• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
111
0
0

Teks penuh

(1)

1

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Program Pembaca Baru Alkitab (PBA) Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) di Sumba Barat

Program PBA LAI di Sumba Barat yang menjadi tempat penelitian merupakan program pemberantasan buta aksara yang yang dilaksanakan oleh LAI pada tahun 2016 dari bulan Juni – Maret 2017. Program PBA LAI sudah dilaksanakan dari tahun 1998 di Baucau, Timor Timur (sekarang Timur Lorosae) yang merupakan program pengembangan dari program sebelumnya di tahun 1975. Namun sejak tahun 2004 program ini dilaksanakan secara reguler setiap tahunnya, mulai dari Kabupaten Soe, NTT hingga di tahun 2015 di Belu, NTT.

Secara administratif, kabupaten Sumba Barat terdiri atas 6 kecamatan dengan total luas daratan 732,42 Km2 atau 1,56% dari total luas daratan wilayah Nusa Tenggara Timur. Sumba Barat sebagai sasaran program PBA secara administratif, terdiri atas 6 kecamatan dengan total luas daratan 732,42 Km2 atau 1,56% dari total luas daratan wilayah Nusa Tenggara Timur. Jumlah buta huruf di Kabupaten Sumba Barat tahun 2017, usia 15 – 59 tahun mencapai 17,67% dari jumlah penduduk, yaitu 62.252 jiwa dari 125.776 jiwa penduduk Sumba Barat (BPS Kabupaten Sumba Barat, 2018).

(2)

2

Program PBA di Sumba Barat dilaksanakan berawal dari permintaan gereja-gereja yang ada di Sumba Barat bahwa masih banyak jemaat yang buta aksara. Kemudian dilaksanakan survei untuk mendapatkan data accurate dan real. Berdasarkan hasil survei, wilayah program PBA di Sumba Barat terbagi dari 8 wilayah dengan 8 koordinator yang terpencar di 6 kecamatan (1 wilayah terdiri dari 10 – 15 kelompok belajar); wilayah Gaura 1, wilayah Gaura 2, wilayah Laboya, wilayah Wanukaka 1, wilayah Wanukaka 2, wilayah GBI (Loli dan Tanarighu), wilayah GPdI (Tarona - Kecamatan Tanarighu) dan wilayah Wanukaza; dengan 79 Tutor yang membimbing 78 kelompok (1 kelompok terdiri dari 15 – 20 warga belajar) dengan total jumlah warga belajar 1.221 orang.

Secara struktural program PBA dipimpin oleh Manejer Program yang berkedudukan di Jakarta, Pimpinan Lapangan dan Staf yang berkedudukan di Sumba Barat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program PBA di Sumba Barat, selanjutnya Koordinator Wilayah yang bertugas mendampingi para Tutor di wilayahnya masing-masing agar proses belajar mengajar dapat berjalan sesuai dengan yang dijadwalkan. Di bawah Koordinator Wilayah berikutnya adalah pengajar warga belajar yang disebut sebagai Tutor.

4.2. Hasil Penelitian

Hasil penelitian - berdasarkan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi – dapat dipaparkan ke dalam 4 bagian evaluasi

(3)

3

sesuai dengan komponen CIPP, yaitu context, input, process, dan product.

4.2.1. Evaluasi Konteks

Konteks program PBA LAI berbicara mengenai dasar-dasar pelaksanaan program; termasuk latar belakang pelaksanaan, kebutuhan, dan kondisi dilaksanakan program PBA. Selain itu, pembahasan tentang pemahaman program PBA itu sendiri; seperti manfaat, tujuan, sasaran serta bagaimana program itu direncanakan.

a. Pengertian, tujuan, dan manfaat dari program PBA.

Pimpinan Surveyor dan Evaluator, Manejer Program dan Staf Pimpinan Lapangan memiliki pemahaman yang sama tentang program PBA LAI. Itu terlihat dari hasil wawancara dengan Manejer Program yang menyatakan bahwa program PBA ini berangkat dari cita-cita LAI agar Alkitab untuk semua orang. “Program ini berangkat dari cita-cita LAI agar Alkitab itu untuk semua orang. Kami berusaha agar Alkitab tersedia bagi banyak orang, di banyak tempat dengan berbagai kondisi mereka masing-masing. [... .... ] Jadi tujuan akhirnya bukan membaca, tujuan akhir dari program ini adalah menjadikan mereka pembaca-pembaca baru Alkitab. [... ... ] Jadi, program PBA ini adalah program keaksaraan yang berbasis Alkitab. Artinya, program yang mengajar baca, tulis, dan hitung dengan memakai Alkitab sebagai bahan.” (Wawancara dengan Manejer Program, 11 Februari 2019).

(4)

4

Demikian pula dengan Staf Pimpinan Lapangan dan Pimpinan Surveyor dan Evaluasi yang secara konkret menjelaskan tentang apa itu program PBA LAI, manfaat dan tujuannya.

“PBA itu adalah program Lembaga Alkitab Indonesia yang bertujuan untuk memberantas buta aksara dengan menggunakan Alkitab. Kalau bicara manfaat berarti manfaatnya adalah supaya banyak orang bisa membaca dan punya pengetahuan lewat baca terus kemudian dapat dipergunakan dalam pelayanan dan kehidupan sehari-hari. Tentunya manfaatnya demikian. Namun program ini direncanakan berawal dari ketika LAI membagikan Alkitab ke daerah-daerah dan banyak jemaat yang masih belum mengenal huruf. Untuk itu LAI hadir dengan maksud agar Alkitab dapat dibaca oleh semua orang. Dan pastinya program ini menggunakan cerita-cerita sederhana Alkitab sebagai bahan belajarnya.” (Wawancara dengan Staf Pimpinan Lapangan, 25 Februari 2019).

“Agar jemaat yang tidak bisa membaca dapat membaca. Membuat jemaat pintar membaca dan akhirnya bisa membaca Alkitab. Manfaatnya bisa membaca, bisa meningkatkan taraf hidup, secara sosial (bergaul lebih percaya diri), secara ekonomi (dagang tidak ngerti nota bisa buat nota).” (Wawancara dengan Pimpinan Surveyor dan Evaluator PBA, 13 Februari 2019).

Jadi dapat disimpulkan bahwa program PBA LAI merupakan program pemberantansan buta aksara dengan menggunakan Alkitab, yang tujuannya agar Alkitab dapat dibaca oleh semua orang. Manfaatnya lewat melek aksara, warga belajar atau jemaat dapat digunakan dalam kehidupan berjemaat/bergereja dan dalam kehidupan sehari-hari.

(5)

5

Pemahaman tentang program PBA LAI ini juga tertuang dalam dokumen Mengenal Program PBA LAI yang menyatakan program PBA LAI merupakan salah satu bentuk kepedulian LAI untuk membantu gereja mengatasi permasalahan warga jemaat yang buta huruf atau warga jemaat yang masih mengalami kesulitan untuk membaca dengan berbasis Alkitab. Pada awalnya program ini hanya ditujukan untuk membantu dan mendorong warga jemaat agar rajin membaca Alkitab. Kemudian cakupannya diperluas menjadi program yang ditujukan bagi warga jemaat yang buta huruf atau warga jemaat yang masih mengalami kesulitan untuk membaca. Setelah mengikuti program ini diharapkan peserta program dapat memiliki keterampilan membaca, khususnya membaca Alkitab, sehingga dapat mengambil peran yang lebih baik dalam setiap kegiatan yang dijalankan oleh gereja.

Berdasarkan hasil observasi di lapangan melihat hasil dari pelaksanaan program PBA LAI ini, menunjukkan bahwa ada beberapa kelompok belajar yang masih eksis melakukan proses belajar keaksaraan dengan menggunakan bahan dan materi yang diterbitkan LAI, berupa buku-buku cerita dan kisah dari Alkitab. Buku-buku itu digunakan karena jemaat telah merasakan dampak dari program PBA LAI yang membantu jemaat untuk berperan secara aktif dalam pelayanan di gereja, misalnya salah satu kelompok belajar di wilayah Lamboya, yang hampir seluruh

(6)

6

warga belajarnya adalah perempuan dan aktivis gereja komisi perempuan.

b. Latar belakang pelaksanaan program PBA serta kebutuhan dan kondisi di Sumba Barat.

Pelaksanaan program PBA di Sumba Barat didasarkan oleh tingginya buta aksara di Sumba Barat, yang pada tahun 2015, menurut BPS NTT menduduki urutan pertama sebagai kabupaten tertinggi buta aksara dari 22 kabupaten di NTT dengan persentase 16,23%. Pimpinan Surveyor dan Evaluator menyatakan alasan utama Sumba Barat sebagai sasaran pelaksanaan program karena jumlah buta aksara yang tinggi dan sebelumnya sudah direncanakan agar pulau Sumba secara keseluruhan akan dilaksanakan program PBA di sana.

“Mencari dari data statistik. Angka buta huruf yang tinggi, waktu itu kita lihat di NTT buta huruf yang tinggi kalau tidak salah urutan kedua dari Papua. Ini karena kita mau menyelesaikan satu pulau, karena sudah Sumba Barat Daya, Sumba Barat, ini akan Sumba Timur. Jadi karena kita mau selesaikan satu pulau itu maka kita mengambil Sumba Barat.” (Wawancara dengan Pimpinan Surveyor dan Evaluator, 13 Februari 2019).

Sedangkan Manejer Program menyatakan bahwa pelaksanaan program PBA di Sumba Barat tidak hanya karena keadaan tingginya buta aksara di Sumba, tapi juga karena adanya permintaan dari gereja-gereja yang ada di Sumba Barat. Berawal

(7)

7

dari permintaan, kemudian dilaksanakan survei untuk memastikan data jumlah buta aksara.

“Pertama karena permintaan. Jadi sebelumnya itu kami melaksanakan di Sumba Barat Daya, terus kami LAI mendapat masukan dari gereja-gereja yang ada di Sumba Barat bahwa mereka masih ada jemaat mereka yang belum bisa baca dan tulis. Kemudian kami melakukan survei awal dan memang benar tingkat buta aksara masih tinggi. Berdasarkan jumlah tingkat buta aksara mencapai 1.000 dan tidak terpencar-pencar, kita memulai program.” (Wawancara dengan Manejer Program, 11 Februari 2019).

