6 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Moral
Kata moral berasal dari bahasa Latin, yaitu mos. Kata mosa dalah bentuk kata tunggal, sedangkan bentuk jamaknya adalah morse yang berarti kebiasaan, susila. Adat kebiasaan adalah tindakan manusia yang sesuai dengan ide-ide umum tentang yang baik atau yang buruk dalam masyarakat. Oleh karena itu moral adalah perilaku yang sesuai dengan ukuran- ukuran tindakan sosial atau lingkungan tertentu yang diterima oleh masyarakat (Zainuddin Ali, 2007). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Departemen Pendidikan Nasional RI,2008) moral adalah “ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, akhlak dan budipekerti”. Menurut Daud Ali (2008), moral adalah istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas suatu sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang layak dikatakan benar, salah, baik, buruk. Oleh karena itu, perlakuan atau perbuatan seseorang dapat mencerminkan sifat baik dan buruknya.
Moral merupakan pergantian atau transformasi dari yang baik menjadi sesuatu yang lebih baik. Artinya, kehidupan manusia dalam tatanan kehidupan akan menjadi lebih baik dengan moral yang merupakan aspek pentransformasi (pengganti) dari stadium satuke stadium lain namun yang lebih baik. Nilai adalah suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup system kepercayaan, dimana seseorang harus bertindak atau menghindari suatu tindakan, atau mengenai sesuatu yang pantas atau tidak pantas dikerjakan, dimiliki dan dipercaya (Mawardi, 2009).
Pertimbangan moral tergantung kepada suasana atau keadaan yang membentuk individu tersebut. Misalnya, sistem sosial, kelas sosial, dan kepercayaan yang dianut.
Moralitas dalam diri manusia merupakan kesadaran tentang baik buruk, tentang larangan, tentang yang harus dilakukan, dalam setiap tindakan manusia secara tidak langsung dibebani oleh tanggung jawab moral yang harus selalu dipatuhi. Moral yang berlaku di masyarakat bersifat mengikat terhadap setiap individu pada segala lapisan masyarakat yang ada. Setiap individu dalam bersikap, bertingkah laku, dan bergaul dalam masyarakat haruslah memperhatikan tatanan yang ada. Selain melakukan apa yang ditugaskan kepadanya dalam kehidupan sosial dan nasib pribadinya.
Manusia sebagai agen perubahan selalu bersandar pada pola dan system kependidikan yang ada. Berbagai krisis kemanusian pun senantiasa dikembalikan kepada corak
7
kependidikan adalah institusi pembentukan humanitas manusia yang secara formal di dalamnya terjadi proses pentransferan berbagai nilai sebagai pemenuhan kebutuhan- kebutuhan kemanusiaan manusia itu sendiri. Hal ini mengingat karena untuk moralitas itulah manusia diciptakan pemiliknya, sehingga memanusiakan manusia itu tidak lain adalah memoralitaskan manusia (Muhmidayeli, 2007). Dalam The advanced of Learner’s Dictionary of Current English, dalam bukunya (Umiarso, 2010) dijelaskan tentang pengertian moral dalam empat arti yang saling terkait dan berhubungan satu sama lain yaitu: 1) Prinsip- prinsip yang berkenaan dengan benar dan salah; 2)Baik dan buruk; 3) Kemampuan untuk memahami perbedaan antara benar dan salah; dan 4)Ajaran atau gambaran tingkah laku yang baik.
2.2 Moral dalam Karya Sastra
Pengertian moral dalam karya sastra itu sendiri tidak berbeda dangan pengertian moral secara umum, yaitu menyangkut nilai baik-buruk yang diterima secara umum dan berpangkal padanilai-nilai kemanusiaan. Moral dalam karya sastra biasanya dimaksudkan sebagai petunjukdan saran yang bersifat prakti sebagi pembaca dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam hal ini, Menurut Kenny (dalam Nurgiyantoro 2010:321) mengatakan bahwa moral cerita biasanya dimaksudkan sebagai suatu saran yang berhubungan dengan ajaran moral tertentu yang bersifat praktis, yang dapat diam bila tau ditafsirkan lewat cerita yang bersangkutan.
