• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN TAREKAT DI MANDAILING NATAL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERKEMBANGAN TAREKAT DI MANDAILING NATAL"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN TAREKAT DI MANDAILING NATAL

A. Pendahuluan

Menjelang penghujung abad XIII, ketika tasawuf menjadi corak pemikiran yang dominan di dunia Islam, dan tarekat sedang berada di puncak kejayaannya, proses islamisasi di Indonesia mulai menampakkan hasilnya secara budaya dan politik.1 Dalam proses islamisasi tersebut peranan para sufi

sangat besar. Jika sebelumnya, ketika dilakukan oleh para pendakwah dan pedagang, islamisasi belum bisa menembus entitas politik dan kekuasaan, islamisasi hanya berkisar pada islamisasi masyarakat dan budaya saja. Namun, ketika proses itu melibatkan sejumlah para sufi dengan pendekatan sufistik (mistik), mereka mampu mengislamkan para raja di Indonesia, kemudian diikuti oleh rakyatnya. Proses ini kemudian dilanjutkan oleh para ulama Nusantara yang belajar di pusat- pusat peradaban Islam, khususnya di Makkah, Madinah, dan Mesir. Mereka masuk dalam jaringan ulama Dunia Islam, yang peran sebagian mereka tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di wilayah lainnya. Para ulama Nusantara di Haramayn, setelah menuntut ilmu beberapa waktu sebagian mereka kembali ke tanah air, namun tidak sedikit pula yang bermukim di Haramayn.2

Pengabdian dan perjuangan mereka diwujudkan dengan membentuk berbagai lembaga keagamaan, sebagai wadah dan sarana pembinaan dan praktik keagamaan. Kemudian muncul pusat-pusat pendidikan dan praktik-praktik keagamaan, seperti madrasah, pesantren, tarekat dan persulukan, yang sampai sekarang sebagiannya masih tetap eksis dalam masyarakat. Dalam pembahasan ini, akan dibatasi kajian hanya pada perkembangan tarekat di

1 Martin van Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1996), hlm.15.

(2)

Mandailing Natal saja, jenis tarekat apa saja yang ada di Mandailing Natal, serta siapa saja gurunya.

B. Pembahasan

1. Pengertian Tarekat

Kata tarekat berasal dari bahasa Arab yaitu “thariqah” yang berarti jalan, keadaaan, aliran atu garis pada sesuatu. Tarekat adalah “jalan” yang ditempuh para sufi, dapat pula digambarkan jalan yang berpangkal dari syari’at sebab jalan utamanya syar’, sedangkan anak jalan disebut thariq. Ini menunjukkan bahwa menurut tanggapan para sufi, pendidikan mistik merupakan cabang dari jalan utama yang terdiri dari hukum Ilahi, tempat berpijak bagi setiap muslim. Tak mungkin ada anak jalan bila tidak ada jalan utama tempat berpangkal. Pengalaman mistik tak mungkin didapat bila perintah syari’at yang mengikat itu tidak ditaati.3

Menurut Harun nasution, tarekat berasal dari kata thariqah, yang artiny jalan yang harus ditempuh oleh sesorang sufi agar ia berada sedekat mungkin dengan Allah. Tariqah kemudian mengandung orgnanisasi (tarekat). tiap tariqat mempunyai syaikh, upacara ritual, dan bentuk zikir sendiri. Sejalan dengan ini, Martin Van Bruinessen manyatakan istilah “tarekat” paling tidak dipakai untuk dua hal yang secara konseptual berbeda. Maknanya yang asli merupakan panduan yang khas dari doktrin, metode, dan ritual. Akan tetapi, istilah ini serung dipakai untuk mengacu pada organisasi yang menyatukan pengikut-pengikut “jalan” tertentu. Di Timur Tengah, istilah “ta’rifat” terkadang lebih disukai untuk organisasi, sehingga lebih mudah untuk membedakan antara yang satu dan yang lain. Akan tetapi, di Indonesia kata tarekat mengacu pada keduanya.4

Adapun tarekat menurut ulama shufi Shaikh Muhammad Amin al-Kurdi al-Irbili al-Syafi’I al-Naqsabandi dalam kitab Tanwir al-Qulub

adalah:

(3)

“tarekat adalah beramal dengan syari’at denagn mengambil/memilih yang azimah (berat) daripada yang rukh’ah (ringan): menjauhkan diri dari semua larangan syariat lahir dan batin , melaksanakan semua perintah Allah swt semampunya , menunggalkan semua larangan-Nya baik yang haram, makruh atau mubah yang sia-sia, melaksanakan semua ibadah fardlu dan sunah, yang semuanya ini di bawah arahan, naungan dan bimbingan seorang guru/ syaikh/ mursyid yang arif yang telah mencapai maqamnya (layak menjadi seorang shaykh/ murshid).

