• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Deskriptif Mengenai Kreativitas pada Siswa Usia 11-12 Tahun yang Menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi di SD'X' Bandung.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Deskriptif Mengenai Kreativitas pada Siswa Usia 11-12 Tahun yang Menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi di SD'X' Bandung."

Copied!
73
0
0

Teks penuh

(1)

Universitas Kristen Maranatha i

ABSTRAK

Judul penelitian ini adalah Studi Deskriptif mengenai Kreativitas pada siswa usia 11-12 tahun di SD ‘X’ Bandung yang menggunakan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui derajat kreativitas di SD ‘X’ Bandung yang menggunakan kurikulum berbasis kompetensi.

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori kreativitas dari Guilford (1957) yang terbagi menjadi kreativitas aptitude dan kreativitas non-aptitude.

Metode penelitian yang digunakan adalah studi deskriptif yaitu, menggambarkan kreativitas yang ditampilkan oleh siswa uisa 11-12 tahun di SD ‘X’ yang menggunakan kurikulum berbasis kompetensi. Pengambilan data dilakukan dengan alat ukur yang dibuat oleh peneliti berdasarkan teori kreativitas dari Guilford (1957). Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yaitu dipilih berdasarkan karakteristik populasi yang telah ditentukan. Ukuran sampel pada penelitian ini adalah 46 siswa.

Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini terditi atas 40 item dengan hasil validitas 0,313-0,669 sedangkanderajat reliabilitas 0,872 berdasarkan kriteria Guilford (termasuk derajat tinggi).

Berdasarkan hasil pengolahan data, diperoleh hasil bahwa kreativitas aptitude yang ditampilkan oleh siswa usia 11-12 tahun di SD ‘X’ Bandung yang menggunakan kurikulum berbasis kompetensi sebesar 54,34 % sedangkan kreativitas non-aptitude sebesar 50 %.

Dari penelitian ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa derajat kreativits aptitude dan non-aptitude siswa SD ‘X’ termasuk tinggi, dimana perilaku yang paling banyak ditampilkan dari kreativitas aptitude adalah memperinci (elaborasi) sedangkan untuk kreativitas non-aptitude adalah sifat menghargai.

(2)

Universitas Kristen Maranatha ii

DAFTAR ISI

ABSTRAK...i

DAFTAR ISI……….………...…...……...ii

DAFTAR TABEL...v

DAFTAR BAGAN...vi

DAFTAR LAMPIRAN...vii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah……….………..1

1.2 Identifikasi Masalah………...………....…10

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian……….……...…....10

1.3.1 Maksud Penelitian………..………....10

1.3.2 Tujuan Penelitian……….……...10

1.4 Kegunaan Penelitian………..……….…10

1.4.1 Kegunaan Ilmiah………10

1.4.2 Kegunaan Praktis………...………11

1.5 Kerangka Pemikiran………...………11

1.6 Asumsi…………...………24

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kreativitas………..25

2.1.1 Sejarah Pemikiran dan Pengertian Kreativitas…..….…25

2.1.2 Pengertian Kreativitas………26

(3)

Universitas Kristen Maranatha iii

2.1.4 Kreativitas Aptitude dan Non-Aptitude...30

2.1.5 Kondisi yang Mempengaruhi Kreativitas... ...37

2.2 Kurikulum Berbasis Kompetensi...39

2.2.1 Pengertian Kurikulum...39

2.2.2 Pengertian Kompetensi...40

2.2.3 Pengertian Kurikulum Berbasis Kompetensi...42

2.2.4 Karakteristik dan Tujuan KBK...44

2.2.5 Prinsip-prinsip Pembelajaran KBK...47

2.2.6 Prinsip-prinsip pengembangan dan pelaksanaan KBK..50

2.3 Late Childhood………...………54

2.3.1 Tugas Perkembangan Masa Late Childhood…...……..54

2.3.2 Tugas Perkembangan Masa Anak Sekolah……….…...56

2.3.3 Pentingnya Kreativitas bagi Perkembangan Anak………61

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian...62

3.2 Variabel Penelitian...62

3.3 Definisi Operasional dan Konseptual...63

3.3.1 Definisi Operasional...63

3.3.2 Definisi Konseptual...63

3.4 Populasi Sasaran...66

3.4.1 Populasi Sasaran...66

3.4.2 Karakteristik Sampel...66

(4)

Universitas Kristen Maranatha iv

3.5 Alat Ukur...66

3.5.1 Validitas Alat Ukur...70

3.5.2 Reliabilitas Alat Ukur...70

3.6 Teknik Analisis………..71

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Responden………...……….73

4.2 Gambaran Hasil Penelitian……….74

4.2.1 Gambaran Kreativitas………...………...………..74

4.2.2 Gambaran Aspek Kreativitas………...………..75

4.3 Pembahasan………..……….76

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan………...……….82

5.2 Saran………..83

5.2.1 Saran untuk Sekolah…….……….83

5.2.2 Saran untuk Siswa……….83

5.2.3 Saran untuk Penelitian Lanjutan………...……….83

(5)

Universitas Kristen Maranatha v

DAFTAR TABEL

Tabel 3.4.1 Alat Ukur……….………..67

Tabel 3.5.2 Skoring Item……….….……….68

Tabel 4.1.1 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin……….………..73

Tabel 4.1.2 Distribusi Frekuensi Usia……….……….……….73

Tabel 4.2.1 Distribusi Frekuensi Kreativitas...74

Tabel 4.2.2 Distribusi Frekuensi Kreativitas Aptitude...75

(6)

Universitas Kristen Maranatha vi

DAFTAR BAGAN

Bagan 1.1 Kerangka Pikir………...………23

(7)

Universitas Kristen Maranatha vii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Data Personal

Lampiran 2 Kuesioner Kreativitas

Lampiran 3 Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur Lampiran 4 Skoring Kreativitas aptitude

Lampiran 5 Skoring Kreativitas non-aptitude Lampiran 6 Tabel Data Penunjang

(8)

KATA PENGANTAR

Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, peneliti hendak meminta kesediaan dan kerjasama dari adik-adik untuk mengisi kuesioner mengenai kreativitas dalam kurikulum berbasis kompetensi.

Kerahasiaan dari data yang telah diisi oleh adik-adik akan dijaga dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian ini.

Atas kesediaan dan kerjasama dari adik-adik dalam mengisi kuesioner ini saya mengucapkan banyak terima kasih.

Bandung, Februari 2007

(9)

I. DATA PERSONAL

Petunjuk Pengisian :

Berikut ini terdapat sejumlah pertanyaan yang berhubungan dengan identitas dan keadaan diri adik-adik. Isilah setiap pertanyaan sesuai dengan apa yang adik-adik alami dan rasakan. Jawaban yang adik-adik berikan sangat berguna untuk melengkapi penelitian ini. Oleh karena itu, adik-adik dimohon untuk mengisi setiap pertanyaan, jangan sampai ada yang terlewat.

Terima kasih atas kesediaan adik-adik mengisi semua pertanyaan di bawah ini.

-Selamat Bekerja-

Nama :

Tempat / tanggal lahir :

Usia :

Pilihlah salah satu jawaban yang sesuai dengan keadaan diri adik-adik.

Terhadap hal baru yang belum pernah saya temui, saya merasa :

a berani untuk mencoba karena bisa menambah pengalaman dan pengetahuan b tidak berani untuk mencoba karena takut untuk berhadapan dengan hal baru

Saya bisa menentukan apakah suatu peristiwa yang terjadi baik atau buruk a ya, saya bisa

b tidak, saya tidak bisa

Pilihlah salah satu di bawah ini yang sesuai dengan diri saudara :

(10)

b saya tidak mampu dan tidak senang untuk melakukan percobaan, baik di sekolah maupun di rumah

Orang tua dan guru berpendapat bahwa : a saya adalah anak yang baik dan pintar b saya adalah anak yang tidak mampu c saya bukan anak yang baik dan pintar

Dalam setiap tindakan yang saya lakukan, orang tua dan guru : a selalu memarahi saya

b tidak perduli terhadap semua tingkah laku saya c memberikan saya kebebasan

Jika saya mempunyai masalah, orang tua dan guru : a tidak mau mendengarkan saya

b mau mendengarkan dan memberi saya nasehat

c hanya mendengarkan saya saja tanpa memberikan nasehat

Orang tua dan guru saya :

- memberikan kebebasan untuk berbicara mengenai perasaan saya a ya

b tidak

- memberikan kebebasan untuk bertingkah laku sesuai dengan perasaan saya a ya

(11)

II. KUESIONER KREATIVITAS

Petunjuk Pengisian :

Berikut ini terdapat sejumlah pernyataan mengenai tingkah laku kreativitas yang muncul dalam diri adik-adik dalam kurikulum berbasis kompetensi. Jawablah pernyataan itu sesuai dengan diri adik-adik.

