1
PROPOSAL PENELITIAN HIBAH DOSEN MUDA (HDM)
Judul Penelitian
GAMBARAN MOTIVASI PEREMPUAN BALI UNTUK BERPERILAKU SEHAT TERKAIT PENYAKIT KANKER: PERSPEKTIF SELF-DETERMINATION THEORY
Tim Peneliti
Luh Made Karisma Sukmayanti. S, S.Psi.,M.A Tience Debora Valentina, S.Psi.,M.A.,Psikolog
Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana
2016
2 Ringkasan
Prevalensi kanker pada perempuan cukup tinggi, terutama di Bali. Karakteristik peran perempuan Bali yang kompleks (peran domestik, produksi, dan sosial kemasyarakatan) membuat perempuan Bali membutuhkan usaha lebih besar untuk berperilaku sehat terkait kanker. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran motivasi perempuan Bali untuk berperilaku sehat terkait kanker dikaji menggunakan perspektif self determination theory.
Penelitian menggunakan metode kuantitatif-deskriptif. Sampel merupakan perempuan Bali dalam rentang usia dewasa awal – dewasa madya. Analisis data menggunakan analisis statistik deskriptif dan uji korelasi.
Kata kunci: motivasi, perempuan Bali, kanker, self determination theory
3 BAB I. PENDAHULUAN
Prevalensi kanker dalam beberapa dekade terakhir cenderung meningkat. Setiap tahun di seluruh dunia, 8,2 juta orang meninggal karena kanker.1 Di Indonesia, tercatat bahwa prevalensi kanker payudara (28,7%) dan kanker serviks (12,8%) merupakan yang tertinggi dari jenis kanker lain di seluruh rumah sakit.2 Di Bali, kanker tercatat sebagai silent killer nomor dua setelah penyakit kardiovaskular. Terjadi sekitar 1500 kasus baru kanker payudara dan kanker serviks pada tahun 2012. Mortilitas dan morbiditas dari kedua kanker ini cukup tinggi. Pada 2011 tercatat 55 perempuan meninggal karena kanker serviks dan kanker payudara serta 1018 perempuan yang masih menjalani perawatan.3,4Data ini hanya berasal dari puskesmas dan rumah sakit pemerintah, belum termasuk data komunitas.
Kanker atau neoplasma maligna, merupakan pertumbuhan sel yang tidak normal dan tak terkendali.Kanker dapat menyebar dengan pesat, bahkan dapat berkembang pada jaringan yang jauh dari tempat asalnya.5Tren menunjukkan bahwa peningkatan prevalensi kanker saat ini banyak dikarenakan faktor risikoyang sebenarnya dapat dicegah seperti indeks massa tubuh yang tinggi,kurang konsumsi buah dan sayur, kurang aktivitas fisik, penggunaan rokok, dan konsumsi alkohol berlebihan.1,5Faktor risiko perempuan mengalami kanker terdiri dari: rendah konsumsi sayur dan buah (96,6%), sering konsumsi makanan hewani berpengawet (42,1%), sering konsumsi makanan berlemak 25-54 tahun (41,9%), kurang aktif (25,8%) dan infeksi HPV.5 Tingginya persentase faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa diperlukan perilaku sehat dalam mencegah terjadinya penyakit kanker. Beberapa perilaku sehat yang dapat dilakukan seperti penerapan gaya dan pola hidup sehat, serta melakukan screening dini seperti pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), Pap Smear, IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat), dan vaksinasi HPV.4,5,6
Perempuan sangat rentan mengalami kanker. Hal ini dikarenakan faktor hormonal perempuan yang fluktuatif setiap bulan7,8dan infeksi dari virus human papilloma1,7, yang menyerang alat reproduksi perempuan dan juga saluran kolorektal.5Subjek dari penelitian ini, yaitu perempuan Bali, memiliki keunikan jika dibandingkan dengan perempuan daerah lain. Hal ini dikarenakan perempuan Bali memiliki triple roles dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Tiga peran tersebut antara lain peran reproduktif (kegiatan domestik/rumah tangga),
4 peranproduktif (bekerja, berprofesi), dan peran sosial kemasyarakatan (ngayah, menyama braya, sangkep, arisan).9Aktivitas yang kompleks akan memengaruhi pemenuhan kebutuhan personal perempuan Bali, salah satunya berperilaku sehat terkait penyakit kanker.
Dalam memulai berperilaku sehat, manusia memerlukan hal yang dapat memotivasi dirinya.
Motivasi berperilaku sehat dapat dikaji melalui perspektif self determination theory (SDT). SDT menekankan pada pentingnya suatu motivasi yang dilakukan individu untuk mengembangkan diri dan mengatur sebuah perilaku baik itu autonomous behavior (termotivasi secara intrinsik) maupun controlled behavior (termotivasi secara ekstrinsik).10,11Motivasi intrinsik cenderung lebih bertahan lama jika dibandingkan dengan motivasi ekstrinsik. Berdasarkan SDT, terdapat tiga kebutuhan dasar manusia yang terdiri dari autonomy, competence, dan relatedness.
Apabila tiga kebutuhan dasar tersebut terpenuhi, maka terjadi perubahan perilaku hidup sehat yang semula berupa controlled behavior menjadi autonomous behavior.12,13,14SDT merupakan kerangka konseptual yang dapat digunakan untuk menelusuri kondisi anteseden dan hasil akhir dari motivasi berperilaku sehat.12,13
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat dikatakan bahwa untuk mencegah penyakit kanker diperlukan perilaku sehat dari setiap individu. Berperilaku sehat erat kaitannya dengan motivasi dari individu yang menunjukkan perilaku sehat tersebut. Motivasi akan cenderung bervariasi pada tiap individu, baik itu motivasi intrinsik maupun ekstrinsik. Hal tersebut didasarkan pada kondisi biologis, psikologis, sosial, budaya dan spiritual yang menyertai individu tersebut. Peran perempuan Bali yang kompleks, dengan padatnya kegiatan sosial-keagamaan di Bali memunculkan pertanyaan bagaimanakah gambaran motivasi berperilaku sehat perempuan Bali terkait penyakit kanker ditinjau dari perspektif self determination theory. Penelitian ini ingin mengetahui Gambaran Motivasi Perempuan Bali untuk Berperilaku Sehat terkait Penyakit Kanker: PerspektifSelf Determination Theory. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan acuan bagi individu yang memerlukan untuk melakukan penelitian selanjutnya, sebagai informasi tambahan bagi profesional medis maupun non-medis, dan sebagai informasi bagi praktisi dan institusi medis dalam memberikan layanan terapiutik pada masyarakat maupun penderita kanker agar para tetap termotivasi untuk meningkatkan kesehatan.
