51
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Deskripsi Kasus
PT. XYZ Indonesia merupakan perusahaan informasi teknologi yang terbesar di Indonesia dimana PT. XYZ Indonesia memfokuskan penjualan produknya pada perangkat lunak. PT. XYZ Indonesia berlokasi di gedung sentral senayan I. PT. XYZ Indonesia memulai operasional perusahaannya setelah mengerti benar bahwa pasar yang ada di Indonesia ini sangat antusias terhadap produk dari XYZ itu sendiri, yaitu perangkat lunak untuk menyimpan data atau lebih dikenal dengan database. Seiring dengan berjalannya waktu PT. XYZ Indonesia menjadi perusahaan yang besar untuk industry informasi teknologi di Indonesia. Pada tahun 1998, terjadi krisis financial di Indonesia dimana dampak krisis ini tidak hanya terjadi di Indonesia melainkan terjadi hampir di seluruh kawasan Asia. Krisis ini pun berdampak besar terhadap perusahaan besar perangkat lunak ini.
Terjadinya krisis financial ini membawa dampak pada PT. XYZ Indonesia untuk beralih strategi operasi untuk mempertahankan perusahaan agar tetap bertahan di dalam kondisi yang buruk ini. Dampak terbesar yang terjadi pada PT. XYZ Indonesia adalah pada strategi operasional perusahaan karena dari sisi operasional perusahaan yang memiliki pengeluaran atau cost yang paling tinggi. Dari situlah manajemen dari PT. XYZ Indonesia harus melakukan efisiensi dan optimalisasi
terhadap perusahaan dari sisi operasional agar PT. XYZ Indonesia mampu menghadapi krisis financial yang terjadi di Indonesia.
Kasus ini membahas perjalanan perusahaan PT. XYZ Indonesia dari tahun 1995 sampai dengan 1998, bagaimana perusahaan tersebut mampu beralih strategi operasi dengan cepat, mengatur strategi operasional perusahaan, serta proses implementasi strategi tersebut.
Bapak Adi Juwono Rusli selaku Managing Director pada saat itu menghadapi dilemma yang cukup berat dalam mengubah strategi operasi perusahaan secara besar-besaran dimana strategi operasi perusahaan yang diubah ini harus benar-benar membawa dampak positif pada perusahaan ketika terjadi krisis keuangan di Indonesia.
5.1.1 Skenario Kasus
Pada tahun 1997 merupakan tahun yang baik bagi PT. XYZ Indonesia dalam menjalankan bisnis informasi teknologi di Indonesia. Kehadiran PT. XYZ Indonesia pada pasar Indonesia cukup diterima dengan baik, dan pada saat itu PT. XYZ Indonesia memiliki cukup banyak pelanggan dan produk-produk yang dijual oleh PT. XYZ Indonesia cukup laku di pasar Indonesia.
Adi Juwono Rusli sebagai managing director XYZ Indonesia memiliki kapabilitas dalam mengatur strategi operasional perusahaan. Adi melihat bahwa peluang untuk memasarkan produk-produk XYZ di Indonesia sangat luas dan permintaan terhadap produk XYZ sendiri cukup tinggi. Hal ini menyebabkan XYZ
Indonesia bertumbuh dengan cepat dan memiliki pertumbuhan bisnis yang cukup cepat.
Pada kuartal 3 tahun 1997 tepatnya dimana terjadi krisis keuangan yang melanda Asia dan begitu pula terjadi di Indonesia, XYZ Indonesia mengalami dampak terhadap bisnisnya. Tampak dari menurunnya penjualan produk-produk PT. XYZ Indonesia disamping juga mengalami kesulitan di dalam melakukan penagihan terhadap para pelanggannya. Hal tersebut secara langsung banyak diakibatkan karena menurunnya nilai mata uang Rupiah terhadap US dollar. Selain itu juga permintaan yang sebelumnya cukup banyak menjadi menurun secara signifikan dan pada saat itu hampir semua pelanggan XYZ Indonesia melakukan pembatalan atau menunda semua proyek yang berkaitan dengan informasi teknologi.
Pada situasi dan kondisi inilah Bapak Adi Rusli harus memutuskan untuk menata ulang strategi perusahaan baik strategi bisnis perusahaan maupun strategi operasional perusahaan. Hal yang terlintas pertama kali adalah mengubah strategi operasi perusahaan dengan melakukan efisiensi biaya operasional perusahaan dan memperbaiki proses-proses yang ada di dalam perusahaan yang dirasa dapat mempengaruhi kondisi bisnis perusahaan.
5.1.2 Perubahan Mata Uang Rupiah terhadap Mata Uang US
Dollar
Krisis keuangan Asia membawa dampak perubahan yang cukup signifikan terhadap kegiatan operasional perusahaan PT. XYZ Indonesia, dimana perusahaan
tersebut menjual seluruh produknya dalam mata uang Rupiah. Pada tahun 1997, mata uang Indonesia melemah drastis terhadap mata uang US Dollar. Hal ini menyebabkan PT. XYZ Indonesia mengalami kemunduran dalam mengembangkan bisnis mereka terutama dalam hal penjualan dimana sebelumnya banyak sekali proyek yang didapat namun pada saat krisis terjadi banyak proyek mereka menjadi tertunda bahkan ada yang dibatalkan untuk direalisasikan.
Gambar 5.1. Pertumbuhan Pendapatan PT. XYZ Indonesia (1995 – 2000)
Dari tabel perubahan kurs mata uang Rupiah terhadap US Dollar (Tabel 5.1) terlihat adanya perubahan kurs yang signifikan pada tahun 1997 dan tahun 1998. Dimana pada tahun 1997, terlihat bahwa mata uang Rupiah mencapai titik tertinggi pada nilai Rp 4.650,-. Sedangkan pada tahun 1998, terlihat bahwa mata uang Rupiah mencapai titik tertingginya yaitu dengan nilai Rp 14.900,-. Sedangkan dari grafik pertumbuhan pendapatan PT. XYZ Indonesia (Gambar 5.1) terlihat terjadinya penurunan drastis pertumbuhan bisnis. Ini membuktikan bahwa perubahan kurs mata uang ini sangat mempengaruhi pendapatan PT. XYZ Indonesia.
