Merdeka.com).
SKRIPSI
Nama : Sukma Alam
NIM : 1071504839
Program Studi : Ilmu Komunikasi Konsentrasi : Broadcast Journalism
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS BUDI LUHUR
▸ Baca selengkapnya: contoh berita tentang budaya
(2)Merdeka.com).
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom)
Nama : Sukma Alam
NIM : 1071504839
Program Studi : Ilmu Komunikasi Konsentrasi : Broadcast Journalism
FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI UNIVERSITAS BUDI LUHUR
vi Merdeka.com)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana media online Merdeka.com mengkonstruksi berita tentang wacana pembubaran ormas FPI dan untuk mengetahui apa sajakah faktor framing dalam media online Merdeka.com pada berita tentang wacana pembubaran ormas FPI. Pertanyaan yang diajukan adalah bagaimana Merdeka.com mengkonstruksi berita tentang wacana pembubaran ormas FPI? dan apa sajakah faktor framing dalam Merdeka.com pada berita tentang wacana pembubaran ormas FPI?. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah kualitatif. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini analisis framing menggunakan metode framing Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki. Pengumpulan data diperoleh melalui teks berita, wawancara, dan studi pustaka. Hasil penelitian secara makrosturktural dan mikrostruktural menunjukkan konstruksi Merdeka.com melihat isu wacana pembubaran FPI sebagai bentuk pelanggaran Pasal 5 dan Pasal 6 tentang Undang-Undang Organisasi Kemasyarakatan No. 17 Tahun 2013 dikarenakan ormas FPI melakukan aksi sweeping terhadap warga Kendal selain itu juga Merdeka.com menyinggung pihak Kemendagri sebagai Pembina ormas dan Polisi sebagai penindak hukum tidak dapat bertindak tegas kepada FPI dan secara retoris Merdeka.com dalam penekanan kata dan kalimat cenderung frontal sehingga frame Merdeka.com adalah tidak memihak FPI dan mendukung pembubaran ormas FPI. Saran teoritis analisis framing ini masih dapat dilakukan di media massa lainnya, ditinjau dari analisis framing itu tidak hanya membandingkan media-media lainnya akan tetapi lebih tepatnya bagaimana peneliti dapat mengungkapkan cara media dalam mengemas suatu isu atau peristiwa tersebut sehingga tujuan penelitian tersebut dapat diungkapkan. Saran praktis, analisis framing juga dapat dipraktikan dalam kehidupan akademisi dengan cara mengontrol fungsi media menggunakan analisis framing sehingga dapat mengungkapkan bahwa berita adalah hasil konstruksi realitas yang dipengaruhi oleh berbagai faktor-faktor.
vi
Online Media Merdeka.com)
The purpose of this research is to determine how Merdeka.com constructs the news of dissolution discourse of FPI and to find out what are the factors behind Merdeka.com’s framing on the news of the dissolution discourse of FPI. The questions asked are how Merdeka.com constructs the coverage of dissolution discourse of FPI? and what are the factors behind Merdeka.com’s framing on the coverage of the dissolution discourse of FPI?. The approach used in this research is qualitative. The method used in this research is framing, using Zhongdan Pan and Gerald M. Kosicki analysis framing. The collection of data obtained through news text, interviews, and literature. Macro-structural and micro-structural research results show that the construction of Merdeka.com sees the dissolution discourse of FPI issues as a violation of the criminal law because FPI held a sweeping of Kendal residents. Merdeka.com also offends the Ministry of Internal Affairs as the controller of the organizations and Police as the law officer cannot act decisively to FPI. And rhetorically, in emphasizing words and sentences Merdeka.com tends to be frontal so that the frame of Merdeka.com is not taking FPI’s side and is supporting the dissolution of FPI. The theoretical advice of this framing analysis can still be carried out in other mass media, based on the terms that framing analysis is not just comparing other media but rather how researchers can reveal how the media in packaging an issue or event, so the purpose of the research can be revealed. The practical advice, framing analysis can also be practiced in academic life by controlling media functions using framing analysis so as to reveal that the news is a constructed reality that is influenced by various factors.
Universitas Budi Luhur
viii
berkah kehidupan ini sehingga dapat belajar mengikuti pendidikan di Universitas Budi Luhur, Jakarta tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua peneliti Maulana, S.H dan Samsurida yang berada di Bandar Lampung dan adikku Yari Muktisar yang kusayangi. Oleh karena itu saya sangat bangga menjadi bagian dari mahasiswa Universitas Budi Luhur yang memiliki motto Cerdas Berbudi Luhur.
Sehubung dengan hal tersebut, saya akan ingin memberikan hasil skripsi sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana. Dalam penelitian ini saya sangat senang menjalankannya dengan baik, dengan demikian saya dapat menyelesaikannya yang berjudul Konstruksi Berita Tentang Wacana Pembubaran Ormas FPI (Analisis framing Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki Pada Media Online Merdeka.om).
Dalam pelaksanan Skripsi ini tidak mungkin berjalan dengan baik tanpa adaanya dukung dan bantuan dari berbagai pihak yang telah bersedia membimbing saya hingga selesainya hasil Skripsi. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih pada :
1. Prof. Ir. Suryo Hapsoro Tri Utomo, Ph.D, selaku Rektor Universitas Budi Luhur, Jakarta.
Universitas Budi Luhur
ix
Komunikasi Universitas Budi Luhur, Jakarta
5. Wenny Maya Arlena, M.Si, selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Budi Luhur.
6. Mariko Rizkiansyah, S.Sos, M.I.Kom selaku pembimbing skripsi. Terima kasih banyak pak atas arahan motivasi dan dukungannya. 7. Indah Suryawati, M.Si, selaku dosen PA (pembimbing akademik)
yang selalu memberikan dukungan secara moril dan akademik, terima kasih banyak bu.
8. Terima Kasih keluarga besar Alm. Sutan Syuaib yang berada di Lampung Papi, Mamah, Tisar, Ayah Muh, Buya Balia, Bunda La, Datuk Bachtiar di Jagabaya, Atu di Negeri Sakti, serta sepupu ku Agung, Gelen, Ebi, Gista, Ikmal, Tiara, Arci, Dedes dan saudara ku yang ku cintai dan ku hormati tak bisa disebutkan satu-satu, berkat keluarga ku yang di Lampung yang memberikan dukungan penuh. 9. Terima kasih kepada Keluarga Mahasiswa Ilmu Komunikasi
Universitas Budi Luhur “BPM FIKOM, BEM FIKOM &
HIMAKOM” khususnya senior ku Christophorus Bayu Kurniawan “mas bay” yang meluangkan waktu untuk mengarakan skripsi lebih
Universitas Budi Luhur
x
Dery Ridwansyah, Ade Budi S, Muhammad Dendy, Satryo Wibisono, Irwan, Genta Ardin Nugraha, Rama Akbar S, Arofi Putra Yudha (Cupi) dan teman-teman yang tak bisa disebutkan satu-persatu.
11. Terima kasih banyak kepada rekan media Merdeka.com di redaktur dan reporter yang mendukung penyelesaian skripsi ini. Khususnya Cak Anwar Khumaini (Korlip Merdeka.com), bang Angga Yudha, bang Fakif, Bang Eko, Randy, Bang Ian dan teman-teman yang ada di Merdeka.com yang tidak bisa disebutkan satu-persatu.
12. Terima kasih kekasih ku Anissa Novasilvani yang telah memberikan dukungan penuh dalam mengerjakan hingga selesai, yang tak henti-hentinya terima kasih sayang.
Apabila saya selaku peneliti skripsi ini ada kesalahan dalam mengerjakan skripsi ini masih dalam proses pembelajaran. Atas segala perhatian, dukungan,
motivasi dan kerjasamanya, saya mengucapakan terima kasih.