5 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
1. Motivasi dan Self Determination Theory
Self determination theory (SDT) adalah salah satu teori makro dalam psikologi kognitif yang membahas motivasi manusia, hubungan antara kultur dan motivasi, dampak lingkungan sosial terhadap motivasi, perkembangan kepribadian, regulasi diri, tujuan hidup dan aspirasi, energi dan gairah hidup, proses tidak sadar, dan well-being.11,12,15,16 Fokus utama SDT adalah pada perilaku sukarela atau ditentukan oleh diri sendiri (self determined) dan kondisi sosiokultural yang menaikkan motivasi tersebut.15,16 SDT juga mempostulasikan kebutuhan dasar manusia yang terdiri dari autonomy, competence, dan relatedness.17Pemenuhan ketiga kebutuhan dasar tersebut dianggap penting dan esensial untuk keberfungsian manusia yang sehat walau hal tersebut tetap dipengaruhi oleh budaya atau tahap perkembangan.
SDT membedakan beberapa tipe motivasi berdasarkan alasan atau tujuan yang mengakibatkan suatu aksi, yaitu autonomous motivation dan controlled motivation.11,15,16Autonomous motivation terdiri dari motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik yang telah terinternalisasi oleh individu. Terinternalisasi yang dimaksud dalam SDT adalah ketika seseorang telah mengidentifikasi motivasi ekstrinsik dengan nilai dari aktivitas yang dilakukan, dan secara ideal mengintegrasikan motivasi tersebut ke dalam sense of self individu. Internalisasi merujuk pada organismic integrated theory (OIT), salah satu dari enam teori kecil dari SDT. OIT menekankan bahwa jika motivasi ekstrinsik semakin terinternalisasi, maka semakin autonomous perilaku yang dimunculkan oleh individu.11
Controlled motivation terdiri dari regulasi eksternal, bahwa perilaku individu adalah fungsi dari kemungkinan dari reward (hadiah) atau punishment (hukuman).15,16 Selain itu, controlled motivation juga fungsi dari regulasi terintroyeksi (introjected regulation), yaitu regulasi aksi yang secara sebagian telah terinternalisasi dan diaktivasi oleh faktor-faktor seperti motif persetujuan, penghindaran dari rasa malu, ketergantungan pada harga diri, dan keterlibatan ego.11,16 Ketika seseorang dikontrol, individu mengalami tekanan untuk berpikir, merasa, atau berperilaku dalam cara khusus. Baik autonomous maupun controlled motivation mengaktivasi dan mengarahkan perilaku, dan keduanya berdiri berlawanan
6 dengan amotivation, yang merujuk pada ketiadaan tujuan dan motivasi. Kebutuhan dasar manusia berdasarkan perspektif SDT terdiri dari autonomy, competence, dan relatedness.
Autonomy. Mayoritas perilaku terkait kesehatan (health related behavior) dilakukan bukan karena termotivasi secara intrinsik atau menyenangkan secara intrinsik. Banyak orang melakukan perubahan perilaku karena controlled motivation. Secara kontras, perubahan dapat menjadi suatu fungsi dari autonomous motivation. Satu bentuk autonomous motivation adalah regulasi teridentifikasi (identified regulation), yang membuktikan bahwa ketika seseorang secara personal mengiyakan atau mengenali dengan nilai atau kepentingan dari perilaku atau praktik kesehatan. Berdasarkan SDT, regulasi teridentifikasi dan regulasi terintegrasi dalam autonomous motivation diasosiasikan dengan peningkatan pemeliharaan dan transfer dari perubahan perilaku.15
Competence. Sejalan dengan rasa otonomi, internalisasi membutuhkan pengalaman individu terkait rasa percaya diri dan rasa kompeten untuk berubah. Menurut model perubahan dalam SDT, memperoleh rasa kompeten difasilitasi oleh rasa otonomi, yaitu ketika seseorang sudah sekali merasa terikat secara sukarela dan memiliki keinginan yang tinggi untuk melakukan tindakan, individu tersebut akan cenderung mampu untuk belajar dan mengaplikasikan strategi baru dan kompetensi.15
Relatedness. Hubungan antara praktisi medis dan pencari layanan medis dianggap sebagai media penting bagi perubahan. Individu sebagai pencari layanan medis yang rentan penyakit, terkadang kurang dalam keahlian teknis, mencari input dan panduan dari profesional. Diperlukan rasa dihargai, dimengerti, dan dipedulikan dalam proses ini, sehingga dapat terbentuk pengalaman dari keterlibatan dan kepercayaan yang mengizinkan internalisasi terjadi. Dampak dari relatedness adalah individu mampu terbuka terhadap informasi dan kemungkinan meningkatkan kepatuhan terhadap rekomendasi yang diberikan praktisi medis.15
Pengalaman individu atas autonomy, competence, dan relatedness dipengaruhi oleh iklim pelayanan kesehatan otonomi-suportif, perbedaan individual dalam kepribadian, dan
7 sifat intrinsik dan ekstrinsik dari keinginan individu untuk berusaha mempertahankan kesehatannya atau mencegah terjadinya penyakit.15 Hal tersebut berdampak pada gaya hidup dan prioritas nilai. Model SDT dari perubahan perilaku sehat dapat dilihat pada bagan di bawah ini:
Gambar 1. Self Determination Theory Model of Health Behavior Change. Ryan, R.M., Patrick, H., Deci, E.L., Williams, G.C. Facilitating health behavior change and its maintenance: interventions based on self determination theory. The European Health Psychologist.
