• Tidak ada hasil yang ditemukan

BERITA RESMI STATISTIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BERITA RESMI STATISTIK"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Provinsi Riau Tahun 2019 No. 36/08/14/Th. XXIII, 3 Agustus 2020

Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) Provinsi Riau Tahun 2019

Mencapai 75,21

BERITA RESMI

STATISTIK

• Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) adalah indikator komposit yang menunjukkan tingkat perkembangan demokrasi di Indonesia.

Tingkat capaiannya diukur berdasarkan pelaksanaan dan perkembangan 3 aspek demokrasi, 11 variabel, dan 28 indikator.

• Metodologi penghitungan IDI menggunakan 4 sumber data yaitu : (1) review surat kabar lokal, (2) review dokumen (Perda, Pergub, dll), (3) Focus Group Discussion (FGD), dan (4) wawancara mendalam.

• IDI Provinsi Riau 2019 mencapai angka 75,21 dalam skala 0 sampai 100. Angka ini mengalami penurunan 2,38 poin dibandingkan dengan IDI 2018 yang sebesar 77,59. Capaian kinerja demokrasi Indonesia tersebut masih berada pada kategori “sedang”. *)

• Perubahan angka IDI Provinsi Riau dari tahun 2018 ke tahun 2019 dipengaruhi oleh penurunan aspek Kebebasan Sipil sebesar 1,73 poin (dari 86,88 menjadi 85,15), aspek Hak-Hak Politik sebesar 1,09 poin (dari 62,77 menjadi 61,68), dan aspek Lembaga Demokrasi sebesar 5,28 poin (dari 89,47 menjadi 84,19).

IDI Provinsi Riau Tahun 2019 mencapai 75,21 Mengalami

Penurunan

Dibandingkan IDI 2018.

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI RIAU

(2)

1. IDI Provinsi Riau, 2009-2019

Perkembangan IDI Provinsi Riau sejak tahun 2009 hingga 2019, menunjukkan bahwa tingkat demokrasi di Provinsi Riau mengalami dinamika. Pada periode tahun 2009-2011, IDI berfluktuasi di kisaran angka 70-an, selanjutnya pada periode tahun 2012-2015 di kisaran angka 60-an, kemudian pada periode tahun 2016-2019 kembali di kisaran 70-an. Tingkat demokrasi dikelompokkan menjadi tiga kategori, yakni "baik" (indeks > 80), "sedang" (indeks 60-80), dan "buruk" (indeks <60). Hal ini menunjukkan bahwa walaupun IDI Provinsi Riau tahun 2019 masih masuk pada kategori "sedang", namun telah mengalami peningkatan yang signifikan dibandingkan empat tahun yang lalu.

Gambar 1

IDI Provinsi Riau, 2009-2019

Dinamika tingkat demokrasi di Provinsi Riau juga tercermin dari ketiga aspek pembentuk IDI. Sejak tahun 2009 hingga 2019, Aspek Hak-hak Politik memiliki tren yang berbeda dibandingkan dua aspek lainnya.

• Aspek Kebebasan Sipil mengalami fluktuatif sama seperti dua aspek lainnya. Aspek Kebebasan Sipil berada pada kategori "baik" pada periode tahun 2009-2012 dan tahun 2017-2019. Namun pada periode 2013-2016, aspek kebebasan sipil sempat berubah menjadi kategori "sedang", serta mengalami titik terendah pada tahun 2015 sebesar 66,46.

• Aspek Hak-hak Politik pada tahun 2009 berada pada kategori "sedang", namun pada periode tahun 2010-2014 berubah menjadi kategori "buruk". Pada periode 2012-2016, aspek Hak-hak Politik sempat menunjukkan tren meningkat dari 47,16 menjadi 77,98 dan masuk kembali pada kategori "sedang". Kemudian sejak tahun 2016, nilai aspek Hak- hak Politik kembali menurun hingga mencapai 61,68 di tahun 2019 namun masih dalam kategori "sedang".

