ANALISIS HUBUNGAN ANTARA KEDALAMAN TANAH DENGAN KEMIRINGAN LERENG PADA BENTUKLAHAN LERENG BAWAH VULKANIK SUB DAS KODIL
PROVINSI JAWA TENGAH
Garri Martha Kusuma Wardhana
Junun Sartohadi [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengkaji distribusi kemiringan lereng, 2) mengkaji distribusi kedalaman tanah, 3) mengkaji hubungan antara kedalaman tanah dengan kemiringan lereng, dan 4) evaluasi deskriptif pemanfaatan lahan terkait dengan lereng dan kedalaman tanah pada bentuklahan lereng bawah vulkanik Gunungapi Sumbing di Sub DAS Kodil. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan pedogeomorfologi. Analisis hubungan antara kedalaman tanah dengan kemiringan lereng menggunakan tabel silang dan evaluasi deskriptif pemanfaatan lahan terkait lereng dan kedalaman tanah dilakukan dengan survai lapangan. Hasil penelitian menunjukkan klas sudut lereng tidak memiliki pola morfologi global dari lereng gunungapi. Klas sudut lereng 1 hingga klas sudut lereng 5 menunjukkan hubungan berbanding terbalik dengan klas kedalaman tanah, sehingga semakin besar sudut lereng maka semakin dangkal tanah dan sebaliknya. Pemanfaatan lahan di daerah penelitian terutama di lereng – lereng curam masih banyak dimanfaatkan untuk sawah. Hal ini akan menyebabkan ancaman erosi yang besar.
Kata kunci: Kemiringan lereng, kedalaman tanah, tabel silang, lereng bawah vulkanik, pemanfaatan lahan
ABSTRACT
This Study aims to 1) examine distribution of slope, 2) examine distribution of soil depth, 3) examine relationship between soil depth and slope, and 4) descriptive evaluation of landuse associated with soil depth and slope in downslope of Sumbing volcano in Kodil catchment area. This study use descriptive-qualitative method on pedeogeomorphological approach. Analysis of the relationship between soil depth and slope use crosstab. Descriptive evaluation of landuse associated with soil depth and slope use field survey methods. The results showed slope classes shows no pattern of global morphology of slopes of the volcano. Slope class 1 to class 5 showed the slope class is inversely related to soil depth class, thus the greater slope, the more shallow soildepth. Landuse in the research area, especially on steep slopes are still widely used for rice fields. It will cause a great threat of erosion.
Keyword: slope, soil depth, crosstab, downslope of volcanic, landuse
PENDAHULUAN
Definisi tanah dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang, baik dari geologi, geomorfologi, pertanian, peternakan, ataupun keteknikan. Tanah dari sudut pandang geomorfologi merupakan akumulasi tubuh alam yang memiliki sifat lepas-lepas yang menempati hampir seluruh bagian bumi, hasil lapukan bahan induk sebagai akibat dari pengaruh organisme dan iklim pada relief tertentu dan dalam jangka waktu yang panjang serta mampu untuk menumbuhkan tanaman (Jamulya & Suratman 1993).
Perkembangan tanah di permukaan bumi sangat bervariasi di setiap satuan bentuklahan (Malo dkk, 1974). Menurut Webb (1994) dalam Webb & Burgham (1997), pemetaan tanah seringkali menggunakan dasar batasan bentuklahan. Variasi perkembangan tanah tersebut muncul sebagai fungsi dari aspek relief, batuan induk dan asal proses bentuklahan. Aspek relief yang dicerminkan melalui lereng merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan pembentukan tanah, khususnya variasi kedalaman tanah.
Informasi kedalaman tanah sangat penting untuk diketahui terutama untuk pertanian, konservasi, perencanaan pembuatan jalan atau keteknikan lainnya. Faktor kedalaman tanah menentukan perencanaan konservasi tanah (Arsyad, 1989). Sebagai salah satu ciri morfologi tanah, faktor kedalaman tanah sangat mempengaruhi produktivitas tanaman. Tanaman akan sulit tumbuh jika kedalaman tanahnya dangkal terutama tanaman – tanaman keras yang memiliki akar tunggang. Kedalaman tanah dari sisi kebencanaan merupakan salah satu faktor penentu proses longsor, sehingga dapat digunakan sebagai dasar dalam pemetaan potensi longsor (Hardyatmo, 2006). Informasi data kedalaman tanah tersebut sangat penting, namun hingga saat ini ketersediaannya masih sangat kurang.