Dari defenisis tentang mistik, ataupun pokok-pokok ajaran tasawuf yang diungkapkan oleh Rabi’ah al-‘Adawiyah dan al-Ghazali bahwa tujuan utama yang menjdi pusat ideal orang-orang yang menjalankan laku mistik atau tasawuf adalah mendapatkan penghayatan ma’rifat langsung pada zat Allah atau zat mutlak. Para sufi lebih sering menamakan Zat Allah sebagai a-haqq atau Haqiqah Zat Yang Nyata (the Reality). Yakni realitas Mutlak yang bias dihayatinya. Hanya saja mata manusia menurut al-Ghazali tidak akan bias menangkap cahaya Tuhan lantaran terlalu terang. Maka yang bia menangkap dan menghayati Zat Tuhan dan alam gaib adalah kalbu (mata hati), yakni jiwa manusia. Dengan demikikian yang menjadi pusat dalam ajaran tasawuf adalah penghayatan kasyaf. Yaitu penghayatan ecstasy atau istilah tasawufnya fana’ dan ma’rifat. Yakni berarti kajiwaan. Oleh karena itu jalan yang harus ditempuhnya adalah meditasi konsentrasi di dalam zikir pada Allah. Dalam tasawuf manuju Tuhan ini dinamakan dengan tarekat. Yang dalam bahasa Inggrisnya dinamakan the path , menurut . R.A. Nicholson

(4)

he advances by slow ‘stages’ (maqamat) along a ‘path’ (tariqat) to the goal of union with Reality (fana’ fi’l-Haqq). 5

2. Sejarah Perkembangan Tarekat Di Indonesia

Ditinjau dari historisnya, kapan dan tarekat mana yang mula-mula timbul sebagai suatu lembaga sulit diketahui dengan pasti. Namun Harun Nasution menyatakan bahwa setelah Al- Ghazali menghalalkan tasawuf yang sebelumnya dikatakan sesat, tasawuf berkembang di dunia Islam, tetapi perkembangannya melalui tarekat. tarekat adalah organisasi dari pengikut sufi-sufi besar yang bertujuan untuk melestarikan ajaran-ajaran tasawuf gurunya. Tarekat ini memakai suatu tempat pusat kegitan yang disebut ribat (disebut juga zawiyah, hangkah atau pekir). Ini merupakan tempat para murid berkumpul melestarikan ajaran tasawufnya, ajaran tasawuf walinya, dan ajaran tasawuf syaikhnya.6

Organisasi serupa mulai timbul pada abad XII M, tetapi belum baru tampak perkembangannya pada abad berikutnya. Disamping untuk pria, ada juga tarekat untuk wanita, tetapi tidak berkembang dengan baik seperti pada pria.7 Pada awal kemunculannnya, tarekat berkembang dari dua daerah, yaitu Khurasan (Iran) dan Mesopotamia (Irak).

Berbicara tentang perkembangan tarekat di Indonesia tentu tidak akan bisa lepas dari agama Islam berasal. Islam berasal dari jazirah Arab dibawa oleh Rasulullah, kemudian diteruskan masa Khulafa ar-Rasyidin

5Simuh, Tasawuf Dan Perkembangannya Dalam Islam (Jakarta: Grafindo Media Persada, 2002), hlm.39-40.

6 Harun Nasution, Perkembangan Ilmu Tasawuf di Dunia Islam, (Jakarta: Depag, 1986), hlm 24.

(5)

ini mengalami perkembangan yang pesat. Penyebarluasan Islam ini bergerak ke seluruh penjuru dunia. Islam datang membawa rahmat bagi seluruh umat manusia.8 Sebenarnya membicarakan tarekat, tentu tidak bisa terlepas dengan tasawuf karena pada dasarnya Tarekat itu sendiri bagian dari tasawuf. Di dunia Islam tasawuf telah menjadi kegiatan kajian keislaman dan telah menjadi sebuah disiplin ilmu tersendiri. Landasan tasawuf yang terdiri dari ajaran nilai, moral dan etika, kebajikan, kearifan, keikhlasan serta olah jiwa dalam suatu kehkusyuan telah terpancang kokoh. Sebelum ilmu tasawuf ini membuka pengaruh mistis keyakinan dan kepercayaan sekaligus lepas dari saling keterpengaruhan dengan belasan abad sesudah adanya contoh kongkrit pendekatan kepada Allah yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. kemudian diteruskan oleh sahabat-sahabatnya, tabiin, lalu tabi’it taabiin dan seterusnya sampai kepada Auliyaullah, dan sampai sekarang ini. Garis yang menyambung sejak nabi hingga sampai Syaikh tarekat yang hidup saat ini yang lazimnya dikenal dengan Silsilah tarekat. Tumbuhnya tarekat dalam Islam sesungguhnya bersamaan dengan kelahiran agama Islam, yaitu ketika nabi Muhammad SAW diutus menjadi Rasul. Fakta sejarah menunjukkan bahwa pribadi nabi Muhammad SAW sebelum diangkat menjadi Rasul telah berulang kali bertakhannus atau berkhalwat di gua Hira. Disamping itu untuk mengasingkan diri dari masyarakat Mekkah yang sedang mabuk

