HUKUM LINGKUNGAN MAKALAH LIBRARY RESEARCH
PENEGAKAN HUKUM ATAS PERDAGANGAN SATWA LANGKA INDONESIA MELALUI CONVENTION ON INTERNATIONAL TRADE OF ENDANGERED
SPECIES DAN UNDANG-UNDANG NASIONAL
Disusun oleh:
Lutfi Salsabila 8111416186
Fitriani Abdi 8111416290
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb
Shalom.. Om Swastiastu.. Nammo Buddhaya.. Salam Sejahtera Untuk Kita Semua ..
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat serta hidayat-Nya lah kami dapat menyusun makalah dengan judul “Penegakan Hukum atas Perdagangan Satwa Langka Indonesia Melalui Convention on International Trade of Endangered Species” ini. Dengan kesehatan dan ide yang Tuhan berikanlah kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Lingkungan yang diampu oleh dosen matakuliah tersebut. Selain itu, kami sangat berterima kasih kepada beliau, karena atas penugasan ini kami dapat belajar lebih luas dan spesifik mengenai hukum lingkungan yang ada di Indonesia terkhusus mengenai perdagangan satwa langka.
Kami juga sangat berterimaksih kepada pihak-pihak baik yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu kami dalam menyusun makalah ini. Sehingga dapat terpenuhi lah salah satu tanggung jawab kami sebagai mahasiswa untuk mengerjakan tugas ini.
Sudah sepantasnya bahwa makalah ini memberikan perhatian yang cukup terhadap aspek tersebut. Sangatlah diharapkaan adanya kemanfaatan dalam makalah ini, baik bagi kami selaku penyusun dan seluruh pembaca. Tiada manusia yang sempurna, demikian pula tiada makalah yang sempurna. Kritik dan masukan yang membangun akan sangat membantu memperkaya khazanah pengatahuan dalam makalah ini.
DAFTAR ISI
Sampul i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii
Daftar Tabel/ Gambar iii
Daftar Putusan/ Kasus iii
BAB I.PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Metode Penulisan 2
BAB II. PEMBAHASAN 3
A. Sub Pembahasan 1 3
B. Sub Pembahasan 2 4
C. Sub Pembahasan 3 2
BAB III. Kesimpulan 6
DAFTAR TABEL/GAMBAR
Tabel 1.1. Nama Tabel i
Tabel 1.2. Nama Tabel ii
Tabel 1.3. Nama Tabel iii
Tabel 1.4. Nama tabel iii
DAFTAR PUTUSAN/KASUS
Putusan 1 i
Putusan 2 ii
Putusan 3 iii
Putusan 4 iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lingkungan hidup menjadi tempat tinggal bagi semua makhluk hidup. Apabila ada suatu kerusakan pada lingkungan hidup ini, maka akan menghambat kelangsungan hidup manusia, hewan, dan tumbuhan. Hambatan itu bisa menjadi begitu besar tergantung seberapa parah tingkat kerusakan lingkungan hidup. Bahkan pada suatu titik kerusakan lingkungan hidup dapat memusnahkan suatu sepesies makhluk hidup.
Semakin besar kerusakan lingkungan hidup semakin besar pula dampak yang akan timbul. Semakin berkembangnya jaman semakin banyak pula penemuan untuk menjaga lingkungan hidup. Namun, tidak sedikit pula penemuan yang mengakibatkan rusaknya lingkungan hidup.
Zaman semakin maju begitu pula pola pikir masyarakat. Tidak hanya itu, kebutuhan manusia pun semakin rumit. Dulu hanya diperlukan satu pasar tradisional kecil. Sekarang tidak cukup hanya itu, mulai dari pasar kecil, toko kecil, pasar besar, toko besar, hingga pusat perbelanjaan yang setidaknya butuh satu hektar tanah. Akibatnya banyak pengalih fungsian hutan atau biasa disebut deforestasi untuk membuka ruang pembangunan modern.
Akibat dari pengalih deforestasi tersebut tentunya berpengaruh terhadap sumber daya genetika. Salah satunya banyak satwa liar menurun jumlahnya. Hingga pada akhirnya beberapa diantaranya tidak hanya disebut satwa liar akan tetapi satwa langka1.
Tidak hanya deforestasi yang mempengaruhi berkurangnya jumlah satwa liar. Perdagangan satwa di era sekarang sangat menjadi momok pemerintah dalam melindungi dan mempertahankan spesies satwa.
1 CifebrimaSuyastri.2012”Mengukur EfektivitasCITESDalamMenanganiPerdagangan Satwa LiarDenganMenggunakanIdentiikasi LegalisasiArtikelCITES. Jurnal Transnasional,
Terkhusus perdagangan satwa langka, yang menjadi ancaman punahnya suatu spesies satwa.