Distribusi kedalaman tanah secara spasial ditentukan oleh kemiringan lereng (Gessler dkk, 2000). Kemiringan lereng dapat diidentifikasi berdasarkan klas sudut lereng. Semakin besar sudut lereng maka kecepatan aliran permukaan semakin tinggi sehingga
mampu memindahkan material permukaan termasuk tanah menuju area yang ada dibawahnya yang lebih datar. Material tanah yang terangkut dari lereng atas dengan sudut lereng besar diendapkan pada area yang datar. Pengendapan material tanah pada area yang datar atau sudut lereng yang kecil terjadi tanah dengan kemiringan lereng adalah pada bentuklahan lereng bawah vulkanik. Bentuklahahn lereng bawah vulkanik merupakan bentuklahan hasil proses vulkanisme baik berupa intrusi maupun ekstrusi. Bentuklahan lereng bawah vulkanik menghasilkan detail toposekuen yang cukup jelas dari mulai puncak bukit, lereng atas, lereng tengah, lereng bawah hingga lembah. Perbedaan lereng yang cukup tegas pada bentuklahan lereng bawah vulkanik memudahkan dalam melakukan analisis kemiringan lereng. Kajian kedalaman tanah pada litologi material vulkanik Gunungapi muda juga masih sangat jarang dilakukan.
Lokasi bentuklahan lereng bawah vulkanik yang representatif untuk dikaji terletak di Sub DAS Kodil. Perkembangan bentuklahan lereng bawah vulkanik di Sub DAS Kodil sangat intensif yang ditandai dengan adanya material Gunungapi Sumbing muda yang tersebar diseluruh lokasi penelitian. Keragaman topografi pada bentuklahan lereng bawah vulkanik di Sub DAS kodil mencakup kemiringan lereng, morfologi, bentuk dan arah hadap lereng.
dapat menjelaskan tentang besaran kemiringan lereng, elevasi, proses yang terjadi, litologi dan umur batuan, material permukaan serta pengaruhnya terhadap kondisi lingkungan sekitar. Semua penjelasan inilah yang digunakan sebagai dasar untuk manajemen lahan yang didapat dari pendekatan bentuklahan. Manfaat lain pendekatan bentuklahan adalah untuk pemetaan tanah terutama kedalaman tanah karena proses geomorfologi yang bekerja pada bentuklahan melibatkan tanah yang menutup permukaan bumi. Satuan bentuklahan lereng bawah vulkanik yang ada di daerah penelitian perlu diketahui untuk melakukan analisis mengenai hubungan antara kedalaman tanah dengan klas sudut lereng.
Studi eksplanatif tentang soil-landscape relationship telah berkembang hampir di seluruh dunia. Parameter yang digunakan untuk studi ini juga bermacam – macam, diantaranya kedalaman tanah dengan kemiringan lereng, sifat fisik tanah dengan morfologi dan yang paling sering digunakan adalah sifat – sifat tanah dengan bentuklahan. Studi pembuktian teori terutama untuk hubungan antara kedalaman tanah dengan kemiringan lereng di Indonesia masih sangat sedikit terutama di daerah penelitian. Maka perlu dilakukan penelitian tentang hubungan antara kedalaman tanah dengan kemiringan lereng dan bagaimana distribusi kedalaman tanah pada tiap perbedaan klas lereng.
