• Tidak ada hasil yang ditemukan

LIN. ..rr. b:t. .r $ '4 *,I. 'tlt. :lr ' I:vJ. tr.l. #fu,$*,* \ri \,'. ll. ' ''':,. -.' i*l ' ISSN *',rl. Volume 2 No, l Februari

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LIN. ..rr. b:t. .r $ '4 *,I. 'tlt. :lr ' I:vJ. tr.l. #fu,$*,* \ri \,'. ll. ' ''':,. -.' i*l ' ISSN *',rl. Volume 2 No, l Februari"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)ISSN 1693-4199 Volume 2 No,. *. l. Februari. \ri. *',rl. tr. i'. ii. .l. \ ll. I. jl.. '4. 'l. *,. | 'tlt. !. l. rr '. ,'.. .r "i. $. .l. I:vJ ''':|,. .-. .' i*l. '. I. :lr. '. ..rr. LIN (. Journal of Environmental. ysis). t. tt. b:T #fu,$*,*. t..

(2) rssN 1693-4199. JURNAL. ANALISIS. LINGKUNGAN (fournal of Environmental Analysis) Volume 2 Nomor. 1. Februari 2005. Penanggung Jawab Dr.Ir.H Dede Setiadi. Penyunting Ir. Machmud Natasaputra. Wakil Penyunting Ir. Sulistijorini, MSi Penyunting Ahli Dr.lr. Muhadiono Dr,lr. Ibnul Qayim Dr.Ir. Imam Santosa Ir. Dodit Hadij a1'a Ir. Hadisunarso Ir. Irmansyah. MSi. Penyunting Pelaksana E. Muhamadjen. BScF Ina Rosdiana Lesmanawatr. SSi I:lalida Nurmalia. AN'ld Surtiati. AN4d Yulianida. Alamat Redaksi Program Studi Analisis Lingkungan FMIPA - IPB Jl. Kumbang No. 14 Bogor 16151 Telp/Fax. (0251) 384242 E-mail : analisis lingkungan@yahoo,com. Jurnal Analisis Lingkungan diterbitkan oleh Program Studi Analisis Lingkungan Fakultas Mateinatika dan llmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor..

(3) a,. S1. PENGANTAR. Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan karuniaNya Jurnal Analisis Lingkungan volume 2 no.1. dapat diterbitkan.. Jurnal yang berisi kajian ilmiah analisis lingkungan ini diharapkan dapat bermanlaat bagi pembaca dalant menambah informasi tentang permasalahan lingkungan hidup. Perbaikan serta peningkatan kualitas isi jurnal ini akan selalu kami kcdcpankan.. Disadari sepenuhnya bahwa jumal sempurna. Karenanya. ini. masih jauh dari. kritik dan saran membangun dari semua pihak. sangat kami harapkan. Pada kesempatan. ini. redaksi mengucapkan. terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga terbitnya jurnal ini..

(4) ISSN | 1693-4199. Keterangan Gambar Sampul : Kampung Naga, Tasikmalaya. JURNAL. ANALISIS. I,INGKUNGAN (fournal of Environmental Analy5;5;. Vol2. No. 1 Februari 2005 Marlinda N.S. Rangkuti, Dede Setiadi, Dedy Duryadi, Juliarni. ll7 -. 127. Djufri, Dede Setiadi, Edi Guhardja, Ibnul Qayim. 128. -. t44. Dede Setiadi, Machmud Natasaputra. 145. -. 153. Meirisa, Dede. 154. -. 165. Hubungan Vegetasi dengan Beberapa Komponen Neraca Air serta Peranannya terhadap Mata Air Kotabatu dan Bantar Kambing, Bogor. Rika Mariska, Dede Setiadi,. 166. -. 1'7. Studi Populasi Kalong Kapauk. Tb. Unu Mtibaskara, Wage Indra Ru(mana. 177. -. 184. vampyrus Linnaeus, 1758) di Kebun Raya Bogor. Pemanfaatan Limbah Cair Industri Cengkeh Hasil Pengolahan Rokok sebagai Penghambat. Dharmawaty M. Taher, Setiadi. Yulin Lestari. 85. -. 199. Kemampuan Menjerap Timbel (Pb) Beberapa. Jenis Tanaman Penghijauan Di Jalan Tol Jagorawi : Analisis Struktur Anatomi dan Histokimia. Pengaruh Kerapatan Tegakan Akasia (Acacia nilotica) (L.) Willd ex. Del. Terhadap Komposisi dan Keanekaragaman Tumbuhan Bawah di Savana Taman Nasional Baluran Jawa Timur. Sistem Agroforestry Kebun Campur. Di. Daerah. Kampung Naga, Tonjong dan Bantarsari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Dati II Tasikmalaya Jawa Barat. Komposisi Jenis dan Struktur Tanaman. dalam Dwi Achirini. Sistem Agroforestry Kebun Talun 'Daerah Setiadi, Sulistijorini Sukaraj a. (Pteropus. Aktivitas Organisme Perusak Kayu. :. Sulistijorini. Dede. 1. Rayap. Coptotermes curvignathus Holmgren dan Jamur Schizophyllum c ommune Fries. Terbit dua kali setahun. 6.

(5) Jurnal Analisis Lingkungan Vol. 2 No. l. hlm. 128-14,1. ISSN;1693-4199 Februari 2005. PENGARUU KERAPATAN TEGAKAN AKASIA (Acactu nilotica) (L.) Willd ex. Del. TERHADAP KOMPOSISI DAN KEANEKARAGAMAN II'UMBI]HAN BAWAH DI SAVANA TAMAN NASIONAL BALURAN JAW,dTIMUR. THE STAND DENSITY EFFECT OF ACACIA \ALn(iu nilotica) (L.) Will ex.Det. TO COMPOSITION AND DIVERSITY OF T]NDERGROWTH PLANT IN SAVANNA BALT]RAN NATIONAL PARK. EAST .IAVA DJUFRI, DEDE SETIADI, EDI GUHARDJA, IBNUL QAYIM FMIPA, Institut Pertani(n Bogot,Jalon. Rn)-a. Psj(jstott, Bog0r 16144. The rcsearch lvas done in Baluran National Park, Banyuwangi East .tava in April to June 2004. The objectivcs of this research are : to determine species composition, importance yalue ofspeci€s,. diversity index and evenness index, similarity index, distribution pattern of species, and species associalion. This research used quadratic method. The determination of the species distribution was calculated using Poisson distribution formula. The determination of association was calculated using contingency tablc and classification of community using similarity index formula and cluster analysis. Thc results of this rcsearch indicated that, there rvere 63 species ofplants including l8 family. The importancc valuc was between 0,97-42,58 and species with high and mediuft importance value are Brachiaria reptans, Tespcsisa lanpas, Oplismenus burmanii, Dichantium coricosum, Axonopus comprcssusr and Svncdrella nudiflora. The diversity indcx lvas betwecn l,l50,l-2,7556 and evenness index was betwecn I,106?-1,?85,1. Thc distribution pattern ofspecies indicated that l6 species were distributed in a clump€d, 5 species were in a regulsr, and 4 species were at random distribution pattern. The grass-group tend to have a clumped distribution pattern, and non-grass-group tcnd to have a reguler or randorn distribution pattern. The determine rssociation indicated that 6 species had very high association indcx :: Brachiaria reptans, Dichantium coricosum, Tespesia lanpas, Achyrantes aspera, Stachytarpcta indica, Axonopus compressus and Oplismenus burmanii. The result of classification community indicated thal savanna Baluran National Park can be devided three group (a). Open sayAnna no A. nilotica stand, (b). savanna rvith density of A. nilotica stand 1500-3000 individuals/ha, and (c). savanna with dense A. nilotica stand > 3000 indiyiduals/ha. Key word : Acacia nilotica, Species Composition, Importance Value, Diversity Indcx, Similaritv Index, Evenncss Index, Distribution Pattern, Life Form, Association. Cluste r Analysis, Savanna, Balu ran National Prrk PENDAHULIIAN. dijurnpai pada tanah dengan kandungan liat yang. Akasia berduri (AcdciLl nilotic,:t) (1..) Willd. ex. Del. diperkirakan bcrasal dari India. Pakistan, dan juga banyak ditemukan di Afrika. Sekarang ini telah dikenal beberapa spesicsnya scperti ,4. nilotica sub spesies indica, A. leucophloea \,lilld.,. tinggi. tetapi dapat ju-qa tumbuh pada ranah lempune berpasir yang dalam dan di area dengan curah hujan yang tinggi. Umumnya tumbuh di dekat jalur air terutama di daerah yang sering mengalami banlir dan sangat tolcran terhadap kondisi salin. Tumbuhan ini dapat tumbuh pada. A. farnesiana Willd.,. ,4 ferruginea DC... A.. catechu V,lilld.. A. horrida (1.1) Willd., ,4. sinuatd (Lour.) Merr., A. pejlnLtld Willd.. dan A. senegal Willd. (Brenan. 1983). Akasia tersebar luas di Afrika tropika dan subtropika dari Ir4esir dan. Mauritania sarrpai spesies tersebar luas. Afrika Selatan. Beberapa di Asia Timur scperti Birma.. A.. niloticd sub spesies indica juga tumbuh di. Ethiopia, Somalia. Yaman. Oman, Pakislan, India, dan Birrna. Kenrudiarl .jrrga berhasil di tanam di Iran. Victnam (Ho Chi Min City). Auslralia (Sydncy dan Queensland) dan di Carrihcan rBrcnarr. lqRit. Srh rn<.i<' 'ni urrlrrn. area yang menerima curah hujan kurang dari 3501500 rrm per tahun. Spesics ini dilaporkan sangat scnsitif terhadap kebekuan/dingin, namun dapat. tumbuh pada arca dimana rata-rata temperatur bulanan sangat dingin yaitu 160C (Gupta, 1970). Menurut Duke (1983) l. nilatico be"asal darl. Mesir Selatan lalu tersebar ke Mozambique. dan. Natal, kemudian di introduksi ke Zanztbar. Perrb,r. India dan Arab. Saat ini A. nilatica melupakan gulnra yang menintbulkan nrasalah scrius di Alrika Selatan. Ilal yang sama terjadi di Taman Nasional Baluran Banyuwangi Jawa Timur.

