• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUM YANG DISKRIMINATIF TERHADAP HOMOSEKSUAL.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "HUKUM YANG DISKRIMINATIF TERHADAP HOMOSEKSUAL."

Copied!
43
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

HUKUM YANG DISKRIMINATIF TERHADAP

HOMOSEKSUAL

M. NAJIB

NIM. 1203005175

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

(2)

SKRIPSI

HUKUM YANG DISKRIMINATIF TERHADAP

HOMOSEKSUAL

M. Najib

NIM. 1203005175

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

(3)

SKRIPSI

HUKUM YANG DISKRIMINATIF TERHADAP

HOMOSEKSUAL

Skripsi ini dibuat untuk memperoleh Gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum

Universitas Udayana

M. Najib

NIM. 1203005175

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS UDAYANA

(4)

Lembar Persetujuan Pembimbing

SKRIPSI INI TELAH DISETUJUI

(5)

SKRIPSI INI TELAH DIUJI

PADA TANGGAL 23 JUNI 2016

Panitia Penguji Skripsi

Berdasarkan Surat Keputusan Dekan Fakultas Hukum Universitas Udayana

(6)

KATA PENGANTAR

Skripsi ini disusun berdasarkan latar belakang maraknya diskriminasi

terhadap kelompok homoseksual, tidak hanya oleh masyarakat umum, namun juga

oleh pejabat publik yang kemudian diimplementasikan kedalam peraturan

perundang-undangan. Berdasarkan latar belakang tersebut, dibuatlah skripsi ini yang akan

menganalisa berbagai peraturan perundang-undangan yang dianggap diskriminatif

terhadap kelompok homoseksual.

Penulis menyadari bahwa penyusunan dan penyelesaian skripsi ini dapat

dapat terselesaikan berkat bimbingan, arahan, saran dan dukungan dari berbagai

pihak dalam penyusunan skripsi ini. Untuk itu pada kesempatan ini penulis

menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. I Made Arya Utama, SH.,M.Hum,Dekan Fakultas Hukum

Universitas Udayana.

2. Bapak Dr. Gde Made Swardhana, SH.,MH., Pembantu Dekan I Fakultas Hukum

Universitas Udayana.

3. Ibu Dr. Ni Ketut Sri Utari, SH., MH., Pembantu Dekan II Fakultas Hukum

Universitas Udayana, sekaligus sebagai Dosen Pembimbing I yang atas

kebijaksanaan dan bimbingannya telah memberikan arahan, kritik, saran dan

(7)

4. Dr. I Gede Yusa, S.H.,M.H., Pembantu Dekan III Fakultas Hukum Universitas

Udayana.

5. Ibu Ni Made Ari Yuliartini Griadhi, S.H.,M.H., selaku Dosen Pembimbing

IIyang dengan sabar memberikan arahan, kritik dan saran dalam penyusunan

skripsi ini.

6. Ibu Ni Luh Gede Astariyani, SH.,MH selaku Dosen Pembimbing Akademik

penulis yang senantiasa memberikan penulis nasehat dalam bidang akademik

selama ini.

7. Segenap Bapak dan Ibu Dosen di lingkungan Fakultas Hukum Universitas

Udayana yang telah mendidik, membimbing, dan membagi ilmu pengetahuan

serta pengalaman selama penulis mengikuti perkuliahan.

8. Seluruh staff administrasi dan pegawai di lingkungan Fakultas Hukum

Universitas Udayana.

9. Bapak Wahyu Budi Nugroho, S.Sos.,M.Si., yang telah memberikan masukan

serta bacaan-bacaan untuk keperluan penyelesaian skripsi ini.

10. Kedua orangtua penulis, Sya’roni dan Khutipah, adik penulis Akhid dan Lisa, serta seluruh keluarga yang selalu memberikan dukungan moril maupun materiil

yang menjadi motivasi utama penulis dalam menyelesaikan pendidikan di

Fakultas Hukum Universitas Udayana.

11. Rekan-rekan seperjuangan penulis yang selalu menemani penulis sejak awal

hingga akhir menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum, Anti, Dien, Debby,

(8)

Nanang, Gung An dan Bahrul. Sertaseluruh Rekan-rekan mahasiswa Fakultas

Hukum Universitas Udayana angkatan 2012 yang tidak dapat disebutkan satu

persatu.

12. Kawan-kawan penulis, kak Susi, kak Rahma, Ika, Irna, Vani, Octa, Purna, Roshi,

Isma, Tiara, Inggrid, Yeni, Kartika, Aniek, dan Arifin yang telah memberikan

pengalaman tak terlupakan, bantuan dan dukungan kepada penulis selama masa

perkuliahan maupun penyusunan skripsi.

13. Seluruh rekan-rekan maupun pihak-pihak yang selalu memberi dukungan serta

semangat kepada penulis selama mengikuti proses perkuliahan dan penyusunan

skripsi.

Penulis menyadari bahwapenyusunan skripsi ini masih jauh dari sempurna, baik

dari penyajian maupun penyusunannya. Oleh karena itu, penulis dengan kerendahan

hati senantiasa mengharapkan bantuan serta masukan berupa kritik dan saran yang

bersifat membangun untuk kesempurnaan skripsi ini.

Denpasar, 11 Mei 2016

(9)

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN

Dengan ini penulis menyatakan bahwa Skripsi ini merupakan hasil karya asli

penulis, tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar

kesarjanaan di perguruan tinggi manapun, dan sepanjang pengetahuan penulis juga

tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh penulis

lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar

pustaka.

Apabila Skripsi ini terbukti merupakan duplikasi ataupun plagiasi dari hasil

karya penulis lain dan/atau dengan sengaja mengajukan karya atau pendapat yang

merupakan hasil karya penulis lain, maka penulis bersedia menerima sanksi akademik

dan/atau sanksi hukum yang berlaku.