• Aspek Lembaga Demokrasi pada periode 2010-2013 dan 2017-2019 berada pada kategori

"baik", setelah pada periode tahun sebelumnya berada pada kategori "sedang". Nilai capaian terendah aspek Lembaga Demokrasi pada tahun 2016 yaitu sebesar 62,34 dan

1 SEDANG

BAIK

BURUK

75,85

71,45 70,65 67,00 68,37 68,40 65,83 71,89 73,41 77,59 75,21

0 20 40 60 80 100

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 20192019

(3)

Gambar 2

Perkembangan Indeks Aspek IDI Provinsi Riau, 2009-2019

2 SEDANG

BAIK

BURUK

93,14 91,02

83,12 80,21

77,71 74,35 66,46

71,78 82,03

86,88

85,15

65,40

47,19 52,90

47,16 52,19

59,74

66,61 77,98

66,57

62,77 61,68 70,68

85,39 83,18 81,89 82,32

74,69

63,80 62,34

73,41 89,47

84,19

0 20 40 60 80 100

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

Kebebasan Sipil Hak-hak Politik Lembaga Demokrasi

2. IDI Provinsi Riau, 2018-2019

IDI Provinsi Riau 2019 sebesar 75,21 menurun (2,38 poin) dibandingkan tahun 2018 yang sebesar 77,59. Perubahan angka IDI Provinsi Riau pada periode 2018-2019 dipengaruhi oleh penurunan Aspek Kebebasan Sipil sebesar 1,73 poin (dari 86,88 menjadi 85,15), Aspek Hak-hak Politik sebesar 1,09 poin (dari 62,77 menjadi 61,68) dan Aspek Lembaga Demokrasi sebesar 5,28 poin (dari 89,47 menjadi 84,19). Meskipun nilai IDI Provinsi Riau tahun 2019 mengalami penurunan, namun tingkat demokrasi Provinsi Riau tetap berada dalam kategori

"sedang".

Jika dilihat lebih dalam, dari 11 variabel IDI Provinsi Riau, terdapat 3 variabel yang mengalami kenaikan indeks, 5 variabel yang mengalami penurunan dan 3 variabel tidak mengalami perubahan. Tiga variabel yang mengalami kenaikan antara lain : Kebebasan Berkumpul dan Berserikat, Kebebasan Berkeyakinan, dan Partisipasi Politik dalam Pengambilan Keputusan dan Pengawasan Pemerintahan. Variabel yang mengalami penurunan antara lain : Kebebasan Berpendapat, Hak Memilih dan Dipilih, Pemilu yang Bebas dan Adil, Peran DPRD, dan Peran Birokrasi Pemerintah Daerah. Sementara variabel yang tidak mengalami perubahan antara lain : Kebebasan dari Diskriminasi, Peran Partai Politik dan Peran Peradilan yang Independen

Variabel Kebebasan Berpendapat mengalami penurunan paling tinggi yaitu sebesar 22,89 poin, dari 83,30 pada 2018 menjadi 60,41 pada 2019. Hal ini disebabkan adanya beberapa kejadian ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan oleh aparat pemerintah yang menghambat mahasiswa-mahasiswa di Provinsi Riau untuk menyalurkan pendapatnya.

(4)

Penurunan tertinggi kedua terjadi pada variabel Peran DPRD yang turun 13,81 poin,dari 87,36 pada tahun 2018 menjadi 73,55 pada tahun 2019. Penurunan ini disebabkan menurunnya jumlah rekomendasi DPRD kepada eksekutif dan Perda yang merupakan inisiatif DPRD.

Selanjutnya penurunan tertinggi ketiga sebesar 12,37 poin terjadi pada variabel Pemilu yang bebas dan adil dengan nilai 91,14 pada tahun 2018 menjadi 78,77 pada tahun 2019.

Hal ini dapat terlihat dengan adanya pengaduan/pelaporan masyarakat ke Bawaslu terkait netralitas penyelenggara Pemilu.

Gambar 3

Perkembangan Indeks Variabel IDI Provinsi Riau, 2018-2019

Di sisi lain, Variabel Partisipasi Politik dalam Pengambilan Keputusan dan Pengawasan Pemerintahan mengalami kenaikan sebesar 2,72 poin, dari 50,00 pada 2018 menjadi 52,72 pada tahun 2019. Hal ini dapat dipantau selama tahun 2019 jumlah demonstrasi/mogok yang bersifat kekerasan semakin berkurang dari tahun sebelumnya

Variabel berkumpul dan berserikat juga mengalami kenaikan sebesar 2,34 poin dari 97,66 pada tahun 2018 menjadi 100,00 pada tahun 2019. Hal ini disebabkan tidak adanya kejadian ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan yang menghambat kebebasan berkumpul dan berserikat, baik yang dilakukan oleh aparat pemerintah atau masyarakat

3. IDI Provinsi Riau, 2019

Pada tahun 2019, dari 28 indikator IDI Provinsi Riau, terdapat delapan belas indikator yang memilki skor dengan kategori "baik" (skor >80).

