PROFIL KESEHATAN
KABUPATEN BOYOLALI
TAHUN 2015
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN BOYOLALI
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan hidayah-Nya, kami telah menyelesaikan penyusunan buku " Profil Kesehatan Kabupaten Boyolali Tahun 2015 " . Profil Kesehatan Kabupaten Boyolali ini merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan untuk melaporkan pemantauan dan evaluasi terhadap pencapaian hasil pembangunan kesehatan termasuk kinerja dari penyelenggaraan standar pelayanan minimal bidang kesehatan yang ada di Kabupaten Boyolali selama tahun 2015.
Profil Kesehatan Kabupaten Boyolali Tahun 2015 ini disusun berdasarkan Petunjuk Teknis Penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten / Kota Tahun 2014 dengan beberapa perubahan . Data yang tersaji dalam buku profil ini berasal dari berbagai sumber baik data dari internal Dinas Kesehatan dan jajarannya maupun lintas sektor. Namun demikian dengan segala keterbatasannya diharapkan profil kesehatan ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan serta digunakan sebagai rujukan data dan informasi resmi bidang kesehatan.
Akhir kata kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terlaksananya penyusunan profil ini. Semoga buku Profil Kesehatan Kabupaten Boyolali Tahun 2015 ini bermanfaat bagi semua pembaca dalam mengisi kebutuhan akan data dan informasi di bidang kesehatan.
Boyolali, Mei 2016
Plt KEPALA DINAS KESEHATAN KABUPATEN BOYOLALI
Kepala Bidang Promosi Kesehatan & Penunjang
dr. RATRI S. SURVIVALINA, MPA Pembina
DAFTAR ISI
Hal.
HALAMAN JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
DAFTAR TABEL vii
DAFTAR GAMBAR viii
DAFTAR LAMPIRAN xii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. LATAR BELAKANG 1
B. SISTEMATIKA PENYAJIAN 2
BAB II GAMBARAN UMUM 4
A. KEADAAN GEOGRAFIS 4
B. KEADAAN ADMINISTRATIF 5
C. KEADAAN PENDUDUK 7
1. Kepadatan, Penyebaran dan Pertumbuhan Penduduk 7 2. Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin 8
3. Komposisi Penduduk Menurut Umur 10
D. KEADAAN EKONOMI 11
E. KEADAAN PENDIDIKAN 12
F. KEADAAN SOSIAL BUDAYA 13
G. KEADAAN PERILAKU MASYARAKAT 14
1. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) 14 2. Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat
(UKBM)
15
H. KEADAAN LINGKUNGAN 16
BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN 18
1. Angka Kematian Ibu (AKI) 19
2. Angka Kematian Bayi (AKB) 23
3. Angka Kematian Balita (AKABA) 25
B. ANGKA KESAKITAN ( MORBIDITAS ) 26
1. Penyakit Menular 26 a. TB BTA Positif 26 b. HIV / AIDS 31 c. ISPA 34 d. Diare 34 e. Kusta 35
f. Demam Berdarah Dengue ( DBD ) 36
g. Malaria 38
2. Penyakit Tidak Menular 38
3. Penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi ( PD3I )
41
C. STATUS GIZI 43
1. Persentase Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) 43 2. Persentase Balita dengan Berat Badan di Bawah Garis
Merah ( BGM/D )
44
3. Balita dengan Gizi Buruk 45
BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN 46
A. PELAYANAN KESEHATAN DASAR 46
1. Pelayanan Kesehatan Ibu 47
a. Cakupan Kunjungan Ibu Hamil 47
b. Pelayanan Ibu Nifas 48
c. Ibu Hamil Mendapat Fe 49
2. Pelayanan Kesehatan Bayi 51
a. Persentase Neonatal Resiko Tinggi (Resti)/Komplikasi Ditangani
51
c. Cakupan Kunjungan Bayi 53 3. Cakupan Pelayanan Kesehatan Anak Balita 54 4. Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan
Setingkat
54
5. Pelayanan Immunisasi 55
a. Cakupan Desa Yang Mencapai Universal Child
Immunization (UCI)
55
b. Cakupan Immunisasi Bayi 56
c. Drop Out Immunisasi DPT-HB 1, Campak 57 d. Cakupan Immunisasi TT pada Wanta Usia Subur
(WUS )
58
6. Pelayanan Kesehatan Gigi 59
a. Rasio Tambal-Cabut Gigi Tetap 59
b. Murid SD/MI Mendapat Pemeriksaan Gigi dan Mulut
60 7. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut (USILA) 61
8. Upaya Promosi Kesehatan 62
9. Pelayanan Keluarga Berencana 63
a. Peserta KB Baru 63
b. Peserta KB aktif 64
B. PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN DAN PENUNJANG 65
1. Komplikasi Kebidanan yang Ditangani 65
2. Neonatus Dengan Komplikasi yang Ditangani 65
3. Pelayanan Gawat Darurat 66
C. AKSES DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN 67
1. Cakupan Rawat Jalan dan Rawat Inap 67
2. Kunjungan Kesehatan Jiwa 68
3. Indikator Pelayanan Rumah Sakit 69
4. Pelayanan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
69
D. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT 72
1. Pemberian ASI Eksklusif 72
2. Pemberian Kapsul Vitamin A pada Bayi, Balita dan Ibu Nifas
73
3. Pemantauan Pertumbuhan Balita 75
4. Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan 79 5. Pemantauan Garam Beryodium Tingkat Masyarakat 80 E. UPAYA PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT 82 F. PEMBINAAN KESEHATAN LINGKUNGAN DAN SANITASI
DASAR
82
BAB V SITUASI SUMBER DAYA MANUSIA 90
A. SARANA KESEHATAN 90
1. Puskesmas 90
2. Rumah Sakit 91
B. TENAGA KESEHATAN 91
1. Jenis Tenaga Kesehatan 91
2. Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan 91
C. PEMBIAYAAN KESEHATAN 92
BAB VI PENUTUP 94
A. KESIMPULAN 94
B. SARAN 101
DAFTAR TABEL
Hal. Tabel 2.1 Jumlah Kecamatan, Puskesmas, Desa dan Kelurahan. RT,
RW dan Rumah Tangga di Kabupaten Boyolali Tahun 2013
6 Tabel 2.2 Kepadatan, Penyebaran dan Pertumbuhan Penduduk di
kabupaten Boyolali Tahun 2013
7 Tabel 2.3 Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten
Boyolali tahun 2013
9
Tabel 3.1 Kematian Ibu 22
Tabel 3.2 Kematian Bayi/AKB 24
Tabel 4.1 Cakupan Ibu Hamil Mendapat Fe 49
Tabel 4.2 Cakupan ASI Eksklusif 72
Tabel 4.3 Cakupan Pemberian Vit. A Pada Anak Balita 74
Tabel 4.4 Hasil Penimbangan Bayi dan Anak Balita 76
Tabel 5.1 Jumlah dan Rasio Tenaga Kesehatan di Kabupaten Boyolali Tahun 2014
DAFTAR GAMBAR
Hal. Gambar 2.1 Komposisi Penduduk Menurut Umur Kabupaten Boyolali
Tahun 2013
10 Gambar 2.2 Penduduk Kabupaten Boyolali Usia 10 Tahun Ke Atas
Menurut Lapangan Pekerjaan Utama Tahun 2013
12 Gambar 2.3 Penduduk Kabupaten Boyolali Usia 5 Tahun Ke Atas
Menurut Pendidikan Tertinggi Yang Di Tamatkan Tahun 2013
12 Gambar 2.4 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Kabupaten
Boyolali Tahun 2013
13 Gambar 2.5 Kondisi PHBS Rumah Tangga Kabupaten Boyolali Tahun
2014
15 Gambar 2.6 Proporsi Posyandu Aktif Kabupaten Boyolali Tahun 2014 16 Gambar 3.1 Angka Kematian Ibu Kabupaten Boyolali Tahun
2009-2014
19 Gambar 3.2 Proporsi Kematian Ibu di Kabupaten Boyolali Tahun 2014 20 Gambar 3.3 Kematian Ibu Berdasarkan Penyebab di Kabupaten
Boyolali Tahun 2014
20 Gambar 3.4 Kematian Ibu di Puskesmas Kabupaten Boyolali Tahun
2014
21 Gambar 3.5 Angka Kematian Bayi Kabupaten Boyolali Tahun
2009-2014
22 Gambar 3.6 Angka Kematian Balita di Kabupaten Boyolali Tahun 2014 23 Gambar 3.7 CNR Kasus Baru TB Paru BTA (+) Per Puskesmas Tahun
2014
24 Gambar 3.8 CNR Seluruh Kasus TB Per Puskesmas Kabupaten Boyolali
Tahun 2014
25 Gambar 3.9 Angka Penemuan Kasus TB Paru BTA (+) (CDR) Per
Puskesmas Kabupaten Boyolali Tahun 2014
26 Gambar 3.10 Angka Kesembuhan ( CR ) TB Paru BTA (+) Per Puskesmas
Kabupaten Boyolali Tahun 2014
27 Gambar 3.11 Angka Keberhasialan Pengobatan ( SR ) TB Paru BTA (+) 28
Gambar 3.12 Kasus Baru HIV – AIDS Dan Kematian Per Tahun Kabupaten Boyolali Tahun 2014
29 Gambar 3.13 Proporsi Penderita HIV-AIDS Dan Sipilis Menurut Jenis
Kelamin Kabupaten Boyolali Tahun 2014
30 Gambar 3.14 Proporsi Penderita HIV-AIDS Dan Sipilis Per Golongan
Umur Kabupaten Boyolali Tahun 2014
30 Gambar 3.15 Cakupan Penemuan Diare Yang DitanganiPer Puskesmas
Kabupaten Boyolali Tahun 2014
32 Gambar 3.16 Incident Rate (IR) DBD Per Puskesmas Kabupaten
Boyolali Tahun 2014
33 Gambar 3.17 Angka Kematian (CFR) DBD Per Puskesmas Kabupaten
Boyolali Tahun 2014
34 Gambar 3.18 Proporsi Penderita DBD Menurut Jenis Kelamin
Kabupaten Boyolali Tahun 2014
35 Gambar 3.19 Jumlah Kasus PTM Terbanyak Kabupaten Boyolali Tahun
2014
37 Gambar 3.20 Pengukuran Tekanan Darah Penduduk ≥ 18 Tahun Per
Jenis Kelamin Kabupaten Boyolali Tahun 2014
37 Gambar 3.21 Pemeriksaan Obesitas Penduduk ≥ 15 Tahun Per Jenis
Kelamin Kabupaten Boyolali Tahun 2014
38 Gambar 3.22 Perbandingan Kasus Campak Kabupaten Boyolali Tahun
2011-2014
39 Gambar 3.23 Persentase Kasus BBLR Kabupaten Boyolali Tahun 2011 –
2014
40 Gambar 3.24 Persentase Kasus BBLR Di Puskesmas Kabupaten Boyolali