(6) Pengaruh Kerapatan Tegakan Akasia ..... (Djufri, Dede Setiadi, Edi Guhardja, Ibn.,l. Di Taman Nasional Baluran dijumpai beberapa spesies flora eksotik, yang keberadaannya cukup mengganggu keutuhan ekosistem asli kawasan tersebut. Salah satu spesies flora eksotik yang cukup mengganggu. keseimbangan ekosistem Baluran adalah l. ll/otlca. Spesies yang di introduksi ke Indonesia. merupakan sub spesies indica. Introduksi dilakukan pada tahun 1850, melalui Kebun Botani di Calcuta (lndia) untuk menjadikan tumbuhan ini sebagai salah satu tumbuhan yang nremiliki nilai komersial yaitu sebagai penghasil getah (gum) yang berkualitas tinggi. Namun setelah tumbuhan. ini di. tanam. di. Kebun Raya Bogor, ternyata. produksi getahnya sangat rendah sehingga pohon40 tahun kemudian. ke Taman Nasional Baluran di Banyuwangi Jawa Timur pada tahun 1969 bertujuan sebagai sekat bakar untuk menghindari menjalarnya api dari savana ke kawasan hutan jati (Anonim, 1999). Namun invasi A. nilotica di Taman Nasional Baluran telah menyebabkan terdesaknya berbagai spesies. pohon tersebut ditebang Introduksi tumbuhan ini. rumput sebagai komponen utama. penyusun. savana Baluran.. Savana. berbatasan. di. ini sering terbakar, dan dengan hutan semusim. Untuk daerah. mencegah meluasnya kebakaran tersebut ditanamlah A. nilotic.t di bagian selatan kawasan savana Bekol sepanjang 1,2 km dan lebar g m.. eayim) llg. terbuka yang didominasi suku poaceae (rumput-. rumputan) menjadi areal yang ditumbuhi. L nilotica. Pada tempat-tempat tertentu pertumbuhannya sangat rupat sehingga membentuk kanopi tertutup, akibatnya beberapa. rumput tidak mampu hidup Kejadian. ini. di. bawahnya.. kemungkinan disebabkan karena. kompetisi kebutuhan cahaya atau adanya faktor. alelopati. Untuk memperoleh jawaban atas fenomena tersebut perlu dilakukan kajian mendalarn mengenai autekologi A. nilitica. tersebut (Djufri, 2004).. Pada saat ini kondisi savana Bekol seluas 420 ha memperlihatkan karakter sebagai berikut : (a). Sekitar 150 ha berupa savana terbuka yang tidak. dijumpai adanya pohon A. nilotica, tetapi hanya ditumbuhi oleh anakan L nilotica yang berukurin. rata-rara sekitar 25-50. cm, dengan tingkat kerapatan berkisar 1000-2500 individuTha, K-omposisi spesies penyusun daerah ini mencapai 60 spesies, rumput bayapan (Brachiria reptans) menguasai suiuruh tempat dengan penutupan area mencapai 75 %. (b). Sekitar 200 ha berupa savana yang tertutupi oleh pohon L nilotica berumrr 2_3. tahun, tinggi pohon berkisar 2.5-3.5 m, dengan kerapatan pohon rata-rata sekitar 2500_4d00 pohon/ha. Komposisi spesies di daerah ini sangat terbatas karena telah dipengaruhi kerapatan pohon sinar dan kemungtinan adanya pengaruh zat alelopati. A. niloticq yamg terkait dengan intensitas. Namun perkembangan selanjutnya l. nilotica justru menyebar hampir keseluruh savana Bekol,. yang diproduksi oleh A. nilotica atau karena adanla kompetisi anrar spesies. Spesies yang di daerah ini sebanyak l5 sp.siei tc.)-. 9Uumpai. tumbuh dari batang tetapi juga oleh kerbau liar dan herbivora lainnya yang memakan buah ,{ nilotrca. tetapi tidak mencerna brjinla. Brli yang keluar bersama dengan kororan akan menjadi titii invasi baru dari A. nilotica. Walaupun iekarang populasi kerbau liar sudah banyak dikurangi (Tjitrosemito, 2002). lnyasi A. nilotica menyebabkan pertumbuhan rumput lerdesak. sehingga dipandang dari aspek ketersediaan makanan bagi herbivora sudah tidak memadai, oleh karenanya satwa mencari pakan alternatifyang lain. salah salun)a adalah daun dan. tungsi menjadi hutan A. ,ulo!rca berumur 3_4 tahun, tinggi pohon berkisar 5-6,5 m, dengan. sehingga luas sayana semakin menyempit. Penyebarannya bukan saja dari bijiyangjatuh dan. biji. Acacio niloticd. Namun sebagai surnber makanan utama, rumput tetap tidak dapat tergantikan (Sabarno, 2002). Fenomena ini. tentunya dapat mengakibatkan terganggunya keseimbangan ekosistem Taman Nasional Baluran, misalnya berkurang dan menyusutnya matanan utama bagi herbivora. Kondisi ini paia. gilirannya dapat mengancam keberadaan satwa herbivora di kawasan ini. Kondisi savana Bekol, Kramat dan Balanan di Baluran saat ini sedang. mengalami proses perubahan. dari. ekosisteri. Sekirar 70 ha berupa savana yang sudah berubah. kerapatan pohon. A. niloticq mencapai >. 40"00_. 5500 pohon/ha. Di lantai hutan A. nilorica ini relatjf bersih karena hanya di jumpai beberapa spesres saJa yang mampu hidup, dan kerapatannya sangar rendah. Misalnya glerengan ysyenedreila n I r a). kapasan f h e sp e s i a I a n pa s t. bay apan ld ! ? lbrAchnria rcptant). larong \stachytarpen 1. indica) dan merakan (Themeda arguens), gejala di savana Kramat dan Balanan (Djufri, 2004, pengamatan pribadi). Sejauh ini belum diperoleh informasi ientang pengaruh kerapatan tegakan ,4. nilotica terhadai. yang sama dijumpai. komposisi dan keanekaragaman tumbuhan bawah, oleh karenanya perlu dilakukan suatu penelitian.. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :(a) komposisi spesies yang mampu hidup di bawah tegakan 4. nilotrca. lbl. Nilai penling (Np). lndeks Keanekaragaman Spesies H.). t Indeks . Similariras (lS). lndeks Kemerataan (e). (c) pola distribusi spesies dan asosiasi di antara spesies yang hidup di bawah tegakan hutan pinus, dan.

(7) Jurnal Analisis Lingkungan Vol.2 No.. ,t 30. (d). Pola komunitas tumbuhan pada rnasingmasing karakter tegakan menggunakan teknik analisis kelompok (clusler analvsis). Kesemuanya dibandingkan dengan kontrol (savana yang tidak dijumpai pohon ,4. ailo/ica).. I. Februari 2005 : 128-llJ. & Chandell ( l98ll. s.b3gar berikut : NP = Kerapatan Relatif (KR) + Dominansi Relatil(DR) Hasil perhitungan nilai penting selanjutnla disunakan sebagai nilai Shukla. Frekuensi Relatif (FR). untuk mengetahui. a lndeks ) pada suatu. besarn;. Keanekaragaman Spesies (H. komunitas dengan menggunakan rumus berikut (Barbour e/ al.. 1981). Data diolah nrenggunakan Progran Ecctlogical \lirh,:Colog] l''i editjon (Krebs,2000). :. METODE PENELITIAN Sebelum dilakukan pengambilan sampel,. terlebih dahulu dilakukan observasi. dan. pembuatan stasiun pengamatan (segnentqsi). //'=. Luas seluruh kawasan savana Bekol 420 ha, dari. ''. -t. r=l. luas keseluruhan tersebul diambil sampel l0%' penetapan. ini. rr'.. /2. '. ,ln plr. berdasarkan pertimbangan bahwa. masing-masing stasiun pengamatan adalah. homogen. Dengan demikian, unit sampel penelitian ini adalah 42 ha. Dari 42 ha dibedakan atas 3 stasiun penganatan berdasarkan karakter kerapatan tegakan Acacia nilotica yaitu (a) Savana Bckol tanpa tegakan pahot' A nilolica selaniutnya disebut SBK0 (kontrol), (b) Savana. Bekol dengan tingkat kerapatan tegakan pohon,'1. nllolica 1500-3000 pohon/ha selanjutnya disebut SBKI, dan Savana Bekol dengan kerapatan tegakan pohon A. nilotica > 3000 pohon/ha. dirrana : pi = ni.N. ni \ ln. lumlalr rr il, i pert n- '.rlu 'r..i<' lurrrlrlr rrila. pe rt r'- .( L.r. .p(\ <. l-ogaritme natural (i..ilan-lan alami). Agar nilai Indcks Keanekaraganran Spesies (H') Shanon-Wievcr dapat drtafsirkan nlaknanya maka dicunakan kriteria sebagai berikut (Barbour e1 a1., 1987: D.juiii. :001). Nilai H' biasanya berkisar dari 0-7. Jika H = < 1 kategori :. menggunakan metode kuadrat, pada unit sampel yang luasnya 42 ha ditetapkan sebanyak l0. II - > 1-2 kategori rendah, : > sedang (arerlirlir), Jika 2-3 kategori H' Jika H' = > 3-4 kategori tinggi. dan jika H = > 4. stasiun per]gamatan dengan luas setiap stasiun 1,4 ha. Selanjutnya pada setiap stasiun pengamatan. Kemerataan spesies. selanjutnya disebut. SBK2 Penelitian. 5. ini. kuadrat. sampel dicuplik sampel sebanyak sampel kuadrat diperoleh dengan demikian (ulangan) sebanyak 50 kuadrat Hal yang sama dilakukan pada savana Kramat yang luasnya 600 ha diklasifikasikan atas SKR0, SKRI, SKR2 dan luasnya 1250 ha savana Balanan. sangat rendah. Jika. kategori sangat tinggi. Untr.rk rrengetahui Indeks. (Barbour. er al., 1981; Setiadi, 200t) dan. penentuan .iumlah kuadrat sampel menggunakan teknik seri tiga (Syafei, 1994). Variabel yang diamati mencakup jumlah spesies, nilai Kerapatan Mutlak (KM), Frekuensi Mutlak (FM), dan Dominansi Mutlak (DM) Pengenalan spesies. di. Iapangan mengacu pada. Bakhuizen (1963, 1965, 1968); buku (1978); dan Soerjani. dkk (1987). Bila Steenis dengan menggunakan buku tersebut masih ada spesies yang belum teridentifikasi' maka dibuat Backer &. spesimen herbarium untuk diidentifikasi lebih lanjut di Herbarium Bogoriense Bogor. Untuk menghitung Nilai Penting (NP) setiap spesies digunakan runlus menurut Cox (1978),. stasiun. II' Zog.S. yang. diklasifikasikan atas SBL0, SBLI, dan SBL2, sehingga jumlah total kuadrat sampel 150. Penentuan jumlah kuadrat dengan teknik seri tiga (Syafei, 1994), dan penentuan lrras kuadrat sampel berda.arkan teLnik kurra minimum area. (e) pada seluruh. pengamatan digunakan rumLls ITlenurul Barbour el al. (1981).. H':. S-. Indeks Keanekaragaman Spesics Jumlah spesies. Prnenluan pol r penr cb rran 5pe'ie5 menggunakan model distribusi Poisson, dengan 4enghitung nilai Chi-Kuadrat (;/:) . Bila nilai Xl maka pola distribusi rou", . dati pada ,7,r. '.r-. adalah acak (ranclon). Jika terJadi sebaliknya maka pola distribusi adalah non acak. Untuk kasus ini ada dua kcnlungkinan pola distribusi spesies yaitu teratur (t cgr/er') dan mengelompok (clumpecl). Langkah. )anc diternpuh adalah. : dengan menghitung nilai rarian (\'). Jika V > I maka pola distribusi mengelompok. dan jika V = < I ntaka pola distribusi teratur (Barbour el .7/ 1987 dan Coldsmith et a/. 1986). Untuk mengetahui tingkat keyakinan pola distribusi yang dihasilkan setiap bentuk hidup (tife furn) diuji dengan nilai probabililas dcngan.

(8) PengaruhKerapatanTegakanAkasia...'.(Djufri,DedeSetiadi,EdiGuhardja,lbnulQayim)131. rumus sebagai berikut. :. (Steel. &. Torrie,. B dari pada yang. diharapkan menurut kuadrat yang berisi dan terdapat kesempatan,. 1980;. Supranto, 1987).. (A) P A X P. kedua spesies yang teramati (ta) lebih sedikit dari pada yang diharapkan (ad) menurut kesempatan.. = X/n = Probabilitas = Kejadian (event) = Jumlah spesies tumbuhan dengan pola Distribusi mengelompok, teratur dan. Bila terjadi sebaliknya, maka asosiasi positif Selanjutnya hasil tersebut diuji d€ngan perhitungan indeks asosiasi yaitu Indeks Ochiai. (lO),. acak.. L. jika nilai. indeks. mendekati I maka asosiasi semakin maksimum. Rumusnya adalah sebagai berikut ; (Barbour el al., 198'7; Ludwig & Reynold, 1988), dengan rumus berikut:. Untuk menentukan asosiast di antara spesies tumbuhan, menggunakan tabel kontingensi 2 X 2 (Tabel l). Asosiasi negatif bila terdapat lebih banyak kuadrat yang hanya berisi spesies A atau Tabel. dengan ketentuan. penentuan dua spesies berasosiasi atau tidak menggunakan tabel kontingensi 2 x 2, selanjutnya diuji dengan Chi-Square (1'?) Spesies B Spesies A. Jumlah. Ada. Tidak ada. Ada. a. b. a+b. Tidak ada. c. d. c+d. Jumlah. a+c. b+d. A+b+c+d=n. Keterangan : = Jumlah sampling kedua spesies hadir b = Spesies A hadir dan B absen c = Spesies A absen dan B hadir d = Spesies A dan B absen n = Jumlah total sampling. A. E(a). E(b). E(c). E(d). (a+b)x(b+d). (a+b)x(a+c) .... E(b) =. E(a) =. n. n. (b+d)x(c+d). (a+c)x(c+d) E(d) =. E(c) =. 0= IO = Indeks Ochiai = Spesies A dan B hadir = Spesies A hadir dan B absen = Spesies B hadir dan A absen. a b c.

