SKRIPSI
HUKUM YANG DISKRIMINATIF TERHADAP
HOMOSEKSUAL
M. NAJIB
NIM. 1203005175
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
SKRIPSI
HUKUM YANG DISKRIMINATIF TERHADAP
HOMOSEKSUAL
M. Najib
NIM. 1203005175
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
SKRIPSI
HUKUM YANG DISKRIMINATIF TERHADAP
HOMOSEKSUAL
Skripsi ini dibuat untuk memperoleh Gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum
Universitas Udayana
M. Najib
NIM. 1203005175
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS UDAYANA
Lembar Persetujuan Pembimbing
SKRIPSI INI TELAH DISETUJUI
SKRIPSI INI TELAH DIUJI
PADA TANGGAL 23 JUNI 2016
Panitia Penguji Skripsi
Berdasarkan Surat Keputusan Dekan Fakultas Hukum Universitas Udayana
KATA PENGANTAR
Skripsi ini disusun berdasarkan latar belakang maraknya diskriminasi
terhadap kelompok homoseksual, tidak hanya oleh masyarakat umum, namun juga
oleh pejabat publik yang kemudian diimplementasikan kedalam peraturan
perundang-undangan. Berdasarkan latar belakang tersebut, dibuatlah skripsi ini yang akan
menganalisa berbagai peraturan perundang-undangan yang dianggap diskriminatif
terhadap kelompok homoseksual.
Penulis menyadari bahwa penyusunan dan penyelesaian skripsi ini dapat
dapat terselesaikan berkat bimbingan, arahan, saran dan dukungan dari berbagai
pihak dalam penyusunan skripsi ini. Untuk itu pada kesempatan ini penulis
menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. I Made Arya Utama, SH.,M.Hum,Dekan Fakultas Hukum
Universitas Udayana.
2. Bapak Dr. Gde Made Swardhana, SH.,MH., Pembantu Dekan I Fakultas Hukum
Universitas Udayana.
3. Ibu Dr. Ni Ketut Sri Utari, SH., MH., Pembantu Dekan II Fakultas Hukum
Universitas Udayana, sekaligus sebagai Dosen Pembimbing I yang atas
kebijaksanaan dan bimbingannya telah memberikan arahan, kritik, saran dan
4. Dr. I Gede Yusa, S.H.,M.H., Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas
Udayana.
5. Ibu Ni Made Ari Yuliartini Griadhi, S.H.,M.H., selaku Dosen Pembimbing
IIyang dengan sabar memberikan arahan, kritik dan saran dalam penyusunan
skripsi ini.
6. Ibu Ni Luh Gede Astariyani, SH.,MH selaku Dosen Pembimbing Akademik
penulis yang senantiasa memberikan penulis nasehat dalam bidang akademik
selama ini.
7. Segenap Bapak dan Ibu Dosen di lingkungan Fakultas Hukum Universitas
Udayana yang telah mendidik, membimbing, dan membagi ilmu pengetahuan
serta pengalaman selama penulis mengikuti perkuliahan.
8. Seluruh staff administrasi dan pegawai di lingkungan Fakultas Hukum
Universitas Udayana.
9. Bapak Wahyu Budi Nugroho, S.Sos.,M.Si., yang telah memberikan masukan
serta bacaan-bacaan untuk keperluan penyelesaian skripsi ini.
10. Kedua orangtua penulis, Sya’roni dan Khutipah, adik penulis Akhid dan Lisa, serta seluruh keluarga yang selalu memberikan dukungan moril maupun materiil
yang menjadi motivasi utama penulis dalam menyelesaikan pendidikan di
Fakultas Hukum Universitas Udayana.
11. Rekan-rekan seperjuangan penulis yang selalu menemani penulis sejak awal
hingga akhir menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum, Anti, Dien, Debby,
Nanang, Gung An dan Bahrul. Sertaseluruh Rekan-rekan mahasiswa Fakultas
Hukum Universitas Udayana angkatan 2012 yang tidak dapat disebutkan satu
persatu.
12. Kawan-kawan penulis, kak Susi, kak Rahma, Ika, Irna, Vani, Octa, Purna, Roshi,
Isma, Tiara, Inggrid, Yeni, Kartika, Aniek, dan Arifin yang telah memberikan
pengalaman tak terlupakan, bantuan dan dukungan kepada penulis selama masa
perkuliahan maupun penyusunan skripsi.
13. Seluruh rekan-rekan maupun pihak-pihak yang selalu memberi dukungan serta
semangat kepada penulis selama mengikuti proses perkuliahan dan penyusunan
skripsi.
Penulis menyadari bahwapenyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik
dari penyajian maupun penyusunannya. Oleh karena itu, penulis dengan kerendahan
hati senantiasa mengharapkan bantuan serta masukan berupa kritik dan saran yang
bersifat membangun untuk kesempurnaan skripsi ini.
Denpasar, 11 Mei 2016
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN
Dengan ini penulis menyatakan bahwa Skripsi ini merupakan hasil karya asli
penulis, tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar
kesarjanaan di perguruan tinggi manapun, dan sepanjang pengetahuan penulis juga
tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh penulis
lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar
pustaka.
Apabila Skripsi ini terbukti merupakan duplikasi ataupun plagiasi dari hasil
karya penulis lain dan/atau dengan sengaja mengajukan karya atau pendapat yang
merupakan hasil karya penulis lain, maka penulis bersedia menerima sanksi akademik
dan/atau sanksi hukum yang berlaku.