Jakarta, November 2013
Universitas Budi Luhur
xi
Lembar Persetujuan ... iv
Lembar Pengesahan ... v
Abstrak……….… vi
Kata Pengantar ... viii
Daftar Isi ………... xi
Daftar Tabel ... xiv
Daftar Gambar ... xv
BABI PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian ... 1
1.2. Rumusan Masalah Penelitian ... 7
1.3. Tujuan Penelitian ... 8
1.4. Kegunaan Penelitian ... 8
1.4.1. Aspek Teoritis ... ... 8
1.4.2. Aspek Praktis ... 9
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1. Kajian Pustaka ... 10
2.2.1 Penelitian Terdahulu ... 10
2.1.2 Kerangka Teoritis ... 18
2.1.2.1 Konstruksi Realitas ... 18
2.1.2.2 Komunikasi Massa ... 21
2.1.2.3 Media Online ... 23
Universitas Budi Luhur
xii
2.1.2.8 Analisis Framing Zhong dan Pan & Gerald M. Kosicki
... 33
2.2. Kerangka Pemikiran ... 39
BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Paradigma Penelitian ... 42
3.2. Pendekatan Penelitian ... 45
3.3. Metode Penelitian ... 46
3.4. Subjek/Objek Penelitian ... 47
3.5. Definisi Konsep ... 48
3.6. Teknik Pengumpulan Data ... 50
3.7. Teknik Analisis Data ... 50
3.8. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 52
3.9. Validitas dan Otentitas Data ... 52
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian ... 54
4.1.1 Profile Merdeka.com ... 54
4.1.2 Visi Misi Merdeka.com ... 55
4.1.3 Struktur Organisasi Merdeka.com ... 56
4.2 Hasil Penelitian ... 57
Universitas Budi Luhur
xiii
dengan judul Berita 1: Ruhut: FPI Harus Hati-hati, Yang Dihadapi itu Rakyat ... 80 4.3 Pembahasan ... 90 4.4 Keterbatasan Penelitian ... 99
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Simpulan ... 101 5.2 Saran ... 102
DAFAR PUSTAKA
Universitas Budi Luhur
xiv
Tabel 2.2 Kerangka framing Pan dan Kosicki... 38
Tabel 3.1 Tiga Paradigma Ilmu Sosial………... 43
Tabel 3.2 Subyek dan obyek Penelitian Merdeka.com... 47
Tabel 4.1 Analisis framing Pan dan Kosicki Berita 1... 60
Tabel 4.2 Analisis Retoris………... 67
Tabel 4.3 Frame: Ruhut Minta Mendagri Bubarkan FPI... 69
Tabel 4.4 Analisis framing Pan dan Kosicki Berita 2... 70
Tabel 4.5 Analisis Retoris………... 78
Tabel 4.6 Frame: FPI: Ruhut Itu Ibarat TV Rusak, Tak Ada Gambar Tapi Berisik………... 81
Tabel 4.7 Analisis framing Pan dan Kosicki Berita 3... 82
Tabel 4.8 Analisis Retoris………... 89
Tabel 4.9 Frame: Ruhut Minta Mendagri Bubarkan FPI... 91
Universitas Budi Luhur
1 Universitas Budi Luhur
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penelitian
Keberadaan teknologi informasi dan komunikasi sudah semakin berkembang. Terlebih lagi dengan hadirnya internet yang menambah inovasi baru di bidang teknologi informasi dan komunikasi. Dapat diketahui berita atau informasi yang berbentuk cetak seperti koran, majalah, tabloid, dan buku. Namun kini, seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, masyarakat telah mengenal Internet sebagai pemenuh dari kebutuhan mereka, guna untuk membantu aktivitas di seluruh belahan dunia.
Internet dapat disamakan dengan pemanfaatan perangkat media online. Sekalipun kehadirannya belum terlalu lama, media online sebagai salah satu jenis
media dinilai memiliki pertumbuhan yang spektakuler. Bahkan saat ini sebagian besar masyarakat sangat menggemari media online, walaupun Internet bukanlah bagian dari media massa. Keberadaan media online saat ini sudah diperhitungkan
banyak orang sebagai alternatif dalam memperoleh akses informasi dan berita (Yunus, 2010:32).
Universitas Budi Luhur
merupakan perpaduan dari media-media konvensional, yakni media elektronik dan media cetak. Tentu media online menjadi sumber atau sajian informasi yang sangat praktis. Menurut Sedai Wiling Barus, Internet merupakan media baru di bidang informasi yang bisa diakses untuk memperoleh berita karena internet biasanya melakukan pembaruan berita dalam hitungan menit ke menit atau jam ke jam bukan lagi harian seperti surat kabar, televisi, dan radio (Barus, 2011:55).
Bahkan kini perusahaan media elektronik dan media cetak memiliki media online agar dapat membuka ruang berita dan informasi seluas–luasnya kepada khalayak. Berita sebagai tolak ukur kredibilitas suatu media tentu menjadi faktor bagi media untuk bersaing dalam memberitakan suatu peristiwa. Dalam pemberitaan suatu peristiwa, pasti harus ada perbedaan antar berita yang satu dengan lainnya, meskipun peristiwa tersebut terjadi dilokasi yang sama.
Universitas Budi Luhur
Menurut Eriyanto, ada peristiwa yang dimaknai secara berbeda, dengan wawancara dan orang yang berbeda dengan titik perhatian berbeda. Semua kenyataan ini menyadarkan bahwa betapa subjektifnya media (Eriyanto, 2002: 2).
Universitas Budi Luhur
dikatakan bahwa berita telah mengindikasikan peristiwa tersebut sesuai dengan kemauan media. Seperti halnya berita berbasis media online yang dilansir oleh Merdeka.com pada tanggal 17 April 2013 dengan judul “Kapolri Diminta Tegas Kepada Anggota FPI Yang Merusak”. Media tersebut mengganggap bahwa ormas FPI kerap melakukan anarkis sehingga perbuatan ormas tersebut dikategorikan sebagai tindak premanisme. Pemberitaan tersebut selalu menampilkan FPI yang membuat keonaran dan merusak dengan mengatasnamakan agama yang dinilai merupakan sebuah pelanggaran. Hal ini dikarenakan juga pihak Kapolri kurang tegas dalam menindak FPI.
Adapun objek berita yang menjadi kajian penelitian ini adalah aksi Ormas (Organisasi Masyarakat) Islam FPI (Front Pembela Islam) yang melakukan aksi “sweeping” di kawasan lokalisasi tempat hiburan karaoke di Kendal, Jawa
Universitas Budi Luhur
Pada peristiwa tersebut, beragam komentar yang beralih isu wacana pembubaran ormas FPI. Wacana pembubaran ormas FPI tersebut sudah lama bergulir sejak era kepresidenan Gus Dur hingga sampai saat ini. Sebagaimana aksi FPI tersebut menjadi pemberitaan diberbagai media massa elektronik, cetak, dan online. Media-media pun semakin gencar dalam mengkonstruksi dan menyusun
suatu persitiwa. Wacana yang dikembangkan mampu mempengaruhi khalayak, bukan dengan kekerasan tetapi secara halus dan diterima sebagai sesuatu kebenaran (Eriyanto, 2001:14). Dalam memberitakan, peran media pun menjadi asumsi untuk membuat suatu wacana. Keberagaman ideologi media menimbulkan asumsi, salah satu masalah yang menjadi daya tarik suatu berita adalah memamerkan kebenaran dan mempertunjukkan keonaran. Berkaitan dengan berita pembubaran ormas FPI, ideologi media pun ikut berperan menanggapi wacana tersebut.
Berita pembubaran ormas FPI ini dikaitkan dengan konteks ekonomi, sosial, politik, maupun agama. Fenomena inilah yang terjadi pada media-media di Indonesia. Banyak faktor yang mempengaruhi dan ada kepentingan yang tersimpan di balik pemberitaan suatu peristiwa, terutama konstruksi realitas dengan membangun isu atau peristiwa, sehingga berita tersebut ditonjolkan dan ditampilkan.
Universitas Budi Luhur
pengunjung perhari, di urutan kedua ada Kompas.com dengan 838.593 pengunjung perhari, di urutan ketiga ada Merdeka.com dengan 726.695 pengunjung perhari, di urutan keempat ada Vivanews.com dengan 550.071 pengunjung perhari, dan di urutaan kelima ada Tribunnews.com dengan 516.912 pengunjung perhari. Data ini diambil dari versi (http://website.informer.com dan Alexa.com) di akses pada tanggal 17 November 2013 pukul 23.55 WIB.
Sebagaimana diketahui, ada lima situs berita media online yang paling banyak diminati berdasarkan versi (http://website.informer.com dan Alexa.com), peneliti telah memilih situs media online Merdeka.com sebagai subjek penelitian
ini. Alasan peneliti memilih Merdeka.com dikarenakan media ini memiliki angle berita yang berbeda dari media-media lainnya, dalam pemberitaan wacana pembubaran ormas FPI. Di samping itu, Merdeka.com juga paling banyak memberitakan wacana pembubaran ormas FPI ini, dengan 78 item berita. Sedangkan Detik.com memiliki 22 item berita, Kompas.com memiliki 45 item berita, Vivanews.com memiliki 29 item berita, dan Tribunnews.com memiliki 17 item berita pada periode Juli 2013. Data ini ditemukan oleh peneliti dari search google dengan kata kunci “FPI Juli 2013”.
