Matematika Lanjut 2
SISTIM INFORMASI
FENI ANDRIANI
2
3
Metode Biseksi
•
Fungsi kontinu pada [a,b]
•
Akarnya x = p & p
[a,b]
•
Untuk setiap iterasi akan membagi 2 interval yang
memuat x = p dan berhenti bila mencapai suatu
bilangan yang berada dalam toleransi (ditetapkan)
•
Hanya ada 1 akar dalam [X
0,X
1] maka f(X
0)*f(X
1)
0
4
Metode Biseksi
(lanjutan)
• Bila f(X0)*f(X2) 0 maka akar p [X0,X2]
• Ulangi iterasi pada interval [X0,X1] yang baru (dalam hal ini [X0,X2])
• Pada kasus lainnya, yakni bila f(X0)*f(X2) > 0, maka akar p [X2,X1]
• Ulangi iterasi pada interval [X0,X1] yang baru (dalam hal ini [X2,X1])
5
Metode Biseksi
(lanjutan)
• Setelah dilakukan n kali iterasi biseksi, akan diperoleh interval yang lebarnya (½)n(X
1 – X0)
• Bila (½)n(X
1 – X0)<t maka akarnya berselisih kurang dari t
6
Metode Biseksi
(lanjutan)
• Bila diinginkan toleransi kesalahan lebih kecil dari t, maka diperlukan paling sedikit 2log(X
1 – X0) iterasi biseksi, kecuali
7
Algoritma Biseksi (1)
INPUT
X
0,X
1,F(X),T
WHILE
[(X
1– X
0)
T
OR
F(X
0)*F(X
1)
0]
DO
X
2= (X
0+ X
1)/2
IF
F(X
0)*F(X
2) >0
THEN
X
0= X
2ELSE
X
1= X
2ENDIF
ENDWHILE
8 IF F(X0)=0 THEN OUTPUT (X0) ELSE IF F(X1) = 0 THEN OUTPUT (X1) ELSE OUTPUT (X2) ENDIF
Algoritma Biseksi (2)
9
KEUNTUNGAN BISEKSI
•
Selalu berhasil menemukan akar
(solusi) yang dicari, atau dengan
10
KELEMAHAN BISEKSI
•
Bekerja
sangat lambat
. Tidak
memandang bahwa sebenarnya
akar atau solusi yang dicari telah
berada dekat sekali dengan X
0
11
METODE REGULA FALSI
• Salah satu alternatif untuk mempercepat perhitungan akar (solusi).
• Tetapkan interval awal [X0 ,X1] yang memuat akar (solusi).
• Hitung X2 (yang merupakan titik ujung interval baru) : titik potong garis lurus dari titik [X0,f(X0)] ke titik [X1,f(X1)] dengan sumbu X.
12
METODE REGULA FALSI
•
Persamaan garis lurus melalui titik
[X
0
,f(X
0
)] dan [X
1
,f(X
1
)], yaitu :
)
(
)
(
)
(
0
1
0
0
1
0
x
f
x
f
x
f
y
x
x
x
x
13
METODE REGULA FALSI
•
Garis tersebut berpotongan dengan sumbu X
Y = 0 dengan titik absisnya yaitu X
2,
sehingga diperoleh :
)
(
)
(
)
(
)
(
1
0
1
0
1
0
2
f
x
x
f
x
f
x
x
x
x
14
METODE REGULA FALSI
•
Penetapan interval baru:
bila F(X
0
)*F(X
2
) <0 maka intervalnya
menjadi
[X
0
, X
2
]
bila F(X
0
)*F(X
2
) >0 maka intervalnya
15
Metode Regula Falsi
• Pengulangan/iterasi mencari X2 dan interval baru dilakukan berdasarkan nilai toleransi atau bila akarnya belum ditemukan
• Sebaiknya nilai toleransi secara relatif mengacu pada : error aproksimasi
16
ALGORITMA REGULA FALSI
INPUT X0,X1,T,F(X), MAX I=0; FOUND = false
REPEAT I=I+1
X2 = X1 -(X1 - X0)*F(X1)/(F(X1)-F(X0)) IF F(X0)*F(X2)<0 THEN
17
ALGORITMA REGULA FALSI
ELSE X0 = X2 ENDIF IF (|(X2 - X1)/ X1|T OR I=MAX) THEN FOUND=true ENDIF UNTIL (FOUND=true) OUTPUT (X2)
18
KELEMAHAN REGULA FALSI
• Hanya salah satu titik ujung interval (X0 atau X1) yang bergerak menuju akar dan yang lainnya selalu tetap untuk setiap iterasi.
• Sehingga mungkin [X0, X1] masih cukup besar jaraknya bila menggunakan batas | X1 - X0| T padahal X0 X2 atau X1 X2
19
KELEMAHAN Regula falsi
hal tersebut dikenal dengan pendekatan error
mutlak.
diperbaiki dengan pendekatan Error relatif :
T
x
x
x
T
x
x
x
0 2 0 1 2 1atau
20
Metode Sekan
•
Disebut juga Metode Interpolasi Linear
•
Dalam prosesnya tidak dilakukan penjepitan akar
atau dpl.
[X
0, X
1] tidak harus mengandung akar yang akan
dicari.
