• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel-Variabel Penelitian. 1. Variabel Tergantung : Penyesuaian Diri

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel-Variabel Penelitian. 1. Variabel Tergantung : Penyesuaian Diri"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

24

1. Variabel Tergantung : Penyesuaian Diri 2. Variabel Bebas : Harga Diri Personal

Harga Diri Kolektif

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian 1. Penyesuaian diri

Penyesuaian diri dalam penelitian ini akan diukur menggunakan alat ukur yang dikembangkan berdasarkan aspek-aspek yang dikemukakan oleh Baker dan Siryk (Dittman, McKinney, & Trimble, 1994) antara lain penyesuaian diri akademik, penyesuaian diri sosial, penyesuaian emosional pribadi, dan kelekatan. Hasil skor yang diperoleh dari jawaban responden terhadap skala penyesuaian diri akan memberikan gambaran tentang kemampuan penyesuaian diri responden. Semakin tinggi skor yang diperoleh maka semakin tinggi penyesuaian diri responden. Sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh responden, maka semakin rendah penyesuaian diri responden.

2. Harga diri

Harga diri dalam penelitian ini terdiri dari dua lingkup yaitu harga diri personal dan harga diri kolektif.

Harga diri dalam penelitian ini akan diukur menggunakan skala yang

disusun berdasarkan aspek harga diri personal yang dikemukakan oleh

(2)

Rosenberg (Tafarodi dan Milne, 2002) antara lain self acceptance dan self asssment. Hasil skor yang diperoleh dari jawaban responden terhadap skala harga diri personal akan memberikan gambaran tentang harga diri personal responden. Semakin tinggi skor yang diperoleh maka semakin tinggi harga diri personal responden. Sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh responden, maka semakin rendah harga diri personal responden.

Sedangkan harga diri kolektif dalam penelitian ini akan diukur menggunakan skala yang disusun berdasarkan aspek harga diri kolektif yang dikemukakan oleh Luhtanen dan Crocker (1992) antara lain harga diri keanggotaan, harga diri kolektif pribadi, harga diri kolektif publik, dan pentingnya identitas. Hasil skor yang diperoleh dari jawaban responden terhadap skala harga diri kolektif akan memberikan gambaran tentang harga diri kolektif responden. Semakin tinggi skor yang diperoleh maka semakin tinggi harga diri kolektif responden. Sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh responden, maka semakin rendah harga diri kolektif responden.

C. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian ini melibatkan mahasiswa baru semester pertama atau kedua angkatan 2018/2019 di Universitas Islam Indonesia. Subjek terdiri dari laki-laki dan perempuan.

D. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode skala.

Skala yang digunakan adalah skala penyesuaian diri (sosial dan akademik) dan

skala harga diri (personal dan kolektif).

(3)

1. Skala Penyesuaian Diri

Skala penyesuaian diri menggunakan alat ukur yang telah dimodifikasi dari Student Adaptation to College Questioner (SACQ) oleh Baker dan Siryk (1984) yang terdiri dari 67 aitem pernyataan. Adapun blue print skala penyesuaian diri akademik dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1

Distribusi Aitem Penyesuaian Diri sebelum uji coba

No Aspek Subskala Butir aitem jumlah

1 Penyesuaian diri akademik

Motivation 5, 19, 23, 32, 50, 58

6

Application 3, 17, 29, 44 4

Performance 6, 10, 13, 21, 25, 27, 39, 41, 52

9

Academic Environment 36, 43, 54, 62, 66

5

2 Penyesuaian diri social

General 1, 8, 9, 18, 37, 46, 65

7

Other People 4, 14, 33, 42, 48, 56, 63

7

Nostalgia 22, 51, 57 3

Social Enviroment 16, 26, 30 3 3 Penyesuaian diri

emosional pribadi

psikologis 2, 7, 12, 20, 31, 38, 45, 49, 64

9

fisik 11, 24, 28, 35,

40, 55

6

4 Kelekatan Umum 15, 60, 61, 67 4

Universitas 16, 34, 47, 59 4

Jumlah 67

(4)

Teknik penilaian skala penyesuaian diri yang digunakan mengacu pada summated ranking dari skala likert yang meliputi 7 alternatif jawaban, yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Agak Setuju (AS), Ragu-ragu (R), Agak Tidak Setuju (ATS), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS).

