• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

31

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1.1. Pelaksanaan Tindakan

1.1.1. Deskripsi Kondisi Pra Siklus

Sebelum siklus 1 dan siklus 2 dilaksanakan, peneliti terlebih melakukan observasi dengan tujuan untuk mengetahui hasil belajar dan motivasi belajar siswa SDN Salatiga 01. Maka peneliti memberikan angket untuk mengetahaui motivasi belajar siswa kelas 4 SDN Salatiga 01, angket yang disebarkan sebanyak 20 item peneliti ingin melihat motivasi belajar siswa mata palajaran IPA.

Berdasarkan pengamatan hasil belajar dan motivasi belajar siswa kelas 4 SD Negri Salatiga 01 pada semester 2 tahun Pelajaran 2012/2013 masih banyak siswa yang kurang aktif, tidak memperhatikan guru pada saat pembelajaran dalam mengikuti proses pembelajaran khususnya mata pelajaran IPA “pada materi Kenampakan pada bumi dan kenampakan pada benda langit”. Pembelajaran yang dilakukan guru cendrung mentransfer ilmu pada siswa, guru lebih aktif dari pada siswa, sehingga siswa menjadi pasif, cenderung bosan dan malas mengerjakan PR. Melihat kondisi pembelajaran yang monoton, suasana pembelajaran yang, berdampak pada kekurang aktifan siswa kelas 4 dalam menerima materi pada mata pelajaran IPA semester 2.

Nilai ulangan harian pelajaran IPA masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimum sedangkan KKM yang ditentukan (70) masih ada siswa yang dibawah KKM yaitu 50. Hasil belajar IPA pra siklus dapat dilihat pada tabel 4.1.

(2)

Tabel 4.1

Hasil belajar IPA Pra Siklus Siswa kelas 4 Semester 2 SDN salatiga 01

Ketuntasan Frekuensi Persentase

Tuntas 27 58,70% Tidak tuntas 19 42 % Jumlah siswa 46 100% Maximum 95 Minimum 50 Rata-rata 74,89

Dari tabel 4.1. dapat diketahaui bahwa dari 46 siswa yang mengikuti ulangan harian pembelajaran IPA terdapat 27 siswa mampu mencapai KKM dengan nilai rata-rata kelas 74,89. dan 19 siswa (42%) masih berada dibawah KKM nilai tertinggi yang dicapai siswa adalah 95 dan nilai terendah 50. Hasil belajar pra siklus dapat dilihat pada gambar diagram 4.1.

Gambar .4.1

Diagram hasil belajar pra siklus Siswa kelas 4 Semester 2 SDN salatiga 01

Dari gambar diagram batang 4.1. dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa pra siklus yang tuntas 100% dan yang tidak tuntas 42%.

Motivasi Siswa

Penelitian dilakukan dikelas 4 SD Negeri Salatiga 01 pada semester 2 tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 46 siswa pelajaran

tidak tuntas tuntas

tidak tuntas 42% tuntas 58.70% 0.00% 20.00% 40.00% 60.00% 80.00% Axis T itle

(3)

IPA. Sebelum melaksanakan tindakan untuk mengetahaui kondisi awal kelas tentang motivasi belajar, maka peneliti menyebarkan angket kepada siswa kelas 4 Terliha motivasi belajar IPA. Berikut hasil motivasi belajar IPA pra siklus dapat dilihat pada tabel 4.1.

Tabel 4.2

Hasil Angket Motivasi Belajar Pra Siklus

Kategori Rentan nilai Frekuensi persentase

Sangat Tinggi 66-80 19 41,30 %

Tinggi 51-65 26 56,52 %

Sedang 36-50 3 6,52 %

Rendah 20-35 0 0 %

Jumlah 46 100%

Dari tabel 4.2 dapat diketahaui motivasi belajar siswa dideskripsikan bahwa siswa yang memiliki motivasi sangat tinggi ada 19 anak (41,30 %), siswa yang memiliki motivasi tinggi ada 26 anak (56,52 % ), siswa yang memiliki motivasi sedang ada 3 anak (6,52 %), sedangkan siswa yang memiliki motivasi rendah tidak ada atau 0 (%). Hasil motivasi belajar pra siklus dapat dilihat pada gambar 4.2

Gambar 4.2

Digram Hasil Motivasi Pra Siklus siswa kelas 4

80-100 60-80 40-60 20-40

41.30% 56.52%

2.17% 0%

(4)

Dari diagram batang 4.2. Dapat diketahaui hasil motivasi belajar siswa sangat tinggi (ST) ada 41,30%, tinggi (T) 56,52%, sedang (S) 2,17%, dan rendah (R) 0%, jadi motivasi belajar siswa lebih banyak setuju.