Pembaca, merupakan “petunjuk” yang sengaja diberikan oleh pengarang tentang berbagai hal yang berhubungan dengan tingkah laku dan sopan santun pergaulan, bersifat praktis sebab “petunjuk” itu dapat ditampilkan, atau ditemukan modelnya, dalam kehidupan nyata, sebagaimana model yang ditampilkan dalam cerita itu lewat sikap dan tingkah laku tokoh-tokohnya. Menurut Sayuti (2000:188), bahwa moral cerita biasanya dimaksudkan sebagai sepotong saran moral yang bersifat agak praktis yang dapat diambil dari suatu cerita.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa moral adalah suatu konsep kehidupan berupa saran atau makna yang terkandung dalam sebuah cerita, ditujukan kepada pembaca. Berdasarkan pemahaman tema tertentu, moral dalam karya sastra dapat dipandang sebagaiamana pesan. Unsur amanat itu merupakan gagasan yang menjadi dasar penulisan sebuah karya, gagasan yang mendasari diciptakannya karya sastra sebagai pendukung pesan.
Karya sastra ditulis oleh pengarang, antara lain, menawarkan model kehidupan yang diidealkannya. Karya sastra mengandung penerapan moral dalam sikap dan tingkah laku para tokoh sesuai dengan pandangannya tentang moral. Hal itu didasarkan pada pesan moral yang
8
disampaikan melalui cerita fiksi tentulah berbeda efeknya dibandingkan yang lewat tulisan nonfiksi (Nurgiyantoro, 2010:321).
Pengarang dalam menyampaikan moral melalui cerita merupakan proses imajinasi dari hasil pengamatan terhadap kehidupan masyarakat. Fenomena-fenomena yang terjadi, diamati oleh pengarang dan selanjutnya dengan penuh ketelitian pengarang akan menceritakan kehidupan yang diamati dalam bentuk karya sastra. Oleh karena itu, karya sastra bukan tiruan atau jiplakan dari alam semesta.
2.3 Jenis dan Wujud Moral dalam Karya Sastra
Secara umum, moral menyaran pada pengertian ajaran tentang baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya. Moral pun berhubungan dengan akhlak, budi pekerti, atau pancasila. Sebuah karya fiksi ditulis pengarang untuk menawarkan model kehidupan yang diidealkannya. Fiksi mengandung penerapan moral dalam sikap dan tingkah laku para tokoh sesuai dengan pandangannya tentang moral. Melalui cerita, sikap, dan tingkahl aku tokoh, pembaca dapat memetic pelajaran berharga. Dalam hal ini, pesan moral pada cerita fiksi berhubungan dengan sifat- sifat luhur kemanusiaan.
Sifat-sifat luhur ini hakikatnya bersifat universal. Artinya, sikap ini diakui oleh dunia.
Jadi, tidak lagi bersifat kebangsaan, apalagi perseorangan. Nurgiyantoro (2010:335) menyatakan bahwa jenis ajaran moral itu sendiri dapat mencakup masalah, yang boleh dikatakan, bersifat tak terbatas. Moral dapat mencakup seluruh persoalan hidup dan kehidupann yaitu dapat dibedakan ke dalam persoalan hubungan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial termasuk hubungannya dengan lingkungan alam, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Jenis hubungan-hubungan tersebut masing-masing dapat dirinci kedalam detail-detail wujud yang lebih khusus. Nurgiyantoro (2013:335) menjelaskan secara garis besar persoalan kehidupan manusia dapat dibedakan dalam persoalan sebagai berikut:
1. Hubungan manusia dengan Tuhannya 2. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri
3. Hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkungan.
Pesan moral yang sampai kepada pembaca dapat ditafsirkan berbeda-beda oleh pembaca. Hal ini berhubungan dengan cara pembaca mengapresiasi isi cerita. Pesan moral tersebut dapat berupa cinta kasih, persahabatan, kesetiakawanan, sosial, sampai rasa takjub kepada Tuhan. Persoalan manusia dengan diri sendiri dapat bermacam-macam jenis dan
9
tingkat intensitasnya. Hal itu tentu saja tidak lepas dari hubungan antar sesama manusia dan manusia denganTuhan. Pemisahan itu hanya untuk memudahkan pembicaraan saja. Persoalan manusia dapat berhubungan dengan masalah-masalah seperti eksistensi diri, harga diri, rasa percaya diri, takut, maut, rindu, dendam, kesepian, kebimbangan antara beberapa pilihan, dan lain-lain yang lebih bersifat melibatkan ke dalam diri dan kejiwaan seorang individu. Pesan moral yang berkaitan dengan hubungan antar sesama dan hubungan sosial meliputi masalah- masalah yang berwujud seperti dalam persahabatan yang kokoh ataupun yang rapuh, kesetiaan, penghianatan, dan kekeluargaan. Menurut Darma dalam Wiyatmi (2006:85), ajaran moral dalam karya sastra seringkali tidak secara langsung disampaikan, tetapi melalui hal-hal yang seringkali bersifat amoral dulu. Hal ini sesuai dengan apa yang dikenal dengan tahap katarsis pada pembaca karya sastra. Katarsis adalah pencucian jiwa yang dialami pembaca atau penonton drama. Meskipun demikian sebelum mengalami katarsis, pembaca atau penonton dipersilahkan untuk menikmati dan menyaksikan peristiwa-peristiwa yang sebetulnya tidak dibenarkan secara moral, yaitua degan semacam pembunuhan atau banjir darah yang menyebabkan penonton senang tetapi juga sekaligus muak. Jadi untuk menuju moral, seringkali penonton harus melalui proses menyaksikan adegan yang tidak sejalan dengan kepentingan moral.
Jenis atau wujud pesan moral yang terdapat dalam karya sastra akan bergantung kepada keyakinan, keinginan, dan interes pengarang yang bersangkutan. Jenis ajaran moral itu sendiri dapat mencakup masalah, yang boleh dikatakan, bersifat dan tak terbatas. Dapat mencakup seluruh persoalan hidup dan kehidupan, seluruh persoalan yang menyangkut harkat dan martabat manusia. Secara garis besar persoalan hidup dan kehidupan manusia itu dapat dibedakan kedalam persoalan hubungan manusia dengan diri sendiri, hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial termasuk hubungannya dengan lingkungan alam, dan hubungan manusia dengan Tuhannya (Nurgiyantoro, 2010:323). Dapat dikatakan bahwa pada hakikatnya sastra sangat erat kaitannya dengan agama, sosial dan individual. Sebagaimana diungkapkan diatas, maka hal-hal dalam sastra akan senantiasa berurusan dengan masalah manusia dengan Tuhan, dalam hubungan dengan diri sendiri, dan dalam hubungan dengan manusia lain atau alam.
Perilaku hubungan manusia dengan dirinya sendiri diklasifikasikan pada semua wujud ajaran moral yang berhubungan dengan individu sebagai pribadi yang menunjukkan akan eksistensi individu tersebut dengan berbagai sikap yang melekat pada dirinya. Persoalan manusia dengan dirinya sendiri menurut Nurgiyantoro (2010:324) dapat bermacam-macam jenisnya dan tingkat intensitasnya. Persoalan manusia dengan manusia dalam kehidupan
10
sehari-hari tidak terlepas dengan sang Pencipta. Sikap dan perbuatan manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dapat berupa ketakwaan yaitu menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Perilaku manusia dengan Tuhan tercermin dari individu dalam menjalankan kehidupan dengans egala permasalahannya. Perbuatan apapun dalam kehidupan manusia tidak akan terlepas dari Tuhan sebagai pencipta alam dan isinya termasuk semua makhluknya. Hubungan manusia dengan Tuhan dilakukan dengan berdoa atau pun wujud lain yang menunjukkan adanya hubungan vertical dengan Yang Maha Kuasa tersebut guna meminta petunjuk, pertolongan maupun sebagai wujud syukur.