Berilah tanda silang (X) pada salah satu dari empat pilihan jawaban sesuai dengan diri adik-adik. Pilihan jawaban yang disediakan adalah :

- Sangat Setuju (SS)

- Setuju (S)

- Tidak Setuju (TS)

- Sangat Tidak Setuju (STS)

Kerjakanlah semua pernyataan tersebut dengan teliti, jangan sampai ada nomor yang terlewat. Tidak ada jawaban yang benar ataupun salah. Jawablah dengan segera setelah adik-adik membaca setiap pernyataan, jangan dipikirkan terlalu lama.

(12)

No. Pernyataan SS S TS STS

1. Saya mampu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru di kelas.

2. Saya tidak mampu untuk memberikan jawaban yang sama dengan teman lain saat menjawab pertanyaan. 3. Saya tidak tertarik untuk memikirkan hal baru di luar

pengetahuan saya.

4. Saya sering membayangkan penggunaan yang berbeda dari suatu barang.

5. Saat saya melakukan kegagalan, saya tidak takut untuk mencoba kembali.

6. Saya lebih tertarik kepada tugas yang mudah daripada tugas yang sulit.

7. Saya mudah dipengaruhi oleh guru, teman dan orang tua.

11. Saya sangat menghargai hak orang lain dan diri saya sendiri.

12. Saya malas untuk membaca buku baru di luar pelajaran untuk menambah pengetahuan saya.

13. Saya berani untuk mengakui kesalahan saya.

14. Saya kesulitan untuk mengerjakan tugas mengelompokkan sesuatu sesuai ketentuan.

(13)

No. Pertanyaan SS S TS STS

16. Saya kesulitan untuk menyampaikan berbagai cerita dari sebuah gambar.

17. Saya yakin dapat melakukan apa yang telah saya sampaikan kepada guru dan teman.

18. Saya merasa bingung apabila diminta untuk membuat keputusan secara cepat.

22. Saya tidak pernah membayangkan seseorang melakukan sesuatu hal yang belum pernah dilakukan orang lain.

23. Saya sering bertanya kepada guru dan teman dengan menggunakan kata tanya ‘mengapa?’ pada persoalan yang saya tidak mengerti.

24. Saya senang mengamati perubahan-perubahan yang terjadi dari suatu benda atau hal.

25. Saya tidak senang melakukan tugas yang sulit untuk

(14)

No. Pertanyaan SS S TS STS

29. Dalam mengerjakan suatu tugas yang sulit, saya akan terus berusaha agar berhasil.

30. Saya takut akan gagal.

31. Dalam mengerjakan soal dari guru, saya mempunyai banyak cara untuk menyelesaikannya.

32. Saya senang untuk memberi tanda pada bagian penting dalam catatan saya.

33. Saya pernah mempunyai firasat tentang sesuatu yang akan terjadi.

34. Saya selalu tertarik dengan sesuatu yang belum pernah saya lihat sebelumnya.

35. Apabila guru mengajukan pertanyaan, saya berani untuk menjawab meskipun belum tentu benar.

36. Saya tidak mempunyai keberanian untuk bertanya pada guru tentang pelajaran yang saya tidak mengerti.

37. Saya sangat menghargai keluarga, guru dan teman di sekolah.

38. Dalam diskusi dengan teman saat tugas kelompok, pendapat saya selalu berbeda.

39. Saya tidak mampu untuk melengkapi jawaban teman saya yang dirasa kurang.

(15)

III. ALAT UKUR KREATIVITAS

Reliabilitas = 0.872

Aspek Indikator Item Validitas Keterangan

Perilaku Perilaku + Saya mampu untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru di - Saya tidak mampu untuk menjawab pertanyaan dari guru 0.496 Diterima Perilaku + Saya sering membayangkan penggunaan yang berbeda dari suatu - Saya kesulitan untuk mengerjakan tugas mengelompokkan sesuatu

sesuai ketentuan

0.474 Diterima - Saya kesulitan untuk menyampikan berbagai cerita dari sebuah gambar 0.440 Diterima Perilaku + Saya sering mempunyai ide yang berbeda dari teman yang lain 0.335 Diterima berpikir + Saya senang mencari hal baru yang belum saya ketahui 0.403 Diterima orisinal - Saya tidak pernah membayangkan hal yang dibayangkan orang lain 0.325 Diterima - Saya tidak tertarik untuk memikirkan hal baru di luar pengetahuan saya 0.437 Diterima Perilaku + Saya senang untuk memberi tanda pada bagian penting dalam catatan

saya

(16)

kurang

Perilaku + Saya sering bertanya kepada guru dan teman dengan menggunakan

kata ‘mengapa’ pada persoalan yang saya tidak mengerti 0.434 Diterima

menilai + Saya yakin dapat melakukan apa yang telah saya sampaikan kepada guru dan teman

0.439 Diterima - Saya merasa bingung apabila diminta untuk membuat keputusan secara

cepat

0.432 Diterima - Saya kesulitan apabila harus mempertahankan pendapat saya 0.710 Diterima Perilaku + Saya selalu tertarik dengan sesuatu yang belum pernah saya lihat

sebelumnya

0.445 Diterima rasa ingin + Saya senang mengamati perubahan-perubahan yang terjadi dari suatu

benda atau hal Bersifat + Saya pernah mempunyai firasat tentang sesuatu yang akan terjadi 0.580 Diterima imajinatif - Saya tidak pernah membayangkan seseorang melakukan sesuatu hal

yang belum pernah dilakukan orang lain

0.592 Diterima Merasa + Saya senang melakukan sesuatu tugas yang sulit untuk diselesaikan 0.481 Diterima tertantang + Dalam mengerjakan suatu tugas yang sulit untuk diselesaikan 0.660 Diterima oleh - Saya tidak senang melakukan tugas yang sulit untuk diselesaikan 0.395 Diterima kemajemukan - Saya lebih tertarik kepada tugas yang mudah daripada tuga yang sulit 0.351 Diterima Perilaku + Apabila guru mengajukan pertanyaan, saya berani untuk menjawab

meskipun belum tentu benar

0.660 Diterima

berani + Saya berani untuk mengakui kesalahan saya 0.378 Diterima

mengambil + Saat saya melakukan kegagalan, saya tidak takut untuk mencoba kembali

0.364 Diterima resiko - Saya takut untuk mencoba hal-hal yang baru yang belum pernah saya

alami

(17)

- Saya takut akan gagal 0.453 Diterima - Saya mudah dipengaruhi oleh guru, teman dana orang tua 0.357 Diterima Perilaku + Saya sangat menghargai keluarga, guru dan teman di sekolah 0.432 Diterima sifat + Saya sangat menghargai kesempatan yang diberikan kepada saya 0.457 Diterima menghargai - Saya sering tidak menghargai hak orang lain dan diri saya sendiri 0.473 Diterima

- Saya menghargai kebebasan, tetapi saya tidak tahu bahwa kebebasan memerlukan tanggung jawab

(18)
(19)

26 4 4 2 4 3 3 3 4 3 2 3 4 4 4 4 3 3 3 3 4 67 Tinggi

27 4 3 3 3 1 4 3 1 4 3 3 4 3 4 3 2 4 3 3 4 62 Tinggi

28 3 4 4 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 4 2 3 3 3 3 64 Tinggi