Tanah dan lereng dalam hal ini klas sudut lereng memiliki hubungan yang cukup kuat (Richard dkk, 1984). Analisis hubungan antara dua variabel yaitu kedalaman tanah dengan klas sudut lereng dapat dilakukan secara kuantitatif (statistik) maupun kualitatif deskriptif. Keunggulan analisis kuantitatif yaitu dapat menjelaskan angka besaran angka pengaruh variabel klas sudut lereng terhadap kedalaman tanah misalnya 0 sampai 100%. Kelemahan analisis kuantitatif jika ada data yang tidak wajar (outlier) akan tetap diperhitungkan jika belum dihilangkan serta jumlah data harus sesuai dengan statistik minimal 30 data. Keunggulan analisis kualitatif deskriptif adalah dapat digunakan dengan jumlah data yang terbatas dan dapat mewakili. Kelemahan analisis kualitatif
deskripitf tidak dapat menjelaskan besaran angka pengaruh variabel kemiringan lereng terhadap kedalaman tanah. Penelitian ini berupaya menggunakan metode analisa sederhana yang mampu menjelaskan secara logis dan informatif tentang hubungan antara bentuklahan, kemiringan lereng dan kedalaman tanah. deskriptif pemanfaatan lahan terkait dengan lereng dan kedalaman tanah pada bentuklahan lereng bawah vulkanik Gunungapi Sumbing di Sub DAS Kodil.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan pedogeomorfologi. Pembuatan peta kemiringan lereng dilakukan dengan analisis DEM dan survai lapangan. Pengambilan data distribusi kedalaman tanah dilakukan dengan survai lapangan. Analisis hubungan antara kedalaman tanah dengan kemiringan lereng menggunakan tabel silang dan evaluasi deskriptif pemanfaatan lahan terkait lereng dan kedalaman tanah dilakukan dengan survai lapangan.
Alat dan bahan yang digunakan adalah Peta Rupa Bumi Indonesia lembar 1408-231 Purworejo, lembar 1408-233 Kepil dan lembar 1408-511 Kaliangkrik Skala 1:25.000, kompas geologi dan abney level untuk menghitung kemiringan lereng, sekop dan sutil untuk membuat profil tanah, pita ukur untuk mengukur kedalaman tanah, GPS untuk melakukan ploting lokasi sampel.
tanah diukur dari permukaan hingga zona tembus akar ataupun batuan keras lapuk atau lapisan padas lainnya. Data kedalaman tanah diambil dengan mencari atau membuat profil di daerah yang memiliki lereng relatif miring dengan mengunakan sekop atau sutil. Kemiringan lereng diukur dengan menggunakan abney level atau kompas geologi. Data kemiringan lereng diambil pada titik yang sama dengan data kedalaman tanah. Data kedalaman tanah dan kemiringan lereng kemudian di klassifikasikan berdasarkan kondisi di lapangan (Tabel 1 dan Tabel 2).
Tabel 1. Klas Sudut Lereng Berdasarkan
3 III 4 – 7 Bergelombang
4 IV 7 – 12 Agak miring
5 V 12 – 20 Miring
6 VI >20 Curam
Sumber: Olah Data Sekunder, 2013
Tabel 2. Klasifikasi Kedalaman Tanah
Sumber: Olah data lapangan, 2013
Data klas sudut lereng dan kedalaman tanah dilakukan analisis tabulasi tabel silang. Tabel silang dapat digunakan untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel tersebut secara kualitatif. Pembuatan subkesatuan kedua variabel harus dilakukan batuan lapuk diklaskan berdasarkan pada hasil sampel kedalaman tanah dilapangan.
HASIL DAN PEMBAHASAN Distribusi Kemiringan Lereng
Kemiringan lereng pada bentuklahan vulkanik Gunungapi Sumbing di DAS Kodil cukup beragam. Nilai kemiringan lereng bervariasi antara 1o hingga 45o. Daerah penelitian didominasi oleh kemiringan lereng klas 1 (0 -2o), klas 3 (4 – 7o) dan klas 4 (7 – 12o) dengan persentase mencapai lebih dari 20% dari total luas wilayah penelitian (Tabel 3).
Tabel 3. Persentase Klas Sudut Lereng pada Bentuklahan Lereng Bawah Vulkanik Gunungapi Sumbing Sub DAS Kodil.
No.