(9) Jurnal Analisis Lingkungan Vol.2 No. I I.ebruari 20{}5: I l8- IJJ. r32. Untuk mengetahui tingkat kesanlaan vegetasi pada seluruh unit sampel, maka dihitung nilai. Indeks Sirnilaritas (lS) (Muelle r-Donlbois & Ellenberg, 1974; Krebs, 1978; Ludwig &. Reynolds. 1988) sebagai berikut:. L\ =. : C: IS. a =. ),. (a+h). r. lokasi yang dianrati. radiasi natahari Derupakan 1'aktor pentiirg baqi rur-'rbuhan. Energi matahari. I00o. o. Indeks sinrilaritas Jumlah spesies yang sama terdapat pada stand Idan II Jumlah spesies yang hanya diternukan pada stand I. b = Jumlah spesies yanq hanl'a ditemukan pada stand II. Untuk menentukan tingkat kcmiripan antar stasiLln penganatan digunakan kriteria sebagai berikut : Keniripan sangat tinggi bila IS > 759l", Kemiripan tinggi bila IS > 50%-75%. Kemiripan 15.50 ". Kcmir rpan rangat rendah hi r lS rendah. fakta ini tcnlunja arensindikasikan bahwa ada pengaruh tingkat kerapatan teqakan lca.l.l niloticd tetlladap kehadiran tunbuhan bawah. Dalam hal ini sargat terkait dengan perbedaan penetrasi sinar nrarahar i pada ketiga karakter. bila IS .: 25%. (Krebs. 1978: Djufri,. 2003). IIasil perhitungan IS rrntuk seluruh stasiun pengainatan disusun dalam bentuk rnatriks IS cian. mempunyai tiga elek penring dalanr proses fisiologi tumbuharr \aitu : (a). lllek panas yang tnetnprng.rtulri ncn .l i .r'r nana\ jrrirgan turrbuhan dar lrr"l,r.r:.rr pr^\(s Lrdn\pirasi. respirasi, reaksi biokinria dalam lotosintesis dan metabolisme lainnia. 1b) Elek fotokirnia yaitu. fotosintcsis, dan (c) EIik ntorlogenik yang bcrperan daiarr rcgulasi dan stimulan dalam berbagai proses pertumbuhan dan perkernbangan.. Pengaruh intens itas pcnr.inaran terhadap pelkccambzrhan tilnLrLihan lebih besar dibandingkan pergaruh perubahan mutu penlinaran (Pitrrno ri "r/.. 1996. Janurvali dan N.luharrmad.. I. 9!)? l. Berdasarkan. ilaia paila Tabel 2. dapat. ditLrnjukkan bah\\ii kotrpLJsisi pcnyusun savana Bekol. Kranrat dan lralenan rcrdiri atas l8 familia nrcncakup 63 spesics. I:anrilia Poaceae dirvakili. ID (100-lS). Selanj n)a untuk. l5 spcsies (21.8I '1,') i-ibaceac I1 spesies (17,46 9'o). Asteraceae 8 spe5i!. (12.70 9l). Mirnosaceae 5 spesies (7,94 9'o1. \lalr a:eae spesies (6.3,1 %).. membangun ganrbar dendrograrn. rnenglunakan. Iiuphorbiaccae 4 spesies (6.3.1 9l). Lamiaceae 3 spesies (4.76 o,n). C-r l-.eraceae 2 spesies (3,17 %). Solanaceae 2 spesics (1.17 oi,). dan Rhamnaceae,. mengetahLri kesamaan kornunitas maka dilanjutkan dengan analisis kelontpok (c1?1r/c/. .r7.r1-r,s/.t) dengan. program Sl.tlislicLl .for lfindovs. 5 0.. Pengelompokkan menggunakan (.lnteigltted. Pair-Group llcr.agc (UPCiMA) dan. .jarak. F.uclidean. I. Vcrbenaceae. .\ sc lcpiirdaceae. Apiaceae, Anraranthaceae. Cauparidaceae. Salvinaceae, dan Rubiaceae. masrng-masrng I spesies (12,72 %).. Rer,l"'ark.rrt .rlr\ fi. -ntd.< \ck.l\d3|l 5fc.rc) tersebut nraka savana \ ang diteliti dapat digolongkan sebagai sarana alami bcrdasarkan. HASIL DAN PEMBAHASAN. kriteria yang diajukan oJeh Speeding dalarr Djufri Komposisi Spcsies. data pada -fabel 2, dapat dikernukakar b..rh*a lornpo.i.i .feric. )rnr hidup di savana Bekol, Kranat dan Balanan Berdasarkan. Taman Nasional Baluran Jarva Timur ber.jumlah 63 spesies, mencakup l8 familia baik yang dijumpai di daerah tanpa legakan lcacie ntlolLc.t maupun di daerah yang dijumpai tegakan lcaclrr nilotica. lumlah rata-rata spesies yang dijumpai di daerah terbuka Iebih banyak dibandingkan dengan daerah ternaungi oleh tegakan lcLlcid niloticLl (Tabel 3). Pada daerah savana Bekol tcrblrka. dijumpai. 60. spesies, sedangkan. di. spesies.. > 20 9i dari jumlah keseluruhan. Ilasil penclitian. mcnunjukkan bahwa. .jumlah spesics runrfrur {Poaccac) mencapai 23,81. %. sebagai spesies. lang. mendominasi daerah. savana. Demikian -jLrra bila dihubungkau dengan persyaratan curah hrlau r ang rendah di daerah ini yaitu 900-1600 mnt,/(ahun. dan temperatur relatif tinsgi yaitu 321r-i 7' C. terutama pada musim. kemarau pada bulan April-Oktober. setiap. tahunnva.. llila dikaitkan. dengan sejarah (waktu). pembent|kan savana cli karvasan ini .juga dapat digolongkan sebag3i savana alami. karena sejak dahulu komunitas savana sudah ada di kalvasan. 2l. dari peristirva suksesi sekundcr. Savana yang dileliti .iuga tidak dapat dikelompokkan sebagai. spesies, pada savana Balanan terbuka dijumpai. di. prosentase. daerah savana. ternaungi sebanyak 22 spesies, pada Kramat terbuka dijunpai 25 spcsies, sedangkan di daerah yang ternanungi hanya dijurrrpai l1 spesie'. scdan5kart. (1993) bahra runrpLrr harus rnencapai junrlah. daerrlr 1:rng lernarrngi. hanya di.jurnpai 14 spcsies. Dengan demikian,. ini..jadi bukan mcrupakan savana yang terbentuk savana yang berasal ciari hutan yang mengalami.

(10) Pengaruh Kerapatan Tegakan Akasia ..... (Djufri, Dede Setiadi, Edi Guhardja, Ibnul. eayim). 133. kerusakan (deforestasi), lalu tidak dapat Iagi menjadi hutan kembali sebagaimana lazimnya peristiwa suksesi sekunder. Savana yang diteliti. Disamping faktor cahaya yang berpengaruh terhadap rendahnya jumlah spesies yang hidup di. savana yang. dengan daerah terbuka (tanpa tegakan pohon Acacia nilotica) kemungkinan disebabkan adanya pengaruh zat alelopati yang dikeluarkan oleh. juga tidak termasuk sebagai. dibudidayakan, sebab tidak pernah ditanam secara sengaja spesies yang hidup saat ini pada savana tersebut. Bila dikaitakan dengan penampakan luar (fisiognomi) vegetasi di savana Bekol, Kramat dan Balanan, maka secara teori sudah tidak layak. dikategorikan sebagai savana karena pada seluruh kawasan (> 70 %) sudah didominasi oleh pohon Acacia nilotica. bahkan telah membentuk hrtan Acacia nilotic.t. Akibat naungan dari legakan Acacid. nilotica. dengan diameter batang tinggi rata-nta 7 m dengan kerapatan pohon berkisar 15-20 pohon/400 mr, menyebabkan intensitas sinar yang. mencapai 25-50 cm, dan. masuk ke lantai hutan sangat terbatas, hal ini tentunya menghambat pertumbuhan tumbuhan bawah termasuk rumput terutama di daerah savana Balanan. Hasil pengamatan lapangan. selama April-Juni 2004 menunjukkan bahwa hanya beberapa spesies rumput saja yang dapat hidup di bawah tegakan Acacia nilotica yaitu .,. bayapan (Brachiaria reptans), rumput gunung (Oplismenus burmanii), merakan (Themeda arguens), rumput pait (Axonopus compressus), lamuran merah (Dichantiuxt coricosum), dan. tuton (Dactyloctenium deg)ptiun).. Narnun. pertumbuhan rumput tersebut sangat terbatas, sehingga kerapatan, frekuensi, dan dominansi sangat rendah. Dengan demikian, jika dikaitkan dengan k€tersedian makanan bagi herbivora maka savana Bekol, Kramat dan Balanan sudah sangat. tidak layak sebagai sumber makanan (feeding ground) bagi herbivora pada kawasan ini, mengingat spesies yang dominan di bawah tegakan Acacio nilotica adalah gletengan (Synedrella nudiflora), jarong (Achyrantes aspera), kapasan (Tespesio lanpas) dan daun bolong (Acalypha indica), spesies ini tidak disukai oleh herbivora seperti banreng lBos. javonicus), rusa (Cervas timorensls), kerbau liar. (Bubalus buballs), dan kijang (Muntiacus. muntjak), dan herbivora lainnya.. Ciri lainnya pada savana yang. djteliti. dijumpai beberapa spesies pohon yang tersebar di hampir semua kawasan, di antaranya pilang (Acac ia leprusola), Nimba (Azadirachta indica), widoro bekol (Zyziphus rotundifolia), d,an petai crna (Leucaena leucocepala). Namun dominasi. ini sangat rendah, sehingga tidak berpengaruh terhadap tumbuhan bawah, tidak demikian halnya dengan tegakan pohon Acacia spesies. nilotica yang sangat menekan. tumbuhan bawah. pertumbuhan. bawah tegakan Acacia nilotica dibandingkan. Acacia nilotica yang menyebabkan lingkungan sekitarnya mengalami perubahan dan bersifat racun bagi tumbuhan lainnya. Senyawa tersebut dapat dilepaskan dari akar yang masih hidup atau. organ-organ tumbuhan lainnya, seperti bunga, daun, buah, dan biji. Produksi senyawa yang bersifat racun tersebut merupakan mekanisme penting, sehingga suatu spesies dapat menekan pertumbuhan spesies yang lainnya. Menurut. Djufri (1999) menyatakan bahwa senyawa alelopati pada konsentrasi tertentu dapat menurunkan kemampuan Eussen; Patrick dalam. pertumbuhan tumbuhan, karena transportasi asam amino dan pembentukan protein terhambat. Selain itu, alelopati jugu sangat menghambat. pertumbuhan akar semai, perkecambahan biji, pertumbuhan, sistem perakaran, dan tumbuhan. menjadi layu bahkan dapat. menyebabkan. kematian. Rice (1974) memberi penjelasan lebih rinci bahwa alelopati dapat menghambat proses. berikut perbanyakan dan perpanjangan sel, aktivitas GA dan lAA, penyerapan hara mineral, laju fotosintesis, respirasi, pembukaan stomata, sintesis protein dan aktivitas enzimatis. Dengan demikian, spesies yang mampu hidup di bawah tegalan Acacia nilotica merupakan spesies yang. telah mampu. mengembangkan mekanisme. adaptasi dan toleransi terhadap alelopati yang. dikeluarkan oleh Ac.lcia nilotica, sehingga berhasil bertahan hidup (sllnlve) di tempat tersebut.. Berdasarkan. data pada Tabel 3. dapat. dikemukan bahwa jumlah spesies yang hidup di savana Balanan yang terbuka jauh lebih banyak dibandingkan dengan savana yang ditumbuhi oleh pohon Acacia nilotica dengan kerapatan 15001000 ha. dan jauh lebih sedikir lagi spesies yang mampu hidup pada savana yang telah berubah menjadi hutan Acacia niloticq. Bila gejala ini terus berlangsung pada seluruh savana yang ada di Taman Nasional Baluran, maka tidak mustahil komunitas savana akan hilang. Konsekuensinya adalah hilangnya spesies rumput yang menjadi makanan utama bagi herbivora yang hidup di kawasan ini. Disamping itu, savana yung menludi salah satu keunikan dan andalan kawasan ini akan menjadi terancam. Oleh karenanya, diharapkan adanya upaya yang serius dari semua pihak. terutama pihak pengelola. di bawah naungan dan perkebunan. Departemen Kehutanan. (Dephutbun) sehingga kerusakan yang meluas.

