Teori Perubahan Sosial
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Bila kita cermati lingkungan sekitar kita, maka kita mendapatkan perubahan yang terus terjadi, mungki dalam waktu yang cepet, mungki juga dalam waktu yang lama. Yang jelas perubahan itu pasti menimbulkan pengaruh kepada masyrakatnya. Bisa berpengaruh positif dan bisa juga berpengaruh negatif.
Yang namanya perubahan berarti bersifat dinamis, artinya mengalami pergerakan dari waktu ke waktu sampai akhirnya nantik mengalami kemajuan (positif) dalam bidang kesejahteraan masyarakat. (negatif) bisa saja membawa peubahan pada masyarakatnya justru keadaan masyarakat tidak sejahtera, terjadi karena bencana alam, kebakara dan lain sebagainya.
Maka kami penulis merasa tertarik untuk melakuka obserapasi pada Perumnas Bayu Graha, RT 03/ RW 04, kelurahan Simpang Baru kecamatan Tampan, Panam – Pekanbaru. Di daerah ini kami tertarik dengan perubahan yang terjadi dalam masyarakatnya dan bentuk pisik bangunannya. Perumahan ini jika kita lihat sepeintas, kita menyangka kehidupannya seperti masyarakat permapungan di suatu daerah. Karena perubahannya tidak melihatkan ciri-ciri perumnas. Hal itu kami tanyakan dengan ketua RW 04 kelurahan simpang Baru, yaitu dengan Bapak Agusman Rahim salah seorang mantan PNS di bidang pertanian, sambil makan kue dan minum, diya menjelaskan kepada kami perubahan yang terjadi di Perumnas Bayu Graha.
2. Batasan Masalah
Dalam laporan ini, penulis membahas masalah perubahan yang terjadi di masyarakat Perumahan Bayu Graha, RT 03/ RW 04, kelurahan Simpang Baru kecamatan Tampan, Panam – Pekanbaru. Yang menceritakan bagian-bagian perubahannya.
A. Pengertian Perubahan Sosial
Sebelum kita membahas masalah perubahan yang terjadi di masyarakat khususnya masayarakat di peumnas Bayu Graha, maka terlebih dahulu kita memahami masalah peruhan sosial, yang berangkat dari sebuah pengertian. Jika pengertian atau konsep teori kita pahami maka dalam mencari perubahan yang terjadi di masyarakat, kita dengan mudah mendapatkan dan merumuskan perubahan itu.
Perubahan sosial adalah proses perubahan atau pergeseran yang terjadi dalam masyarakat, baik struktur masyarakatnya, pola sosialnya dan proses sosialnya dalam jangka waktu yang lama. Perubahan itu bisa terjadi kearah yang lebih baik, bisa juga ke arah yang buruk yang sifatnya merugikan pada masyarakat. Menurut Selo Soemarjan perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan yang dipengaruhi oleh sistem sosial, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap dan pola prilaku yang ada dalam masyarakat.
Perubahan sosial ini, ada yang terjadi secara alami dan buatan, secara alami terjadi karena aktivitas alam yang terus bergerak dan menimbulkan dampak kepada masyarakat yang dinamakan bencana alam, dengan adanya bencana alam, masyarakat akan mengalami perubahan, dari segi fisik masyarakatnya akan kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, dan harta benda. Kehidupan mereka yang tadinya kaya akan mengalami kemiskinan dengan adanya bencana alam. Bukan itu saja tetapi struktur masyarakatnya akan berubah, proses sosialnya apa lagi. Ada perubahan yang terjadi secara buatan yaitu melalui perencanaan. Misalnya habis bencana dibangun rumah baru tempat pemukiman penduduk. Tentu dengan pola dan keadaan masyarakat yang baru. Dapat juga dimisalkan pembuatan lahan perumahan, yang tadinya hutan, dengan melihat keadaan penduduk yang makin berkembang dan mengalami kemajuan, akhirnya dibangunlah yang namanya perumnas. Daerah yang tadinya semak belukar, hutan rimba akan berubah menjadi perumahan yang dihuni oleh penduduk dengan kebutuhan mata pencaharian yang tidak berapa jauh dari tempat itu.
saling mempengaruhi, tergantung kelompok mana yang lebih dominan mendiami suatu wilayah itu.
Ketika kita berbicara perubahan sosial dengan perubahan budaya, maka di satu sisi orang banyak menyamakannya. Tetapi sesungguhnya berbeda. Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi pada struktur sosial, pola sosial, proses sosial, lapisan sosial dan stratipikasi soail. Sedangkan perubahan kebuyaan adalah perubahan yang terjadi pada pola fikir serta ide-ide dalam masyarakat. Dari pengertian ini maka dapat di artikan bahwa perubahan sosial itu perubahan yang terjadi pada masyarakat secara berkelompok dan interaksinya dalam kelompok, namun perubahan itu bisa diikuti oleh perubahan budaya yang menyebabkan perubahan pola fikir masyarakat dalam menyikapi suatu permasalahan.
Bila kita melihat pada masyarakat perumnas, perubahan dalam struktur dan pola interaksi masyarakat serta kebudayaan bisa saja terjadi. Namun hal itu di pengaruhi oleh satu budaya yang paling dominan yang berada di perumnas itu, misalnya dalam perumnas itu di huni oleh masarakat yang mempunyai suku yang sama, misalnya jawa. Maka kebiasaan atau budaya yang sering digunakan adalah kebiasaan jawa yang lebih cenderung hidup bersosialisasi dengan tetangga dan cenderung rajin dalam bekerja. Interaksinya pun agak kejawaan dan punya nilai budaya tersendiri yang mengikat mereka.