Pernyataan Manejer Program didukung dengan pernyataan Pimpinan Lapangan yang menyatakan;

“[... ...] yang pasti tingkat buta aksara masih terbilang tinggi. Selain itu, Sumba Barat menjadi target dikarenakan adanya permintaan dari gereja-gereja di Sumba Barat karena mengetahui di tahun 2014 kami melaksanakan program PBA di Sumba Barat Daya. Jadi karena permintaan terus dilakukan survei dan kemudian kami melaksanakan program di sana.” (Wawancara dengan Staf Pimpinan Lapangan, 25 Februari 2019).

Selain dari alasan tingginya buta aksara, alasan lain Sumba Barat dijadikan target pelaksanaan program PBA adalah karena Sumba Barat merupakan daerah mayoritas Kristen dan berada di wilayah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal). Alasan-alasan inilah yang digunakan untuk menentukan daerah target program PBA LAI dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia.

(8)

8

“Jadi hampir di NTT buta hurufnya tinggi. Dan penduduknya merupakan kantong-kantong Kristen. Kita tidak mungkin di tempat-tempat umat muslim, walaupun angka buta hurufnya tinggi. Misalnya di Aceh.” (Wawancara dengan Pimpinan Surveyor dan Evaluator, 13 Februari 2019).

“Buta aksara itu memang berada pada lokasi yang sulit. Justru karena sulit maka sekolah baru ada, bahkan sampai sekarang tidak ada. Itulah karena mereka tidak sekolah, makanya mereka buta aksara, karena itulah medannya agak menantang, kayak di Parigi Mutong [... ... ] kecamatan Tinombo, tapi bukan di dataran rendah, tapi di bukit-bukit disebut di gunung-gunung [ .... ]” (Wawancara dengan Manejer Program, 11 Februari 2019). “Mungkin tidak ada kebutuhan atau kondisi khusus di Sumba Barat, yang pasti tingkat buta aksara masih terbilang tinggi. Itu disebabkan kembali lagi saya berbicara hasil survei pendahuluan yang dilakukan setahun sebelum program ini berjalan. Jadi, banyaknya buta aksara itu berada pada daerah-daerah pelosok yang memang akses jalan, pendidikan dll belum sampai ke sana. Jika dibandingkan dengan kota mungkin buta aksara lebih sedikit, ada tapi sangat sedikit bila dibandingkan dengan di daerah-daerah pelosok.” (Wawancara dengan Staf Pimpinan Lapangan, 25 Februari 2019).

Jadi pelaksanaan program PBA di Sumba Barat dilatar belakangi oleh permintaan dari gereja-gereja yang ada di Sumba Barat, kemudian dilaksanakan survei bahwa ternyata di Sumba Barat merupakan daerah atau kabupaten dengan penduduk mayoritas Kristen yang memiliki angka buta aksara yang tinggi dengan jumlah terbesar berada pada daerah-daerah pelosok dan tertinggal.

(9)

9

Hasil wawancara dengan beberapa pimpinan program didukung dengan data dari Badan Pusat Statistik sebagai bagian dari hasil survei bahwa pada tahun 2015 Kabupaten Sumba Barat merupakan kabupaten dari 22 kabupaten di NTT yang memiliki buta aksara tertinggi. Selain itu, Kabupaten Sumba Barat berdasarkan data dari Kementerian Agama Kabupaten Sumba Barat memiliki jumlah umat Kristiani yang cukup signifikan yaitu 60,9% dari jumlah penduduk secara keseluruhan.

Sejalan dengan data dari BPS, berdasarkan hasil survei dan observasi menunjukkan bahwa jumlah angka buta aksara juga berada di daerah pelosok, yang tidak mudah dijangkau karena tidak memiliki akses, baik jalan, transportasi, listrik, internet, bangunan sekolah dan gereja dengan fasilitas seadanya dan ditempuh dengan jarak yang jauh, rendahnya minat baca warga jemaat terhadap Alkitab maupun buku bacaan lainnya karena banyaknya buta huruf, sehingga ketika melakukan sharing informasi ataupun melakukan perkunjungan membutuhkan waktu yang lama dan menempuh jalan yang tidak mudah.

c. Sasaran dari program PBA

Berdasarkan data BPS Sumba Barat 2015, di Sumba Barat angka terbesar penduduk buta aksara berada pada usia 15 – 59 tahun, sehingga sasaran dari program PBA ini adalah warga yang berusia 15-55 tahun.

(10)

10

“Lalu dari segi usia, sebetulnya kami ada pembatasan, batas bawah 15 tahun dan batas atas 55 tahun.” (Wawancara dengan Manejer Program, 11 Februari 2019)

Awalnya sasaran program memiliki pembatasan usia mulai dari usia 15 – 55 tahun. Namun berdasarkan hasil survei yang bertujuan untuk melihat secara real keadaan dan kebutuhan di Sumba Barat, yang mana banyak jemaat yang berusia lebih dari 55 tahun memiliki motivasi dan semangat untuk mengikuti program. Oleh karena itu tidak ada lagi pembatasan usia. Seperti hasil wawancara dengan Staf Pimpinan Lapangan bahwa:

“[ ... ... ] sasaran untuk program PBA di Sumba Barat adalah umur 10 – 50 tahun, tapi karena ada juga yang berusia lanjut tapi punya semangat untuk belajar, kami tetap terima sebagai warga belajar. [ ... ... ] hanya waktu itu anak yang berusia sekolah atau sedang mengikuti pendidikan formal tidak diperkenankan sebagai warga belajar. Supaya program ini tidak dianggap sebagai les tambahan atau menggantikan pendidikan formal. “ (Wawancara dengan Staf Pimpinan Lapangan, 25 Februari 2019) Selain berdasarkan hasil survei keadaan atau kondisi wilayah pelaksanaan program PBA, Manejer Program menambahkan dengan mengingat kembali cita-cita LAI bahwa Alkitab untuk semua orang.

“[... .... ] sebetulnya kami ada pembatasan [... ... ], tapi kami selalu diingat bahwa cita-cita LAI adalah Alkitab untuk semua. Jadi orangtua yang berumur 70 pun, kalau dia masih ingin belajar, kami membuka kesempatan untuk belajar. Seperti di Bovendigul, Papua itu anak-anak SD yang ikut program ini selain orang

(11)

11

dewasa. (Wawancara dengan Manejer Program, 11 Februari 2019).

“sasarannya itu jemaat-jemaat yang tidak mampu membaca dari usia kecil atau ga sekolah sampai usia 70 yang masih mau belajar. Tidak membatasi umur saat ini, sudah ada perubahan sasaran, dari umur kecil sampai usia lanjut yang masih mau belajar. Mungkin itu (batasan usia) harus dilihat kembali. Kalau waktu di Sumba Barat sasarannya begitu, tapi pelaksanaan yang sekarang sepertinya sasarannya sudah berubah. Semua warga yang punya motivasi belajar dapat mengikuti program ini. Mungkin perlu dilihat kembali sasarannya sekarang ini.” (wawancara dengan Pimpinan Surveyor dan Evaluator, 13 Februari 2019).

Jadi sasaran program PBA LAI di Sumba Barat adalah laki-laki dan perempuan gagap atau buta huruf yang tidak dalam atau sedang mengikuti pendidikan formal. Tidak ada pembatasan umur dalam program ini, semua jemaat yang memiliki motivasi belajar dapat mengikuti program ini.

Hasil wawancara dari ketiga sumber ini memiliki perbedaan dengan dokumen “Mengenal Program PBA LAI” tentang usia peserta atau bakal calon warga belajar sebagai sasaran dari program PBA.

1) Diutamakan warga jemaat (laki-laki atau perempuan) yang berusia antara 10 sampai dengan 45 tahun; 2) tidak/belum dapat membaca (buta huruf total atau peserta yang sudah pernah mengenal huruf tetapi belum dapat membaca dengan lancar); 3) memiliki kerinduan untuk dapat membaca. Bersedia mengikuti Program PBA sampai selesai (sekitar 10 bulan); 4) belum pernah atau tidak sedang mengikuti program pemberantasan buta huruf yang dilaksanakan pemerintah atau lembaga lainnya; 6) tidak dalam status pelajar/sedang bersekolah.

(12)

12

Perubahan itu terjadi disebabkan oleh keadaan yang terjadi di lapangan – sesuai dengan hasil wawancara – didasarkan pada impian LAI bahwa Alkitab adalah untuk semua orang dan juga tidak ada pembatasan usia dalam belajar. Hal itu juga terlihat dari hasil pengamatan kelompok belajar yang berada di wilayah Lamboya terdiri dari warga belajar yang memiliki usia 40-70 tahun.

4.2.2. Evaluasi Input

Evaluasi terhadap komponen input dari program Pembaca Baru Alkitab LAI di Sumba Barat membahas perencanaan dan perancangan program PBA, termasuk di dalamnya rencana dan penjadwalan kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan, mekanisme pelaksanaan, dana yang dianggarkan, sarana dan prasarana yang mendukung, SDM yang terlibat di dalamnya dan hal-hal lain yang mendukung terlaksananya program PBA.

a. Perencanaan dan Perancangan Program PBA

Perencanaan dan perancangan program PBA, seperti yang dikatakan oleh Manejer Program dan Pimpinan Surveyor dan Evaluator, dirancang setelah melakukan survei pendahuluan, setahun sebelum program dilaksanakan. Staf Pimpinan Lapangan juga mengatakan hal yang sama bahwa perencanaan dan perancangan dibuat berdasarkan hasil survei yang menunjukkan

(13)

13

bahwa benar di Sumba Barat, khususnya jemaat-jemaat yang akan dilayani termasuk dalam jumlah angka buta aksara.