Demikian surat pernyataan ini saya buat sebagai pertanggungjawaban ilmiah

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL DEPAN ... i

HALAMAN SAMPUL DALAM ... ii

HALAMAN PRASYARAT GELAR SARJANA HUKUM ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ... iv

HALAMAN PENGESAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

HALAMAN SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ... ix

DAFTAR ISI ... x

ABSTRAK ... xv

ABSTRACT ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 4

1.3 Ruang Lingkup Masalah ... 4

1.4Orisinalitas Penelitian ... 4

1.5Tujuan Penulisan ... 6

a. Tujuan Umum ... 6

(11)

1.5 Manfaat Hasil Penulisan ... 6

c. Manfaat Teoritis ... 6

d. Manfaat Praktis ... 7

1.7 Landasan Teoritis ... 7

1.8 Metode Penelitian ... 12

a. Jenis Penelitian ... 12

b.Jenis Pendekatan ... 12

c. Sumber Bahan Hukum ... 13

d. Teknik Pengupulan Bahan Hukum ... 16

e. Teknik Analisis ... 16

BAB II TINJAUAN UMUM MENGENAI HUKUM YANG DISKRIMINATIF TERHADAP HOMOSEKSUAL ... 18

2.1Konsep Hukum ... 18

2.2Prinsip Dasar Hak Asasi Manusia ... 20

2.2.1 Konsep Hak Asasi Manusia ... 20

2.2.2 Perkembangan Hak Asasi Manusia... 21

2.2.3Prinsip Kesetaraan dan Nondiskriminasi ... 23

2.2.4 Diskriminasi atas Jenis Kelamin ... 25

2.3Pengertian Homoseksual ... 26

(12)

BAB III KEDUDUKAN HOMOSEKSUAL DALAM PERSPEKTIF HAM ... 29

3.1 Pandangan-Pandangan Negatif Terhadap Homoseksual ... 29

3.1.1Homoseksual Adalah Hal yang Tidak Normal ... 29

3.1.2Homoseksual Adalah Penyimpangan Seksual ... 30

3.1.3 Homoseksual Melawan Kodrat Alam ... 31

3.1.4 Homoseksual Bertentangan dengan Semua Ajaran Agama ... 33

3.1.5 Homoseksual Adalah Budaya Barat ... 38

3.1.6 Homoseksual Adalah Gangguan Jiwa ... 41

3.1.7 Homoseksual Adalah Penyebar Penyakit AIDS ... 43

3.1.8 Homoseksual Adalah Psikopat ... 44

3.2 Instrumen Pengaturan Hak-Hak Bagi Kelompok Homoseksual ... 46

3.2.1 Instrumen-Instrumen Hukum HAM Umum ... 46

3.2.1.1 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 ... 46

3.2.1.2 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) atau Universal Declaration of Human Rights ... 48

3.2.1.3 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia ... 50

3.2.1.4 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Ratifikasi

Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi

(13)

Elimination of All Forms of Discrimination Againts

Women (CEDAW) ... 51

3.2.1.5 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Konvensi Internasional Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (International Convention on Economic, Cultural, and Social Rights) ... 53 3.2.1.6 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Ratifikasi

Konvensi Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik (International Convemtion on Civil and Political Rights) . .54 3.2.2 Instrumen-Instrumen yang Melarang Diskriminasi Atas Dasar Orientasi Seksual ... 55 3.2.2.1 Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia

Nomor 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia ... 55 3.2.2.2 Surat Edaran Kepolisan Negara Republik Indonesia Nomor

SE/06/X/2015 tentang Penganan Ujaran Kebencian (Hate Speech) ... 56 3.2.2.3 Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Nomor

(14)

3.2.2.4 Resolusi Dewan HAM PBB Nomor 17/19 Hak Asasi Manusia, Orientasi Seksual dan Identitas Geder (17/19 Human Righta,

Sexual Orientation and Gender Identity) Tahun 2011 ... 57

3.2.2.5 Prinsip-Prinsip Yogyakarta... 57

3.3 Perlindungan Hak-Hak Kelompok Homoseksual di Beberapa Negara ... 59

3.3.1 Belanda ... 59

3.3.2 Afrika Selatan ... 60

3.3.3 Israel ... 62

3.3.4 Australia ... 63

BAB IV ATURAN HUKUM YANG DISKRIMINATIF TERHADAP HOMOSEKSUAL... 67

4.1 Bentuk-Bentuk Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia ... 67

4.2 Aturan-Aturan Hukum yang Diskriminatif Terhadap Homoseksual ... 69

4.2.1 Diskriminasi dalam Hukum Keluarga ... 69

4.2.2 Diskriminasi dalam Hak Atas Pekerjaan ... 76

4.2.3Diskriminasi dalam Hak atas Kebebasan Berserikat dan Berkumpul 78 4.2.4 Stigmatisasi Homoseksual ... 80

BAB V PENUTUP ... 84

5.1 Kesimpulan ... 84

5.2 Saran ... 85

(15)

ABSTRAK

Skripsi ini akan membahas mengenai kedudukan kelompok homoseksual dalam perspektif HAM, serta menganalisa aturan-aturan hukum yang dianggap mendiskriminasi homoseksual. penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan, pendekatan konseptual, dan pendekatan perbandingan.

Kesimpulan yang dapat diambil dari skripsi ini adalah bahwa sebagai manusia, homoseksual berhak menikmati hak-hak seperti kelompok lain yang telah dijamin dalam berbagai instrumen hukum HAM.

Kata Kunci: Homoseksual, Diskriminasi, Hukum.

ABSTRACT

This thesis will describe the position of homosexual on human rights perspective, and to analyze the discriminatory laws against homosexual. It applies normative legal research method combined with statutory, conceptual and comparative approach.

The draw through this thesis are as human being, homosexual people has right to enjoy human rights as equal as other people wich is confimed in human rights legal instruments.

(16)

i BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah

Pada akhir Januari 2016, Menteri Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi RI

dalam akun twitternya menyatakan bahwa Lesbian, Gay, Biseksual dan

Transgender (LGBT) dilarang masuk ke Perguruan Tinggi, karena dianggap

merusak moral bangsa. Pernyataan ini dinilai sangat diskriminatif yang kemudian

menimbulkan polemik di masyarakat sehingga muncul petisi online meminta

Menristek mencabut pernyataan dikriminatif tersebut.

Diskriminasi terhadap kelompok homoseksual telah menjadi isu global, PBB

bahkan telah menyerukan penghapusan diskriminasi terhadap kelompok

homoseksual sejak tahun 2007.1 Perjuangan kelompok homoseksual untuk

memperoleh kesetaraan hak dimulai sejak revolusi sosial di Inggris tahun 1897

oleh sebuah komunitas homoseksual bernama Order of Cheronea,2 dan secara

internasional perjuangan kelompok homoseksual menjadi semakin besar setelah

homoseksual tidak lagi dkategorikan sebagai penyakit atau gangguan kejiwaan

oleh WHO sejak 1993. Di Indonesia, para pria homoseksual mendirikan Lambda

Indonesia pada tahun 1982, dan pada tahun 1986 para lesbian mendirikan

Persatuan Lesbian Indonesia (Perlesin). Saat ini tercatat ada 119 organisasi

1 Hendri Yulius, 2015, Coming Out, Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Jakarta, h. 50.

(17)

ii

homoseksual di seluruh Indonesia, organisasi ini selain menampung kelompok

homoseksual, biasanya juga menampung kelompok biseksual dan transgender.3

Organisasi-organisasi tersebut didirikan sebagai wadah bagi kelompok

homoseksual untuk memperjuangkan pengakuan eksistensi mereka guna

mendapatkan kesetaraan hak dengan kelompok lain serta menghapus diskriminasi

yang selama ini mereka alami. Diskriminasi yang dialami kelompok homoseksual

diantaranya4:

1. Diskriminasi sosial, seperti stigmatisasi, cemoohan, pelecehan, dan pengucilan;

2. Diskriminasi hukum, berupa perlakuan hukum yang berbeda bagi

homoseksual;

3. Diskriminasi ekonomi, yakni pelanggaran hak atas pekerjaan;

4. Diskriminasi kebudayaan, contohnya adalah upaya penghilangan nilai-nilai budaya yang ramah terhadap kelompok homoseksual.

