• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosiding Kongres Nasional Ikatan Ahli K

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Prosiding Kongres Nasional Ikatan Ahli K"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Prosiding

Kongres Nasional Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat ke- 13

(KONAS IAKMI XIII)

“Masyarakat  Hidup  Sehat  dan  Bahagia  dalam  Mencapai  Sasaran  

Pemban

gunan  Berkelanjutan  (SDGs  2030)”

Makassar, 3-5 November 2016

(2)

Prosiding KONAS IAKMI XIII

Kongres Nasional Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat ke- 13

Penyusun :

Media Kesehatan Masyarakat Indonesia (MKMI)

Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin

ISBN : 978-602-60338-0-2

Editor :

Veni Hadju

Ida Leida M. Thaha

Indra Dwinata

Andi Selvi Yusnitasari

Uswatun Hasanah

Herlindayanti

Desain Sampul :

Erwin Aziza Jayadipraja

Penerbit :

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin

Redaksi :

Jl. Perintis Kemerdekaan KM. 10 Tamalanrea 90245

Telp. 08114440454, Fax (0411) 586013

E-mail : [email protected]

OJS : http://journal.unhas.ac.id/index.php/JMKMI

(3)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, tak lupa kita memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan pembuatan Prosiding Kongres Nasional Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (Konas IAKMI) yang ke-13 ini dengan baik.

Konas IAKMI kali ini, yang diadakan di Kota Makassar, tepatnya di Hotel Four Points by Sheraton, dilakukan secara bersamaan dengan kegiatan Forum Ilmiah Tahunan (FIT) yang ke-2. Forum ilmiah ini menjadi sangat penting dalam Konas kali ini, karena diharapkan menjadi tempat untuk saling tukar menukar informasi tentang berbagai hasil penelitian dan program inovasi terkini yang telah dilakukan selama ini oleh seluruh sektor terkait dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia. Disamping itu, Forum ilmiah ini bisa menjadi kegiatan yang nantinya dapat mengakselerasi program pembangunan kesehatan masyarakat di masa yang akan datang.

Prosiding ini kami buat agar seluruh materi yang dipaparkan dalam Konas dan sekaligus FIT ini dapat ditelaah lebih jauh oleh para peserta dan juga oleh seluruh anggota IAKMI yang mencintai profesi ini. Panitia telah bekerja keras dalam mensukseskan kegiatan Konas IAKMI ke-13, termasuk dalam pengumpulan makalah lengkap dari para pembicara. Kami sangat berterima kasih atas dukungan dari para pembicara yang telah mengirim makalah lengkap sesuai format yang telah kami berikan dan waktu yang telah ditentukan. Tanpa dukungan seperti ini tentu kami akan sulit dalam menyelesaikan tugas ini.

Akhirnya, kami mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelesaian dari penyusunan Prosiding ini, khususnya kepada Penerbit IPB Press, yang bersedia membantu panitia untuk mencetak dalam waktu yang cepat. Semoga Allah membalas seluruh amal kebaikan kita semuanya dengan balasan yang lebih baik dan memberi kemudahan dalam menjalankan seluruh aktifitas kita selamanya.

Wassalam,

(4)

Makassar, 1 Oktober 2016

Nomor

: 542/KONAS IAKMI XIII/X/2016

Lampiran

: Surat Konfirmasi Kehadiran

Perihal

: Penerimaan Abstrak

Kepada:

Yth. Yeni Paramata

Di,

Tempat

Dengan Hormat,

Kami sampaikan bahwa abstrak yang Anda kirimkan dinyatakan

diterima

untuk

presentasi

poster

pada Kongres Nasional Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI) XIII, tanggal 3-5

November 2016 di Hotel Four Points by Sheraton, Makassar.

