i
TEKNIK PRODUKSI SPORA Gracilaria sp. DENGAN LAMA PEMAPARAN TALUS YANG BERBEDA DAN PRODUKSI
PLANLET
DI BALAI PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU (BPBAP) TAKALAR SULAWESI SELATAN
TUGAS AKHIR
DEWI SYAHRANI 1422010067
JURUSAN BUDIDAYA PERIKANAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKAJENE DAN KEPULAUAN
PANGKEP
2017
ii
TEKNIK PRODUKSI SPORA Gracilaria sp. DENGAN LAMA PEMAPARAN TALUS YANG BERBEDA DAN PRODUKSI PLANLET DI BALAI PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU (BPBAP) TAKALAR
SULAWESI SELATAN
TUGAS AKHIR
DEWI SYAHRANI 1422010067
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Studi pada Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene dan Kepulauan
Telah Diperiksa dan Disetujui oleh Pembimbing
Tanggal Lulus : 15 Agustus 2017
iii
RINGKASAN
DEWI SYAHRANI, 1422010067 Teknik Produksi Spora Gracilaria sp.
Dengan Lama Pemaparan Talus yang Berbeda dan Produksi Planlet di Balai Perikanan Budidaya Air Payau Takalar (BPBAP) TAKALAR dibawah bimbingan Hartinah dan Sri Wahidah
Untuk meningkatkan produksi serta mendapatkan bibit dengan kualitas baik yaitu dapat dilakukan dengan menggunakan spora yang di tumbuhkan pada tali. Bibit rumput laut yang sudah melekat pada tali dan tumbuh menjadi planlet dapat langsung di bentangkan di laut. Berdasarkan keunggulan ini, maka perlu dicoba penumbuhan spora pada tali agar dapat menghasilkan produksi planlet bibit rumput laut Gracilaria sp. keuntungan dengan menggunakan bibit yang berasal dari spora antara lain bibit sudah menempel pada tali sehingga tidak perlu biaya dan waktu untuk pengikatan bibit dan juga talus sisa panen yang masih menempel pada tali dapat digunakan sebagai bibit untuk siklus berikutnya
Tugas akhir ini bertujuan untuk mengetahui teknik produksi spora Gracilaria sp.dengan lama pemaparan talus yang berbeda dan produksi planlet.
Manfaat dari tugas akhir ini diharapkan dapat mengetahui lamanya pemaparan talus yang efektif agar jumlah spora (sistokarp) yang terlepas maksimal dan produksi planlet rumput laut Gracillaria sp., lebih baik. Selain itu diharapkan dapat menjadi tambahan informasi baru kepada masyarakat dalam mengembangkan dan meningkatkan kualitas budidaya rumput laut. Tugas akhir ini disusun berdasarkan kegiatan PKPM yang dilaksanakan salama tiga bulan pada 31 Januari–31 April 2017 di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar Sulawesi Selatan.
Untuk mengetahui jumlah spora setiap pelepasannya dilakukan perhitungan spora dengan perlakuan lamanya pemaparan talus yaitu 0, 5, 15, dan 30 menit dengan menggunakan wadah cawan petri sebanyak 16 buah. Suhu ruang pemaparan yang digunakan adalah seragam pada semua perlakuan yaitu 25
oC , dan untuk mempercepat pertumbuhan spora menjadi planlet maka dilakukan penambahan pupuk PES ke dalam wadah pada saat spora telah menempel pada tali PE.
Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa lamanya waktu pemaparan
15 menit dianggap lebih efektif karena diperoleh jumlah spora yang tertinggi
selama pemantauan yaitu 945 spora. Sedangkan pada perlakuan lamanya waktu
pemaparan 30 menit jumlah spora yang terlepas (710 spora) lebih rendah dari
wadah kontrol 893 spora, selama 4 hari pemantauan. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa lama waktu pemaparan talus sebaiknya dilakukan selama 15 menit.
iv
Berdasarkan total pelepasan spora 133.950, jumlah spora yang melekat di
tali 107.160, dan derajat pelekatan spora 80%, akan menghasilkan spora yang
menjadi planlet sebesar 103.945, dengan derajat kelangsungan hidup planlet
mencapai 96,99%.
v
KATA PENGANTAR
Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan judul “ Teknik Produksi Spora Gracilaria sp. Dengan Lama Pemaparan Talus yang Berbeda dan Produksi Planlet” Di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar Sulawesi Selatan”.
Dalam penyusunan laporan ini tidak sedikit kesulitan yang penulis alami.
Hal ini disebabkan oleh permasalahan literatur yang kurang, ditambah pula dengan kemampuan penulis yang masih terbatas, tetapi berkat bimbingan dan petunjuk dari berbagai pihak maka tugas akhir ini dapat diselesaikan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan tugas akhir ini, terutama kepada :
1. Ibu Dr.Ir.Hartinah,M.S, selaku dosen pembimbing pertama dan Ibu Sri Wahidah, S.Pi, selaku dosen pembimbing kedua yang telah senatiasa meluangkan waktunya untuk memberikan pengarahan, petunjuk serta bimbingan kepada penulis.
2. Bapak Dr. Lideman, S.Pi, M.Sc., Selaku Kepala Divisi Laboratorium Kultur Jaringan Rumput Laut Sekaligus pembimbing lapangan Di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar
3. Bapak Ir. Rimal Hamal, M.P., selaku Ketua Jurusan Budidaya Perikanan, dan Ibu Suryati, S.Pi,.M.Si., selaku Sekretaris Jurusan Budidaya Perikanan yang tak henti hentinya memberikan arahan dan nasehat.
