• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Pembangunan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Pembangunan"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

11 II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Pembangunan

Menurut Bappenas (1999) pembangunan dapat didefinisikan sebagai suatu rangkaian kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan yang dilakukan secara terencana dan berkelanjutan dengan memanfaatkan dan memperhitungkan kemampuan sumber daya, informasi, dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memperhatikan perkembangan global. Sedangkan pembangunan daerah adalah bagian integral dari pembangunan nasional yang dilaksanakan melalui otonomi daerah dan pengaturan sumber daya nasional, yang memberi kesempatan bagi peningkatan demokrasi dan kinerja daerah yang berdaya guna dalam penyelenggaraan pemerintah dan pelayanan masyarakat, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah secara merata dan berkeadilan. Pembangunan dapat pula diartikan sebagai suatu proses perubahan peningkatan kualitas kehidupan manusia. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan ekonomi dan sosial.

Dewasa ini negara-negara yang sedang berkembang memiliki keinginan yang kuat untuk terus melakukan pembangunan, terutama pembangunan dibidang ekonomi. Padahal perubahan dibidang ekonomi bukan hanya satu-satunya arti yang terkandung dalam pembangunan. Pembangunan harus diartikan lebih dari pemenuhan kebutuhan materi di dalam kehidupan manusia. Pembangunan seharusnya merupakan proses multidimensi yang meliputi perubahan organisasi dan orientasi dari seluruh sistem sosial dan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan hanya menciptakan peningkatan pada produksi nasional riil, tetapi juga harus ada perubahan dalam kelembagaan, struktur administrasi, perubahan sikap, dan kebiasaan. Jadi dalam hal ini istilah pembangunan diartikan sebagai perubahan yang meningkat baik di bidang sosial maupun di bidang ekonomi.

Pembangunan ekonomi dapat diartikan sebagai perubahan yang meningkat pada kapasitas produksi nasional. Peningkatan ini dicerminkan dengan pertumbuhan ekonomi. Indikator pertumbuhan ekonomi tidak bisa hanya dilihat

(2)

12 secara material, seperti meningkatnya pendapatan per kapita, tetapi juga peningkatan formasi kapital non material seperti kebijakan sosial-budaya yang menunjang harmoni sosial dan kestabilan politik serta kemandirian. Peningkatan pendapatan per kapita riil bisa dicapai apabila pertumbuhan produksi masyarakat masih meningkat setelah dikurangi peningkatan jumlah penduduk dan tingkat inflasi. Pertumbuhan ini dapat dicapai apabila struktur ekonomi yang menitik beratkan pada sektor pertanian diubah dititikberatkan pada sektor industri. Hal ini tidak berarti bahwa suatu negara mengabaikan pembangunan sektor pertanian atau menurunkan produksi sektor pertanian. Produksi sektor pertanian tetap ditingkatkan, karena bagaimanapun produksi pertanian juga menopang sektor industri. Perubahan struktur ini adalah karena adanya kenyataan bahwa dengan investasi yang sama di sektor industri akan menghasilkan pertumbuhan pendapatan masyarakat yang lebih cepat dibanding dengan investasi yang sama di sektor pertanian. Hal ini disebabkan karena pembangunan di sektor industri mempunyai dampak kebelakang dan kedepan yang lebih luas dibanding dengan sektor pertanian.

Menurut Kunarjo (1992) dalam melaksanakan pembangunan, pada umumnya negara-negara yang sedang berkembang masih mempunyai hambatan-hambatan, antara lain; (1) hambatan alam (kekurangan sumber daya alam) dan (2) hambatan yang berhubungan dengan ciptaan manusia (kekurangan peraturan pendukung), hambatan obyektif (kekurangan modal), dan hambatan subyektif (kekurangan jiwa kepemimpinan).

Perubahan ekonomi dan sosial dapat dicapai dengan cara-cara yang berbeda-beda tergantung dari tujuan pembangunan itu sendiri. Pada umumnya menurut Kunarjo (1992) tujuan pembangunan mencakup hal-hal pokok seperti: (1) meningkatkan pertumbuhan ekonomi, (2) meningkatkan pemerataan pendapatan masyarakat, (3) meningkatkan kesempatan kerja, dan (4) meningkatkan pemerataan pembangunan antardaerah. Dari keempat tujuan ini, beberapa memang ada yang tampak kontradiktif satu sama lain. Misalnya tujuan pertama, yaitu usaha untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan tujuan kedua, yaitu meningkatkan pemerataan. Tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan

(3)

13 ekonomi biasanya dapat dicapai dengan usaha yang menggunakan teknologi tinggi, namun di pihak lain penggunaan teknologi tinggi dapat merampas kesempatan kerja seseorang yang berarti hanya sebagian kecil masyarakat yang menikmati pendapatannya, sedangkan masyarakat yang lainnya menganggur. Kebalikannya apabila diutamakan tujuan untuk peningkatan pemerataan, maka ini berarti harus menggunakan lebih banyak tenaga kerja dari pada tenaga mesin. Keadaan seperti ini dapat berakibat mengurangi kecepatan pertumbuhan ekonomi, walaupun mungkin pemerataan lebih dapat ditingkatkan. Pemilihan untuk lebih mengutamakan salah satu di antara dua tujuan tersebut bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu dalam menetapkan kebijaksanaan program pembangunan perlu dilakukan secara hati-hati dengan memperhitungkan untung ruginya.

2.2 Pembangunan Daerah Perbatasan

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara, Kawasan perbatasan adalah suatu kawasan yang merupakan bagian dari wilayah negara yang terletak pada sisi dalam sepanjang batas wilayah Indonesia dengan negara lain, dalam hal Batas Wilayah Negara di darat, Kawasan Perbatasan berada di kecamatan.