Berdasarkan pemaparan SDT di atas, maka dapat dikatakan bahwa motivasi berpengaruh terhadap perilaku sehat dan perubahan perilaku sehat individu. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi motivasi diantaranya faktor pemenuhan tiga kebutuhan dasar manusia, faktor eksternal (demografis, persepsi dan sikap individu, karakteristik individu yang berbeda), dan faktor internal (kepribadian individu, resiko terhadap penyakit). Motivasi dapat bersifat autonomous maupun controlled, tetapi autonomous motivation akan cenderung bertahan lama dan memberikan individu keinginan
8 yang lebih tinggi untuk belajar, merasa puas dan menikmati kegiatan yang dijalaninya. Hal ini tidak hanya berdampak pada perilaku sehat individu, tetapi juga pada kesejahteraan psikologis individu.16
Motivasi sehat adalah subsistem multidimensional yang melibatkan proses pilihan, kebutuhan akan kompetensi, dan self determination pada kesehatan seseorang.18 Motivasi sehat didefinisikan sebagai suatu hal yang dikarakteristikkan oleh keinginan yang kuat untuk berlatih, untuk makan dengan baik, untuk hidup dalam lingkungan yang sehat, untuk menjaga bentuk tubuh, dan untuk tenang dan damai ketika tidur dan menghindari stres.18 Orientasi motivasional memengaruhi perubahan perilaku sehat, pentingnya motivasi dalam menjelaskan perilaku sehat dan motivasi intrinsik seharusnya menjadi faktor primer untuk perilaku sehat.18
2. Perempuan Bali dan Kanker
Perempuan Bali terlahir dalam adat Hindu, dengan konsep bahwa mereka terlahir, hidup, dan terikat dengan desa adat (suatu organisasi masyarakat Hindu Bali, berfungsi mengadakan ritual/upacara keagamaan, beranggotakan pasangan suami-istri dari setiap kepala keluarga).19 Nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat Bali memandang perempuan sebagai individu yang harus mampu memenuhi tugas sehari-hari dalam keluarganya. Perempuan Bali harus lembut, damai, tenang, penuh dengan kasih sayang dan rela untuk berkorban. Akan tetapi, dalam hal ini laki-laki bukanlah musuh bagi perempuan.
Peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat Bali lebih kepada peran saling tolong- menolong dan membantu.19
Lingkungan sosial penduduk Bali memandang peran utama seorang perempuan adalah mendidik keseimbangan dan keselarasan dalam keluarga. Perempuan mendapatkan tempat yang baik di masyarakat bukan karena kesuksesan kariernya, tetapi lebih kepada kemampuan perempuan Bali dalam menghasilkan keturunan dengan kualitas yang baik (suputra).19Peran perempuan Bali tersebut mulai dilakukan saat individu tersebut memasuki kehidupan setelah pernikahan19 yang umumnya terjadi pada usia dewasa awal – dewasa madya. Akan tetapi, peran perempuan Bali tidak sebatas peran rumah tangga saja,
9 melainkan ada peran lain seperti bekerja dan peran sosial. Hal ini diperkuat oleh penelitian Suyadnya (2006)19 dan Wiasti (2008)9 terkait peran perempuan Bali. Terdapat tiga peran yang dijalankan perempuan Bali selama kehidupan, yaitu:
a. Peran Domestik atau Reproduktif
Peran yang dilakukan perempuan Bali dalam rumah tangga dimulai sejak awal menikah. Perempuan Bali menekankan beberapa konsep dalam melakukan peran domestik atau reproduktif, diantaranya: pertanggungjawaban sebagai seorang istri yaitu menjaga keutuhan perkawinannya, sebagai istri yang ideal, perempuan sebagai ibu yang baik dan mampu mengasuh anak menjadi sosok yang suputra (baik, membuat bangga), dan kemampuan untuk mengatur keuangan.19 Kegiatan domestik lain seperti memasak, membersihkan rumah, merapikan pakaian, mengasuh anak, termasuk menghaturkan sesaji yang dilakukan setiap hari.9 Peran domestik ini sebagai aktualisasi dari peran perempuan sebagai seorang istri dan ibu. Berdasarkan penelitian Wiasti (2008), dari 120 jumlah responden perempuan Bali di kota, terdapat 116 orang yang masih melakukan kegiatan memasak dan 88 yang melakukan kegiatan pengasuhan anak. Perempuan Bali di desa, sebanyak 114 orang masih melakukan kegiatan memasak dan 100 orang melakukan kegiatan pengasuhan anak.9 Tampak bahwa perempuan Bali di kota masih tetap melakukan kegiatan domestik walaupun dalam kegiatan pengasuhan jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan perempuan Bali di desa.
b. Peran Produktif
Peran produktif merupakan aktivitas ekonomi yang dimulai sejak perempuan Bali bekerja dan digaji dan mereka pulang dengan membawa uang. Alasan perempuan Bali mencari uang antara lain: memenuhi kebutuhan kehidupan keseharian, sebuah kesempatan untuk memulai karier, keperluan untuk mengaplikasikan kemampuan, dan kepercayaan bahwa wanita bekerja lebih baik daripada yang hanya diam di rumah.19 Kegiatan produktif yang dijalankan menyangkut pekerjaan maupun profesi seperti PNS, TNI/Polri, pertanian, buruh, karyawan, dagang, jasa, dan yang lainnya.9 Terdapat perbedaan antara pelaku peran produktif di kota dengan di desa. Untuk kota, sebanyak
10 119 perempuan melakukan kegiatan produktif, diantaranya seperti bekerja sebagai pegawai negeri, pegawai swasta, usaha barang dan jasa, dan lain-lain. Jumlah perempuan di desa yang melakukan kegiatan produktif adalah 112 orang, dengan proporsi paling banyak bekerja dalam sektor perdagangan dan lainnya.9Peran produktif perempuan Bali di kota nampak jauh lebih bervariasi jika dibandingkan dengan perempuan Bali di desa.