Sumber: Olah Data Lapangan, 2013
Kemiringan lereng klas 1 mendominasi bagian utara dan barat daerah penelitian. Hal ini karena bagian utara dan barat bentuklahan lereng bawah vulkanik Gunungapi Sumbing merupakan puncak bukit dan batas sebelah barat dari DAS Kodil. Puncak bukit merupakan daerah yang memiliki morfologi datar hingga landau dengan rerata kemiringan lereng antara 0o hingga 3o. Daerah pada lembah – lembah sungai dibagian hulu dari bentuklahan lereng bawah vulkanik Gunungapi Sumbing didominasi oleh kemiringan lereng klas 5 (12 – 20o) dan klas 6 (>20o). Lembah – lembah sungai dibagian hulu memiliki lereng yang relatif curam karena proses erosi vertikal sangat dominan. Dominannya erosi vertikal oleh aliran sungai dibagian hulu menjadikan lembah berbentuk v curam.
memiliki lembah sungai berbentuk v lebar hingga u. Lembah sungai yang berbentuk u ini memiliki kemiringan lereng yang tidak terlalu curam. Bagian tengah didominasi oleh kemiringan lereng klas 1 dan klas 2 (2 – 4o). Daerah yang cukup datar di bagian tengah bentuklahan lereng bawah vulkanik Gunungapi Sumbing menjadikan proses limpasan permukaan yang tidak terlalu besar, terutama pada penggunaan lahan kebun campuran. Limpasan permukaan yang tidak terlalu besar menyebabkan proses translokasi material pun cenderung kecil.
Distribusi kemiringan lereng pada bentuklahan lereng bawah vulkanik Gunungapi Sumbing jika dilihat secara global seharusnya memiliki pola. Pola kemiringan lereng secara global pada bentuklahan vulkanik adalah semakin ke lereng bawah semakin landai. Kemiringan lereng jika dilihat secara lebih detail hanya pada daerah penelitian maka tidak terlihat adanya pola. Tidak adanya pola di daerah penelitian ini dipengaruhi oleh mirko relief di daerah penelitian. Mikro relief di daerah penelitian di kontrol oleh sistem sungai hulu dari Sub DAS Kodil. Sistem sungai hulu ini membuat relief di daerah penelitian bersifat bergelombang (rolling).
Distribusi Kedalaman Tanah
Gunungapi Sumbing cukup bervariasi. Kedalaman tanah mulai dari 1 m hingga lebih dari 3 m. Kedalaman tanah paling sering dijumpai di daerah penelitian adalah pada kedalaman 2 m hingga 3 m (Klas 3). Kedalaman tanah pada bentuklahan lereng bawah vulkanik Gunungapi Sumbing di Sub Das Kodil didominasi oleh klas 3 dan klas 4 (> 3 m). Kedalaman tanah klas 3 seluas 2.61 Km2 atau 45% dari luas total area penelitian. Kedalaman tanah klas 4 (> 3 m) seluas 2.47 Km2 atau 42% dari luas total area penelitian. Kedalaman tanah klas 2 (1 – 2 m) seluas 0.74 km2 atau 13% dari luas total area penelitian. Kedalaman tanah klas 1 (0 – 1 m) tidak ditemukan di area penelitian. Hal ini memperlihatkan bahwa kondisi kedalaman tanah pada bentuklahan lereng bawah vulkanik Gunungapi Sumbing relatif dalam.
