuat oleh pendapat salah seorang narasumber yaitu Ratih Putri yang mengatakan bahwa, mereka akan memberikan laporan sesuai denga instruksi dari kepala departemen. Hal ini dikarenakan , dikesempatan sebelumnya karyawan bersangkutan rutin mengirimkan Email kepada Ibu Anita, namun beberapa waktu setelahnya, disaat Ibu Anita berada di kantor beliau hendak meminta print out laporan yang sesungguhnya, sudah dikirim sebelumnya jauh hari sebelum diminta. Berdasarkan pengalaman tersebut Ratih Putri lebih memilih jalan untuk memberikan laporan sesuai instruksi.
Selaras dengan fenomena yang terjadi pada departemen Marketing Public Relations dimana inisiatif individu, keterbukaan komunikasi kebawah dan Mendengarkan dalam komunikasi ke atas yang diungkap oleh Pace & Faules (2006 :
berpengaruh dalam menentukan suatu kinerja karyawan. Bahwasannya faktor eksternal yang menentukan kinerja seoarang karyawan ialah faktor lingkungan. Faktor lingkungan yang dimaksud antara lain uraian jabatan yang jelas, otoritas yang memadai, target kerja yang menantang, pola komunikasi kerja efektif, hubungan kerja harmonis, iklim kerja dinamis , peluang berkarir dan fasilitas kerja yang relatif memadai.
Tabel 4.7 Display Data
III.Apakah Departemen Marketing Public Relations berhasil menciptakan iklim komunikasi organisasi yang efektif dalam menciptakan kinerja karyawan ?
Pertanyaan Reduksi Observasi Teori
Bagaimana kualitas komunikasi yang terjalin antar karyawan dan antara karyawan dan pemimpin di Dept. Marketing Public Relations ? Komunikasi Pasif Etika budaya karyawan yang pasif dan kurang
inisiatif serta kesibukan pemimpin dengan minim frekwensi membentuk komunikasi yang tidak efektif dengan banyaknya hambatan dan distorsi Iklim Komunikasi Organisasi Ideal (Redding) Bagaimana anda mengungkapkan keterbukaan dan kedekatan dalam komunikasi yang anda lakukan sebagai karyawan kepada atasan ? Komunikasi satu arah (mendengarkan kemauan atasan) Karyawan lebih banyak mendengar kehendak dan pembahasan kepala departemen tanpa feedback/argue Efektifitas Komunikasi Interpersonal – OPENESS (Miftah,2012 :191-193) Bagaimana cara anda memberikan dukungan sebagai upaya meningkatkan kinerja karyawan anda ? Non-Verbal Keterbukaan Komunikasi kebawah &
Mendengarkan dalam Komunikasi keatas (F. Iklim Komunikasi
Maka hasil dari berjalannya proses interksi interpersonal yang dilakukan dalam departemen Mareketing Public Relations Detikcom tidak mencapai suatu tingkat keefektifan dalam menjalin komunikasi interpersonal. Bahwasannya elemen yang menentukan suatu komunikasi antar pribadi yang efektif menurut Joseph A. Devitoo dalam buku karangan Miftah Thoha (2012:191) ialah keterbukaan (openess), empati (emphaty) , dukungan (support), kepositifan dan kesamaan. Yang dimana dalam elemen keterbukaan, pihak karyawan belum dapat mengkomunikasikan kritik serta pendapatnya dengan baik dalam rangka membangun komunikasi interpersonal yang efektif karena kadar hubungan interpersonal yang tidak terlalu berkualitas yang juga dicerminkan melalui keakraban dan kesejajaran yang mengakibatkan rasa canggung dan kesenjangan sosial dalam bekomunikasi (Suranto,2011 : 30 ) . Dalam keterbukaan ini sudah sepatutnya masing-masing pelaku komunikasi bereaksi secara terbuka terhadap apa yang dikatakan masing-masing. Dengan demikian komunikasi antarpribadi dapat dikatakan efeketif jika keterbukaan dalam berkomunikasi ini diwujudkan. Adalah sangat tidak efektif jika seorang mengungkapkan pendapatnya dan lawan bicaranya tidak dapat memberikan reaksi maupun tanggapan (Miftah,2012:192). Seperti halnya yang terjadi pada karyawan MPR Detikcom yang lebih memilih untuk diam tanpa berargumen (arguing) menanggapi setiap informasi yang ada. Sama hal nya dengan elemen empati dimana, dengan empati dimaksudkan untuk merasakan sebagaimana yang dirasakan oleh orang lain . Kaitannya ialah, empati yang belum terbentuk sepenuhnya dalam pihak karyawan mengenai keadaan yang terjadi pada kepala departemen dengan segala kepadatan jadwal yang ada menjadi penghalang terciptanya sebuah keselarasan. Jika empati timbul diantaranya, maka karyawan akan dikondisikan mengerti dan paham sepenuhnya dengan situasi yang ada dan berusaha untuk adjusting dengan kondisi serta menjalankan inisiatif untuk berkomunikasi aktif ke atas dalam berbagai bentuk (pekerjaan dan personal) .