Diskriminasi terhadap homoseksual tidak hanya dilakukan oleh masyarakat,

negara juga turut mengembangkan diskriminasi ini, baik dalam kebijakan maupun

aturan hukumnya, misalnya dalam acara-acara yang diselenggarakan oleh

kelompok homoseksual, baik berupa konferensi, pendidikan, ataupun hiburan

hampir selalu mendapat paksaan penghentian dari kelompok-kelompok yang

memusuhi, dan dalam hampir semua kasus, kepolisian sebagai organ negara,

bukannya melindungi kelompok homoseksual yang terancam, malah lebih

memilih untuk tidak menjamin keamanan peserta, atau bahkan memerintahkan

agar acara dihentikan.5

3 LGBT Nasional Indonesia, 2014, Hidup sebagai LGBT di Asia: Laporan nasional Indonesia, Tinjauan dan

Analisa Partisipatif tentang Lingkungan Hukum dan Sosial bagi Orang dan Masyarakat Madani, Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT), USAID dan UNDP, Jakarta, h. 57.

4 Ariyanto dan Rido Triawan, 2008, Diskriminasi terhadap LGBT, Citra Grafika, Jakarta, h. 28.

(18)

iii

Keberadaan homoseksual juga seolah ditutupi oleh pemerintah, misalnya

penarikan komik “Why Puberty” atas usul Komisi Perlindungan Anak Indonesia

(KPAI) akibat salah satu dialognya yang berbunyi “setiap orang punya hak untuk

mencintai dan dicintai, dan bila mereka mencintai sesama jenis, itu adalah pilihan.

Jika boleh memilih, tentu saja mereka ingin memilih mencintai lawan jenisnya”.6

Undang-Undang Perkawinan Indonesia secara tegas menyatakan bahwa

perkawinan hanya bisa dilakukan oleh pasangan beda jenis kelamin, yakni antara

seorang pria dengan seorang wanita, sehingga seringkali pasangan sejenis

melakukan pemalsuan identitas agar dapat melangsungkan perkawinan, contohnya

ialah pada tahun 2011 di Jawa Tengah, seorang transgender pria (priawan)

bernama Rega dijebloskan ke penjara atas laporan keluarga pasangannya dengan

tuduhan melakukan penipuan karena Rega diketahui berjenis kelamin perempuan.

Dia hendak menikahi pasangannya yang juga berkelamin perempuan.7

Hal tersebut menunjukkan bahwa negara membiarkan bahkan melegalkan

diskriminasi terhadap homoseksual. Padahal salah satu fungsi negara ialah

memenuhi kepentingan warga negara sekaligus melindungi kepentingan warga

negara yang lain.8 Disini terlihat negara hanya memenuhi kepentingan kelompok

yang anti homoseksual yang kemudian dilegitimasi menjadi aturan hukum dan

sama sekali tidak mencerminkan kepentingan dan bahkan mendiskriminasi

homoseksual, padahal kelompok homoseksual juga merupakan warga negara yang

wajib dilindungi.

6 Hendri, Op.Cit, h. 146.

7 LGBT Indonesia, Op.Cit, h. 24-25.

(19)

iv

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, penulis tertarik untuk mengkaji

permasalahan dalam usulan penelitian dengan judul “HUKUM YANG

DISKRIMINATIF TERHADAP HOMOSEKSUAL”.

1.2.Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah kedudukan homoseksual dalam perspektif HAM?

2. Apakah ada aturan hukum yang diskrimitif terhadap homoseksual?

1.3.Ruang Lingkup Masalah

Agar uraian sistematis dan tidak menyimpang dari permasalahan yang akan

dibahas, maka diadakan pembatasan ruang lingkup masalah, yang mencakup:

1. Untuk pemasalahan pertama akan dibahas mengenai bagaimana homoseksual

di Indonesia serta bagaimana kedudukan mereka dalam perspektif HAM.

2. Untuk permasalahan kedua akan dibahas mengenai aturan-aturan hukum yang

dianggap diskriminatif terhadap kelompok homoseksual.

1.4.Orisinalitas Penelitian

Penulis menyatakan dengan sesungguhnya bahwa penelitian dengan judul

“Hukum Yang Diskriminatif Terhadap Homoseksual” adalah hasil penelitian,

pemikiran dan pemaparan asli penulis. Jika terdapat referensi karya orang lain,

maka ditulis sumber dengan jelas. Beberapa penelitian dengan jenis yang sama

yang ada dalam internet atau perpustakaan skripsi diantaranya “Negara dan Hak

Asasi Kelompok Minoritas Seksual Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender/

Transeksual, Interseks dan Queer” dan “Homoseksual dalam Perspektif Hukum

Pidana dan Hukum Islam. Suatu Studi Komparatif Normatif”. Kedua penelitian

(20)

v

pada aturan-aturan hukum yang diskriminatif terhadap homoseksual. Berikut

terlampir matrik perbedaan penelitian yang telah ada dengan penelitian ini:

TABEL I

Nomor Peneliti Judul Rumusan Masalah

(21)

vi

Normatif” Pidana?

1.5.Tujuan Penelitian

a. Tujuan Umum

Tujuan penulisan usulan penelitian ini secara umum adalah untuk

melaksanakan Tri Dharma perguruan Tinggi, serta memberikan sumbangan

ilmu pengetahuan hukum terutama yang berkaitan dengan hak asasi manusia.

b. Tujuan Khusus

1) untuk mengetahui kedudukan homoseksual dalam perspektif HAM;

2) untuk mengungkap aturan-aturan hukum yang dianggap diskriminatif

terhadap kelompok homoseksual.

1.6.Manfaat Penelitian

a. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan

dan masukan terhadap perkembangan Ilmu Pengetahuan Hukum, terutama

(22)

vii b. Manfaat Praktis

1) penelitian ini diaharapkan bisa menjadi masukan atau bahan pertimbangan

bagi pemerintah, khususnya dalam upaya penegakkan dan perlindungan

HAM di Indonesia, terutama bagi kelompok homoseksual.

2) penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan atau memberikan

informasi yang konstruktif kepada masyarakat yang diharapkan turut serta

berperan dalam upaya penegakkan dan perlindungan HAM di Indonesia.