(6)

mengikuti hawa nafsu keduniaan. Takhannus dan khlalwat Nabi adalah untuk mencari ketenangan jiwa dan kebersihan hati dalam menempuh problematika dunia yang kompleks. Proses khalwat yang dilakukan nabi tersebut dikenal dengan tarekat. Kemudian diajarkan kepada sayyidina Ali RA. dan dari situlah kemudian Ali mengajarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya sampai akhirnya sampai kepada Syaikh Abd Qadir Djailani, yang dikelal sebagai pendiri Tarekat Qadiriyah. 9

Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad bin ‘Ali mengatakan bahwa : Tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan/ maqamat. Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, Pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brother hood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah. Bila ditinjau dari sisi lain tarekat itu mempunyai tiga sistem, yaitu: system kerahasiaan, sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub.

Kekurangan informasi yang bersumber dari fakta peninggalan agama Islam. Para kiai dan ulama kurang dan bahkan dapat dikatakan tidak memiliki pengertian perlunya penulisan sejarah.10 Tidaklah mengherankan bila hal ini menjadi salah satu sebab sulitnya menemukan fakta tentang masa lampau Islam di Indonesia. Islam di Indonesia tidak

9Mashajirismail” Sejarah Perkembangan Tariqat di Indonesia” http://www.al-aziziyah.com/opini/64-pendidkan/100-thariqah-mutabarah.html diakses pada 25 April 2016.

(7)

sepenuhnya seperti yang digariskan Al-Qur’an dan Sunnah saja, pendapat ini didasarkan pada kenyataan bahwa kitab-kitab Fiqih itu dijadikan referensi dalam memahami ajaran Islam di perbagai pesantren, bahkan dijadikan rujukan oleh para hakim dalam memutuskan perkara di pengadilan pengadilan agama.11

Islam di Asia Tenggara mengalami tiga tahap : Pertama, Islam disebarkan oleh para pedagang yang berasal dari Arab, India, dan Persia disekitar pelabuhan (Terbatas). Kedua : datang dan berkuasanya Belanda di Indonesia, Inggris di semenanjung Malaya, dan Spanyol di Fhilipina, sampai abad XIX M; Ketiga : Tahap liberalisasi kebijakan pemerintah Kolonial, terutama Belanda di Indonesia.12 Indonesia yang terletak di antara dua benua dan dua samudra, yang memungkinkan terjadinya perubahan sejarah yang sangat cepat. Keterbukaan menjadikan pengaruh luar tidak dapat dihindari. Pengaruh yang diserap dan kemudian disesuaikan dengan budaya yang dimilikinyam, maka lahirlah dalam bentuk baru yang khas Indonesia. Misalnya : Lahirnya tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah, dua tarekat yang disatukan oleh Syaikh Ahmad Khatib As-Sambasy dari berbagai pengaruh budaya yang mencoba memasuki relung hati bangsa Indonesia, kiranya Islam sebagai agama wahyu berhasil memberikan bentukan jati diri yang mendasar. Islam berhasil tetap eksis di tengah keberadaan dan dapat dijadikan symbol kesatuan. Berbagai agama lainnya hanya mendapatkan tempat disebagian kecil rakyat Indonesia. Keberadaan Islam di hati rakyat Indonesia

11 Ajid Thohir Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam Jakarta:Rajawali Press, Cet I 2004hal 292.

(8)

dihantarkan dengan penuh kelembutan oleh para sufi melalui kelembagaan tarekatnya, yang diterima oleh rakyat sebagai ajaran baru yang sejalan dengan tuntutan nuraninya.13

3. Perkembangan Tarekat di Mandailing Natal

Perkembangan tarekat di Mandailing Natal tidak terlepas dari perkembangan dan penyebaran Islam di Mandailing Natal. Mandailing Natal dijuluki sebagai “serambi Mekkah” didasarkan banyaknya ulama besar di Mandailing Natal yang telah melakukan dakwah agama Islam. Banyak ulama-ulama di Mandailing Natal yang memiliki prestasi luar biasa dalam bidang pengembangan dan pengamalan ajaran islam. Beberapa di antara ulama Mandailing ada yang berkiprah di Semenanjung Malasyia dan tanah suci Mekah al Mukarromah. Dalam makalah ini penulis akan menguraikan tentang sejarah Mandailing Natal, latar belakang dan sejarah masuknya islam di Mandailing Natal, proses penyebaran islam, bukti-bukti peninggalan agama Islam serta para ulama-ulama yang berperan dalam penyebaran agama islam di Mandailing Natal. Jika kita menoleh ke masa lalu Madina, ada baiknya kita mulai dari tahun 1365, karena pada tahun itu Mpu Prapanca, sejarawan Majapahit, selesai menulis satu karya sejarah yang secara gambling menyebutkan keberadaan Mandailing sebagai bagian yang penting di Nusantara. Karya sejarah itu adalah Negarakertagama. Hal ini menunjukkan bahwa Mandailing telah lama dikenal oleh dunia luar. Prof.Muhammad Yamin, S.H. didalam bukunya Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945, menyebutkan bahwa seluruh wilayah yang disebutkan oleh Mpu Prapanca di dalam Negarakertagama adalah wilayah

Tumpah Darah Nusantara/Indonesia.

