ABSTRAK
Dorongan seksual yang besar dapat mendorong seseorang untuk melakukan kejahatan seksual untuk memenuhi keinginannya. Secara umum, kejahatan seksual banyak terjadi di dunia, dan cenderung semakin meningkat kasus pertahunnya.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran bukti medis kasus kejahatan seksual. Penelitian ini dilakukan dengan melihat data sekunder dari rekam medis forensik klinik mengenai bukti medis korban kejahatan seksual yang diperiksa di Bagian Forensik RSUP Sanglah periode 2009 - 2013. Gambaran bukti medis yang diteliti yaitu usia korban, tanda kekerasan, tanda persetubuhan, waktu persetubuhan, dan akibat persetubuhan.
Terdapat 291 kasus yang termasuk kriteria inklusi dan diteliti. Dari penelitian ini didapat korban kejahatan seksual terbanyak berasal dari golongan remaja, yaitu sebanyak 175 kasus (60,1%). Sebanyak 193 kasus (66,3%) merupakan kasus persetubuhan lama, 76 kasus (26,1%) merupakan persetubuhan baru, 22 kasus (7,6%) tidak ditemukannya tanda persetubuhan. Dari pemeriksaan fisik korban ditemukan lebih banyak yang tidak menunjukkan adanya tanda kekerasan, yaitu 248 kasus (85,2%). Tanda persetubuhan yang paling banyak ditemukan adalah tanda penetrasi tanpa tanda ejakulasi yang positif, yaitu 227 kasus (78%). Waktu persetubuhan yang paling sering adalah persetubuhan lama, yaitu sebanyak 193 kasus (66,3%). Sebanyak 255 kasus (87,6%) tidak mengakibatkan gangguan terhadap kehidupan korban, 31 kasus (10,7%) korban mengalami kehamilan, dan 5 kasus (1,7%) korban mengalami gangguan psikiatri. Kata kunci: Kejahatan Seksual, Forensik, Bukti Medis
ABSTRACT
Sexuality represents one of the complex aspects of human experience, that if the sexual drive is dominant, it can encourage someone to commit a sexual crime to fulfill his wish. In general, many sexual crime happen in the world, and the case tends to increase annually.
This study was conducted to know the proportion of the medical evidence in sexual crime cases. This research was conducted by looking at secondary data from medical records of clinical forensic about medical evidence concerning victims of sexual crimes that are examined in Department of Forensic in Sanglah Public Hospital. The medical evidences that investigated are the age of the victim, the signs of violence, signs of intercourse, intercourse time, and the consequences of intercourse.
There are 291 cases included in this study. This study revealed victims of sexual crimes mostly come from teenagers, as many as 175 cases ( 60.1 % ). There are 193 (66.3%) of precede intercourse cases, 76 ( 26.1 % ) of recent intercourse cases, and 22 cases ( 7.6 % ) found no sign of promiscuity. From a physical examination found more victims did not show any signs of violence, about 248 cases ( 85.2 % ). The most common sign of intercourse are positive sign of penetration without ejaculation, 227 cases ( 78 % ). There are 255 cases ( 87.6 % ) that did not affect the victims, 31 cases ( 10.7 % ) of victims experienced pregnancy, and 5 cases ( 1.7 % ) of victims experienced post-rape syndrome. Keyword: Sexual crime, forensic, medical evidence
DAFTAR ISI
SAMPUL DALAM ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PENETAPAN PANITIA PENGUJI ... iii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS SKRIPSI ... iv
KATA PENGANTAR ... v
ABSTRAK ... vi
ABSTRACT ... vii
RINGKASAN ... viii