29 3 4 3 2 1 4 3 2 3 1 3 2 4 1 3 4 4 4 3 4 58 Rendah

30 3 3 4 4 2 2 2 3 4 3 3 3 3 3 3 3 4 4 3 3 62 Tinggi

31 3 2 3 2 2 2 2 3 3 4 3 4 3 3 3 3 3 3 3 3 57 Rendah

32 4 3 3 3 3 4 3 1 4 4 1 4 3 4 3 4 4 3 3 4 65 Tinggi

33 4 2 3 4 3 3 3 4 4 1 4 3 3 4 3 4 4 2 3 4 67 Tinggi

34 3 3 4 1 1 4 1 4 4 3 4 4 3 4 4 3 4 3 3 4 64 Tinggi

35 3 3 3 2 2 2 4 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 54 Rendah

36 3 3 3 1 3 3 4 2 4 2 3 4 2 2 2 3 3 3 3 3 55 Rendah

37 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 59 Rendah

38 3 3 3 3 2 3 2 2 2 3 3 3 3 3 3 3 2 2 3 3 55 Rendah

39 3 3 2 3 3 2 3 3 3 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 3 59 Rendah

40 3 3 2 1 2 3 2 2 2 4 3 3 2 4 3 2 3 2 3 2 51 Rendah

41 3 3 4 2 3 3 3 3 3 3 2 4 3 4 3 3 3 3 3 3 61 Tinggi

42 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 4 3 3 3 2 4 3 4 2 59 Rendah

43 4 3 2 4 1 4 3 4 3 2 2 4 1 4 3 4 3 1 2 3 57 Rendah

44 4 4 4 3 3 3 4 4 2 4 4 3 3 4 4 3 4 4 2 2 68 Tinggi

45 3 3 3 2 2 3 3 3 2 2 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 54 Rendah

46 3 4 4 3 3 3 4 2 2 2 3 4 4 4 3 3 4 3 4 3 62 Tinggi

(20)
(21)

42 3 3 3 3 11 Rendah 42 3 3 3 3 3 2 17 Tinggi 43 4 3 2 4 13 Tinggi 43 1 4 3 4 3 2 17 Tinggi 44 4 4 4 3 15 Tinggi 44 3 3 4 4 2 4 20 Tinggi 45 3 3 3 2 11 Rendah 45 2 3 3 3 2 2 15 Rendah 46 3 4 4 3 14 Tinggi 46 3 3 4 2 2 2 16 Rendah

(22)
(23)

42 3 4 3 3 13 Tinggi 42 3 2 5 Rendah

43 2 4 1 4 11 Rendah 43 3 4 7 Tinggi

44 4 3 3 4 14 Tinggi 44 4 3 7 Tinggi

45 3 3 3 3 12 Rendah 45 2 3 5 Rendah

46 3 4 4 4 15 Tinggi 46 3 3 6 Tinggi

(24)
(25)

43 3 1 2 3 9 Rendah

44 4 4 2 2 12 Tinggi

45 3 3 2 3 11 Rendah

46 4 3 4 3 14 Tinggi

(26)
(27)

26 4 3 3 3 2 3 2 3 2 4 4 3 4 4 4 3 4 3 4 3 61 Tinggi

27 3 3 3 3 2 2 2 3 2 3 3 2 4 3 3 4 3 3 3 4 65 Tinggi

28 4 3 3 4 3 3 2 2 3 4 2 2 3 4 4 3 3 4 4 3 58 Tinggi

29 2 3 3 3 1 2 2 2 2 3 3 4 3 4 4 4 3 4 3 2 63 Tinggi

30 3 3 3 3 2 3 2 2 2 3 2 2 3 2 3 4 2 4 3 3 57 Tinggi

31 3 3 4 3 2 2 2 2 3 3 4 3 3 3 3 3 2 3 3 4 53 Rendah

32 3 3 4 3 1 3 1 3 1 4 3 2 3 3 4 3 3 4 3 3 58 Tinggi

33 3 4 3 4 1 2 1 2 2 4 4 2 3 4 4 3 3 3 4 3 57 Tinggi

34 3 3 3 4 2 3 1 2 2 3 3 2 3 3 4 3 3 3 3 3 59 Tinggi

35 3 3 3 3 2 3 2 3 2 4 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 58 Tinggi

36 3 3 3 3 2 3 2 2 2 3 3 3 4 3 3 3 3 3 3 3 57 Tinggi

37 3 3 3 3 2 3 2 2 2 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 54 Rendah

38 2 3 3 4 3 3 2 2 2 2 3 2 3 3 3 3 3 2 3 3 54 Rendah

39 4 3 3 3 1 3 3 3 4 3 3 2 3 3 3 2 3 3 4 4 60 Tinggi

40 3 3 3 2 2 2 2 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 3 3 3 53 Rendah

41 2 3 3 3 2 3 2 2 2 3 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 52 Rendah

42 2 3 3 1 3 3 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 3 3 2 2 48 Rendah

43 3 3 4 1 3 3 2 2 2 3 2 2 2 3 3 4 2 3 3 3 53 Rendah

44 4 3 4 3 3 2 2 3 3 4 4 2 3 3 4 3 4 3 3 4 64 Tinggi

45 3 2 3 2 3 3 2 4 2 4 3 2 2 3 2 2 3 3 2 3 53 Rendah

46 1 3 2 1 3 3 2 3 3 4 3 1 3 3 2 2 3 3 3 3 51 Rendah

(28)

SKOR SKOR

RASA INGIN TAHU BERSIFAT IMAJINATIF

(29)

40 3 3 3 2 11 Rendah 40 2 2 4 Rendah

41 2 3 3 3 11 Rendah 41 2 3 5 Tinggi

42 2 3 3 1 9 Rendah 42 3 3 6 Tinggi

43 3 3 4 1 11 Rendah 43 3 3 6 Tinggi

44 4 3 4 3 14 Tinggi 44 3 2 5 Tinggi

45 3 2 3 2 10 Rendah 45 3 3 6 Tinggi

46 1 3 2 1 7 Rendah 46 3 3 6 Tinggi

(30)

SKOR SKOR

(31)

39 3 3 4 3 13 Tinggi 39 3 2 3 3 3 2 16 Rendah 40 2 3 2 3 10 Tinggi 40 3 2 3 3 3 2 16 Rendah 41 2 2 2 3 9 Tinggi 41 3 2 3 3 2 3 16 Rendah 42 2 2 2 2 8 Rendah 42 2 2 3 3 2 3 15 Rendah 43 2 2 2 3 9 Tinggi 43 2 2 2 3 3 4 16 Rendah 44 2 3 3 4 12 Tinggi 44 4 2 3 3 4 3 19 Tinggi 45 2 4 2 4 12 Tinggi 45 3 2 2 3 2 2 14 Rendah 46 2 3 3 4 12 Tinggi 46 3 1 3 3 2 2 14 Rendah

(32)
(33)

41 3 3 2 3 11 Rendah

42 3 3 2 2 10 Rendah

43 2 3 3 3 11 Rendah

44 4 3 3 4 14 Tinggi

45 3 3 2 3 11 Rendah

46 3 3 3 3 12 Tinggi

(34)

VI. DATA PENUNJANG

1.1Kondisi internal

Tabel 1.1.1 Keterbukaan terhadap pengalaman dalam bentuk berani untuk mencoba hal baru

Frekuensi Presentase -Berani untuk mencoba karena bisa menambah pengalaman

dan pengetahuan

-Tidak berani untuk mencoba karena takut untuk berhadapan dengan hal baru

Tabel 1.1.2 Kemampuan untuk menilai situasi dengan patokan pribadi dalam bentuk mampu menilai masalah sesuai dengan patokan pribadi

Frekuensi Presentase -Mampu menilai suatu peristiwa baik atau buruk bagi dirinya

-Tidak mampu menilai suatu peristiwa baik atau buruk bagi

Tabel 1.1.3 Kemampuan untuk bereksperimen dalam bentuk mencoba sesuatu yang belum pernah dihadapi

Frekuensi Presentase -Mampu dan senang untuk melakukan percobaan

-Tidak mampu dan tidak senang untuk melakukan percobaan

43 3

93.47 % 6.52 %

(35)

1.2.1 Kondisi Eksternal Keamanan Psikologis

Tabel 1.2.1 Pemberian kepercayaan kepada anak

Frekuensi Presentase -Siswa adalah anak yang baik dan pintar

-Siswa adalah anak yang tidak mampu -Siswa bukan anak yang baik dan pintar

38

Tabel 1.2.2 Mengusahakan situasi non-evaluasi dalam tindakan yang dilakukan siswa Frekuensi Presentase -Selalu memarahi

