BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan zaman yang modern, minuman beralkohol bukan lagi minuman yang sulit untuk didapatkan padahal pada zaman dulu minuman beralkohol hanya disediakan para bangsawan untuk minuman penghias pesta dan menjadi campuran jamu karena jika diminum berlebihan akan memabukkan. Pada zaman modern ini minuman beralkohol sepertinya sudah menjadi gaya hidup bukan lagi hanya diminum pada saat pesta-pesta saja tapi juga dapat ditemui di dalam pertemuan-pertemuan biasa dan sudah sampai pada pelosok Desa. Penikmatnya pun bukan hanya datang dari kalangan dewasa saja tapi para remaja usia sekolah juga turut menikmatinya. Hal ini disebabkan karena mudahnya akses untuk mendapat minuman beralkohol tersebut serta pengaruh lingkungan yang berdampak pada semakin banyaknya peredaran minuman beralkohol di kalangan usia remaja.
Salah satu persoalan di Negara berkembang yang perlu memperoleh fokus dari Pemerintah adalah masalah mengenai minuman beralkohol, Negara Indonesia dalam menyelenggarakan urusan pemerintahannya berada pada kekuasaan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Pemerintah Daerah dalam mengelola kegiatan pemerintahannya diberikan kewenangan oleh Pemerintah Pusat dengan penyerahan kekuasaan pemerintahan, pelimpahan wewenang, maupun tugas pembantuan. Pemerintah Daerah juga dapat mengeluarkan Peraturan Daerah guna mengatur urusan Pemerintah Daerahnya. Peraturan Daerah menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2014 adalah sebuah Peraturan Daerah Provinsi maupun Peraturan Daerah/Kota.
Sukoharjo adalah salah satu Daerah otonom yang berada di Provinsi Jawa Tengah, sebagai daerah otonom Pemerintah Daerah Sukoharjo selaku badan eksekutif, memiliki kewenangan untuk merancang Perda bersama
DPRD selaku lembaga legislatif. Seperti Perda nomor 6 tahun 2017 tentang pengawasan, pengendalian peredaran, dan penjualan minuman beralkohol.
Perda tersebut merupakan perwujudan Pemerintah Kabupaten Sukoharjo dalam upaya mengatasi masalah masih maraknya masyarakat yang melakukan produksi ciu dan peredaran miras dengan bebas dan tanpa surat ijin usaha perdagangan minuman beralkohol (SIUP-MB). Perda tersebut juga dibuat untuk melarang produksi ciu di Bekonang dan mengalihkan produksi ke bio-etanol.
Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 6 tahun 2017 itu sendiri, memiliki tiga aspek penting. Pertama, aspek pengawasan yang dilakukan pada: (a)penjualan langsung untuk diminum, tempat peredaran dan penjualannya. (b)perizinan, importir minuman beralkohol, distributor, subdistributor. (c)tempat lokasi peredaran dan penjualan minuman beralkohol. (d)orang/badan yang menguasai minuman beralkohol; semua proses pengawasan dilakukan oleh tim pengawas dan penertiban. Kedua, aspek pengendalian peredaran yang di dalamnya memuat dua aspek, labelisasi dan perizinan. Labelisasi digunakan dengan mengacu pada aturan- aturan yang ada tertuang dalam peraturan produk minuman keras, kemudian untuk perizinan pada usaha minuman beralkohol semua golongan (A,B,dan C) maupun produksi harus memiliki SIUP-MB yang sudah ditentukan masa perpanjangan dan berlakunya. Ketiga, aspek penjualan yang memuat bagian penjualan secara langsung dan penjualan eceran dengan aturan-aturan yang sudah ditetapkan. (Arini B, 2018):232
Kepemilikan SIUP-MB sendiri dalam hal untuk perizinan sudah diatur dalam peraturan Bupati Sukoharjo nomor 62 tahun 2017 pada pasal 2 sampai dengan pasal 5 tentang tata cara dan persyaratan pemberian surat izin usaha perdagangan minuman beralkohol. Untuk pendaftaran permohonan izin usaha sendiri dapat dilakukan dengan cara mengajukan permohonan kepada Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Sukoharjo disertai persyaratan dengan mengisi formulir permohonan.
Dalam peraturan daerah nomor 7 tahun 2012 tentang pengawasan dan pengendalian peredaran minuman beralkohol yang sudah diperbarui menjadi peraturan daerah nomor 6 tahun 2017 terdapat beberapa pasal yang mengatur tentang beberapa aturan yang menekankan dan berkaitan langsung dengan tugas pokok fungsi dan wewenang Satpol PP dalam melakukan pengawasan dan menanggulangi peredaran minuman beralkohol akan berkolaborasi dalam melaksanakan usaha preventifnya dengan:
1. melakukan operasi gabungan untuk patroli.
