• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI TENTANG PROFIL PERKEMBANGAN KOGNIT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "STUDI TENTANG PROFIL PERKEMBANGAN KOGNIT"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI TENTANG PROFIL PERKEMBANGAN KOGNITIF MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA FPMIPA IKIP BANDUNG

Laporan Penelitian

Harry Firman

Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA IKIP Bandung, 1988

ABSTRAK

(2)

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Telah menjadi satu prinsip dalam pendidikan bahwa kurikulum harus sesuai dengan taraf kemampuan penalaran siswa, sebab dengan kondisi itulah materi pelajaran dapat diserap oleh siswa. dalam arti dapat difahami dan diterapkan. Prinsip ini berlaku juga bagi program pengajaran kimia di tingkat perguruan tinggi, seperti misalnya di jurusan kimia FPMIPA IKIP Bandung. Namun demikian, hal ini tidak berarti bahwa materi perkuliahan harus diseleksi sedemikian rupa agar sesuai dengan kemampuan penalaran mayoritas mahasiswa. Bagi program pendidikan profesional seperti misalnya pendidikan guru kimia, terdapat perangkat kompetensi standar yang harus dikuasai mahasiswa sebelum dinyatakan lulus. Perangkat kompetensi standar tersebut tidak terlepas dari kurikulum program pengajaran kimia di SLTA dan perkembangan ilmu kimia serta penerapan ilmu kimia di masyarakat. Esensi kesesuaian antara kurikulum dan kemampuan penalaran mahasiswa terletak pada bagaimana materi kuliah dipresentasikan sehingga dapat diolah dalam fikiran mahasiswa. Banyaknya mahasiswa yang tidak mencapai taraf penguasaan yang tinggi dalam banyak mata kuliah, memberi isyarat bagi perlunya pengkajian yang mendalam akan kesesuaian kurikulum dan taraf kemampuan kognitif (intelektual) mahasiswa. Fakta ini sekaligus menunjukkan perlunya peninjauan kembali pada asumsi tentang "mahasiswa” sebagai individu yang telah mencapai kematangan dalam penalaran sehingga dapat mengikuti logika pengajar dan penulis buku sehingga mampu menyerap materi perkuliahan, apapun materi perkuliahan itu serta bagaimanapun materi perkuliahan itu dipresentasikan.

Langkah awal yang perlu dilakukan ke arah menciptakan kesesuaian antara kurikulum dan taraf kemampuan penalaran mahasiswa, ialah melakukan "pemetaan" (mapping) tentang taraf perkembangan penalaran mahasiswa sehingga diperoleh profil mahasiswa dalam aspek perkembangan kognitifnya. Sudah barang tentu profil itu bukan merupakan gambaran yang kekal dalam arti tetap selama kurun waktu yang panjang, sebab banyak faktor yang mempengaruhinya. Akan tetapi profil perkembangan kognitif mahasiswa tersebut dapat menjadi salah satu referensi dalam mendiagnosis kesulitan belajar mahasiswa serta merencanakan kegiatan belajar-mengajar dalam perkuliahan. Bertitik tolak dari kebutuhan itulah penelitian ini dilakukan.

1.2. Rumusan Masalah

Tujuan utama penelitian ini ialah memperoleh gambaran tentang profil perkembangan kognitif mahasiswa jurusan kimia FPMIPA IKIP Bandung. Profil perkembangan kognitif ini diwujudkan dalam distribusi tahap (stage) perkembangan kognitif yang dicapai para mahasiswa.

Berbagai variabel akan dikaitan pada distribusi tahap perkembangan kognitif mahasiswa, yakni tingkat pendidikan, jenis kelamin, dan jenis program pendidikan. Tinjaunn ini dilakukan untuk memperoleh informasi tentang variabilitas profil perkembangan kognitif di antara sub-sub populasi. Sesuai dengan tujuan penelitian ini maka rumusan masalah yang akan dijawab dalam penelitian ini meliputi:

1) Bagaimanakah distribusi tahap perkembangan kognitif yang dicapai mahasiswa jurusan pendidikan kimia FPMIPA?

(3)

3) Apakah perbedaan jenis kelamin menampilkan profil perkembangan kognitif yang berbeda?

4) Apakah distribusi tahap perkembangan kognitif mahasiswa berbeda untuk jenis program yang berbeda?

1.3. Definisi Operasional

Perlu didefinisikan beberapa istilah penting yang digunakan dalam laporan penelitian ini demi kesamaan persepsi peneliti dan pembaca laporan ini tentang persoalan yang dibahas. Istilah-istilah penting yang didefinisikan ialah sebagai berikut:

1) Profil perkembangan kognitif, yaitu distribusi (penyebaran) mahasiswa berdasarkan kategori tahap perkembangan kognitif yang dicapainya. Dengan menggunakan referensi teori Piaget tentang perkembangan kognitif, maka mahasiswa berdasarkan pola penalarannya yang diukur oleh "Longeot Test" dapat diklasifikasi ke dalam tahap operasi kongkrit awal (IIA), tahap operasi kongkrit akhir (IIB), tahap operasi formal awal (IIIA), dan tahap operasi formal akhir (IIIB).

2) Tingkat pendidikan, diartikan sebagai lamanya (dalam tahun) mahasiswa mengikuti program pendidikan di jurusan pendidikan kimia FPMIPA, sebagaimana sebutan yang lazim dipakai di perguruan tinggi. Seorang mahasiswa tergolong mahasiswa tingkat I jika baru mengikuti satu sampai dua semester, tergolong tingkat II jika telah mengikuti 3 sampai 4 semester, tergolong tingkat III jika telah mengikuti 5 sampai 6 semester, dan tergolong tingkat IV jika telah mengikuti 7 semester atau lebih program pendidikan.

3) Jenis program, ialah jenis program pendidikan yang dipilih mahasiswa. Terdapat dua jenis program pendidikan yang diselenggarakan jurusan pendidikan kimia FPMIPA, yakni program S-1 dan D-3.

1.4. Sistematika Laporan

Laporan ini terdiri dari 6 bagian. Bagian I merupakan pendahuluan. yang terdiri dari latar belakang penelitian, rumusan masalah, definisi operasional, serta sistematika laporan. Bagian II memuat landasan teori yang digunakan sebagai referensi (acuan) dalam penelitian ini, serta review hasil penelitian-penelitian sejenis yang pernah dilakukan. Bagian III memuat metode penelitian yang dikembangkan dalam penelitian ini, yang mencakup pemilihan subyek penelitian, penyusunan serta evaluasi instrumen yang digunakan, serta tehnik pengolahan data yang dipilih. Hasil pengolahan data serta penafsirannya dipresentasikan pada bagian IV. Bagian V memuat diskusi tentang implikasi praktis dari penemuan-penemuan dari penelitian ini. Selanjutnya kesimpulan dan saran serta literatur yang dijadikan referensi menjadi penutup pada laporan ini.

II. TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1. Landasan Teori

(4)

kognitif ditandai oleh pola penalaran tertentu yang khas dan merupakan peningkatan dari tahap perkembangan kognitif sebelumnya.

Pada tahap sensori-motor (sektar 0 sampai 2 tahun) berkembang kemampuan mengkoordinasikan antara indra dengan gerakan anggota tubuh. Pada tahap ini pula terjadi pematangan konsep obyek pada fikiran anak. Pada awal tahap sensori-motor "dunia” masih terpisah dari dirinya. Suatu obyek itu ada hanya jika berada dalam medan penglihatannya. Kematangan konsep obyek terjadi pada akhir tahap sensori-motor, sebagaimana ditunjukkan oleh kemampuan anak mempresentasikan obyek-obyek fisik dengan lambang-lambang.