•
Sehingga f(x
0) dan f(x
1) bisa bertanda sama
•
Untuk mencari X
2, sama dengan metode
21
Metode Sekan
(lanjutan)
•
Untuk iterasi berikutnya akan diperoleh interval
baru [X
0, X
1] dengan cara pergeseran: X
0 X
1,
X
1 X
2•
Iterasi berlangsung sampai batas maksimum
(Max.) atau sampai dipenuhinya batas Toleransi
(T):
| (X
1- X
2)/ X
1|≤ T
--- |
\/ Nilai kesalahan relatif
22
Metode Sekan
(lanjutan)
•
Proses Pencapaian Akar (Mtd. SEKAN)
23
Algoritma Sekan
•
INPUT
X0, X1, T, Max, F(x) • i = 0 • Found = false • REPEATi = i + 1
X
2= X
1– (X
1– X
0)*F(X
1)/(F(X
1) – F(X
0))
X
0= X
1X
1= X
224
Algoritma Sekan
(lanjutan)
IF | (X
0- X
1)/ X
0|≤ T OR
i = Max THEN
Found = true
ENDIF
•
UNTIL (Found = true)
26
METODE ITERASI TITIK TETAP
• Syaratnya:
• f(x) = 0 dapat diubah menjadi bentuk: x = g(x) (yang tidak unik)
• Cari akar dgn pertidaksamaan rekurens:
Xk+1 = g(Xk); untuk k = 0, 1, 2, 3, … dgn X0 asumsi awalnya, sehingga diperoleh barisan X0, X1, X2, X3, … yang diharapkan konvergen ke akarnya.
• Jika g’(x) ε *a, b+ dan g’(x) ≤ k dgn k< 1 Utk setiap x ε [a, b] , maka titik tetap tersebut tunggal dan
iterasinya akan konvergen menuju akar
27
METODE ITERASI TITIK TETAP (cont’d)
•
Dari bentuk x = g(x), berarti akar dari f(x) tak lain
adalah perpotongan antara garis lurus y = x dan
kurva y = g(x).
29
CONTOH KASUS
• CONTOH:
f(x) = x – e1/x ;
bentuk x = g(x), yaitu: f(x) = x – e1/x dapat ditulis: f(x) = 0
x – e1/x = 0 shg didapat x = g(x), antara lain:
a. x = e1/x
b. x = e1/x ln x = 1/x (ln e) x = 1/ln x
30
CONTOH KASUS
(lanjutan)
ambil x
0= 1.5
periksa kekonvergenan iterasi:
a.
g’(x) = - (1/x
2) e
1/x31
METODE NEWTON-RAPHSON
•
Waktu pencarian akarnya relatif lebih cepat
dibandingkan metode lainnya.
•
Memanfaatkan turunan fungsi f(x) pada suatu
titik P [x
1, f(x
1)]
•
Membuat garis singgung pada titik P tsb yg
memotong sumbu x didapat x
i+1•
Sampai ditemukan akarnya (sesuai batas
32
33
METODE NEWTON-RAPHSON
(lanjutan)
•
Persamaan garis singgung melalui
P [X
1, f(X
1)]
adalah: y – f(
X
1) = f ’(
X
1) . (X – X
1)
dgn f ’(
X
1) : gradien garis singgung
•
Persamaan tsb memotong sumbun x di titik (
X
2,
0) maka akan diperoleh:
0 - f(
X
1) = f’(
X
1). (X
2– X
1)
X
2.f’(
X
1) - X
1.f’(
X
1) = - f’(
X
1)
34
METODE NEWTON-RAPHSON
(lanjutan)
•
Secara Rekurens, persamaan tsb dinyatakan
menjadi:
X
i+1= X
i- f(
X
1)/ f’(
X
1)
Utk i = 1, 2, 3, …
SISTEM PERSAMAAN LINIER (SPL)
Bentuk umum :
dimana x
1, x
2, . . . , x
nvariabel tak diketahui, a
ij, b
i,
i = 1, 2, . . . , m; j = 1, 2, . . . , n bil. diketahui.
Ini adalah SPL dengan m persamaan dan n variabel.
SPL
Mempunyai penyelesaian disebut KONSISTEN
Tidak mempunyai penyelesaian disebut TIDAK KONSISTEN
TUNGGAL
ILUSTRASI GRAFIK
•
SPL 2 persamaan 2 variabel:
•
Masing-masing pers berupa garis lurus. Penyelesaiannya
adalah titik potong kedua garis ini.
PENYAJIAN SPL DALAM MATRIKS
SPL
BENTUK MATRIKS
STRATEGI MENYELESAIKAN SPL:
mengganti SPL lama menjadi SPL baru yang mempunyai
penyelesaian sama (ekuivalen) tetapi dalam bentuk yang
lebih sederhana.
TIGA OPERASI YANG MEMPERTAHANKAN
PENYELESAIAN SPL
SPL 1. Mengalikan suatu persamaan dengan konstanta tak nol. 2. Menukar posisi dua persamaan sebarang.
3. Menambahkan kelipatan suatu persamaan ke persamaan lainnya.
MATRIKS 1. Mengalikan suatu baris dengan konstanta tak nol. 2. Menukar posisi dua baris sebarang.