• Tujuh indikator berasal dari aspek Kebebasan Sipil, yaitu:

a. Indikator 1, Ancaman/Penggunaan Kekerasan oleh Aparat Pemerintah yang Menghambat Kebebasan Berkumpul dan Berserikat;

b. Indikator 2, Ancaman/Penggunaan Kekerasan oleh Masyarakat yang Menghambat

3 0,00

20,00 40,00 60,00 80,00 100,00

Kebebasan Berkumpul dan Berserikat

Kebebasan Berpendapat

Kebebasan Berkeyakinan

Kebebasan dari Diskriminasi

Hak Memilih dan Dipilih Partisipasi Politik dalam

Pengambilan Keputusan dan Pengawasan

Pemerintahan Pemilu yang Bebas dan

Adil Peran DPRD Peran Partai Politik

Peran Birokrasi Pemerintah Daerah

Peran Peradilan yang Independen

2018 2019

(5)

c. Indikator 6, Tindakan atau Pernyataan Pejabat Pemerintah yang Membatasi Kebebasan atau mengharuskan Masyarakat untuk Menjalankan Ibadah Agama;

d. Indikator 7, Ancaman/Penggunaan Kekerasan dari satu Kelompok Masyarakat terhadap Kelompok Masyarakat Lain terkait dengan Ajaran Agama;

e. Indikator 8, Aturan tertulis yang Diskriminatif dalam Hal Gender Etnis, atau Terhadap Kelompok Rentan lainnya;

f. Indikator 9, Tindakan/Pernyataan Pejabat Pemerintah yang Diskriminatif dalam Hal Gender, Etnis atau terhadap dan Kelompok Rentan lainnya;

g. Indikator 10, Ancaman/Penggunaan Kekerasan oleh Masyarakat karena Alasan Gender, Etnis atau terhadap Kelompok Rentan lainnya;

• Empat Indikator dari Aspek Hak-hak Politik, yaitu:

a. Indikator 11, Hak Memilih atau Dipilih Masyarakat Terhambat;

b. Indikator 12, Ketiadaan/Kekurangan Fasilitas sehingga Kelompok Penyandang Cacat tidak dapat Menggunakan Hak Pilih;

c. Indikator 14, Persentase penduduk yang Menggunakan Hak Pilih dibandingkan dengan yang Memiliki Hak untuk Memilih dalam Pemilu (voters turnout);

d. Indikator 17, Pengaduan Masyarakat mengenai Penyelenggaraan Pemerintahan;

• Tujuh Indikator dari Aspek Lembaga Demokrasi, yaitu:

a. Indikator 19, Kejadian atau Pelaporan tentang Kecurangan dalam Penghitungan Suara;

b. Indikator 20, Alokasi Anggaran Pendidikan dan Kesehatan terhadap Total APBD;

c. Indikator 23, Kegiatan Kaderisasi yang dilakukan Parpol Peserta Pemilu;

d. Indikator 24, Persentase Perempuan dalam Kepengurusan Parpol Tingkat Provinsi;

e. Indikator 26, Upaya Penyediaan Informasi APBD oleh Pemerintah Daerah;

f. Indikator 27, Keputusan Hakim yang Kontroversial.

g. Indikator 28, Penghentian Penyidikan yang Kontroversial oleh Jaksa atau Polisi.

Sementara itu, terdapat empat indikator yang memiliki skor dengan kategori

“sedang” (skor 60-80).

• Dua indikator berasal dari aspek Kebebasan Sipil, yaitu:

a. Indikator 3, Ancaman/Penggunaan Kekerasan oleh Aparat Pemerintah yang Menghambat Kebebasan Berpendapat;

b. Indikator 5, Aturan Tertulis yang Membatasi Kebebasan atau Mengharuskan Masyarakat dalam Menjalankan Ibadah Agama;

• Satu Indikator dari Aspek Hak-hak Politik, yaitu:

a. Indikator 15, Persentase Perempuan Terpilih terhadap Total Anggota DPRD Provinsi;

3 0,00

20,00 40,00 60,00 80,00 100,00

Kebebasan Berkumpul dan Berserikat

Kebebasan Berpendapat

Kebebasan Berkeyakinan

Kebebasan dari Diskriminasi

Hak Memilih dan Dipilih Partisipasi Politik dalam

Pengambilan Keputusan dan Pengawasan

Pemerintahan Pemilu yang Bebas dan

Adil Peran DPRD Peran Partai Politik

Peran Birokrasi Pemerintah Daerah

Peran Peradilan yang Independen

2018 2019

(6)

• Satu Indikator dari Aspek Lembaga Demokrasi, yaitu:

a. Indikator 18, Netralitas Penyelenggara Pemilu;

Meskipun demikian, pada tahun 2019 masih terdapat enam indikator demokrasi dengan skor berkategori “buruk” (skor < 60).

