• Tidak ada hasil yang ditemukan

WANITA DAN KESEHATAN DITINJAU DARI ASPEK SOSIAL DAN EKONOMI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "WANITA DAN KESEHATAN DITINJAU DARI ASPEK SOSIAL DAN EKONOMI"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

WANITA DAN KESEHATAN DITINJAU DARI ASPEK SOSIAL DAN EKONOMI Widanarti Setyaningsih

Program Studi Ilmu Keperawatan, STIKes Binawan Email Korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Perubahan kondisi dan situasi saat ini telah merubah peran wanita tidak hanya dalam kehidupan sosialnya saja sebagai ibu rumah tangga biasa namun juga menuntut mereka harus mampu dalam mengahasilkan uang dan menambah income keluarga. Kondisi tersebut kadang tidak diimbangi dengan peluang untuk melakukan pemeriksaan dan pemeliharaaan kesehatan yang memadai. Hal ini terutama terjadi pada wanita di negara negara berkembang yang dihadapkan pula pada situasi social dan ekonomi yang kurang baik bila dibandingkan dengan negara maju. Tidak hanya itu pengetahuan dan kesadaran yang kurang juga dapat mempengaruhi kondisi kesehatan wanita, misalnya dalam perilaku deteksi dini terhadap kanker. Kesehatan wanita merupakan bagian dari kesehatan keluarga dan masyarakat. Upaya pemberdayaan wanita melalui penyuluhan dan program kesehatan wanita di POSYANDU dan atau POSBINDU dapat menjadi salah satu solusi meningkatkan derajat kesehatan wanita. Dapat disimpulkan bahwa wanita dengan berbagai tugas dan tanggung jawabnya sangat rentan terhadap kondisi tidak sehat dan perlu diberdayakan agar lebih peduli terhadap kesehatannya dan mengutamakan pula upaya pencegahan

Kata kunci: Wanita, Kesehatan, Pemberdayaan, Negara berkembang

WOMEN AND HEALTH IN TERMS OF SOCIAL AND ECONOMIC PERSPECTIVES ABSTRACT

The changing of women’s role worldwide has led to shifting women’s participation in social life. Not only as housewives, women also play role as caregivers, career, and as money earner for family as it impacts seriously toward women’s health. Women in developing countries may experience more disadvantages situation than women in developed countries. This paper examines several literatures that focus on the women’s health from the economic perspective and social demographic status begun in some countries and then in developing countries. Based on the review, the general issues of women’s health in several countries can be identified that women are mostly in the vulnerable position. In regard to women’s knowledge, awareness to prevent and perform early detection to cancer becomes essential. Women’s Health is a part of family and community Nursing. Empowerment program that deals with women’s health for Indonesian women through community organization known as Pos Pelayanan Terpadu or POSYANDU (Integrated Service Post) and POSBINDU (Integrated Coaching Post) . To conclude, women and multiple roles bring benefits and disadvantages. Lack of supports and poverty may impact seriously to the poor health care access. Health care access included to achieve proper understandings to health care needs that can be indicated by women’s awareness to their own health

(2)

PENDAHULUAN

Dewasa ini issue kesehatan pada wanita menjadi topik yang hangat dibicarakan baik di tingkat nasional maupum internasional. Wanita yang bekerja pada sektor formal dan informal menurut data yang ada juga mengalami peningkatan karena kebutuhan yang berhubungan dengan proses globalisasi. Sebagai contoh pekerja pria di Australia cenderung menurun dari 79.3 % pada 1978 menjadi 71.2 % pada Januari 2016 (WGEA, 2016). Sementara partisipasi wanita Australia dalam dunia kerja meningkat menjadi sekitar 59 % pada Maret dan April 2009 dan pada Februari 2016 meningkat menjadi 59.4 %. (WGEA, 2016). Partisipasi pekerja wanita di Indonesia diprediksi meningkat dari tahun ke tahun, alasan ekonomi dan untuk membantu

pemenuhan kebutuhan keluarga sering

menajdi alasan mengapa wanita bekerja. Namun demikian wanita leboh banyak bekerja pada sector informal daripada sector formal, sebagai ilustrasi 50.9 % pria Indonesdia bekerja di sector informal sementara pekerja wanita pada sector informal mencapai 57.9 % (ILO,2014) .

Partisipasi wanita dalam dunia kerja

khususnya industry menunjukan peningkatan antara lain di Thailand, Philipina dan Indonesia. Markindes (1992) mengemukakan bahwa status wanita dan posisi wanita di dunia kerja, serta issue gender menjadikan wanita sebagai populasi yang berada di bawah garis kemiskinan.