3. Menambahkan kelipatan suatu baris ke baris lainnya.
Ketiga operasi ini disebut OPERASI BARIS ELEMENTER (OBE)
SPL atau bentuk matriksnya diolah menjadi bentuk seder-
hana sehingga tercapai 1 elemen tak nol pada suatu baris
CONTOH
DIKETAHUI
kalikan pers (i) dengan (-2), kemu- dian tambahkan ke pers (ii).
kalikan baris (i) dengan (-2), lalu tambahkan ke baris (ii). …………(i) …………(ii) …………(iii)
kalikan pers (i) dengan (-3), kemu- dian tambahkan ke pers (iii).
kalikan baris (i) dengan (-3), lalu tambahkan ke baris (iii).
kalikan pers (ii) dengan (1/2).
kalikan baris (ii) dengan (1/2).
kalikan pers (iii)
dengan (-2). kalikan brs (iii) dengan (-2).
LANJUTAN CONTOH
kalikan pers (ii) dengan (1/2).
kalikan baris (ii) dengan (1/2).
kalikan pers (ii) dengan (-3), lalu tambahkan ke pers (iii). kalikan brs (ii) dengan (-3), lalu tambahkan ke brs (iii).
kalikan pers (ii) dengan (-1), lalu tambahkan ke pers (i). kalikan brs (ii) dengan (-1), lalu tambahkan ke brs (i).
Lanjutan CONTOH
kalikan pers (ii) dengan (-1), lalu tambahkan ke pers (i). kalikan brs (ii) dengan (-1), lalu tambahkan ke brs (i).
kalikan pers (iii) dengan (-11/2), lalu tambahkan ke pers (i) dan kalikan pers (ii) dg (7/2), lalu tambahkan ke pers (ii)
kalikan brs (iii) dengan (-11/2), lalu tambahkan ke brs (i) dan kalikan brs (ii) dg (7/2), lalu tambahkan ke brs (ii)
Diperoleh penyelesaian x = 1, y = 2, z = 3. Terdapat
kaitan menarik antara bentuk SPL dan representasi
matriksnya. Metoda ini berikutnya disebut dengan
METODA ELIMINASI GAUSS
.
BENTUK ECHELON-BARIS
Misalkan SPL disajikan dalam bentuk matriks berikut:
maka SPL ini mempunyai penyelesaian x = 1, y = 2, z = 3. Matriks ini disebut bentuk echelon-baris tereduksi.
Untuk dapat mencapai bentuk ini maka syaratnya adalah sbb: 1. Jika suatu brs matriks tidak nol semua maka elemen
tak nol pertama adalah 1. Brs ini disebut mempunyai leading 1. 2. Semua brs yg terdiri dari nol semua dikumpulkan di bagian bawah. 3. Leading 1 pada baris lebih atas posisinya lebih kiri daripada leading 1 baris berikut.
Bentuk echelon-baris dan echelon-baris tereduksi
Matriks yang memenuhi kondisi (1), (2), (3) disebut
bentuk
echelon-baris
.
CONTOH bentuk echelon-baris tereduksi:
Bentuk umum echelon-baris
Bentuk umum echelon-baris tereduksi
Penyelesaian SPL melalui bentuk echelon-baris
Misal diberikan bentuk matriks SPL sbb:
METODA GAUSS-JORDAN
Ide pada metoda eliminasi Gauss adalah
mengubah
matriks ke dalam bentuk
echelon-baris tereduksi
.
CONTOH: Diberikan SPL berikut.
-2B1 + B2B2 5B2+B3 B3 6 18 0 8 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 3 0 2 1 0 0 0 0 2 0 2 3 1 B4 B4+4B2 B3 ⇄ B4 B3 B3/3 -3B3+B2B2 2B2+B1B1
Akhirnya diperoleh:
Akhirnya, dengan mengambil x2:= r, x4:= s dan x5:= t maka diperoleh penyelesaian:
dimana r, s dan t bilangan real sebarang. Jadi SPL ini mempunyai tak berhingga banyak penyelesaian.
METODA SUBSTITUSI MUNDUR
Misalkan kita mempunyai SPL dalam matriks berikut:
Bentuk ini ekuivalen dengan:
LANGKAH 1: selesaikan variabel leading, yaitu x6. Diperoleh:
LANJUTAN SUBSTITUSI MUNDUR
LANGKAH 3: subtitusi baris 2 ke dalam baris 1, diperoleh:
LANGKAH 4: Karena semua persamaan sudah tersubstitusi maka peker-jaan substitusi selesai. Akhirnya dengan mengikuti langkah pada metoda Gauss-Jordan sebelumnya diperoleh:
Eliminasi Gaussian
Mengubah menjadi bentuk echelon-baris (tidak perlu direduksi), kemudian menggunakan substitusi mundur.
CONTOH: Selesaikan dengan metoda eliminasi Gaussian
PENYELESAIAN: Diperhatikan bentuk matriks SPL berikut:
54
SISTEM PERSAMAAN LINIER (SPL)
• Bila diketahui SPL dengan n persamaan dan n variabel, sebagai berikut :
a11x1 + a12x2 + … + a1nxn = a1(n+1) .. (1)
a21x1 + a22x2 + … + a2nxn = a2(n+1) .. (2)
:
an1x1 + an2x2 + … + annxn = an(n+1) .. (n)
55
Algoritma (pseudo code) IGS - 1
• Langkah ke-1 :
Tebak sebarang nilai awal untuk variabel x2, x3 , ... , xn . Namakan nilai awal tersebut x20, x
30, … , xn0.
• Langkah ke-2 :
Substitusikan x20, x
30, … , xn0 ke SPL (1) untuk memperoleh nilai x1
56
• Langkah ke-3 : Substitusikan x11, x
30, x40, … , xn0 ke SPL (2) untuk memperoleh nilai
x2lalu namakan dengan x21 .