Anak-anak pada tahap pra-operasi (sekitar 2 sampai 6 tahun) belum mampu berfikir logis karena penalarannya lebih didominasi oleh apa yang dipersepsinya. Mereka belum dapat melakukan “operasi” (tindakan mental) seperti halnya mengklasifikasikan sekelompok obyek, meletakkan benda-benda dalam urutan logis, menjumlah, mengurang, dan sebagainya. Anak-anak pra-operasi memusatkan (centering) perhatiannya pada aspek yang menonjol sambil mengabaikan yang lain. Sebagai ilustrasi dikemukakan di sini eksperimen klasik Piaget yakni dua bola tanah liat berukuran sama diyakini berisi banyaknya tanah liat yang sama oleh anak. Akan tetapi jika salah satu bola tadi diubah bentuknya menjadi memanjang seperti sosis, maka anak tidak yakin bahwa keduanya masih berisi tanah liat yang sama banyaknya.

Pada tahap operaai kongrit (sekitar 6 sampai 12 tahun) mulai berkembang kemampuan menalar secara logis, sekalipun operasi mental hanya dapat mereka lakukan terhadap obyek-obyek yang kongkrit. Mereka belum mampu melakukan operasi-operasi mental terhadap gagasan-gagasan abstrak, generalisasi verbal, sekalipun tertulis dalam bentuk rumusan kalimat. Penalaran anak-anak operasi kongkrit tidak lagi perseptual atau terikat pada salah satu ciri khusus suatu obyek yang menonjol. Penalaran mereka telah “reversibel", yaitu dapat mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi berurutan dengan segala kemungkinan cara kembali lagi. Mereka menyatakan sekalipun bentuk tanah liat diubah-ubah, banyaknya mesti sama karena dapat diubah kembali ke bentuk semula (kekekalan substansi). Menuiut penalaran mereka. berat suatu obyek tetap sama walaupun bentuknya diubah-ubah (kekekalan berat). Demilian juga dengan volum cairan akan tetap sama sekalipun bentuknya berubah karena tempatnya diganti (kekekalan volum).

Tahap operasi formal merupakan tahap akhir dari perkembangan kognitif. Anak-anak operasi formal mampu molakukan penalaran dengan simbol-simbol, ide-ide, abstraksi, dan generalisasi. Mereka mampu melakukan operasi-operasi yang disebut Piaget sebagai operasi orde kedua (second-order operations), yaitu operasi yang tidak mengacu pada obyek atau peristiwanya secara langsung (kongkrit). Anak operasi formal mampu memahami hubungan di antara hubunaan-hubungan (logika operasional), sehingga tidak ada kesulitan bagi mereka untuk menangani masalah bertipe berikut ini.

(5)

dapat menjawab masalah seperti berikut ini : "Ada berapa buah? pasangan angka yang dapat dibuat dari angka 1, 2, 3, 4, dan 5).

Piaget mengemukakan empat faktor yang menunjang perkembangan kognitif anak dari satu tahap perkembangan ke tahap perkembangan selanjutnya. Keempat faktor itu ialah: kematangan, pengalaman, transmisi sosial, dan ekuilibrasi. Kematangan dalam struktur fisik anak, termasuk kedalamnya kematangan dalam sistem syaraf dan endokrin, mempunyai peran fundamental dalam perkembangan kognitif. Akan tetapi faktor ini saja tidak mampu menjelaskan segala sesuatu tentang perkembangan kognitif. Oleh karena itu rata-rata umur anak-anak dalam satu tahap perkembangan kognitif tampak berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya. Perkembangen dalam kemampuan berbicara, melakukan gerak-gerak motorik, bertambah sempurnanya organ otak, membuka kesempatan bagi anak untuk mengadakan eksplorasi dan mempersepsi obyek-obyek, yang semuanya itu sangat diperlukan untuk terjadinya perkembangan kognitif.

Pengalaman dengan realita merupakan salah satu faktor dasar yang menunjang perkembangan struktur kognitif, sekalipun seperti halnya faktor kematangan, tidak dapat menjelaskan segala sesuatu tentang perkembangan kognitif. Piaget membagi dua pengalaman ke dalam pengalaman fisik dan pengalaman logiko-matematis, yang keduanya secara psikologis sangat berbeda. Pengalaman fisik melibatkan tindakan terhadap obyek dan membuat abstraksi dari obyek itu sendiri. Bahwa logam menghantar arus listrik dan mengkilap dapat menjadi konpep yang dibentuk dari pengalaman fisik mengamati sifat-sifat berbagai macam logam. Pengalaman logiko-matematis merupakan pengalaman di dalam mana pengetahuan diabstraksi bukan dari sifat-sifat obyek itu sendiri tetapi dari akbat tindakan-tindakan terhadap obyek tadi. Dengan mengubah susunan 10 batu dan menghitungnya setiap kali terbentuk susunan baru, anak menemukan bahwa jumlah batu tidak tergantung pada cara menyusun batu dalam kelompoknya. Pengetahuan ini tidak diperoleh dari generalisasi terhadap sifat batu melainkan dari tindakan terhadap batu-batu itu.

Faktor transmisi sosial merupalan salah satu faktor fundamental dalam perkembangan kognitif, sekalipun bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan. Penjelasan orang tua, guru, media massa kepada anak, demikian juga dengan diskusi antar teman, adalah bentuk-bentuk transmisi sosial yang dapat menunjang perkembangan kognitif. Transmisi sosial ini menjadikan anak tidak perlu selalu menemukan segala pengetahuan secara sendiri, tetapi menyerap dari pengalaman orang lain.

Piaget mengemukakan bahwa dalam diri individu terjadi proses ekuilibrasi yang mengintegrasikan faktor kematangan, pengalaman, dan transmisi sosial, sehingga menghasilkan perkembangan kognitif. Akibat dari interaksi dengan lingkungan, anak berhadapan dengan gangguan atau kontradiksi-kontradiksi, yaitu situasi di mana pola penalaran lama tidak dapat menanggapi stimulus yang dihadapinya. Kontradiksi-kontradiksi ini menyebabkan keadaan tidak seimbang (disekuilibrium). Pada keadaan tidak seimbang ini lndividu secara aktif merubah pola penalarannya agar dapat mengasimilasikan stimulus baru. Proses ini disebut juga proes "pengaturan diri” (self regulation) atau ekuilibrasi.

2.2. Penelitian-penelitian yang Berhubungan

(6)

tahap perkrembangan kognitif anak dari sekolah dasar sampai mahasiswa perguruan tinggi telah banyak dilakukan di negara lain. Beberapa diantaranya yang khusus mengenai mahasiswa perguruan tinggi dikemukakan hasilnya berilrut ini.

Penelitian McKinnon dan Renner (1971) menunjukkan bahwa hanya 25% dari sampel mahasiswa tingkat pertama di salah satu universitas di Amerika Serikat, telah berada pada tahap operasi formal. 50% dari sampel masih berada pada tahap operasi kongkrit, dan 25% lainnya berada pada fase transisi ke tahap operasi formal.