Faktor budaya dan nilai nilai yang dianut

para wanita di asia dapat pula

mempengaruhi sikap wanita terhadap

kesehatannya baik kebutuhan akan kesehatan maupun perilaku sehat. Sebagai contoh wanita asia cenderung ragu ragu dan malu

untuk mengunjungi fasilitas pelayanan

kesehatan guna melakukan deteksi dini kanker payudara karena faktor tabu (taboo) dan juga faktor biaya (Tan et.al, 2006). Memperhatikan berbagai permasalahan di atas yang dapat menghambat wanita untuk mendapatkan pelayanan kesehatan serta mempertahankan kondisi kesehatannya maka pada bab selanjutnya penulis akan melakukan telusur hasil study yang sudah dilakukan tentang berbagai issue kesehatan wanita dan implikasinya.

REVIEW LITERATUR

A. Masalah kesehatan wanita dalam perspektif umum

Masalah kesehatan wanita dapat

didiskusikan dalam perspektif yang sangat luas , antara lain wanita dan kebutuhan fisiologis alamiah, demografi, ekonomi dan

faktor lingkunga. Moss (2002)

mengemukakan bahwa wanita di masyarakat dengan berbagai latar belakang demografi seperti usia, pekerjaan, status perkawinan, pendapatan, dan issue jenis kelamin dapat berpengaruh terhadap kesehatannya. Faktor faktor lain seperti gender, penghasilan, struktur keluarga, tingkat pendidikan, usia dan pekerjaan memilki pengaruh yang berbeda kepada pria dan wanita (WHO, 2000). Berikut ini akan disampaikan beberapa aspek yang berkaitan dengan masalah kesehatan wanita ;

1. Kondisi spesifik wanita dan kesehatan /

Woman’s specific condition and health concerns

Umumnya issue kesehatan yang

didiskusikan tentang wanita dengan

kespesifikannya adalah tentang kesehatan reproduksinya, kehamilan dan beberapa hal lain yang berhubungan dengan organ reproduksi. Seperti dikemukankan oleh Doyal (2000) wanita secara alamiah dapat mengalami kehamilan, melahirkan, menyusui dan juga mengalami menaupouse, dan semua itu kondisi spesifik yang tidak terjadi pada pria. Meleis and Im (2002) lebih lanjut

mengemukakan bahwa penelitian dan

bahasan tentang sehat dan sakit yang dialami

wanita hendaknya didiskusikan secara

komprehensif termasuk tentang keturunan, biomedikal serta analisa moral, jadi tidak hanya aspek fisio dan patologi sistem reproduksinya saja. Seperti dikemukakan oleh Meleis dan Im (2002) bahwa kebutuhan pelayanan kesehatan pada wanita tidak hanya untuk kesehatan reproduksi dan maternal, melainkan lebih kompleks lagi mengingat perannya sebagai pekerja, pemberi perawatan pada keluarga, pasangan (istri), serta sebagai anggota masyarakat.

2. Status sosial ekonomi dan kesehatan wanita

Dalam konteks sosial ekonomi, kesehatan wanita dapat dipengaruhi oleh posisi wanita di masyarakat. Seperti dikemukakan oleh

(3)

Lahelma, Arber, Kivela dan Roos, (2002) kondisi sosial seperti kemiskinan status perkawinan, dan latar belakang budaya dapat menempatkan wanita pada posisi yang tidak menyenangkan dalam penerimaan pelayaan kesehatan. Terkesan bahwa wanita di komunitas memiliki kekuatan yang lebih rendah dari pria, memerlukan support dari pria dan juga kurang dalam kemandirian (Doyal, 1995 dikutip dalam Arber dan Khlat (2002). Lebih jauh lagi dijelaskan bahwa terkait dengan status perkawinan, wanita yang menikah dan memiliki suami tentu lebih baik karena ada yang membiayai, membantu mengasuh anak serta berbagi tugas dalam urusan rumah tangga (Rao, Apet dan Subbakhrisna, 2003). Akan tetapi untuk wanita yang menjadi orang tua tunggal (single parent) kondisinya mungkin lebih berat karena harus menanggung biaya hidup sendiri untuk kebutuhan sehari hari begitu juga untuk kebutuhan anak-anaknya, belum lagi tugasnya sebagai pegawai atau pekerja

yang menuntut dia harus dapat

menyelesaikan tugas-tugasnya (Sherbourne, et.al, 2001). Menurut Walters (1993) single

parent mengalami stress, cemas dan depresi

lebih dari wanita yang memiliki pasangan dalam kaitannya dengan masalah masalah sosial.