-Tidak perduli terhadap semua tingkah laku siswa -Memberikan kebebasan kepada siswa

Tabel 1.2.3 Pemberian pengertian secara empatis dalam hal menghadapi masalah

(36)

Kebebasan psikologis

Tabel 1.2.4 Pemberian kesempatan untuk bebas secara pikiran

Frekuensi Presentase -Merasa bebas

-Tidak merasa bebas

40 6

86.95 % 13.04 %

Total 46 100 %

Tabel 1.2.5 Pemberian kesempatan untuk bebas secara perasaan

Frekuensi Presentase -Merasa bebas

-Tidak merasa bebas

15 31

32.60 % 67.39 %

(37)

VII. CROSSTABS

Perilaku kreatif aptitude

Tabel 2.1 Crosstabs perilaku kreatif aptitude dengan kondisi internal

Tabel crosstabs 2.1.1

Crosstabulation perilaku kreatif aptitude dengan keterbukaan terhadap pengalaman terutama dalam bentuk siswa berani untuk mencoba hal baru

Pendapat Responden Total Berani Tidak berani

Perilaku kreatif berderajat tinggi 23 (50 %) 1 (2.17 %) 24 (52.17 %) Perilaku kreatif berderajat rendah 22 (47.82 %) 0 (0 %) 22 (47.82 %) Total 45 (97.82 %) 1 (2.17 %) 46 (100%)

Tabel crosstabs 2.1.2

Crosstabulation perilaku kreatif aptitude dengan kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan patokan pribadi dalam bentuk siswa dapat menilai masalah sesuai dengan patokan dirinya

Pendapat Responden Total

Mampu Tidak mampu

(38)

Tabel crosstabs 2.1.3

Crosstabulation perilaku kreatif aptitude dengan kemampuan untuk bereksperimen dalam bentuk mencoba sesuatu yang belum pernah dihadapi

Pendapat Responden Total

Mampu Tidak mampu

Perilaku kreatif berderajat tinggi 23 (50 %) 1 (2.17 %) 24 (52.17 %) Perilaku kreatif berderajat rendah 20 (43.47 %) 2 (4.34 %) 22 (47.82 %) Total 43 (93.47 %) 3 (6.52 %) 46 (100%)

Tabel 2.2 Crosstabs perilaku kreatif aptitude dengan kondisi eksternal

Crosstabs perilaku kreatif aptitude dengan keamanan psikologis Tabel crosstabs 2.2.1

Crosstabulation perilaku kreatif aptitude dengan pemberian kepercayaan kepada anak bahwa pada dasarnya siswa baik dan pintar

(39)

Tabel crosstabs 2.2.2

Crosstabulation perilaku kreatif aptitude dengan situasi non-evaluasi

Pendapat Responden Total

Memarahi Tidak perduli Memberikan kebebasan

Crosstabulation perilaku kreatif aptitude dengan pemberian pengertian secara empatis

(40)

Crosstabs perilaku kreatif aptitude dengan kebebasan psikologis Tabel crosstabs 2.2.4

Crosstabulation perilaku kreatif aptitude dengan kesempatan untuk bebas secara pikiran Pendapat Responden Total

Ya Tidak

Perilaku kreatif berderajat tinggi 23 (50 %) 1 (2.17 %) 24 (52.17 %) Perilaku kreatif berderajat rendah 17 (36.95 %) 5 (10.86 %) 22 (47.82 %) Total 40 (86.95 %) 6 (13.04 %) 46 (100%)

Tabel crosstabs 2.2.5

Crosstabulation perilaku kreatif aptitude dengan kesempatan untuk bebas secara perasaan Pendapat Responden Total

Ya Tidak

Perilaku kreatif berderajat tinggi 7 (15.21 %) 17 (36.95 %) 24 (52.17 %) Perilaku kreatif berderajat rendah 8 (17.39 %) 14 (30.43 %) 22 (47.82 %) Total 15 (32.60 %) 31 (67.39 %) 46 (100%)

Perilaku kreatif non-aptitude

Tabel 2.3 Crosstabs perilaku kreatif non-aptitude dengan kondisi internal

Tabel crosstabs 2.3.1

Crosstabulation perilaku kreatif non-aptitude dengan keterbukaan terhadap pengalaman dalam bentuk berani untuk mencoba hal baru

Pendapat Responden Total Berani Tidak berani

(41)

Total 45 (97.82 %) 1 (2.17 %) 46 (100%)

Tabel crosstabs 2.3.2

Crosstabulation perilaku kreatif non-aptitude dengan kemampuan untuk menilai situasi sesuai dengan patokan pribadi dalam bentuk siswa dapat menilai masalah sesuai dengan patokan dirinya

Pendapat Responden Total

Mampu Tidak mampu

Perilaku kreatif berderajat tinggi 20 (43.47 %) 3 (6.52 %) 23 (50 %) Perilaku kreatif berderajat rendah 18 (39.13 %) 5 (10.86 %) 23 (50 %) Total 38 (82.60 %) 8 (17.39 %) 46 (100%)

Tabel crosstabs 2.3.3

Crosstabulation perilaku kreatif non-aptitude dengan kemampuan untuk bereksperimen dalam bentuk mencoba sesuatu yang belum pernah dihadapi

Pendapat Responden Total

Mampu Tidak mampu

(42)

Tabel 2.4 Crosstabs perilaku kreatif non-aptitude dengan kondisi eksternal

Crosstabs perilaku kreatif non-aptitude dengan keamanan psikologis Tabel crosstabs 2.4.1

Crosstabulation perilaku kreatif non-aptitude dengan pemberian kepercayaan kepada anak bahwa pada dasarnya siswa baik dan pintar

Pendapat Responden Total

Crosstabulation perilaku kreatif non-aptitude dengan siatuasi non-evaluasi

Pendapat Responden Total

(43)

Tabel crosstabs 2.4.3

Crosstabulation perilaku kreatif non-aptitude dengan pemberian pengertian secara empatis

Pendapat Responden Total

Tidak

mendengarkan

Mendengarkan dan memberi nasehat

Hanya

mendengarkan

Perilaku kreatif berderajat tinggi

0 (0 %) 22 (47.82 %) 1 (2.17 %) 23 (50 %)

Perilaku kreatif berderajat rendah

1 (2.17 %) 22 (47.82 %) 0 (0 %) 23 (50 %)

Total 1 (2.17 %) 44 (95.65 %) 1 (2.17 %) 46 (100 %)

Crosstabs perilaku kreatif non-aptitude dengan kebebasan psikologis Tabel crosstabs 2.4.4

Crosstabulation perilaku kreatif non-aptitude dengan kebebasan psikologis

Pendapat Responden Total

Ya Tidak

(44)

Tabel crosstabs 2.4.5

Crosstabulation perilaku kreatif non-aptitude dengan kesempatan untuk bebas secara perasaan

Pendapat Responden Total

Ya Tidak

(45)

1

1 Universitas Kristen Maranatha

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pada masa sekarang ini, kita memasuki dunia yang berkembang serba cepat sehingga memaksa setiap individu untuk dapat mengikuti perkembangan tersebut. Indonesia sebagai negara berkembang membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas agar dapat menyamai kedudukan negara lain. Untuk dapat mengimbangi keadaan ini maka kemampuan sumber daya manusia sangat perlu untuk ditingkatkan dan digali sebesar-besarnya karena hal tersebut mempengaruhi keberhasilan dan kualitas pendidikan bangsa. Tanpa pendidikan yang merata kita tidak akan mungkin dapat menghadapi tantangan berat dalam dunia yang cepat berubah ini. Pendidikan memegang peranan penting dengan menentukan perkembangan dan perwujudan diri seseorang baik bagi dirinya maupun bagi lingkungan.

(46)

Universitas Kristen Maranatha 2

Pengembangan bakat dan kemampuan secara optimal kini disadari bahwa pengembangan bakat dan kemampuan tidak hanya ditentukan oleh intelegensi (kecerdasan) melainkan juga kreativitas dan pengikatan diri terhadap tugas atau motivasi untuk berprestasi (Renzulli, 1981 dalam Munandar, 2002). Kreativitas memungkinkan seseorang untuk dapat memunculkan suatu pemikiran atau penemuan-penemuan baru dalam bentuk perilaku serta mampu menjawab tantangan dalam berbagai bidang kehidupan serta untuk mencapai sumber daya berkualitas yang menuntut kita mengenali dan mengembangkan bakat-bakat unggul dalam berbagai bidang dan pengembangan kreativitas setiap orang.

