• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gusti Indah Hayati PENGANTAR KESEHATAN K

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Gusti Indah Hayati PENGANTAR KESEHATAN K"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS MATA KULIAH K3

PENGANTAR KESEHATAN KERJA DAN PENYAKIT AKIBAT

KERJA DI LABORATORIUM

OLEH:

GUSTI INDAH HAYATI H1D112015

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT BANJARBARU

(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas berkat dan rahmat-Nya jualah makalah yang berjudul “Pengantar Kesehatan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja di Laboratorium” dapat terselesaikan tepat waktu dan berjalan lancar.

Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan pada makalah ini, oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun dan konstruktif sangat diperlukan sekali oleh penulis agar nanti dapat bermanfaat untuk kedepannya. Akhir kata, penulis hanya bisa berharap semoga makalah ini dapat kita ambil manfaatnya baik untuk masa sekarang maupun dimasa yang akan datang. Amin.

Banjarbaru, Maret 2016

(4)

DAFTAR ISI 2.1 Pengertian dan Aspek K3... 4

2.2 Dasar Hukum Pelaksanaan Sistem Manajemen K3... 5

2.4 Penyakit Akibat Kerja... 6

BAB VI RINGKASAN DAN CONTOH SOAL 6.1 Ringkasan... 18

6.2 Contoh Soal... 18

(5)

DAFTAR TABEL

(6)

DAFTAR GAMBAR

(7)

DAFTAR SINGKATAN

APD = Alat Pelindung Diri

GATT = General Agreement on Tariffs and Trade

K3 = Kesehatan dan Keselamatan Kerja

MSDS = Material Safety Data Sheet

PAK = Penyakit Akibar Kerja

RI = Republik Indonesia

SE = Surat Edaran

SK = Surat Keputusan

UU = Undang-Undang

UV = Ultra Violet

(8)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan salah satu prasyarat yang ditetapkan dalam hubungan ekonomi perdagangan barang dan jasa antara Negara pada era globalisasi dan pasar bebas WTO dan GATT tahun 2020 yang harus dipenuhi oleh seluruh negara anggota, termasuk Indonesia (Saranaung dan Johan, 2013). Untuk mewujudkan perlindungan masyarakat pekerja Indonesia, maka telah ditetapkan visi Indonesia sehat 2010 dengan berdasar Departemen Kesehatan RI tahun 2002 yaitu gambaran masyarakat Indonesia di masa depan, yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya (Sukriati, 2013). Masalah Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi tanggung jawab dari semua pihak terutama pengusaha tenaga kerja dan masyarakat (Respati dan Novrianti, 2014).

Penyelenggaraan program K3 merupakan salah satu bentuk perlindungan kepada tenaga kerja yang bertujuan mewujudkan produktivitas kerja yang optimal serta melindungi tenaga kerja dari risiko yang membahayakan kesehatan dan keselamatannya. Tempat kerja wajib menyelenggarakan upaya kesehatan kerja sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No.23/1992 tentang kesehatan, bahwa apabila tempat kerja tersebut memiliki risiko bahaya kesehatan dan atau mempunyai pekerja paling sedikit 100 orang. Dalam penyelenggaraan program K3 tidak terlepas dari peranan manajemen melalui pendekatan yang berbentuk kebijakan pihak pengelola dalam penerapan K3 (Mauliku, 2011).

(9)

Februari 2013 (Saranaung dan Johan, 2013). Kecelakaan kerja dapat terjadi di setiap tipe laboratorium dan biasanya melibatkan tenaga kerja yang bekerja di dalam bangunan dan peralatan laboratorium serta masyarakat sekitar. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka upaya untuk mencegah dan mengurangi resiko yang mungkin timbul akibat proses pekerjaan perlu segera dilakukan, sehingga kesehatan dan keselamatan kerja dapat tercapai (Fathimahhayati dkk, 2015). Kecelakaan dalam kerja dapat disebebkan oleh kelelahan yang menurut Aisbet (2007) dalam Nisa dan Tri merupakan masalah yang dapat mengancam kualitas hidup, konsentrasi dapat menurun karena kelelahan pada saat bekerja yang nantinya akan mengakibatkan kecelakaan kerja terjadi (Nisa dan Tri, 2013). Keselamatan kerja di laboratorium perlu diinformasikan secara cukup (tidak berlebihan) dan relevan untuk mengetahui sumber bahaya di laboratorium dan akibat yang ditimbulkan serta cara penanggulangannya. Dimana laboratorium merupakan ruangan yang dirancang sesuai dengan kebutuhan untuk melakukan aktifitas yang berkaitan dengan fungsi-fungsi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Anonim1, 2011). Hal tersebut perlu dijelaskan

berulang ulang agar lebih meningkatkan kewaspadaan dan menjaga keselamatan orang disekitarnya (Sunarto, 2010).