(11) l3,l. Jurnal Analisis Lingkungan Vol. 2 No. I Februari 2005 :. akibat invasi Acdcia nilatica dapat dicegah sedini. spesies. mungkin melalui program yang kongkrit. 128- 144. yang masuk dalam kategori NP sedans > i.1.19-28.18. yang. mempunyai. dan komprehensif rncskipun membutuhkan tenaga dan dana yang tidak sedikit, bila kita memang sepakat bahwa kelestarian savana di kawasan ini harus. yaitu. Dichdntium coricasunt (25.88 oo). Stnetlrella nudr/ora (25.50 9;). dan Jrrrdpir.! conpressus (16,47 %). Sedangkan -17 spesres rans lainnya mempunyai NP dalanr katescri r.ndah < 1,1.19 % (Tabel 3). Dengan demikian. dapat dikemukakan bahwa spesies -"-an-l mempunr ai \p tinggi. tetap dilestarikan atau ada penlikiran lain yang beranggapan bahwa upaya penanggulangan cukup. seperli dilakukan selam.r illi. sembari menunggu adanya temuan baru bahwa Acacia nilotica akan dapat dirnanfaatkan secara lestari (sustq indble).. lersebut. di ata5 -neruflkar :f(..eq. )ang. mempunyai kemampuan adaprast dan toleransi. lang lebih baik dibarorrr:kan J-.reor. Nilai Penting (NP). spe.ies. yang lainnya, baik dihubunskan denean pengaruh tegakan.4. nilatico, pensatnh iklim \ans ekstrem,. Berdasarkan data pada Tabel 3, dan mengacu pada kriteria yang telah ditentukan, maka hanya 3 spesies yang masuk dalam kategori yang. maupun dalam kaitannr. a. densan kompetisi. dengan spesre' l ane larnnro. .:ni'i:_-a .pe,,es tersebut mendoIninasi ka*asan sarana Bekol,. mempunyai NP tinggi > 28,38 yaitu Brachiaria rcptans (.42,58 o/o), Tespesia lanpas (25,88 ok), dan Oplisuenus burmanii(34,61 %). Kemudian 3. Kramat dan Balanan faman \asional Baluran Jawa Timur. Tabel 2. Komposisi spesies yang dijunpai di savana Bekol. I(ranat, dan Balanan Taman \a:irn:i Balurarr. baik di daerah terbuka maupun pada daerah yang di naungi tegakan pohon Ac,;.i.r niratic(l (pengamatan dilakukan April-Juni 2004) Nam a [)aera h. No.. l. Widoro bekol ALasia bcrd Lrri Pilang. 4.. Nimba. 5.. 8.. Ccgajahan Petai cina Nyarvon Kapasan. 9.. l'emblok a\ anl. I0.. Bidrrri Rimbang Kemanqi. I. 2. 1.. ll 12. l3 14.. I5 t6. 17. 18.. I9.. Bayapan Susukan CepluLan. 25. 27.. Rumput ka$at Patikan kcbo Nyawon ullgu. 28. Babadotan. 29 10.. Bclulang Tcmpuyung. 3l. Kacangan. 26.. Mimosaceae Meliace ae. Anakrn. Non. Poaceae. [It]rb;r Anakan. Minlosaceae Asteraceae Malvaceae. Semak Semak. ]. 5. \_on. RLrmput. 4. Fabaceae. Herba. l2. Solanaseae. Herbi!. Non Rumput Non Rumput. Poaccae. Herba. Euphorbiaceac Astercaeae. Hcrba. Scmek. Fabaccae. I. Icrhr. Fabaceae. I. Ierb||. Malvaceae Larniaceae. Herbr Ilerba. Hcrb;: l. I. lerbr. Poace?re. Hcrha Hcrha. f-lemengid linedtd. Fabaccae. I. Herba Herha Herhn Herbtr. liLt. 32.. Kacangan. Cayanus cayan. Fabaceac. Pulutan. Triunfeltd bartrcmia. Malvaceae. Lamuran nrerah. Dichantium coricosum Casia seamea. I. 2. tlerba. tler l-r;r I Icrba. n.. h ifb. '. Poacaeae. Mimosaceae. sa. Rumpur. Herha. Mimosu pudica A lngh,tn n nncranhyl l,t Indieolera sumatrana Sida rhornbfolia Stach\)larpetd indica. iatllcli(1. Non Rumput .r_un. l. Herba. Hcrhr Helhr. ,4,qerctun conyzoides Eleusine indicd. 3. RumFUt. Crpparidaceee. Lamiaceae Apiaceae. m sudyeoIens. 2. Anaranthaceae. Ocinunt hatiltrunt. Eupalari. 1. Rumpur. Non Runrput 6 Non R urnpur 7 Non Rumpur 8 Non RumpuL ,l \,rn Runrf Lrr l0 Non Rumpui ll Nun Rumpur l Non Runrprr l Non Rurnpur t2 Nun Rumput t2 Non RLrmnut 6 Non RuinpLrl IO Non Rurnfut ti. Asclenia!lacecc. Physalis angulata Oynodon dactylon Euphorbia hirta. Kode. Familia. Nrrn Rumpur. Calattupis sipdntea. lcltyrantes ospLrn Clconte rutttdtspcrnn Brachrarn reptun"' Des m od tum h e te rophvl I a. Bentuk Hid !p Non Rumput Non F umnut. 13. 34. 35.. Kacangan. bi-. tus Anakan Anakan. Scm ak. Sidaeori 'nq lelaki. 22.. Ha. Semak. .lar'. Jarong. ilia. Rhamnaccae. Acacta lcrrosula ,1zadiruc11td indi('n EchinocIoa calon nl Leucaena leucocepa/a l'ernonid cinered. Kekosongan Tarrrrn. Pedangan. m. Minosace ac. Pulri mehr. 20.. 24.. l'a. Ilrniah Zt:ipus rotundifoIia. PeEagan Pulri malU. 2t 23. Nama. Fabaceae. Ierh^. R. umput. Rumput Non Rumput Non Rumput Non Rumput Rumput. Nun Non Non Non. 9 .t. l5. ) 5. I. Runrput. ). Rumpu!. 12. Runrnut. t2. Rumoul. 6 4. Ru mnu t 1\Non. l4. Rulnput. t).

(12) qvpuru. s?n'l. rlDprirl. sPn'l. qspuru. sElDqr)l. qepuau q?pu0x. sg)EqleI. scteqrrj,. q€puau s?nl s€1?qlll qppred. zt0. tt. no'z. G'i. It0. L8'Z 86'. If 8l. qepu0u q?pflrN q€pueu. s€l?qreJ. qPpu)u. spt?qroJ. rl?puad qepu0u. sElgqleI. qepoau. seleqrel. q!puau. sRn'l. sPleqirl. splsqiol sun'I. rz9. zL9. ift ti t9. 8i0. L8 9L. t98. qPPu0u. sBlPqrsf. sen'l. qepuat. iuBpaS. rfs tl. 9t. L. ztz t0 l 9ZZ. 0l. It. 69 68. sz. slru. rft. IZ.TI. 0n6. (a. t. IS$. 0i,. o}T. L8Z. 862. ,soqwUD snatlPaH ds. 9l- s. a lluoqrt]. rf t. f0f t! l. tzt itt. zl. zl. 9tz. 0if. 98. fI. t8 zI. LL.8. zlt. 0Ez. zz'9t. 917 z-rBS. at17 0z's. Z9.I I. t'lgs. 00. 0l. OZ'LT. O'IAS. (1. 91. r0'l E'.]. 0i zt. ttL 9LL. t6. Zfi tSf. qtf. -el3u. 9. suadu. unuto4. DpartlDduaaol! ntputotad.tott|cots. 9. ezL. tz6. 6. 0z L6 (UL. tttI I. SZ. 88. it9. lS lz. iz. lt. L9 SZ. et'z. iL'l. Zt. SE. L9. t0r. 96'L. It ti. 8tl. 8tr. q?pu0u qepueu. sElsqr)l. n'l. r3:urI. 'lrx. 0s. LI'LI IZ.}. zt9. 890. 99 S01 86 SI 68 S62. 88za. s?n'I sglRqrel s3. sPlsqrrf !snq. -!Ils!o. a7'9. ss 9l. L9. s9. tzl €s. ttL lI. rI 18. 009 I. 6t. tt t9 0t 8t s9'zt tt zz zt lz. rt. t6 zz 09 92 0f lL r6 sz rS It 0t ZU)IS IU)IS OIDIS SurtduES rsRto'l. iq6 zl0t '8 I T.ZI. L8Z. 01. 9is. zz. rl. t9 st 9t. 6l. €a. (9lt. fl at 9t. tz. 16. lyss 0vss. z)rss. st. 0g. 00'88. fs 0r. 0f 6t. sr!sods. (u€uElEg uEp lPtusJ). rloIaB €uel€s) uelEu€3uad unlsgls qnrnles Ep€d o/. tu€lEp serscds (dN) Burlued rElrN elllr-eltu € Ieq€J. 9. el s. n. t t I 8l n z1 E. 8I. 0l. sl CI 7,1. zt. uDlnq ucsEde) Suoloq unPC. JeirE \lPl^l. nprad Pqroll nprJJ. tndunN uoN lndtunx uoN lndurnx uoN. ea)erqroLldng. e9!a{lelsY DrtlPutltJ ut"rJu4l suo,ldDJv. pqrrH. --tndun)l. n11aua1. e€rleod. sqrJH eqJzll. lndunU lndunX. 0e:aeod. 0eaaPod. uq.llH. aeer€redIJ. eqr.H. 0rt€alelsv. rqrsFl rqr0H. lndunx uoN tndlunU uoN. JrJJSI:d. uqriH. a€aceJalsv. eqreH. uo \\t {N --Buqc-3uc1Y --ue1i-ruo-trrdrug. --. LrrircT 1r€d. €9. z9. 't9 09 6S. '19. ndunU. 89 '9S. 's9. uttu|dul yuunut 'pJ,,a. s. Bql.H. lndunu uoN. 9l. 3€']eod aeaaeqll. eqr.H. lndurnX uo11. zt. uq. lnd[un)l. n. aEsaeod. uqirll. lndLrnU. i. d Pt. -. le0aerqnu. r t)u\.1. n snq. 1. u DI. l,lrl. ts. lndurnl. lIlJ lcEd. 1. u€lIU!!\. d. urt@ uu u v tn u t q) v- J DatDutal oltolll). nt,)1lotlt)Dn. u01n.l.. loJo-Iolo. zs. I9. 9t. 'nn. It. It. qrlnd uelnule'l. 'E MtlttuolFn. '7n. uelnte). Dsallcl suap!g. uuouulPI. ucaueJc). UnuolAlaJ. DIDUOJJnA. nqered q€ng uDlEr3l J. tra)!aond oaulllPl. IrroI uernlue'I. ot4L'au ru!'t'tvd. ""'. (tu!^EO lnuql'ElprsqnD lpg'lpullas aprG'uJnt(). '0s '6n '8n LN. 9n. u9aauel\l. osoqwXtot suu[PsH. ;*1,.1i2)h. ieaJPrrrl. e!eJeqel. eql0H eqr3H. aeaaeod. eql:H. r:H. indtunt SuorlurS. t9. ueBuDce) -Sunun8ue3uete19. Eun{ed. {J. e!0r!ruel. fqJJH. D t. !ql3H. ucrruJt\. aEl)elqloqdnl. eqraH !qr JH. 0€casqtl ac0aeq!i. eql.H rqr.H. N.T. indulnt tndLunu uoN. ---. 0!'alEoJ. rP:lPq9l. rqrall. ndunU. I. lndLunX uoN lndun)l uoN lndun)] uoN lndlunu uoN lndurnN uoN tndulnx uoN tndornU uoN rndlrrn)I uo. LI. I (.t. JeJlclJlsv. !q.raH. lndurnt u,)N. 0erJ!od. eqJaH. lndunX. lndLunu. i I. 9el. '0i. '6t 8t. 'Lt '9t. EIsErv uu)lEial uElsd€Ja) qnJB8uad.