Survei dilakukan oleh Manejer Program dan Pimpinan Surveyor dan Evaluator. Berdasarkan hasil survei disusunlah rencana dan rancangan program PBA, termasuk di dalamnya penentuan Tutor, Korwil, jumlah peserta dan target kelulusan, dan selanjutnya disosialisasikan kepada gereja-gereja induk (sinode) dan gereja jemaat;

“mula-mula tentunya ada survei. Memang sudah tahu ada kebutuhan, tapi berapa banyak persisnya dan di mana letak persisnya tempatnya karena dengan begitu kita bisa menyusun programnya, lokasi kantor yang bisa menjangkau semua daerah-daerah tadi. Biasanya survei itu biasanya saya (Manejer Program) dan ada rekan dari bidang penelitian di LAI, kemudian pendataan langsung itu akan dilakukan oleh seorang yang kami sebut sebagai Pimpinan Lapangan. [... ... ] Sosialisasinya itu 1 tahun sebelumnya, bersamaan dengan kami melakukan survei. Sosialisasi dilakukan di gereja-gereja karena yang mengikuti ini adalah anggota gereja. “ (wawancara dengan Manejer Program, 11 Februari 2019).

“dalam merencanakan awalnya saya ikut di survei bersama dengan bu Neila. Dari hasil survei itu kemudian ditentukan atau disusun jadwal, titik-titik utama wilayah, gereja-gereja yang terlibat terus kami sekalian melakukan sosialisasi program di berbagai gereja yang ada di Sumba Barat, kemudian membentuk kelompok-kelompok [... ....]” (wawancara dengan Pimpinan Surveyor dan Evaluator PBA, 13 Februari 2019).

“Selanjutnya, bergantung pada jumlah buta aksara mencapai 1.000 orang (hasil survei) dan jumlah Tutor yang sesuai ditetapkan kelompok belajar terdekat maksimum 10 kelompok belajar menjadi 1 wilayah yang akan di pimpin oleh 1

(14)

14

Koordinator Wilayah. Dan juga ditentukan lokasi kantor yang menjadi pusat pertemuan semua wilayah, yang diduduki oleh Pimpinan Lapangan dan staf yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan program PBA secara keseluruhan. Program PBA ini akan dilaksanakan selama 1 tahun, proses belajarnya 10 bulan dan akan dievaluasi hasilnya belajar pada pertengahan dan akhir program berjalan.” (wawancara dengan Staf Pimpinan Lapangan, 25 Februari 2019).

Pernyataan Manejer Program, Pimpinan Surveyor dan Evaluator, dan Pimpinan Lapangan didukung dengan pernyataan yang tertulis dalam dokumen “Mengenal Program PBA LAI” tentang maksud dari survei pendahuluan;

“[... .... ] mensosialisasikan program PBA LAI kepada gereja induk (sinode) dan gereja jemaat; menjajaki kemungkinan kerjasama dengan pemerintah setempat; memperoleh informasi yang lebih rinci mengenai wilayah dan warga jemaat yang menjadi sasaran program (pendataan bakal calon warga belajar) secara langsung di wilayah yang akan dilayani; dan menjaring usulan gereja mengenai calon Tutor yang akan terlibat langsung sebagai nara sumber dalam proses belajar mengajar.”

Manejer Program pun menyatakan bahwa hasil survei menentukan target yang akan dicapai dalam program ini, baik secara jumlah maupun target kelulusan. Setiap daerah memiliki target yang berbeda-beda sesuai dengan hasil survei; jumlah angka buta huruf, keadaan dan kebutuhan daerah pelaksanaan program. Beberapa aturan dan prosedur juga dibuat untuk mencapai keberhasilan program, seperti yang terlihat dalam dokumen Mengenal PBA LAI Sumba Barat. Aturan-aturan itu

(15)

15

berkaitan dengan jadwal pelaksanaan kegiatan, prosedur-prosedur pelaksanaan kegiatan, hak dan kewajiban pengelola program yang disampaikan dalam kegiatan Pembukaan Program dan telah mendapatkan kesepakatan sebagai bentuk kerja sama LAI dengan gereja induk (sinode) atau gereja jemaat, kemudian disampaikan juga dalam pertemuan bulanan dan dalam perkunjungan Pimpinan Lapangan dan Koodinator Wilayah.

Pertama target dari segi jumlah itu, kami sesuaikan dengan 1) Ketersediaan dana, 2) Kebutuhan di daerah. Misalnya jumlahnya 1.000, tapi begitu kami survei lalu pendataan bisa jadi 1.500. Misalnya di Sumba, kami berencana 1.000 tapi yang mendaftar hampir 1.300. Itupun kita sudah tolak-tolak yang lain. Lalu untuk target dan lebih diketatkan adalah angka kelulusan. Jadi ditargetkan itu 70 – 80% kelulusan. Ini sebetulnya merupakan sebuah angka yang cukup tinggi. Sejak kami melakukan program dari 2004 hingga sekarang, rata-rata kelulusan hanya 50-55%. Puji Tuhan! Waktu di Sumba Barat Daya pernah 80%. Cuma di tahun 2015 menurun lagi di Belu. Walaupun masih di atas rata-rata 59% tetapi tidak mencapai target 70%. Seperti di Parigi Mutong, setelah pelaksanaan survei kami tentukan target program LAI mencapai 75%. Dan disebut lulus itu kalau mereka sudah membaca – seperti di Bovendigul itu target kelulusan 65% untuk orang dewasa dan anak-anak itu 75%. Orang dewasa sudah dinyatakan lulus jika mereka bisa membaca lancar dua kata. Sementara untuk anak-anak itu, mereka dinyatakan lulus itu jika mereka bisa lancar membaca kalimat kompleks. (wawancara dengan Manejer Program, 11 Februari 2019).

Seperti sudah saya katakan sebelumnya. Kami datang survei melihat banyak jemaat gereja yang buta aksara, kemudian mendata mereka kira-kira hingga 1.000 orang. Bekerja sama dengan gereja-gereja setempat menentukan titik-titik lokasi

(16)

16

wilayah program, kantor dan membentuk kelompok. Selain survei kami pasti melakuksan sosialisasi tentunya kepada gereja-gereja.

Selanjutnya perencanaan program dll itu direncanakan dan dilaksanakan oleh Manejer program, berapa jumlah peserta dan persyaratannya, target kelulusan dll. Saya kemudian akan terlibat langsung lagi ketika evaluasi pembelajaran. (wawancara dengan Pimpinan Surveyor dan Evaluator, 13 Februari 2019).

Kembali lagi penentuan sasaran dan target bergantung dari hasil survei. Targetnya dari segi jumlah 1.000 warga belajar yang berada di Sumba Barat, namun berdasarkan hasil survei dan warga yang mendaftar menunjukkan bahwa banyak warga yang mau mengikuti program ini, ya mau tidak mau kami harus cut beberapa. Terus untuk target akhirnya atau keberhasilan program direncanakan 80%. Warga belajar yang mendaftar 1.300an dan kelulusannya mencapai 70 koma sekian persen. (wawancara dengan Staf Pimpinan Lapangan, 25 Februari 2019).

Jadi, melalui hasil survei yang dinyatakan dari hasil wawancara akan menentukan jumlah warga belajar minimal 1.000 orang, memilih Tutor, menentukan target pencapaian kelulusan hasil belajar, letak kantor, jumlah wilayah dan jumlah kelompok belajar. Berdasarkan dokumen hasil survei dan observasi terhadap dokumen-dokumen lainnya seperti data progres perkembangan data warga belajar, menunjukkan bahwa 1) jumlah warga belajar terdiri dari 1.594 orang warga belajar, yang terbagi dalam 95 kelompok belajar di 8 wilayah. Wilayah-wilayah itu dibagi berdasarkan jarak lokasi terdekat dan denominasi gereja, yang terdiri dari a) Wilayah Gaura I dengan 14 kelompok belajar dan jumlah warga belajar 183; b) Gaura II

(17)

17

dengan 13 kelompok belajar dan jumlah warga belajar 180; c) Wilayah Lamboya dengan 14 kelompok belajar dan 266 jumlah warga belajar; d) Wilayah Wanukaka I dengan 13 kelompok belajar dan 250 jumlah warga belajar; e) Wilayah Wanuka II dengan 14 kelompok belajar dan 275 warga belajar; f) Wilayah GPdI dengan 5 kelompok belajar dan 52 warga belajar; g) Wilayah Paroki Wanokaza dengan 11 kelompok belajar dan 220 warga belajar; h) Wilayah GBI 11 kelompok belajar dan 168 warga belajar; 2) target kelulusan yang akan dicapai sebesar 80%; 3) Kantor PBA LAI Sumba Barat berada di Kota Waikabubak; 4) Rencana dan jadwal pelaksanaan kegiatan.

Rencana dan jadwal pelaksanaan program PBA LAI di Sumba Barat, secara garis besar termuat dalam dokumen “Mengenal Program PBA LAI”, menulis tahapan pelaksanaan program PBA LAI adalah:

1. Survei Pendahuluan; tahapan ini dimaksudkan untuk mensosialisasikan program PBA LAI kepada gereja induk (sinode) dan gereja jemaat; menjajaki kemungkinan kerja sama dengan pemerintah setempat; memperoleh informasi yang lebih rinci mengenai wilayah dan warga jemaat yang menjadi sasaran program (pendataan bakal calon warga belajar) secara langsung di wilayah yang akan dilayani; dan menjaring usulan gereja mengenai calon Tutor yang akan terlibat langsung sebagai nara sumber dalam proses belajar mengajar;

2. Persiapan Pelaksanaan Program; berdasarkan data-data yang diperoleh dari survei pendahuluan, kemudian dilakukan verifikasi dan pemantapan data calon peserta program PBA LAI dan calon Tutor. Langkah berikutnya adalah mengadakan pelatihan Tutor tentang kegiatan

(18)

18

belajar mengajar dan pemahaman materi program PBA LAI. Setelah para calon Tutor mendapatkan pelatihan di kelas, selanjutnya mereka diberi kesempatan untuk mempraktekkan di lapangan kurang lebih satu bulan. Tahapan ini dimaksudkan untuk memperoleh umpan balik sebagai dasar untuk mengadakan perbaikan terhadap kelemahan-kelemahan yang ditemukan selama praktek; 3. Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar; para Tutor yang

telah memperoleh pelatihan, praktek lapangan dan memperoleh umpan balik melalui pertemuan yang dikhususkan untuk itu, sudah siap melaksanakan proses belajar mengajar. Selama melaksanakan program, Pimpinan Program akan melaksanakan supervisi dan pemantauan;

4. Evaluasi; untuk mengetahui sejauh mana program ini telah mencapai tujuan, pada pertengahan program dan akhir program akan dilaksanakan evaluasi, baik lisan maupun tertulis;

5. Tindak lanjut; berdasarkan evaluasi tersebut, maka akan disusun program lanjutan agar program PBA LAI ini benar-benar mencapai tujuan yang diharapkan.