Wilayah perbatasan menurut buku utama rencana induk pengelolaan perbatasan negara merupakan wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berbatasan dengan negara lain, dan batas-batas wilayahnya ditentukan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Wilayah perbatasan di Indonesia secara umum dicirikan antara lain oleh : (1) letak geografisnya berbatasan langsung dengan negara lain, bisa propinsi, kabupaten/kota maupun kecamatan yang memiliki bagian wilayahnya langsung bersinggungan dengan garis batas negara. (2) kawasan perbatasan umumnya masih relatif terpencil, miskin, kurangnya sarana dan prasarana dasar sosial dan ekonomi serta (3) kondisi pertumbuhan ekonomi wilayahnya relatif terlambat dibandingkan dengan wilayah lain di negara lain.

Kawasan perbatasan negara Indonesia terdiri dari dua matra yaitu: kawasan perbatasan negara matra daratan dan kawasan perbatasan matra laut.

(4)

14 Kawasan perbatasan matra laut mengacu pada hukum laut internasional berupa titik koordinat batas negara baik batas laut teritorial, zona ekonomi ekslusif (ZEE), dan batas landas kontinen, yang masing-masing mempunyai hak dan kewajiban. Kawasan perbatasan matra laut ini dibatasi pada laut teritorial, khususnya pulau-pulau kecil terluar. Kawasan perbatasan matra darat mengacu pada peraturan internasional dan kesepakatan bilateral yang ditandai oleh titik koordinat berupa patok-patok batas. Indonesia sebagai negara yang luas baik daratan dan laut yaitu hampir 2 juta km2, dikelilingi oleh 10 negara tetangga (Singapura, Malaysia, Thailand, Brunai, PNG, Palau, Timor Leste, Australia, Vietnam, dan Philipina). Rencana Tata Ruang Nasional mengidentifikasi 10 kawasan perbatasan negara, yang terdiri dari 3 kawasan perbatasan negara matra darat (Kalimantan, Papua, dan NTT) dan 7 kawasan perbatasan negara matra laut yaitu NAD-Sumut, Riau-Kep. Riau, Sulut, Malut-Papua, Maluku Tenggara Barat, NTT, dan laut lepas mulai dari barat Pulau Sumatera hingga Pantai Selatan Nusa Tenggara Barat.

Daerah perbatasan memiliki peran strategis bukan hanya dalam dimensi pertahanan kemanan akan tetapi juga dalam dimensi sosial ekonomi baik nasional maupun daerah. Dalam kerangka nasional, daerah perbatasan adalah beranda depan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang merupakan perwujudan kedaulatan wilayah bangsa dan negara serta wujud kedaulatan ekonomi bangsa Indonesia. Oleh karena itu pembangunan daerah perbatasan sangat urgen untuk dilaksananakan baik oleh pemerintah pusat maupun daerah.

Siagian (2008) menyebutkan bahwa wilayah perbatasan di darat seperti di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur yang berbatasan dengan Sabah, acapkali timbul masalah karena patok-patok perbatasan yang sudah bergeser atau patok yang telah raib atau karena pembangunan helipad (landasan helikopter) di Serawak Malaysia dengan jarak tujuh meter dari perbatasan sekitar Kecamatan Kedamin, Sungai Kapuas, Kapuas Hulu, telah menuai protes dari kalangan masyarakat Indonesia. Sama halnya dengan wilayah perbatasan di Nusa Tenggara Timur dengan Timor Leste, dan di Papua dengan Papua New Guinea sangat rawan dengan pelintas batas gelap dan penyelundupan, utamanya kebutuhan

(5)

15 pokok penduduk di perbatasan sering kali menjadi ajang transaksi gelap, bahkan pencurian kayu (illegal logging) tidak jarang terjadi.

Sementara terkikisnya kedaulatan ekonomi Bangsa Indonesia di wilayah perbatasan khususnya Malaysia sebagaimana di lansir Harian Kompas (25 Februari 2009) ditunjukkan oleh maraknya aktifitas ilegal seperti illegal logging dan human trafficking. Selain itu warga Indonesia juga lebih banyak menggunakan produk luar negeri dibanding produk dalam negeri serta penggunaan mata uang Ringgit dalam transaksi ekonomi. Bahkan untuk pemenuhan kebutuhan listrik di Sajingan Besar, Kabupaten Sambas dan kebutuhan listrik di Badau Kabupaten Kapuas Hulu PT PLN memutuskan membeli listrik dari Malaysia. Kontrak kerja sama pembelian listrik dari Malaysia tersebut meliputi 200 kVA untuk memenuhi kebutuhan di Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, dan 400 kVA untuk memenuhi kebutuhan di Badau, Kabupaten Kapuas Hulu. Daya listrik dari Malaysia ini dibeli PLN sebesar 30,2 sen ringgit Malaysia atau sekitar Rp 936 tiap kwh. Sedangkan PLN menjual kepada masyarakat di perbatasan tetap Rp 500 tiap kwh.

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009 yang dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 7 tahun 2005 dalam salah satu bagiannya mengamanatkan pengurangan ketimpangan pembangunan wilayah. Salah satu program yang disebutkan pada bagian ini adalah pengembangan wilayah perbatasan yang ditujukan untuk: (1) menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui penetapan hak kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dijamin oleh hukum internasional; (2) meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat dengan menggali potensi ekonomi, sosial dan budaya serta keuntungan lokasi geografis yang sangat strategis untuk berhubungan dengan negara tetangga. Program pengembangan wilayah perbatasan selanjutnya dijabarkan dalam 6 kegiatan pokok yang tujuan utamanya meningkatkan kedaulatan wilayah NKRI dan kedaulatan ekonomi daerah perbatasan.