SUMMARY ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR GRAFIK ... xvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 2 1.3 Tujuan Penelitian ... 3 1.3.1 Tujuan Umum ... 3 1.3.2 Tujuan Khusus ... 3 1.4 Manfaat Penelitian ... 4
2.1 Konsep Umum Kejahatan Seksual ... 5
2.2 Gambaran Anatomi Genitalia Normal ... 9
2.3 Prosedur Pemeriksaan ... 13
BAB III KERANGKA BERPIKIR ... 15
BAB IV METODE PENELITIAN ... 16
4.1 Rancangan Penelitian ... 16
4.2 Subjek dan Sampel ... 16
4.2.1 Variabilitas Populasi ... 16 4.2.1.1 Populasi Target ... 16 4.2.1.2 Populasi Terjangkau ... 16 4.2.1.3 Populasi Penelitian ... 16 4.2.2 Kriteria Subjek ... 17 1.2.2.1 Kriteria Inklusi ... 17 1.2.2.2 Kriteria Eksklusi ... 17 4.3 Variabel ... 17 4.3.1 Identifikasi Variabel ... 17
4.3.2 Definisi Operasional Variabel ... 18
4.4 Bahan dan Instrumen Penelitian ... 19
4.5 Protokol Penelitian ... 19
4.5.1 Alur Penelitian ... 19
4.6 Analisis Data ... 20
4.7 Kelemahan Penelitian ... 20
BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 21
5.1 Proporsi Klasifikasi Usia ... 23
5.2 Proporsi Tanda Kekerasan ... 24
5.3 Proporsi Tanda Persetubuhan ... 26
5.4 Proporsi Waktu Persetubuhan ... 28
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN ... 31 6.1 Simpulan ... 31 6.2 Saran ... 32
DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Tanda Kekerasan fisik yang berupa luka robekan di kepala korban yang diperiksa di Bagian Forensik RSUP
Sanglah ... 8
Gambar 2.2 Genitalia eksternal wanita ... 9
Gambar 2.3 Foto genital normal dari seorang anak perempuan ... 10
Gambar 2.4 Contoh hymen varian semilunar ... 11
Gambar 2.5 Contoh hymen varian septate ... 11
Gambar 2.6 Contoh hymen varian cribriform ... 11
Gambar 2.7 Contoh hymen varian microperforate ... 12
Gambar 2.8 Contoh hymen varian heart-shaped ... 12
Gambar 2.9 Contoh hymen varian keyhole ... 12
Gambar 3.1 Kerangka berpikir ... 15
DAFTAR TABEL
Tabel 5.1 Kejahatan Seksual Pertahun ... 21
Tabel 5.2 Klasifikasi Usia Korban Kejahatan Seksual Pertahun ... 23
Tabel 5.3 Letak Tanda Kekerasan ... 24
Tabel 5.4 Tanda Persetubuhan berupa Tanda Penetrasi ... 26
Tabel 5.5 Tanda Persetubuhan berupa Tanda Ejakulasi ... 27
Tabel 5.6 Waktu Persetubuhan ... 29
DAFTAR GRAFIK
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keinginan seksual adalah salah satu aspek kompleks dari pengalaman manusia. Hal itu berkaitan dengan unsur kognitif, emosional, sensual, dan perilaku dari individu yang menjadi pola pengalaman pribadi yang unik yang berasal dari fantasi internal dan perilaku eksternal (Hazelwood et al,. 2009). Keinginan seksual juga didorong oleh aspek biologis, fisiologis, dan psikoseksual, yang jika terlalu besar dapat mendorong seseorang untuk melakukan kejahatan seksual untuk memenuhi keinginannya.
Secara umum, kejahatan seksual banyak terjadi di seluruh dunia, khususnya terhadap wanita. Diperkirakan sekitar 700.000 wanita mengalami kejahatan seksual tiap tahun di Amerika Serikat (Rao et al., 2005). Mayoritas korban kejahatan seksual adalah wanita, kebanyakan pelaku kejahatan seksual adalah laki-laki, dan sebagian besar korban mengenal atau bahkan dekat sekali hubungannya dengan pelaku. Tidak menutup kemungkinan, kejahatan seksual terhadap laki-laki juga dapat terjadi (WHO, 2003). Namun, sangat sulit untuk memastikan insiden kejahatan seksual karena memberikan laporan menjadi korban kejahatan seksual dan diketahui menjadi tidak perawan bagi wanita masih dianggap tabu oleh keluarga dan masyarakat, sehingga ada kecenderungan terjadi underreport dari kasus kejahatan seksual ini.