Hal ini cukup memprihatinkan, dikarenakan setiap satwa sangat berperan penting dalam rantai makanan di hutan. Apabila suatu rantai makanan mengalami perubahan jumlah yang cukup tinggi maka akan mempengaruhi jumlah spesies yang lainnya. Maka dari itu, setiap negara berusaha untuk menjaga satwa langka yang berhabitat di wilayahnya. Salah satunya dengan meratifikasi Convention on International Trade of Endangered Species (CITES) maupun membuat undang-undang nasional sendiri.
Indonesia sendiri menegakan hukum atas perdagangan satwa langka baik melalui CITES maupun Undang- Undang Nasional. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan spesies satwa langka yang ada di Indonesia. Maka dari itu sangat diperlukan pembahasan mengenai penegakan hukum atas perdagangan satwa langka indonesia melalui Convention on International Trade of Endangered Species dan Undang-Undang Nasional.
CITES mengatur dan mengawasi perdagangan dengan menggunakan “daftar negatif” seperti perdagangan semua spesies yang diperbolehkan dan tidak diatur kecuali spesies tersebut muncul di lampiran. Spesies yang dilindungi terdaftar dalan satu dari tiga lampiran:
• Appendix II, Sekitar 21,000 spesies, adalah spesies yang tidak terancam punah, namun dapat terancam punah jika perdagangan spesies tersebut tidak diatur dengan ketat untuk menghindari pengunaan yang bertentangan dengan kelangsungan hidup spesies di alam liar. Sebagai tambahan, Appendix II dapat mencakup spesies yang secara fisik mirip dengan spesies yang sudah terdaftar dalam lampiran ini. Perdagangan internasional spesies Appendix II dapat disetujui dengan memberikan izin ekspor atau sertifikat re-ekspor oleh badan pengelolaan negara eksportir. Tidak ada izin impor yang dibutuhkan walaupun beberapa pihak menysaratkan hal ini sebagai bentuk peraturan domestik yang lebih ketat. Sebelum izin ekspor diberikan perusahaan ekspor harus memastikan bahwa ekspor tidak akan berdampak buruk pada populasi spesies di alam liar.
• Appendix III, 170 spesies, adalah spesies yang terdaftar setelah satu negara meminta CITES untuk membantu mengkontrol perdagangan spesies tersebut. Spesies tidak selalu terancam kepunahan global. Di semua negara anggota, perdagangan spesies ini hanya diperbolehkan dengan izin ekspor dan sertifikat asal dari negara anggota yang telah mendaftarkan spesies.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Pengaturan Convention on International Trade in Endangered Species (CITES)? 2. Bagaimana kondisi perdangan Satwa Langka di Indonesia?
3.Bagaimana penerapan hukum untuk pelaku perdagangan Satwa Langka di Indonesia?
C. Metode Penelitian
Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian, penulis menggunakan beberapa metode sebagai berikut:
1. Metode Studi Pustaka
Metode studi kepustakaan dilakukan untuk menunjang metode wawancara dan observasi yang telah dilakukan. Pengumpulan informasi yang dibutuhkan
dilakukan dengan mencari referensi-referensi yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan, referensi dapat diperoleh dari buku-buku atau internet.
PEMBAHASAN
A. PENGATURAN Convention on International Trade in Endangered Species (CITES)
Secara khusus CITES mengatur adanya 4 tipe dokumen dalam perdagangan tumbuhan dan satwa yaitu: (i) Export Permits, (ii) Import Permits, (iii) Re-export Certificates, dan (iv) Other Certificates. Keempat dokumen ini merupakan dokumen resmi yang hanya bisa dikeluarkan oleh Management Authority (otoritas pengelolaan) berdasarkan rekomendasi Scientific Authority (otoritas keilmuan).
a. Management Authority
Management Authority merupakan lembaga resmi yang CITES tetapkan untuk mengatur dan mengelola perdagangan jenis satwa dari suatu negara. Management Authority merupakan otoritas pengelola yang harus di miliki oleh negara untuk mengelola perdagangan satwa baik untuk di gunakan bagi keperluan dalam negeri maupun untuk perdagangan internasional. Management Authority dalam pengelolaan perdagangan bekerjasama dengan otoritas keilmuan (Scientific Authority). Rekomendasi yang di berikan oleh otoritas keilmuan akan menjadi acuan otoritas pengelolaan dalam memberikan izin bagi perdagangan satwa. Pada artikel I CITES huruf (f) dijelaskan bahwa : “Scientific Authority means a national scientific authority designated in accordance with article IX”.2 Sedangkan Management Authority juga dijelaskan
dalam Artikel I CITES huruf (g), yaitu : “Management Authority means a national management authority designated in accordance with article IX”.