Demikian surat pernyataan ini saya buat sebagai pertanggungjawaban ilmiah
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL DEPAN ... i
HALAMAN SAMPUL DALAM ... ii
HALAMAN PRASYARAT GELAR SARJANA HUKUM ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ... iv
HALAMAN PENGESAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
HALAMAN SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ... ix
DAFTAR ISI ... x
ABSTRAK ... xv
ABSTRACT ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 4
1.3 Ruang Lingkup Masalah ... 4
1.4Orisinalitas Penelitian ... 4
1.5Tujuan Penulisan ... 6
a. Tujuan Umum ... 6
1.5 Manfaat Hasil Penulisan ... 6
c. Manfaat Teoritis ... 6
d. Manfaat Praktis ... 7
1.7 Landasan Teoritis ... 7
1.8 Metode Penelitian ... 12
a. Jenis Penelitian ... 12
b.Jenis Pendekatan ... 12
c. Sumber Bahan Hukum ... 13
d. Teknik Pengupulan Bahan Hukum ... 16
e. Teknik Analisis ... 16
BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI HUKUM YANG DISKRIMINATIF TERHADAP HOMOSEKSUAL ... 18
2.1Konsep Hukum ... 18
2.2Prinsip Dasar Hak Asasi Manusia ... 20
2.2.1 Konsep Hak Asasi Manusia ... 20
2.2.2 Perkembangan Hak Asasi Manusia... 21
2.2.3Prinsip Kesetaraan dan Nondiskriminasi ... 23
2.2.4 Diskriminasi atas Jenis Kelamin ... 25
2.3Pengertian Homoseksual ... 26
BAB III KEDUDUKAN HOMOSEKSUAL DALAM PERSPEKTIF HAM ... 29
3.1 Pandangan-Pandangan Negatif Terhadap Homoseksual ... 29
3.1.1Homoseksual Adalah Hal yang Tidak Normal ... 29
3.1.2Homoseksual Adalah Penyimpangan Seksual ... 30
3.1.3 Homoseksual Melawan Kodrat Alam ... 31
3.1.4 Homoseksual Bertentangan dengan Semua Ajaran Agama ... 33
3.1.5 Homoseksual Adalah Budaya Barat ... 38
3.1.6 Homoseksual Adalah Gangguan Jiwa ... 41
3.1.7 Homoseksual Adalah Penyebar Penyakit AIDS ... 43
3.1.8 Homoseksual Adalah Psikopat ... 44
3.2 Instrumen Pengaturan Hak-Hak Bagi Kelompok Homoseksual ... 46
3.2.1 Instrumen-Instrumen Hukum HAM Umum ... 46
3.2.1.1 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ... 46
3.2.1.2 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) atau Universal Declaration of Human Rights ... 48
3.2.1.3 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia ... 50
3.2.1.4 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Ratifikasi
Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi
Elimination of All Forms of Discrimination Againts
Women (CEDAW) ... 51
3.2.1.5 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Konvensi Internasional Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (International Convention on Economic, Cultural, and Social Rights) ... 53 3.2.1.6 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Ratifikasi
Konvensi Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik (International Convemtion on Civil and Political Rights) . .54 3.2.2 Instrumen-Instrumen yang Melarang Diskriminasi Atas Dasar Orientasi Seksual ... 55 3.2.2.1 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia
Nomor 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia ... 55 3.2.2.2 Surat Edaran Kepolisan Negara Republik Indonesia Nomor
SE/06/X/2015 tentang Penganan Ujaran Kebencian (Hate Speech) ... 56 3.2.2.3 Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Nomor
3.2.2.4 Resolusi Dewan HAM PBB Nomor 17/19 Hak Asasi Manusia, Orientasi Seksual dan Identitas Geder (17/19 Human Righta,
Sexual Orientation and Gender Identity) Tahun 2011 ... 57
3.2.2.5 Prinsip-Prinsip Yogyakarta... 57
3.3 Perlindungan Hak-Hak Kelompok Homoseksual di Beberapa Negara ... 59
3.3.1 Belanda ... 59
3.3.2 Afrika Selatan ... 60
3.3.3 Israel ... 62
3.3.4 Australia ... 63
BAB IV ATURAN HUKUM YANG DISKRIMINATIF TERHADAP HOMOSEKSUAL... 67
4.1 Bentuk-Bentuk Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia ... 67
4.2 Aturan-Aturan Hukum yang Diskriminatif Terhadap Homoseksual ... 69
4.2.1 Diskriminasi dalam Hukum Keluarga ... 69
4.2.2 Diskriminasi dalam Hak Atas Pekerjaan ... 76
4.2.3Diskriminasi dalam Hak atas Kebebasan Berserikat dan Berkumpul 78 4.2.4 Stigmatisasi Homoseksual ... 80
BAB V PENUTUP ... 84
5.1 Kesimpulan ... 84
5.2 Saran ... 85
ABSTRAK
Skripsi ini akan membahas mengenai kedudukan kelompok homoseksual dalam perspektif HAM, serta menganalisa aturan-aturan hukum yang dianggap mendiskriminasi homoseksual. penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan perbandingan.
Kesimpulan yang dapat diambil dari skripsi ini adalah bahwa sebagai manusia, homoseksual berhak menikmati hak-hak seperti kelompok lain yang telah dijamin dalam berbagai instrumen hukum HAM.
Kata Kunci: Homoseksual, Diskriminasi, Hukum.
ABSTRACT
This thesis will describe the position of homosexual on human rights perspective, and to analyze the discriminatory laws against homosexual. It applies normative legal research method combined with statutory, conceptual and comparative approach.
The draw through this thesis are as human being, homosexual people has right to enjoy human rights as equal as other people wich is confimed in human rights legal instruments.
i BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Pada akhir Januari 2016, Menteri Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi RI
dalam akun twitternya menyatakan bahwa Lesbian, Gay, Biseksual dan
Transgender (LGBT) dilarang masuk ke Perguruan Tinggi, karena dianggap
merusak moral bangsa. Pernyataan ini dinilai sangat diskriminatif yang kemudian
menimbulkan polemik di masyarakat sehingga muncul petisi online meminta
Menristek mencabut pernyataan dikriminatif tersebut.
Diskriminasi terhadap kelompok homoseksual telah menjadi isu global, PBB
bahkan telah menyerukan penghapusan diskriminasi terhadap kelompok
homoseksual sejak tahun 2007.1 Perjuangan kelompok homoseksual untuk
memperoleh kesetaraan hak dimulai sejak revolusi sosial di Inggris tahun 1897
oleh sebuah komunitas homoseksual bernama Order of Cheronea,2 dan secara
internasional perjuangan kelompok homoseksual menjadi semakin besar setelah
homoseksual tidak lagi dkategorikan sebagai penyakit atau gangguan kejiwaan
oleh WHO sejak 1993. Di Indonesia, para pria homoseksual mendirikan Lambda
Indonesia pada tahun 1982, dan pada tahun 1986 para lesbian mendirikan
Persatuan Lesbian Indonesia (Perlesin). Saat ini tercatat ada 119 organisasi
1 Hendri Yulius, 2015, Coming Out, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta, h. 50.
ii
homoseksual di seluruh Indonesia, organisasi ini selain menampung kelompok
homoseksual, biasanya juga menampung kelompok biseksual dan transgender.3
Organisasi-organisasi tersebut didirikan sebagai wadah bagi kelompok
homoseksual untuk memperjuangkan pengakuan eksistensi mereka guna
mendapatkan kesetaraan hak dengan kelompok lain serta menghapus diskriminasi
yang selama ini mereka alami. Diskriminasi yang dialami kelompok homoseksual
diantaranya4:
1. Diskriminasi sosial, seperti stigmatisasi, cemoohan, pelecehan, dan pengucilan;
2. Diskriminasi hukum, berupa perlakuan hukum yang berbeda bagi
homoseksual;
3. Diskriminasi ekonomi, yakni pelanggaran hak atas pekerjaan;
4. Diskriminasi kebudayaan, contohnya adalah upaya penghilangan nilai-nilai budaya yang ramah terhadap kelompok homoseksual.