• Satu indikator berasal dari aspek Kebebasan Sipil, yaitu:

a. Indikator 4, Ancaman/Penggunaan Kekerasan oleh masyarakat yang Menghambat Kebebasan Berpendapat;

• Dua indikator dari Aspek Hak-hak Politik, yaitu:

a. Indikator 13, Kualitas Daftar Pemilih Tetap (DPT);

b. Indikator 16, Demonstrasi/Mogok yang Bersifat Kekerasan;

• Tiga indikator dari Aspek Lembaga Demokrasi, yaitu:

a. Indikator 21, Perda yang merupakan Inisiatif DPRD;

b. Indikator 22, Rekomendasi DPRD kepada Eksekutif; dan

c. Indikator 25, Jumlah Kebijakan Pejabat Pemerintah Daerah yang dinyatakan Bersalah oleh Keputusan PTUN.

Keenam Indikator kategori "buruk" tersebut di atas memerlukan perhatian khusus dari semua pihak agar nilainya dapat mencapai kinerja yang lebih baik di tahun mendatang.

4. IDI Tingkat Provinsi, 2018 - 2019

Pada periode 2018–2019, jumlah provinsi yang memiliki angka IDI berkategori “baik”

meningkat dari 5 provinsi menjadi 7 provinsi. Terdapat satu provinsi yang masuk ke kategori

“buruk”, yaitu Provinsi Papua Barat, sementara 26 provinsi lainnya berada pada kategori

“sedang”. Provinsi DKI Jakarta berhasil mempertahankan posisi pada peringkat pertama dengan nilai IDI sebesar 88,29; diikuti oleh Provinsi Kalimantan Utara dengan nilai IDI sebesar 83,45. Posisi ketiga adalah Provinsi Kepulauan Riau dengan nilai IDI sebesar 81,64.

Pada tahun 2019, posisi keempat ditempati oleh Provinsi Bali dengan capaian IDI sebesar 81,38. Sementara pada tahun 2019, nilai IDI Provinsi Riau tahun 2019 berada pada posisi ke dua puluh dua dengan capaian IDI sebesar 75,21. Namun demikian, nilai IDI Provinsi Riau masih berada di atas nilai IDI Nasional 2019 yang sebesar 74,92.

Dibandingkan dengan capaian IDI pada tahun 2018, terdapat 21 provinsi mengalami peningkatan dan 13 provinsi mengalami penurunan angka IDI di tahun 2019 ini. Dua provinsi dengan peningkatan IDI terbesar terjadi di Provinsi Kalimantan Tengah dan Bengkulu, masing- masing meningkat sebesar 9,89 poin dan 8,08 poin. Sementara, dua provinsi yang mengalami penurunan IDI terbesar terjadi di Provinsi Sulawesi Tenggara dan Maluku, masing-masing menurun sebesar 9,11 poin dan 7,29 poin.

(7)

5. Penjelasan teknis

Pembangunan demokrasi dan politik merupakan hal yang penting dan terus diupayakan oleh pemerintah. Namun, untuk mengukur pencapaiannya baik di tingkat daerah maupun pusat bukan suatu hal yang mudah. Pembangunan demokrasi memerlukan data empirik untuk dapat dijadikan landasan pengambilan kebijakan dan perumusan strategi yang spesifik dan akurat. Untuk memberikan gambaran mengenai perkembangan demokrasi politik di Indonesia sejak tahun 2009, Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (KEMENKOPOLHUKAM), Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS), dan Kementerian Dalam Negeri (KEMENDAGRI) merumuskan pengukuran IDI.

IDI adalah indikator komposit yang menunjukkan tingkat perkembangan demokrasi di Indonesia. Tingkat capaiannya diukur berdasarkan pelaksanaan dan perkembangan tiga aspek demokrasi, yaitu Kebebasan Sipil (Civil Liberty), Hak-Hak Politik (Political Rights), dan Lembaga Demokrasi (Institution of Democracy). Di samping level nasional, IDI juga dapat memberikan gambaran perkembangan demokrasi di provinsi-provinsi seluruh Indonesia. IDI tidak hanya melihat gambaran demokrasi yang berasal dari sisi kinerja pemerintah/birokrasi saja. Namun, IDI juga melihat perkembangan demokrasi dari aspek peran masyarakat, lembaga legislatif (DPRD), partai politik, lembaga peradilan dan penegak hukum. Oleh karena itu, perkembangan IDI merupakan tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat.