No. Abstrak

: P02012

Judul

:

Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hipertensi

pada Pengguna Kontrasepsi di Puskesmas Tolangohula

Kabupaten Gorontalo

Tema

:

KB & Kesehatan Reproduksi

Kami juga menyampaikan bahwa Anda harus segera mengirimkan

Full Pape

r (makalah)

sesuai

dengan

Nomor

Abstrak,

format

dan

jadwal

yang

tercantum

di

www.konasiakmi13.org

. Demikian juga dengan konfirmasi kehadiran diharapkan segera

dilakukan paling lambat 3 Oktober 2016, yaitu dengan mengirimkan kembali surat

konfirmasi

kehadiran

sebagai

presenter

pada

acara

konas

ke

email

[email protected]

, sebagaimana terlampir.

Semoga kita bisa bertemu di Kongres Nasional IAKMI XIII

Salam Hangat dari Makassar.

Ketua Panitia,

(5)

1

1

Abstrak

Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang banyak diderita di seluruh dunia termasuk Indonesia dimana penderitanya lebih banyak pada wanita dibanding pria. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor yang berhubungan dengan kejadian Hipertensi pada pengguna kontrasepsi di wilayah kerja Puskesmas Tolangohula tahun 2015. Jenis penelitian menggunakan observasional analitik dengan rancangan cross sectional study, waktu penelitian pada bulan Maret sampai April 2016 dilaksanakan diwilayah kerja Puskesmas tolangohula, populasi semua Wanita Usia Subur (1,457 orang) dan sampel Wanita Usia Subur yang menggunakan kontrasepsi (303 orang) diambil secara purposive sampling. Hubungan umur menikah, lama penggunaan kontrasepsi, jenis kontrasepsi dan IMT dengan kejadian Hipertensi menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar wanita usia subur yang menjadi responden menggunakan jenis kontrasepsi Hormonal (92.7%). Variabel yang memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian hipertensi, yakni lama penggunaan kontrasepsi (p 0,004 < α 0,05) dan Indeks Massa Tubuh ( p 0,000 < α 0,05). Namun tidak ada hubungan yang bermakna antara umur menikah (p 1,000 > α 0,05) dan jenis kontrasepsi (p 0,130 > α 0,05) dengan kejadian hipertensi. Disimpulkan bahwa ada hubungan antara lama penggunaan kontrasepsi dan Indeks Massa Tubuh dengan kejadian hipertensi pada pengguna kontrasepsi di wilayah kerja Puskesmas Tolangohula. Disarankan perlu adanya sosialisasi puskesmas dalam hal penggunaan kontrasepsi agar wanita usia subur mengetahui bahwa kejadian hipertensi juga dipengaruhi oleh kontrasepsi.

Kata kunci: Hipertensi, Kontrasepsi, Umur menikah, IMT

1.PENDAHULUAN

ipertensi adalah keadaan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala yang akan berlanjut ke suatu organ target seperti stroke (untuk otak), penyakit jantung koroner (untuk pembuluh darah jantung dan hipertrofi ventrikel kanan/left ventricle hipertrophy untuk otot jantung). Dengan target organ di otak yang berupa stroke, hipertensi menjadi penyebab utama stroke yang membawa kematian yang tinggi [1]. Hipertensi merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang banyak diderita di seluruh dunia termasuk Indonesia. Pada tahun 2000, negara-negara SEARO (South East Asia Regional Office) yang berada di bawah World Health Organization (WHO) termasuk Indonesia melaporkan bahwa 52% penyebab kematian adalah akibat penyakit tidak menular. Penyakit tidak menular yang banyak meningkat dalam sepuluh tahun terakhir sebagai penyebab kematian adalah penyakit jantung dan stroke[2].

Berdasarkan Profil Data Kesehatan di BKKBN Provinsi Gorontalo jumlah WUS (wanita usia subur) pengguna kontrasepsi pada tahun 2014 yakni 65,837 jiwa, dan tahun 2015 yakni 62,873 jiwa. Dari data