Untuk dapat mengembangkan kreativitas secara optimal, maka kreativitas perlu dipupuk dalam diri anak dimulai dari lingkungan keluarga dan dilanjutkan dalam bangku pendidikan di sekolah. Kreativitas seorang siswa perlu dikembangkan supaya seorang siswa mampu mewujudkan dirinya dengan mengembangkan bakat dan kemampuannya untuk dapat memperkaya hidup dan juga kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian masalah. Selain itu, bahwa dengan menjadi kreatif dapat memberikan kepuasan dan dapat meningkatkan taraf kualitas hidup dengan cara mendorong untuk membuat ide baru, penemuan atau teknologi baru untuk meningkatkan taraf hidup.

(47)

Universitas Kristen Maranatha 3

kuantitas dan kesesuaian. Prestasi atau kreativitas yang dimunculkan oleh seorang siswa di sekolah sangat ditentukan oleh ciri-ciri afektif yang berhubungan dengan berpikir di samping ciri-ciri kognitif yang berhubungan dengan perasaan, dimana dari ciri tersebut akan muncul perilaku kognitif dan perilaku afektif (Guilford, 1957 dalam Munandar, 1992).

Kemampuan kreativitas sebenarnya dimiliki oleh semua orang tetapi dalam derajat yang berbeda. Kemampuan ini dapat secara optimal dikembangkan apabila ada faktor pendukung dari luar maupun dalam diri. Terutama untuk anak 11-12 tahun, menurut Hurlock (1980) disebut juga usia kreatif, suatu masa dalam rentang kehidupan yang menentukan apakah seorang anak menjadi konformis atau pencipta karya yang baru dan orisinal. Kedua alasan menjadi dasar dari munculnya kreativitas dalam diri seorang siswa. Siswa yang mempunyai kreativitas atau mampu berperilaku kreatif adalah siswa yang senang untuk menggali sesuatu masalah secara mental dan mencoba banyak kemungkinan walaupun kemungkinan tersebut akan salah (E. Hurlock, 1978).

(48)

Universitas Kristen Maranatha 4

memberikan kesempatan pada setiap anak didik untuk berkembang sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Hal ini sejalan dengan hakikat pendidikan yaitu, memberikan pengalaman kepada anak didik setaraf dengan bakat dan kemampuannya karena dari hal tersebutlah kreativitas dapat muncul dan berkembang dalam setiap anak didik.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah mulai menerapkan kurikulum baru yang diberi nama kurikulum berbasis kompetensi pada tahun 2004 sebagai alternatif jalan keluarnya. Kurikulum berbasis kompetensi adalah kurikulum yang menekankan pada kompetensi masing-masing siswa dan salah satu pendekatan belajar yang digunakan adalah pendekatan belajar kreatif. Dengan penerapan kurikulum berbasis kompetensi ini diharapkan bahwa seorang siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan saja di sekolah, tetapi juga mampu mandiri dan kompeten dalam berbagai bidang kehidupan yang dipelajarinya serta dapat secara kreatif meningkatkan pengetahuannya di luar pengetahuan yang diberikan di sekolah terutama untuk siswa usia 11-12 tahun yang merupakan usia kreatif.

Kurikulum berbasis kompetensi adalah suatu sistem pendidikan yang diarahkan pada pendidikan yang mampu melayani setiap perbedaan dan kebutuhan individu (berdiversifikasi) serta mampu membekali siswa dengan sejumlah kemampuan (kompetensi) yang diperlukan sesuai kebutuhan. Melalui iklim yang demikian, diharapkan mampu melahirkan generasi yang mandiri, kritis, rasional, cerdas, kreatif serta memiliki kesabaran dan mampu bersaing,

(49)

Universitas Kristen Maranatha 5

Secara umum kompetensi menurut Ella Yulaelawati (2004) dapat didefinisikan sebagai sekumpulan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai sebagai kinerja yang berpengaruh terhadap peran, perbuatan, prestasi serta pekerjaan seseorang.

Menurut Utami Munandar (2002) terdapat beberapa prinsip dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran, salah satu diantaranya adalah mengembangkan kreativitas siswa. Membentuk manusia yang kreatif dan inovatif merupakan salah satu tujuan kurikulum berbasis kompetensi. Selama ini, kurikulum yang berlaku dianggap kurang mengembangkan aspek kreativitas siswa. Diharapkan dengan pemberlakuan kurikulum berbasis kompetensi, kreativitas berkembang sesuai dengan tujuan kurikulum. Kreativitas yang diharapkan adalah kreativitas yang berkembang dengan meliputi ranah kognitif (pemikiran), ranah afektif (perasaan dan sikap), dan psikomotor (keterampilan dan perilaku). Dimana kreativitas inilah yang menjadi tujuan dalam kurikulum berbasis kompetensi.

(50)

Universitas Kristen Maranatha 6

kreativitas seorang siswa ditandai dengan munculnya ciri-ciri kepribadian kreatif dalam diri siswa dalam bentuk kreativitas yang bersifat afektif dan kognitif. Dengan penerapan kurikulum berbasis kompetensi ini, ciri-ciri kepribadian kreatif dalam diri masing-masing siswa diharapkan dapat berkembang secara optimal.

Penerapan kurikulum berbasis kompetensi di sekolah-sekolah diharapkan selain dapat menumbuhkan kreativitas tetapi juga mempunyai dampak untuk meningkatkan kreativitas siswa dalam hal ini kreativitas afektif dan kognitif, karena siswa dengan kreativitas yang tinggi merupakan salah satu tujuan kurikulum berbasis kompetensi yang harus dicapai oleh sekolah yang menerapkan kurikulum ini. Siswa dengan kreativitas yang tinggi ditandai dengan semakin banyak dan semakin tinggi ciri-ciri dari masing-masing perilaku kreatif yang dimiliki oleh seorang siswa maka kreativitas siswa tersebut semakin tinggi. (Wina Sanjaya, 2005)

(51)

Universitas Kristen Maranatha 7

menonjol dan membuat kejutan. Rasa percaya diri, keuletan dan ketekunan membuat mereka tidak dapat putus asa dalam mencapai tujuannya. Ciri kreatif lainnya adalah kecenderungan untuk lebih tertarik pada hal-hal yang rumit dan misterius, juga kecenderungan untuk percaya pada hal-hal yang bersifat imajinatif. Minat untuk seni dan keindahan juga lebih kuat daripada rata-rata siswa lainnya (Utami Munandar, 2002)

Dari ciri-ciri perilaku siswa kreatif di atas, salah satu sekolah dasar di Bandung yang menerapkan kurikulum berbasis kompetensi, siswa usia 11-12

tahun di SD ‘X’ Bandung tersebut menunjukkan kreativitas. Hal ini terlihat dari

observasi bahwa siswa aktif untuk bertanya kepada guru baik untuk menjawab pertanyaan atau untuk bertanya mengenai hal yang tidak dimengerti. Memiliki rasa percaya diri yang tinggi untuk menjawab pertanyaan atau melakukan kegiatan di dalam atau di luar kelas dan siswa juga memiliki kemandirian yang tinggi. Selain itu juga terdapat aktivitas di luar pelajaran kelas yang menumbuhkembangkan kreativitas. Aktivitas yang merangsang kreativitas itu antara lain sejak kelas kecil, siswa dirangsang untuk mempunyai kemampuan

mengelaborasi melalui kegiatan cerdas cermat serta ‘good habit’ yaitu kegiatan

(52)

Universitas Kristen Maranatha 8

memikirkan hal tersebut dan memberikan solusi atas permasalahan tersebut. Siswa juga didorong untuk mempunyai daya imajinasi dan kemampuan orisinalitas dalam kegiatan LAZY (kegiatan menyusun balok menjadi suatu bangun atau benda). Selain itu, siswa didorong untuk senang mencoba mendapatkan pengalaman baru dan berani untuk mengambil resiko terhadap hal-hal baru melalui kegiatan outbond (kegiatan di luar ruangan atau alam terbuka) secara berkala sampai kelas besar.

