A. KEHIDUPAN NEGARA-NEGARA KERAJAAN HINDU-BUDDHA
DI INDONESIA
Lahirnya kerajaan-kerajaan yang
bercorak Hindu-Buddha merupakan salah
satu perubahan yang penting dengan
masuknya pengaruh tradisi Hindu-Buddha
di Indonesia. Kerajaan-kerajaan itu antara
lain Kerajaan Kutai, Kerajaan Tarumanegara,
Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Mataram
Lama (Berpusat di Jawa Tengah), Kerajaan
Mataram Lama (Berpusat di Jawa Timur),
Kerajaan Singhasari, Kerajaan Majapahit,
Kerajaan Sunda, dan Kerajaan di Bali.
Bagaimana proses munculnya kerajaankerajaan
tersebut? Kapan kerajaan-kerajaan
itu berdiri? Tradisi-tradisi apa saja yang telah tumbuh berkembang pada kerajaankerajaan
itu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat kamu jawab dalam
pembahasan mengenai kehidupan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha yang ada
di Indonesia berikut ini.
1. Kerajaan Kutai
a. Kehidupan politik
Kerajaan Kutai terletak di dekat
Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.
Keberadaan kerajaan ini dapat diketahui
dari tujuh buah prasasti (Yupa) yang
ditemukan di Muarakaman, tepi Sungai
Mahakam. Prasasti yang berbentuk yupa
itu menggunakan huruf Pallawa dan bahasa
Sanskerta. Menurut para ahli, diperkirakan
kerajaan Kutai dipengaruhi oleh kerajaan
Hindu di India Selatan. Perkiraan itu
didasarkan dengan membandingkan huruf
di
Yupa
dengan prasasti-prasasti di India.
Dari bentuk hurufnya, prasasti itu diperkirakan
berasal dari abad ke-5 M. Apabila
dibandingkan dengan prasasti di Tarumanegara,
maka bentuk huruf di kerajaan
Kutai jauh lebih tua.
Kata-kata kunci
• Kerajaan Kutai• Kerajaan Tarumanegara • Kerajaan Mataram Kuno • Kerajaan Sriwijaya • Kerajaan Singhasari • Kerajaan Kediri • Kerajaan Janggala • Kerajaan Majapahit • Kerajaan Sunda • Kerajaan Bali. Gambar 2.1
(Sumber: Adang Rahmat, 2004)
29
Berdasarkan salah satu isi prasasti Yupa,
kita dapat mengetahui nama-nama raja yang
pernah memerintah di Kutai, yaitu
Kundungga,
Aswawarman
dan
Mulawarman
. Prasasti
tersebut adalah:
“Srinatah sri-narendrasya, kundungasya
mahatmanah, putro svavarmmo
vikhyatah, vansakartta yathansuman,
Tasya putra mahatmanah, tryas traya
ivagnayah, tesn traynam prvrah,
tapobala-damanvitah, sri mulavarmma
rajendro,yastva bahusuvarunakam,
tasya yjnasya yupo ‘yam, dvijendarais
samprakalpitah.
(Sang maharaja Kundungga, yang amat
mulia, mempunyai putra yang masyhur
, sang Aswawarman yang seperti ansuman,
sang Aswawarman mempunyai tiga putra
yang seperti api yang suci. Yang paling
terkemuka ialah sang Mulawarman, raja yang berperadaban baik, kuat,
dan kuasa. Dia melaksanakan selamatan dengan emas yang banyak. Untuk
itulah Tugu batu ini didirikan)
b. Kehidupan ekonomi
Kehidupan ekonomi di kerajaan Kutai tergambar dalam salah satu prasasti,
yang isinya, seperti berikut ini.
(Tugu ini ditulis untuk (peringatan) dua (perkara) yang telah
disedekahkan oleh sang Mulawarman yakni segunung minyak, dengan
lampu dan malai bunga)
Dari Isi Yupa di atas, kita dapat menemukan beberapa benda yang
disedekahkan yaitu minyak, lampu, dan malai bunga. Sedekah dari raja kepada
Brahmana pasti dalam jumlah yang besar. Untuk itu, diperlukan jumlah minyak,
lampu dan malai bunga yang banyak. Benda-benda itu didapatkan dalam
jumlah yang banyak jika ada upaya untuk memperbanyaknya. Adanya minyak
dan bunga malai, kita dapat menyimpulkan bahwa sudah ada usaha dalam
bidang pertanian yang dilakukan oleh masyarakat Kutai. Sementara itu, lampulampu
tersebut dihasilkan dari usaha dibidang kerajinan dan pertukangan.