Wanita dengan tingkat pendidikan yang tinggi memiliki fasilitas pelayanan kesehatan yang lebih baik karena adanya jaminan asuransi disamping kondisi sosial ekonomi yang juga lebih baik. Pendapat Johnson dan

Klap (2001) wanita dengan tingkat

pendidikan yang tinggi dapat memenuhi kebutuhan hidupnya lebih baik dari mereka yang hanya tamatan sekolah menengah atas. Menurut Kaiser Family Foundation (2004) wanita dengan tingkat sosial ekonomi yang rendah dan tanpa asuransi kesehatan tentu berdampak pada kurangnya kemampuan mendapat pelayanan kesehatan yang layak. Seperti dikemukakan oleh Kjerulff et.al (2007) wanita yang tidak memiliki asuransi kesehatan akan terbatas dalam mendapatkan pelayanan dokter spesialis biasanya hanya mendapatkan penanganan yang bersifat gawat dan darurat saja.

3. Lingkungan dan latar belakang budaya, pengaruhnya terhadap kesehatan wanita.

Wanita di negara maju umumnya

mendapatkan pelayanan kesehatan lebih baik dan terjamin dibandingkan dengan wanita di negara negara berkembang. Doyal (1998)

menyatakan bahwa wanita memiliki

pengalaman, ketertarikan, kebutuhan dan keinginan yang beragam. Begitu pula masalah kesehatan wanita di negara maju dan di negara-negara berkembang mungkin juga berbeda karena cara pandang wanita yang berbeda pula terhadap kesehatan. Sebagai contoh tujuan program kesehatan di India difokuskan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu hamil anak anak karena tingginya angka anemia pada ibu hamil usia 15-49 tahun. Sementara di Amerika Serikat kebijakan terhadap wanita adalah berfokus

pada aspek ekonomi terintegrasinya

peklayanan kesehatan sesuai tentang

kehidupan wanita (UNDP, 1997).

Wyn dan Solis (2001) menyatakan kesehatan wanita sepanjang kehidupannya dipengaruhi beberapa faktor seperti sosial ekonomi, etnis, geografi, dan latar belakang adat istiadat serta perilaku dalam kesehatan. Luk and

Shaffer (2005) mengemukakan ada

perbedaan cara pandang wanita China dan wanita barat terhadap wanita yang bekerja dan mendapatkan bayaran, dimana cara pandang itu sendiri dapat berdampak pula terhadap konflik di dalam keluarga. Contoh lainnya Artazcoz et.al (2004) menjelaskan bahwa dalam persfektif tradisional, wanita Spanyol yang telah menikah diwajibkan tinggal di rumah dan melayani keluarganya, karena menurut masyarakat wanita yang telah menikah dan bekerja akan membawa dampak negative terhadap kesehatan. Wanita pekerja di perkotaan umumnya memadukan tugas dan tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga sekaligus sebagai pencari nafkah, akibatnya wanita sering mengabaikan kondisi kesehatannya karena peran gandanya tersebut (Young, 1999).

4. Issue Gender, ras dan aspek kesukuan yang mempengaruhi kesehatan wanita.

Issue Gender memiliki implikasi yang cukup besar bagi wanita dalam mengajkses pelayanan kesehatannya. Menurut Doyal (2000) ketidak setaraan gender dalam pendapatan dan kesejahteraan membuat

(4)

kemiskinan. Kemiskinan dapat mempengaruhi baik pria maupun wanita akan tetapi remaja putri dan wanita cenderung lebih menderita dibandingkan pria karena adanya diskriminasi (Dwyer dan Bruce, 1998; Jackson, 1998; Kabeer, 1994 dikutip dalam Doyal, 2000).

Diskriminasi terhadap wanita dan remaja putri membawa dampak buruk terhadap rasa

tak berharga di mata keluarga dan

masyarakat selanjutnya akibat kondisi ini wanita dapat mengakibatkan remaja putri tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri dan tidak bangga dengan dirinya (Papanek, 1990 dikutip dalam Doyal, 2000). Diskriminasi terhadap wanita juga dalam

bidang politik, dimana wanita tidak

mempunyai posisi yang kuat dalam

pengambilan keputusan terhadap berbagai kebijakan. Sebagai contoh di negara Amerika latin dan Caribia posisi wanita sebagai

pengambil keputusan belumlah efektif

(Puentes dan Markindes, 1992).