1.7.Landasan Teoritis

a. Teori Negara Hukum

Indonesia merupakan negara hukum, hal ini tercantum dalam Pasal 1 ayat

(3) UUD NRI Tahun 1945 yang menyebutkan bahwa “Indonesia adalah

negara hukum”. Konsep negara hukum ini terkait dengan konsep

perlindungan hukum, sebab konsep ini tidak lepas dari gagasan untuk

memberi pengakuan dan perlindungan HAM bagi warga negara.9

Negara hukum dapat dibedakan menjadi dua, yaitu Rechtstaat yang

bertumpu pada civil law dengan mengutamakan prinsip wetmatigheid dan The

Rule of Law yang dikembangkan di negara-negara tradisi Anglo Saxon

dengan mengutamakan prinsip equality before the law, keduanya memang

memiliki latar belakang dan pelembagaan yang berbeda, namun pada intinya

sama-sama menginginkan perlindungan HAM melalui pelembagaan peradilan

yang bebas dan tidak memihak.10

(23)

viii

F.J. Stahl mengungkapkan terdapat empat unsur pokok negara hukum

Rechtstaat yakni11:

1) Perlindungan Hak Asasi Manusia;

2) Pemisahan atau pembagian kekuasaan untuk menjamin hak-hak itu;

3) Pemerintahan berdasarkan peraturan-peraturan; 4) Peradilan administrasi dalam perselisihan.

Sedangkan dalam negara The Rule of Law, menurut A.C. Dicey terdapat tiga

unsur fundamental pada konsep ini, yakni12:

1) Supremasi aturan hukum;

2) Kedudukan yang sama dalam hukum;

3) Terjaminnya hak-hak asasi manusia oleh undang-undang maupun

keputusan-keputusan pengadilan.

Dengan demikian, setiap negara hukum baik yang berbentuk Rechtstaat

maupun The Rule of Law, keduanya menempatkan HAM sebagai salah satu

unsur fundamentalnya dan adanya hukum serta pemisahan atau pembagian

kekuasaan adalah untuk menjamin hak-hak tersebut.

b. Prinsip-Prinsip Hak Asasi Manusia

Dalam UU Nomor 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia disebutkan:

“Hak asasi manusia merupakan seperangkat hak yang melekat pada

hakekat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerahNya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang demi

kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.”

Menurut N. Flowers, terdapat 7 Prinsip utama hak asasi manusia, meliputi13:

1) prinsip universalitas;

2) pemartabatan terhadap manusia (human dignity);

10Ibid h.126-127.

11 Majda El-Muhtaj, 2012, Hak Asasi Manusia dalam Konstitusi Indonesia: dari UUD 1945 sampai dengan

Amandemen UUD 1945 Tahun 2002, Cet. IV, Kencana, Jakarta, h. 28. 12Ibid, h.7.

(24)

ix 3) nondiskriminasi;

4) persamaan;

5) indivisibility, maksudnya suatu hak tidak bisa dipisah-pisahkan antara yang satu dengan yang lainnya;

6) interdependency (saling ketergantungan);

7) inalienability. Pemahaman prinsip atas hak yang tidak bisa dipindahkan, tidak bisa dirampas atau dipertukarkan dengan hal tertentu;

8) responsibilitas atau pertanggungjawaban.

Dari sekian prinsip-prinsip utama HAM tersebut, yang berkaitan erat

dengan penelitian ini adalah prinsip nondiskriminasi, prinsip ini merupakan

salah satu prinsip utama HAM, karena seluruh instrumen HAM mengandung

klausul nondiskriminasi, misalnya Pasal 2 DUHAM menyatakan bahwa

setiap individu berhak untuk menikmati seluruh hak dan kebebasan yang

diatur dalam DUHAM tanpa adanya pembedaan apapun. Begitu pula Pasal 2

(1) ICCPR dan Pasal 2 (2) ICESR. Namun demikian, sampai saat ini hanya

Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskrimiasi terhadap

Perempuan (CEDAW) yang secara internasional memberikan definisi yang

spesifik mengenai pengertian diskriminasi.

Dalam CEDAW, diskriminasi terhadap perempuan diartikan sebagai

setiap pembedaan, pengucilan, atau pembatasan yang dibuat atas dasar jenis

kelamin yang mempunyai pengaruh atau tujuan untuk mengurangi atau

menghapuskan pengakuan, penikmatan, atau penggunaan hak asasi manusia

dan kebebasan-kebebasan pokok di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya,

sipil atau apapun lainnya bagi kaum perempuan terlepas dari status

(25)

x

Jika mengacu pada definisi diskriminasi dalam CEDAW, maka yang

dimaksud diskriminasi adalah pembedaan, pengucilan atau pembatasan

terhadap orang atau sekelompok orang yang bertujuan untuk mengurangi atau

menghapuskan pengakuan, penikmatan, atau penggunaan hak asasi manusia

yang didasarkan pada suatu hal dalam diri seseorang, dan diskriminasi yang

dialami oleh homoseksual adalah karena orientasi seksual mereka.

Dengan adanya prinsip nondiskriminasi, maka negara dalam segala aturan

hukumnya wajib menghormati, menjunjung tinggi dan melindungi HAM

terhadap semua orang tanpa terkecuali termasuk bagi kelompok homoseksual.

c. Teori Penafsiran Hukum

Dalam beberapa hal, undang-undang tidak menjelaskan secara rinci

mengenai suatu permasalahan. Untuk itu perlu dilakukan penafsiran hukum.

Penafsiran hukum memiliki beberapa jenis, yaitu14:

1) Penafsiran tata bahasa (gramatikal), artinya ketentuan yang terdapat pada

peraturan perundang-undangan ditafsirkan dengan berpedoman pada arti

perkataan menurut tata bahasa atau menurut kebiasaan.

2) Penafsiran sahih (autentik/resmi), yakni penafsiran yang dilakukan

berdasarkan pengertian yang ditentukan oleh pembentuk undnag-undang.

3) Penafsiran historis, penafsiran dilakukan berdasarkan:

a. Sejarah hukum, yaitu berdasarkan sejarah terjadinya hukum tersebut.

b. Sejarah undang-undang, yaitu dengan maksud pembentuk undang-undang

pada saat membentuk undang-undang tersebut.

(26)

xi

4) Penafsiran sistematis, dilakukan dengan meninjau susunan yang berhubungan

dengan pasal-pasal lainnya, baik dalam undang-undang yang sama maupun

dengan undang-undang yang lain.

5) Penafsiran nasional, merupakan penafsiran yang didasarkan pada kesesuaian

dengan sistem hukum yang berlaku.

6) Penafsiran teologis (sosiologis), penafsiran ini dilakukan karena terdapat

perubahan di masyarakat, sedangkan bunyi undang-undang tidak berubah.