Pengumpulan data IDI menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif sebagai tahapan yang saling melengkapi. Pada tahap pertama, data kuantitatif dikumpulkan dari koding surat kabar dan dokumen tertulis seperti Perda atau peraturan dan surat keputusan kepala daerah, yang sesuai dengan indikator-indikator IDI. Temuan-temuan tersebut kemudian diverifikasi dan dielaborasi melalui Focus Group Discussion (FGD) sebagai tahap pengumpulan data kedua, sekaligus menggali kasus-kasus yang tidak tertangkap di koding surat kabar/dokumen. Pada tahap ketiga, data-data yang telah terkumpul tersebut diverifikasi melalui wawancara mendalam dengan nara sumber yang kompeten memberikan informasi tentang indikator IDI. Semua tahapan pengumpulan data dilakukan oleh BPS Provinsi, diolah di BPS RI, dan diverifikasi oleh Tim IDI Pusat beserta mitra kerja lain pada semua tahapannya.

Penghitungan IDI melalui tiga tahapan proses yakni pertama, menghitung skor akhir untuk setiap indikator; kedua, menghitung indeks provinsi; dan ketiga, menghitung indeks keseluruhan atau IDI Nasional. Ketiga tahapan ini secara hierarkis terkait satu dengan yang lain. Skor masing-masing indikator IDI (28 indikator) di setiap provinsi memberikan kontribusi dalam penghitungan indeks 11 variabel IDI. Selanjutnya indeks 11 variabel memberikan kontribusi terhadap penghitungan indeks tiga aspek IDI. Indeks komposit ketiga aspek IDI inilah yang merefleksikan indeks demokrasi di masing-masing provinsi. Dan pada akhirnya indeks komposit provinsi menentukan IDI Nasional.

Untuk menggambarkan capaian tingkat demokrasi dalam IDI digunakan skala 0 – 100.

Skala ini merupakan skala normatif di mana 0 adalah tingkat terendah dan 100 adalah tingkat tertinggi. Tingkat terendah (nilai indeks = 0) secara teoretik dapat terjadi bila semua indikator mendapatkan skor yang paling rendah (skor 0).

(8)

Tabel 2

Perkembangan Indeks Variabel IDI Provinsi Riau, 2018 - 2019

No Nama Variabel 2018 2019 Selisih

(1) (2) (3) (4) (5)

1 Kebebasan Berkumpul dan Berserikat 97,66 100,00 2,34

2 Kebebasan Berpendapat 83,30 60,41 (22,89)

3 Kebebasan Berkeyakinan 83,20 83,55 0,35

4 Kebebasan dari Diskriminasi 93,47 93,47 0,00

5 Hak Memilih dan Dipilih 75,53 70,65 (4,88)

6 Partisipasi politik dalam pengambilan

keputusan dan pengawasan 50,00 52,72 2,72

7 Pemilu yang Bebas dan Adil 91,14 78,77 (12,37)

8 Peran DPRD 87,36 73,55 (13,81)

9 Peran Partai Politik 100,00 100,00 0,00

10 Peran Birokrasi Pemerintah 70,50 67,53 (2,97)

11 Peran Peradilan yang Independen 100,00 100,00 0,00

Catatan : *) = rincian indikator dapat dilihat pada Tabel 3

Sebaliknya, tingkat tertinggi (nilai indeks = 100) secara teoritik dimungkinkan apabila seluruh indikator memperoleh skor tertinggi. Selanjutnya, untuk memberi makna lebih lanjut dari variasi indeks yang dihasilkan, skala 0 – 100 tersebut dibagi ke dalam tiga kategori tingkat demokrasi, yakni “baik” (indeks > 80), “sedang” (indeks 60 – 80), dan “buruk” (indeks

< 60).

6. Tabel-Tabel

Tabel 1

Komponen Penghitungan IDI 2009 - 2019

Aspek Variabel Indikator*)

• Kebebasan Sipil 1. Kebebasan Berkumpul dan Berserikat 2 indikator

2. Kebebasan Berpendapat 2 indikator

3. Kebebasan Berkeyakinan 3 indikator

4. Kebebasan dari Diskriminasi 3 indikator

• Hak-Hak Politik 5. Hak Memilih dan Dipilih 5 indikator 6. Partisipasi Politik dalam Pengambilan