Tahun 2014
41 Gambar 4.1 Cakupan K4 Ibu Hamil Kabupaten Boyolali Tahun
2012-2014
44 Gambar 4.2 Cakupan K4 Puskesmas Kabupaten Boyolali Tahun 2014 45 Gambar 4.3 Cakupan Pelayanan Nifas Kabupaten Boyolali Tahun
2012 – 2014
46 Gambar 4.4 Cakupan Fe-1 Puskesmas Kabupaten Boyolali Tahun 2014 47 Gambar 4.5 Cakupan Fe-3 Puskesmas Kabupaten Boyolali Tahun 2014 48 Gambar 4.6 Cakupan Neonatal Resti Ditangani Kabupaten Boyolali
Tahun 2012-2014
49 Gambar 4.7 Cakupan KN 3 Kabupaten Boyolali Tahun 2012-2014 50
Gambar 4.8 Cakupan Kunjungan Bayi Kabupaten Boyolali Tahun 2012-2014
51 Gambar 4.9 Cakupan Pelayanan Kesehatan Anak Balita Kabupaten
Boyolali Tahun 2012-2014
51 Gambar 4.10 Cakupan Desa UCI Kabupaten Boyolali Tahun 2011-2014 53 Gambar 4.11 Cakupan Immunisasi Campak Pada Bayi Kabupaten
Boyolali Tahun 2011-2014
54 Gambar 4.12 Drop Out Immunisasi DPT-HB 1, Campak Kabupaten
Boyolali Tahun 2011-2014
55 Gambar 4.13 Cakupan Immunisasi TT pada WUS dan Ibu Hamil
Kabupaten Boyolali Tahun 2012-2014
56 Gambar 4.14 Rasio Tambal - Cabut Gigi Tetap Kabupaten Boyolali
Tahun 2011-2014
57 Gambar 4.15 Cakupan Siswa SD Yang Mendapat Perawatan Gigi
Kabupaten Boyolali Tahun 2011-2014
58 Gambar 4.16 Persentase Usia Lanjut Mendapat Pelayanan Kesehatan
Kabupaten Boyolali Tahun 2012-2014
59 Gambar 4.17 Cakupan Peserta KB Baru MKJP dan Non MKJP
Kabupaten Boyolali Tahun 2011-2014
61 Gambar 4.18 Cakupan Peserta KB Aktif Kabupaten Boyolali Tahun
2012-2014
61 Gambar 4.19 Cakupan Komplikasi Kebidanan Yang Ditangani
Kabupaten Boyolali Tahun 2012-2014
62 Gambar 4.20 Cakupan Neonatus Dengan Komplikasi Yang Ditangani Di
Kabupaten Boyolali Tahun 2012 – 2014
63 Gambar 4.21 Cakupan Kunjungan Kasus Gangguan Jiwa Kabupaten
Boyolali Tahun 2011-2014
65 Gambar 4.22 Proporsi Kepesertaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan
Masyarakat Kabupaten Boyolali Tahun 2014
68 Gambar 4.23 Cakupan Pemberian ASI Eksklusif Bayi Per Puskesmas
Kabupaten Boyolali Tahun 2014
70 Gambar 4.24 Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A Anak Balita
Kabupaten Boyolali Tahun 2014
72 Gambar 4.25 Partisipasi Masyarakat D/S Di Posyandu Kabupaten
Boyolali Tahun 2014
74 Gambar 4.26 Cakupan BGM/D Kabupaten Boyolali Tahun 2014 75
Gambar 4.27 Kasus Gizi Buruk Mendapat Perawatan Tahun 2014 77 Gambar 4.28 Hasil Pemantauan Garam Beryodium Tingkat Masyarakat
Kabupaten Boyolali Tahun 2014
78 Gambar 4.29 Jumlah Rumah Dibina dan Rumah Memenuhi Syarat
Kabupaten Boyolali Tahun 2014
80 Gambar 4.30 Proporsi Akses Penduduk Terhadap Air Minum Layak
Kabupaten Boyolali Tahun 2014
81 Gambar 4.31 Pengawasan Kualitas Air Minum Pada Penyelenggara Air
Minum Kabupaten Boyolali Tahun 2014
82 Gambar 4.32 Proporsi Akses Penduduk Buang Air Besar Di Jamban
Sehat Kabupaten Boyolali Tahun 2014
82 Gambar 4.33 Desa Melaksanakan STBM Kabupaten Boyolali Tahun
2014
83 Gambar 4.34 Tempat – Tempat Umum Memenuhi Syarat Kabupaten
Boyolali Tahun 2014
84 Gambar 4.35 Tempat Pengolahan Makanan Memenuhi Syarat
Kabupaten Boyolali Tahun 2014
85 Gambar 4.36 TPM Tidak Memenuhi Syarat Dibina dan TPM Memenuhi
Syarat Diuji Petik Kabupaten Boyolali Tahun 2014
DAFTAR LAMPIRAN
RESUME RESUME PROFIL KESEHATAN KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2014
TABEL 1 LUAS WILAYAH, JUMLAH DESA/KELURAHAN, JUMLAH PENDUDUK, JUMLAH RUMAH TANGGA, DAN KEPADATAN PENDUDUK MENURUT KECAMATAN
TABEL 2 JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN DAN KELOMPOK UMUR
TABEL 3 PENDUDUK BERUMUR 10 TAHUN KE ATAS YANG MELEK HURUF DAN IJAZAH TERTINGGI YANG DIPEROLEH MENURUT JENIS KELAMIN
TABEL 4 JUMLAH KELAHIRAN MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 5 JUMLAH KEMATIAN NEONATAL, BAYI DAN BALITA MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 6 JUMLAH KEMATIAN IBU MENURUT KELOMPOK UMUR, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 7 KASUS BARU TB BTA+, SELURUH KASUS TB, KASUS TB PADA ANAK, DAN CASE NOTIFICATION RATE ( CNR ) PER 100.000 PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 8 JUMLAH KASUS DAN ANGKA PENEMUAN KASUS TB PARU BTA+ MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS TABEL 9 ANGKA KESEMBUHAN DAN PENGOBATAN LENGKAP TB PARU
BTA+ SERTA KEBERHASILAN PENGOBATAN MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 10 PENEMUAN KASUS PNEUMONIA BALITA MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 11 JUMLAH KASUS HIV, AIDS, DAN SYPHILIS MENURUT JENIS KELAMIN
TABEL 12 PERSENTASE DONOR DARAH DISKRINING TERHADAP HIV MENURUT JENIS KELAMIN
TABEL 13 KASUS DIARE YANG DITANGANI MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 15 KASUS BARU KUSTA 0 – 14 TAHUN DAN CACAT TINGKAT 2 MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS TABEL 16 JUMLAH KASUS DAN ANGKA PREVALENSI PENYAKIT KUSTA
MENURUT TIPE/JENIS, JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 17 PERSENTASE PENDERITA KUSTA SELESAI BEROBAT ( RELEASE
FROM TREATMENT/RFT ) MENURUT JENIS KELAMIN,
KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 18 JUMLAH KASUS AFP (NON POLIO) MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS
TABEL 19 JUMLAH KASUS PENYAKIT YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASI (PD3I) MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 20 JUMLAH KASUS PENYAKIT YANG DAPAT DICEGAH DENGAN IMUNISASI (PD3I) MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS – Lanjutan
TABEL 21 JUMLAH KASUS DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 22 KESAKITAN DAN KEMATIAN AKIBAT MALARIA MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 23 PENDERITA FILARIASIS DITANGANI MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 24 PENGUKURAN TEKANAN DARAH PENDUDUK ≥ 18 TAHUN MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS TABEL 25 PEMERIKSAAN OBESITAS MENURUT JENIS KELAMIN,
KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 26 CAKUPAN DETEKSI DINI KANKER LEHER RAHIM DENGAN METODE IVA DAN KANKER PAYUDARA DENGAN PEMERIKSAAN KLINIS (CBE) MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS
TABEL 27 JUMLAH PENDERITA DAN KEMATIAN PADA KLB MENURUT JENIS KEJADIAN LUAR BIASA (KLB)
TABEL 28 KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) DI DESA/KELURAHAN YANG DITANGANI < 24 JAM
TABEL 29 CAKUPAN KUNJUNGAN IBU HAMIL, PERSALINAN DITOLONG TENAGA KESEHATAN, DAN PELAYANAN KESEHATAN IBU NIFAS MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS
TABEL 30 PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI TT PADA IBU HAMIL MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS
TABEL 31 PERSENTASE CAKUPAN IMUNISASI TT PADA WANITA USIA SUBUR MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS
TABEL 32 JUMLAH IBU HAMIL YANG MENDAPATKAN TABLET FE1 DAN FE3 MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS
TABEL 33 JUMLAH DAN PERSENTASE PENANGANAN KOMPLIKASI KEBIDANAN DAN KOMPLIKASI NEONATAL MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 34 PROPORSI PESERTA KB AKTIF MENURUT JENIS KONTRASEPSI, KECAMATAN DAN PUSKESMAS
TABEL 35 PROPORSI PESERTA KB BARU MENURUT JENIS KONTRASEPSI, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 36 JUMLAH PESERTA KB BARU DAN KB AKTIF MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS
TABEL 37 BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 38 CAKUPAN KUNJUNGAN NEONATAL MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 39 JUMLAH BAYI YANG DIBERI ASI EKSKLUSIF MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 40 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN BAYI MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 41 CAKUPAN DESA/KELURAHAN UCI MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS
TABEL 42 CAKUPAN IMUNISASI HEPATITIS B < 7 HARI DAN BCG PADA BAYI MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS TABEL 43 CAKUPAN IMUNISASI DPT-HB3/DPT-HB-Hib3, POLIO, CAMPAK,
DAN IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA BAYI MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 44 CAKUPAN PEMBERIAN VITAMIN A PADA BAYI DAN ANAK BALITA MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS TABEL 45 JUMLAH ANAK 0 – 23 BULAN DITIMBANG MENURUT JENIS
KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 46 CAKUPAN PELAYANAN ANAK BALITA MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 48 CAKUPAN KASUS GIZI BURUK YANG MENDAPAT PERAWATAN MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS TABEL 49 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN (PENJARINGAN) SISWA SD
DAN SETINGKAT MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 50 PELAYANAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT MENURUT KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 51 PELAYANAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA ANAK SD DAN SETINGKAT MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 52 CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN USIA LANJUT MENURUT JENIS KELAMIN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 53 CAKUPAN JAMINAN KESEHATAN MENURUT JENIS JAMINAN DAN JENIS KELAMIN
TABEL 54 JUMLAH KUNJUNGAN RAWAT JALAN, RAWAT INAP, DAN KUNJUNGAN GANGGUAN JIWA DI SARANA PELAYANAN KESEHATAN
TABEL 55 ANGKA KEMATIAN PASIEN DI RUMAH SAKIT TABEL 56 INDIKATOR KINERJA PELAYANAN DI RUMAH SAKIT
TABEL 57 PERSENTASE RUMAH TANGGA BERPERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT ( BER-PHBS ) MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS TABEL 58 PERSENTASE RUMAH SEHAT MENURUT KECAMATAN DAN
PUSKESMAS
TABEL 59 PENDUDUK DENGAN AKSES BERKELANJUTAN TERHADAP AIR MINUM BERKUALITAS (LAYAK) MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS
TABEL 60 PERSENTASE KUALITAS AIR MINUM DI PENYELENGGARA AIR MINUM YANG MEMENUHI SYARAT KESEHATAN
TABEL 61 PENDUDUK DENGAN AKSES TERHADAP FASILITAS SANITASI YANG LAYAK (JAMBAN SEHAT) MENURUT JENIS JAMBAN, KECAMATAN, DAN PUSKESMAS
TABEL 62 DESA YANG MELAKSANAKAN SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT
TABEL 63 PERSENTASE TEMPAT – TEMPAT UMUM MEMENUHI SYARAT KESEHATAN MENURUT KECAMATAN DAN PUSKESMAS
TABEL 64 TEMPAT PENGELOLAAN MAKANAN (TPM) MENURUT STATUS HIGIENE SANITASI
TABEL 65 TEMPAT PENGELOLAAN MAKANAN DIBINA DAN DIUJI PETIK TABEL 66 PERSENTASE KETERSEDIAAN OBAT DAN VAKSIN
TABEL 67 JUMLAH SARANA KESEHATAN MENURUT KEPEMILIKAN
TABEL 68 PERSENTASE SARANA KESEHATAN (RUMAH SAKIT) DENGAN KEMAMPUAN PELAYANAN GAWAT DARURAT (GADAR) LEVEL I TABEL 69 JUMLAH POSYANDU MENURUT STRATA, KECAMATAN, DAN
PUSKESMAS
TABEL 70 JUMLAH UPAYA KESEHATAN BERSUMBERDAYA MASYARAKAT (UKBM) MENURUT KECAMATAN
TABEL 71 JUMLAH DESA SIAGA MENURUT KECAMATAN TABEL 72 JUMLAH TENAGA MEDIS DI FASILITAS KESEHATAN
TABEL 73 JUMLAH TENAGA KEPERAWATAN DI FASILITAS KESEHATAN TABEL 74 JUMLAH TENAGA KEFARMASIAN DI FASILITAS KESEHATAN TABEL 75 JUMLAH TENAGA KESEHATAN MASYARAKAT DAN KESEHATAN
LINGKUNGAN DI FASILITAS KESEHATAN
TABEL 76 JUMLAH TENAGA GIZI DI FASILITAS KESEHATAN
TABEL 77 JUMLAH TENAGA KETERAPIAN FISIK DI FASILITAS KESEHATAN TABEL 78 JUMLAH TENAGA KETEKNISIAN MEDIS DI FASILITAS KESEHATAN TABEL 79 JUMLAH TENAGA KESEHATAN LAIN DI FASILITAS KESEHATAN TABEL 80 JUMLAH TENAGA NON KESEHATAN DI FASILITAS KESEHATAN TABEL 81 ANGGARAN KESEHATAN KABUPATEN/KOTA
TABEL 82 PERSENTASE DESA/KELURAHAN DENGAN GARAM BERYODIUM YANG BAIK MENURUT KECAMATAN
TABEL 83 KASUS PENYAKIT TIDAK MENULAR DI PUSKESMAS DAN RUMAH SAKIT
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG
Kebutuhan akan data dan informasi pembangunan kesehatan semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap situasi kesehatan dan hasil pembangunan kesehatan terutama terhadap masalah - masalah kesehatan yang berhubungan langsung dengan kesehatan masyarakat. Untuk mengukur keberhasilan pembangunan kesehatan sesuai dengan Visi Kementerian Kesehatan :
“Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Berkeadilan” dengan Misinya :
1) Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat,termasuk swasta dan masyarakat madani;
2) Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu, dan berkeadilan;
3) Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan; 4) Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik.
diperlukan suatu indikator. Dalam perjalanannya, indikator kesehatan tersebut dapat bersifat dinamis mengikuti situasi dan kondisi yang ada.
Sistem informasi kesehatan diarahkan untuk penyediaan data dan informasi yang akurat, lengkap dan tepat waktu. Untuk itu peran data dan informasi kesehatan menjadi sangat penting dalam manajemen pengambilan keputusan di semua tingkat administrasi pelayanan kesehatan.
Profil Kesehatan Kabupaten Boyolali merupakan salah satu tolok ukur bagi kemajuan pembangunan kesehatan di Kabupaten Boyolali. Sehingga profil ini juga dipergunakan sebagai bahan evaluasi atas pencapaian hasil program-program kesehatan yang telah dilaksanakan di Kabupaten Boyolali
sekaligus menjadi instrument perencanaan pembangunan kesehatan tahun yang akan datang.
Profil Kesehatan Kabupaten Boyolali Tahun 2015 disusun untuk menggambarkan situasi dan kondisi kesehatan masyarakat di Kabupaten Boyolali. Profil ini berisikan data dan informasi derajad kesehatan, sumber daya kesehatan dan capaian indikator hasil pembangunan di Kabupaten Boyolali selama 1 tahun .
Dengan telah disusunnya buku Profil Kesehatan Kabupaten Boyolali Tahun 2015, diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan acuan untuk semua pihak yang membutuhkan karena dalam proses penyusunannya telah melibatkan berbagai pihak terkait baik lintas program dan lintas sektor. B. SISTEMATIKA PENYAJIAN
Sistematika penyajian Profil Kesehatan Kabupaten Boyolali Tahun 2015 terdiri dari 6 Bab sebagai berikut:
BAB I. Pendahuluan
Bab ini secara ringkas menjelaskan tentang maksud dan tujuan Profil Kesehatan Kabupaten Boyolali Tahun 2015 serta sistematika dan penyajiannya berupa uraian bab demi bab secara berurutan.
BAB II. Gambaran Umum
Bab ini menyajikan tentang gambaran umum Kabupaten Boyolali. Selain uraian tentang letak geografis, administratif dan informasi umum lainnya, bab ini juga mengulas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan meliputi kependudukan, ekonomi, pendidikan, sosial budaya, perilaku dan lingkungan. BAB III. Situasi Derajat Kesehatan
BAB IV. Situasi Upaya Kesehatan
Bab ini menguraikan tentang pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang, pemberantasan penyakit menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan. Upaya pelayanan kesehatan yang diuraikan dalam bab ini juga mengakomodir indikator kinerja Standar Pelayanan Minimal ( SPM ) Bidang Kesehatan serta upaya pelayanan kesehatan lainnya yang diselenggarakan di Kabupaten Boyolali.
BAB V. Situasi Sumber Daya Kesehatan
Bab ini menguraikan tentang sarana kesehatan, sumber daya masyarakat kesehatan serta pembiayaan kesehatan.
BAB VI. Kesimpulan
Bab ini diisi dengan sajian tentang hal-hal penting yang perlu disimak dan ditelaah lebih lanjut dari Profil Kesehatan Kabupaten Boyolali tahun 2015. Selain keberhasilan-keberhasilan yang perlu dicatat, bab ini juga mengemukakan hal-hal yang dianggap masih kurang dalam rangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan.
Lampiran. Pada lampiran ini berisi tabel resume / angka pencapaian Kabupaten Boyolali dan 83 tabel data kesehatan yang terkait kesehatan yang responsif gender.
BAB II
GAMBARAN UMUM A. KEADAAN GEOGRAFIS
Kabupaten Boyolali merupakan salah satu dari 35 Kabupaten / Kota di Propinsi Jawa Tengah, terletak antara 110°22' - 110° 50' Bujur Timur dan 7° 7' - 7° 36' Lintang Selatan, dengan ketinggian antara 75 - 1500 meter di atas permukaan laut. Adapun batas wilayah Kabupaten Boyolali adalah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Semarang. Sebelah Timur : Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Sragen dan
Kabupaten Sukoharjo.
Sebelah Selatan : Kabupaten Klaten dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sebelah Barat : Kabupaten Magelang dan Kabupaten Semarang. Jarak bentang wilayah Kabupaten Boyolali adalah sebagai berikut: 1) Barat - Timur : 48 Km
2) Utara - Selatan :54 Km
Struktur tanah di wilayah Kabupaten Boyolali terdiri dari berbagai macam sebagai berikut :
1) Bagian timur laut sekitar wilayah Kecamatan Karanggede dan Simo pada umumnya tanah lempung.
2) Bagian tenggara sekitar wilayah Kecamatan Banyudono dan Sawit pada umumnya tanah galih.
3) Bagian barat laut sekitar wilayah Kecamatan Musuk dan Cepogo pada umumnya tanah berpasir.
4) Bagian utara sepanjang perbatasan dengan wilayah Kabupaten Grobogan pada umumnya tanah berkapur.