7) Penafsiran ekstensif, penafsiran ini dilakukan dengan memperluas arti

kata-kata yang terdapat dalam suatu peraturan perundang-undangan.

8) Penafsiran restrikstif, penafsiran ini dilakukan dengan mempersempit arti

kata-kata yang terdapat dalam suatu peraturan perundang-undangan.

9) penafsiran analogis, penafsiran analogis dilakukan dengan memberikan suatu

kiasan ibarat pada kata-kata sesuai dengan asas hukumnya.

10) Penafsiran a contrario, adalah penafsiran yang didasarkan pada perlawanan

antara masalah yang dihadapi dengan masalah yang diatur dalam

undang-undang.

Dalam penilitian ini akan digunakan penafsiran gramatikal, sejarah hukum,

penafsiran sistematis, penafsiran nasional, penafsiran teologis, dan penafsiran

ekstensif. Metode-metode penafsiran hukum tersebut dipakai untuk

membahas mengenai aturan hukum yang berkaitan dengan HAM maupun

aturan hukum yang diskriminatif terhadap homoseksual.

1.8. Metode Penelitian

(27)

xii

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah penelitian

hukum normatif dengan menguraikan permasalah-permasalahan mengenai

kedudukan homoseksual dalam perspektif HAM serta aturan-aturan

hukum yang diskriminatif terhadap homoseksual.

Permasalahan-permasalahan tersebut dibahas dengan kajian yang berdasarkan pada

teori-teori hukum yang kemudian dikaitkan dengan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.15

b. Jenis Pendekatan

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian hukum ini meliputi:

1) Pendekatan Perundang-undangan. yakni dengan menelaah

aturan-aturan yang bersangkut paut dengan isu hukum yang sedang

ditangani,16 yakni yang berkaitan dengan hak asasi manusia dan

homoseksual, pendekatan ini diperlukan untuk membahas kedua

rumusan masalah, baik aturan-aturan hukum mengenai kedudukan

maupun hak-hak homoseksual, serta aturan-aturan hukum yang

diskriminatif terhadap homoseksual.

2) Pendekatan konseptual beranjak dari pandangan-pandangan dan

doktrin-doktrin yang berkembang di dalam ilmu hukum.17 Pendekatan

ini dipakai untuk membahas mengenai konsep hukum dan konsep hak

asasi manusia terutama kedudukan homoseksual dalam HAM.

15 Soerjono Soekanto dan Sri Mamuji, 1995, Penulisan Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, PT. Grafindo

Persada, Jakarta, h.13.

16 Peter Mahmud Marzuki, 2010, Penelitian Hukum. Kencana Prenada Media Group, Jakarta, h. 93.

(28)

xiii

3) Pendekatan perbandingan, yakni dengan membandingkan satu

instrumen hukum dengan instrumen hukum lain terkait aturan-aturan

hukum terhadap homoseksual di Indonesia maupun aturan negara lain,

yakni Belanda, Afrika Selatan, Israel, dan Australia. Hal ini untuk

membahas kedudukan homoseksual dalam perspektif HAM serta

aturan-aturan hukum yang diskriminatif terhadap homoseksual.

c. Sumber Bahan Hukum

Sumber bahan hukum yang dipakai dalam penelitian ini dapat

diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) jenis meliputi :

a) Bahan hukum primer, berupa peraturan perundang-undangan yang

berkaitan dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini.

Sumber bahan hukum primer yang dipakai dalam penetian ini antara

lain:

-Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

-Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) Tahun 1949;

-Kitab Undang-Undang Hukum Pidana;

-Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;

-Undang-undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang Ratifikasi Konvensi

Penghapusan Segala Diskriminasi terhadap Perempuan (Convention

on The Elimination of all Forms of Discrimination Against Women);

(29)

xiv

-Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Konvensi

International Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (International

Convention on Economic, Cultural and Social Rights);

-Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Konvensi

International Hak-Hak Sipil dan Politik (International Convention on

Civil and Political Rights);

-Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi;

-Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;

-Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan

Pengangkatan Anak;

-Peraturan Daerah Kabupaten Banjar Nomor 10 Tahun 2007 tentang

Ketertiban Masyarakat;

-Peraturan Menteri Sosial Republik Indonesia Nomor 08 Tahun 2012

tentang Pedoman Pendataan dan Pengelolaan Data Penyandang

Masalah Kesejahteraan Sosial dan Potensi dan Sumber Kesejahteraan

Sosial;

-Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8

Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi

Manusia Dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik

Indonesia;

-Peraturan Jaksa Agung RI Nomor: Per-048/A/J.A/12/2011 tentang

(30)

xv

-Surat Edaran Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor

SE/06/X/2015 tentang Penanganan Ujaran Kebencian (Hate Speech);

-Peraturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Nomor

01/P/KPI/03/2012 tentang Pedoman Perilaku Penyiaran; dan

-Resolusi Dewan HAM PBB Nomor 17/19 Hak Asasi Manusia,

Orientasi Seksual dan Identitas Gender (17/19 Human Rights, Sexual

Orientation and Gender Identity) Tahun 2011.

b) Bahan hukum sekunder, berupa bahan-bahan yang memberikan

penjelasan terhadap bahan hukum primer yang terdiri dari buku-buku

dan artikel-artikel hasil penelitian atau pendapat pakar.

c) Bahan hukum tersier, berupa bahan-bahan hukum yang dapat

memberikan petunjuk dan penjelasan terhadap bahan hukum primer

maupun bahan hukum sekunder seperti kamus hukum.18

d. Teknik Pengumpulan Bahan Hukum

Pada penelitian ini, teknik pengumpulan bahan hukum yang digunakan

adalah teknik studi dokumen, yaitu dengan mencari bahan-bahan dalam

buku-buku terkait permasalah mengenai kedudukan homoseksual dalam

aturan hukum dan HAM untuk kemudian dikutip bagian-bagian penting

dan selanjutnya disusun secara sistematis sesuai dengan pembahasan

dalam penelitian ini.19

e. Teknik Analisis

18Ibid.

(31)

xvi

Bahan-bahan hukum yang sudah terkumpul kemudian dianalisis dengan

teknik deskriptif analisis dengan menggunakan metode interprestatif dan

metode argumentatif. Teknik deskriptif analisis adalah penjabaran data

yang diperoleh dalam bentuk uraian yang nantinya akan menjawab

permasalahan. Metode interpretatif adalah metode yang menafsirkan

peraturan perundang-undangan dihubungkan dengan peraturan hukum lain

atau dengan keseluruhan sistem hukum.20 Sedangkan Metode argumentatif

adalah alasan berupa penjelasan yang diuraikan secara jelas, berupa

serangkaian pernyataan secara logis untuk memperkuat atau menolak

suatu pendapat, pendirian atau gagasan, berkaitan dengan asas hukum,

norma hukum dan peraturan hukum konkret, serta sistem hukum dan

penemuan hukum, yang berkaitan kedudukan homoseksual dalam hukum

dan hak asasi manusia serta aturan-aturan hukum yang diskriminatif

terhadap kelompok homoseksual.

