MAKALAH KS. DAGANG
PENGARUH PERTUKARAN INFORMASI SECARA OTOMATIS (AUTOMATIC EXCHANGE OF INFORMATION/AEoI) TERHADAP
KERAHASIAAN BANK
Oleh :
Siti Aisah Putri Utami
E1A014157
KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS HUKUM
PURWOKERTO
Daftar Isi
BAB I...3
PENDAHULUAN...3
1.1 LATAR BELAKANG...3
1.2 RUMUSAN MASALAH...4
1.3 TUJUAN...4
BAB II...5
PEMBAHASAN...5
2.1 Automatic Exchange Of Information/AEoI...5
A. Pengertian...5
B. Sejarah...6
C. Penerapan di Indonesia...6
2.2 Sistem Kerahasiaan Bank...7
A. Pengertian...7
B. Teori Rahasia Bank...8
C. Penerapan Rahasia Bank di Indonesia...10
2.3 Pengaruh AEoI terhadap Sistem Kerhasiaan Bank...12
BAB III...15
PENUTUP...15
3.1 KESIMPULAN...15
3.2 SARAN...15
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan Negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia yaitu mencapai 249,9 juta jiwa dan 1,5 persen dari jumlah tersebut merupakan seorang pengusaha. Banyaknya jumlah penduduk di Indonesia berakibat pada banyaknya sektor usaha yang dikembangkan di Indonesia baik usaha yang didirikan oleh masyarakat Indonesia itu sendiri, maupun warga Negara asing yang mendirikan usahanya di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat Indonesia dan tentunya juga untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya.
Prinsip mencari keuntungan yang sebesar-besarnya pada pengusaha, baik pengusaha lokal maupun pengusaha mancanegara membuat sebagian dari mereka rela melakukan hal apapun tak terkecuali untuk mendatangkan untung yang sebesar-besarnya. Beberapa hal yang dilakukan adalah dengan cara menggelapkan pajak dan menggelapkan asset yang dimilikinya demi menghindari pembayaran pajak.
Tahun 2016 lalu, terkuak kabar mengenai jutaan dokumen finansial dari sebuah firma hukum asal Panama, bocor dan mengungkapkan bagaimana jejaring korupsi dan kejahatan pajak para kepala negara, agen rahasia, pesohor sampai buronan, disembunyikan di surga bebas pajak. Jutaan dokumen ini menunjukkan bahwa bank-bank besar adalah motor utama di balik pendirian perusahaan-perusahaan di British Virgin Islands, Panama, dan surga bebas pajak lain, yang sulit dilacak penegak hukum. Ada daftar sekitar 15.600 perusahaan papan nama (paper companies) yang dibuatkan oleh bank untuk klien mereka yang ingin keuangan mereka tersembunyi.1 Indonesia sendiri
sekitar 1.038 orang-orang kaya Indonesia masuk dalam bagian daftar kasus Panama Papers tersebut.
Kasus Panama Papers mengantarkan Pemerintah Indonesia untuk lekas siaga dalam mencegah dan mengatasi permasalahan pajak, salah satunya yang dihadirkan adalah kebijakan mengenai pengampunan pajak/ tax amnesti yang baru saja berakhir pada bulan maret lalu. Menanggapi keberhasilan program pengampunan pajak, pemerintah Indonesia bekerjasama dengan Negara G20 menyetujui gagasan mengenai pertukaran informasi secra otomatis/AEoI mengenai aktivitas akun keuangan nasabah guna menghindari adanya pengemplang pajak.
Indonesia telah berkomitmen untuk melaksanakan program AEoI pada tahun 2018 mendatang, tetapi dalam pelaksanaan AEOI di Indonesia masih terbentur oleh beberapa regulasi yang ada, antara lain terbentur dengan UU Perbankan, terutama dalam pasal mengenai kerahasiaan bank. Oleh karena itu, saya tertarik untuk membuat sebuah makalah dengan judul “Pengaruuh Pertukaran Informasi Secara Otomatis (Automatic Exchange Of Information/AEoI) Terhadap Kerahasiaan Bank”.