Universitas Budi Luhur
agen konstruksi untuk mewacanakan isi peristiwa dengan struktur cerita yang bermakna sehingga bagi pembacanya mudah memahami. Dengan demikian dapat disimpulkan pemberitaan wacana pembubaran FPI pun telah dikonstruksikan secara keseluruhan.
Sebagaimana diketahui, media-media sangat gencar dalam memberitakan wacana pembubaran ormas FPI. Dalam pendekatan teoritis ini juga peneliti menggunakan metode analisis framing Zhondang Pan dan Gerald M. Kosicki. Alasan peneliti menggunakan analisis ini dikarenakan mampu melihat cara mengemas teks berita hingga ke tingkat ideologi. Hal lain juga dapat menganalisis
Universitas Budi Luhur
1.2 Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan, peneliti memfokuskan pada:
1. Bagaimana media online Merdeka.com mengkonstruksi berita tentang wacana pembubaran ormas FPI?
2. Apa sajakah faktor framing pada media online Merdeka.com dalam berita tentang wacana pembubaran ormas FPI?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini, yakni:
1. Untuk mengetahui bagaimana media online Merdeka.com mengkonstruksi berita tentang wacana pembubaran ormas FPI.
2. Untuk mengetahui apa sajakah faktor framing pada media online Merdeka.com dalam berita tentang wacana pembubaran ormas FPI.
1.4Kegunaan Penelitian
1.4.1 Aspek Teoritis
Universitas Budi Luhur
1.4.2 Aspek Praktis
Universitas Budi Luhur
10 2.1. Kajian Pustaka
2.2.1. Penelitian Terdahulu
Dalam kajian pustaka ini, peneliti telah menjabarkan perbandingan terdiri dari kajian penelitian terdahulu atau sejenisnya. Ada pun referensi yang telah dipilih karena memiliki hubungan dengan masalah yang akan diteliti, ialah:
1. Pembingkaian Berita Media Online (Analisis Berita Media Online
Tentang Mundurnya Surya Paloh Dari Partai Golkar Di
Mediaindonesia.com dan Vivanews.com Pada 7 September)
Universitas Budi Luhur
dan Gerald M. Kosicki. Pendekatan penelitian yang digunakan penelitian tersebut adalah kualitatif. Hasil penelitian tersebut bahwa framing yang dilakukan mediaindonesia.com terhadap mundurnya Surya Paloh dari Partai Golkar sangat keberpihakan kepada pemilik media, sedangkan framing yang dilakukan vivanews.com masih menunjukkan usaha media
untuk melakukan pendekatan pada objektivitas media.
2. Pembingkaian Berita Kontroversi Pengunduran Diri Menteri
Keuangan Sri Mulyani Oleh Surat Kabar Koran Tempo, Kompas,
Republika, dan Media Indonesia.
Penelitian ini dilakukan oleh Achmad Arief, Universitas Padjadjaran Bandung 2012. Rumusan masalah peneliti ini adalah Bagaimana Koran Tempo, Kompas, Republika, dan Media Indonesia membingkai kontroversi
pengunduran diri Menteri Kuangan Sri Mulyani dalam pemberitannya? Tujuan penelitian ini ialah 1. Untuk mengetahui bagaimana cara Koran Tempo, Kompas, Republika, dan Media Indonesia mendefinisikan masalah
(define cause) mengenai kontroversi pengunduran diri Menteri Kuangan Sri Mulyani. 2. Untuk mengetahui bagaimana cara Koran Tempo, Kompas, Republika, dan Media Indonesia memperkirakan masalah (diagnose cause) mengenai kontroversi pengunduran diri Menteri Kuangan Sri
Universitas Budi Luhur
Media Indonesia menekankan (treatment recommendation) mengenai kontroversi pengunduran diri Menteri Kuangan Sri Mulyani. Teori penelitan ini adalah menggunakan analisis framing Robert N. Entman. Pendekatan penelitian yang digunakan penelitian tersebut adalah kualitatif. Hasil penelitian tersebut adalah menunjukan bahwa keempat media massa cetak tadi menekankan isu kontroversi pengunduran diri Menkeu Sri Mulyani. Kemudian dalam hal memperkirakan masalah, keempat-empatnya cenderung melihat keterlibatan Sri Mulyani dalam kasus Bank Century dikatikan dengan tawaran Bank Dunia dalam jabatan direktur pelaksana. Nilai moral yang ditunjukan empat Koran ini adalah kinerja Sri Mulyani yang mendapatkan sorotan baik dari KPK, status hukum diduga melibatkannya dalam skandal Bank Century. Rekomendasi penyelesaian yang ditunjukkan empat media tersebut lebih tertuju pada pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani dari posisi Menkeu setelah menerima tawaran jabatan sebagai direktur pelaksana di Bank Dunia.
3. Jokowi dan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta Tahun 2012 (Analisis
Framing Media terhadap Keikutsertaan Jokowi dalam Pilkada DKI
Jakarta pada Surat Kabar Harian Joglosemar dan Harian Solopos
Periode 1 Maret – 30 September 2012).
Universitas Budi Luhur
DKI Jakarta tahun 2012 pada harian Solopos dan Joglosemar dalam pemberitaan mengenai Pilkada DKI Jakarta tahun 2012?. Tujuan penelitian tersebut adalah untuk mengetahui bagaimana framing berita mengenai keikutsertaan Jokowi dalam Pilkada DKI Jakarta tahun 2012 pada harian Solopos dan Joglosemar dalam pemberitaan mengenai Pilkada DKI Jakarta tahun 2012?. Teori penelitian tersebut menggunakan analisis framing Zhongdan dan Gerald M. Kosicki. Pendekatan penelitian yang
Universitas Budi Luhur
Tabel 2.1:
TINJAUAN PERBANDINGAN PENELITIAN SEJENIS TERDAHULU DENGAN PENELITIAN YANG DILAKUKAN
Universitas Budi Luhur
Kualitatif Kualitatif Kualitatif Kualitatif
Universitas Budi Luhur
2.1.2 Kerangka Teoritis
2.1.2.1Konstruksi Realitas
Istilah konstruksi sosial atau realitas (social constuction of reality), menjadi terkenal sejak diperkenalkan oleh Peter. L Berger dan Thomas Luckmann melalui bukunya yang berjudul, The social Construction of Reality: A Treatise in the sociology of Knowledge (1996). L Berger dan Thomas Luckmann,
menggambarkan proses sosial melalui tindakan dan interaksinya, yang dimiliki dan dialami bersama secara subjektif (Tamburaka, 2012:75).
Frans M. Parera (Berger dan Luckmann, 1990:xx), terciptanya konstruksi sosial itu melalui tiga momen dialektika, yakni ekstrnalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Ekstrnalisasi sebagai bagian dari penyusuaian diri dengan dunia sosiokultural sebagai produk manusia, sedangkan obyektivasi sebagai interaksi social dalam dunia intersubyektif yang dilembagakan atau mengalami proses intitusionalisasi, dan intenalisasi merupakan upaya individu mengidentifikasikan diri dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial tempat individu menjadi anggotanya (Bungin, 2008:15).
Universitas Budi Luhur
subjektif. Bagaimana realitas itu dijadikan satu isu atau peristiwa sangat tergantung pada bagaimana fakta dipahami dan dimaknainya.
Akan tetapi berbeda dengan pandangan kaum kritis menganggap bahwa realitas itu ada dan realitas itu riil ada, namun realitas riil itu biasanya tertutupi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan politik di dalam masyarakat. Sifat dalam
pandangan kritis itu lebih mengutamakan “kecurigaan” dan rasa ingin tahu untuk
membongkar isi di dalamnya.
Kedua pandangan tersebut konstruksi realitas yang riil ada atau tidak adanya tergantung dari paradigma apa yang dipakai. Peneliti berasumsi bahwa konstruktivis, kebenaran bersifat subjektif. Realitas dikonstruksikan oleh wartawan atau media sehingga suatu peristiwa dibuat untuk dipahami secara sederhana.
Universitas Budi Luhur
Adapun bagian-bagian dasar konstruksi realitas yang dibangun oleh media yaitu prinsip dasar dari National Association For Media Literacy Educations’s adalah sebagai berikut:
1. Semua pesan media “dibangun”.
2. Setiap media memiliki karekteristik, kekuatan, dan keunikan
“membangun bahasa” yang berbeda.