2. melakukan bimbingan kepada pemilik industri alkohol yang memiliki izin usaha minuman beralkohol, bimbingan dilakukan untuk penyampaian informasi pada pemilik industri agar izin usaha tidak disalahgunakan untuk berbuat pelanggaran dengan cara mengalihkan usahanya menjadi menjual/memproduksi ciu.
(Arini B, 2018)
Namun, sebagian masyarakat masih menganggap bahwa upaya preventif yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja yang berkolaborasi dengan Polres setempat dalam melakukan patroli atau operasi pekat yang dilakukan utama kepada pemilik industri alkohol yang melakukan penyalahgunaan izin untuk mengedarkan alkohol belum mampu menangkap pelaku utama, rata-rata yang dijerat hanya pembeli atau distributor ke-2 dari pelaku produsen utama.
Kemudian, razia yang dilakukan oleh petugas Satpol PP dan Kepolisian sering mengalami kebocoran informasi sehingga mengakibatkan tidak maksimalnya operasi yang dilakukan. (Arini B, 2018). Kemudian adanya kerawanan penyalahgunaan kekuasaan oleh oknum Kepolisian yang memberi backingan kepada produsen di sentra industri alkohol akan menyebabkan keleluasaan untuk bagi para produsen untuk memproduksi ciu.
Tabel 1. 1
Hasil beberapa razia minuman beralkohol tanpa memiliki SIUP-MB di wilayah Kabupaten Sukoharjo tahun 2018-2020
No Tanggal Wilayah Hasil
1. 6 Juni 2018 Kecamatan Nguter + Weru
197 + 96 botol bir.1
2 29 desember 2018 Kecamatan Mojolaban 889 botol miras ciu.2 3 29 januari 2019 Kecamatan Mojolaban 196 botol miras ciu.3
4 2 mei 2019 Kecamatan
Nguter+kecamatan Sukoharjo
175 botol.4
5 17 desember 2019 Kecamatan kartosuro 111 botol + 2 derigen Ciu.5
6 14 maret 2020 Polokarto 44 derigen Ciu + 15 dus.6
Sumber :1 (Nugraha, 2018), 2 (Nindya, 2018),3 (Tri, 2019),4 (Wicaksosno, 2019),5 (Aria, 2019), 6 (Hamdani, 2020)
Dari tabel di atas dapat dilihat bahwasanya dalam rentang tahun 2018- 2020 masih banyak masyarakat yang memiliki usaha dalam memperjualbelikan minuman beralkohol tanpa memiliki SIUP-MB dan diperjualbelikan secara bebas serta penjualannya pun tidak sesuai dengan golongan minuman beralkohol yang sudah ditentukan di dalam Perda.
Golongan minuman beralkohol yang bisa diperjualbelikan di Daerah Sukoharjo sendiri adalah minuman beralkohol golongan A,B serta C.
Minuman beralkohol dapat dilihat dari data dibawah ini.
Tabel 1. 2
JENIS ATAU PRODUK MINUMAN BERALKOHOL GOLONGAN A, GOLONGAN B, DAN GOLONGAN C
Gologan A Golongan B Golongan C
Shandy, Minuman ringan beralkohol, Bir/Beer, Larger, Ale, Bir hitam/Stout, Low Alcohol Wine, Minuman beralkohol berkarbonasi, dan Anggur Brem Bali.
Reduced Alcohol Wine, Anggur/wine, Minuman Fermentasi Pancar/
Sparkling Wine/
Champagne, Carbonated Wine, Koktail Anggur/ Wine Coktail, Anggur Tonikum
Kinina/Quinine Tonic Wine, Meat Wine atau Beef Wine, Malt Wine, Anggur Buah/Fruit Wine, Anggur Buah Apel/ Cider, Anggur Sari Buah Pir/Perry, Anggur Beras/ Sake/
Rice Wine, Anggur Sari Sayuran Vegetable Wine, Honey
Wine/Mead, Koktail Anggur/Wine Cocktail, Tuak/Toddy, Anggur Brem Bali, Minuman Beralkohol Beraroma, Beras Kencur, dan Anggur Ginseng.
Koktail Anggur /Wine Cocktail, Brendi/Brandy, Brendi Buah/Fruit Brandy, Wiski/Whiskies, Rum, Gin, Geneva, Vodka, Sopi Manis /Liqueurs,Cordial/Cordia ls, Samsu/Medicated Samsu Arak/Arrack, Cognac, Tequila, dan Aperitif.
Sumber: Perda No.6 Tahun 2017 Tentang Tentang Pengawasan, Pengendalian Peredaran, Dan Penjualan Minuman Beralkohol.