(32)

BAB II

TINJAUAN UMUM MENGENAI HUKUM YANG DISKRIMINATIF

TERHADAP HOMOSEKSUAL

2.1. Konsep Hukum

Secara umum, hukum diartikan sebagai undang-undang atau hukum tertulis

yang diciptakan oleh penguasa yang berwenang, aturan-aturan selain yang dibuat

atau ditetapkan oleh pihak yang berwenang tidak dianggap sebagai hukum,

termasuk pula aturan-aturan adat dan agama, meskipun keduanya mengikat secara

moral, namun tidak mengikat secara yuridis, aturan adat dan aturan agama baru

dapat mengikat secara yuridis apabila ada undang-undang yang mengakui

keberadaan aturan agama atau aturan adat tersebut ataupun apabila aturan-aturan

tersebut diundangkan kedalam peraturan perundang-undangan. Hal ini sesuai

dengan teori positivisme hukum yang menyatakan bahwa undang-undang adalah

satu-satunya sumber hukum, diluar undang-undang bukanlah hukum. Teori ini

juga mengakui adanya norma hukum yang bertentangan dengan nilai moral.1

Pada dasarnya, hukum diciptakan untuk mencapai suatu tujuan, yaitu untuk

mengatasi konflik. Dengan adanya hukum, konflik akan dipecahkan berdasarkan

aturan yang berorientasi pada nilai-nilai objektif dengan tidak membedakan antara

yang kuat dan lemah.2 Agar bersifat objektif, maka oleh Reinhold Zippelius

dikatakan bahwa hukum harus merealisasikan tiga nilai dasar, yaitu3:

1 Muhamad Erwin, 2011, Filsafat Hukum: Refleksi Kritis terhadap Hukum, Rajawali Pers, Jakarta, h. 154.

2Ibid, h. 123.

(33)

1) Nilai kesamaan

Dihadapan hukum semua pihak harus dipandang sama, sebab hukum

menjamin kedudukan yang sama bagi setiap anggota masyarakat, aturan

hukum harus berisi kriteria objektif yang berlaku bagi semua pihak karena

hukum berlaku umum. Nilai kesamaan inilah yang dalam etika politik disebut

keadilan.

2) Nilai kebebasan

Hukum mencegah pihak yang kuat mencampuri pihak yang lemah, sebab

pada dasarnya hukum melindungi kebebasan manusia. Inti dari kebebasan

ialah bahwa setiap orang atau sekelompok orang berhak untuk mengurus

dirinya sendiri lepas dari dominasi pihak lain yang dipaksakan secara

sewenang-wenang.

3) Nilai kebersamaan

Hukum adalah institusional dari kebersamaan manusia, sebagai makhluk

sosial, manusia selalu hidup bersama, pengakuan terhadap solidaritas ini

mengharuskan tatanan hukum untuk menjamin sikap senasib dan

sepenanggungan. Sehingga dalam tatanan hukum tidak boleh ada pihak yang

dibiarkan menderita apalagi dikorbankan demi kepentingan orang lain.

Ketiga nilai tersebut harus terkandung dalam setiap instrumen hukum agar tujuan

hukum dapat tercapai.

2.2 Prinsip Dasar Hak Asasi Manusia

(34)

Hak asasi manusia (HAM) ialah hak yang melekat pada setiap individu

sejak lahir yang diberikan oleh Tuhan, sehingga tidak boleh ada orang, institusi

sosial, budaya atau bahkan negara yang boleh melanggar hak-hak individu

tersebut.4 John Locke menyatakan dalam teori hukum alam bahwa negara

bukanlah pencipta hak individu, namun bertanggungjawab atas pelaksanaannya,5

dan fungsi negara hanyalah menciptakan kondisi agar HAM dapat dinikmati oleh

setiap orang dan negara tidak berwenang mencabut HAM seseorang.6 Namun

menurut Jeremy Bentham, hak adalah anak dari hukum, hak nyata berasal dari

hukum yang nyata (undang-undang), sebaliknya, hukum imajiner (hukum alam)

menimbulkan hak yang imajiner, artinya hak tersebut tidak memiliki arti apa-apa

jika tidak diatur oleh undang-undang.7

Pendapat Jeremy Bentham ini sesuai dengan aliran positivisme hukum dan

digunakan dalam praktik hukum HAM saat ini, sebab sesuatu hal tidak mungkin

diakui dan dilindungi sebagai hak jika tidak ada aturan hukum yang mengatur dan

mengakuinya sebagai hak, selain itu HAM juga diinpretasikan berbeda di setiap

negara, misalnya hak atas perkawinan, di beberapa negara perkawinan dianggap

sebagai hak setiap individu tanpa terkecuali, termasuk bagi pasangan sejenis,

namun di negara lain hanya pasangan beda jenis kelamin yang dapat

4 Tony Evans, 2011, Human Rights in the Global Political Economy, Critical Processes, Lynne Riener Publishers,

Inc., Boulder, Colorado, h. 31.

5 Masykuri Abdillah, 2015, Islam dan Demokrasi, Respons Intelektual Muslim Terhadap Konsep Demokrasi

1966-1993 Edisi Revisi, Prenadamedia Group, Jakarta, h. 91.

6 M. Said Nasar, 2006, Kewarganegaraan (Pemahaman dalam Konteks Sejarah, Teori dan Praktik), Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Jakarta, h. 63.

(35)

melangsungkan perkawinan. Atas dasar inilah, maka dalam hukum HAM dikenal

dua istilah hak, yaitu8:

a. Hak alam (natural rights), yaitu hak yang diperoleh seseorang karena ia

manusia dan bersifat universal; dan

b. Hak hukum (positive rights), yaitu hak yang diperoleh seseorang karena

menjadi warga negara, hak ini bersifat domestik.

Dalam praktiknya, hanya hak hukum yang diakui oleh negara, namun tidak

dapat dipungkiri bahwa hak hukum adalah hak alam yang diundangkan, artinya

bukan hukum yang menciptakan hak, melainkan hak yang memaksa adanya

hukum.9 Karena itulah hukum HAM terus berkembang sesuai tuntutan hak

masyarakatnya.