Tabel 4. Luas Area Masing – Masing Klas Kedalaman Tanah pada Bentuklahan Lereng
Bawah Vulkanik Gunungapi Sumbing sub DAS Kodil
No. Klas KedalamanTanah (m) Luas Area (Km2)
1 1 (0 -1) 0.00
2 2 (1 - 2) 0.74
3 3 (2 - 3) 2.61
4 4 (> 3) 2.47
Sumber: Olah Data Lapangan, 2013
Gambar 1. Diagram Persentase Luas Klas Kedalaman Tanah
Distribusi kedalaman tanah pada bentuklahan lereng bawah vulkanik Gunungapi Sumbing dibagi menjadi lima bagian, yaitu bagian utara, bagian timur, bagian selatan, bagian barat dan bagian tengah. Kedalaman tanah bagian utara bentuklahan lereng bawah vulkanik Gunungapi Sumbing didominasi oleh klas 3 dan klas 4. Kedalaman tanah bagian utara bervariasi antara 2 m sampai lebih dari 3 m. Dalamnya kedalaman tanah pada bagian utara daerah penelitian dipengaruhi oleh lereng yang datar hingga bergelombang. Lereng yang cukup datar dibagian utara yang merupakan puncak bukit menjadikan proses erosi sangat kecil sekali terjadi sehingga tanah relatif dalam. Bagian utara yang letaknya lebih dekat dengan Gunungapi Sumbing juga menjadi faktor lain mengapa tanahnya relatif dalam. Hasil erupsi Gunungapi Sumbing yang berkembang menjadi tanah banyak terdapat di bagian utara daerah penelitian.
klas 2 hingga 4. Variasi kemiringan lereng menjadi penyebab bervariasinya kedalaman tanah di bagian timur daerah penelitian. Penyebab kedalaman tanah yang cukup dalam adalah bagian timur daerah penelitian merupakan bagian lembah atau titik elevasi terendah dimana proses sedimentasi terjadi. Proses sedimentasi berupa pengendapan material tanah pada daerah bawahnya membuat tanah menjadi dalam. Kedalaman tanah bagian selatan bentuklahan lereng bawah vulkanik Gunungapi Sumbing juga bervariasi mulai dari 1 m hingga 4 m. Bagian selatan daerah penelitian memiliki kemiringan lereng yang bervariasi sehingga menyebabkan kedalaman tanah juga bervariasi.
Kedalaman tanah bagian barat didominasi oleh klas 2, klas 3 dan klas 4 atau kedalaman antara 2 m hingga lebih dari 3 m. Bagian barat merupakan puncak bukit dengan lereng yang relatif datar sehingga kedalaman tanah relatif dalam hampir sama pada bagian utara daerah penelitian. Adanya kedalaman tanah klas 2 di bagian barat daerah penelitian salahsatunya disebabkan oleh material hasil erupsi Gunungapi Sumbing yang tidak sebanyak di bagian utara. Penyebab lain, yaitu di beberapa tempat di bagian barat daerah penelitian memiliki lereng yang dominan bergelombang sehingga terjadi proses erosi walaupun dengan intensitas yang tidak terlalu besar.
Kedalaman tanah bagian tengah lereng bawah vulkanik Gunungapi Sumbing memiliki kondisi yang hampir serupa dengan bagian timur dan selatan. Variasi kemiringan lereng menyebabkan kedalaman tanah di bagian tengah daerah penelitian juga bervariasi. Kedalaman tanah berkisar antara 1 m hingga lebih dari 3 m.
Kedalaman tanah secara teori memiliki pola, yaitu semakin ke arah hilir tanah akan semakin dalam. Daerah hilir merupakan daerah yang datar dan tempat sedimentasi material dari hulu. Proses sedimentasi ini yang membuat kondisi tanah di daerah hilir menjadi tebal. Daerah penelitian memiliki sistem sungai hulu – hilir. Bagian hulu terdapat di bagian utara dan barat daerah penelitian sedangkan bagian hilir terdapat di bagian selatan daerah penelitian. Terlihat pada Gambar 4.5. kondisi kedalaman
tanah semakin ke daerah hilir tidak semakin dalam. Beberapa lokasi di daerah hulu kondisi tanah justru dalam dan di daerah hilir kondisi tanah tidak terlalu dalam. Hal ini karena pola distribusi kedalaman tanah mengikuti pola distribusi kemiringan lereng. Kemiringan lereng di daerah hulu penelitian tidak selalu curam dan kemiringan lereng di daerah hilir penelitian tidak selalu datar sehingga kedalaman tanah pun tidak mengikuti pola semakin ke hilir semakin dalam. Asumsi lain tidak terpolanya kedalaman tanah hulu ke hilir adalah akibat dari hasil erupsi Gunungapi Sumbing. Semakin dekat dengan sumber letusan yaitu di daerah utara penelitian (hulu) maka semakin dalam kondisi tanahnya. Hasil erupsi Gunungapi Sumbing merupakan material pembentuk tanah di daerah penelitian.