1.2 RUMUSAN MASALAH
a. Apakah yang dimaksud dengan Pertukaran Informasi Secara Otomatis (Automatic Exchange Of Information/AEoI) ?
b. Apakah yang dimaksud dengan rahasia bank?
c. Bagaimanakah pengaruh Automatic Exchange Of Information/AEoI terhadap sistem kerahasiaan bank?
a. Untuk mengetahui maksud Pertukaran Informasi Secara Otomatis (Automatic Exchange Of Information/AEoI).
b. Untuk mengetahui apa yang maksud rahasia bank.
c. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh Automatic Exchange Of Information/AEoI terhadap sistem kerahasiaan bank.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Automatic Exchange Of Information/AEoI
A. Pengertian
The Automatic Exchange of Information (AEoI) merupakan standar untuk pertukaran otomatis informasi finansial dalam masalah pajak. Dalam standar AEoI terjadi kesepakatan bersama untuk membuka dan memberikan akses ke informasi keuangan di dalam negeri kepada otoritas pajak negara lain dan memperoleh akses ke informasi keuangan di luar negeri secara otomatis. AEoI diprakarsai oleh OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) atau organisasi untuk kerjasama ekonomi dan pengembangan, dengan masukan dari yuridiksi lain dan konsultasi dengan lembaga keuangan.
Pertukaran Informasinya Diatur Berdasarkan Perjanjian Antara Negara Indonesia Dengan Negara Mitra Atau Yurisdiksi Mitra.
Berikut ini beberapa poin ketentuan yang tercantum dalam AEoI :
Standar AEoI mengharuskan lembaga keuangan untuk melaporkan informasi tentang rekening yang dimiliki oleh individu non-penduduk dan badan (termasuk trust dan yayasan) untuk administrasi pajak mereka.
Administrasi pajak akan aman mengirimkan informasi ke negara-negara pemegang rekening secara tahunan.
Standard AEoI tidak hanya mewajibkan bank untuk melaporkan, tetapi juga lembaga kustodian, entitas investasi tertentu, dan perusahaan asuransi. Jenis informasi akun yang akan dilaporkan meliputi saldo rekening, bunga, dividen, dan penjualan dan penebusan hasil aset keuangan dsb.2
B. Sejarah
Pertukaran informasi secara otomatis (AEoI) telah mengemuka sejak tahun 2010, ketika Pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan kebijakan Foreign Account Tax Complience Act (FACTA) yang mewajibkan lembaga keuangan yang berada di luar Amerika (Foreign Financial Instituion/FFI), untuk melakukan pelaporan kepada Amerika mengenai informasi terkait akun keuangan yang dimiliki penduduk Amerika. Berangkat dari kebijakan tersebut, sejak tahun 2013, Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral dari negara-negara anggota OECD dan G-20, termasuk Indonesia menyetujui kebijakan semacam FACTA lewat Common Reporting Standard(CRS).
Per tanggal 14 April 2016, OECD merilis 94 yurisdiksi dimana 55 diantaranya telah berkomitmen mempertukarkan informasi secara otomatis di tahun 2017, termasuk yurisdiksi yang selama ini dikenal sebagai tax haven, seperti Bermuda,
British Virgin Islan, Cayman Island, Luxembourgh. Selebihnya, seperti Singapura, Jepang, dan termasuk Indonesia baru akan tahun 2018. Rencananya, Pemerintah akan menandatangani FATCA dan akan memulai pertukaran informasi secara bertahap dengan Pemerintah Amerika mulai September 2016 dan mempersiapkan penerapan AEoI dengan 94 yurisdiksi lain yang akan berlaku September 2018.