• Langkah ke-4 :
Substitusikan x11, x
21, x40, x50, … , xn0 ke SPL (3) untuk memperoleh
nilai x3lalu namakan dengan x31 .
57
• Langkah ke-5 :
dan seterusnya, sampai diperoleh x11, x
21, x31 , … , xn-11 ,
selanjutnya substitusika ke SPL (n) untuk memperoleh nilai xnlalu namakan dengan xn1 .
( Iterasi ke-1 selesai dengan diperolehnya nilai : x11, x
21, x31, … , x n-11 , xn1 . )
58
• Langkah ke-6 :
Ulangi langkah ke-2 s/d ke-5 (substitusikan x21, x
31, … , xn1 ke SPL
(1) untuk memperoleh nilai x1lalu namakan dengan x12 ). Sampai
nanti diperoleh nilai x12, x
22 , x32, … , xn-12 , xn2 .
59
• Langkah ke-7 :
Iterasi berakhir pada iterasi ke-k, bila :
| xjk – x
jk+1 | < T
dengan T nilai toleransi kesalahan yang sudah ditetapkan sebelumnya.
60
Tingkat Konvergensinya
• Algoritma tersebut BELUM TENTU KONVERGEN !!!
• Syarat Konvergensi :
Matriks koefisiennya (A) harus bersifat DIAGONALLY DOMINANT
61
Matriks Diagonally Dominant
dengan
;
1
n
i
j
j
ij
ii
a
a
i
i
a
a
n
i
j
j
ij
ii
1
;
dan
62
Contoh Soal 1:
• Diketahui SPL sebagai berikut : 3x1 – 10x2 = 3 x1 + x2 = 2
• Carilah nilai x1 dan x2 dengan menggunakan metode iterasi Gauss-Seidel dengan Toleransinya 0,005 !
63
Jawab Contoh Soal 1 : (1)
•
Periksa tingkat konvergensinya.
Diperoleh bahwa :
|a
11|=3 ; |a
12|=10 ; |a
21|=1 ; |a
22|= 1
3
10
1
1
1
i
2 1 ; 1 1 11
untuk
a
a
j j j2
i
2 2 ; 1 2 22
untuk
a
a
j j j64
Jawab Contoh Soal 1 : (2)
• Jadi SPL tersebut TIDAK DIAGONALLY DOMINANT. Sehingga tidak akan konvergen bila dipecahkan dengan metode Iterasi
Gauss-Seidel.
• Untuk itu, ubah penyajian SPL nya menjadi : x1 + x2 = 2
3x1 – 10x2 = 3
Periksa tingkat
65
Jawab Contoh Soal 1 : (3)
•
Periksa tingkat konvergensinya.
Diperoleh bahwa :
|a
11|= 1 ; |a
12|= 1 ; |a
21|= 3 ; |a
22|= 10
1
1
10
3
1
i
2 1 ; 1 1 11
untuk
a
a
j j j2
i
2 2 ; 1 2 22
untuk
a
a
j j j66
Jawab Contoh Soal 1 : (4)
• Jadi SPL hasil perubahannya bersifat DIAGONALLY DOMINANT konvergen
• Selanjutnya jalankan algoritmanya terhadap SPL : !
x1 + x2 = 2 … (1)
67
Jawab Contoh Soal 1 : (5)
•
Iterasi ke-1 :
1. Tebak nilai awal
x
20= 0
2. Substitusikan x
20= 0 ke
SPL (1)
:
x
1+ x
2= 2 x
1+ 0 = 2 x
1= 2
didapat
x
11= 2
3. Substitusikan x
11= 2 ke
SPL
(2)
:
3x
1– 10x
2= 3 3.(2) – 10x
2= 3
6 – 10x
2= 3 x
2= 0,3
didapat
x
21= 0,3
68
Jawab Contoh Soal 1 : (6)
• Iterasi ke-2 : 2. Substitusikan x21 = 0,3 ke SPL (1) : x1 + x2 = 2 x1 + 0,3 = 2 x1 = 1,7 didapat x12 = 1,7 3. Substitusikan x12 = 1,7 ke SPL (2) : 3x1 – 10x2 = 3 3.(1,7) – 10x2 = 3 5,1 – 10x2 = 3 x2 = 0,21 didapat x22 = 0,21
69
Jawab Contoh Soal 1 : (7)
• Iterasi ke-3 : 2. Substitusikan x22 = 0,21 ke SPL (1) : x1 + x2 = 2 x1 + 0,21 = 2 x1 = 1,79 didapat x13 = 1,79 3. Substitusikan x12 = 1,79 ke SPL (2) : 3x1 – 10x2 = 3 3.(1,79) – 10x2 = 3 5,37 – 10x2 = 3 x2 = 0,237 didapat x23 = 0,237
Dan seterusnya…..
70
Jawab Contoh Soal 1 : (8)
• Iterasi ke-4, ke-5 dst
• Lanjutkan sendiri, sebagai latihan !!