3. Pesan media diproduksi untuk suatu tujuan.
4. Semua pesan media berisi penanaman nilai dan tujuan yang ingin dicapai.
5. Manusia menggunakan kemampuan, keyakinan, dan pengalaman mereka untuk membangun sendiri arti pesan media.
6. Media dan pesan dapat memengaruhi keyakinan, sikap, nilai, perilaku, dan proses demokrasi (Tamburaka, 2012:84).
Menanggapi dari pernyataan di atas berita sebagai kontruksi realitas di mana proses pembuatan berita tentu bagian konstruksi dari media, peristiwa tidak semata dilihat sebagai realitas objektif, hal ini yang menjadi dasar dari wartawan dan medialah menceritakan secara subjektifitas. Eriyanto menyatakan, pandangan ini mengandaikan seolah-olah ada realitas yang benar-benar riil yang ada di luar wartawan (Eriyanto, 2002:117). Realitas yang riil itulah yang akan diseleksi oleh wartawan untuk kemudian dibentuk dalam sebuah berita. Dari asumsi ini jelas bahwa berita dihasilkan dari pengetahuan dan pikiran seseorang.
Universitas Budi Luhur
informasi dapat diberikan makna melalui kerangka, sudut pandang, atau perspektif tertentu. Media tidak dapat memberikan penilaian objektif terhadap realitas sosial (semua fakta hasil penafsiran) (McQuail, 2010:111). Menurut Shoemakre dan Reese, menyatakan bahwa objektivitas lebih merupakan ideologi bagi jurnalis dibandingkan seperangkat aturan atau praktik yang disediakan oleh jurnalis (Eriyanto, 2002:132).
Terlihat bahwa media tidaklah memiliki netralitas untuk menyampaikan berita, melainkan hasil konstruksi dan adaanya faktor kepentingan (internal dan ekstrnal). Di sisi lain media memiliki kepentingan apa yang dilihat sebagai perisitwa hanya hasil penafsiran yang secara sengaja dikonstruksikan. Berita sebagai alat pengulangan bahasa untuk menceritakan kejadian atau peristiwa tersebut. Faktor ini juga memperkuat media dalam membingkai berita. Upaya media untuk membuat pemberitaan tidak semata-mata menjadi saluran isu dan peristiwa melainkan ada strategi dan kerangka yang dimainkan media sehingga pemberitaan memiliki nilai lebih yang diharapkan oleh media (Rhamatulloh, 2011:33). Tekanan seperti ini yang membuat terjadinya nilai indenpedensi media dipertanyakan dan efeknya adalah berita yang ditampilkan. Hal ini kemudian sangat bergantung pada ideologi, kepentingan, dan afiliasi politik pemilik media.
2.1.2.2Komunikasi Massa
Universitas Budi Luhur
juga dari sifat pesannya. Menurut Baran, komunikasi massa adalah proses penciptaan makna bersama antara media massa dan khalayaknya (Baran, 2008:7).
Menurut Meletzke, komunikasi massa adalah setiap bentuk komunikasi yang menyampaikan pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara tidak langsung dan satu arah pada publik yang tersebar. Sedangkan menurut Freidson, komunikasi massa adalah khalayak yang banyak dan tersebar yang dinyatakan dengan istilah sejumlah populasi, dan populasi tersebut merupakan representasi dari berbagai lapisan masyarakat (Vera, 2008:3)
Menurt Hafied Cangara, Komunikasi massa dapat didefinisikan sebagai proses komunikasi yang berlangsung di mana pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada khalayak yang sifatnya massal melalui alat-alat yang bersifat mekanis seperti radio, televisi, surat kabar, dan film (Cangara, 2006:36).
Menurut Gerber (1967), komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat (Vera, 2008:3).
Wright (1959) dalam Severin dan Tankard, Jr (2010:4) mendefinisikan komunikasi massa dalam tiga ciri yaitu:
1. Komunikasi massa diarahkan kepada audiens yang relatif besar, heterogen, dan anonim.
2. Pesan-pesan yang disebarkan secara umum, seiring dijadwalkan untuk bisa mencapai sebanyak mungkin anggota audiens serempak dan sifatnya sementara.
Universitas Budi Luhur
Pesan komunikasi massa memiliki sifat satu arah dan tanggapan baliknya lambat (tertunda) dan sangat terbatas. Selain itu penyebaran pesan melalui berlangsung begitu cepat, serempak, dan luas. Hal ini yang menjadi indikasi bahwasanya komunikasi massa merupakan proses penyampaian pesan melalui media apa yang dipakainya. Secara sederhana komunikasi massa adalah sebuah alat media massa baik itu media massa cetak maupun elektronik dan media online. Menurut Syarifudin Yunus, media dikategorikan ke dalam 3 (tiga) jenis berikut:
1. Media cetak, yang terdiri atas surat kabar harian, surat kabar mingguan, tabloid, majalah, buletin atau jurnal, dan sebagainya. 2. Media elektronik, yang terdiri atas radio dan televisi.
3. Media online, yaitu media Internet, seperti website, blog, dan lain sebagainya (Yunus, 2010:27).
Pada dasarnya semua media berbasis informasi serempak adalah komunikasi massa. Dapat disimpulkan bahwa media massa dan online bagian dari
komunikasi massa yang menyalurkan informasi kepada khalayak banyak. Proses komunikasi ini sebagai medium untuk penyampain informasi penyebaran, sebuah media memiliki peran dalam masyarakat bahwa media sebagai pelapor (informasi).
2.1.2.3Media Online
Universitas Budi Luhur
online. Oleh karena itu, media online tidak dikategorikan ke dalam media massa
cetak maupun elektronik, melainkan disebut sebagai media massa baru (new
media) atau media modern (Suryawati, 2011:114). Dalam perspektif kajian studi media, media online atau new media mengacu pada konten isi atau informasi kapan saja, di mana saja, memiliki sifat umpan balik atau interaktif, dan juga memiliki aspek “real time” pengguna tersebut mengakses jaringan internet.
Media online informasinya tidak dibatasi oleh halaman seperti surat kabar,
dan tidak dibatasi waktu seperti radio dan televisi. Media online dapat menggabungkan semua komponen teks, video, audio, dan juga foto. Bahkan khalayak pun dapat mengomentari objek informasi tersebut. Saat ini perkembangan media online semakin diminati dengan keragaman informasi yang menjadi kebutuhan masyarakat dan keefektifitasan media online memberikan sajian informasi. Oleh karena itu, media baru saat ini telah menjangkau hampir seluruh masyarakat dunia. Media baru tersebut dapat dikatakan turut memberi andil yang besar pada perubahan struktur sosial masyarakat. Juga pada sistem komunikasi massa (Vera, 2008:7).
Universitas Budi Luhur
jurnalisme online yang didefinisikan sebagai pelaporan fakta atau peristiwa yang diproduksi dan didistribusikan melalui internet (Romli, 2012:30).
2.1.2.4Jurnalisme Online
Proses kegiatan pencarian berita tidak terlepas dengan namanya jurnalisme dikarenakan sebagai proses kegiatan jurnalistik. Jurnalisme online telah menjadi bagian hidup masyarakat Indonesia dan membawa perubahan penting dalam dunia jurnalistik, bukan itu saja dari sisi bentuk pembahasan dan sajian. Kelahiran media baru ini telah memberikan aspek informasi berbasis teknologi internet. Jurnalisme online merupakan “generasi baru” jurnalistik, setelah jurnalistik konvensional (jurnalitik media cetak, seperti surat kabar) dan jurnalistik penyiaran (broadcast journalism) (Romli, 2012:11). Sehingga berita online tersebut memiliki aspek running news yang selalu update saling melengkapi antara satu berita dengan
berita lainnya.
Online Journalisme harus membuat keputusan-keputusan mengenai format media yang paling tepat mengungkapkan sebuah kisah tertentu dan harus mempertimbangkan cara-cara untuk menghubungkan kisah lainnya, arsip-arsip, sumber-sumber dan lain-lain melalui heyperlinks (Santana, 2005:137).
Universitas Budi Luhur
1. Keringkasan (Brevity). Berita online dituntut untuk bersifat ringkas, untuk menyesuaikan kehidupan manusia dan tingkat kesibukannya yang makin tinggi.