Untuk mendukung hasil wawancara dan dokumen Mengenal Program PBA LAI, terdapat dokumen-dokumen yang lain yang diperoleh dari hasil observasi, seperti Kalender Rencana Pelaksanaan Program PBA LAI di Sumba Barat (Lampiran 1) yang diperoleh dari hasil wawancara dengan Staf Pimpinan Lapangan. Ringkasan Kalender Rencana Pelaksanaan Program PBA LAI di Sumba Barat dimulai dari:

1) Persiapan; survei, pendataan warga belajar dan tutor, perencanaan dan jadwal pelaksanaan kegiatan, serta penentuan lokasi atau titik-titik wilayah program PBA LAI di Sumba Barat. Jadwal pelaksanaannya dari bulan Februari 2015 sampai dengan bulan Mei 2016;

(19)

19

2) Pelaksanaan; Pembukaan, Pelatihan, Proses belajar-mengajar, evaluasi hasil belajar tahap I untuk mengetahui kemampuan membaca dan evaluasi hasil belajar tahap II untuk mengetahui kemampuan pemahaman baca secara sederhana. Direncanakan akhir bulan Mei 2016 evaluasi hasil belajar tahap I dan bulan evaluasi hasuil belajar tahap II pada bulan Maret 2017;

3) Pasca Pelaksanaan; Pengadaan Perpustakaan di bulan April 2017 dan Survei dampak pada 2-3 tahun setelah pelaksanaan program.

b. SDM yang terlibat dalam pogram PBA LAI di Sumba Barat

Program PBA LAI sebagai program pemberantasan buta huruf, tentunya target dari program ini adalah warga jemaat yang gagap atau buta huruf yang tidak sedang mengikuti pendidikan formal atau putus sekolah. Untuk itu dibutuhkan pengajar – yang kemudian dalam program ini disebut sebagai Tutor – yang dapat membimbing dan mengarahkan warga belajar mencapai tujuan dari pembelajaran.

Proses pemilihan Tutor merupakan hasil kerja sama antara LAI dan gereja setempat. Gereja atau jemaat setempat memilih Tutor berdasarkan persyaratan yang sudah ditentukan oleh LAI. Pendataan Tutor berada di bawah pengawasan Pimpinan Lapangan sebagai penanggungjawab pelaksanaan program.

“Para pengajar kami menentukan bersama dengan gereja setempat, itu warga mereka dan kita banyak gereja. Jadi kami memberikan keleluasaan bagi setiap gereja untuk menentukan pengajarnya siapa, sehingga tidak ada kekuatiran bahwa

(20)

20

jemaatnya akan hilang. Dan pastinya mereka bisa mengajar dan memahami bahasa Indonesia. Kebanyakan yang dipilih oleh gereja adalah karena faktor kedekatan dan sudah kenal sebelumnya, misalnya tahu sebagai guru di sekolah. Selain itu juga ada yang majelis, penatua.” (wawancara dengan Manger Program, 11 Februari 2019).

“Untuk mencari Tutor dan Korwil kami menyerahkan kepada gereja untuk mencari Tutor dari jemaatnya sendiri dengan syarat sekurang-kurangnya bisa mengajar dan bisa berbahasa Indonesia. Berdasarkan pengalaman gereja biasanya akan memilih berdasarkan pengenalan karena seorang guru/majelis/pensiunan guru yang punya semangat untuk melayani.” (wawancara dengan Staf Pimpinan Lapangan, 25 Februari 2019).

“Pinlap kemudian mendata Korwil dan para Tutor untuk melaksanakan pembelajaran. Tutor ditetapkan oleh jemaat atau gereja setempat yang sesuai dengan kualifikasi yang ditentukan oleh LAI. Untuk syaratnya itu yang lebih tahu Manejer Program, yang pastinya Tutor itu bisa mengajar dan bisa berbahasa lokal.” (wawancara dengan Pimpinan Surveyor dan Evaluator, 13 Februari 2019).

Jadi syarat sebagai Tutor program PBA LAI adalah (1) punya pengalaman sebagai pengajar, baik di gereja maupun di lembaga pendidikan lainnya; (2) bisa berbahasa Indonesia dan Lokal; (3) beragama Kristen. Ketentuan Tutor juga tertera secara umum dalam dokumen Mengenal Program PBA LAI;

(1) memiliki komitmen untuk membantu peserta program; (2) aktivis gereja setempat; (3) bersedia meluangkan waktu, baik untuk mengajar sesuai dengan jadwal yang disepakati maupun mengadakan kunjungan ke rumah-rumah peserta program untuk memotivasi mereka (jika diperlukan); (4) diutamakan memiliki pendidikan niminal Sekolah Lanjutan Atas; (5) bersedia

(21)

21

mematuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku di dalam program PBA LAI.

Berdasarkan hasil observasi terhadap dokumen profile para Tutor dan perbincangan sederhana dengan para pendeta-pendeta setempat, pada umumnya Tutor dipilih berdasarkan kedekatan atau sudah mengenal sebelumnya sebagai pengajar/pensiunan guru atau aktivis gereja. Tentu juga pemilihan Tutor disesuaikan dengan persyaratan yang ditetapkan oleh LAI.

Tutor berada dalam pengawasan Koordinator Wilayah (Korwil) yang mengawasi dan mengkoordinir 10 – 15 Tutor atau kelompok belajar di wilayahnya.

“Sekitar 10 Tutor di wilayah yang berdekatan itu akan dikoordinir oleh satu Koordinator Wilayah. Nah untuk pengawasan dan melihat bagaimana perkembangan dari kelompok itu adalah tugas dari Koordinator Wilayah. Koordinator Wilayah wajib mengunjungi kelompok-kelompoknya satu bulan 15x. Jika ada kelompok yang bermasalah bisa Korwil mengunjungi 2-3 kali bahkan 4x, yang lain yang biasa-biasa saja (tidak memiliki masalah yang berarti) bisa 1x saja.” (wawancara dengan Manejer Program, 11 Februari 2019).

“Di atas Tutor itu dikoordinir oleh korwil yang mewadahi 10 – 15 Tutor yang berdekatan di wilayah/gerejanya. Jadi korwil bertugas untuk mengawasi para Tutor dalam pelaksanaan kegiatan, agar berjalan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya. Dan Korwil itu biasanya yang dipilih adalah pendeta/pastor yang bisa mengarahkan atau menegur Tutor jika terjadi penyimpangan.” (wawancara dengan Pimpinan Surveyor dan Evaluator, 13 Februari 2019).

(22)

22

“Untuk Korwil sendiri kami biasanya meminta kesediaan pendeta/gembala/pastor yang pastinya orang-orang yang punya pengaruh sehingga didengar oleh para Tutor. Jika terjadi kesalahan atau penyimpangan atau persoalan dapat diselesaikan secara cepat dan mudah.” (wawancara dengan staf Pimpinan Lapangan, 25 februari 2019).

Korwil sebagai pengawas atau pengontrol kegiatan pembelajaran yang dibimbing oleh Tutor. Korwil bertugas mengunjungi 1-2 kelompok belajar untuk melihat perkembangan dan jika perlu melakukan arahan jika terjadi penyimpangan atau kesalahan. Syarat sebagai Korwil adalah (1) orang yang punya pengaruh di wilayah setempat, tokoh gereja/tokoh masyarakat; (2) berdomisili di wilayah setempat; dan (3) memiliki wibawa. Hasil wawancara ini juga didukung dan lebih terperinci dijelaskan di dalam dokumen syarat/kriteria Korwil Program PBA LAI; (1) pria/wanita, usia 30 – 60 tahun; (2) Pendidikan minimal tamatan Diploma (D-3) atau sederajat; (3) memiliki dedikasi untuk melayani; (4) tokoh gereja (dari berbagai denominasi) dan atau Kementerian Pendidikan; (5) diutamakan yang memiliki kendaraan pribadi (motor); (6) diutamakan yang aktif dalam kegiatan organisasi baik di dalam maupun luar gereja (Lembaga,Yayasan, dll); (5) memiliki pengalaman dalam kepemimpinan di gereja, lembaga, dan atau masyarakat; (6) bersedia menandatangani pernyataan untuk melaksanakan tugas sebagai Koordinator Wilayah.

Hasil observasi terhadap dokumen lain dan dokumen profile Korwil menunjukkan bahwa Korwil program PBA LAI

(23)

23

merupakan tokoh-tokoh gereja dan tokoh masyarakat yang dihormati seperti Romo, Pendeta, Ketua Majelis, Majelis, dan Sekretaris Camat.

Selanjutnya pihak yang terlibat dalam program PBA ini, yaitu Pimpinan Lapangan dan Manejer Program. Pimpinan Lapangan bertanggung jawab dalam pelaksanaan program di daerah, sedangkan Manejer Program bertangung jawab atas program PBA secara keseluruhan atau yang dilaksanakan di berbagai daerah yang menjadi sasaran program. Hasil wawancara menunjukkan hal yang serupa lewat pernyataan Manejer Program, Pimpinan Surveyor dan Evaluator, serta Staf Pimpinan Lapangan.

“Jadi kalau saya Manejer Program berkedudukan di Jakarta, jadi dia ini yang di lapangan. Jadi kalau kita di sana melakukan program selama 10 - 12 bulan, maka dia di sana akan selama itu. ... Jadi satu-satunya orang yang kami kirim hanyalah yang kami sebut sebagai Pimpinan Lapangan, kalau yang lain diambil dari daerah setempat. Pinlap ini kami yang tunjuk dan di Sumba untuk pertama kalinya kami ambil orang dari sana tapi sebelum-sebelumnya biasanya kami utus orang dari Jakarta. Pinlap ini yang kemudian bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan di daerah.” (wawancara dengan Manejer Program, 11 Februari 2019).