4.1.2. Siklus 1

1. Rencana Tindakan

Perencanaan pembelajaran difokuskan pada permasalahan yang ditemukan pada kondisi awal. Dalam hal ini peneliti menyusun strategi, memilih metode dan media yang sesuai dengan pembelajaran dengan tujuan siswa menjadi lebih aktif mengikuti pembelajaran.

Pembelajaran siklus 1 dilaksanakan sebanyak 2 pertemuan pembelajaran dengan alokasi waktu masing-masing pertemuan 2 x 35 menit pada Standar Kompetensi menggunakan memahami perubahan kenampakan permukaan bumi indikator: menyebutkan unsur-unsur muka bumi, mendeskripsikan perubahan kenampakan pada bumi, menyebut unsur-unsur yang dapat mengubah muka bumi, menyebutkan dampak yang ditimbulkan akibat perubahan kenampakan bumi, mengusulkan cara mengatasi perubahan kenampakan bumi, menyebutkan gerakan yang dilakukan bulan, menyebutkan arah rotasi bulan, menjelaskan akibat lama waktu rotasi dan revolusi bulan yang sama, menjelaskan akibat rotasi bulan, menyebutkan arah revolusi bulan, menjelaskan akibat revolusi bulan.

Adapun instrumen yang telah disiapkan dalam pembelajaran siklus 1 adalah: (1) Menyusun perangkat pembelajaran, (2) Memilih model pembelajaran kooperative teknik Jigsaw dan media konkret (3) Menyusun lembar observasi sebagai panduan bagi observer terdiri dari lembar observasi kegiatan siswa dan lembar observasi kegiatan guru (4) Menyusun lembar kerja siswa (5) menyusun angket motivasi siswa (6) Menyusun alat penilaian hasil belajar siswa.

(5)

2. Pelaksanaan Tindakan

Pada pelaksanaan tindakan pada siklus 1 ini, guru mengawali pembelajaran dengan menyiapkan kondisi kelas, melaksanakan langkah-langkah pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun. pada kegiatan awal guru melakukan apersepsi, memotivasi siswa dan menyampaikan tujuan pembelajaran.

Pada kegiatan awal pembelajaran guru melaksanakan salam pembuka, do’a, mengabsen siswa. Pada kegiatan inti pembelajaran guru mengarahkan kepada siswa pembagian kelompok yang dimulai pembagian kelompok asal kemudian pembagian kelompok ahli yang terdiri dari 6 tim asal dan untuk membentuk kelompok ahli diambil 1 setiap perwakilan dari kelompok asal, guru memberikan LKS kepada masing-masing kelompok siswa untuk di diskusikan bersama kelompoknya. Masing-masing kelompok mendapatkan materi yang berbeda-beda memastikan bahwa setiap kelompok siswa memiliki LKS pegangan dan menjelasan materi, membagikan lembar kerja siswa kepada masing-masing kelompok serta menjelaskan petunjuk mengerjakan lembar kerja. Proses pembentukan kelompok berlangsung lama, dikarenakan siswa belum terbiasa untuk belajar membentuk kelompok karena siswa terbiasa membentuk kelompok sendiri. Proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperative

teknik Jigsaw yang dilaksanakan oleh guru ternyata belum mampu

mengefektifkan kegiatan belajar siswa Terlebih lagi pada saat siswa diskusi kelompok dikelas masih ada siswa yang terbatas dalam pembimbingannya.

Guru membagikan lembar kerja siswa untuk mengaktifkan kegiatan belajar dalam kelompok. Kerjasama dalam kelompok kurang terjalin dengan baik karena masih terdapat anggota kelompok yang pasif atau bahkan cenderung bekerja sendiri, tetapi kegiatan tanya jawab antara guru dan siswa berlangsung lebih aktif. Kegiatan pembimbingan terhadap

(6)

kelompok selalu dilakukan oleh guru, tetapi banyaknya kelompok dalam kelas menyebabkan pembimbingan kurang merata. Selain itu aspek pengelolaan waktu cenderung lebih lama dari alokasi waktu yang ditentukan sehingga menyebabkan kegiatan presentasi kelompok waktunya dipercepat agar semua kelompok bisa persentasi semua.