C. Penerapan di Indonesia
Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Suahasil Nazara mengatakan sistem perbankan Indonesia belum mendukung sepenuhnya pertukaran informasi secara otomatis. Automatic Exchange of Information (AEOI) ini terutama terkait keterbukaan informasi perbankan dan pajak. Menurut Suahasil, Undang-Undang Perbankan Indonesia belum selaras dengan pelaksanaan AEOI dari segi kerahasiaan perbankan. Oleh sebab itu, pemerintah berencana memperbaiki peraturan tersebut.
2.2 Sistem Kerahasiaan Bank
A. Pengertian
Pasal 1 angka 28 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan menentukan bahwa Rahasia bank adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya. Sementara pasal 1 angka 14 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah menambahkan kata “nasabah investor dan investasinya” dalam definisi rahasia bank.
yang memerlukan kepercayaan masyarakat yang menyimpan dananya di bank. Masyarakat hanya akan memepercayakan dananya disimpan di bank atau memanfaatkan jasa bank apabila ada jaminan terhadap nasabah bahwa bank akan merahasiakan tentang nasabah penyimpan dan simpanannya, tentu saja sepanjang tidak dikecualikan dalam undang-undang.3
Menurut Bambang Setioprodjo, secara filosofi, kewajiban bank memegang rahasia keuangan nasabah atau perlindungan atas kerahasiaan keuangan nasabah didasarkan pada:
1. Hak setiap orang atau badan untuk tidak dicampuri atas masalah yang bersifat pribadi (personal privacy)
2. Hak yang timbul dari perikatan antara bank dan nasabahnya, dalam kaitan ini bank berfungsi sebagai kuasa dari nasabahnya dan dengan itikad baik wajib melindungi kepentingan nasabah;
3. Atas dasar ketentuan perundang-undangan yang berlaku, yaitu Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, yang menegaskan bahwa berdasarkan fungsi utama bank dalam menghimpun dana dari masyarakat, bekerja berdasarkan kepercayaan masyarakat, maka pengetahuan bank tentang keadaan keuangan nasabah tidak disalahgunakan dan wajib dijaga kerahasiaannya oleh setiap bank;
4. Kebiasaan dan kelaziman dalam dunia perbankan;
5. Karakteristik kegiatan usaha bank.4
B. Teori Rahasia Bank
3 Abdulkadir Muhammad, Lembaga Keuangan dan Pembiayaan, Bandung : Citra Aditya Bakti, 2000, hal.76.
Lembaga keuangan adalah lembaga yang dipercaya masyarakat (fiduciary financial institution). Oleh karena itu, bank dihadapkan pada dua kewajiban yang saling bertentangan dan seringkali tidak dapat dirundingkan. Di satu pihak, bank mempunyai kewajiban untuk tetap merahasiakan keadaan dan catatan keuangan nasabahnya (duty of confidentiality) karena kewajiban ini timbul atas dasar adanya kepercayaan (fiduciary duty). Di lain pihak, bank juga berkewajiban untuk mengungkapkan (disclose) keadaan dan catatan keuangan nasabahnya dalam keadaan-keadaan tertentu.5
Ada dua pendapat mengenai teori rahasia bank. Pendapat pertama menyatakan bahwa teori rahasia bank bersifat mutlak, yaitu bahwa bank berkewajiban menyimpan rahasia nasabah yang diketahui oleh bank karena kegiatan usahanya dalam keadaan apapun. Teori ini banyak dianut oleh bank-bank di banyak Negara di dunia, termasuk Indonesia. Adanya pengecualian dalam ketentuan rahasia bank memungkinkan untuk kepentingan tertentu suatu badan atau instansi diperbolehkan meminta keterangan atau data tentang keadaan keuangan nasabah yang bersangkutan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.6
Sementara teori kedua menyatakan bahwa rahasia bank bersifat relative atau nisbi, yaitu bahwa bank diperbolehkan membuka rahasia nasabahnya jika untuk suatu kepentingan mendesak, demi kepentingan negara.7
Teori yang bersifat mutlak, terlalu mementingkan individu sehingga kepentingan negara dan masyarakat banyak sering terabaikan.teori ini dianut oleh bank-bank Swiss yang sangat ketat dalam menjaga kerahasiaan nasabahnya.