PT. XYZ Indonesia menjadi kalang kabut dalam mengatur strategi operasi mereka karena dari sisi mata uang Rupiah yang tidak stabil dan membuat penjualan produk-produk PT. XYZ Indonesia tertekan oleh fluktuasi kurs mata uang itu sendiri
dan di sisi lain PT. XYZ Indonesia harus melakukan perubahan strategi operasinya untuk bisa bertahan dalam kondisi tersebut.
Pada tahun 1997 kuartal 3, PT. XYZ Indonesia dituntut untuk mampu mengatasi dengan cepat perubahan kurs mata uang tersebut sehingga operasional perusahaan tidak berangsur-angsur menyebabkan pertumbuhan bisnis mereka juga ikut anjlok. Memang perubahan kurs mata uang Rupiah terhadap US Dollar ini membuat hampir seluruh perusahaan di Asia, khususnya PT. XYZ Indonesia menjadi was-was dan bisnisnya menjadi serba tidak pasti.
PT. XYZ Indonesia pun harus mengambil langkah konkrit terhadap perubahan mata uang Rupiah terhadap mata uang US Dollar ini. Langkah konkrit yang dilakukan oleh PT. XYZ Indonesia untuk mengatasi hal ini adalah dengan melakukan perubahan aturan dalam melakukan penjualan produk-produk mereka dengan mata uang US Dollar. Sebenarnya PT. XYZ Indonesia dapat mengambil langkah lain seperti menaikkan harga produk-produk mereka. Tetapi langkah tersebut terlalu beresiko untuk diambil karena perubahan drastis pada mata uang Rupiah terhadap US Dollar. Hal tersebut membuat demand para pelanggan PT. XYZ Indonesia menjadi ikut turun dan kenaikan harga ini tidak mungkin untuk diterapkan.
Selain itu karena PT. XYZ Indonesia menjadi bagian dari XYZ Corporation yang terletak di Unites States membuat PT. XYZ Indonesia tidak dapat menaikkan harga begitu saja karena harus melakukan pertanggungjawaban dan mendapatkan persetujuan dari XYZ Corporation. Hal ini dapat dilihat dari hubungan struktur organisasi PT. XYZ Indonesia dengan XYZ Corporation.
5.1.3 Hubungan XYZ Indonesia dengan XYZ Corporation
XYZ Indonesia merupakan bagian dari struktural XYZ Corporation, hal ini membuat XYZ Indonesia harus melaporkan segala kegiatan XYZ Indonesia kepada XYZ Corporation. XYZ Indonesia masuk di dalam divisi Asia Pasific XYZ Corporation dan ini membuat XYZ Corporation harus memimpin dalam pengambilan keputusan strategi yang dilakukan oleh XYZ Indonesia.
Pada saat krisis ekonomi di Asia terjadi, PT. XYZ Indonesia pun harus melakukan pelaporan seluruh perubahan yang terjadi di Indonesia kepada XYZ Corporation. Perubahan yang terjadi seperti perubahan demand terhadap para pelanggannya, perubahan nilai kurs mata uang Rupiah terhadap mata uang US Dollar dan perubahan strategi operasi yang dilakukan PT. XYZ Indonesia.
Hal ini terjadi karena PT. XYZ Indonesia masih di bawah struktur organisasi XYZ Corporation dimana PT. XYZ Indonesia masih di bawah Oracle APAC (Asia-Pacific) division. Bagan organisasi XYZ Corporation dapat menggambarkan hubungan PT. XYZ Indonesia dengan XYZ Corporation Corporation dan dapat dilihat pada gambar 5.2.
Gambar 5.2. Hubungan XYZ Indonesia dengan XYZ Corp.
5.1.4 Kepuasan Pelanggan XYZ Indonesia
Perusahaan XYZ dapat dikatakan memiliki market share kurang lebih 23% dari hampir seluruh market informasi teknologi di Indonesia, khususnya untuk produk database. Dapat dilihat pada gambar 5.3 di bawah ini.
Chief Executive Officer Co-President CFO Director EVP Development Server Technologies Division
EVP XYZ Support and XYZ On Demand SVP, General Counsel, And Secretary Integrated Defense Systems, UK SVP Finance Operations Chief Corporate Architect SVP Human Resources Co-President Director EVP Application Development Director On Demand EVP North America Sales and Chief Security Officer SVP XYZ Latin America SVP Worldwide Marketing and Customer Programs EVP Europe, Middle East, Africa Consulting Director EMEA Content Collaboration EVP Asian Pacific and Japan Chairman General Manager Retek Global Business Unit XYZ Indonesia
Gambar 5.3. Market Share XYZ Corporation
Pasar Informasi Teknologi di Indonesia sangat beragam dan hampir dapat dikatakan XYZ masuk ke dalam semua segmen pasar, baik bisnis kecil, bisnis menengah, dan bisnis enterprise. XYZ membuat jenis produk yang berbeda-beda untuk melakukan segmentasi pada pasarnya. Yaitu dengan mengeluarkan beberapa jenis produk seperti standard edition, standard edition one, dan enterprise edition. Di Indonesia sendiri pasar XYZ sendiri masih tergolong untuk pasar yang memiliki bisnis yang besar atau enterprise.
Pada saat krisis ekonomi di Asia terjadi pada tahun 1997 tepatnya kuartal ke 3, PT. XYZ Indonesia dihadapkan masalah dalam menjaga kepuasan pelanggan mereka. Dimana terjadi penurunan demand yang luar biasa terhadap produk-produk
SAP
XYZ
Microsoft
XYZ di Indonesia, khususnya dikarenakan karena kurs mata uang Rupiah yang kian lama kian menurun terhadap mata uang US Dollar.
Para pelanggan PT. XYZ Indonesia mulai mempertanyakan apakah produk-produk XYZ yang telah mereka beli atau yang akan mereka beli memiliki dukungan yang baik. Hal ini dikarenakan resource untuk dukungan produk XYZ yang cenderung mahal dan mereka harus mengeluarkan kocek yang cukup lumayan untuk mendapatkan dukungan tersebut. Di sisi lain para pelanggan mendapatkan masalah dalam melakukan pembayaran untuk dukungan produk-produk yang mereka beli atau yang mereka akan beli sedangkan mata uang Rupiah makin melemah terhadap US Dollar.