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah makalah ini sebagai berikut: 1. Apa yang dimaksud dengan K3 berserta aspeknya?

2. Apa saja dasar hukum pelaksanaan sistem manajemen K3? 3. Apa yang dimaksud dengan Penyakit Akibat Kerja?

1.3 Tujuan Makalah

Tujuan makalah ini sebagai berikut: 1. Mengetahui pengertian dan aspek K3.

2. Mengetahui apa saja dasar hukum pelaksanaan sistem manajemen K3.

(10)

BAB II

(11)

2.1 Pengertian dan Aspek K3

Kesehatan dan keselamatan kerja adalah suatu kondisi keharusan di dalam mencegah terjadinya kecelakaan pada waktu bekerja. Kecelakaan dalam lingkungan kerja merupakan gangguan yang dapat menghambat dan merugikan ataupun mengganggu rencana dan proses kerja. Yahya (2003:4) dalam Sukriati mengemukakan pengertian tentang kesehatan dan keselamatan kerja yaitu kata kesehatan berasal dari kata sehat yang artinya tidak mengalami suatu penyakit. Kerja adalah suatu aktivitas yang dilakukan seseorang untuk menghasilkan sesuatu produk, jadi kesehatan kerja adalah suatu keadaan dimana kesehatan kerja, lingkungan kerja dan hasil kerja yang dihasilkan kondisinya sehat (Sukriati, 2013).

Pengertian secara terperinci selanjutnya oleh Suma'mur (1994:1) dalam Sukriati memberikan defenisi keselamatan kerja adalah keselamatan dengan mesin-mesin, pesawat, alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, landasan dan tempat kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaan. Berdasarkan penjelasan kesehatan dan keselamatan kerja tidak lain merupakan upaya pencegahan kecelakaan dan pemberian perlindungan serta keselamatan bagi orang-orang yang bekerja serta mengamankan peralatan yang dipergunakan dalam pekerjaan, sehingga tercipta sebuah kenyamanan dan ketenangan dalam proses pekerjaan (Sukriati, 2013). Sumber daya manusia sebagai tenaga kerja dalam perusahaan tidak terlepas dari adanya masalah yang berkaitan dengan K3. Hal ini merujuk pada perlindungan tenaga kerja dari bahaya, penyakit dan kecelakaan akibat kerja maupun lingkungan kerja (Grahanintyas dkk, 2012).

(12)

2.2 Dasar Hukum Pelaksanaan Sistem Manajemen K3

Berikut dasar hukum yang terkait dengan pelaksanaan sistem manajemen K3 antara lain:

a. UU No. 1 tahun 1970 tentang Kesehatan dan Keselamatan Kerja. b. UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.

c. UU No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

d. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No.Kep-51/Men/1999 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat Kerja.

e. Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No.Kep-187/Men/1999 Tentang Pengendalian Bahan Kimia Berbahaya di Tempat Kerja.

f. Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.

g. Surat Edaran Dirjen Binawas No.SE.05/BW/1997 tentang Penggunaan APD. h. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.Per.05/Men/1996 tentang Sistem

Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja.

i. Keputusan Presiden No. 22 tahun 1993 tentang Penyakit yang Timbul Akibat Hubungan Kerja.

j. Keputusan Menteri Kesehatan No.876/Menkes/SK/IX/VIII/2001 tentang Pedoman Teknis Analisis Dampak Lingkungan.

k. Keputusan Menteri Kesehatan No.1217/Menkes/SK/IX/2001 tentang Pedoman Penanganan Dampak Radiasi.

l. Keputusan Menteri Kesehatan No.1405/MENKES/SK/IX/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Perkantoran dan Industri.

m. Keputusan Menteri kesehatan No.315/Menkes/SK/III/2003 tentang Komite Kesehatan dan Keselamatan Kerja Sektor Kesehatan.

n. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.08/VII/2010 tentang APD

(Anonim2, 2011).