Aitem favourable dengan jawaban Sangat Setuju (SS) responden akan memperoleh skor 7, jawaban Setuju (S) responden akan memperoleh skor 6, jawaban Agak Setuju (AS) responden akan memperoleh skor 5, jawaban Ragu-ragu (R) responden akan memperoleh skor 4, jawaban Agak Tidak Setuju (ATS) responden akan memperoleh skor 3, jawaban Tidak Setuju (TS) responden akan memperoleh skor 2, dan Sangat Tidak Setuju (STS) responden akan memperoleh skor 1. Sedangkan sebaliknya aitem unfavourable dengan jawaban Sangat Setuju (SS) responden akan memperoleh skor 1, jawaban Setuju (S) responden akan memperoleh skor 2, jawaban Agak Setuju (AS) responden akan memperoleh skor 3, jawaban Ragu-ragu (R) responden akan memperoleh skor 4, jawaban Agak Tidak Setuju (ATS) responden akan memperoleh skor 5, jawaban Tidak Setuju (TS) responden akan memperoleh skor 6, dan Sangat Tidak Setuju (STS) responden akan memperoleh skor 7.

2. Skala Harga diri a. Harga diri personal

Skala harga diri personal akan menggunakan skala harga diri personal

yang dikembangkan oleh Rosenberg (Tafarodi dan Milne, 2002) terdiri

dari 5 aitem pernyataan favourable dan 5 aitem pernyataan unfavourbale

(5)

dengan total 10 aitem pernyataan. Adapun blue print skala harga diri personal dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2

Distribusi Aitem harga diri personal Sebelum Uji Coba

No. Aspek Nomor Butir Jumlah

1 Self Acceptance 1, 2*, 6*, 8*, 10 5

2 Self Assesmant 3, 4, 5*, 7, 9* 5

Total 10

Keterangan: (*) unfavourable

Teknik penilaian skala harga diri personal yang digunakan mengacu pada summated ranking dari skala likert yang meliputi 4 alternatif jawaban, yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Aitem favourable dengan jawaban Sangat Setuju (SS) responden akan memperoleh skor 4, jawaban Setuju (S) responden akan memperoleh skor 3, jawaban Tidak Setuju (TS) responden akan memperoleh skor 2, dan Sangat Tidak Setuju (STS) responden akan memperoleh skor 1. Sedangkan sebaliknya aitem unfavourable dengan jawaban Sangat Setuju (SS) responden akan memperoleh skor 1, jawaban Setuju (S) responden akan memperoleh skor 2, jawaban Tidak Setuju (TS) responden akan memperoleh skor 3, dan Sangat Tidak Setuju (STS) responden akan memperoleh skor 4.

b. Harga diri kolektif

Skala harga diri kolektif akan menggunakan skala Collective Self-

Esteem (CSE) Scale oleh Luthtanen dan Crocker (1992). Skala harga diri

kolektif terdiri dari 8 aitem favourable dan 8 aitem unfavourable dengan

(6)

total 16 aitem pernyataan. Adapun blue print skala harga diri kolektif dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 3

Distribusi Aitem Skala harga diri kolektif Sebelum Uji Coba

No. Aspek Nomor Butir Jumlah

1 memberships self esteem

1, 5*, 9, 13* 4

2 private collective self esteem

2*, 6, 10*, 14 4

3 Public Collective Self Esteem

3, 7*, 11, 15* 4

4 importance identity 4*, 8, 12*, 16 4

Total 16

Keterangan: (*) unfavourable

Teknik penilaian skala harga diri kolektif yang digunakan mengacu pada summated ranking dari skala likert yang meliputi 7 alternatif jawaban, yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Agak Setuju (AS), Ragu- ragu (R), Agak Tidak Setuju (ATS), Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Aitem favourable dengan jawaban Sangat Setuju (SS) responden akan memperoleh skor 7, jawaban Setuju (S) responden akan memperoleh skor 6, jawaban Agak Setuju (AS) responden akan memperoleh skor 5, jawaban Ragu-ragu (R) responden akan memperoleh skor 4, jawaban Agak Tidak Setuju (ATS) responden akan memperoleh skor 3, jawaban Tidak Setuju (TS) responden akan memperoleh skor 2, dan Sangat Tidak Setuju (STS) responden akan memperoleh skor 1.

Sedangkan sebaliknya aitem unfavourable dengan jawaban Sangat Setuju

(SS) responden akan memperoleh skor 1, jawaban Setuju (S) responden

akan memperoleh skor 2, jawaban Agak Setuju (AS) responden akan

memperoleh skor 3, jawaban Ragu-ragu (R) responden akan memperoleh

(7)

skor 4, jawaban Agak Tidak Setuju (ATS) responden akan memperoleh skor 5, jawaban Tidak Setuju (TS) responden akan memperoleh skor 6, dan Sangat Tidak Setuju (STS) responden akan memperoleh skor 7.

E. Validitas dan Reliabilitas 1. Validitas

Azwar (Matondang, 2009) mengartikan validitas yaitu sejauh mana ketepatan dan kecermatan dari suatu alat ukur dalam melakukan pengukuran.

Suatu tes dikatakan valid apabila alat tersebut bisa mencerminkan secara tepat fakta atau keadaan sesungguhnya dari apa yang akan diukur.