Ya betul sekali. Seperti sudah dikatakan sebelumnya, Manejer Program memilih Pimpinan Lapangan yang akan bertanggung jawab pelaksanaan program di daerah, kalau di Sumba Barat saat itu, kami menunjukkan Pinlap langsung di daerah. Biasanya itu diutus Pinlap dari jakarta. Terus tidak lupa Manejer Program yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program PBA, yang

(24)

24

berkedudukan di kantor LAI, di Jakarta. Kami melaksanakan program PBA di berbagai tempat yang menurut survei atau penelitian sebagai tempat buta aksara dan pastinya bekerja sama dengan gereja. Pelaksanaan di berbagai tempat itu menjadi tanggung jawab penuh Manejer program. (wawancara dengan Pimpinan Surveyor dan Evaluator, 13 Februari 2019).

“jadi yang terlibat dalam program ini adalah Tutor, Korwil, Pinlap, tidak lupa Manejer program. [... ... ...] Pimpinan lapangan yang mengatur dan mengontrol semua kegiatan yang berjalan. Di atas Pimpinan Lapangan ini baru Manejer Program. Managemen program itu tugasnya adalah memastikan kurikulumnya, lalu apa saja yang harus kita lakukan agar tujuan yang sudah ditetapkan dapat berjalan sesuai rencana.” (wawancara dengan Staf Pimpinan Lapangan, 25 Februari 2019).

Jadi SDM yang terlibat dalam program PBA LAI di Sumba Barat adalah Manejer Program sebagai penanggungjawab program dan kuasa pengguna anggaran PBA, Pimpinan Lapangan dan Staf sebagai penanggungjawab pelaksanaan program PBA di lapangan, Kordinator Wilayah berperan untuk memantau pelaksanaan program yang terjadi di wilayahnya serta Tutor adalah pihak yang diasumsikan sebagai pelaksana utama proses belajar.

Susunan SDM yang terlibat dalam program PBA LAI ini dapat terlihat dari bagan organisasi program PBA LAI yang bersumber dari surat keputusan perjanjian kerja Lembaga Alkitab Indonesia (lampiran 2).

(25)

25

c. Pendanaan

Pendanaan program PBA LAI di Sumba Barat disesuaikan dengan hasil survei dan pendataan peserta. Target jumlah peserta program 1.000 orang dengan biaya 1 orang ditargetkan Rp. 1.200.000,00. Jika jumlah peserta semakin besar, maka jumlah pembiayaan akan lebih rendah dari nominal standarnya.

“Di tempat yang rata-rata medannya tidak seperti di Papua, itu 1 orang warga belajar untuk 10 bulan dan 1 tahun program ini berjalan membutuhkan 1,2 juta per orang.” (wawancara dengan Manejer Program, 11 Februari 2019).

“Pendanaan, saya tidak tahu pasti standirisasinya seperti apa. Perencanaan itu benar-benar menjadi wewenang bu Neila, Manejer Program. Seingat saya itu penentuan pendanaan itu tergantung dari hasil survei; kondisi lapangan, jumlah target peserta mencapai 1.000 orang.” (wawancara dengan Pimpinan Surveyor dan Evaluator, 13 Februari 2019).

Untuk pembiayaan sendiri kami mentargetkan Rp. 1.200.000 untuk 1 orang dengan jumlah 1.000. Jika lebih dari 1.000 maka nominal uangnya akan semakin kurang, seperti di Sumba Barat kami targetnya Rp. 1.100.000 per orangnya dengan jumlah pesertanya ± 1.200an. (wawancara dengan Staf Pimpinan Lapangan, 25 Februari 2019).

Jadi dana yang dibutuhkan program PBA LAI di Sumba Barat dengan jumlah warga 1.221 warga belajar adalah Rp.1.100.000,- untuk setiap orang, sehingga anggaran yang dibutuhkan program PBA LAI dalam setahun sebesar Rp. 1.343.100.000,-. Berdasarkan dokumen anggaran PBA LAI di

(26)

26

Sumba Barat (lampiran 3), dana yang dibutuhkan program PBA LAI bagi 1.000 peserta, 79 kelompok dan 88 personil (terdiri atas 78 orang tutor, 8 koordinator wilayah, 1 pimpinan lapangan, dan 1 staf adminsitrasi) dan berlangsung selama 1 tahun sebesar Rp. 1.295.882.500,-. Dana itu diperuntukkan untuk mendanai (1) Alkitab (untuk warga belajar dan tutor); (2) Bahan Pelajaran, Alat tulis dan Alat Peraga; (3) Biaya Personil (Tutor, Korwil, PinLap, dan Staf); (4) Dokumentasi, Pondok, Administrasi dan Sekretariat; (5) Pelatihan dan Pertemuan Bulanan, Pertemuan wilayah, Pembukaan dan Penutupan, Lomba antar peserta atau kelompok belajar; (6) Evaluasi I dan II; (7) Survei I dan II; (8) Perpustakan di 8 Wilayah.

Sumber pendanaan program PBA LAI di Sumba Barat ini diperoleh dari berdasarkan hubungan kerjasama LAI dengan lembaga-lembaga terkait dan juga gereja-gereja pendukung.

“Pendanaan dari gereja-gereja terutama lembaga-lembaga yang mendukung LAI.” (wawancara dengan Manejer Progam PBA LAI, 11 Februari 2019)

“Sumber pendanaan berasal dari lembaga-lembaga, gereja-gereja yang mendukung atau yang bekerjasama dengan LAI.” (wawancara dengan Pimpinan Surveyor dan Evaluator, 13 Februari 2019).

“Dari gereja-gereja yang mendukung LAI.” (wawancara dengan Staf Pimpinan Lapangan, 25 Februari 2019).

Selain itu berdasarkan observasi ditemukan bahwa untuk memenuhi pendanaan, LAI melakukan promosi dan

(27)

27

penggalangan dana baik melalui siaran radio, youtube, maupun website LAI. Di dalam website PBA Sumba Barat 2017 “Mari Bantu Mereka Bertumbuh Dan Berkembang Dari Setiap Untaian Kata-Kata Tuhan” tertera jumlah anggaran PBA LAI di Sumba Barat dalam setahun dibutuhkan dana sebesar Rp. 1.295.882.500,-.

d. Sarana dan Prasarana Program PBA

Sarana dan prasarana disediakan sesuai dengan hasil survei pendahuluan dan merupakan hasil kerja sama dengan gereja atau jemaat setempat, seperti pernyataan yang tertulis dalam dokumen “Mengenal Program PBA LAI”

“Program PBA LAI dilaksanakan bekerja sama dengan organisasi gereja induk (sinode) dan gereja jemaat setempat.”

Salah satu kerja samanya itu adalah gereja menyediakan kantor/sekretariat, tempat pelaksanaan proses belajar, menentukan Tutor dan Korwil sesuai kesepakatan dengan LAI. Kerjasama itu terlihat dari hasil wawancara, baik itu Manejer Program, Staf Pimpinan Lapangan, maupun Pimpinan Surveyor dan Evaluator.

“Sarana dan prasarana kami siapkan pasti alat dan bahan yang menunjang proses belajar. Kantor, ruang belajar itu hasil kerjasama dengan gereja-gereja yang terlibat dalam program PBA. Misalnya kemarin di Sumba Barat, kantor itu pakai ruangan dari gereja katolik. Kalau ruang belajar ditentukan oleh

(28)

28

masing-masing gereja. Bisa pakai gedung gereja, rumah jemaat, halaman atau kebun sesuai kesepakatan Tutor dan warga belajar. Tapi sarana dan prasarana ini bisa ditambah lagi menyesuaikan dari hasil survei di mana daerah itu dilaksanakan. Tapi waktu di Sumba Barat, sarana dan prasarana yang disediakan sesuai dengan rencana awal dan itu sudah terpenuhi. Dan pasti sudah menunjang pelaksanaan program.” (wawancara dengan Pimpinan Surveyor dan Evaluator, 13 Februari 2019)

“Yang pasti pertama kita butuhkan tempat untuk pelaksanaan belajar, kembali lagi program ini kami bekerja sama dengan gereja, tempat belajar disediakan oleh gereja sesuai kesepakatan Tutor dan warga belajar. Kemudian kantor, bahan-bahan dan alat peraga, serta perpustakaan”. (Wawancara dengan Manejer Program, 11 Februari 2019).

“Yang pertama kantor, ruang belajar untuk proses belajar, seluruh perlengkapan yang dibutuhkan dalam proses belajar dan bahan-bahan pelajaran itu buku-buku, poster, kartu huruf, kartu kata, kartu suku kata, kalimat sederhana, kalimat lengkap, buku-buku cerita sederhana Alkitab yang diterbitikan sendiri oleh LAI. Kantor dan ruang belajar itu merupakan hasil kerja sama dan kesepakatan dengan gereja-gereja di daerah. Misalnya kantor kemarin di Sumba Barat itu kami pakai ruangan yang disediakan oleh Gereja Katolik. Kemudian mengenai ruang belajar itu kesepakatan antara Tutor dan warga belajar dengan sepengetahuan pimpinan gereja. Misalnya ada yang pakai ruang gereja, rumah jemaat, halaman rumah, di kebun, ruang kelas sekolah.” (Wawancara dengan Staf Pimpinan Lapangan, 25 Februari 2019)

Selain kantor dan ruang belajar, seperti yang sudah dikatakan oleh Staf Pimpinan Lapangan yang bertanggung jawab penuh atas pelaksanaan program PBA di Sumba Barat, alat-alat dan bahan ajar yang dipakai untuk mendukung proses belajar

(29)

29

merupakan sarana dan prasarana yang disediakan atau diterbitkan sendiri oleh LAI.