Menurut ketinggiannya dari permukaan laut, wilayah Kabupaten Boyolali dibagi dalam kelompok sebagai berikut:
1) 75 - 400 DPL : Kecamatan Mojosongo, Teras, Sawit, Banyudono, Sambi, Ngemplak, Simo, Nogosari, Karanggede,
Andong ,Klego, Kemusu, Wonosegoro, Juwangi dan sebagian Boyolali.
2) 400 - 700 DPL : Kecamatan Boyolali, Musuk, Ampel dan Cepogo. 3) 700 - 1000 DPL : Kecamatan Musuk, Ampel dan Cepogo.
4) 1000 - 1300 DPL : Sebagian Kecamatan Cepogo, Ampel dan Selo. 5) 1300 - 1500 DPL : Sebagian Kecamatan Selo.
Di Kabupaten Boyolali terdapat 2 gunung yang berada di wilayah kecamatan Selo, Cepogo, Ampel dan Musuk yaitu:
1) Gunung Merapi 2) Gunung Merbabu
Luas wilayah Kabupaten Boyolali 101.510,1955 Ha, terdiri dari: 1) Tanah sawah : 22.710,1595 Ha
2) Tanah kering : 78.800,0360 Ha B. KEADAAN ADMINISTRATIF
Data administratif Profil Kesehatan Kabupaten Boyolali tahun 2015 ini berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik ( BPS ) Kabupaten Boyolali Tahun 2013 yang sah dan diterbitkan oleh BPS Kabupaten Boyolali pada buku
" KABUPATEN BOYOLALI DALAM ANGKA 2015 ". Di diskripsikan dalam nama
jumlah Rukun Warga ( RW ), jumlah Rukun Tetangga ( RT ) serta jumlah rumah tangga sebagaimana tampak pada tabel dibawah.
Tabel 2.1.
Jumlah Kecamatan, Puskesmas, Desa dan Kelurahan, RW, RT dan Rumah Tangga di Kabupaten Boyolali Tahun 2013.
NO KECAMATAN JUMLAH PUSKESMAS JUMLAH DESA / KELURAHAN JUMLAH RW JUMLAH RT JUMLAH RUMAH TANGGA 1 Selo 1 10 52 214 7.782 2 Ampel 2 20 154 547 21.122 3 Cepogo 1 15 92 406 15.107 4 Musuk 2 20 93 513 16.548 5 Boyolali 3 9 114 487 19.104 6 Mojosongo 1 13 89 390 16.498 7 Teras 1 13 47 306 12.364 8 Sawit 2 12 43 180 9.026 9 Banyudono 2 15 57 260 13.266 10 Sambi 2 16 60 337 14.351 11 Ngemplak 1 12 109 445 21.497 12 Nogosari 1 13 67 405 18.025 13 Simo 1 13 77 300 13.019 14 Karanggede 1 16 64 275 14.462 15 Klego 2 13 67 294 12.006 16 Andong 1 16 79 343 17.484 17 Kemusu 2 13 62 282 11.390 18 Wonosegoro 2 18 92 364 13.834 19 Juwangi 1 10 43 219 8.109 Jumlah 29 267 1.461 6.567 275.241
C. KEADAAN PENDUDUK
Data kependudukan yang digunakan dalam penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten Boyolali Tahun 2015 ini adalah data penduduk yang bersumber dari Badan Pusat Statistik ( BPS ) Kabupaten Boyolali Tahun 2013 dalam buku " KABUPATEN BOYOLALI DALAM ANGKA 2015 "
1. Kepadatan, Penyebaran dan Pertumbuhan Penduduk
Tabel 2.2.
Kepadatan, Penyebaran dan Pertumbuhan Penduduk di Kabupaten Boyolali Tahun 2013 NO KECAMATAN LUAS ( KM2 ) JUMLAH PENDUDUK KEPADATAN PENDUDUK ( KM2 ) PERTUMBUHAN PENDUDUK ( % ) 1 Selo 56,08 27.198 485 0.19 2 Ampel 90,39 69.861 773 0.73 3 Cepogo 53,00 54.033 1.020 0.35 4 Musuk 65,04 61.449 945 0.05 5 Boyolali 26,25 60.661 2.311 0.66 6 Mojosongo 43,41 52.007 1.198 0.54 7 Teras 29,94 46.895 1.566 0.77 8 Sawit 17,23 32.969 1.913 0.12 9 Banyudono 25,38 45.021 1.774 0.22 10 Sambi 46,49 48.825 1.050 0.43 11 Ngemplak 38,53 72.991 1.895 1.03 12 Nogosari 55,08 61.743 1.121 0.59 13 Simo 48,04 43.651 909 0.10 14 Karanggede 41,76 40.933 980 0.62 15 Klego 51,88 46.371 894 0.32 16 Andong 54,53 61.967 1.136 0.08
17 Kemusu 99,08 46.544 470 0.00 18 Wonosegoro 93,00 55.205 594 0.23 19 Juwangi 79,99 35.515 444 0.61 Jumlah 1.015,1020 963.839 949 0.43
Berdasarkan data kepadatan penduduk dari Badan Pusat Statistik ( BPS ) Kabupaten Boyolali Tahun 2013, jumlah penduduk di Kabupaten Boyolali tercatat sebesar 963.839 jiwa, dengan luas wilayah 1.015, 1020 km2, artinya rata-rata kepadatan penduduk di Kabupaten Boyolali adalah 949 jiwa/km2. Pernyebaran penduduk di Kabupaten Boyolali tidaklah merata. Penduduk terpadat berada di Kecamatan Boyolali yaitu 2.311 jiwa/km2 dan kecamatan yang paling jarang penduduknya adalah Kecamatan Juwangi yaitu 444 jiwa/km2
Pada tabel 2.2 di atas, terlihat bahwa Kecamatan Kemusu dengan wilayah paling luas daripada kecamatan yang lain, memiliki pertumbuhan penduduk yang paling kecil. Ini menunjukkan adanya pengaruh kelahiran, kematian dan migrasi. Dimana migrasi itu sendiri merupakan pencerminan perbedaan pertumbuhan ekonomi dan ketidakmerataan pembangunan fasilitas antara daerah yang satu dengan yang lain. Penduduk dari daerah yang tingkat pertumbuhan ekonominya kurang menentu akan tertarik menuju ke daerah yang mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
2. Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin
Komposisi penduduk menurut jenis kelamin, menggunakan sumber data Badan Pusat Statistik ( BPS ) Kabupaten Boyolali Tahun 2013. Komposisi penduduk menurut jenis kelamin adalah pengelompokan
perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki dan perempuan dalam satu wilayah tertentu. Perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di daerah / negara tertentu disebut dengan perbandingan jenis kelamin atau rasio jenis kelamin atau sex ratio .
Tabel 2.3
Komposisi Penduduk Menurut Jenis Kelamin di Kabupaten Boyolali Tahun 2013
NO KECAMATAN PENDUDUK SEX RATIO
LAKI-LAKI PEREMPUAN 1 Selo 13.367 13.831 96.65 2 Ampel 34.252 35.609 96.19 3 Cepogo 26.640 27.393 97.25 4 Musuk 29.813 31.636 94.24 5 Boyolali 29.910 30.751 97.27 6 Mojosongo 25.593 26.414 96.89 7 Teras 23.476 23.419 100.24 8 Sawit 16.332 16.637 98.17 9 Banyudono 21.843 23.178 94.24 10 Sambi 24.334 24.491 99.36 11 Ngemplak 36.270 36.721 98.77 12 Nogosari 30.155 31.588 95.46 13 Simo 21.056 22.595 93.19 14 Karanggede 19.775 21.158 93.46 15 Klego 22.853 23.518 97.17 16 Andong 30.492 31.475 96.88 17 Kemusu 22.941 23.603 97.20 18 Wonosegoro 27.270 27.935 97.62
19 Juwangi 17.616 17.899 98.42
Jumlah 473.988 489.851 96.76
Berdasarkan data di atas, di dapatkan sex ratio sebesar 96,76. Artinya, dalam setiap 100 penduduk perempuan, terdapat 97 penduduk laki-laki.
3. Komposisi Penduduk Menurut Umur
Komposisi penduduk menurut umur menunjukkan rasio ketergantungan. Rasio ketergantungan yaitu angka perbandingan yang menunjukkan besar beban tanggungan dari kelompok usia produktif. Usia produktif ( usia 15 – 64 tahun ) selain menanggung kebutuhan hidup dirinya, juga menanggung kebutuhan hidup golongan usia muda ( usia 0 – 14 tahun ) dan golongan tua ( usia > 65 tahun ). Makin besar rasio ketergantungan, makin besar beban yang ditanggung oleh kelompok usia produktif.
Berdasarkan data di atas, jumlah penduduk golongan usia muda sebesar 222.998 jiwa, golongan usia produktif sebesar 639.537 jiwa serta golongan usia tua sebesar 101.304 jiwa. Dari data tersebut dapat dihitung bahwa rasio ketergantungan muda sebesar 34,87 rasio ketergantungan
tua sebesar 15,84 dan rasio ketergantungan total sebesar 50,71. Rasio ketergantungan total 50,71 artinya, setiap 100 orang yang berusia kerja (dianggap produktif ) mempunyai tanggungan sebanyak 51 orang yang belum produktif dan dianggap tidak produktif lagi.
D. KEADAAN EKONOMI
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi, namun pada hakikatnya faktor-faktor tersebut dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu faktor ekonomi dan faktor non ekonomi. Faktor ekonomi yang mempengaruhi pertumbuhan dan pembangunan ekonomi diantaranya adalah sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber daya modal, dan keahlian atau kewirausahaan. Sumber daya manusia juga menentukan keberhasilan pembangunan nasional melalui jumlah dan kualitas penduduk. Jumlah penduduk yang besar merupakan pasar potensial untuk memasarkan hasil-hasil produksi, sementara kualitas penduduk menentukan seberapa besar produktivitas yang ada.
Faktor non ekonomi mencakup kondisi sosial kultur yang ada di masyarakat, keadaan politik, kelembagaan, dan sistem yang berkembang dan berlaku.
