• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Sejenis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Sejenis"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

10 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Sejenis

Sebelum melakukan penelitian ini, ada penelitian terdahulu yang dilakukan oleh para peneliti sebelumnya, adapun penelitiannya sebagai berikut :

1) Pengaruh film animasi terhadap perkembangan bahasa anak usia 5-6 tahun di Desa Kedung Boto Kecamatan Taman Sidoarjo. (Putri Ambawati, 2021). Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui pengaruh perkembangan bahasa pada anak usia 5-6 tahun di Desa Kedung Boto Kecamatan Taman Sidoarjo sebelum menonton film animasi., dan untuk mengetahui dampak perkembangan bahasa pada anak usia 5-6 tahun di Taman Kedung Desa Boto usai menonton film animasi di kabupaten Sidoarjo. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif, dan penelitian pre-test dirancang sebagai seperangkat desain pre-test dan post-test, yang dibagi menjadi tiga tahap, yaitu: pre-test, treatment (perlakuan), dan final post-test.

Subyek penelitian ini adalah 15 anak usia 5-6 tahun. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah observasi dan pencatatan.

2) Maruddani, Roada Tul Jannah (2019). Pengaruh Sosialisasi nilai melalui film Animasi Terhadap Karakter Hormat dan Santun Anak Usia dini Di TK Berkah Kota Jambi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, melalui film animasi, pengaruh sosialisasi nilai terhadap kepribadian sopan santun anak TK kelompok B di kota Berkah Jambi. Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimen dengan desain pre-experimental design dan set of pre-test and post-test design. Subyek penelitian ini adalah 20 anak TK kelompok B. Sampel penelitian ini adalah beberapa anak TK kelompok B yang berjumlah 11 anak. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Dalam penelitian ini, peneliti

(2)

11 menggunakan alat penelitian berupa lembar observasi, dilanjutkan dengan 4 sesi treatment dan post-test untuk memahami dampak sosialisasi nilai melalui film animasi terhadap sikap hormat dan santun anak kecil. TK Berkah, Kota Jambi.

Tabel 2.1

Perbedaan Penelitian Terdahulu

dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis

No Nama Penulis Judul Penelitian Tujuan

Penelitian Perberdaan

1. Putri Ambarwati, (2021)

Pengaruh Film Animasi

Terhadap Perkembangan Bahasa Pada Anak Usia 5-6 Tahun Di Desa Kedung Boto Kecamatan Taman Sidoarjo

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perkembangan bahasa pada anak usia 5-6 tahun di Desa Kedung Boto Kecamatan Taman Sidoarjo sebelum

menonton film animasi serta untuk

mengetahui pengaruh perkembangan bahasa pada anak usia 5-6 tahun di Desa Kedung Boto Kecamatan

- Metode penelitian kuantitatif dengan desain

penelitian Pre

Eksperimental dengan jenis One grup pretest post-test Design dengan 3 tahapan, yaitu : Pretest, pemberian perlakuan (treatment), dan yang terakhir post-test.

- Subjek pada

penelitian ini adalah anak usia 5-6 tahun berjumlah 15 anak.

- Teknik

pengumpulan data pada penelitian ini yaitu

observasi dan

dokumentasi.

(3)

12 Taman Sidoarjo

setelah

menonton film animasi.

2. Maruddani, Roada Tul Jannah (2019)

Pengaruh

Sosialisasi nilai melalui film Animasi

Terhadap

Karakter Hormat dan Santun Anak Usia dini Di TK Berkah Kota Jambi.

Mendeskripsika n pengaruh sosialisasi nilai melalui film Animasi

terhadap

karakter Hormat dan Santun

Anak TK

kelompok B Berkah kota Jambi.

- Metode penelitian Eksperimen dengan desain pre eksperimental design dan rancangan One Grup Pretest-posttest design.

- Populasi dalam penelitian ini adalah anak TK Kelompok B yang berjumlah 20 anak.

- Sampel dari

penelitian ini adalah sebagian anak TK Kelompok B yang berjumlah 11 anak.

- Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah sampling purposive.

- Peneliti

menggunakan instrumen penelitian berupa lembar observasi, kemudian peneliti memberikan perlakuan sebanyak 4 kali dan melakukan posttest untuk melihat pengaruh sosialisasi nilai melalui film animasi terhadap karakter hormat dan

(4)

13

santun anak usia dini di TK Berkah Kota Jambi.

2.2 Tinjauan Pustaka 2.2.1 Komuniasi Massa

Menurut Bittner (Rakhmat, 2003:188), komunikasi massa adalah informasi yang disampaikan kepada sejumlah besar orang melalui media massa (komunikasi massa adalah informasi yang disampaikan kepada sejumlah besar orang melalui media massa). Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa komunikasi massa harus menggunakan media massa. Media, termasuk media massa, adalah radio dan televisi, keduanya disebut media elektronik; surat kabar dan majalah, disebut juga media cetak; dan media film.