Untuk lebih lanjutnya, penelitian lapangan harus kita lakukan agar bentuk perubahan seperti apa yang terjadi dalam masyaraka dapat diketahuit. Yang jelas perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat mempunyai dampak positif dan dampak negatif, dampak positif akan membawa masyarakat kearah kemajuan, namun dengan kemajuan itu, tersisa juga dampak negatif dari yang dilakukan dan yang dikerjakan masyarakat.
Untuk itu dalam pembahasan selanjutnya akan dibahas mengenai perubahan sosial yang terjadi di Perumnas Bayu Graha, RT 03/ RW 04, kelurahan Simpang Baru kecamatan Tampan, Panam – Pekanbaru.
B. Sejarah Perumnas Bayu Graha
katakan bebentuk gubuk. Pada masa itu panam masih lebat hutannya, sehingga masyarakat yang tadinya bermukim disana, juga menjalankan kewajibannya sebagai manusia dalam mencari nafkah dan terbuka lah lahan itu.
Dengan semakin bertambahnya penduduk, dan terdapatnya sumber pemenuhan kebutuhan masyarakat disana, akhirnya menarik peminat para pengusaha untuk membuat perumnas dengan tipe 3 x 6. Akhirnya penduduk tadi mulai mendiami suatu rumah hunian baru disana. Awalnya masyarakatnya mulai tekan kontrak kredit rumah hanya beberapa KK, karena kesulitan ekonomi juga yang membuat mereka tidak sanggup untuk menghuninya. Namun dengan berjalannya waktu, tahun ke tahun akhirnya Perumnas Bayu Graha di padati penduduk. Awalnya masuk 5 KK dari suku Minang, kemudian bertambah 2 KK melayu, Kemudian bertambah 3 KK lagi dari suku batak, hal ini terus berlanjut sampai perumahan itu terisi semua, sampe sekarang Perumnas bayu Graha mencapai 76 KK. 80% masyarakat perumnas ini ber agama islam. 20% masyarakatnya beragama kristen. Penduduknya rata-rata 25% PNS, selebihnya wiraswasta.
C. Perubahan Dibidang Ekonomi
Pada awal berdirinya perumnas ini, masyarakat dengan perekonomian miskin banyak menjadi petani kecil-kecilan, dari hasil panenya, masyarakat menjualnya kepasar dan membeli barang kebutuhan rumah tangganya. Pengahsilan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, namun masyarakat dikatakan tidak dapat memenuhi kebutuhan primer, atau memiliki uang simpanan.
Pada masa itu panam belum mengalami kemajuan seperti sekarang ini, pada akhirnya masayarakat yang tadinya lama menetap dan mencari pekerjaan ketempat lain, dari penghasilan itu mereka tabung kemudian mereka mendirkan sebuah warung kecil kecilan yang menjual barang kebutuhan pokok rumah tangga.
D. Perubahan Dalam Bidang pendidikan
Pada tahun 2000, yaitu awanya masyarakat mulai menempati perumnas Bayu Graha, pendidikan masyarakatnya masih menim, banyak diantara mereka yang tamat SD, meskipun ada juga yang tamat SMP atau sederajat. Namun, dengan makin bertambahnya warga baru di pemukiman ini menambah volume tingkat pendidikan, sekrang sudah ada warga baru masukyang lulus S1 (PNS), mereka menetap bersama istri dan anaknya.
Walaupun demikian, orang tua yang tadinya hanya tamat SD atau SMP, mereka dapat memajuka pendidikan anak-anak mereka yang sekarang banyak duduk di bangku sekolah tingkat SMP atau sederajat. Hal itu dapat dilihat dengan berdirinya sekaolah-sekolah di sekitar perumahan dari berbagai tingkatan, mereka dengan mudah dapat menyekolahkan anaknya, tida perlu lagi membayar ongkos mahal, tetapi cukup dengan berjalan kaki anak-anak mereka sampai kesekolah. Kemungkinan beberapa tahun mendatang masyarakat nya disi bukan mnim lagi pendidikannya, tetapi berubah menjadi perubahan yang diisi oleh orang-orang yang beragam tingkat pendidikannya, dan hal itu akan memepengaruhi tingkat hubungan sosialnya atara masyarakat yang satu dengan amsyarakat yang lain.
E. Perubahan Dari Segi Budaya
Salah satu suku yang pertama masuk perubahan ini adalah suku minang dari Sumatra Barat, yaitu suku pariaman. Mereka hijrah dari kampung halaman mereka dengan maksut mencari kehidupan baru. Awalnya mereka Cuma beberapa KK, tetapi lama kelamaan, orang yang sekampung dengan mereka mulai mengikut dan bertangan. Sebagaimana yang kita ketahuim suku ini suka sekali merantau dan suka bekerja. Dengan waktu yang lama akhirnya mereka mendomisili peru. mnas ini, walaipun ada beberapa orang melayau, orang batak (Batak islam) dan orang Bankinang, tetapi itu menjadi kelompok yang minoritas. Akhirnya, krana segala aktifitas wira usaha banyak dilakukan oleh orang minang,maka kebudayaan yang cenderung digunakan kebudayaan minang. Seperti dari segi bahasa yang mencolok adalah bahasa minang, adat bertetangga yang rukun dan bertegur sapa, adat sakit saling melihat dan membantu.
meninggalkan budaya aslinya dari segi pakaian, mereka cenderung mengikuti perkembangan zaman, artinya disini terjadi perubahan sosial, yang dipengaruhi oleh kebudayaan asing yang datang dari luar.
F. Perubahan Pada Kesehatan
Perubahan dalam bidang ini, mungkin tidak pada kesehatannya langsung, karna kesehatan pada masa awal perumnas ini sulit di dekripsikan secara jelas dan pasti, tapi dapat kita lihat dari pasilitas kesehatan yang ada.