(9)

Mandailing adalah nama sebuah wilayah terletak di bagian paling selatan dan bagian barat wilayah propinsi Sumatera Utara, berbatasan sengan propinsi Sumatera Barat. Mandailing terletak 00 13’30”-01 20’24’’ lintang utara dan 98 50’30’’-99 57’19’’ bujur timur dengan batas wilayah: sebelah utara barbatasan daerah kabupaten Tapanuli selatan (kecamatan Batang Angkola, Barumun, Padang sidimpuan Barat, Sosopan, dan Kecamatan Siais). Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Tapanili selatan (kecamatan Sosa) dan Kabupaten Pasaman Propinsi Sumatera Barat. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten pasaman Peropisnsi Sumatera Barat dan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Batang Natal dan Kecamatan Natal Kabupaten Mandailing Natal (Madina).14

Sebelum wilayah Mandailing menjadi kabupaten 1998, masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan. Berdirinya Kabupaten Mandailing Natal dan terpisah dari Kabupaten sebelumnya merupakan perjuangan yang panjang dilakukan oleh bangsa (suku) Mandailing sejak masa Kolonial Belanda. Perjuangan ini dimulai dari keinginan adanya suatu pemerintahan tersendiri yang mencerminkan identitas social, budaya, dan politik serta agama yang di anut oleh suku bangsa Mandailing. Jika dilihat pada latar sejarah, bahwa sekitar Sembilan abad yang lalu telah muncul nama Mandailing dan telah dikenal oleh dunia luar. Pada zaman Majapahit, daerah ini telah di kenal sebagai bagian dari Nusantara. Hal ini terungkap pada syair ke-13 Ztanza pertama di dalam buku Negarakartagama karya pujangga Majapahit Mpu Prapanca yang terbit tahun 1395 (Harahap, 1997:25).

Kabupaten Madina merupakan daerah penyangga antara dua komunitas yang berbeda sistem kekerabatannya, yaitu Batak Toba di Tapanuli Utara yang menganut sistem patrilinealdan minangkabau yang menganut sistem matrilineal di Sumatera Barat. Orang Batak Toba masih

(10)

kuat mengamalkan nilai-nilai budaya batak. Sedangkan Minangkabau di Selatan, memeluk agama islam dan memegang teguh tradisi Minangkabau. Orang mandailing akulturasi budaya dari kedua komunitas itu.15

Banyak pendapat yang berbeda seputar cikal sebutan nama Natal bagi kota Natal yang kini terletak di pesisir Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Ada yang menyebut sebutan Natal kali pertama dituliskan oleh bangsa Portugis yang datang ke Pantai Barat. Ada pula yang menyebut kata Natal berasal dari ungkapan bahasa Mandailing: Nadatarida atau juga ada yang menyebut ungkapan bahasa Minangkabau: Tanah nan Data(r).

Puti Balkis Alisjahbana (adik kandung Sutan Takdir Alisjahbana) mengatakan kata Natal berasal dua ungkapan pendek masing-masing dari bahasa mandailing dan Minangkabau. Ungkapan bahasa Mandailing Natarida (yang terlihat) dari lereng Sorik Marapi. Menginagtkan kita ketika orang Mandailing memandang dari kawasan lereng gunung sorik marapi ke arah hamparan Natal. Sampai kini masih banyak orang mandailing menyebut Natal dengan sebutan Nata r (Alisjahbana,1996:42-44). Ungkapan bahasa Minangkabau ranah nan data(r) yang artinya daerah yang datar (Alisjahbana,1996:43).

M. Joustra, tokoh Bataks Institut, juga menulis Natal dengan sebutan Natar dalam tulisannya De toestanden in Tapanoeli en de Regeeringscommissie (1917). Lebih tua dari itu adalah laporan perjalanan dan penelitian Dr S Muler dan Dr L Horner di Mandailing tahun 1838. mereka menggambarkan keadaan Air Bangis yang dikuasai Belanda sejak tahun 1756 dan Natar yang dikuasai Inggris 1751-1756 (Muller,1855:63,84/Madina Madani,2004).