Diskriminasi terhadap homoseksual tidak hanya dilakukan oleh masyarakat,
negara juga turut mengembangkan diskriminasi ini, baik dalam kebijakan maupun
aturan hukumnya, misalnya dalam acara-acara yang diselenggarakan oleh
kelompok homoseksual, baik berupa konferensi, pendidikan, ataupun hiburan
hampir selalu mendapat paksaan penghentian dari kelompok-kelompok yang
memusuhi, dan dalam hampir semua kasus, kepolisian sebagai organ negara,
bukannya melindungi kelompok homoseksual yang terancam, malah lebih
memilih untuk tidak menjamin keamanan peserta, atau bahkan memerintahkan
agar acara dihentikan.5
3 LGBT Nasional Indonesia, 2014, Hidup sebagai LGBT di Asia: Laporan nasional Indonesia, Tinjauan dan
Analisa Partisipatif tentang Lingkungan Hukum dan Sosial bagi Orang dan Masyarakat Madani, Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT), USAID dan UNDP, Jakarta, h. 57.
4 Ariyanto dan Rido Triawan, 2008, Diskriminasi terhadap LGBT, Citra Grafika, Jakarta, h. 28.
iii
Keberadaan homoseksual juga seolah ditutupi oleh pemerintah, misalnya
penarikan komik “Why Puberty” atas usul Komisi Perlindungan Anak Indonesia
(KPAI) akibat salah satu dialognya yang berbunyi “setiap orang punya hak untuk
mencintai dan dicintai, dan bila mereka mencintai sesama jenis, itu adalah pilihan.
Jika boleh memilih, tentu saja mereka ingin memilih mencintai lawan jenisnya”.6
Undang-Undang Perkawinan Indonesia secara tegas menyatakan bahwa
perkawinan hanya bisa dilakukan oleh pasangan beda jenis kelamin, yakni antara
seorang pria dengan seorang wanita, sehingga seringkali pasangan sejenis
melakukan pemalsuan identitas agar dapat melangsungkan perkawinan, contohnya
ialah pada tahun 2011 di Jawa Tengah, seorang transgender pria (priawan)
bernama Rega dijebloskan ke penjara atas laporan keluarga pasangannya dengan
tuduhan melakukan penipuan karena Rega diketahui berjenis kelamin perempuan.
Dia hendak menikahi pasangannya yang juga berkelamin perempuan.7
Hal tersebut menunjukkan bahwa negara membiarkan bahkan melegalkan
diskriminasi terhadap homoseksual. Padahal salah satu fungsi negara ialah
memenuhi kepentingan warga negara sekaligus melindungi kepentingan warga
negara yang lain.8 Disini terlihat negara hanya memenuhi kepentingan kelompok
yang anti homoseksual yang kemudian dilegitimasi menjadi aturan hukum dan
sama sekali tidak mencerminkan kepentingan dan bahkan mendiskriminasi
homoseksual, padahal kelompok homoseksual juga merupakan warga negara yang
wajib dilindungi.
6 Hendri, Op.Cit, h. 146.
7 LGBT Indonesia, Op.Cit, h. 24-25.
iv
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, penulis tertarik untuk mengkaji
permasalahan dalam usulan penelitian dengan judul “HUKUM YANG
DISKRIMINATIF TERHADAP HOMOSEKSUAL”.
1.2.Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah kedudukan homoseksual dalam perspektif HAM?
2. Apakah ada aturan hukum yang diskrimitif terhadap homoseksual?
1.3.Ruang Lingkup Masalah
Agar uraian sistematis dan tidak menyimpang dari permasalahan yang akan
dibahas, maka diadakan pembatasan ruang lingkup masalah, yang mencakup:
1. Untuk pemasalahan pertama akan dibahas mengenai bagaimana homoseksual
di Indonesia serta bagaimana kedudukan mereka dalam perspektif HAM.
2. Untuk permasalahan kedua akan dibahas mengenai aturan-aturan hukum yang
dianggap diskriminatif terhadap kelompok homoseksual.
1.4.Orisinalitas Penelitian
Penulis menyatakan dengan sesungguhnya bahwa penelitian dengan judul
“Hukum Yang Diskriminatif Terhadap Homoseksual” adalah hasil penelitian,
pemikiran dan pemaparan asli penulis. Jika terdapat referensi karya orang lain,
maka ditulis sumber dengan jelas. Beberapa penelitian dengan jenis yang sama
yang ada dalam internet atau perpustakaan skripsi diantaranya “Negara dan Hak
Asasi Kelompok Minoritas Seksual Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender/
Transeksual, Interseks dan Queer” dan “Homoseksual dalam Perspektif Hukum
Pidana dan Hukum Islam. Suatu Studi Komparatif Normatif”. Kedua penelitian
v
pada aturan-aturan hukum yang diskriminatif terhadap homoseksual. Berikut
terlampir matrik perbedaan penelitian yang telah ada dengan penelitian ini:
TABEL I
Nomor Peneliti Judul Rumusan Masalah
vi
Normatif” Pidana?
1.5.Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum
Tujuan penulisan usulan penelitian ini secara umum adalah untuk
melaksanakan Tri Dharma perguruan Tinggi, serta memberikan sumbangan
ilmu pengetahuan hukum terutama yang berkaitan dengan hak asasi manusia.
b. Tujuan Khusus
1) untuk mengetahui kedudukan homoseksual dalam perspektif HAM;
2) untuk mengungkap aturan-aturan hukum yang dianggap diskriminatif
terhadap kelompok homoseksual.