Pada saat seperti ini, PT. XYZ Indonesia harus melakukan perubahan strategi operasi terutama dalam hal memberikan dukungan terhadap para pelanggannya dan membangun kepercayaan para pelanggannya terhadap produk-produk XYZ. Dengan memberikan dukungan atau dengan memberikan dukungan yang lebih dari sebelumnya akan menambah nilai kepercayaan para pelanggan XYZ terhadap produk-produknya dan akan membuat proses distribusi PT. XYZ Indonesia menjadi lebih lancar.
5.1.5 Perubahan-perubahan strategi operasi yang terjadi pada
saat krisis ekonomi tahun 1997
Pada saat krisis ekonomi terjadi XYZ Indonesia melakukan perubahan yang signifikan di dalam menyusun strategi operasinya. Perubahan ini dilakukan agar XYZ Indonesia mampu menghadapi Asian Financial Crisis dimana terjadi perubahan kurs mata uang Rupiah terhadap US Dollar yang signifikan sehingga menyebabkan terjadinya penumpukan hutang dari para pelanggannya yang rata-rata tidak dapat membayar hutang tepat waktu. Hal ini menyebabkan XYZ Indonesia mengalami penurunan pendapatan yang drastis, maka dari itu XYZ Indonesia segera melakukan perubahan strategi operasi mereka.
Berbagai hal dilakukan oleh XYZ Indonesia berkaitan dengan perubahan strategi operasi perusahaan untuk menanggulangi krisis ekonomi yang terjadi di Asia saat itu. Perubahan strategi operasi yang dilakukan adalah dengan melakukan pengurangan biaya pengeluaran untuk perjalanan dan entertainment pelanggan. Biaya pengeluaran untuk perjalanan dan entertainment menjadi biaya yang paling besar dalam PT. XYZ Indonesia, dan paling tidak terlihat dengan jelas penggunaan biaya tersebut. Berikutnya PT. XYZ Indonesia juga melakukan pengurangan biaya untuk dapur perusahaan yang sebelumnya tidak dibatasi pengeluarannya. Sebelum terjadi krisis ekonomi yang melanda Indonesia PT. XYZ Indonesia merasa biaya untuk dapur ini tidak signifikan nilainya, tetapi setelah krisis ekonomi terjadi biaya ini menjadi terlihat sangat signifikan untuk dikurangi pengeluarannya. PT. XYZ Indonesia juga melakukan penundan untuk mengirim orang ke luar negeri untuk mengikuti pelatihan.
Karena pembatasan biaya-biaya pengeluran di atas dipangkas atau ditunda dan melihat kondisi antara pengeluaran secara keseluruhan tidak sesuai dengan
pemasukan maka PT. XYZ Indonesia pun membuat beberapa posisi di perusahaan menjadi berkurang dimana sebelumnya memiliki jumlah pegawai sebanyak 76 orang menjadi 23 orang. Dan PT. XYZ masih mengurangi pengeluaran-pengeluaran perusahaan yang lain.
Perubahan-perubahan strategi operasi di atas memiliki efek yang signifikan terutama di dalam menekan pengeluaran perusahaan. Selain perubahan strategi operasi di atas, XYZ Indonesia juga melakukan perubahan aturan fungsi operasi pada proses operasional mereka, dimana hal ini terkait dengan hubungan dengan pasarnya dan rekan kerja-nya. Perubahan fungsi operasi mereka ini sangat terlihat terutama terhadap sistem penyaluran pada perusahaan XYZ. Karena dengan adanya perubahan fungsi operasi pada sistem penyaluran XYZ Indonesia ini, XYZ Indonesia mengalami pengaruh yang besar terhadap bisnisnya.
Perubahan-perubahan fungsi operasi pada sistem penyaluran yang dilakukan oleh PT. XYZ Indonesia adalah perubahan pada aturan main terhadap rekan kerjanya. PT. XYZ Indonesia merubah aturan main kepada rekan kerja dengan cara mengubah cara pembayaran pada produk-produk XYZ di Indonesia dimana sebelumnya rekan kerja PT. XYZ Indonesia melakukan pembayaran dengan mata uang Rupiah menjadi dalam mata uang US Dollar dan pembayaran dilakukan dengan metode cash on
delivery. Hal ini membantu PT. XYZ Indonesia untuk menekan fluktuasi mata uang
Rupiah terhadap mata uang US Dollar dan menghindari hutang yang pembayarannya lamban oleh rekan kerjanya. Perubahan berikutnya adalah diambilnya keputusan oleh PT. XYZ Indonesia untuk masalah pengakuan rate untuk valuta asing (terutama dalam US Dollar).
Dalam pengakuan rate di atas ditentukan untuk pembelian produk-produk XYZ sebelum krisis ekonomi terjadi dan pada saat krisis ekonomi terjadi harga produk-produk XYZ jadi ikut melambung tinggi. Para pelanggan cenderung tidak mau melakukan pembayaran dengan harga yang tinggi sesuai dengan rate yang berlaku, maka dari itu PT. XYZ Indonesia menentukan pengakuan rate dengan para pelanggannya. Hal ini menjadi dilematis karena di sisi para pelanggan PT. XYZ Indonesia menginginkan pembayaran dilakukan dengan pengakuan rate yang lama sedangkan PT. XYZ Indonesia harus memberikan pertanggungjawaban pembayaran para pelanggan mereka kepada kantor pusat dalam mata uang US Dollar.
Perubahan yang lainnya adalah dengan memberikan jangka waktu pembayaran yang fleksibel dan untuk pengumpulan pembayarannya. Karena mengalami kendala dalam pembayaran yang tidak menentu, pada akhirnya PT. XYZ Indonesia memberikan jangka waktu pembayaran yang fleksible. Hal ini dilakukan dalam rangka membuat komitmen dari para pelanggan PT. XYZ Indonesia dalam melakukan pembayaran sesuai pada waktunya.