Di Indonesia, kasus kejahatan seksual terhadap anak mulai marak diberitakan. Menurut kutipan Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak,
Arist Merdeka Sirait, berdasarkan laporan kekerasan terhadap anak pada tahun 2011, 58% dari 2.509 kasus kekerasan merupakan kekerasan seksual. Dan pada tahun 2012 tercatat 2.637 kasus dimana 62% merupakan kasus kekerasan seksual. Data tersebut ditambah pada semester pertama 2013 tercatat sebanyak 1.824 kasus dengan 724 kasus diantaranya merupakan kekerasan seksual (Larasati, 2013).
Dengan banyaknya kasus kejahatan seksual dan adanya kecenderungan peningkatan kasus kejahatan seksual inilah, perlu diketahui berapa banyak kasus yang ada untuk melihat perkembangan kasus kejahatan seksual di Bali dan gambaran bukti medis kasus kejahatan seksual tersebut. Hasil penelitian ini nantinya dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk pemerintah dan dasar untuk penelitian selanjutnya.
1.2 Rumusan Masalah
1) Bagaimana proporsi usia korban kasus kejahatan seksual yang diperiksa di bagian Forensik RSUP Sanglah periode 2009 - 2013?
2) Bagaimana proporsi bukti medis yang berupa tanda kekerasan yang dialami korban kasus kejahatan seksual yang diperiksa di bagian Forensik RSUP Sanglah periode 2009 - 2013?
3) Bagaimana proporsi bukti medis tanda persetubuhan yang berupa tanda penetrasi dan tanda ejakulasi yang ditemukan pada korban kasus kejahatan seksual yang diperiksa di bagian Forensik RSUP Sanglah periode 2009 - 2013?
4) Bagaimana proporsi bukti medis waktu persetubuhan yang ditemukan pada korban kasus kejahatan seksual yang diperiksa di bagian Forensik RSUP Sanglah periode 2009 - 2013?
5) Bagaimana proporsi bukti medis akibat persetubuhan yang ditemukan pada korban kasus kejahatan seksual yang diperiksa di bagian Forensik RSUP Sanglah periode 2009 - 2013?
1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran bukti medis kasus kejahatan seksual yang diperiksa di bagian Forensik RSUP Sanglah periode 2009 - 2013.
1.3.2 Tujuan Khusus
1) Untuk mengetahui proporsi usia korban kasus kejahatan seksual yang diperiksa di bagian Forensik RSUP Sanglah periode 2009 - 2013.
2) Untuk mengetahui proporsi bukti medis yang berupa tanda kekerasan yang dialami korban kasus kejahatan seksual yang diperiksa di bagian Forensik RSUP Sanglah periode 2009 - 2013. 3) Untuk mengetahui bukti medis tanda persetubuhan yang berupa
tanda penetrasi dan tanda ejakulasi yang dialami korban kasus kejahatan seksual yang diperiksa di bagian Forensik RSUP Sanglah periode 2009 - 2013.
4) Untuk mengetahui proporsi bukti medis waktu persetubuhan yang ditemukan pada korban kasus kejahatan seksual yang diperiksa di bagian Forensik RSUP Sanglah periode 2009 - 2013.
5) Untuk mengetahui proporsi bukti medis akibat persetubuhan pada korban kasus kejahatan seksual yang diperiksa di bagian Forensik RSUP Sanglah periode 2009 – 2013.
1.4 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah:
1) Memberikan kontribusi informasi mengenai gambaran bukti medis kasus kejahatan seksual yang diperiksa di bagian Forensik RSUP Sanglah periode 2009 - 2013 yang dapat digunakan sebagai landasan untuk penelitian analitik selanjutnya.
2) Menambah keterampilan bagi peneliti dalam melakukan penelitian dan mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang didapat selama menjalani pendidikan.