Hal ini menunjukkan bahwa kedua bidang usaha tersebut sudah berkembang
di lingkungan masyarakat Kutai.
Gambar 2.2
Prasasti Muarakaman yang berbentuk Yupa
(Sumber: R. Soekmono, 1981, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilid 2, halaman 35)
30
Begitu pula pada prasasti yang lain, berisikan sebagai berikut.
akan kebaikan didirikan Tugu ini)
Kehidupan ekonomi yang dapat disimpulkan dari prasasti tersebut adalah
keberadaan sapi yang dipersembahkan oleh Raja Mulawarman kepada Brahmana.
Keberadaan sapi menunjukkan adanya usaha peternakan yang dilakukan oleh
rakyat Kutai. Arca-arca yang ditemukan oleh para arkeolog menunjukkan
bahwa arca tersebut bukan berasal dari Kalimantan, tetapi berasal dari India.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sudah ada hubungan antara Kutai
dan India, terutama hubungan dagang.
c. Kehidupan sosial-budaya
Pada Yupa diketemukan sebuah nama yaitu
Kundungga
yang tidak dikenal
dalam bahasa India. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa nama
tersebut merupakan nama asli daerah tersebut. Namun masih dalam yupa
yang sama dijelaskan bahwa Kundungga mempunyai anak yang bernama
Aswawarman
yang mempunyai putra pula bernama
Mulawarman.
Dua nama
terakhir merupakan nama yang mengandung unsur India, berbeda dengan
nama Kundungga. Baik Kundungga, Aswawarman maupun Mulawarman
merupakan raja-raja di Kutai, namun dari nama mereka dapat menunjukkan
bahwa pengaruh Hindu pada keluarga kerajaan itu sudah mulai masuk pada
masa Kundungga, meskipun baru menguat pada masa Aswawarman.
Bukti kebudayaan Hindu sudah mulai masuk pada masa Kundungga dapat
dibuktikan dengan diberikannya nama Hindu kepada anaknya. Namun pendapat
itu bisa saja tidak tepat, jika Aswawarman yang mengganti namanya sendiri,
dan bukan oleh ayahnya melalui upacara
vrtyastoma. Vrtyastoma
adalah
upacara penyucian diri dalam agama Hindu. Upacara
vrtyastoma
digunakan
oleh orang-orang Indonesia yang terkena pengaruh Hindu untuk masuk ke
dalam kasta tertentu sesuai dengan kedudukan asalnya, dan setelah upacara
ini diadakan, biasanya disusul dengan pergantian nama.
d. Kepercayaan
Berdasarkan isi prasasti itu pula dapat diketahui bahwa masyarakat di
Kerajaan Kutai memeluk agama Hindu. Hal itu dapat dilihat dari prasasti
yang menyebutkan tempat suci yaitu
Waprakeswara
, yaitu tempat suci yang
dihubungkan dengan Dewa Wisnu. Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan
bahwa agama Hindu merupakan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat
31
Kutai. Agama yang dianut di Kutai yaitu agama Hindu aliran pemuja Siwa
yang diduga berasal dari India Selatan, dengan bukti adanya huruf Pallawa
yang digunakan di India Selatan, serta penggunaan nama Warman yang merupakan
kebiasaan dari India Selatan.
2. Kerajaan Tarumanegara
Pulau Jawa memasuki catatan sejarah sejak abad ke-2 Masehi. Dalam
catatan India yang ditulis pada awal abad ke-2, berjudul
Mahaniddesa,
sudah
tercantum nama
Yawadwipa
(Pulau Jawa).
Claudius Ptolemeus
, ahli geografi
Yunani, menyebutkan bahwa Pulau Labadiou ketika menguraikan daerah Asia
Tenggara dalam bukunya
Geographike Hyphegesis,
yang ditulisnya pada
sekitar tahun 150 M. Sejak pertengahan abad ke-3, catatan Cina sudah menyebut
She-po (
Jawa).