E. KEADAAN PENDIDIKAN
Pendidikan merupakan salah satu indikator yang kerap ditelaah dalam mengukur tingkat pembangunan manusia. Melalui pengetahuan, pendidikan berkontribusi terhadap perubahan perilaku kesehatan. Pengetahuan yang dipengaruhi oleh tingkat pendidikan merupakan salah satu pencetus yang berperan dalam mempengaruhi keputusan seseorang untuk berperilaku sehat.
Persentase penduduk umur 10 tahun yang melek huruf di Kabupaten Boyolali mencapai 99,74 % sedangkan sebagian kecil sisanya (0,26%)
banyak adalah berpendidikan SD 33,71%, kemudian yang tidak / belum tamat SD sebanyak 28,84%, tamat SLTP 17,66%, tamat SLTA 14,42%, tamat Akademi / Diploma 2,54% dan tamat PT / D IV 2,57%.
F. KEADAAN SOSIAL BUDAYA
Pertumbuhan penduduk yang signifikan akan berdampak pada perubahan sosial kehidupan masyarakat Indonesia. Perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan dalam suatu masyarakat yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku dalam masyarakat. Pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap perkembangan sosial di masyarakat diantaranya : meningkatnya permintaan terhadap kebutuhan sandang, pangan,dan papan, berkurangnya lahan tempat tinggal, meningkatnya investor yang datang, meningkatnya angka pengangguran. Kondisi ini pun akan mempengaruhi kondisi sosial budaya di masyarakat. Berikut gambaran masalah sosial budaya berdasarkan data Badan Pusat Statistik ( BPS ) Kabupaten Boyolali Tahun 2013. Anak Balita Terlantar: 374 Anak Terlantar: 2,001 Pengemis: 1,616 Wanita Rawan Sosial Ekonomi: 2,117 Lanjut Usia Terlantar: 3,297 Bekas Narapidana : 79 Keluarga Fakir Miskin: 118,357 Keluarga berumah
Tak Layak Huni: 21,248 Korban Bencana Alam: 101 Keluarga Rentan :1,696 ; 0 ; 0 Gambar 2.4
PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL DI KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2013
G. KEADAAN PERILAKU MASYARAKAT
Untuk menggambarkan keadaan perilaku masyarakat yang berpengaruh terhadap kesehatan akan disajikan beberapa indikator sebagai berikut:
1. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat ( PHBS )
PHBS merupakan sekumpulan perilaku yang dipraktekkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran agar seseorang dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya. Ada 16 indikator PHBS tatanan rumah tangga, yaitu persalinan oleh tenaga kesehatan, memeriksakan kehamilan minimal 4 kali selama masa kehamilan, ASI eksklusif, penimbangan balita dan gizi seimbang, air bersih, jamban sehat, sampah dan lantai kedap air, aktifitas fisik, tidak merokok, cuci tangan pakai sabun, menggosok gigi, tidak miras/narkoba, jaminan pemeliharaan kesehatan dan pemberantasan sarang nyamuk.
Tahun 2015, terdapat 227.382 rumah tangga yang dipantau PHBS nya dari 275.241 rumah tangga ( 82,6 % ) yang tercatat di kabupaten Boyolali. Dari jumlah rumah tangga yang dipantau tersebut, terdapat 179.992 rumah tangga yang memenuhi syarat PHBS atau 79,2 % (strata utama dan paripurna). Dengan harapan tahun 2016 bisa mencapai target RPJMD untuk PBHS rumah tangga sebesar 80 %.
Jumlah Rumah Tangga: 275.241 Jumah Dipantau: 227.382 % Dipantau: 82,6 Ber-PHBS:179.992 % PHBS: 79,2 Gambar 2.5
KONDISI PHBS RUMAH TANGGA DI KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2015
2. Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat ( UKBM )
Peran serta masyarakat di bidang kesehatan sangat besar. Wujud nyata dari bentuk peran serta masyarakat antara lain dengan muncul dan berkembangnya UKBM. Indikator peran serta masyarakat dalam UKBM berupa desa siaga aktif, Posbindu, Posyandu dan PKD. Dalam desa siaga aktif, masyarakatnya dapat mengakses pelayanan kesehatan dasar yang difungsikan oleh PKD, mengembangkan UKBM dan menerapkan PHBS di rumah tangganya.
Target SPM 2016 untuk desa siaga aktif (tabel 71) adalah 80%. Di Kabupaten Boyolali, terdapat 261 desa dan 6 kelurahan, untuk strata desa sudah 100% desa nya telah menjadi desa siaga aktif dengan rincian 104 desa/kelurahan (38,95%) aktif pratama, 90 desa/kelompok (33,71%) aktif madya, 34 desa/kelurahan (12,73%) aktif purnama dan 39 desa/kelurahan (14,61%) aktif mandiri.
Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) merupakan kegiatan yang diselenggarakan secara terintegrasi oleh kelompok aktif masyarakat dalam upaya preventif dan promotif penyakit tidak menular. Saat ini Posbindu baru ada di Puskesmas Andong (1kelompok) dan Ngemplak (3 kelompok).
Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) (tabel 71) yang dikelola dan diselenggarakan dari, oleh dan untuk serta bersama masyarakat guna memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar. Pada saat ini telah terdapat 1784 posyandu yang terbagi menjadi strata pratama berjumlah 219 posyandu (12,28%), strata madya berjumlah 493 posyandu (27,63%), strata purnama berjumlah 609 (34,14%), strata mandiri 463 posyandu (25,95%). Sehingga untuk Posyandu Aktif yang terdiri dari posyandu strata purnama dan mandiri di Kabupaten Boyolali berjumlah 1072 posyandu (60,09 %) (tabel 69). Dengan harapan tahun 2016 target RPJMD kabupaten Boyolali bisa tercapai 60% .
H. KEADAAN LINGKUNGAN
Dalam rangka memperkuat upaya penyehatan lingkungan guna mengurangi faktor risiko penyebaran penyakit berbasis lingkungan pada masyarakat, antara lain dengan upaya meningkatkan akses air minum dan sanitasi dasar yang layak. Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di Kabupaten Boyolali dengan meningkatkan lingkungan yang kondusif, peningkatan kebutuhan sanitasi dan peningkatan penyediaan
secara bertahap tercapainya Desa/Kalurahan Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) hingga tercapainya Distric Wide melalui pemberdayaan masyarakat dengan pemicuan menggunakan metode Metodology
Participatory Assesmant Participatory Hygiene And SantitationTransformasi
(MPAPHAST), dan tahun 2015 telah dideklarasikan sebanyak 61 desa Stop Buang Air Besar Sembarang (SBS). Kegiatan upaya penyehatan lingkungan guna mengetahui rumah sehat dilakukan inspeksi sanitasi dan dilakukan pembinaan khususnya pada rumah yang belum memenuhi syarat, demikian juga pada sarana sanitasi untuk akses air minum layak berkualitas, tempat tempat umum (TTU), tempat pengelolaan makanan (TPM) juga dilakukan uji petik dan pembinaan. Harapan pencapaian target Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015 tercapai.
BAB III
SITUASI DERAJAT KESEHATAN
Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh banyak faktor, baik yang berasal dari faktor kesehatan seperti pelayanan kesehatan dan ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan maupun yang berasal dari luar kesehatan seperti faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, keturunan dan faktor lainnya.
Situasi derajad kesehatan dapat tercermin melalui angka mortalitas, morbiditas, dan status gizi. Ada kaitan yang erat antara situasi derajad kesehatan tersebut dengan tujuan tercapainya Millenium Development Goals ( MDGs ) atau Tujuan Pembangunan Millenium yang seharusnya sudah dicapai pada tahun 2015. MDGs merupakan komitmen internasional untuk mencapai 8 tujuan pembangunan . 5 tujuan MDGs yang berkaitan dengan kesehatan adalah :
1. Tujuan 1 : mengurangi kemiskinan dan kelaparan (15,5 % ) 2. Tujuan 4 : menurunkan kematian bayi (23 per 1.000 KH)
3. Tujuan 5 : menurunkan kematian ibu (102 per 100.000 kelahiran hidup) 4. Tujuan 6 : mengurangi penyakit menular khususnya HIV AIDS, malaria dan
penyakit berat lainnya ( prevalensi tetap atau diturunkan )
5. Tujuan 7 : mewujudkan kelestarian lingkungan yang berkelanjutan ( penduduk yang tidak memiliki akses terhadap air bersih turun 50% ) Tujuan-tujuan tersebut dicapai pada tahun 2015.
A. ANGKA KEMATIAN ( MORTALITAS )
Secara umum kejadian kematian pada manusia berhubungan erat dengan permasalahan kesehatan sebagai akibat dari gangguan penyakit atau akibat dari proses interaksi berbagai faktor yang secara sendiri – sendiri atau bersama – sama mengakibatkan kematian dalam masyarakat.
Salah satu indikator untuk menilai keberhasilan program pembangunan kesehatan yang telah dilaksanakan selama ini adalah dengan melihat perkembangan angka kematian dari tahun ke tahun. Besarnya tingkat kematian dan penyakit utama yang terjadi pada periode terakhir dapat dilihat dari berbagai uraian berikut :
1. Angka Kematian Ibu ( AKI )
Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dll.
Indonesia mempunyai komitmen untuk mencapai sasaran MDGs dengan AKI sebesar 102/100.000 KH pada tahun 2015. Pada tahun 2015, jumlah kematian ibu di Kabupaten Boyolali sebesar 21 orang atau AKI 142,81/100.000 KH. Angka ini sudah melebihi target MDGs . Jumlah ini mengalami kenaikan yang cukup tinggi dibanding tahun 2014 dengan 14 orang kematian ibu atau AKI 93,06/100.000 KH.
114,8 116,23 97,97 95 93,06 142,81 0 20 40 60 80 100 120 140 160 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Gambar 3.1
ANGKA KEMATIAN IBU
Dominasi kematian ibu pada tahun 2015, kematian ibu terjadi pada ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas, kematian ibu nifas yaitu 13 kasus atau 61,99%. , kematian ibu hamil sebanyak 6 kasus atau 28,58%, dan kematian ibu bersalin sebanyak 2 kasus atau 9,53%
Ibu hamil 28,58% Ibu bersalin 9,53% Ibu nifas 61,99% Gambar 3.2
PROPORSI KEMATIAN IBU DI KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2015
Penyebab kematian ibu pada tahun 2015 karena perdarahan 1 kasus , Infeksi 2 , Lain-lain 6, Eklampsia 12.