1.6.Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
Manfaat teoritis dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan
dan masukan terhadap perkembangan Ilmu Pengetahuan Hukum, terutama
vii b. Manfaat Praktis
1) penelitian ini diaharapkan bisa menjadi masukan atau bahan pertimbangan
bagi pemerintah, khususnya dalam upaya penegakkan dan perlindungan
HAM di Indonesia, terutama bagi kelompok homoseksual.
2) penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan atau memberikan
informasi yang konstruktif kepada masyarakat yang diharapkan turut serta
berperan dalam upaya penegakkan dan perlindungan HAM di Indonesia.
1.7.Landasan Teoritis
a. Teori Negara Hukum
Indonesia merupakan negara hukum, hal ini tercantum dalam Pasal 1 ayat
(3) UUD NRI Tahun 1945 yang menyebutkan bahwa “Indonesia adalah
negara hukum”. Konsep negara hukum ini terkait dengan konsep
perlindungan hukum, sebab konsep ini tidak lepas dari gagasan untuk
memberi pengakuan dan perlindungan HAM bagi warga negara.9
Negara hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu Rechtstaat yang
bertumpu pada civil law dengan mengutamakan prinsip wetmatigheid dan The
Rule of Law yang dikembangkan di negara-negara tradisi Anglo Saxon
dengan mengutamakan prinsip equality before the law, keduanya memang
memiliki latar belakang dan pelembagaan yang berbeda, namun pada intinya
sama-sama menginginkan perlindungan HAM melalui pelembagaan peradilan
yang bebas dan tidak memihak.10
viii
F.J. Stahl mengungkapkan terdapat empat unsur pokok negara hukum
Rechtstaat yakni11:
1) Perlindungan Hak Asasi Manusia;
2) Pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hak-hak itu;
3) Pemerintahan berdasarkan peraturan-peraturan; 4) Peradilan administrasi dalam perselisihan.
Sedangkan dalam negara The Rule of Law, menurut A.C. Dicey terdapat tiga
unsur fundamental pada konsep ini, yakni12:
1) Supremasi aturan hukum;
2) Kedudukan yang sama dalam hukum;
3) Terjaminnya hak-hak asasi manusia oleh undang-undang maupun
keputusan-keputusan pengadilan.
Dengan demikian, setiap negara hukum baik yang berbentuk Rechtstaat
maupun The Rule of Law, keduanya menempatkan HAM sebagai salah satu
unsur fundamentalnya dan adanya hukum serta pemisahan atau pembagian
kekuasaan adalah untuk menjamin hak-hak tersebut.
b. Prinsip-Prinsip Hak Asasi Manusia
Dalam UU Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia disebutkan:
“Hak asasi manusia merupakan seperangkat hak yang melekat pada
hakekat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerahNya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi
kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.”
Menurut N. Flowers, terdapat 7 Prinsip utama hak asasi manusia, meliputi13:
1) prinsip universalitas;
2) pemartabatan terhadap manusia (human dignity);
10Ibid h.126-127.
11 Majda El-Muhtaj, 2012, Hak Asasi Manusia dalam Konstitusi Indonesia: dari UUD 1945 sampai dengan
Amandemen UUD 1945 Tahun 2002, Cet. IV, Kencana, Jakarta, h. 28. 12Ibid, h.7.
ix 3) nondiskriminasi;
4) persamaan;
5) indivisibility, maksudnya suatu hak tidak bisa dipisah-pisahkan antara yang satu dengan yang lainnya;
6) interdependency (saling ketergantungan);
7) inalienability. Pemahaman prinsip atas hak yang tidak bisa dipindahkan, tidak bisa dirampas atau dipertukarkan dengan hal tertentu;
8) responsibilitas atau pertanggungjawaban.
Dari sekian prinsip-prinsip utama HAM tersebut, yang berkaitan erat
dengan penelitian ini adalah prinsip nondiskriminasi, prinsip ini merupakan
salah satu prinsip utama HAM, karena seluruh instrumen HAM mengandung
klausul nondiskriminasi, misalnya Pasal 2 DUHAM menyatakan bahwa
setiap individu berhak untuk menikmati seluruh hak dan kebebasan yang
diatur dalam DUHAM tanpa adanya pembedaan apapun. Begitu pula Pasal 2
(1) ICCPR dan Pasal 2 (2) ICESR. Namun demikian, sampai saat ini hanya
Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskrimiasi terhadap
Perempuan (CEDAW) yang secara internasional memberikan definisi yang
spesifik mengenai pengertian diskriminasi.
Dalam CEDAW, diskriminasi terhadap perempuan diartikan sebagai
setiap pembedaan, pengucilan, atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis
kelamin yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau
menghapuskan pengakuan, penikmatan, atau penggunaan hak asasi manusia
dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya,
sipil atau apapun lainnya bagi kaum perempuan terlepas dari status
x
Jika mengacu pada definisi diskriminasi dalam CEDAW, maka yang
dimaksud diskriminasi adalah pembedaan, pengucilan atau pembatasan
terhadap orang atau sekelompok orang yang bertujuan untuk mengurangi atau
menghapuskan pengakuan, penikmatan, atau penggunaan hak asasi manusia
yang didasarkan pada suatu hal dalam diri seseorang, dan diskriminasi yang
dialami oleh homoseksual adalah karena orientasi seksual mereka.
Dengan adanya prinsip nondiskriminasi, maka negara dalam segala aturan
hukumnya wajib menghormati, menjunjung tinggi dan melindungi HAM
terhadap semua orang tanpa terkecuali termasuk bagi kelompok homoseksual.
c. Teori Penafsiran Hukum
Dalam beberapa hal, undang-undang tidak menjelaskan secara rinci
mengenai suatu permasalahan. Untuk itu perlu dilakukan penafsiran hukum.
Penafsiran hukum memiliki beberapa jenis, yaitu14:
1) Penafsiran tata bahasa (gramatikal), artinya ketentuan yang terdapat pada
peraturan perundang-undangan ditafsirkan dengan berpedoman pada arti
perkataan menurut tata bahasa atau menurut kebiasaan.
2) Penafsiran sahih (autentik/resmi), yakni penafsiran yang dilakukan
berdasarkan pengertian yang ditentukan oleh pembentuk undnag-undang.