Gambar 2.3 Wilayah Kerajaan Tarumanegara
(Sumber: Chalif Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 8)
a. Kehidupan politik
dipengaruhi agama dan kebudayaan Hindu. Letaknya di Jawa Barat dan
diperkirakan berdiri kurang lebih abad ke 5 M. Raja yang memerintah pada
saat itu adalah
Purnawarman
. Ia memeluk agama Hindu dan menyembah
Dewa Wisnu.
Sumber sejarah mengenai Kerajaan Tarumanegara dapat diketahui dari
prasasti-prasasti yang ditinggalkannya dan berita-berita Cina. Prasasti yang
telah ditemukan sampai saat ini ada 7 buah. Berdasarkan prasasti inilah dapat
diketahui bahwa kerajaan ini mendapat pengaruh kuat dari kebudayaan Hindu.
Prasasti itu menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Dengan demikian,
Kerajaan Tarumanegara seperti halnya Kerajaan Kutai mendapat pengaruh
dari Kerajaan Hindu yang ada di India Selatan.
TARUMANEGARA SAMUDERA HINDIA LAUT NUSANTARA J A W A
Wilayah Kerajaan Tarumanegara
32
Prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara berdasarkan tempat
penemuannya, antara lain sebagai berikut.
1)
Prasasti Ciaruteun
(Ciampea), ditemukan di tepi Sungai Ciaruteun (Bogor)
dekat muaranya dengan Cisadane.
2)
Prasasti Pasir Jambu
(Koleangkak), ditemukan di daerah perkebunan
Jambu sekitar 30 km sebelah barat Bogor.
3)
Prasasti Kebon Kopi,
ini terletak di Kampung Muara Hilir, Cibungbulang
(Bogor). Ditulis dalam bentuk puisi Anustubh.
4)
Prasasti Pasir Awi
dan
Prasasti Muara Cianten
. Kedua prasasti ini
menggunakan aksara yang berbentuk ikal yang belum dapat di baca,
ditemukan di Bogor.
5)
Prasati Tugu,
ditemukan di daerah Tugu (Jakarta). Prasasti ini merupakan
prasasti terpanjang dari semua prasasti peninggalan Raja Purnawarman.
Prasasti ini berbentuk puisi Anustubh. Tulisannya dipahatkan pada sebuah
batu bulat panjang secara melingkar.
6)
Prasasti Cidanghiang
atau
Prasasti Lebak
, ditemukan di tepi Sungai
Cidanghiang, Kecamatan Munjul, Lebak (Banten).
Gambar 2.4
Prasasti Ciaruteun merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Tarumanegara
(Sumber: Chalif Latif, 2000, Atlas Sejarah Indonesia dan Dunia, halaman 8)
Sumber lain yang menerangkan tentang Kerajaan Tarumanegara dapat
dilihat dari berita Cina berupa catatan perjalanan seorang penjelajah Cina
bernama
Fa-Hien
pada awal abad ke-5 M. Dalam bukunya
Fa-Kuo-Chi
,
ia membuat catatan bahwa di Ye-Po-Ti banyak dijumpai orang-orang Brahmana
dan mereka yang beragama kotor atau buruk dan sedikit sekali dijumpai
orang yang beragama Buddha. Menurut para ahli yang dimaksud
Ye-Po-Ti
adalah
Jawadwipa
atau
Pulau Jawa
atau
Tarumanegara
. Berita Cina lainnya
berasal dari catatan Dinasti Sui, yang menerangkan bahwa telah datang utusan
33
dari To-lo-mo (Taruma) untuk menghadap Kaisar di negeri Cina pada tahun
528, 535, 630, dan 669. Sesudah itu, nama To-lo-mo tidak terdengar lagi.
b. Kehidupan ekonomi
Tarumanegara pada masa itu. Berdasarkan prasasti Tugu dapat diketahui
mata pencaharian penduduknya, yaitu pertanian dan perdagangan. Begitu
pula berdasarkan berita dari Fa-Hien awal abad ke 5, diketahui bahwa mata
pencaharian penduduk Tarumanegara adalah pertanian, peternakan, perburuan
binatang, dan perdagangan cula badak, kulit penyu dan perak. Prasasti Tugu,
ditemukan di daerah Tugu (Jakarta) merupakan prasasti terpanjang dari semua
prasasti peninggalan Raja Purnawarman.