Kaiser Family Foundation (2004),

mengidentifikasi bahwa ada perbedaan antara wanita kulit hitam dan wanita kulit putih di Amerika, kondisi kesehatan wanita kulit

hitam cenderung lebih buruk bila

dibandingkan dengan wanita kulit putih. Hal ini dipengaruhi pula oleh dan ketidak tersediaan asuransi kesehatan untuk wanita kulit hitam/ berwarna. Sementara wanita kulit putih memiliki kondisi kesehatan lebih baik dan didukung oleh ketersediaan asuransi kesehatan.

Nilai-nilai adat istiadat dan budaya di

beberapa negara asia seolah olah

menempatkan wanita di bawah ketiak para pria. Sebagai contoh wanita di India, Bangladesh, Thailand dan Indonesia, setelah menikah mereka harus mendapat restu atau ijin dari suami bila ingin bekerja (Dowling dan Worswick, 1999; dan Subbakrishna, 2003). Hubungan antara kesempatan bekerja dan kesehatan bagi wanita sangat erat, dengan bekerja maka wanita akan lebih mampu memenuhi kebutuhannya termasuk

pemenuhan kebutuhan akan kesehatan.

Wanita yang mendapat kesempatan bekerja akan meni ngkatka perekonomian keluarga dan produktifitasnya sehingga hal ini dapat pula meningkatkan kemampuan keluarga

dalam pemenuhan kebutuhan keluarga

termasuk perlindungan kesehatan (martono, 2016).

B. Peran peran wanita pada kehidupan sosial ekonomi

Umumnya wanita memilki peran ganda baik sebagai ibu rumah tangga dan sekaligus sebagai pencari nafkah atau membantu menambah pendapatan keluarga. Seperti diutarakan oleh, Pocock (2002) wanita di masyarakat umumnya berpartisipasi dalam mencari nafkah baik sebagai tenaga harian lepas, tenaga paruh waktu ataupun tenaga penuh dikarenakan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Arber dan Khlat (2002) menyampaikan bahwa wanita menjalani pekerjaan dengan tidak menerima bayaran untuk anggota keluarga dengan mengerjakan pekerjaan ibu rumah tangga dan merawat suami , anak anaknya dan bahkan orangtuanya. Wanita cenderung lebih perhatian dalam mengurus keluarga dan pekerjaan rumah, seperti

dicontohkan bahwa mayoritas pemberi

perawatan pada usia lanjut adalah wanita. Doyal (2000), mengatakan bahwa tanggung jawab utama wanita adalah mengurus rumah dan keluarganya yaitu anak, suami juga orangtua dan saudara. Umumnya pada saat anggota keluarga ada yang sakit, yang akan merawat adalah wanita (Donelan et.al, 2001). Seperti diungkapkan oleh Donelan, et.al,

(2001) bahwa wanita yang merawat

keluarganya dalam waktu lama mereka mungkin mengalami kelelahan fisik dan

bathin, umumnya mengalami masalah

kesehatan yang serius dan dapat menunjukan tanda gejala depresi.

Kontribusi wanita di negara berkembang

dalam lapangan pekerjaan umumnya

dalatarbelakangi oleh keinginan membantu

suami memenuhi kebutuhan keluarga.

Sebagai contoh keikutsertaan wanita

Indonesia di lapangan kerja meningkat drastis setelah terjadinya kritis moneter bila dibandingkan pekerja pria (BPS, BAPENAS and UNDP, 2001). Beberapa ahli meyakini bahwa wanita yang bekerja memiliki kehidupan dan kesehatan yang lebih baik dibandingkan dengan wanita yang tidak bekerja (Artazcoz, dkk 2004). Dengan bekerja maka penghasilan wanita bertambah namun demikian sebagai pekerja sekaligus ibu rumah tangga tentu dapat membawa dampak pula terhadap kesehatan wanita (Arber dan Khlat, 2002).

