• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROGRAM INDONESIA PINTAR (PIP) DI SMA NEGERI 2 PANGSID KABUPATEN SIDRAP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROGRAM INDONESIA PINTAR (PIP) DI SMA NEGERI 2 PANGSID KABUPATEN SIDRAP"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROGRAM INDONESIA PINTAR (PIP) DI SMA NEGERI 2 PANGSID

KABUPATEN SIDRAP

Disusun oleh :

OLEH FARIDA 45 12 021 048

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pada Program Studi Ilmu Administrasi Negara

JURUSAN ADMINISTRASI NEGARA

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR

2018

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROGRAM INDONESIA PINTAR (PIP) DI SMA NEGERI 2 PANGSID

KABUPATEN SIDRAP

Disusun dan diajukan oleh

FARIDA 45 12 021 048

Mengesahkan

Pembimbing I Pembimbing II

Prof.Dr. Husain Hamka, M.Si Drs. Natsir Tompo, M.Si

Mengetahui

Dekan Fakultas Ilmu Sosial Ketua Jurusan dan Ilmu Politik Ilmu Administrasi Negara

Arief Wicaksono, Sip., M.A Drs. Natsir Tompo, M.Si

(3)

IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PROGRAM INDONESIA PINTAR (PIP) DI SMA NEGERI 2 PANGSID

KABUPATEN SIDRAP

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S. Sos)

FARIDA 45 12 021 048

Jurusan Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik

Universitas Bosowa Makassar

2018

(4)

ABSTRAK

Farida. 2018. Implementasi Kebijakan Program Indonesia Pintar (PIP) di SMA Negeri 2 Pangsid Kabupaten Sidrap. Skripsi. (Dibimbing oleh Husain Hamka dan Natsir Tompo)

.

Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menganalisis mekanisme penyaluran Program Indonesia Pintar (PIP) tingkat SMA Negeri 2 Pangsid Kabupaten Sidrap dan menjelaskan dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan Program Indonesia Pintar (PIP) di SMA Negeri 2 Pangsid Kabupaten Sidra

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuatitatif. Penelitian ini mengkaji 3 aspek yaitu aspek kesiapan penerima PIP (antecedents), aspek pelaksanaan PIP (transactions), dan aspek Pemanfaatan PIP (outcomes). Pada penelitian kualitatif, peneliti memasuki situasi sosial tertentu yang dapat berupa lembaga tertentu untuk melakukan observasi dan wawancara kepada orang-orang yang dipandang tahu tentang situasi tersebut. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik wawancara, observasi, dokumentasi dan pemberian angket. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif yaitu dengan mendeskripsikan dan memaknai data dari masing-masing tahapan atau komponen yang diamati. Data yang yang diperoleh setelah itu dideskripsikan menggunakan statistik deskriptif kuantitatif kualitatif. Data kemudian disajikan dan diubah dari data kuantitatif menjadi data kualitatif menggunakan SPSS 16.

Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa evaluasi pemanfaatan Program Indonesia Pintar di SMA Negeri 2 Pangsid Kabupaten Sidenreng Rappang pada aspek kesiapan penerima Program Indonesia Pintar secara keseluruhan termasuk dalam kategori baik dengan persentase 75,4%., pada aspek pelaksanaan Program Indonesia Pintar secara keseluruhan termasuk dalam kategori baik dengan persentase 73,8% dan pada aspek pemanfaatan Program Indonesia Pintar secara keseluruhan termasuk dalam kategori sangat baik dengan persentase 75,3%. Adapun Faktor Pendukung pemanfaatan Program Indonesia Pintar antara lain adanya pendataan awal siswa dari keluarga miskin di awal peserta didik besekolah, tim pelaksana PIP yang tidak mengalami pergantian dalam setiap tahunnya dan kebijakan sekolah untuk mengelola dana PIP agar dapat maksimal dalam pemanfaatannya. Terakhir, faktor penghambat pemanfaatan Program Indonesia Pintar antara lain kurangnya sosialisasi dari sekolah dan dinas terkait tentang PIP, pemberitahuan informasi yang selalu mundur dari dinas terkait, waktu pencairan yang tidak sesuai dengan eaktu kebutuhan siswa dan tidak adnya monitoring dalam pelaksanaan PIP.

Kata kunci : Implementasi Kebijakan, PIP, Deskriptif Kuatitatif

(5)

ABSTRACT

Farida. 2018. Implementation of Indonesian Smart Program Policy (PIP) in SMA Negeri 2 Pangsid at Sidrap Regency. Skripsi. (Supervised by Husain Hamka and Natsir Tompo)

.

The aim of this study is to describe and analyze the mechanism of distribution of Indonesian Smart Program (PIP) level SMA Negeri 2 Pangsid at Sidrap Regency by explain and analyze the factors that affect the implementation of the Indonesian Smart Program (PIP) in SMA Negeri 2 Pangsid Sidra District

This research used descriptive qualitative research method. This study examines three aspects: PIP receiver readiness (antecedents) aspects, implementation of PIP (transactions), and aspects of PIP Utilization (outcomes). In qualitative research, researchers enter a particular social situation that can be a particular institution to observe and interview people who are seen to know about the situation.

Data collection is done through interview technique, observation, documentation and questionnaire. Data analysis technique used in this research is descriptive analysis that is by describing and interpreting data from each stage or component observed.

The data obtained after that are described using qualitative quantitative descriptive statistics. The data were presented and converted from quantitative data into qualitative data using SPSS 16.

From the result of the research shows that evaluation of the utilization Indonesian Smart Program in SMA Negeri 2 Pangsid at Sidenreng Rappang Regency in the aspect of readiness of Indonesian Smart Program as a whole is included in good category with 75.4% percentage, on the aspect of the implementation of Indonesian Smart Program as a whole is included in the category both with a percentage of 73.8% and on the utilization aspect of the Indonesian Smart Program as a whole is included in very good category with 75.3% percentage. The supporting factors for the utilization of Indonesian Smart Program include the early data collection of students from poor families in the early school students, PIP implementing teams that do not change in every year and school policies to manage PIP funds in order to maximize the utilization. Finally, the inhibiting factors in the use of the Indonesian Smart Program include lack of socialization from schools and related departments on PIP, continuous information notification of the relevant agencies, disbursement times that are not in accordance with the requirements of the students and the lack of monitoring in PIP implementation.

Keywords: Implementation Policy, PIP, Descriptive Qualitative

(6)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah menciptakan manusia sebaik -baiknya bentuk dan keajaiban, untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Atas berkat rahmat dan hidayah Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sesuai dengan kemampuan dan keterbatasan yang ada.

Adapun keberhasilan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini tidak terlepas dari banyak pihak, baik langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu penulis patut mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Muhammad Saleh Pallu, M. Eng selaku Rektor Universitas Bosawa Makassar

2. Arief Wicaksono, Sip., M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bosowa Makassar.

3. Drs. Natsir Tompo, M.Si selaku Ketua Jurusan Ilmu Administrasi Negara Universitas Bosowa Makassar.

4. Prof.Dr. Husain Hamka, M.Si selaku Dosen Pembimbing I yang telah membimbing dan memberikan pengarahan dengan penuh kesabaran kepada penulis selama proses penyusunan skripsi.

5. Drs. Natsir Tompo, M.Si selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dengan penuh kesabaran, sehingga penulisan skripsi ini terselesaikan.

6. Kepada kedua orang tua penulis ayahanda Amir dan Ibunda Norma yang tiada henti-hentinya mendoakan dan membiayai pendidikan kami dengan segenap kemampuan, keikhlasan dan kasih sayangnya. Saudara dan saudari penulis Sardi dan Santi yang tiada henti memberikan dukungan moril kepada penulis.

7. Kepada Putri, Lina, Saryuni, Sajidah Patri dan teman-teman seangkatan yang selalu bekerjasama selama proses penyusunan skripsi yang telah banyak memberikan pengalaman kepada penulis tentang indahnya arti sebuah kebersamaan.

(7)

8. Serta semua pihak yang tidak disebutkan satu persatu.

Akhirnya penulis berharap semoga amal baik semua pihak serta jasa-jasanya mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT dan hanya kepada Allah jualah penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis sendiri dan para pembaca umumnya.