(13) t36. Jurnal Analisis Lingkungan Vol.2 No.. Stnchella nudtllorc. 2.76 2.tr1. 547. 2,60. 20.16. 4.82. l8 44. I. I1.05. Februari 2005. 82. ',7. 5. 81.17. 260 2.29 2,22 2.18. Zttipus rotundiolia. 3.',78. 3.3 2. 1.2',7. 2.01. 25.50 0.10 0.29. Sedenq. Luas. Rendah Rendah. Terbalas. 229. 0.25. 9.26. t0l. 19.76. 2,24. 2.10 6.18. 0.21 0.72. 29.6i. t,29. Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Rcndah. 10,76. 3,3 2. )l. t.lll. 020. l7.fi+. 1.89. 44t. 11.10. 5,80. 9. '7.t. 1. t,84. 0.20 0.78. 0.54. Rerdah. T€rbalas. 36.29. 4.0.1. 0.r7. 45.46 6,22. 5.0s 0.69. Rendah Rendah Rendah Rendah. Terbalas. 1.52. 1.47. 1.17. 0.r6. 1.17. 1.41. 016. Rendah Rcndah Rendah. Terbatas Terbatas Terbatas. Rcndah Rendah. Tcrbatas 'l erbalas 'I erbalas. l,27. 1.08 3.2,1. t.59. l1. 70. 1.52. t.i0. I1.08. 9.56. l,1q. t.46. 1,69. 10.76 4,73. 12,56. 3.00. 6,78. 14.11. tg. 89. 5.47. .16. ,16. 0. 44. 14. 0. 6. 44. 41. 0. .l7. 0. 5. .17. .)-t. 0. 5. ll5. '/,20. 4.98. I1.46. l,l4 I,l4. I2,75. 1.33. 4,76. l.l. 49.76. 30.60. 5,10. 58,96. t0.0t. 0.98. CalotraD$ Ejpanlea Azadirachta indtcd. 0.98 0.97. lumiah. 100. 55.0l'). 6.1I. l.t1. 0,tq. Rendah Rend,rh. Terbalas. 34.61. Tinggi. 22,2t. 59 96. 59.96. 118.22. 16.4',7. Sedaog. ll. 015. r.l2. 0 t5. i.i. 0.t5 014. Rendah Rendah Rcndah Rendah. 1.28. 0.10 0.16. Rendah. 0.97. 0.lt. Rendrh. 228. Rendah. 63.26. 7.01. '7 ta. t'79. Rendah Rendah. 21AA. :l00. I. l.l0 0.98. 2f. 7. 545. I. 2r.94. 31.10. 7,10. Kcterangan : SBK0. l. I. t.5. 300. 100. I00. t00. 100. Terbatas Rendah. 3l l.5l. 20.55. 300. 100. 300. Terbatas Terbatas. 0.15. il. 2.10. Terbatas Terhatas. t,l5. 70. I.l l.l0. Terbata\ Terbalas. Rendah. 40.20. l. Echhocloa colanun. 6. 22,r1. t.32. cyln&ra. 6. l1 l.t5. lnnerur,t. T€rbalas. 1.76. 2.95. 1.64. Ophsnenus. Terbatas Terbaias. 6,q8 1.88. 816. 6,16. t.16 r.68. Salwneu pubescctts. '1'€rbalas. Rendah R€ndah Rendah Rendah. 1.82. ljhtllantu: unnana. l1t3-141. 229 52 2.67 2,60. 101. 210 2.44. |. 55. erbrlas. Terbatas. Terbatas. Tcrbatas Terbalas. 'lerbalas Terbatas. T€rbalas. -. Savana Bekol tanpa tegakan pohon ,.1.acia nitotica. SBKI = Savana Bekol dengan kerapatan tegakan pohon '1 ,i/o/t.d 1500-3000 individt/ha, dan SBK2 = Savana Bekol dengan kerapatan rcgakan pohon ., ,r/rr.d > 3000 indivi;u,ha iKR0 = Savana Kramat tanpa tegakan pohon r,i/r/r.d. SKRi = Savana Kramat dengan kerapalan tegatan pohon.,l ,r/or.d I500-1000 individtr,ha. dan SKR2 Savana Kranlal dengan kerapalan tcSakan pohor1.4 nitoticd> 3OO0 indrlrdu/ha. SBL0 = Savana Batanan lanpa legakan pollotl'1 ntlotrcd. SBLI Savaoa Balannn dengan kerapalan legakan pohor}1 ntlatica l5A$100t) individu/ha dan SBL2 Savana lJalanan dengan kerapatar (egakan pohon,,l. n,/oricd > 1000 rndividu,ha. Kategon spesres dengan Np ti ggi bjla NP>28,18.sedangI4.19-28.l8.danrendah<I,t,l9 Drstribusi luas bila spesies dapat diiumpai padaseturuh tokasrpengamiian.. -. -. J -. Spesies yang mempunyai NP tinggi dan di atas dalam ekologi tumbuhan. sedang tersebut. dikenal sebagai spesies istimewa (etclusive) dalam hal nilai kuantitatif baik frekuensi. kerapatan, dan dominansi. Di samping itu. spesies. tersebut dapat digunakan sebagai spesies indikator pada komunitas tegakan Acacia iloticd pada basis yang setara, baik topografi maupun. kondisi habitat dan lingkungan mikronya. Sedangkan spesies yang lainnya memiliki Np.

(14) Suepas. uoSrtel. |. fi60'l. ,. /901'l. 69 't -- 6tta-. --. .H : ri! q. s:rsad5 uetluraruo; sl3pui. ltiun uoialPl (,ll). rl rtDuJ. _. \l. lil'll''{ l1. : e z > ,H ullq qDpuel tro6ele1 uep:-l. re^er r\A-uou uoq. 90E 9. il. L\L'. pueu. ,iuupaS. 0ttr'l. (rpue;. 2960'l. g ttuttrr8erurlaueoy slepul : L. I. !t. qcpuou q riP. qvptrr )l. t-oz-". durpcs. 9Lrg'I. j"-"!\-. tE8t'l. 60s I l -iLt! 0L9L'l. _. L. it. _rr!c. It. '-. uB;uEi:::\. z'las. Z)gS I)BS. L. LI. 9t9 L'Z. :. -'. '. :. -. 0)ss. sarsod s. .H. IIBS 0'lgs zu)s lr)s. ou)s. t7.. t09l-i \t!t1.. uf,BrrJJlJ)I. c. rsslo..I. qBltunr. \. (65f 3urlue; lllllf,i laialuellcl ueleunSFueu uE'atlJp ueuPIEtl 'lEurEi) 'loI'g PlluE\ES rp uelerutsuid unrsels qnrnios rped (,tl) satsedS ueute8ereleuP?) s1spul ueBunltqled ltseg. EUP^DS. qPle€p IP les.q. qelteSucc. eSSutqes e.{uqe,uaq Ip dnplq ;uEi L:--:--rrp8unlirrrl rpeJ uPnSSue; -'\-;:: .-l qEI.l D) o/tu D1)D)Y uele3at L.::'::-: - j"i 1r16url 'uutlrutap u€Eueq 0-lgS u;; '0)gS epud utp > UEP 'l'lgs UPP IU)S \:: rU)\ 'l)B: 1111: -:: - ; ludLuel lp.r: . -. elnqrot Sttu( u'\\qeq slilol. qlqll ,LI IElltl. 'e{uru:lrI rirlu t'?/"//r/ 1. Ur'1r'iOt. rla1o riuneutal 3ue( qrr.lrl L,eiuJp uEl;Lrlpull'llp rsBrJe^req qrqel elnqrlt irrc,( uue,lus tp setseds uerluu8red uEp El!rulPUIp u,'(ultql)iV E.'{uulel €ro^rqreq uEp '3ueir1 "rtt1 lluqlJ) 'uslu ;ualuuq rledes e.to,ttqleq qelo (;r r-1) rb-l,) !o) uerlrqJllirq 3u€i usElequeFued u.{rruptl Lrndlltu lr')l/ol?t7 ,/ rsE^ur uP)llEPue.oueut 11;rrcr Luulup elolaiurd 1r'qrd qrlo p.eiu.rs ''"" ' I Dr'l.llJ.l JuJ-'rrP. ppp(l rrrp. unlsels. tr. JI. z IBS uPP. 1r;rt. g. qEpuar Lro;-rlel (0 lHS) ZLti l rrEp lesr!,:j srrsadg ueutz8e:e1ou€e) slepul €)nqra: -:-:i:. cpr,1 t;ttnuulat ,iuP{ t{r'J.cp etlp\P: -::-:: ruel?s. rlE.rerp. lp€d. 'EPJCUeq. qn.inlcs eped sars3ds uetu€F€leIauee). slapul utrp (,H). sl::-. (a) uBBlEr:ul?\ ustuBBBJEIauBe) il:r1'. uptnl6rrp.l'q 3ur'( -rllun rJ)j tseut.uopu- - : ' nlueual sotsods tudtunhp 8ua:ei l?,(ulsu:rri:.- '. t. (rpul}3s (rur,{BO Inrtill'c{pl!rqn,1) It)1. t,{ulesln lnqaslei. : dcpaq trt lunsSur'1 t'nlu6uldl:q u'tlo1 t' r.etedrr.'q lcl,lutt e.rrr"eq -r "- .-. : 1aqe1 eped P1€p u!!l:s::-:: rrr. tedep yrqesral. Furpos uo8ele>1 (t>gS) glEt; r::-.: qrpuar r.ro8e1e1 (Z)gS) t0EI l LrPF -:: '':H t tt"llt' t' rlt)uJ:l tiuneu-et out . I Eped Sueprs r.toirtel (6;1gg) giii : .:-='. uc1n1t1.redtp uPp 'l?sopl rqrP rrleqlp sualll uunFSuui rrueieiu;l!l iutlas ultrqlal qtlai:p. lraq rp p^\qpq lltlJttp : tei :ur\r"'ll'u rl .ll: :r)l ue,rele: le6uts lul Ellul tllllnuaLLl lpeluiLtl upueier€)ouseI ue)iuurlrtlllal urllllpQtuJtu ledep e6;'uiqas 'l€srq uclnlnleq uep. rlr\j;urpupqrp r3;trtt qrqal Suntapuar pun--;: :--: uelglueill:d j- ::'!. etuel dnprq 3uB,( setsads l!lilp!s tslluliuop ruPilllp )jllll niPns eped tedultls srtsecls ue;lliutuad rpefuot uele PIeLU 'niqjiq uNnFiulF qPlel"'s e(ueserg utsnrietLl lst!!Alillut Ltrp illt{uad 'rsrladurol 'uttuc 'ld! llc;-utp i{ltq niueu?l n1>1e,n eped nSSueitp lcut'tiirl slrlJas nelE llBSolu lnluaqreq uElnq uP.qurp ullri;L)lf-ruuqlp qDpuil qrqel sersods usuPillll]lllLIqil u )llP I Il.r d LI? I tl ueSoruoq uep letrtliir: urllres sun{aul 'llqEls leiu€s 3u€,{ sullorlruo) )rpolr'd UPP rnlttet ?relcs tteniiuu; ttt-'1tl1.t:tueLll sPllunLUoI nlens eped rEiurt "'ue{ !cl!iis LltsluuaElElJUeJI elEle! uelueqPuedt'!li:)lu -)lilllll lllil e,{uqt,ruq rP dnPtq Suri upqnqunl depegtel nttn1tu |I)D-'y tlup tstledutol uep rtedolale qnlniu l'r t'1'r ?'.rrr''l rlrln uv;Lllrr:ll lsql)jE IreqElEt! .lrluls srlllsrelul urlsPlEqiel'I ue8ucp e.,{uuettel leie lils?q ttuirtlSrtnual tut. rr8eqa5 r1t,{u ludutel lepl1 tlelo-qEICls :::::: rst.nuaiJr uep uerluui-led eSSurqas il,::-:uup ttr,{u nlDIlalIPpll lsP^ullal 6u9.i s?:lj--- | )lrlsr.roll E)lru!culp uB;-utqls delueLu UEF :::-:. lrrelr: irre i rqvrJlrJ:)l u{r'p ru'o1o.lo1 tu -i-:' ueqrrq.lr:dtur.rt uPle prupl Supi e13uel. >1n1un. )inlueqJal lselul.lal 8ue,i. -. s:lll---:. '. rsrsodurol €,t\qpq (tl61) ;requallA ry sr;;--: -rell)nr'J uEllldult\41 ue;lu:p uP\rl:- :::: --' lnqesrei IIrH IIqPls uep sl€tull:l lslpuol ::::.-\ qerr;-uau 3ut.( tsele8e,l sdtl epzd rz:*ll )Jtn ur'\ uJp Plr:laq ruobl l1 r qcp-:: i-=. 1e11. 'sr1eqr11 e.{uqulLunl u!]l)lulo;l t:'lpuo) dEpuql.il ueralol upp tstldepelrq 1r:dr:p 3r:':.i sctsads qr:1"ttnl. LEI. --. ?pro'IrJnfC) ""'ulsulV uuleBal uulude-ray qnre;u:4.