Keputusan dan Pengawasan Pemerintahan 2 indikator

• Lembaga

Demokrasi 7. Pemilu yang Bebas dan Adil 2 indikator

8.Peran DPRD 3 indikator

9. Peran Partai Politik 2 indikator

10. Peran Birokrasi Pemerintah Daerah 2 indikator 11. Peradilan yang Independen 2 indikator

(9)

Tabel 3

Perkembangan Skor Indikator 2018 - 2019

No Indikator 2018 2019

(1) (2) (3) (4)

Kebebasan Sipil

1 Ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan oleh aparat pemerintah yang menghambat

kebebasan berkumpul dan berserikat 100,00 100,00

2 Ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan oleh masyarakat yang menghambat kebebasan

berkumpul dan berserikat 81,25 100,00

3 Ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan oleh aparat pemerintah yang menghambat

kebebasan berpendapat 100,00 62,50

4 Ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan oleh masyarakat yang menghambat kebebasan

berpendapat 0,00 50,00

5 Aturan tertulis yang membatasi kebebasan atau mengharuskan masyarakat dalam menjalankan

ibadah agama 78,26 78,26

6 Tindakan atau pernyataan pejabat pemerintah yang membatasi kebebasan atau mengharuskan

masyarakat untuk menjalankan ibadah agama 87,50 90,63

7 Ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan dari satu kelompok masyarakat terhadap

kelompok masyarakat lain terkait ajaran agama 100,00 100,00

8 Aturan tertulis yang diskriminatif dalam hal gender, etnis atau terhadap kelompok rentan lainnya 83,33 83,33 9 Tindakan atau pernyataan pejabat pemerintah daerah yang diskriminatif dalam hal gender, etnis

atau terhadap kelompok rentan lainnya 100,00 100,00

10 Ancaman kekerasan atau penggunaan kekerasan oleh masyarakat karena alasan gender, etnis

atau terhadap kelompok rentan lainnya 100,00 100,00

Hak-Hak Politik

11 Hak memilih dan dipilih masyarakat terhambat 97,44 84,62

12 Ketiadaan/kekurangan fasilitas sehingga kelompok penyandang cacat tidak dapat menggunakan

hak pilih 60,00 96,47

13 Kualitas Daftar Pemilih Tetap (DPT) 68,82 59,15

14 Persentase penduduk yang menggunakan hak pilih dibandingkan dengan yang memiliki hak

untuk memilih dalam pemilu (voters turnout) 69,48 84,40

15 Persentase perempuan terpilih terhadap total anggota DPRD Provinsi 92,31 61,53

16 Demonstrasi/mogok yang bersifat kekerasan 0,00 5,43

17 Kritik/masukan masyarakat mengenai penyelenggaraan pemerintahan 100,00 100,00 Lembaga Demokrasi

18 Netralitas penyelenggara pemilu 100,00 72,73

19 Kecurangan dalam penghitungan suara 82,28 84,81

20 Alokasi anggaran pendidikan dan kesehatan 91,68 97,70

21 Perda yang merupakan inisiatif DPRD 88,00 54,54

22 Rekomendasi DPRD kepada eksekutif 71,43 3,57

23 Kegiatan kaderisasi yang dilakukan partai politik peserta pemilu 100,00 100,00 24 Persentase perempuan dalam kepengurusan parpol tingkat provinsi 100,00 100,00 25 Kebijakan pejabat pemerintah daerah yang dinyatakan bersalah oleh keputusan PTUN 55,26 28,95

26 Upaya penyediaan informasi APBD oleh pemerintah daerah 83,33 100,00

27 Keputusan hakim yang kontroversial 100,00 100,00

28 Penghentian penyidikan yang kontroversial oleh jaksa atau polisi 100,00 100,00 Sumber: Diolah dari data Survei Indeks Demokrasi Indonesia 2018 dan 2019

(10)

Tabel 4

Perkembangan Indeks Demokrasi Indonesia Berdasarkan Aspek dan Provinsi, 2018-2019

Kode Provinsi

IDI 2018 IDI 2019

IDI Rank Aspek

Kebebasan Sipil

Aspek Hak-hak

Politik

Aspek Lembaga

Demokrasi IDI Rank Aspek

Kebebasan Sipil

Aspek Hak-hak

Politik

Aspek Lembaga Demokrasi

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12)