4. Bapak Dr.Ir.Darmawan,M.P., selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri
Pangkep.
vi
Akhirnya dengan tulus penulis menghaturkan terima kasih kepada Ayahanda Syahril dan Ibunda Suriyani, serta keluarga tercinta yang selalu mendoakan ananda dalam menyelesaikan tugas akhir ini. Terima kasih kepada teman-teman seperjuangan Budidaya Perikanan Angkatan XXVII yang juga senantiasa turut membantu dalam penulisan tugas akhir ini.
Penulis menyadari bahwa tugas akhir ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan adanya kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun sangat diharapkan untuk memperbaiki laporan ini pada masa yang akan datang.
Pangkep, Agustus 2017
Penulis
vii
DAFTAR ISI
Halaman
RINGKASAN ... iii
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
DAFTAR LAMPIRAN ... xi
I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan dan Manfaat ... 2
II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Klasifikasi dan Morfologi Rumput Laut Gracilaria sp ... 3
2.2 Reproduksi ... 5
2.3 Ekologi dan Penyebaran ... 8
2.4 Produksi Spora Rumput Laut ... 9
2.5 Media Provasolis Enrich Seawater (PES) ... 9
2.6 Hama dan Penyakit ... 11
III METODE 3.1 Waktu dan Tempat ... 13
3.2 Bahan dan Alat ... 13
3.3 Metode Pengumpulan Data ... 16
3.4 Metode Pelaksanaan ... 16
viii
3.4.1 Persiapan Wadah ... 16
3.4.2 Persiapan Air Laut ... 17
3.4.3 Persiapan Eksplan Rumput Laut Gracilaria sp ... 18
3.4.4 Pemeliharaan Spora pada Wadah Substrat ... 20
3.4.5 Pemeliharaan Planlet Rumput Laut Gracilaria sp ... 21
3.5 Parameter yang Diamati dan Analisis Data ... 21
3.5.1 Parameter yang diamati ... 21
3.5.2 Analisis Data ... 22
IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Kuantitas Pelepasan Spora ... 23
4.2 Produksi Planlet Rumput Laut Gracilaria sp ... 25
4.3 Kualitas Air ... 28
V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 30
5.2 Saran ... 30
DAFTAR PUSTAKA ... 29
LAMPIRAN ... 30
RIWAYAT HIDUP
ix
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Bahan yang digunakan selama kegiatan ... 13
2. Alat yang digunakan selama kegiatan ... 14
3. Kandungan pupuk PES ... 15
4. Bahan pupuk PES ... 18
5. Padat tebar eksplan, total pelepasan spora, jumlah spora yang melekat, derajat pelekatan spora, spora yang menjadi planlet, dan derajat kelangsungan hidup ... 26
6. Kualitas air pada pemeliharaan produksi planlet rumput laut
Gracilaria sp ... 28
x
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Rumput laut Gracilaria sp ... 4 2. Siklus hidup Gracilaria sp ... 7 3. Rumput laut Gracilaria sp. subur(fertile) ... 18 4. Tata letak penempatan cawan petri lama pengeringan
talus rumput laut Gracilaria sp ... 20 5. Histogram Jumlah spora pada lama waktu pemaparan talus
Gracillaria sp. yang berbeda di Balai Perikanan Budidaya Air
Payau Takalar 2017 ... 23
6. Spora rumput laut Gracilaria sp. ... 25
7. Planlet rumput laut Gracilaria sp. ... 27
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Pengaruh lamanya pemaparan talus rumput laut
Gracilaria sp. terhadap pelepasan spora ... 35 2. Gambar alat sedgewick dan cara perhitungan spora dengan
menggunakan alat sedgewick di Balai Perikanan Budidaya
Air Payau Takalar, 2017 ... 36
1
I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Rumput laut merupakan komoditi ekspor karena bernilai ekonomis tinggi salah satu jenisnya adalah Gracilaria sp. Rumput laut Gracilaria sp. merupakan salah satu sumberdaya hayati laut yang bernilai ekonomis penting dan disebut”
Agarofit” karena menghasilkan agar-agar. Agar-agar biasa digunakan dalam industri makanan, farmasi dan industri kosmetik. Kebutuhan industri akan produk ini terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun (Akmal dkk. 2007). Untuk memenuhi kebutuhan industri ini, perlu adanya usaha budidaya rumput laut Gracilaria sp. Budidaya rumput laut secara alami melalui kegiatan pengumpulan
dilaut secara berkesinambungan dapat menyebabkan rumput laut tereksploitasi secara berlebihan sehingga dapat terjadi penurunan populasi secara alamiah.
Dengan adanya usaha budidaya rumput laut Gracilaria sp. diharapkan dapat memenuhi permintaan industri, serta menekan pengambilan di alam secara berlebihan (Akmal dkk. 2007).
Teknik konvesional yang sering di gunakan pembudidaya rumput laut
melalui bibit yang diikatkan pada tali, pertumbuhannya kurang maksimal. Salah
satu upaya yang dapat di lakukan untuk meningkatkan produksi serta
mendapatkan bibit yang kualitas baik yaitu dengan menggunakan spora yang
ditumbuhkan pada tali. Spora yang telah menempel pada tali dapat langsung
dibentangkan dilaut sebagai bibit. Keuntungan jika menggunakan bibit spora di
bandingkan dengan bibit yang di ikat pada tali antara lain setelah panen rumput
laut Gracilaria sp. bibit yang menempel dapat dipelihara kembali untuk siklus
2
berikutnya sehingga dapat mengurangi biaya pembelian bibit dan waktu persiapan pembibitan (Lideman 2015).
