i
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN
SEKOLAH MENENGAH ATAS
LUAR BIASA
Buku Guru
KEGEMARAN
AUTIS
KELAS X
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA
2014
ii
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN
Buku Guru
Tema: KEGEMARAN
SMALB-AUTIS
Buku ini merupakan buku guru yang dipersiapkan Pemerintah dalam rangka implementasi kurikulum 2013.
Buku guru ini disusun dan ditelaah oleh berbagai pihak di bawah koordinasi Kemen-terian Pendidikan dan Kebudayaan, dan dipergunakan dalam tahap awal penerapan kurikulum 2013.
iii
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN
Hak Cipta pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Dilindungi Undang – Undang
Kontributor : Sukirno Penyunting materi : (tim pengarah)
Diterbitkan oleh : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Kotak katalog dalam terbitan (KDT)
Cetakan ke-1, 2014
Disusundenganhuruf Bookman Oldstyle , 12 pt
Indonesia. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. KEGEMARAN-AUTIS--SMALB : Buku Guru/ Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. –Jakarta : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2014.
viii, 328 hal. : ilus.; 25 cm. Untuk SMALB Kelas X
ISBN 978-602-282-717-7 (jilid lengkap) ISBN 978-602-282-718-4 (jilid 1)
I. Tematik - Autis – Studi dan Pengajaran I. Judul
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan MILIK NEGARA
iv
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN
KATA PENGANTAR
Pemerintah Republik Indonesia telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Berdasarkan peraturan ini telah ditetapkan kebijakan baru pendidikan khususnya yang berkaitan dengan kurikulum yang berlanjut dengan penerapan kurikulum 2013. Menurut peraturan ini, struktur kurikulum merupakan pengorganisasian Kompetensi Inti, Kompetensi Dasar, Muatan Pembelajaran, Mata Pelajaran, dan Beban Belajar pada setiap satuan pendidikan dan program pendidikan. Khusus struktur Kurikulum untuk satuan pendidikan menengah termasuk untuk SMALB di antaranya terdiri atas muatan umum dan muatan pilihan lintas minat atau pendalaman minat.
Pengembangan Kurikulum 2013 SMALB seperti juga pengembangan kurikulum 2013 SMA dilaksanakan atas dasar beberapa prinsip utama. Pertama, standar kompetensi lulusan diturunkan dari kebutuhan. Kedua, standar isi diturunkan dari standar kompetensi lulusan melalui kompetensi inti yang bebas mata pelajaran. Ketiga, semua mata pelajaran harus berkontribusi terhadap pembentukan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Keempat, mata pelajaran diturunkan dari kompetensi yang ingin dicapai. Kelima, semua mata pelajaran diikat oleh kompetensi inti. Keenam, keselarasan tuntutan kompetensi lulusan, isi, proses pembelajaran, dan penilaian. Aplikasi yang taat asas dari prinsip-prinsip ini menjadi sangat esensial dalam mewujudkan keberhasilan implementasi Kurikulum 2013.
v
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN pengembangan tersebut telah diterbitkan sebanyak 54 jenisbahan ajar pendidikan khusus untuk peserta didik/siswa SMALB kelas X Tunanetra, Tunarungu, Tunagrahita Ringan, Tunagrahita Sedang, Tunadaksa Ringan, Tunadaksa Sedang, dan Autis, yang terdiri dari 27 bahan ajar untuk peserta didik/siswa dan 27 bahan ajar untuk guru yang mencakup mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pendidikan Kewarganegaraan, Matematika, dan Seni Budaya.
Akhirnya, saya menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang berperan dalam penyusunan bahan ajar ini khususnya kepada semua Penulis, Editor, dan Ilustratorserta team profesional dari Dit. PPKLK Ditjen Pendidikan Menengah Kemendikbud di bawah koordinasi Direktur Dit. Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus, dengan dibantu Kasubdit Pembelajaran, Kasi Pelaksanaan Kurikulum, Kasi Penilaian dan Akreditasi yang telah mengkoordinir penulis, penelaah/ editor, illustrator, dan tim teknis Dit. PPKLK serta staf subdit pembelajaran Dit. PPKLK sehingga atas kerja keras dan bekerja dengan penuh konsentrasi dapat dihasilkannya bahan ajar ini. Semoga ketersediaan bahan ajar ini akan mendorong semua guru dan Kepala Sekolah SMALB untuk meningkatkan kapasitasnya dalam memahami dan menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran dalam mengelola kelas dan mengembangkan sekolah serta bagi guru diharapkan dapat menerapkan pendekatan saintifik dan penilaian otentik pada setiap kegiatan pembelajaran supaya dihasilkan lulusan SMALB yang kreatif, produktif, inovatif, dan mandiri serta memiliki sikap ilmiah.
Jakarta, Mei 2014.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
vi
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Ruang Lingkup ... 4
C. Pengembangan Materi ... 5
D. Karakteristik Autis ... 6
E. Karakteristik Pembelajaran Tematik ... 10
F. Integrasi Nilai-nilai Pendidikan Karakter ... 14
BAB II MODEL-MODEL PEMBELAJARAN ... 17
A. Model Pembelajaran Langsung ... 17
B. Model Pembelajaran Kooperatif ... 21
C. Model Pembelajaran Berbasis Masalah ... 23
D. Strategi Pembelajaran Kontekstual dalam Pembelajaran ... 29
BAB III. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR ... 35
A. Petunjuk Umun ... 35
B. Petunjuk Penggunaan Buku Siswa ... 36
C. Strategi Pembelajaran Tematik ... 40
vii
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN E. Metode Pembelajaran Tematik ... 58 F. Format Model Penilaian Teknik Dan
Instrumen Penilaian ... 58 BAGIAN KHUSUS ... 71 Sub Tema 1:
Gemar Berkebun ... 101 Sub Tema 2:
Gemar Menggambar ... 159 Sub Tema 3:
Gemar Bermain ... 211
Sub Tema 4:
Gemar Membaca ... 275
1
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
2
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN (Rutter, 1983). Kadang mereka dapat memiliki keahlian khusus yang mencerminkan talenta besar, seperti kemampuan mengalikan dua angka empat digit dengan cepat tanpa alat bantu apa pun. Mereka juga dapat memiliki memori jangka panjang yang luar biasa, mampu mengingat dengan tepat syair sebuah lagu yang didengar bertahun-tahun lalu.
Terkait dengan kondisi anak autis tersebut, maka layanan pendidikan ditekankan untuk mengembangkan potensi adaptif, agar mereka dapat menolong diri yang mencakup: keterampilan pribadi, perkembangan fisik, komunikasi, skill pribadi dan skill sosial, kognitif fungsional, Perawatan kesehatan, kesejahteraan pribadi, skill konsumen, keterampilan rumah tangga, orientasi komunitas, dan skill kerja. Oleh karena itu, penamaan mata pelajaran dalam kurikulum ini menekankan untuk menggembangkan potensi adaptif dan akademik fungsional. Artinya cakupan kompetensi dipelajari untuk memiliki penguasaan yang dapat digunakan untuk pembelajaran keterampilan vokasional dan dapat diterapkan dalam kehdupan sehari-hari.
3
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN pernah sekolah, maka perlu diberikan layanan terapi dan dimasukkan kelas transisi agar memiliki kemampan dasar sebagai prasyarat belajar dalam kelas keterampilan.
Implementasi kurikulum autis menekankan pada prinsip pengulangan, prinsip kekongkritan, prinsip sederhana, prinsip keajegan, prisip kesinambungan, dan prinsip keseluruhan. Pembelajaran berbasis pencapaian penguasaan kopetensi dan bukan berbsis watu. Penilaian capaian hasil belajar bagi anak autias menggunakan otentik asemen dengan model penilaian unjuk kerja. Sistem penilian dilakukan melalui peniaian proses dan penilaian hasil. Pelaporan hasil belajar menggunakan deskriptif kualitatif. Ketuntasan belajar pada anak autis perlu dilakukan sistem magang untuk uji latih kerja mandiri sesuai dengan peminatan vokasi yang diminati.