• Ingat, proses iterasi akan berhenti bila kondisi | xjk – x
jk+1 | < 0,005
71
Jawab Contoh Soal 1 : (9)
•
Rangkuman Proses Iterasinya :
Iterasi ke-
x
1x
21
2
3
4
5
6
2,000
1,700
1,790
1,763
1,771
1,769
0,300
0,210
0,237
0,229
0,231
0,231
72
ALGORITMA IGS
INPUT A(n,n+1), e, maxit
INPUT xi (nilai awal) k 1 ; big 1
WHILE (k ≤ maxit and big e) DO big 0 FOR i = 1 TO n sum 0 FOR j = 1 TO n IF j ≠ i THEN sum sum + aij NEXT j temp (ai n+1 – sum) / aii
relerror abs((xi – temp) / temp) IF relerror big THEN
big relerror xi temp NEXT I k k + 1 ENDWHILE IF k > maxit THEN OUTPUT(“TDK KONVERGEN”) ELSE OUTPUT (“KONVERGEN”) ENDIF
• Para rekayasawan dan ahli ilmu alam sering bekerja dengan sejumlah data diskrit (yang umumnya disajikan dalam bentuk tabel). Data didalam tabel mungkin diperoleh dari hasil
pengamatan dilapangan, hasil pengukuran dilaboratorium, atau tabel yang diambil dari buku-buku acuan.
Contoh :
Sebuah pengukuran fisika untuk menentukan
hubungan antara tegangan yang diberikan kepada
baja tahan karat dan waktu yang diperlukan
hingga baja tsb patah.
x = Tegangan yang diterapkan, kg/mm
2y = waktu patah , jam
x 5 10 15 20 25 30 35
76
•
Interpolasi adalah teknik mencari harga suatu fungsi pada suatu
titik diantara 2 titik yang nilai fungsi pada ke-2 titik tersebut sudah
diketahui
•
dpl. : cara menentukan harga fungsi f dititik x* ε [x
0,x
n] dengan
menggunakan informasi dari seluruh atau sebagian titik-titik yang
diketahui ( x
0, x
1, …., x
n)
x x0 x1 x2 ……. xn
Perbedaan Interpolasi dan
Ekstrapolasi
78
Teknik Umum yang digunakan :
(i) Membentuk polinomial berderajat ≤ n yg mempunyai harga fungsi di titik-titik yang diketahui
Polinomial
Interpolasi
(ii) Masukkan titik yang ingin dicari harga fungsinya ke dalam polinomial interpolasi
79
•
Interpolasi Linier
•
Interpolasi Kuadrat
•
Interpolasi Lagrange
•
Interpolasi Newton
Jenis Interpolasi
x
0x
1x
f(x)
L(x)
Interpolasi Kudrat
x
0x
1x
f(x)
x
2h
h
L(x)
Interpolasi Qubic
x
0x
1x
f(x)
x
2h
h
L(x)
x
3h
83
INTERPOLASI LINIER (1)
•
Misalkan ada m bilangan : x
1, x
2, …., x
mdan
bilangan lain yang berkaitan : y
1, y
2, …., y
m•
maka masalahnya : berapa harga y* pada
x* ε [x
k,x
k+1]
? y x yk+1 xk+1 yk xk y* x*?
84
•
Ambil ruas garis yang menghubungkan titik
(x
k,y
k) dan (x
k+1,y
k+1)
•
Diperoleh persamaan garisnya :
)
(
*
*
1 1 k k k k k ky
y
x
x
x
x
y
y
)
(
*
*
1 1 k k k k k ky
y
x
x
x
x
y
y
k k k k k kx
x
y
y
x
x
y
y
1 1*
*
INTERPOLASI LINIER (2)
85
• Jadi persamaan garisnya adalah :
)
(
*
*
1 1 k k k k k ky
y
x
x
x
x
y
y
y x yk+1 xk+1 yk xk y* x*?
INTERPOLASI LINIER (3)
86
Diketahui data sebagai berikut :
Tentukan harga y pada x = 6,5 !
Jawab : x = 6,5 terletak antara x=6 & x=7
)
(
1 1 k k k k k ky
y
x
x
x
x
y
y
5
,
42
)
36
49
(
)
6
7
(
)
6
5
,
6
(
36
y
Contoh – 1 : (1)
x -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7 y 9 4 1 0 1 4 9 16 25 36 49Hasilnya
87
Alternatif 2 :
x = 6,5 terletak antara x=1 & x=7
)
(
1 1 k k k k k ky
y
x
x
x
x
y
y
45
)
48
(
)
6
(
)
5
,
5
(
1
)
1
49
(
)
1
7
(
)
1
5
,
6
(
1
y
Hasilnya
Contoh – 1 : (2)
88
•Bandingkan hasil kedua jawaban tersebut !!
•Mana yang mendekati jawaban yang sesungguhnya ..??
•
Karena hub. x & y adalah y = x
2maka untuk harga x =
6,5 didapat y = (6,5)
2= 42,25
=> Kesalahan mutlak (E) : |42,5 – 42,25| = 0,25
x -3 -2 -1 0 1 2 3 4 5 6 7
y 9 4 1 0 1 4 9 16 25 36 49
89
Kesalahan mutlak (E), untuk :
y = 42,5 |42,5 – 42,25| = 0,25 = 25 %
Sedangkan untuk
y = 45 |45 – 42,25| = 3,25 = 325 %
90
Contoh-2 :
Diketahui tabel akar bilangan sbb :
Tentukan akar dari 2,155
(2,155)
1/2= 1,46629 + (0,005/0,010) (1,46969 – 1,46629)
= 1,46629 + 0,00170
(
2,155)
1/2= 1,46799
Kesalahan mutlaknya |1,4679918 -1,46799| = 0,0000018
•
Tentukan akar dari 2,153 dan Kesalahan mutlaknya !