(13)

Penyakit akibat kerja (PAK) adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja (Salawati, 2015). Faktor-faktor yang menjadi penyebab PAK serta berisiko menjadi penyebab harus segera diketahui dan dikendalikan dengan benar sehingga dampaknya akan dapat diminimalisir sekecil mungkin (Ardani dkk, 2013). Tedapat beberapa penyebab PAK yang umum terjadi di tempat kerja, berikut beberapa jenis yang digolongkan berdasarkan penyebab dari penyakit yang ada di tempat kerja dapat dilihat pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Jenis Penyebab Penyakit Akibat Kerja

No. Jenis Penyebab PAK

1. Golongan fisik bising, radiasi, suhu ekstrim, tekanan udara, vibrasi, penerangan dan lain-lain

2. Golongan kimiawi semua bahan kimia dalam bentuk debu, uap, gas, larutan, kabut dan lain-lain

3. Golongan biologik bakteri, virus, jamur, dan lain-lain

4. Golongan fisiologik/ergonomik desain tempat kerja dan beban kerja

5. Golongan psikososial stres, monotomi kerja serta tuntutan pekerjan

(Badraningsih dan Enny, 2015).

Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No.PER-01/MEN/1981 dan Keputusan Presiden RI No. 22/1993 terdapat 31 jenis penyakit akibat kerja yaitu sebagai berikut:

1. Pneumokoniosis yang disebabkan oleh debu mineral pembentukan jaringan parut (silikosis, antrakosilikosis, asbestosis) dan silikotuberkulosis yang silikosisnya merupakan faktor utama penyebab cacat atau kematian.

2. Penyakit paru dan saluran pernafasan (bronkopulmoner) yang disebabkan oleh debu logam keras.

3. Penyakit paru dan saluran pernafasan (bronkopulmoner) yang disebabkan oleh debu kapas, vlas, henep dan sisal (bissinosis).

4. Asma akibat kerja yang disebabkan oleh penyebab sensitisasi dan zat perangsang yang dikenal berada dalam proses pekerjaan.

5. Alveolitis allergika yang disebabkan oleh faktor dari luar sebagai akibat penghirupan debu organik.

(14)

7. Penyakit yang disebabkan oleh kadmium atau persenyawaannya yang beracun.

8. Penyakit yang disebabkan oleh fosfor atau persenyawaannya yang beracun. 9. Penyakit yang disebabkan oleh krom atau persenyawaannya yang beracun. 10. Penyakit yang disebabkan oleh mangan atau persenyawaannya yang beracun. 11. Penyakit yang disebabkan oleh arsen atau persenyawaannya yang beracun. 12. Penyakit yang disebabkan oleh raksa atau persenyawaannya yang beracun. 13. Penyakit yang disebabkan oleh timbal atau persenyawaannya yang beracun. 14. Penyakit yang disebabkan oleh flour atau persenyawaannya yang beracun. 15. Penyakit yang disebabkan oleh karbon disulfida.

16. Penyakit yang disebabkan oleh derivat halogen dari persenyawaan hidrokarbon alifatik atau aromatik yang beracun.

17. Penyakit yang disebabkan oleh benzena atau homolognya yang beracun. 18. Penyakit yang disebabkan oleh derivat nitro dan amina dari benzena atau

homolognya yang beracun.

19. Penyakit yang disebabkan oleh nitrogliserin atau ester asam nitrat lainnya. 20. Penyakit yang disebabkan oleh alkohol, glikol atau keton.

21. Penyakit yang disebabkan oleh gas atau uap penyebab asfiksia atau keracunan seperti karbon monoksida, hidrogen sianida, hidrogen sulfida atau derivatnya yang beracun, amoniak, seng, braso dan nikel.

22. Kelainan pendengaran yang disebabkan oleh kebisingan.

23. Penyakit yang disebabkan oleh getaran mekanik (kelainan-kelainan otot, urat, tulang persendian, pembuluh darah tepi atau syaraf tepi).

24. Penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dalam udara yang bertekanan lebih. 25. Penyakit yang disebabkan oleh radiasi elektromagnetik dan radiasi yang

mengion.

26. Penyakit kulit (dermatosis) yang disebabkan oleh penyebab fisik, kimiawi atau biologik.

(15)

28. Kanker paru atau mesotelioma yang disebabkan oleh asbes.

29. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus, bakteri atau parasit yang didapat dalam suatu pekerjaan yang memiliki resiko kontaminasi khusus.

30. Penyakit yang disebabkan oleh suhu tinggi atau rendah atau panas radiasi atau kelembaban udara tinggi.

31. Penyakit yang disebabkan oleh bahan kimia lainnya termasuk bahan obat (Salawati, 2015).

Apabila tingkat keselamatan kerja tinggi, maka kecelakaan dapat diminimakan, diantaranya kecelakaan yang menyebabkan sakit, cacat, dan kematian. Sebaliknya, apabila keselamatan kerja rendah, maka hal tersebut akan berpengaruh buruk terhadap kesehatan sehingga berakibat pada produktivitas yang menurun (Ukhisia dkk, 2013). Kelengkapan kerja yang wajib digunakan berupa alat pelindung diri (APD) dimana harus sesuai dengan bahaya dan resiko kerja agar keselamatan pekerja, lingkungan dan orang disekitarnya terjaga (Brata, 2013).

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

(16)

Laboratorium Kimia Berbasis Kearifan Lokal Tri Sakti)” (Wiratma, 2014) dan “Penyakit Akibat Kerja Dan Pencegahan” (Salawati, 2015). Secara umum tahapan diagram alir proses pada Gambar 3.1 berikut:

Gambar 3.1 Skema Diagram Alir Kegiatan

Berdasarkan metodologi dengan studi literatur, maka jurnal-jurnal yang digunakan pada makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Standar Laboratorium Analis Kesehatan. Pendidikan Tenaga Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Badan PPSDM Kesehatan Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan (Anonim1, 2010).

2. Pedoman Umum K3 Laboratorium. Program Studi Teknik Fisika, FTI – ITB (Anonim2, 2011).

3. Analisis Risiko Kesehatan Dan Keselamatan Kerja Pada Pekerja Divisi Mill Boiler (Studi Kasus di PT Laju Perdana Indah PG Pakis Baru, Pati). Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro (Ardani dkk, 2013).

(17)

5. Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) dan Penyakit Akibat Kerja (PAK) (Badraningsih dan Enny, 2015).

6. Analisis Potensi Bahaya dengan Metode Job Safety Analysis (JSA) sebagai Upaya Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium X. Jurnal Ilmiah Teknik Industri dan Informasi. Vol. 4 No. 1 (Fathimahhayati dkk, 2015).

7. Analisa Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Dalam Meningkatkan Produktivitas Kerja (Studi Kasus: Pabrik Teh Wonosari PTPN XII). JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-6 (Grahanintyas dkk, 2012).

8. Kajian Analisis Penerapan Sistem Manajemen K3RS Di Rumah Sakit Immanuel Bandung. Jurnal Kesehatan Kartika. Hal. 35-47 (Mauliku, 2011). 9. Faktor Yang Memengaruhi Keluhan Kelelahan Pada Teknisi Gigi Di

Laboratorium Gigi Surabaya. The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health. Vol. 2 No. 1 Hal. 61–66 (Nisa dan Tri, 2013).

10. Analisis Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Pada Paket Pekerjaan Pembangunan Jalan Lingkar Luar Kota Palangka Raya. MEDIA ILMIAH TEKNIK SIPIL. Vol. 3 No. 1 (Novrianti dan Rida, 2014).

11. Penyakit Akibat Kerja Dan Pencegahan. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol. 15 No. Hal. 91-95 (Salawati, 2015).

12. Analisis Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Terhadap Pencegahan Terjadinya Kecelakaan Kerja Di Laboratorium Rs Prof. Dr V.L Ratumbuysang Manado (Saranaung dan Johan, 2013).