yang telah di peroleh dari BKKBN Kabupaten Gorontalo, jumlah pengguna kontarsepsi KB pada tahun 2014 yakni 4703 jiwa dari semua alat kontrasepsi yang digunakan pada wilayah kerja puskesmas tolangohula. Di kecamatan Tolangohula mencapai 1457 WUS yang memakai alat kontrasepsi KB dari wilayah puskesmas tolangohula di antaranya terdapat 5 desa yakni Desa Polohungo, Suka Makmur, Makmur Abadi, Gandaria dan Binajaya[3]. Kejadian wanita kawin usia dini masih banyak ditemukan di Indonesia. Perkawinan usia dini mencerminkan rendahnya status wanita dan merupakan tradisi sosial yang menopang tingginya tingkat kesuburan. Indonesia merupakan Negara yang memiliki persentase perkawinan yang tinggi di dunia dengan menempati ranking ke 37 sedangkan di kawasan ASEAN tertinggi ke dua setelah Kamboja[4].

Berdasarkan data Riskesdas (2013) yang menikah pertama kali pada usia ≥21 tahun sebesar 2,6% sedangkan yang menikah pada usia < 21 tahun sebesar 23,9%. Pernikahan yang terlalu dini merupakan awal permasalahan kesehatan reproduksi karena semakin muda umur menikah maka semakin panjang masa reproduksi seorang wanita yang berdampak pada banyaknya anak yang dilahirkan. Lamanya

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN

KEJADIAN HIPERTENSI PADA PENGGUNA KONTRASEPSI

DI PUSKESMAS TOLANGOHULA KABUPATEN GORONTALO

Yeni Paramata1*, Zul Adhayani2, dan Linda yulistiani lamatenggo3

Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Gorontalo, Limboto, 96211, Indonesia, [email protected] Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Gorontalo, Limboto, 96211, Indonesia, [email protected] Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Gorontalo, Limboto, 96211, Indonesia, [email protected]

(*corresponding author)

(6)

2 Penggunaan kontrasepsi adalah menyatakan bahwa

berapa lama seorang responden memakai alat kontrasepsi yang digunakan berbahaya atau akan mengakibatkan risiko tinggi bagi kesehatan atau tubuh terlalu lama memakai khususnya pada kejadian hipertensi. Penggunaan kontrasepsi menjadi sangat penting untuk menjarangkan dan membatasi kehamilan sekaligus berbagai jenis kontrasepsi hormonal dan non hormonal yang digunakan oleh wanita usia subur (WUS)[5]. Dari penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa WUS yang menggunakan KB hormonal berpeluang menjadi hipertensi 1,198 kali dibandingkan dengan yang tidak memakai KB Hormonal, selain itu WUS yang memiliki IMT >= 25 kg/m2 berpeluang menjadi

hipertensi 2,272 kali dibandingkan dengan yang IMTnya < 25 kg/m2 [6]. Penelitian ini untuk

menganalisis faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada pengguna kontrasepsi di Puskesmas Tolangohula Kabupaten Gorontalo.

2.METODEPENELITIAN

Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan rancangan Cross Sectional Study. Lokasi penelitian adalah di wilayah kerja Puskesmas Tolangohula. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wanita usia subur (WUS) yang berada di Kecamatan Tolangohula yang berjumlah 1457 jiwa. Sampel adalah wanita usia subur yang menggunakan kontrasepsi berjumlah 303 sampel.

Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner kepada responden. Data sekunder diperoleh dari instansi kesehatan yaitu BKKBN Provinsi dan BKKBN Kabupaten. Instrument penelitian yang digunakan adalah kuesioner. Data tekanan darah diperoleh dengan pengukuran tekanan darah menggunakan sphygmomanometer. Data Indeks Massa Tubuh diperoleh melalui pengukuran Antropometri. Data berat badan diperoleh dengan menggunakan timbangan digital sementara pengukuran tinggi badan menggunakan microtoice.

Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Analisis univariat dilakukan untuk melihat gambaran distribusi dan frekuensi dari masing-masing variabel. Analisis bivariat dilakukan untuk menilai hubungan antara variabel. Uji statistik yang digunakan adalah Chi-square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05 serta menggunakan software program SPSS versi 16.0.