N …. 2,14 2,15 2,16 ….
Contoh 3:
•
Jarak yang dibutuhkan sebuah kendaraan untuk berhenti
adalah fungsi kecepatan. Data percobaan berikut ini
menunjukkan hubungan antara kecepatan dan jarak yang
dibutuhkan untuk menghentikan kendaraan.
•
Perkirakan jarak henti yang dibutuhkan bagi sebuah
kenderaan yang melaju dengan kecepatan 45 mil/jam.
Contoh 3
:
93
INTERPOLASI KUADRAT
•
Banyak kasus, penggunaan interpolasi linier tidak
memuaskan karena fungsi yang diinterpolasi berbeda
cukup besar dari fungsi linier
•
Untuk itu digunakan polinomial lain yg berderajat dua
(interpolasi kuadrat) atau lebih mendekati fungsinya
•
Caranya :
-
Pilih 3 titik & buat polinomial berderajat dua melalui ke -
3 titik tsb., shg dpt dicari harga fgs. pada x = x*
-
Pemilihan ke-3 ttk tsb., dapat :
-
x
k-1< x
k< x
k+1atau
94
Persamaan umum Polinomial kuadrat :
P(x) = a
0+ a
1x + a
2x
2…..(*)
3 titik (x
k-1,y
k-1), (x
k,y
k) & (x
k+1,y
k+1) dilalui fgs. P(x) berarti:
y
k-1= a
0+ a
1x
k-1+ a
2x
k-12y
k= a
0+ a
1x
k+ a
2x
k2 ………. (**)y
k+1= a
0+ a
1x
k+1+ a
2x
k+12=> Akan diperoleh dari 3 pers. yaitu a
0, a
1dan a
2kemudian subst.
ke (*) & diperoleh pers. kuadrat, shg dapat dicari nilai fgs.
untuk x = x* yaitu P(x*) = a
0+ a
1x* + a
2x*
2=> Sistim pers. non homogen (**) memp. solusi dan solusinya
unik (tunggal)
Contoh :
•
Diberikan titik ln(8) = 2.0794, ln(9) = 2.1972, ln(9.5) = 2.2513.
Tentukan nilai ln(9.2) dengan interpolasi kuadrat
•
Sistem Pers Linier yang terbentuk.
• 64 a + 8 b + c = 2.0794 • 81 a + 9 b + c = 2.1972 • 90.25 a + 9.5 b + c = 2.2513•
Penyelesaian a= -0.0064 b = 0.2266
c = 0.6762
•
Sehingga p2(9.2) = 2.2192
96
INTERPOLASI LAGRANGE
•
Interpolasi Lagrange adalah salah satu formula untuk interpolasi
berselang tidak sama selain formula interpolasi Newton umum
& metoda Aitken. Walaupun demikian dapat digunakan pula
untuk interpolasi berselang sama.
•
Misalkan fgs. y(x) kontinu & diferensiabel sampai turunan (n+1)
dalam interval buka (a,b). Diberikan (n+1) titik (x
0,y
0), (x
1,y
1), …,
(x
n,y
n) dengan nilai x tidak perlu berjarak sama dengan yang
lainnya, dan akan dicari suatu polinom berderajat
n.Untuk
pemakaian praktis, formula interpolasi Lagrange dapat
dinyatakan sbb. :
97
Formula Interpolasi Lagrange
Jika y(x) : nilai yang diinterpolasi; x : nilai yg berkorespondensi dg y(x)
x
0, x
1, …., x
n: nilai x dan y
0, y
1, …., y
n: nilai y
0 0 2 0 1 0 2 1)
)...(
)(
(
)
)...(
)(
(
)
(
y
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
y
n n
1 1 2 1 0 1 2 0)
)...(
)(
(
)
)...(
)(
(
y
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
n n n n n n n ny
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
x
)
)...(
)(
(
)
)...(
)(
(
.
.
1 1 0 1 1 0
98
Contoh 1:
Nilai yg. berkorespondensi dengan y = 10log x adalah :
Carilah 10log 301 ?
Untuk menghitung y(x) = 10log 301 dimana x = 301, maka nilai diatas menjadi
X 300 304 305 307
10log x 2,4771 2,4829 2,4843 2,4871
x0 = 300 x1 = 304 x2 = 305 x3 = 307 y0 = 2,4771 y1 = 2,4829 y2 = 2,4843 y3 = 2,4871
99
Dengan menggunakan interpolasi lagrange
2
,
4771
)
307
300
)(
305
300
)(
304
300
(
)
307
301
)(
305
301
)(
304
301
(
)
(x
y
4829
,
2
)
307
304
)(
305
304
)(
300
304
(
)
307
301
)(
305
301
)(
300
301
(
4843
,
2
)
307
305
)(
304
305
)(
300
305
(
)
307
301
)(
304
301
)(
300
301
(
4871
,
2
)
305
307
)(
304
307
)(
301
307
(
)
305
301
)(
304
301
)(
300
301
(
7106
,
0
4717
,
4
9658
,
4
2739
,
1
4786
,
2
)
(
x
y
Polinom Newton
•
Polinom Lagrange kurang disukai dalam praktek karena :
• Jumlah komputasi yang dibutuhkan untuk satu kali interpolasiadalah besar. Interpolasi untuk nilai x yang lain memerlukan
jumlah komputasi yang sama karena tidak ada bagian komputasi sebelumnya yang dapat digunakan.