Dari hasil survey awal dengan memberikan kuesioner tentang kreativitas pada kurikulum berbasis kompetensi terhadap guru-guru di SD ‘X’ Bandung tersebut , dimana SD juga merupakan salah satu SD yang sarat akan prestasi, antara lain, best of the best performance, bengkel kreativitas anak ; juara I lomba kreativitas lazy LAMAC ; dan harapan III lomba prestasi dan kreativitas SD, didapat hasil bahwa dengan penerapan kurikulum berbasis kompetensi, perilaku kreatif siswa mulai muncul walaupun belum optimal. Hal ini terlihat dari hampir 50 % siswa usia 11-12 tahun mampu untuk memunculkan perilaku kreatif kognitif yaitu bebas dan fleksibel dalam berpikir sedangkan dalam perilaku kreatif afektif ditandai dengan perilaku mempunyai daya imajinasi yang kuat, dapat menggunakan minat yang luas dan mempunyai keinginan mendapatkan pengalaman baru berdasarkan pengamatan di kelas dan hasil belajar siswa.

(53)

Universitas Kristen Maranatha 9

siswa usia 11-12 tahun dalam hal ciri-ciri perilaku kreatif dalam kurikulum berbasis kompetensi didapat hasil 52% siswa dapat memunculkan kreativitas kognitif, perilaku yang muncul dalam diri siswa yaitu siswa berani untuk berpendapat, bebas dalam berpikir, siswa mempunyai semangat dalam belajar dan menganalisis masalah serta dapat memberikan jawaban yang bervariasi dalam menjawab pertanyaan yang diajukan guru di kelas dan mempunyai rasa keindahan yang tinggi. Sedangkan untuk kreativitas afektif didapat hasil bahwa 58% siswa usia 11-12 tahun dapat memunculkan kreativitas afektif yaitu siswa mempunyai daya imajinasi yang kuat, mempunyai keinginan mengatasi masalah yang sulit, mempunyai rasa ingin tahu yang besar, keinginan mendapatkan pengalaman baru disertai dengan berani mengambil resiko serta mempunyai sikap menghargai hak diri sendiri dan orang lain.

(54)

Universitas Kristen Maranatha 10

1.2 Identifikasi Masalah

Seberapa tinggi derajat kreativitas pada siswa usia 11-12 tahun di SD ‘X’ Bandung yang menggunakan kurikulum berbasis kompetensi?

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian 1.3.1 Maksud Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah mengetahui derajat kreativitas siswa usia 11-12 tahun di SD ‘X’ Bandung yang menggunakan kurikulum berbasis kompetensi

1.3.2 Tujuan penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran lebih lanjut mengenai kreativitas siswa usia 11-12 tahun di SD ‘X’ Bandung yang menggunakan kurikulum berbasis kompetensi

1.4 Kegunaan Penelitian 1.4.1 Kegunaan Ilmiah

1. Memberikan pemahaman teoritis dalam psikologi pendidikan khususnya mengenai kreativitas.

(55)

Universitas Kristen Maranatha 11

1.4.2 Kegunaan Praktis

1. Sebagai informasi bagi siswa usia 11-12 tahun yang menggunakan kurikulum berbasis kompetensi untuk dapat lebih meningkatkan kreativitas.

2. Sebagai informasi bagi guru mengenai gambaran kreativitas dan pertimbangan untuk meningkatkan dan mengembangkan kreativitas dan mendidik anak didik menjadi kreatif.

3. Sebagai informasi bagi orang tua mengenai kreativitas dan pertimbangan untuk mendidik anak agar mengembangkan kreativitas sejak dini

1.5 Kerangka Pikir

(56)

Universitas Kristen Maranatha 12

siswa di sekolah tidak hanya sebagai penerima pengetahuan saja tetapi juga dapat menjadi kreatif dengan mampu untuk menghasilkan pengetahuan baru.

Agar seorang siswa di sekolah dapat menjadi kreatif atau menghasilkan gagasan-gagasan dan hasil karya yang kreatif diperlukan sebuah persiapan. Seorang siswa yang menjalani sekolah dasar termasuk ke dalam masa persiapan karena pendidikan dimaksudkan untuk mempersiapkan seseorang agar dapat memecahkan masalah baik di lingkungan sekolah maupun di luar sekolah. Kreativitas yang muncul dalam diri seorang siswa terutama pada seorang siswa sekolah dasar tidak hanya menciptakan hal-hal yang baru, tetapi juga menciptakan sesuatu hal yang merupakan gabungan dari hal-hal yang sebelumnya sudah pernah dikenal atau dipelajari. Semakin banyak pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki, maka semakin memungkinkan seorang siswa untuk dapat menjadi kreatif.

(57)

Universitas Kristen Maranatha 13

anak sebelumnya juga menjadi penting karena merupakan masa dimana anak memasuki usia bertanya yang menjadi salah satu perilaku dasar dari kreativitas.

Menurut Guilford (1957) kreativitas adalah sebagai kemampuan untuk melihat bermacam-macam kemungkinan penyelesaian terhadap suatu masalah merupakan bentuk pemikiran yang sampai saat ini masih kurang mendapat perhatian dalam pendidikan formal, dimana kemampuan ini terbagi atas kemampuan yang berhubungan dengan kemampuan berpikir serta kemampuan yang berhubungan dengan perasaan. Di sekolah yang terutama dilatih adalah pengetahuan, ingatan dan kemampuan berpikir logis atau penalaran yaitu kemampuan menemukan suatu jawaban yang paling tepat terhadap masalah yang diberikan berdasarkan informasi yang tersedia.

(58)

Universitas Kristen Maranatha 14

menghasilkan karya yang kreatif serta hidup secara kreatif melalui perilaku kreatif.

Sedangkan kondisi eksternal dalam mengembangkan kreativitas dari seorang siswa dengan kurikulum berbasis kompetensi adalah pertama keamanan psikologis dimana terbentuk dari tiga proses yang saling berhubungan yaitu pertama menerima individu sebagaimana adanya dengan segala kelebihan dan keterbatasannya. Jika orang tua dan guru memberikan kepercayaan pada siswa, bahwa pada dasarnya ia baik dan mampu, bagaimanapun tingkah laku atau prestasi siswa akan mendorong perkembangan kreativitas siswa tersebut. Efeknya ialah bahwa siswa menghayati suasana keamanan. Kedua adalah mengusahakan suasana yang di dalamnya evaluasi eksternal tidak ada. Evaluasi selalu mengandung ancaman sehingga menimbulkan kebutuhan akan pertahanan. Bagi siswa untuk berada dalam suasana dimana ia tidak dinilai, tidak diukur menurut patokan dari luar, dapat memberikan kebebasan dan menumbuhkan kreativitas. Ketiga adalah memberikan pengertian secara empatis dari guru dan orang tua. Mengenal dan ikut menghayati perasaan-perasaan siswa, pemikiran, tindakan serta dapat melihat dari sudut pandang siswa dan tetap menerimanya, akan memberi rasa keamanan bagi siswa dan menumbuhkan kreativitas.

(59)

Universitas Kristen Maranatha 15

simbolis pikiran atau perasaannya, keadaan ini akan memberikan pada siswa kebebasan dalam berpikir atau merasa sesuai dengan apa yang ada dalam dirinya. Apabila kedua kondisi ini terpenuhi dengan baik dalam diri seorang siswa usia 11-12 tahun maka kreativitas dapat muncul dan berkembang secara optimal.

Kreativitas seorang siswa usia 11-12 tahun dapat berkembang dengan baik apabila siswa dalam masa kreatif ini didukung oleh lingkungannya, dengan demikian siswa dapat mengarahkan energinya untuk kegiatan-kegiatan yang kreatif. Sebaliknya, apabila seorang siswa tidak didukung oleh lingkungannya, maka pengerahan energi dan perkembangan potensi kreatifnya akan terhambat. Lingkungan siswa yang terdekat selain keluarga adalah sekolah dimana sekolah mempunyai peranan yang cukup besar di dalam menumbuhkan kreativitas siswanya.