2. Kemampuan beradaptasi (Adaptability). Wartawan online dituntut agar mampu menyesuaikan diri di tengah kebutuhan dan preferensi publik.
3. Dapat dipindai (Scannability). Untuk memudahkan para audiens, situs-situs terkait dengan jurnalistik online hendaknya memiliki sifat dapat dipindai, agar pembaca tidak perlu merasa terpaksa dalam membaca informasi atau berita.
4. Interaktivitas (Interactivity). Komunikasi dari publik kepada jurnalis dalam jurnalisme online sangat dimungkinkan dengan adaanya akses yang semakin luas.
5. Komunitas dan percakapan (Community and Conversation). Media online memiliki peran yang lebih besar dari pada media cetak atau media konvensional lainnya, yakni sebagai penjaring komunitas (Romli, 2012:13).
Penjelasan di atas dapat diasumsikan bahwa jurnalisme online memiliki kecepatan secara menyeluruh dan sekaligus dapat mengintegrasikan media. Menurut Richad Carig, Online Journalism: Reporting, Writing, and Editing For News Media (2005) dalam buku Asep Syamsul M. Romli, keunggulan jurnalistik
Universitas Budi Luhur
1. Pembaca dapat menggunakan link untuk menawarkan pengguna dalam membaca lebih lanjut pada setiap berita.
2. Pembaca dapat memperbaruhi berita secara langsung dan teratur. 3. Informasi di online sangatlah luas.
4. Tersedianya penambahan suara, video, dan konten online yang dimiliki
cetak.
5. Dapat menyimpan arsip online dari zaman ke zaman. Inovasi pemberitaan seperti ini yang menyuguhkan berita terbaru sehingga pembaca akan selalu mengatahui berita terbaru (Romli, 2012:17). Dengan demikian peneliti berpandang bahwa media online juga berkaitan jurnalisme online sebagai satu kesatuan yang tak dipisahkan sebab hal ini merupakan segala bentuk media yang menggunakan wahana internet dan melaksanakan kegiatan jurnalistik yang diartikan sebagai memberitakan sebuah peristiwa.
2.1.2.5Berita
Berita adalah informasi atau pesan yang dikonsumsi oleh publik, karenanya berita menjadi bagian substansial dalam aktivitas jurnalistik (Yunus, 2010:47).
Universitas Budi Luhur
Doug Newsom dan James A. Wollert dalam media Writing: News For The Mass Media (1985:11) mengemukakan, dalam definisi sederhana, berita
adalah apa saja yang ingin dan perlu diketahui otang atau lebih luas lagi oleh masyarakat (Sumadiria: 2005:64).
Berkaitan dengan jenis-jenis berita dapat diklasifikasikan dalam tiga katagori, yaitu sebagai berikut.
Berita Berat (Hardnews) adalah berita tentang peristiwa yang dianggap penting bagi masyarakat baik sebagai individu, kelompok maupun organisasi. Hardnews tergolong berita langsung sama hal dengan straightnews dan sportnews (Suryawati, 2011:70). Nilai berita ini memiliki objektivitas fakta yang dapat dibuktikan dan dapat memenuhi unsur 5W + 1H (what, who, when, where, why, + how) (Yunus, 2012:47).
Definisi mengenai berita menurut para ahli, dengan kata lain media yang memberikan berita kepada masyarakat, tak ada media tanpa berita. Berita menunjukkan indikator untuk memahami suatu peristiwa di mana kejadian itu terjadi, dalam asumsi ini masyarakat lah yang dapat merepresentasikan sesuai dengan cara pandang masyarakat memahami berita tersebut. Menurut G.J. Aditjondro, Berita digambarkan sebagai cerita bahasa atau teks kalimat untuk dipahami sebagai realitas fakta (Sudibyo, 1999:165).
2.1.2.6Wacana
Universitas Budi Luhur
Wacana juga mengandung disiplin ilmu berbeda-beda dari aspek politik, sosiologi, komunikasi, dan lain sebagainya.
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) wacana adalah karangan berupa bacaan (karangaan). Sedangkan beberapa pakar telah menyebutkan berbagai pengertian, menutip di dalam buku Eriyanto:
Roger Fowler (1977), wacana adalah komunikasi lisan atau tulisan yang dilihat dari titik pandangan kepercayaan, nilai, dan katagori yang masuk didalamnya; kepercayaan disini mewakili pandangan dunia, sebuah organisasi atau representasi dari pengalaman (Eriyanto, 2001:2).
Sehingga, dari dua pendapat pakar ahli di atas dapat dipahami bahwa wacana menjelaskan terjadinya peristiwa yang terbentuk dalam kalimat atau pernayataan yang memiliki struktur alur cerita yang bermakna. Wacana selalu mengaitkan rangkaian kalimat dengan kalimat lain. Sedangkan wujud dari wacana adalah berita, artikel, wawancara, dan lain sebagainya.
Universitas Budi Luhur
2.1.2.7Framing
Secara sederhana framing yaitu salah satu cara metode mengemas satu isu yang dianggap sebagai peristiwa oleh media. Asumsinya, media pada dasarnya melihat peristiwa sebagai realitas yang acak lalu dibuat secara sederhana sehingga dengan mudah dipahami. Media memang tak menentukan apa yang ada dibenak khalayak, tapi media menentukan isu-isu apa saja yang dianggap penting di benak khalayak (Armando, 2011:3). Framing berkaitan dalam pengemasaan pola cara peristiwa oleh satu individu. Dalam peristiwa tersebut realitas dilihat sebagai objek yang dibuat secara sengaja beraturan sehingga realitas dapat dilihat secara mudah memahaminya. Adapun beberapa pengertian mengenai framing menurut para ahli yaitu:
Menurut Eriyanto analisis framing secara sederhana dapat digambarkan sebagai analisis untuk mengetahui bagaimana realitas (peristiwa, aktor, kelompok, atau apa saja) dibingkai oleh media. pembingkian tentu saja melalui proses konstruksi. Disini realitas sosial dimaknai dan dikonstruksi dengan makna tertentu (Eriyanto, 2002:3). Pada dasarnya framing adalah metode untuk melihat cara bercerita (story telling) media atas peritiwa.
Cara bercerita itu tergambar pada “cara melihat” terhadap realitas yang
dijadikan berita “Cara Melihat” ini berpengaruh pada hasil akhir dari
konstruksi (Eriyanto, 2002:10-11).
Drs, Alex Sobur dalam bukunya analisis teks media suatu pengantar untuk analisis wacana, analisis semiotika, dan analisis framing mengatakan
“Dalam perspektif komunikasi, analisis framing dipakai untuk membedah cara-cara atau ideologi media massa saat mengkonstruksi fakta. Analisis ini mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan pertautan fakta ke dalam berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti, atau lebih diingat
untuk mengiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya” (Sobur, 2012:162).
Universitas Budi Luhur
pengharapan tertentu yang digunakan untuk memaknai bebrapa aspek dunia sosial dalam situasi dan waktu tertentu (Tamburaka, 2012:57).
Melalui pendekatan framing realitas sebenarnya tidak ada, media secara aktif menyusun sedemikian rupa agar khalayak mudah memahami. Peristiwa dilihat sebagai objek yang kompleks itu berusaha disederhanakan. Menurut Pan dan Kosicki, framing dimaknai sebagai suatu startegi atau cara wartawan dalam mengkonstruksi dan memproses peristiwa untuk disajikan kepada khalayak (Eriyanto, 2002:292). Dalam pandangan ini, realitas sebagai cara pandang wartawan dalam menyeleksi isu bagian mana ditonjolkan dan dihilangkan untuk menentukan frame yang diambil. Frame berhubungan dengan makna (Sobur, 2012:175). Frame tersebut sebagai pemaknaan atas adaanya isu atau peristiwa yang sedang terjadi, media sebagai jembatan memberikan secara aktif berupa fakta peristiwa yang telah dikonstruksikan kepada khalayak. Di sini media memberikan tanggapan untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi. Sehingga khalayak dapat memaknai peristiwa apa yang dilihat dari perangkat tanda yang dimunculkan dalam teks.