(6)

16 Edy (2008) menyebutkan bahwa percepatan pembangunan di perbatasan menjadi amat penting karena perbatasan memiliki beberapa nilai-nilai strategis, yang antara lain meliputi ;

a. Mempunyai potensi sumber daya yang besar pengaruhnya terhadap aspek ekonomi, demografi, politis, dan hankam, serta pengembangan ruang wilayah di sekitarnya,

b. Mempunyai dampak penting baik terhadap kegiatan yang sejenis maupun kegiatan lainnya,

c. Merupakan faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat baik di wilayah yang bersangkutan maupun di wilayah sekitarnya, d. Mempunyai keterkaitan yang saling mempengaruhi dengan kegiatan yang dilaksanakan di wilayah lainnya yang berbatasan baik dalam lingkup nasional maupun regional,

e. Mempunyai dampak terhadap kondisi politis dan pertahanan keamanan nasional dan regional.

Selama ini pendekatan perencanaan pengembangan kawasan perbatasan lebih banyak ditekankan pada pendekatan keamanan (security approach). Namun seiring dengan perkembangan kajian-kajian tentang kawasan perbatasan bahwa, kawasan perbatasan darat dan laut antarnegara merupakan kawasan yang masih rentan terhadap infiltrasi ideologi, politik, ekonomi, maupun sosial budaya dari negara lain. Di sisi lain, kawasan perbatasan antarnegara masih dihadapkan pada permasalahan-permasalahan yang sangat mendasar seperti rendahnya kesejahteraan masyarakat, rendahnya kualitas sumberdaya manusia, serta minimnya infrastruktur di sektor perhubungan dan sarana kebutuhan dasar masyarakat. Ketertinggalan pembangunan kawasan perbatasan baik darat maupun laut dengan negara tetangga secara sosial maupun ekonomi dikhawatirkan dapat berkembang menjadi kerawanan yang bersifat politis untuk jangka panjang.

Upaya pembangunan wilayah perbatasan sendiri merupakan amanah UUD 1945 yang harus dilaksanakan oleh Pemerintah. Selama ini sebagian warga negara Indonesia masih mengalami kendala sosial, ekonomi, budaya dan keterbatasan daya dukung di wilayah yang dihuninya. Menurut Bappenas (2003), sebagaimana

(7)

17 pelaksanaan pembangunan pada wilayah-wilayah lain relatif masih tertinggal, pembangunan wilayah perbatasan menganut pendekatan, antara lain:

1. Pemenuhan kebutuhan dasar manusia (basic need approach), yaitu kecukupan konsumsi pangan, sandang dan perumahan yang layak huni.

2. Pemenuhan akses standar terhadap pelayanan kesehatan, pendidikan dan infrastruktur mobilitas warga.

3. Peningkatan partisipasi dan akuntabilitas publik dalam setiap perencanaan, pelaksanaan dan penilaian program pembangunan untuk kepentingan masyarakat sendiri.

Selain tiga pendekatan yang secara umum diterapkan dalam setiap program pembangunan, hal lain yang perlu memperoleh perhatian adalah konteks sosial budaya, adat istiadat, kondisi geografis dan keunikan komunitas dan kewilayahan yang dimiliki oleh wilayah perbatasan. Lebih khusus lagi, pengembangan kawasan perbatasan ini akan ditekankan pada tiga aspek utama sebagaimana ciri-ciri kawasan perbatasan, yaitu:

1. Aspek Demarkasi dan Delimitasi Garis Batas

Penetapan batas wilayah negara (demarkasi dan delimitasi) dilakukan untuk menjaga keutuhan dan kedaulatan wilayah negara. Upaya ini membutuhkan dukungan, seperti survei dan pemetaan wilayah perbatasan, penamaan (toponim) pulau, border diplomacy, hingga pengakuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pada dasarnya penetapan batas negara harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan bilateral atau multilateral dan bukan bersifat unilateral. Beberapa permasalahan umum yang terkait dengan isu demarkasi dan delimitasi batas :

a. Belum terselesaikannya kesepakatan beberapa segmen garis batas dengan negara tetangga baik batas darat maupun batas laut.

b. Belum adanya peraturan perundang-undangan yang menjadi payung bagi penetapan batas wilayah negara secara menyeluruh.

(8)

18 2. Aspek Politik, Hukum dan Keamanan.

Tingginya potensi kerawanan di perbatasan menyebabkan perlunya perhatian khusus terhadap wilayah ini dalam hal peningkatan kesadaran politik, penegakan hukum, serta peningkatan upaya keamanan. Permasalahan di perbatasan yang terkait dengan politik, hukum, dan keamanan antara lain :

a. Terbatasnya sarana prasarana keamanan dan pengawasan perbatasan, b. Meningkatnya aktivitas-aktivitas ilegal di wilayah perbatasan,

c. Adanya sengketa wilayah dengan negara tetangga yang mengancam kedaulatan wilayah NKRI,

d. Rendahnya aksesibilitas informasi, berpotensi terjadinya penurunan wawasan kebangsaan.

3. Aspek Kesejahteraan, Sarana dan Prasarana

Wilayah perbatasan, termasuk pulau-pulau kecil terluar memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar, serta merupakan wilayah yang sangat strategis bagi pertahanan dan keamanan negara. Namun demikian, pembangunan di beberapa wilayah perbatasan masih tertinggal dibandingkan dengan pembangunan di wilayah negara tetangga, terutama wilayah yang berbatasan dengan Malaysia dan Singapura. Hal ini menyebabkan kesenjangan sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan dibandingkan dengan kondisi sosial ekonomi warga negara tetangga. Permasalahan di perbatasan yang terkait dengan kesenjangan pembangunan antara lain:

a. Rendahnya aksesibilitas yang menghubungkan wilayah perbatasan yang tertinggal dan terisolir dengan pusat-pusat pemerintahan dan pelayanan atau wilayah lainnya yang relatif lebih maju;

b. Terbatasnya sarana dan prasarana baik pemerintahan, perhubungan, pendidikan, kesehatan, perekonomian, komunikasi, air bersih dan irigasi, ketenagalistrikan serta pertahanan keamanan;

c. Kepadatan penduduk relatif rendah dan tersebar karena karakteristik geografis masing-masing baik di wilayah kepulauan maupun pegunungan; d. Rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia;

(9)

19 e. Belum optimalnya pembangunan di wilayah perbatasan oleh pemerintah baik Pusat maupun Daerah karena dianggap tidak menghasilkan pendapatan secara langsung.