(60)

Universitas Kristen Maranatha 16

Secara khusus kompetensi adalah suatu pengetahuan, keterampilan dan kemampuan atau kapabilitas yang dimiliki oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya sehingga mewarnai perilaku kognitif, afektif dan psikomotoriknya. Kompetensi yang dimiliki oleh setiap siswa haruslah tergambarkan dalam pola perilaku. Artinya seseorang dikatakan memiliki kompetensi, bila ia tidak hanya tahu tentang sesuatu, tetapi juga mengetahui mengenai implikasi dan implementasi pengetahuan itu dalam pola perilaku atau tindakan yang dilakukan. Jadi kompetensi dapat juga dikatakan sebagai perpaduan dari pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak dan kurikulum berbasis kompetensi tidak hanya sekadar bertujuan agar siswa memahami pelajaran untuk mengembangkan kemampuan intelektual saja, tetapi bagaimana pengetahuan yang dipahaminya itu dapat mewarnai perilaku yang ditampilkan dalam kehidupannya (Wina Sanjaya, 2005).

(61)

Universitas Kristen Maranatha 17

dituntut untuk dapat menggunakan berbagai sumber informasi, tidak hanya bersumber dari guru, tetapi juga dari sumber informasi lainnya. Siswa juga diberi peluang untuk belajar sesuai dengan keberagaman dan kecepatan masing-masing. Atas dasar itulah kurikulum berbasis kompetensi mempunyai beberapa prinsip pembelajaran dalam pencapaian kompetensi siswa. Salah satu prinsip pembelajaran dalam kurikulum ini adalah mengembangkan kreativitas siswa.

Kreativitas siswa menjadi hal yang sangat penting dalam kurikulum berbasis kompetensi karena selama ini kurikulum yang berlaku dianggap kurang mengembangkan aspek kreativitas siswa. Kurikulum sebelumnya cenderung hanya mengembangkan kemampuan sisi akademik saja melalui proses pembelajaran yang mendorong agar siswa menguasai pengetahuan yang diajarkan. Kurikulum berbasis kompetensi mengharapkan agar kemampuan penguasaan pengetahuan itu dapat dijadikan alat untuk mendorong kreativitas siswa. Oleh sebab itu, penguasaan bahan ajar bukan sebagai tujuan akhir dari proses pembelajaran, akan tetapi sebagai tujuan antara untuk mencapai kreativitas siswa.

(62)

Universitas Kristen Maranatha 18

mampu menguasai pengetahuan yang diajarkan dan mencapai kompetensi secara optimal (Wina Sanjaya, 2005).

Kreativitas seorang siswa tampak dalam hal antara lain siswa mampu untuk mengajukan pertanyaan dan menggunakan daya imajinasinya, dapat mengajukan masalah sendiri, mencari jawaban terhadap masalah atau menunjukkan banyak inisiatif di dalam kelas. Dengan penerapan kurikulum berbasis kompetensi, dimana memberikan peluang untuk belajar sesuai dengan keberagaman dan kecepatan masing-masing menyadari bahwa pada dasarnya setiap siswa memiliki potensi untuk berkreativitas, hanya bentuk kreativitasnya yang terbagi-bagi. Bentuk kreativitas yang dimaksud adalah bahwa dalam kreativitas sangat ditentukan oleh kreativitas afektif (ciri yang berhubungan dengan emosi) dan kreativitas kognitif (ciri yang berhubungan dengan pikiran). Menurut Guilford (1957) dari dua kreativitas tersebut muncul dua bentuk kreativitas yaitu kreativitas aptitude dan non-aptitude.

Kreativitas aptitude yaitu kreativitas yang berkaitan dengan kognitif atau kemampuan berpikir sedangkan kreativitas yang kedua adalah kreativitas

non-aptitude yaitu kreativitas yang berkaitan dengan afektif yaitu perasaan atau

(63)

Universitas Kristen Maranatha 19

berbasis kompetensi antara lain siswa dapat mengajukan pertanyaan ataupun menjawab pertanyaan dari guru, dapat bekerja lebih cepat dan cepat melihat kekurangan terhadap suatu objek atau situasi serta dapat memberikan suatu gagasan terhadap suatu masalah dalam pelajaran di kelas.

Kreativitas aptitude yang kedua adalah berpikir luwes (fleksibel), yaitu bersifat kualitatif dimana siswa mampu untuk menghasilkan gagasan, jawaban atau pertanyaan yang bervariasi, dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda, mencari banyak alternatif atas suatu masalah dan mampu untuk mengubah cara pemikiran. Kreativitas ini ditampilkan oleh siswa di sekolah dalam kurikulum berbasis kompetensi antara lain siswa dapat memberikan pendapat yang sama sekali berbeda dalam membahas suatu masalah serta dapat memberikan penafsiran yang bermacam-macam terhadap suatu gambar atau cerita.

Kreativitas aptitude yang ketiga adalah berpikir orisinal, yaitu siswa mampu untuk melahirkan ungkapan yang baru dan unik, memikirkan cara yang tidak lazim untuk mengungkapkan diri, serta mampu untuk membuat kombinasi yang tidak lazim dari suatu bagian. Kreativitas ini ditampilkan oleh siswa dalam kurikulum berbasis kompetensi antara lain siswa mampu untuk memikirkan masalah atau hal yang tidak pernah terpikirkan oleh orang lain, memiliki cara berpikir lain dari yang lain baik dalam pelajaran maupun dalam diskusi serta lebih senang mensintesa daripada menganalisa.

(64)

Universitas Kristen Maranatha 20

menambahkan atau memperinci detil-detil dari suatu objek, gagasan atau jawaban sehingga lebih menarik. Kreativitas ini ditampilkan oleh siswa dalam kurikulum berbasis kompetensi antara lain siswa dapat mencari arti yang lebih mendalam terhadap suatu jawaban dari pertanyaan dalam pelajaran, mampu mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain serta menambahkan warna atau detil terhadap catatan dirinya atau orang lain.

Kreativitas aptitude yang kelima adalah menilai (evaluasi), yaitu siswa mampu untuk membuat patokan penilaian sendiri terhadap suatu tindakan, mampu untuk mengambil keputusan terhadap suatu situasi serta mampu untuk melaksanakan gagasan yang telah diajukan. Kreativitas ini ditampilkan oleh siswa dalam kurikulum berbasis kompetensi antara lain siswa mampu untuk

menganalisa masalah secara kritis dengan selalu bertanya ‘mengapa?’, siswa

mampu untuk memberikan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan dalam membuat suatu keputusan, dapat mempertahankan pendapatnya serta dapat menjadi penilai yang kritis.

(65)

Universitas Kristen Maranatha 21

menggunakan keseluruhan panca indera untuk mengenal sesuatu yang baru serta tidak takut akan hal baru.

Kreativitas non-aptitude yang kedua adalah bersifat imajinatif adalah siswa mampu memperagakan atau membayangkan hal-hal yang tidak atau belum pernah terjadi serta mampu untuk menggunakan khayalan tetapi mengetahui perbedaan antara khayalan dan kenyataan. Kreativitas ini ditampilkan oleh siswa dalam kurikulum berbasis kompetensi antara lain siswa mampu untuk memikirkan dan menceritakan hal yang belum pernah dilakukan atau dialami oleh orang lain.

Kreativitas non-aptitude yang ketiga adalah merasa tertantang oleh kemajemukan adalah siswa terdorong untuk mengatasi masalah yang sulit, merasa tertantang oleh situasi-situasi yang rumit serta lebih tertarik pada tugas-tugas yang sulit. Kreativitas ini ditampilkan oleh siswa dalam kurikulum berbasis kompetensi antara lain siswa mampu untuk mencari penyelesaian masalah tanpa bantuan orang lain dan berusaha untuk tidak mencari jalan termudah dan terus berusaha agar berhasil serta mampu melibatkan diri pada tugas yang kompleks.

(66)

Universitas Kristen Maranatha 22

mendapat kritikan, bersedia mengakui kesalahan dan kegagalan, berani untuk menerima tugas yang sulit serta berani untuk mencoba hal yang baru.

Kreativitas non-aptitude yang kelima adalah sifat menghargai adalah siswa dapat menghargai bimbingan dan pengarahan serta siswa menghargai kemampuan dan bakat diri sendiri yang sedang berkembang. Kreativitas ini ditampilkan oleh siswa dalam kurikulum berbasis kompetensi antara lain menghargai hak diri sendiri dan orang lain, menghargai keluarga, sekolah dan teman, serta menghargai kesempatan yang diberikan baik dari guru maupun teman.