(15) 138. Jurnal Analisis Lingkungan Vol.2 No. I Februari 2005 : 128-144. Hasil perhitungan Indeks Kemerataan spesies menunjukkan nilai relatif homogen berkisai dari 1,10.67-1.7854 (Tabel 4). perbedaan pada setiap stasiun pengamatan terlalu. kecil. Mengacu pada dapat dikemukakan bahw; Indeks Keanekaragaman dan Indeks Kemerataan Tabel. 4,. merupakan dua hal yang berbeda, demikian juga -,lin. hainya antara kekayaan spesies. keanekaragaman spesies. Menurut Barbour el al. (1987) adakalanya kekayaan spesies berkorelasi positif dengan keanekaragaman, tetapi kondisi lingkungan di sepanjang areal kajiin sangat heterogen, sehingga dapat menurunkin kekaya-an. spesies disertai dengan peningiatan Hal tersebut dapat. keanekaragaman spesies.. terjadi karena setiap stasiun. pengamatan. mempunyai .jumlah individu yang. sangar. bervariasi. Kemerataan akan meniadi maksimJm. fan. fomoegn. jika. semua. ,p.si., ,.rprnyu,. JumJah rndrvidu )ang sama pada setiap unit sampel. Cejala demikian sangat jarang rerjadi di. alam. karena setiap speriei mempunyai daya toleransi serta pola sejarah hidup -dan. adaptasi. yang.berbeda terhadap kondisi habitat yang ada.. Demikian juga. bila dikaitkan. dengan itadia. perkembangan mulai dari berkecambah sampai rnati. Selain itu kondisi lingkungan dialam sangat komplekr dan bervariasi. pada lingkungan leiel. mdkro mungkin bersilar homogen. tetdpi pada lingkungan ievei mikro dapat teridiri dari. mikrosirus-mikrositus )ang sangaL heterogen. Mikrosilus lang relarif sarna akan ditempati ileh. individu yang sama, kondisi demikian Tabel. 5. pengamatan nilai kenrerataannl a relalif homogen. Dengan demikian. lakra ini memberi indikasi bahua kondi'i lingkungan pada seluruh kawasan relatif homogen. Menurul Clemenl dalum Weayer. (lq78t bahua rumbuhan dapat digunakan sebagai ind ikaror suaru Iingkungan. Pola Distribusi Spesies . Melalui pendekatan distribusi poisson dapat dikerahui bahwa dari bJ spesres yang diremukan di uilalah penelirjan hanya 25 spesies dapat. lang. ditentukan.pola di\lribu\inya yairu .pesies yang mempunyai nilai frekuensi > 25 Vo dari jumlai kuadrat sampel. l6 spesies di antaranya (64 ,r/o) pola distribusi mengelompok.5 spesies (20 o,o). pola.disrribusi terdtur. dan 4 spesies 6 oo) pola drstnbusl acak (Tabel 51. Dengan demikian. dapar. drkemukakan bahwa spesies pen)usun savana. yang direliti cenderung mempunyai pola disrribusi. rrengelompok. Ierlepas dari pengaruh lakror lingkungan d"n kompetjsj. hasil tersebul rele\an. dengan kesimpulan Barbour e/ at. (19g7) bahwa pola distribusi spesies di alam cenderung. mengelompok (clumpectl, sebab tumbuhai biji ) ang jaluh dekal. bereproduksi dengan. rnouknla. alau dengan rimpang. dengan induknya.. akan. Spesies. Pola. x,-htg. Distribusi. Brqchiri.t reptsns. I. 5.71. 3,0 5. Tespesia lonpas. 314,69. 02.05. 3,05 J,04 2,98 2,87 2,83. 298,4'7. 2,7 6. 289,86 217,99. 2,6s 2,58 2,06. Cynodon dactylon. 196,54 172,37. i3.. Btdens ptlosa. I,68. 136,89. 14.. Axonopus compressus. l21.65 r t5,69. t,t7. I10,91. 1,07. 8. 0,73 0,65. un. 3.. D dc. 4.. Ach)ltqntes aspera Synedrella nudiflora Oplismenus burmanii. 5. 6. 7. 8. 9 10.. ll 12.. 0). locte. ni. ae glpt. Dichanlium coricosum Polilrias dnaurLl Vernonia cinerea Panicum repens Temeda arguens. 15.. LUPUr()rIUm OAOrqIum. 16. 17.. Echinocloa colonum Stachytdryeta indica Ocimum basilicum. 18.. yang. menghasilkan anakan vegetatif masih dekal. Pola distribusi spesies tumbuhan bawah pada tegakarl Acacia niroticd disavana Bekor, Kramat dan Balanan. No.. !2.. mempengaruhi pola distribusi di alam secara alami {Djufri. lq95). pernlaraan ini sangar relevan dengan dara yang dihasilkan dalim peneirlran ini bahwa pada sejuruh slasiun. ium. I. 313,27. 30s,77 106,21 3. 279.11. t ,24 7J,88. 1,87 1,30 1,20. Mengelompok Mengelompok Mengelompok. !!g4gelompok Mengelompok Mengelompok Mengelompok Mengelompok Mengelompok Mengelompok Mengelompok Mengelompok Mengelompok Mengelompok Mengelompok Mengelompok Teratur Teratur.

(16) P€ngaruh Kerapatan Tegakan Akasia ..... (Djufri, Dede Setiadi, Edi Guhardja, Ibnul. 19.. 20.. Moehania macrophylla Hedyati.s con mbosa Phyllantus debilis Crotalaria setriat.t. 0 57. 68.67 59.89 44,67. Qayim). 139. Teratur 'l'eratur. 0,4 8. Teratur Acak 8.76 23. Sidq rhonbilolta Acak 7.8 I 24. Aeeratum conNzcides Acak 25. CqlotroDis PiFantea 6,3 2 Acak Keterangan : X'] tabel = 11,35 dengan db = 3, dan taraf kepercayaan 99 %. Pola distribusi mengelompok bila V > 1, teratur bila V < i dan acak bila 12 hitung > 12 tabel. Pola distribusi spesies dapat dihitung bila memiliki frekuensi pada sampling > 25 kuadrat sampel, dan syarat perhitungan pola distribusi minimal menssunakan 100 kuadrat sampel(Kershaw. 1973; Diufri. 1993). 21. 22.. Pola distribusi spesies tumbuhan dipengaruhi oleh perbedaan kondisi tanah, sumberdaya, dan kompetisi. Hasil pengukuran sampel tanah di lapangan khususnya pU dan kelengasan tanah menunjukkan perbedaan relatif kecil, pll berkisar 6,924-'7,223 dan kelengasan berkisar I 4,08- I 6,3 6. Keadaan yang relatif homogen tersebut tidak. berpengaruh terhadap. 0.3 9. 9.t2. pola distribusi. spesies,. dapat diharapkan terutama Dada musim hujan yaitu Nopember-Maret. Sementara pada musim. kemarau April-Oktober kondisi savana di kawasan ini kering kerontang, dan puncaknya pada bulan Juli-Oktober. Sehingga bila ditinjau dari aspek ketersediaan makanan bagi herbivora sudah tidak memadai. Dalam kondisi demikian, biasanya herbivora mencari makanan di tempat lain, misalnya di kawasan hutan yang selalu hijau. demikian juga terhadap kehadiran spesies pada seluruh sampling yang diamati. Bila faktor yang. (evergreen. mempengaruhi kehadiran spesies pada suatu. komunitas savana, meskipun makanan yang. ini merupakan kesempatan semata dan biasanya menghasilkan pola distribusi spesies secara acak (Greig-smith dalan Djufri 2002). Hasii perhitungan pola. /orest) yang. berbatasan dengan. tempat relatif kecil, maka. tersedia tidak sebanyak di savana.. distribusi spesies di. Hutrungan antara Life Form dengan Pola Distribusi Setelah diketahui pola distribusi setiap. wilayah. penelitian. menunjukkan kenyataan yang berbeda, karena sebagian besar spesies (64%) rnenunjukkan pola distribusi mengelompok. Dengan demikian, tentu ada faktor lain yang lebih berpengaruh terhadap pola distribusi di wilayah penelitian, tetapi bukan faktor pH dan kelengasan tanah yang diukur. dalam penelitian. ini. Gejala denikian. dapat. diungkap dengan mengukur variabel Iingkungan lainnya, serta mempelajari pengaruh kompetisi. spesies, maka selanjutnya melihat kecenderungan. yang diperlihatkan oleh life form yang berbeda. Life form yang dimaksud terbatas pada spesies tumbuhan kelompok rumput (grass-group) dan kelompok bukan-rumput. Besarnya rasio yang diperoleh dari kedua kelompok tersebut disajikan pada Tabel 6.. Tabel 6. Rasio pola distribusi spesies kelompok. terhadap kehadiran spesies.. rumput dan non-rumput. Gejala yang menarik lainnya bahwa spesies dengan pola distribusi mengelompok umumnya. Ralanan. aegtptium), jajagoan (Panicum. Pola. 2.. Non-. Ju mlah. Distribusi. Rumput {%). Rumput (%). (%\. Mengelompok. 62,50. 17 5n. 100. r00. t00. r00. 100. repens),. pait lAxonopus comprcstus). Spcsics ini secara fisiognomi mendominasi seluruh kawasan dengan areal penutupan (cover grourul) mencapai 70 %. Dengan demikian, jika dikaitkan dengan fungsi sayana di kawasan ini sebagai sumber makanan (feeding grounttl bagi herbivora berupa mamalia. savanna. Lif€ Form. dari bentuk hidup (lile lorn) rumput )aitu rumpul gunung (Oplismenus burmanii), lamuran merah (Dichantium coricosum), tutor (Ddcryloctenium. gegajahan (Echinocloa colonun), merakan (Themeda arguens), bayapan (Brachiaria reptans), lamurar\ kecil (Politrias amaura), rumput kawat (Cynodon ddctylon) dan tumput. di. Teratur. Berdasarkan data pada Tabel 6 diperoleh fakta. bahwa spesies kelompok rumput mempunyai. (Bubalus. kecenderungan pola distribusi mengelompok. Dengan demikian, dapat dikemukakan bahwa kelompok rumput memiliki pola distribusi khas mengelompok. Fenomena ini dapat dijelaskan karena kelompok rumput mempunyai jumlah. bubalis), dan kijang (Munliacus muntjak) masih. kuadrat. besar, misalnya banteng (,Bos javanicus), twa. (Cenus timorensls), kerbau liar. individu relatif banyak pada setiap.