Makassar, Januari 2018

Farida

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL... i

LEMBAR PENGESAHAN... ii

ABSTRAK. ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI… ... vi

DAFTAR TABEL… ... vii

DAFTAR GAMBAR… ... viii

DAFTAR LAMPIRAN… ... ix

BAB I PENDAHULUAN………. ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6

1. Tujuan Penelitian ... 6

2. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II LANDASAN TEORI ... 7

A. Pengertian Implementasi ... 7

B. Konsep Kebijakan Publik ... 13

C. Pengertian Program ... 21

D. Program Indonesia Pintar ... 28

E. Kerangka Pikir ... 37

BAB III METODE PENELITIAN ... 39

A. Lokasi dan Waktu Penelitian... 39

B. Tipe dan Dasar Penelitian ... 39

C. Populasi dan Sampel... 39

D. Sumber Data Penelitian ... 40

E. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Penelitian... 41

E. Teknik Pengumpulan Data ... 41

F. Teknik Analisa Data ... 42

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 45

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 45

B. Hasil Penelitian ... 49

C. Pembahasan ... 60

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 70

A. Kesimpulan... 70

B. Saran ... 72

DAFTAR PUSTAKA ... 73 DAFTAR TABEL

(9)

3.1. Persentase Skor dan Kategori... 34 4.1. Konversi Skor Aspek Kesiapan Penerimaan Program Indonesia

Pintar ... 51 4.2. Hasil Analisis Data Kuesioner Aspek Kesiapan Penerima Program

Indonesia Pintar ... 51 4.3. Konversi Skor Aspek Pelaksanaan Program Indonesia Pintar ... 54 4.4. Hasil Analisis Data Kuesioner Aspek Pelaksanaan Penerimaan

Program Indonesia Pintar ... 54 4.5. Konversi Skor Aspek Pemanfaatan Program Indonesia Pintar ... 57 4.6. Hasil Analisis Data Kuesioner Aspek manfaatan Penerimaan

Program Indonesia Pintar ... 57

(10)

DAFTAR GAMBAR

2.1. Kerangka Konsep Penelitian ... 38

3.1. Struktur Organisasi SMA Negeri 2 Pangsid ... 48

4.1. Diagram Pie Riwayat Pendidikan Orang Tua Wali Murid ... 59

4.2. Diagram Pie Pekerjaan Orang Tua Wali Murid Penerima PIP ... 60

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Instrument Penelitian ... 76

2. Hasil Analisis Data Aspek Kesiapan PIP ... 83

3. Hasil Analisis Data Aspek Pelaksanaan PIP ... 85

4. Hasil Analisis Data Aspek Pemanfaatan PIP ... 87

5. Hasil Data Statistik Aspek Kesiapan PIP ... 89

6. Hasil Data Statistik Aspek Pelaksanaan PIP ... 90

7. Hasil Data Statistik Aspek Pemanfaatan PIP ... 91

8. Hasil Data Angket Siswa Penerima PIP... 92

9. Foto Penelitian ... 101

(12)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kebijakan pembangunan di bidang pendidikan meliputi peningkatan akses rakyat terhadap pendidikan yang lebih berkualitas melalui peningkatan pelaksanaan wajib belajar dua belas tahun dan pemberian akses lebih besar kepada kelompok masyarakat yang selama ini kurang dapat menjangkau layanan pendidikan seperti masyarakat miskin, masyarakat tinggal di daerah terpencil, ataupun masyarakat penyandang cacat.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab II Pasal 3 (2012: 64), menyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab VI Pasal 13 (2012: 67), menyatakan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang masing-masing jalur terdiri dari beberapa jenjang pendidikan. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan yang dikembangkan. Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar,

(13)

pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Jalur pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan pendidikan menengah kejuruan.

Data terakhir menurut Badan Pusat Statistik (2015:8), jumlah penduduk miskin pada september 2014 sebanyak 27,73 juta orang (10,96%), berkurang 0,55 juta dibandingkan dengan penduduk miskin pada bulan maret 2014 sebesar 28,28 juta (11,25%). Selama periode Maret 2014–September 2014, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebanyak 0,15 juta orang (dari 10,51 juta orang pada Maret 2014 menjadi 10,36 juta orang pada September 2014), sementara di daerah perdesaan turun sebanyak 0,40 juta orang (dari 17,77 juta orang pada Maret 2014 menjadi 17,37 juta orang pada September 2014).Jumlah penduduk miskin Daerah Istimewa Yogyakarta sebesar 532,58 ribu dengan persentase 14,55% (BPS, 2015: 112)

Salah satu alasan rendahnya partisipasi pendidikan khususnya pada kelompok miskin adalah tingginya biaya pendidikan baik biaya langsung maupun tidak langsung. Maka dalam upaya pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan mutu pendidikan serta menekan putus sekolah pemerintah memperluas akses pendidikan dasar melalui beberapa program yang diantaranya BOS dan BSM yang sekarang disempurnakan menjadi Program Indonesia Pintar (PIP).

Pemberian bantuan pendidikan melalui program Indonesia Pintar bertujuan untuk memberikan layanan pendidikan bagi penduduk miskin untuk dapat memenuhi biaya kebutuhannya dibidang pendidikan agar siswa yang orang tuanya tidak mampu atau miskin tetap memperoleh pendidikan (Kemendibud, 2015).

(14)

Undang-undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional Indonesia Bab V pasal 12 menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan bagi mereka yang orang tuanya tidak mampu membiayai pendidikannya. Oleh karena itu berdasarkan instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2014 diantaranya mengamanatkan tentang Program Indonesia Pintar (PIP) kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyiapkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan menyalurkan dana Program Indonesia Pintar (PIP) kepada siswa yang orangtuanya tidak mampu membiayai pendidikannya.

Program Indonesia Pintar (PIP) melalui Kartu Indonesia Pintar ini merupakan kelanjutan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM) yang mencakup siswa dari jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, dan siswa/ warga belajar di Pusat Kegiatan Belajar (PKBM)/ lembaga Kursus dan pelatihan hingga anak usia sekolah seperti anak jalanan, pekerja anak, anak-anak yang berada di panti asuhan dan anak-anak difabel dari rumah tangga/ keluarga dengan status ekonomi terendah secara nasional.

Target penerima Bantuan Siswa Miskin/ Program Indonesia Pintar untuk Sekolah Menengah Atas pada tahun 2015 adalah sebanyak 1.846.538 siswa miskin dengan besaran dana untuk satu tahun sebesar Rp 1.000.000,00 yang diberikan bertahap selama 2 semester (Kemendikbud, 2015:4-5). Berdasarkan Kebijakan Program dan Anggaran Pendidikan Menengah tahun 2015 DIRJENDIKMEN (2014:6) menyatakan isu strategis yaitu perluasan pendidikan menengah universal yang berkualitas. Arah kebijakan meningkatkan akses pendidikan menengah universal yang berkualitas dengan strategi pemihakan pada siswa miskin untuk dapat melanjutkan ke pendidikan menengah.

(15)

Dyah Larasati dan Howel, Fiona (2014:4) menyebutkan dari hasil susenas pada tahun 2009 didapat total biaya pendidikan pertahun adalah 2.600.000,00 rupiah yang terdiri dari biaya operasional dan biaya personal yang harus dikeluarkan orang tua siswa SMA/SMK sederajat. Biaya operasional pendidikan (iuran sekolah) ditanggung oleh Program Bantuan Operasioanal Sekolah (BOS). Biaya-biaya personal adalah biaya tambahan yang harus dikeluarkan rumah tangga setiap tahun untuk menyekolahkan anaknya. Data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidrap diperoleh data jumlah anak tidak sekolah sebanyak 2900 anak. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sidrap Ibu Nur Kanaa mengungkapkan akan mencari data lengkap dari 2900 anak yang putus sekolah tersebut untuk mendapatkan program pendidikan dari Kemendikbud melalui Program Indonesia Pintar.

Implementasi Program Indonesia Pintar (PIP) tingkat SMA di SMA Negeri 2 Pangsid Kabupaten Sidrap ini dinilai masih terdapat permasalahan yaitu penyalahgunaan dana yang dilakukan oleh siswa dalam Program Indonesia Pintar (PIP) dan pemberian informasi atau koordinasi dari lembaga lain seperti informasi yang disampaikan itu mendadak, sehingga waktu untuk menginformasikan, mendata dan merekap data siswa tersebut menjadi sangat singkat.

Lebih sulit apabila kondisinya tidak normal, seperti adanya orang tua wali yang tidak memiliki KTP, tanda tangan di KTP yang tidak sama, tidak memiliki Kartu Keluarga atau Akte Kelahiran maka dibutuhkan Surat Keterangan dari Desa/Kelurahan. Pada beberapa kasus tak jarang dibutuhkan biaya untuk keperluan tersebut. Berbagai persoalan akan dihadapi siswa tersebut

(16)

berimbas pula pada sekolah. Bagi siswa atau orang tua siswa yang berada di pedesaaan kebutuhan dana untuk menanggulangi transfortasi siswa/orang tua siswa untuk pembuatan rekening PIP dan untuk pencairan dana PIP akan menjadi beban sekolah. Siswa yang betul-betul tidak mampu kemungkinan besar akan meminjam dana (menyerahkan) kepada pihak sekolah.

Berdasarkan kenyataan di atas, tidak sebaiknya pencairan atau penyaluran dana PIP kembali diserahkan kepada PT POS Indonesia karena persyaratan yang harus dipenuhi siswa atau orang tua siswa tidak terlalu rumit daripada melalui Rekening Bank. Melalui POS semua persyaratan bisa ditangani pihak sekolah, namun penerima dana langsung pada siswa atau orang tua siswa.