Penelitian yang dilakukan Lawson dan Renner (1974) terhadap mahasiswa tingkat pertana suatu universitas swasta di Oklahoma Amerika Serikat menunjukkan bahwa 51% sampel berada pada tahap operasi kongkrit, 27% berada pada tahap transisi ke operasi formal, dan hanya 22% yang telah berada pada tahap operasi formal. Sementara itu Juraschek (1974) melaporkan bahwa 52% dari sampelnya yakni mahasiswa calon guru sekolah dasar, masih berada pada tahap operasi kongkrit.

Populasi mahasisvia jurusan pendidikan kimia FPMIPA

Tingkat Program Jumlah %

(7)

Tabel 3.2.

Distribusi Subyek Penelitian menurut Tingkat dan Program

Tingkat Program Jumlah %

Dalam rangka mengukur tahap perkembangan kognitif setiap subyek penelitian, dalam penelitian ini digunakan alat ukur tes Longeot. Tes Longeot ialah suatu tes yang dikembangkan oleh F. Longeot pada tahun 1962-1964. Tes ini dirancang untuk mengukur berbagai aspek dari penalaran operasi formal pada skema perkembangan kognitif menurut Piaget. Tas Longeot terdiri dari empat bagian. Bagian pertama terdiri dari lima soal yang mengukur kemampuan klasifikasi (class inclusaon). Bagian kedua terdiri dari enam soal yang mengukur penguasaan logika proposisi. Bagian ketiga terdiri dari sembilan soal yang mengukur penguasaan logika proportional. Bagian keempat terdiri dari delapan soal yang pemecahannya memerlukan kemampuan melihat kemungkinan pengkombinasian (logika kombinatorial).

Tes Longeot asli dipublikasikan dalam bahasa Prancis. Pada tahun 1970 Sheehan menterjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Tes Longeot yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh tim peneliti pada penelitian ini, dapat dilihat beberapa soalnya pada lampiran 1.

Studi tentang validitas dan reliabilitas tes Longeot telah banyak dilakukan di Amerilra Serikat. Validitas isi tes ini, yakni seberapa jauh soal-soal tes diturunkan dari pertanyaan-pertanyaan interviu klinis Piaget sehingga mengukur berbagai aspek dari penalaran formal, telah dianalisis banyak peneliti. Tidak ada yang meragukan tentang validitas isi tes Longeot, sebab pada dasarnya soal-soal tes ini merupakan perwujudan dalam bentuk tes tertulis dari pertanyaan-pertanyaan interviu klinis yang dikembangkan Piaget dan Inhelder untuk menentukan operasi formal (Lihat McDonald, J. L. & Sheehan, D.J. 1983). Pengujian criterion related validity bagi tes Longeot yang dilakukan oleh Walter A. Farmer et-al (1982) menunjukkan bahwa tes Longeot mempunyai validitas yang cukup tinggi, sebagaimana ditunjukkan oleh koefisien korelasi sebesar 0,55 (signifikan pada taraf signifikasi 5%) antara skor tes Longeot dan skor tes Inhelder & Piaget.

(8)

Pada penelitian ini tes Longeot dalam bahasa Inggris diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia oleh tim peneliti, dan direviu oleh beberapa orang staf dosen di jurusan pendidikan kimia FPMIPA, baik dari segi bahasa maupun validitas contentnya, disempurnakan sehingga dipandang mempunyai validitas content yang memadai. Reliabilitas tes dievaluasi secara empiris dengan cara menguji-cobakannya pada 32 mahasiswa dari tingkat satu sampai tingkat empat di jurusan pendidikan kimia FPMIPA non-sampel. Koefisien reliabilitas yang diestimasi dengan metode spilit-half ialah 0,88 (Data lengkap tertulis pada lampiran 2) yang menunjukkan bahwa tes Longeot versi peneliti dapat dipandang mempunyai reliabilitas yang tinggi.

3.3. Tehnik Pengolahan Data

Pada pelaksanaan penelitian, kepada setiap subyek penelitian diberikan tes Longeot untuk diselesaikan dalam waktu maksimal 60 menit. Tujuan utama pengukuran dengan tes Longeot dalam penelitian ini ialah menentukan tahap perkembangan kognitif yang telah dicapai masing-masing subyek penelitian pada saat penelitian ini dilaksanakan.

Penentuan tahap perkembangan kognitif subyek dilakukan dengan skema yang disarankan oleh Herron et-al (1981), yakni pertama-tama diidentifikasi respon masing-masing subyek pada soal-soal kongkrit dan soal formal (lihat tabel 3.3.).

Tabel 3.3.

Klasifikasi soal-soal tes Longeot Klasifikasi Nomor soal

Kongkrit 1, 2, 3, 4, 5, 12, 13, 14, 15, 17, 21, 22, 23, 24 Formal 6, 7, 8, 9, 10, 11, 16, 18, 19, 20, 25, 26, 27, 28

Selanjutnya untuk tiap soal kongkrit yang dijawab benar, subyek memperoleh skor 1 (satu) dan untuk tiap soal formal yang dijawab benar subyek penelitian memperoleh skor 2 (dua). Kriteria bagi penentuan tahap perkembangan kognitif subyek penelitian atas dasar skor total yang diperoleh subyek diberikan pada tabel 3.4. yaitu sesuai dengan kriteria yang disarankan Herron et-al.

Tabel 3.4.

Kriteria klasifikasi kongkrit-formal

Klasifikasi Skor

Kongkrit

IIA 0 – 7

IIB 8 – 22

Formal

IIIA 23 – 29

IIIB 30 – 42

(9)

dan distribusi tahap perkembangan kognitif menurut variabel-variabel tingkat pendidikan, jenis kelamin, dan jenis program pendidikan.

Program aplikasi komputer VP-Info dipakai dalam mengolah data pada penelitian ini demi kecepatan dan keakuratan pengolahan data. Pada dasarnya VP-Info merupakan suatu program manajemen database yang bahasanya dalam banyak hal bersesuaian dengan dBase II.

IV. ANALISIS DAN PENAFSIRAN DATA 4.1. Profil Umum Perkembangan Kognitif Subyek

Data yang diperoleh dari pengukuran tahap perkembangan kognitif 126 subyek penelitian dengan menggunakan tes Longeot dapat dilihat pada lampiran 3. Beberapa karakteristik subyek penelitian yang menjadi variabel penelitian, yakni tingkat pendidikan, jenis program yang diikuti, dan jenis kelamin dicantumkan juga pada lampiran 3 menyertai kode setiap subyek. Skor tes dan tahap perkembangan kognitif subyek penelitian yang tertulis pada lampiran itu ditentukan berdasarkan kriteria yang telah dikemukakan pada bagian 3.3. Frekuensi dan persentase subyek penelitian yang tergolong telah mencapai tahap perkembangan kongkrit awal, kongkrit akhir, formal awal, dan formal akhir, diberikan pada tabel 4.1. sedangkan grafik batangnya dapat dilihat pada gamber 4.1.

Tabel 4.1.

Distribusi subyek penelitian berdasarkan tahap perkembangan kognitif

Tahap Frekuensi %

IIA 0 0

IIB 23 18,3

IIIA 55 43,7

IIIB 48 38,0

Jumlah 126 100,0

Gambar 4.1.

Grafik distribusi subyek penelitian berdasarkan tahap perkembangan kognitif

(10)

(IIIA). Hanya 18,3 % subyek penelitian masih berada pada tahap operasi kongkrit akhir. Sementara itu terdapat 38 % subyek penelitian telah mencapai tahap operasi formal akhir.