“[... ... ] alat dan bahan kami terbitkan sendiri seperti buku khusus untuk belajar huruf dan angka, cerita-cerita bergambar dan berwarna. Kami pakai kartu kata, kartu huruf, poster-poster dengan ukuran yang lebih besar dari yang beredar di toko-toko, buku-buku cerita bergambar. Materi, seperti pada siswa umumnya, kita belajar dari huruf, angka jadi mereka bukan hanya diajar untuk membaca tapi juga berhitung. Kemudian meninggkat ke suku kata, kata, kalimat sederhana, lalu meninggkat kalimat lengkap dari bahan bacaan yang mulai kita pakai bahan-bahan cerita dari Alkitab. Mula-mula bukunya setiap halaman ada gambar, kalimatnya dua, ada yang satu suku kata, satu kalimat. Kemudian meningkat ke buku lain yang sudah ada cerita. Lalu buku yang terakhir itu bukunya sudah hitam putih, ada gambar tapi kata-kata atau kalimatnya sudah lebih panjang. Dari situlah kita mengukur sejauh mana, yang pertama kami itu ada evaluasi I yaitu melihat sejauh mana mereka sudah bisa membaca. Jadi dia bisa membaca kata “buku”, “alkitab” atau barang-barang sehari-hari seperti kata bakul, sirih. Lalu nanti evaluasi II, kami mengukur sejauh mana mereka memahami bacaannya. Sekilas materinya seperti di sekolah dasar yaitu calistung. Selain cerita-cerita berbasis Alkitab, kami juga selingan dengan belajar keterampilan praktis yang mereka butuhkan, misalnya tanda tangan, belajar cara membaca dan menulis nota atau kwitansi supaya tidak dibodoh-bodohin orang. Jadi salah satu pertanyaan evaluasinya yaitu dikte. Waktu didikte mampu tidak menulisnya.“ (Wawancara dengan Manejer Program, 11 Februari 2019).

Pernyataan dari Manejer Program mengenai bahan atau materi yang digunakan dalam proses belajar didukung oleh data dari “Term Of Reference Program Pemberantasan Buta Aksara di

(30)

30

Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur” yang menuliskan bahwa:

“Adapun bahan-bahan pelajaran yang dipakai antara lain; 2 seri buku mengenai huruf dan angka, 4 judul buku cerita bergambar, 3 judul buku cerita bergambar dengan pertanyaan untuk pemahaman, materi lain yang diajarkan adalah yang menyangkut keterampilan sehari-hari yang diperlukan, yaitu bagaimana membuat tanda tangan, membaca pertunjuk obat, memahami dan membuat kuitansi dan nota, membaca resep masakan, dll.” Selain itu dalam dokumen “Mengenal Program PBA LAI” juga menyatakan materi program PBA terdiri dari 12 seri, yang dapat dipilah menjadi dua bagian;

1) buku seri 1 – 3 adalah materi yang ditujukan untuk peserta program yang belum bisa membaca (peserta buta huruf total atau lupa huruf). Materi dalam buku ini diambil dari buku pemberantasan buta huruf/buta aksara dari Departemen Pendidikan Nasional RI. Setelah mempelajari ketiga buku ini diharapkan peserta sudah memiliki kemampuan dasar membaca, tapi masih belum terlalu lancar; 2) buku seri 4 – 12 adalah materi yang ditujukan untuk memperlancar kemampuan membaca. Kesembilan buku berisi cerita-cerita Alkitab yang disajikan dalam bahasa sederhana. Setelah mempelajari buku-buku ini diharapkan peserta program tidak hanya lancar membaca, tetapi juga memiliki kemampuan awal untuk memahami cerita-cerita Alkitab.

Jadi berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumen tertulis dan gambar, sarana dan prasarana yang mendukung pelaksanaan kegiatan program PBA LAI di Sumba Barat terdiri dari:

1. Kantor program PBA LAI dan ruang pertemuan yang terletak di jalan Bayangkara, KM. 2 Waikabubak merupakan gedung

(31)

31

yang disediakan oleh gereja Katolik, Paroki Waikabubak, merupakan tempat yang strategis untuk dilaksanakan pertemuan;

2. Tempat dan Waktu Pembelajaran. Tempat/ruang belajar disediakan oleh gereja jemaat setempat. Dari hasil observasi terlihat bahwa ruang belajar dari setiap kelompok berbeda-beda, ada yang memakai ruang gereja, rumah tutor/jemaat, halaman rumah/gereja, kebun atau ladang tempat warga belajar bekerja. Jadwal pelaksanaan proses belajar program PBA LAI dilaksanakan 2–3 kali dalam seminggu (jam dan tempat menyesuaikan kesepakatan Tutor dan warga belajar); 3. ATK ruang kelas, ATK warga belajar dan tutor, alat peraga

(kartu huruf, kartu kata, kartu suku kata, kartu bergambar, poster huruf dan angka, dll);

4. Media Pembelajaran; buku seri 1-12 dan buku cerita-cerita sederhana dan bergambar Alkitab yang diterbitkan sendiri oleh LAI;

5. Metode pembelajaran yang digunakan dalam program PBA LAI adalah pendekatan Andragogi dan metode SAS (Struktur Analitik Sintetik). (Zuchdi & Budiasih, 1997).

4.2.3. Evaluasi Proses

Komponen evaluasi terhadap proses dari program PBA LAI di Sumba Barat membahas tentang mekanisme pelaksanaan program, kesiapan dan keterlibatan para Tutor dan korwil, dokumentasi, peran perkunjungan Pimpinan Lapangan, dan

(32)

32

kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program PBA LAI di Sumba Barat.

a. Mekanisme Pelaksanaan Program

Tahapan-tahapan pelaksanaan program PBA, diawali dengan Persiapan, Pelaksanaan, dan Pasca-Pelaksanaan seperti yang terlihat dari Kalender Rencana Pelaksanaan Program PBA (Lampiran 1). Data itu didukung dengan pernyataan hasil wawancara dengan Staf Pimpinan Lapangan.

“Kegiatannya pertama pastinya survei pendahuluan [...] Lalu kegiatan kedua adalah pelatihan. [...] Dan juga setiap bulannya ada pertemuan bulanan guna memberikan tanda kasih kepada pada para Tutor dan Korwil, pengambilan alat tulis dan bahan belajar, dan pentingnya untuk sharing pengalaman, apa saja kendala, suka duka dari kegiatan selama sebulan. Nah, pelatihan dipimpin oleh nara sumber yang didatangkan LAI dari Jakarta. Pertemuan bulanan menjadi tanggung jawab Pimpinan Lapangan. Kegiatan ketiga tentunya itu proses belajar. Proses belajar dibimbing oleh 1 Tutor dengan jumlah peserta 10 – 15 orang. Kegiatan berikutnya ada monitoring. Monitoring dilaksanakan sebagai bentuk pengawasan terhadap kinerja Tutor di lapangan. [...] Kegiatan berikutnya adalah evaluasi [...] Terakhir penutup dan tindak lanjut di mana kegiatannya adalah menyediakan perpustakaan di titik-titik yang sudah ditentukan.” (wawancara dengan Staf Pimpinan Lapangan, 25 Februari 2019). “Yang pasti proses belajar yang diampuh oleh para Tutor dan diawasi oleh Korwil dan Pinlap, kegiatan pertama yang kami lakukan adalah pelatihan bagi para Tutor dalam mempersiapkan diri mengajar warga belajar, kemudian pertengahan program berjalan pelatihan kembali dilaksanakan untuk memberikan semangat kepada para Tutor, dan pelatihan ke tiga adalah

(33)

33

pelatihan perpustakaan. Pelatihan-pelatihan ini, biasanya kami membawa nara sumber langsung dari LAI.

Selain itu ada pertemuan bulanan di mana para Tutor, Korwil akan bertemu untuk saling bertukar pendapat tentang perkembangan, kendala dan berbagi cerita mengenai pengalaman-pengalaman mereka di kelompok masing-masing dan dipandu oleh Pinlap. Kegiatan selanjutnya itu evaluasi, yang dilakukan tahap 1 dan 2. Tahap 1 untuk mengetahui kemampuan membaca dan tahap 2 untuk mengetahui kemampuan memahami bacaan. Evaluasi ini akan dilaksanakan oleh Tim Evaluator.” (wawancara dengan Manejer Program, 11 Februari 2019). Berdasarkan hasil wawancara menyatakan bahwa kegiatan pertama adalah survei pendahuluan, pembukaan, pelatihan-pelatihan, pertemuan bulanan, monitoring, evaluasi, penutup, dan tindak lanjut pengadaan perpustakaan.

Selain itu, berdasarkan dokumen “Term Of Reference Program Pemberantasan Buta Aksara di Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur” dan hasil observasi ditemukan rekapan kegiatan Pimpinan Lapangan yang menjabarkan tentang kegiatan-kegiatan program PBA LAI di Sumba Barat, yaitu: a. Pembukaan Program PBA LAI di Aula Delsos

Waikabubak, tanggal 3 – 4 Juni 2016. Tujuan kegiatan adalah membuka dan meresmikan program PBA LAI oleh pengurus LAI. Hasil dari pelaksanaan Pembukaan program adalah a) kesepakatan kerja sama antara LAI dan gereja-gereja; b) kesepakatan kerja sama dengan Bupati Sumba Barat; c) kesepakatan kerjasama dengan Tutor dan Korwil; b. Pertemuan bulanan Tutor dan Korwil; terdapat 8 kali pertemuan secara rutin tiap bulannya dengan pertemuan awal dimulai pada bulan juli 2016 dan berakhir pada bulan Febuari 2017. Tujuan pertemuan bulanan untuk mengevaluasi kegiatan melalui sharing informasi dan

(34)

34

pendapat agar menemukan solusi dan perbaikan terhadap kendala-kendala yang dihadapi selama pelaksanaan kegiatan program PBA LAI;

c. Pelatihan; Pelatihan I pada tanggal 3 Juni 2016 adalah pelatihan persiapan Mengajar Orang Dewasa dan Pengenalan Materi oleh Dr. Hamba Hinda Mbarambanja, M.Th. Pelatihan II tanggal 7 September 2016 adalah Pelatihan tentang Motivasi dan Pengembangan Diri oleh Dr. Sigit Triyono. Pelatihan III tanggal 5 Desember 2016 adalah Pelatihan Perpustakaan oleh Bu Hilda V. Putong, M.P;

d. Proses Belajar; Proses belajar dilaksanakan 2 – 3 kali seminggu dengan jumlah warga belajar 10 - 15 orang per kelompok. Satu kelompok dibimbing oleh 1 Tutor dengan durasi 2 – 3 jam pertemuan. Kelompok terdiri dari 79 kelompok belajar dengan 78 Tutor. Proses belajar I dimulai dari bulan Juni – Oktober 2016 dan Proses Belajar II untuk memahami bacaan dilaksanakan dari November 2016 – Maret 2017;

e. Supervisi atau pengawasan; Pimpinan Lapangan memiliki kewajiban untuk mengunjungi kelompok belajar maksimal 2 kali setiap kelompok belajar, jika diperlukan bisa lebih dari jumlah maksimal. Dalam pelaksanaannya, supervisi yang dilakukan oleh Pimpinan Lapangan tidak merata di setiap kelompok. Ada yang belum pernah dikunjungi, ada yang lebih dari 2 kali, ada yang hanya sekali;

f. Evaluasi; evaluasi dilakukan oleh Tim Evaluator dari LAI yang terbagi dalam 8 kelompok di 8 wilayah. Terdapat dua kali evaluasi, evaluasi I bertujuan untuk mengetahui kemampuan membaca dan evaluasi II untuk mengetahui kemampuan memahami bacaan. Evaluasi I dilakukan selama kurang lebih 5 hari dari tanggal 26 Oktober 2016 – 31 Oktober 2016. Evaluasi II dilaksanakan selama kurang lebih 5 hari, dari 23 Februari - 28 Februari 2017.