Pembelajaran tematik merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan atau memadukan beberapa kompetensi dasar dan indikator dari kurikulum (standar isi) beberapa mapel menjadi satu kesatuan untuk dikemas dalam satu tema.
Pembelajaran tematik dirancang agar proses pembelajaran menjadi lebih bermakna. Pembelajaran menjadi berkesinambungan serta tidak berdiri sendiri-sendiri. Selain itu guru juga akan termotivasi untuk mengembangkan kreativitasnya serta memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar.
4
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN yang berdekatan muatannya (dan memungkinkan untuk dibuatkan temanya) pada kelas dan semester yang sama pada mata pelajaran (mapel) yang KD-nya dapat dikaitkan.
1. Memilih atau menentukan tema yang dapat mempersatukan kompetensi-kompetensi dasar yang telah diidentifikasi.
2. Membuat matriks hubungan antara kompetensi dasar (dan indikator pencapaiannya) dengan tema yang telah ditentukan.
3. Membuat pemetaan pembelajaran tematis atau pengembangan jaringan kompetensi dasar dan tema.
4. Mengembangkan silabus sesuai dengan langkah pembuatan silabus pada umumnya.
5. Menyusun RPP berdasarkan silabus pembelajaran.
B. Ruang Lingkup
Ruang Lingkup dalam buku peganganan guru mencakup empat subtema.
Kegiatan pembelajaran tematik tentang Tema: Kegemaran 1. Sub Tema 1 : Gemar Berkebun
5
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN C. Pengembangan Materi
Pengembangan materi pembelajaran pada tema Kegemaaran meliputi aspek:
1. Sikap
Sikap yang dikembangkan dalam pembelajaran pada tema Kegemaaran meliputi : percaya diri, disiplin, rasa ingin tahu, peduli, dan tanggung jawab.
2. Keterampilan
Keterampilan yang dikembangkan dalam pembelajaran pada tema Kegemaran meliputi : keterampilan menga-mati, menulis, berkomunikasi, mencari informasi, kerja kelompok, dan berkreasi.
3. Pengetahuan
Pengetahuan yang dikembangkan dalam pembelajara pada tema Kegemaran meliputi : pemahama peraturan / tata tertib, hidup rukun, saling menolong, gotong royong, dan hidup bersih.
Pengembangan pada setiap subtema meliputi kegiatan:
1. Mengamati, aktivitasnya meliputi : aktivitas individual, berpasangan, kelompok, dan bimbingan guru.
2. Menanya, aktivitasnya meliputi : aktivitas individual, berpasangan, kelompok, dan bimbingan guru.
3. Mengumpulkan informasi, aktivitasnya meliputi: aktivitas individual, berpasangan, kelompok, dan bimbingan guru. 4. Mengasosiasikan, aktivitasnya meliputi : aktivitas
6
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN 5. Mengomunikasikan, aktivitasnya meliputi : aktivitas
individual, berpasangan, kelompok, dan bimbingan guru.
D. Karakteristik Autis
Kata autis berasal dari bahasa Yunani yaitu: Autos yang berarti diri sendiri dan Isme yang berarti aliran. Secara harfiah berarti suatu paham atau aliran yang terfokus pada dunianya sendiri, sebab penyandang autis atau autisme seakan-akan hidup dalam dunianya sendiri. (Handoyo, 2013:hal 12) mengemukakan bahwa : "autistik atau autisme adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks pada seseorang menyangkut komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi." Sedangkan (Gayatri, 2010. hal 1.) mengemukakan bahwa autis atau autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak, sering kali gejala tampak sebelum anak mencapai usia tiga tahun. Gangguan perkembangan ini mempengaruhi kemampuan komunikasi (berbicara dan berbahasa), kemampuan berinteraksi sosial (tidak tertarik untuk berinteraksi) dan prilaku (hidup dalam dunianya sendiri).
7
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN mengemukakan bahwa gambaran umum anak yang mengalami gangguan autistik atau autisme adalah "Menunjukan kurang respon terhadap orang lain, mengalami kendala berat dalam kemampuan komunikasi, dan memunculkan komunikasi yang aneh terhadap berbagai aspek lingkungan di sekitarnya, yang semua ini berkembang pada masa 30 bulan pertama anak". Sedangkan (D.S. Prasetyono, 2008. hal.25 ) memberikan gambaran bahwa anak autis memiliki gambaran yang unik dan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: (1) anak sangat selektif terhadap rangsangan, sehingga kemampuan anak menangkap isyarat yang berasal dari lingkungan sangat terbatas (2) kurang motivasi, anak tidak hanya sering menarik diri dan asyik sendiri, tetapi juga cenderung tidak termotivasi menjelajahi lingkungan baru atau memperluas lingkup perhatian mereka (3) memiliki respons stimulasi diri tinggi, anak mmenghabiskan sebagian waktunya untuk merangsang dirinya sendiri, misalnya bertepuk tangan, mengepak-ngepakan tangan, memandangi jari-jemari, sehingga kegiatan ini tidak produktif (4) memiliki respons terhadap imbalan, anak mau belajar jika mendapat imbalan langsung dari jenis imbalannya sangat individual, akan tetapi respon ini akan berbeda setiap anak autis.
8
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN autis terlalu tergantung pada rutinitas, sangat sensitif terhadap perubahan di lingkungannya, atau sangat terfokus pada item yang tidak pantas. Gejala anak autis akan nampak pada sebuah kontinum, dengan beberapa individu yang menunjukkan gejala ringan dan yang mengalami gejala yang lebih parah. Spektrum ini akan memungkinkan menjelaskan variasi gejala dan perilaku dari setiap individu.
Neuro Developmental Work Group (dalam DSM-5) merekomendasikan sebuah kategori baru tentang autisme Spectrum Disorder (ASD). Kategori ini akan menggabungkan beberapa diagnosa yang sebelumnya terpisah, termasuk autis, gangguan asperger, gangguan disintegrasi masa kanak-kanak dan gangguan perkembangan pervasif. Usulan penggabungan ini menegaskan bahwa gejala pada keempat gangguan tersebut merupakan kontinum dari ringan sampai berat, bukan diagnosis sederhana yang terpisah untuk gangguan tertentu. Kriteria diagnostik yang diusulkan untuk ASD menentukan tingkat keparahan dan menggambarkan status perkembangan individu secara keseluruhan, terutama dalam komunikasi sosial dan kognitif maupun perilaku motorik
Berdasarkan uraian tersebut dapat simpulkan bahwa ciri-ciri autis atau autisme adalah terjadinya gangguan dalam bidang komunikasi, interaksi sosial, gangguan sensoris, gangguan pola bermain, ganguan prilaku dan gangguan emosi. Gangguan-gangguan tersebut meliputi:
9
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN seperti tuli,sulit bicara atau pernah bicara kemudian sirna (c) kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya (d) mengoceh tanpa arti berulang-ulang, dengan bahasa yang tak dapat dimengerti orang lain (e) bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi (f) senang meniru atau membeo (g) senang menarik tangan orang lain untuk melakukan apa yang diinginkan.
2. Gangguan Interaksi Sosial, interaksi sosial anak autis biasanya (a) lebih suka menyendiri (b) tidak ada atau sedikit kontak mata, atau menghindar untuk bertatapan (c) tidak tertarik untuk bermain bersama teman.
3. Gangguan Sensoris, meliputi: (a) sangat sensistif terhadap sentuhan, seperti tidak suka dipeluk (b) bila mendengar suara keras langsung menutup telinga (c) senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda (d) tidak sensitif terhadap rasa sakit dan rasa takut.