4.2. Distribusi Tahap Perkembangan Kognitif menurut Jenis Program Pendidikan Pemisahan subyek penelitian berdasarkan jenis program pendidikan yang diikutinya, dilanjutkan dengan pencacahan banyaknya subyek yang mencapai tahap operasi kongkrit akhir (IIB), formal awal (IIIA), dan formal akhir (IIIB), memberikan data sebagaimana yang tertera pada tabel 4.2. Grafiknya dapat dilihat pada gambar 4.2.

Tabel 4.2.

Distribusi tahap perkembangan kognitif subyek program D-3 dan S-1

Tahap Program D-3 Program S-1

Jumlah % Jumlah %

IIB 12 22,6 11 15,1

IIIA 23 43,4 32 43,8

IIIB 18 34,0 30 41,1

Gambar 4.2.

Grafik distribusi tahap perkembangan kognitif subyek program D-3 dan S-1

(11)

4.3. Distribusi Tahap Perkembangan Kognitif Subyek menurut Jenis Kelamin Pemisahan subyek penelitian berdasarkan jenis kelamin, dilanjutkan dengan pencacahan banyaknya subyek yang mencapai tahap operasi kongkrit akhir (IIB), tahap operasi formal awal (IIIA) dan tahap operasi formal akhir (IIIB), memberikan data sebagaimana yang tertera pada tabel 4.3. dan gambar 4.3.

Tabel 4.3.

Distribusi tahap perkembangan kognitif subyek laki-laki dan wanita

Tahap Laki-laki Wanita

Jumlah % Jumlah %

IIB 14 24,6` 9 13,0

IIIA 23 40,3 32 46,4

IIIB 20 35,1 28 40,6

Dari data yang tertera pada tabel 4.3. dan gambar 4.3. jelas terlihat bahwa data penelitian ini terjaring 57 subyek laki-laki dan 69 subyek wanita. 24,6% dari subyek wanita masih berada pada tahap operasi kongkrit akhir. Sementara itu hanya 13,0% dari subyek laki-laki masih berada pada tahap operasi kongkrit akhir. Pada tahap perkembangan kognitif yang lebih tinggi, persentase wanita lebih tinggi daripada persentase laki-laki. 46,4% subyek wanita berada pada tahap operasi formal awal, sedangkan 40,3% subyek laki-laki berada pada tahap operasi formal awal. 40,6% subyek wanita telah berada pada tahap operasi formal akhir, sedangkan hanya 35,1% subyek laki-laki mencapai tahap operasi formal akhir.

Gambar 4.3.

(12)

4.4. Distribusi Tahap Perkembangan Kognitif Subyek menurut Tingkat Pendidikan

Pemisahan subyek penelitian berdasarkan tingkat pendidikan, dilanjutkan dengan pencacahan banyaknya subyek penelitian yang mencapai tahap operasi kongkrit akhir, tahap operasi formal awal, dan tahap operasi formal akhir, memberikan data sebagaimana yang tertera pada tabel 4.4. dan gambar 4.4.

Tabel 4.4.

Distribusi tahap perkembangan kognitif subyek dari tingkat yang berbeda

Tingkat Tahap IIB Tahap IIIA Tahap IIIB

Jumlah % Jumlah % Jumlah %

I 7 21,9 15 46,9 10 31,2

II 7 19,4 15 41,7 14 38,9

III 5 14,7 14 41,2 15 44,1

IV 4 16,7 11 45,8 9 37,5

Gambar 4.4.

Grafik distribusi tahap perkembangan kognitif subyek dari tingkat pendidikan yang berbeda

(13)

V. DISKUSI DAN IMPLIKASI

Dari profil perkembangan kognitif yang ditampilkan mahasiswa jurusan pendidikan kimia FPMIPA di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat dalam jumlah yang cukup besar mahasiswa yang telah “mempunyai kesiapan belajar” dari segi penalaran untuk mempelajari ilmu kimia yang penuh dengan konsep-konsep formal. Namun demikian, mahasiswa yang masih berada pada tahap operasi kongkrit perlu juga mendapat perhatian, sekalipun mungkin hanyalah kelompok minoritas dalam kelas. Pengamatan sekilas menunjukkan banyaknya mahasiswa “lambat” yang ternyata berada pada tahap operasi kongkrit. Bagi mereka upaya dosen “mengkongkritkan” atribut-atribut konsep melalui pengalaman belajar kongkrit secara langsung atau dengan media pendidikan serta analogi-analogi pada waktu memberi kuliah, akan sangat menolong. Di samping itu proses belajar-mengajar bagi kelompok mahasiswa kongkrit ini harus mempunyai misi perkembangan kognitif dalam arti merangsang perkembangan kognitif mereka melalui pemberian pengalaman-pengalaman dengan fenomena kimia serta membuka peluang terjadinya transmisi sosial di antara para mahasiswa itu sendiri ataupun antara mahasiswa dengan literatur.

Jika diperhatikan profil perkembangan kognitif dari tiap-tiap tingkat, maka nampak ada kecenderungan semakin besar proporsi mahasiswa yang mencapai.tahap eperasi formal dengan bertambah.tingginya tingkatan pendidikan. Secara kasar fakta ini menunjukkan bahwa sangat mungkin terjadi peningiratan tahap perkembangan kognitif akibat "pengembangan penalaran" yang terjadi pada waktu mahasiswa mengikuti perkuliahan. Jika hal itu terjadi maka banyak mata kuliah di jurusan pendidikan kimia telah melaksanakan fungsi pengembangan kognitif para mahasiswanya. Namun demikian, penelitian lebih mendalam perlu dilakukan untuk menguji pernyataan hipotetis ini.

Penting pula antuk dikemukakan adanya perbedaan profil perkembangan kognitif mahasiswa program D-3 dan S-1. Proporsi mahasiswa program S-1 yang masih berada pada tahap operasi kongkrit lebih kecil daripada proporsi mahasiswa program D-3 yang berada pada tahap operasi yang sama, dan sebaliknya lebih besar proporsi mahasiswa program S-1 yang telah mencapai tahap operasi formal akhir. Fakta ini memberi isyarat untuk memperlakukan dengan cara berbeda kelas D-3 dan S-1 dalam penyajian bahan perkuliahan. Oleh karena tingkat perkembangan dalam penalaran mahasiswa berhubungan erat dengan kemampuan menangkap konsep-konsep kimia yang notabene banyak yang tergolong konsep formal, maka "pengkongkritan" konsep-konsep melalui berbagai media pendidikan, ilustrasi, dan bimbingan belajar yang lebih bertahap dan intensif, semakin jelas diperlukan bagi mahasiswa program D-3. Perbedaan profil perkembangan kognitif mahasiswa program D-3 dan mahasiswa program S-1 yang berhasil ditampilkan oleh penelitian ini sekaligus menjadi penjelasan terhadap fenomena nyata adanya perbedaan prestasi belajar di antara kedua kelompok mabasiswa itu. Fakta ini pula memberi isyarat akan pentingnya misi pengembangan kognitif dari perkuliahan-perkuliahan untuk para mahasiswa program D-3.

(14)

daripada laki-laki, dan sebaiknya proporsi wanita yang masih berada pada tahap operasi kongkrit jauh lebib rendah daripada laki-laki. Oleh karena secara umum faktor sex tidak membedakan kemampuan penalaran, maka perbedaan profil perkembangan kognitif antara laki-laki dan wanita yang ditampilkan pada penelitian ini mesti mencerminkan karakteristik mahasiswa jurusan pendidikan kimia FPMIPA IKIP Bandung. Sangat mungkin lebih bantak wanita yang "brilian” yang memilih jurusan kimia FPMIPA IKIP Pandung sebagai tempat belajarnya.