Tahapan I Warga belajar mengerjakan soal dengan cara membaca secara bergantian satu persatu didampingi/diawasi evaluator, yang terdiri dari 6 jenis soal, yaitu:

(35)

35

a) pengenalan huruf/abjad yang terdiri dari 20 soal. Apabila warga belajar mampu membaca minimal 12 huruf maka warga belajar dikategorikan mampu mengenal dan membaca huruf;

b) pengenalan suku kata yang terdiri dari 20 soal. Apabila warga belajar mampu membaca minimal 12 suku kata maka warga belajar dikategorikan mampu membaca suku kata, sedangkan warga belajar yang tidak mampu membaca minimal 12 kata maka dikategorikan baru mampu membaca suku kata;

c) pengenalan kata yang terdiri dari 20 soal. Apabila warga belajar mampu membaca kata minimal 12 kata maka warga belajar dikategorikan mampu membaca kata, sedangkan warga belajar yang tidak mampu membaca minimal 12 kata maka dikategorikan baru mampu membaca suku kata;

d) pengenalan dua kata yang terdiri dari 20 soal. Apabila warga belajar mampu membaca dua kata minimal 6 maka warga belajar dikategorikan sudah mampu membaca dua kata, sedangkan warga belajar yang tidak mampu membaca minimal 6 dua kata maka warga belajar dikategorikan baru mampu membaca satu kata; e) pengenalan kalimat sederhana yang terdiri dari 10 soal.

Apabila warga belajar mampu membaca 6 kalimat sederhana maka warga belajar dikategorikan mampu membaca kalimat sederhana, sedangkan warga belajar yang tidak mampu membaca minimal 6 kalimat sederhana dikategorikan baru mampu membaca dua kata;

f) berhitung yang terdiri dari 10 soal. Apabila warga belajar mampu menyelesaikan minimal 6 soal berhitung maka warga belajar dikategorikan mampu berhitung secara tertulis.

Berdasarkan kriteria di atas maka setelah melakukan evaluasi akan diperoleh informasi tingkat kemampuan membaca Warga Belajar dengan klasifikasi a) buta huruf; b) mengenal huruf; c) membaca suku kata; d) membaca

(36)

36

kata; e) membaca dua kata; f) membaca kalimat sederhana; dan g) mampu berhitung.

Tahapan II. Tes dilakukan menggunakan 8 jenis soal evaluasi dalam bentuk lembaran alat peraga, yang terdiri dari 6 soal yang berada di Evaluasi Hasil Belajar Tahap I ditambah dengan 2 Soal yaitu:

a) membaca dan memahami bacaan sederhana sebanyak 10 soal. Warga belajar dinyatakan berhasil bila mampu membaca cerita dan menjawab minimal 6 soal pemahaman bacaan. Bila tidak berhasil, maka warga belajar belum memahami bacaan; dan

b) menulis kalimat sederhana sebanyak 10 soal. Warga belajar dinyatakan berhasil bila mampu menulis 6 soal kalimat sederhana pada Soal 5. Bila tidak berhasil, maka warga belajar belum mampu menulis;

g. Penutupan; dilaksanakan di Aula Hotel Monalisa 29 April 2017. Tujuan dari kegiatan ini untuk menutup program kegiatan dan untuk menyampaikan kesaksian-kesaksian dari warga belajar, Tutor, Korwil dan jemaat yang telah merasakan pengaruh dari program PBA.

Kegiatan-kegiatan yang dipaparkan dari hasil wawancara, observasi dan dokumen dapat diringkas dalam tabel 4.2 Kegiatan Program PBA LAI di Sumba Barat yang berlangsung dari juni 2016-Maret 2017.

(37)

No Kegiatan SDM yang terlibat

Sarana & Prasarana Pendanaan Jadwal/Mekanisme

1 Survei Pendahuluan

 Manejer Program dan Bidang Penelitian

Panduan Pelaksanaan Intern/Anggaran PBA Sumba Barat

Februari 2015

2 Pembukaan  Manejer Program  Pimpinan

Lapangan dan Staf  Pengurus LAI

Aula, SPK dengan gereja-gereja, ATK

Intern/Anggaran PBA Sumba Barat

3-4 Juni 2016 dilaksanakan bersamaan dengan Pelatihan I. 3 Pertemuan Bulanan  Pinlap  Korwil  Tutor Gedung pertemuan, Agenda Pertemuan, ATK, Laporan pelaksanaan proses belajar Tutor, Laporan perkunjungan Tutor.

Intern/Anggaran PBA Sumba Barat

 Dilaksanakan pada setiap awal bulan, dimulai dari bulan juli 2016 – Februari 2017.  Sharing kendala

selama proses belajar-mengajar.

 Pemberian tanda kasih kepada Tutor dan korwil. 3 Pelatihan: Pelatihan 1 Mengajar orang dewasa  Nara Sumber; Dr. Hamba Hinda Mbarambanja, MTh  Manejer Program Gedung pelatihan, ATK, Materi Pelatihan.

Intern/Anggaran PBA Sumba Barat

 3 Juni 2016  Penyajian materi  Tanya

jawab  Sharing

(38)

38 Pelatihan 2 Motivasi dan Pengembangan diri Pelatihan 3 Perpustakaan  Pimpinan Lapangan  Nara Sumber; Dr. Sigit Triyono  Manejer Program  Pinlap  Nara sumber; Ibu Hilda  Manejer Program  Pinlap  7 September 2016  Penyajian materi  Tanya Jawab  Sharing  5 Desember 2016  Penyajian Materi  Tanya jawab  Sharing 4 Proses Belajar  PinLap

 Korwil  Tutor  Warga Belajar  Ruang belajar  ATK  Buku seri 1-12  Alat Peraga  Materi ajar Intern/Anggaran PBA Sumba Barat

 Dilakukan 2-3 seminggu  10-15 orang warga belajar 5 Supervisi/Monit oring  Pinlap  Korwil  Tutor  Warga Belajar  Panduan pelaksanaan Supervisi/ Perkunjungan  Laporan Perkunjungan Intern/Anggaran PBA Sumba Barat

 Perkunjungan Pinlap ke kelompok belajar minimal sekali per kelompok.

 Perkunjungan kelompok belajar oleh korwil 15x

(39)

39

wilayahnya masing-masing.

6 Evaluasi  Tim Evaluator  Korwil  Tutor  Warga Belajar  Panduan Evaluator  Instrumen Penilaian  ATK Intern/Anggaran PBA Sumba Barat

 Evaluasi 1 akhir oktober 2016, evaluasi 2 akhir Februari 2017.  Dilaksanakan selama 5 hari.  Evaluasi dilakukan di setiap kelompok belajar sesuai dengan jadwal.

7 Penutup  Manejer Program  Pimpinan

Lapangan dan Staf  Pengurus LAI

Aula, SPK dengan gereja-gereja, ATK

Intern/Anggaran PBA Sumba Barat

29 April 2017

(40)

40

b. Kesiapan dan Keterlibatan Tutor

Target pelaksana yang direncanakan dari program PBA ini adalah para Tutor. Peran Tutor sebagai pengajar peserta program yang selanjutnya disebut warga belajar menentukan sejauh mana keberhasilan program PBA ini. Kinerja Tutor kemudian dievaluasi untuk mengetahui sejauh mana kesiapan dan keterlibatannya dalam pelaksanaan proses belajar mengajar dan kemudian dilaksanakan perbaikan dan peningkatan kinerja.

Evaluasi kinerja Tutor dilakukan melalui penyebaran lembar evaluasi/angket dengan menggunakan pertanyaan terbuka dan tertutup. Dilaksanakan selama program berjalan bersamaan dengan dilaksanakannya Evaluasi Pembelajaran I. Angket itu dibagikan kepada 78 orang Tutor dan lembaran evaluasi yang kembali terkumpul sebanyak 66 lembaran (84%), dengan hasil evaluasi sebagai berikut:

Informasi Tutor

Informasi tentang Tutor dilihat dari umur, keanggotaan dan status Tutor di Gereja. Informasi itu dapat dilihat dari diagram batang 4.1 Kelompok Umur Tutor dan Tabel 4.3 Keanggotaan dan Status Tutor di Gereja.

(41)

41 0% 10% 20% 30% tanpa identitas dibawah 20 tahun 21 - 30 tahun 31 - 40 tahun 41 - 50 tahun di atas 50 tahun 8% 2% 23% 27% 28% 12%

Tabel 4.3 Keanggotaan dan Status Tutor di Gereja

Pada diagram batang 4.1 di atas sebagian besar kelompok umur Tutor tergolong umur produktif yaitu antara umur 23 – 50 tahun sehingga dapat diharapkan keterlibatan para Tutor dalam PBA dapat maksimal. Pendidikan para Tutor sebagian besar, yaitu 58% berpendidikan SLTA dan bermata pencaharian petani.