PERDARAHAN : 1
EKLAMPSIA :12 INFEKSI : 2
LAIN-LAIN : 6
Gambar 3.3
KEMATIAN IBU BERDASARKAN PENYEBAB DI KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2015
Puskesmas Musuk I ada 2 kasus, Puskesmas Juwangi 2 kasus. Puskesmas Kemusu 2, Klego I, Klego 2, Simo, Nogosari, Ngemplak, Banyudono 1 Sawit I, Boyolali 2, Musuk 2, Cepogo, Ampel I masing –masing memberikan kontribusi 1 kasus kematian ibu, sedangkan ada 13 puskesmas tidak terdapat angka kematian ibu.
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 3 0 1 1 2 2 3 3 4 SELO AMPEL II BOYOLALI I BOYOLALI III MOJOSONGO SAWIT II BANYUDONO II SAMBI I SAMBI II ANDONG KEMUSU I WONOSEGORO I WONOSEGORO II AMPEL I CEPOGO MUSUK II BOYOLALI II SAWIT I BANYUDONO I NGEMPLAK NOGOSARI SIMO KLEGO I KLEGO II KEMUSU II MUSUK I KARANGGEDE JUWANGI TERAS Gambar 3.4
KEMATIAN IBU DI PUSKESMAS KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2015
Tabel 3.1 Kematian Ibu (AKI)
KEMATIAN IBU (AKI) DINAS KESEHATAN KAB. BOYOLALI
TAHUN 2015 NO PUSKESMAS ABSOLJML UT Penyebab Perdara han Hiperte nsi dlm Kehamil an Infeksi Ggn Sistem peredaran darah ( jantung, stroke, dll ) Lain lain 1 SELO 0 0 0 0 0 0 2 AMPEL I 1 0 1 0 0 0 3 AMPEL II 0 0 0 0 0 0 4 CEPOGO 1 0 0 0 0 1 5 MUSUK I 2 0 1 0 0 1 6 MUSUK II 1 0 1 0 0 0 7 BOYOLALI I 0 0 0 0 0 0 8 BOYOLALI II 1 0 1 0 0 0 9 BOYOLALI III 0 0 0 0 0 0 10 MOJOSONGO 0 0 0 0 0 0 11 TERAS 3 0 1 0 1 2 12 SAWIT I 1 0 0 0 0 0 13 SAWIT II 0 0 0 0 0 0 14 BANYUDONO I 1 0 0 0 0 1 15 BANYUDONO II 0 0 0 0 0 0 16 NGEMPLAK 1 0 1 0 0 0 17 SAMBI I 0 0 0 0 0 0 18 SAMBI II 0 0 0 0 0 0 19 NOGOSARI 1 0 1 0 0 0 20 SIMO 1 0 1 0 0 0 21 KARANGGEDE 2 0 2 0 0 0 22 ANDONG 0 0 0 0 0 0 23 KLEGO I 1 0 0 0 0 1 24 KLEGO II 1 0 1 0 0 0 25 KEMUSU I 0 0 0 0 0 0 26 KEMUSU II 1 0 1 0 0 0 27 WONOSEGORO I 0 0 0 0 0 0 28 WONOSEGORO II 0 0 0 0 0 0 29 JUWANGI 2 0 2 0 0 0
2. Angka Kematian Bayi ( AKB )
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun.
Angka Kematian Bayi (AKB) adalah banyaknya kematian bayi berusia dibawah satu tahun, per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. Target MDGs untuk AKB tahun 2015 sebesar 23/1.000 KH.
Pada tahun 2015, jumlah kematian bayi di Kabupaten Boyolali sebesar 127 bayi atau AKB 8,6/1.000 KH. Jumlah ini mengalami penurunan dibanding tahun 2014 dengan 143 kematian bayi atau AKB 9,5/1.000 KH. Angka ini sudah memenuhi target MDGs dimana diharapkan AKB tahun 2015 sebesar 23/1.000 KH. 9,12 12,26 11,3 7,5 9,5 8,6 0 5 10 15 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Gambar 3.5
ANGKA KEMATIAN BAYI ( AKB ) DI KABUPATEN BOYOLALI
TAHUN 2010-2015
Semua Puskesmas di Kabupaten Boyolali menyumbangkan kematian bayi. Kematian bayi terbanyak di Kabupaten Boyolali di laporkan oleh Puskesmas Wonosegoro I yaitu sebanyak 11 bayi, Puskesmas Cepogo 10, Puskesmas Ampel I 9, Puskesmas Karanggede 9 dan Wonosegoro 2 ada 8 kasus . 21 Puskesmas menyumbangkan kematian bayi pada tahun 2015. Ada 3 Puskesmas yang tidak terdapat kasus kematian bayi yaitu Puskesmas Sawit I, Puskesmas Ngemplak dan Puskesmas Klego 2.
tA
Tabel 3.2. Kematian Bayi/AKB
KEMATIAN BAYI /AKB
DINAS KESEHATAN KABUPATEN BOYOLALI
TAHUN 2015
NO PUSKESMAS KematianUsia 0-6
hari kematian Usia 7-28 hari kematian Usia 29- 11 bulan Total 1 SELO 5 0 1 6 2 AMPEL I 6 1 2 9 3 AMPEL II 2 0 1 3 4 CEPOGO 7 2 1 10 5 MUSUK I 1 0 0 1 6 MUSUK II 2 0 1 3 7 BOYOLALI I 1 0 0 1 8 BOYOLALI II 3 0 2 5 9 BOYOLALI III 1 0 2 3 10 MOJOSONGO 2 0 1 3 11 TERAS 4 0 0 4 12 SAWIT I 0 0 0 0 13 SAWIT II 5 0 0 5 14 BANYUDONO I 2 0 0 2 15 BANYUDONO II 3 0 3 6 16 NGEMPLAK 0 0 0 0 17 SAMBI I 2 1 0 3 18 SAMBI II 0 0 1 1 19 NOGOSARI 1 1 1 3 20 SIMO 2 0 2 4 21 KARANGGEDE 6 2 1 9 22 ANDONG 2 1 2 5 23 KLEGO I 1 0 5 6 24 KLEGO II 0 0 0 0 25 KEMUSU I 3 1 0 4 26 KEMUSU II 5 0 2 7 27 WONOSEGORO I 9 2 0 11 28 WONOSEGORO II 3 1 4 8 29 JUWANGI 3 0 2 5 JUMLAH 81 12 34 127
3. Angka Kematian Balita ( AKABA )
Angka Kematian Balita ( AKABA ) merupakan jumlah anak yang meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun yang dinyatakan sebagai angka per 1.000 kelahiran hidup. Target MDGs untuk AKABA tahun 2015 sebesar 32/1.000 KH
Pada tahun 2015, jumlah kematian balita di Kabupaten Boyolali sebesar 140 balita atau AKABA 9,5/1.000 KH. Angka ini sudah melebihi target MDGs. Jumlah ini mengalami penurunan dibanding tahun 2014 dengan 158 kematian balita atau AKABA 10,5/1.000 KH.
9,76 13,88 11,95 8,1 10,5 9,5 0 5 10 15 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Gambar 3.6
ANGKA KEMATIAN BALITA ( AKABA ) DI KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2010-2015
Semua Puskesmas di Kabupaten Boyolali melaporkan kematian balita. Untuk kematian balita terbanyak di Kabupaten Boyolali di laporkan oleh Puskesmas Wonosegoro 2 sebanyak 12 kasus, diikuti Puskesmas Ampel I sebanyak 11, Puskesmas Cepogo 11, Puskesmas Wonosegoro I sebanyak 11, Puskesmas Karanggede 10, Puskesmas kemusu 2 sebanyak 10 kasus, Puskesmas Banyudono 2 sebanyak 9 kasus, Puskesmas Boyolali 2 sebanyak 8 kasus. Ada 2 Puskesmas tidak terdapat kematian balita yaitu Puskesmas Sawit 1 dan Puskesmas Klego 2.
B. ANGKA KESAKITAN ( MORBIDITAS ) 1. Penyakit menular
Penyakit menular dapat didefinisikan sebagai sebuah penyakit yang dapat ditularkan (berpindah dari orang satu ke orang yang lain, baik secara langsung maupun perantara), yang disebabkan oleh sebuah agen biologi berupa virus, bakteria atau parasit ( seperti penyakit TBC dan Infulenza, tempat makan dan minum yang kurang bersih pencuciannya seperti penyakit Hepatitis, atau tifus, jarum suntik dan transfusi darah seperti HIV AIDS dan Hepatitis ), bukan disebabkan faktor fisik (seperti luka bakar) atau kimia (seperti keracunan).