Pada kegiatan akhir di pertemuan 2, guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran dan melaksanakan penilaian tertulis kepada siswa dengan membagikan soal. Dari analisis hasil tes formatif pada pertemuan 2 ini guru selanjutnya memberikan tindak lanjut kepada siswa dengan meminta siswa untuk tetap.

3. Hasil Tindakan

Pelaksanaaan tindakan siklus 1 sebanyak 2 pertemuan pertemuan 1 pada hari kamis 16 April 2013, pertemuan 2 pada hari jumat, 19 april 2013. Pada pertemuan ke 2 ini dilaksanakan tes melihat hasil belajar siswa. Untuk melihat hasil belajar siswa siklus 1 dapat dilihat pada tabel 4.3.

Tabel 4.3

Hasil belajar siklus 1

Siswa Kelas 4 Semester 2 SD Negri salatiga 01 Ketuntasan Frekuensi persentase (%)

Tuntas 36 79% Tindakan tuntas 10 22% Jumlah siswa 46 100% Maxsimum 100 Minimum 60 Rata-rata kelas 76,80

Dari tabel 4.3. dapat diketahui bahwa setelah dilaksanakan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperative teknik Jigsaw, dari 46 siswa yang mengikuti evaluasi terlibat semua dalam pembelajaran terdapat 46 siswa (79 %) mampu mencapai KKM (70) dan 10 siswa (22%) masih berada

(7)

dibawah KKM. Nilai tertinggi yang dicapai siswa adalah 100 dan nilai terendah 60 dengan nilai rata-rata kelas adalah 75, 86. Hasil belajar siswa siklus 1 dapat dilihat pada gamabr 4.3.

Gambar 4.3

Diagram Hasil Belajar Siklus 1

Berdasarkan diagram batang 4.3. dapat diketahui bahwa setelah penerapan model pembelajaran kooperative teknik Jigsaw, dari 46 siswa kelas 4 terdapat 10 siswa tidak tuntas belajar (22%) dan siswa yang tuntas 36 siswa (79%). Standar KKM pelajaran IPA di SD Negeri Salatiga 01 yaitu 70.

Motivasi belajar siswa SDN Salatiga 01 pada Siklus 1

Pada siklus 1 ini untuk mengukur tingkat motivasi belajar siswa terdapat pada pelajaran IPA, maka peneliti menyebarkan angket setelah pembelajaran selesai untuk melihat hasil motivasi belajar siswa siklus 1 pada pelajaran IPA. Hasil motivasi belajar IPA dapat dilihat pada tabel 4.4.

Tabel 4.4

Motivasi Belajar Siklus 1

Kategori Rentan nilai Frekuensi Persentase

Sangat Tinggi 66-80 23 50% Tinggi 51-65 20 43,47% Sedang 36-50 1 2.17% Rendah 20-35 0 0% Jumlah 46 100% 22% 79%

tidak tuntas tuntas

(8)

Dari tabel 4.4 dapat diketahui motivasi belajar siswa dapat dideskripsikan bahwa siswa yang memiliki motivasi sangat tinggi ada 23 anak (50%), siswa yang memiliki motivasi tinggi ada 20 anak (43,47% ), siswa yang memiliki motivasi sedang ada 1 anak (2.17% ), sedangkan siswa yang memiliki motivasi rendah tidak ada atau 0 (%). Untuk melihat hasil presentase motivasi belajar siklus 1 dapat dilihat pada gamar 4.4.

Gambar 4.4

Diagram Hasil Motivasi Belajar Siswa siklus 1

Dari diagram batang 4.4. dapat diketahui bahwa presentase motivasi belajar siswa kategori sangat tinggi (ST) 50%, kategori tinggi (T) 4347%, kategori sedang (S) 6,52%, dan kategori rendah (R) 0%. 4. Refleksi

Setelah proses pembelajaran selesai peneliti dan guru kelas melakukan refleksi. Peneliti dan guru kelas mendiskusikan hasil pembelajaran siklus 1 dan mendiskusikan aspek-aspek yang perlu ditingkatkan pada pembelajaran Siklus 2. Membandingkan hasil belajar prasiklus dan siklus 1 serta kelebihan dan kekurangan yang ditemukan dalam pembelajaran siklus 1.