Disahkannya Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara memberikan secercah harapan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat perbatasan. Selama ini pembangunan daerah perbatasan berjalan parsial dan tidak terkoordinasi mengingat tidak ada payung hukum yang jelas tentang pembagian kewenangan sehingga baik pemerintah pusat maupun daerah (propinsi maupun kabupaten) tidak dapat menjalankan program pembangunannya dengan optimal.

Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara secara tegas membagi kewenangan pemerintah pusat, pemerintah propinsi dan pemerintah kabupaten dalam pelaksanaan pembangunan daerah perbatasan. Kewenangan Pemerintah Pusat antara lain :

a. Menetapkan kebijakan pengelolaan dan pemanfaatan Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan;

b. Mengadakan perundingan dengan negara lain mengenai penetapan Batas Wilayah Negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dan hukum internasional;

c. Membangun atau membuat tanda Batas Wilayah Negara;

d. Melakukan pendataan dan pemberian nama pulau dan kepulauan serta unsur geografis lainnya;

e. Memberikan izin kepada penerbangan internasional untuk melintasi wilayah udara teritorial pada jalur yang telah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan;

f. Memberikan izin lintas damai kepada kapal-kapal asing untuk melintasi laut teritorial dan perairan kepulauan pada jalur yang telah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan;

g. Melaksanakan pengawasan di zona tambahan yang diperlukan untuk mencegah pelanggaran dan menghukum pelanggar peraturan

(10)

perundang-20 undangan di bidang bea cukai, fiskal, imigrasi, atau saniter di dalam Wilayah Negara atau laut teritorial;

h. Menetapkan wilayah udara yang dilarang dilintasi oleh penerbangan internasional untuk pertahanan dan keamanan;

i. Membuat dan memperbarui peta Wilayah Negara dan menyampaikannya kepada Dewan Perwakilan Rakyat sekurang-kurangnya setiap 5 (lima) tahun sekali; dan

j. Menjaga keutuhan, kedaulatan, dan keamanan Wilayah Negara serta Kawasan Perbatasan.

Kewenangan Pemerintah Provinsi yaitu :

a. Melaksanakan kebijakan Pemerintah dan menetapkan kebijakan lainnya dalam rangka otonomi daerah dan tugas pembantuan;

b. Melakukan koordinasi pembangunan di Kawasan Perbatasan;

c. Melakukan pembangunan Kawasan Perbatasan antar-pemerintah daerah dan/atau antara pemerintah daerah dengan pihak ketiga; dan

d. Melakukan pengawasan pelaksanaan pembangunan Kawasan Perbatasan yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten/Kota.

Kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota antara lain :

a. Melaksanakan kebijakan Pemerintah dan menetapkan kebijakan lainnya dalam rangka otonomi daerah dan tugas pembantuan;

b. Menjaga dan memelihara tanda batas;

c. Melakukan koordinasi dalam rangka pelaksanaan tugas pembangunan di Kawasan Perbatasan di wilayahnya; dan

d. Melakukan pembangunan Kawasan Perbatasan antar-pemerintah daerah dan/atau antara pemerintah daerah dengan pihak ketiga.

Dalam rangka melaksanakan kewenangannya tersebut, baik Pemerintah Propinsi maupun Pemerintah Kabupaten/Kota berkewajiban menetapkan biaya pembangunan Kawasan Perbatasan.

Selain pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah, Undang-undang ini juga mengamanatkan pembentukan Badan Pengelola Perbatasan yang bertugas menetapkan kebijakan program pembangunan

(11)

21 perbatasan, menetapkan rencana kebutuhan anggaran, mengkoordinasikan pelaksanaan dan melaksanakan evaluasi serta pengawasan.

2.3 Konsep Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi mengandung makna adanya peningkatan produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh seluruh aktifitas ekonomi yang terjadi di masyarakat. Peningkatan produksi barang dan jasa dimaksud diukur berdasarkan suatu periode tertentu sebagai tahun dasar sehingga nilai peningkatan benar-benar mencerminkan adanya pertumbuhan produksi yang terbebas dari pengaruh harga.

Berbagai model pertumbuhan ekonomi bermunculan secara dinamis mengikuti perubahan perekonomian dari waktu ke waktu. Teori Klasik yang dimotori oleh Adam Smith beranggapan bahwa pertumbuhan ekonomi sebenarnya bertumpu pada adanya pertambahan penduduk. Dengan adanya pertambahan penduduk maka akan terdapat pertambahan output atau hasil. Teori Adam Smith ini tertuang dalam bukunya yang berjudul An Inquiry Into the Nature and Causes of the Wealth of Nations. Selain Adam Smith, yang termasuk dalam teori klasik adalah David Ricardo. Ricardo (1817) berpendapat bahwa faktor pertumbuhan penduduk yang semakin besar sampai menjadi dua kali lipat pada suatu saat akan menyebabkan jumlah tenaga kerja melimpah. Kelebihan tenaga kerja akan mengakibatkan upah menjadi turun. Upah tersebut hanya dapat digunakan untuk membiayai taraf hidup minimum sehingga perekonomian akan mengalami kemandegan (stationary state). Teori David Ricardo ini dituangkan dalam bukunya yang berjudul The Principles of Political and Taxation.