Tidak berbeda dengan keterbukaan (komunikasi aktif) dan empati yang harus dimiliki karyawan guna menciptakan komunikasi yang efektif. Sebagai kepala departemen dukungan ialah hal yang penting akan tercapainya komunikasi antarpribadi yang efektif. Dukungan ada kalanya terucapkan dan tidak terucap. Dukungan tidak terucap tidaklah mempunyai arti negatif, namun pada fenomena yang terjadi pada departemen MPR , dimana pada dasarnya kedekatan yang terjalin belum berlangsung dengan lancar maka, dukungan berupa ucapan dan menularkan semangat serta motivasi lebih diharapkan oleh karyawan untuk mendukung efisiensi
kinerja yang ada. Hal ini diungkap oleh Sakina Al-Aydrus selaku staff Event & Publishing Detikcom. Harapan yang dilontarkan oleh beberapa narasumber selaku wakil dari beberapa karyawan Detikcom mengenai bentuk dukungan tidak di dapat disadari oleh Ibu Anita selaku kepala departemen. Hal ini kembali dikaitkan betapa pentingnya suatu keterbukaan (openess) dalam proses komunikasi diantaranya. Suatu budaya dan etika kerja dalam sebuah organisasi sebagai dasar dari terbentuknya organisasi dan pola komunuikasi yang baik dimana hal itu turut menentukan peranan produktivitas (Sedarmayanti , 2009 : 72) . Terjalinnya hubungan yang baik antar tenaga kerja dan pemimpin organisasi turut menentukan sebuah produktivitas yang akan dihasilkan. Menurut Balai Pengembangan Produktivitas Daerah , hubungan antar tenaga kerja dan kepala departemen yang baik tercermin dalam usaha bersama meningkatkan produktivitas kerja melalui lingkaran pengawasan (quality control circle). Dimana hal ini belum sepenuhnya dilakukan sebagai salah satu bagian dari peningkatan produktivitas kerja melalui sistem komunikasi yang baik.
4.3.1.3 Interpretasi Data
Sesuai dengan observasi yang dilakukan pada Departemen Marketing Public Relations Detikcom ( PT Agranet Multi Citra Siberkom) , berdasarkan teori komunikasi interpersonal sebagai sistem (input-process-output) dikumukakan bahawa budaya dan etika yang diadopsi dari pengalaman dan lingkungan kerja menjadi dasar dari bagaimana sebuah proses interaksi interpersonal berlangsung dan berdampak pada keluaran (output) yang dihasilkan. Dikatakan bahwa besarnya output yang dihasilkan berdasarkan banyaknya input yang ada. Ini mengartikan bahwa input yang terdiri budaya dan etika organisasi ialah inisiatif individu, intergrasi (coordinate), dukungan manaejemen, kontrol, toleransi konflik dan pola komunikasi menentukan proses interkasi dan kualitas prosesnya. Namun input yang ada terjadi didasarkan dari kecenderungan dari kedua belah pihak. Pertama datang dari kesibukan seorang pemimpin dengan peran ganda sebagai pemimpin dan banyaknya tugas yang dipangkunya dalam naungan bendera Trans Media. Hal itu mengakibatkan timbulnya beberapa kesalahpahaman dalam hal pengerjaan tugas karena hambatan komunikasi dalam hal pertemuan. Media komunikasi yang digunakan melalui Email , notes dan Group Chat tidak banyak membantu. Karena ada beberapa pengerjaan yang tidak memungkinkan untuk dibicarakan melalui media yang digunakan. Hal tersebut mengakibatkan penundaan aktifitas kinerja di ebberapa
sektor . Walaupun semua tugas dapat diselesaikan dengan keefektifan waktu namun efisiensi dalam proses pengerjaannya (dukungan & pengarahan) masih belum mengalami kestabilan, yang berdampak pada produktivitas kerja karyawan. Yang kedua muncul dari karakter bawahan yang pasif dalam berkomunikasi dengan kurangnya inisiatif untuk melakukan komunikasi aktif kepada pihak pimpinan dalam bentuk empati untuk saling mengerti situasi dan kondisi yang ada. Hal ini tercermin dari komunikasi yang terjadi dengan pimpinan dalam suatu konflik yang terjadi.
Keterbukaan (openess) menjadi variabel yang pendorong terciptanya komunikasi yang efektif antar karyawan dan pemimpin organisasi dan sebaliknya. Hambatan yang muncul dari dari dua kubu yang berbeda dapat diselesaikan dengan adanya sebuah saluran komunikasi interpersonal yang efektif dan efisien . Dengan adanya wadah komunikasi yang baik antara atasan dan bawahan seperti yang diungkap oleh beberapa narasumber dalam wawancara langsung yang dilakukan , diskusi kelompok (group disscusion) menjadi salah satu solusi dari hambatan komunikasi yang terjadi, dan sebagai salah satu strategi komunikasi interpersonal yang harus dilakukan pemimpin untuk menjebatani saluran komunikasi efektif dan keikutsertaan karyawan untuk dalam mendukung langkah perbaikan dengan meningkatkan kualitas kerja diawali dari inisiatif individu. Hal ini juga diungkap dapat meningkatkan kebersamaan dan kedekatan yang bahwasannya dapat mendekatkan yang jauh dalam rangka mempersempit kesenjangan yang muncul yang berhubungan dalam peningkatan kadar hubungan interpersonal individu (Suranto, 2011: 30), serta merta pengenalan karakteristik individu satu sama lain. Karena output yang sukses berupa produktivitas kinerja ditentukan dengan keseimbangan hubungan antar tenaga kerja dan pimpinan organisasi yang harmonis serta budaya adn etika kerja yang ada.