3) Penafsiran historis, penafsiran dilakukan berdasarkan:
a. Sejarah hukum, yaitu berdasarkan sejarah terjadinya hukum tersebut.
b. Sejarah undang-undang, yaitu dengan maksud pembentuk undang-undang
pada saat membentuk undang-undang tersebut.
xi
4) Penafsiran sistematis, dilakukan dengan meninjau susunan yang berhubungan
dengan pasal-pasal lainnya, baik dalam undang-undang yang sama maupun
dengan undang-undang yang lain.
5) Penafsiran nasional, merupakan penafsiran yang didasarkan pada kesesuaian
dengan sistem hukum yang berlaku.
6) Penafsiran teologis (sosiologis), penafsiran ini dilakukan karena terdapat
perubahan di masyarakat, sedangkan bunyi undang-undang tidak berubah.
7) Penafsiran ekstensif, penafsiran ini dilakukan dengan memperluas arti
kata-kata yang terdapat dalam suatu peraturan perundang-undangan.
8) Penafsiran restrikstif, penafsiran ini dilakukan dengan mempersempit arti
kata-kata yang terdapat dalam suatu peraturan perundang-undangan.
9) penafsiran analogis, penafsiran analogis dilakukan dengan memberikan suatu
kiasan ibarat pada kata-kata sesuai dengan asas hukumnya.
10) Penafsiran a contrario, adalah penafsiran yang didasarkan pada perlawanan
antara masalah yang dihadapi dengan masalah yang diatur dalam
undang-undang.
Dalam penilitian ini akan digunakan penafsiran gramatikal, sejarah hukum,
penafsiran sistematis, penafsiran nasional, penafsiran teologis, dan penafsiran
ekstensif. Metode-metode penafsiran hukum tersebut dipakai untuk
membahas mengenai aturan hukum yang berkaitan dengan HAM maupun
aturan hukum yang diskriminatif terhadap homoseksual.
1.8. Metode Penelitian
xii
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah penelitian
hukum normatif dengan menguraikan permasalah-permasalahan mengenai
kedudukan homoseksual dalam perspektif HAM serta aturan-aturan
hukum yang diskriminatif terhadap homoseksual.
Permasalahan-permasalahan tersebut dibahas dengan kajian yang berdasarkan pada
teori-teori hukum yang kemudian dikaitkan dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.15
b. Jenis Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian hukum ini meliputi:
1) Pendekatan Perundang-undangan. yakni dengan menelaah
aturan-aturan yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang
ditangani,16 yakni yang berkaitan dengan hak asasi manusia dan
homoseksual, pendekatan ini diperlukan untuk membahas kedua
rumusan masalah, baik aturan-aturan hukum mengenai kedudukan
maupun hak-hak homoseksual, serta aturan-aturan hukum yang
diskriminatif terhadap homoseksual.
2) Pendekatan konseptual beranjak dari pandangan-pandangan dan
doktrin-doktrin yang berkembang di dalam ilmu hukum.17 Pendekatan
ini dipakai untuk membahas mengenai konsep hukum dan konsep hak
asasi manusia terutama kedudukan homoseksual dalam HAM.
15 Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji, 1995, Penulisan Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, PT. Grafindo
Persada, Jakarta, h.13.
16 Peter Mahmud Marzuki, 2010, Penelitian Hukum. Kencana Prenada Media Group, Jakarta, h. 93.
xiii
3) Pendekatan perbandingan, yakni dengan membandingkan satu
instrumen hukum dengan instrumen hukum lain terkait aturan-aturan
hukum terhadap homoseksual di Indonesia maupun aturan negara lain,
yakni Belanda, Afrika Selatan, Israel, dan Australia. Hal ini untuk
membahas kedudukan homoseksual dalam perspektif HAM serta
aturan-aturan hukum yang diskriminatif terhadap homoseksual.
c. Sumber Bahan Hukum
Sumber bahan hukum yang dipakai dalam penelitian ini dapat
diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) jenis meliputi :
a) Bahan hukum primer, berupa peraturan perundang-undangan yang
berkaitan dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini.
Sumber bahan hukum primer yang dipakai dalam penetian ini antara
lain:
-Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
-Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) Tahun 1949;
-Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;
-Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;
-Undang-undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Ratifikasi Konvensi
Penghapusan Segala Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention
on The Elimination of all Forms of Discrimination Against Women);
xiv
-Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Konvensi
International Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (International
Convention on Economic, Cultural and Social Rights);
-Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Konvensi
International Hak-Hak Sipil dan Politik (International Convention on
Civil and Political Rights);
-Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi;
-Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
-Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan
Pengangkatan Anak;
-Peraturan Daerah Kabupaten Banjar Nomor 10 Tahun 2007 tentang
Ketertiban Masyarakat;
-Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 08 Tahun 2012
tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang
Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan
Sosial;
-Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8
Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi
Manusia Dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik
Indonesia;
-Peraturan Jaksa Agung RI Nomor: Per-048/A/J.A/12/2011 tentang
xv
-Surat Edaran Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor
SE/06/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian (Hate Speech);
-Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Nomor
01/P/KPI/03/2012 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran; dan
-Resolusi Dewan HAM PBB Nomor 17/19 Hak Asasi Manusia,
Orientasi Seksual dan Identitas Gender (17/19 Human Rights, Sexual
Orientation and Gender Identity) Tahun 2011.
b) Bahan hukum sekunder, berupa bahan-bahan yang memberikan
penjelasan terhadap bahan hukum primer yang terdiri dari buku-buku
dan artikel-artikel hasil penelitian atau pendapat pakar.
c) Bahan hukum tersier, berupa bahan-bahan hukum yang dapat
memberikan petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer
maupun bahan hukum sekunder seperti kamus hukum.18
d. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Pada penelitian ini, teknik pengumpulan bahan hukum yang digunakan
adalah teknik studi dokumen, yaitu dengan mencari bahan-bahan dalam
buku-buku terkait permasalah mengenai kedudukan homoseksual dalam
aturan hukum dan HAM untuk kemudian dikutip bagian-bagian penting
dan selanjutnya disusun secara sistematis sesuai dengan pembahasan
dalam penelitian ini.19
e. Teknik Analisis
18Ibid.
xvi
Bahan-bahan hukum yang sudah terkumpul kemudian dianalisis dengan
teknik deskriptif analisis dengan menggunakan metode interprestatif dan
metode argumentatif. Teknik deskriptif analisis adalah penjabaran data
yang diperoleh dalam bentuk uraian yang nantinya akan menjawab
permasalahan. Metode interpretatif adalah metode yang menafsirkan
peraturan perundang-undangan dihubungkan dengan peraturan hukum lain
atau dengan keseluruhan sistem hukum.20 Sedangkan Metode argumentatif
adalah alasan berupa penjelasan yang diuraikan secara jelas, berupa
serangkaian pernyataan secara logis untuk memperkuat atau menolak
suatu pendapat, pendirian atau gagasan, berkaitan dengan asas hukum,
norma hukum dan peraturan hukum konkret, serta sistem hukum dan
penemuan hukum, yang berkaitan kedudukan homoseksual dalam hukum
dan hak asasi manusia serta aturan-aturan hukum yang diskriminatif
terhadap kelompok homoseksual.