(5)

C. Wanita di dunia kerja dan implikasinya

Keikutsertaan wanita di dunia kerja dapat membawa pengaruh positif dan sekaligus negative bagi kesehatan wanita. Byron (2003) mengemukakan bahwa wanita yang bekerja dan mendapat dukungan dari keluarga dan lingkungannya cenderung tidak mengalami konflik di tempat kerjanya. Sementara Walters (1993), mengemukakan bahwa wanita dapat mengalami gangguan mental yang dipengaruhi oleh struktur keluarga, faktor sosial ekonomi dan posisi di tempat kerja. Walaupan ditinjau dari impak negativenya, wanita pekerja dilaporkan mengalami gangguan fisik seperti tekanan darah tinggi, kekakuan otot, kelelahan, kurang tidur dan radang lambung (Doyal, 1998). Pendapat ahli lainnya menyatakan bahwa wanita yang bekerja terkadang harus mendapatkan ijin serta dukungan dari pasangannya, para sudara ipar, serta orang tua atau keluarga besar (Rao dkk, 2003). Karena pangaruh nilai-nilai tradisional dan mayoritas pekerja wanita di Bangladesh menerima bayaran lebih rendah dari pegawai wanita walaupun posisi kerjanya sama (Salway, et al, 2003). Lebih jauh lagi dampak kondisi kerja yang tidak memuaskan bagi

wanita dapat mempengaruhi kesehatan

mental wanita serta merasa tidak

seimbangnya antara beban kerja dan

pendapatan yang diterima. Menurut Walters (1995), wanita pekerja baik dari kalangan

berpendidikan tinggi dan maupun

berpendidikan rendah mengalami stress, cemas dan depresi akibat dari beban kerja yang berasal dari tempat kerja dan rumah.

D. Krisis ekonomi dan masalah kesehatan wanita

Asian Development Bank (2006),

menuliskan ada enam kondisi yang dihadapi wanita karena kemiskinan, yaitu kurangnya

kemampuan mendapatkan pelayanan

kesehatan, lingkungan yang buruk atau tidak sehat, rendahnya pendidikan, terbatasnya air bersih dan sehat, buruknya pemukiman atau tempat tinggal serta kondisi ekonomi yang buruk.

Sekitar 49.5 juta jiwa penduduk Indonesia teridentifikasi hidup dalam kondisi miskin atau sekitar 24.2 % dari total populasi pada akhir 1998 (BPS, 1999 cited in Gardner and Amaliah, 1999). Situasi ekonomi yang tidak stabil juga berpengaruh terhadap status gizi anak dan wanita, dan

sekitar 22 % penduduk Indonesia tidak memilki sumber air bersih (Coalition for

Indonesian Health, 2005). Lingkungan yang

tidak sehat dan kurangnya air bersih serta nutrisi yang buruk telah berdampak pula terhadap kesehatan wanita sehingga wanita mengalami anemia dan gangguan system reproduksi.

Dilihat dari perspektif sosial ekonomi orang Indonesia yang sakit cenderung

menunda pemeriksaan dan pengobatan

karena tingginya biaya berobat. Akibatnya angka penyakit kronis meningkat, begitu pula penyakit menular, serta angka kesakitan dan kematian ibu meningkat (Suryawati, 2005). Menurut Donelan dkk (2001) wanita bekerja mengalami kesulitan untuk mendapatkan perawatan dan pengobatan yang memadai dan teratur karena faktor , antara lain tidak punya waktu, biaya yang mahal, dan

kesulitan mengaksesnya. Seperti

diungkapkan oleh Meng (1998) bahwa kebanyakan wanita Asia bekerja di sektor informal agar lebih fleksibel dalam mengatur waktunya untuk kerjaan rumah tangga dan pekerjaan yang mendapat upah.Wanita di perkotaan bekerja di sektor informal dan formal, wanita Indonesia yang bekerja pada sektor formal umumnya bekerja sebagai guru dan perawat (Ingham, 2005). Pada sektor

informal lainnya wanita mungkin

meninggalkan anak dan keluarganya demi mendapatkan pekerjaan di negara-negara timur tengah untuk mendapatkan uang yang lebih banyak (ADB, 2006). Selain ke negara negara timur tengah mereka juga merantau ke Singapura dan bekerja sebagai asisten rumah tangga atau sebagai pekerja sex komersial (Coalition against Trafficking of Women, 2007).

Pada sektor industri wanita Indonesia telah mendatangkan nilai ekonomi yang cukup penting, sebagai contoh mayoritas pekerja pada perusahaan garment dan pabrik sepatu adalah wanita (Duval, 2001). Akan tetapi bila dibandingkan dengan pekerja wanita di negar lain seperti di Mexico, wanita Indonesia menerima upah yang lebih kecil. Sebagai contoh pekerja wanita di Mexico menerima 1,51 dolar Amerika per jam, di Guatemala 1,28 dolar Amerika per jam, di China 43 cent per jam dan Indonesia terendah yaitu 16 cent per jam (Duval, 2001).Terlebih lagi wanita pekeja di sektor industrri sering mengalami kejadian yang

(6)

tidak menyenangkan di tempat kerja seperti pelecehan seksual, kekerasan fisik, sarana kerja yang kurang baik, kurangnya dukungan dari pengusaha, dan buruknya sarana pelayanan kesehatan bagi karyawan.