c. Peran Sosial Kemasyarakatan
Ketika perempuan Bali menikah dengan laki-laki Bali, maka perempuan tersebut akan bergabung menjadi anggota adat (krama adat) baik itu dari desa adat atau banjar adat.19 Segala kegiatan sosial dalam masyarakat Bali diurus oleh krama adat. Beberapa aktivitas krama adat antara lain memberi sesaji (mebanten), bergabung dengan kelompok pertolongan di pura (ngayah) dan memberikan bantuan/tolong menolong diantara semua anggota desa adat dan banjar dalam upacara adat dalam siklus kehidupan manusia (nguopin).19 Selain itu, terdapat perbedaan jumlah pelaku kegiatan antara kegiatan sosial kemasyarakatan yang dilakukan perempuan di kota dengan di desa. Melalui penelitian Wiasti (2008), diketahui bahwa jumlah perempuan bali yang melakukan kegiatan tolong-menolong (nguopin) sebanyak 112 orang, ngayah sebanyak 106 orang, rapat di banjar 106 orang.9 Berbeda dengan perempuan di desa yang melakukan kegiatan tolong-menolong sebanyak 95 orang, ngayah sebanyak 87 orang, dan rapat di banjar sebanyak 87 orang.9 Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan sosial kemasyarakatan di kota cenderung lebih kompleks dan banyak dilakukan oleh perempuan bila dibandingkan dengan di desa.
Kompleksitas peran yang dijalani perempuan Bali baik di desa maupun kota menjadikan hal tersebut sebagai karakteristik orang Bali. Pertemuan antara ketiga peran tersebut dalam sistem nilai budaya dimaksudkan sebagai kinerja yang harus ditampilkan oleh perempuan Bali sehingga kehidupan sosial akan berjalan dengan baik.
Kesehatan yang baik diperlukan untuk menjalankan aktivitas dengan optimal. Salah satu penyakit yang menjadi ancaman bagi para perempuan adalah kanker.5,22,23,24 Kanker
11 merupakan penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel yang tidak normal/terus- menerus dan tak terkendali, dapat merusak jaringan sekitarnya serta dapat menjalar ke tempat yang jauh dari asalnya (metastasis). Sel kanker bersifat ganas dan dapat menyebabkan kematian, dapat berasal dari setiap jenis sel di tubuh manusia.20
Berdasarkan estimasi persentase kasus baru dan kematian akibat kanker pada penduduk perempuan di dunia tahun 2012, tampak bahwa kasus baru dari kanker payudara (43,3%), kanker kolorektal (14,5%), dan kanker serviks (14,0%) menempati urutan tiga besar dari 10 jenis kanker yang dialami perempuan.5,7 Kanker payudara menempati posisi pertama kematian perempuan akibat kanker, yaitu sebanyak 12,9%. Kemudian disusul oleh kanker paru sebanyak 11,1% dan kanker serviks dan kanker kolorektal sebanyak 6,8%.5 Pada perempuan, kanker payudara dan kolorektal adalah yang paling umum terjadi, disusul oleh kanker paru-paru dan kanker terkait organ ginekologis (serviks, rahim, ovarium).22
Tingginya kasus baru kanker dan sekitar 40% kematian akibat kanker berkaitan erat dengan faktor risiko kanker yang seharusnya dapat dicegah.5 Faktor risiko kanker, khususnya jenis kanker yang dominan dialami perempuan, dapat dibagi sebagai berikut:
1. Faktor risiko perilaku dan pola makan
Faktor risiko perilaku dan pola makan terdiri dari indeks massa tubuh tinggi5,23,24 (di atas 22,5), kurang konsumsi buah dan sayur5,21, kurang melakukan aktivitas fisik5,21, penggunaan rokok5,7,21, konsumsi alkohol berlebihan5,21, aktivitas seksual pada usia muda (< 18 tahun)5,21, berganti pasangan seksual5,21, konsumsi lemak berlebihan5,23, dan konsumsi makanan berpegawet dan berpemanis buatan5,7.
2. Faktor risiko karsinogenik
Faktor risiko karsinogenik adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan substansi-substansi di luar tubuh manusia yang memiliki sifat dapat menyebabkan kanker. Terdiri dari karsinogen fisik24 (radiasi ion, sinar ultraviolet), karsinogen kimiawi (kontaminasi makanan, serat-serat seperti asbes), dan karsinogen biologis (infeksi virus, bakteri, dan parasit).