Setelah pembelajaran siklus 1, ada peningkatan hasil belajar siswa dibandingkan hasil prasiklus. Siswa yang tuntas pada saat pra siklus adalah 27siswa (58,70%) pada siklus 1 menjadi 36 siswa (65%). Sedangkan siswa yang belum tuntas dibawah KKM pada waktu pra siklus adalah 19 siswa (42%), pada siklus 1 menjadi 10 siswa (22%). Nilai tertinggi siswa meningkat dari 95 menjadi 100, meskipun masih ada nilai terendah 60.

80-100 60-80 40-60 20-40

50% 43.47%

6.52% 0%

(9)

Nilai rata-rata juga terjadi peningkatan pada siklus 1, dari 70 menjadi 75. Peningkatan ketuntasan belajar dari pra siklus ke siklus 1 adalah dari 27 menjadi 36 atau sebesar 78%. Nilai rata-rata kelas telah memenuhi indikator kinerja yaitu 70, namun demikian pencapaian ketuntasan belajar belum memenuhi indikator keberhasilan yang diharapkan. Ketuntasan belajar sudah meencapai indikator kinerja (>70%) karena sebagian ada siswa yang sudah mencapai KKM yang ditentukan.

Disamping itu, berdasarkan data yang diperoleh dari lembar pengamatan masih terdapat kekurangan selama pembelajaran siklus 1 antara lain sebagai berikut :

Guru :

1) Proses penyampaian materi berjalan lancar guru hanya menerang poko-poko materi kemudian siswa dibagi dalam kelompok.

2) Guru sudah memotivasi siswa dalam pembelajaran, tetapi masih belum merata disemua kelompok.

3) Guru sudah menerapkan model pembelajaran kooperative teknik

Jigsaw.

4) Pemanfaatan media pembelajaran melaksanakan dengan baik sesuai dengan teknik jigsaw.

5) Dalam melaksanakan evaluasi, guru sudah mengkondisikan siswa agar tidak ramai yaitu dengan membagikan lembar LKS kepada setiap siswa dan siswa disuruh diskusi guru membimbing siswa dalam berdisskusi.

Siswa :

1) Sebagian siswa sudah memperhatikan penjelasan guru 2) Siswa kurang aktif dalam pelaksanaan teknik Jigsaw 3) Masih ada beberapa siswa yang pasif

4) Sudah ada siswa yang berani mengeluarkan berpendapat pada saat melaksanakan teknik Jigsaw

(10)

5) Kerjasama masih kurang terjalin, siswa masih ada suka mengerjakan sendiri.

Tindak Lanjut

1. Guru lebih meningkatkan persiapan dalam pemelajaran 2. Memaksimalkan pembelajaran mengunakan teknik Jigsaw 3. Selalu memberikan motivasi kepada siswa

Idenfikasikan

Dari 46 siswa terdapat 10 siswa yang belum memenuhi batas tuntas pada dua pertemuan siklus pertama seluruh siswa memenuhi batas tuntas pada siklus kedua pertemuan ke empat meningkatkan kerja sama ke siswa mengenai kesepakatan tentang teknik jigsaw, pada siklus 1 ini, dapat disimpulkan hasil belajar siswa SDN Salatiga 01 meningkat dengan menggunakan teknik jigsaw dalam kopetensi memahami perubahan kenampakan perubahan bumi dan benda langit.

4.1.3. Siklus II

1. Rencana Tindakan

Perencanaan pembelajaran difokuskan pada permasalahan yang ditemukan pada siklus 1. Dalam hal ini peneliti menyusun dan memperbaiki strategi, menyusun kembali model pembelajaran kooperative

teknik Jigsaw lebih sistematis dan dapat dilaksanakan dengan baik.

Pembelajaran siklus 2 dilaksanakan sebanyak 2 pertemuan dengan alokasi waktu masing-masing pertemuan 2 x 35 menit pada Standar Kompetensi memahami perubahan kenampakan permukaan bumi dan kenampakan pada langit, Kompetensi Dasar (1) mendeskripsikan posisi bulan dan dan kenampakan bumi dari ke hari, indikator: menyebutkan unsur-unsur muka bumi, mendeskrifsikan perubahan kenampakan bumi, menyebutkan unsur-unsur yang dapat mengubah muka bumi, menyebutkan dampak yang ditimbulkan akibat perubahan perubahan kenampakan bumi, mengusulkan

(11)

gerakangerakan dilakukan bulan, menunjukkan arah rotasi bulan, menjelaskan akibat rotasi bulan, menjelaskan akibat revolusi bulan.