E. Pendidikan dan kesadaran wanita akan kesehatan: deteksi dini terhadap kanker

Ketidaktahuan termasuk dalam

memelihara kesehatan dirinya dan anggota keluarga akan mempermudah wanita jatuh dalam kondisi sakit dan lebih miskin lagi. Sebagai contoh, kesadaran wanita di China untuk memeriksankan dini kanker payudara ternyata lebih rendah bila dibandingkan dengan wanita wanita dari negara maju (Sadler, et.al, 2000). Menurut Doyal (1995) mayoritas pendidikan wanita di negara sedang berkembang lebih rendah bila dibandingkan dengan tingkat pendidikan prianya. Rendahnya kualifikasi pendidikan

wanita dapat berpengaruh terhadap

kemampuan wanita mengakses informasi

tentang kesehatan. Sebagai hasilnya

pengetahuan dan kesadaran wanita akan kesehatan juga rendah. Sekitar 12.1 % populasi berusia lebih dari 15 tahun mengalami illeterate atau keterbelakangan (Coalition for Indonesian Health, 2007).

Illiteracy atau ketidakfahaman terhadap

kesehatan ditunjukan pula oleh data berikut, bahwa 70 % wanita yang mengalami kanker payudara datang ke rumah sakit sudah dalam stadium lanjut. Bila dibandingkan dengan Jepang wanita yang datang ke rumah sakit dalam stadium lanjut hanya 13 % saja (Sutjipto, 2007). Menurut data yang

dihimpun oleh Departemen Kesehatan

Republik Indonesia, cakupan pemeriksaan dini terhadap kanker payudara dan kanker leher Rahim di Indonesia masih rendah. Sampai dengan tahun 2012 wanita Indonesia pada rentang usia 30 – 50 tahun yang telah diperiksa untuk deteksi dini kanker dengan pemeriksaan IVA baru sekitar 575.503 orang dari sekitar 36 juta wanita Indonesia

(Depkes,2013). Pemerintah Indonesia

mentargetkan 80 % wanita melakukan skrining sekurangnya satu kali dalam 5 tahun (Depkes,2013). Ada beberapa alasan yang

mempengaruhi perilaku wanita dalam

melakukan deteksi dini terhadap

kesehatannya terutama kanker payudara , yaitu kurangnya pemahaman tentang kanker

payudara, kurangnya kesadaran untuk

melakukan pemeriksaan payudaranya sendiri,

takut pada prosedur tindakan operasi, lebih yakin dan percaya pada terapi tradisional, masalah sosial ekonomi, alasan taboo dan tidak ingin menunjukan payudaranya kepada orang lain (Sutjipto, 2007).

Angka kejadian kanker payudara diprediksi meningkat yaitu dari 10 juta di tahun 2000 menjadi 15 juta di tahun 2020, dan 9 juta diantaranya terjadi di negara negara sedang berkembang (Brown, at al, 2006). Upaya pencegahan terjadinya kanker wanita, sangat

efektif bila dilakukan screening .

Sankaranarayanan dkk (2001)

menyampaikan bahwa program screening ini

perlu diutamakan unruk meningkatkan

kesadaran wanita akan pencegahan kanker dan upaya mendapatkan pelayan kesehatan.

F. POSYANDU dan POSBINDU sebagai wadah pemberdayaan keluarga dalam kesehatan.

POSYANDU adalah wadah pemeliharaan kesehatan yang dilakukan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibimbing petugas terkait (Departemen Kesehatan RI. 2006). Posbindu adalah sebuah wadah, tempat pelayanan terpadu yang diperuntuhkan bagi lansia disuatu daerah tertentu yang di dalamnya terdapat pelayanan kesehatan dan

kegiatan peningkatan kesehatan serta

kesejahteraan lansia yang dalam

pelaksanaanya melibatkan peran masyarakat dan organisasi sosial. (Depkes RI, 2006)

Kegiatan Posbindu adalah kegiatan yang melibatkan peran serta masyarakat dalam rangka deteksi dini, pemantauan dan tindak lanjut dini faktor risiko penyakit tidak

menular secara mandiri dan

berkesinambungan. Pada kenyataan dan perjalannnya Program yang dijalankan di POSBINDU bertujuan untuk pembinaan kesehatan yang berfokus pada penyakit tidak menular misalnya penyakit akibat proses menua, sehingga sub populasi yang dilayani adalah para usia lanjut dan pra lansia. Namun

demikian saat ini sasaran pelayanan

kesehatan diperluas sehingga masyarakat pada rentang usia remaja dan usia produktif masuk dalam sasaran pelayanan kesehatan. Misalnya sub populasi anak usia sekolah dan remaja serta usia produktif. Posbindu dapat dikatakan pula sebagai upaya kesehatan bersama masyarakat (IKBM). Kegiatan yang dilaksanakan di masyarakat atas dasar

(7)

keinginan dan kebutuhan masyarakat akan kesehatan.