13. Membina Perilaku Kerja Sehat Mahasiswa Dengan Menerapkan Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3) Di Laboratorium. Jurnal Kajian Perempuan Bunga Wellu Vol. 7 No. 1 Hal. 53 – 61 (Sukriati, 2010).

14. Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Laboratorium Kimia. Pendidikan Kimia FMIPA UNY Yogyakarta. Hal 1-10 (Sunarto, 2010).

(18)

16. Pengelolaan Laboratorium Kimia Pada SMA Negeri Di Kota Singaraja: (Acuan Pengembangan Model Panduan Pengelolaan Laboratorium Kimia Berbasis Kearifan Lokal Tri Sakti). Jurnal Pendidikan Indonesia ISSN: 2303-288X Vol. 3 No. 2 (Wiratma dan I Wayan, 2014).

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

(19)

Studi Literatur Jurnal

B

G F

B E E A

B

B B

B

B B D C B

BE

Gambar 4.1 Skema Literatur

Keterangan:

A = Manajemen K3

B = Penerapan K3 Laboratorium

(20)

E = Penyakit Akibat Kerja F = Analisis resiko K3 G = Analisis pengaruh K3

Berdasarkan studi literatur akan dibahas penerapan dan penyakit akibat kerja di laboratorium. Jurnal Pengelolaan Laboratorium Kimia Pada SMA Negeri Di Kota Singaraja: (Acuan Pengembangan Model Panduan Pengelolaan Laboratorium Kimia Berbasis Kearifan Lokal Tri Sakti) melakukan analisis pengelolaan laboratorium kimia dengan beberapa aspek yaitu proses pengadaan alat/bahan, proses penggunaan alat/bahan, proses pemeliharaan alat/bahan dan proses pemusnahan alat/bahan yang telah rusak. Pengadaan alat dan bahan pada laboratorium dilakukan dengan membuat analisis kebutuhan oleh laboran, kepala laboratorium dan guru kimia. Penggunaan alat/bahan kimia yang ada di laboratorium ditujukan kepada pembelajaran siswa dan sebagian kecil digunakan oleh guru untuk penelitian. Siswa yang menggunakan alat atau bahan diharuskan mengisi blanko catatan agar tetap terkoordinasi dengan baik. Alat yang telah digunakan kemudian dicuci dan dirapikan ketempat semula. Pemeliharaan alat atau bahan perlu dilakukan, pemeliharaan dilakukan oleh laboran, guru dan siswa. Alat atau bahan yang tidak layak untuk digunakan dapat disimpan di suatu tempat penyimpanan atau dilakukan pemusnahan. Terdapat teknik pemusnahan untuk alat dan bahan, dimana jika alat yang rusak dapat dibuang di tempat sampah dan untuk bahan kimia yang rusak dapat dibuang ke saluran pembuangan khusus.

Pada perencanaan pengadaan alat dan bahan kimia telah sesuai dimana data keperluan alat dan bahan kimia dibuat oleh guru kimia, ketua laboratorium dan laboran. Prinsip dari pengadaan alat atau bahan yang diharapkan yaitu sesuai dengan kebutuhan, lancar dan tepat waktu. Dalam perencanaan alat dan bahan kimia yang digunakan terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Jenis percobaan yang dilakukan.

2. Pemahaman mengenai alat dan bahan yang akan dibeli. 3. Daya listrik yang tersedia.

(21)

6. Pelaksaan pembelian.

Penyimpanan alat dan bahan kimia di laboratorium sangatlah penting dengan memperhatikan ketepatan dan keamanan. Perlu adanya pemahaman mengenai keamanan, keselamatan kerja dan lingkungan. Alat perlu dilakukan pemeliharaan dengan beberapa teknik yaitu menyimpan di tempat yang aman, menjaga kebersihan, menempatkan alat-alat berbentuk set secara khusus dan menghindarkan pengaruh lingkungan yang dapat merusak. Sedangkan dalam pemeliharaan bahan kimia diperhatikan sifat dari bahan tersebut. Pertama, memperhatikan wujud dari bahan padat, cair atau gas dan meletakkannya sesuai dengan wujudnya. Kedua, bahan yang perlu diletakkan di tempat khusus misalnya ruang yang dingin berventilasi, wadah tertutup, jauh dari api, disimpan dalam keadaan tegak berdiri dan sesuai dengan sifat bahan kimia. Terdapat sifat-sifat bahan kimia yang perlu diperhatikan yaitu beracun, korosif, mudah terbakar, mudah meledak, oksidator, reaktif terhadap air atau asam, gas bertekanan tinggi dan sensitif terhadap matahari. Terdapat beberapa teknik pembuangan limbah bahan kimia sebagai berikut:

1. Insenerasi yaitu metode pembuangan limbah dengan oven berputar pada suhu tinggi.

2. Pada pipa drainase menuju septic tank dengan dialiri air seratus kali jumlah limbah yang dibuang.

3. Pelepasan uap ke atmosfer dengan cerobong yang relatif tinggi. 4. Bahan yang tidak berbahaya bisa dikubur dalam tanah.

Pada jurnal Manajemen Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3) Pada Kegiatan Konservasi Di Laboratorium mengungkapkan keselamatan kerja menjadi perhatian sebelum, selama dan setelah melakukan kegiatan praktikum. Pedoman tentang keselamatan saat praktikum dirancang untuk mengidentifikasi dan mengenali kemungkinan adanya keadaan bahaya. Dengan identifikasi dapat diusahakan untuk menghilangkan potensi bahaya dan jika tidak memungkinkan untuk dihilangkan kita dapat meminimalisir potensi bahaya tersebut.

(22)

bagi kesehatan yaitu asphyxian, iritan, zat kimia neurotoksik, zat kimia hepatotoksik, zat kimia nefrotoksik, zat kimia meracuni darah, zat kimia meracuni sistem reproduksi, zat penyebab sensitasi kulit dan zat kimia bersifat karsinogenik. Bahan kimia memiliki informasi yang ditulis secara lengkap dan terperinci dalam Material Safety Data Sheet (MSDS). MSDS berisikan penjelasan tingkat bahaya bahan dan tata cara menangani jika terjadi kecelakaan dalam keadaan darurat. Penyimpanan bahan kimia perlu diperhatikan dimana banyak terdapat bahan kimia yang mudah terbakar, korosif dan beracun. Prinsip dasar dalam penyimpanan yang perlu diperhatikan yaitu kondisi ruang penyimpanan, letak gudang, ventilasinya, terbebas dari sumber penyalaan, suhu ruangan serta kelembaban ruangan. Saat melakukan kerja di laboratorium hendaknya menggunakan perlengkapan keselamatan untuk menghindari resiko kecelakaan kerja. Alat pelindung diri (APD) merupakan kelengkapan yang wajib digunakan saat melakukan kerja di laboratorium. APD yang biasa digunakan saat di laboratorium adalah pelindung kepala, pelindung mata, pelindung wajah, pelindung tangan, pelindung kaki, pelindung telinga dan jas laboratorium.

Penyakit akibat kerja dapat dicegah desini mungkin dengan adanya beberapa konsep yaitu:

1. Meningkatkan kesehatan yang dapat dilakukan dengan mengonsumsi makanan bergizi, lingkungan yang bersih, rekreasi dan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

2. Adanya perlindungan khusus seperti penggunaan APD, imunisasi dan sanitasi lingkungan.

3. Melakukan diagnosis terhadap penyakit sedini mungkin. 4. Membatasi kemungkinan cacat bagi para pekerja.

5. Pemulihan kembali kesehatan dari pekerja yang cacat atau dalam proses pemulihan kesehatan

(23)

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat ditarik dari makalah ini sebagai berikut:

(24)

serta mengamankan peralatan yang dipergunakan dalam pekerjaan, sehingga tercipta sebuah kenyamanan dan ketenangan dalam proses pekerjaan. Aspek kesehatan dan keselamatan kerja memiliki ruang lingkup yaitu manusia sebagai subjek dan seluruh objek pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang pekerja.

2. Dasar hukum yang terkait dengan pelaksanaan sistem manajemen K3 yaitu terdapat pada Undang-Undang, Keputusan Presiden, Peraturan dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Surat Edaran Dirjen Binawas.

3. Penyakit akibat kerja (PAK) adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja.

5.2Saran

Saran yang dapat diberikan dari makalah ini sebagai berikut:

1. Perlunya pengawasan terhadap K3 saat pelaksanaan suatu kegiatan yang memiliki bahaya dan resiko terutama di laboratorium.