(11)

Ungkapan bahasa Minangkabau ranah nan datar kemudian menjadi Nata (r) yang artinya daerah pantai yang datar adalah salah satu versi tentang asal-muasal nama Natal. (Alisjahbana, 1996:43)

a. Tarekat di Kabupaten Mandailing Natal

Tarekat di Mandailing Natal memang cukup banyak dimana di Mandailing Natal terdapat berbagai tempat yakni diantaranya desa Simaninggir, Saba Purba, Maga, Huta Godang, Huta Tinggi, dan lain sebagainya. Akan tetapi perguruan tarekat tersebut yang masih aktif hingga sekarang adalah di desa Simaninggir kecamatan Siabu, namun untuk desa yang lain dengan alasan gurunya sudah meninggal jadi tidak ada yang meneruskan tarekat tersebut. Untuk alasan yang lain juga yaitu gurunya tidak ada karena gurunya di penjara karena kasus tindakan asusila kepada anak yang dibawah umur, yakni tarekat yang ada di desa Saba Purba. Untuk desa yang lainnya memiliki alas an yang sama yaitu tidak ada lagi penerus gurunya setelah gurunya meninggal walaupun anak guru tersebut masih hidup.

Berdasarkan perjalanan penulis dari desa Simaninggir merupakan daerah yang terletak di kecamatan Siabu sekitar 200 meter dari pinggir jalan, yang mana di desa Simaninggir ini terdapat dua tarekat yakni tarekat naqsabandiyah dan tarekat Samman. Kedua tarekat ini pertama kali dibawa oleh Syeh H. Bahauddin pada tahun 1930. Syeh ini berguru ke Tolang. Setelah itu Syeh tersebut kemudian mengamalkan ilmu yang dimilikinya pertama kepada istrinya yang bernama Tiambat anaknya bernama SyehMuktar, kemudian kepada masyarakat baik yang berada bi desanya maupun dari desa lain yang datang untuk berguru.

(12)

kemudian tidak berapa lama setelah ayahnya menikah pada tahun 1985 Syeh Muktar menikah dengan seorang perempuan yang bernama Shalehah, yang mana pada masa itu Shalehah masih berumur 22 tahun kemudian istri dari Syeh tersebut pun mengikuti tarekat yang diajarkan oleh suaminya. Tarekat yang mereka ajarkan sudah sekitar 31 tahun adapun tarekat yang diajarkan itu tetap tarekat naqsabandiyah dan tarekat samman.

Adapun murid dari kedua tarekat ini sekitar 100 orang , dimana pelaksanaan kedua tarekat ini dilaksanakan pada bulan 10 hari dibulan Sa’ban , 30 hari bulan Ramadhan , dan 10 hari dibulan Haji. Kemudian untuk pelaksanaan tarekat naqsabandiyah lebih lama dari tarekat sammanniyah. Namun untuk muridnya lebih banyak tarekat naqsabandiyah. Tempat pelaksanaan tarekat ini di dalam ruangan yang tertutup di rumah Syeh tersebut. Untuk muridnya terdiri dari laki-laki dan perempuan dari berbagi tempat.

Tarekat Naqsabandiyah didirikan oleh Muhammad Bahauddin An-Naqsabandi Al-Awisi Al-Bukhari di Turkistan. Tarekat ini mempunyai dampak dan pengaruh sangat besar kepada masyarakat muslim di berbagai wilayah yang berbeda-beda. Tarekat ini pertama kali berdiri di Asia Tengah, kemudian meluas ke Turki, Suriah, Afganistan, dan India. Ciri menonjol Tarekat ini adalah : Pertama, mengikuti syariat secara ketat, keseriusan dalam beribadah yang menyebabkan penolakan terhadap musik dan tari, dan lebih menyukai berdzikir dalam hati. Kedua, upaya yang serius dalam memengaruhi kehidupan dan pemikiran golongan penguasa serta mendekati Negara pada agama. Hingga tarekat inilah yang dipakai di desa Simaninggir.

(13)

1. “Huwasy Dardam” , yaitu pemeliharaan keluar masuknya nafas, supaya hati tidak lupa kepada Allah SWT atau tetap hadirnya Allah SWT pada waktu masuk dan keluarnya nafas. Setiap murid atau salik menarikkan dan menghembuskan nafasnya, hendaklah selalu ingat atau hadir bersama Allah di dalam hati sanubarinya. Ingat kepada Allah setiap keluar masuknya nafas, berarti memudahkan jalan untuk dekat kepada Allah SWT, dan sebaliknya lalai atau lupa mengingat Allah, berarti menghambat jalan menuju kepada- Nya.

2. “Nazhar Barqadlam” yaitu setiap murid atau salik dalam iktikaf/suluk bila berjalan harus menundukkan kepala, melihat ke arah kaki dan apabila dia duduk dia melihat pada kedua tangannya. Dia tidak boleh memperluas pandangannya ke kiri atau ke kanan, karena dikhawatirkan dapat membuat hatinya bimbang atau terhambat untuk berzikir atau mengingat Allah SWT. Nazhar Barqadlam ini lebih ditekankan lagi bagi pengamal tarikat yang baru suluk, karena yang bersangkutan belum mampu memelihara hatinya.

3. “Safar Darwathan” yaitu perpindahan dari sifat kemanusiaan yang kotor dan rendah, kepada sifat-sifat kemalaikatan yang bersih dan suci lagi utama. Karena itu wajiblah bagi si murid atau salik mengontrol hatinya, agar dalam hatinya tidak ada rasa cinta kepada makhluk.