5 Rachmadi Usman, Aspek-Aspek Hukum Perbankan Indonesia, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama 2001, hal.155
Di swiss kerahasiaan bank juga tidak dapat diterobos untuk kepentingan perpajakan. Hal ini disebabkan dalam sistem perpajakan itu sendiri di Swiss menganut ketentuan bahwa pihak ketiga tidak wajib memberikan keterangan kepada aparat pajak jika ditemukan perkiraan ada penggelapan pajak yang dilakukan seseorang.8 Namun, semenjak Bank
Swiss bersedia untuk memberi dokumen berkaitan dengan harta Marcos (nasabahnya), Bank Swiss menjadi tidak seketat sebelumnya.
Menurut Hendrobudiyanto seorang ahli perbankan Direktur Bank Indonesia, menjelaskan bahwa :
“Di negara seperti Amerika Serikat, Belanda, Malaysia serta Singapura rahasia bank umumnya diberlakukan berdasarkan hubungan kontraktual. Maksudnya, prinsip rahasia bank yang ditetapkan dapat bersifat lentur bisa ditembus jika memang ada alasan yang benar-benar relevan dan sangat kuat”.9
Pendapat di atas dapat dilihat bahwa suatu negara banyak yang disandarkan pada suatu ikatan dasar keperdataan. Artinya, apabila nasabah sepakat untuk memberikan data-data yang tersimpan pada bank, bank dapat membukanya. Mekanisme seperti ini di Indonesia telah diakomodasi dalam ketentuan rahasia bank yang terbaru, yaitu pada pasal 44A Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998 Tentang Perubahan atas Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Namun, secara garis besarnya ketentuan rahasia bank di Indonesia cukup ketat sehingga dengan pengaturan yang ketat tersebut sering dihadapkan pada kondisi yang tidak menguntungkan pula dalam pelaksanaannya.10
C. Penerapan Rahasia Bank di Indonesia
8 “Swiss Laci Uang Panas Dunia”, Bonus Info Bank, Januari 1991, hal. 3-4.
9 Muhammad Djumhana, Rahasia Bank (Ketentuan dan Penerapannya di Indonesia), Bandung : Citra Aditya Bakti 1996, hal.121.
Indonesia dalam menerapkan prinsip rahasia bank menggunakan teori nisbi atau relative. Dengan demikian, pemberian data dan informasi yang menyangkut kerahasiaan bank kepada pihak lain dimungkinkan, berbeda dengan sistem swiss yang hanya memungkinkan pembukaan rahasia bank apbila ada putusan pengadilan.
Penerapan teori nisbi di Indonesia memungkinkan adanya pengecualian dalam rahasia bank, hal tersebut juga telah diatur di dalam pasal 40 Undang-undang No. 10 Tahun 1998 yang mewajibkan bank untuk merahasiakan keterangan mengenai nasabah penyimpan dan simpanannya, kecuali dalam hal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41, Pasal 41 A, Pasal 42, Pasal 43, Pasal 44,dan Pasal 44 A.
Beberapa hal yang termasuk pengecualian terhadap pemberian data dan informasi nasabah yang bersifat rahasia kepada pihak lain tersebut yaitu :
1. Untuk kepentingan perpajakan bank dapat menginformasikan keterangan-keterangan dan bukti-bukti tertulis atas permintaan Menteri Keuangan melalui pimpinan Bank Indonesia.
2. Untuk penyelesaian piutang bank yang diserahkan kepada Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara / Panitia Urusan Piutang Negara, Pimpinan Bank Indonesia memberikan izin kepada pejabat Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara / Panitia Urusan Piutang Negara untuk memperoleh keterangan dari bank mengenai simpanan nasabah debitur.