Moral merupakan sesuatu yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca, yang merupakan makna yang terkandung dalam sebuah karya sastra dan makna yang disarankan lewat cerita (Nurgiyantoro, 2010:321). Hal ini berarti pengarang menyampaikan pesan-pesan moral kepada pembaca melalui karya sastra baik penyampaian secara langsung maupun tidak langsung. Moral tokoh utama dalam sastra memiliki pengertian yang sama dengan pengertian moral itu sendiri. Moral tokoh utama merupakan ajaran baik buruk yang dilakukan oleh tokohu tama dalam karya sastra itu sendiri.
2.4 Teknik Penyampaian Nilai Moral
Secara umum dapat dikatakan bahwa bentuk penyampaian moral dalam cerita fiksi dapat dibedakan kedalam cara. Pertama, penyampaian pesan moral secara langsung, sedang kedua penyampaian secara tidak langsung. Namun, sebenarnya, pemilahan itu hanya demi praktisnya saja sebab mungkin saja pesan yang agak langsung. Dalam sebuah novel sendiri mungkin sekali ditemukan adanya pesan yang benar-benar tersembunyi sehingga tidak banyak orang yang dapat merasakannya, namun ada juga yang penyampainnya secara langsung atau ditonjolkan. Keadaan ini sebenarnya mirip dengan teknik penyampaian karakter tokoh yang dapat dilakukan secaralangsung, telling, dan tidak langsung, showing, atau keduanya sekaligus (Nurgiyantoro, 2010:323), yaitu:
1. Bentuk Penyampaian Langsung
Bentuk penyampaian pesan moral yang bersifat langsung, bolehdikatakan, identic dengan cara pelukisan watak tokoh yang bersifat uraian, telling, atau penjelasan, expository.
Dilihat dari segi kebutuhan pengarang yang ingin menyampaikan sesuatu kepada pembaca, teknik penyampaian langsung tersebut komunikatif artinya, pembaca memang secara mudah dapat memahami apa yang dimaksudkan (Nurgiyantoro, 2010:335).
2. Bentuk Penyampaian Tidak Langsung
11
Jika dibandingkan dengan bentuk sebelumnya, bentuk penyampaian pesan moral disini bersifat tidak langsung. Pesan itu hanya tersirat dalam cerita, berpadu secara koherensif dengan unsur-unsur cerita yang lain. Walau betul pengarang ingin menawarkan dan menyampaikan sesuatu, tidak dilakukannya secara serta-merta dan vulgar karena pengarang sadar telah memilih jalur cerita. Dilihat dari kebutuhan pengarang yang ingin menyampaikan pesan dan pandangann yaitu, cara ini mungkin kurang komunikatif. Artinya pembaca belum tentu dapat menangkap arti sesungguhnya yang dimaksudkan pengarang, paling tidak kemungkinan terjadinya kesalahan tafsiran berpeluang besar (Nurgiyantoro, 2010:335).
2.5 Pengertian Novel
Novel atau sering disebut sebagai roman adalah suatu cerita prosa yang fiktif dalam panjang yang tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan nyata yang representative dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau atau kusut. Menurut Nurgiyantoro (2010:321) bahwa novel merupakan karya fiksi yang dibangun oleh unsur- unsur pembangun, yakni unsur intrinsic dan unsur ekstrinsik. Novel juga diartikan sebagai suatu karangan berbentuk prosa yang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang lain di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat pelaku. Novel merupakan jenis karya sastra yang ditulis dalam bentuk naratif yang mengandung konflik tertentu dalam kisah kehidupan tokoh-tokoh dalam ceritanya. Biasanya novel kerap disebut sebagai suatu karya yang hanya menceritakan bagian kehidupan seseorang. Novel ialah suatu karangan prosa yang bersifat cerita yang menceritakan suatu kejadian yang luar biasa dari kehidupan orang-orang (tokoh cerita; pen), luar biasa karena dari kejadian ini terlahir konflik, suatu pertikaian, yang mengalihkan jurusan nasib mereka.