4. Gangguan Pola Bermain, meliputi: (a) tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya (b) tidak suka bermain dengan anak sebayanya (c) tidak kreatif, tidak imajinatif (d) tidak bermain sesuai fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik kemudian rodanya diputar-putar (e) senang akan benda-benda yang berputar, seperti kipas angin, roda sepeda (f) sangat lekat dengan benda-benda tertentu yang dipegang terus dan dibawa kemana-mana.
10
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN memperlihatkan prilaku stimulasi, seperti bergoyang-goyang, mengepak-ngepakan tangan seperti burung, dan berputar-putar. (c) tidak suka terhadap perubahan.
6. Gangguan Emosi, meliputi: (a) sering marah tampa alasan yang jelas, tertawa-tawa, dan menangis tampa alasan (b) temper tantrum (mengamuk tak terkendali) jika dilarang atau tidak dipenuhi keinginannya (c) kadang suka menyerang dan merusak (d) berprilaku menyakiti diri sendiri (e) tidak mempunyai empati dan tidak mengerti perasaan orang lain.
E. Karakteristik Pembelajaran Tematik
Pembelajaran tematik sesuai dengan tahapan perkembangan anak yang masih melihat segala sesuatu sebagai sesuatu yang holistik, sehingga pembelajaran yang menyajikan mata pelajaran secara terpisah akan menyebabkan kurang mengembangkan anak untuk berpikir holistik dan membuat kesulitan bagi siswa. Atas dasar pemikirian di atas pembelajaran pada anak autis yang disertai intelegensi yang kurang, sangat jika dikelola dalam pembelajaran terpadu melalui pendekatan pembelajaran tematik.
Sebagai suatu model pembelajaran, pembelajaran tematik memiliki karakteristik sebagai berikut:
11
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.
2. Memberikan pengalaman langsung
Pembelajaran tematik dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkrit) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.
3. Pemisahan mata pelajaran tidak begitu jelas
Dalam pembelajaran tematik pemisahan antarmata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembahasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.
4. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran
12
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN 5. Bersifat fleksibel
Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada. 6. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan
siswa
Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya.
7. Menggunakan prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan
Dalam proses pembelajaran tematik tidak menjemukkan/membosankan bahkan dalam suasana bermain yang menyenangkan mereka dapat memperoleh pengetahuan baru yang sangat utuh dan bermakna.
Adapun identik dengan butir-butir tersebut di atas, menurut Depdikbud (1996) karakteristik pembelajaran tematik adalah meliputi holistik, bermakna, autentik, dan aktif.
Pertama
13
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN untuk memahami suatu gejala/fenomena dari segala sisi. Hal ini sebagai modal yang sangat baik untuk menjadi lebih bijak menyikapi setiap yang dia hadapi atau alami.
Kedua
Bermakna yaitu memungkinkan terbentuknya suatu jalinan antarkonsep yang saling berhubungan atau disebut juga skemata sehingga dapat menambah kebermaknaan materi yang dipelajari.
Ketiga
Autentik artinya siswa-siswi mempelajari suatu konsep dan prinsip melalui kejadian langsung yang dilaksanakan dalam proses kegiatan pembelajaran, misalnya kegiatan eksperimen. Guru lebih berperan sebagai fasilitator dan siswa-siswi sebagai aktor langsung dalam kegiatan tersebut untuk mencari dan memperoleh informasi dan pengetahuan.
Keempat
Aktif maksudnya pembelajaran lebih menekankan pada aktifitas siswa-siswi secara fisik, mental, intelektual, dan emosional melalui tema tertentu yang sesuai dengan hasrat, minat, dan kemampuanya, sehingga ia termotivasi untuk terus menerus belajar.
F. Integrasi Nilai-nilai Pendidikan Karakter
14
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN 2. Untuk mencapai sikap atau nilai karakter tersebut, selain
dilakukan secara tidak langsung melalui berbagai aktivitas pembelajaran yang dilakukan, gurudiharapkan dapat melakukan penilaian secara langsung atas ketercapaian nilai karakter tertentu pada diri siswa. Langkah-langkah di bawah ini dapat dijadikan pertimbangan untuk melakukan penilaian.
a. Mengingat kendala yang ada, terutama ketersediaan waktu, maka dalam 1 semester, guru dapat menentukan 2 atau 3 nilai karakter yang akan dikembangkan dan dinilai secara langsung. Jenis karakter yang akan dikembangkan, hendaknya menjadi keputusan sekolah, meskipun tidak menutup kemungkinan, dalam satu kelas ada tambahan 1 atau 2 nilai karakter lain, sesuai dengan kebutuhan di kelas tersebut.
b. Misalnya dalam 1 semester ini, nilai karakter yang akan dikembangkan adalah:
• disiplin • kerjasama • percaya diri • peduli sosial
c. Setiap karakter dibuatkan indikator.
15
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN
No Karakter Definisi Indikator
1 Disiplin
Mentaati peraturan di rumah.
Taat dan patuh kepada orang tua.
2 Percaya diri
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai
ketentuan dan peraturan.
Melafalkan nama anggota keluarga. orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
Menyebutkan silsilah dalam keluarga. Membersihkan
rumah.
Menjaga keamanan dan ketertiban di rumah.
Menciptakan suasana rumah yang
16
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN ngetahui lebih
mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat, dan didengar.
Eksplorasi lingkungan rumah secara
terprogram. Tersedia media
17
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN BAB II
MODEL-MODEL PEMBELAJARAN
A. Model Pembelajaran Langsung
Model pembelajaran langsung adalah model pembelajaran yang menekankan pada penguasaan konsep dan/atau perubahan perilaku dengan mengutamakan pendekatan deduktif, dengan ciri-ciri sebagai berikut: (1) transformasi dan ketrampilan secara langsung; (2) pembelajaran berorientasi pada tujuan tertentu; (3) materi pembelajaran yang telah terstuktur; (4) lingkungan belajar yang telah terstruktur; dan (5) distruktur oleh guru. Guru berperan sebagai penyampai informasi, dan dalam hal ini guru seyogyanya menggunakan berbagai media yang sesuai, misalnya film, tape recorder, gambar, peragaan, dan sebaganya. Informasi yang disampaikan dapat berupa pengetahuan prosedural (yaitu pengetahuan tentang bagaimana melaksanakan sesuatu) atau pengetahuan deklaratif, (yaitu pengetahuan tentang sesuatu dapat berupa fakta, konsep, prinsip, atau generalisasi). Kritik terhadap penggunaan model ini antara lain bahwa model ini tidak dapat digunakan setiap waktu dan tidak untuk semua tujuan pembelajaran dan semua siswa.
18
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN
Orientasi.
Sebelum menyajikan dan menjelaskan materi baru, akan sangat menolong siswa jika guru memberikan kerangka pelajaran dan orientasi terhadap materi yang akan disampaikan. Bentuk-bentuk orientasi dapat berupa: (1) kegiatan pendahuluan untuk mengetahui pengetahuan yang relevan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa; (2) mendiskusikan atau menginformasikan tujuan pelajaran; (3) memberikan penjelasan/arahan mengenai kegiatan yang akan dilakukan; (4) menginformasikan materi/konsep yang akan digunakan dan kegiatan yang akan dilakukan selama pembelajaran; dan (5) menginformasikan kerangka pelajaran.
Presentasi.
19
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN
Latihan Terstruktur
Pada fase ini guru memandu siswa untuk melakukan latihan-latihan. Peran guru yang penting dalam fase ini adalah memberikan umpan balik terhadap respon siswa dan memberikan penguatan terhadap respon siswa yang benar dan mengoreksi respon siswa yang salah.