4. Dalam perkara perdata antar bank dengan nasabahnya, Direksi bank yang bersangkutan dapat menginformasikan kepada pengadilan tentang keadaan keuangan nasabah yang bersangkutan dan memberikan keterangan lain yang relevan dengan perkara tersebut tanpa perlu izin dari Menteri.
5. Dalam rangka tukar-menukar informasi antar bank, maka direksi bank dapat memberitahukan tentang keadaan keuangan nasabahnya kepada bank lain dengan tujuan untuk memperlancar dan mengamankan kegiatan usaha bank, antara lain guna mencegah terjadinya kredit rangkap serta untuk mengetahui keadaan dan status dari suatu bank.
6. Atas permintaan, persetujuan atau kuasa dari nasabah penyimpan yang dibuat secara tertulis, bank wajib memberikan keterangan mengenai simpanan nasabah penyimpan pada bank yang bersangkutan kepada pihak yang ditunjuk oleh nasabah penyimpan tersebut.
7. Dalam hal nasabah penyimpan telah meninggal dunia, ahli waris yang sah dari nasabah penyimpan yang bersangkutan berhak memperoleh keterangan mengenai simpanan nasabah penyimpan dari bank yang bersangkutan.
Pihak yang dapat mengeluarkan keterangan mengenai hal-hal yang termasuk ke dalam rahasia bank adalah Pimpinan bank Indonesia. Sedangkan yang berhak untuk meminta pembukaan hal yang menyangkut rahasia bank dari seorang nasabah penyimpan, apabila berkaitan dengan kepentingan perpajakan saat ini hanya bisa dilakukan oleh menteri keuangan. Pembukaan rahasia bank untuk keperluan pemeriksaan dan penyidikan perpajakan, pembukaannya harus ada permintaan tertulis dari menteri keuangan, kecuali dalam menjalankan ketentuan peraturan perpajakan lainnya, tidak diperlukan permintaan terlebih dahulu.11
2.3 Pengaruh AEoI terhadap Sistem Kerhasiaan Bank
Penerapan sistem AEoI di Indonesia tentunya akan berdampak pada perubahan peraturan perundangan yang terkait dengan program AEoI seperti revisi pada undang-undang Nomor 10 tahun 1998 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, UU Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP), UU Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas UU Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan dan UU Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga atas UU Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah juga akan direvisi guna menunjang pelaksaan AEoI.
Pada pembahasan sebelumnya pun sudah dibahas mengenai penerapan teori rahasia bank yang dianut oleh bangsa Indonesia yang apabila dikaitkan dengan penerapan program AEoI di Indonesia maka perubahan utama yang akan dilakukan pada Undang-Undang perbankan adalah mengenai sistem rahasia bank karena cenderung menghambat berlakunya AEoI.
Konsekuensi pertama dan menjadi perdebatan adalah apakah pasal mengenai rahasia bank masih relevan untuk digunakan ketika Indonesia telah menjalankan program AEoI?. Deputi Direktur Pengembangan Pengawasan dan Manajemen Krisis OJK, Aslan Lubis menegaskan bahwa prinsip kerahasiaan perbankan mutlak dijaga. Praktek perbankan yang diterapkan di Indonesia juga mengacu kepada international best practice di mana hingga saat ini tidak ada satupun negara di dunia yang ‘menelanjangi’ kerahasiaan perbankan. Jika aspek tersebut disimpangi, hal tersebut akan mengikis kepercayaan masyarakat kepada perbankan selaku pengelola dana mengingat rahasia bank salah satunya berfungsi untuk menjaga hal tersebut 12
Berkaca dari pendapat Aslan Lubis, Indonesia tentu tidak mudah untuk menghilangkan prinsip kerahasiaan bank yang sudah melekat pada keberadaan
bank itu sendiri, tetapi satu sisi Indonesia juga tidak dapat mempertahankan prinsip kerahasiaan bank secara menyeluruh meskipun Indonesia sendiri menganut teori nisbi yang sifatnya tidak terlalu ketat. Oleh karena itu, teori yang mungkin dapat diberlakukan dan relatif cocok dengan era AEoI adalah melalui hubungan kontraktual seperti yang dikatakan oleh hendrobudiyanto di atas. Dengan hubungan kontraktual memungkinkan Bank atas seizin nasabah memberikan informasinya kepada pihak ketiga dalam hal atau alasan tertentu untuk kepentingan bersama.