Pembibitan rumput laut secara spora sebenarnya merupakan teknik pembibitan dengan memanfaatkan sifat dari siklus hidup rumput laut Gracilaria sp. sesuai perkembangbiakannya secara generatif yaitu dengan spora. Salah satu fase pembentukan spora adalah karpospofit yang memerlukan media sebagai tempat melekatkan diri (Yudiati dkk. 2004). Spora tipe Karpospores lebih mudah digunakan sebagai sumber bibit karena kantong sporanya (sistokarp) dapat di lihat dengan mata telanjang (Lideman dkk. 2014). Oleh karena itu perlu dilakukan penumbuhan spora rumput laut Gracilaria sp., untuk memenuhi bibit dan menunjang keberhasilan pada sektor budidaya rumput laut.
1.2 Tujuan dan Manfaat
Tujuan penulisan tugas akhir untuk mengetahui teknik produksi spora Gracilaria sp. dengan lama pemaparan talus yang berbeda dan produksi planlet di
Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar, Sulawesi Selatan.
Manfaat dari tugas akhir ini diharapkan dapat mengetahui lamanya
pemaparan yang efektif agar jumlah spora (sistokarp) yang terlepas maksimal dan
produksi planlet rumput laut Gracilaria sp. lebih baik. Selain itu diharapkan
dapat menjadi tambahan informasi baru kepada masyarakat dalam
mengembangkan dan meningkatkan kualitas budidaya rumput laut
3
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi dan Morfologi Rumput Laut Gracilaria sp.
Rumput laut Gracilaria sp. merupakan tumbuhan makroalga yang kebanyaan hidup dilaut dangkal. Rumput laut Gracilaria sp. memiliki ciri umum mempunyai bentuk talus silindris atau gepeng dengan percabangan mulai dari yang sederhana sampai pada yang rumit dan rimbun, di atas percabangan umumnya bentuk thalli (kerangka tubuh tanaman) agak mengecil, permukaannya halus atau berbintil-bintil, diameter thallus berkisar antara 0,5–2 mm. Panjang dapat mencapai 30 cm atau lebih dan rumput laut Glacilaria sp. tumbuh di rataan terumbu karang dengan air jernih dan arus cukup dengan salinitas ideal berkisar 20-28 per mil (Anggadiredja dkk. 2006). Menurut Agardh (1852) rumput laut Gracilaria sp. diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Protista Divisi : Rhodophyta Kelas : Rhodophyceae Bangsa : Gracilariales Suku : Gracillariaceae Marga : Gracillaria
Jenis : Gracilaria sp. ( Agardh 1852)
Rumput laut Gracilaria sp. termasuk kelas alga merah (Rhodophyta) dan
tergolong tumbuhan tanaman tingkat rendah, umumnya hidup melekat di dasar
laut (benthik). Rumput laut Gracilaria sp. memiliki ciri umum mempunyai
bentuk talus silindris atau gepeng dengan percabangan umumnya bentuk thalli
4
(kerangka tubuh tanaman) agak mengecil, permukaannya halus atau berbintil- bintil, diameter talus berkisar antara 0,5-2 mm. Panjang dapat mencapai 30 cm atau lebih dan rumput laut Gracilaria sp. tumbuh dirataan terumbu karang dengan air jernih dan arus yang cukup dengan salinitas ideal berkisar 20-28 per mil (Anggadiredja dkk. 2006).
Menurut Aslan (1993) rumput laut Gracilaria sp. memiliki ciri sebagai berikut :Thalli berbentuk silindris/gepeng dengan percabangan, mulai dari yang sederhana sampai pada yang rumit dan rimbun. Diatas percabangan bentuk thalli agak mengecil. Perbedaan bentuk, struktur dan asal usul pembentukan organ reproduksi sangat penting dalam perbedaan tiap species. Warna thalli beragam, mulai dari warna hijau-cokelat, merah, pirang, merah-cokelat, dan sebagainya.
Substansi thalli menyerupai gel atau lunak seperti tulang rawan. Morfologi rumput laut Gracilaria sp. dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Rumput laut Gracillaria sp.(BPBAP Takalar, 2017) Keterangan: a = kantong spora (sistokarp), b = talus
b a
5
2.2 Reproduksi
Reproduksi adalah perkembangbiakan dari suatu orgsanisme menjadi organisme yang baru. Reproduksi adalah salah satu strategi untuk memepertahankan keberadaan populasinya di alam, agar tidak punah (Kimbal 1992). Ada dua cara reproduksi yaitu cara aseksual dan seksual, yang amat berbeda antara cara yang satu dengan yang lainnya. Pada alga juga berlaku kedua macam cara reproduksi yaitu reproduksi aseksual dan seksual.
Reproduksi aseksual yaitu di mana suatu organisme baru dihasilkan dari induk tunggal, tanpa adanya peleburan sel kelamin jantan dan betina. Reproduksi aseksual dapat terjadi dengan cara pembelahan sel, fragmentasi dan spora.
Pembelahan sel cara biner untuk jenis alga uniselular, dari satu sel menjadi dua sel. Cara fragmentasi adalah talus alga dipotong-potong atau dibagi-bagi menjadi beberapa bagian yang kemudian nantinya jika hidup pada substrat yang cocok akan tumbuh menjadi individu yang baru. Kemudian reproduksi aseksual dengan cara spora adalah dimana spora dapat diproduksi dalam sel vegetatif yang normal atau sel khusus. Spora yang dikeluarkan akan membentuk individu yang baru.
Pada Reproduksi aseksual, Individu baru yang dihasilkan adalah sama persis dengan induknya.
Pada makro alga lebih khusus pada alga merah rumput laut Gracilaria sp.
tetraspora yang dihasilkan oleh alga tetrasporophyte akan mengalami meosis
terlebih dahulu sehingga terjadi reduksi jumlah kromosom terbagi yang tadinya
diploid menjadi haploid. Spora ini akan tumbuh menjadi individu yang baru yaitu
alga gametophyte jantan dan betina yang haploid, dan hidup bebas di alam.