Management Authority (Otoritas Pengelola), bertanggung jawab dalam aspek administratif dari pelaksanaan CITES (legislasi, pelaksana legislasi, penegakan hukum, izin, laporan dua tahunan, komunikasi dengan institusi CITES lain), sedangkan Scientific Authority (otoritas keilmuan), bertanggung
jawab untuk memberikan saran kepada Management Authority mengenai
non-deteriment findings dan aspek-aspek ilmiah lainnya mengenai implementasi dan pemantauan perdagangan internasional, termasuk memberi usulan kuota.3
2 Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora , Artikel I, huruf (f), 1973.
b. Export Permit
Sesuai dengan apa yang telah di kemukakan di atas, bahwa CITES mengatur adanya empat dokumen resmi sebagai ketentuan yang harus di penuhi, maka perlu adanya penjelasan mengenai masing-masing dokumen. Export permit atau izin ekspor merupakan izin yang mengatur mekanisme pemberian izin bagi masing-masing jenis satwa yang akan di perdagangkan ke luar negeri. Mengenai pemberlakuan izin ini Artikel VI CITES angka (2) menyebutkan : “An export permit shall contain the information specified in the model set forth in Appendix IV, and may only be used for export with in a period of six month from the date on which it was granted”. Pada pasal ini di jelaskan mengenai keberlakuan izin ekspor (export permit) hanya enam bulan sejak izin di berikan. Selain mengenai keberlakuannya, Artikel VI CITES ini juga mengatur mengenai setiap izin atau sertifikat yang diberikan harus ada pengesahan dari otoritas pengelola dan nomor pengawasan yang dikeluarkan oleh otoritas pengelola. CITES mengatur secara khusus mengenai pemberian izin ekspor perdagangan satwa dari masing-masing jenis yang terlampir dalam apendiks CITES.
Menurut Artikel III angka (2) disebutkan bahwa:4
“ The export of any specimen of a species included in Apendix I shall require the prior grant and presentation of an export permit. An export permit shall only be granted when the following conditions have been met :
a) a Scientific Authority of the state of export has advised that such export will not be detrimental to the survival of that species.
b) a Management Authority of the State of export is statisfied that the specimen was not obtained in contravention of the laws of that State for the protection of fauna and flora.
c) a Management Authority of the State of export is satisfied that any living specimen will be so prepared and shipped as to minimize the risk of injury, damage to health or cruel treatment.
d) a Management Authority of the State of export is satisfied that an import permit has been granted for the specimen”.
Pada Artikel III tersebut di atur mengenai mekanisme pemberian izin ekspor bagi jenis satwa liar yang termasuk dalam Apendiks I. Sesuai dengan ketentuan tersebut otoritas harus terlebih dahulu memberikan rekomendasi bahwa ekspor tersebut tidak mengganggu keseimbangan populasinya di alam
liar, kemudian otoritas pengelola harus memastikan bahwa ekspor tersebut tidak melanggar ketentuan perundang-undangan tentang perlindungan satwa. Setelah dipastikan mengenai ketentuan dari negara asal, maka otoritas pengelola juga harus memastikan negara yang akan menjadi tujuan meminimalisir gangguan berupa kesehatan dari jenis satwa tersebut. Kemudian yang terakhir bahwa otoritas pengelola dari negara ekspor harus memastikan bahwa izin impor telah di berikan. Ketentuan izin ekspor tersebut merupakan ketentuan yang harus dipenuhi dalam perdagangan jenis satwa liar yang termasuk apendiks I CITES.
Mengenai ketentuan ekspor untuk jenis satwa yang termasuk dalam apendiks II CITES, Artikel IV angka (2) CITES dijelaskan bahwa:5
“The export of any specimen of a species included in Appendix II shall require the prior grant and presentation of an export permit. An export permit shall only be granted when the following conditions have been met :
a) a Scientific Authority of the State of export has advised that such export will not be detrimental to the survival of that species;
b) a Management Authority of the State of export is satisfied that the specimen was not obtained in contravention of the laws of that State for the protection of fauna and flora;
c) a Management Authority of the State of export is satisfied that any living specimen will be so prepared and shipped as to minimize the risk of injury, damage to health or cruel treatment”.