2. Pelaksanaan system manajemen K3 harus didasari oleh berbagai hukum yang terkait.

3. Kegiatan yang dilakukan seharusnya melaksanakan sistem K3 untuk pencegahan terjadinya PAK.

BAB VI

RINGKASAN DAN CONTOH SOAL

6.1Ringkasan

(25)

keselamatan kerja merupakan upaya pencegahan kecelakaan dan pemberian perlindungan serta keselamatan bagi orang-orang yang bekerja serta mengamankan peralatan yang dipergunakan dalam pekerjaan, sehingga tercipta sebuah kenyamanan dan ketenangan dalam proses pekerjaan. Penyelenggaraan program K3 merupakan salah satu bentuk perlindungan kepada tenaga kerja yang bertujuan mewujudkan produktivitas kerja yang optimal serta melindungi tenaga kerja dari risiko yang membahayakan kesehatan dan keselamatannya. Tempat kerja wajib menyelenggarakan upaya kesehatan kerja sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No.23/1992 tentang kesehatan yang apabila tempat kerja tersebut memiliki risiko bahaya kesehatan.

6.2Contoh Soal

Berikut 5 contoh soal:

1. Apa yang dimaksud dengan K3?

Jawab:

K3 merupakan upaya pencegahan kecelakaan dan pemberian perlindungan serta keselamatan bagi orang-orang yang bekerja serta mengamankan peralatan yang dipergunakan dalam pekerjaan, sehingga tercipta sebuah kenyamanan dan ketenangan dalam proses pekerjaan.

2. Sebutkan apa saja ruang lingkup dari aspek K3! Jawab:

Aspek K3 memiliki ruang lingkup yaitu manusia sebagai subjek dan seluruh objek pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang pekerja.

3. Apasaja cakupan dari keselamatan kerja? Jawab:

Cakupannya sangat luas, hampir menyentuh segala aspek dalam setiap usaha atau pekerjaan.

4. Apa yang dimaksud dengan PAK?

Jawab:

(26)

5. Sebutkan dan jelaskan penyebab dari penyakit yang ada di tempat kerja berdasarkan jenisnya!

Jawab :

Penyebab dari penyakit yang ada di tempat kerja berdasarkan jenisnya sebagai berikut.

a. Golongan fisik yaitu bising, radiasi, suhu ekstrim, tekanan udara, vibrasi, penerangan dan lain-lain.

b. Golongan kimiawi yaitu semua bahan kimia dalam bentuk debu, uap, gas, larutan, kabut dan lain-lain.

c. Golongan biologik yaitu bakteri, virus, jamur, dan lain-lain.

d. Golongan fisiologik/ergonomik yaitu desain tempat kerja dan beban kerja. e. Golongan psikososial yaitu stres, monotomi kerja serta tuntutan pekerjan

DAFTAR PUSTAKA

Anonim1. 2010. Standar Laboratorium Analis Kesehatan. Pendidikan Tenaga

Kesehatan Kementerian Kesehatan RI Badan PPSDM Kesehatan Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan.

Anonim2. 2011. Pedoman Umum K3 Laboratorium. Program Studi Teknik Fisika,

FTI – ITB.

(27)

Pakis Baru, Pati). Program Studi Teknik Industri Universitas Diponegoro.

Brata, Y. H. I. 2013. Manajemen Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3) Pada Kegiatan Konservasi Di Laboratorium. Jurnal Saringan No. 2.

Badraningsih L dan Enny Zuhny K. 2015. Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) dan Penyakit Akibat Kerja (PAK).

Fathimahhayati, dkk. 2015. Analisis Potensi Bahaya dengan Metode Job Safety Analysis (JSA) sebagai Upaya Penerapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Laboratorium X. Jurnal Ilmiah Teknik Industri dan Informasi. Vol. 4 No. 1.

Grahanintyas, D dkk. 2012. Analisa Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Dalam Meningkatkan Produktivitas Kerja (Studi Kasus: Pabrik Teh Wonosari PTPN XII). JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 1-6.