6
Reproduksi seksual terjadi karena adanya penyatuan gamet jantan dan betina. Gamet mungkin identik dalam bentuk dan ukuran (isogamy) dan (heterogamy) yang berbeda. Beberapa bentuk sederhana alga seperti Spirogyra bereproduksi dengan metode konjugasi reproduksi seksual. Dalam proses konjugasi, dua untai berserabut (atau dua organisme) dari bahan jenis alga yang sama pertukaran genetik melalui tabung konjugasi. Antara dua untai, salah satu bertindak sebagai donor dan lain berfungsi sebagai penerima. Setelah bertukar materi genetik, dua alur terpisah dari satu sama lain. Penerima kemudian dapat menimbulkan organisme diploid. Proses reproduksi secara seksual pada alga yang lebih maju lagi jaringan reproduksinya, dimulai ketika alga gametofit jantan dan gametophyte betina dewasa menghasilkan gamet haploid melalui pembelahan sel mitosis, yang kemudian melebur menjadi satu (fertilisasi) untuk membentuk zigot diploid yang berkembang menjadi tumbuhan sporophyte atau tetrasporophyte.
Jadi pada alga kedua macam reproduksi (aseksual dan seksual) dapat berlangsung di dalam satu siklus hidupnya. Dan akan terjadi pergantian generasi dari generasi tetrasporophyte atau sporophyte yang diploid (2n) menjadi generasi gametophyte haploid (1n) yang hidup bebas di alam (Free living). Tetapi ada juga dimana kedua fase tersebut ada bersamaan hidup bebas di alam. Apabila kedua generasi alga tersebut dalam penampilan/ penampakan talusnya terlihat sama disebut isomorphik dan jika berbeda disebut heteromorphik.
Dimana Siklus hidup Gracilaria sp. ini juga terjadi pada kebanyakan alga
merah, dimana akan melalui tiga generasi (trifasik) yaitu generasi tetrasporophyte
(2n) dan generasi gametophyte (1n) yang merupakan tanaman yang hidup bebas di
alam. Dan generasi karposporophyte tidak hidup bebas di alam (non living)
7
wujudnya kecil seperti bintil-bintil disebut cystocarp (2n), menyerupai parasit tetapi bukan parasit yang hidupnya menempel pada batang gametophyte betina.
Terjadinya cystocarp (2n) ini berawal dari peleburan antara gamet (1n) jantan dan betina (1n), terjadi di carpogonial branch yang ada trikogen. Setelah fertilisasi kemudian membentuk cystocarp yang didalamnya terdapat spora disebut carpospora. Sistokarp ini 2n yang tidak dapat hidup bebas dan tidak bergerak (bersifat parasit). Nanti saat cystocarp ini membuka dan karpospores ini keluar dilepaskan ke perairan kemudian karpospora ini akan menempel pada substrat yang cocok dan akan tumbuh dan berkembang menjadi individu yang baru yaitu tetrasporophyte. Tanaman tetrasporophyte ini setelah dewasa akan membentuk spora yang disebut tetraspora (2n), spora ini akan mengalami meosis, membela dan terjadi reduksi kromosom dari 2n menjadi 1n. Setelah mendapatkan substrat yang cocok maka ia akan tumbuh dan berkembang menjadi individu yang baru yaitu alga gametophyte jantan dan betina. Setelah dewasa menghasilkan gamet dan terjadi fertilisasi, membentuk sistokarp lagi dan seterusnya. demikian siklus hidup ini berlangsung di alam (Dawes 1981).
Gambar 2 Siklus hidup Gracilaria sp. (Dawson 1966)
8
2.3 Ekologi dan Daerah Penyebaran Rumput Laut Gracilaria sp.
Salah satu faktor yang cukup besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan rumput laut Gracilaria sp. adalah kondisi perairan terutama faktor fisika (cahaya, salinitas, suhu, pergerakan air, kecerahan dan kedalaman), kimia (pH, CO
2dan unsur hara) dan biologi perairan tanaman dan hewan epifit (Aslan 1998).
Setiap perubahan suhu cenderung mempengaruhi proses kimia yang terjadi pada jaringan tanaman. Suhu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi fotosintesis. Menurut Mubarak dalam Hartati dan Ismail (1990) bahwa suhu masih memegang peranan penting bagi pertumbuhan rumput laut. Selanjutnya dinyatakan bahwa suhu optimum bagi rumput laut Gracilaria sp. berkisar 20–
28
oC. Kesuburan alga sangat dipengaruhi oleh kadar garam. Rumput laut Gracilaria sp. bersifat euryhalin, artinya hidup dan tumbuh pada perairan dengan
kisaran salinitas yang luas antara 20 – 32 ppt (Aslan 1995).
Rumput laut Gracilaria sp. umumnya terdapat dalam jumlah besar pada kedalaman 0,5–10 m. Dalam hubungannya dengan intensitas cahaya maka kedalaman optimumnya 0,5 m. Rumput laut Gracilaria sp. yang ditanam di tambak tumbuh baik pada kedalaman 30–80 cm ( Sulistijo 1996).
Menurut Hoyle (1975) bahwa kisaran pH yang layak untuk pertumbuhan rumput laut Gracilaria sp. adalah 6–9 dan optimum pada kisaran 8,2–8,7.
Sedangkan Aslan (1995) menyatakan bahwa pH yang baik berkisar 8–8,5.