Ketentuan pemberian izin ekspor pada Artikel IV ini juga tidak memiliki perbedaan yang mendasar, keseluruhan mekanisme sesuai dengan apa yang diatur pada Artikel III, yang menjadi perbedaan hanya tidak ada ketentuan bagi otoritas pengelola untuk memastikan izin impor dari negara tujuan. Mengenai ketentuan ekspor satwa yang termasuk dalam apendiks III, hal ini diatur dalam Artikel V angka (2) CITES yaitu:6
“The export of any specimen of a species included in Appendix III from any State which has included that species in Appendix III shall require the prior grant and presentation of an export permit. An export permit shall only be granted when the following conditions have been meet :
a) a Management Authority of the State of export is satisfied that the specimen was not obtained in contravention of the laws of that State for the protection of fauna and flora
b) a Management Authority of the State of export is satisfied that any living specimen will be so prepared and shipped as to minimize the risk of injury, damage to health or cruel treatment”.
Mengenai izin ekspor untuk satwa liar yang termasuk dalam Apendiks III diatur bahwa otoritas pengelola memastikan bahwa ekspor tidak melanggar ketentuan hukum tentang perlindungan satwa, serta memastikan negara
CITES juga mengatur dokumen perizinan impor untuk perdagangan jenis satwa. Pengaturan tersebut berdasarkan pada suatu sistem perizinan dan pemberian sertifikat yang hanya dapat diterbitkan apabila syarat tertentu telah dipenuhi. Seperti halnya ketentuan ekspor, ketentuan impor ini juga dipisahkan untuk masing-masing jenis satwa dalam tiap-tiap apendiks. Pada Artikel III angka (3) CITES diatur mengenai izin impor untuk satwa yang termasuk dalam apendiks I CITES yaitu:7
“The import of any specimen of a species included in Appendix I shall require the prior grant and presentation of an import permit and either an export permit or a re-export certificate. An import permit shall only be granted when the following conditions have been met:
a) a Scientific Authority of the State of import has advised that the import will be for purposes which are not detrimental to the survival of the species involved
b) a Scientific Authority of the State of import is satisfied that the proposed recipient of a living specimen is suitably equipped to house and care for it
c) a Management Authority of the State of import is satisfied that the specimen is not to be used for primarily commercial purposes”.
Pada Artikel III mengenai impor satwa yang termasuk dalam apendiks I CITES tersebut dijelaskan bahwa izin impor hanya dapat diberikan dengan diatur pada Artikel IV angka (4) CITES yaitu:8 “The import of any specimen of a
species included in Appendix II shall require the prior presentation of either an export permit or a re-export certificate”. Izin impor untuk satwa liar yang termasuk apendiks II CITES ini mensyaratkan bahwa impor harus disertakan dengan izin ekspor dari negara asal ataupun sertifikat re-ekspor.
d. Re-export Certificates
Ketentuan mengenai re-ekspor ini mensyaratkan ketentuan yang berbeda untuk masing-masing jenis satwa dalam tiap-tiap apendiks. Pada Artikel III Angka (4) disebutkan bahwa:9
“The re-export of any specimen of a species included in Appendix I shall require the prior grant and presentation of a re-export certificate. A re-export certificate shall only be granted when the following conditions have been met:
a) a Management Authority of the State of re-export is satisfied that the specimen was imported into that State in accordance with the provisions of the present Convention
b) a Management Authority of the State of re-export is satisfied that any living specimen will be so prepared and shipped as to minimize the risk of injury, damage to health or cruel treatment
c) a Management Authority of the State of re-export is satisfied that an import permit has been granted for any living specimen”.
Ketiga syarat pada artikel tersebut merupakan ketentuan yang harus dipenuhi pada dokumen re-ekspor, sedangkan untuk satwa yang termasuk dalam apendiks II CITES diatur dalam Artikel IV Angka (5) yang menyebutkan bahwa: 10
“The re-export of any specimen of a species included in Appendix II shall require the prior grant and presentation of a re-export certificate. A re-export certificate shall only be granted when the following conditions have been met:
a) a Management Authority of the State of re-export is satisfied that the specimen was imported into that State in accordance with the provisions of the present Convention
b) a Management Authority of the State of re-export is satisfied that any living specimen will be so prepared and shipped as to minimize the risk of injury, damage to health or cruel treatment”.
Untuk ketentuan sertifikat re-ekspor bagi satwa liar yang di masukkan dalam apendiks III CITES di atur dalam Artikel V Angka (4) CITES.
e. Others Certificate
Sebagai salah satu perjanjian internasional yang cukup baik, CITES mengatur mengenai kemungkinan dilakukannya perdagangan internasional dengan negara yang tidak termasuk dalam perjanjian internasional ini. Hal ini diatur secara khusus dalam Artikel X CITES, yaitu: 11
“Where export or re-export is to, or import is from, a State not a Party to the present Convention, comparable documentation issued by the competent authorities in that State which substantially conforms with the requirements of the present Convention for permits and certificates may be accepted in lieu there of by any Party”.