BAB II
TINJAUAN UMUM MENGENAI HUKUM YANG DISKRIMINATIF
TERHADAP HOMOSEKSUAL
2.1. Konsep Hukum
Secara umum, hukum diartikan sebagai undang-undang atau hukum tertulis
yang diciptakan oleh penguasa yang berwenang, aturan-aturan selain yang dibuat
atau ditetapkan oleh pihak yang berwenang tidak dianggap sebagai hukum,
termasuk pula aturan-aturan adat dan agama, meskipun keduanya mengikat secara
moral, namun tidak mengikat secara yuridis, aturan adat dan aturan agama baru
dapat mengikat secara yuridis apabila ada undang-undang yang mengakui
keberadaan aturan agama atau aturan adat tersebut ataupun apabila aturan-aturan
tersebut diundangkan kedalam peraturan perundang-undangan. Hal ini sesuai
dengan teori positivisme hukum yang menyatakan bahwa undang-undang adalah
satu-satunya sumber hukum, diluar undang-undang bukanlah hukum. Teori ini
juga mengakui adanya norma hukum yang bertentangan dengan nilai moral.1
Pada dasarnya, hukum diciptakan untuk mencapai suatu tujuan, yaitu untuk
mengatasi konflik. Dengan adanya hukum, konflik akan dipecahkan berdasarkan
aturan yang berorientasi pada nilai-nilai objektif dengan tidak membedakan antara
yang kuat dan lemah.2 Agar bersifat objektif, maka oleh Reinhold Zippelius
dikatakan bahwa hukum harus merealisasikan tiga nilai dasar, yaitu3:
1 Muhamad Erwin, 2011, Filsafat Hukum: Refleksi Kritis terhadap Hukum, Rajawali Pers, Jakarta, h. 154.
2Ibid, h. 123.
1) Nilai kesamaan
Dihadapan hukum semua pihak harus dipandang sama, sebab hukum
menjamin kedudukan yang sama bagi setiap anggota masyarakat, aturan
hukum harus berisi kriteria objektif yang berlaku bagi semua pihak karena
hukum berlaku umum. Nilai kesamaan inilah yang dalam etika politik disebut
keadilan.
2) Nilai kebebasan
Hukum mencegah pihak yang kuat mencampuri pihak yang lemah, sebab
pada dasarnya hukum melindungi kebebasan manusia. Inti dari kebebasan
ialah bahwa setiap orang atau sekelompok orang berhak untuk mengurus
dirinya sendiri lepas dari dominasi pihak lain yang dipaksakan secara
sewenang-wenang.
3) Nilai kebersamaan
Hukum adalah institusional dari kebersamaan manusia, sebagai makhluk
sosial, manusia selalu hidup bersama, pengakuan terhadap solidaritas ini
mengharuskan tatanan hukum untuk menjamin sikap senasib dan
sepenanggungan. Sehingga dalam tatanan hukum tidak boleh ada pihak yang
dibiarkan menderita apalagi dikorbankan demi kepentingan orang lain.
Ketiga nilai tersebut harus terkandung dalam setiap instrumen hukum agar tujuan
hukum dapat tercapai.
2.2 Prinsip Dasar Hak Asasi Manusia
Hak asasi manusia (HAM) ialah hak yang melekat pada setiap individu
sejak lahir yang diberikan oleh Tuhan, sehingga tidak boleh ada orang, institusi
sosial, budaya atau bahkan negara yang boleh melanggar hak-hak individu
tersebut.4 John Locke menyatakan dalam teori hukum alam bahwa negara
bukanlah pencipta hak individu, namun bertanggungjawab atas pelaksanaannya,5
dan fungsi negara hanyalah menciptakan kondisi agar HAM dapat dinikmati oleh
setiap orang dan negara tidak berwenang mencabut HAM seseorang.6 Namun
menurut Jeremy Bentham, hak adalah anak dari hukum, hak nyata berasal dari
hukum yang nyata (undang-undang), sebaliknya, hukum imajiner (hukum alam)
menimbulkan hak yang imajiner, artinya hak tersebut tidak memiliki arti apa-apa
jika tidak diatur oleh undang-undang.7
Pendapat Jeremy Bentham ini sesuai dengan aliran positivisme hukum dan
digunakan dalam praktik hukum HAM saat ini, sebab sesuatu hal tidak mungkin
diakui dan dilindungi sebagai hak jika tidak ada aturan hukum yang mengatur dan
mengakuinya sebagai hak, selain itu HAM juga diinpretasikan berbeda di setiap
negara, misalnya hak atas perkawinan, di beberapa negara perkawinan dianggap
sebagai hak setiap individu tanpa terkecuali, termasuk bagi pasangan sejenis,
namun di negara lain hanya pasangan beda jenis kelamin yang dapat
4 Tony Evans, 2011, Human Rights in the Global Political Economy, Critical Processes, Lynne Riener Publishers,
Inc., Boulder, Colorado, h. 31.
5 Masykuri Abdillah, 2015, Islam dan Demokrasi, Respons Intelektual Muslim Terhadap Konsep Demokrasi
1966-1993 Edisi Revisi, Prenadamedia Group, Jakarta, h. 91.
6 M. Said Nasar, 2006, Kewarganegaraan (Pemahaman dalam Konteks Sejarah, Teori dan Praktik), Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Jakarta, h. 63.
melangsungkan perkawinan. Atas dasar inilah, maka dalam hukum HAM dikenal
dua istilah hak, yaitu8:
a. Hak alam (natural rights), yaitu hak yang diperoleh seseorang karena ia
manusia dan bersifat universal; dan
b. Hak hukum (positive rights), yaitu hak yang diperoleh seseorang karena
menjadi warga negara, hak ini bersifat domestik.
