• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Produk

Dalam dokumen BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 107-111)

4.3. Pembahasan Hasil Penelitian

1.3.4 Evaluasi Produk

Pelaksanaan program Pembaca Baru Alkitab LAI di Sumba Barat telah menjawab kebutuhan yang telah diamati dalam evaluasi konteks. Terbukti dari seluruh kegiatan yang telah berjalan secara sistematis dan terarah, sesuai dengan rencana dan jadwal dengan perubahan seperlunya. Ada pun kekurangan pada kegiatan pelaksanaan proses belajar dan pengawasan dan monitoring yang tidak sesuai dengan prosedur dan jadwal pelaksanaan, sehingga mempengaruhi pencapaian evaluasi hasil belajar dan keberhasilan program yang tidak sesuai dengan target yang ditetapkan.

Berdasarkan hasil evaluasi, yaitu evaluasi hasil belajar dan evaluasi program yang dapat dijelaskan sebagai berikut. Evaluasi hasil belajar dilakukan dengan memberikan sejumlah pertanyaan sebagai bentuk ujian atau tes kepada warga belajar tentang materi pembelajaran membaca, menulis dan berhitung permulaan. Menurut Arikunto (2013:47) ujian atau tes yang diberikan kepada warga belajar dalam evaluasi hasil belajar memiliki fungsi ganda,

108

yaitu untuk mengukur siswa dan untuk mengukur keberhasilan proses pengajaran bahkan evaluasi hasil belajar merupakan masukan bagi evaluasi program pendidikan. Secara jelas lagi Widoyoko (2017:18-19) menjabarkan tujuan dari evaluasi hasil belajar adalah untuk (1) menjawab strategi pembelajaran yang dipilih dan dipergunakan oleh guru efektif; (2) apakah media pembelajaran yang dipakai oleh guru efektif; (3) apakah cara mengajar guru menarik dan sesuai dengan pokok materi sajian yang dibahas, mudah diikuti dan berdampak siswa mudah mengerti materi sajian yang dibahas; (4) bagaimana persepsi siswa terhadap materi sajian yang dibahas berkenaan dengan kompetensi dasar yang akan dicapai; (5) apakah siswa antusias untuk mempelajari materi sajian yang dibahas; (6) bagaimana siswa menyikapi pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru; (7) bagaimanakah cara belajar siswa mengikuti pembelajaran yang dilaksanakan.

Berdasarkan Laporan Evaluasi Hasil Belajar menunjukkan bahwa sebagian besar warga belajar telah dapat membaca, menulis dan berhitung sederhana. Kendala yang dihadapi selama kegiatan evaluasi, kurang pahamnya evaluator akan tata cara evaluasi sehingga harus terjadi pengulangan dan susulan evaluasi untuk beberapa kelompok. Selain itu, pencapaian evaluasi hasil belajar tidak sesuai dengan target yang ditetapkan. Target pencapaian hasil belajar yang direncanakan adalah 80%, sedangkan hasil pencapaiannya hanya 70,27%.

109

Hasil pencapaian dari evaluasi hasil belajar yang tidak mencapai 80% dipengaruhi oleh warga belajar yang berhenti (1,97%), ketidakhadiran warga belajar (12,69%) di saat evaluasi dan beberapa warga belajar yang belum lulus (15,07%). Hasil evaluasi ini menunjukkan bahwa kegiatan proses belajar tidak berlangsung dan kinerja Tutor sebagai fasilitator, pembimbing dan motivator tidak berjalan sesuai dengan rencana dan jadwal yang ditetapkan sehingga berdampak pada ketidakhadiran warga belajar dan penyerapan materi pembelajaran oleh warga belajar di dalam kelas.