Tampaknya banyak permasalahan yang muncul dari pengamatan terhadap profil perkembangan kognitif mahasiswa jurusan pendidikan kimia FPMIPA, dan bukan tujuan penelitian ini untuk menyelesaikan secara tuntas permasalahan-permasalahan itu, sesuai dengan sifat eksploratif dari penelitian ini sendiri. Dengan demikian penelitian yang lebih mendalam terhadap satu demi satu permasalahan tadi hendaknya menjadi tindak lanjut dari penelitian ini. Bukan tidak mungkin temuan-temunn dari penelitian-penelitian lanjutan itu dapat memberikan arah bagi upaya untuk meningkatkan kualitas lulusan jururan pendidikan kimia FPMIPA IKIP Bandung.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

1. Pengukuran tahap perkembangan kognitif terhadap mahasiswa jurusan pendidikan kimia FPMIPA menunjukkan hasil bahwa sebagian besar mahasiswa telah mencapai tahap operasi formal dengan modus tahap operasi formal awal. Kurang dari 20% mahasiswa masih berada pada tahap operasi kongkrit akhir.

2. Ada kecenderungan semakin besarnya proporsi mahasiswa yang berada pada tahap operasi formal akhir dengan semakin tingginya tingkatan pendidikan mahasiswa. 3. Perbedaan sex mahasiswa jurusan pendidikan kimia menampilkan profil perkembangan

kognitif yang berbeda. Lebih besar proporsi wanita yang telah mencapai tahap operasi formal daripada laki-laki. Sebaliknya lebih kecil proporsi wanita yang masih berada pada tahap operasi kongkrit.

4. Perbedaan pada jenis program pendidikan di jurusan kimia menampilkan profil perkembangan kognitif yang berbeda pula. Lebih sedikit mahasiswa program S-1 yang masih berada pada tahap operasi kongkrit daripada mahasiswa program D-3 yang masih berada pada tahap operasi yang sama.

Saran

(15)

rangsangan lainnya yang memungkinkan bertambahnya “pengalaman” fisik maupun pengalaman logio-matematis, serta terjadinya proses transmisi sosial, sebagaimana yang menjadi faktor-faktor penunjang perkembangan kognitif menurut Piaget.

DAFTAR PUSTAKA

Bowen, B. D. & Weisberg, H. F. (1980). An introduction to data analysis. San Fransisco: W. H. Freeman and Company.

Bybee, R. W. & Sund, R. E. (1982). Piaget for educator. Colombus: Bell & Howell Company.

Chiappetta, E. L. (1976). A review of Piagetian studies relevant to science instruction at the secondary and college level. Science education, 60, 2, 253-261.

Clark, D. & Gratzer, G. (1986). VP – Info : Powerful high speed database management. Berkeley (CA) : Paperback software.

Garnett, P. J., Tobin, K. & Swingler, D. G. (1985). Reasoning abilities of secondary school aged 13-16 and implications for the teaching of science. European journal of science education, 7, 4, 387-397.

Herron, J. D. & Cantu, L. L. (1978). Concrete and formal Piagentian stages and science concept attainment. Journal of research in science teaching, 15, 2, 135-143.

Herron, J. D., Lucas, C., Ward, C. R. & Nurrenbern, S. C. (1981). Evaluation of the Longeot test of cognitive development. Journal of research in science teaching, 18, 2, 123-130.

Inhelder, B. & Piaget, J. (1958). The growth of logical thinking. London : Routledge & Kegan Paul Ltd.

Lawson, A. E. (1978). The development and validation of a classroom test of formal reasoning. Journal of research in science teaching, 15, 1, 11-24.

McDonald, J. L. & Sheehan, D. J. (1983). Use of the Longeot test to assess formal operation : a research summary. Paper, presented at the thirteenth annual symposium of the Jean Piaget society (Philadelphia).

McKinnon, J. W. & Renner, J. W. (1971). Are colleges concerned with intellectual development?. American Journal fo Physics, 39, 1047 – 1052.

Rowel, J. A. & Hoffman, P. J. (1975). Group tests for distinguishing formal from concrete thinkers. Journal of research in science teaching, 12, 2, 157 – 164.

(16)

Lampiran 1

BAGIAN I 1. Informasi

 Asam asetat tergolong asam lemah.

 Asam lemah tergolong elektrolit.

Kita dapat menarik kesimpulan dari informasi di atas. Di bawah ini diberikan tiga kesimpulan berbeda yang dapat ditarik, yaitu :

Kesimpulan

A. Asam asetat tergolong elektrolit. B. Asam asetat tidak tergolong elektrolit.

C. Tidak dapat diputuskan apakah asam asetat tergolong elektrolit atau tidak. Pilihlah satu dari tiga kesimpulan ini yang benar, dan bubuhkan tanda silang (X) pada kolom di bawah huruf yang menjadi nomor kesimpulan yang anda pilih pada lembar jawaban.

2. Informasi

 Andi lebih pandai dari Somad

 Somad lebih pandai dari Budi Kesimpulan

A. Somad adalah yang terpandai di antara ketiga anak tersebut. B. Andi adalah yang terpandai dari ketiga anak tersebut.

C. Tidak dapat diketahui siapa yang terpandai berdasarkan infomormasi di atas. 3. Informasi

 Zat A tergolong Ketosa.

 Ketosa tidak dapat mereduksi larutan Fehling. Kesimpulan

A. Zat A dapat mereduksi larutan Fehling. B. Zat A tidak dapat mereduksi larutan Fehling.

C. Dari informasi di atas tidak dapat diketahui apakah zat A mereduksi larutan Fehling atau tidak.

4. Informasi

 Iis dapat bernyanyi lebih merdu dari pada Tina

 Tina dapat bernyanyi lebih merdu daripada Diah. Kesimpulan

A. Diah dapat bernyanyi lebih merdu daripada Iis. B. Iis dapat bernyanyi lebih merdu daripada Diah.

(17)

5. Informasi

 Mahmud kurang berani daripada Diki

 Diki kurang berani daripada Naro. Kesimpulan

A. Naro adalah yang paling berani di antara ketiga anak tersebut. B. Mahmud adalah yang paling berani di antara ketiga anak tersebut.

C. Dari informasi di atas, tidak dapat diketahui siapa yang paling berani di antara ketiga anak tersebut.

BAGIAN II

Pada bagian ini anda seolah-olah menjadi seorang Detektif yang memperoleh pentunjuk-petunjuk selama melakukan penyelidikan dan kemudian berusaha menemukan kebenaran dengan penalarannya.

Bacalah tiga pernyataan ini dan pikirkan secara seksama. Selanjutnya temukanlah apakah kesimpulan-kesimpulan yang ditulis di bawah pernyataan tersebut benar atau salah.

Pernyataan

 Jika Amir berbohong, maka Somad membunuh Kurdi.

 Jika senjata yang dipakai ialah pistol, maka Amir berbohong.

 Belakangan diperoleh bukti bahwa senjata yang dipakai ialah pistol. Kesimpulan

A. Amir berbohong B. Amir tidak berbohong C. Somad membunuh Kurdi D. Somad tidak membunuh kurdi

E. Tidak cukup keterangan untuk memastikan apakah Amir berbohong, dan apakah Somad membunuh Kurdi.

Anda diminta memilih kesimpulan dari penyelidikan yang benar. Berdasarkan pernyataan-pernyataan yang dikemukakan, pertama temukan apakah Amir berbohong, dan selanjutnya pikirkanlah apakah Somad membunuh Kurdi atau tidak.