STATUS GEREJA Total

GKS GBI GPdI Katholik

Tidak menjawab 1 0 0 1 2 Gembala/Pendeta 6 1 0 1 8 Majelis/Pengerja 17 0 0 1 18 Pengurus 3 0 0 0 3 Karyawan gereja 1 1 0 0 2 Anggota jemaat 9 5 1 2 17

Guru Sekolah Minggu 7 3 3 3 16

Total 44 10 4 8 66

Diagram Batang 4.1 Kelompok Umur Tutor

(42)

42

Status dalam gereja pada Tabel 4.3 menunjukkan bahwa sebagian besar atau 18 Tutor adalah Majelis/aktivis gereja. Sebagian besar lagi anggota jemaat berjumlah 17 Tutor dan sebagian lagi Guru Sekolah Minggu berjumlah 16 Tutor.

Pelatihan Tutor

Sebelum Tutor melakukan proses pembelajaran, Tutor diberikan pembekalan dengan mengikuti pelatihan persiapan mengajar orang dewasa dengan materi ajar antara lain penggunaan Buku Seri yang terdiri dari 12 buku seri.

Diagram Batang 4.2 Pendapat Tutor tentang Materi Pelatihan

Berdasarkan diagram batang 4.2 tentang Materi Pelatihan, terdapat 76% Tutor berpendapat bahwa materi pelatihan sangat membantu untuk pembekalan. Berdasarkan jumlah keikutsertaan dalam pelatihan terdapat 3% atau 2 orang dari 66 Tutor yang tidak mengikuti pelatihan. Jadi hasil pelatihan sangat membantu bagi sebagian besar para Tutor untuk meningkatkan kinerjanya.

0% 20% 40% 60% 80% tidak mengikuti pelatihan sangat membantu membantu cukup membantu 3% 76% 17% 4%

(43)

43

Tentang Penggunaan Bahasa dalam Mengajar

Bahasa merupakan salah satu faktor penting dalam proses belajar mengajar. Di Kabupaten Sumba Barat, Warga Belajar dalam berkomunikasi sehari-hari menggunakan bahasa daerah setempat. Selain menggunakan bahasa daerah sebagian Warga Belajar juga menggunakan bahasa Indonesia meskipun ada yang kurang lancar. Oleh karena itu Tutor dalam mengajar menggunakan bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Seperti terlihat dalam diagram batang 4.3 Penggunaan Bahasa dalam Mengajar, berikut :

Diagram Batang 4.3 Penggunaan Bahasa dalam Mengajar

Tentang Peragaan Huruf Dengan Menggunakan Jari

Selain materi tentang Buku Seri, dalam pelatihan juga diberikan juga materi tentang peragaan huruf dengan menggunakan jari. Peragaan huruf ini sangat penting untuk disampaikan/dilatih dan kemudian dapat diterapkan dalam proses

0% 20% 40% 60% 80% 100%

Bahasa Indonesia Basaha daerah Keduanya

12%

5%

(44)

44 Menggunakan jari; 73% tidak menggunakan jari; 27%

Menggunakan jari tidak menggunakan jari

mengajar nanti. Untuk mengetahui apakah materi ini disampaikan oleh Tutor, maka dalam pertanyaan angket ditanyakan dengan hasil terlihat dalam diagram lingkaran 4.4 Pendapat Tutor tentang Pelatihan Peragaan Huruf dengan Menggunakan Tangan/Jari.

Pada diagram lingkaran 4.4 dapat dilihat bahwa sebagian besar yaitu sebanyak 73% Tutor mendapatkan pelatihan peragaan huruf dengan menggunakan jari. Sebanyak 27% Tutor menyatakan tidak mendapat pelatihan. Tutor yang menyatakan tidak mendapat pelatihan adalah yang tidak ikut pelatihan. Sebanyak 53% dari 66 Tutor menyatakan selalu mempraktikkannya pada proses belajar mengajar. Sebagiannya lagi yaitu 20% Tutor menyatakan sering mempraktikkan, 10% Tutor kadang-kadang mempraktekkan dan 17% Tutor tidak pernah mempraktikan dalam proses belajar mengajar.

Diagram Lingkaran 4.4 Pendapat Tutor tentang Pelatihan Peragaan Huruf dengan Menggunakan Tangan/Jari.

(45)

45

Mengenai tingkat kesulitan dalam penerapan peragaan huruf dengan menggunakan jari, dari 66 orang yang mempraktikkan peragaan ini sebagian besar tidak mengalami kesulitan dalam mempraktikkan, terlihat dalam diagram batang 4.5.

Diagram Batang 4.5 Tingkat Kesulitan Penerapan Peragaan Huruf dengan Menggunakan Tangan/Jari

Selanjutnya saat ditanya bagaimana manfaat peragaan tersebut dalam proses mengajar sebagian besar Tutor menyatakan bermanfaat. Namun sebagian kecil Tutor mengalami kesulitan saat menerapkannya, seperti terlihat dalam Tabel 4.5. Manfaat Peragaan Huruf.

Tabel 4.4 Manfaat Peragaan HuruF

Ket Sangat membantu menghafal huruf Membantu menghafal huruf Cukup membantu menghafal huruf Kurang membantu menghafal huruf Tidak membantu menghafal huruf Tidak menjaw ab Total Frequency 26 16 18 2 1 3 66 Percent 39.4 24,2 27.3 3.0 1.5 4.5 100.0 0% 10% 20% 30% 40%

sangat sulit sulit cukup mudah mudah sangat mudah 8% 25% 36% 23% 8%

(46)

46

Tentang alat peraga

Demi menunjang proses belajar mengajar para Tutor dituntut berkreasi dengan menggunakan alat peraga agar materi yang disampaikan dapat diterima oleh warga belajar.

Diagram Batang 4.6 Frekuensi Tutor Menggunakan Alat Peraga dalam Mengajar

Pada diagram batang di atas terlihat bahwa hampir semua Tutor menggunakan alat peraga dalam proses belajar mengajar. Hanya 1% Tutor yang tidak menggunakan alat peraga. Frekuensi penggunaan alat peraga berbeda-beda. Sebanyak 77% Tutor selalu menggunakan alat peraga. 20% Tutor menyatakan sering menggunakan dan 2% memilih kadang-kadang.

Selain alat peraga yang disiapkan oleh LAI, Tutor juga diberi kebebasan untuk membuat kreasi alat peraga sendiri. Beberapa

selalu sering kadang-kadang Tidak pernah 77%

20%

(47)

47

Tutor juga menggunakan kreasinya masing-masing, terlihat dalam diagram batang 4.7.

Diagram Batang 4.7 Sumber Alat Peraga yang Digunakan dalam Mengajar

Sebanyak 85% Tutor memanfaatkan fasilitas alat peraga dari LAI, sebagian memakai kreasi sendiri yang ditemukan di alam atau yang berada dekat dengan lingkungan kelompok belajar atau yang sesuai dengan budaya/kebiasaan daerah setempat. Persentase Tutor yang menggunakan kreasi sendiri sebanyak 15%.

Tentang pertemuan Tutor

Pertemuan Tutor dilaksanakan setiap bulan, tujuannya adalah melakukan evaluasi untuk mengetahui perkembangan kegiatan kelompok belajar yang dilaksanakan, selain itu sharing kendala dan masukan dalam pelaksanaan proses belajar dan mengajar. Selanjutnya memberikan pembinaan dan pengarahan

0% 20% 40% 60% 80% 100%

Semua dari LAI Sebagian Kreasi Sendiri

85%

(48)

48

agar pelaksanaan program tetap berjalan sesuai dengan yang direncanakan atau ditetapkan.

Berikut informasi tentang Pertemuan Bulanan yang sudah dilaksanakan.

Diagram kerucut 4.8 Kehadiran Tutor dalam Pertemuan Bulanan

Pertemuan Tutor telah dilaksanakan 4 kali sebelum dilakukan evaluasi. Dalam diagram sebanyak 37% Tutor selalu hadir, 33% Tutor baru satu kali hadir dan sisanya hadir antar 2 – lebih dari tiga kali. Grafik 4.8 menunjukkan bahwa minat Tutor terhadap pertemuan bulanan cukup tinggi dan perlu ditingkatkan lagi.

Berdasarkan hasil penyebaran lembaran evaluasi/angket dapat terlihat bahwa sebagian besar Tutor memiliki kesiapan dan keterlibatan atau berperan aktif dalam menyukseskan program PBA. Sebagian besar Tutor tergolong kelompok umur produktif yaitu antara umur 23 – 50 tahun, memiliki kemampuan yang baik

0% 10% 20% 30% 40%

satu kali dua kali tiga kali lebih dari tiga kali tidak pernah absen 33% 14% 8% 8% 37%

Gambar

Tabel 4.2 Kegiatan  Program Pembaca Baru Alkitab Lembaga Alkitab Indonesia di Sumba Barat
Tabel 4.3 Keanggotaan dan Status Tutor di Gereja
Diagram Batang 4.2 Pendapat Tutor tentang Materi Pelatihan
Diagram Batang 4.3 Penggunaan Bahasa dalam Mengajar
+7

Referensi

Dokumen terkait

Lee, Lee, & Wu (2010) menyatakan bahwa kesuksesan dalam bersaing didorong oleh peningkatan sumber daya yang didorong dengan praktik manajemen sumber daya manusia

Berdasarkan grafik hubungan pengembangan dengan waktu di titik C pada Gambar 4.5 dan Gambar 4.6, tanah tanpa perkuatan kolom T-shape, mengalami pengembangan

di Dukuh Baksari, Desa Mliwis, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali. Di Kecamatan Cepogo, khususnya Desa Mliwis dan lebih tepatnya di Dukuh Baksari melaksanakan tradisi Ngapati

Sedangkan APBN menurut UU No.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara adalah rencana kerja yang diperhitungkan dengan keuangan yang disusun secara sistematis, yang

Hasil wawancara dikatakan bahwa tarif INA-CBGs akan dikeluarkan setelah pengisian resume medis yang lengkap meliputi diganosa primer, sekunder dan prosedur utama, jika

Mengacu kepada penelitian dari para ahli komunikasi tersebut, kesimpulan dari teori ini adalah terpaan media mampu mempengaruhi para penonton melewati intensitas menonton yang

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Suhaimi selaku Kepala Desa Kuala Baru Sungai pada kamis, 31 Januari 2019 pukul 08.00 mengatakan bahwa pelaksanaan Musrenbang di

Sehingga dalam penelitian ini dikemukan permasalahan bagaimana membuat suatu desain dari hasil pengembangan wireless sensor network yang dapat digunakan untuk