Pada Artikel X ini dijelaskan bahwa perdagangan internasional baik impor, ekspor maupun re-ekspor masih mungkin untuk dilakukan dengan adanya catatan atau dokumen resmi dari pihak-pihak yang telah berkompeten untuk mengeluarkan izin seperti yang dijelaskan di dalam CITES baik itu otoritas keilmuan maupun otoritas manajemen dari negara yang bersangkutan mengenai status dan keadaan spesies yang diperdagangkan12.
Keputusan Menteri Kehutanan No. 447/2003 menetapkan prosedur inspeksi dan kontrol dilakukan oleh badan yang berwenang disetiap tingkatan (BKSDA dan Kantor Pusat PHKA) dalam hal panen, calo, pedagang, orang yang melakukan pemindahan dan eskportir dan importer, dan harus
sesuai dengan kuota yang dialokasikan. Produksi berbasis tangkapan spesies mendapatkan arahan dan diatur oleh Keputusan Menteri Kehutanan No. 19/2005. Keputusan ini memberikan pedoman dan pengaturan
mengenai tangkapan penangkaran sesuai dengan Pasal VII CITES dan
Resolusi Konferensi 10.16.
Walaupun kerangka peraturan ini sangat baik, terdapat beberapa masalah signifikan dengan undang-undang, yang paling penting adalah daftar
spesies dilindungi mana yang akan dijadikan Annex Peraturan
Pemerintah No. 7/1999.
Peraturan Pemerintah No. 7/1999: Daftar Spesies yang Dilindungi
Inti dari kerangka peraturan ini adalah Peraturan Pemerintah (PP) No. 7/1999, yang memberikan daftar spesies yang dilindungi di Indonesia. Daftar ini mencakup 294 spesies atau kelompok spesies:12
• 70 mamalia, termasuk cetacea. • 93 burung
• 31 reptil: biawak, gharial dan buaya, beberapa jenis phiton, beberapa kura-kura air tawar dan kura-kura darat, semua kura-kura laut, kadal sailfin
• 20 serangga: semua kupu-kupu • 7 ikan: termasuk sawfish (Pritis spp.) • 1 karang: karang hitam
• 14 moluska: kerang, nautilus, giant triton, coconut crab.
• 58 tanaman: termasuk anggrek, rafflesia, tanaman pitcher dan dipterocarps.
Penangkapan dari alam liar dan penjualan spesies diatas adalah pelanggaran UU No. 5/1990, dengan ancaman hukuman hingga lima tahun penjara dan denda hingga 100 juta.
Lebih jauh, PP No. 8/1999, Pasal 34, terdapat daftar 11 spesies atau kelompok spesies yang hanya bisa digunakan dan dipertukarkan oleh Presiden Republik Indonesia. Spesies tersebut adalah:
• Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus);
• Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis); • Komodo (Varanus komodoensis);
• Burung Cendrawasih (Semua spesies dari kelompok Paradiseidae); • Elang Jawa (Spizaetus bartelsi);
• Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae); • Siamang Mentawai (Presbytis potenziani); • Orangutan (Pongo pygmaeus); and
• Moloch Jawa (Hylobates moloch).
B. KONDISI PERDAGANGAN SATWA LANGKA DI INDONESIA
Kejahatan terhadap tumbuhan dan satwa di Indonesia telah menjadi
ancaman yang serius bagi kelestarian keanekaragaman hayati
Indonesia. Maraknya kejahatan terhadap tumbuhan dan satwa di Indonesia di latar belakangi adanya permintaan pasar terhadap tumbuhan dan satwa Penyebab utama kepunahan tumbuhan dan satwa di antaranya
adalah kehilangan, kerusakan, serta berubahnya hutan menjadi
pemukiman rumah bahkan kantor, pemanfaatan secara berlebihan dan perburuan bahkan perdagangan ilegal13. Perburuan dan perdagangan ilegal
satwa masih terus berlangsung atas dasar untuk memenuhi permintaan pasar yang di antaranya di gunakan sebagai peliharaan, untuk dikonsumsi dan untuk tujuan pengobatan tradisional, peningkatan standar kehidupan, perubahan politik dan pembangunan ekonomi. Fakta
yang terjadi adalah banyak spesies yang kelestariannya
terancam,perdagangan satwa bernilai milyaran dollar setiap tahunnya, perdagangan ilegal semakin berkembang, jika kejahatan terhadap satwa tidak terkontrol, banyak spesies akan punah.14
13
Departemen Kehutanan, Strategi dan Rancana Aksi Konservasi Gajah Sumatera dan Kalimantan 2007-2017. Jakarta, 2007, hlm.3.