• Bila jumlah titik data meningkat atau menurun, hasil komputasi sebelumnya tidak dapat digunakan. Karena tidak ada
hubungannya antara pn-1(x) dan pn(x) pada polinom Lagrange
•
Polinom yang dibentuk sebelumnya dapat digunakan
untuk membentuk polinom derajat yang lebih tinggi.
Polinom Newton
•
Persamaan Polinom Linier
•
Bentuk pers ini dapat ditulis :
•
Yang dalam hal ini
(1)
•
Dan
(2)
•
Pers ini mrpk bentuk selish terbagi (divided-difference)
)
(
)
(
)
(
)
(
0 0 1 0 1 0 1x
x
x
x
y
y
y
x
p
)
(
)
(
0 1 0 1x
a
a
x
x
p
)
(
0 0 0y
f
x
a
)
(
)
(
)
(
)
(
)
(
0 1 0 1 0 1 0 1 1x
x
x
f
x
f
x
x
y
y
a
]
,
[
1 0 1f
x
x
a
Polinom Newton
• Polinom kuadratik
• Atau
• Dari pers ini menunjukkan bahwa p2(x) dapat dibentuk dari pers
sebelumnya p1(x). Nilai a2 dapat ditemukan dengan mengganti x=x2 untuk
mendapatkan (3)
• Nilai a0 dan a1 pada pers 1 dan 2 dimasukkan pada pers 3
)
)(
(
)
(
)
(
0 1 0 2 0 1 2x
a
a
x
x
a
x
x
x
x
p
)
)(
(
)
(
)
(
1 2 0 1 2x
p
x
a
x
x
x
x
p
) )( ( ) ( ) ( 1 2 0 2 0 2 1 0 2 2 x x x x x x a a x f a 1 2 0 1 0 1 0 2 0 2 2)
(
)
(
)
(
)
(
x
x
x
x
x
f
x
f
x
x
x
f
x
f
a
Polinom Newton
•
Dengan melakukan utak-atik aljabar, pers ini
lebih disukai
0 2 0 1 1 2 0 2 0 1 0 1 1 2 0 2 2 ] , [ ] , [ ) ( ) ( ) ( ) ( x x x x f x x f x x x x x f x f x x x f x f a Polinom Newton
•
Jadi tahapan pembentukan polinom Newton :
) ( ) ( ) ( 0 1 0 1 x p x a x x p
)
(
)
(
0 1 0 1x
a
a
x
x
p
)
)(
(
)
(
)
(
0 1 0 2 0 1 2x
a
a
x
x
a
x
x
x
x
p
)
)(
(
)
(
)
(
1 2 0 1 2x
p
x
a
x
x
x
x
p
)
)(
)(
(
)
(
)
(
2 3 0 1 2 3x
p
x
a
x
x
x
x
x
x
p
)
)(
)(
(
)
)(
(
)
(
)
(
0 1 0 2 0 1 3 0 1 2 3x
a
a
x
x
a
x
x
x
x
a
x
x
x
x
x
x
p
Polinom Newton
• Nilai konstanta a0, a1, a2,…, an, merupakan nilai selisih terbagi , dg nilai
• Yang dalam hal ini
] , ,..., , [ ] , , [ ] , [ ) ( 0 1 1 0 1 2 2 0 1 1 0 0 x x x x f a x x x f a x x f a x f a n n n 0 0 1 2 1 1 1 0 1 1 ) , ,..., , [ ] ,..., , [ ] , ,..., , [ ] , [ ] , [ ] , , [ ) ( ) ( ] , [ x x x x x x f x x x f x x x x f x x x x f x x f x x x f x x x f x f x x f n n n n n n n k i k j j i k j i j i j i j i
106
Karena a0, a1,a2, …an, merupakan nilai selisih terbagi, maka
polinom Newton dinamakan polinom interpolasi selisih terbagi
Newton. Nilai selisih terbagi dapat dihitung dengan
Polinom Newton
•
Dengan demikian polinom Newton dapat ditulis
dalam hub rekursif sebagai :
•
Rekurens
•
basis
•
Atau dalam bentuk polinom yang lengkap sbb :
]
,
,...,
,
[
)
)...(
)(
(
)
(
)
(
x
p
1x
x
x
0x
x
1x
x
1f
x
x
1x
1x
0p
n
n
n n n)
(
)
(
0 0x
f
x
p
]
,
,...,
,
[
)
)...(
)(
(
]
,
,
[
)
)(
(
]
,
[
)
(
)
(
)
(
0 1 1 1 1 0 0 1 2 1 0 0 1 0 0x
x
x
x
f
x
x
x
x
x
x
x
x
x
f
x
x
x
x
x
x
f
x
x
x
f
x
p
n n n n
Contoh Soal :
• Bentuklah polinom Newton derajat satu, dua, tiga dan empat yang
menghampiri f(x)=cos(x) dalam range[0.0, 4] dan jarak antar titik adalah 1.0. Lalu taksirlah f(x) dengan x=2.5 dengan Polinom Newton derajat 3.