Latihan Terbimbing.
Pada fase ini guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih konsep atau keterampilan. Latihan terbimbing ini baik juga digunakan oleh guru untuk menilai kemampuan siswa untuk melakukan tugasnya. Pada fase ini peran guru adalah memonitor dan memberikan bimbingan jika diperlukan.
Latihan Mandiri.
Pada fase ini siswa melakukan kegiatan latihan secara mandiri, fase ini dapat dilalui siswa jika telah menguasai tahap-tahap pengerjaan tugas 85-90% dalam fase bimbingan latihan.
20
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN
Ketika guru ingin mengenalkan suatu bidang pembelajaran yang baru dan memberikan garis besar pelajaran dengan mendefinisikan konsep-konsep kunci dan menunjukkan keterkaitan di antara konsep-konsep tersebut.
Ketika guru ingin mengajari siswa suatu keterampilan atau prosedur yang memiliki struktur yang jelas dan pasti.
Ketika guru ingin memastikan bahwa siswa telah menguasai keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan dalam kegiatan-kegiatan yang berpusat pada siswa, misalnya penyelesaian masalah (problem solving).
Ketika guru ingin menunjukkan sikap dan pendekat-an-pedekatan intelektual (misalnya menunjukkan bahwa suatu argumen harus didukung oleh bukti-bukti, atau bahwa suatu penjelajahan ide tidak selalu berujung pada jawaban yang logis).
Ketika subjek pembelajaran yang akan diajarkan cocok untuk dipresentasikan dengan pola penjelasan, pemodelan, pertanyaan, dan penerapan.
Ketika guru ingin menumbuhkan ketertarikan siswa akan suatu topik.
21
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN
Ketika guru ingin menyampaikan kerangka parameter-parameter untuk memandu siswa dalam melakukan kegiatan pembelajaran kelompok atau independen.
Ketika para siswa menghadapi kesulitan yang sama yang dapat diatasi dengan penjelasan yang sangat terstruktur.
Ketika lingkungan mengajar tidak sesuai dengan strategi yang berpusat pada siswa atau ketika guru tidak memiliki waktu untuk melakukan pendekatan yang berpusat pada siswa.
B. Model Pembelajaran Kooperatif
Model pemebelajaran kooperatif model jigsaw adalah sebuah model belajar kooperatif yang menitik beratkan kepada kerja kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil, seperti yang diungkapkan Lie (1993:73) bahwa pembelajaran kooperatif model jigsaw ini merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat sampai dengan enam orang secara heterogen dan siswa bekerjasama salaing ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara mandiri.
22
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN materi yang dipelajari, dan dapat menyampaikan kepada kelompoknya ( Rusman, 2008.203).
Menurut Rusman (2008 : 205) model pembelajaran jigsaw ini dikenal juga dengan kooperatif para ahli. Karena anggota setiap kelompok dihadapkan pada permasalahan yang berbeda. Namun, permasalahan yang dihadapi setiap kelompok sama, kita sebut sebagai team ahli yang bertugas membahas permasalahan yang dihadapi. Selanjutnya, hasil pembahasan itu di bawah kekelompok asal dan disampaikan pada anggota kelompoknya. Kegiatan yang dilakukan pada model pembelajaran kooperatif Jigsaw sebagai berikut:
1. Melakukan mambaca untuk menggali informasi. Siswa memeperoleh topik - topik permasalahan untuk di baca sehingga mendapatkan imformasi dari permasalahan tersebut.
2. Diskusi kelompok ahli. Siswa yang telah mendapatka topik permasalahan yang sama bertemu dalam satu kelompok atau kita sebut dengan kelompok ahli untuk membicaran topik permasalahan tersebut.
3. Laporan kelompok, kelompok ahli kembali ke kelompok asal dan menjelaskan dari hasil yang didapat dari diskusi tim ahli.
4. Kuis dilakukan mencakup semua topik permasalahan yang dibicarakan tadi.
23
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN Sedangkan menurut Stepen, Sikes and Snapp (1978) yang dikutip Rusman (2008), mengemukakan langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw sebagai berikut:
1. Siswa dikelompokan sebanyak 1 sampai dengan 5 orang sisiwa.
2. Tiap orang dalam team diberi bagian materi berbeda.
3. Tiap orang dalam team diberi bagian materi yang ditugaskan.
4. Anggota dari team yang berbeda yang telah mempelajari bagian subbagian yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusiksn subbab mereka.
5. Setelah selesai diskusi sebagai tem ahli tiap anggota kembali kedalam kelompok asli dan bergantian mengajar teman satu tem mereka tentang subbab yang mereka kusai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan seksama.
6. Tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi. 7. Guru memberi evaluasi.
8. Penutup.
C. Model Pembelajaran Berbasis Masalah
24
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN learning) merupakan salah satu model pembelajaran yang berasosiasi dengan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran artinya dihadapkan pada suatu masalah, yang kemudian dengan melalui pemecahan masalah, melalui masalah tersebut siswa belajar keterampil-keterampilan yang lebih mendasar.
Menurut Muslimin I dalam Boud dan Felleti (2000:7), pembelajaran berdasarkan masalah (problem based learning) adalah suatu pendekatan untuk membelajarkan siswa untuk mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan masalah, belajar peranan orang dewasa yang otentik serta menjadi pelajar mandiri. Pembelajaran berdasarkan masalah tidak dirancang untuk membantu guru memberikan informasi yang sebanyak-banyaknya kepada siswa, akan tetapi pembelajaran berbasis masalah dikembangkan untuk membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah dan keterampilan intelektual, belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata dan menjadi pembelajaran yang mandiri.
25
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN Ada lima strategi dalam menggunakan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) menurut Martinis Yamin dalam Duffy & Cunningham (2011:31) yaitu:
1. Permasalahan sebagai kajian.
2. Permasalahan sebagai penjajakan pemahaman. 3. Permasalahan sebagai contoh.
4. Permasalahan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari proses.
5. Permasalahan sebagai stimulus aktifitas otentik.
Ada lima dalam model pembelajaran berbasis masalah, yaitu:
1. Orientasi siswa kepada masalah.
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.
2. Mengorganisasi siswa untuk belajar.
Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas yang berhubungan dengan masalah tersebut.
3. Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok. Guru membimbing siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya.
26
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN model dan membantu mereka untuk berbagai tugas dengan temannya.
5. Menganalisis dan mengevaluasi.
Guru membantu siswa untuk melakukan evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
Peran guru, siswa dan masalah dalam pembelajaran berbasis masalah dapat digambarkan sebagai berikut:
Guru sebagai pelatih
Siswa
thinking ( bertanya tentang pemikiran) memonitor
pembelajaran probbing (
menantang siswa untuk berpikir ) menjaga agar siswa
terlibat
27
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN
Pelaksanaan pembelajaran berbasis masalah secara ringkas
sebagai berikut:
1. Tugas Perencanaan
Sesuai dengan hakekat interaktifnya pembelajaran berbasis masalah membutuhkan banyak perencanaan sepeti halnya model pembelajaran yang terpusat pada siswa lainnya:
a) Penetapan Tujuan
Hendaknya dipikirkan dahulu dengan matang tujuan yang hendak dicapai sehingga dapat dikomunikasikan dengan jelas kepada siswa.
b) Merancang Situasi Masalah yang Sesuai
Beberapa guru dalam pembelajaran berbasis masalah memberikan siswa keleluasaan dalam memilih masalah untuk diselidiki karena cara ini dapat meningkatkan motivasi siswa. Masalah sebaiknya otentik (berdasarkan pada pengalaman dunia nyata siswa), mengandung teka-teki dan tidak memungkinkan kerjasama, bermakna bagi siswa dan konsisten dengan tujuan kurikulum.
c) Organisasi Sumber Daya Dan Rencana Logistik
28
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN 2. Tugas interaktif
a) Orientasi Siswa Terhadap Masalah
Siswa perlu memahami bahwa tujuan pembelajaran berbasis masalah tidak untuk memperoleh masalah baru dalam jumlah besar, tetapi untuk melakukan penyelidikan terhadap masalah yang penting dan untuk menjadi pembelajaran yang mandiri. Cara yang baik untuk menyajikan masalah untuk sebuah pelajaran dalam pembelajaran berbasis masalah adalah dengan menggunakan kejadian yang mencengangkan yang dapat menimbulkan misteri dan keinginan untuk memecahkan masalah.
b) Mengorganisasikan Siswa Untuk Belajar
Diperlukan pengembangan keterampilan kerjasama di antara siswa dan saling membantu untuk menyelidiki masalah secara bersama. Berkenaan dengan hal ini siswa memerlukan bantuan guru untuk merencanakan penyelidikan dan tugas-tugas pelaporan.
c) Membantu Penyelidikan Mandiri Dan Kelompok
29
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN menggunakan metode yang sesuai untuk masalah yang dihadapinya.