12 3. Faktor risiko biologis
Faktor risiko biologis adalah faktor-faktor yang berasal dari biologis dan fisiologis perempuan, beberapa diantaranya tidak dapat dihindari. Faktor biologis terdiri dari genetik/riwayat kanker dalam keluarga5,21,24, riwayat penyakit payudara5,21,24, riwayat operasi tumor jinak5, hormonal (paparan extrogen yang cukup lama5,23,24, usia menarche (< 12 tahun)5,24, usia menopause (> 55 tahun)5,24, usia melahirkan anak pertama (> 30 tahun)5, riwayat pemberian ASI5, riwayat reproduksi (tidak pernah hamil5,24, tidak memiliki anak5 dan tidak menyusui5,21), menggunakan kontrasepsi hormonal23,24, terapi hormonal23,24, dan melahirkan banyak anak.5
3. Perilaku Sehat terkait Kanker
Perilaku sehat berpengaruh terhadap hasil dari penyakit dan memiliki peran penting terkait kualitas hidup dan panjangnya usia seseorang.25Perilaku sehat dalam mencegah kanker juga terbukti dalam mencegah penyakit beresiko lainnya pada perempuan, seperti penyakit jantung dan diabetes.22Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat faktor- faktor internal maupun eksternal yang memengaruhi perilaku sehat. Beberapa diantaranya seperti: pengetahuan26,29, usia27,28, tingkat pendidikan27,28, pekerjaan27,28, penghasilan28, pengaruh orang-orang terdekat28, gaya hidup28, fasilitas kesehatan28,29, persepsi29dan pengalaman.28
4. Motivasi Perempuan Bali untuk Berperilaku Sehat terkait Kanker
Motivasi berperilaku sehat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik itu faktor biologis, psikologis, sosial, ekonomi, maupun spiritual. Interaksi dari faktor-faktor tersebut dengan peran perempuan Bali yang kompleks dapat memengaruhi perilaku sehat perempuan Bali terkait kanker. Adapun hipotesis dari penelitian ini adalah: terdapat hubungan antara motivasi perempuan Bali dengan perilaku sehat terkait kanker ditinjau dari perspektif self determination theory. Kerangka konsep digambarkan sebagai berikut:
13
Gambar 2. Kerangka Konsep Gambaran Perempuan Bali Berperilaku Sehat terkait Kanker: Perspektif Self Determination Theory
Penelitian ini akan mengumpulkan data dari perempuan Bali. Data yang dikumpulkan adalah data keadaan demografis, riwayat subjek (pengalaman, pengetahuan, kesehatan) dan pemenuhan kebutuhan dasar manusia berdasarkan perspektif SDT (autonomy, competence, dan relatedness). Ketiga data tersebut diduga dapat memiliki pengaruh terhadap motivasi, yang diukur berdasarkan perspektif SDT. Motivasi dalam perspektif SDT diduga dapat memengaruhi perempuan Bali untuk berperilaku sehat terkait kanker, sehingga didapatkan gambaran motivasi perempuan Bali untuk berperilaku sehat terkait kanker serta melihat hubungan antara variabel motivasi dan perilaku sehat perempuan Bali terkait kanker.
Berperilaku Sehat terkait Kanker Motivasi dalam
Perspektif SDT (autonomous/
controlled)
Demografis Riwayat Subjek
Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia berdasarkan perspektif SD Perempuan Bali
14 BAB III. METODE PENELITIAN
1. Rancangan Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam adalah penelitian kuantitatif-deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Adapun variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Variabel Tergantung
Variabel tergantung dari penelitian ini adalah perilaku sehat terkait kanker. Perilaku sehat terkait kanker akan diukur menggunakan angket kriteria perilaku sehat terkait kanker berdasarkan data-data yang tercantum dalam tinjauan pustaka.5,7,21,23,24
b. Variabel Bebas
Variabel bebas dari penelitian ini adalah motivasi dalam perspektif self determination theory. Motivasi berperilaku sehat dalam perspektif self determination theory dapat dipengaruhi oleh dua hal. Pertama yaitu pemenuhan kebutuhan dasar manusia yang terdiri dari autonomy, competence, relatedness. Kedua yaitu motivasi situasional (motivasi yang muncul saat individu sedang terikat dalam suatu situasi/kegiatan) terdiri dari aspek-aspek intrinsic motivation, identified regulation, external regulation, dan amotivation.
2. Tempat dan Waktu
Penelitian ini akan dilakukan di Denpasar selama delapan bulan. Pemilihan lokasi didasarkan pada kompleksitas dan diversitas penduduk di Kota Denpasar.
3. Subjek Penelitian a. Populasi
Populasi dari penelitian ini adalah perempuan Bali, dengan karakteristik peran sebagai berikut: domestik, produktif dan sosial kemasyarakatan.9
b. Sampel
Sampel dari penelitian ini adalah perempuan Bali dalam usia dewasa awal hingga usia dewasa madya, karena pada usia tersebut perempuan sudah matang dari faktor fisiologis maupun anatomis tubuh, finansial, dan pikiran. Menurut Hurlock, usia dewasa awal dimulai dari usia 18-40 tahun, dan usia dewasa madya dimulai dari usia 41-60 tahun.
15 1. Kriteria Inklusi
Usia 18-60 tahun, perempuan Bali, sudah menikah, bekerja, terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, bersedia menjadi responden.
2. Kriteria Eksklusi
Mengalami gangguan fisik maupun psikologis (tuna rungu, tuna grahita) sehingga tidak mampu kooperatif dalam mengisi lembar kuesioner, tidak bersedia menjadi responden.
c. Metode pengambilan sampel dan jumlah sampel 1. Jumlah Sampel
Jumlah sampel yang akan diambil dalam penelitian ini adalah 100 orang, karena jumlah ini memenuhi kriteria representatif bagi penelitian survey dan berpotensi memberikan distribusi data yang normal.
2. Metode Pengambilan Sampel
Metode pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampling.
Purposive sampling dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan sampel yang sesuai dengan rumusan masalah dan tujuan penelitian.
4. Metode Pengumpulan Data
Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer. Pengumpulan data akan menggunakan kuesioner data demografis dan data riwayat subjek yang disusun berdasarkan data-data dalam tinjauan pustaka. Indikator-indikator yang akan dicantumkan dalam kuesioner data demografis terdiri dari identitas (nama/inisial, usia, status pernikahan), asal (daerah asal, domisili), pekerjaan, alasan bekerja, jumlah anggota keluarga yang menjadi tanggungan, penghasilan, tingkat pendidikan, dan pengetahuan terkait kanker. Indikator-indikator yang yang dicantumkan dalam riwayat subjek terdiri dari indeks massa tubuh, riwayat menarche dan menopause, riwayat melahirkan dan menyusui, riwayat penyakit, riwayat hubungan seksual, riwayat penggunaan terapi hormon dan/atau alat kontrasepsi, gaya hidup (merokok dan minum-minuman beralkohol), serta dukungan dari kerabat terdekat.