Evaluasi program pun dilaksanakan untuk melihat sejauh

mana ketercapaian kegiatan-kegiatan terhadap tujuan yang akan dicapai. Berdasarkan hasil evaluasi program, di mana tujuan dari evaluasi program (Wirawan, 2016; Arikunto & Jabar, 2010) adalah untuk memberikan rekomendasi sebagai bahan pertimbangan kepada pengambil keputusan agar dapat menentukan keputusan atas keberlangsungan program yang dilaksanakan (diteruskan, diperbaiki, atau dihentikan). Menunjukkan pelaksanaan program selama lima bulan beberapa kegiatan telah berjalan sesuai yang direncanakan. Beberapa hal utama yang perlu diperbaiki adalah 1) kinerja Tutor sebagai fasilitator, motivator dan pembimbing warga belajar dalam proses pembelajaran; 2) kinerja Korwil untuk mengawasi dan mengontrol pelaksanaan program.

Meskipun nilai evaluasi hasil belajar tidak mencapai target, namun porgram PBA LAI memberikan dampak positif. Dampak

110

dari pelaksanaan program juga, tidak hanya dialami oleh warga belajar yang sudah dapat membaca, menulis, dan berhitung dalam kehidupan sehari-hari bahkan mampu mengambil dan meningkatkan perannya dalam pelayanannya di gereja. Manfaat dari program PBA LAI juga dirasakan oleh Tutor, Korwil dan Pimpinan Lapangan yang memperoleh pengetahuan dan pengalaman tentang membimbing orang dewasa, strategi pembelajaran yang kreatif dengan menggunakan bahan dan alat peraga, buku-buku yang menarik dan yang utama bagaimana mengelola program PBA agar tetap berjalan sesuai dengan prosedur, ketentuan dan tujuannya.

Hal sama juga ditemukan dari laporan penelitian Agustin & Nugroho (2017) dan Wahyuni, Machfudz, & Badrih (2017) yang membawa dampak positif bagi warga belajar. Agustin & Nugroho (2017) melihat warga belajar yaitu anak-anak jalanan melalui motivasi dan bimbingan parenting, warga belajar dapat membaca dan menulis serta mengaplikasikan dalam kehidupan sahari-hari. Begitu pula dengan Wahyuni, Machfudz, & Badrih (2017) melalui KKN mahasiswa sebagai Tutor pemberantasan buta aksara dan melatih berbagai keterampilan membawa dampak pada peningkatan taraf hidup warga belajar, yang sebagian besar adalah perempuan. Berbeda dengan laporan yang diberikan oleh Wulandari (2017) proses membaca, menulis bagi warga belajar sudah terlaksana dengan efektif namun belum ada dampak bagi kesejahteraan warga belajar.

111

Banyak harapan dari pelaksana program agar program PBA LAI dapat terus berlanjut. Namun program PBA LAI merupakan program perintis agar gereja atau jemaat dapat melanjutkan program ini dengan tetap mempertahankan kelompok belajar yang ada, mengingat masih banyak warga jemaat yang belum terlayani dalam program ini. Selain itu dengan melibatkan warga belajar yang sudah memiliki kemampuan membaca dan menulis dalam kegiatan gereja untuk mengasa kemampuan dasar mereka.

Untuk mendukung keberlanjutan program PBA LAI di Sumba Barat telah didirikan perpustakaan di 8 titik wilayah. Melalui perpustakaan ini diharapkan warga belajar dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam membaca, menulis, dan berhitung permulaan sampai dengan tingkat lanjut bahkan mandiri. Keberadaan perpustakaan ini tidak hanya dimanfaatkan oleh warga belajar, tetapi oleh anak-anak dan remaja bahkan seluruh warga jemaat yang ada di wilayah layanan atau di desa untuk menambah pengetahuan mereka. Hal serupa juga disampaikan oleh Wahyuni, Machfudz, & Badrih (2017) bahwa tindak lanjut dari program literasi dibangunlah Warung Pustaka sebagai tempat untuk membaca (perpustakaan) dan sekaligus tempat berwirausaha. Pendirian Warung Pustaka ini sekaligus sebagai bentuk pemertahanan dan peningkatan kemampuan warga di bidang keaksaraan dan perbaikan ekonomi.

Dalam dokumen BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 107-111)

Dokumen terkait