11 Aceh 79,97 6 96,79 68,09 77,67 78,00 11 93,28 65,22 79,08

12 Sumut 64,33 32 76,54 62,61 51,69 67,65 31 72,54 61,59 71,12

13 Sumbar 67,06 30 55,32 62,84 88,52 67,69 30 56,58 61,06 92,21

14 Riau 77,59 10 86,88 62,77 89,47 75,21 22 85,15 61,68 84,19

15 Jambi 68,71 28 72,88 62,76 72,92 69,76 27 76,67 64,63 69,21

16 Sumsel 77,14 11 83,13 73,12 76,01 78,96 9 80,54 81,95 72,23

17 Bengkulu 70,71 27 78,77 62,18 74,13 78,79 10 93,98 73,17 68,63

18 Lampung 68,67 29 77,29 59,53 72,35 72,56 24 78,46 63,70 79,22

19 Kep. Babel 73,43 19 80,95 73,56 63,76 76,75 19 84,12 71,71 75,48

21 Kep. Riau 79,19 8 91,05 77,54 66,90 81,64 3 92,66 78,30 73,10

31 DKI Jakarta 85,08 1 95,09 75,43 87,82 88,29 1 91,01 83,86 91,89

32 Jawa Barat 65,50 31 74,90 64,78 54,80 69,09 28 65,16 71,15 70,75 33 Jawa Tengah 72,17 22 76,21 66,92 75,42 77,22 17 78,43 67,91 90,50 34 DI Yogyakarta 80,82 5 90,60 75,07 77,66 80,67 7 92,90 72,51 78,25 35 Jawa Timur 72,86 20 77,21 67,45 75,97 77,68 12 72,14 80,25 80,55

36 Banten 73,78 17 86,59 60,11 79,40 72,60 23 83,83 60,29 78,01

51 Bali 82,37 2 94,72 68,08 89,55 81,38 4 90,60 68,38 90,42

52 NTB 73,63 18 78,28 62,08 86,11 76,64 20 78,36 66,14 91,16

53 NTT 82,32 3 94,00 71,85 84,28 81,02 6 93,97 78,58 68,62

61 Kalbar 76,14 12 93,87 64,01 73,08 77,66 14 92,59 71,45 68,74

62 Kalteng 71,27 25 90,09 50,46 80,65 81,16 5 86,31 78,24 79,32

63 Kalsel 79,92 7 69,26 83,03 88,37 79,47 8 68,01 86,52 82,67

64 Kaltim 73,88 16 90,99 61,38 72,22 77,67 13 88,50 66,27 82,17

65 Kaltara 81,07 4 97,36 75,80 68,95 83,45 2 96,60 74,92 80,46

71 Sulut 77,77 9 88,90 69,53 76,86 77,08 18 95,19 63,54 75,82

72 Sulteng 75,29 14 91,90 54,94 86,72 77,27 16 96,19 53,21 91,68

73 Sulsel 70,88 26 72,44 64,05 79,75 70,58 25 68,32 65,61 81,34

74 Sultra 74,32 15 79,77 67,59 78,16 65,21 33 80,31 52,18 66,90

75 Gorontalo 72,59 21 79,33 64,95 76,26 76,29 21 75,17 76,93 76,70

76 Sulbar 71,46 24 87,41 55,05 77,45 77,42 15 81,58 70,22 83,60

81 Maluku 75,51 13 81,38 72,86 72,32 68,22 29 87,06 55,62 64,55

82 Maluku Utara 72,10 23 78,94 62,39 78,92 69,89 26 85,61 64,86 58,11 91 Papua Barat 58,29 34 82,11 40,11 57,21 57,62 34 70,35 50,31 53,23

94 Papua 62,20 33 84,36 47,90 57,05 65,25 32 93,08 51,16 52,61

Indonesia 72,39 78,46 65,79 75,25 74,92 77,20 70,71 78,73

Sumber: Diolah dari data Survei Indeks Demokrasi Indonesia 2018 dan 2019

(11)

Sumber : Diolah dari Data Survei Indeks Demokrasi Indonesia 2018 dan 2019

INDEKS DEMOKRASI (IDI) PROVINSI RIAU TAHUN 2019

Berita Resmi Statistik No.36/08/14/Th.XXIII, 3 Agustus 2020

Mengalami penurunan dibandingkan

dengan angka IDI 2018 sebesar 2,38 poin

75,21

IDI Provinsi Riau 2019

10

22

Peringkat IDI Provinsi Riau

MENURUN

Buruk Sedang

Baik

Perkembangan IDI Provinsi Riau, 2009-2019

Buruk Sedang

Baik

93,14 91,02

83,12 80,21 77,71

74,35 66,46

71,78

82,03 86,8885,15

65,4

47,19 52,9

47,1652,19 59,74

77,98

66,57 62,7761,68 70,68 85,39 83,18 81,89

82,32

74,69

62,34

73,4189,47 84,19

0 20 40 60 80 100

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Kebebasan Sipil Hak-hak Politik Lembaga Demokrasi