Framing dapat dilihat secara proses seleksi dan penekanan suatu
Universitas Budi Luhur
kalimat, dan foto) sehingga bagian yang dipilih tersebut menjadi menonjol. Ilustrasi tersebut dapat dilihat gambar dibawah ini, peneliti mendapatkan sumber tersebut dari hasil interview / wawancara oleh Eriyanto pada hari Senin, 15 April 2013 Pukul 10.56 – 12.03 WIB Di kantor Lembagai Survei Indonesia (LSI) Jalan Pemuda No. 70 Rawamangun, Jakarta Timur, sebagai berikut:
Sumber: Interview Eriyanto
Gambar 2.1 SKEMA FRAMING
Pendekatan framing, pemilihan fakta dan penonjolan fakta merupakan bagian yang ditekankan oleh wartawan. Framing berusaha untuk menggambarkan satu isu atau peristiwa, lalu dibingkai sedemikian rupa menjadi suatu gambar yang dapat diceritakan. Namun perisitwa yang sama akan berbeda diberitakan oleh media, karena media memiliki cara pandang yang berbeda / frame yang berbeda dalam menceritakan peristiwa tersebut. Semua itu merupakan media dalam membingkai suatu peristiwa yang terjadi menjadi sebuah konstruksi realitas media, artinya media bisa sesuka hati memlih berita apa saja yang diinginkan atau tidak untuk ditonjolkan.
Peristiwa
Pemilihan fakta + penulisan faktaRealitas
Seleksi danUniversitas Budi Luhur
Penelitian framing dan skema bagain dari efek media, secara umum framing dibagi menjadi dua yaitu frame media dan frame individual (Eriyanto, 2002:330). Frame media yaitu teks berita sebagai hasil akhir dari konstruksi yang sudah dibingkai sedemikian atau yang teks berita yang telah dibungkus. Sedangkan frame individual adalah bagaimana orang atau individu, terutama jurnalis, mengkonstruksi suatu peristiwa, dalam konstruksi patut dipertanyakan si pembuat berita tersebut (wawancara). Karena yang diteliti itu bukan lagi teksnya, melainkan individunya.
2.1.2.8Analisis Framing Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki
Model framing yang yang diperkenalkan oleh Pan dan Kosicki ini adalah salah satu model yang paling populer dan banyak dipakai. Model itu sendiri diperkenalkan lewat suatu tulisan di Jurnal Political Communication (Eriyanto, 2002:289). Menurut Pan dan Kosicki, Framing yaitu proses membuat pesan lebih
menojol, menempatkan informasi lebih dari pada yang lain sehingga khalayak lebih tertuju pada pesan tersebut. Pemaknaan teks lebih diutamakan sehingga Framing yang digunakan untuk melihat upaya media dalam mengemas berita.
Model ini memiliki asumsi bahwa setiap berita mempunyai frame yang berfungsi
sebagai pusat dari organisasi ide. “Frame ini adalah suatu ide yang dihubungkan dengan elemen yang berbeda dalam teks berita (seperti kutipan sumber, latar informasi, pemakaian kata atau kalimat tertertentu) kedalam teks secara
Universitas Budi Luhur
dilihat sebagaimana wacana publik tentang suatu isu atau kebijakan dikonstruksikan dan dinegoisasikan:
Dalam tulisanya tersebut, Pan dan Kosicki tidak membatasi analisisnya semata–mata pada isi media an sich. Media dipandang, di sini, sebagai bagian dari diskusi publik secara luas. Bagaimana media dapat membetuk bingkai dan kemasan tertentu kepada khalayak, dan bagaimana partisipan politik melakukan pemaknaan dan konstruksi atas perstiwa untuk disediakan kepada publik. Khalayak sendiri juga akan melakukan proses dan pemaknaan yang berbeda atas isu/peristiwa (Eriyanto, 2002:290).
Dalam pendekatan framing model Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki ada empat elemen sebagai sturktur besar yaitu yang pertama, Sintaksis berhubungan dengan bagaimana wartawan menghubungkan menyusun persitiwa pernyataan, opini, kutipan, pengamatan atas perisitiwa ke dalam bentuk susunan berita.
1. Sintaksis berita sebagai (Lead yang dipakai, latar headline, kutipan yang
diambil, sumber, pernyataan, dan penutup). Pada intinya wartawan menyusun berita berdasarkan apa yang dilihat sebagai peristiwa yang dilihatnya.
Lead adalah paragraf pembuka dari suatu berita yang
biasanya mengandung kepentingan lebih tinggi. Sturktur ini tergantung pada ideologi terhadap peristiwa.
Headline adalah berita yang menyajikan topik utama oleh
Universitas Budi Luhur
Latar informasi adalah memihak atau menetang fakta berita,
biasanya ditunjukan dengan sebuah kutipan.
Penutup adalah apakah ada solusi atau tidak dalam sebuah
berita.
2. Skrip, bagaimana wartawan mengisahkan dan menceritakan peristiwa ke
dalam bentuk berita. Pada dasarnya cara wartawan menceritakan atau mengisahkan peristiwa lalu dikemas dalam bentuk berita. Bentuk umum dari skrip adalah berhubungan dengan pola 5W+1H (Who, What, When, Why, dan How) berikut penjelasannya:
What : Objek penelitian berita.
When : Kapan terjadinya.
Who : Siapa pelakunya.
Why : Kenapa bisa terjadi.
How : Kronologis pemberitaan.
3. Tematik berhubungan dengan bagaimana wartawan mengungkapkan
pandangannya atas peristiwa ke dalam proposisi, kalimat atau dihubungkan antarkalimat yang membentuk teks secara keseluruahan. Dalam sturktur ini tata cara wartawan dalam menuliskan berita secara dalam. Tema-tema yang diangkat oleh wartawan dalam sebuah cerita.
Universitas Budi Luhur
Proposisi : Sebab akibat, penjelasan, dan pembeda.
4. Retoris berhubungan dengan bagaimana wartawan menekankan arti
tertentu dalam berita. Struktur ini bagaimana wartawan melihat pemakaian pilihan kata, idiom, grafik, dan gambar. Ada beberapa struktur retoris, diantaranya:
a. Leksikon
Pemilihan dan pemakaian kata-kata tertentu untuk menandai atau menggambarkan peristiwa. Pilihan kata-kata yang dipakai tidak semata-mata hanya karena kebetulan, tetapi secara ideologis menunjukkan bagaimana pemaknaan seseorang terhadap fakta/realitas. Pemakaian kata-kata tersebut seringkali diiringi dengan penggunaan label-label tertentu. (Eriyanto, 2002:305)
b. Grafis
Dalam teks berita, grafis biasanya muncul lewat bagian tulisan yang dibuat lain dibandingkan tulisan lain. Pemakaian huruf cetak tebal, huruf miring, huruf besar, pemakaian garis bawah, pemberian warna, foto, pemakaian caption, raster, grafik, gambar, tabel atau efek lain untuk mendukung arti penting suatu pesan. (Eriyanto, 2002 :306)
Universitas Budi Luhur
Merupakan suatu kiasan, ungkapan yang dimaksudkan sebagai ornament atau bumbu dari suatu teks. Pemakaian metafora tertentu dapat menjadi petunjuk utama untuk mengerti makna suatu teks. Metafora tertentu dipakai oleh komunikator secara strategis sebagai landasan berpikir, alas an pembenar atas pendapat/gagasan tertentu kepada public (Eriyanto, 2001:259).
d. Pengandaian
Pengandaian adalah strategi lain yang dapat memberi citra tertentu ketika diterima khlayak. Elemen pengandaian merupakan pernyataan yang digunakan untuk mendukung makna suatu teks. Pengandaian hadir memberi pertanyaan yang dipandang terpercaya dan karenanya tidak perlu dipertanyakan (Sobur, 2012:79)
Universitas Budi Luhur
Tabel 2.2
KERANGKA FRAMING PAN DAN KOSICKI
STRUKTUR PERANGKAT FRAMING UNIT YANG DIAMATI
SINTAKSIS Cara wartawan menyusun fakta
1. Skema berita Headline, Lead, latar informasi, kutipan,
2. Kelengkapan berita 5W+1H
TEAMTIK
Konsep Pan dan Kosicki, keempat struktur tersebut merupakan framing media untuk bagaimana cara wartawan menyusun berita, mengisahkan peristiwa, menuliskan suatu peristiwa dan menekankan makna atas peristiwa. Dari sini terlihat wartawan membuat berita secara berstuktur agar pembaca memahami dan mengerti dalam sebuah berita mengartikannya sebagai kebenaran.
Universitas Budi Luhur
1. Makrostruktural merupakan level framing ini dapat kita lihat dalam tingkat wacana.
2. Mikrostruktural merupakan peristiwa mana yang ditonjiolkan dan bagian mana yang dilupakan / dikecilkan (pemilihan angel, fakta, narasumber, dan lain sebagainya.