PT. XYZ Indonesia juga menghentikan penjualan pada pelanggan yang dirasa beresiko pada saat itu. PT. XYZ Indonesia memilih untuk menghindari para pelanggan yang beresiko tinggi ketika menjual produk-produk XYZ. Hal ini dipikirkan untuk mengatur cash flow perusahaan. Pada saat krisis ekonomi, PT. XYZ Indonesia memilih menjual produk-produk mereka kepada para pelanggan yang memiliki funding yang cukup besar dan sedikit mengalami dampak terhadap krisis ekonomi, sebagai contoh adalah PT. XYZ Indonesia memilih perusahaan yang berkecimpung di dalam oil and gas industry daripada perusahaan distribusi.
Selain perubahan fungsi operasi di atas, masih banyak perubahan-perubahan fungsi operasi lainnya yang dilakukan PT. XYZ Indonesia. Tujuan perubahan-perubahan yang dipilih tersebut untuk mengurangi resiko perusahaan yang terancam pada saat krisis ekonomi Indonesia terjadi.
5.2 Case Analysis
5.2.1 Framework Analysis
Gambar 5.4. Framework Analysis
5.2.2 Business Strategy
Untuk menganalisa strategi bisnis PT. XYZ Indonesia, penulis menggunakan SWOT analysis untuk menganalisa situasi yang terjadi pada PT. XYZ Indonesia pada saat krisis ekonomi terjadi.
Pada tahun 1998 yang lalu terutama pada kuartal akhir PT. XYZ Indonesia dilanda masa sulit dalam pertumbuhan bisnisnya dimana sebelumnya pada tahun 1997 mengalami pertumbuhan bisnis hingga 71% dan pada tahun 1998 hanya mengalami kenaikan 4% untuk pertumbuhan bisnisnya. Hal di atas juga terpengaruh dengan kondisi krisis ekonomi yang terjadi pada Asia dan Indonesia. PT. XYZ Indonesia adalah perusahaan yang berada di Indonesia dan masih di bawah naungan XYZ Corporation dimana mau tidak mau PT. XYZ Indonesia mengambil andil dalam berkontribusi dalam pertumbuhan bisnis XYZ Corporation.
5.2.3 SWOT Analysis
Penulis memilih SWOT analysis ini (Gambar 5.5) dikarenakan SWOT analysis ini berkonsentrasi pada isu-isu yang terjadi pada situasi kompleks dimana isu-isu tersebut sangat berpotensial membawa dampak terbesar pada bisnis strategi PT. XYZ Indonesia.
Gambar 5.5. SWOT Profile
5.2.3.1 Strengths
• Sejak PT. XYZ Indonesia berdiri di Indonesia maka competitive advantages mejadi meningkat. PT. XYZ Indonesia sangat mengenal para pelanggan di Indonesia dan pertumbuhan dunia informasi teknologi di Indonesia sangat menjanjikan. Selain itu juga tenaga profesional di Indonesia masih cenderung murah dan cukup kompeten untuk bersaing.
• PT. XYZ Indonesia memiliki produk-produk yang hampir masuk di dalam segala lini industri untuk solusi teknologi informasi. Produk-produk yang dimiliki oleh PT. XYZ Indonesia juga mempunyai solusi dari depan sampai belakang untuk solusi integrasi teknologi informasi. Hal ini menunjukkan bahwa PT. XYZ Indonesia mampu bersaing dengan produk-produk yang se-level dengannya.
• PT. XYZ Indonesia yang berada di bawah XYZ Corporation dimana XYZ Corporation sendiri adalah perusahaan worldwide yang sudah memiliki lebih dari 370.000 pelanggan dan masuk ke dalam berbagai industri lebih dari 145 negara di seluruh dunia, serta memiliki perputaran revenue sebesar 1,37 miliar US Dollar pada kuartal pertama tahun 1997. Hal ini menunjukkan PT. XYZ Indonesia memiliki posisi yang kuat dalam hal finansial.
• Meskipun XYZ Corporation merupakan perusahaan informasi teknologi yang besar tetapi PT. XYZ Indonesia masih termasuk perusahaan informasi teknologi yang masih tergolong kecil di Indonesia, dibandingkan dengan perusahaan informasi teknologi yang bercokol di Indonesia, seperti IBM Indonesia, SAP Indonesia.
• XYZ Corporation juga melakukan banyak akuisisi terhadap perusahaan-perusahaan informasi teknologi untuk mengakomodir produk-produk mereka. Dengan melakukan banyak akuisisi ini menyebabkan PT. XYZ Indonesia juga menjual produk-produk yang diakuisisi tersebut dan hal ini membuat banyak produk-produk yang overlapping untuk dijual di pasar Indonesia. Sedikit banyak hal ini membuat PT. XYZ Indonesia mengalami sedikit kesulitan untuk melakukan penetrasi pasar Indonesia.
• PT. XYZ Indonesia menjual produk-produk mereka di dalam mata uang Rupiah sedangkan produk-produk yang didistribusikan menggunakan mata uang US Dollar. Pada saat krisis ekonomi di Indonesia terjadi, hal ini menyebabkan adanya gap pada penjualan mereka dan ini menyebabkan harga produk-produk tersebut menjadi terlihat sangat mahal dan cenderung tidak mau dibeli oleh pasar Indonesia.
5.2.3.3 Opportunities
• Bisnis teknologi informasi di Indonesia memiliki pertumbuhan yang potensial dan rata-rata pertumbuhan bisnis informasi teknologi di Indonesia meningkat
hampir 14% setiap tahunnya. Hal ini menjadikan peluang yang besar untuk PT. XYZ Indonesia menjual produk-produk XYZ di Indonesia.
• Tenaga pekerja Indonesia yang makin berkembang dan memiliki potensial yang cukup besar di industri teknologi informasi menjadikan PT. XYZ Indonesia mudah untuk menambah jaringan untuk pengaturan resource di Indonesia. Selain itu tenaga kerja di Indonesia relatif lebih murah dibandingkan dengan negara-negara lain seperti India, China, dan negara lainnya.