Adapun instrumen yang telah disiapkan dalam pembelajaran siklus 2 adalah: (1) Menyiapkan perangkat pembelajaran, (2) Memperbaiki langkah-langkah model pembelajaran kooperative teknik Jigsaw (3) Menyiapkan lembar observasi sebagai panduan bagi observer terdiri dari lembar observasi kegiatan siswa, lembar observasi kegiatan guru dan angket motivasi (4) Menyiapkan lembar kerja siswa (5) Menyiapkan soal evaluasi siswa untuk mengukur keberhasilan siswa.

2. Pelaksanaan Tindakan

Pada pelaksanaan tindakan pada siklus 2, guru mengawali pembelajaran dengan menyiapkan kondisi kelas, mengatur pola tempat duduk siswa dalam bentuk diskusi kelompok siswa, melaksanakan langkah-langkah pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun. pada kegiatan awal guru melakukan apersepsi berupa pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari, memotivasi siswa agar lebih berani dan mempersiapkan untuk menerimaa pembelajaran dari guru dan berani menjawab pertanyaan dari LKS yang sudah disediakan.

Pada kegiatan inti pembelajaran diawali dengan membagi kelas menjadi 6 kelompok, pertama pembagian kelompok asal kemudian dilanjutkan kelompok ahli dimana kelompok ahli ini ambil dari kelompok asal setiap kelompok diambil satu orang untuk membentuk kelompok ahli, dan pembagian LKS. Pada siklus 2 ini siswa sudah bisa menyesuaikan dirinya pada kelompok masing-masing. Memastikan bahwa setiap kelompok memiliki LKS. Selanjutnya penjelasan materi oleh guru, membagikan LKS setiap kelompok mendapatkn materi yang berbeda-beda dan guru melaksanakan bimbingan jika diperlukan siswa. Pada akhir diskusi guru memanggil anggota kelompok mempresentasikan jawaban dari LKS. Proses pembentukan kelompok dapat dilaksanakan dengan

(12)

cepat karena pola tempat duduk telah diatur dalam pola diskusi kelompok sehingga tidak terjadi keributan di kelas dan kelompok ahli membentuk kelompok yang akan bertemua pada kelompok ahli membahas materi yang berbeda-beda dari kelompok asal dan setelah diskusi di kelompok ahli akan kembali lagi pada kelompok asal yang akan menjelaskan materi yang didiskusikan pada kelompok ahli .

Proses model pembelajaran kooperative teknik Jigsaw yang dilaksanakan oleh guru ternyata telah mampu mengefektifkan kegiatan belajar siswa. Terlebih lagi pemanfaatan LKS diskusi sehingga mencukupi kelompok untuk memanfaatkannya. Dengan bimbingan guru siswa menjadi aktif untuk mengerjakan tugas kelompoknya.

Kerjasama dalam kelompok lebih terjalin karena guru memotivasi siswa untuk mencoba bekerja sama dalam kelompok. Dengan demikian telah terjadi kegiatan tanya jawab antara guru dan siswa lebih aktif. Pada akhir diskusi guru telah memberikan motivasi dan arahan kepada siswa agar menunjuk perwakilan kelompok untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok depan kelas.

Pada kegiatan akhir pertemuan ke 2, guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran dan melaksanakan penilaian tertulis kepada siswa dengan membagikan soal dan angket motivasi belajar, untuk mengetahaui sejauh mana keberhasil siswa mengenai materi yang telah dipelajari dan melihat hasil motivasi siswa selama mengikuti proses pembelajaran teknik jigsaw.

3. Hasil Tindakan

Hasil tindakan pembelajaran siklus 2 dapat dilihat dari hasil tes yang dilaksanakan pada akhir siklus. Hasil belajar siklus 2 dapat disajikan pada tabel 4.5.