3. Retoris merupakan penekanan fakta, bagaimana media cara media menekankan fakta (Eriyanto, 2002:328).
Dengan menggunakan teori framing Pan dan Kosicki ini dapat menganalisis berita terkait wacana pembubaran ormas FPI secara detail hingga tataran idelogi media serta dapat mengetahui apa saja kah faktor framing dalam media tersebut.
2.2 Kerangka Pemikiran
Penelitan ini, peneliti membuat alur kerangka pemikiran merupakan hasil dari kerangka teoritis yang sesuai dengan penelitian ini. Dari alur kerangka pemikiran dapat dilihat dari media online Merdeka.com sebagai konstruksi realitas serta apa sajakah framing dalam media online Merdeka.com pada berita tentang wacana pembubaran FPI.
Penelitian ini merujuk pada analisis teks menggunakan metode analisis framing Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki yang terdapat empat elemen yaitu:
Universitas Budi Luhur
Universitas Budi Luhur
1. Bagaimana media online Merdeka.com mengkonstruksi berita tentang wacana pembubaran ormas FPI?
2. Apa sajakah faktor framing dalam media online Merdeka.com pada berita tentang wacana pembubaran ormas FPI?
Analisis Framing:
Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki
SINTAKSIS
(headline, lead, latar informasi, kutipan, pernyataan, penutup)
SKRIP
(5W + 1H)
TEMATIK
(paragraf, proposisi, kalimat, hubungan
antar kalimat)
RETORIS
(kata, idiom, gambar/foto, grafik)
Tujuan Penelitian:
1. Untuk mengetahui bagaimana media online Merdeka.com mengkonstruksi berita tentang wacana pembubaran ormas FPI. 2. Untuk mengetahui apa sajakah faktor dalam framing Merdeka.com pada berita tentang wacana pembubaran ormas FPI.
Universitas Budi Luhur
42 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Paradigma Penelitian
Menurut Bogan dan Biklen (1982:32), paradigma adalah kumpulan longgar dari sejumlah asumsi yang dipegang bersama, konsep atau proposisi yang mengarahkan cara berpikir dan penelitian (Moleong, 2004:49). Menurut Harmon (1970), paradigma sebagai cara mendasar untuk mempersepsi, berpikir, menilai dan melakukan yang berkaitan dengan sesuatu secara khusus tentang visi realitas (Moleong, 2004:49). Sedangkan menurut Wimmer dan Dominick, pendekatan dengan paradigma yaitu seperangkat teori, prosedur, dan asumsi yang diyakini tentang bagaimana peneliti melihat dunia (Kriyantono, 2006:48).
Paradigma merupakan cara pandang (the way looking at thing) (Ghony dan Almanshur, 2012:374). Dari penjelasan tersebut menurut para ahli paradigma merupakan cara pandang untuk mengkaji suatu permasalahan, dalam hal ini cara pandang sebagai lensa apa yang ingin dipakai terhadap suatu realitas. Paradigma merupakan kajian peneliti menggunakan pembedahan atas suatu masalah yang ingin diteliti.
Universitas Budi Luhur
Agus Salim mengutip dalam buku Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, membagi tiga paradigma Ilmu Sosial, yaitu paradigma positivisme & post-positivisme, paradigma konstruktivisme, dan paradigma kritis.
Tabel 3.1 sebagai suatu metode yang terorganisir analisis sistematis terhadap
”socially meanigful action” melalui pengamatan langsung dan rinci terhadap aktor sosial dalam setting yang alamiah, agar dapat memahami dan menafsirkan bagaimana aktor sosial mencipta dan memelihara dunia sosial.
.
Mentakrifkan ilmu sosial sebagai suatu proses yang secara
Setiap penelitian, memiliki cara pandang tersendiri dalam memandang suatu realitas. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan paradigma konstruktivis.
Universitas Budi Luhur
menerapkan metode hermenutika dan dialektika dalam proses mencapai kebenaran (Salim, 2006:71).
Sebagaimana diketahui, menurut Guba dan Lincoln, sesuatu yang riil sesungguhnya merupakan sebuah konstruksi dalam pikiran para individu (Denzin dan Lincoln, 2009:162). Realitas tersebut secara sengaja dikonstruksikan sebagai hasil subjektifitas bukan realitas yang bersifat “riil”. Yang dimaksud subjektif adalah seseorang yang memandang realitas sehingga mengkonstruksi realitas tersebut seobjektif mungkin. Peneliti harus menjelaskan proses-proses pembentukan makna dan menerangkan ihwal serta bagaimana makna-makna tersebut terkandung dalam bahasa dan tindakan para aktor (Denzin dan Lincoln, 2009:146).
Pandangan kaum konstruksionis menganggap bahwa teks, tulisan, dan bahasa merupakan hasil sosial yang telah dibuat, apa yang dilihat sebagai peristiwa telah dimaknai subjektifitas. Pernyataan tersebut berita dapat dipahami khalayak sebagai subjek yang aktif karena setiap individu berbeda memahami realitas tersebut (Eriyanto, 2002:41). Berkaitan dengan konstruktivis, realitas secara disengaja dibuat untuk mengarahkan pola pikir khalayak menentukan subjektifitas tiap individu. Institusi masyarakat tercipta dan dipertahankan atau diubah melalui tindakan dan interaksi manusia. Namun pada kenyataanya itu semua dibangun dalam subjektif melalui proses interaksi (Bungin, 2008:15).
Universitas Budi Luhur
ontologis realitas berlaku pada individu yang relevan, secara epistomologis pemahaman tentang realitas antara peneliti dan objek yang diteliti sedangkan aksiologis peneliti sebagai fasilator untuk melihat subjektifitas dan metodologis rekontruksi realitas sosial. Senada pada pernayataan tersebut, menurut Agus Salim, paradigma konstruktivis menempatkan pentingnya pengamatan dan objektivitas dalam menemukan suatu realitas (Salim, 2006:71). Dengan demikian, berita-berita yang dibuat oleh media sebagai hasil ciptaan wartawan atau media sehingga dapat memahami (interpretasi) dengan bagaimana wartawan atau media membuat berita.
3.2 Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian (Moleong, 2004:6). Bahwa asumsi dari penelitian ini adalah menganalisa subjek atau objek menggunakan teori-teori yang digunakan serta menjelaskan permasalahan mengenai penelitian ini, sehingga diharapakan menghasilkan penelitian berita tentang wacana pembubaran ormas FPI di media online Merdeka.com.
Universitas Budi Luhur
dengan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif menekankan pada quality atau hal terpenting suatu barang atau jasa berupa kejadian, fenomena, dan gejala sosial (Ghony dan Almanshur, 2012:25). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif juga hendak mengungkapkan fenomena atas permasalahan tersebut, hal ini difokuskan dengan analisis berita tentang wacana pembubaran ormas FPI di media online Merdeka.com.
3.3 Metode Penelitian
Metode penelitian ini adalah analisis framing sebagai landasan cara media
dalam mengemas satu isu yang dianggap penting oleh media, serta mengungkapkan bahwa wacana yang dihasilkan oleh media menentukan berbagai opini dan persepsi bagi khalayak. Untuk mengetahui konstruksi media online Merdeka.com pada berita wacana pembubaran ormas FPI, peneliti menggunakan analisis framing model Pan dan Kosicki. Model ini menganalisis berita cara mengemas teks berita hingga ke tingkat ideologi. Hal lain juga dapat menganalisis sampai tataran untuk mengetahui perspektif cara pandang wartawan atau media ketika menyeleksi isu secara mendetail melalui proses pengemasan fakta, sudut pandang (angle), foto, gambar, dan lain sebagainya.
Universitas Budi Luhur
Sehingga mendapatkan hasil frame media yang telah dikonstruksikan berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian ini.
Metode analisis framing dianggap kebenarannya secara ilmiah yaitu bagaimana peneliti dapat mengungkapkan cara media mengemas satu isu atau peristiwa yang dianggapnya sebagai realitas yang rill. Oleh karena itu peneliti akan semaksimal mungkin akan mengungkapkan aspek-aspek cara konstruksi media.