16 Motivasi berperilaku sehat terkait kanker akan diukur menggunakan dua skala. Skala pertama mengacu pada aspek kebutuhan dasar manusia berdasarkan perspektif SDT yaitu autonomy, competence, dan relatedness oleh Deci dan Ryan.15 Skala kedua adalah skala yang dimodifikasi dari Guay, Vallerand dan Blanchard (2000) yang merupakan hasil uji coba kembali terhadap The Situational Motivation Scale (SIMS) oleh Deci dan Ryan (1991)30. Skala SIMS menggunakan bentuk semantic rating scale30, terdiri dari aspek-aspek intrinsic motivation, identified regulation,external regulation, dan amotivation. Proses modifikasi SIMS dan uji coba skala pemenuhan kebutuhan dasar manusia berdasarkan perspektif SDT dengan uji coba skala kepada 30 subjek yang sesuai dengan kriteria inklusi. Jumlah subjek ditentukan berdasarkan probabilitas distribusi data normal.31 Skala SIMS dilampirkan pada bagian akhir proposal.
5. Analisis Data
a. Uji Validitas dan Reliabilitas
Uji validitas dan reliabilitas dilakukan dengan metode Cronbach’s Alpha pada program SPSS 21.0 for Windows. Alat ukur dikatakan valid apabila skor validitas di atas 0,3 dan dikatakan reliabel apabila skor reliabilitas 0,6 ke atas.
b. Uji Asumsi Data Penelitian 1. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov pada program SPSS 21.0 for Windows. Jika signifikansi diatas 0,05 artinya distribusi data pada penelitian ini normal.
2. Uji Linieritas
Uji linearitas dilakukan dengan menggunakan Test of Linearity pada program SPSS 21.0 for Windows. Jika signifikansi dibawah 0,05 artinya variabel dalam penelitian ini memiliki hubungan yang linier.
c. Uji Hipotesis
Untuk mengetahui gambaran motivasi perempuan Bali untuk berperilaku sehat terkait kanker dikaji dari perspektif self determination theory akan dilakukan analisis
17 statistik deskriptif. Untuk mengetahui hubungan motivasi dengan perilaku sehat perempuan Bali terkait kanker, akan dilakukan uji korelasi.
Uji korelasi parametrik akan dilakukan apabila data yang diperoleh memenuhi uji asumsi yaitu uji normalitas dan linieritas. Analisis hubungan menggunakan uji korelasi dilakukan dengan menggunakan uji korelasi Pearson. Analisis dilakukan dengan bantuan program SPSS 21.0 for Windows. Apabila data yang diperoleh tidak memenuhi uji asumsi, maka akan dilakukan uji korelasi non parametrik. Jika dalam hasil analisis ditemukan angka signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka hipotesis alternatif dapat diterima. Jika ditemukan pengaruh yang signifikan, maka akan dilakukan uji korelasi untuk mengetahui adakah korelasi antara motivasi dengan perilaku sehat perempuan Bali terkait penyakit kanker.
6. Etika Penelitian
Persetujuan untuk ikut serta dalam penelitian diberikan oleh subjek dalam bentuk tanda tangan pada lembar persetujuan (informed concent) dan penelitian dimintakan persetujuan kepada Komite Etika Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
18 BAB IV. BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN
Adapun perkiraan biaya dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
No. Jenis Pengeluaran Biaya (Rp)
1. Bahan Habis Pakai Rp. 1.772.000,00
2. Honorarium Rp. 3.228.000,00
3. Konsumsi Rp. 5.000.000,00
Jumlah Rp. 10.000.000,00
Adapun jadwal pelaksanaan penelitian ini tertuang dalam tabel di bawah ini:
No Kegiatan Apr Mei Juni Juli Agust Sep Okt Nov
1 Penyusunan proposal penelitian 2 Penyusunan kuesioner penelitian 3
Persiapan administrasi
pelaksanaan pengambilan data
4 Penyebaran kuesioner penelitian
5 Input data penelitian
6
Analisa data hasil pengambilan
data
7 Penyusunan laporan penelitian
DAFTAR PUSTAKA
1. Handayani, Indah. Hari kanker sedunia, who angkat tema “kita bisa. saya bisa”. Diakses dari http://m.beritasatu.com/kesehatan/347250-hari-kanker-sedunia-who-angkat-tema-kita- bisa-saya-bisa.html[diakses tanggal 29 Maret 2016]
2. Manafe, Dina. Di indonesia, kasus kanker payudara dan serviks tertinggi. Diakses dari http://m.beritasatu.com/kesehatan/164592-di-indonesia-kasus-kanker-payudara-dan- serviks-tertinggi.html [diakses tanggal 30 Maret 2016]
3. Beritasatu. Kanker, pembunuh nomor dua di bali. Beritasatu.com.Diakses dari http://m.beritasatu.com/kesehatan/88700-kanker-pembunuh-nomor-dua-di-bali.html [diakses tanggal 29 Maret 2016]
19 4. Murdaningsih, Dwi. Cegah kanker serviks, denpasar gelar vaksinasi massal. Diakses dari
http://m.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/04/21/nn5bhu-cegah-kanker-serviks- denpasar-gelar-vaksinasi-massal.html [diakses tanggal 29 Maret 2016]
5. Pusat Data dan Informasi. Situasi penyakit kanker: buletin jendela. Kementrian Kesehatan
RI. 2015. Diakses dari
http://www.depkes.go.id/download.php%3Ffile%3Ddownload/pusdatin/buletin/buletin- kanker.pdf[diakses tanggal 29 maret 2016]
6. Sanglah Hospital Bali. Kanker serviks. Diakses dari
http://sanglahhospitalbali.com/v1/informasi.php? [diakses tanggal 29 Maret 2016]
7. Cancer Surveillance Section. Trends in cancer incidence, mortality, risk factors and health behaviors in California. California Department of Public Health. Diakses dari http://www.cdph.ca.gov/programs/ccr/Pages/default.aspx [diakses tanggal 29 Maret 2016]