Di Perumnas ini telah berdiri banyak sekali klinik dokter 24 jam dan puskesmas. Dulu masyarakatnya kalau dalam keadaan sakit, mereka harus pergi kerumah sakit Umum Daerah, proses melahirkan pun pergi kesana. Mungkin ini dikatakan susah dalam bidang kesehatan, mereka harus menahan sakit dahulu baru sampai kerumah sakit. Tapi sekarang dengan hadirnya klinik 24 jam dan puskesmas, mereka merasa terbantu dan di mudahkan dalam kesehatan ketika mereka mengalami sakit.
G. Perubahan Pada Pisik Perumnas
Perumbanas Bayu Graha ini memiliki tipe rumah dengan ukuran 3 x 6, dengan di pasilitasi dua kamar dan satu ruang tengah. Halaman rumah yang tidak begitu lauas. Sebelah barat berbatasan dengan jalan Garuda Ssakti, sebelah timur dengan salah satu PT.Sabun Atau SPBU. Utara dengan jalan HR.Subrantas dan sebelah selatan dengan hutan.
Ketika lahan ini dubuka masyarakat, masyarakat menebangi hutan yang begitu besar dan rawa. Disitulah masayarakat berdiam dan mencari kebutuhan makanan. Setelah lahan ini menjadi proyek perumahan oleh para punya modal, maka lahan ini disulap menjadi perumbahan sederhana yang layak huni, kita bisa melihat bangunan baru itu masih kelihatan gersang dan belum ada pepohonan yang hidup. Dengan munculnya ide dari masyarakat, akhirnya masyarakat mulailah menanam pohon di pekarangan rumahnya masing-masing sehingga kelihatan hijau. Sumur resapan dibangun disetiap rumah dan mengalir di sepanjang perumahan. Jika keadaan sekarang, maka sumur resapan itu sudah ada yang mengalami kedangkalan akibat tidak di bersihkan, ada juga yang tertimbun oleh material pasir bagunan.
pariasinya, ada yang di tambah ukuran lebarnya, ada yang rubah warna dan bentuk halannya, tergantung dari pada kehendah si pemilik rumah. Ada yang beru pindah 2 hari langsung melakukan prubahan terhadap struktur bangunan rumah. Sehingga sekarang tidak ada kesamaan antara rumah yang satu dengan yang lain, dan bila kita melihatnya tidak seperti peruhan lagi, sudah seperti pemukiman masyarakat desa, karna ciri-ciri dari perumahan tadi sudah hilang. http://m-haritsyah.blogspot.com/2012/07/teori-perubahan-sosial.html
Kota Pekanbaru
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Kota Pekanbaru
— Sumatera Riau —
Dari atas, kiri ke kanan: Fakultas Kedokteran Universitas Riau; Anjung Seni Idrus Tintin; Masjid Agung An-Nur; lampion pada
Lambang
Slogan: BERTUAH (Bersih, Tertib, Usaha Bersama, Aman dan
Harmonis)
Lokasi Kota Pekanbaru di Pulau Sumatera
Kota Pekanbaru
Letak Kota Pekanbaru di Indonesia
Koordinat: 0°28′ 53,5″ LU 101°28′ 7,23″ B T
Negara Indonesia
Pemerintahan
• Walikota H. Firdaus, ST, MT
Populasi (2013)[1]
Zona waktu WIB (UTC+7)
Kode telepon +62 761
Kecamatan 12
Desa/kelurahan 63
Situs web www.pekanbaru.go.id
Kota Pekanbaru adalah ibu kota dan kota terbesar di provinsi Riau, Indonesia. Kota ini merupakan kota perdagangan dan jasa,[2] termasuk sebagai kota dengan tingkat pertumbuhan, migrasi dan urbanisasi yang tinggi.[3]
Pekanbaru mempunyai satu bandar udara internasional, yaitu Bandar Udara Sultan Syarif Kasim II,dan terminal bus terminal antar kota dan antar provinsi Bandar Raya Payung Sekaki, serta dua pelabuhan di Sungai Siak, yaitu Pelita Pantai dan Sungai Duku.
Saat ini Kota Pekanbaru sedang berkembang pesat menjadi kota dagang yang multi-etnik, keberagaman ini telah menjadi modal sosial dalam mencapai kepentingan bersama untuk dimanfaatkan bagi kesejahteraan masyarakatnya.[4]
Daftar isi
1 Sejarah
2 Geograf
3 Kependudukan
o 3.1 Agama
4 Pemerintahan
o 4.1 Pasca PRRI
o 4.2 Orde baru
o 4.3 Otonomi daerah
o 4.4 Pemilihan langsung
5 Perekonomian
6 Kesehatan
7 Pendidikan
8 Pelayanan umum
9 Perhubungan
10 Pariwisata
11 Olahraga
12 Pers dan Media
13 Galeri
14 Rujukan
15 Pranala luar
Sejarah
Sultan Siak beserta Dewan Menteri serta Kadi Siak tahun 1888
Perkembangan kota ini pada awalnya tidak terlepas dari fungsi Sungai Siak sebagai sarana transportasi dalam mendistribusikan hasil bumi dari pedalaman dan dataran tinggi Minangkabau
ke wilayah pesisir Selat Malaka. Pada abad ke-18, wilayah Senapelan di tepi Sungai Siak, menjadi pasar (pekan) bagi para pedagang dari dataran tinggi Minangkabau.[5] Seiring dengan berjalannya waktu, daerah ini berkembang menjadi tempat pemukiman yang ramai. Pada tanggal
23 Juni1784, berdasarkan musyawarah "Dewan Menteri" dari Kesultanan Siak, yang terdiri dari
datuk empat suku Minangkabau (Pesisir, Limapuluh, Tanah Datar, dan Kampar), kawasan ini
dinamai dengan Pekanbaru, dan dikemudian hari diperingati sebagai hari jadi kota ini.[6][7]
Berdasarkan Besluit van Het Inlandsch Zelfbestuur van Siak No.1 tanggal 19 Oktober1919, Pekanbaru menjadi bagian distrik dari Kesultanan Siak. Namun pada tahun 1931, Pekanbaru dimasukkan ke dalam wilayah Kampar Kiri yang dikepalai oleh seorang controleur yang berkedudukan di Pekanbaru dan berstatus landschap sampai tahun 1940. Kemudian menjadi ibukota Onderafdeling Kampar Kiri sampai tahun 1942.[8] Setelah pendudukan Jepang pada tanggal 8 Maret1942, Pekanbaru dikepalai oleh seorang gubernur militer yang disebut gokung.