63,80 66,61

Perkembangan Indeks Aspek IDI Provinsi Riau, 2009-2019

IDI Provinsi Riau 2019 dipengaruhi oleh

3

Aspek demokrasi Dua aspek penyusun IDI Provinsi Riau 2019 berkategori BAIK, satu aspek berkategori SEDANG

75,85

71,45 70,65 67,00 68,37 68,40 65,83 71,89 73,41 77,59 75,21

0 20 40 60 80 100

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019

85,15

Kebebasan Sipil 1,73 poin

61,68

Hak-hak Politik 1,09 poin

84,19

Lembaga Demokrasi 5,28 poin

(12)

Diterbitkan oleh:

Konten Berita Resmi Statistik dilindungi oleh Undang- Undang, hak cipta melekat pada Badan Pusat Statistik. Dilarang mengumumkan, mendistribusikan, mengomunikasikan, dan/atau menggandakan sebagian atau seluruh isi tulisan ini untuk tujuan komersial tanpa izin tertulis dari Badan Pusat Statistik.

Badan Pusat Statistik Provinsi Riau

Jl. Pattimura No. 12 Pekanbaru-Riau 28131 Kabid Statistik Sosial : Ahmad Azhari, S.Si Telepon: (0761) 23042-21336

E-mail: [email protected] Website: www.bps.go.id

Sumber : Diolah dari Data Survei Indeks Demokrasi Indonesia 2018 dan 2019

PERKEMBANGAN VARIABEL DEMOKRASI RIAU, 2018-2019

Variabel Mengalami Penurunan

Variabel Lainnya Stagnan

3

Variabel dengan Penurunan Terbesar

Peran DPRD 13,81 Kebebasan

berpendapat 22,89

PENYEBAB UTAMA PENURUNAN IDI PROVINSI RIAU 2019

71,43

3,57

2018 2019

Rekomendasi DPRD kepada eksekutif MENURUN

88,00 54,54

2018 2019 Perda yang merupakan

inisiatif DPRD MENURUN

Meskipun penyebab penurunan utama IDI Provinsi Riau adalah kelima indikator tersebut, namun masih terdapat enam indikator yang nilainya di bawah 60 poin (berkategori buruk).

92,31 61,53

2018 2019 Persentase perempuan terpilih terhadap total anggota DPRD Provinsi MENURUN

100,00 62,50 2018 2019 Ancaman kekerasan oleh aparat pemerintah yang menghambat kebebasan berpendapat MENINGKAT

100,00

72,73

2018 2019 Netralitas penyelenggara pemilu MENURUN

5

0,00 20,00 40,00 60,00 80,00 100,00

Kebebasan Berkumpul dan Berserikat

Kebebasan Berpendapat

Kebebasan Berkeyakinan

Kebebasan dari Diskriminasi

Hak Memilih dan Dipilih

Partisipasi Politik dalam Pengambilan Keputusan dan Pengawasan Pemerintahan Pemilu yang Bebas dan Adil

Peran DPRD Peran Partai Politik Peran Birokrasi Pemerintah Daerah

Peran Peradilan yang Independen

2018 2019

Referensi

Dokumen terkait

Semakin banyak perbendaharaan pengetahuan anak tentang dunia nyata semakin cepat perkembangan kognisi mereka terutama dalam kemampuan berfikir konvergen, kemampuan ini

Perlindungan Desain Industri dalam upaya memajukan produk lokal dalam Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Pentingnya masalah perlindungan Desain Industri sehingga

Nomor 1 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, perlu menetapkan

litura setelah dianalisis sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian konsentrasi ekstrak daun sirih hutan ( Piper aduncum L.) 75 g/l air dengan penambahan beberapa

Menyelesaikan uji kompetensi untuk materi : Bermain melempar dan menangkap bola yang terdapat pada buku pegangan peserta didik atau pada lembar

Untuk bangunan sadap tersier yang mengambil air dari saluran primer yang besar, di mana pembuatan bangunan pengatur akan sangat mahal dan muka air yang diperlukan di petak

Untuk kepentingan penjelasan pada setiap pertanyaan, pengguna dapat melihat penjelasannya pada kotak bantuan (sebelah kiri)6. Setelah selesai melakukan pengisian, lanjutkan

Senirupa merupakan media yang digunakan oleh seorang perupa sebagai pengungkapan ide, gagasan, pengalaman dalam merespon fenomena-fenomena kehidupan yang dialami