3.HASILPENELITIAN

Gambaran karakteristik pengguna kontrasepsi dalam penelitian ini ditunjukkan pada tabel 1. Untuk WUS (wanita usia subur) responden yang paling banyak berumur 21-25 tahun dan yang berumur 26-30

tahun yakni 24,4%. Untuk Pendidikan responden yang paling banyak yakni Tamat SD sebanyak 46,9%. Untuk Pekerjaan yang paling banyak berpekerjaan IRT 142 orang (47,9%). Untuk kejadian hipertensi paling banyak responden yang bukan hipertensi yakni sebanyak 196 orang (64,7%).

Tabel 1. Karakteristik WUS Pengguna Kontrasepsi di Tolangohula, Gorontalo

(7)

3

Tabel 2. Analisis Hubungan antara umur menikah, lama penggunaan kontrasepsi, jenis kontrasepsi dan IMT pada WUS pengguna kontrasepsi di Tolangohula, Gorontalo

Variabel Kejadian Hipertensi p value

Hipertensi Bukan Hipertensi Total

n % n % n %

4.1 Umur Menikah dengan Kejadian Hipertensi Hasil penelitian dengan analisis uji chi square menemukan bahwa tidak terdapat hubungan antara umur menikah dengan kejadian hipertensi meskipun ditemukan bahwa umur menikah < 21 tahun 35,5% menderita hipertensi. Hasil penelitian ini sejalan dengan Januar R dimana umur menikah terbukti tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian hipertensi dimana p = 1,000 [7]. Hasil ini tidak sejalan dengan penelitian sebelumnya di Kelurahan Sumbersari kabupaten Jember menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara umur menikah dengan kejadian hipertensi pada akseptor pil KB, dimana 32,86% akseptor pil KB yang berumur > 35 tahun mengalami hipertensi [8]. Meskipun umur menikah < 21 tahun yang menderita hipertensi lebih banyak 35,5%, namun masih lebih banyak umur menikah < 21 tahun yang menggunakan kontrasepsi tidak mengalami hipertensi. Hal ini dikarenakan rata-rata usia responden dalam penelitian masih berumur ≤ 35 tahun, sehingga risiko untuk terkena hipertensi lebih rendah meskipun ada faktor pemicu dari penggunaan kontrasepsi. Terjadi peningkatan tekanan darah seiring dengan bertambahnya usia yang disebabkan adanya perubahan alami pada jantung, pembuluh darah, dan hormone [9]. Hal ini didukung dari data hasil penelitian, dimana hanya 20,1% umur WUS > 35 tahun. Selain itu umur < 21 tahun tetapi tidak berisiko pada kejadian hipertensi ini dikarenakan

penggunaan kontrasepsi di gunakan pada saat sudah berumur > 21 tahun dan penggunaan kontrasepsinya Implant.

4.2 Lama penggunaan kontrasepsi dengan kejadian hipertensi

(8)

4 metabolisme elektrolit yang dapat mempercepat

adanya aterosklerosis dan memicu terjadinya hipertensi [11].

4.3 Jenis kontrasepsi dengan kejadian hipertensi Berdasarkan analisis data dengan menggunakan uji statistic Chi-Square maka diperoleh hasil p=0,130 Berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kontrasepsi dengan kejadian hipertensi pada WUS pengguna kontrasepsi. Akan tetapi dari analisis bivariat didapatkan bahwa 36,7% responden yang menggunakan kontrasepsi hormonal mengalami hipertensi dibandingkan yang menggunakan kontrasepsi non hormonal yang hanya 18,2%. Penelitian ini sejalan dengan Efi sriwahyuni di Surabaya, dimana diperoleh nilai p=0,438 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan jenis alat kontrasepsi hormonal yang digunakan dengan peningkatan tekanan darah [12]. Selain itu penelitian yang dilakukan oleh Lamria, dkk menemukan bahwa 25,9% pengguna jenis kontrasepsi pil mengalami hipertensi. Pengguna kontrasepsi pil akan berisiko 1,29 kali untuk mengalami hipertensi dibandingkan dengan yang hanya menggunakan kontrasepsi non hormonal [2]. Penyebab gejala timbulnya tekanan darah tinggi adalah karena pengaruh estrogen terhadap pembuluh darah sehingga terjadi hypertropi arteriole dan vasokonstriksi, selain itu estrogen mempengaruhi sistem Renin–Aldosteron-angiostensin sehingga terjadi perubahan keseimbangan cairan dan elektrolit.