xi yi ST-1 ST-2 ST-3 ST-4 0.0 1 -0.4597 -0.2484 0.1466 -0.0147 1.0 0.5403 -0.9564 0.1913 0.0880 2.0 -0.4161 -0.5739 0.4551 3.0 -0.99 0.3363 4.0 -0.6536
Contoh Soal :
•
Contoh cara menghitung nilai selisih terbagi pada
tabel :
2484 . 0 0 2 4597 . 0 9564 . 0 ) ( ] , [ ] , [ ] , , [ 9564 . 0 1 2 5403 . 0 4161 . 0 ) ( ) ( ) ( ] , [ 4597 . 0 0 1 1 5403 . 0 ) ( ) ( ) ( ] , [ 0 2 0 1 1 2 0 1 2 1 2 1 2 1 2 0 1 0 1 0 1 x x x x f x x f x x x f x x x f x f x x f x x x f x f x x fContoh Soal :
•
Maka polinom Newton derajat 1,2 dan 3 dengan x
0= 0
sebagai titik pertama :
•
Nilai sejati f(2.5) adalah
• F(2.5) = cos(2.5)=-0.8011 ) 0 . 3 )( 0 . 2 )( 0 . 1 )( 0 . 0 ( 0147 . 0 ) 0 . 2 )( 0 . 1 )( 0 . 0 ( 1466 . 0 ) 0 . 1 )( 0 . 0 ( 2484 . 0 ) 0 . 0 ( 4597 . 0 0 . 1 ) ( ) cos( ) 0 . 2 )( 0 . 1 )( 0 . 0 ( 1466 . 0 ) 0 . 1 )( 0 . 0 ( 2484 . 0 ) 0 . 0 ( 4597 . 0 0 . 1 ) ( ) cos( ) 0 . 1 )( 0 . 0 ( 2484 . 0 ) 0 . 0 ( 4597 . 0 0 . 1 ) ( ) cos( ) 0 . 0 ( 4597 . 0 0 . 1 ) ( ) cos( 4 3 2 1 x x x x x x x x x x x p x x x x x x x x p x x x x x p x x x p xPengantar
• Pengintegralan numerik merupakan alat atau cara yang digunakan oleh ilmuwan untuk memperoleh jawaban hampiran
(aproksimasi) dari pengintegralan yang tidak dapat diselesaikan secara analitik.
• Misalnya dalam termodinamik, model Debye untuk menghitung kapasitas panas dari benda padat.
INTEGRASI NUMERIK
•
Perhitungan integral adalah perhitungan dasar
yang digunakan dalam kalkulus, dalam banyak
keperluan.
•
digunakan untuk menghitung luas daerah yang
dibatasi oleh fungsi y = f(x) dan sumbu x.
•
Penerapan integral : menghitung luas dan
0 2 4 6 8 10 12 3 5 7 9 11 13 15
Dasar Pengintegralan Numerik
•
Melakukan penginteralan pada bagian-bagian kecil, seperti saat
awal belajar integral – penjumlahan bagian-bagian.
•
Metode Numerik hanya mencoba untuk lebih cepat dan lebih
mendekati jawaban eksak.
Dasar Pengintegralan Numerik
Penjumlahan berbobot dari nilai fungsi
)
(
...
)
(
)
(
)
(
)
(
1 1 0 0 0 n n i n i i b ax
f
c
x
f
c
x
f
c
x
f
c
dx
x
f
x
0x
1x
n-1x
nx
f(x)
Formula Newton-Cotes
- Berdasarkan pada
dx
x
f
dx
x
f
I
b a n b a
(
)
(
)
Nilai hampiran f(x) dengan polinomial
n n 1 n 1 n 1 0 n
x
a
a
x
a
x
a
x
f
(
)
f
n
(x) bisa fungsi linear
f
n
(x) bisa juga fungsi kubik atau
INTEGRASI NUMERIK
•
Luas daerah yang
diarsir L dapat
dihitung dengan :
•
L =
b adx
x
f
Metode Integral Reimann
0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45 0.5 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 x*cos(3*x)*exp(-2*x)+0.35 x*cos(3*x)*exp(-2*x)+0.35Metode Integral Reimann
• Luasan yang dibatasi y = f(x) dan sumbu x• Luasan dibagi menjadi N bagian pada range x = [a,b]
• Kemudian dihitung Li : luas setiap persegi panjang dimana Li=f(xi).
i
x
Metode Integral Reimann
•
Luas keseluruhan adalah jumlah Li dan dituliskan
:
•
Dimana
•
Didapat
i n i i n nx
x
f
x
x
f
x
x
f
x
x
f
x
x
f
L
L
L
L
L
0 3 2 2 1 1 0 0 2 1 0...
..
n i i b ax
f
h
dx
x
f
0h
x
x
x
x
n
0 1 2...
Contoh
•
Hitung luas yang dibatasi y = x
2dan sumbu x
untuk range x = [0,1]
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1 x**2
1 0 2dx
x
L =
Contoh
• Dengan mengambil h=0.1 maka diperoleh tabel :
• Secara kalkulus : • Terdapat kesalahan e = 0,385-0,333 • = 0,052
0.1 3,85
0,385 00 . 1 81 . 0 64 . 0 49 . 0 36 . 0 25 . 0 16 . 0 09 . 0 04 . 0 01 . 0 0 1 . 0 ) ( . 10 0
i i x f h L ... 3333 , 0 | 3 1 1 0 3 1 0 2
x dx x LAlgoritma Metode Integral
Reimann:
• Definisikan fungsi f(x)
• Tentukan batas bawah dan batas ata integrasi
• Tentukan jumlah pembagi area N
• Hitung h=(b-a)/N • Hitung
N
i
i
x
f
h
L
0
)
(
.
Metode Integrasi Trapezoida
• Aproksimasi garis lurus (linier)