Dari data pada tabel di atas bahwasanya minuman beralkohol atau miras lokal yang sering disebut juga dengan ciu tidak terdaftar pada minuman beralkohol pada golongan A,B maupun C dan ditegaskan kembali pada pasal 18 di dalam Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2017 yang berbunyi
“(1) Setiap badan usaha yang telah memiliki izin menjual minuman beralkohol golongan A, golongan B, dan golongan C dilarang menjual
ciu atau sebutan lain dan/atau yang sejenisnya, baik dalam bentuk eceran dalam kemasan dan menjual langsung untuk diminum ditempat.
(2) Setiap orang atau badan usaha yang telah memiliki izin
memproduksi alkohol dilarang mengalihkan produksinya menjadi ciu untuk dijual”
Namun, fenomena yang terjadi pada masyarakat, orang atau badan produksi yang telah memiliki izin untuk memproduksi alkohol yang seharusnya hanya memproduksi etanol untuk keperluan industri dan farmasi saja masih banyak yang menyalahgunakan izin tersebut untuk memproduksi ciu salah satunya adalah bapak Darsam (nama samaran), dikutip dari Renaldi
& Titah (2019) beliau mengungkapkan Perda yang dibuat oleh pemerintah Kabupaten Sukoharjo dapat jadi payung tameng bagi para pengrajin yang memproduksi ciu, karena izin yang diperoleh membuat pengrajin merasa aman. Hal tersebut dikarenakan ciu merupakan salah satu tahapan di dalam memproduksi alkohol, sehingga antara pengrajin alkohol medis dan ciu sulit terdeteksi dan memasarkan ciu Bekonangnya sebagai miras dan jamu ke Kota-kota Jawa Barat dan Jawa Timur.
Kabupaten Sukoharjo sendiri memiliki sentra industri alkohol yang perlu pengawasan secara ketat dalam proses produksi alkoholnya hal tersebut dikarenakan untuk menghindari penyalahgunaan izin dari produsen. Selain itu, adanya kerawanan penyalahgunaan kekuasaan oleh pihak Kepolisian untuk memberi backingan terhadap para produsen alkohol di sentra industri alkohol agar dapat leluasa memproduksi ciu juga perlu pengawasan secara ketat agar tidak terjadi penyalahgunaan wewenang untuk memberi backingan kepada para pengrajin.
Berangkat dari penjelasan dan uraian persoalan yang ada, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai implementasi kebijakan pengawasan, pengendalian peredaran, dan penjualan minuman beralkohol yang berada di Sukoharjo dengan judul “Evaluasi Implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo nomor 6 tahun 2017 tentang perubahan atas Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo nomor 7 tahun 2012
tentang pengawasan, pengendalian peredaran, dan penjualan minuman beralkohol”.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari penelitian yang berjudul “Evaluasi Implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo nomor 6 tahun 2017 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo nomor 7 tahun 2012 tentang pengawasan, pengendalian peredaran, dan penjualan minuman beralkohol” adalah
1. Bagaimana Implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 6 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 7 Tahun 2012 Tentang Pengawasan, Pengendalian Peredaran, Dan Penjualan Minuman Beralkohol?.
2. Faktor-Faktor Apa Yang Mempengaruhi Pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 6 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 7 Tahun 2012 Tentang Pengawasan, Pengendalian Peredaran, Dan Penjualan Minuman Beralkohol?
C. Tujuan Penelitian
1. Mengevaluasi implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo nomor 6 tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 7 Tahun 2012 Pengawasan, Pengendalian Peredaran, Dan Penjualan Minuman Beralkohol.
2. Memaparkan faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 6 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 7 Tahun 2012 Tentang Pengawasan, Pengendalian Peredaran, Dan Penjualan Minuman Beralkohol
Setelah dilakukannya penelitian ini diharapakan dapat memberi manfaat bagi pihah-pihak terkait sebagai bahan pertimbangan dalam
melanjutkan dan meningkatkan mutu pelaksanaan pengawasan, pengendalian peredaran, dan penjualan minuman beralkohol
D. Manfaat Penelitian
Secara keseluruhan manfaat dari adanya penelitian ini dapat diuraikan menjadi dua yaitu manfaat troritis dan praktis.
1. Manfaat Teoritis
a. Menambah ilmu pengetahuan melalui penelitian yang telah dilakukan sehingga dapat menambah dan memperluas pengetahuan ilmu administrasi negara khususunya mengenai evaluasi implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 6 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 7 Tahun 2012 Tentang Pengawasan, Pengendalian Peredaran, Dan Penjualan Minuman Beralkohol
b. Sebagai bahan pemahaman maupun pembelajaran bagi peneliti maupun mahasiswa lain yang ingin mengkaji secara lebih mendalam tentang evaluasi implementasi Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 6 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kabupaten Sukoharjo Nomor 7 Tahun 2012 Tentang Pengawasan, Pengendalian Peredaran, Dan Penjualan Minuman Beralkohol
2. Manfaat praktis
Manfaat dari penelitian ini secara praktis adalah untuk menyelesaikan penyusunan skripsi dan hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan untuk penelitian berikutnya.