Bubuhkanlah tanda silang (X) di bawah huruf C dan A, karena kesimpulan yang benar ialah huruf A dan C. Kerjakanlah hal ini pada lembar jawaban.

Lakukanlah pekerjaan yang sama untuk soal-soal lain. Terdapat lebih dari satu jawaban yang benar untuk setiap soal.

6. Pernyataan

 Jika penjaga rumah ialah kaki tangan pencuri, maka pintu depan terbuka atau pencuri masuk lewat pintu belakang.

 Jika pencuri mempunyai kaki tangan, maka ia datang dengan mobil.

 Jika pencurian berlangsung tengah malam, maka penjaga rumah menjadi kaki tangan pencuri.

(18)

Kesimpulan

A. Penjaga rumah bukan kaki tangan pencuri. B. Penjaga rumah ialah kaki tangan pencuri. C. Pencurian terjadi pada tengah malam. D. Pencurian tidak terjadi pada tengah malam.

E. Tidak dapat dipastikan apakah pencuri terjadi pada tengah malam. 7. Pernyataan

 Satu diantara dua kemungkinan: Pencuri datang dengan mobil, atau saksi keliru melihat.

 Jika pencuri mempunyai kaki tangan, ia datang dengan mobil.

 Pencuri tidak mempunyai kaki tangan, ia tidak mepunyai kunci rumah; atau pencuri mempunyai kaki tangan dan ia mempunyai kunci rumah.

 Seseorang mempunyai bukti, bahwa pencuri mempunyai kunci rumah. Kesimpulan

A. Pencuri datang dengan mobil. B. Pencuri tidak datang dengan mobil. C. Saksi tidak keliru melihat.

D. Saksi keliru melihat.

E. Tidak dapat dipastikan apakah saksi keliru melihat atau tidak. 8. Pernyataan

 Jika polisi mengikuti jejak yang salah, maka surat kabar melaporkan berita yang salah.

 Jika surat kabar melaporkan berita yang salah, maka pembunuh tidak tinggal di dalam kota.

 Seseorang mengetahui dengan pasti bahwa surat kabar melaporkan berita yang salah.

Kesimpulan

A. Pembunuh tinggal di dalam kota. B. Pembunuh tidak tinggal di dalam kota. C. Polisi mengikuti jejak yang salah. D. Polisi tidak mengikuti jejak yang salah.

E. Seseorang tidak dapat mengetahui apakah polisi mengikuti jejak yang salah atau benar.

SOAL NOMOR 9, 10, DAN 11 MEMUAT PERSOALAN YANG PERLU DIPECAHKAN DENGAN NALAR YANG SAMA DENGAN SOAL-SOAL SEBELUMNYA, TETAPI PERSOALANNYA BERHUBUNGAN DENGAN CARA MENGHABISKAN WAKTU LIBUR SEHARI

9. Pernyataan

 Anda bepergian dengan teman anda atau melancong ke kota lain.

(19)

 Kenyataannya, anda tidak mendaki gunung atau memancing.

Kesimpulan

A. Anda bepergian dengan teman anda. B. Anda tidak bepergian dengan teman anda. C. Anda melancong ke kota lain.

D. Anda tidak melancong ke kota lain.

E. Seseorang tidak dapat mengetahui apakah anda pergi melancong ke kota lain atau tidak.

10. Pernyataan

 Jika anda berenang, artinya cuaca baik.

 Jika anda bermain tenis, artinya cuaca baik.

 Kenyataannya anda bermain tenis. Kesimpulan

A. Cuaca baik B. Cuaca tidak baik C. Anda berenang D. Anda tidak berenang

E. Seseorang tidak dapat mengetahui apakah anda berenang atau tidak. 11. Pernyataan

 Jika anda sekarang memetik bunga, artinya kemarin turun hujan.

 Satu diantara dua kemungkinan: Kemarin turun hujan atau anda melintasi lapangan.

 Jika anda tidak berjalan melintasi lapangan, anda mengambil jalan menuju ujung timur kota.

 Akan tetapi anda tidak mengambil jalan menuju ujung timur kota. Kesimpulan

A. Anda tidak berjalan melintasi lapangan B. Kemarin tidak turun hujan

C. Anda tidak memetik bunga D. Anda memetik bunga

E. Tidak dapat diketahui apakah anda memetik bunga atau tidak. BAGIAN III

Pada bagian ini hanya ada satu jawaban yang Benar. Bubuhkanlah tanda silang (X) pada kolom-kolom di bawah nomor jawaban yang benar dari masing-masing soal, pada lembar jawaban.

(20)

Permainan ini diulang terus menerus sampai seorang pemain berhasil mengambil semua kartu lawannya. Hamid dan Tono masing-masing mempunyai 16 kartu. Diantara 16 kartu yang dimiliki Hamid terdapat 3 buah King, sedangkan diantara 16 kartu yang dimiliki Tono terdapat satu King.

Pemain manakah yang mempunyai peluang lebih besar untuk membuka King pada waktu membuka kartu teratas untuk pertama kali?

A. Hamid, karena ia mempunyai 3 kartu King di antara 16 kartunya. B. Tono, sebab ia memiliki 1 King di antara 16 kartunya.

C. Peluang Hamid dan Tono sama, karena masing-masing mempunyai 16 kartu.

Hanya satu jawaban yang benar 13. Pada kandang milik Martin, terdapat 15 sapi yang terdiri dari 7 sapi hitam dan 8 sapi putih. Pada kandang milik Rauf terdapat 15 sapi yang terdiri dari 5 sapi hitam dan 10 sapi putih. Tiap kandang mempunyai satu pintu yang hanya dapat dilewati oleh satu sapi pada satu saat karena pintunya sempit. Ketika Martin dan Rauf membuka pintu kandangnya masing-masing agar sapi mereka keluar dari kandangnya, dari kandang milik siapakah seseorang mempunyai peluang lebih besar untuk melihat sapi yang keluar pertama kali ialah sapi hitam?

A. Dari kandang milik Martin, karena berisi 7 sapi hitam dari 15 sapinya. B. Dari kandang milik Rauf, karena terdapat 5 sapi hitam dari 15 sapi miliknya. C. Sama saja peluangnya, karena pada masing-masing kandang terdapat 15 sapi. 14. Pada jam 4 sore, para pegawai suatu pabrik meninggalkan tempat kerjanya. Melalui

pintu kiri pabrik keluar 31 orang yang terdiri dari 22 laki-laki dan 9 wanita. Melalui pintu kanan pabrik keluar 27 orang yang terdiri dari 18 laki-laki dan 9 wanita. Melalui pintu manakah anda mempunyai peluang lebih besar untuk melihat pekerja wanita sebagai orang yang pertamakali keluar?

A. Melalui pintu kiri, karena lebih banyak orang yang melalui pintu itu. B. Melalui pintu kanan, karena lebih sedikit laki-laki keluar melalui pintu itu.

C. Peluangnya sama besar, karena 9 wanita akan keluar melalui masing-masing pintu. 15. Pada kegiatan olah raga, dibentuk 3 kelompok siswa untuk bermain bola.

Kelompok I terdiri dari 5 anak diberi satu bola. Kelompok II terdiri dari 6 anak diberi dua bola. Kelompok III terdiri dari 12 anak diberi tiga bola.