Kalau pun tetap akan dilakukan melalui Bank, tidakkah sebaiknya cukup melalui Rekening Sekolah dengan syarat pihak sekolah menyerahkan bukti fisik penyerahan secara langsung kepada siswa atau orang tua siswa, atau saat pencairannya pihak bank datang langsung ke sekolah untuk menyerahkan dana tersebut kepada masing-masing siswa atau orang tua siswa. Berdasarkan uraian di atas maka penelitian ini mengambil judul “Implementasi Kebijakan Program Indonesia Pintar (PIP) di SMA Negeri 2 Pangsid Kabupaten Sidrap”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:

1. Bagaimana mekanisme penyaluran Program Indonesia Pintar (PIP) di SMA Negeri 2 Pangsid Kabupaten Sidrap?

2. Faktor yang mempengaruhi pelaksanaan Program Indonesia Pintar (PIP) di SMA Negeri 2 Pangsid Kabupaten Sidrap?

(17)

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan penelitian ini adalah:

a. Mendeskripsikan dan menganalisis mekanisme penyaluran Program Indonesia Pintar (PIP) tingkat SMA Negeri 2 Pangsid Kabupaten Sidrap.

b. Menjelaskan dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan Program Indonesia Pintar (PIP) di SMA Negeri 2 Pangsid Kabupaten Sidrap.

2. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu:

a. Secara Teoritis

Semua pihak diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah bagi perkembangan Ilmu administrasi Negara, khususnya Kabupaten Sidrap.

b. Secara Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi Dinas terkait dan SMA Negeri 2 Pangsid Kabupaten Sidrap.

BAB II LANDASAN TEORI

A. Pengertian Implementasi

Secara garis besar, implementasi merupakan setiap kegiatan yang dilakukan menurut rencana untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Upaya untuk memahami adanya perbedaan antara yang diharapkan dengan fakta yang telah terjadi telah menimbulkan kesadaran mengenai pentingnya suatu pelaksanaan. Untuk lebih jelas mengenai arti implementasi, berikut beberapa pendapat para ahli.

(18)

Secara etimologis pengertian implementasi menurut Kamus Webster yang dikutip oleh Wahab adalah Konsep implementasi berasal dari bahasa inggris yaitu to implement. Dalam kamus besar webster, to implement (mengimplementasikan) berati to provide the means forcarrying out (menyediakan sarana untuk melaksanakan sesuatu); dan to give practical effect to (untuk menimbulkan dampak/akibat terhadap sesuatu)”(Webster dalam Wahab, 2004:64).

Definisi konsep implementasi yang dikemukakan Mazmanian dan Sabatier dalam Riant (2006; 44) yaitu, implementasi adalah melaksanakan sebuah keputusan kebijakan, biasanya dikaitkan dengan sebuah perundang- undangan, disusun oleh pemerintahan baik eksekutif maupun keputusan peradilan. Grindle dalam AG. Subarsono (2005: 90-91) menyatakan, implementasi merupakan proses umum tindakan administratif yang dapat diteliti pada tingkat program tertentu. menambahkan bahwa proses implementasi baru akan dimulai apabila tujuan dan sasaran telah ditetapkan, program kegiatan telah tersusun dan dana telah siap dan telah disalurkan untuk mencapai sasaran.

Implementasi kebanyakan akan berhasil apabila perubahan yang dikehendaki relatif sedikit, sementara kesepakatan terhadap tujuan, terutama mereka yang mengopersikan program di lapangan relatif tinggi. Hal ini dikemukakan oleh Mazmanian dan Sabatier dalam Riant (2003: 47). Menurut C.

Jones (1996 : 47), ada tiga aktivitas utama yang penting dalam implementasi kebijakan yaitu:

1. Organisasi, merupakan pembentukan atau penataan sumber daya, unit-unit serta metode untuk menjadikan program berjalan.

(19)

2. Interpretasi, menafsirkan agar program menjadi rencana dan pengarahan yang tepat dan dapat diterima serta dilaksanakan.

3. Penerapan, kebutuhan rutin dari pelayanan pembayaran atau lainnya yang disesuaikan dengan tujuan atau perlengkapan program.

Penjelasan yang diberikan C. Jones (1996 ; 34) sehubungan dengan aktivitas fungsional tersebut adalah dari sudut organisasi dapat dilihat dari aktor atau bahan-bahan yang berperan dalam implementasi kebijkan atau program dengan memfokuskan pada birokrasi. Dari sudut interpretasi dapat dilihat bahwa proses interpretasi dilakukan oleh badan-badan eksekutif birokrat dan beberapa pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan suatu program tertentu.

Implementasi kebijakan merupakan salah satu tahapan proses kebijakan pemerintah setelah perumusan dan penetapan kebijakan.Terdapat beberapa konsep implemetasi kebijakan yang dikemukakan oleh beberapa ahli. Metter dan Horn (1975: 6) mendefinisikan implementasi kebijakan sebagai tindakan yang dilakukan oleh publik maupun swasta baik secara individu maupun kelompok yang ditujukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam keputusan kebijakan. Definisi ini menyiratkan adanya upaya mentransformasikan keputusan kedalam kegiatan operasional, serta mencapai perubahan seperti yang dirumuskan oleh keputusan kebijakan.

Pandangan lain mengenai implementasi kebijakan dikemukakan oleh William dan Elmore sebagaimana dikutip Sunggono (1994: 139), didefinisikan sebagai “keseluruhan dari kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan kebijakan”.

(20)

Sementara Samudra (1994: 21) menjelaskan bahwa mempelajari masalah implementasi kebijakan berarti berusaha untuk memahami apa yang senyata-nyata terjadi sesudah suatu program diberlakukan atau dirumuskan yakni peristiwa-peristiwa dan kegiatan-kegiatan yang terjadi setelah proses pengesahan kebijakan negara, baik itu usaha untuk mengadministrasikannya maupun usaha-usaha untuk memberikan dampak tertentu pada masyarakat ataupun peristiwa-peristiwa.

Samudra (1994:21) juga menyatakan bahwa implementasi kebijakan berarti pelaksanaan dari suatu kebijakan atau program. Pandangan tersebut di atas menunjukkan bahwa proses implementasi kebijakan tidak hanya menyangkut perilaku badan-badan administratif yang bertanggung jawab untuk melaksanakan program dan menimbulkan ketaatan pada diri target group, melainkan menyangkut lingkaran kekuatan-kekuatan politik, ekonomi dan sosial yang langsung atau tidak dapat mempengaruhi perilaku dari semua pihak yang terlibat, dan pada akhirnya membawa konsekuensi logis terhadap dampak baik yang diharapkan (intended) maupun dampak yang tidak diharapkan (spillover/negatif effects).

Implementasi berasal dari bahasa Inggris yaitu to implement yang berarti mengimplementasikan. Implementasi merupakan penyediaan sarana untuk melaksanakan sesuatu yang menimbulkan dampak atau akibat terhadap sesuatu. Sesuatu tersebut dilakukan untuk menimbulkan dampak atau akibat itu dapat berupa undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan peradilan dan kebijakan yang dibuat oleh lembaga-lembaga pemerintah dalam kehidupan kenegaraan.

(21)

Pengertian implementasi selain menurut Webster di atas dijelaskan juga menurut Van Meter dan Van Horn bahwa implementasi adalah:

Implementasi adalah tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu- individu/pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijakan”. (Meter dan Horn dalam Wahab, 2004:65).

Menurut Wahab (1997:71-81), untuk dapat mengimplementasikan kebijakan secara sempurna maka diperlukan beberapa persyaratan, antara lain:

a. kondisi eksternal yang dihadapi oleh Badan/Instansi pelaksana;

b. tersedia waktu dan sumber daya;

c. keterpaduan sumber daya yang diperlukan;

d. implementasi didasarkan pada hubungan kausalitas yang handal;

e. hubungan kausalitas bersifat langsung dan hanya sedikit mata rantai penghubung;

f. hubungan ketergantungan harus dapat diminimalkan;

g. kesamaan persepsi dan kesepakatan terhadap tujuan;

h. tugas-tugas diperinci dan diurutkan secara sistematis;

i. komunikasi dan koordinasi yang baik;

j. pihak-pihak yang berwenang dapat menuntut kepatuhan pihak lain.

Menurut Samudra (1994:34) implementasi kebijakan ditentukan oleh isi kebijakan dan konteks implementasinya. Isi kebijakan berkaian dengan kepentingan yang dipengaruhui oleh kebijakan, jenis manfaat yang akan dihasilkan, derajat perubahan yang diinginkan, kedudukan pembuat

(22)

kebijakan, siapa pelaksana program, dan sumber daya yang dikerahkan.

Sementara konteks implementasi berkaitan dengan kekuasaan, kepentingan dan strategi aktor yang terlibat, karakteristik lembaga dan penguasan dan kepatuhan serta daya tanggap pelaksana.

Sedangkan George C Edward III dalam Subarsono (2005;90) memberikan pandangan bahwa implementasi kebijakan dipengaruhi oleh empat variable, yakni : (1) komunikasi, (2) sumberdaya, (3) disposisi (sikap), (4) stuktur birokrasi. dan keempat variabel tersebut saling berhubungan satu sama lain sebagaimana dapat digambarkan berikut ini:

Gambar 2.1

Model Implementasi Menurut G. C. Edward III (1980) Dari bagan tersebut diatas, dapat diuraikan lebih lanjut sebagai berikut:

a. Variabel komunikasi yaitu proses informasi mengenai kebijaksanaan dari pelaksanaan tingkat atas kepada aparat pelaksana di tingkat di bawahnya;

b. Variabel struktur birokrasi mencakup bagaimana struktur pemerintah, bagian tugas yang ada dan koordinasi yang dilakukan.