Analisis Profil Melintang
Jalur transek yang digunakan untuk analisis berjumlah 3 karena 3 transek lainnya dibeberapa titik sampel kedalaman tanah belum ditemukan batuan dasar atau zona padas lainnya. Hasil transek yang diolah menjadi profil melintang akan memperlihatkan kecenderungan kedalaman tanah pada daerah yang memiliki lereng curam atau datar. Profil melintang juga dapat digunakan untuk analisis bentuk lereng yang juga berpengaruh terhadap kedalaman tanah.
cekung. Kondisi demikian terjadi pada jalur transek A – B (Gambar 2)
Tabel 5. Lokasi Transek A - B
No x y
z (mdpal)
Soil Depth (m)
Slope (o)
1 392917 9170879 661 2.38 10 2 393208 9170606 646 1.95 18 3 393504 9170308 640 2.3 16 4 393673 9170218 636 1.5 10 5 394224 9169890 627 2.8 7 6 394643 9169494 608 1.76 1
Sumber: Olah Data Lapangan, 2013
Gambar 2. Profil Melintang A – B.
Transek C – D dilakukan di bagian selatan daerah penelitian dengan azimuth 115o. Transek dilakukan dari bagian puncak hingga lembah. Transek C – D memiliki kedalaman tanah raata – rata lebih dari 2 m. kedalaman tanah pada lokasi lembah sungai mencapai lebih dari 3 m. Kondisi tanah yang dalam pada lembah sungai merupakan hasil dari sedimentasi material tanah dari lereng atasnya. Kondisi kemiringan lereng yang relatif datar juga menjadikan kondisi kedalaman tanah pada lembah sungai jalur transek C – D sangat dalam. Dalamnya kondisi tanah akan meningkatkan kapasitas menyimpan air yang dibutuhkan untuk perkembangan tanah. Titik terakhir jalur transek C – D memiliki kedalaman tanah yang tidak terlalu dalam dengan kemiringan lereng yang agak curam (Tabel 5). Lembah Sungai lokasi transek C – D memiliki batuan dasar breksi andesit namun tanah yang terbentuk berasal dari abu Gunungapi Sumbing yang memiliki tekstur geluh berpasir. Tekstur geluh berpasir memiliki ikatan antar partikel yang lemah namun materialnya lebih halus dari
pasir sehingga mudah mengalami translokasi oleh air menuju lereng yang ada di bawahnya.
Tabel 6. Lokasi Transek C - D
No x y
z (mdpal)
Soil Depth (m)
Slope (o)
1 392768 9168520 574 2.7 7 2 392968 9168491 568 2.2 14 3 393248 9168507 563 1.75 14 4 393531 9168432 552 3.98 3 5 393821 9168378 554 2.98 10 6 394175 9168282 532 1.76 22
Sumber: Olah Data Lapangan, 2013
Gambar 3. Profil Melintang C – D.
Transek yang terakhir adalah transek E – F. Jalur transek E – F berada di bagian timur daerah penelitian dengan azimuth 180o atau dari utara ke selatan. Jalur transek E – F memiliki karakteristik yang sama dengan jalur transek A – B. Jalur transek E – F memiliki lereng cekung dengan kemiringan lereng yang agak curam dan cembung dengan kemiringan lereng yang landau. Kondisi kedalaman tanah pada jalur transek E – F berkisar antara 1.7 m hingga lebih dari 3 m. Kondisi tanah yang dalam karena kemiringan lereng landai hingga bergelombang mendominasi (Tabel 6).