4. “Khalwat Daranjaman” yaitu setiap murid atau salik harus selalu menghadirkan hati kepada Allah SWT dalam segala keadaan, baik waktu sunyi maupun di tempat orang banyak. Dalam Tarikat Naqsyabandiyah ada dua bentuk khalwat :

(14)

b. Khalwat batin, yaitu hati sanubari si murid atau salik senantiasa musyahadah, menyaksikan rahasia- rahasia kebesaran Allah walaupun berada di tengah- tengah orang ramai.

5. “Ya Dakrad” yaitu selalu berkekalan zikir kepada Allah SWT, baik zikir ismus zat (menyebut Allah, Allah,.), zikir nafi isbat (menyebut la ilaha ilallah), sampai yang disebut dalam zikir itu hadir.

6. “Bar Kasyat” yaitu orang yang berzikir nafi isbat setelah melepaskan nafasnya, kembali munajat kepada Allah dengan mengucapkan kalimat yang mullia “Wahai Tuhan Allah, Engkaulah yang aku maksud (dalam perjalanan rohaniku ini) dan keridlaan-Mulah yang aku tuntu”. Sehingga terasa dalam kalbunya rahasia tauhid yang hakiki, dan semua makhluk ini lenyap dari pemandangannya.

7. “Nakah Dasyat” yaitu setiap murid atau salik harus memelihara hatinya dari kemasukan sesuatu yang dapat menggoda dan mengganggunya, walaupun hanya sebentar. Karena godaan yang mengganggu itu adalah masalah yang besar, yang tidak boleh terjadi dalam ajaran dasar tarikat ini..“Bad Dasyat” yaitu tawajuh atau pemusatan perhatian sepenuhnya pada musyahadah, menyaksikan keindahan, kebesaran, dan kemuliaan Allah SWT terhadap Nur Zat Ahadiyah (Cahaya Yang Maha Esa) tanpa disertai dengan kata- kata. Keadaan “Bad Dasyat” ini baru dapat dicapai oleh seorang murid atau salik, setelah dia mengalami fana dan baka yang sempurna. Adapun tiga ajaran dasar yang berasal dari Bahauddin Naqsyabandi adalah,

(15)

waktu tersebut, ia harus bersyukur dan jika ternyata tidak, ia harus meminta ampun kepada Allah SWT dan kembali mengingat- Nya.

9. “Wuquf ‘Adadi” yaitu memelihara bilangan ganjil dalam menyelesaikan zikir nafi isbat, sehingga setiap zikir nafi isbat tidak diakhiri dengan bilangan genap. Bilangan ganjil itu, dapat saja 3 (tiga) atau 5 (lima) sampai dengan 21 (duapuluh satu), dan seterusnya.

10. “Wuquf Qalbi” yaitu sebagaimana yang dikatakan syah tersebut , “Keadaan hati seorang murid atau salik yang selalu hadir bersama Allah SWT”. Pikiran yang ada terlebih dahulu dihilangkan dari segala perasaan, kemudian dikumpulkan segenap tenaga dan panca indera untuk melakukan tawajuh dengan mata hati yang hakiki, untuk menyelami makrifat Tuhannya, sehingga tidak ada peluang sedikitpun dalam hati yang ditujukan kepada selain Allah SWT, dan terlepas dari zikir tesebut.

(16)

tarekat bukan “asli”. Adalah Muhamad utsman al-mirghani yang mendirikan tarekat khatmiyah yang tidak lain merupakan racikan dari penggabungan naqsyabandiyah, qadiriyah, syadziliyah, junaidiyah, dan mirghaniyah. Sementara ahmad khatib sambas seorang ulama dari kalimantan tetapi lama menetap di makkah pertengahan abad 19, menamainya menjadi qadiriyah wa naqsyabandiyah setelah meracik berbagai tarekat, seperti naqsyabandiyah qadiriyah, thariqah al-anfas, thariqah al-junaidiyah, dan thariqah al-muwafaqah. Tarekat yang didirikan ahmad khatib sambas ini kelak akan menggantikan posisi tarekat sammaniyah sebagai tarekat yang paling populer di Indonesia. Untuk menjadi anggota tarekat seseorang harus melalui proses pembai’atan. Pada prosesi ini, ia harus membaca baiat, yakni sumpah setia dirinya kepada syaikh untuk menjadi salik atau muridnya, konsekuensi dari pembaitan ia harus mengikuti aturan dan tata tertib yang sudah resmi ditetapkan dalam tarekat, termasuk hubungan dirinya dengan syaikh.16

Dalam aturan yang ada, salah satunya adalah murid harus berlaku seolah-olah menjadi mayat di depan orang yang akan memandikan, mengkafani dan menguburkannya. Karena pada dasarnya, syaikh tarekat dengan ilmu dan karamah yang dimilikinya menjadikannya sebagai perantara tuhan dan hambanya. Dengan demikian syaikh akan membimbing sang murid merasakan tingkat fana fillah. 17

b. Tarekat di Batang Natal

Tarekat di kecamatan Batang Natal memang banyak yakni di antaranya tedapat di desa Tombang Kaluang, Hatupangan, Ampung Julu, Banjar Malayu, dan Aek Nabara. Akan tetapi yang terjangkau oleh

16 https://hukumalam.wordpress.com/manusia-dalam-proses/ajaran/ajaran-dasar-thoriqoh-naqsyabandiyah/ diakses pada 04 April 2016 pukul 20.00 WIB.