• Adanya revolusi teknologi informasi di Indonesia dimana perusahaan-perusahaan yang berada di Indonesia sudah mulai memperhatikan keperluan teknologi informasi untuk perusahaannya. Dimana keperluan teknologi informasi yang dibutuhkan mereka adalah solusi yang komprehen dan terintegrasi. Hal ini membuat peluang lebih besar untuk PT. XYZ Indonesia untuk memperlebar pasarnya di Indonesia.
5.2.3.4 Threats
• Indonesia adalah negara yang ekpansi industrinya berkembang dengan sangat cepat. Kompetisi akan datang dari berbagai negara lain yang merupakan pemain besar di industri teknologi informasi ini, seperti Jerman atau Perancis dimana mereka juga melirik Indonesia karena memiliki pasar yang luas dan memiliki biaya tenaga kerja yang murah.
• Para pelanggan akan lebih mudah untuk beralih kepada perusahaan yang lain selain PT. XYZ Indonesia untuk memenuhi kebutuhan produk teknologi informasi mereka.
• Pada saat krisis ekonomi di Indonesia terjadi, pasar teknologi informasi di Indonesia dan di dunia menjadi menurun permintaannya. Ekonomi di Indonesia pun juga ikut jatuh hampir pada semua segmen pasar yang ada di Indonesia, termasuk teknologi informasi. Hal ini terbukti terjadinya penurunan sekitar kurang lebih 4% untuk informasi teknologi seluruh dunia pada saat itu.
5.2.4 Operations Strategy Analysis
Penulisan ini juga akan menganalisa secara mendalam tentang operations strategy untuk PT. XYZ Indonesia. Untuk bertahan di kancah persaingan pasar teknologi informasi, PT. XYZ Indonesia harus melakukan beberapa perubahan strategi operasi pada perusahaannya. Bersaing di kompetisi pasar teknologi informasi yang sedang dilanda krisis ekonomi tidaklah mudah dan benar-benar menjadi tantangan terbesar di dalam perusahaan PT. XYZ Indonesia.
Untuk mencapai operational excellence pada saat krisis ekonomi terjadi merupakan tantangan yang sangat besar bagi PT. XYZ Indonesia karena kondisi pasar yang tidak menentu dan strategi operasi yang lama belum tentu dapat diimplementasikan dengan situasi dan kondisi tersebut. Maka dari itu penulis melakukan analisa terhadap perubahan strategi operasi yang sudah diterapkan oleh
PT. XYZ Indonesia untuk mencapai operational excellence pada saat krisis ekonomi di Indonesia terjadi.
Penulis menggunakan teori Hayes dan Wheelwright (1984) untuk melakukan analisa operational effectiveness PT. XYZ Indonesia. Penulis juga melakukan analisa
order winner dan order qualifiers dari operations performance objective yang
diterapkan PT. XYZ Indonesia pada saat krisis ekonomi terjadi.
5.2.4.1 Operational Effectiveness Analysis
Untuk menganalisa Operational Effectiveness dari PT. XYZ Indonesia, penulis menggunakan 4 stage model dari Hayes dan Wheelwright. Menurut Hayes dan Wheelwright ada 4 tahap model dari operations, yaitu
1. Internal Neutrality 2. External Neutrality 3. Internally Supportive 4. Externally Supportive
PT. XYZ Indonesia dapat dikatakan sudah mencapai pada tahap yang ke empat dari efektifitas fungsi operasi mereka. Karena PT. XYZ Indonesia sudah mampu untuk menciptakan fleksibilitas untuk pasar teknologi informasi. Selain itu PY. XYZ Indonesia juga sudah mampu mengatur strategi, dimana produk-produk dari XYZ tergolong produk-produk yang cukup diminati di pasar Indonesia.
XYZ Corporation juga sudah melakukan banyak akuisisi terhadap produk-produk informasi teknologi informasi untuk melengkapi solusi mereka. Terkait
dengan akuisisi produk-produk XYZ, XYZ benar-benar melakukan seleksi dengan ketat ketika akan melakukan akuisisi dan rata-rata produk informasi teknologi yang sudah diakuisisi ini adalah produk nomor satu di pasarnya, dan dirasa cukup untuk melengkapi solusi yang ada pada XYZ.
Pada saat krisis ekonomi di Indonesia terjadi, PT. XYZ Indonesia mengalami penurunan pertumbuhan bisnis yang cukup signifikan. PT. XYZ Indonesia mengalami kemunduran dimana sebelumnya PT. XYZ Indonesia mampu mengendalikan fungsi operasinya untuk membuat strategi menjadi kesulitan dalam mengendalikan fungsi operasinya dan menentukan strategi apa yang akan diterapkan.
Hal ini menunjukkan PT. XYZ Indonesia yang tadinya berada pada tahap ke empat menjadi turun ke tahap yang ketiga, dimana PT. XYZ Indonesia hanya mampu menjadi yang terbaik di pasarnya tetapi PT. XYZ Indonesia tidak mampu untuk mengatur fungsi operasinya untuk menentukan strateginya.
5.2.4.2 Order Winner Analysis
Dari hasil analisa operational effectiveness di atas, penulis melakukan analisa lebih lanjut mengenai order winner dari operations performance objective yang diterapkan oleh PT. XYZ Indonesia pada tahun 1997. Sejak tahun 1995, PT. XYZ Indonesia menerapkan operations performance objective yaitu quality. Dimana
objective tersebut digunakan oleh PT. XYZ Indonesia untuk memberikan kepuasan
Pada kenyataannya, pada tahun 1997-1998 terjadi krisis ekonomi melanda Asia dan Indonesia pada khususnya dimana sebagian besar para pelanggan PT. XYZ Indonesia mengalami kesulitan dalam mengatur keuangan mereka. Kondisi ini menyebabkan pasar yang tidak menentu dan secara langsung mempengaruhi pertumbuhan bisnis PT. XYZ Indonesia.
Untuk mengatasi hal di atas, PT. XYZ Indonesia melakukan perubahan strategi operasi mereka terutama dalam penentuan operations performance objective mereka agar bisa meningkat menjadi order winner dalam kondisi pasar yang tidak menentu dan kompetitif.