Guru mendorong siswa dalam pengumpulan informasi dari berbagai sumber, siswa diberi pertanyaan yang membuat mereka memikirkan masalah dan jenis informasi yang dibutuhkan untuk pemecahan masalah. Selama tahap penyelidikan guru memberi bantuan yang dibutuhkan tanpa mengganggu siswa.
Puncak proyek-proyek pembelajaran berbasis masalah adalah penciptaan dan peragaan hasil karya seperti laporan, poster, model-model fisik. Tugas guru pada akhir pembelajaran berbasis masalah adalah membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri dan keterampilan penyelidikan yang mereka gunakan.
D. Strategi Pembelajaran Konstektual dalam
Pembelajaran
30
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.
CTL merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan
yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan
mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip-prinsip pembelajaran berbasis kompetensi.
CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam CTL adalah sebagai berikut:
1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkons-truksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. 2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk
semua topik.
31
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN 5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan.
7. Lakukan penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) dengan berbagai cara.
Sedangkan karakteristik dalam pemelajaran CTL yaitu: 1. Kerjasama.
2. Saling menunjang.
3. Menyenangkan, tidak membosankan. 4. Belajar dengan bergairah.
5. Pembelajaran terintegrasi.
6. Menggunakan berbagai sumber. 7. Siswa aktif.
8. Berdiskusi dengan teman. 9. Siswa kritis guru kreatif.
10. Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain. 11. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil
karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain.
Beberapa komponen utama dalam Pembelajaran Kontekstual menurut Johnson (2000: 65), seperti di uraikan berrikut ini.
1. Melakukan hubungan yang bermakna (Making
Meaning ful Connections)
32
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN akademik, ilmu pengetahuan alam. Atau sejarah dengan pengalamannya mereka sendiri, mereka menemukan makna, dan makna memberi mereka alasan untuk belajar. Mengkaitkan pembelajaran dengan kehidupan seseorang membuat proses belajar menjadi hidup dan keterkaitan inilah inti dari CTL.
2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti (Doing Significant Works)
Model pembelajaran ini menekankan bahwa semua proses pembelajaran yang dilakukan di dalam kelas harus punya arti bagi siswa sehingga mereka dapat mengkaitkan materi pelajaran dengan kehidupan siswa.
3. Belajar yang diatur sendiri (Self-Regulated Learning) Pembelajaran yang diatur sendiri, merupakan pembelajaran yang aktif, mandiri, melibatkan kegiatan menghubungkan masalah ilmu dengan kehidupan sehari-hari dengan cara-cara yang berarti bagi siswa. Pembelajaran yang diatur siswa sendiri, memberi kebebasan kepada siswa menggunakan gaya belajarnya sendiri.
4. Bekerjasama (collaborating) Siswa dapat bekerja sama.
33
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN
5. Berpikir kritis dan kreatif (Critical dan Creative Thinking)
Pembelajaran kontekstual membantu siswa mengem-bangkan kemampuan berpikir tahap tinggi, berpikir kritis dan berpikir kreatif. Berpikir kritis adalah suatu kecakapan nalar secara teratur, kecakapan sistematis dalam menilai, memecahkan masalah menarik keputusan, memberi keyakinan, menganalisis asumsi dan pencarian ilmiah. Berpikir kreatif adalah suatu kegiatan mental untuk meningkatkan kemurnian, ketajaman pemahaman dalam mengembangkan sesuatu.
6. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (Nuturing The Individual)
Dalam pembelajaran kontekstual siswa bukan hanya mengembangkan kemampuan-kemampuan intelektual dan keterampilan, tetapi juga aspek-aspek kepribadian: integritas pribadi, sikap, minat, tanggung jawab, disiplin, motif berprestasi, dan sebagainya. Guru dalam pembelajaran kontekstual juga berperan sebagai konselor, dan mentor. Tugas dan kegiatan yang akan dilakukan siswa harus sesuai dengan minat, kebutuhan dan kemampuannya.
7. Mencapai standar yang tinggi (Reaching High
Standards)
34
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN sia dibantu oleh gurunya dalam menemukan potensi dan kekuatannya.
8. Menggunakan Penilaian yang otentik (Using Authentic Assessment)
35
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN BAB III
KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR
A. Petunjuk Umum
Buku Panduan Guru disusun untuk memudahkan para guru dalam melaksanakan pembelajaran tematikdi SMALB AUTIS. Buku ini mencakup hal-hal sebagai berikut.
1. Jaringan tema yang memberi gambaran kepada guru tentang suatu tema yang melingkupi beberapa kompetensi dasar (KD) dari berbagai mata pelajaran.
2. Tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada setiap kegiatan pembelajaran.
3. Kegiatan pembelajaran tematik terpadu untuk menggambarkan kegiatan pembelajaran yang menyatu dan mengalir.
4. Pengalaman belajar yang bermakna untuk membangun sikap dan perilaku positif, penguasaan konsep, keterampilan berpikir saintifik, berpikir tingkat tinggi, kemampuan menyelesaikan masalah, inkuiri, kreativitas, dan pribadi reflektif.
5. Berbagai teknik penilaian siswa.
6. Informasi yang menjadi acuan kegiatan remedial dan pengayaan.
36
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN B. Petunjuk Penggunaan Buku Siswa
Kegiatan pembelajaran di buku ini dirancang untuk mengembangkan kompetensi (sikap, pengetahuan dan keterampilan) siswa melalui aktivitas yang bervariasi. Aktivitas tersebut mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Membuka pelajaran dengan cara yang menarik perhatian siswa, seperti membacakan cerita, bertanya jawab, bernyanyi, melakukan permainan, demonstrasi, pemecahan masalah dan sebagainya.
2. Menginformasikan tujuan pembelajaran sehingga siswa dapat mengorganisir informasi yang disampaikan (apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dikerjakan).
3. Menggali pengetahuan siswa yang diperoleh sebelumnya agar siswa bisa mengaitkan pengetahuan terdahulu dengan yang akan dipelajari.
4. Memberi tugas yang bertahap guna membantu siswa memahami konsep.
5. Memberi tugas yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
6. Memberi kesempatan untuk melatih keterampilan atau konsep yang telah dipelajari.
37
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN Bagaimana Menggunakan Buku Panduan Guru?
Buku Panduan Guru memiliki dua fungsi, yaitu sebagai petunjuk penggunaan buku siswa dan sebagai acuan kegiatan pembelajaran di kelas. Mengingat pentingnya buku ini, disarankan memperhatikan hal-hal sebagai berikut.