Selepas kemerdekaan Indonesia, berdasarkan Ketetapan Gubernur Sumatera di Medan tanggal
17 Mei1946 Nomor 103, Pekanbaru dijadikan daerah otonom yang disebut Haminte atau
Tahun 1956 Republik Indonesia, Pekanbaru (Pakanbaru) menjadi daerah otonom kota kecil dalam lingkungan Provinsi Sumatera Tengah.[9] Selanjutnya sejak tanggal 9 Agustus1957 berdasarkan Undang-undang Darurat Nomor 19 Tahun 1957 Republik Indonesia, Pekanbaru masuk ke dalam wilayah Provinsi Riau yang baru terbentuk.[10] Kota Pekanbaru resmi menjadi ibu kota Provinsi Riau pada tanggal 20 Januari1959 berdasarkan Kepmendagri nomor Desember 52/I/44-25[7] sebelumnya yang menjadi ibu kota adalah Tanjungpinang[11] (kini menjadi ibu kota Provinsi Kepulauan Riau).
Geografi
Secara geografis kota Pekanbaru memiliki posisi strategis berada pada jalur Lintas Timur
Sumatera, terhubung dengan beberapa kota seperti Medan, Padang dan Jambi, dengan wilayah
administratif, diapit oleh Kabupaten Siak pada bagian utara dan timur, sementara bagian barat
dan selatan oleh Kabupaten Kampar.
Kota ini dibelah oleh Sungai Siak yang mengalir dari barat ke timur dan berada pada ketinggian berkisar antara 5 - 50 meter di atas permukaan laut. Kota ini termasuk beriklim tropis dengan suhu udara maksimum berkisar antara 34.1 °C hingga 35.6 °C, dan suhu minimum antara 20.2 °C hingga 23.0 °C.[12]
Sebelum tahun 1960 Pekanbaru hanyalah kota dengan luas 16 km² yang kemudian bertambah menjadi 62.96 km² dengan 2 kecamatan yaitu kecamatan Senapelan dan kecamatan Limapuluh. Selanjutnya pada tahun 1965 menjadi 6 kecamatan, dan tahun 1987 menjadi 8 kecamatan dengan luas wilayah 446,50 km², setelah Pemerintah daerah Kampar menyetujui untuk menyerahkan sebagian dari wilayahnya untuk keperluan perluasan wilayah Kota Pekanbaru, yang kemudian ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 1987.[13]
Kemudian pada tahun 2003 jumlah kecamatan pada kota ini dimekarkan menjadi 12 kecamatan. [12]
[tampilkan]Data iklim Kota Pekanbaru dan sekitarnya
Suasana perayaan tahun baru Imlek di kota Pekanbaru
Sejak tahun 2010, Pekanbaru telah menjadi kota ketiga berpenduduk terbanyak di Pulau Sumatera, setelah Medan dan Palembang. Laju pertumbuhan ekonomi Pekanbaru yang cukup pesat, menjadi pendorong laju pertumbuhan penduduknya.
Etnis Minangkabau merupakan masyarakat terbesar dengan jumlah sekitar 37,96% dari total penduduk kota.[15] Mereka umumnya bekerja sebagai profesional dan pedagang. Jumlah mereka yang cukup besar, telah mengantarkan Bahasa Minang sebagai salah satu bahasa pergaulan yang digunakan oleh penduduk kota Pekanbaru[16] selain Bahasa Melayu atau Bahasa Indonesia.
Selain itu, etnis yang juga memiliki proporsi cukup besar adalah Melayu, Jawa, Batak, dan
Tionghoa. Perpindahan ibu kota Provinsi Riau dari Tanjungpinang ke Pekanbaru pada tahun
1959, memiliki andil besar menempatkan Suku Melayu mendominasi struktur birokrasi pemerintahan kota. Namun sejak tahun 2002 hegemoni mereka berkurang seiring dengan berdirinya Provinsi Kepulauan Riau dari pemekaran Provinsi Riau.
Masyarakat Jawa awalnya banyak didatangkan sebagai petani pada masa pendudukan tentara
Jepang, sebagian mereka juga sekaligus sebagai pekerja romusha dalam proyek pembangunan rel
kereta api. Sampai tahun 1950 kelompok etnik ini telah menjadi pemilik lahan yang signifikan di Kota Pekanbaru. Namun perkembangan kota yang mengubah fungsi lahan menjadi kawasan perkantoran dan bisnis, mendorong kelompok masyarakat ini mencari lahan pengganti di luar kota, namun banyak juga yang beralih okupansi.