2.2.2 Media Massa

Menurut Bungin (2006:72), media massa adalah sarana penyampaian informasi kepada publik, dari segi makna, media massa diartikan sebagai media dan informasi yang menyebarkan informasi dan dapat diakses oleh masyarakat luas. alat atau sarana penyebaran informasi, termasuk berita, opini, komentar, hiburan, dll.

Menurut Cangara, Media adalah alat atau media yang digunakan untuk menyampaikan informasi dari komunikator kepada masyarakat, sedangkan media massa sendiri diartikan sebagai penggunaan alat komunikasi seperti surat kabar, film, radio dan televisi untuk menyampaikan informasi dari sumber kepada pihak yang dituju. alat penonton. (Canggara, 2010:123,126)

(5)

14 2.2.3 Film

Film merupakan media berekspresi, karena dipertunjukkan kepada publik, maka film merupakan salah satu ciri khas komunikasi massa. Film merupakan salah satu jenis media massa khusus yang menyediakan tayangan audio dan video, dan pengemasannya semenarik mungkin.Tujuannya adalah untuk memberikan tayangan yang memudahkan komunikator untuk menerima informasi atau pesan dengan baik, bahkan terkadang membingungkan saat menerima informasi atau pesan yang tersirat..

Animasi adalah sebuah bahasa visual yang sudah universal. Ia bentuk komunikasi non-verbal, sebagai kesatuan yang bisa saja menjadi elemen visual. Film animasi memiliki definisi yang bisa panjang dan bisa sangat pendek, tetapi sangat kompak untuk bisa menyampaikan pesan kepada penontonnya dengan menggunakan berbagai karakter yang sering digunakan dalam sebuah film animasi.

2.2.4 Film animasi

Film Animasi adalah film yang merupakan hasil pengolahan gambar tangan menjadi gambar dinamis. Pada awal penemuannya, film animasi dibuat dengan beberapa lembar kertas gambar, kemudian kertas gambar tersebut diputar untuk memberikan efek gambar bergerak. Film animasi mulai berkembang di Amerika Serikat sekitar abad ke-18. Teknologi animasi stop motion sangat populer saat itu.

Teknik ini menggunakan rangkaian gambar diam/bingkai yang dirangkai untuk memberikan kesan bahwa gambar bergerak.

Animasi adalah gambar tunggal yang dapat menyampaikan banyak arti, dan biasanya digunakan untuk menyampaikan informasi komunikasi dari satu orang ke orang lain. Film animasi atau kartun adalah program yang aman dan memang tergolong untuk anak-anak. Meskipun tidak semua film animasi cocok untuk

(6)

15 ditonton anak-anak, beberapa film animasi memiliki cerita yang sederhana dan menarik, menampilkan karakter-karakter unik, seperti superhero, karakter hewan, dan karakter menarik lainnya. Sebagian besar film animasi yang ditayangkan di Indonesia adalah film animasi luar negeri yang diadopsi oleh stasiun TV Indonesia.

2.3 Terpaan Media

Terpaan media menurut Rosengren (1974), adalah penggunaan media yang terdiri dari jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai media, jenis isi media, media yang dikonsumsi atau dengan media secara keseluruhan. Selain itu, terpaan media dapat diukur melalui frekuensi, durasi, dan atensi dari individu. (Rakhmat 66:2004).

2.4 Masa Usia Sekolah Dasar

Masa usia sekolah dasar sering disebut sebagai masa intelektual atau masa toleransi sekolah. Pada usia berapa tepatnya seorang anak dewasa untuk sekolah dasar sebenarnya sulit dikatakan, karena kedewasaan tidak hanya ditentukan oleh usia. Namun pada umur 6 atau 7 tahun, biasanya anak telah matang untuk memasuki sekolah dasar. Pada masa keserasian bersekolah ini secara relatif. Anak- anak lebih mudah dididik daripada masa sebelum dan sesudahnya. Masa ini diperinci lagi menjadi dua fase, yaitu: 1) Masa kelas rendah sekolah dasar, kira-kira 6 atau 7 tahun sampai 9 atau 10 tahun. 2) Masa Tinggi Sekolah Dasar, kira-kira umur 9,0 atau 10,0 sampai umur 12,0 atau 13,0 tahun.

2.5 Perilaku Imitasi

Perilaku dapat diartikan sebagai respons suatu organisme atau orang terhadap rangsangan eksternal (Notoatmodjo, 1993, p. 58). Dalam masyarakat, imitasi adalah proses meniru perilaku orang atau kelompok lain. Proses peniruan tidak bisa terjadi sendiri. Sebelum seseorang meniru atau meniru orang lain, ia harus terlebih

(7)

16 dahulu menerima orang yang ditiru atau ditiru, menghargai dan meningkatkan tinggi badan orang tersebut. Meniru atau meniru perilaku merupakan ciri khas anak-anak.

Dalam meniru anak, orang tua dipandang sebagai tokoh utama yang patut ditiru sebelum meniru orang lain. Hampir semua kehidupan masa kecil diperoleh dari peniruan. Karena anak belum memiliki pengalaman untuk memahami tujuan dari suatu tindakan. Orang tua adalah panutan bagi anak, karena bagaimanapun orang tua memberikan contoh kepada anaknya, anak akan melakukan hal yang sama.