Dulu kali candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan
kuat buat mengalirkannya ke laut, setelah sampai di istana yang
termasyhur, didalam tahun keduapuluh duanya dari takhta raja
Purnawarman yang berkilau-kilau karena kepandaian dan kebijaksanaannya
serta menjadi panji segala raja. Sekarang beliau
menitahkan menggali sungai yang permai dan jernih, gomati namanya,
setelah melewati kediaman sang pendeta nenkda, pekerjaan ini dimulai
pada tanggal 9 paro petang bulan, pulaguna dan disudahi tanggal
13 paro terang bulan citra, jadi hanya 21 saja, sedangkan galian
panjangnya 6.122 tumbak. Selamatan baginya oleh para Brahmana
disertai 1000 ekor sapi yang dihadiahkan”.
Dari prasasti tersebut dapat disimpulkan bahwa Raja sangat memperhatikan
kondisi perekonomian masyarakatnya. Penggalian sungai
Chandrabhaga
sepanjang 12 km yang berlangsung selama 21 hari itu dimaksudkan untuk
kepentingan pengairan pertanian, pencegah banjir, dan sebagai sarana transportasi
dari pesisir pantai ke pedalaman.
c. Kehidupan sosial-budaya
Berdasarkan sumber yang ada, diperkirakan masyarakat Tarumanegara
terdiri atas golongan istana dan masyarakat biasa. Termasuk ke dalam golongan
istana, yaitu para Brahmana, raja dan keluarganya, para ksatria (prajurit),
dan para pegawai kerajaan. Adapun yang termasuk ke dalam golongan rakyat
biasa, yaitu para pedagang, petani, dan peternak. Hubungan antara raja dan
rakyat sangat harmonis. Hal ini tampak pada perhatian raja terhadap ekonomi
masyarakatnya.
34
d. Kepercayaan
Berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan, bahwa kepercayaan
Hindu-Buddha sangat berakar kuat di kerajaan ini. Perkembangan agama Hindu
sangat baik, hal ini ditandai dengan hubungan yang erat antara raja dan Brahmana.
Dengan demikian, agama Hindu memberikan nilai-nilai terhadap kehidupan
kerajaan. Sementara itu, berita dari
Fa Hsien
dijelaskan bahwa penganut
agama Buddha sangat sedikit dibanding dengan agama Hindu
Mungkin kamu pernah mendengar atau malah sudah pernah
berkunjung di suatu tempat atau yang disebut Trowulan di Mojokerto. Kompleks Trowulan inilah yang diperkirakan dulu menjadi pusat pemerintahan Majapahit. Beberapa situs yang dapat kita temukan sekarang misalnya ada pendhopo, segaran, Candi Bajang Ratu dan sebagainya. Kamu bayangkan Majapahit tempo dulu merupakan
kerajaan yang luas dan sudah menjalin kerja sama dengan kerajaankerajaan di luar Kepulauan Indonesia. Bahkan Mohammad Yamin
Bayangkan pula tokoh besar seperti Patih Gajah Mada dan Raja Hayam Wuruk yang berhasil mempersatukan Nusantara. Bahkan hingga saat ini kebesaran Patih Gajah Mada masih melekat dalam ingatan kita, hingga makam Patih Gajah Mada oleh masyakarat Lombok Timur dipercaya berada di kompleks pemakaman Raja Selaparang. Cerita kebesaran Patih Gajah Mada juga terdapat di daerah lain. Nah, itulah salah satu kisah kecil Kerajaan Majapahit, Satu diantara kerajaan Hindu-Buddha di Nusantara. Berikut ini kita akan mempelajari perkembangan beberapa kerajaan Hindu-Buddha.