Berkembangnya industri terutama yang berkaitan dengan minyak bumi, membuka banyak peluang pekerjaan, hal ini juga menjadi pendorong berdatangannya masyarakat Batak. Kelompok etnik ini umumnya bekerja sebagai karyawan, dan memiliki ikatan emosional yang kuat terutama jika semarga dibandingkan kelompok etnis lain yang ada di Kota Pekanbaru. Pasca PRRI
penting di pemerintahan, terutama pada masa Kaharuddin Nasution menjadi "Penguasa Perang Riau Daratan".
Tahun 1930 1954 1961 1971 1990 2000 2005 2006 2007 2008 2010
Jumlah
Agama Islam merupakan salah satu agama yang dominan dianut oleh masyarakat Kota Pekanbaru, sementara pemeluk agama Kristen, Buddha, Katolik, Khonghucu dan Hindu juga terdapat di kota ini.
Sebagai bagian dalam pembangunan kehidupan beragama, Kota Pekanbaru tahun 1994, ditunjuk untuk pertama kalinya menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) tingkat nasional yang ke-17. Pada perlombaan membaca Al-quran ini, jika sebelumnya diikuti oleh satu orang utusan, untuk setiap wilayah provinsi, maka pada MTQ ini setiap provinsi mengirimkan 6 orang utusan.[20]
Pemerintahan
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar Wali Kota Pekanbaru
Pasca PRRI
Kota Pekanbaru secara administratif dipimpin oleh seorang wali kota. Efektifitas pemerintahan kota di Pekanbaru adalah setelah berakhirnya peristiwa Pemerintahan Revolusioner Republik
namun pengaruh perang saudara membuat roda pemerintahan jadi tidak menentu. Pada 9
November1959, kembali ditunjuk Datuk Wan Abdul Rahman sebagai wali kota berikutnya, yang
sebelumnya menjabat sebagai Bupati Kampar. Selanjutnya pada 29 Maret1962, digantikan oleh
Tengku Bay, yang sebelumnya juga menjabat sebagai Bupati Indragiri.
Orde baru
Dimulainya dengan menguatnya pemerintahan Orde Baru, membawa beberapa perubahan pada sistem pemerintahan dalam Provinsi Riau, termasuk Kota Pekanbaru. Dominasi militer mulai mengambil peran dalam pemerintahan serta ditambah dengan munculnya hegemoni satu kekuatan politik juga mewarnai pemerintahan Kota Pekanbaru. Selanjutnya pada 1 Juni1968, diangkat Raja Rusli B.A. sebagai wali kota sampai tanggal 10 Desember1970, dan digantikan oleh Drs. Abdul Rahman Hamid, yang memeintah lebih dari 10 tahun.
Kemudian pada masa berikutnya mulai diterapkan penertiban periode pemerintahan kota, dan pada 5 Juli1981, terpilih Ibrahim Arsyad, S.H., pada 21 Juli1986 digantikan oleh Drs. Farouq Alwi, berikutnya pada 22 Juli1991 terpilih H. Oesman Effendi Apan, S.H., memerintah selama dua periode.
Otonomi daerah
Memasuki era pemerintahan otonomi daerah yang lebih luas, telah menimbulkan euforia yang berlebihan pada beberapa kelompok masyarakat di Pekanbaru, kecendrungan tertentu terutama berkaitan dengan politik dan ekonomi, mendorong masyarakatnya berlaku diskriminasi. Klaim beberapa kelompok masyarakatnya atas keutamaan mereka dibandingkan kelompok lainnya, dapat menjadi api dalam sekam, jika dibiarkan akan dapat menimbulkan disintegrasi pada masyarakat Kota Pekanbaru.[21]
Pada tahun 2001 terpilih Drs. H. Herman Abdullah M.M. sebagai wali kota, memerintah selama dua periode, ia termasuk salah satu wali kota yang berhasil dalam menertibkan sistem birokrasi pemerintahan Pekanbaru, sehingga mampu meningkatkan pelayanan kepada masyarakatnya.[22] Namun pada tahun 2010 berdasarkan survei persepsi kota-kota di seluruh Indonesia oleh
Transparency International Indonesia (TII), kota ini termasuk kota terkorup di Indonesia bersama
dengan Kota Cirebon. Hal ini dilihat dari Indeks Persepsi Korupsi Indonesia (IPK-Indonesia) 2010 yang merupakan pengukuran tingkat korupsi pemerintah daerah di Indonesia. Pekanbaru mendapat nilai IPK sebesar 3.61, dengan rentang indeks 0 sampai 10.
Pemilihan langsung
Pada tanggal 21 Juni2006 dilaksanakan pemilihan wali kota dan wakil wali kota secara
langsung, dengan dua pasangan calon yang ikut serta yaitu Erwandy Saleh - Ayat Cahyadi yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera dan Herman Abdullah - Erizal Muluk yang diusung oleh
Golkar.[23]
suara terbanyak,[24] namun berdasarkan putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia hasil tersebut dibatalkan dan mesti diadakan pemungutan suara ulang (PSU).[25] Untuk mengisi kekosongan pemerintahan kota, Gubernur Riau Drs. H. Rusli Zainal mengangkat Dr. H.