2.6 Konsep Terpaan Media

Terpaan media menurut Rosengren (1974), adalah penggunaan media yang terdiri dari jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai media, jenis isi media, media yang dikonsumsi atau dengan media secara keseluruhan. Selain itu, terpaan media dapat diukur melalui frekuensi, durasi, dan atensi dari individu.

Terpaan media adalah suatu perilaku audiens dalam menggunakan media massa. Terpaan media dapat diartikan sebagai suatu kondisi di mana audiens diterpa oleh isi media atau bagaimana konten dalam media tersebut menerpa audiens. Terpaan media mempakan kegiatan mendengarkan, melihat dan membaca pesan media massa ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap pesan tersebut, yang dapat terjadi pada tingkat individu ataupun kelompok. Ardianto (2004) mengungkapkan untuk mengukur terpaan media dapat dilihat dari 3 faktor:

1) Frekuensi, diukur berdasarkan berapa kali sehari seseorang menggunakan media dalam satu minggu, berapa kali seminggu seseorang menggunakan

(8)

17 dalam satu bulan, serta berapa kali sebulan seseorang menggunakan media dalam satu tahun.

2) Durasi penggunaan media, berdasarkan berapa lama khalayak menggunakan media dan mengikuti suatu program.

3) Perhatian (atensi), proses mental seseorang dalam menyimak suatu program. Meliputi menonton dengan melakukan kegiatan lain, menonton dengan tidak melakukan kegiatan lain, dan menonton dengan melakukan diskusi.

Dari beberapa pengertian terpaan media tersebut penulis menyimpulkan bahwa. Terpaan media dapat diukur dari pola konsumsi informasi yang diperoleh dari media melalui kegiatan mendengarkan, melihat, dan membaca pesan pada media informasi, dengan berdasarkan frekuensi, atensi, dan durasi dalam memperoleh informasi.

(9)

18 Gambar 2.2

Kerangka Berpikir

Frekuensi Atensi Durasi

Terpaan Film Animasi Shiva Dalam Imitasi Perilaku Anak Di Desa Bojongloa Kecamatan Kasomalang Kabupaten Subang

Terpaan Media

Terpaan media menurut Rosengren (1974), adalah penggunaan media yang terdiri dari jumlah waktu yang digunakan dalam berbagai media, jenis isi media, media yang dikonsumsi atau dengan media secara keseluruhan. Selain itu, terpaan media dapat diukur melalui frekuensi, durasi, dan atensi dari individu. (Rakhmat 66:2004).

(10)

19 2.7 Hipotesis Penelitian

Dari Sugiyono (2017 : 99-102), hipotesis adalah jawaban sementara dari rumusan pernyataan, dan rumusan pertanyaan penelitian dirumuskan dalam bentuk frasa pertanyaan oleh karena itu, hipotesis juga dapat dirumuskan sebagai jawaban teoritis atas rumusan masalah penelitian. Adapun hipotesis dalam penelitian ini yaitu hipotesis deskriptif. Menurut Sugiyono (2013 : 10), hipotesis deskriptif adalah pendugaan atau pendugaan nilai suatu variabel bebas dan tidak menimbulkan suatu perbandingan atau hubungan. Kesimpulannya dalam penelitian ini hipotesis yang digunakan adalah hipotesis deskriptif, yang merupakan suatu jawaban yang bersifat sementara pada suatu masalah deskriptif, yakni yang memiliki hubungan dengan suatu variabel tunggal atau mandiri.

Referensi

Dokumen terkait

Kajian ini bertujuan untuk menganalisis besaran keuntungan dari penjualan produk ayam goreng presto kemasan vakum produk Celebes Organik Chicken (COC) hasil

Pada akhirnya kebencian tersebut memupuk kebencian pada agama mereka juga.Berikut analisis terhadap literatur keislaman berupa buku-buku dalam mengiatkan nilai-nilai antar iman

Perbaikan mekanisme ini bertujuan untuk mempermudah Disassembly dan Assembly komponen bracket, Disassembly dan Assembly bracket terhadap komponen lainya serta menaikan

Memberikan jawapan yang terperinci yang memenuhi butiran kriteria secara jelas.. Conclusion Kesimpulan 1.0 No conclusion Tiada

koridor/solid (bertujuan agar debu yang berasal dari solid tidak pindah ke ruang pengolahan liquid yang relatif tidak berdebu) 3. Tekanan diruang produksi non-betalaktam >

Usaha tenun di Balige semakain bertambah akibat kebijakan tersebut, dan industri yang mulai mengalami perkembangan pada masa itu salah satunya adalah industri Pertenun

Apabila kuota panenan (Qt) yang diperoleh dari perhitungan BEP merupakan representasi dari panenan lestari untuk penangkaran Hutan Penelitian Dramaga, maka besarnya ukuran populasi

Dari hasil simulasi yang telah dilakukan, didapatkan kondisi yang cocok untuk mengestimasi posisi misil pada lintasannya dengan menggunakan metode Ensemble Kalman