(17)

penulis untuk menelitinya yaitu tarekat yang ada di desa Ampung Julu, Aek Nabara dan Hatupangan. Kemudian berdasarkan hasil wawancara guru tarekat yang bernama Bapak Ali Mukmin selaku warga Tombang Kaluang tarekat yang dijalankanya yaitu tarekat naqsabandiyah yang mana tempat tarekat ini dilaksanakan di desa Tombang Kaluang, Hatupangan dan di Banjar Maga. Tarekat ini dimulai pada 1982 gurunya

Khalifah Muhammad Yusuf selaku warga Hatupangan, setelah beliau meninggal maka dilanjutkan oleh muridnya yang bernama Ali Mukmin.

Ali Mukmin sudah mengajarkan tarekat ini selama 10 tahun. Untuk tarekat ini sama saja dengan tarekat yang biasa yakni mengagungkan Allah dengan berdiam di mesjid semata- mata karena Allah dan berzikir menyebut asma Allah dengan khusyuk. Adapun untuk bacaannya yaitu menyebut asma Allah kemudian untuk ajaran yang lain yaitu sangat rahasia karena tidak diajarkan kepada orang yang belum mengikuti tarekat seperti penulis. Untuk syarat mengikuti tarekat ini cukup dengan mendaftar kemudian melaksanakan mandi taubat, untuk pelaksanaan mandi taubat ini dilaksanakan pada malam hari yaitu sekitar pukul 11.00 malam kemudian setelah mandi shalat hajat dan berzikir kepada Allah kemudian tidur seperti biasanya hingga menjelang waktu subuh. Kemudian untuk hari selanjutnya tarekat tersebut dilaksanakan yang mana cara duduknya melingkar dan seperti shalat tahiyat akhir namun kakinya sebelah kiri, peserta tarekat berdiam dan berzikir di masing-masing kelambu yang mana perempuan sama perempuan dan laki-laki sama laki-laki. Sebelum tarekat dilaksanakan gurunya memandu bagaimana cara untuk pelaksanaannya.

(18)

berkurang. Yang mana dulunya ada 60 orang yang ikut namun sekarang sudah berkurang yaitu sekitar 30 orang.18

Kemudian tarekat selanjutnya yaitu tarekat naqsabandiyah juga yang berada di desa Aek Nabara, desa ini merupakan desa terpencil di kecamatan Batang Natal yang memiliki sekitar 120 kepala keluarga. Guru tarekat yang berada di desa ini yaitu Ali Jabbar Lubis , muridnya kurang lebih 20 orang yang terdiri dari laki- laki saja, tarekat yang dijalankan yaitu tarekat naqsabandiyah , untuk ajarannya sama saja dengan tarekat naqsabandiyah yang ada di daerah sebelumnya yaitu khusus untuk menyatukan diri dan mengucap dua kalimat

laailahaaillllah untuk mengesakan Dzat-Nya. Allah yang sebenar-benarnya, tiada yang disembah selain Dia. Tempat pelaksanaan tarekai ini yaitu di mesjid dan waktunya di bulan Rajab dan Zulhijjah. 19

Tarekat yang selajutnya yaitu tarekat naqsabandiyah yang berada di desa Ampung Julu, desa ini juga merupakan desa yang lumayan terpencil yang mana terdiri sekitar 400 kepala keluarga. Guru dari tarekat ini yaitu bapak Asmin yang mana pelaksanaannya dilakukan di mesjid Ampung Julu, tarekat ini memiliki 30 murid , yang mana pelaksanaannya sama saja dengan tarekat naqsabandiyah yang berada di daerah sebelumnya.20

c. Tarekat di Kecamatan Ranto Baek

Terekat yang ada di kecamatan ini yaitu tarekat naqsabandiyah yang mana berada di desa Manisak, guru dari tarekat ini yaitu bapak

Tasmin yang merupakan warga Muarasoma, murid dari tarekai ini lebih banyak yaitu sekitar 50 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, tempat pelaksanaannya di mesjid juga kemudian untuk

18 Ali Mukmin, Alim Ulama Tombang Kaluang, wawancara telepon pada 15 April 2016 pukul 13.23. WIB.

(19)

ajaran dan waktunya sama saja dengan tarekat naqsabandiyah di daerah sebelumnya yang telah penulis bahas.21

C. Penutup

1. Kesimpulan

Sejarah perkembangan tarekat tidak terlepas dari perkembangan Islam, yang mana pada makalh ini telah dibahas tarekat yang ada di Mandailing Natal yakni tarekat naqsabandiyah dan sammaniyah. Dimana tarekat ini terdapat di berbagi daerah di Mandailing Natal baik dikabupatennya, maupun di kecamatannya. Demikian juga gurunya yang berbeda-beda. 2. Saran

Makalah ini masih memiliki banyak kekurangan dimana terbatasnya waktu dan biaya peneliti. Namun penulis menerima kritikan dari saran dari berbagai sumber khususnya yang membaca makalah ini demi perbaikan selanjutnya.