(17) 140. pengamatan, dan perkembangbiakannya secara. rimpang atau stolon yang menghasilkan anakan vegetatif masih dekat dengan induknya. Spesies non-rumput mempunyai kecenderungan pola. distribusi acak sama dengan pola distribusi teratur. Dengan demikian, dapat dikernukakan. bahwa kelompok non-rumput. non-rumput pada umumnya mempunyai nilai frekuensi sangat tinggi, namun tidak didukung oleh jumlah individu yang banyak pada setiap kuadrat pengamatan. Selain itu, propagul yang dihasilkan tidak harus jatuh dan tumbuh dekat induknya, karena penyebarannya dipengaruhi oleh faktor luar, misalnya angin atau dibawa oleh. hewan tertentu. Kemungkinan lainnya adalah terjadi kompetisi dengan kelompok rumput, sehingga pertumbuhannya terhambat pada kisaran luas habitat tertentu.. Untuk mengetahui seberapa besar tingkat keyakinan rasio yang ditunjukkan pada Tabel 6, dapat diujr dengan menghitung besarnya nilai. probabilitas setiap. Februari 2005 | 128-144. pola distribusi mengelompok dan memperkecil pola distribusi teratur dan acak. Untuk spesies non-rumput akan terjadi sebaliknya, meskipun nilai probababilitas yang ditunjukkan tidak terialu mencolok, hal ini disebabkan karena terbatasnya unit sampel.. cenderung. mempunyai pola distribusi khas teratur atau acak. Fenomena ini dapat dijelaskan karena kelompok. life form (Tabel. 7).. Berdasarkan data pada Tabel 7 dapat ditunjukkan bahwa hubungan life form dengan pola distribusi spesies sangat nyata. Besarnya probabilitas untuk memperoleh pola distribusi mengelompok untuk kelompok rumput lebih besar daripada kelompok non-rumput, namun berbanding terbalik untuk pola distribusi teratur dan acak. Dengan demikian, data pada Tabel 7 sangat relevan dengan hasil uji probabilitas. Dengan kata lain, peningkatan. jumlah spesies kelompok rumput sebagai unit sampel diikuti dengan peningkatan probabilitas Tabel. I. Jurnal Analisis Lingkungan Vol.2 No.. Tabel. 7.. Probabiliras pola distribusi spesies kelompok rumput dan non-rumput di savana Balanan Pola. No-. Distribusi Mengelompok. 2.. Teratur. 3.. Acak. Non-. Rumput (%). .lum lah. rumput (%). 100. 51,4 2. 0. 29,t 4. 0. 17,44. r00. t00. Asosiasi Spesies. Hasil perhitungan seluruh pola. asosiasi. lcacia nilotica tethadap tumbuhan bawah disajikan pada'Iabel 8. Berdasarkan data pada Tabel 8 menunjukkan bahwa 16 spesies (76,19 %) berasosiasi positif dengan tegakan Acdcia nilotica dan 5 spesies (23,81 %) berasosiasi negaril Fak(a lapangan ini mengindikasikan bahwa ada 5 spesies yang tegakan pohon. berasosiasi negatif dengan Acacia nilotica artinya. tidak dapat beradaptasi dan toleran terhadap tegakan Acacia ,l/otic.r, spesies yang dimaksud adalah Politrias am.rura, Ocimum basilicum, Crotalaria setriatd, Euphorbia hirta, dan Ac.tcia leprosula.. 8. Asosiasi lcacid nilalicd tethadap tumbuhan bawah di savana Bekol, Kramat dan Balanan. Spesies. Acaci.t. Paasangan Spesies. Brdchirid repl.lns lanpas. chi-. Tipe. Tingkat. Square. Asosiasi. 17.4 t. + + +. Asosiasi 0,84. DqclNloc leniun dePyptiunt Ac hyranre.s aspera. 25.14 .5,60 26.43. Synedrella nudi/lora. ?t70. Opltsntenus burm,Lnti. 24.7. Dichdnlium coricosum Politrias d dut d. 25.14. Te.spesia. 8. + + + +. t0.54. 24,7 6. + + + + + +. Eupdlorium odoralun. 5,7 8. 't'. Echinocloa colonum Stachytarpeta indica. 9.67. 6.43 1,23 12.56. 4.10. 31. .49. 0.43. 0.79 0.8 2. 0,78 0.'16. 0,24. Vernonia cinereal Panicun renens Temeda arguens Cynodon dacrylon Bidens pilosa Axonopus cunlprcssus. 4.7 6. 0.7 6. 0.4 0. 0,2'7. 0,45 0.17 0.3 5. 0.84 0,12. +. 0.3 7. +. 0.89.

(18) Pengaruh Kerapatan Tegakan Akasia ..... (Djufri, Dede Setiadi, Edi Guhardja, Ibnul. Ocimum basilicum Moghania macrophylla. eayim). 11,27. 0.30 0,27 0,19 o ts. 9,26. Hedyoti,s corymbosa. 6. +. 7,65. 'F. 8,'7. Phyllantus debilis Crotalaria setriqta. 8,5 4. Sida rhonbifolia Ageratum conyzoides. '7. 0.43 0,17. ,90. +. 14,23 13,45. Cqlolropis gigantea. 141. 0.31. 0lq. Keterangan : Spesies yang dihitung asosiasinya adalah spesies yang hidup di savana yang dinaungi oleh tegakan.4. l?i/o/lca. Tingkat asosiasi semakin baik (sempurna) bila nilainya mendekati L Menurut Barbour et al. (1987) bila spesies berasosiasi positif maka akan menghasilkan hubungan spasial positif terhadap patnernya. Kalau satu patner didapatkan dalam sampling,. dikemukan bahwa ke lima spesies ini yang mempunyai peluang lebih baik untuk hidup di bawah tegakan A. nilaticq dibandingkan dengan spesies yang lainnya.. maka kemungkinan besar akan ditemukan patner lainnya tumbuh di dekatnya. Dua spesies saling beradaptasi satu sama lain dan hadir dalam pola. Indeks Similaritas (IS). Perhitungan lndeks Similaritas bertujuan. mengelompok. Hal yang berbeda pada spesies yang berasosiasi negatif, mereka saling mengusir (menjauh) satu sama lain dan hadir dalam pola teratur. Jika tidak ada interaksi di antara spesies, lokasi satu spesies tidak berpengaruh terhadap. untuk membandingkan komposisi dan variasi nilai. kuantitatif spesies pada seluruh. pengamatan.. 9.. stasiun. selanjutnya akan mengindikasikan bahwa unit sampling yang. jika. diperbandingkan. lokasi spesies lain, dan dua spesies tersebut tersebar secara acak. Berdasarkan data pada Tabel 8 dapat dikemukan bahwa ada 5 spesies yang mempunlai nilai ringkar asosia<i sangar tinggi yaitu Brachiaria reptans, Tespesia lanpas, Agerdtum cnyzoides, Synedrella nudflora dan Dichantium coricosum dengan nilai tingkat asosiasi > 0,75. Dengan demikian dapat Tabel. Nilai ini. Similaritas. nilai. mempunyai. lang besar berani. Indeks mempunyai. kemiripan komposisi dan nilai kuantitatif spesies yang sama, demikian juga sebaliknya. Dalam ekologi tumbuhan teknik ini dapat dipakai untuk mengklasifi kasikan berbagai vegetasi berdasarkan nilai kuantitatifnya. Hasil perhitungan lndeks. Similaritas pada seluruh stasiun. p€ngamatan. disajikan pada Tabel 9.. Hasil perhitungan tndeks Similaritas (lS) dan Indeks Desimilaritas (lD) pada seluruh. stasiun. pengamatan di savana Bekol, Kramat dan Balanan. I NDEI(S SIil|ILARITAS. Stasiun. 0s). 2. 3. 1. 5. 6. 1. 8. 9. l0. ll. t2. IJ. t1. t5. 76,2s. 82,61. 78,61 '76,50. 69.64. 52,67. 49,65. 48,97. 39.65. 41,10. 39,64. 11,30. 14,40. 36.67. 18,20. 82.90. 84,62. 51,61. 55,00. 48,6s. 57.00. 4. 9,4.1. 17,6q. 37.90. 16,91. 40.64. 88,90. 8t,64. 72,2). 47.)4. 40,40. 3',7,02. 44,61. 40.91. 44,26. 33,62. 42,65. '7. 76,89. 71,8c. 57,47. 46,90. 5r,52. 49,54. 51,l6. 31,66. 37,89. t,92. 48,99. 47,t6. 17,89. 43,8'l. 3't,29. '13,88. 4',7,29. 41,8s. 3',7.25. 87,18. 87,89i '76,22. '77,16. 74.29. 46.86. 14,89. 3. 7,2q. 4t,92. 77.t8. 71,67. 41,87. 37,6s. 3',t,87. 42.88. 34,15. 73,87. 7t.68. 41,29. 40,91. 16.45. 43,9r. I7,5s. 57,48. 3',7,69. 40.t5. 38,49. 37,61. 39,51. 81.90. 82,94. 75,89. 6't,31. '72.5 t. 70.87. 85,87. 82.88. 68,94. 65.88. z. 2l,75. 3. l'7.36. t7)6. I. 2t,31. 2. 5. 30,36. t7,t0. I. l,l0. 28,33. 6. 47.33. 15,18. 18,36. 2l,l l. 48,08. 7. 50,t5. 42,11. 2',t,78. 26.t\. 51,0r. 8. 5r,01. 45,00. 5r,86. 42,53. 52,84. l2,. I 7,06. 9. 60.35. 62.33. 54,60. 51.10. 52.1I. 23,78. 22,82. 26, t1. IO. 56,90. 51,35. 62,98. 48,48. 56,13. 22,84. 28,33. 26.32. 12,s2. II t). 60,36. 33.00. 55.11. 46,73. 62.',7. 25.11. 56,13. 52,71. 62,11. 17,41. 66,70. 50.07. 59.09. 50,,16. 56,12. 5J,l,l. 62,35. 5q.0q. tl. 59,85. I. 65,60. 62,31. 55,7.1. 48,81. 52,7 |. 55.1I. 62,13. 6t,55. 61,51. 17,06. l4. 61,3 3. 62.\0. 66.38. 62,34. 56,11. 62,7 t. 51.t2. 56,09. 62,1C. 21,1I. t5. 61,80. 61.07. 57,35. 62.11. 62.15. 58,08. 65,85. 62.41. 60.49. 12,61. 82.64. t,50. 59,36. t,67. 5. \. 82.94. 82,59. IN DEKS DESIIIIILARITAS :. 5,10. 27,49. t.l. 1.1,l3. t,06 l.r, t2. 27,0t. 17,t2. 30.75. 14,08. 2. 9,. 62,)7 I7.81. 0D). Stasiun pengamatan 1,2,3,4,5 m€wakili SBK0, SKRo dan SBL0, dan 6,7,8,9,10 mewakili sena I I,l2,ll,l4,l5 melvakili SBK2, SKR2 dan SBI-2.. Ketcrangan. 69,25. 65.92. 3. SBKI, SKRI dan SBLI,.

(19) 142. Jurnal Analisis Lingkungan Vol.2 No.. Hasil perhitungan Indeks. Similaritas. menunjukkan bahwa stasiun pengamatan yang mempunyai Indeks Similaritas kategori sangat tinggi (lS = > 7 5%) adalah kombinasi antara stasiun pengamalan. I-2: l-1. l-4. 2-3. 2-4. 2-5. 2-. 6, 3,5, 3-6, 4-6, 6-7, 6-8, 6-9, 6-10, 7-8, 7-9, 10ll, l0-12, 10-13, 10-14. Sedangkan kombinasi yang lainnya IS kategori sedang, rendah, dan. sangat rendah. Mengacu pada Tabel. 8. maka. komunitas savana yang diteliti dapat dikelompokkan atas 3 komunitas yang berbeda berdasarkan kecenderungan nilai IS yang berbeda. yaitu (a). Savana terbuka (SBK0, SKR0 dan SBL0) dengan spesies penciri dengan NP tinggi. yaill Brachiario reptans. Dichantium coricosum dan Tespesia lanpas. (b). Savana ternaungi. 1. Februari 2005 : l2E-144. dengan tegakan A. nilotica dengan k€rapatan pohon 1500-3000 individu/ha (SBKl, SKRI dan SBLI) dengan spesies penciri dengan NP tinggi. yaitu Oplismenus burmqnii.. Axonopus. comprestus, dan Sy'nedrella nudiflora. (c). Sayana ternaungi dengan tegakan A. nilotica dengan kerapatan pohon > 3000 individu/ha (SBK2. SKR2 dan SBL2)dengan spesies penciri dengan NP tinggi yaitu Oplismenus burmanii,. Synedrella nudifora. Ageratum conyzoides, Slachytarpeta indica dan Achyrcntes aspera.. Untuk memperjelas pengelompokan komunitas diteliti, selanjutnva perlu dilakukan analisis kelompok (cluster analysis) untuk savana yang. membangun gambar dendrogram (Gambar I ).. Kekayaan Spesies. OU. 140. 120. 100. -80. -60 40. SBM1 SKRZ S8K11 S8K13 SKR12 SBL11 SBL13;S8KO2 SKRM. SBLO1. SB]O2 SBL21 SBK12 SKR11 SKR13 SBL12 SBKO1 SKRO1 SKRO3. SBIO2. Slasiun Pengamalan. Cambar L Pengelompokan savana Bekol, Kramat dan Balanan dengan teknik analisis kelompok. (cluster analysis). SBKo = Savana Bekol tanpa tegakan ,4. nilolica, SBKI = Savana Bekol dengan kerapatan tegakan A. nilotica > 15003000 pohon,4ra, dan SBK2 : Savana Bekol dengan kerapatan tegakan A. nilotica > 1000 pohonfta. SKRO = Savana Kramat tanpa tegakan A. nilotica, SKRI : Savana Kramat dengan kerapatan tegakan ,.,1. nilotica > 1500-3000 pohon/ha, dan SKR2 = Savana Kramat dengan kerapatan tegakan A. nilotica > 3000 pohon,6a. SBLo = Savana Balaran tanpa tegakan L niloticd. SBLI = Savana Balanan dengan kerapatan tegakan l. nllotlra > 1500-3000 pohon/ha, dan SBL2 = Savana Balanan dengan kerapatan tegaku\ A. nilotica > 3000 pohon/ha. Angka l-3 merupakan ulangan..