Dibawah ini merupakan kasus-kasus perdagangan hewan ilegal yang ditangani oleh instansi-instansi Indonesia dari hasil penelitian setidaknya
ada enam kasus tentang perdagangan hewan yang masuk dalam
appendix 1 CITES yaitu:
1. 26 Februari 2001, Polres Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, berhasil menggagalkan penyelundupan ratusan satwa yang disembunyikan di kamar mesin Kapal Motor Gunung Dempo. Di kapal asal Papua itu polisi menemukan 11 cenderawasih, 4 burung kakatua hitam, 100 tupai terbang, 4 bayan hitam, 3 bayan hijau, 5 burung nuri kepala hitam, 30 ular, dan 25 kadal.
2. Pada bulan Juni 2003 Polisi Daerah Jakarta dan petugas PHKA Departemen Kehutanan dengan dibantu oleh ProFauna Indonesia berhasil menggagalkan rencana penyelundupan dua ekor orang utan ke Thailand. Semula kedua oangutan itu akan diselundupkan dengan menggunakan pesawat China airlines lewat bandara Internasionmdal Soekarno Hatta Jakarta.
Sebelum kedua orang utan tersebut diterbangkan, puluhan polisi
menyergap dan menangkap para penyelundup orang utan
itu.Penangkapan penyelundup orangutan itu merupakan hasil kerja keras ProFauna untuk membongkar sindikat perdagangan primata di Indonesia.
Kasus penyelundupan orangutan Juni itu kemudian diproses di pengadilan dengan terdakwa utama adalah orang Thailand yang berdomisili di Indonesia. Telah menyelundupan orang utan ke luar negeri. Tapi ini tidak bisa dibuktikan di pengadilan, dikarenakan kurangnya keseriusan pemerintah Indonesia dalam menangani kasus ini. Meski penyelundupan orang utan itu berhasil digagalkan, salahsatu orangutan itu mati akibat over dosis. Orang utan itu diselundupan dengan cara dibius, kemudian dimasukan dalam kotak kardus kecil.
penyelundupan 16 ekor elang dan satwa lainnya ke Jepang lewat Bandara Ngurah Rai. Sedangkan Pulau Talaud patut mendapat perhatian serius karena masih menjadi jalur penyelundupan satwa ke Philipina lewat jalur laut. Terbukti dengan digagalkannya upaya penyelundupan 234 satwa lewat Talaud pada tanggal 8 Januari 2009.
4. Pada tanggal 17 Oktober 2011 petugas Bea cukai pelabuhan Tanjung Priok berhasil mengagalkan upaya penyelundupan Trenggiling dengan tujuan Vietnam seberat 7136 kg.
5. Pada tanggal 10 Maret 2011 sebanyak 30 ekor ikan hiu loreng, hiu kejen, hiu lonjor, dan hiu martil diturunkan dari perahu. Pemilik kapal tersebut mengaku menjual satu ekor daging hiu sekitar Rp 30 juta tergantung berat dari ikan tersebut, sedangkan untuk siripnya di hargai 15 juta, sirip tersebut nantinya akan di bawa ke surabaya kemudian di eksportir menuju Hongkong dan Taiwan.
6. Sedangkan di tahun 2012 sendiri sudah ada lebih dari 200 ekor penyu berbagai jenis yang berhasil digagalkan penyelundupannya oleh berbagai pihak seperti Kepolisian dan Bea Cukai, dari berbagai wilayah di Indonesia. “Terbaru, kemarin juga digagalkan lagi upaya penyelundupan penyu di NTT dengan jumlah yang lebih besar lagi.
Indonesia menggelar operasi besar-besaran pemberantasan
perdagangan hewan di perairan Maluku Tenggara atau kepulauan laut arafuru oleh tim gabungan dari Mabes Polri dan Polda Maluku Tim gabungan tersebut terdiri atas unsur Bareskrim Polri, Pol. Udara, Dokkes dan Div. Humas, yang dipimpin langsung oleh Brigjen. Pol. Hadiatmoko Direktur V/Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Mabes Polri. Dari beberapa kali gelar operasi, maka selama operasi di gelar diperairan Tual, telah ditangkap 7 buah kapal jenis Tramper dan Trawl dengan ABK sebanyak 160 orang (160 orang WN Thailand, 8 orang WNI dan 1 orang WN Myanmar), dengan hasil tangkapan ikan beku dan trenggiling sebanyak +- 1.932 ton.
Menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHAP), terdapat empat lembaga pemerintah yang secara langsung menangani penegakan hukum; penyidik kepolisian, jaksa penuntut, penjara dan pengadilan, walaupun fungsi dari pengadilan adalah untuk mengadili kasus yang disampaikan penegak hukum (kasus pidana) atau lembaga pemerintah lain dan publik (kasus perdata). Kepolisian adalah satu-satunya institusi yang beroperasi pada tingkat kecamatan sementara ketiga lembaga lainnya beroperasi pada tingkat kabupaten/kota, dimana pengadilan negeri berada, provinsi (pengadilan tinggi), dan nasional (mahkamah agung). Biasanya, setiap institusi pada tingkat yang lebih rendah harus melapor ke atau berkoordinasi dengan rekan mereka pada tingkat yang lebih tinggi. Pengadilan ini diharapkan untuk melakukan pengambilan keputusan yang independen pada setiap perkara di tingkat mereka.
Sistem Peradilan Pidana di Indonesia
Prosedur standar untuk penanganan kasus pidana pada tingkat lembaga pelaksana diatur dalam UU No. 8/1981 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHP). Hukum Pidana secara umum diterapkan untuk semua tipe kejahatan kecuali disebutkan secara khusus dalam UU lain, dan jika hal ini terjadi maka prioritas diberikan kepada UU lain sesuai dengan prinsip les specialis derogate lex generali (misal Hukum Konservasi (kejahatan khusus) lebih diutamakan dibandingkan dengan KUHP (kejahatan umum)15. Oleh
karena itu, dalam prakteknya, peradilan kejahatan terhadap satwa atau pelanggaran konservasi harus menggunakan UU Konservasi atau Kehutanan dibandingkan Hukum Pidana, walaupun beberapa kejahatan dirinci dalam hukum pidana dapat juga digunakan sebagai tuntutan sekunder atau tersier
untuk mendukung tuntutan utama16. Demikian pula, semua prosedur untuk
penyidikan dan tuntutan kejahatan harus menggunakan Hukum Acara Pidana kecuali disebutkan dalam hukum khusus yang lain.
Penanganan masalah hukum dalam pelestarian hutan dan keanekaragaman hayati tidak hanya berkaitan dengan hukum pidana, tapi juga termasuk
15 Barda Nawawi Arif , Sari Kuliah Hukum Pidana II. (Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, 1984), hlm.37.
dalam undang-undang administratif dan undang-undang sipil. Contoh dari tuntutan hukum sipil termasuk ketika pemerintah dituntut oleh publik karena konflik kepemilikan tanah, atau pemerintah dituntut perusahaan karena perilaku tidak pantas. Sebagai contoh praktis, pemerintah pernah dituntut menggunakan hukum administratif karena memberikan hak perkebunan di Cagar Alam Rawa Singkil, Aceh, yang menjadi habitat orang-utan.
Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
Sebelum Januari 2015, Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) yang berada di dalam Kementerian Kehutanan adalah institusi yang bertanggung jawab untuk pelestarian keanekaragamanan hayati dan area yang dilindungi. Dibawah arahan PHKA, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), biasanya berada di tingkat provinsi dan Kantor Taman Nasional adalah perwakilan (unit pelaksana) dari pemerintah pusat dengan tanggung jawab untuk mengelola keanekaragaman hayati dan area cagar alam. Pada masa jabatan Joko Widodo, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan digabung menjadi satu Kementerian (KLHK). Oleh karena itu, struktur dan tanggung jawab pengelolaan pelestarian keanekaragaman hayati akan berubah. PHKA akan diubah menjadi Direktorat Jenderal Ekosistem dan Konservasi Sumber Daya Alam. Direktorat Penegakan Hukum Kehutanan didalam PHKA akan dipromosikan menjadi Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Kombinasi kapasitas penegakan hukum antara kementerian tersebut menjanjikan langkah positif dalam upaya menurunkan kejahatan terhadap satwa liar dan kejahatan kehutanan, walaupun masih sedikitnya staf yang menangani penegakan hukum setelah kedua Kementerian menjadi satu.17
Saat ini, penegakan hukum kejahatan terhadap satwa liar di Indonesia sangat bergantung pada polisi hutan khusus (polisi hutan atau Polhut) dan penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) yang ditetapkan berdasarkan mandat UU pelaksana No. 41/1999 mengenai Kehutanan, dan diberikan kewenangan
khusus terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kejahatan kehutanan dan satwa. Operasi polisi hutan ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kehutanan No. 75/2014. Keputusan Menteri No. 56/2014 juga memungkinkan Masyarakat Mitra Polhut atau MMP, dimana komunitas dapat direkrut dan dilatih untuk membantu polisi hutan untuk melindungi hutan dan satwa liar, ikut dalam patroli, menjalani aktivitas untuk meningkatkan kesadaran, dan memberikan informasi mengenai aktivitas ilegal.18
Setiap unit pengelolaan (taman nasional atau BKSDA) mempekerjakan polisi hutan dan PPNS untuk menjalankan patroli untuk kepentingan perlindungan dan penegakan hukum. Terdapat total 7,908 polisi hutan di seluruh Indonesia, termasuk 833 polisi hutan yang telah dilatih khusus dan membentuk satu dari 11 Satuan Polhut Reaksi Cepat (SPORC) untuk membantu taman nasional atau BKSDA untuk operasi pengegakan hukum khusus19. Hanya 2,999 polisi hutan yang berada dalam kewenangan area
yang dilindungi. Selain itu, terdapat 1,841 penyidik sipil (PPNS) yang ditempatkan di taman nasional dan kantor BKSDA.