Konsekuensi kedua, yaitu ketika era AEoI dimulai adalah penyimpangan tujuan dari prinsip rahasia bank itu senriri. Seperti yang telah kita ketahui bahwa adanya prinsip kerahasiaan bank adalah semata-mata untuk menjalin rasa kepercayaan nasabah terhadap bank yang akan menyimpan harta dan datanya. Dengan hadirnya AEoI, hubungan keperdataan yang terjalin antara bank dengan nasabah secara tidak langsung dicampurtangani oleh pemerintah sebagai pihak ketiga. Hal ini tentu mengubah hubungan keperdataan menjadi hubungan publik karena adanya campur tangan pemerintah dalam hal yang ranahnya privat.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Pertukaran Informasi Secara Otomatis (Automatic Exchange Of
masih terbentur oleh beberapa aturan salah satunya aturan mengenai rahasia bank
Indonesia menganut teori kerahasiaan bank yang nisbi/relatif yang masih memungkinkan membuka data nasabah dalam hal yang telah diatur oleh pasal 41, Pasal 41 A, Pasal 42, Pasal 43, Pasal 44,dan Pasal 44 A Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998. Dengan ketentuan bahwa pihak yang berhak untuk meminta pembukaan hal yang menyangkut rahasia bank dari seorang nasabah penyimpan hanya bisa dilakukan oleh menteri keuangan.
Hadirnya era AEoI dapat memengaruhi prinsip/sistem kerahasiaan bank. Diantaranya adalah dapat memungkinkan untuk dihapusnya sistem rahasia bank atau diganti dengan hubungan kontraktual seperti yang ada pada beberapa Negara, dapat mengubah ikatan keperdataan yang hanya dilakukan pihak bank oleh pihak nasabah menjadi ikatan public yang dicampurtangani oleh pemerintah sebagai pihak ketiga, yang terakhir adalah tidak adanya jaminan pemerintah mauun negara mitra terkait rahasia yang didapatkan hanya untuk kepentingan perpajakan.
3.2 SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. https://investigasi.tempo.co/panama/. (diakses tanggal 17 April2017)
Firstyanto, Augy Ladyana. Automatic Exchange Of Information For Tax Purpose.
kamis, 22 September 2016. https://economisaugy.blogspot.co.id/2016/09/ paper-automatic-exchange-of-information.html. (diakses tanggal 13 April 2017)
Djumhana, Muhammad. 2012. Hukum Perbankan di Indonesia. Bandung; PT Citra Aditya Bakti.
___________________. 1996. Rahasia Bank (Ketentuan dan Penerapannya di Indonesia). Bandung: Citra Aditya Bakti
Gazali, Djoni S. dan Usman, rachmadi. 2010. Hukum Perbankan. Jakarta: Sinar Grafika
Hermansyah.2013. Hukum perbankan nasional Indonesia. Jakarta: Kencana
Muhammad, Abdulkadir. 2000. Lembaga Keuangan dan Pembiayaan. Bandung: Citra Aditya Bakti
Putra, Nanda Narendra. Kata OJK Soal Rencana Penghapusan Prinsip Kerahasiaan Perbankan. Selasa, 30 Agustus 2016.
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt57c424fed80d3/kata-ojk-soal-rencana-penghapusan-prinsip-kerahasiaan-perbankan . (diakses tanggal 10 April 2017)