Komunikasi

Sumber Daya

Struktur Birokrasi

Sikap

Implementasi

(23)

c. Variabel Sumber-sumber: manusia, informasi dan sarana prasarana yang tersedia dalam pelaksanaan kebijakan;

d. variabel kecenderungan-kecenderungan atau dapat dikatakan sikap atau disposisi aparat pelaksana

Adapun Van Metter dan Van Horn dalam Subarsono (2005: 99) menyebutkan ada lima variabel yang mempengaruhi kinerja implemantasi, yaitu:

a. Standar dan sasaran kebijakan;

b. Sumberdaya;

c. Komunikasi antar organisasi dan penguatan aktivitas;

d. Karakteristik agen pelaksana;

e. Kondisi-kondisi sosial, ekonomi, dan politik

Model implementasi kebijakan dari Van Matter dan Van Horn dapat dilihat dalam gambar berikut:

Gambar 2.2. Model Implementasi Kebijakan Van Matter dan Van Horn

B. Konsep Kebijakan Publik

Komunikasi antar Organisasi dan Kegiatan Pelaksanaan Ukuran dan

tujuan Kebijakan

Karateristik Badan Pelaksana

Disposis Pelaksana

Sumber Daya Lingkungan Ekonomi, Sosial dan Politik

Kinerja Kebijakan

(24)

Kebijakan publik merupakan sebuah istilah yang tidak jarang menimbulkan perbedaan penafsiran hal ini disebabkan oleh penggunaan kata kebijakan yang terkadang di salah artikan, bahkan terkadang kata kebijakan di samakan dengan kata kebijaksanaan yang sebanarnya memiliki perbedaan yang sangat jelas. Oleh karena itu, perlu dibedakan istilah "kebijakan" dengan

"kebijaksanaan" kedalam pengertiannya masing-masing.

Menurut Keban dalam Rakhmat ,(2009 : 32) bahwa:

Kebijaksanaan adalah kepandaian seseorang menggunakan akal budinya (berdasar pengalaman dan pangetahuannya); atau kecakapan bertindak apabila menghadapi kesulitan. Sedangkan istilah "kebijakan", menunjukkan adanya serangkaian alternatif yang siap dipilih berdasarkan prinsip-prinsip tertentu. Arti "kebijaksanaan" juga ditafsirkan dengan suatu keputusan yang memperbolehkan sesuatu yang sebenarnya dilarang berdasarkan alasan- alasan tertentu seperti pertimbangan kemanusiaan, keadaan darurat dan sebagainya sedangkan kebijakan merupakan suatu hasil analisis yang mendalam terhadap berbagai alternatif yang bermuara kepada keputusan alternatif terbaik, sedangkan kebijaksanaan selalu mengandung makna melanggar segala sesuatu yang pernah ditetapkan karena alasan tertentu.

Pertentangan makna kata kebijakan dan kebijaksanaan yang dikemukakan diatas, kita dapat melihat makna sebenarnya dari arti kata Policy secara konseptual yang diartikan dan diterjemahkan menjadi istilah kebijakan atau kebijaksanaan, karena kedua kata tersebut biasanya dikaitkan dengan keputusan pemerintah. Hal tersebut juga diperkuat dalam pernyataan Said dalam Rakhmat (2009 : 28), perbedaaan makna konsep kebijakan dan kebijaksanaan tidak menjadi persoalan selama kedua istilah itu diartikan sebagai keputusan pemerintah yang bersifat umum dan ditujukan kepada masyarakat atau kepentingan publik.

Bila ditelusuri lebih jauh, istilah kebijakan sebenarnya telah dikemukakan sejak tahun 1978 yang mendefinisikan kebijakan adalah Kebijakan

(25)

publik adalah "apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan oleh pemerintah atau apa yang tidak dilakukannya . ia adalah tujuan-tujuan atau sasaran-sasaran dari program-program pelaksanaan niat dan peraturan-peraturan". Edwards III dan Sharkansky dalam (Anwar 2009 : 41).

Beberapa tahun kemudian konsep kebijakan publik kembali dikemukakan Dye (2007 : 52), yang menyatakan kebijakan publik adalah : Kebijakan publik adalah apa yang dilakukan maupun apa yang tidak dilakukan oleh pemerintah. Selanjutnya dikatakan bahwa Kebijakan publik itu merupakan upaya untuk memahami:

1. Apa yang dilakukan (atau tidak dilakukan) oleh pemerintah mengenai suatu masalah.

2. Apa penyebab atau yang mempengaruhinya dan

3. Apa dampak dari kebijakan publik tersebut jika dilaksanakan atau tidak dilaksanakan.

Pemahaman mengenai "pilihan pemerintah untuk melakukan dan tidak melakukan sesuatu" dalam devinisi kebijakan publik yang dikemukakan oleh Dye di atas dapat dimaknai dengan sikap pemerintah selaku pembuat kebijakan untuk menentukan sikap atas dua pilihan yaitu melakukan atau tidak melakukan.

Pilihan untuk melakukan dan tidak melakukan yang dimaksud adalah dalam hal melahirkan sebuah kebijakan.

Definisi kebijakan publik juga dapat dilihat dari Chandler dan Piano dikutip oleh Rakhmat (2009 : 35), mengemukakan bahwa kebijakan publik adalah pemanfaatan yang strategis terhadap berbagai sumberdaya yang tersedia untuk memecahkan masalah-masalah publik atau pemerintah. Kemudian Parker

(26)

yang dikutip oleh Abdul Wahab (2001 : 28), mengartikan kebijakan publik adalah suatu tujuan tertentu, atau serangkaian azas tertentu, atau tindakan yang dilaksanakan oleh pemerintah pada suatu waktu tertentu dalam kaitannya dengan suatu subyek atau sebagai respon terhadap suatu keadaan yang kritis.

Definisi diatas menggambarkan bahwa pemerintah dalam menjalankan fungsinya harus tanggap melihat masalah yang ada dimasyarakat yang sifatnya kritis untuk segera ditindaki dengan jalan memanfaatkan sumber daya yang ada agar masalah yang ditemui tersebut dapat diselesaikan, dan solusi yang dilahirkan tersebut diwujudkan dalam bentuk kebijakan.

Definisi mengenai kebijakan publik berikutnya dapat dilihat dari definisi yang dikemukakan oleh Friedrich yang dikutip oleh Sunarko (2005 ; 42) kebijakan publik sebagai berikut:

Kebijakan publik merupakan suatu arah tindakan yang diusulkan oleh seseorang, golongan, atau pemerintah dalam suatu lingkungan dengan halangan-halangan dan kesempatan-kesempatannya yang diharapkan dapat memenuhi dan mengatasi halangan tersebut di dalam rangka mencapai suatu cita-cita atau mewujudkan suatu kehendak serta suatu tujuan tertentu.

Dengan pernyataan ini dapat disimpulkan bahwa lahirnya kebijakan itu tidak hanya dari inisiatif pemerintah saja melainkan juga dari pribadi ataupun golongan, yang merasa menemukan halangan atau kendala dan untuk memecahkannya diberikan kewenangan untuk mengusulkan kepada pemerintah untuk dilahirkan sebuah kebijakan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Hal ini tentunya memberikan gambaran bahwa kebijakan itu bukanlah hal yang menjadi hak mutlak pemerintah.

Definisi kebijakan publik selanjutnya dapat dikaji dari definisi yang dikemukakan oleh Harold Laswell dan Abraham Kaplan (1970) dalam Nugroho

(27)

(2009 ; 24) kebijakan publik merupakan suatu program yang diproyeksikan dengan tujuan-tujuan tertentu, nilai-nilai tertentu, dan praktik-pratik tertentu.

Kebijakan publik juga diartikan sebagai studi tentang "bagaimana, mengapa dan apa efek dari tindakan aktif (action) dan pasif (inaction) pemerintah"

Heidenheimer dalam Parsons

Riant Nugroho (2009 ; 48) mengemukakan kebijakan publik adalah keputusan negara, khususnya pemerintah, sebagai strategi untuk merealisasikan tujuan negara yang bersangkutan. Sedangkan Richard, Rose dalam Dunn (1998 ; 35) juga menyatakan bahwa kebijakan publik (public policies) merupakan rangkaian pilihan yang kurang lebih saling berhubungan (termasuk keputusan- keputusan yang tidak bertindak) yang dibuat oleh badan dan pejabat pemerintah, diformulasikan di dalam bidang-bidang isu sejak pertahanan, energi dan kesehatan sampai ke pendidikan, kesejahteraan, dan kejahatan. Pada salah satu bidang isu tersebut terdapat banyak isu kebijkan, yaitu serangkaian arah tindakan pemerintah yang aktual ataupun yang potensial yang mengandung konflik diantara segmen-segmen yang ada dalam masyarakat. Isu kebijakan yang ada biasanya merupakan hasil konflik definisi mengenai masalah kebijakan.