Teori Klasik selanjutnya berkembang menjadi Teori Neoklasik yang dimotori oleh Harrord Domar dan Robert Solow. Domar beranggapan bahwa modal harus dipakai secara efektif, karena pertumbuhan ekonomi sangat dipengaruhi oleh peranan pembentukan modal tersebut. Teori ini juga membahas tentang pendapatan nasional dan kesempatan kerja. Sedangkan Solow berpendapat bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan rangkaian kegiatan yang bersumber pada manusia, akumulasi modal,

(12)

22 pemakaian teknologi modern dan hasil atau output. Adapun pertumbuhan penduduk dapat berdampak positif dan dapat berdampak negatif. Oleh karenanya, menurut Robert Solow pertambahan penduduk harus dimanfaatkan sebagai sumber daya yang positif.

Model pertumbuhan Solow merupakan pilar yang memberi kontribusi sangat besar terhadap teori pertumbuhan neoklasik. Pada intinya model ini merupakan pengembangan dari model pertumbuhan Harrod-Domar dengan menambahkan faktor tenaga kerja dan teknologi ke dalam persamaan pertumbuhan. Dalam model pertumbuhan Solow, input tenaga kerja dan modal memakai asumsi kembalian yang terus berkurang (diminishing returns) jika keduanya dianalisis secara terpisah, sedangkan jika keduanya dianalisis secara bersamaan memakai asumsi kembalian hasil tetap (constant returns to scale) (Todaro dan Smith, 2006).

Dalam bentuknya yang lebih formal, model pertumbuhan neoklasik Solow memakai fungsi produksi agregat standar, yaitu:

 

K AL1 Y

Dimana:

Y : Produk domestik bruto (PDB) K : Stok modal fisik

L : Tenaga kerja

A : Tingkat kemajuan teknologi

α : Elastisitas output terhadap modal (persentase kenaikan PDB yang bersumber dari 1 persen penambahan modal fisik dan modal manusia. Model neoklasik beranggapan bahwa mobilitas faktor produksi, baik modal maupun tenaga kerja, pada permulaan proses pembangunan adalah kurang lancar. Akibatnya, pada saat itu modal dan tenaga kerja ahli cenderung terkonsentrasi di daerah yang lebih maju sehingga ketimpangan pembangunan regional cenderung melebar. Akan tetapi bila proses pembangunan terus berlanjut, dengan semakin baiknya prasarana dan fasilitas komunikasi, maka mobilitas modal dan tenaga kerja tersebut akan semakin lancar. Dengan demikian, nantinya setelah negara yang bersangkutan telah maju, maka

(13)

23 ketimpangan pembanguan regional akan berkurang. Perkiraan ini merupakan kesimpulan kedua dari model ini dan kemudian dikenal sebagai Hipotesis Neoklasik yang digambarkan oleh Gambar 4 berikut ini.

2.4 Disparitas Wilayah

Disparitas wilayah merupakan suatu kondisi di mana terdapat perbedaan tingkat pertumbuhan ekonomi antarwilayah. Perbedaan pertumbuhan ekonomi ini mendorong terjadinya perbedaan kesejahteraan masyarakatnya. Disparitas wilayah terjadi bukan hanya di negara yang miskin saja, akan tetapi terjadi di setiap negara baik negara berkembang maupun negara belum berkembang, negara agraris atau industri, negara besar atau kecil. Perbedaan di antara kedua wilayah ini terletak pada perkembangan sektor-sektor ekonominya; pertanian, pertambangan, industri, konstruksi, perdagangan, transportasi, komunikasi, perbankan, asuransi, pendidikan, pelayanan kesehatan, perkembangan infrastruktur, fasilitas perumahan, dan sebagainya.

Menurut Murty (2000), berbagai faktor utama penyebab terjadinya disparitas regional menurut antara lain; geografi, sejarah, politik, kebijakan pemerintah, administrasi, sosial, dan ekonomi.

Kurva Ketimpangan Regional

Tingkat Pembangunan

Nasional

0

Gambar 4 Hipotesis Neoklasik Sumber : Sjafrizal (2008).

Ketimpangan Regional

(14)

24 a. Geografi

Suatu daerah yang mempunyai cakupan wilayah yang cukup luas, maka akan terjadi perbedaan distribusi sumber daya alam, sumber daya pertanian, topografi, iklim, curah hujan, dan sebagainya. Apabila kondisi geografi suatu wilayah cukup baik akan menempatkan wilayah tersebut pada kondisi yang lebih baik pula.

b. Sejarah

Tingkat perkembangan suatu masyarakat sangat tergantung pada apa yang telah mereka lakukan pada masa lalu. Bentuk organisasi dari perekonomian pada masa lampau merupakan penyebab penting, terutama berkaitan dengan sistem insentif untuk pekerja dan kewirausahaan. Sistem yang memberi kebebasan untuk bekerja dan berusaha akan dapat berkembang lebih cepat.

c. Politik

Kondisi politik sangat berpengaruh pada proses pembangunan suatu wilayah. Kondisi politik yang tidak stabil dapat menimbulkan ketidakpastian di berbagai bidang yang berdampak pada keraguan investor menanam modal, keraguan pengusaha memperluas usaha, dan sebagainya.

d. Kebijakan Pemerintah

Kebijakan pemerintah yang tepat dalam perencanaan pembangunan akan menghasilkan perkembangan yang seimbang antar wilayah. Selama ini dalam pembangunan, kebijakan pemerintah lebih menekankan pada sasaran makro berupa pertumbuhan yang tinggi dan membangun pusat-pusat pertumbuhan yang justru menimbulkan kesenjangan antarwilayah. Wilayah pusat pertumbuhan bergerak dengan pesat, namun wilayah hinterland terkuras habis sumber dayanya dan tidak mampu mengembangkan diri.