5.2.4.2.1 Quality
Sebelum krisis ekonomi terjadi PT. XYZ Indonesia menggunakan quality yang merupakan salah satu operations performance objective-nya sebagai order
winner. Untuk memastikan order winner tersebut maka PT. XYZ Indonesia
menghabiskan banyak uang untuk melakukan research and development dimana melalui research and development ini PT. XYZ Indonesia menjaga kualitas produknya. Di dalam memberikan kualitas yang terbaik, PT .XYZ Indonesia merekrut banyak sumber daya manusia dimana sumber daya manusia ini akan membantu untuk mendukung jika terjadi komplain terhadap produknya.
PT. XYZ Indonesia juga sangat memperhatikan komplain-komplain para pelanggannya, baik itu melalui forum yang disediakan oleh PT. XYZ Indonesia maupun komplain yang langsung diterima oleh mereka. Selain itu PT. XYZ
Indonesia juga memperhatikan kompetitor mereka dalam mengembangkan produk-produk yang sejenis dengan produk-produk-produk-produk miliknya.
Melalui kualitas yang terjaga dengan baik ini maka produk-produk PT. XYZ Indonesia mendapatkan kepercayaan terhadap para pelanggannya. Tetapi pada saat krisis ekonomi 1997 terjadi, kualitas ini bukan menjadi hal yang penting bagi para pelanggannya. Para pelanggan PT. XYZ Indonesia mengurangi biaya-biaya mereka pada saat krisis ekonomi terjadi terutama biaya-biaya yang dikeluarkan untuk keperluan teknologi informasi mereka, karena mereka lebih memilih untuk mempertahankan biaya-biaya yang mempengaruhi penjualan mereka daripada memilih mengeluarkan uang untuk pengeluaran-pengeluaran untuk teknologi informasi mereka. Para pelanggan PT. XYZ Indonesia menjadi lebih cenderung memilih produk-produk informasi teknologi yang harganya lebih terjangkau dengan budget yang mereka tentukan pada saat krisis ekonomi terjadi.
Hal ini menyebabkan ketidaksesuaian lagi dengan operations performance
objective PT. XYZ Indonesia dimana memberikan kualitas yang terbaik. Dan hal ini
juga menyebabkan PT. XYZ Indonesia mengambil langkah untuk mengubah strategi
order winner mereka.
5.2.4.2.2 Cost
Seperti yang sudah kita ketahui sebelumnya PT. XYZ Indonesia menggunakan quality sebagai operations performance objective dan mereka menentukan untuk mengubah operations performance objective mereka. Pada saat
krisis ekonomi terjadi, PT XYZ Indonesia mengubah operations performance
objective mereka menjadi cost. Hal ini terlihat pada saat krisis ekonomi 1997 terjadi
PT. XYZ Indonesia melakukan pengurangan terhadap biaya yang dianggarkan. Untuk itu diperlukan tinjauan ulang mengenai biaya-biaya mana yang memang sifatnya pokok dan yang sifatnya sekunder.
Pada saat krisis ekonomi terjadi PT. XYZ Indonesia benar-benar memotong biaya untuk biaya gaji tenaga kerjanya, yaitu dengan menguranginya dari 76 orang menjadi 23 orang. Pengeluaran atau biaya gaji ini sangat mambantu perusahaan dalam menghadapi krisis ekonomi yang terjadi karena PT. XYZ Indonesia dapat mengurangi pengeluaran secara cukup signifikan. Selain itu PT. XYZ Indonesia juga melakukan penundaan pengiriman tenaga kerjanya untuk mengikuti pelatihan di luar negeri. Juga mengurangi pengeluaran untuk entertainment pada bagian penjualan mereka. Bahkan pengeluaran untuk dapur pun juga terkena pemotongan.
Hal di atas menyebabkan PT. XYZ Indonesia menjadi mampu untuk mengurangi beban-beban mereka dalam menghadapi krisis ekonomi yang terjadi. Tetapi di sisi lain, PT. XYZ Indonesia tidak memperhatikan bagaimana penurunan bisnis mereka akan ikut turun bila tidak memperhatikan penjualan produk-produk mereka. Dan yang terjadi adalah mereka mengalami penurunan bisnis, karena penjualan mereka mengalami penurunan yang cukup lumayan jauh dari penjualan mereka sebelumnya.
Hal ini disebabkan karena mereka hanya fokus terhadap penurunan biaya-biaya internal saja tanpa menurunkan harga yang ditawarkan kepada para pelanggannya. Dengan hanya mengurangi biaya dan tidak menurunkan harga pada
saat krisis ekonomi 1997 menyebabkan para pelanggan memilih untuk tidak melakukan pembelian atau melakukan penundaan terhadap produk-produk PT. XYZ Indonesia.
Perubahan operations performance objective yang dilakukan oleh PT. XYZ Indonesia ini cukup membawa dampak yang positif terhadap perusahaan, tetapi dampak positif ini tidak optimal karena PT. XYZ Indonesia tetap mengalami kemunduran dalam hal pertumbuhan bisnisnya. Dengan melihat hasil perubahan
operations performance objective yang dilakukan oleh PT. XYZ Indonesia tidak
optimal, penulis berpendapat bahwa PT. XYZ Indonesia seharusnya dapat mengambil keputusan yang lebih baik lagi.
Menurut penulis dengan menggunakan flexibility sebagai operations
performance objective, maka PT. XYZ Indonesia tidak akan mengalami penurunan
pertumbuhan bisnis atau paling tidak mampu menekan penurunan pertumbuhan bisnis mereka pada saat krisis ekonomi terjadi.
5.2.4.2.3 Flexibility
Menurut penulis, operations performance objective yang seharusnya PT. XYZ Indonesia pilih adalah flexibility. Dengan menggunakan flexibility sebagai operations
performance objective akan jauh lebih efektif dan membuat PT. XYZ Indonesia
menjadi order winner. Karena dengan flexibility, PT. XYZ Indonesia seharusnya mampu memberikan solusi yang tepat kepada para pelanggannya dengan harga yang terjangkau dan produk yang fleksibel. Fleksibel di sini akan memberikan kemudahan
bagi PT. XYZ Indonesia dalam melakukan penjualan produk-produknya dan mampu menghadapi situasi krisis keuangan yang melanda Indonesia.