Beberapa definisi kebijakan publik diatas secara umum dapat disimpulkan bahwa kebijakan publik merupakan kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah maupun swasta baik secara individu ataupun kelompok dengan mendayagunakan sumber daya yang tersedia untuk mewujudkan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Kebijakan publik yang dilahirkan mengatur kehidupan bersama atau kehidupan publik bukan kehidupan seseorang atau golongan. Kebijakan publik mengatur semua yang ada di domain lembaga

(28)

administrasi publik, kebijakan publik mengatur masalah bersama, atau masalah pribadi atau golongan yang sudah menjadi masalah bersama dari seluruh masyarakat.

Selain kajian mengenai kebijakan publik, hal lain yang menarik juga untuk difahami berkenaan dengan kebijkanan sebagai landasan teoritis yaitu sistem kebijakan (policy system) atau seluruh pola institusional dimana didalamnya kebijakan dibuat, mencakup hubungan timbal balik diantara tiga unsur, yaitu : kebijakan publik, pelaku kebijakan, dan lingkungan kebijakan.

ketiga elemen sistem kebijakan ada keterkaitan dimana pelaku kebijakan yang terdiri dari analis kebijakan,serikat kerja, partai dan lainnya sangat dipengaruhi oleh lingkungan kebijakan dan sebaliknya sehingga memberikan pula dampak pada kebijakan yang dihasilkan. Kondisi tersebut juga berlaku pada elemen kebijakan yang dihasilkan yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan kebijakan dan pelaku kebijakan. Selain elemen sistem kebijakan, hal menarik dalam kebijakan juga dapat dilihat dari pernyataan Hogwood dan Gunn yang dikutip oleh Rakhmat (2009 ;45) yang menyatakan bahwa pada prinsipnya kebijakan publik terkait dengan tindakan yang mengarah pada satu tujuan, dan kebijakan publik dapat dipahami melalui beberapa komponen yaitu :

1. Policy Demans, yaitu adanya berbagai permintaan atau tuntutan dari para masyarakat dan pemangku kepentingan untuk melakukan ataupun tidak melakukan tindakan terhadap suatu masalah tertentu.

2. Policy Decicion, yaitu keputusan-keputusan yang dibuat oleh para pejabat pemerintah dengan maksud untuk memberikan keabsahan, kewenangan atau memberikan arah terhadap pelaksanaan kebijakan publik.

(29)

3. Policy Statement, adalah pernyataan resmi atau penjelasan mengenai kebijakan publik tertentu.

4. Policy Outputs, yaitu wujud atau bentuk kebijakan publik yang paling dapat dirasakan oleh masyarakat sebagai realisasi pelaksanaan sebuah kebiajkan.

5. Policy Outcomes, yaitu adanya hasil akhir dari suatu kebijakan yang telah diimplementasikan dan memberikan dampak dan perubahan bagi kehidupan masyarakat.

Kebijakan merupakan keputusan yang dibuat dari pemerintah yang merupakan hasil dari permintaan atau tuntutan dari masyarakat atau pemangku kepentingan yang bertujuan untuk memberikan dampak dan perubahan bagi kehidupan masyarakat.

Hal yang tidak kalah pentingnya yang perlu dipahami dalam kebijakan yaitu jenis dari kebijakan itu sendiri, dimana kebijakan yang dihasilkan pemerintah itu memiliki beberapa jenis, untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari jenis kebijakan yang dikemukakan oleh Dunn (1998 ;34) diantaranya:

1. Kebijakan Sebagai Keputusan Pemerintah, Pendekatan studi kasus (case study Approach) ialah yang memusatkan perhatiannya pada keputusan-

keputusan tertentu khususnya keputusan yang muncul pada saat-saat kritis ketika berlangsung pemilihan alternatif. Para analis kebijakan, pertama-tama akan mencari pola-pola hubungan diantara keputusan-keputusan tersebut dan, kedua, memperhitungkan rentang waktu yang lebih panjang biasanya melampaui saat-saat setelah pemilihan alternatif dilakukan kemudian mempertanyakan bagaimana implementasinya serta bagaimana pula hasil akhir yang senyatanya dicapai.

(30)

2. Kebijakan Sebagai Bentuk Pengesahan Formal, Tahap pengesahan penting dalam setiap proses kebijakan. Namun betapapun pentingnya, ia masih belum memberikan gambaran konkrit pada kita tentang hal substantial apa yang sekiranya bakal terjadi sesudahnya.

3. Kebijakan Sebagai Program, program-program atau sub-sub program dengan demikian dipandang sebagai sarana (instrumen) untuk mewujudkan berbagai tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh pemerintah

4. Kebijakan Sebagai Keluaran, kebijakan itu dilihat dari apa yang dihasilkan oleh pemerintah atau disahkan lewat Undang-undang. Keluaran itu ada bermacam-macam, misalnya pemberian manfaat secara langsung (berupa uang), pemberian pelayanan kepada publik berupa barang (air bersih atau beras untuk orang miskin) atau jasa tertentu (pemberian vaksin folio atau susu bubuk untuk bayi secara cuma-cuma), pemberlakuan peraturan-peraturan, himbauan simbolis (nasionalisme/ patriotisme) atau pengumpulan pajak 5. Kebijakan Sebagai Hasil Akhir, Cara lain untuk memahami makna kebijakan

dengan melihatnya dari sudut hasil akhirnya yang telah dicapai. Cara memahami kebijakan dari sudut hasil akhir memberikan penilaian mengenai tujuan formal/normatif dari suatu kebijakan (sebagai mana tercantum dalam dokumen) benar telah terbukti terwujud dalam praktek kebijakan yang sebenarnya. Kebijakan publik itu pada umumnya memuat suatu teori atau model tertentu yang menyiratkan adanya hubungan sebab dan akibat.

Kegagalan suatu kebijakan dapat disebabkan baik karena pemerintah gagal sama sekali atau gagal untuk menimbulkan akibat-akibat (dampak) yang diharapkan sesuai dengan teori /model itu.

(31)

Berbagai hal menyangkut kebijakan publik yang dikemukakan diatas memberikan pemahaman bahwa kebijakan pemerintah merupakan suatu proses, dan tidak sekedar sebagai suatu system, dan apabila dapat dipaksakan berlakunya, karena memang ada unsur kekuasaan pada pemerintah sebagai pelaku dan penggerak serta pelaksana kebijaksanaan, sehingga tercapai dan terwujud tujuan beserta keputusan-keputusan lainnya dalam kebijaksanaan tersebut yang sesuai dengan kepentingan masyarakat.

Kebijakan pemerintah haruslah mampu menjadikan kepentingan masyarakat sebagai ukuran, dan pemerintah seharusnya melakukan kegiatan- kegiatan sesuai dengan kehendak rakyat untuk kepentingan rakyat. Pemerintah memiliki kewenangan mengatur kehidupan rakyat dengan menghasilkan kebijakan namun pemerintah wajib memberikan sarana-prasarana, fasilitas- fasilitas yang dibutuhkan rakyat sehingga tercipta harmonisasi dalam kehidupan.

C. Pengertian Program

Program merupakan unsur pertama yang harus ada demi tercapainya kegiatan implementasi. Unsur kedua yang harus di penuhi dalam proses implementasi program yaitu adanya kelompok masyarakat yang menjadi sasaran program, sehingga masyarakat dilibatkan dan membawa hasil dari program yang dijalankan dan adanya perubahan dan peningkatan dalam kehidupannya. Tanpa memberikan manfaat kepada masyarakat maka dikatakan program tersebut telah gagal dilaksnakan. Berhasil atau tidaknya suatu program di implementasikan tergantung dari unsur pelaksanaannya (eksekutif). Unsur pelaksanaan ini merupakan unsur ketiga. Pelaksanaan penting artinya karena pelaksanaan baik itu

(32)

organisasi maupun perorangan bertanggunujawab dalam pengelolaan maupun pengawasan dalam proses implementasi. (Riggs, 2005:54).

Secara umum, pengertian program adalah penjabaran dari suatu rencana. Dalam hal ini, program merupakan bagian dari perencanaan, sering pula diartikan bahwa program adalah kerangka dasar dari pelaksanaan suatu kegiatan.

Program-program tersebut merupakan sarana pemeritah dalam meningkatkan harkat dan kehidupan rakyat. Untuk lebih memahami mengenai pengertian program, berikut ini akan dkemukakan beberapa definisi oleh para ahli.

Dalam hierarki kebijakan, dikenal istilah program. Beberapa definisi mengenai program dikemukakan oleh beberapa ahli seperti yang dikemukakan Bintoro Tjokromidjojo (2005:19) yang mengemukakan bahwa program adalah cara untuk memilih dan menghubungkan dalam merumuskan tindakan yang kita anggap perlu untuk mencapai hasil yang diinginkan.”

Menurut Terry dalam Tachjan (2006:31) program merupakan :

Program merupakan rencana yang bersifat komprehensif yang sudah menggambarkan sumber daya yang akan digunakan dan terpadu dalam satu kesatuan. Program tersebut menggambarkan sasaran, kebijakan, prosedur, metode, standar dan budjet.

Pikiran yang serupa dikemukakan oleh Siagian (2002 ;41) , program harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Sasaran yang dikehendaki.