2.2 Perkembangan Hak Asasi manusia

HAM berkembang sebagai bentuk perlawanan terhadap diskriminasi sosial

yang diciptakan oleh kekuatan politik, ekonomi dan keagamaan yang

mendominasi masyarakat.10 Isi atau subtansinya juga berkembang seiring

timbulnya kesadaran individu atau kelompok atas hak-hak mereka, diawali oleh

kesadaran hak para bangsawan Inggris yang melahirkan Magna Charta, kemudian

rakyat juga menyadari hak-hak mereka sehingga tercipta Deklarasi Kemerdekaan

di Amerika Serikat dan Deklarasai Hak Asasi Manusia dan Warga Negara di

8 M. Said, Op.Cit, h. 62.

9 Peter, Op.Cit, h. 172.

10 Thomas Meyer, 2003, Demokrasi, Sebuah Pengantar untuk Penerapan, Cet. II, Friedrich-Ebert-Stiftung

(36)

Perancis, dan yang berlaku diseluruh dunia ialah Deklarasi Universal Hak Asasi

Manusia (DUHAM). 11

DUHAM sesungguhnya bukanlah konseptualisasi HAM paling akhir, sebab

sesudah DUHAM, muncul berbagai instrumen HAM yang merupakan penjabaran

dari DUHAM terkait sifat HAM yang universal, setara dan nondiskriminasi.

Adapun pengaruh dari hal tersebut ialah munculnya kesadaran

kelompok-kelompok minoritas serta kelompok-kelompok-kelompok-kelompok yang selama ini mengalami

diskriminasi akan hak-hak mereka, seperti kaum wanita, orang-orang disabilitas

serta kelompok homoseksual. Mereka mendesak agar mendapatkan hak yang

setara dengan kelompok lain.

Akibat adanya desakan-desakan tersebut, dibentuklah berbagai instrumen

yang mengatur secara khusus mengenai hak-hak kelompok ini, misalnya

Konvensi Internasional Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap

Perempuan Tahun 1979, Konvensi Internasional tentang Hak-hak Penyandang

cacat Tahun 2006 dan bagi kelompok homoseksual diatur dalam Resolusi Dewan

HAM PBB 17/19 tentang HAM, Orientasi Seksual dan Identitas Gender pada

tahun 2011.

Hal tersebut menunjukkan bahwa HAM bersifat dinamis, sekalipun HAM

dasar sudah diakui, tidak ada halangan bagi perluasan penafsiran HAM atau

(37)

diterimanya hak-hak tambahan.12 Hal ini bertujuan agar HAM dapat dinikmati

semua orang.

12 Julie Mertus, 2001, Hak Asasi Manusia Kaum Perempuan: Langkah Demi Langkah, Pustaka Sinar Harapan,

(38)

2.2.3 Prinsip Kesetaraan dan Nondiskriminasi

Prinsip kesetaraan sering kali digambarkan sebagai jiwa dari HAM karena

hal yang fundametal dari lahirnya ide HAM adalah meletakkan setiap individu

dalam posisi yang sederajat dalam hubungannya satu sama lain.13

Kesetaraan tidak berarti bahwa semua manusia adalah sama. Manusia secara

alamiah berbeda satu sama lain, seperti agama, budaya, jenis kelamin, keinginan

dan sebagainya. Istilah kesetaraan digunakan karena maknanya memperhitungkan

semua perbedaan ini, dan tidak bertujuan menghapus perbedaan alamiah tersebut,

makna dari kesetaraan menekankan bahwa ada hak-hak yang tidak dapat dicabut

dari setiap orang bukan karena ia menganut agama tertentu, ras atau jenis kelamin

tertentu, melainkan karena ia adalah manusia. Kesetaraan berarti bahwa tidak ada

orang yang harus dikorbanan untuk kebaikan orang lain. Dan prinsip kesetaraan

maknanya adalah bahwa setiap orang adalah sama dihadapan hukum, tidak ada

hukum yang ditujukan untuk beberapa orang, sementara hukum yang berbeda

ditujukan bagi orang lain.14

Larangan diskriminasi adalah bagian tak terpisahkan dari prinsip kesetaraan.

Jika semua orang setara, maka seharusnya tidak ada perlakuan diskriminatif selain

tindakan yang dilakukan untuk mencapai kesetaraan.15 Prinsip nondiskriminasi

pada hakikatnya terkandung dalam seluruh instrumen HAM. Dalam kamus hukum

oxford, diskriminasi dimaknai sebagai:

“Discrimination: n. Treating a person less favourably than others and grounds un related to merit, usually because he or she belongs to a

13 Hesti, Op.Cit, h. 89. 14 Hesti, Loc.Cit.

(39)

particular group or category. As well as direct discrimination, this may involve indirect discrimination, victimization, or harassment. It is unlawful to discriminate on racial grounds, on grounds of sex (including gender reassignment), sexual orientation, religion or belief, disability or age.” 16

Definisi tersebut menyatakan bahwa diskriminasi terjadi bukan karena

orang tersebut malakukan suatu hal yang tidak patut sehingga dapat diperlakukan

berbeda, misalnya menghukum orang karena mencuri. Diskriminasi terjadi karena

seseorang termasuk atau dikaitkan dengan suatu kelompok sosial tertentu,

misalnya jenis kelamin, orientasi seksual maupun agama. Diskriminasi dibagi

menjadi dua, yaitu17:

a) diskriminasi langsung, yakni ketika seseorang baik secara langsung maupun

tidak langsung diperlakukan berbeda.

b) diskriminasi tidak langsung, yakni ketika dampak praktis dari hukum

merupakan bentuk diskriminasi meskipun hal itu tidak ditujukan untuk tujuan

diskriminasi.

Prinsip kesetaraan dan nondiskriminasi merupakan ciri khas HAM yang saling

berkaitan erat, hukum diciptakan untuk menjamin HAM, oleh sebab itu hukum

harus berlaku setara dan nondiskriminasi, sebab semua instrumen HAM

diciptakan tidak lain adalah untuk menjamin terlaksananya kedua prinsip ini.

16 Elizabeth A. Martin, 2007, OxfordDictonary of law, seventh Edition, Oxford University Press Inc. New York,

h. 175.

17 Eko Riyadi et. al, 2012, Vulnerable groups: Kajian dan Mekanisme Perlindungannya, Pusat Studi Hak Asasi

(40)

2.2.4 Diskriminasi atas Jenis Kelamin

Diskriminasi yang dialami oleh kelompok homoseksual tidak dapat

dipisahkan dengan diskriminasi atas jenis kelamin, diskriminasi ini terjadi akibat

adanya konsep peran gender dalam masyarakat, yakni tatanan sosial yang

melekatkan jenis kelamin lahir seseorang pada beberapa hal, mulai dari nama,

pakaian, gaya rambut, cara bicara, bahasa tubuh, minat, karakter, perilaku,

kedudukan, dan tujuan hidup.18 Dalam konsep peran gender ini, wanita dianggap

lemah, tidak memiliki kemampuan apa-apa, serta menggantungkan hidup dan

nasibnya pada pria,19 wanita hanya bertugas mengasuh anak, memasak,

membersihkan rumah dan melayani suami serta melakukan pekerjaan domestik

lainnya.20 Sedangkan pria dilekatkan dengan maskulinitas, mewajibkan pria

berperilaku jantan, kuat, tidak cengeng dan bekerja diluar rumah untuk menafkahi

keluarga.21 Hal ini menimbulkan anggapan bahwa pria memiliki kedudukan lebih

unggul dibanding wanita atau biasa disebut patriarki.