Berdasarkan beberapa pendapat pakar mengenai pengertian novel diatas, peneliti mengacu pada pendapat Nurgiyantoro (2010:321) karena pengertian novel tersebut berkaitan dengan unsur intrinsic karya fiksi. Hal ini sesuai dengan tujuan penelitianya itu mengidentifikasi salah satu unsur intrinsik, yakni perilaku tokoh. Selain itu, pengertian novel yang dikemukakan oleh Nurgiyantoro lebih jelas dan mudah dipahami.
Wiyatmi (2006:30) menyatakan jenis sastra (dalam buku-buku teori sastra sering disebut dengan genre sastra) adalah suatu hasil klasifikasi terhadap bentuk danisi kary asastra yang terdapat dalam realitas. Pengklasifikasian yang dilakukan terhadap karya sastra dengan menjadikannya kedalam beberapa jenis biasanya didasarkan pada kriteria tertentu, sesuai dengan perspektif yang dipergunakan oleh pihak yang melakukan klasifikasi tersebut. Teks
12
naratif dalam bentuknya sebagai novel (roman) dan cerita pendek sebagai jenis sastra mengalami perkembangan yang cukup pesat. Sejarah sastra Indonesia bahkan diawali dengan jenis sastra ini, seperti tampak pada novel-novel terbitan Balai Pustaka maupun sebelumnya.
Dalam studi sastra pun minat terhadap jenis naratif cukup besar, terbukti dengan lahirnya cabang teori sastra yang khusus membahas teks naratif yang disebut dengan naratologi atau seringkali juga disebut teorifiksi. Novel (Inggris: novel) dan cerita pendek (disingkat: cerpen; Inggris: shortstory) merupakan dua bentuk karya sastra yang sekaligus disebutfiksi. Bahkan, dalam perkembangannya yang kemudian, novel dianggap bersinonim dengan fiksi. Dengan demikian, pengertian fiksi seperti dikemukakan diatas, juga berlaku untuk novel. Sebutan novel dalam bahasa Inggris dan inilah yang kemudian masuk ke Indonesia berasal dari bahasa Italia novella (yang dalam bahasa Jerman: novelle). Secara harfiah novella berarti “sebuah barang baru yang kecil’, dan kemudian diartikan sebagai”
cerita pendek dalam bentuk prosa” (Abrams dalam Nurgiyantoro, 2013:183).
Novel biasanya memungkinkan adanya penyajian secara meluas (expands) tentang tempat atau ruang, sehingga tidak mengherankan jika keberadaan manusia dalam masyarakat selalu menjadi topik utama (Sayuti, 2010:188). Masyarakat tentunya berkaitan dengan dimensi ruang atau tempat, sedangkan tokoh dalam masyarakat berkembang dalam dimensi waktu semua itu membutuhkan deskripsi yang mendetail supaya diperoleh suatu keutuhan yang berkesinambungan. Perkembangan dan perjalanan tokoh untuk menemukan karakternya, akan membutuhkan waktu yang lama, apalagi jika penulis menceritakan tokoh mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Novel memungkinkan untuk menampung keseluruhan detail untuk perkembangkan tokoh dan pendeskripsian ruang.
Sehingga disimpulkan bahwa novel adalah sebuah cerita fiktif yang berusaha menggambarkan atau melukiskan kehidupan tokoh-tokohnya dengan menggunakan alur.
Cerita fiktif tidak hanya sebagai cerita khayalan semata, tetapi sebuah imajinasi yang dihasilkan oleh pengarang adalah realitas atau fenomena yang dilihat dan dirasakan. Novel sebagai karya fiksi menawarkan sebuah dunia imajinatif yang dibangun dengan unsur-unsur intrinsic seperti peristiwa, alur, tokoh, citraan, sudut pandang, gaya dan nada maupun tema.