8. Anggorowati, Lindra. Faktor risiko kanker payudara wanita. Jurnal Kesehatan Masyarakat.
2013;8(2): 121-126 diakses dari http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kemas [diakses tanggal 29 Maret 2016]
9. Wiasti, Ni Made. Gender dan kesetaraan dan keadilan gender: studi tentang pengetahuan dan sikap masyarakat bali. Jurnal Studi Gender Srikandi. 2008;7(1) diakses dari:
http://ojs.unud.ac.id/index.php/srikandi/article/view/ [diakses tanggal 29 Maret 2016]
10. Tran, Nhu. What is self determination theory?.Diakses dari https://positivepsychologyprogram.com/self-determination-theory/[diakses tanggal 27 Maret 2016]
11. Self Determination Theory. Theory.Diakses dari http://selfdeterminationtheory.org/theory/
[diakses tanggal 27 Maret 2016]
12. Ryan, R.M., Patrick, H., Deci, E.L., Williams, G.C. Facilitating health behavior change and its maintenance: interventions based on self determination theory. The European Health Psychologist. 2008;10: 2-5 diakses dari www.ehps.net/ehp [diakses tanggal 29 Maret 2016]
13. Ng. J.Y.Y., Ntoumanis, N., Ntoumani, C.T., Deci, E.L., Ryan, R.M., Duda, J.L., Williams, G.C.
Self determination theory applied to health context: a meta-analysis. Perspective on Psychological Science. 2012;7(4): 325-340 diakses dari: doi: 10.11177/1745691612447309 [diakses tanggal 30 Maret 2016]
14. Patrick, H., Williams, G.C. Self determination theory: its application to health behavior and complementary with motivational interviewing. International Journal of Behavioral Nutrition and Physical Activity. 2012;9(18): 1-12 diakses dari: doi: 10.1186/1479-5868-9-18 [diakses tanggal 30 Maret 2016]
15. Deci, E.L., Ryan, R.M. self determination theory: a macrotheory of human motivation, development, and health. Journal of Canadian Psychology. 2008;49(3): 182-185 diakses dari: doi: 10.1037/a0012801 [diakses tanggal 27 Maret 2016]
20 16. Ryan, R.M., Williams, G.C., Patrick, H., Deci, E.L. Self determination theory and physical activity: the dynamics of motivation in development and wellness. Hellenic Journal of Psychology. 2009;6: 107-124
17. Ryan, Richard. Self determination theory and wellbeing. Wellbeing in Developed Country Research Review. 2009.
18. Kimmerly, Alana. Approaches to health behavior change: an analysis of social cognitive theory and operant conditioning. Oswego State University. Diakses dari www.oswego.edu [diakses tanggal 27 Maret 2016]
19. Suyadnya, I Wayan. Balinese women and identities: are they trapped in traditions, globalization or both?. Masyarakat, Kebudayaan dan Politik. 2006; 95-104 diakses dari http://qjournal.co.id/new/index.php/paper/1598/balinese-women-and-identities-are-they- trapped-in-traditions-globalization-or-both-[diakses tanggal 29 Maret 2016]
20. Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular. Buku saku pencegahan kanker leher rahim dan kanker payudara. Departemen Kesehatan RI. 2009. Diakses dari www.ppl.depkes.go.id [diakses tanggal 29 Maret 2016]
21. Komite Nasional Penanggulangan Kanker. Panduan nasional penanganan kanker: kanker payudara. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2015. Diakses dari http://kanker.kemkes.go.id [diakses tanggal 29 Maret 2016]
22. Worell, J., Goodheart, C.D (editor). Handbook of girls’ and women’s psychological health.
New York: Oxford University Press. Inc; 2006
23. Denmark, F.L, Paludi, M.A, editor. Psychology of women: a handbook of issues and theories 2nd ed (e-book). London: Praeger Publishers; 2008
24. Rosenfeld, J.A., editor. Handbook of women’s health: an evidence-based approach (e-book).
Cambridge: Cambridge University Press; 2001
25. Conner, M. Health behavior. Journal of University of Leeds UK. 2002. Diakses dari http://userpage.fu-berlin.de [diakses tanggal 29 Maret 2016]
26. Masithoh, A.R. Motivasi untuk melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan tentang kanker payudara pada wanita usia subur. JIKK.
2015;6(1): 1-11
27. Hartati, N.N., Runiari, N., Parwati, A.A.K. Motivasi wanita usia subur untuk melakukan pemeriksaan inspeksi visual asam asetat. Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan Denpasar. Diakses dari http://poltekkes-denpasar.ac.id [diakses tanggal 25 Maret 2016]
28. Dewy, Indryani. Gambaran motivasi dan tingkat pengetahuan mengenai kanker payudara pada perempuan yang melakukan mamografi. Skripsi Universitas Indonesia Fakultas Ilmu Keperawatan Program Sarjana Keperawatan. 2012. Diakses dari http://lib.ui.ac.id [diakses tanggal 25 Maret 2016]
29. Badaryati, Emi. Faktor-faktor yang memengaruhi perilaku pencegahan dan penanganan keputihan patologis pada siswi SLTA atau sederajat di kota Banjarbaru. Skripsi Universitas
21 Indonesia Fakultas Kesehatan Masyarakat Program Sarjana Kesehatan Masyarakat Kebidanan Komunitas. 2012. Diakses dari dari http://lib.ui.ac.id [diakses tanggal 25 Maret 2016]
30. Guay, F., Vallerand, R.J., Blanchard, C. On the assessment of situational intrinsic and extrinsic motivation: the situational motivation scale (SIMS). Motivation and Emotion.