1. Bacalah halaman demi halaman dengan teliti.
2. Pahamilah setiap Kompetensi Dasar dan Tujuan Pembelajaran yang dikaitkan dengan tema.
3. Upayakan untuk mencakup Kompetensi Inti (KI) I dan (KI) II dalam semua kegiatan pembelajaran. Guru diharapkan melakukan penguatan untuk mendukung pembentukan sikap, pengetahuan, dan ketrampilan
4. Dukunglah ketercapaian Kompetensi Inti (KI) I dan (KI) II dengan kegiatan pembiasaan, keteladanan, dan budaya sekolah.
5. Sesuaikanlah setiap langkah kegiatan yang berhubungan dengan buku siswa sesuai dengan halaman yang dimaksud.
perpin-38
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN dahan subtema dan tema, menjadi faktor yang sangat penting untuk memaksimalkan manfaat dan keberhasilan pendekatan tematik terpadu yang diuraikan dalam buku ini.
7. Kembangkan ide-ide kreatif dalam memilih metode pembelajaran. Termasuk di dalamnya menemukan kegiatan alternatif apabila kondisi yang terjadi kurang sesuai dengan perencanaan (misalnya, siswa tidak bisa mengamati tanaman di luar kelas pada saat hujan).
8. Pilihlah beragam metode pembelajaran yang akan dikembangkan (misalnya bermain peran, mengamati/ observasi, bertanya-jawab, bercerita, pemberian tugas dan sebagainya). Penggunaan beragam metode tersebut, selain melibatkan siswa secara langsung, diharapkan juga dapat melibatkan warga sekolah dan lingkungan sekolah.
9. Kembangkanlah keterampilan berikut ini:
a. Pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM),
b. Keterampilan bertanya yang berorientasi pada kemampuan berkomunikasi dan kemandirian.
c. Keterampilan membuka dan menutup pembelajaran. d. Keterampilan mengelola kelas dan pajangan kelas. 10. Gunakanlah media yang sesuai dengan materi
pembelajaran atau sumber belajar alternatif
39
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN 13. Perkiraan alokasi waktu dapat merujuk pada struktur
kurikulum. Meskipun demikian, alokasi waktu menurut mata pelajaran hanyalah sebagai petunjuk umum. Guru diharapkan menentukan sendiri alokasi waktu berdasarkan situasi dan kondisi di sekolah dan pendekatan tematik terpadu.
14. Pada akhir tema buku siswa, dilengkapi dengan bahan-bahan latihan yang sejalan dengan pencapaian kompetensi. Meskipun demikian, guru dianjurkan untuk menambah bahan-bahan latihan bagi siswa dari sumber-sumber yang relevan.
15. Hasil unjuk kerja siswa yang berupa karya dan bukti penilaian dapat berfungsi sebagai portofolio siswa.
16. Buatlah catatan refleksi setelah satu tema selesai, sebagai bahan untuk melakukan perbaikan pada proses pembelajaran selanjutnya. Misalnya faktor-faktor yang menyebabkan pembelajaran berlangsung dengan baik, kendala-kendala yang dihadapi, dan ide-ide kreatif untuk pengembangan pembelajaran lebih lanjut.
40
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN
Kerjasama dengan Orang Tua
Secara khusus, di setiap akhir pembelajaran pada buku siswa, terdapat kolom untuk orang tua dengan judul ‘Belajar di Rumah. Kolom ini berisi hal-hal sebagai berikut :
1. Informasi tentang materi yang dipelajari dan aktivitas belajar yang dapat dilakukan siswa bersama orang tua di rumah.
2. Orang tua diharapkan berdiskusi dan terlibat dengan aktivitas belajar siswa.
3. Guru perlu membangun komunikasi dengan orang tua sehubungan dengan kegiatan pembelajaran yang akan melibatkan orang tua dan siswa di rumah.
4. Guru bekerjasama dengan orang tua untuk mengetahui perkembangan siswa, yang ditulis dalam catatan prestasi siswa di sekolah (buku catatan khusus perkembangan siswa).
C. Strategi Pembelajaran Tematik
41
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN STANDAR KOMPETENSI KELULUSAN
SMALB AUTIS KLS X
SMALB – F
DIMENSI KUALIFIKASI KEMAMPUAN
Sikap Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap orang beriman, berakhlak mulia, berilmu, percaya diri, dan bertanggung jawab dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam di lingkungan rumah, sekolah, dan tempat bermain.
Pengetahuan Memiliki pengetahuan faktual dan konseptual berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya dalam wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian di lingkungan rumah, sekolah, dan tempat bermain.
42
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN KOMPETENSI INTI SMALB AUTIS
KELAS X
1
Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya sesuai dengan kemampuan anak berkebutuhan khusus.
2 Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif, dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sesuai dengan kemampuan anak berkebutuhan khusus.
43
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
44
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN MATRIK KONSISTENSI KOMPETENSI DASAR
TEMA LINGKUNGAN
Kompetensi Dasar Tuhan Yang Maha Esa di lingkungan rumah dan
sekolah. 2.2 Menunjukkan
perilaku patuh pada tata tertib dan aturan yang berlaku dalam “Garuda Pancasila” dengan bahasa verbal/non verbal. 4.1 Mengamati dan
45
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN menceritakan
perilaku di sekitar rumah dan sekolah dan
mengaitkannya dengan
pengenalannya terhadap salah satu simbol sila Pancasila.Menunju kan simbul-simbul sila Pancasila dalam lambang dan sarana belajar di tengah
keberagaman bahasa daerah. 2.1 Memiliki
kepedulian dan rasa ingin tahu terhadap
keberadaan wujud dan sifat benda
Kegemaran Bahasa Indonesia
46 4.1. Mengungkapkan
kembali secara lisan atau tulisan cerita sederhana yang dilihat dan didengar.
3.2. Mengenal simbol sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
4.2. Menulis simbol sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
47 ajaran agama yang dianutnya.
2.2 Memilikirasa ingin tahu dan
3.1. Mengenal lambang bilangan sampai dengan 100. 4.1 Membilang
lambang bilangan sampai dengan 100.
Kegemaran Matematik 1
1.1 Bertambah dan jagad raya
48
2.2. Menghargai kerja individu dan kelompok dalam aktivitas sehari-3.2. Mengidentifikasi
49 dan percaya diri sebagaimana ditunjukan oleh tokoh-tokoh
sejarah pada masa lalu.
3.3. Mengenal agama dan tempat ibadah 4.2 Menyebutkan
nama-nama
50
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN agama dan tempat
ibadah.
1.1. Mengagumi ciri khas keindahan karya seni dan karya kreatif masing-masing daerah sebagai anugerah Tuhan. 2.2. Menunjukkan rasa
ingin tahu dalam mengamati alam 4.1. Mewarnai gambar
sederhana. 3.2. Mengenal cara
membuat mozaik 4.2. Mempraktekan
cara membuat mozaik (dari biji-bijian,barang bekas, dan lain-lain).
51 Tuhan yang tidak ternilai.
2.1 Berperilaku sportif dalam bermain.
52
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN minimal satu jenis
dengan koordinasi gerak yang
disesuaikan dengan kondisi anak .
3.2. Mengenal gerak ritmik dengan atau tanpa lagu/musik
dengan koordinasi gerak yang
disesuaikan dengan kondisi anak.