Pergerakan air juga sangat mempengaruhi kecepatan tumbuh rumput laut
Gracilaria sp. Gerakan air berperan penting dalam memperbaiki kondisi
pertukaran zat hara dan menghindari penempelan sedimen pada talus untuk
menunjang pertumbuhan, namun pergerakan air yang kuat dapat menghambat
9
pertumbuhan rumput laut Gracilaria sp. Trono (1988) mengemukakan bahwa pergerakan air yang optimal dalam budidaya rumput laut Gracilaria sp. adalah 0,08 – 0,17 m/dtk.
Proses fotosintesis tidak hanya dibantu oleh sinar matahari, tetapi juga oleh unsur hara. Unsur hara dalam perairan sangat tergantung pada pergerakan air. Selanjutnya dinyatakan bahwa penyerapan unsur hara dilakukan melalui seluruh permukaan talus (Aslan 1995). Unsur hara yang berperan penting dalam pertumbuhan rumput laut adalah fosfor, nitrogen, sulfur dan kalium yang sangat penting dalam pembentukan protein. Lebih lanjut dilaporkan bahwa unsur kalium juga penting dalam metabolisme sel, magnesium penting untuk pembentukan klorofil, dan besi selain sebagai pembentuk klorofil juga penting dalam proses pernapasan (Winarno 1990).
Menurut Anggadiredja (2008), wilayah sebaran rumput laut Gracilaria sp.
yang tumbuh alami (wildstock) terdapat di hampir seluruh perairan dangkal Laut Indonesia yang mempunyai rataan terumbu karang. Rumput laut Gracilaria sp.
dapat dibudidayakan di laut yang dekat dari muara sungai. Dinyatakan pula bahwa rumput laut Gracilaria sp. juga dapat dibudidayakan secara luas di tambak-tambak yang dapat diatur kondisi salinitas airnya antara 15–25
o/
oo.
2.4 Produksi Spora Rumput Laut
Menurut Rao and Reddy (1997) spora rumput laut Gracilaria sp. baik
tetraspora maupun karpospora dapat dikembangkan untuk budidaya dengan
memanfaatkan sifat reproduksi generatif melalui perkembangan spora yang
belum banyak dilakukan baik untuk jenis rumput laut Euchema maupun rumput
laut Gracilaria sp.
10
Pelepasan tetraspora dari rumput laut Gracilaria sp. dapat dipengaruhi oleh pencahayaan dan salinitas dimana jumlah tetraspora yang dilepas tertinggi terjadi pada intensitas penyinaran yang rendah, sebaiknya kondisi intensitas yang tinggi dapat menghambat jumlah pelepasan spora rumput laut Gracilaria sp.
(Friendlander dan Dawes 1984), salinitas ini sesuai dengan habitatnya.
Demikian juga fenomena yang terjadi pada pelepasan karpospora, intensif pada pencahayaan yang rendah dan salinitas yang sesuai dengan habitatnya (Friendlander dan Dawes 1984).
Faktor yang mempengaruhi penempelan dari spora hingga tumbuh menjadi talus seperti pH, salinitas, temperatur, intensits cahaya, aktif atau tidaknya spora, viskositas perairan, lapisan mikrofilm yang ada pada substrat, kekasaran substrat, kemampuan polarisasi spora terhadap substrat, dan kemampuan adhesi spora terhadap substra (Lobban dan Harrison 1994).
Keberhasilan tumbuhnya spora menjadi talus sangat dipengaruhi salinitas perairan setempat dimana spora jatuh dan melekat. Karena seperti kita ketahui berbagai jenis rumput laut Gracilaria sp. memiliki kisaran toleransi sendiri terhadap salinitas. Sulistijo (1996) mengatakan salinitas optimal untuk pertumbuhan rumput laut Gracilaria sp. adalah 25 ppt. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya rumput laut Gracilaria sp. lebih teradaptasi untuk daerah perairan laut dimana mengalir sungai hingga salinitasnya tidak terlalu tinggi.
2.5 Media Provasolis Enrich Seawater (PES)
Media Provasolis Enrich Seawater (PES) merupakan media kultur untuk
algae yang kaya dengan senyawa yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan
nutrient pada rumput laut Gracilaria sp., beberapa unsur pada media ini dapat
11
melengkapi kekurangan yang ada pada Sterrilized Sea Water (SSW). Medium ini diperkenalkan oleh Provasoli sekitar Tahun 1960-an dan telah dilakukan banyak modifikasi tahun-tahun berikutnya baik oleh media kultur maupun oleh beberapa ahli tentang media kultur algae (Andersen 2005).
2.6 Hama dan Penyakit
Menurut Yusuf (1991) faktor luar yang berpengaruh terhadap tanaman budidaya rumput laut baik secara langsung maupun tidak langsung adalah tanaman penempel, binatang penempel, ikan dan penyakit ice-ice. Tanaman penempel yang umum dijumpai diantaranya Hypnea, Ashantofora, Laurenchia, Lynbya dan Siproca. Jenis hama ini bersifat kompetitor, bahkan Lynbya ini
cukup mengganggu karena apabila dalam jumlah yang banyak dapat menutupi tanaman budidaya sehingga dapat menyebabkan rumput laut membusuk dan mati. Sugiarto (1978) menambahkan bahwa tanaman epifit dan hewan epifit dapat menimbulkan kompetisi ruang, makanan dan pecahannya yang dapat menutup permukaan talus tanaman, sehingga rumput laut membusuk dan akhirnya mati karena tidak dapat melakukan fotosintesis dan respirasi.
Hewan pemangsa adalah ikan herbivora, bulu babi dan penyu yang dapat
memakan talus sehingga talus menjadi rusak. Jenis ikan yang memakan rumput
laut yang ditanam antara lain ikan Baronang, ikan Berok-berok dan beberapa
jenis ikan herbivora lainnya. Bentuk dan akibat dari serangan hama ini, talus
rumput laut menjadi tumpul dan kurus. Selanjutnya ditambahkan bahwa
moluska juga termasuk hewan pemangsa rumput laut karena dapat memakan
spora dan menghambat pertumbuhan stadia muda rumput laut (Aslan 1995).