Etinilestradiol (estrogen) merupakan penyebab

terjadianya hipertensi, progesteron memiliki pengaruh minimal terhadap tekanan darah, dijumpai peningkatan angiostensinogen dan angiostensin II. Etinilestradiol dapat meningkatkan angiostensinogen 3–5 kali kadar normal [13].

4.4 IMT dengan kejadian hipertensi

Analisis uji Chi Square menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara Indeks Massa Tubuh (IMT) terhadap kejadian obesitas pada WUS pengguna kontrasepsi. Analisis menunjukkan bahwa 58,3% responden dengan kategori obesitas mengalami hipertensi. Penelitian ini sejalan dengan Riska Agustina, dimana berdasarkan hasil uji statistik Chi

Square menunjukkan bahwa ada hubungan antara

kejadian obesitas dengan hipertensi usia produktif dengan nilai p = 0,038 (p < 0,05)[14]. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Litbangkes untuk melihat hubungan kontrasepsi pil dan faktor risiko lainnya terhadap kejadian hipertensi pada wanita usia 15-49 tahun di Indonesia menemukan bahwa 32,7% menderita obesitas dan berisiko 1,91 kali untuk menderita hipertensi [2].

Efek samping dari pemakaian alat kontrasepsi hormonal adalah penambahan berat badan. Hal tersebut disebabkan karena faktor hormonal. Akibat dari respons alat kontrasepsi terjadi peredaman retensi air dalam tubuh, sehingga terjadi kegemukan. Semakin lama penggunaan kontrasepsi maka akan

terjadi peningkatan berat badan atau IMT, karena komponen esterogen dapat menyebabkab restensi cairan, sedangkan komponen progestin memberikan efek nafsu makan, sementara pemakaian kontrasepsi suntik dan pil dalam jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan pada vagina, penurunan libido, gangguan emosi, dan sakit kepala. Disebabkan terjadi keseimbangan hormonal dalam tubuh serta kandungan dari hormon progestin yang membuat lendir rahim mengental. Kenaikan berat badan disebabkan karena hormon progesteron yang mempermudah terjadinya perubahan gula dan karbohidrat menjadi lemak, sehingga lemak banyak yang bertumpuk di bawah kulit, selain itu DMPA dapat merangsang pusat pengendali nafsu makan di hipotalamus yang dapat menyebabkan akseptor makan lebih banyak dari biasanya akibatnya pemakaian suntikan dapat menyebabkan berat badan bertambah [15].

5.KESIMPULANDANSARAN

Disimpulkan bahwa kejadian hipertensi pada umur menikah pertama kali < 21 tahun 35,5%, lama penggunaan kontrasepsi ≥ 3 tahun 41,7%, jenis kontrasepsi hormonal 36,7% dan IMT dengan kategori obesitas 58,3%. Terdapat hubungan antara lama penggunaan kontrasepsi dan IMT dengan kejadian hipertensi pada WUS pengguna kontrasepsi. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara umur menikah pertama kali dan jenis kontrasepsi dengan kejadian hipertensi pada WUS pengguna kontrasepsi.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan Bagi Petugas kesehatan sebaiknya memberikan pengarahan dan penyuluhan dalam memilih alat kontrasepsi yang sesuai dengan kondisi kesehatan. Perlunya sosialisasi dalam hal penggunaan kontrasepsi agar wanita usia subur mengetahui bahwa kejadian hipertensi juga dipengaruhi oleh kontrasepsi.

6.DAFTAR PUSTAKA

1. Bustan MN. Epidemiologi penyakit tidak menular. Jakarta; Rineka Cipta; 2007

2. Lamria Pangaribuan, Dina Bisara Lolong. Hubungan penggunaan kontrasepsi pil dengan kejadian hipertensi pada wanita usia 15-49 tahun di Indonesia tahun 2013. Jurnal media Litbangkes. 2015; 25 (2).