(20) [_. Pengaruh Kerapatan Tegakan Akasia. ..." (Djufri,. Berdasarkan gambar dendrogram yang. dihasilkan dapat dikemukakan bahwa pengelornpokan berdasarkan matriks IS sangat relevan dengan gambar dendrogram. Dengan kata. lain melalui pendekatan analisis kelompok juga dihasilkan 3 kelompok komunitas savana yang. diteliti dapat dibedakan atas tiga tipe berbeda secara legas sebagaitnana. yang yang. Dcde Setiadi, Edi Guhardja, Ibnul. dan SRL02 (b) Savana ternaungi tegakan,4. nilotica dergan kerapatan pohon 1500-. 0l. 3000 individu/ha, diwakili oleh unit sampling SBKII, SBK12, SBKI3, SKR11, SKRl2' SKR13. SBLl1, SBLl2, dan SBLl3. (c). Savana. ternaungi tegakan A. nilotica dengan kerapatan pohon > 3000 individu/ha, diwakili unit sampling. SSfZt, SSKZZ, SKR21 dan SBL2I. Dengan. demikian melalui pendekatan matriks lS. dan. gambar dendrogram maka komunitas savana yang. 143. tegakan Acacia niloltca berasosiasi positif dengan. @ niloti,,r, kccuali 5 spesies lang menunfukkan asosiasi negatif yaitu ; Polilti.ts amaura, Ocimum bqsilicum, Crotalatia setridta' Acacia leprosula, dan Euphorbia hntu. (vii) Pengelompokan komunitas yang diteliti menggunakan matriks IS dan analisis kelompok Aca.. menghasilkan tipe komunitas yang sama.. ditunjukkan pada gambar dcndrogram yaitu (a)' savana terbuka diwakili oleh stasiun pengamatan (unit sampling) SBK0l, SBK02, SKR0l, SKR02' SKR03, SBI. Qayin). UCAPAN TERIMAKASIH. Ucapan terimakasih disampaikan kepada Direktorat Pendidikan Tinggi yang telah membiayai sebagian penelitian ini melalui Beasiswa Penyelenggaraan Pendidikan Pasacasarjana (BPPS) dan kepada Kepala Taman Nasional Baluran di Jawa Timur serta seluruh stafnya yang telah memberikan ijin dan bantuan fasilitas sehingga penelitian ini dapat berlangsung sebagaimana diharapkan.. diteliti telah dapat dibedakan secara tegas satu. tipe dengan tipe yang lainnya. berdasarkan pada masing-masing komposisi spesies penlusun tempat. Hal ini sangat relevan dengan yang dikemukakan oleh Clement dalam Weavet dan Frederic (1978) bahwa spesies dapat digunakan. DAFTAR PUSTAKA. Anonim. (1999). Rancangan Seedling/Anakan. Nasional Baluran. Backer, A.C. and R.C. Bakhuizen van den Brink, Jr. (1963, 1965, 1968). Flora of Java. KESIMPULAN. (Spermatophyte. Berdasarkan hasil analisis data, maka dapat dikemukan beberapa kesimpulan sebagai berikut ; (i). Spesies yang dijumpai di savana Balanan. iaman Nasional Baluran Jawa Timur sebanyak 63 spesies yang terdiri dari l8 familia (ii) Spesies yang mendominasi dengan Nilai Penting Tespesia G{e; tinggi adalah BrQchiaria replqns, yang dan burmanii, lanpas, Oplismenus adalah sedang kategori memounvai NP orchantiu^ corrcosum, Synedrella nudilora' dan. Axonopus compressus. (iii). lndeks terbuka (H') daerah di Spesies Keaneiaragaman lebih tinggi (1,3472-2,7556) dibandingkan dengan. teratlu., dan 4 spesies dengan pola distribusi acak' (v). Spesies rumput cenderung mempunyai pola distribusi mengelompok dan spesies non-rumput. poli. di. bawah. , G.M., i.K. Burk and W.D. Pitts'. Benyamin/Cummings Publishing Company' Brenan, J.P.M. (1983). Manual on taxonomy of Acacia species: Presenl laxonom)) of four species of Acacia (A albida, A. senegal, A' niloticLl, A. lorlilts) FAO, Rome pp.20-24. Cox, G.W. (1978) LaboratotT Manual of General Ecologt. USA : WM C. Brown. '. Company Publisher'. Penentuan Pola Distribusi, Asosiasi dan Interaksi Jenis Tumbuhan Khususnya Padang RumPut di Taman. Djufri. (1993).. Nasional Baluran Banyuwangi Jawa Timur'. Iesls. Yogyakarta : Universitas. Gadjah. Mada.. -.. (1995). Inventarisdsi Flora Sepanjong Proyek Krueng Aceh untuk Menunjang Perkulicthan Ekologi dan Tqksonomi Tumbuhan. Banda Aceh : Puslit Unsyiah Darussalam.. (1999). Pengaruh Konsenlrasi Alelopali. distribusi teratur dan acak (vi). Pada umumnya spesies yang hidup. The. Terrestrial Plant Ecologgt. New York. : The. oleh tegakan Acacid nilotica 0,1504-2,413). (iv) Dari 63 spesies Denvusun savana yang diteliri hanya 25 spesies uunl duout dihitung pola distribusinla l6 di. untiunyu mempunyai pola distribusi mengelLmpok, 5 spesies dengan pola distrib"-si. only) l, ll, tll. Netherlands : Groningen.. Barbour. daerah yang ternaungi. cenderung. Pencabutqn Pembongkaran. secara Mekanis, 150 ha di Savana Bekol' Taman Nasional Baluran Reboisasi Taman. sebagai indikator dan alat analisis kondisi lingkungan.. Hasil. -.. Ekstrak Daun dan Akar KaYu Putih.

(21) 144. Jurnal Analisis Lingkungan Vol.2 No.. (Eucalyptus urophylla) Terhddap yiabilit.ls Perkecambahan Beberapa Jenis Suku. Ludwig, J.A. and R:,, r:: lJ:. J F. ( I 9Sg). Stdtistical Ecal .., . L r:l:,i Srates of. Darussalam. Mueller-Dombois. D &Hi Eire:.rberg. (1974). Aints dnd ,\,lethc,;: :., ,:zei;:nn Ecology. New York : \\,iler ::d S:rs.. Fabaceae. Banda Aceh. : puslit Unsyiah. (2002). Penentuan pola. Distribusi,. Asosiasi, dan Interaksi Spesies Tumbuhan. Khususnya Padang Rumput di Taman Nasional Baluran Jawa Timur. Biodh)ersitds.. 3(l):l8l-188.. _.. (2003). Analisis Vegetasi Spermatophlra di Taman Hutan Raya (TAHURA) Seulawah Aceh Besar. B iodioverc it.ts.4( I ):30-34.. '-.. I Februari 2005 : 118_lJJ. (2004). REVIEW: Acacia nilotica. Willd. ex Del. dan. (L). permasalahannya di Taman Nasional Baluran Jawa Timur. B. iodiyers it qs. 5(2):96- I 04.. Duke. 1983. Medicinal plants of the Bible.TradoMedic Books, Owerri, New york. Gofd-Smith. (1986). Disuiption and Analysis o/. yegetation.. ln.. Methods (eds. Champman, S.B.. London. :. in plant & p.D.. Ecology Moore). Blacwell Scientific publication,. Oxford.. Gupta, R.K. 1970. Resource survey of gummiferous acacias in Western Rajasthan. Troprcal Ecologt ll. 148- l6l .. M. dan H. Muhamrnad. (1997). Peranan Lingkungan Fisik Terhadap Produl,.si. Daldu D. Sitepu, Sudiarto, Nurliani Bermawie, Supriadi, Deciyanto Soetopo, Rosita S.M.D., Hernani dan Amrizal, M. Rivai (eds). Jahe. Monograf. Junawati,. N0.3. Balai Penelitian dan pengembangan. Pertanian.. Balai Penelitian Tanaman. Rempah dan Obat, Bogor.. A. (1973). Qudntitctth)e and Dynamic Plant Ecolog. The Engltsh Linguange Book Society and Edward. Kershaw, Kenneth. Arnold (Publisher) Ltd., London.. Krebs, C.J. (1978). Ecology The Experimental. Anolysis. of Distribution and Abundance.. New York, Hagerstown, San Fransisco, New York : Harper and Row, Publisher.. America.. Ikin Zainal li,,l K:anekarasaman Hayati dan P:i:en;:i::r "ienis -Asing lnvasif. Upm a Pe,::,: : :..,.tn!t,t Tdnaman Eksotik A,u,1,1 t:.. :: :.:. lrJ":.,tn Tannn. Mutaqin,. Nasiona/ Baluran .tai.= IKa:.ttor Menteri Negara Lingkungan H rJup.. Pitono, J.. M. Januuar: i&r \_i:lrr.nan.. (1996).. Teri:ip penumbuhan dan Produksi Te;na T:::nar Sambiloto. Warta Tumh t,ttt O!:t Indonesia. Pengaruh Naunsac. \as::r:.i Turnbuhan Obat Ill , I r ,:i-.1 Rice, E.L. (1974). .:;t:i:.3::;.... \e* york Kelompok Kerja. lndonesia. Vol.. :. Academic Press. Sabarno, M. Y. 2001. Sar;:r: Tanan Nasional Bioditer:;r,-i i I rlirt-ll2 Setiadi, D. Muhadionc. I ,)l)1 ,. psn4a14n Praktikun E*o/o-gr. B;e:: : Laboratorium Baluran.. Ekologi Jurlrsan Br:l:ri. Fakuitas. Matematika dan Ilmu penqerahuan Alam. Institut Pertanian Bosor. Shukla, R.S.. &. P.S.. Ciarrei \t9B)J. ptant. Ecologr. Nerv Delhi : S Chand & Company, Ltd. Ram Nagar.. Soerjani, M. Kosrerman. A.J.G.H. dan ljitrosoepomo. G. (l98ir. I{ ee:js of Rice in. lndonesn. iakafld. Baldr pu.lald Supranto, J. (1987). St.jtistik Te,.trr dan Aplikasi.. Jakarta : Erlangga. Steel, R.C.D. and J.M. Torrie. llgBO). principles. and Procedurs of Statist!cs. .1 Bionetric Approach. Tokyo : McGra\\.Hill. Syafei, E. (1994). Penuntun prakrikun Ekologi. fumbuhan. Bdndung :. L. aboratorium. Ekologi Institut Teknologi Bandung.. Weaver, J.E. and Frederic. E.C. 19i9. plant. Ecolog). -lata McGra$ -Hill publishine Company Ltd. Nerv Delh i..

(22)

Referensi

Dokumen terkait

Fokus dari penelitian ini adalah pada kemampuan pengartikulasian fonem bilabial, labiodental dan apikoalveolar penderita BP, kemunculan pola kesulitan mengujarkan fonem

Sedangkan pelebaran puncak difraksi dapat dikaitkan dengan ukuran partikel, dimana puncak yang melebar menunjukkan kehalusan butir atau sebaliknya setelah

Komplikasi infeksi pada sindrom nefrotik terjadi karena konsentrasi IgG serum yang rendah (akibat hilangnya immunoglobulin melalui urin, peningkatan laju katabolisme, dan

Pada teori diagnosa keperawatan yang diangkat pada pasien dengan diabetes mellitus adalah resiko kekurangan cairan berhubungan dengan diuresis osmotik (dari

Berdasarkan data yang telah diperoleh dalam penelitian ini “Transformasi Novel ke Film 99 Cahaya di Langit Eropa karya Hanum salsabila dan Rangga Almahendra” dapat

Analisis lebih lanjut melalui Uji Newman-Keuls menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata pada perubahan viskositas pada formula gel urea 10 % yang

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini dengan