2. Jangka waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu.

3. Besarnya biaya yang diperlukan beserta sumbernya.

4. Jenis-jenis kegiatan yang dilaksanakan.

5. Tenaga kerja yang dibutuhkan baik ditinjau dari segi jumlahnya maupun dilihat dari sudut kualifikasi serta keahlian dan keterampilan yang diperlukan.

(33)

Pariata Westra dkk mengatakan bahwa program adalah rumusan yang memuat gambaran pekerjaan yang akan dilaksanakan beserta petunjuk cara-cara pelaksanaannya.

Sedangkan Joan L.Herman yang dikutip oleh Farida Yusuf Tayibnapis (2000:9) mengemukakan definisi program sebagai segala sesuatu yang dicoba lakukan oleh seseorang dengan harapan akan mendatangkan hasil atau pengaruh.

Hal yang sama dikemukakan oleh Sutomo Kayatomo (2005:162) yang mengatakan bahwa program adalah rangkaian aktifitas yang mempunyai saat permulaan yang harus dilaksanakan serta diselesaikan untuk mendapatkan suatu tujuan.

Menurut Bintoro Tjokroamidjojo (2005 ; 28)

“Program sebagai cara untuk memilih dan menghubung-hubungkan dalam merumuskan tindakan yang kita anggap perlu untuk mencapai hasil yang diinginkan”

Dilaksanakannya suatu program tidak hanya menyiratkan rencana yang konkrit, akan tetapi diimbangi dengan budget/anggaran program tersebut.

Selanjutnya dapat dilihat dalam pegertian program yang dikemukakan oleh Arif Jamaluddin (2004:48) bahwa:

“Program adalah jenis rencana yang pada dasarnya adalah menggambarkan rencana yang konkrit. Hal ini dapat dilihat bahwa program tidak saja tercantum tujuan kebjaksanaan serta tindakan, prosedur atau aturan-aturan, akan tetapi disertai pula dengan budget atau anggaran”

Selain itu, adapun definisi program yang termuat dalam Undang- Undang RI Nomor 25 Tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, mengatakan bahwa:

“Program adalah instrument kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran

(34)

dan tujuan serta memperoleh alokasi anggaran, atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi masyarakat”

Berdasarkan definisi tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa program adalah suatu jenis rencana yang konkret karena di dalamnya sudah tercantum sasaran, kebijaksanaan, prosedur anggaran, dan waktu pelaksanaan.

Menurut Mannulang (2007 ; 41) yang mengatakan bahwa:

“Sebagai unsur dari suatu perencanaan, program dapat pula dikatakan sebagai gabungan dari politik, prosedur dan anggaran, yang dimaksudkan untuk menetapkan suatu tindakan untuk waktu yang akan datang”

S.P.Siagian (2002 ; 38) mengatakan bahwa:

“Penyusunan program kerja adalah penjabaran suatu rencana yang telah ditetapkan sedemikian rupa, sehingga program kerja itu memiliki ciri-ciri operasional tertentu”

Berdasrkan definisi di atas, program merupakan pedoman (rumusan tindakan yang terencana) dalam melaksanakan rangkaian-ragkaian kegiatan yang didukung oleh ketersediaan anggaran, sehingga tujuan program dapat tercapai meskipun setiap Implementasi program memiliki model yang beragam.

Dengan penjabaran yang tepat terlihat dengan jelas paling sedikit lima hal, yaitu:

1. Berbagai sasaran konkrit yang hendak dicapai

2. Jangka waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu.

3. Besarnya biaya yang diperlukan beserta identifikasi sumbernya.

4. Jenis-jenis kegiatan operasional yang akan dilaksanakan.

5. Tenaga kerja yang dibutuhkan, baik ditinjau dari sudut kualifikasinya maupun ditinjau dari segi jumlahnya.

(35)

Suatu program pembangunan yang baik, menurut Bintoro Tjokroamidjojo (2005 ; 36) harus mempunyai paling sedikit ciri-ciri sebagai berikut:

1. Tujuan yang dirumuskan

2. Penentuan peralatan yang terbaik untuk mencapai tujuan tersebut.

3. Suatu kerangka kebijaksanaan yang konsisten dan atau proyek-proyek yang saling terkait untuk mencapai tujuan program seefektif mungkin.

4. Pengukuran dengan ongkos-ongkos yang diperkirakan dan keuntungan- keuntungan yang diharapkan akan dihasilkan program tersebut.

5. Hubungan dengan kegiatan-kegiatan lain dalam usaha pemerintah dan program pembangunan lainnya.

6. Berbagai upaya di bidang manajemen, termasuk penyediaan tenaga, pembiayaan dan lain-lain untuk melaksanakan program tersebut.

Dalam proses pelaksanaan suatu program dalam kenyataan yang sesungguhnya, dapat hasil, kurang berhasil, ataupun gagal sama sekali apabila ditinjau dari wujud hasil yang dicapai atau outcomes, karena dalam proses tersebut turut bermain dan terlihat berbagai unsur yang pengaruhnya bersifat mendukung maupun menghambat pencapaian sasaran program. Suatu hal yang harus diperhatikan bahwa di dalam proses pelaksanaan suatu program sekurang- kurangnya terdapat tiga unsur yang penting dan mutlak ada menurut Syukur Abdullah (2007 : 34) antara lain sebagai berikut:

1. Adanya program (kebijaksanaan) yang dilaksanakan.

(36)

2. Target group, yaitu kelompok masyarakat yang menjadi sasaran dan diharapkan akan menerima manfaat dari program tersebut dalam bentuk perubahan dan peningkatan.

3. Unsur pelaksana (implementer) baik organisasi maupun perorangan yang bertanggung jawab dalam pengelolaan, pelaksanaan, dan pengawasan dari proses implementasi tersebut.

Program dalam konteks implementasi kebijakan publik terdiri dari beberapa tahap yaitu:

1. Merancang bangun (design) program beserta perincian tugas dan perumusan tujuan yang jelas, penentuan ukuran prestasi yang jelas serta biaya dan waktu.

2. Melaksanakan (aplication) program dengan mendayagunakan struktur- struktur dan personalia, dana serta sumber-sumber lainnya, prosedur dan metode yang tepat.

3. Membangun sistem penjadwalan, monitoring dan sarana-sarana pengawasan yang tepat guna serta evaluasi (hasil) pelaksanaan kebijakan (Tachjan, 2006:35)

Menurut The Liang Gie (2006:164) yang mengemukakan pengertian program berpendapat bahwa:

“Program adalah suatu bagan usaha yang memuat gambaran pekerjaan- pekerjaan yang akan dilakukan serta petunjuk-petunjuk mengenai cara-cara pelaksanaannya.”

Sedangkan menurut Malayu Hasibuan (2003:72) mengemukakan bahwa:

“Program adalah suatu jenis rencana yang konkret karena didalamnya sudah tercantum sasaran, kebijaksanaan, prosedur, anggaran, dan waktu pelaksanaannya.”

(37)

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa sebelum suatu program diimplementasikan, terlebih dahulu harus diketahui secara jelas mengenai uraian pekerjaan yang dilakukan secara sistematis, tata cara pelaksanaan, jumlah anggaran yang dibutuhkan dan kapan waktu pelaksanaannya agar program yang direncanakan dapat mencapai target yang sesuai dengan keinginan.

Sebelumnya, melalui adanya organisasi, interpretasi dan penerapan.

Mazmanian dan Sabatier mendefinisikan implementasi kebijakan sebagai memahami apa yang senyatanya terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku atau dirumuskan. (Irfan Islamy, 2002 : 18 )

Implementasi kebijakan Program Bantuan Siswa Miskin (BSM) tingkat SMP di Kota Semarang dilihat melalui prinsip-prinsip dasar implementasi kebijakan yang efektif menurut Nugroho (2011:650), antara lain:

1. Ketepatan Kebijakan 2. Ketepatan Pelaksanaan 3. Ketepatan Target 4. Ketepatan Lingkungan 5. Ketepatan Proses

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa implementasi program ádalah tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh individu-individu atau pejabat- pejabat terhadap suatu objek atau sasaran yang diarahkan untuk mencapai tujuan- tujuan yang telah ditetapkan

D. Program Indonesia Pintar

(38)

Program Indonesia Pintar adalah pemberian bantuan tunai dari pemerintah kepada anak usia sekolah dari keluarga kurang mampu yang ditandai dengan pemberian Kartu Indonesia Pintar (KIP) sebagai kelanjutan dari Program Bantuan Siswa Miskin. Kartu Indonesia Pintar diberikan kepada anak usia sekolah dari keluarga yang memiliki Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) dengan tujuan menjamin seluruh anak usia sekolah dapat menempuh pendidikan dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas/Kejuruan.

Sesuai dengan Intruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2014 yang mengamatkan pelaksanaan Program Indonesia Pintar (PIP) sebagai penyempurnaan dari program sebelumnya yaitu Bantuan Siswa Miskin. Program Indonesia Pintar bertujuan meningkatkan akses bagi anak usia 6 sampai 21 tahun untuk mendapatkan pendidikan sampai tamat pendidikan menengah dan mencegah atau menarik peserta didik putus sekolah (Kemendikbud, 2015:2).