12
Selain gangguan hama, rumput laut juga sering diserang oleh penyakit
yang disebabkan oleh bakteri, virus dan jamur. Jenis penyakit yang sering
menyerang rumput laut adalah Ice-ice. Penyakit Ice-ice timbul karena adanya
perubahan kondisi lingkungan seperti arus, suhu, kecerahan dan perubahan
musim (Dotty and Alvarez 1975). Ditambahkan oleh Hoyle (1975) bahwa
penyakit ini biasanya menyerang pada saat terjadi kenaikan suhu yang cukup
tinggi yaitu lebih dari 30
oC. Gejala yang timbul akibat serangan penyakit ini
adalah pertumbuhan yang lambat dan terjadi perubahan warna menjadi pucat
atau warna tidak cerah, hampir seluruh talus pada beberapa cabang menjadi putih
dan membusuk dengan tingkat penyerangan yang terjadi dalam waktu yang
cukup lama.
13
III. METODE
3.1 Waktu dan Tempat
Penulisan tugas akhir ini disusun berdasarkan hasil kegiatan Pengalaman Kerja Praktik Mahasiswa (PKPM) yang dilaksanakan selama tiga bulan, dimulai 30 Januari sampai 30 April 2017, di Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Takalar, Sulawesi Selatan.
3.2 Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang digunakan selama kegiatan disajikan pada Tabel 1 dan Tabel 2.
Tabel 1 Bahan yang digunakan selama kegiatan
No Nama Bahan Spesifikasi Kegunaan
1 Air laut steril Salinitas 30 ppt Untuk media spora
2 Air tawar Steril Pembilas air tawar
3 Alkohol 70 % Sterilisasi ruang
4 Aluminium foil Merek diamond Pembungkus alat sebelum autoklaf
5 Aquades Steril Untuk sterilisasi alat
6 Betadin 0,1 ml Antiseptik
7 Pupuk PES 5 ml Untuk merangsang
pertumbuhan
8 Rumput laut Gracilaria sp. Sebagai organisme uji
Sumber : BPBAP Takalar 2017
14
Tabel 2 Alat yang digunakan selama kegiatan
NO Nama Alat Spesifikasi Kegunaan
1 Autoclave Pengatur daya listrik 220 VAC 50/60 Hz
Sterilisasi alat dan air media
2 Ac Ac ½ PK LG Pendingin ruangan
2 Baskom Bahan plastik kapasitas
2 liter
Media pemeliharan bibit planlet
3 Bak fiber kapasitas 0,5 m3, bak persegi ukuran 150 x 100 x 40 cm
Wadah aklimatisasi induk rumput laut
4 Botol duran 5000 ml Tempat penampungan air
5 Botol ukur 1000 ml Penyimpanan air laut steril
7 Erlenmeyer 250 ml Tempat larutan media
8 Gelas ukur 100 ml Pengukur bahan kimia
10 Handrefraktometer Skala terkecil 0-100 ppt
Pengukur salinitas
11 Tali PE No. 4 Tempat menempelnya spora
12 Cawan petri Kapasitas 20 ml Wadah pemeliharaan sampel 13 Papan baki Kapasitas 25 cm Tempat memotong talus
14 Mistar Kapasitas 30 cm Ukur panjang talus
15 Pinset Kapasitas 16 cm Sebagai pengambilan talus 16 Pipet ukur Kapasitas 1 ml Pengambilan larutan
17 Perangkat aerasi 1 set Penyuplai oksigen
18 Pisau Scalpel No.22 Pemotongan talus
19 Pure it Kapasitas ruang
transparan 9 liter dan kapasitas atas pure it 5 liter
Sterilisasi air laut
20 Spatula 5 x 200 mm Pengaduk bahan kimia
21 Thermometer 0-50oC Untuk mengukur suhu
22 Timbangan analitik Kapasitas 220 g Penimbangan bahan kimia
23 Oven Suhu 121 oC Sterilisasi peralatan
24 25
Mikroskop Saringan mesh
Mikroskop jenis Binokuler dan streo Mesh size 100 (100 lobang per cm)
Pengamatan spora dan planlet Sebagai tempat meletakkan eksplan
25 Sedgewick V. 1,0 ml, P. 50×1 mm, L. 20×1mm, Tinggi 1 mm
Sebagai penghitungan spora
Sumber :BPBAP Takalar 2017
15
Adapun kandungan PES untuk 1 liter aquadest dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 3. Kandungan pupuk Provasoli Enrich Seawater (PES)
A. Enrichment stocksolution
Nama Bahan Larutan stock
(g/l dH2O)
Jumlah yang digunakan
Tris base - 5,0 g
NaNO3 - 3,5 g
Na2 β-gliceropHospat - 250 ml
Trance –EDTA Solution Lihat resep 25 ml
Iron-EDTA Solution Lihat resep 0,5 g
Thamin (vitaminB1) - 0,5 mg
Biotin (vitamin H) 0,05 1 ml
Cyanocobalamn ( vitamin 12)
0,05 1 ml
B. Iron –EDTA Solution
Na2EDTA.2H2O - 0,841 g
Fe(NH4)2(SO4)2 6H2O - 0,702 g
C. Trace Metal solution
Na2EDTA 2H2O - 12,74 g
FeCl36H2O - 0,484 g
H3BO3 - 11,439 g
MnSO4 4H2O - 1,624 g
CoSO4 7H2O - 0,048 g
ZnSO4 7H2O - 0,220 g
Sumber : BPBAP Takalar2017
16
3.3 Metode Pengambilan Data
Tugas akhir ini disusun berdasarkan data hasil kegiatan selama Pengalaman Kerja Praktik Mahasiswa (PKPM), dengan metode pengambilan data secara eksprimen untuk mengumpulkan data berupa:
1. Data Primer
Data primer diperoleh dari pengamatan langsung, wawancara dan hasil pembimbing lapangan dilaboratorium kultur jaringan rumput laut BPBAP Takalar
2. Data Sekunder
Untuk melengkapi data dikumpulkan data sekunder berupa informasi dari instansi, majalah, dan referensi yang berkaitan dengan judul tugas akhir.