Syamsurizal S.E., M.M., sebagai pelaksana tugas (Plt) Walikota Pekanbaru.[26]
Kemudian berdasarkan PSU tanggal 21 Desember2011,[27] Firdaus kembali memenangi
pemilihan kepala daerah Kota Pekanbaru, walau dalam pelaksanaan PSU tersebut hanya 253.232 masyarakat atau 49% saja yang menggunakan hak pilihnya.[28]
Perwakilan
Dari hasil Pemilu Legislatif 2009, jumlah anggota DPRD kota Pekanbaru adalah sebesar 45 orang[29][30] yang tersusun atas perwakilan 12 partai.[31] Kemudian untuk struktur pimpinan DPRD Kota Pekanbaru disusun atas ketua (Fraksi Partai Demokrat), dan tiga wakil ketua (Fraksi PG, Fraksi PKS dan Fraksi PAN).[32]
DPRD kota Pekanbaru 2009-2014
Partai Kursi Partai Demokrat 9
Partai Golkar 9
PKS 5
PAN 5
PPP 4
PDS 4
PDI-P 2
PKB 2
Partai Hanura 2
PBB 1
Partai Gerindra 1
Total 45
Sumber:[31]
Perekonomian
Mal SKA
Saat ini Pekanbaru telah menjadi kota metropolitan, yaitu dengan nama Pekansekawan,
(Pekanbaru, Siak, & Pelalawan). Perkembangan perekonomian Pekanbaru, sangat dipengaruhi oleh kehadiran perusahaan minyak, pabrik pulp dan kertas, serta perkebunan kelapa sawit beserta pabrik pengolahannya. Kota Pekanbaru pada triwulan I 2010 mengalami peningkatan inflasi sebesar 0,79%, dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencapai 0,30%. Berdasarkan kelompoknya, inflasi terjadi hampir pada semua kelompok barang dan jasa kecuali kelompok sandang dan kelompok kesehatan yang pada triwulan laporan tercatat mengalami deflasi masing-masing sebesar 0,88% dan 0,02%. Secara tahunan inflasi kota Pekanbaru pada bulan Maret 2010 tercatat sebesar 2,26%, terus mengalami peningkatan sejak awal tahun 2010 yaitu 2,07% pada bulan Januari 2010 dan 2,14% pada bulan Februari 2010.[33]
Posisi Sungai Siak sebagai jalur perdagangan Pekanbaru, telah memegang peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan ekomoni kota ini. Penemuan cadangan minyak bumi pada tahun 1939 memberi andil besar bagi perkembangan dan migrasi penduduk dari kawasan lain. Sektor perdagangan dan jasa saat ini menjadi andalan Kota Pekanbaru, yang terlihat dengan menjamurnya pembangunan ruko pada jalan-jalan utama kota ini. Selain itu, muncul beberapa pusat perbelanjaan modern, diantaranya: Plaza Senapelan, Plaza Citra, Plaza Sukaramai, Mal
Pekanbaru, Mal SKA, Mal Ciputra Seraya,[34]Lotte Mart, Metropolitan Trade Center, The
Central, Ramayana dan Giant. Walau di tengah perkembangan pusat perbelanjaan modern ini,
pemerintah kota terus berusaha untuk tetap menjadikan pasar tradisional yang ada dapat bertahan, di antaranya dengan melakukan peremajaan, memperbaiki infrastruktur dan fasilitas pendukungnya.[35] Beberapa pasar tradisional yang masih berdiri, antara lain Pasar Bawah, Pasar Raya Senapelan (Pasar Kodim), Pasar Andil, Pasar Rumbai, Pasar Limapuluh dan Pasar Cik Puan.[36]
untuk penambahan bahan baku, penambahan peralatan dan perluasan bangunan, sebagian kecil lainnya digunakan untuk industri baru.[37]
Kesehatan
Kota Pekanbaru memiliki beberapa rumah sakit yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta. Dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, pemerintah Pekanbaru mencoba melengkapi sarana dan prasarana yang ada saat ini diantaranya akan membangun gedung baru untuk Rumah Sakit Umum Daerah Arifin Achmad yang saat ini baru memiliki 264 kamar untuk rawat inap. Dengan selesainya bangunan tersebut, kapasitas rawat inap RSUD Arifin Achmad, akan bertambah menjadi 400 kamar.[38] Sementara kehadiran rumah sakit yang dikelola oleh pihak swasta di kota ini cukup signifikan antara lain Rumah Sakit Santa Maria yang sebelumnya bernama Balai Pengobatan Santa Maria,[39]Rumah Sakit Ibnu Sina yang didirikan oleh YARSI Riau kemudian dikelola oleh PT. Syifa Utama,[40]Rumah Sakit Awal Bros,[41]Rumah Sakit Bina
Kasih, Pekanbaru Medical Centre (PMC) dan Eka Hospital.
Sampai tahun 2006 penyebaran dan pelayanan puskesmas di kota Pekanbaru masih belum merata terhadap masyarakatnya yaitu dengan ratio 1,99. Sementara persentase kunjungan penduduk memanfaatkan puskesmas baru sekitar 19%. Hal ini dimungkinkan karena telah banyaknya rumah sakit swasta yang memberikan pelayanan yang lebih baik.[42]
Pendidikan
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Perguruan Tinggi di Pekanbaru
Gedung Perpustakaan Soeman HS milik Provinsi Riau, di pusat kota Pekanbaru.