Mauliku N. E. 2011. Kajian Analisis Penerapan Sistem Manajemen K3RS Di Rumah Sakit Immanuel Bandung. Jurnal Kesehatan Kartika. Hal. 35-47 Nisa, A. Z dan Tri Martiana. 2013. Faktor Yang Memengaruhi Keluhan Kelelahan

Pada Teknisi Gigi Di Laboratorium Gigi Surabaya. The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health. Vol. 2 No. 1 Hal. 61–66.

Novrianti, R. R dan Rida Respati. 2014. Analisis Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Pada Paket Pekerjaan Pembangunan Jalan Lingkar Luar Kota Palangka Raya. MEDIA ILMIAH TEKNIK SIPIL. Vol. 3 No. 1. Salawati, Liza. 2015. Penyakit Akibat Kerja Dan Pencegahan. Jurnal Kedokteran

Syiah Kuala Vol. 15 No. Hal. 91-95.

(28)

Sukriati. 2010. Membina Perilaku Kerja Sehat Mahasiswa Dengan Menerapkan Kesehatan Dan Keselamatan Kerja (K3) Di Laboratorium. Jurnal Kajian Perempuan Bunga Wellu Vol. 7 No. 1 Hal. 53 – 61.

Sunarto. 2010. Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Laboratorium Kimia. Pendidikan Kimia FMIPA UNY Yogyakarta. Hal 1-10.

Ukhisia, B. G. dkk. 2013. Analisis Pengaruh Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Terhadap Produktivitas Karyawan Dengan Metode Partial Least Squares. Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 14 No. 2 Hal. 95-104.

Wiratma, I. G. L dan I Wayan Subagia. 2014. Pengelolaan Laboratorium Kimia Pada SMA Negeri Di Kota Singaraja: (Acuan Pengembangan Model Panduan Pengelolaan Laboratorium Kimia Berbasis Kearifan Lokal Tri Sakti). Jurnal Pendidikan Indonesia ISSN: 2303-288X Vol. 3 No. 2.

INDEKS

Aktivitas, 1, 4

Analisis, 5, 10, 11, 13

Aspek, 2, 4, 5, 13, 17, 18, 19 Biologik, 6, 8

(29)

Hukum, 2, 4, 5, 17 Imunisasi, 13

Indonesia, 1, 5, 10, 11, 18

Kecelakaan, 1, 2, 4, 8, 10, 17, 18 Kesehatan, 1, 2, 3, 18

Keselamatan, 1, 2, 4, 5, 8, 10, 11, 14, 15 Kmiawi, 6, 8

Korosif, 6, 12, 14, 15

Manajemen, 1, 2, 5, 10, 12, 14, 17 Menteri, 5, 6

Oksidator, 14 Pemerintah, 1, 5 Psikososial, 6

Racun, 6, 8, 9, 14, 15 Resiko, 2, 8, 13, 15 Sanitasi, 13

Gambar

Tabel 2.1 Jenis Penyebab Penyakit Akibat Kerja
Gambar 4.1 Skema Literatur

Referensi

Dokumen terkait

Di tengah fenomena umum maraknya tradisi penafsiran Al-Quran yang terjadi di kalangan Muhammadiyah, metodologi tafsir ternyata masih menjadi hal langka kaitannya dengan kajian

Refleksi merupakan bagian yang amat penting untuk memahami dan memberikan makna terhadap proses dan hasil (perubahan) yang terjadi sebagai akibat adanya tindakan

Ketersediaan dan kelengkapan fasilitas hidup di lingkungan menandakan keberhasilan pembangunan dan disadari atau tidak ber- dampak terhadap kualitas lingkungan hidup

Faktor lain yang berpengaruh terhadap pembentukan awan hujan di wilayah Jakarta dan sekitarnya adalah fenomen ENSO (El Nino Southern Oscilation) dan MJO (Maden

KARAWANG 08-07-1980 Perempuan Nikah Istri

mahasiswa mengenai produk yang dikembangkan maka dapat disimpulkan bahwa alat perangkat pembelajaran dikatakan sangat valid atau sangat layak karena berada kriteria

Berkaitan dengan masalah di atas tersebut tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengembangan media Gambar

Debitur yang beritikad tidak jujur atau debitur beritikad buruk, dan berbagai sebutan lainnya dengan mana yang sama, adalah debitur yang telah melakukan perbuatan