3.4 Metode Pelaksanaan 3.4.1. Persiapan Wadah
Untuk melakukan penghitungan total pelepasan spora menggunakan wadah
berupa cawan petri dan mengisi air laut sebanyak 10 ml dengan salinitas 30 ppt,
Wadah yang digunakan dalam pemeliharaan planlet adalah berupa baskom
plastik sebagai wadah penampung media yang berukuran panjang 30 cm dan
lebar 20 cm yang telah dilengkapi dengan substrat berupa flat yang telah
dililitkan tali polyethylene PE no. 4, posisi substrat berada didasar media dan
diatas substrat dilapisi dengan saringan meshsize 100 (100 lobang per cm)
sebagai tempat meletakkan eksplan rumput laut Gracilaria sp. dan mengisi air
laut sebanyak 1000 ml dengan salinitas 30 ppt. Sebelum kedua wadah tersebut
digunakan terlebih dahulu dibersikan menggunakan deterjen dan dibilas
menggunakan air tawar dengan sistim air mengalir dan membilas dengan
17
selanjutnya dibilas dengan aquades ditiriskan sampai kering. Setelah wadah kering, disterilisasi kembali menggunakan oven pada suhu 70
oC selama 15 menit dengan tekanan satu atm. Wadah yang telah disterilisasi dipindahkan kedalam laminar air flow agar benar-benar steril dan tidak terkontaminasi oleh bakteri atau jamur.
3.4.2 Persiapan Air Laut
Sterilisasi air laut dilakukan melalui penyaringan dengan menggunakan saringan kapas dan pure it. Kemudian dimasukkan kedalam botol ukur yang berukuran satu liter lalu ditutup dengan penutupnya. Setelah itu, dimasukkan kedalam autoclave selama 15 menit pada suhu 121
0C dengan tekanan satu atm.
Pembuatan Pupuk Provasoli Enrich Seawater (PES)
Media Provasoli Enrich Seawater (PES) merupakan media kultur untuk algae yang kaya dengan senyawa yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan nutrient pada rumput laut Gracilaria sp., dengan adanya penambahan pupuk PES kedalam media sebagai nutrient untuk pertumbuhan talus. Untuk pembuatan pupuk PES dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel. 4 Bahan pupuk Provasoli Enrich Seawater (PES)*
No. Bahan Volume
1 Aquabides 500 ml
2 NaNo3 3,5 g
3 Na2 glycero fosfat 10 ml
4 Fe EDTA 25 ml
5 Trace metals solution 25 ml
6 B12 0,1 ml
7 Thiamine 1 ml
8 Biotin O,1 ml
9 Trace base 5 g
Sumber : BPBAP Takalar 2017
*= semua bahan dihomogenkan dengan larutan hingga tercampur kemudian
ditambahkan aquabides hingga volume pupuk menjadi 1000 ml.
18
3.4.3 Persiapan Eksplan Rumput Laut Gracillaria sp.
Seleksi bibit bertujuan untuk mendapatkan rumput laut Gracilaria sp.
yang baik, agar penumbuhan spora dapat tumbuh dengan baik. Seleksi bibit harus dilihat dari rumput laut yang mempunyai kantong spora besar, tidak terkena penyakit dan tidak terdapat parasit yang menempel.
Tehnik Pemotongan Talus pada Sistokarp
Rumput laut Gracilaria sp. yang akan dijadikan bakal spora adalah mempunyai kriteria: talusnya bersih, warna agak kekuningan dan masih terdapat tonjolan-tonjolan kecil berbentuk bintik berupa kantong spora (sistokarp) berwarna coklat cerah dengan diameter yang relatif lebih besar di sepanjang talus dewasa dan tidak memiliki lumut yang menempel. Talus yang terpilih dipotong dengan menggunakan pisau bedah. Pemotogan talus kurang lebih 1,5-2 cm dan terdapat empat kantong spora yang berukuran besar dan seragam. Gambar rumput laut Gracilaria sp. yang mengandung sistokarp, dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3 Rumput laut Gracilaria sp. subur/fertile (BPBAP Takalar,2017) Keterangan : C = Kantong spora (sistokarp), dan T = Talus
C
19
Sterilisasi Eksplan
Eksplan yang sudah terpilih untuk produksi spora disterilisasi dengan cara dimasukkan kedalam erlenmeyer yang berisi air laut steril lalu ditutup dengan menggunakan aluminium foil, dan dihomogenkan selama 3 menit sampai lumut dan kotoran yang masih menempel pada rumput laut Gracilaria sp. hilang.
Kemudian menyaring eksplan dengan menggunakan tapis teh, kegiatan tersebut dilakukan sebanyak 2 kali. Kemudian memasukkan eksplan yang telah ditapis kedalam erlenmeyer volume 100 ml dengan dosis betadin 1 %, selanjutnya ditutup dengan aluminium foil, lalu dihomogenkan eksplan selama 3 menit.