Kelompok manakah yang sebaiknya anda masuki agar anda mempunyai peluang paling besar untuk kebagian menangkap bola?

A. Kelompok III, sebab mempunyai paling banyak bola. B. Kelompok I sebab berisi paling sedikit anggota.

C. Kelompok II, sebab mempunyai jumlah siswa paling sedikit untuk setiap bola. D. Tidak dapat dipilih karena kelompok II bolanya lebih satu daripada kelompok I,

dan kelompok III berisi terlalu banyak siswa.

16. Dalam gedung parkir I terdapat 24 kendaraan yang terdiri dari 4 minibus dan 20 sedan. Dalam gedung parkir II terdapat 54 kendaraan yang terdiri dari 9 minibus dan 45 sedan. Dalam gedung parkir III terdapat 36 kendaraan yang terdiri dari 6 minibus dan 30 sedan. Dari gedung manakah terdapat peluang paling besar untuk minibus sebagai kendaraan yang keluar pertama kali?

A. Dari gedung parkir III karena berisi minibus lebih banyak daripada gedung parkir I, tetapi lebih sedikit daripada gedung parkir II.

(21)

C. Dari gedung parkir I karena berisi sedan paling sedikit.

D. Dari gedung parkir nama saja, karena ketiganya mempunyai jumlah minibus sama untuk semjumlah tertentu kendaraan.

17. Siswa dari 3 kelas IV yang diajar oleh guru yang sama mengikuti suatu tes.

 Pada kelas pertama, dari 30 siswa yang mengikuti terdapat 20 siswa yang memperoleh nilai rata-rata dan 10 siswa di bawah rata-rata.

 Pada kelas kedua, dari 42 siswa, terdapat 22 siswa memperoleh nilai rata-rata, dan 20 siswa di bawah rata-rata.

 Pada kelas ketiga, dari 20 siswa terdapat 12 siswa memperoleh nilai rata-rata dan 8 siswa di bawah rata-rata.

Dari hasil tes itu, kelas manakah yang mempunyai paling besar fraksi siswa berprestasi rata-rata?

A. Kelas ketiga, karena pada kelas ini hanya terdapat 8 siswa di bawah rata-rata. B. Kelas kedua, karena pada kelas ini terdapat jumlah siswa terbanyak yang

memperoleh nilai rata-rata.

C. Kelas pertama, karena sebagian siswa mempunyai nilai rata-rata.

D. Ketiga kelas itu mempunyai prestasi sama, karena jumlah siswa yang memperoleh nilai rata-rata lebih besar daripada jumlah siswa yang memperoleh nilai di bawah rata-rata.

18. Pada suatu bazaar, Sudin membeli selembar kupon undian berhadiah. Dari 25 kupon yang dijual, 5 lembar adalah kupon berhadiah, sedangkan yang lainnya tidak berhadiah. Tina membeli jenis undian lain. Pada undian yang dibeli Tina, dari 10 lembar kupon yang dijual, dua berhadiah. Anak lain bernama Angga membeli undian yang lain lagi, dimana dari 40 lembar kupon yang dijual akan terdapat 8 kupon berhadiah.

Siapakah yang mempunyai peluang terbesar untuk membeli kupon undian yang berhadiah?

A. Sudin, karena pada undian yang dibelinya terdapat paling banyak kupon berhadiah. B. Tina, karena pada jenis undiah yang dibelinya terdapat paling sedikit kupon undian

yang tidak berhadiah.

C. Angga, karena pada jenis undian yang dibelinya lebih banyak kupon berhadiah daripada dalam undiah yang dibeli Tina, dan lebih sedikit berisi kupon yang tidak berhadiah daripada dalam undian yang dibeli Angga.

D. Peluang ketiga anak untuk memenangkan hadiah sama, karena perbandingan jumlah kupon berhadiah terdapat jumlah kupon tidak berhadiah adalah sama dalam setiap undian.

19. Yono, Farid, dan Erni masing-masing membeli sekantong permen. Dalam kantong Yono terdapat 4 permen karamel dan 12 permen mentol. Dalam kantong Farid terdapat 7 permen karamel dan 21 permen mentol. Dalam kantong Erni terdapat 6 permen karamel dan 18 permen mentol.

Siapakah dari ketiga anak tersebut mempunyai peluang terbesar untuk mendapatkan permen karamel jika ia mengambil sebuah permen dari kantongnya tanpa memilih? A. Yono, karena dalam kantongnya terdapat paling sedikit permen mentol.

B. Farid, karena dalam kantongnya terdapat paling banyak permen karamel.

C. Erni, karena dalam kantongnya terdapat lebih banyak permen karamel daripada dalam kantong Yono, dan kantong Farid.

(22)

20. Tiga kelompok anak berenang di suatu kolam renang besar dengan diawasi beberapa orang petugas penyelamat.

 Kelompok I terdiri dari 12 orang anak, diawasi 2 orang penyelamat.

 Kelompok II terdiri dari 7 orang anak diawasi 1 orang penyelamat.

 Kelompok III terdiri dari 21 orang anak, diawasi 3 orang penyelamat. Kelompok manakah yang paling terawasi?

A. Kelompok I, karena setiap penyelamat mengawasi paling sedikit 6 orang anak. B. Kelompok II, karena mempunyai paling sedikit anak yang harus diawasi. C. Kelompok III, karena terdapat paling banyak penyelamat.

D. Sama saja, karena tiap penyelamat mengawasi sejumlah anak-anak yang sama.

BAGIAN IV 21.Masalah

Dalam suatu tim Bulutangkis, terdapat 3 atlit putera dan tiga atlit puteri. Atlit putera terdiri dari Andi, Boy, dan Harun. Atlit puteri terdirid ari Lusi, Mirna, dan Neneng. Untuk membentuk pasangan ganda campuran, pelatih mencoba pasangan-pasangan yang dibentuk dari semua atlit putra dan putri.

Tuliskan semua kemungkinan pasangan ganda campuran yang dapat dibentuk. Dalam penulisan jawaban, cukup anda tuliskan huruf pertama dari nama atlit. Misalnya salah satu jawaban ialah pasangan “A.L” yang berarti Andi dan Lusi.

Tidak perlu semua tempat jawaban diisi, tergantung pada banyaknya jawaban yang anda berikan.

22. Masalah

Diki, Carman serta Ponco bermain “mobil senggol” di BIP. Hanya ada dua kursi dalam mobil senggol itu, yakni untuk pengendara dan untuk pendamping. Ketiga anak itu dapat membuat tim-tim penumpang untuk tiap-tiap putaran, seorang menjadi pengendara dan seorang lain menjadi pendamping; agar setiap anak kebagian menjadi pengendara bagi teman-temannya dan pendamping bagi teman-temannya.

Temukan semua kemungkinan tim penumpang, dan tentukan/tuliskan huruf pertama dari nama masing-masing anggota tim. Letakan nama pengendara di kiri dan pendamping di kanan. Misalnya pada lembar jawaban ditulis (D.C), artinya Diki (pengendara) dan Carman (pendamping) sebagai salah satu kemungkinan susunan tim. Temukan susunan tim lainnya.

23. Masalah

Anda membeli selembar kupon undian untuk memenangkan suatu hadiah. Belakangan anda ketahui bahwa hanya kupon-kupon bernomor dua angka yang telah terjual. Semua angka yang digunakan untuk menomori kupon ialah 1, 2, 3, dan 4.