e. Administrasi

Administrasi yang tidak efisien dapat mengakibatkan disparitas regional. Pelayanan yang buruk, lamban dan berbelit-belit pada kantor-kantor pemerintah yang merupakan kantor pelayanan publik untuk perijinan usaha akan menyebabkan keengganan para investor menanam modal di wilayah

(15)

25 tersebut. Sebaliknya mereka akan menanamkan modalnya di wilayah yang mudah dan cepat pelayanan administrasinya.

f. Sosial

Banyak faktor sosial yang mempengaruhi perkembangan suatu wilayah. Masyarakat yang tertinggal umumnya tidak mempunyai institusi dan perilaku yang kondusif terhadap perkembangan ekonomi. Mereka percaya pada kepercayaan yang primitif dan tradisional, serta nilai-nilai sosial yang menghambat perkembangan ekonomi. Sebaliknya masyarakat di daerah yang lebih maju mempunyai institusi dan perilaku yang kondusif terhadap perkembangan ekonomi, karena mereka percaya pada agama, tradisi, nilai-nilai sosial, dan perilaku yang lebih fleksibel.

g. Ekonomi

Faktor-faktor ekonomi penyebab disparitas dapat dikelompokkan sebagai berikut:

 Perbedaan kuantitatif dan kualitatif faktor produksi seperti lahan, tenaga kerja, modal, organisasi, dan perusahaan.

 Proses akumulasi dari berbagai faktor, seperti lingkaran setan kemiskinan.  Kekuatan pasar bebas dan pengaruhnya terhadap spread effect dan

backward effect. Pasar bebas telah mengakibatkan faktor-faktor ekonomi cenderung terkonsentrasi di wilayah-wilayah berkembang. Perkembangan wilayah ini terjadi karena penyerapan sumber daya dari wilayah sekitarnya. Spread effect yang diharapkan terjadi ternyata lebih lemah dibandingkan dengan backwash effect.

 Pasar tidak sempurna seperti faktor immobilitas, kebijakan harga, keterbatasan keterampilan tenaga kerja, dan sebagainya.

2.5 Penelitian Terdahulu

Penelitian terkait dengan ekonomi di wilayah perbatasan antar negara dilakukan Fullerton (2003) yang melakukan kajian ekonomi perbatasan di Negara Meksiko dan Amerika Serikat. Kajian yang dilakukan Fullerton menghasilkan kesimpulan bahwa integrasi ekonomi perbatasan di beberapa

(16)

26 wilayah penelitian menyebabkan perekonomian di wilayah tersebut berkembang dengan sangat cepat. Populasi penduduk tumbuh pesat di daerah yang tingkat pendapatannya lebih tinggi, transmisi perputaran bisnis juga bergerak cepat sebagai efek dari peningkatan konsumsi, tumbuhnya pasar ritel penukaran uang di daerah perbatasan dan munculnya negatif eksternalities akibat eksploitasi sumber daya alam di daerah perbatasan.

Topaloglou dan Petrakos (2006) melakukan penelitian ekonomi geografi di perbatasan regional Uni Eropa. Kesimpulan dari penelitian ini salah satunya menyebutkan bahwa level terendah dari interaksi ekonomi perbatasan memperlihatkan karakter periperal dari daerah perbatasan pada garis luar Uni Eropa. Meskipun volume perdagangan eropa semakin meningkat sejak 1989, area perbatasan dalam garis luar Uni Eropa tidak terlihat memiliki peran penting dalam proses ini sehingga dapat dikatakan bahwa interaksi antar daerah perbatasan secara umum sebagai jenis efek tembusan saja.

Bappenas (2003) melakukan kajian mengenai Strategi dan Model Pengembangan Wilayah Perbatasan Kalimantan. Hasil kajian menyebutkan bahwa permasalahan pokok wilayah perbatasan di Kalimantan yang perlu mendapat perhatian dan perlu segera ditangani dapat diidentifikasi antara lain kaburnya garis perbatasan wilayah negara akibat rusaknya patok-patok di perbatasan yang merupakan ancaman kehilangan wilayah kedaulatan, kemiskinan akibat keterisolasian wilayah perbatasan menjadi pemicu pelintas batas untuk memperbaiki perekonomiannya, kurang sinkronnya kebijakan-kebijakan yang dilakukan di wilayah-wilayah perbatasan oleh instansi pemerintah, sehingga perlu dilakukan koordinasi yang lebih mantap dan terpadu yang melibatkan banyak instansi (baik di pusat maupun di daerah), belum terkoordinasinya antar pelaku pengelolaan sumberdaya alam sehingga mengakibatkan eksploitasi sumberdaya alam kurang baik bagi pengembangan daerah maupun untuk masyarakat, terbatasnya sarana dan prasarana perbatasan perhubungan seperti jalan dan jembatan di wilayah-wilayah perbatasan maupun ke arah perbatasan, yang menyebabkan kesenjangan antara kedua wilayah negara, terbatasnya sarana dan prasarana komunikasi

(17)

27 seperti stasiun pemancar televisi dan radio sehingga masyarakat di sekitar perbatasan sulit menerima siaran dari dalam negeri dan lebih mudah menerima siaran televisi dan radio asing atau negara tetangga, belum terintegrasinya pengelolaan sumberdaya alam, khususnya wilayah lindung dan konservasi hutan, lintas negara dalam program kerjasama bilateral antara Indonesia– Malaysia mengakibatkan perbedaan penggunaan lahan perbatasan antara kedua negara, wilayah perbatasan Kalimantan yang sangat panjang dan meliputi beberapa kabupaten serta mempunyai posisi strategis dan berdampak terhadap penentuan kebijakan pertahanan keamanan dan politik dalam dan luar negeri, sampai saat ini baru memiliki pos pelintas batas legal yang disepakati oleh kedua belah pihak (2 pos pemeriksa lintas batas yang legal dari 16 pos lintas batas yang ada).