Sebagai salah satu contoh karya sastra adalah novel, novel merupakan hasil ciptaan, rasa dan karya seorang pengarang. Selain sebagai individu, pengarang juga meruapan makhluk sosial yang juga harus berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
13 2.6 Penelitian yang Relevan
Beberapa penelitian tentang nilai moral telah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya. Penelitian ini mempunyai relevansi dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang mengangkat tentang moral dalam karya sastra. Penelitian tersebut berbentuk skripsi, antara lain penelitian yang dilakukan oleh Nuriya Wafiroh (2016) yang berjudul Nilai- nilaiPendidikan Moral Dalam Novel MahkotaCintaKaryaHabiburrahman El Shirazy (2016).
Dalam penelitiannya, Nuriya mendeskripsikan ajaran moral yang terkandung dalam novel Nove lMahkota Cinta. Hasil penelitian menunjukkan nilai-nilai pendidikan moral yang adapada novel Mahkota Cinta diantaranya, percayadiri, menjaga kesucian, tolong menolong, empati, kesederhanaan, ketaatan, mencintaiilmu, tanggungjawab, kedisiplinan, kerjakeras, keikhlasan, kejujuran. Sedangkan relevansi dari nilai-nilai pendidikan moral dalam novel Mahkota Cintakarya Habiburrahman El Shirazy dapat menjadi gambaran perbaikan perilaku moral di zaman sekarang.
Penelitian lain yang juga meneliti masalah moral adalah penelitian Lutfi Indrawan, dengan judul skripsi Nilai-Nilai Islami dalam Novel Dwilogi Ketika Cinta Bertasbih dan Novel Bumi Cinta karya Habiburrahman El Shirazy (2013). Penelitian yang dilakukan oleh Lutfi ini dilakukan untuk mendeskripsikan wujud nilai-nilai Islam dan teknik penyampaian nilai Islam dalam novel Dwilogi Ketika Cinta Bertasbih dan novel Bumi Cinta. Hasil yang diperoleh dari penelitian menyatakan bahwa wujud nilai-nilai Islam dalam novel Ketika Cinta Bertasbih 1 berupa akidah, syariat, dan akhlak. Wujud nilai Islami akidah yang paling mendominasi yaitu iman kepada Allah, wujud nilai Islam isyariat yang paling mendominasi yaitu shalat, dan wujud nilai Islami akhlak yang paling mendominasi yaitu berdoa. Wujud nilai Islami dalam novel Ketika Cinta Bertasbih 2 secara garis besar terbagi menjadi tiga, akidah, syariat, dan akhlak. Wujud nilai Islami akidah yang paling mendominasi yaitu iman kepada Rasul, dan wujud nilai Islam isyariat yang peling mendominasi yaitu shalat, dan wujud nilai Islami akhlak yang paling mendominasi yaitu berdoa. Wujud nilai Islami dalam novel Bumi Cinta secara garis besar terbagi menjadi tiga, akidah, syariat,dan akhlak. Wujud nilai Islami akidah yang paling mendominasi yaitu iman kepada kitab, wujud nilai Islami syariat yang paling mendominasi yaitu shalat, dan wujud nilai Islami akhlak yang paling mendominasi yaitu berdoa.
Teknik penyampaian pesan nilai-nilai Islami dalam novel dwilogi Ketika Cinta Bertasbih dan novel Bumi Cinta. Teknik penyampaian pesan nilai Islam dalam novel Ketika Cinta Bertasbih 1, Ketika Cinta Bertasbih 2 dan Bumi Cinta terdiri dari teknik langsung dan teknik tidak langsung. Teknik langsung berupa uraian pengarang, teknik tidak langsung
14
berupa konflik dan sikap tingkahlaku, baik yang secarafisik, verbal, maupun pikiran dan perasaan.