SIMPULAN DAN SARAN Simpulan

Sebagai penutup pada tulisan ini dapat diambil kesimpulan bahwa kesehatan wanita tidak hanya dilihat dari sisi kebutuhan wanita yang spesifik saja misalnya terkait system reproduksinya, tetapi dalam konteks yang lebih luas. Kesehatan wanita dilihat dari perspektif sosial dan ekonomi dapat dilihat dari keikutsertaan wanita dalam keluarga dan masyarakat sebagai ibu rumah tangga sekaligus sebagai pencari nafkah telah membawa dampak yang positif sekaligus yang negatiF. Peran wanita yang begitu bervariasi baik di keluarga dan masyarakat telah membantu keluarga dalam pemenuhan kebutuhan dari sisi ekonomi, namun pada saat yang bersamaan hal ini juga dapat mempengaruhi tingkat kesehatan wanita

tersebut. Wanita yang bekerja akan

menghasilkan bayaran/ upah/ gaji yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan dirinya. Akan tetapi dengan kemampuan finansial yang dimiliki belum

tentu dapat menjamin wanita dapat

mengakses pelayan kesehatan. Kendala

waktu dan kesibukan sering menjadi

penghambat bagi wanita untuk

memperhatikan kesehatannya. Wanita dapat bekerja di sector formal dan informal, wanita yang bekerja di sektor informal mengalami

kondisi yang lebih memprihatinkan

dikarenakan kurangnya pengetahuan, ketidak tersediaan fasilitas kesehatan dan kurangnya dukungan dari perusahaan atau tempat kerja

yang tidak/kurang kondusif sangat

mempengaruhi kesehatan wanita baik fisik dan mental . Upaya pemberdayaan wanita melalui program yang terpadu di Posyandu diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kesadaran pada wanita dalam memenuhi kebutuhan kesehatan wanita.

SARAN

Aktifitas di Posyandu yang sudah berjalan umumnya adalah Posyandu Balita dan Posyandu Lansia sementara Posbindu belum semua rukun warga memiliki. Untuk lebih

mengefektifkan lagi kegiatan dan

implementasi Program Puskuesmas yang diberikan di Posyandu ataupun Posbindu maka penulis merekomendasikan yaitu;

Pemberdayaan komunitas melalui pendidikan kesehatan bagi wanita guna meningkatkan pengetahuan wanita tentang kebutuhan akan

kesehatan, pemeliharaan kesehatan

reproduksi dan tidak kalah pentingnya dalam upaya deteksi dini keganasan dengan melibatkan sub populasi wanita sesuai tahap perkembangannya yaitu usia remaja, usia produktif dan usia lanjut.

KEPUSTAKAAN

Arber. S, and Khlat. M. (2002), Introduction to Sosial and economical patterning of women’s health in a changing world.

Sosial Science & Medicine, 54,

643-647.

Artazcoz, L., Borrell, C., Benach, J., Cortes, I., and Rohlfs, I., (2004), Women,

family emans and health: the

importance of employment status and

socio-economic position, Sosial

Science & Medicine, 56:263-274.

Brown,M.L, Goldie,S., Draisma, G., Harford, J., and Lipscom,J. (2006), Health services intervention for cancer control in developing countries, Diseases control priorities in developing countries, 2nd ed.

BPS, Bapenas and UNDP (2001), Indonesia Human Development Report 2001 Toward a New Consensus; Democracy and Human Development in Indonesia. Byron. K (2003), A meta analytic review of

work-family conflict and its

antecedents, Journal of Vocational

Behavior, 67 (2005), 169-198.

Donelan. K, Falik. M, DesRoches. C.M, (2001), Care giving: challenges and implication for women’s health.

Women’s Health Issues, 11(3).

Doyal. L, (2000), Gender equity in health: debates and dilemma, Sosial Science

& Medicine, 51, 931-939.