2000;24(3): 175-213 diakses dari
https://selfdeterminationtheory.org/SDT/documents/2000_GuayVallerandBlanchard_MO.p df [diakses tanggal 11 April 2016]
31. Sugiyono. Metode penelitian kombinasi (mixed method). Bandung: Alfabeta. 2013
22 Lampiran 1. Format justifikasi anggaran penelitian
Lampiran 2. Dukungan sarana dan prasarana penelitian The Situational Motivation Scale (SIMS)
Petunjuk: bacalah tiap pernyataan dengan hati-hati. Lingkarilah nomor yang sangat menggambarkan alasan mengapa Ibu berperilaku sehat terkait kanker. Nomor paling kiri (1) menyatakan bahwa pernyataan tersebut sangat tidak sesuai dengan alasan Ibu berperilaku sehat terkait kanker. Nomor paling kanan (7) menyatakan bahwa pernyataan tersebut sangat sesuai dengan alasan Ibu berperilaku sehat terkait kanker.
1. Honorarium
Honor Honor/jam (Rp)
Waktu (jam/minggu)
Minggu Honor per tahun (Rp) Ketua 34.000,00 3 jam/minggu 14 1.428.000,00
Anggota 1 30.500,00 3 jam/minggu 10 900.000,00 Anggota 2 30.000,00 3 jam/minggu 10 900.000,00 SUB TOTAL (Rp.) 3.228.000,00 2. Bahan Habis Pakai
Material Justifikasi Pemakaian Kuantitas Harga Satuan (Rp)
Biaya per tahun (Rp) Fotocopy 400 kuesioner (@ 5 halaman) 2000 200,00 400.000,00
Kertas Kertas A4 80gr 3 rim 47.500,00 142.500,00
Amplop Amplop panjang 1 kotak 10.000,00 10.000,00
Bolpoin 400 buah 400 2.000,00 800.000,00
Materai 10 lembar materai 10 lembar 7.000,00 70.000,00 Mesin stepler Mesin stepler M 1 buah 15.000,00 15.000,00 Isi steples Isi steples 1 pak 1 pak 49.500,00 49.500,00 Tinta printer Tinta printer Epson hitam 1 buah 145.000,00 145.000,00 Fotokopi Fotokopi laporan 10 eksemplar 30 halaman 200,00 60.000,00 Jilid Jilid laporan 10 eksemplar 10
eksemplar
8000,00 80.000,00 SUB TOTAL (Rp.) 1.772.000,00 3. Konsumsi
Justifikasi Kuantitas Harga Satuan (Rp.)
Biaya per tahun (Rp.) Nasi kotak Nasi kotak makan 200 kotak 9.000,00 1.800.000,00
Snacks Snacks box 200 kotak 16.000,00 3.200.000,00
SUB TOTAL (Rp.) 5.000.000,00 TOTAL ANGGARAN YANG DIPERLUPAN PER TAHUN (Rp.) 10.000.000,00
23 Mengapa Ibu berperilaku sehat terkait kanker?
1. Karena saya pikir aktivitas ini menarik 1 2 3 4 5 6 7 2. Karena saya melakukannya untuk kebaikan diri saya sendiri 1 2 3 4 5 6 7 3. Karena saya merasa harus melakukannya 1 2 3 4 5 6 7 4. Mungkin ada alasan baik untuk berperilaku sehat terkait
kanker, tetapi secara personal saya tidak melihat alasan baik tersebut
1 2 3 4 5 6 7
5. Karena aktivitas ini membuat saya merasa nyaman 1 2 3 4 5 6 7 6. Karena saya pikir aktivitas ini baik untuk saya 1 2 3 4 5 6 7
7. Karena saya harus melakukannya 1 2 3 4 5 6 7
8. Saya melakukan aktivitas ini, tetapi tidak yakin akan manfaatnya
1 2 3 4 5 6 7
9. Karena aktivitas ini menyenangkan 1 2 3 4 5 6 7
10. Saya melakukan aktivitas ini atas dasar keputusan pribadi 1 2 3 4 5 6 7 11. Karena saya tidak memiliki pilihan lain 1 2 3 4 5 6 7 12. Saya tidak tahu, saya tidak melihat apa manfaat dari
aktivitas ini
1 2 3 4 5 6 7
13. Karena saya merasa lebih baik ketika berperilaku sehat terkait kanker
1 2 3 4 5 6 7
14. Karena saya yakin aktivitas ini penting bagi saya 1 2 3 4 5 6 7 15. Karena saya merasa saya perlu melakukannya 1 2 3 4 5 6 7 16. Saya melakukan aktivitas ini, tetapi saya tidak yakin
berperilaku sehat terkait kanker adalah hal yang tepat untuk dilakukan
1 2 3 4 5 6 7
Kunci kodifikasi: Intrinsic motivation: 1, 5, 9, 13; Identified regulation: 2, 6, 10, 14; External regulation: 3, 7, 11, 15; Amotivation: 4, 8, 12, 16
Lampiran 3. Susunan organisasi tim peneliti dan pembagian tugas NO. Nama/NIDN/NIP Susunan
organisasi Bidang Ilmu Alokasi waktu
(jam/minggu) Uraian Tugas 1. Luh Made Karisma
Sukmayanti Suarya, S.Psi.,M.A
(0006098304)
Ketua peneliti
Psikologi 3 jam 25 minggu
1. Penyusunan proposal 2. Pengambilan data 3. Analisis data
4. Penyusunan laporan hasil
2. Tience Debora valentine, S.Psi.,M.A.,Psi (0028037902)
Anggota peneliti
Psikologi 3 jam 25 minggu
1. Survey
2. Pengambilan data dan olah data
3. Penyusunan laporan
24 hasil
3. Putu Ika Pratiw (1302205049)
Pelaksana lapangan
Psikologi 4 jam 24minggu
1. Survey
2. Pengambilan data dan olah data
3. Input data 4. Natassa Rose Tejena
(1302205016)
Pelaksana lapangan
Psikologi 4 jam 24minggu
1. Survey
2. Pengambilan data dan olah data
3. Olah data
Lampiran 4. Biodata ketua peneliti dan anggota tim peneliti serta mahasiswa yang terlibat