3.4 Objek / Subjek Penelitian
Pada penelitian ini media online Merdeka.com sebagai subjek dikarenakan
mengkonstruksi berita wacana pembubaran ormas FPI sehingga Merdeka.com telah membungkus teks berita tersebut (frame media). Sedangkan objek dalam penelitian ini adalah berita tentang wacana pembubaran ormas FPI. Dalam penelitian ini, peneliti mengambil berita pada periode Juli 2013. Alasan mengambil periode Juli 2013 dikarenakan hal ini menjadikan pusat perhatian pemberitaan dari berbagai media massa, media konvensional maupun media online. Berikut berita yang akan dianalisis dalam pada table tersebut:
Tabel 3.2
Subyek dan Obyek Penelitian Merdeka.com
Merdeka.com Berita 1 Jumat, 19 Juli 2013 Ruhut minta Mendagri bubarkan FPI
Berita 2 Jumat, 19 Juli 2013 FPI: Ruhut ibarat TV rusak, tak ada gambar tapi berisik
Berita 3 Kamis, 25 Juli 2013 Ruhut: FPI harus hati-hati, yang dihadapi itu rakyat
Universitas Budi Luhur
Teks berita yang dikumpulkan oleh peneliti, di situs media online Merdeka.com berjumlah 78 item berita FPI dari pencarian di google. Alasan peneliti memilih tiga berita diatas karena tiga berita tersebut membahas seputar wacana pembubaran ormas FPI dan juga merupakan yang dinilai peneliti paling representatif. Selain itu, pemberitaan ini juga paling banyak dikomentar oleh masyarakat.
3.5 Definisi Konsep
Adapun konsep-konsep yang digunakan dalam penelitian ini, sebagai berikut:
1. Konstruksi Realitas
Unsur untuk mempengaruhi khalayak ialah dengan berita. Media sebagai agen konstruksi dengan menggunakan keindahan produktivitas yang dilihat sebagai peristiwa, tentu ini sangat diutamakan untuk membingkai berita. Maka berita itu hasil dari konstruksi sedemikian rupa dan dibentuk dengan baik, agar konstruksi pesan itu dapat dimaknai oleh khalayak. Makna adalah apa yang ditawarkan oleh media, bagian-bagian mana yang dijadikan informasi dapat diberikan makna melalui kerangka, sudut pandang, atau perspektif tertentu.
2. Media Online
Universitas Budi Luhur
tidaklah sama dengan media massa lainnya, hal yang berbeda dengan media lainnya adalah bahwa media online menggunakan akses Internet. Media online mengacu pada konten isi/informasi kapan saja, di mana saja, memiliki sifat umpan balik atau interaktif, dan juga memiliki aspek “real time”.
3. Wacana
Istilah dari kata wacana memiliki banyak pengertian dari berbagai para ahli, akan tetapi pada konteks apa yang tengah digunakan untuk diperbincangkan. Wacana juga mengandung disiplin ilmu berbeda-beda dari aspek politik, sosiologi, komunikasi dan lain sebagainya. Wacana merupakan hasil dari upaya wartawan atau media mengkonstruksikan realitas berdasarkan peristiwa, kejadian, keadaan dan lain sebagainya. Dalam melakukan konstruksi realitas tersebut wartawan atau media mengumpulkan data atau fakta, menyeleksi isu, membahasanya dan kemudian memuatnya sebagai wacana yang berstruktur dan bermakna. Struktur itulah yang membentuk wacana dan cara pandang tertentu.
4. Analisis Framing Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki
Pendekatan analisis framing model Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki, framing yaitu proses membuat pesan lebih
Universitas Budi Luhur
opini dan persepsi bagi khalayak. Ada empat elemen sebagai struktur besar, yaitu: Sintaksis, Skrip, Tematik, dan Retoris. Analisis framing Pan dan Kosicki dikategorikan dalam elemen besar framing, yaitu:
1. Makrostruktural, level framing ini dapat kita lihat dalam tingkat wacana.
2. Mikrostruktural, merupakan peristiwa mana yang ditonjolkan dan bagian mana yang dilupakan / dikecilkan (pemilihan angle, fakta, narasumber, dan lain sebagainya).
3. Retoris, merupakan penekanan fakta, bagaimana cara media menekankan fakta (Eriyanto, 2002:328).
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Teknik penelitian ini, peneliti menggunakan pengumpulan data untuk memperoleh informasi yang peneliti butuhkan. Penelitian ini dilakukan dengan mengumpulkan data primer dan skunder:
a. Data Primer
Data primer didapat dengan cara observasi langsung yaitu berita wacana pembubaran ormas FPI di situs media online Merdeka.com. Teks berita yang dipilih peneliti adalah teks berita yang membahas wacana pembubaran ormas FPI pada periode Juli 2013.
Universitas Budi Luhur
hasil konstruksi media (media frame) sehingga diharapkan nantinya dapat mengungkapkan konstruksi pemberitaan wacana pembubaran FPI. Selain itu, data primer juga hendak didapat peneliti melalui wawancara dengan wartawan dan redaksi atau koordinator liputan Merdeka.com.
b. Data Sekunder
Data sekunder didapat dari buku-buku atau studi kepustakaan, wawancara, para ahli teori, peneliti juga browsing menggunakan internet, teks, dan literatur. Data sekunder berguna untuk mendukung dan memperkuat data primer penelitian. Selanjutnya, keseluruhan data tersebut akan dianalisis dengan menggunakan metode analisis framing Zhongdan Pan dan Gerald M. Kosicki.
3.7 Teknik Analisis Data
Penelitian kualitatif yakni kualitas, non angka. Metode penelitian kualitatif memiliki pola pikir, paradigma, sumber, data, instrumen, analisis data dan sebagainya (Ghony dan Almanshur, 2012:371). Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dikarenakan menganalisis teks berita sehingga tidak dapat berhubungan dan berkaitan dengan jumlah ataupun angka-angka. Hal ini yang menjadi asumsi dasar penelitian ini menganalisis data dengan pendekatan deskriptif melalui tulisan ilmiah.
Universitas Budi Luhur
kedua menganalisis berita secara makrostruktural, mikrostruktural dan retoris. Dan tahapan yang ketiga, melakukan wawancara kepada wartawan dan redaksi atau koordinator liputan untuk mengungkapkan apa sajakah faktor dalam framing media online Merdeka.com pada berita tentang wacana pembubaran FPI.
3.8 Lokasi dan Waktu Penelitian
Pada dasarnya penelitian ini dapat dilakukan di mana saja melalui situs berita dan kantor redaksi media Merdeka.com. Akan tetapi sebagian besar peneliti melakukannya di kediaman peneliti dan lingkungan kampus Universitas Budi Luhur serta kampus lain yang berada di wilayah Jabodetabek. Sedangkan waktu penelitian dilakukan mulai bulan Juli sampai bulan November 2013 sejak berita wacana ormas FPI bergulir di media-media.
3.9 Validitas Data
Salah satu syarat untuk memahami dan menentukan penelitian ini, peneliti menggunakan triangulasi sebagai pembuktian validitas data. Triangulasi diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu disertai untuk mengukur ketepatan data yang akan diteliti guna mengurangi kesalahan riset kualitatif. Berikut macam-macam triangulasi data, sebagai berikut:
Universitas Budi Luhur
Triangulasi sumber yaitu untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.
2. Triangulasi Teknik
Triangulasi teknik yaitu menguji kredibilitas data dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. Misalnya data diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi, dokumentasi, atau kuisioner.
3. Triangulasi Waktu
Triangulasi waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara di pagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, akan memberikan data yang lebih valid sehingga lebih kredibel (Sugiyono, 2011:273).
Universitas Budi Luhur
54 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Objek Penelitian
4.1.1 Profil Merdeka.com
Merdeka.com adalah hasil dari kolaborasi antara media dan teknologi. Kebanyakan media online dibangun sebagai bagian dari pengembangan perusahaan media, atau dibangun oleh orang-orang media. Tetapi Merdeka.com justru dibangun oleh perusahaan teknologi yang terdiri dari orang-orang yang mengerti PHP & Apache / Free BSD terlebih dulu daripada ilmu jurnalistik (dulunya).
Berangkat dari pengalaman KapanLagi.com yang berusaha menjadi a pure
internet player, yaitu organisasi yang berfokus pada penyediaan layanan di Internet yang bisa dinikmati oleh jutaan orang dan kemudian bermetafor menjadi perusahaan teknologi dan media dengan fokus di entertainment, kini Merdeka.com bergabung dengan orang-orang jurnalistik. Dengan sinergi orang teknologi dan jurnalis, maka lahirlah Merdeka.com. Adapun 10 katagori pada situs merdeka.com, sebagai berikut:
1. Katagori peristiwa berisi informasi berita-berita yang ter-update di masyarakat, di dalam negeri maupun di luar negeri.
2. Katagori politik, berisi informasi berita-berita politik.