Budaya patriarki ini membentuk wanita bergantung pada pria, wanita tidak

mampu mengambil keputusan bahkan untuk dirinya sendiri.22 Diskriminasi ini

juga dibenarkan oleh tradisi dan ajaran agama, sebab pada umumnya tradisi dan

agama meletakkan norma hanya pada perspektif pria.23 Hal ini kemudian

dilegitimasi ke dalam aturan-aturan hukum dan kebijakan negara yang bias

(41)

gender. Para wanita kemudian menyuarakan hak-haknya dan memperjuangkan

kesetaraan dengan pria, gerakan menuntut kesetaraan hak dengan pria ini biasanya

dikenal dengan istilah feminisme. Salah satu bentuk kesetaraan yang dituntut

dalam gerakan ini adalah hak untuk memilih pasangan, sebab selama ini wanita

hanya dijadikan objek seks pria, wanita tidak benar-benar dapat memilih

pasangannya sendiri.

Diskriminasi terhadap homoseksual kemudian dianggap sebagai salah satu

bentuk dari diskriminasi gender yang didasarkan pada budaya patriarki, sebab

menurut budaya ini wanita menggantungkan hidup pada pria, dengan demikian

hubungan yang dijalin oleh pasangan jenis kelamin terutama sesama wanita tidak

mungkin dapat dilakukan karena wanita dianggap lemah, sehingga butuh pria

sebagai pelindung dan pemimpin.

2.3. Pengertian Homoseksual

Homoseksual dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti keadaan tertarik

terhadap orang dengan jenis kelamin sama,24 dan dalam Pedoman Penggolongan

Diagnosa Gangguan Jiwa jilid II, homoseksual diartikan sebagai rasa ketertarikan

perasaan (kasih sayang, hubungan emosional, dan/atau secara erotik), secara

eksklusif terhadap orang yang berjenis kelamin sama, dengan atau tanpa

hubungan fisik.25

24 Departemen Pendidikan Nasional, 2015, Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat, Gramedia Pustaka

Utama, Jakarta, h. 506.

25 Argyo Dematoro, 2013, Seks, Gender, Seksualitas dan Lesbian, URL :

(42)

Homoseksual sendiri merupakan salah satu varian dari orientasi seksual

manusia selain heteroseksual (ketertarikan terhadap lawan jenis) dan biseksual

(ketertarikan terhadap lawan jenis dan sesama jenis). Orientasi seksual dapat

diartikan sebagai rasa ketertarikan secara seksual maupun emosional terhadap

jenis kelamin tertentu, orientasi seksual ini dapat diikuti dengan adanya perilaku

seksual atau tidak.26 Orientasi seksual berbeda dengan perilaku seksual, sebab

orientasi seksual bukan semata ketertarikan seks secara jasmani, namun juga

menjangkau hubungan batin dan merupakan pola berkelanjutan, sedangkan

perilaku seksual dimaknai sebagai perilaku yang menggambarkan hadirnya

erotisme. Erotisme sendiri ialah kemampuan secara sadar dalam mengalami hasrat

akan dorongan seks, orgasme atau hal-hal lain yang berkaitan dengan hubungan

seksual.27

Istilah homoseksual diperkenalkan oleh Anne Fausto-Sterling pada tahun

1869 dalam buku Sex/Gender, namun baru pada tahun 1892 istilah homoseksual

merujuk pada orientasi seksual sesama jenis, sebelumnya penggunaan istilah

homoseksual merujuk pada pria yang bersifat feminin.28 Anggapan ini masih

sering berlaku sampai saat ini, dimana homoseksual identik dengan pria feminin

atau wanita maskulin. Padahal orientasi seksual berbeda dengan identitas gender.

Istilah lain untuk homoseksual adalah gay dan khusus untuk homoseksual wanita

disebut lesbian.

26Ibid.

27 Sinyo, Op.Cit, h. 2-4.

(43)

1.4.Pengertian Heteronormatitas

Heteronormativitas adalah suatu tatanan sosial yang menganggap bahwa

orientasi heteroseksual adalah suatu norma yang ideal dan sebagai sesuatu yang

normal,29 artinya setiap orang harus berpasangan dengan orang yang jenis

kelaminnya berbeda. Mereka yang tidak berperilaku berdasarkan norma sosial ini

akan dianggap menyimpang atau tidak normal karena tidak sesuai tatanan sosial.

Hal ini terkait erat dengan fungsi reproduksi serta konsep peran gender dalam

masyarakat.

Kondisi ini kemudian mengakibatkan terbentuknya perilaku yang disebut

homophobia, yakni sikap atau perasaan negatif, tidak suka terhadap homoseksual

secara umum, atau penolakan terhadap orang-orang yang dianggap homoseksual

dan semua yang diasosiasikan dengan mereka.30 Homophobia inilah yang

kemudian memunculkan diskriminasi terhadap kelompok homoseksual.

29 Hendri, Op.Cit,h. 13.

30 Moh. Yasir Alimi, 2004, Dekonstruksi Seksualitas Poskolonial: Dari Wacana Bangsa Hingga Wacana Agama,

Gambar

TABEL I

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi di atas berbeda dengan topik yang akan diambil oleh penulis dikarenakan skripsi di atas membahas terkait Keharusan Untuk Menanggalkan Hak Kekebalan

Badan hukum adalah organisasi atau kelompok manusia yang mempunyai tujuan tertentu yang dapat menyandang hak dan kewajiban seperti subyek hukum manusia, hanya

Dalam skripsi ini penulis akan membahas tentang, “PENJATUHAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU HOMOSEKSUAL MENURUT QANUN NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG HUKUM JINAYAT

Seperti pada Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia khususnya pada Pasal 5 ayat (3) mengatakan “setiap orang yang termasuk kelompok masyarakat

Setiap orang berhak atas semua hak dan kebebasan yang tercantum dalam Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia tanpa membedekan dalam bentuk apapun seperti

Definisi tersebut menyatakan bahwa diskriminasi terjadi bukan karena orang tersebut malakukan suatu hal yang tidak patut sehingga dapat diperlakukan berbeda, misalnya

Tindakan penyiksaan dan perlakuan buruk lainya harus dilarang setiap saat, sebagaimana dijamin dalam traktat hak asasi manusia internasional seperti ICCPR dan Konvensi

Latar Belakang Masalah Manusia mempunyai Hak alamiah atau hak kodrati ini bukan merupakan pemberian dari negara, namun melekat pada manusia sesuai dengan harkat dan martabat manusia.1