Tabel 7. Lokasi Transek E – F
No x y
z (mdpal)
Soil Depth (m)
Slope (o)
5 394024 9168652 538 3 9 6 394161 9168124 520 2.13 9
Sumber : Olah Data Lapangan, 2013
Gambar 4. Profil Melintang E – F
Analisis Tabel Silang
Hasil tabel silang menunjukkan bahwa klas lereng 1 (0 – 2o) dan klas lereng 2 (2 – 4o) memiliki klas kedalaman tanah 4 (> 3 m). Klas lereng 3 (4 – 7o) memiliki klas kedalaman tanah 3 (2 – 3 m) dan klas kedalaman tanah 4 (> 3 m) dengan persentase jumlah berturut – turut 80% dan 20%. Angka 80% dan 20% berarti pada poligon klas lereng 3 kemungkinan menemukan kedalaman tanah 2 – 3 m adalah 80% sedangkan 20% sisanya adalah lebih dari 3 m. Klas lereng 4 (7 – 12o) memiliki klas kedalaman tanah 2 (1 – 2 m) dan klas kedalaman tanah 3 dengan persentase jumlah berturut – turut 25% dan 75%. Klas lereng 5 memiliki klas kedalaman tanah 2 sebesar 57% dan klas kedalaman tanah 3 sebesar 43%, sehingga klas lereng 5 memiliki kedalaman tanah berkisar antara 1 hingga 3 m. Klas lereng 6 memiliki klas kedalaman tanah 2 sebesar 50% dan klas kedalaman tanah 3 sebesar 50%. Kemungkinan menemukan kedalaman tanah 1 – 2 m dan 2 – 3 m di klas lereng 6 adalah 50% berbanding 50%.
Klas lereng 1 hingga klas lereng 5 menunjukkan hubungan berbanding terbalik dengan klas kedalaman tanah (Tabel 7). Klas lereng yang semakin besar maka klas kedalaman tanah semakin kecil. Klas lereng 1 dan 2 berada pada klas kedalaman tanah 4. Klas lereng 3 dan 4 berada pada klas kedalaman tanah 3. Klas lereng 5 berada pada klas kedalaman tanah 2. Hal ini menunjukkan
bahwa pada bentuklahan lereng bawah vulkanik Gunungapi Sumbing semakin besar kemiringan lereng maka semakin dangkal kedalaman tanah dan sebaliknya. Lereng yang merupakan representasi dari salahsatu faktor pembentuk tanah, yaitu relief, mampu mengontrol persebaran kedalaman tanah pada klas lereng 1 hingga 5. Kondisi berbeda terjadi pada Klas lereng 6. Klas lereng 6 memiliki kedalaman tanah yang cukup dalam yaitu klas 2 dan klas 3. Hal ini menunjukkan bahwa kemiringan lereng tidak terlalu berpengaruh terhadap kedalaman tanah. Ada faktor – faktor lain yang mengontrol kedalaman tanah seperti iklim, bahan induk tanah, bentuk dan arah hadap lereng, penggunaan lahan, aktivitas organisme dan aktivitas manusia yang belum diperhatikan. Artinya kemiringan lereng menjadi faktor utama dan mampu mengontrol kedalaman tanah namun dalam kondisi tertentu kemiringan lereng bukan faktor utama dalam menentukan kedalaman tanah.
Tabel 8. Tabel Silang Hubungan antara Kedalaman Tanah dengan Kemiringan Lereng Bentuklahan Lereng Bawah Vulkanik Gunungapi Sumbing
Klas
Sumber: Olah Data Lapangan, 2013
Tabel 9. Evaluasi Pemanfaatan Lahan pada Bentuklahan Lereng Bawah Vulkanik Gunungapi Sumbing
(27%), Sawah (41%) Kebun, Hutan Tidak
5 (12o - 20o)
Kebun (38%), Pemukiman
(29%), Sawah (33%) Kebun, Hutan Sesuai
2
(35%), Sawah (35%) Kebun, Hutan Tidak
3 (4o - 7o)
Kebun (29%), Pemukiman
(30%), Sawah (41%) Kebun, Hutan Tidak
3 4 (>3 m) 2 (2o - 4o) Sumber: Olah Data Lapngan, 2013.