Sebelum terjadi krisis ekonomi, PT. XYZ Indonesia menjual produk-produknya dengan cara menjual lisensi produk-produk-produknya dalam jumlah yang besar. Dengan cara tersebut PT. XYZ Indonesia mendapatkan keuntungan yang besar karena kualitas produk-produk PT. XYZ Indonesia sangat terjaga dengan baik. Tetapi pada saat krisis ekonomi terjadi di Indonesia, keadaan menjadi berbalik pada para pelanggan PT. XYZ Indonesia. Banyak dari para pelanggan PT. XYZ Indonesia yang memotong budget mereka untuk pengeluaran untuk teknologi informasi karena melihat kondisi krisis ekonomi tahun 1997 yang terjadi di Indonesia.
Dengan memberikan fleksibel produk kepada para pelanggan, PT. XYZ Indonesia akan mengubah pemikiran mereka bahwa produk-produk yang ditawarkan akan masuk ke dalam budget mereka. Selain itu juga akan memberikan keleluasaan kepada para pelanggannya untuk memilih produk-produk PT. XYZ Indonesia sesuai dengan kebutuhan para pelanggannya. Dengan memenuhi kebutuhan pelanggannya, maka pertumbuhan bisnis PT. XYZ Indonesia akan meningkat karena penjualan produk-produk PT. XYZ Indonesia akan tertolong meskipun kondisi krisis ekonomi melanda Indonesia.
5.2.4.3 Order Qualifiers Analysis
Penulis juga melakukan analisa seperti apa karakter untuk order qualifiers PT. XYZ Indonesia. PT. XYZ Indonesia memiliki karakter yang sudah cukup memenuhi
standard yang dapat memenuhi permintaan para pelanggannya. Produk-produk informasi teknologi sangat beragam dan memiliki keunikan pada masing-masing produknya tetapi ada karakter pada produk-produk informasi teknologi ini yang harus dipenuhi dan menjadi standard untuk para konsumen produk-produk informasi teknologi ini.
Standarisasi untuk produk-produk informasi teknologi ini ada berbagai macam dan sangat banyak, sebagai contoh ada COBIT (Control Objectives for
Information and related Technology), COSO (Commitee of Sponsoring Organisations of the Treadway Commision), ITIL (Information Technology Infrastructure Library), dan masih banyak standarisasi yang lain. Produk-produk PT.
XYZ Indonesia sudah mendapatkan standarisasi tersebut sehingga produk-produk mereka sudah memenuhi standar dan sudah mampu bersaing dengan produk-produk informasi teknologi yang lain.
Standarisasi ini menjadi order qualifiers bagi produk-produk informasi teknologi dan juga untuk produk-produk PT. XYZ Indonesia. Produk-produk PT. XYZ Indonesia sudah mampu mengadopsi standarisasi-standarisasi yang ada dan yang berlaku di dunia.
5.2.5 Supply Chain Management
Penulis juga mengupas masalah supply chain yang ada pada PT. XYZ Indonesia terkait dengan pencapaian peningkatan pertumbuhan bisnis PT. XYZ Indonesia sendiri. Setelah dilakukan analisa oleh penulis bahwa operations
performance objectives untuk mencapai order winners PT. XYZ Indonesia adalah flexibility maka penulis akan melakukan analisa lebih dalam penerapan strategi
operasi yang PT. XYZ Indonesia lakukan dalam meningkatkan pertumbuhan bisnis. Strategi operasi perusahaan akan sangat mempengaruhi kegiatan atau fungsi operasi perusahaan. Salah satunya yang penting untuk dibahas dan dilakukan analisa adalah pengelolaan Supply Chain PT. XYZ Indonesia. Untuk itu PT. XYZ Indonesia memiliki aliran Supply Chain sebelum krisis ekonomi tahun 1997 sebagai berikut (Gambar 5.6.)
Gambar 5.6. Supply Chain XYZ pada sebelum krisis ekonomi
Dengan fungsi peran sebagai berikut :
1. Principal
XYZ Corporation dan PT. XYZ Indonesia sebagai principal untuk menyalurkan produk-produk XYZ ke Indonesia. Sebagai principal, PT. XYZ Indonesia mengatur seluruh produk yang akan dipasarkan di Indonesia baik pengaturan dalam harga, pengaturan dalam kuantitas produk yang akan didistribusikan dan masih banyak yang lain terkait
produk XYZ itu sendiri. PT. XYZ Indonesia tidak dapat berdiri sendiri tanpa bantuan partner untuk mendistribusikan produknya, maka dari itu PT. XYZ Indonesia harus menggandeng value added reseller-nya untuk melakukan penetrasi produk mereka ke pasar Indonesia.
2. Value Added Reseller / Business Partner
Value added reseller atau business partner berperan dalam
menyalurkan produk-produk XYZ ke pasar Indonesia dimana business
partner yang dipilih oleh PT. XYZ Indonesia adalah business partner
yang benar-benar mengetahui kebutuhan para pelanggan PT. XYZ Indonesia akan produk-produk XYZ. Business partner di sini berperan dalam hal melakukan implementasi produk-produk XYZ sampai dengan produk-produk XYZ terpasang dan digunakan oleh para pelanggannya. Peran business partner ini sangat penting dan PT. XYZ Indonesia tidak dapat melakukan penetrasi pasar tanpa adanya
business partner.
3. Customer
Pada pelanggan PT. XYZ Indonesia adalah kunci utama dimana perkembangan bisnis PT. XYZ Indonesia diukur. Dengan adanya proses supply chain yang baik dan efisien maka para pelanggan akan secara langsung merasakan produk-produk yang ditawarkan oleh PT. XYZ Indonesia menjadi bermanfaat.
Jadi ketiga fungsi ini menjadi bagian utama dari proses Supply Chain PT. XYZ Indonesia dimana principal atau PT. XYZ Indonesia akan menyalurkan produknya kepada business partner mereka atau value added reseller mereka. Dan sesudah produk mereka sampai ke tangan value added reseller PT. XYZ Indonesia baru akan didistribusikan lagi kepada para pelanggannya.