(13)

Tabel 4.5

Hasil Belajar Siswa Siklus II

Ketuntasan Frekuensi Persentase(%)

Tuntas 46 100%

Jumlah siswa 46 100%

Maxsimum 100

Minimum 70

Rata-rata kelas 81,84

Berdasarkan tabel 4.5 hasil belajar siswa siklus 2 dari 46 siswa kelas 4 yang mengikuti pembelajaran, di siklus 2 dengan menerapkan pembelajaran

kooperative teknik Jigsaw, terdapat 46 siswa dinyatakan tuntas (100%) nilai

yang tertinggi yang diperoleh siswa 100 dan nilai yang rendah 70 dengan rata-rata kelas 81,84. Hasil belajar siswa dapat dilihat pada diagram 4.5.

Diagram 4.5

Hasil Belajar Siswa Siklus 2

Dari diagram 4.7. dapat diketahui hasil belajar siklus 2 siswa kelas 4 SDN Salatiga 01 46 siswa, mengikuti pembelajaran IPA siklus 2 dengan menerapak model pembelajaran Teknik Jigsaw sudah memenuhi KKM keberhasilan seluruh siswa tuntas 100% dan yang tidak tuntas (0%).

46

100%

frekuensi tuntas

(14)

Motivasi Siswa Pada Siklus 2

Mengetahui motivasi belajar siswa siklus 2 akan dibagikan angket pada ahkir pembelajaran untuk melihat apakah ada peningkatan motivasi belajar IPA, siswa dari pra siklus, siklus 1 sampai siklus 2 motivasi siswa mengalami peningkatan. Hasil motivasi belajar siswa dapat disajikan pada tabel 4.6. Data Temuan Pelaksanaan Tindakan Siklus 2 Angket Motivasi

Tabel 4.6

Hasil Motivasi Belajar Siklus 2 Kategori Rentan Nilai Frekuensi persentase Sangat Tinggi 66-80 31 67, 39 % Tinggi 51-65 15 32,60% Sedang 36-50 0 0 % Rendah 20-35 0 0 % Jumlah 46 100%

Dari tabel 4.6. dapat diketahaui hasil motivasi siswa siklus 2 dapat dideskripsikan bahwa siswa yang memiliki motivasi sangat tinggi ada 31 anak (67,39 %), siswa yang memiliki motivasi tinggi ada 15 anak (32, 60 % ), siswa yang memiliki motivasi sedang 0 (0%) dan yang memiliki motivasi rendah juga 0 (%). Hasil persentase motivasi belajar siklus 2 dapat dilihat pada gambar 4.6.

Gambar 4.6

Hasil Motivasi Belajar Siswa Siklus 1

80-100 60-80 40-60 20-40

67.39%

32.60%

0% 0%

(15)

Dari diagram batang 4.6. dapat diketahui motivasi belajar siswa yang memilih kategori sangat tinggi (ST) 67,39%, kategori tinggi (T) 32,60%, kategori sedang (S) 0%, dan kategori rendah (R) juga 0% .

4. Refleksi

Setelah proses pembelajaran selesai peneliti melakukan refleksi. Peneliti pembelajaran hasil belajar siklus 2 dengan membandingkan hasil belajar siklus 1 dan siklus 2 serta kelebihan dan kekurangan yang ditemukan dalam pembelajaran siklus 2.

Hasil pembelajaran pada siklus 2 dapat diketahui bahwa nilai rata-rata kelas meningkat dari 76,80 menjadi 81,84. Tingkat ketuntasan belajar meningkat dari 36 siswa (79%) menjadi 46 siswa (100%) tuntas belajar.

Berdasarkan data di atas, terlihat bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran kooperative teknik Jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar siswa pelajaran IPA materi kenampakan pada langit . Pada siklus ke 2 indikator kinerja, baik nilai rata-rata kelas maupun ketuntasan belajar telah terpenuhi. Yaitu nilai rata-rata kelas adalah 81,84 (>70) dan ketuntasan belajar 100% (>70%).

1.2. Hasil Analisis Data

Berdasarkan hasil tindakan dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA di kelas 4 SD Negeri Salatiga 01 Semester 2 tahun pelajaran 2012 / 2013. Perbandingan hasil belajar siswa dapat disajikan pada tabel 4.7.