Selanjutnya eksplan ditiriskan dengan menggunakan tapis teh untuk membersihkan dari sisa-sisa betadin, kemudian dibilas kembali dengan air steril sebanyak dua kali untuk meyakinkan rumput laut tersebut steril dari betadin dengan menggunakan tissue dan ditebar kedalam wadah yang telah dilengkapi substrat berupa tali polyethylene (PE).
Pemaparan Thalus Gracilaria sp.
Eksplan yang telah disterilisasikan menggunakan tissue sebagai pemaparannya, untuk melakukan perhitungan pelepasan spora pada wadah cawan petri masing masing diperuntukkan untuk perlakuan lama pemaparan yang berbeda, kemudian setiap wadah ditebar satu eksplan per wadah berupa cawan petri yang telah berisi air laut steril sebanyak 10 ml dengan salinitas 30 ppt.
Untuk menerapkan perlakuan yang berbeda, wadah dipersiapkan sebanyak
16 buah, masing masing diperuntukkan untuk perlakuan lama pemaparan 0 menit
20
(A) sebagai kontrol, 5 menit (B), 15 menit (C), dan 30 menit (D) dan diulang empat kali. Tata letak penempatan cawan petri dapat dilihat pada Gambar 4.
Gambar 4 Tata letak penempatan cawan petri lama pemaparan talus rumput laut Gracilaria sp.
3.4.4 Pemeliharaan Spora pada Wadah Substrat
Eksplan yang telah disterilkan ditebar kedalam wadah yang dilengkapi
dengan substrat berupa tali polyethylene (PE) diatas saringan meshsize 100,
Kemudian ditutup dengan plastik transparan. Kondisi ini dipertahankan sampai
terjadi pelepasan spora (umumnya berlangsung tujuh hari). Spora yang sudah
lepas dari sistokarp-nya kemudian di pelihara sampai sporanya menempel dan
berkembang pada substrat (tali PE). Spora yang telah menempel pada tali, kira-
kira umur 1-2 minggu dipindahkan. Eksplan rumput laut Gracilaria sp. yang
tersisa dipindahkan kewadah yang lain untuk mencegah tumbuhnya eksplan yang
berwarna pucat. Pada proses pemeliharaan spora, tahap pergantian air dilakukan
21
satu kali seminggu atau tergantung kondisi air, pemeliharaan ini berlangsung selama 2-2,5 bulan, dimana rumput laut Gracilaria sp. muda sudah berkembang.
Perhitungan Spora pada Cawan Petri
Eksplan rumput laut Gracilaria sp. yang telah ditebar pada cawan petri dihitung jumlah spora dengan menggunakan alat sedgewick, teknik pengambilan sampel dilakukan dengan mengambil sampel sebanyak 1 ml spora dalam 10 ml perwadah, Perhitungan spora dilakukan dengan menggunkan mikroskop pembesaran 4×10. Teknik mengambil sampel sebanyak 10 titik dan setiap titiknya terdapat 6 lubang pada alat sedgewick dapat dilihat pada lampiran 2.
3.4.5 Pemeliharaan Rumput Laut Gracilaria sp. muda (Planlet)
Ciri-ciri rumput laut Gracilaria sp. muda adalah munculnya tunas yang merupakan talus (batang semu) yang tumbuh diatas substrat berupa tali polyethylene (PE). Pemeliharaan rumput laut Gracillaria sp. muda dilakukan
selama dua bulan dengan menggunakan Provasoli Enrich Seawater (PES) sebagai sumber nutrien, kondisi air sama dengan air di wadah pelepasan spora yaitu suhu 25
oC dan intensitas cahaya 500-1000 lux.
3.5 Parameter yang Diamati dan Analisis Data 3.5.1 Parameter yang diamati
Adapun parameter yang diamati dalam praktik ini adalah :
1. Kuantitas pelepasan spora terhadap lama pemaparan yang berbeda 2. Jumlah spora yang ditebar di wadah pemeliharaan
3. Total pelepasan spora di wadah pemeliharaan 4. Jumlah spora yang melekat
5. Derajat pelekatan spora
6. Spora yang menjadi planlet
22
7. Derajat kelangsungan hidup planlet
8. Pemantauan kualitas air media pemeliharaan (suhu, pH, dan salinitas) Semua teknik pengukuran dan pengambilan sampel terhadap parameter yang terpantau telah dijelaskan sebelumnya.
3.5.2 Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif, kuantitatif dan kualitatif yang bersumber pada data primer dan data sekunder yang didapatkan selama kegiatan praktik. Rumus-rumus yang digunakan adalah rumus yang dikemukakan oleh Lideman (2017), untuk mengetahui kepadatan spora pada eksplan maka dapat digunakan rumus :
𝑆𝑣(𝑠𝑝𝑜𝑟𝑎 𝑚𝑙 ⁄ ) = 𝑆𝑥
𝑆𝑞 × 1000
𝑆𝑐 (𝑠𝑝𝑜𝑟𝑎 𝑐𝑦𝑡𝑜𝑐𝑎𝑟𝑝 ⁄ ) = × 𝑆𝑣 × 𝑉 𝑐 Keterangan :
Sx : Rata-rata Spora
Sq : Jumlah Lubang yang dihitung Sv : Jumlah Spora/ml
V : Volume Wadah C : Jumlah cystocarp Sc : Jumlah Spora/sistokarp
Total pelepasan spora = Jumlah spora /sistokarp X Padat tebar eksplan Derajat pelekatan spora (%) =Jumlah spora yang melekat
Total pelepasan spora X 100 % Spora yang menjadi planlet =Spora yang menjadi planlet
Jumlah spora yang melekatX 100 % Derajat kelangsungan hidup (%) =Spora yang menjadi planlet
Jumlah spora yang melekatX 100 %