Gambar 2.3 Makam ini dipercaya oleh masyarakat sebagai makam Patih Gajah Mada terletak dalam pemakaman Selaparang, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Sumber: Dok. Amurwani, 2012
66 Kelas X
. Memahami teks
1. Kerajaan Kutai
Bicara soal perkembangan Kerajaan Kutai, tidak lepas dari sosok Raja Mulawarman. Kamu perlu memahami keberadaan Kerajaan Kutai, karena Kerajaan Kutai ini dipandang sebagai kerajaan Hindu-Buddha yang pertama di Indonesia. Kerajaan Kutai diperkirakan terletak di daerah Muarakaman di tepi Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Sungai Mahakam merupakan sungai yang cukup besar dan memiliki beberapa anak sungai. Daerah di sekitar tempat pertemuan antara Sungai Mahakam dengan anak sungainya diperkirakan merupakan letak Muarakaman dahulu. Sungai Mahakam dapat dilayari dari pantai sampai masuk ke Muarakaman, sehingga baik untuk perdagangan. Inilah posisi yang sangat menguntungkan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Sungguh Tuhan Yang Maha Esa menciptakan alam semesta dan tanah air Indonesia itu begitu kaya dan strategis. Hal ini perlu kita syukuri.
Untuk memahami perkembangan Kerajaan Kutai itu, tentu
memerlukan sumber sejarah yang dapat menjelaskannya. Sumber sejarah Kutai yang utama adalah prasasti yang disebut yupa, yaitu berupa batu bertulis. Yupa juga sebagai tugu peringatan dari
upacara kurban. Yupa ini dikeluarkan pada masa pemerintahan raja
Mulawarman. Prasasti yupa ditulis dengan huruf pallawa dan bahasa sanskerta. Dengan melihat bentuk hurufnya, para ahli berpendapat bahwa yupa dibuat sekitar abad ke-5 M.
Yang menarik dalam prasasti itu juga disebut nama kakek
Mulawarman yang bernama Kudungga. Kudungga berarti penguasa lokal, dan yang setelah terkena pengaruh Hindu-Buddha daerah tersebut berubah menjadi kerajaan. Namanya tetap Kudungga berbeda dengan nama puteranya yang bernama Aswawarman dan
Sejarah Indonesia 67
sebagai wamsakerta adalah Aswawarman. Coba pelajaran apa yang dapat kita peroleh dengan persoalan nama di dalam satu keluarga Kudungga itu?
Satu di antara yupa itu memberi informasi penting tentang silsilah Raja Mulawarman. Diterangkan bahwa Kudungga mempunyai putra bernama Aswawarman. Raja Aswawarman dikatakan seperti Dewa Ansuman (Dewa Matahari). Aswawarman mempunyai tiga anak, tetapi yang terkenal adalah Mulawarman. Raja Mulawarman dikatakan sebagai raja yang terbesar di Kutai. Ia pemeluk agama Hindu-Siwa yang setia. Tempat sucinya dinamakan Waprakeswara. Ia juga dikenal sebagai raja
yang sangat dekat dengan kaum brahmana dan rakyat. Raja Mulawarman sangat dermawan. Ia mengadakan kurban emas dan 20.000 ekor lembu untuk para brahmana. Oleh karena itu, sebagai rasa terima kasih dan peringatan mengenai upacara kurban, para brahmana
mendirikan sebuah yupa.
Pada masa pemerintahan Mulawarman, Kutai mengalami zaman keemasan. Kehidupan ekonomi pun mengalami perkembangan. Kutai terletak di tepi sungai, sehingga
masyarakatnya melakukan pertanian. Selain itu, mereka banyak yang melakukan perdagangan. Bahkan diperkirakan sudah terjadi hubungan dagang dengan luar. Jalur perdagangan internasional dari India melewati Selat Makassar, terus ke Filipina dan sampai di Cina. Dalam pelayarannya dimungkinkan para pedagang itu singgah terlebih dahulu di Kutai. Dengan demikian, Kutai semakin ramai dan rakyat hidup makmur.
Untuk memperdalam masalah ini, kamu dapat membaca buku Taufik Abdullah dan Adrian B. Lapian. Indonesia dalam Arus Sejarah, jilid II.
68 Kelas X
Uji Kompetensi
Satu di antara yupa di Kerajaan Kutai berisi keterangan yang artinya:“Sang Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka, telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana yang seperti api, (bertempat) di dalam tanah yang sangat suci (bernama) Waprakeswara”.