3. BKKBN. Profil Pembangunan Kependudukan dan KB Provinsi Gorontalo tahun 2015. 4. Hery Aryanti. Faktor-faktor yang berhubungan

dengan Penggunaan Kontrasepsi pada Wanita Kawin Usia Dini di Kecamatan Aikmel Kabupaten Lombok Timur [Tesis]. Universitas Udayana; 2014.

(9)

5 Penelitian Pengembangan Kesehatan

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2013.

6. Kristina, Lamria Pangaribuan, dan Dina Bisara. Hubungan Index Massa Tubuh dengan Hipertensi pada Wanita Usia Subur (Analisis Data RISKESDAS 2013). Jurnal media Litbangkes. 2015; 117-127.

7. Rico Januar S. Hubungan antara umur dan lama penggunaan terhadap keluhan kesehatan pada wanita usia subur. Jakarta: e.journal litbang.

8. Dewi Nafisah, Pudjo Wahjudi, Andrei Ramani. Factor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi pada akseptor pil KB di kelurahan Sumbersari Kabupaten Jember tahun 2014. E-jurnal pustaka kesehatan.2014;2(3):453-459

9. Baziad A. kontrasepsi hormonal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

10.Sugiharto. Faktor-faktor Risiko Hipertensi Grade II pada masyarakat. Studi kasus di kabupaten Karanganyar. 2007. [internet] available from: http://eprint.undip.ac.i [accessed 18 februari 2016].

11.Resty Amelia. Gambaran status Ph dan volume saliva pada pengguna kontrasepsi hormonal di kecamatan mappakasunggu kabupaten Takalar. Kedokteran UNHAS. 2013.

12.Efi Sriwahyuni dan Chatarina Umbul Wahyuni. Hubungan antara Jenis dan Lama Pemakaian Alat Kontrasepsi Hormonal dengan Peningkatan Berat Badan Akseptor.Surabaya. The Indonesian Journal of Public Health. 2012; 8 (3): 112-116.

13.Ganiswara S. Kontrasepsi hormonal dalam Farmakologi dan Terapy. Edisi 6.EGC: Jakarta;2006.

14.Riska Agustina dan Bambang Budi Raharjo. Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian hipertensi usia produktif (25-54 tahun). Semarang. 2015. [internet] available from: http://journal.unnes.ac.id [accessed 17 januari 2016].

Gambar

Tabel 1. Karakteristik WUS Pengguna Kontrasepsi di Tolangohula, Gorontalo
Tabel 2. Analisis Hubungan antara umur menikah, lama penggunaan kontrasepsi, jenis kontrasepsi dan IMT pada WUS pengguna kontrasepsi di Tolangohula, Gorontalo

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara keterampilan berpikir kritis dan

Hal ini sejalan dengan penelitian Sudarmawan (2011), yang menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara umur petani, pendidikan formal, pendidikan non formal,

Nilai tersebut menunjukkan bahwa pohon Pinus memiliki hubungan yang lebih signifikan dalam hubungan antara curah hujan dengan aliran batang jika dibandingkan dengan pohon yang

Temuan empiri yang terjadi di tiap-tiap fakultas di UM Jember (tabel 2) menunjukkan pengaruh signifikan secara partial kebutuhan prestasi terhadap intensi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat hubungan antara task commitment dengan hasil belajar matematika siswa kelas XI MAN Darussalam, semakin meningkatnya

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan dalam jangka panjang, sedangkan dalam jangka pendek tidak didapati hubungan signifikan dari variabel terikat

Sedangkan penelitian Wa Ode Dita Di Kelurahan Pasarwajo Kecamatan Pasarwajo Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara Tahun 2013 menyatakan terdapat hubungan antara umur ibu, umur melahirkan

Hasil penelitian yang diperoleh sejalan dengan di Fakultas Keperawatan Universitas Jember, menunjukkan hasil bahwa terdapat hubungan antara tingkat stres dengan kejadian insomnia dengan