Kreativitas siswa usia 11-12 tahun di SD ‘X’ dalam lingkup pemberlakuan kurikulum berbasis kompetensi muncul dalam bentuk perilaku kreatif dengan derajat yang berbeda-beda. Siswa SD ‘X’ usia 11-12 tahun yang mempunyai kreativitas yang tinggi dapat menampilkan kreativitas aptitude dengan derajat yang sama dengan kreativitas non-aptitude baik itu derajat tinggi ataupun rendah. Selain itu, siswa usia 11-12 tahun SD ‘X’ ini juga dapat menampilkan kreativitas aptitude dalam derajat yang berbeda dengan kreativitas non-aptitude. Derajat dari perilaku kreatif siswa usia 11-12 tahun

SD ‘X’ ini dapat berbeda karena pengaruh dari kondisi eksternal dan internal

siswa itu sendiri. Semakin kondisi internal dan eksternal mempengaruhi seorang siswa usia 11-12 tahun SD ‘X’ maka kreativitas siswa yang ditampilkan dalam kreativitas dapat semakin tinggi dan optimal.

(67)

23 - berani untuk mencoba hal baru

2. kemampuan menilai situasi sesuai dengan patokan pribadi - dapat menilai masalah sesuai dengan patokan dirinya 3. kemampuan untuk bereksperimen,

- mencoba sesuatu yang belum pernah dihadapi

Siswa usia

(68)

-24

Universitas Kristen Maranatha

1.6 Asumsi

- Bakat kreatif siswa SD ‘X’ dapat terwujud dalam bentuk keterampilan bewrkreativitas yang di dalamnya terdapat kreativitas kognitif atau aptitude dan kreativitas afektif atau non-aptitude. - Kreativitas seorang siswa SD ‘X’ di dalam perkembangannya

dipengaruhi oleh kondisi internal dan eksternal diri siswa itu sendiri. - Siswa SD ‘X’ usia 11-12 tahun merupakan usia kreatif dimana kreativitas dapat berkembang secara optimal jika didukung oleh lingkungannya.

- Penerapan kurikulum berbasis kompetensi di SD ‘X’ merupakan salah satu wadah untuk menumbuhkembangkan kreativitas terutama siswa usia 11-12 tahun yang merupakan periode kreatif.

(69)

82 Universitas Kristen Maranatha

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Kreativitas aptitude dan non-aptitude yang ditampilkan siswa usia 11-12 tahun di SD ‘X’ Bandung yang menggunakan kurikulum berbasis

kompetensi termasuk tinggi.

2. Kreativitas aptitude yang paling banyak ditampilkan oleh siswa usia 11-12 tahun di SD ‘X’ Bandung yang menggunakan kurikulum berbasis

kompetensi adalah memperinci (elaborasi).

3. Kreativitas non-aptitude yang paling banyak ditampilkan oleh siswa usia 11-12 tahun di SD ‘X’ Bandung yang menggunakan kurikulum berbasis kompetensi adalah sifat menghargai.

4. Kondisi internal yang paling banyak mempengaruhi siswa dalam menampilkan kreativitas baik dalam perilaku kreatif aptitude dan

non-aptitude adalah keterbukaan siswa terhadap pengalaman baru.

5. Kondisi eksternal yang paling banyak mempengaruhi siswa dalam menampilkan kreativitas baik dalam perilaku kreatif aptitude dan

non-aptitude adalah pemberian pengertian secara empatis dari lingkungan

(70)

Universitas Kristen Maranatha 83

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan di atas, peneliti mengajukan beberapa saran yang sekiranya dapat menjadi pertimbangan bagi pihak-pihak yang berkepentingan dengan penelitian ini, yaitu :

5.2.1 Saran untuk sekolah

Bagi pihak sekolah, dapat lebih mengoptimalkan penerapan kurikulum berbasis kompetensi untuk dapat meningkatkan kreativitas dengan jalan membuat kegiatan belajar dalam kurikulum berbasis kompetensi yang dapat memunculkan kreativitas baik aptitude maupun non-aptitude.

5.2.2 Saran untuk siswa

Bagi pihak siswa, perlu lebih memanfaatkan kurikulum berbasis kompetensi untuk dapat meningkatkan kreativitas aptitude dan non-aptitude melalui pencapaian kompetensi secara maksimal dalam belajar.

5.2.3 Saran untuk guru

Bagi pihak guru, guru dapat membuat suatu kegiatan belajar yang dapat merangsang dan mengambangkan kreativitas anak dengan melalui pencapaian kompetensi.

5.2.4 Saran untuk penelitian lanjutan

(71)

Universitas Kristen Maranatha 84

(72)

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR PUSTAKA

Utami Munandar. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah, Petunjuk Bagi

Para Guru dan Orang tua. Jakarta : Gramedia, 1992.

Utami Munandar. Kreativitas dan Keberbakatan, Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif

dan bakat. Jakarta : Gramedia, 2002.

Munandar, Utami. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat -cet.2. Jakarta : Rineka

Cipta, 2004.

Mulyadi, Seto. Bermain dan Kreativitas, Upaya Mengembangkan Kreativitas Anak

Melalui Kegiatan Bermain. Jakarta : Papas Sinar Sinanti, 2004.

Hurlock, Elizabeth B. Child Development, Sixth Edition. Mc-Graw Hill Kogakusha,

LTD, 1978.

__________________. Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, edisi kelima. Jakarta : Erlangga, 1980.

Sanjaya, Wina. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.

Jakarta : Prenada Media, 2005.

Yulaelawati, Ella. Kurikulum dan Pembelajaran, Filosofi Teori dan Aplikasi. Bandung :

Pakar Karya, 2004.

Nazir, Mohammad. Metode Penelitian / Moh. Nazir-cet.3. Jakarta : Ghalia Indonesia,

1988. .

Kaplan, Robert M. Psychological Testing Principles, Applications and Issues.

Monterey, California : Brooks / Cole Publishing Company, 1989.

Singarimbun, Masri. Metode Penelitian Survei ed. revisi. Jakarta : Lembaga Penelitian,

(73)

Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR RUJUKAN

J. Trazzara, Elsha. Mengatasi Kreeativitas Pada Anak. Pikiran Rakyat. 6 April 2003.

Bandung.

Gambar

Tabel 1.1.1 Keterbukaan terhadap pengalaman dalam bentuk berani untuk mencoba hal
Tabel 1.2.2 Mengusahakan situasi non-evaluasi dalam tindakan yang dilakukan siswa
Tabel 1.2.4 Pemberian kesempatan untuk bebas secara pikiran
Tabel 2.1 Crosstabs perilaku kreatif aptitude dengan kondisi internal
+7

Referensi

Dokumen terkait

Menindaklanjuti Hasil Evaluasi Penawaran dan Evaluasi Kualifikasi, Pekerjaan Belanja Modal Pembuatan Taman Hijau di Bundaran Intrepreneur Dengan ini Perusahaan Saudara telah

Paket pengadaan ini terbuka untuk penyedia barang/jasa yang memenuhi persyaratan kualifikasi usaha kecil, bidang reparasi mobil (45201)/perdagangan eceran suku

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa selama proses fermentasi kecap ikan rucah (10, 20 dan 30 hari) dengan penambahan koji yang berbeda menunjukkan nilai

Dalam pelaksanaannya, efektivitas kebijakan moneter tersebut tergantung pada hubungan antara uang beredar dengan variabel ekonomi utama seperti output dan

Hal ini ditandai dengan kecemasan ringan sebanyak 21 responden (42%), penurunan kecemasan dikarenakan responden telah mengetahui tentang penyakit yang diderita oleh

Namun, penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan empat jenis kotoran hewan yang berbeda (kotoran ayam, kotoran burung, kotoran kerbau dan kotoran sapi)

Oleh karena itu berdasarkan motivasi, fenomena dan keterbatasan riset di atas, penelitian ini meneliti tentang faktor-faktor yang berpengaruh pada minat pemilihan

TELAH MELAKSANAKAN PRAKTIKUM ILMU UKUR TANAH PADA TANGGAL 25 FEBRUARI 2018 DAN 11 MARET 2018. Diperiksa