1. Sasaran Program Indonesia Pintar

Penerima Program Indonesia Pintar diprioritaskan kepada anak yang berusia 6 sampai 21 tahun berdasarkan skala prioritas dengan urutan prioritas sebagai berikut:

a. Penerima BSM 2014 Pemegang KPS;

b. Siswa/anak dari keluarga pemegang KPS/KKS/KIP yang belum menerima BSM 2014;

c. Siswa/anak dari keluarga peserta Program Keluarga Harapan (PKH) non KPS;

(39)

d. Siswa/anak yang berstatus yatim piatu/yatim/piatu dari Panti Sosial/Panti Asuhan;

e. Siswa/anak yang terkena dampak bencana alam;

f. Anak usia 6-21 tahun yang tidak bersekolah (drop-out) yang diharapkan kembali bersekolah;

g. Siswa/anak dari keluarga miskin/rentan miskin yang terancam putus sekolah atau siswa/ anak dengan pertimbangan khusus lainnya seperti:

1) Kelainan fisik, korban musibah, dari orang tua PHK, di daerah konflik, dari keluarga terpidana, berada di LAPAS, memiliki lebih dari 3 saudara yang tinggal serumah;

2) SMK yang menempuh studi keahlian kelompok bidang: Pertanian (bidang Agrobisnis, Agroteknologi), Perikanan, Peternakan, Kehutanan dan Pelayaran/ Kemaritiman.

h. Peserta dari lembaga kursus atau satuan pendidikan noformal lainnya.

Kecuali sasaran yang terdaftar pada SMK bidang Pertanian, Perikanan, Peternakan, Kehutanan dan Pelayaran/Kemaritiman, sasaran nomor 1 dan 2 merupakan sasaran yang di prioritaskan (Kemendikbud, 2015:3).

Persyaratan penerima Program Indonesia Pintar (PIP) pada pendidikan formal adalah peserta didik yang terdaftar dalam Dapodik Sekolah dan diusulkan oleh sekolah melalui dinas pendidikan kabupaten/kota ke direktorat teknis Kemendikbud (Kemendikbud, 2015:4). Sasaran penerima Program Indonesia Pintar (PIP) pada tahun 2015 adalah sebanyak 17.920.270 peserta didik dengan jumlah siswa SMK/Kursus dan Pelatihan sebanyak 1.846.538 peserta didik.

Besaran dana PIP per peserta didik untuk SMK adalah sebesar Rp 1.000.000,- per

(40)

tahun bagi siswa kelas X dan XI SMK dengan program 3 tahun. Sementara bagi siswa kelas XII mendapatkan dana PIP untuk satu semester sebesar Rp 500.000,- (Kemendikbud, 2015:4-5

2. Pemanfaatan dana PIP dan Larangan Dana PIP

Program BSM/PIP ditujukan untuk membantu biaya pribadi peserta didik agar dapat terus melanjutkan pendidikannya sampai selesai jenjang pendidikan menengah. Dana bantuan diberikan langsung kepada siswa untuk pemanfaatan sebagai berikut:

a. Pembelian buku dan alat tulis sekolah;

b. Pembelian pakaian dan perlengkapan sekolah (sepatu, tas, dll);

c. Transportasi siswa ke sekolah;

d. Uang saku siswa ke sekolah;

e. Biaya kursus/les tambahan;

Penerima BSM/PIP tidak diperkenankan menggunakan dana tersebut untuk tujuan yang tidak berhubungan dengan kegiatan pendidikan, antara lain:

judi, narkoba, miras dan tindakan negatif lainnya (Kemendikbud, 2015: 13).

Setelah menerima dana Program Indonesia Pintar peserta didik mempunyai kewajiban kewajiban menggunakan dana PIP sesuai dengan ketentuan pemanfaatan dana, terus bersekolah dengan rajin dan tekun, disiplin melaksanakan tugas-tugas sekolah, dan berkepribadian terpuji dan tidak melakukan perbuatan tercela (kemendikbud, 2015:13).

3. Mekanisme Pelaksanaan Program Indonesia Pintar

(41)

Pelaksanaan Program Indonesia Pintar melibatkan instansi-instansi terkait antara lain mencakup sekolah, dinas kabupaten/kota, dinas pendidikan provinsi, direktorat teknis, lembaga penyalur sebagaimana alur diagram berikut.

a. Mekanisme Pengusulan

Pengusulan calon penerima PIP menurut Petunjuk Teknis Kemendikbud (2015:6-10), yaitu siswa dari keluarga pemilik KPS/KKS/KIP untuk sekolah formal mengentri (updating) data siswa calon penerima PIP 2015 ke dalam aplikasi Dapodik secara benar dan lengkap. Data berfungsi sebagai data usulan siswa calon penerima dari sekolah ke dinas pendidikan kabupaten/ kota dan direktorat teknis.

1) Dinas pendidikan kabupaten/kota meneruskan usulan calon penerima dari sekolah yang disetujui sebagai usulan ke direktorat teknis. Bagi siswa yang tidak memiliki KPS/KKS/KIP dari keluarga miskin/rentan miskin dapat diusulkan oleh sekolah setelah seluruh siswa/anak dari keluarga pemilik KPS/KKS/KIP ditetapkan sebagai penerima BSM/PIP 2015. Sekolah menyeleksi dan menyusun daftar siswa yang tidak memiliki KPS/KKS/KIP sebagai calon penerima dana BSM/PIP 2015 dengan prioritas sebagai berikut:

a) Siswa dari keluarga peserta Program Keluarga Harapan (PKH)

2) Siswa dengan status yatim piatu/yatim/piatu dari Panti Sosial/Panti Asuhan;

3) Siswa yang terkena dampak bencana alam;

4) Anak usia 6-21 tahun yang tidak bersekolah (drop-out) yang diharapkan kembali bersekolah;

5) Siswa dari keluarga miskin/ rentan miskin yang terancam putus sekolah;

(42)

6) Siswa/anak dengan pertimbangan khusus lainnya seperti: kelainan fisik, korban musibah, siswa dari orang tua PHK, di daerah konflik, dari keluarga terpidana, berada di LAPAS, memiliki lebih dari 3 (tiga) saudara tinggal serumah;

7) Siswa dari SMK yang menempuh studi keahlian kelompok bidang: Pertanian (bidang Agrobisnis dan Agroteknologi) Perikanan, Peternakan, kehutanan dan Pelayaran/Kemaritiman.

Setelah sekolah menyeleksi sesuai prioritas kemudian mengusulkan sebagai penerima PIP 2015 melalui aplikasi Verifikasi Indonesia Pintar (VIP) yang tersedia di laman pip.kemdikbud.go.id) ke dinas pendidikan kabupaten/kota. Selanjutnya Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota menyetujui dan selanjutnya menyampaikan/meneruskan ke direktorat teknis usulan calon penerima BSM/PIP 2015. Siswa juga dapat diusulkan oleh pemangku kepentingan ke direktorat teknis sesuai dengan prioritas sasaran dan persyaratan yang ditetapkan, untuk selanjutnya dilakukan verifikasi data usulan terhadap Dapodik.

b. Mekanisme Penetapan Penerima

Penetapan penerima Program Indonesia Pintar ditetapkan melalui beberapa tahap diantaranya: a) Direktorat teknis menerima usulan calon siswa penerima PIP dari dinas pendidikan kabupaten/kota; b) Direktorat teknis menetapkan siswa penerima PIP dalam bentuk surat keputusan (SK) direktur

(43)

teknis sedangkan untuk usulan SMK yang berada dibawah binaan provinsi, pengesahan oleh Dinas Pendidikan Provinsi (Kemendikbud, 2015: 10-11).

c. Mekanisme Penyaluran

Penyaluran dana BSM/PIP 2015 dilakukan oleh lembaga penyalur berdasarkan daftar penerima BSM/PIP dari Direktorat teknis yang tercantum dalam SK melalui Tabunganku dan virtual account. Direktorat Teknis mengajukan Surat Permintaan Pembayaran (SPP) dan Surat Perintah Membayar (SPM) ke KPPN untuk diterbitkan Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) berdasarkan SK direktur. Setelah itu KPPN menyalurkan dana sesuai SP2D ke rekening penyalur atas nama direktorat teknis di lembaga penyalur. Direktorat teknis menyampaikan Surat Perintah Pemindahbukuan (SP2N) kepada lembaga penyalur untuk menyalurkan dana dari rekening penyalur langsung ke rekening siswa penerima. Direktorat teknis menginformasikan daftar siswa penerima kepada dinas pendidikan kabupaten/kota dengan melampirkan SK penerima.

Penerima PIP dapat mengambil/mencairkan dana BSM/PIP di lembaga penyalur (Kemendikbud, 2015:11).

d. Mekanisme Pengambilan Dana

Pencairan dana PIP dillakukan oleh penerima membawa dokumen Surat Keterangan Kepala Sekolah, Foto copy lembar rapor yang berisi biodata lengkap, dan KTP peserta didik. Bagi penerima yang belum memiliki KTP pengambilan dana harus didampingi orang tua dengan menunjukan KTP orang tua. Penerima menandatangani bukti penerimaan dana ang telah disediakan oleh lembaga penyalur. Bagi penerima yang menggunakan virtual account dan berada

(44)

di daerah terpencit dapat melakukan pengambilan secara kolektif dengan dikuasakan kepada kepala sekolah atau bendahara (Kemendikbud, 2015:11-12).