Proses supply chain ini menjadi tidak efisien lagi pada saat krisis ekonomi terjadi karena adanya hambatan pada proses supply chain ini dimana Value Added
Reseller menjual dengan mata uang Rupiah sedangkan XYZ menjual dengan mata
uang US Dollar. Dan pada saat krisis ekonomi ini terjadi, PT. XYZ Indonesia belum menyadari adanya kekurangan pada proses supply chain mereka.
Untuk menghasilkan operations performance objective PT. XYZ Indonesia yaitu cost objective, maka PT. XYZ Indonesia hampir tidak melakukan perubahan yang besar dalam pengelolaan Supply Chain mereka pada krisis ekonomi di Indonesia terjadi. PT. XYZ Indonesia lebih berfokus pada bagaimana mereka bertahan di dalam kondisi yang tidak mendukung ini, sehingga yang dilakukan oleh PT. XYZ Indonesia lebih ke arah pengurangan biaya-biaya yang sering dikeluarkan untuk operasional perusahaan.
Sebelum krisis ekonomi terjadi, kegiatan Supply Chain PT. XYZ Indonesia cenderung stabil dan tidak ada kendala dalam pengendaliannya. Namun krisis ekonomi yang terjadi berdampak besar terhadap kegiatan Supply Chain dan fungsi operasi lainnya sebagaimana analisa berikut :
1. Terjadinya keterlambatan proses penyaluran pada saat krisis ekonomi di Indonesia terjadi, yaitu terjadi keterlambatan pembayaran pelanggan
kepada PT. XYZ Indonesia. Hal ini mulai terlihat setelah PT. XYZ Indonesia melakukan tutup buku keuangan mereka dimana tutup buku ini biasa dilakukan pada bulan Mei, sedangkan pada bulan Mei 1997 masih banyak transaksi penjualan atau order terhadap produk-produk yang dijual oleh PT.XYZ Indonesia.
2. Macetnya pembayaran baik dari para pelanggan dan makin besarnya hutang dari para value added reseller ini membuat PT. XYZ Indonesia memiliki penurunan bisnis yang cukup drastis. Pada saat itu PT. XYZ Indonesia mengambil keputusan untuk menutup keterlambatan pembayaran dengan memberikan keleluasaan terhadap para pelanggannya dalam melakukan pembayaran. Hal ini tidak sepenuhnya berjalan efektif pada proses penyaluran mereka, karena permasalahan yang mereka hadapi adalah masalah mata uang yang membuat mereka mengalami keterlambatan dalam melakukan pembayaran. Masalah pengakuan rate mata uang Rupiah terhadap US Dollar menjadi masalah utama yang harus mereka selesaikan. Di dalam pengambilan keputusan untuk masalah pengakuan rate ini, PT. XYZ Indonesia cukup jeli yaitu dengan mengambil rate yang wajar dan hal tersebut disetujui oleh kedua belah pihak. Hal ini membuat permasalahan pembayaran dari pelanggan bukan menjadi masalah yang besar. Permasalahan yang terbesar yang PT. XYZ Indonesia hadapi adalah masalah umur pembayaran yang ada pada valur added
hutang terhadap pada value added reseller PT. XYZ Indonesia berjalan dengan lancar dan proses pemberian hutang pun relatif cepat untuk diproses. Pada tahun 1997 dimana Indonesia dilanda krisis ekonomi menjadikan hutang yang diberikan kepada value added
reseller menjadi sangat besar dan ini membuat limitasi hutang yang
diberikan pada value added reseller PT. XYZ Indonesia menjadi menyentuh batas limitasi mereka. Hal inilah yang menyebabkan ketidakmampuan value added reseller melunasi hutang-hutangnya dan proses jual-beli produk-produk XYZ tidak berjalan lancar.
3. Adanya over credit limit pada Value Added Reseller dimana value added reseller masih belum membayar hutang-hutangnya kepada PT. XYZ Indonesia dan ditambah pula dengan keterlambatan pada pembayaran-pembayaran hutang yang sebelumnya. Hal ini menyebabkan terjadinya hambatan pada arus kas PT. XYZ Indonesia dan mempengaruhi pertumbuhan bisnis mereka.
Dengan kondisi yang terjadi di atas, maka seharusnya PT. XYZ Indonesia melakukan tindakan yang signifikan terkait dengan perubahan strategi operasi mereka dan dalam menghadapi kondisi yang tidak bersahabat ini. Tindakan-tindakan untuk melakukan perubahan pada strategi operasi mereka juga tidak lepas dari fungsi operasi yang ada pada PT. XYZ Indonesia, dan salah satunya adalah pengelolaan
Menurut penulis proses supply chain yang dimiliki oleh PT. XYZ Indonesia seharusnya akan jauh lebih efisien dan lebih efektif, ketika ditambahkan satu bagian lagi di dalamnya. Yaitu dengan menambahkan bagian distributor antara PT. XYZ Indonesia dengan value added reseller. Peran distributor di sini adalah berperan sebagai penyalur produk-produk XYZ dari principal kepada para value added
reseller.
Dengan menambahkan distributor pada proses supply chain PT. XYZ Indonesia di dalamnya maka hutang-hutang yang diberikan kepada para value added
reseller PT. XYZ Indonesia tidak lagi dijamin oleh PT. XYZ Indonesia tetapi dijamin
oleh distributor PT. XYZ Indonesia. Melalui distributor inilah PT. XYZ Indonesia mampu mengatur arus kas mereka dengan baik karena penerimaan uang perihal pembelian produk-produk XYZ akan dijamin distributor. Dan melalui ini, PT. XYZ Indonesia dapat mengambil keputusan untuk menerapkan cash-on-delivery atau pembayaran tunai pada setiap pembelian produk-produk XYZ.
Berikut adalah gambar dari proses yang ideal pada proses supply chain PT. XYZ Indonesia.
Gambar 5.7. Bentuk Ideal Supply Chain PT. XYZ Indonesia
Penulis juga percaya dengan model proses supply chain di atas maka PT. XYZ Indonesia dapat mempertahankan sustainable growth mereka atau mempertahankan pertumbuhan bisnis mereka. Dengan proses supply chain ini juga akan membuat PT. XYZ Indonesia mampu bertahan dalam situasi krisis ekonomi yang terjadi di negara Indonesia.