Dalam praktiknya, hanya hak hukum yang diakui oleh negara, namun tidak
dapat dipungkiri bahwa hak hukum adalah hak alam yang diundangkan, artinya
bukan hukum yang menciptakan hak, melainkan hak yang memaksa adanya
hukum.9 Karena itulah hukum HAM terus berkembang sesuai tuntutan hak
masyarakatnya.
2.2 Perkembangan Hak Asasi manusia
HAM berkembang sebagai bentuk perlawanan terhadap diskriminasi sosial
yang diciptakan oleh kekuatan politik, ekonomi dan keagamaan yang
mendominasi masyarakat.10 Isi atau subtansinya juga berkembang seiring
timbulnya kesadaran individu atau kelompok atas hak-hak mereka, diawali oleh
kesadaran hak para bangsawan Inggris yang melahirkan Magna Charta, kemudian
rakyat juga menyadari hak-hak mereka sehingga tercipta Deklarasi Kemerdekaan
di Amerika Serikat dan Deklarasai Hak Asasi Manusia dan Warga Negara di
8 M. Said, Op.Cit, h. 62.
9 Peter, Op.Cit, h. 172.
10 Thomas Meyer, 2003, Demokrasi, Sebuah Pengantar untuk Penerapan, Cet. II, Friedrich-Ebert-Stiftung
Perancis, dan yang berlaku diseluruh dunia ialah Deklarasi Universal Hak Asasi
Manusia (DUHAM). 11
DUHAM sesungguhnya bukanlah konseptualisasi HAM paling akhir, sebab
sesudah DUHAM, muncul berbagai instrumen HAM yang merupakan penjabaran
dari DUHAM terkait sifat HAM yang universal, setara dan nondiskriminasi.
Adapun pengaruh dari hal tersebut ialah munculnya kesadaran
kelompok-kelompok minoritas serta kelompok-kelompok-kelompok-kelompok yang selama ini mengalami
diskriminasi akan hak-hak mereka, seperti kaum wanita, orang-orang disabilitas
serta kelompok homoseksual. Mereka mendesak agar mendapatkan hak yang
setara dengan kelompok lain.
Akibat adanya desakan-desakan tersebut, dibentuklah berbagai instrumen
yang mengatur secara khusus mengenai hak-hak kelompok ini, misalnya
Konvensi Internasional Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap
Perempuan Tahun 1979, Konvensi Internasional tentang Hak-hak Penyandang
cacat Tahun 2006 dan bagi kelompok homoseksual diatur dalam Resolusi Dewan
HAM PBB 17/19 tentang HAM, Orientasi Seksual dan Identitas Gender pada
tahun 2011.
Hal tersebut menunjukkan bahwa HAM bersifat dinamis, sekalipun HAM
dasar sudah diakui, tidak ada halangan bagi perluasan penafsiran HAM atau
diterimanya hak-hak tambahan.12 Hal ini bertujuan agar HAM dapat dinikmati
semua orang.
12 Julie Mertus, 2001, Hak Asasi Manusia Kaum Perempuan: Langkah Demi Langkah, Pustaka Sinar Harapan,
2.2.3 Prinsip Kesetaraan dan Nondiskriminasi
Prinsip kesetaraan sering kali digambarkan sebagai jiwa dari HAM karena
hal yang fundametal dari lahirnya ide HAM adalah meletakkan setiap individu
dalam posisi yang sederajat dalam hubungannya satu sama lain.13
Kesetaraan tidak berarti bahwa semua manusia adalah sama. Manusia secara
alamiah berbeda satu sama lain, seperti agama, budaya, jenis kelamin, keinginan
dan sebagainya. Istilah kesetaraan digunakan karena maknanya memperhitungkan
semua perbedaan ini, dan tidak bertujuan menghapus perbedaan alamiah tersebut,
makna dari kesetaraan menekankan bahwa ada hak-hak yang tidak dapat dicabut
dari setiap orang bukan karena ia menganut agama tertentu, ras atau jenis kelamin
tertentu, melainkan karena ia adalah manusia. Kesetaraan berarti bahwa tidak ada
orang yang harus dikorbanan untuk kebaikan orang lain. Dan prinsip kesetaraan
maknanya adalah bahwa setiap orang adalah sama dihadapan hukum, tidak ada
hukum yang ditujukan untuk beberapa orang, sementara hukum yang berbeda
ditujukan bagi orang lain.14
Larangan diskriminasi adalah bagian tak terpisahkan dari prinsip kesetaraan.
Jika semua orang setara, maka seharusnya tidak ada perlakuan diskriminatif selain
tindakan yang dilakukan untuk mencapai kesetaraan.15 Prinsip nondiskriminasi
pada hakikatnya terkandung dalam seluruh instrumen HAM. Dalam kamus hukum
oxford, diskriminasi dimaknai sebagai:
“Discrimination: n. Treating a person less favourably than others and grounds un related to merit, usually because he or she belongs to a
13 Hesti, Op.Cit, h. 89. 14 Hesti, Loc.Cit.
particular group or category. As well as direct discrimination, this may involve indirect discrimination, victimization, or harassment. It is unlawful to discriminate on racial grounds, on grounds of sex (including gender reassignment), sexual orientation, religion or belief, disability or age.” 16
Definisi tersebut menyatakan bahwa diskriminasi terjadi bukan karena
orang tersebut malakukan suatu hal yang tidak patut sehingga dapat diperlakukan
berbeda, misalnya menghukum orang karena mencuri. Diskriminasi terjadi karena
seseorang termasuk atau dikaitkan dengan suatu kelompok sosial tertentu,
misalnya jenis kelamin, orientasi seksual maupun agama. Diskriminasi dibagi
menjadi dua, yaitu17:
a) diskriminasi langsung, yakni ketika seseorang baik secara langsung maupun
tidak langsung diperlakukan berbeda.
b) diskriminasi tidak langsung, yakni ketika dampak praktis dari hukum
merupakan bentuk diskriminasi meskipun hal itu tidak ditujukan untuk tujuan
diskriminasi.
Prinsip kesetaraan dan nondiskriminasi merupakan ciri khas HAM yang saling
berkaitan erat, hukum diciptakan untuk menjamin HAM, oleh sebab itu hukum
harus berlaku setara dan nondiskriminasi, sebab semua instrumen HAM
diciptakan tidak lain adalah untuk menjamin terlaksananya kedua prinsip ini.
16 Elizabeth A. Martin, 2007, OxfordDictonary of law, seventh Edition, Oxford University Press Inc. New York,
h. 175.