4.2. Mempraktekan gerak ritmik dengan atau tanpa lagu/musik
dengan koordinasi gerak yang
53
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN SILABUS PEMBELAJARAN TEMATIK
TEMA: KEGEMARAN
Kompetensi Dasar Materi
Pokok Pembelajaran
Penilaian Alokasi
Mengenal lima simbol Pancasila
4.2 Mengamati dan menceritakan perilaku di sekitar rumah dan sekolah dan mengaitkannya dengan
pengenalannya terhadap salah satu simbol sila Pancasila. 4.3Menunjukan
simbul-simbul sila Pancasila dalam lambang
Menyebutkan kelima Pancasila
Menyebutkan contoh perilaku di rumah yang sesuai dengan sila Pancasila Menyebutkan contoh
perilaku di sekolah yang sesuai dengan sila Pancasila
Bahasa Indonesia
3.1 Menyimak cerita sederhana 3.3 Memahami cerita
bergambar 3.4 Mengenal teks lirik
puisi sederhana dalam bahasa Indonesia lisan dan
Cerita bergambar Puisi
sederhana
membaca cerita bergambar menceritakan
kembali cerita bergambar menulis makna
simbol membaca puisi
54
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN tulisan
4.1 Mengungkapkan kembali secara lisan atau tulisan ceritera sederhana yang dilihat dan didengar 4.2 Menulis simbul
sederhana 4.3 Membaca ceritera
bergambar
4.4 Melantunkan teks lirik puisi sederhana dalam bahasa Indonesia lisan dan tulisan
sederhana menyalin puisi
sederhana
Matematika 3.1 Mengenal lambang bilangan sampai dengan 100 4.1 Membilang lambang
bilangan sampai dengan 100
Lambang bilangan
Mengenal lambing bilangan sampai dengan 100 Membilang sampai
dengan 100 Menunjukkan
lambing bilangan Menulis lambing
bilangan
IPA 3.2. Mengidentifikasi manfaat hewan dan tumbuhan di sekitarnya 3.6 Mengenal manfaat
55 nama hewan dan tumbuhan IPS 3.3 Mengenal agama
dan tempat ibadah
4.3 Menyebutkan nama-nama agama dan tempat ibadah
Agama 3.2 Mengenal teknik
mewarnai 3.3 Mengetahui cara
membuat mozaik
4.1 Menggambar lingkungan sekitar 4.2 Mewarnai gambar
sederhana 4.3 Membuat mozaik
(dari biji-bijian, barang bekas, dan lain-lain)
56
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN Penjas 3.1 Mengenal
permainan bola besar yang dimodifikasi minimal satu jenis dengan koordinasi gerak yang disesuaikan dengan kondisi anak autis. 3..2 Mengenal gerak
ritmik dengan atau tanpa lagu /musik a. Mengenal olahraga
di air dengan koordinasi gerak yang disesuaiakan dengan kondisi anak autis. 1.4.Mengenal jenis
makanan dan Mempraktekkan
gerak ritmik dengan atau tanpa lagu /musik dengan
koordinasi gerak yang
disesuaiakan dengankondisi anak autis Mempraktekan
57
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN satu jenis dengan
koordinasi gerak yang disesuaikan dengan kondisi anak autis 1.2Mempraktekkan
gerak ritmik dengan atau tanpa lagu /musik dengan koordinasi gerak yang disesuaiakan dengan kondisi anak autis 1.3 Mempraktekan
58
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN D. Penggunaan Media dan Sarana Pembelajaran
Media dan sarana pembelajaran pembelajaran yang dapat dipergunakan dalam proses pembelajaran tematik bagi anak autis pada tema ini adalah sebagai berikut:
a. benda asli atau miniaturnya, b. gambar-gambar/foto sesuai tema, c. CD/TV dan,
d. media alternatif yang ada di sekolah / lingkungan.
E. Metode Pembelajaran Tematik
1. Tanya jawab 2. Demontrasi 3. Eksperimen 4. Bermain peran 5. Observasi
6. Pemberian tugas
F. Format Model Penilaian Teknik dan Instrumen
Penilaian
Secara umum terdapat berbagai teknik penilaian yang dapat digunakan, antara lain:
1. Tes tertulis dan Instrumen Penilaian
59
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN b. Teknik observasi atau pengamatan yang
dilakukan selama pembelajaran berlangsung dan/atau di luar pembelajaran.
c. Teknik pemberian tugas untuk perorangan atau kelompok yang dapat berbentuk tugas rumah dan/atau proyek.
Di dalam Buku Panduan Guru, teknik penilaian yang dikembangkan, adalah sebagai berikut:
1) Penilaian tertulis
2) Penilaian unjuk kerja/proyek 3) Observasi/pengamatan
4) Portofolio
2. Instrumen Penilaian :
1) Instrumen tes tertulis dalam bentuk soal. Penilaian dilakukan dengan cara menghitung jumlah jawaban benar dari soal yang tersedia. 2). Instrumen unjuk kerja dalam bentuk Rubrik
60
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN
Contoh Rubik Penilaian
No Kriteria Baik
sekali
Baik Cukup Perlu
bimbingan
1 Ekspresi
2. Volume Suara
Hasil Pengamatan
Kriteria :
1. Nilai 3, Jika siswa dapat melakukan sendiri/tampa bantuan.
2. Nilai 2, Jika siswa dapat melakukan dengan bantuan. 3. Nilai 1, Jika siswa tidak dapat melakukan namun
masih merespon.
No Nama siswa
Skor nilai
3 2 1
1 Doni
2 Elang
61
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN
3. Cara Penilaian Bermain Peran
No Nama siswa Perolehan skor
Kriteria 1 Kriteria 2 Kriteria 3
1 Doni 3 3 3
2 Elang 3 3 2
3 Tina 2 2 3
...
Rumus perhitungan sebagai berikut: Jumlah skor yang diperoleh siswa x 100 Skor ideal
Keterangan:
Jumlah skor yang diperoleh siswa adalah jumlah skor yang diperoleh siswa dari kriteria 1, 2 dan kriteria 3.
Skor ideal adalah perkalian dari banyaknya kriteria dengan skor tertinggi.
Pada contoh ini, skor ideal = 3 x 3 = 9.
Perhitungan nilai akhir siswa:
• Doni : 9 x 100 = 90 9
62
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN
4. Instrumen Observasi berbentuk Lembar Pengamatan
Contoh lembar Pengamatan mengenai Lingkungan.
Catatan:
Guru memberikan tanda cek list (v) pada setiap kriteria sesuai dengan kinerja siswa.
No Kriteria Sudah
terlihat
Belum
Terlihat
1 Mampu menyebutkan
aturan-aturan yang berlaku dilingkungan
rumah/sekolah.
2 Mampu menuliskan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan rumah/sekolah. 3 Mampu membiasakan
63
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN
II. Penilaiaian Sikap dan Karakter Siswa
1. Penilaian sikap dan karakter yang akan dikembangkan pada smester I adalah: disiplin, tanggung jawab, percaya diri, kerja sama, dan lain-lain.
2. Untuk mencapai sikap atau nilai karakter tersebut, selain penilaian yang dilakukan secara tidak langsung melalui berbagai aktivitas pembelajaran yang dilakukan, guru diharapkan dapat melakukan penilaian secara langsung atas ketercapaian nilai karakter tertentu pada diri siswa.
Langkah-langkah di bawah ini dapat dijadikan pertimbangan untuk melakukan penilaian.
a. Mengingat kendala yang ada, terutama ketersediaan waktu, maka dalam 1 semester, guru dapat menentukan 2 atau 3 nilai karakter yang akan dikembangkan dan dinilai secara langsung. Jenis karakter yang akan dikembangkan, hendaknya menjadi keputusan sekolah, meskipun tidak menutup kemungkinan, dalam satu kelas ada tambahan 1 atau 2 nilai karakter lain, sesuai dengan kebutuhan di kelas tersebut.
b. Misalnya dalam 1 semester ini, nilai karakter yang akan dikembangkan adalah:
Disiplin
64
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN c. Setiap karakter dibuatkan indikator. Contoh indikator
disiplin dapat dilihat pada tabel berikut ini:
No Karakter Definisi Indikator
1 Disiplin Ketaatan atau kepatuhan
Berani bertanya. Berani
Tidak menghindari kewajiban.