Tabel 4.7

Perbandingan Hasil Belajar Siswa dari Pra Siklus, Siklus 1 dan Siklus 2

Ketuntasa Pra siklus Siklus 1 Siklus 2

F % F % F % Tuntas 27 58% 36 79% 46 100% Tidak tuntas 19 42% 10 22% 0 0% Jumlah 46 100% 46 100% 46 100% Maxsimum 100 100 100 Minimum 60 60 70 Rata-rata 74,89 76,80 81,84

(16)

Dari tabel 4.7. Dapat dijelaskan bahwa perbandingan tingkat ketuntasan belajar siswa dari pra siklus sampai dengan siklus 2 mengalami peningkatan. Pada pra siklus siswa yang tuntas belajar adalah 27 siswa (58 %), pada siklus 1 menjadi 36 siswa (79%) dan pada siklus 2 menjadi 46 siswa (100%) tuntas belajar. Pada saat pra siklus terdapat 19 siswa (42%) belum tuntas, pada siklus 1 masih 10 siswa (24%) yang belum tuntas dan pada siklus 2 siswa tuntas (100%) Sudah memenuhi KKM. Nilai rata-rata siswa dari pra siklus ke siklus I juga mengalami peningkatan dari prasiklus 74,89 menjadi 76,80 pada siklus II meningkat menjadi 81,84. Jadi ada peningkatan hasil belajar siswa dari pra siklus ke siklus 1 dan siklus II selalu mengalami peningkatan hasil belajar. Hasil perbandingan belajar siswa dapat dilihat pada diagram 4.7.

Diagram 4.7

Perbandingan Hasil Belajar Pra Siklus, Siklus 1, Dan Siklus 2

Dari diagram 4.7 dapat dijelaskan ketuntasan belajar siswa pra siklus (58%), siklus 1 (79%), siklus 2 (100%).

Hasil Perbandingan Motivasi Pra Siklus, Siklus 1, Dan Siklus 2

Hasil motivasi belajar siswa dari pra siklus, ke siklus 1, dan kemudian ke siklus 2 ada peningkatan hasil motivasi belajar siswa. Untuk melihat hasil peningkatan motivasi belajar siswa dapat dilihat pada tabel 4.8.

58% 79%

100%

pra siklus siklus 1 siklus 2

persentase ketuntasan belajar

siswa

(17)

Tabel 4.8

Perbandingan motivasi belajar siswa pra siklus, siklus 1 dan siklus 2 Pra siklus Rentan nilai Frekuensi Persentase Kategori Sangat

tinggi 41,30% 66-80 14 41,30% Sangat Tinggi 51-65 26 56,52% Tinggi 36-50 3 6,52% Sedang 20-35 0 0% Rendah

Rentan nilai Frekuensi Persentase Kategori Sangat tinggi 50%

Siklus 1 66-80 23 50% Sangat Tinggi

51-65 20 43,47% Tinggi

36-50 1 2,17% Sedang

20-35 0 0% Rendah

Rentan nilai Frekuensi Persentase Kategori

Siklus 2 66-80 31 67,39% Sangat Tinggi Sangat

tinggi 67,39%

51-65 15 32,6% Tinggi

36-50 0 0% Sedang

20-35 0 0% Rendah

Dari tabel 4.8 dapat diketahui perbandingan motivasi belajar siswa dari pra siklus bahwa siswa yang memiliki motivasi kategori sangat tinggi 14 siswa (41,30%), yang memiliki motivasi kategori tinggi (T) 26, siswa 56,52%, siklus 1 siswa yang memiliki motivasi kategori sangat tinggi (ST) 23 siswa (50%), siswa yang memiliki motivasi tinggi (T) 20 siswa 43,47% , siklus 2 siswa yang memiliki motivasi kategori sangat tinggi (ST) 31 siswa (67,39%), siswa yang memiliki motivasi kategori tinggi 15 siswa 32,6%. dari pra siklus, siklus 1, dan siklus 2 motivasi siswa meningkat. Hasil perbandingan motivasi belajar siswa dapat dilihat pada gambar 4.8.

41.30% 50%

67.39%

pra siklus tinggi siklus 1 sangat tinggi siklus 2 sangat tinggi

perbandingan setiap siklus

(18)

Gambar .4.8

Hasil Perbandingan Motivasi Belajar Pra Siklus , Siklus 1, Dan Siklus 2. Dari diagram batang 4.8 dapat diketahui bahwa perbandingan motivasi belajar siswa pra siklus kategori sangat tinggi 41.30%, siklus 1 kategori sangat tinggi 50%, siklus 2, kategori sangat tinggi 67,39%.

4.3. Pembahasan

Penggunaan metode pembelajaran kooperative teknik jigsaw dalam pembelajaran

Pembelajaran tindakan dalam penelitian ini berlangsung selama dua siklus tiap siklus 2 kali pertemuan.