Evaluasi Pemanfaatan Lahan
Hasil pengamatan dilapangan menunjukkan pada lereng – lereng yang curam (klas sudut lereng 6) dan tanah yang tidak terlalu dalam (klas kedalaman tanah 2) masih banyak digunakan untuk penggunaan lahan sawah (Tabel 8). Hal ini akan berdampak pada terjadinya erosi. Lereng – lereng yang curam dengan penggunaan lahan sawah menjadikan air yang jatuh ke tanah lebih banyak menjadi limpasan permukaan. Lereng – lereng yang curam seharusnya digunakan untuk kebun atau tanaman tahunan agar limpasan permukaan kecil dan kapasitas infiltrasi besar. Pemanfaatan lahan untuk tanaman tertentu untuk mencegah terjadinya erosi biasa disebut sebagai teknik konservasi tanah secara vegetatif (Sartohadi dkk, 2012).
Pemanfaatan lahan pada lereng yang landai dan datar pada klas sudut lereng 2 dan klas sudut lereng 1 sudah sesuai. Pemanfaatan lahan yang sesuai dapat mengurangi ancaman erosi. Pemanfaatan lahan pada lereng landai dan datar digunakan untuk sawah, pemukiman dan beberapa kebun. Lereng – lereng yang datar dan landai mampu menurunkan laju limpasan permukaan. Kedalaman tanah yang dalam dan bertekstur pasiran mampu meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah.
Distribusi kemiringan lereng pada bentuklahan lereng bawah vulkanik Gunungapi Sumbing bervariasi mulai dari 1o hingga 45o. Bagian utara dan barat didominasi klas lereng 1 (0 – 2o). Bagian selatan dan timur didominasi oleh kemiringan lereng klas 3 (4 – 7o) dan klas 4 (7 – 12o). Distribusi kedalaman tanah pada bentuklahan lereng bawah vulkanik Gunungapi Sumbing bervariasi mulai dari 1 hingga lebih dari 3 m. Kedalaman tanah bagian utara didominasi oleh klas 3 (2 – 3 m) dan klas 4 (> 3 m). Kedalaman tanah bagian selatan, timur dan tengah didominasi oleh klas 2 (1 – 2 m) dan klas 3 (2 – 3 m). Kedalaman tanah bagian barat didominasi oleh klas 2 (1 – 2 m), klas 3 (2 – 3 m) dan klas 4 (> 3 m).
Nilai kedalaman tanah akan semakin besar seiring dengan semakin kecilnya nilai kemiringan lereng pada bentuklahan lereng bawah vulkanik Gunungapi Sumbing. Kemiringan lereng merupakan faktor utama dalam mengontrol kedalaman tanah pada bentuklahan lereng bawah vulkanik Gunungapi Sumbing, namun pada kondisi tertentu kemiringan lereng bukan faktor utama penentu kedalaman tanah. Faktor yang perlu dipertimbangkan adalah iklim, bahan induk tanah, bentuk dan arah hadap lereng, penggunaan lahan, aktivitas organisme dan aktivitas manusia.
Pemanfaatan lahan di lereng bawah vulkanik Gunungapi Sumbing masih belum sesuai tertutama di daerah – daerah dengan morfologi yang cukup curam.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. IPB Press: Bogor
Gessler, P.E., O.A. Chadwick, F. Charman, L. Althouse, & K. Holmes. 2000. Modeling Soil-Landscape and Ecosystem Properties Using Terrain Attributes. Soil Science Society of America Journal vol. 64 No. 6, p. 2046 – 2056. Soil Science Society of America: Madison
Jamulya & Suratman. 1993. Pengantar Geografi Tanah. Fakultas Geografi UGM: Yogyakarta
Malo, D.D., B.K. Worcester, D.K. Cassel, & K.D. Matzd. 1974. Soil-Landscape Relationships in a Closed Drainage System. Soil Science Society of America Journal vol. 38 No. 5, p. 813 – 818. Soil Science Society of America: Madison
Richards, K. 1984. Geomorphology and Soils. George Allen & Unwin Ltd.: London Sartohadi, J., Jamulya, & N.I.S. Dewi. 2012.
Pengantar Geografi Tanah. Pustaka Pelajar: Yogyakarta