Terdapat beberapa uji validitas alat ukur yang digunakan seperti validitas isi, validitas konstruk dan lainnya. Namun dalam penelitian ini menggunakan validitas konstruk. Validitas konstruk merupakan validitas yang menunjukkan sejauh mana alat ukur mengungkap suatu trait atau konstruk teoritis yang hendak diukurnya (Azwar, 2012). Validitas adalah suatu ukuran yang menentukan tingkat kesahihan suatu instrument. Semakin tinggi tingkat validitas suatu instrument, maka semakin sahih/valid suatu instrument dan berarti mampu mengukur atau mengungkap data dari variable yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya suatu validitas instrument menunjukkan sejauhmana data yang dikumpulkan tidak menyimpang dari gambaran tentang variable yang dimaksudkan (Arikunto, 2002).

Hal penting untuk dijadikan pertimbangan dalam intrepretasi koefisien

validitas adalah sejauhmana skor tes yang bersangkutan dapat bermanfaat

dalam pengambilan keputusan. Koefisien validitas sekitar angka 0,50 lebih

(8)

dapat diterima dan dianggap memuaskan disbanding koefisien yang kurang dari 0,3 biasanya dianggap tidak memuaskan (Azwar, 2012). Proses validitas menggunakan metode statistik yang dilakukan didasarkan pada program SPSS versi 23.0.

2. Reliabilitas

Matondang (2009) mengartikan reabilitas sebagai sejauh mana hasil dari suatu pengukuran bisa dipercaya. Selama aspek yang diukur tidak berubah, bila hasil pengukuran yang dilakukan pasa suatu kelompok mendapatkan hasil yang relatif sama maka alat ukur tersebut bisa dipercaya.

Tinggi rendahnya reliabilitas ditunjukaan oleh suatu angka yang

disebut nilai Koefisienan realibilitas (rxx’). Koefisienan realibilitas (rxx’)

berada dalam rentang angka dari 0 sampai dengan 1.00. Reliabilitas alat

ukur dikatakan tingggi jika nilai koefisien reliabilitas semakin mendekati

angka 1.00 (Azwar, 2012). Jika nilai alpha < 0.50 maka reliabilitas rendah,

jika nilai alpha 0.50 – 0.70 maka reliabilitas moderat, jika nilai alpha 0.70 –

0.9 maka reliabilitas tinggi dan jika nilai alpha > 0.9 maka reliabilitas

dikatakan sempurna atau sangat tinggi tingkat reliabel alat ukur yang akan

digunakan. Uji reliabilitas terhadap skala ini menggunakan teknik Alpha

Cronbach pada program Statistical Package for Social Science (SPSS) 23.0

for windows.

(9)

F. Metode Analisis Data

Analisis data digunakan untuk membuktikan hipotesis dalam penelitian. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji korelasi dan sebelum dilakukan uji hipotesis, akan dilakukan uji asumsi, berupa uji normalitas dan linieritas. Kemudian untuk uji hipotesis menggunakan teknik analisis regresi linier berganda. Analisis regresi linier berganda adalah regresi linier untuk menganalisis besarnya hubungan dan pengaruh variable independen yang jumlahnya lebih dari satu variable (Suharyadi dan Purwanto, 2004).

Perhitungan analisis data dilakukan dengan menggunakan bantuan program

Statistical Package for Social Science (SPSS) 23.0 for windows sebagai alat

bantu analisis secara statistik.

Referensi

Dokumen terkait

disertai kelelahan, mudah memar, pendarahan kulit dan mukosa. Pada 50% kasus yang dilaporkan ditemukan pembesaran: hati, limpa dan permukaan kelenjar getah bening,

Bab dua, merupakan bab teoritis yang mendeskripsikan mengenai narkotika dan tanggung jawab pidananya bagi anak di bawah umur dilihat dari perspektif hukum Islam dan

(3) Penulis menawarkan sebuah gagasan yang berlandaskan teori-teori terdahulu yakni enam kontinum dalam Transgender Counseling; (4)Melalui gagasan yang ditawarkan

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pendampingan bagi lanjut usia dalam menuju lanjut usia sejahtera di Unit Rehabilitasi Sosial “Wiloso Wredho”

4.5.6 Analisis Dinamik Peran Kelembagaan dan Tindakan Kolektif Untuk Peningkatan Daya Saing Kopi dalam

Adapun hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada pengaruh yang signifikan terapi SEFT (spiritual emotional freedom technique) dalam menurunkan

Setelah itu pengguna tinggal memilih button yang tersedia untuk masuk ke menu utama.Setelah pengguna memasukkan nama ke menu login, akan muncul tampilan menu utama,

18/16/PBI/2016 pada Bab II bagian keempat, tentang pembiayaan tambahan (top up) atau sebagai pembiayaan baru berdasarkan properti yang masih menjadi agunan KP atau PP