Nomor anda ialah 11. Agar anda mengetahui peluang untuk memperoleh “nomor menang”, temukanlah nomor-nomor yang terjual. Nomor anda (11) telah tertulis pada lembar jawaban.

24.Masalah

(23)

25. Masalah

Enam orang anak, yaitu Andi, Candra, Dodi, Maman, Pandi, dan Irma akan menyelenggarakan kompetisi tenis meja antara mereka untuk menentukan siapa yang menjadi juara. Diputuskan bahwa tiap anak harus berhadapan dengan tiap temannya. Tuliskan pertandingan yang akan terjadi. Tunjukkan tiap pertandingan dengan huruf pertama dari kedua pemain yang akan berhadapan. Misalnya A.C (yang telah ditulis dalam lembar jawaban) berarti Andi melawan Candra.

26. Masalah

Andaikan 7 orang anak mengikuti kompetisi tenis meja seperti yang dipersoalkan pada nomor 25, berapa pertandingan akan terjadi?

27. Masalah

Anda dan tiga orang teman anda berada disebuah restoran untuk makan siang. Masing-masing memesan sepiring makanan yang berbeda, sehingga semuanya dapat mencicipi makanan yang tidak dipesannya.

4 macam makanan yang dipesan adalah :

 Ayam goreng

 Sate kambing

 Gado-gado

 Mie goreng

Tuliskan semua urutan yang mungkin untuk mencicipi semua makanan. Misalnya jika anda makan ayam goreng pertama kali, kemudian sate kambing, lalu gado-gado dan terakhir mie goreng, maka pada baris pertama pada lembar jawaban untuk nomor ini ditulis ASGM.

28. Masalah

Pada suatu pusat perbelanjaan baru, 4 ruang toko pada lantai dasar akan disewakan. Sebuah toko KASET, sebuah toko SEPATU, Sebuah toko PAKAIAN dan sebuah toko ARLOJI masing-masing akan menyewa satu ruang toko. Tiap-tiap toko diberi kebebasan untuk memilih salah satu ruangan yang akan disewakan itu.

Tuliskan semua kemungkinan semua toko baru pada lantai tersebut. Tuliskan huruf K untuk toko KASET, huruf S untuk toko SEPATU, huruf P untuk toko PAKAIAN dan huruf A untuk toko ARLOJI.

Pada lembar jawaban telah ditulis: KSPA, artinya satu kemungkinan barisan toko tadi adalah toko KASET, toko SEPATU, toko PAKAIAN, dan toko ARLOJI.

(24)

Lampiran 2

Data Pengujian Reliabilitas Tes

Kode Subyek uji-coba Skor nomor ganjil Skor nomor genap

(25)

Lampiran 3

Tingkat Perkembangan Kognitif Mahasiswa Jurusan Kimia FPMIPA (1988)

Tingkat Program Kode Umur Jenis Kel. Skor Level

(26)

Tingkat Program Kode Umur Jenis Kel. Skor Level

Tingkat Program Kode Umur Jenis Kel. Skor Level

(27)

Tingkat Program Kode Umur Jenis Kel. Skor Level

4 S-1 S1087ES 22;07 P 38 3B

4 S-1 S1088NC 22;02 P 33 3B

4 S-1 S1089S 21;11 P 34 3B

4 S-1 S1090IS 22;05 P 39 3B

4 S-1 S1091DK 22;07 L 33 3B

4 S-1 S1092MS 22;09 P 32 3B

3 D-3 D3093R 20;02 P 36 3B

3 D-3 D3094K 21;06 P 39 3B

3 D-3 D3095SS 23;11 P 27 3A

3 D-3 D3096TI 23;02 P 15 2B

3 D-3 D3097SN 20;10 P 31 3B

Tingkat Perkembangan Kognitif Mahasiswa Jurusan Kimia FPMIPA (1988)

Tingkat Program Kode Umur Jenis Kel. Skor Level

3 D-3 D3098U 22;07 P 28 3A

3 D-3 D3099S 21;10 P 26 3A

3 D-3 D3100ER 22;00 P 32 3B

3 D-3 D3101MD 21;00 L 34 3B

3 D-3 D3102W 22;03 P 30 3B

3 D-3 D3103ES 22;05 P 28 3A

3 S-1 D3104H 20;05 P 37 3B

3 S-1 D3105AS 21;11 L 15 2B

3 S-1 S1106DW 21;01 P 29 3A

3 S-1 S1107DG 24;02 L 24 3A

3 S-1 S1108YS 21;04 P 35 3B

3 S-1 S1109GA 22;10 L 33 3B

3 S-1 S1110EZ 21;01 P 35 3B

3 S-1 S1111AS 21;06 P 28 3A

3 S-1 S1112LY 20;07 P 34 3B

3 S-1 S1113ES 21;01 P 29 3A

3 S-1 S1114MF 23;02 L 29 3A

3 S-1 S1115NS 23;08 L 33 3B

3 S-1 S1116RS 20;08 P 31 3B

3 S-1 S1117AS 21;10 L 27 3A

3 S-1 S1118AM 21;05 L 32 3B

3 S-1 S1119CS 24;01 L 20 2B

3 D-3 D3120RM 22;04 L 23 3A

3 D-3 D3121LY 21;08 P 31 3B

3 D-3 D3122DM 23;04 L 24 3A

3 D-3 D3123SK 22;02 P 20 2B

3 D-3 D3124AK 21;04 P 28 3A

3 D-3 D3125AK 21;01 P 28 3A

Gambar

Tabel 3.1.
Tabel 3.2.
Tabel 3.3.Klasifikasi soal-soal tes Longeot
Grafik distribusi subyek penelitian berdasarkan tahap perkembangan kognitif
+4

Referensi

Dokumen terkait

Sub-CP Mata kuliah (Sub-CPMK) adalah kemampuan yang dijabarkan secara spesifik dari CPMK yang dapat diukur atau diamati dan merupakan kemampuan akhir yang direncanakan pada tiap

Sub-CP Mata kuliah (Sub-CPMK) adalah kemampuan yang dijabarkan secara spesifik dari CPMK yang dapat diukur atau diamati dan merupakan kemampuan akhir yang direncanakan pada tiap

Sub-CP Mata kuliah (Sub-CPMK) adalah kemampuan yang dijabarkan secara spesifik dari CPMK yang dapat diukur atau diamati dan merupakan kemampuan akhir yang direncanakan pada tiap

Sub-CP Mata kuliah (Sub-CPMK) adalah kemampuan yang dijabarkan secara spesifik dari CPMK yang dapat diukur atau diamati dan merupakan kemampuan akhir yang direncanakan pada tiap

Sub-CP Mata kuliah (Sub-CPMK) adalah kemampuan yang dijabarkan secara spesifik dari CPMK yang dapat diukur atau diamati dan merupakan kemampuan akhir yang direncanakan pada tiap

Sub-CP Mata kuliah (Sub-CPMK) adalah kemampuan yang dijabarkan secara spesifik dari CPMK yang dapat diukur atau diamati dan merupakan kemampuan akhir yang direncanakan pada tiap

Sub-CP Mata kuliah (Sub-CPMK) adalah kemampuan yang dijabarkan secara spesifik dari CPMK yang dapat diukur atau diamati dan merupakan kemampuan akhir yang direncanakan pada tiap

1) Berdasarkan teori perkembangan kognitif Piaget, siswa kelas IX MTs Asy Syifa (setara kelas 3 SLTP) yang berusia antara 14 sampai 16 tahun berada pada tahap operasi formal. 2)