a. P2 TB BTA Positif
1) Case Notification Rate (CNR) Kasus Baru TB ParuBTA positif
Angka Kesakitan TB paru BTA positif Kabupaten Boyolali pada tahun 2015 sebesar 48.57 per 100.000 penduduk (267 kasus baru), sedangkan angka kesakitan TB seluruh kasus sebesar 47.62 per 100.000 penduduk (445 kasus)sebagaimana terlihat pada grafik berikut ini :
0 0 0 0 0 0 2,20 3,784,09 5,415,62 7,607,96 8,538,98 10,6911,10 11,4512,16 12,8913,24 14,6616,44 19,9022,53 24,2924,50 29,05 48,57 16,8 29,36 0 10 20 30 40 50 60 SELO MUSUK II BOYOLALI II MOJOSONGOKLEGO I KLEGO IIAMPEL I KEMUSU IIAMPEL II MUSUK ISAMBI II BANYUDONO ISAWIT II TERAS WONOSEGORO II BANYUDONO IICEPOGO SIMO BOYOLALI I SAMBI I BOYOLALI III KARANGGEDENGEMPLAK KEMUSU IJUWANGI NOGOSARISAWIT I ANDONG WONOSEGORO I RUMAHSAKIT KABUPATEN Gambar 3.7
CASE NOTIFICATION RATE (CNR) KASUS BARU TB PARU BTA (+) PER
0 0 0 5,34 5,62 5,778,11 8,188,52 8,81 11,1011,45 12,7912,89 13,11 14,6615,21 15,9216,22 17,8117,97 18,91 19,90 24,50 25,3426,47 27,53 30,66 42,50 32,06 47,62 0 10 20 30 40 50 60 SELO MUSUK II BOYOLALI II BANYUDONO IISAMBI II MOJOSONGO MUSUK I AMPEL II KLEGO IIAMPEL I CEPOGO SIMO TERAS SAMBI I KLEGO I KARANGGEDE BANYUDONO ISAWIT II BOYOLALI I NGEMPLAK WONOSEGORO IIKEMUSU II KEMUSU I SAWIT I JUWANGI BOYOLALI IIINOGOSARI ANDONG WONOSEGORO I RUMAHSAKITKABUPATEN
Gambar 3.8
CASE NOTIFICATION RATE (CNR) SELURUH KASUS TB PER PUSKESMAS DI KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2015
Angka penemuan kasus baru TB paru BTA positif sebesar 14,96%.CDR Kabupaten Boyolali tahun 2014 target 40% (Nasional >70%) belum tercapai, bila dilihat CDR per Puskesmas dan Rumah Sakit masih dibawah target Renstra Dinas Kesehatan, ada 8 Puskesmas yang sudah mencapai target kabupaten yaitu Puskesmas Simo, Puskesmas Andong, Puskesmas Karanggede, Puskesmas Boyolali 3, Puskesmas Ngemplak, Puskesmas Sambi 2, Puskesmas Teras, Puskesmas Banyudono 1. Sedangkan CDR 0% untuk Puskesmas Selo, Musuk II, Boyolali 2. Adapun data untuk masing – masing puskesmas sebagaimana terlihat pada grafik dibawah ini :
0,00 0,00 0,00 0,00 0,001,11 3,33 3,333,57 3,855,26 7,62 9,5210,42 11,59 12,5014,29 14,2916,00 20,00 26,32 40,00 44,4450,00 54,55 66,67 66,67 81,82 83,33 12,55 14,96 0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 80,00 90,00 SELO MUSUK II BOYOLALI IIKLEGO I KLEGO II MUSUK I AMPEL II BOYOLALI ISAMBI I KEMUSU II MOJOSONGO WONOSEGORO I WONOSEGORO IINOGOSARI JUWANGICEPOGO BANYUDONO II KEMUSU ISAWIT II AMPEL I SAWIT I BANYUDONO ITERAS SAMBI II NGEMPLAK BOYOLALI III KARANGGEDEANDONG SIMO RUMAHSAKITKABUPATEN Gambar 3.9
ANGKA PENEMUAN KASUS TB PARU BTA (+) (CDR) PER PUSKESMAS
DI KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2015
2) Angka Kesembuhan (CR) dan angka keberhasilan pengobatan (SR) Keberhasilan pengobatan penderita TB diukur berdasarkan hasil pencapaian Angka Kesembuhan (Cure Rate) dan Angka Sukses Pengobatan (Succes Rate). Target angka kesembuhan TB adalah sebesar 85% dan angka sukses pengobatan sebesar 90%.
Pencapaian angka kesembuhan TB Kabupaten Boyolali tahun 2015 sebesar 71.33% (2014 : 58,67%), masih dibawah target Renstra yaitu 85%, bila dibandingkan tahun sebelumnya mengalami peningkatan. Ada 8 Puskesmas yang sudah mencapai target yaitu Puskesmas Wonosegoro I, Puskesmas Simo, Puskesmas Nogosari, Puskesmas Sambi I, Puskesmas Banyudono 2, Puskesmas Sawit 1 , Puskesmas Cepogo dan Puskesmas
Ngemplak. Distribusi per Puskesmas dan Rumah Sakit sebagaimana terlihat pada grafik dibawah ini :
0 0 0 0 0 0 20,00 40,00 50,00 50,00 50,00 63,64 66,67 66,6771,43 73,6875,00 80,00 80,0085,71 85,71 97,62 100 100 100 100 100 100 100 48,15 71,33 0 20 40 60 80 100 120 SELO MUSUK I MUSUK II BOYOLALI ISAWIT II SAMBI II WONOSEGORO IIBOYOLALI III BOYOLALI II KARANGGEDEKEMUSU I JUWANGI MOJOSONGO BANYUDONO IKLEGO I ANDONGAMPEL II AMPEL I KEMUSU IITERAS KLEGO II NGEMPLAKCEPOGO SAWIT I BANYUDONO IISAMBI I NOGOSARISIMO WONOSEGORO I RUMAHSAKITKABUPATEN Gambar 3.10
ANGKA KESEMBUHAN (CR) TB PARU BTA (+) PER PUSKESMAS
DI KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2015
Sedangkan angka sukses pengobatan tahun 2015 sebesar 84,73% (2014: 87,24%), masih dibawah target Renstra. Bila dibandingkan tahun sebelumnya mengalami penurunan. Sedangkan angka kematian selama pengobatan sebesar 0,83 per 100.000 penduduk (8 orang). Distribusi per Puskesmas dan Rumah sakit sebagaimana terlihat pada grafik dibawah ini :
0 0 0 0 0 0 40,00 50,00 50,00 63,64 66,6771,43 75,0080,00 80,0085,71 85,7189,47 97,62100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 76,54 84,73 0 20 40 60 80 100 120 SELO MUSUK I MUSUK II BOYOLALI ISAWIT II SAMBI II BOYOLALI IIIBOYOLALI II KEMUSU IJUWANGI BANYUDONO IKLEGO I AMPEL IIAMPEL I KEMUSU IITERAS KLEGO II ANDONG NGEMPLAK MOJOSONGOCEPOGO SAWIT I BANYUDONO IISAMBI I NOGOSARISIMO KARANGGEDE WONOSEGORO I WONOSEGORO II RUMAHSAKITKABUPATEN Gambar 3.11
ANGKA KEBERHASILAN PENGOBATAN (SR) TB PARU BTA (+) PER PUSKESMAS
DI KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2015
b. P2 HIV/AIDS
Penemuan kasus baru HIV/AIDS tahun 2015 sebanyak 72 kasus, mengalami peningkatan bila dibanding tahun 2014 sebanyak 43 kasus. Pada tahun 2015 dilaporkan kasus baru HIV sebanyak 46, kasus baru AIDS sebanyak 26, dengan jumlah kematian karena AIDS sebanyak 12 serta jumlah kasus sipilis sebanyak 93 kasus. Diharapkan penemuan kasus HIV lebih banyak dari AIDS, sehingga kematian karena AIDS bisa dicegah dengan pemberian obat ARV sedini mungkin. Tersedianya Layanan VCT, CST pada RSUD Pandan Arang, RSUD Banyudono, RSUD Simoserta Klinik IMS Puskesmas Boyolali 1, Ampel 1, Ngemplak, Karanggede, Banyudono 1; serta tersedianya SDM yang telah dilatih VCT sebanyak 7 orang serta adanya dukungan penjangkauan oleh LSM
(SPEKHAM dan Peduli Kasih) dan dukungan dana hibah Global Fund for AIDS, penemuan kasus baru HIV semakin banyak.
0
20
40
60
80
100
2014
2015
51
46
22
26
21
12
KEMATIAN
AIDS
HIV
Bila dilihat dari grafik dibawah ini, proporsi penderita HIV/AIDS didominasi kaum laki-laki 65,75% perempuan 34,25%. Sedangkan penderita sipilis laki- laki 88,24% dan perempuan 11,76%.
65,75 34,25
PROPORSI PENDERITA HIV/AIDS MENURUT JENIS KELAMIN DI KABUPATEN BOYOLALI TAHUN
2015
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
88,24 11,76
PROPORSI PENDERITA SIFILIS [MS] MENURUT JENIS KELAMIN DI KABUPATEN BOYOLALI TAHUN
2015
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
GAMBAR 3.13
Bila dilihat dari golongan umur, sebagian besar penderita baik HIV-AIDS dan Sipilis didominasi pada usia produktif 25- 49 tahun.
c. P2 ISPA
Pada tahun 2015 perkiraan penderita pneumonia pada balita sebesar 9.597 balita sementara cakupan penderita pneumonia yang ditemukan dan ditangani sebesar 0,45% (45 kasus). Bila dibandingkan pada tahun sebelumnya tahun 2014 kasus menurun sebesar 1,1%.
Cakupan penemuan penderita pneumonia pada balita masih rendah, hal ini disebabkan karena belum semua kasus dilaporkan selain belum diterapkannya pendekatan MTBS sehingga dalam pendeteksian dini penderita pneumonia masih kurang sehingga penanganan yang dilakukan petugas sering terlambat/ kurang pasti.
d. P2 Diare
Pada tahun 2015 perkiraan penderita diare seluruh penduduk Kabupaten Boyolali sebesar 20.626 kasus sementara cakupan penemuan penderita yang ditangani sebesar 37,2% ( 7,672 kasus) . Bila dibandingkan tahun sebelumnya, tahun 2014 sebesar 51,7% mengalami penurunan. Rendahnya cakupan penemuan diare, antara lain disebabkan karena belum semua kasus diare dilaporkan baik dari Rumah Sakit Negeri/Swasta, laporan dokter praktek serta laporan dari kader.
Distribusi cakupan penemuan diare per Puskesmas dapat dilihat pada grafik dibawah ini :
0 0 0 0 3,97 5,6812,22 12,3717,13 21,4722,63 28,8334,07 34,5837,34 39,3939,64 48,9751,71 53,0953,89 57,3862,2 64,0472,69 77,29 88,9 108,87112,85 51,50 0 20 40 60 80 100 120 MUSUK IISAWIT II KARANGGEDE WONOSEGORO IIWONOSEGORO I TERAS ANDONG JUWANGISIMO BOYOLALI IINOGOSARI KEMUSU ICEPOGO SAWIT I AMPEL I KLEGO II SAMBI II NGEMPLAKSELO KLEGO I KEMUSU II BANYUDONO ISAMBI I BOYOLALI I MOJOSONGOMUSUK I AMPEL II BOYOLALI III BANYUDONO II KABUPATEN Gambar 3.15
CAKUPAN PENEMUAN DIARE YANG DITANGANI PER PUSKESMAS
DI KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2015
e. Kusta
Kabupaten Boyolali termasuk daerah Endemis rendah (LE) Kusta, angka penemuan kasus baru kusta tahun 2015 NCDR sebesar 1,2/100.000 penduduk (12 kasus), bila di banding pada tahun 2014 sebesar 2,4/100.000 penduduk mengalami penurunan. Kasus kusta yang ditemukan dominan jenis MB dibanding PB, pada golongan umur ≥15 tahun sementara proporsi laki-laki (66,67%) lebih banyak dibanding perempuan (33,33%). Angka cacat tingkat 2 sebesar 0/100.000 penduduk dengan Release From Treatment/RFT 90%.