4. Peran dan Fungsi Lembaga Pemerintah a. Direktorat Teknis

Pengelola BSM/PIP 2015 adalah Direktorat teknis yang terdiri dari (a) Direktorat Pembinaan SD; (b) Direktorat Pembinaan SMP; (c) Direktorat Pembinaan SMA; (d) Direktorat Pembinaan SMK; (e) Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat; dan (f) Direktorat Pembinaan Kursus dan Pelatihan.

Direktorat teknis memiliki peran dan fungsi untuk menetapkan mekanisme pelaksanaan program PIP yang dituangkan dalam bentuk Petunjuk Teknis, melakukan sosialisasi dan koordinasi pelaksanaan PIP, mendorong sekolah satuan Pendidikan Kabupaten/Kota dan Dinas Pendidikan Provinsi untuk mengentri data siswa calon penerima PIP baik yang memilki KPS/KKS/KIP maupun usulan sekolah ke dalam aplikasi Dapodik, melakukan identifikasi, kompilasi, dan sinkronisasi data siswa calon penerima PIP, menetapkan daftar penerima BSM/PIP 2015 dalam bentuk surat keputusan (SK), menetapkan lembaga penyalur, menginformasikan daftar penerima kepada dinas pendidikan kabupaten/kota dengan melampirkan SK penerima, menghimpun dan melayani pengaduan masyarakat terkait dengan PIP, melakukan pemantauan implementasi PIP dan menyusun laporan pelaksanaan PIP (Kemendikbud, 2015:14)

b. Dinas Pendidikan Provinsi

Peran dan fungsi dinas pendidikan provinsi adalah mensosialisasikan program PIP 2015 kepada seluruh Kabupaten/Kota dan masyarakat di wilayahnya, mendorong kepala sekolah untuk melaporkan siswanya sesuai

(45)

prioritas sasaran, mengikuti kegiatan koordinasi dan sinkronisasi program dan kegiatan pembinaan tingkat pusat, memantau implementasi PIP sesuai juknis (Kemendikbud, 2015:14)

c. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota

Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota memiliki peran dan fungsi dalam pelaksanaan PIP yaitu mensosialisasikan dan mengkoordinasikan PIP kepada seluruh sekolah dan masyarakat, memantau sekolah untuk memutakhirkan data siswa calon ke dalam aplikasi Dapodik, mengesahkan usulan dari sekolah dan selanjutnya disampaikan ke Direktorat Pembinaan SD, SMP, SMA, dan SMK, menyampaikan surat keputusan (SK) direktur teknis perihal penerima BSM/PIP ke sekolah, memantau pelaksanaan penyaluran dana BSM/PIP kepada siswa/anak penerima, menangani pengaduan masyarakat tentang pelaksanaan BSM/PIP (Kemendikbud, 2015:15)

d. Sekolah/Lembaga Pendidikan

Peran dan fungsi sekolah dalam pelaksanaan PIP adalah menyeleksi dan mengusulkan siswa calon penerima dana BSM/PIP sesuai prioritas sasaaran, menginformasi kepada siswa penerima bahwa dana BSM/PIP 2015 telah siap diambil, membuat surat keterangan kepala sekolah sebagai persyaratan pengambilan dana oleh siswa di lembaga penyalur, memberikan pengarahan kepada siswa penerima dana BSM/PIP 2015 dalam pemanfaatan dana, memantau proses pencairan dana BSM/PIP di lembaga penyalur dan sekolah wajib menerima pendaftaran anak usia sekolah (6-21 tahun) yang tidak bersekolah dari keluarga pemegang KPS/KKS/KIP sebagai calon peserta/warga belajar untuk diusulkan sebagai calon penerima dana BSM/PIP. (Kemendikbud, 2015:15)

(46)

5. Pemanfaatan Bantuan Siswa Miskin atau Program Indonesia Pintar

Pengertian pemanfaatan menurut kamus besar bahasa indonesia (Dekdikbud, 2003:711), menyebutkan bahwa pemanfaatan berasal dari kata dasar manfaat yang artinya guna, faedah. Kemudian mendapatkan imbuan pe-an yang mengandung arti yaitu proses, cara, dan perbuatan memanfaatkan sesuatu untuk kepentingan sendiri. Dengan demikian pemanfaatan berdasarkan pengertian masing-masing adalah guna, proses, cara, dan perbuatan memanfaatkan sesuatu dalam hal ini pemanfaatan terhadap efektivitas penggunaan alokasi dana Bantuan Siswa Miskin (BSM) atau Program Indonesia Pintar (PIP) terhadap kegiatan pembiayaan dalam proses pembelajaran selama menempuh pendidikan.

Pemanfaatan dana Program Indonesia Pintar (PIP) berdasarkan petunjuk teknis Program Indonesia Pintar tahun 2015 antara lain: 1) Pembelian buku dan alat tulis sekolah; 2) Pembelian pakaian dan perlengkapan sekolah (sepatu, tas, dll); 3) Transportasi siswa ke sekolah; 4) Uang saku siswa ke sekolah; 5) Biaya kursus/les yang tidak diselenggarakan oleh sekolah;

(Kemendikbud, 2015:11). Dana Program Indonesia Pintar diterima langsung oleh siswa atau orang tua dan penerima berkewajiban menggunakan dana PIP 2015 sesuai dengan ketentuan pemanfaatan dana dari pemerintah.

E. Kerangka Pikir

Pendidikan sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa. Oleh karena itu pendidikan harus terus menerus diperbaiki. Namun, sampai dengan saat ini masih banyak orang miskin yang memiliki keterbatasan akses untuk memperoleh pendidikan bermutu. Tantangan mahalnya biaya pendidikan menyebabkan belum

(47)

adanya pemerataan kesempatan pendidikan, rendahnya kualitas pendidikan maupun terbatasnya anggaran yang tersedia untuk penyelenggaraan pendidikan.

Terkait dengan terbatasnya anggaran pendidikan, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diikuti dengan turunnya nilai tukar rupiah US dolar menimbulkan kenaikan harga kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, papan dan kesehatan. Permasalahan tersebut secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh negatif terhadap kemampuan masyarakat untuk mengakses layanan pendidikan. Akan tetapi Pemerintah memiliki berbagai program pendidikan, yaitu PIP

Bantuan PIP adalah bantuan yang diberikan kepada siswa dari keluarga kurang mampu untuk dapat memenuhi kebutuhan pendidikannya sehingga dapat mengurangi jumlah siswa putus sekolah akibat masalah biaya pendidikan. Program Indonesia Pintar (PIP) diberikan bagi siswa SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, bahkan perguruan tinggi diIndonesia yang masuk dalam target pemberian bantuan. Berdasarkan hal tersebut, maka kerangka pikir yang akan menjadi acuan dalam peneltian ini, sebagai berikut:

Implementasi Kebijakan Program PIP

HASIL

Faktor Yang Mempengaruhi Pelaksanaan Program

Mekanisme Penyaluran Program PIP:

a. Prerencanaan b. Pelaksanaan c. Keluaran/hasil

(48)

Gambar 2.1: Kerangka Konsep Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Menerangkan bahwa nama-nama tersebut di bawah ini, adalah benar siswa SMP Negeri Satu Atap Sungai Karang Kabupaten Tebo dan yang bersangkutan sebagai penerima dana BSM/PIP tahun

Pengusulan calon penerima PIP menurut Petunjuk Teknis Kemendikbud (2015:6-10), yaitu siswa dari keluarga pemilik KPS/KKS/KIP untuk sekolah formal mengentri ( updating) data

siswa serta orangtua penerima bantuan yaitu sosialisasi KJP yang diberikan, pengarahan mengenai KJP tersebut. c) Data penerima dan laporan penggunaan dana bantuan

Kesimpulan dari penelitian ini bahwa implementasi kebijakan Program Indonesia Pintar (PIP) pada Jenjang Sekolah Dasar di Kecamatan Sungai Pinang Kota Samarinda

Hasil Penelitian Evaluasi Program Indonesia Pintar (PIP) di SMP Negeri 1 Dawarblandong Kabupaten Mojokerto, yaitu: 1) Efektivitas, dapat dikatakan sudah efektif karena

Implementasi kebijakan yang dilakukan oleh Kementerian Agama Kabupaten Sidoarjo adalah menjalankan tugas yang diberikan oleh kementerian pusat untuk menyalurkan dana

Untuk Siswa INSTRUMEN MONITORING DAN EVALUASI PROGRAM INDONESIA PINTAR PIP JENJANG SD TAHUN 2023 Isilah sesuai dengan kondisi sekolah, tanpa mencantumkan identitas siswa 1..

Poros Waha-Usuku,Kecamatan Tomia,Kode Pos : 93793 BERITA ACARA PENYERAHAN DANA BANTUAN PROGRAM INDONESIA PINTAR PIP Pada hari ini sabtu tanggal 28 Oktober 2023 telah disalurkan Dana