Penelitian-penelitian yang berkaitan dengan faktor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi suatu negara atau wilayah telah sering dilakukan. Mulyanto (1999) melakukan penelitian tentang variabel makro penentu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dari penelitian tersebut dapat diketahui bahwa dalam jangka panjang variabel alokasi anggaran pendidikan, angka partisipasi kasar SMA, angka partisipasi kasar universitas, pembentukan modal bruto, tabungan bruto, investasi luar negeri, ekspor dan indeks keterbukaan perdagangan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Novianti (2003) melakukan penelitian tentang faktor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi dan analisis disparitas di kawasan pengembangan ekonomi terpadu Pare-Pare Sulawesi Selatan. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa variabel nilai produksi pertanian, jumlah tenaga kerja, kapasitas listrik terpasang, konsumsi listrik dan dummy setelah diberlakukannya kapet berpengaruh signifikan terhadap PDRB di Kapet Pare-Pare. Dari penelitian tersebut juga diketahui bahwa pembentukan Kapet justru membuat disparitas daerah semakin besar.

Sedangkan Amrullah (2006) secara khusus meneliti tentang pengaruh infrastruktur terhadap pertumbuhan ekonomi regional. Variabel-variabel yang

(18)

28 berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi regional antara lain jalan, listrik, air minum dan telepon. Prasetyo (2008) juga mengkaji tentang pengaruh infrastruktur terhadap pembangunan ekonomi kawasan barat Indonesia. Kajian tersebut menyimpulkan bahwa infrastruktur listrik, jalan, dan air bersih mempunyai pengaruh terhadap pembangunan ekonomi. Nilai elastisitas masing-masing infrastruktur yang paling besar berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita berturut-turut yaitu listrik, jalan dan air bersih.

Studi tentang keterkaitan pengeluaran pemerintah dan pertumbuhan dilakukan antara lain oleh Barro dan Martin (1992). Barro dan Martin membagi pengeluaran pemerintah menjadi pengeluaran produktif dan tidak produktif. Pengeluaran produktif apabila pengeluaran tersebut mempunyai efek langsung terhadap pertumbuhan ekonomi. Landau (1983) melakukan penelitian terhadap 27 negara berkembang dan menyimpulkan bahwa pengeluaran pemerintah yang besar terutama pengeluaran konsumsi justru akan menurunkan pertumbuhan pendapatan per kapita. Selanjutnya Landau (1986) juga meneliti 65 negara berkembang dan mendapatkan hasil yang sama. Devarajan dan Vinaya (1993) menemukan hubungan negatif dan tidak signifikan hubungan antara pengeluaran produktif dengan pertumbuhan. Sementara itu Lin (1994) menyatakan pengeluaran non-produktif mempunyai hubungan negatif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan di negara industri tetapi positif dan signifikan di negara berkembang. Hal ini terjadi karena pelayanan pemerintah yang bersifat non produktif di negara berkembang sebagian besar digunakan untuk konsumsi. Kweka dan Morrisey (1999) meneliti hubungan keduanya terhadap negara Tanzania periode 1965-1996. Hasil yang diperoleh bahwa pengeluaran pemerintah berdampak negatif terhadap pertumbuhan. Dampak negatif disebabkan karena tidak efisiennya pengeluaran pemerintah di Tanzania. Folster dan Henrekson (2006) menyatakan bahwa pada tingkat pengeluaran pemerintah yang rendah di negara miskin terutama untuk pengeluaran produktif dan rendah pula

(19)

29 pajaknya, biasanya tidak efisien dalam pengumpulan pajak dan pengeluaran pemerintahnya.

Goldsmith (2008) melakukan kajian terhadap efek pengeluaran pemerintah terhadap pertumbuhan ekonomi melalui study literatur. Dalam penelitan tersebut, Goldsmith membagi pengeluaran pemerintah menjadi dua bagian yaitu konsumsi publik (public consumption) dan investasi publik (public investment). Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa dalam jangka pendek peningkatan pengeluaran pemerintah pada konsumsi publik dan konsumsi investasi memiliki efek yang sama terhadap pertumbuhan sedangkan dalam jangka panjang efeknya berbeda. Berbeda dengan penelitian yang menyetakan hubungan negatif antara pengeluaran pemerintah dengan pertumbuhan ekonomi, Ram (1986) menemukan hubungan positif antara pengeluaran pemerintah dengan pertumbuhan ekonomi. Fan dan Hazel (1998) meneliti tentang hubungan pengeluaran pemerintah dengan kemiskinnan dan pertumbuhan ekonomi di India. Hasilnya menyebutkan bahwa pengeluaran pemerintah untuk investasi produktif, infrastruktur pedesanaan dan pembangunan pedesaan yang berkenaan dengan masyarakat miskin mampu menurunkan tingkat kemiskinan dan meningkatkan produktifitas sektor pertanian.

Studi sejenis di Indonesia dilakukan oleh Luky dan Edi (2006) yang meneliti tentang hubungan pengeluaran pemerintah dengan produk domestik bruto. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan bahwa terdapat hubungan timbal balik antara produk domestik bruto dengan total pengeluaran pemerintah. Artinya fluktuasi dan dinamika Produk Domestik Bruto (PDB) dapat dijelaskan oleh total pengeluaran pemerintah, demikian sebaliknya. Hal ini juga ditunjukkan oleh impulse response function dan variance decomposition. Hanya saja berdasarkan estimasi VAR dampak total pengeluaran pemerintah ternyata tidak signifikan terhadap produk domestik bruto. Hal ini banyak dijelaskan oleh besarnya pengeluaran rutin sementara pengeluaran rutin banyak tidak produktif dan bersifat kontraksi seperti pembayaran bunga utang.