Indonesia pada tahun 2000 dinyatakan Eliminasi Kusta dengan prevalensi <1/10.000 penduduk, demikian juga untuk Kabupaten
Boyolali tahun 2015 prevalensi kusta sebesar 0,12/10.000 penduduk. Namun demikian kegiatan case finding tetap dilakukan selain surveilans kasus.
f. Demam Berdarah Dengue (DBD)
Angka kesakitan (IR) dan angka kematian (CFR) DBD di Kabupaten Boyolali,target IR < 50/100.000 penduduk dan CFR < 2% adalah IR DBD pada tahun 2015 sebesar 50,2/100.000 penduduk (484 kasus), tahun 2014 sebesar 39,7/100.000 penduduk (381 kasus), sedangkan CFR DBD pada tahun 2015 sebesar 1,9% (9 orang) tahun 2014 sebesar 3,15% (12 orang). Insident Rate dan CFR per Puskesmas dapat dilihat pada grafik dibawah ini : 02 2 2 24 46 89 10 10 1011 1112 1315 19 19 1923 2635 35 3637 4163 484 0 100 200 300 400 500 600 WONOSEGOR… AMPEL II MUSUK II KLEGO II JUWANGI SELO SAMBI II WONOSEGOR…KEMUSU I KARANGGEDE MUSUK I SAWIT IISAMBI I KLEGO I ANDONG BOYOLALI IIISAWIT I KEMUSU II CEPOGO BOYOLALI IISIMO BOYOLALI I AMPEL I BANYUDONO I BANYUDONO II TERAS MOJOSONGO NOGOSARI NGEMPLAK KABUPATEN Gambar 3.16
INCIDENT RATE (IR) DBD PER PUSKESMAS KABUPATEN BOYOLALI
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1,59 2,442,7 7,69 10,53 10,53 1,9 0 2 4 6 8 10 12 SELO AMPEL I AMPEL IICEPOGO MUSUK I MUSUK II BOYOLALI I BOYOLALI IIITERAS SAWIT II BANYUDONO I BANYUDONO IISAMBI I SAMBI II KARANGGEDEKLEGO I KLEGO II ANDONG KEMUSU I KEMUSU II WONOSEGORO I WONOSEGORO II JUWANGI NGEMPLAKNOGOSARI MOJOSONGOSAWIT I BOYOLALI II SIMO KABUPATEN Gambar 3.17
ANGKA KEMATIAN (CFR) DBD PER PUSKESMAS DI KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2015
Pada tahun 2015 terjadi peningkatan kasus DBD , sedangkan kasus yang meninggal mengalami penurunan. Hal ini menunjukkan bahwa pengendalian vektor dalam memutus mata rantai penularan DBD perlu ditingkatkan, salah satu program intervensi yang dilaksanakan dengan peningkatan peran serta masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk, PJB serta abatisasi oleh kader, selain kegiatan fogging dalam upaya penanggulangan kasus.
50,62% 49,38%
Gambar 3.18
PROPORSI PENDERITA DBD MENURUT JENIS KELAMIN KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2015
Laki-laki Perempuan
g. Malaria
Kasus Malaria di Kabupaten Boyolali jarang ditemukan, laporan kasus yang ada berasal dari kasus import, penderita habis melakukan perjalanan dari luar jawa. Pada tahun 2015 dilaporkan tidak ada kasus malaria, dengan angka kesakitan (Annual Parasite Incidense/API sebesar 0/1000 penduduk.
1. Penyakit Tidak Menular ( PTM )
Ruang lingkup kegiatan P2TM sebagai berikut : a. Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah meliputi :
1)Angina Pektoris 2)Infark Miokard Akut 3)Dekompensasio kordis 4)Hipertensi
5)Stroke
b. Penyakit Diabetus Melitus meliputi: 1)DM tergantung insulin
c. Penyakit Kanker meliputi : 1)Kanker hati
2)Kanker Bronkus 3)Kanker Mammae 4)Kanker Cervic
d. Penyakit Kronik meliputi : 1)PPOK
2)Asma Bronkilae e. Kecelakaan Lalu Lintas
Upaya pengendalian deteksi dini faktor resiko PTM dilakukan melalui kegiatan Pos Pembinaan Terpadu (POSBINDU) Penyakit Tidak Menular/ PTM, dengan melibatkan peran aktif masyarakat untuk meningkatkan kemandirian masyarakat dalam deteksi dini faktor resiko PTM.
Data Penyakit Tidak Menular yang dilaporkan pada tahun 2015 sebanyak 25.600 kasus (2014 : 45.515 kasus ). Penyakit Tidak Menular yang dilaporkan terpilih 6 PTM yaitu Hipertensi, Diabetus Melitus,Asma Bronkiale, Stroke, PPOK dan kanker.
Jumlah kasus baru PTM terpilih sebagaimana pada diagram dibawah ini :
213 528 853 2629 6102 13704 0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000
KANKER PPOK STROKE ASMA
BRONCHIALE DM HIPERTENSI
Gambar 3.19
JUMLAH KASUS PTM TERBANYAK DI KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2015
0% 20% 40% 60% 80% 100% LAKI-LAKI PEREMPUAN 41,9 58,1 42,42 57,58 HIPERTENSI PENGUKURAN TD Gambar 3.20
PENGUKURAN TEKANAN DARAH PENDUDUK > 18 TAHUN PER JENIS KELAMIN DI KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2015
Bila dilihat dari grafik di atas, jumlah penduduk umur ≥ 18 tahun yang dilaporkan sebanyak 237.449 orang, proporsi pengukuran tekanan darah untuk laki-laki 41.9% sedangkan perempuan 58.1%. Proporsi hipertensi
penduduk laki-laki sebesar 42.42% penduduk perempuan sebesar 57.58%. Cakupan pengukuran tekanan darah sebesar 31.69% (237.449 orang), cakupan hipertensi sebesar 8,5% (20.408 orang).
0% 20% 40% 60% 80% 100% LAKI-LAKI PEREMPUAN 39,43 60,57 37,57 62,43
PEMERIKSAAN OBESITAS OBESITAS Gambar 3.21
PEMERIKSAAN OBESITAS PENDUDUK > 15 TAHUN PER JENIS KELAMIN DI KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2015
Bila dilihat dari grafik diatas, jumlah penduduk umur ≥ 15tahun yang dilaporkan sebanyak 326.477 orang, proporsi pemeriksaan obesitas penduduk laki-laki 39,43% sedangkan perempuan 60,57%. Proporsi obesitas untuk penduduk laki-laki sebanyak 37,57% penduduk perempuan sebanyak 62,43%. Sedangkan cakupan pemeriksaan obesitas sebesar 7,93% (25,905 orang), cakupan obesitas sebesar 6,63% (1,717 orang).
2. Penyakit yang dapat dicegah dengan Immunisasi ( PD3I )
Penyakit yang termasuk dalam PD3I antara lain yaitu Difteri, Pertusis, Tetanus Neonatorum, Campak, Hepatitis B dan Polio. Difteri
adalah infeksi akut yang disebabkan bakteri Corynebacterium diphteriae ditandai dengan pembentukan membran di kerongkongan dan aliran udara lainnya yang menyebabkan sulit bernapas. Pertusis adalah penyakit membran mukosa pernapasan dengan gejala demam ringan, bersin, hidung berair dan batuk kering. Tetanus adalah penyakit infeksi akut dan sering fatal yang mengenai sistem saraf yang disebabkan infeksi bakteri dari luka terbuka. Ditandai dengan kontraksi otot tetanik dan hiperrefleksi yang mengakibatkan trismus ( rahang terkunci ), spasme glotis, spasme otot umum, opistotonus, spasme respiratoris, serangan kejang dan paralisis. Tetanus Neonaturum adalah suatu bentuk tetanus infeksius yang berat dan terjadi selama beberapa hari pertama setelah lahir, disebaabkan oleh faktor – faktor seperti tindakan perawatan sisa tali pusat, yang tidak higienis, atau sirkulasi bayi laki – laki dan kekurangan imunisasi maternal.
Tahun 2015 di Kabupaten Boyolali tidak terdapat kasus diphteri, pertusis, tetanus neonatorum, polio maupun hepatitis B, namun terdapat kasus campak sebanyak 33 kasus ( 11 laki-laki dan 22 perempuan ) dengan Case Fatallty Rate / CFR 0%. Terdapat kenaikan kasus campak di bandingkan pada tahun 2014 sebanyak 11 kasus.
114,8 116,23 97,97 95 93,06 104,85 0 20 40 60 80 100 120 140 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Gambar 3.22
PERBANDINGAN JUMLAH KASUS CAMPAK DI KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2011-2015
Adapun kasus campak di Kabupaten Boyolali dilaporkan oleh Puskesmas Selo, Ampel II, Boyolali III, Teras, Sawit II dan Ngemplak, Nogosari dan Kemusu 2. Kasus campak terbanyak dilaporkan oleh Puskesmas Sawit 2 yaitu 9 kasus.
C. STATUS GIZI MASYARAKAT
1. Persentase Berat Bayi Lahir Rendah ( BBLR )
Bayi berat lahir rendah merupakan kondisi bayi dengan komplikasi. Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasi. Data BBLR tahun 2015 Kabupaten Boyolali, di laporkan jumlah BBLR sebanyak 382 kasus atau 2,4% dari total 15.913 bayi lahir yang di timbang. Tahun 2014 dilaporkan 241 kasus atau 1,7% dari total 14.378 bayi lahir yang ditimbang. Dari data diatas maka terdapat kenaikan kasus BBLR dibanding tahun 2014.
114,8 1,8 1,96 1,54 1,7 2,4 -40 -20 0 20 40 60 80 100 120 140 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Gambar 3.23 PERSENTASE KASUS BBLR