Beberapa perguruan tinggi juga terdapat di kota ini, di antaranya adalah Politeknik Caltex Riau,
Universitas Riau, UIN Suska, Universitas Muhammadiyah Riau, Universitas Islam Riau, dan
Universitas Lancang Kuning. Sampai tahun 2008, di Kota Pekanbaru baru sekitar 13,87%
masyarakatnya dengan pendidikan tamatan perguruan tinggi, dan masih didominasi oleh tamatan SLTA sekitar 37,32%. Sedangkan tidak memiliki ijazah sama sekali sebanyak 12,94% dari penduduk Kota Pekanbaru yang berumur 10 tahun ke atas.[43]
Perpustakaan Soeman Hs merupakan perpustakaan pemerintah provinsi Riau, didirikan untuk
penunjang pendidikan masyarakat Pekanbaru khususnya dan Riau umumnya. Perpustakaan ini terletak di jantung Kota Pekanbaru, termasuk salah satu perpustakaan "termegah di Indonesia", dengan arsitektur yang unik serta telah memiliki koleksi 300 ribu buku sampai tahun 2008.[44] Nama perpustakaan ini diabadikan dari nama seorang guru dan sastrawan Riau, Soeman
Hasibuan.[45]
Untuk mengantisipasi kebutuhan energi listrik dimasa mendatang, pemerintah kota Pekanbaru telah mengusahakan pembebasan lahan seluas 40 ha untuk pembangunan PLTU Tenayan Raya. [48]
Sementara untuk memenuhi kebutuhan air bersih, Pemerintah kota melalui PDAM
memanfaatkan air permukaan dari Sungai Siak yang mempunyai kapasitas 5000 liter/detik sebagai sumber air baku bagi Instalasi Pengolah Air Bersih, yang terpasang dengan kapasitas 380 liter/detik. Selanjutnya sistem pengolahan penuh dan chlorinasi digunakan untuk memproduksi air bersih dengan kapasitas 350 liter/detik. Dari kapasitas produksi yang ada, telah terdistribusi dalam 18.660 unit Sambungan Rumah (SR) dan 45 Hidran Umum (HU). Setiap SR rata-rata digunakan 5 – 6 orang dan HU dapat digunakan 100 orang. Fasilitas ini memang belum mencukupi kebutuhan keseluruhan masyarakat kota ini, sehingga sebagian besar masyarakat masih memanfaatkan secara langsung air permukaan dari sungai Siak tersebut.[49]
Saat ini pemerintah kota telah menetapkan tempat pembuangan akhir (TPA) sampah di 2 lokasi dengan metode open dumping, yaitu kawasan Limbungan seluas 5 Ha dengan jarak dari kawasan pemukiman 19 km dan Kulim seluas 3 Ha dengan jarak dari kawasan pemukiman 8 km. Selain itu gerobak sampah masih digunakan untuk pengumpulan tak langsung, jumlah total gerobak yang ada saat ini adalah 305 buah dengan kapasitas rata-rata 1 m³ untuk melayani pengumpulan individual pada 5 wilayah pengumpulan. Sarana pemindahan yang ada berupa bak sampah pasangan batu-bata dan pelat baja sebanyak 32 buah dengan daya tampung 157.5 m³. Saat ini kapasitas penampungan TPS baru mencapai 8 % terhadap total timbunan yang ada. Untuk armada angkutan pengambilan sampah langsung digunakan truk bak terbuka, jumlah
pengangkutan yang dilakukan adalah 2 – 3 kali per harinya, sehingga kapasitas pengangkutan baru mencapai 20 %. Sedangkan setiap harinya terdapat 170 m³ timbunan sampah, sehingga jumlah sampah yang telah dikelola dan terangkut sampai ke TPA baru mencapai 120 m³/hari atau sekitar 60 %.[49]
Daerah kota Pekanbaru yang memiliki ketinggian antara 1 sampai 20 meter dengan curah hujan dalam klasifikasi sedang, yaitu antara 100-200 per bulan. Secara umum permasalahan banjir di kota ini adalah masalah genangan air, baik akibat adanya limpasan dari saluran drainase yang ada maupun akibat terhambatnya pengaliran air. Saluran drainase yang ada saat ini baru mencakup 13.930 Ha, yang terdiri dari sistem drainase besar sepanjang 10.123 meter, sistem drainase kecil sepanjang 15.456 m dan sistem drainase tersier sepanjang 7.789 m.[49]
Pemerintah kota saat menetapkan pengembangkan kawasan permukiman perkotaan ke arah ke selatan, timur dan barat kota (kecamatan Tampan, kecamatan Marpoyan Damai, kecamatan Bukit
Raya, kecamatan Tenayan Raya, dan kecamatan Payung Sekaki). Sedangkan Kecamatan
Senapelan, Kecamatan Sukajadi, Kecamatan Sail dan Kecamatan Limapuluh sebagai kawasan
perdagangan dan jasa dengan skala pelayanan regional dan internasional, perumahan perkotaan
Perhubungan
Jalan Tuanku Tambusai, salah satu jalan utama di Pekanbaru
Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.
Pekanbaru dihubungkan oleh jaringan jalan yang tersambung dari arah Padang di sebelah barat,
Medan di sebelah utara, dan Jambi di sebelah selatan. Terminal Bandar Raya Payung Sekaki
merupakan pusat pelayanan transportasi antar kota dan antar provinsi, yang telah direncanakan pemerintah setempat menjadi sarana orientasi dan perpindahan antar moda transportasi dengan akses ke sistem jaringan transportasi regional, bandara, dan pelabuhan.
Bandara Sultan Syarif Kasim II menjadi salah satu bandar udara tersibuk di Sumatera dan
dicanangkan akan menjadi salah satu bandara internasional di pulau Sumatera. Berdasarkan data yang diperoleh dari Angkasa Pura II pada tahun 2011 penumpang yang melalui bandara ini mencapai angka 1.259.993 penumpang per tahun.[50]
juga menghubungkan Pekanbaru dengan kawasan di Kepulauan Riau, seperti Tanjungpinang dan
Batam.
Selain itu, Transmetro Pekanbaru merupakan sarana transportasi massal jalur darat di Kota Pekanbaru, sekaligus sebagai salah satu alternatif untuk mengurangi tingkat kemacetan di kota ini.
Pada masa pendudukan tentara Jepang, dilakukan pembangunan rel kereta api yang
menghubungkan Pekanbaru menuju Padang melalui Sawahlunto. Proyek ini sebelumnya telah direncanakan pada masa pemerintahan Hindia-Belanda dan diselesai pada 15 Agustus 1945,[51][52] walau sampai sekarang jalur ini tidak pernah diaktifkan lagi.