1. Bila benar Kudungga adalah penduduk pribumi, bagaimana agama Hindu dapat masuk di Kerajaan Kutai? Hubungkanlah jawabanmu dengan teori tentang proses masuk dan
berkembangnya agama dan kebudayaan Hindu di Nusantara. 2. Bacalah dengan cermat keterangan di yupa itu. Bila isi yupa itu diartikan secara harfiah, Raja Mulawarman memberikan hadiah sapi sebanyak 20.000 ekor kepada para brahmana, artinya pada abad ke-5 telah ada suatu peternakan yang sangat maju. Permasalahan yang muncul adalah benarkah pada saat itu peternakan sudah begitu majunya, sehingga dengan mudah memberikan 20.000 ekor sapi. Diskusikan dengan teman-teman sekelas kamu.
Sejarah Indonesia 69
2. Kerajaan Tarumanegara
Sejarah tertua yang berkaitan dengan pengendalian banjir
dan sistem pengairan adalah pada masa Kerajaan Tarumanegara. Untuk mengendalikan banjir dan pertanian yang diduga di
wilayah Jakarta saat ini, maka Raja Purnawarman menggali sungai Candrabaga. Setelah selesai melakukan penggalian sungai maka raja mempersembahkan 1.000 ekor lembu pada brahmana. Berkat sungai itulah penduduk Tarumanegara menjadi makmur. Siapakah Raja Purnawarman itu?
Purnawarman adalah raja terkenal dari Tarumanegara.
Perlu kamu pahami bahwa setelah Kerajaan Kutai berkembang di Kalimantan Timur, di Jawa bagian barat muncul Kerajaan Tarumanegara. Kerajaan ini terletak tidak jauh dari pantai utara Jawa bagian Barat. Berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan letak pusat Kerajaan Tarumanegara diperkirakan di antara Sungai Citarum dan Cisadane. Kalau mengingat namanya Tarumanegara, dan kata taruma mungkin berkaitan dengan kata tarum yang artinya nila. Kata tarum dipakai sebagai nama sebuah sungai di Jawa Barat, yakni Sungai Citarum. Mungkin juga letak Tarumanegara dekat dengan aliran Sungai Citarum. Kemudian berdasarkan Prasasti Tugu, Purbacaraka memperkirakan pusatnya ada di daerah Bekasi. Sumber sejarah Tarumanegara yang utama adalah beberapa prasasti yang telah ditemukan. Berkaitan dengan perkembangan Kerajaan Tarumanegara, telah ditemukan tujuh buah prasasti. Prasasti-prasasti itu berhuruf pallawa dan berbahasa sansekerta. Ketujuh prasasti itu adalah :
1. Prasasti Ciareteun
Prasasti ini ditemukan di tepi Sungai Citarum di dekat muaranya yang mengalir ke Sungai Cisadane, di daerah Bogor. Pada prasasti ini dipahatkan sepasang telapak kaki Raja Purnawarman.
70 Kelas X
2. Prasati Kebon Kopi
Prasasti Kebon Kopi ditemukan di Kampung Muara Hilir, Kecamatan Cibungbulang, Bogor. Pada prasasti ini ada pahatan gambar tapak kaki gajah yang disamakan dengan tapak kaki gajah Airawata (gajah kendaraan Dewa Wisnu).
3. Prasasti Jambu
Prasasti ini ditemukan di perkebunan Jambu, Bukit Koleangkok, kira-kira 30 km sebelah barat Bogor. Dalam prasasti itu diterangkan bahwa Raja Purnawarman itu gagah, pemimpin yang termasyhur, dan baju zirahnya tidak dapat ditembus senjata musuh.
4. Prasasti Tugu
Prasasti Tugu ditemukan di Desa Tugu, Cilincing Jakarta. Prasasti ini menerangkan tentang penggalian saluran Gomati dan Sungai Candrabhaga. Mengenai nama Candrabhaga, Purbacaraka mengartikan candra = bulan = sasi. Candrabhaga menjadi sasibhaga dan kemudian menjadi Bhagasasi - bagasi, akhirnya menjadi Bekasi. 5. Prasasti Pasir Awi
6. Prasasti Muara Cianten
Prasasti Muara Cianten ditemukan di daerah Bogor. 7. Prasasti Lebak
Prasasti Lebak ditemukan di tepi Sungai Cidanghiang, Kecamatan Muncul, Banten Selatan. Prasasti ini
menerangkan tentang keperwiraan, keagungan, dan keberanian Purnawarman sebagai raja dunia.