17 Eko Riyadi et. al, 2012, Vulnerable groups: Kajian dan Mekanisme Perlindungannya, Pusat Studi Hak Asasi
2.2.4 Diskriminasi atas Jenis Kelamin
Diskriminasi yang dialami oleh kelompok homoseksual tidak dapat
dipisahkan dengan diskriminasi atas jenis kelamin, diskriminasi ini terjadi akibat
adanya konsep peran gender dalam masyarakat, yakni tatanan sosial yang
melekatkan jenis kelamin lahir seseorang pada beberapa hal, mulai dari nama,
pakaian, gaya rambut, cara bicara, bahasa tubuh, minat, karakter, perilaku,
kedudukan, dan tujuan hidup.18 Dalam konsep peran gender ini, wanita dianggap
lemah, tidak memiliki kemampuan apa-apa, serta menggantungkan hidup dan
nasibnya pada pria,19 wanita hanya bertugas mengasuh anak, memasak,
membersihkan rumah dan melayani suami serta melakukan pekerjaan domestik
lainnya.20 Sedangkan pria dilekatkan dengan maskulinitas, mewajibkan pria
berperilaku jantan, kuat, tidak cengeng dan bekerja diluar rumah untuk menafkahi
keluarga.21 Hal ini menimbulkan anggapan bahwa pria memiliki kedudukan lebih
unggul dibanding wanita atau biasa disebut patriarki.
Budaya patriarki ini membentuk wanita bergantung pada pria, wanita tidak
mampu mengambil keputusan bahkan untuk dirinya sendiri.22 Diskriminasi ini
juga dibenarkan oleh tradisi dan ajaran agama, sebab pada umumnya tradisi dan
agama meletakkan norma hanya pada perspektif pria.23 Hal ini kemudian
dilegitimasi ke dalam aturan-aturan hukum dan kebijakan negara yang bias
gender. Para wanita kemudian menyuarakan hak-haknya dan memperjuangkan
kesetaraan dengan pria, gerakan menuntut kesetaraan hak dengan pria ini biasanya
dikenal dengan istilah feminisme. Salah satu bentuk kesetaraan yang dituntut
dalam gerakan ini adalah hak untuk memilih pasangan, sebab selama ini wanita
hanya dijadikan objek seks pria, wanita tidak benar-benar dapat memilih
pasangannya sendiri.
Diskriminasi terhadap homoseksual kemudian dianggap sebagai salah satu
bentuk dari diskriminasi gender yang didasarkan pada budaya patriarki, sebab
menurut budaya ini wanita menggantungkan hidup pada pria, dengan demikian
hubungan yang dijalin oleh pasangan jenis kelamin terutama sesama wanita tidak
mungkin dapat dilakukan karena wanita dianggap lemah, sehingga butuh pria
sebagai pelindung dan pemimpin.
2.3. Pengertian Homoseksual
Homoseksual dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti keadaan tertarik
terhadap orang dengan jenis kelamin sama,24 dan dalam Pedoman Penggolongan
Diagnosa Gangguan Jiwa jilid II, homoseksual diartikan sebagai rasa ketertarikan
perasaan (kasih sayang, hubungan emosional, dan/atau secara erotik), secara
eksklusif terhadap orang yang berjenis kelamin sama, dengan atau tanpa
hubungan fisik.25
24 Departemen Pendidikan Nasional, 2015, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat, Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta, h. 506.
25 Argyo Dematoro, 2013, Seks, Gender, Seksualitas dan Lesbian, URL :
Homoseksual sendiri merupakan salah satu varian dari orientasi seksual
manusia selain heteroseksual (ketertarikan terhadap lawan jenis) dan biseksual
(ketertarikan terhadap lawan jenis dan sesama jenis). Orientasi seksual dapat
diartikan sebagai rasa ketertarikan secara seksual maupun emosional terhadap
jenis kelamin tertentu, orientasi seksual ini dapat diikuti dengan adanya perilaku
seksual atau tidak.26 Orientasi seksual berbeda dengan perilaku seksual, sebab
orientasi seksual bukan semata ketertarikan seks secara jasmani, namun juga
menjangkau hubungan batin dan merupakan pola berkelanjutan, sedangkan
perilaku seksual dimaknai sebagai perilaku yang menggambarkan hadirnya
erotisme. Erotisme sendiri ialah kemampuan secara sadar dalam mengalami hasrat
akan dorongan seks, orgasme atau hal-hal lain yang berkaitan dengan hubungan
seksual.27
Istilah homoseksual diperkenalkan oleh Anne Fausto-Sterling pada tahun
1869 dalam buku Sex/Gender, namun baru pada tahun 1892 istilah homoseksual
merujuk pada orientasi seksual sesama jenis, sebelumnya penggunaan istilah
homoseksual merujuk pada pria yang bersifat feminin.28 Anggapan ini masih
sering berlaku sampai saat ini, dimana homoseksual identik dengan pria feminin
atau wanita maskulin. Padahal orientasi seksual berbeda dengan identitas gender.
Istilah lain untuk homoseksual adalah gay dan khusus untuk homoseksual wanita
disebut lesbian.
26Ibid.
27 Sinyo, Op.Cit, h. 2-4.
1.4.Pengertian Heteronormatitas
Heteronormativitas adalah suatu tatanan sosial yang menganggap bahwa
orientasi heteroseksual adalah suatu norma yang ideal dan sebagai sesuatu yang
normal,29 artinya setiap orang harus berpasangan dengan orang yang jenis
kelaminnya berbeda. Mereka yang tidak berperilaku berdasarkan norma sosial ini
akan dianggap menyimpang atau tidak normal karena tidak sesuai tatanan sosial.
Hal ini terkait erat dengan fungsi reproduksi serta konsep peran gender dalam
masyarakat.
Kondisi ini kemudian mengakibatkan terbentuknya perilaku yang disebut
homophobia, yakni sikap atau perasaan negatif, tidak suka terhadap homoseksual
secara umum, atau penolakan terhadap orang-orang yang dianggap homoseksual
dan semua yang diasosiasikan dengan mereka.30 Homophobia inilah yang
kemudian memunculkan diskriminasi terhadap kelompok homoseksual.
29 Hendri, Op.Cit,h. 13.
30 Moh. Yasir Alimi, 2004, Dekonstruksi Seksualitas Poskolonial: Dari Wacana Bangsa Hingga Wacana Agama,