Duval, J (2001), Women Workers in

Indonesia not mere victims of

exploitation but also agents of sosial

change, 1-4.

http://www.marxist.com/women/indon esian_wom_workers301.html.

Eby, L.T, Casper, W.J, Lockwood, A. Bordeoux, C. Brinley, A (2003), Work and family research in IO/OB: content analysis and review of the literature (1980-2002), Journal of Vocational

(8)

International Labor Organization/ILO. (2014), Indonesia: Tren Sosial Dan Ketenagakerjaan Agustus 2014. Ingham. X (2005) Career women in

Indonesia obstacle faced, and

prospects for change, Australian

Consortium for in-Country Indonesian

Studies (ACICIS), 1-4.

File://U:ACICIS-career women.htm.

Kuntjoro-Jakti, Dorodjatun. (2017), Dari Indonesia Memandang Dunia, Sebuah Perspektif Multidisiplin, Pusat Kajian

Universitas Indonesia, Ya.Pustaka

Obor Indonesia & Dir.Riset & Pengabmas UI, Jakarta.

Martono, Nanang (2016), Sosiologi

Perubahan Sosial, Perspektif Klasikm Modern, Postmodern dan Poskolonial, PT. Rajagrafindo Persada, Jakarta. Cet.4, edisi Revisi.

Maclean. H, Glynn.K, Ansara. D (2004), multiple roles and women’s mental health in Canada, BMC Women’s

Health, 4:S3, 1472-6874.

Meleis. A.I, Im. E.O (2002), Grandmothers

and women’s health: from

fragmentation to coherence, Health

Care for Women International, 23:

207-224.

Moss, N.E. (2002), Gender equity and

socioeconomic inequality: a

framework for the patterning of women’s health, Sosial Science &

Medicine, 54, 649-661.

M.L.,Brown, S. Goldie, G. Draisma,

J.Harford, and J. Lipscomb (2006),

Health Services Intervention for

Cancer Control in Developing

countries. In Desease Control Priorities in Developing Countries, 2nd.ed.

www.dcp2.org.

Parawansa, Kh.I, (2003), Pemberdayaan

perempuan dalam pembangunan

berkelanjutan.

Pocock. B, (2005), Work-life balance in

Australia: limited progress, dim

prospects, Asia Pacific Journal of

Human Resources, 43 (2).

Pocock. B, (2006), The labour market ate my babies, the Federation press, NSW. Sankaranarayanan, R., Budukh, A.M., and Rajkumar R (2001), Effective screening programes for cervical cancer in low and middle income

developing countries, Buletin of the World Health Organization, 79 (10). Smith, C. (2006), Enganging the emotional,

financial, and physical of long-distance care giving, Home Health Care

management & Practice, 18 (6),

463-466

Sutjipto (n.d), Problems in early detection and treatment to breast cancer in

Indonesia.Suryawati, C (2005),

Understanding multidimensional of poverty, JMPK 08 (03), 121-129. Wyn. R., Solis. B. (2001), Women’s health

issues across the lifespan. Women’s

Referensi

Dokumen terkait

Dengan terpenuhinya fungsi keluarga berupa pemenuhan kebutuhan ekonomi, pemeliharaan dan afeksi baik melalui anggota keluarga maupun masyarakat, maka lansia tetap menjadi

Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan peran keluarga yang meliputi : pemenuhan kebutuhan perawatan diri, pemenuhan kebutuhan nutrisi,

Namun akan tetapi sebaliknya, pada sisi permintaan akan pemenuhan kebutuhan ikan laut di masyarakat, terdapat beberapa hambatan dalam pembentukan atau upaya merangsang tumbuhnya

 Sosial ekonomi: sistem atau cara suatu masyarakat dlm Sosial ekonomi: sistem atau cara suatu masyarakat dlm berinteraksi utk memenuhi kebutuhan hidupnya yg. berinteraksi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran wanita dalam meningkatkan ekonomi keluarga, profil wanita, menganalisis tingkat pendapatan yang diperoleh, dan

Kaitan kontribusi perempuan pekerja buruh ikan asin dengan keluarga sangat erat karena peran wanita sangat berpengaruh dalam membantu ekonomi keluarga Karena

Meningkatnya jumlah wanita yang bekerja dan timbulnya berbagai masalah baik dari sisi organisasi maupun sisi ketahanan keluarga yang disebabkan oleh tidak tercapainya

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan adanya usaha minuman khas sinjai sangat membantu keluarga masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan keluarga sehingga sosial ekonomi keluarga