Mentaati tatatertib sekolah.
Memelihara fasilitas sekolah.
4 Jujur Menyampaikan.
pesan apa adanya Tidak berlaku
65
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN d. Kembangkan Instrumen Penilaian, misalnya: Lembar
Pengamatan
Contoh Lembar Pengamatan
Bulan : ...
Nilai Karakter yang Dikembangkan
No. Nama
Tahapan perkembangan nilai karakter sebagaimana tercantum dalam Kerangka Acuan Pendidikan Karakter (Kemendiknas, 2010) meliputi:
BT : Belum Terlihat,
66
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN
MT : Mulai Terlihat,
Apabila siswa sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator tetapi belum konsisten karena sudah ada pemahaman dan mendapat penguatan lingkungan terdekat.
MB : Mulai Berkembang,
Apabila siswa sudah memperlihatkan berbagai tanda perilaku yang dinyatakan dalam indikator dan mulai konsisten, karena selain sudah ada pemahaman dan kesadaran juga mendapat penguatan lingkungan terdekat dan lingkungan yang lebih luas.
SM : Sudah Membudaya,
Apabila siswa terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten karena selain sudah ada pemahaman dan kesadaran dan mendapat penguatan lingkungan terdekat.
Catatan:
67
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN STRUKTUR KURIKULUM SMALB AUTIS
MATA PELAJARAN
KELAS DAN ALOKASI WAKTU PER MINGGU
X XI XII
Kelompok A (Wajib)
1. Pendidikan Agama dan Budi
Pekerti 3 3 3
2. Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan 2 2 2
8 Pendidikan Jasmani, Olahraga
dan Kesehatan 3 3 3
9 Prakarya dan Kewirausahaan 2 2 2
JUMLAH JAM PELAJARAN KELOMPOK A DAN
B PER MINGGU
22 22 22
Kelompok C (Pilihan Peminatan)
1 Ilmu Pengetahuan Alam 4 4 4
2 Ilmu Pengetahuan Sosial 4 4 4
3 Ilmu Bahasa dan Budaya 4 4 4
Alokasi Waktu 1 (Satu) Mata Pelajaran 4 4 4
Kelompok D (Pilihan Kemandirian)
68
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN
2 Parawisata 8 9 9
3 Tata Kecantikan 8 9 9
4 Akupresur 8 9 9
5 Komunikasi 8 9 9
6 Jurnalistik 8 9 9
7 Tata Boga 8 9 9
8 Tata Busana 8 9 9
9 Elektronika 8 9 9
10 Otomotif 8 9 9
11 Seni Pertunjukan 8 9 9
12 Seni Rupa Kriya 8 9 9
Alokasi Waktu 2 (Dua) Mata Pelajaran 16 18 18
JUMLAH JAM PELAJARAN PER
MINGGU 42 44 44
Keterangan:
69
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN PROGRAM LAYANAN KHUSUS SMALB
PROGRAM LAYANAN ALOKASI
WAKTU PER MINGGU A. Orientasi dan Mobilitas Tunanetra
2 jam pelajaran A. Pengembangan Komunikasi
Persepsi Bunyi dan Irama
Tunarungu
A. Pengembangan Diri Tunagrahita A. Pengembangan Diri dan
Pengembangan Gerak
Tunadaksa
A. Pengembangan Pribadi dan Sosial Tunalaras
A. Pengembangan Komunikasi Interaksi Sosial dan Perilaku
Autis
Catatan:
Program Layanan Khusus dilakukan sebagai kegiatan utama dalam pembelajaran yang bertujuan untuk meminimalisasi hambatan dan meningkatkan kepercayaan diri siswa. Oleh karena itu, kedudukan program ini tidak sama dengan mata pelajaran.(ekivalen 2 jam).
BEBAN BELAJAR
70
71
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN BAGIAN KHUSUS
BAB I
SUBTEMA KEGEMARAN
A. Pendahuluan
Pada bagian khusus ini akan di paparkan Kompetensi Inti (KI) dan kompetensi Dasar (KD) dalam pembelajaran tematik tema "Kegemaran"
KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR
PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
( SMALB - F)
Tujuan :
Pembelajaran PPKn bagi siswa Autis adalah untuk:
1. Menanamkan nilai karakter bangsa bagi siswa SMALB-Autis dalam kehidupan sehari-hari.
72
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN MATA PELAJARAN : PPKN
JENJANG : SMALB
KELAS : X
KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya sesuai dengan
kemampuan anak berkebutuhan khusus.
1.1 Menerima keberagaman karakteristik individu dalam kehidupan beragama sebagai
anugerah Tuhan Yang Maha Esa di lingkungan rumah dan sekolah. 1.2 Menerima kebersamaan dalam
keberagaman sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa di
lingkungan rumah dan sekolah.
2. Menghayati dan
2.1 Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, santun, peduli, dan percaya diri dalam berinteraksi dengan keluarga, teman, dan guru sebagai perwujudan nilai dan moral Pancasila.
73
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN sebagai bagian dari
solusi atas berbagai permasalahan
dalam berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam
2.3 Menunjukkan perilaku
kebersamaan dalam keberagaman di rumah dan sekolah.
3. Memahami,
menerapkan, dan menganalisis pengetahuan
faktual, konseptual, dan prosedural sesuai dengan
3.1 Mengenal simbol-simbol sila Pancasila dalam lambang negara "Garuda Pancasila" dengan bahasa verbal/non verbal. 3.2 Mengenal tata tertib dan aturan
yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan sekolah. 3.3 Mengenal kebersamaan dalam
keberagaman karateristik individu di rumah dan di sekolah.
74
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN pengetahuan,teknol
ogi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan
pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
75
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR
BAHASA INDONESIA
SMALB - F
Tujuan :
Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi siswa Autis adalah untuk:
1. Berkomunikasi secara efektif baik secara lisan maupun tulisan.
2. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa Negara.
3. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan sosial baik di rumah, sekolah maupun di masyarakat.
MATA PELAJARAN : BAHASA INDONESIA JENJANG : SMALB- AUTIS
KELAS : X
KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya sesuai dengan
kemampuan anak
76
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN berkebutuhan
khusus.
1.2. Menerima keberadaan Tuhan Yang Maha Esa atas penciptaan manusia dan bahasa yang
beragam serta benda-benda di alam sekitar. sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan
dalam berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sesuai dengan kemampuan anak
2.1.Memiliki kepedulian dan rasa ingin tahu terhadap keberadaan wujud dan sifat benda melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan / ataubahasa daerah. 2.2. Memiliki rasa percaya diri
terhadap keberadaan tubuh melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah.
2.3. Memiliki perilaku santun dan sikap kasih sayang melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan / ataubahasa daerah. 2.4Memiliki kedisiplinan dan tang-
gung jawab merawat tubuh agar sehat dan bugar melalui
pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah.
77
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN berkebutuhan
khusus.
pemanfaatan bahasa Indonesia dan/ atau bahasa daerah.
3. Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan
faktual, konseptual, dan prosedural sesuai dengan ogi, seni, budaya, dan humaniora dan kejadian, serta menerapkan
3.1. Menyimak cerita sederhana 3.2. Mengenal simbol sederhana
dalam kehidupan sehari-hari. 3.3. Memahami cerita bergambar 3.4. Mengenal teks lirik puisi
78
BUKU GURU : AUTIS Tema: KEGEMARAN pengetahuan
prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak di sekolah secara mandiri, dan mampu
menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan
4.1. Mengungkapkan cerita sederhana yang dilihat dan didengar secara lisan atau tulisan (kelas 2 reguler) 4.2. Menulis simbol sederhana
dalam kehidupan sehari-hari. 4.3.1. Membaca cerita bergambar. 4.3.2. Menyusun cerita