Dilihat dari hasil belajar pra siklus siswa yang tuntas belajar sebanyak 27 siswa (58%), yang tidak tuntas belajar 19 siswa (42%), siklus 1 siswa yang tuntas belajar 36 siswa (79%), yang tidak tuntas belajar 10 siswa (22%), dan siklus II siswa yang tuntas belajar 46 siswa (100%), yang tidak tuntas belajar 0 siswa (0%).

Motivasi belajar siswa pada pra siklus kategori sangat tinggi 14 siswa 41,30%, kategori tinggi, 26 siswa 56,52%, siklus 1 motivasi belajar siswa kategori sangat tinggi 23 siswa 50%, kategori tinggi 20 siswa 34,47%, siklus II motivasi siswa kategori sangat tinggi 31 siswa 67,39%, kategori tinggi 15 siswa 32,6%.

Hasil belajar siswa mengalami peningkatan dan motivasi siswa juga mengalami peningkatan, dari pra siklus, siklus 1 dan siklus 2 ada peningkatan hasil belajar. Melalui model pembelajaran cooperative

learning teknik jigsaw ini terbukti bahwa hasil belajar siswa dan motivasi

belajar IPA siswa kelas 4 di SD Negeri Salatiga 01 mengalami peningkatan.

Model pembelajaran jigsaw dapat meningktkan hasil belajar siswa karena siswa lebih aktif belajar sendiri dari teman mereka dalam belajar kooperative dari pada guru. Jadi model pembelajaran jigsaw siswa bukan hanya menerima transferan dari guru, namun mereka berinisiatif untuk mencari sendiri dari materi yang mereka pelajari. Ibrahim dkk (2000).

(19)

Ibrahim dkk (2000) mengemukakan kelebihan jigsaw yaitu: menjalin mempererat hubungan yang lebih baik antar siswa, dapat mengembankan kemampuan akademis siswa da, siswa lebih banyak belajar dari teman mereka dari pada guru.

Model pembelajaran teknik jigsaw ini juga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa karena siswa termotivasi untuk memecahkan masalah sendiri dari materi yang dipelajari baik dorongan dari teman mereka maupun dari diri mereka sendiri.

Ratumanan (2002) menyatakan bahwa interaksi yang terjadi dalam bentuk kooperatif dapat memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa:

1. Model pembelajaran teknik jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar IPA karena siswa berinisiatif mencari sendiri bukan hanya menerima transferan dari guru.

2. Model pembelajaran teknik jigsaw dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar siswa karena model jigsaw ini mempunyai kelebihan.

Adapun kelebihanya yaitu:

a. Dapat mengembangkan kemampuan akademis siswa

b. Siswa lebih banyak belajar dari teman mereka dalam belajar kooperatif dari pada guru.

Referensi

Dokumen terkait

Penerapan teknologi tenaga surya untuk kebutuhan listrik daerah terpencil dapat dilakukan dengan berbagai macam sistem pembangkit listrik tenaga surya, seperti pembangkit

Engkau kembali jatuh di bawah salib karena kami semua lemah untuk setia berkomitmen pada kehendak Allah, Kami mohon tuntunlah langkah hidup kami supaya kami

Aktivitas guru dapat dilihat pada siklus III mendapat skor nilai 88 (baik) sedangkan pada aktivitas siswa pada siklus III yaitu sebesar skor nilai 83 (baik). Pada aktivitas

Pada penelitian ini diteliti pengaruh pemberian meloxicam pada tikus Wistar yang diberikan cyclophosphamide terhadap jumlah eritrosit, leukosit total, limfosit, neutrofil,

Pemberian asam humat dengan dosis 15 L/Ha pada tanaman padi yang disemprotkan langsung ke permukaan tanah menghasilkan produksi yang terbaik dibandingkan dengan kontrol. Penelitian

Era globalisasi merupakan sebuah era yang bergantung pada kemajuan teknologi akibat dari adanya perkembangan zaman (Pebriana et al., 2018). Perkembangan teknologi

Diantaranya adalah belum ada data terperinci di setiap tahun per kecamatan yang membantu untuk analisis kebutuhan penerimaan guru, maka munculah program “Pembuatan Database Masa

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbaikan manajemen pemotongan yang dilakukan melalui pemilihan sapi yang akan dipotong, penanganan ante dan post mortem yang baik