(20)

30 2.6 Kerangka Pemikiran

Daerah perbatasan merupakan halaman depan negara yang memiliki posisi strategis tidak hanya dalam bidang pertahanan dan kemanan (hankam) tetapi juga dalam bidang ekonomi. Dalam bidang hankam posisi strategis daerah perbataan terkait dengan patok batas negara yang berada di wilayah tersebut sedangkan posisi strategis ekonomi daerah perbatasan terkait dengan potensi ekonomi yang terkandung di daerah perbatasan yang tidak hanya berupa interaksi ekonomi antar negara yang mendorong terjadinya perdagangan antar warga sehingga mampu meningkatkan kesejahteraanya. Akan tetapi lebih dari itu, daerah perbatasan di Indonesia juga menyimpan potensi sumber daya alam yang besar baik berupa hasil hutan yang melimpah maupun potensi bahan tambang yang belum tergali.

Selain menyimpan potensi ekonomi yang sangat besar, daerah perbatasan juga menyimpan masalah yang kompleks. Potensi ekonomi yang terkandung di daerah perbatasan tidak diimbangi oleh ketersedian sarana dan prasarana pendukung yang memadai seperti terbatasnya infrastruktur transportasi dan komunikasi, belum terpenuhinya fasilitas Customs, Immigration, Quarantine dan Security serta terbatasnya fasilitas sosial dan fasilitas umum seperti sekolah, rumah sakit, listrik dan lain-lain.

Keterbatasan di berbagai hal yang dihadapi daerah perbatasan memicu terjadinya ekses negatif antara lain tingginya angka kemiskinan, terjadinya aktifitas ilegal seperti illegal logging, illegal mining, illegal fishing dan human trafficking serta munculnya ancaman terhadap pertahanan dan keamanan negara yang dipicu oleh bergesernya patok perbatasan dan perhatian yang kurang dari Pemerintah Indonesia terhadap warganya di daerah perbatasan.

Berbagai permasalahan yang timbul tersebut perlu dibuat solusi pemecahannya yaitu melalui identifikasi ciri-ciri sosial ekonomi dalam rangka pemetaan potensi ekonomi dan kebutuhan masyarakat serta intervensi kemungkinan kebijakan baik oleh pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten agar pemerataan pembangunan, peningkatan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di daerah perbatasan yang selama ini diharapkan dapat terwujud.

(21)

31 Gambar 5 Kerangka Pikir Penelitian.

2.7 Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

1. Diduga bahwa karakteristik kabupaten perbatasan secara umum mengalami kemajuan sejak digulirkannya otonomi daerah hingga saat ini. 2. Diduga bahwa sektor pertanian merupakan sektor basis daerah perbatasan. 3. Diduga terjadi ketimpangan pembangunan antara kabupaten perbatasan

dengan bukan perbatasan dalam provinsi penelitian. Kabupaten Perbatasan Kemiskinan & Ketertinggalan Ancaman Hankam Aktifitas illegal Keterbatasan Sarana & Prasana Potensi Analisis/Telaah Ekonomi Setelah Otonomi Daerah Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat Kebijakan Pembangunan SDA Permasalahan Interaksi Ekonomi

(22)

32 4. Diduga bahwa kabupaten perbatasan merupakan daerah yang relatif

tertinggal dibanding daerah lain dalam satu propinsi (low growth and low income).

5. Diduga bahwa kabupaten perbatasan memiliki daya saing atau kemandirian daerah yang rendah.

6. Diduga bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah perbatasan antara lain panjang jalan, produksi listrik, jumlah angkatan kerja, belanja pegawai pemerintah daerah, belanja untuk kesehatan, pendidikan dan belanja modal daerah.

7. Diduga bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi PDRB perkapita daerah perbatasan antara lain panjang jalan, produksi listrik, jumlah angkatan kerja, belanja pegawai pemerintah daerah, belanja untuk kesehatan, pendidikan dan belanja modal daerah

Referensi

Dokumen terkait

a. Metode PBL sesuai untuk diterapkan pada mata kuliah ini karena inti dari mata kuliah ini adalah pemodelan masalah dan penyelesaian masalah dengan berbantu teknologi

Karni, M.Pd PENGAWAS SD UPTD Cab.Din.. Sunaryoto PENGAWAS SD

Berdasarkan latarbelakang masalah yang dipaparkan sebelumnya, permasalahan dalam penelitian ini adalah “Apakah penggunaan teknik time out berpengaruh untuk mengurangi

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “OPTIMALISASI EKSTRAKSI SENYAWA (E)-4-(3,4-DIMETOKSIFENIL) BUT-3-EN-1-OL DARI BENGLE (Zingiber montanum)

Tepung kepala udang Tepung kepala udang Tepung kedele Tepung kedele Tepung terigu Tepung terigu Dedak halus Dedak halus. Minyak ikan

Hl ini terjadi selain karena konsentrasi limbah cair tapioka yang tinggi juga rendahnya aktifitas fotosintesis bila ditinjau dari persentase pertumbuhan tanaman enceng gondok

Segala kesalahpahaman dijernihkan, dan kami semua sepakat untuk memulai dari awal lagi.” Dan belakangan, Wesley mengutip, “Berkumpul untuk hari Rabu Abu” dari The Book

disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak.. diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dihadapan hukum, dan hak untuk tidak dituntut atas