Secara keseluruhan, tingkat sumber daya seperti ini masih jauh dari cukup jika dibandingkan dengan >100 juta hektar area hutan di Indonesa, jumlah pulau yang banyak dan ratusan area konservasi. Lebih jauh lagi, walaupun polisi hutan telah diberi kewenangan untuk melakukan penegakan hukum yang berkaitan dengan kejahatan terhadap satwa, kewenangan mereka terbatas, dan mereka tidak punya kekuatan yang sama dengan kepolisian nasional, seperti kemampuan untuk menahan tersangka. Maka penting untuk meningkatkan kapasitas dan kewenangan polisi hutan dan penyidik sipil untuk meningkatkan upaya memberantas meningkatnya jumlah kejahatan yang berhubungan dengan keanekaragaman hayati yang semakin canggih (termasuk kejahatan terhadap satwa, perambahan habitat hutan dan bio-piracy). Keterbatasan penting kedua adalah sistem yang ada dimana PPNS tidak dapat langsung mengirimkan catatan kasus ke jaksa. Sebaliknya, mereka harus mengirimkan dokumen melalui penyidik polisi.
18 Roeslan Saleh, Perbuatan Pidana Dan Pertanggung Jawaban Pidana : Dua Pengertian Dasar Dalam Hukum Pidana, (Jakarta : Aksara Baru, 1983), hlm.75.
BAB III
KESIMPULAN
Jadi CITES memiliki 4 tipe dokumen dalam perdagangan tumbuhan dan satwa liar yaitu: (i) Export Permits, (ii) Import Permits, (iii) Re-export Certificates, dan (iv) Other Certificates. Dokumen tersebut merupakan dokumen resmi yang hanya bisa dikeluarkan oleh Management Authority (otoritas pengelolaan) berdasarkan rekomendasi Scientific Authority (otoritas keilmuan). Untuk kondisi perdagangan satwa langka di Indonesia fakta yang terjadi adalah banyak spesies yang kelestariannya terancam,perdagangan satwa bernilai milyaran dollar setiap tahunnya, perdagangan ilegal semakin berkembang, jika kejahatan terhadap satwa tidak terkontrol, banyak spesies akan punah. Sedangkan untuk pengaturan hukum untuk satwa liar di Indonesia di atur dalam UU No. 8/1981 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHP) untuk prosedur standar untuk penanganan kasus pidana pada tingkat lembaga pelaksana. Selain itu polisi hutan khusus (polisi hutan atau Polhut) dan penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) yang ditetapkan berdasarkan mandat UU pelaksana No. 41/1999 mengenai Kehutanan, dan Operasi polisi hutan ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kehutanan No. 75/2014.
DAFTAR PUSTAKA
Cifebrima Suyastri.2012”Mengukur Efektivitas CITES Dalam Menangani
Perdagangan Satwa
Liar Dengan Menggunakan Identiikasi Legalisasi Artikel CITES. Jurnal Transnasional,
Vol. 4, No. 1, Juli 2012. Universitas Riau.
Flora , Artikel I, huruf (f), 1973.
Daniel J. D. Natusch dan Jessica A. Lyons, Exploited for Pets: The Harvest and Trade Of Amphibians and Reptiles From Indonesian New Guinea, Sydney, 2012, hlm.2901-2902.
Departemen Kehutanan, Strategi dan Rancana Aksi Konservasi Gajah Sumatera dan Kalimantan 2007-2017. Jakarta, 2007, hlm.3.
Chairul saleh, Imelda Hilaluddin, Fatni Hanif. Penegakan Hukum Perdagangan Ilegal Hidupan Liar (Jakarta:Palmedia creative pro.2007), hal. 50