D. Dokumentasi Wawancara

(20)
(21)
(22)
(23)

Keterangan: foto mesjid parsulukan yang ada di Manisak kecamatan Ranto Baek.

(24)

Daftar Pustaka

Ahmad Mansur Suryanegara,Menemukan Sejarah Rencana Pergerakan Islam di Indonesia,Mizan Cet IV, 1998.

Ajid Thohir Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam Jakarta:Rajawali Press,Cet I 2004.

Ali Jabbar, Alim Ulama Aek Nabara, wawancara pada 11 Maret 2016 pukul 19.39 WIB.

Ali Mukmin, Alim Ulama Tombang Kaluang, wawancara telepon pada 15 April 2016 pukul 13.23. WIB

Anne Marie, Dimensi Mistik Dalam Islam, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986.

Asmin, Alim Ulama Ampung Julu, Wawancara 11 Maret 2016 pukul 13.45 WIB.

Azra(Peny), Perpektif Islam diAsia Tenggara, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 1989.

Azyumardi Azra, Islam di Asia Tenggara : Pengantar Pemikiran dalam Azyumardi

Jakarta: Remaja Rosdakarya, 2006.

Basyral Hamidy Harahap, Madina yang Madani, (Panyabungan: Pemerintah Kabupaten Madina, 2004), hlm. 127.

Harun Nasution, Perkembangan Ilmu Tasawuf di Dunia Islam, (Jakarta: mashajirismail” Sejarah Perkembangan Tariqat di Indonesia”

http://www.al-aziziyah.com/opini/64-pendidkan/100-thariqah-mutabarah.html diakses pada 25 April 2016.

https://hukumalam.wordpress.com/manusia-dalam-proses/ajaran/ajaran-dasar-thoriqoh-naqsyabandiyah/ diakses pada 04 April 2016 pukul 20.00 WIB.

(25)

Mashajirismail” Sejarah Perkembangan Tariqat di Indonesia” http://www.al-aziziyah.com/opini/64-pendidkan/100-thariqah-mutabarah.html diakses pada 25 April 2016.

Rosihan Anwar, Ilmu Tasawuf, Bandung: Pustaka Setia, 2006.

S. Pulungan, Mandailing, 2008, http://wikipedia.org.pdf (on-line) di akses tanggal 25 Maret 2016 pukul 17.00 WIB.

Simuh, Tasawuf Dan Perkembangannya Dalam Islam (Jakarta: Grafindo Media Persada, 2002), hlm.39-40.

Syeh H. Muktar dan Hj. Shalehah, Alim Ulama Simaninggir. Wawancara pada 01 Mei 2016 pukul 13.30 WIB.

.

Referensi

Dokumen terkait

Peran serta masyarakat sangat penting dilakukan untuk meningkatkan status kesehatan di masyarakat yaitu dengan cara keikutsertaan seluruh masyarakat dalam

Adapun faktor lain yang menyebabkan minat siswa dalam mengikuti pembelajaran bola voli kelas X SMK Negeri 3 Kasihan Tahun Ajaran 2017/2018 yaitu keaktifan siswa dalam

1) Observasi, yaitu kegiatan melakukan pengamatan secara langsung terhadap objek penelitian kemudian mencatat gejala-gejala yang terjadi di lapangan untuk melengkapi data-data

Adapun Data Primer dalam hal ini merupakan Data yang didapat dari hasil mengikuti Perkuliahan Langsung, yaitu ketika pengajar yang juga merupakan Praktisi Notaris

Adapun tujuan dari ajaran Taoisme adalah untuk perbaikan akhlak umat manusia yang sudah rusak, kemudian untuk dapat menjadi manusia yang bijaksana dan tujuan terakhir

Selanjutnya pengantin akan mengikuti proses mangupa upa yaitu pengantin dihadapkan pada prosesi adat yang mengandung pelaksanaan ritual doa serta diiringi dengan nasehat dari para

Adapun karakteristik tersebut antara lain yaitu: 1 model pembelajaran RADEC dapat memotivasi siswa untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran, 2 model pembelajaran RADEC

Adapun Indeks Desa Membangun IDM per Desa pada Tahun 2020 yang ada di Kabupaten Mandailing Natal dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: Tabel 4.7 Indeks Membangun Desa IDM Pada