Di samping beberapa prasasti tersebut, berita Cina juga dapat dijadikan sumber sejarah Kerajaan Tarumanegara. Terutama berita yang disampaikan oleh seorang musafir Cina yang bernama Fa-Hien yang berkunjung ke Jawa. Ia telah menyebut adanya Kerajaan To-lomo atau Taruma.
Sejarah Indonesia 71
Gambar 2.4 Prasasti Tugu
Gambar 2.6 Prasasti Ciareteun Gambar 2.7 Prasasti Kebon Kopi II Gambar 2.5 Prasasti Kebon Kopi I
Sumber : Bambang Budi Utomo. 2010. Atlas Sejarah Indonesia Masa Klasik (Hindu-Buddha). Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Sumber : Bambang Budi Utomo. 2010. Atlas Sejarah Indonesia Masa Klasik (Hindu-Buddha). Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Sumber : Bambang Budi Utomo. 2010. Atlas Sejarah Indonesia Masa Klasik (Hindu-Buddha). Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
Sumber : Bambang Budi Utomo. 2010. Atlas Sejarah Indonesia Masa Klasik (Hindu-Buddha). Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.
72 Kelas X
Pemerintahan dan Kehidupan Masyarakat
Kerajaan Tarumanegara mulai berkembang pada abad ke-5 M. Raja yang sangat terkenal adalah Purnawarman. Ia dikenal sebagai raja yang gagah berani dan tegas. Ia juga dekat dengan para brahmana, pangeran, dan rakyat. Ia raja yang jujur, adil, dan arif di dalam memerintah. Daerahnya cukup luas sampai ke daerah Banten. Kerajaan Tarumanegara telah menjalin hubungan dengan kerajaan lain, misalnya dengan Cina.
Dalam kehidupan agama, sebagian besar masyarakat
Tarumanegara memeluk agama Hindu. Sedikit yang beragama Buddha dan masih ada yang mempertahankan agama nenek moyang (animisme). Berdasarkan berita dan Fa-Hien, di Tolomo ada tiga agama, yakni agama Hindu, agama Buddha dan kepercayaan animisme. Raja memeluk agama Hindu. Sebagai bukti, pada prasasti Ciareteun ada tapak kaki raja yang diibaratkan tapak kaki Dewa Wisnu. Sumber Cina lainnya menyatakan bahwa, pada masa Dinasti T’ang terjadi hubungan perdagangan dengan Jawa. Barang-barang yang diperdagangkan adalah kulit penyu, emas, perak, cula badak, dan gading gajah. Penduduk daerah itu pandai membuat minuman keras yang terbuat dari bunga kelapa.
Rakyat Tarumanegara hidup aman dan tenteram.
untuk mencegah bahaya banjir.
Sejarah Indonesia 73
Uji Kompetensi
Prasasti Jambu ( Pasir Koleangkak) terletak di sebuah bukit, di Desa Parakan Muncang, Nanggung, Bogor. Prasasti ini ditulis dalam dua baris tulisan dengan aksara Pallawa dan bahasa Sanskerta. Isinya sebagainya berikut:
“Gagah, mengagumkan dan jujur terhadap tugasnya,
adalah pemimpin manusia yang tiada taranya, yang termasyhur Sri Purnawarman, yang sekali waktu (memerintah) di Tarumanagara dan baju zirahnya yang terkenal tiada dapat ditembus senjata musuh. Ini adalah sepasang telapak kakinya yang senantiasa
berhasil menggempur musuh, hormat kepada para pangeran, tetapi merupakan duri dalam daging musuh-musuhnya”.
Sumber : Taufik Abdullah (ed). 2012. Indonesia Dalam Arus Sejarah. Jilid II. Jakarta: PT. Ichtiar Baru van Hoeve.
Bagaimana pendapat kamu tentang isi teks di atas? Apakah