Pariwisata
Perayaan Tabuik di Jalan Tuanku Tambusai
Hotel Arya Duta
Kota Pekanbaru memiliki beberapa bangunan dengan ciri khas arsitektur Melayu diantaranya bangunan Balai Adat Melayu Riau yang terletak di jalan Diponegoro, Bangunan ini terdiri dari dua lantai, di lantai atasnya terpampang beberapa ungkapan adat dan pasal-pasal Gurindam Dua
Belas karya Raja Ali Hajisastrawan keturunan Bugis.[53] Pada bagian kiri dan kanan pintu masuk
gedung ini berfungsi sebagai tempat untuk pagelaran berbagai kegiatan budaya dan seni Melayu Riau dan kegiatan-kegiatan lainnya. Sementara bersebelahan dengan gedung ini terdapat
Museum Sang Nila Utama, merupakan museum daerah Riau yang memiliki berbagai koleksi
benda bersejarah, seni, dan budaya. Museum ini menyandang nama seorang tokoh legenda dalam
Sulalatus Salatin, pendiri Singapura. Selanjutnya Anjung Seni Idrus Tintin salah satu ikon
budaya di Kota Pekanbaru, merupakan bangunan dengan arsitektur tradisional, menggunakan nama seorang seniman Riau, Idrus Tintin, dibangun pada kawasan yang dahulunya menjadi tempat penyelengaraan MTQ ke-17.
Pada kawasan Senapelan terdapat Masjid Raya Pekanbaru yang sebelumnya dikenal dengan nama Masjid Alam,[54] dibangun sekitar abad ke-18 dengan gaya arsitektur tradisional dan merupakan masjid tertua di Kota Pekanbaru.[55] Sementara Tradisi Petang Megang disaat memasuki bulan Ramadan telah dilakukan sejak masa Kesultanan Siak masih tetap diselenggarakan oleh masyarakat Kota Pekanbaru.
Pada tahun 2011, masyarakat Pariaman untuk pertama kalinya mengadakan pesta budaya Tabuik
di Pekanbaru. Seperti hal di daerah asalnya, perayaan ini diselenggarakan pada bulan Muharram, untuk memperingati peristiwa Pertempuran Karbala. Meski bukan tradisi lokal, hal ini
menunjukkan keanekaragaman sekaligus salah satu iven untuk pengembangan sektor pariwisata. [56] Sementara setiap tahunnya, komunitas Tionghoa di Pekanbaru juga menyelenggarakan perayaan Tahun Baru Imlek, kemudian ditutup dengan perayaan Cap Go Meh. Pesta ini
umumnya dipusatkan di kawasan Senapelan terutama pada beberapa vihara di antaranya Vihara
Dharma Loka atau Vihara Tridharma Dewi Sakti.
Olahraga
PSPS Pekanbaru merupakan klub utama sepak bola yang dimiliki oleh kota ini, dan bermarkas di
Stadion Kaharudin Nasution Rumbai. Namun pada tahun 2010 stadion ini direnovasi, karena
stadion ini juga persiapkan sebagai salah satu venue pada Pekan Olahraga Nasional XVIII 2012 Riau. Sehingga pada kompetisi LSI, PSPS untuk sementara waktu pada pertandingan kandang menggunakan Stadion Agus Salim[57] dan Stadion Kuansing.[58]
Sejak tahun 2009 kota ini mulai membenahi berbagai fasilitas olahraga setelah provinsi Riau terpilih sebagai tuan rumah penyelenggara Pekan Olahraga Nasional XVIII dan kualifikasi Piala Asia U-22 tahun 2012. Untuk menyambut perhelatan akbar tersebut, Pekanbaru membangun
Stadion Utama Riau dengan kapasitas 43.923 kursi.[59]
Selain itu, Lapangan Golf tersebar di beberapa tempat pada kawasan kota ini, antara lain
Pekanbaru Golf Course Country Club di Kubang Kulim, Simpang Tiga Golf Course di Kompleks AURI, Rumbai Golf Course di Kompleks IKSORA Rumbai, dan Lapangan Golf Labersa di Kompleks Labersa.
Pers dan Media
Di Kota Pekanbaru telah berdiri TVRI Riau sejak tahun 1997, sementara Pekanbaru TV
2000, namun beberapa tahun kemudian ditutup karena masalah keuangan. Riau TV yang berada dalam konsorsium Group Jawa Post, mengudara sejak tahun 2001, beberapa tahun kemudian berafiliasi dengan RTM-1 milik Malaysia.
RRI Pekanbaru merupakan stasiun radio penyiaran milik pemerintah yang didirikan tahun 1959, dan memainkan peranan penting selepas berakhirnya PRRI. Sementara beberapa stasiun radio swasta juga terdapat di kota ini yang tergabung dalam PRSSNI Riau.
Genta merupakan surat kabar lokal pertama yang terbit di Pekanbaru tahun 1979, surat kabar ini beroplah 2 ribuan dan disponsori oleh pemerintah provinsi Riau waktu itu.[60] Saat ini beberapa media cetak jenis surat kabar yang cukup banyak dikenal masyarakat Kota Pekanbaru antara lain: Haluan Riau, Riau Pos, Tribun Pekanbaru, Pekanbaru Pos, Pekanbaru MX dan Koran Riau.
Selain itu di Pekanbaru juga banyak hadir media-media online salah satunya adalah :
Gotoriau.com yang menampilkan info-info populer seputar Pekanbaru pada khususnya dan Riau
pada umumnya.